• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

4 BAB II

LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Sistem Produksi

Dalam sistem produksi terdapat komponen penggabungan antara sebuah sistem dan proses produski keduanya memiliki definisi masing-masing. Sistem memiliki definisi yaitu suatu proses yang didalamnya terdapat beberapa bagian atau elemen dalam perusahaan yang saling berhubungan untuk mencapai suatu tujuan tertentu [Hartono, Jogiyanto. (2005). Analisia dan Desain Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi Yogyakarta.]. Sedangkan produksi sendiri memiliki arti sebagai suatu kegiatan yang mengubah input bahan baku untuk menghasilkan output barang atau jasa. Kedua hal tersebut dapat membentuk sistem produksi yang memiliki definisi yaitu penggabungan elemen-elemen dalam suatu perusahaan yang saling berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu dalam kegiatan produksi.

Sistem produksi dalam perusahaan memiliki komponen yang saling mendukung dalam menunjang kontinuitas operasional proses tersebut. Komponen tersebut beruma elemen struktural dan fungsional yang sangat berperan. Elemen struktural membentuk sistem produksi yang terdiri dari: bahan baku (material), mesin dan peralatan, tenaga kerja, modal, energi, informasi, tanah, dan lain-lain. Sedangkan elemen fungsional terdiri dari: supervisi, perencanaan, pengendalian, koordinasi, dan kepemimpinan, yang kesemuanya berkaitan dengan manajemen dan organisasi.

2.2 Life Cycle Assesment (LCA)

Life Cycle Assessment (LCA) memiliki konsep dasar bahwa suatu sistem industrial tidak akan terlepas kaitannnya dengn lingkungan industri tersebut didirikan. Kegiatan yang ada dalam industri merupakan sebuah proses input yang akan menghasilkan output. Diawali dengan proses input dalam sistem dengan mengolah material-material yang diambil dari

(2)

5

lingkungan dan outputnya akan dibuang ke lingkungan kembali. Input dan output dari sistem industri ini tentu saja akan memberi dampak terhadap lingkungan

2.2.1 Pengertian LCA

Menurut Drive (2006) dalam jurnal (Mohamad Yani1, 2013) , LCA adalah suatu metode yang dapat digunakan untuk mengevaluasi dampak lingkungan yang disebabkan oleh proses produksi suatu produk atau aktivitas selama siklus hidupnya dan aliran bahan yang terjadi di dalam proses produksi produk tersebut. Model LCA dapat dilihat pada Gambar 2. Kajian tentang LCA untuk suatu produk dimulai dari kajian bahan baku, proses, transportasi, pabrik (produksi barang), pengguna produk, dan manajemen limbah. Di luar itu ada masukan sumber bahan baku dan energi serta keluaran pencemar air, udara dan tanah.

Gambar 2.1 Model Life Cycle Assessment

Sumber : Baumann and Tillman (2002)

Berdasarkan ISO 14040 (ISO 2006), data eksperimental yang diperoleh dalam percobaan untuk menerapkan metodologi LCA yang diusulkan dengan struktur LCA yang terdiri dari empat fase yang berbeda, sebagai berikut :

(3)

6

1. Definisi tujuan dan ruang lingkup, yang berfungsi untuk menentukan tujuan pelaksanaan penelitian, menunjukkan penerapan hasil yang diinginkan, dan mengidentifikasi audiens yang dituju. . Dalam definisi ruang lingkup, batas LCA dan unit fungsional.

2. Analisis Inventaris Siklus Hidup (LCI), yang terdiri dari pengumpulan, kuantifikasi, dan adaptasi sesuai dengan unit fungsional dalam sebuah perusahaan, dari semua aliran input dan output material dan energi yang terdapat dalam batas LCA 3. Penilaian Dampak Siklus Hidup (LCIA), yang memiliki tujuan untuk memahami dan mengevaluasi seberapa besar dan pentingnya dampak lingkungan yang potensial dari suatu sistem. Hal ini berfungsi untuk mengklasifikasikan dan mengkarakterisasi kategori dampak utama ke dalam indikator dampak lingkungan

4. Interpretasi, yang memiliki fungsi untuk mengevaluasi penelitian dan mendapatkan rekomendasi serta kesimpulan.

2.2.2 Karakteristik dan Batasan dari Life Cycle Assessment (LCA)

Dalam penelitian yang telah dilakukan oleh (Pujadi 2009) karakteristik serta batasan pada LCA digunakan menilai siklus hidup, berikut uraiannya :

1. Karakteristik Life Cycle Assessment (LCA) berisikan batasan yang bersifat analisis dan secara keseluruhan yang sebagai kekuatan utama dalam waktu yang bersamaan. Jangkauan dari sebuah produk dalam melaksanakan LCA luas dan lengkap sehingga, hanya dapat dicapai dengan menyederhanakan aspek lainnya. LCA tidak dapat digunakan untuk mengukur suatu dampak lokal.

2. LCA tidak digunakan sebagai media yang menyediakan penilaian resiko dan dampak yang ditimbulkan dari fasilita di sebuah tempat.

(4)

7

3. LCA adalan suatu pemodelan linear sebagai alat bantu yang cenderung fokus pada karakteristik fisik dari aktivitas industri dan proses ekonomi lainnya, akan tetapi tidak termasuk mekanisme pasar, atau efek pengembangan teknologi lain.

4. LCA menggunakan standarisasi ISO dalam prosesnya pelaksanaanya hal ini dilakukan untuk menggunakan asumsi dan pilihan setransparan mungkin.

5. Life Cycle Assessment (LCA) sebagai sebuah alat analitis yang membantu menyediakan informasi untuk mendukung keputusan.

2.2.3 Tahapan LCA

Terdapat beberapa tahapan dalam melakukan LCA, yaitu menentukan goal and scope, life cycle inventory, life cycle impact assessment dan interpretation. Berikut merupakan penjelasan untuk setiap tahapan dari LCA: (Moch. Esa Adin Bagaswara, 2017)

1. Goal and Scope

Pada tahap goal and scope terdapat beberapa elemen penting, yaitu goal, product system, system boundaries, functional unit dan reference flow. Terdapat hal-hal yang harus dijelaskan dan tidak boleh mengandung keambiguan, yaitu apa tujuan dari penelitian, alasan melaksanakan penelitian menggunakan LCA, untuk siapapenelitian LCA ini akan dilakukan dan apakah hasil akan dipublikasikan ke publik (ISO, 2006) . Pada system boundaries akan ditentukan modul spesifik mana yang dimasukkan dan dikeluarkan ketika permodelan sistem. Terdapat empat opsi dalam menentukan system boundaries, yaitu cradle to grave, cradle to gate, gate to grave dan gate to gate. Functional unit (FU) performa yang diukur berdasarkan product system akan digunakan sebagai reference unit. Pengukuran ini menguantifikasi fungsi dari

(5)

8

sebuah sistem dalam service yang ditawarkan. FU sama untuk semua skenario, dengan inventory flows dan impacts untuk skenario dihitung per FU.

2. Life Cycle Inventory

Langkah kedua adalah melakukan analisis terhadap inventory dari input/output yang berhubungan dengan sistem yang sedang diteliti. Jadi, life cycle inventory merupakan deskripsi kuantitatif dari flows material, energi dan polutan dalam system boundaries. Berikut merupakan langkah-langkah dalam melakukan inventory analysis:

a. Mulai dengan reference flows (sesuatu yang benar-benar dibeli) sesuai dengan FU.

b. Pada setiap unit proses, temukan input (quantified intermediary flows) dan emisi (elementary flows). c. Membuat data dalam bentuk flowchart atau tabel. d. Menghitung emisi untuk setiap unit proses dengan

mengalikan jumlah dari setiap unit proses per FU dengan faktor emisi/ekstraksi.

e. Menghitung total agregat emisi/ekstraksi.

3. Life Cycle Impact Assessment

Langkah selanjutnya yang ketiga adalah melakukan penilaian impact yang dihasilkan dari inventory yang digunakan dalam sistem yang sedang diteliti. Berikut merupakan langkah-langkah dalam melakukan impact asssessment:

a. Klasifikasi Pada langkah ini, harus menentukan terlebih dahulu midpoint impact categories untuk tipe masalah lingkungan yang diidentifikasi. Emisi kemudian diklasifikasi ke dalam midpoint categories yang relevan dengan efek mereka

b. Midpoint characterization Inventory flows, emisi atau ekstraksi dikalikan dengan faktor-faktor ini dan

(6)

9

kemudian dijumlah dengan setiap midpoint category untuk menghasilkan midpoint score. Pada tahap ini akan dilakukan karakterisasi nilai dari life cycle inventory sebelumnya ke dalam beberapa environmental damage category yang ada pada metode Eco-Indicator 99. Hasil klasifikasinya meliputi Greenhouse, Ozone Layer, Acidification, Eutrophication, Heavy Metals, Carcinogens, Pesticides, Summer Smog, Winter Smog, Energy resource, Solid waste.

c. Damage characterization merupakan tahapanan untuk mengkonversi dan menggabungkan hasil Life Cycle Inventory (LCI) menjadi indikator perwakilan dampak terhadap kesehatan manusia dan ekologi. Faktor Karakterisasi disebut sebagai faktor kesetaraan yang menyediakan cara untuk langsung membandingkan hasil Life Cycle Inventory (LCI) dalam setiap kategori dampak. Faktor-faktor karakterisasi menerjemahkan input persediaan yang berbeda ke dalam indikator dampak langsung dibandingkan.

d.

Normalization Langkah ini merupakan tahapan yang dilakukan untuk menentukan kontribusi relatif berdasarkan seluruh kategori dampak terhadap permasalahan lingkungan dan nantinya dapat terciptakan satuan yang seragam untuk semua kategori dampak. Weighting atau tahap pembobotan memberikan bobot pada setiap kategori dampak berdasarkan nilai kepentingan yang berbeda-beda. Pembobotan dihitung dengan mengalikan tiap kategori dampak dengan faktor pembobotan lalu ditambahkan untuk memperoleh nilai total

(7)

10

e.

Single score tahapan ini digunakan untuk mengkladifikasi kategfori dampak yang memiliki nilai tertinggi pada tahap pembobotan. Setiap kategori dampak yang bernilai tinggi memiliki kontribusi yang tinggi dalam mempengaruhi lingkungan.

2.3 Penggunaan Software Simapro 7.1

Simapro 7.1 merupakan software generasi ke 7 yang digunakan untuk menginterpretasi penggunaan metode Life Cycle Assesment, digunakan sebagai analisa serta membandingkan dampak lingkungan yang ditimbulkan dari suatu produk. Hasil ini berupa kalkulasi inputan pada kuantitas bahan baku serta kualitas, juga menghasilkan output berupa nilai grafik. Tahapn pada software simapro adalah sebagi berikut:

a) Menentukan Tujuan dan Ruang Lingkup

- Text Field, proses penginputan data dan tujuan penelitian LCA - Memilih libraries, proses pemilihan metode

(8)

11

Gambar 2.3 penentuan scope di software simapro 7.1

Pada tahapan ini scope yang dipilih adalah Ecoinvent data base, digunakan scope ini karena berfokus pada :

- Input

Data yang dimasukan merupakan input dumber material dan energy yang digunakan selama proses produksi dalam satu flow proses .

- Output

Data yang dihasilkan berupa emisi dari proses produksi b) Melakukan Inventarisasi

- Process, merujuk pada bebrapa hal yang termasuk kedalam proses produksi dari suatu produk. Berisi data yang berupa material dan energi yang dipergunakan

- Product Stage, berisi tentang bagaimana produk diproduksi - System Description, rekaman yang bertujuan untuk

mendeskripsikan struktur pada sebuah sistem

- Waste type, berisi waste yang dikeluarkan selama proses produksi

Gambar 2.4 inventory data proses di software simapro 7.1 c) Penilaian dampak lingkungan hidup

(9)

12

 Characterization adalah proses karakterisasi nilai pada life cycle inventory ke dalam 12 environmental damage category

Gambar 2.5 impact assessment characterization di software simapro 7.1

 Normalizatio adalah Prosedur yang bertujuan untuk menormalkan beberapa hasil dari tiap indikator dengan membagi dengan nilai referensi yang dipilih

(10)

13

 Weighting merupakan proses pemberian bobot pada tiap kategori dampak yang berdasarkan dengan nilai yang berbeda-beda tiap kategori yang kepentingannya relevan.

Gambar 2.7 impact assessment weighting di software simapro 7.1  Single Score merupakan proses klasifiasi kategori dampak yang memiliki

nilai tinggi berdasarkan hasil dari tahap pembobotan.

Gambar 2.8 impact assessment single score di software simapro 7.1 2.4 Definisi Efisiensi

Efisiensi merupakan perbandingan kesesuaian hasil usaha yang didalamnya terdapat peningkatan output dari proses input yang

(11)

14

telah dilakukan. Ada definisi yang dikemukakan oleh (Komaryatin, 2006) perbandingan output dan input akan dikatakan efisiensi ketika hasil output yang dilakukan mencapai hasil maksimum dengan jumlah input yang ada. Tingkat efisiensi dilihat dari penggunaan input yang minumun dengan perolehan hasil yang maksimum. Hasil tersebut didapat dari penyesuaian dalam proses produksi dari awal perhitungan bahan baku hingga hasil akhir suatu produk jadi. Hal ini perlu diterapkan agar sumberdaya serta biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan tidak mengalami pembengkakan. Dalam menghitung efisiensi ada rumus yang bisa di terapkan yaitu dengan membagi nilai output yang dihasilkan dengan input yang telah dikeluarkan.

RUMUS Efisiensi = 𝑂𝑢𝑡𝑝𝑢𝑡

𝐼𝑛𝑝𝑢𝑡

Menurut Prof. Yutta dalam Sedarmayanti, 2001:124 faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi yaitu :

1. Physical Environment lingkungan kerja. 2. Non Physical Environment suasana kerja. 3. Struktur Organisasi.

4. Prosedur dan Tata Kerja.

5. Prosedur Design corak hasil produksi. 6. Kecakapan para pekerja.

7. Keinginan bekerja.

2.5 Definisi ekonomi

Ekonomi merupakan suatu ilmu yang didalamnya mempelajari tentang aktivitas manusia yang berhubungan dengan kegiatan distribusi, produksi dan konsumsi terhadap barang dan jasa. Dalam dunia industri, ekonomi sebagai bentuk pengukuran dari hasil proses yang erjadi dalam kegiatan industri. Kebanyakan orang menilai ekonomi selalu berhubungan dengan nilai mata dan kesejahteraan masyarakat. Ekonomi juga dianggap sebagai

(12)

15

pengukur kemajuan sebuah Negara karena, ekonomi lingkup pada sumberdaya material yang dimiliki masyarakat dalam suatu Negara. Kesejahteraan masyarakat dapat diukur dari sumber material yang tersedia dan dimiliki oleh masyarakat tersebut.

2.3.1 Efisiensi Ekonomi

Efisiensi ekonomi termasuk dalam ilmu ekonomi yang lebih menekankan pada penggunaan bahan baku dengan jumlah yang lebih optimal dengan biaya bahan baku yang minimal. Dalam efisiensi ekonomi terdapat dua kombinasi yaitu efisiensi teknis yang memaksimalkan proses produksi dari input ke output dan efiensi alokatif lebih kepada input yang dihasilkan dengan biaya produksi yang dikeluarkan. Hal ini dilakukan agar tercapai suatu pertumbuhan ekonomi yang terus mengalami peningkatan meski proses produksi terus dilakukan dan pengeluaran biaya produksi. Suatu industri yang didalamnya terdapat proses input dan menghasilkan output bisa dikatakan mencapai tujuan perekonomian yang efisien.

2.3.1.1 Efisiensi teknis

Sebuah perusahaan yang menghasilkan barang pasti mengalami suatu proses produksi yang dimana didalamnya terdapat beberapa teknis pelaksanaan kegiatan. Berdasarkan kegiatan tersebut perlu adanya efisiensi teknis dalam setiap proses produksi. Menurut (Farrell, 2000) tujuan adanya efisiensi teknis, agar perusahaann dapat menghasilkan output produksi secara maksimal namun dengan input tertentu.

2.3.1.2 Efisiensi alokatif

Efisiensi alokatif merupakan bentuk perhitungan dari beberapa alokasi sumber pendukung dalam kegiatan produksi. Sumber daya alokatif ini termasuk

(13)

16

sebuah penopang perusahaan sebelum dilakukan kegiatan produksi. Untuk Efisiensi alokatif tidak semua faktor-faktor produksi dianalisis, hanyalah faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi(Simon Juan Kunea, 2016).

2.3.2 Eco-efficiency

Eco-efficiency pertama kali diperkenalkan oleh

WBCSD pada tahun 1992 dan telah diadopsi dan dikenal secara luas. Dalam penjelasannya terdapat unsur-unsur penting kemajuan ekonomi dan lingkungan ,yang diperlukan sebuah perusahaan untuk meningkatkan kemakmuran ekonomi. Upaya yang dilakukan dengan menerapkan penggunaan sumber daya yang lebih efisien dan emisi yang lebih rendah(Hendrik A. Verfaillie, 2000). Eco-efisiensi berkaitan dengan kegiatan perusahaan dalam memproduksi barang atau jasa dengan cara yang ramah lingkungan, secara bersamaan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, dan mengurangi konsumsi sumber daya(Basuki and Irwanda, 2018).

Lingkungan Hidup Republik Indonesia menjelaskan tentang konsep efisisensi terhadap sumberdaya alam serta energy dalam melakukan suatu proses produksi. Cara yang dilakukan yaitu, dengan minimasi penggunaan bahan baku, energi serta dampak lingkungan hidup yang ditimbulkan dari satu unit produk yang dihasilkan. Dewan bisnis dunia untuk pembangunan berkelanjutan berpendapat bahwa Eko-efisiensi untuk memuaskan kebutuhan masyarakat dan meningkatkan kualitas hidup dengan menciptakan produk dan layanan dengan keuntungan harga yang kompetitif, sekaligus menjaga dampak lingkungan dan intensitas pemanfaatan sumber daya di dalam kapasitas angkut bumi. (Robin Bidwell, 2001)Berpendapat bahwa ada hakekatnya,

(14)

17

eco-efficiency tidak lepas dari nilai ekonomi yang

didapatkan sebuah perusahaan. Hal tersebut membuat perlu adanya perhitungan

Di negara-negara maju di mana tingkat kepedulian lingkungan relatif tinggi, efisiensi lingkungan merupakan fenomena yang baru saja muncul. Hal tersebut menjadikan kesadaran lingkungan fisik dan sosial sangat kuat di semua tingkatan karena akan mempengaruhi kinerja perusahaan di masa depan. Namun, dalam menganalisis eko-efisiensi teknologi atau produk baru, kerangka kerja akuntansi agregat mungkin kehilangan detail penting dan mekanisme efek terkait. Dari pernyataan tersebut maka disimpulkan

Eco-efficiency merupakan sebuah konsep yang memperhitungkan

efisiensi sumber daya dengan mengurangi pemakaian sumber daya untuk memproduksi satu buah produk dan efisiensi dari kegiatan ekonom. Tujuannya untuk menciptakan nilai tambah sebuah produk, tanpa meningkatkan jumlah sumber daya dalam aktivitas produksi.

2.3.3 Prinsip Eco-Efficiency

Menurut WBSCD, prinsip-prinsip dalam Eco-Efficiency adalah sebagai berikut:

1. Mengurangi penyebaran bahan beracun (toxic) yang beresiko pada kesehatan.

2. Efisiensi penggunaan sumber daya alam yang dapat diperbarui, dan meminimalisasi dampak lingkungan. 3. Memperpanjang daur hidup produk dan pengembangan

pasar.

4. Meningkatkan nilai tambah produk dan jasa, dan memperluas pasar

(15)

18

Pada sector bisnis dapat diterapkan perhitungan eco-efficiency dengan beradasarkan pada rasio nilai suatu produk atau jasa yang memberikan dampak terhadap lingkungan. nantinya dampak tersebut berpengaruh langsung terhadap kualitas lingkungan.(William Sutomo Lay, 2014). Untuk menghitungnya menggunakan persamaan berikut ini

2.3.4.1 Eco-Cost

Perhitungan eco-cost dilakukan untuk mengetahui jumlah dampak lingkungan yang ditimbulkan dari sebuah produk (Yulius Windrianto, 2016). Dengan mengetahui jumlah dampak yang ditimbulkan, produsen akan sangat memperhatikan proses pembuatan serta pemilihan bahan baku yang akan digunakan. Eco-cost menghasilkan biaya yang harus dikeluarlkan produsen untuk mengurangi polusi yang ditimbulkan dan biaya atas pengurangan bahan baku yang ada di alam. Konsep yang dipakai dalam perhitungan ini adalah konsep biaya bayangan atau shadow price, pembentuk biaya-biaya pencegahan yang nantinya bertemu dengan biaya-biaya kerusakan sebagai hasil dari suatu sistem perdagangan. Perhitungan yang ada dalam eco-cost mengasilkan kalkulasi biaya kerusakan yang dikeluarkan dalam suatu proses produksi. (TU Delfi,2015).

2.3.4.2 Cost benefit analysis (CBA)

Perhitungan cost benefit analysis (CBA) digunakan untuk mengetahui besar net value yang dihasilkan sebuah produk yang telah selesai diproduksi. Nilai Net value didapatkan dari hasil pengurangan harga jual dengan Harga Pokok Produksi, lalu didapatkan besar net value yang dipengaruhi dari keperluan biaya dalam proses produksi suatu produk atau jasa dan nilai penjualannya (Yulius Windrianto, 2016). Cost benefit bisa digunakan untuk menganalisis biaya dalam desain sistem informasi. Perhitungan CBA melibatkan perhitungan komponen biaya dan komponen manfaat. Komponen biaya sendiri meliputi

(16)

19

biaya pengadaan (procurement cost), biaya persiapan operasi (start-up cost), biaya proyek (project cost), dan biaya operasi serta perawatan (on going and maintenance cost) (Idris, 2014) .

2.3.4.3 Eco Efficiency Index (EEI)

Menurut (HENDRIKS, 2011) dalam jurna yang telah ditulis oleh (Tak Hur [12]) perhitungan eco-efficiency index dilakukan untuk mendapatkan nilai affordable dan sustainable suatu produk. Input dari nilai EEI berupa besar nilai eco-cost dan besar

net value yang dihasilkan produk dengan mempertimbangkan

input nilai dari rasio kelayakan keuntungan (benefit cost). Cara perhitungan EEI dapat dilihat pada persamaan berikut(Robin Bidwell, 2001).

𝐸𝐸𝐼 = 𝑝𝑟𝑖𝑐𝑒 − 𝑐𝑜𝑠𝑡 𝐶𝑜𝑠𝑡 + 𝐸𝑐𝑜 𝐶𝑜𝑠𝑡

Produk akan dikatakan affordable dan sustain apabila nilai EEI>1, sedangkan dikatakan affordable, namun tidak sustain apabila produk tersebut memiliki nilai EEI = 0 - 1 dan juga produk akan dikatakan tidak affordable dan tidak sustain jika hasil nilai EEI < 0.

2.3.4.4 Eco-cost Value Ratio

Perhitungan ini biasanya diterapkan untuk penilaian dampak lingkungan dari perencanaan perkotaan dan pedesaan. Nilai rasio biaya-lingkungan / nilai (EVR digunakan untuk menghubungkan 'rantai nilai' dengan 'rantai produk' ekologis dari suatu produk yang dihasilkan perusahaan. Dalam rantai nilai, nilai tambah (dalam hal uang) dan biaya tambahan ditentukan untuk setiap langkah produk ‘dari buaian hingga kuburan’. Demikian pula, dampak ekologis dari setiap langkah dalam rantai produk dinyatakan dalam bentuk uang, yang disebut biaya-eko. Rasio 'biaya-ramah lingkungan' dan 'nilai' didefinisikan dalam setiap langkah dalam rantai sebagai: (Chikmatin, 2019a)

(17)

20

EVR = 𝐸𝑐𝑜 𝐶𝑜𝑠𝑡 𝑁𝑒𝑡 𝑉𝑎𝑙𝑢𝑒

2.3.4.5 Eco Efficiency Ratio (EER)

Indikator eko-efisiensi juga dihitung sebagai rasio yang digunakan untuk menggabungkan indicator kinerja ekonomi dan lingkungan(Per Mickwitz, 2006). Produk dan layanan dari suatu perusahaan dimasa depan harus memiliki rasio nilai/biaya yang tinggi yang dikombinasikan dengan beban rendah yang ditanggung oleh lingkungan kita. Menurut Vogtlander et al.(2010) dalam jurnal (HENDRIKS, 2011) hasil perhitungan EER Rate diperoleh dengan cara membagi nilai effisiensi ekonomi yang dihasilkan dari nilai net value yang diperoleh sehingga, diketahui rasio Eco-cost dengan net value kemudian hasilnya dikurangi dengan 1 dan dikalikan dengan 100%. Persamaannya sebagai berikut

EER Rate = (1-EVR) 100%

Data yang digunakan untuk menghitung nilai EEI adalah biaya hasil dari representasi nilai atau output Eco-cost dan besar net

value.

2.3.5 Keuntungan Pengukuran Eco-Efficiency

Menurut Livio and frank (1997), pada penjelasan menurut (Rozi, 2018) ada beberapa keuntungan yang bisa didapat perusahaan dari pengukuran eco-effiiency. Diantaranya adalah:

1. Pemantauan kemajuan dari waktu ke waktu dapat dilakukan jika dibandingkan dengan yang lain.

2. Memberikan pemahaman dasar yang baik untuk menetapkan target bagian yang membutuhkan eco-effciency.

3. Membantu menetapkan prioritas-prioritas untuk sebuah tindakan. 4. Memutuskan program alternatif tindakan.

5. Memberikan informasi kepada para pemangku kepentingan eksternal

Gambar

Gambar 2.1 Model Life Cycle Assessment Sumber : Baumann and Tillman (2002)
Gambar 2.2 penentuan goals di software simapro 7.1
Gambar 2.3 penentuan scope di software simapro 7.1
Gambar 2.5 impact assessment characterization di software simapro 7.1
+2

Referensi

Dokumen terkait

SDLC atau Software Development Life Cycle atau sering disebut juga System Development Life Cycle adalah proses mengembangkan atau mengubah suatu sistem perangkat lunak

Mikrokontroler adalah suatu keping IC dimana terdapat mikroprosesor dan memori program (disebut: ROM ) serta memori serba-guna (disebut: RAM ), bahkan ada beberapa

Misalnya Strategi biasanya mencakup studi tentang sistem saat ini (disebut sebagai-adalah sistem) dan masalah, dan membayangkan cara untuk merancang sistem baru

Kalor yang dimaksud disini disebut kalor laten penguapan dan terkadang disebut juga kalor kondensasi (heat of condensation) dalam lingkup bahasan kondensor. Dan

Sebagai makhluk sosial, manusia akan memperoleh beberapa karakteristik yang memengaruhi tingkah lakunya. Faktor karakteristik ini sering disebut sebagai

Gambar belah ketupat merupakan perlambangan relasi antar entitas atau sering disebut kerelasian. Derajat relasi atau yang biasa disebut dengan kardinalitas merupakan relasi

1) Faktor-faktor kepuasan disebut satisfier adalah kemajuan, pengakuan, tanggung jawab, perkembangan karir dan pekerjaan itu sendiri. Apabila faktor-faktor tersebut

Menurut APQC ([Http 10]), Order fulfillment cycle time (dipergunakan yang dapat bertukar tempat dengan waktu siklus pesanan pelanggan) adalah rata-rata actual cycle time secara