2
ABSTRAK
Lina Jahrona (140304019) dengan judul skripsi “Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Daging Ayam Broiler di Provinsi Sumatera Utara”. Penelitian ini dibimbing oleh Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis M.Ec selaku ketua komisi pembimbing dan Bapak Dr. Ir. H. Hasman Hasyim M.Si selaku anggota komisi pembimbing.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan ayam broiler dan apa saja faktor – faktor yang mempengaruhi permintaan ayam broiler di Provinsi Sumatera Utara.
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda.
Hasil penelitian Perkembangan permintaan daging ayam broiler mengalami fluktuatif setiap tahun. Permintaan daging ayam broiler di Provinsi Sumatera Utara secara serempak dipengaruhi oleh harga daging ayam broiler, produksi daging ayam broiler, pendapatan dan harga ikan kembung namun secara parsial harga daging ayam broiler, produksi daging ayam broiler dan pendapatan berpengaruh nyata terhadap permintaan daging ayam broiler sedangkan harga ikan kembung tidak berpengaruh nyata.
Kata Kunci : Permintaan, Harga Daging Ayam Broiler, Produksi Ayam Broiler Pendapatan, Harga Ikan Kembung.
Lina Jahrona (140304019) with the title "The factors that Affect the demand for Broiler Chicken Meat in The Province of North Sumatra".
Superviced by Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec a Chairman of the supervisory commission and Bapak Dr. Ir. H. Hasman Hasyim, M.Si a member of the Commission supervising.
The purpose of this research is to know the development of chicken broiler and what factors – factors are affect the demand for broiler chickens in the province of North Sumatra.
Methods of data analysis used in this study are descriptive analysis and multiple linear regression analysis.
Results of research developments in demand for chicken broiler experience fluctuating every year. Broiler chicken meat demands in North Sumatra Province simultaneously affected by the price of broiler chicken meat, chicken broiler meat production, income and price of mackerel but partially price chicken broiler, broiler chicken meat production and the income real effect to a request while the broiler chicken meat price mackerel has no effect.
Keywords : Demand, The Price Of Chicken Broiler, Broiler Chicken Production, Income, Price Of Mackerel.
RIWAYAT HIDUP
LINA JAHRONA, lahir di Kota Padangsidimpuan pada 10 Juni 1996. Penulis merupakan anak Kedua dari Bapak Sangwirawan dan Ibi Sri Yanti.
Pendidikan formal yang ditempuh penulis adalah sebagai berikut :
1. Tahun 2002 masuk Sekolah Dasar di SDN 200117/26 Padangsidimpuan, tamat tahun 2008
2. Tahun 2008 masuk sekolah Menengah Pertama di SMP N 4 Padangsidimpuan, tamat tahun 2011.
3. Tahun 2011 masuk Sekolah Menengah Atas di SMA N 2 Padangsidimpuan, tamat tahun 2014
4. Tahun 2014 diterima di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara melalui jalur SNMPTN.
Kegiatan yang pernah diikuti penulis selama duduk di bangku kuliah adalah sebagai berikut:
1. Anggota FSSM SEP di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
2. Anggota Ikatan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (IMASEP) Universitas Sumatera Utara .
3. Panitia perayaan ulang tahun Program Studi Agribisnis FP USU ke – 36.
4. Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Desa Sei Muka, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara pada bulan Juli – Agustus 2017.
5. Melaksanakan penelitian skripsi di Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2018.
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehinggA dapat menyelesaiakan skripsi ini dengan baik yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatakan gelar sarjana jenjang strata satu di fakultas Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dengan judul
“Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Daging Ayam Broiler di
Provinsi Sumatera Utara”.
Penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Sebagai bentuk syukur, penulis ingin menyampaikan terimakasih dan penghargaan kepada:
1. Bapak Dr. Ir.Satia Negara Lubis, M.Ec selaku ketua komisi pembimbing sekaligus ketua jurusan Program studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara yang selama ini telah banyak membantu seluruh proses penyelesaian skripsi ini.
2. Bapak Dr. Ir. H. Hasman Hasyim, M.Si selaku anggota komisi pembimbing telah meluangkan waktu dan ketersediaannya dalam memberikan bimbingan.
3. Bapak Ir. M. Jufri, M.Si selaku dewan penguji sekaligus sekretaris jurusan Program Studi Agribisnis Fakultas pertanian Universitas Sumatera Utara
4. yang telah memberikan masukan dan kritik dalam pengerjaan skripsi dan masa perkuliahan.
5. Ibu Ir. Iskandarini, MM, Ph.D selaku dewan penguji yang telah memberikan masukan dan kritik dalam pengerjaan skripsi penulis.
6. Seluruh dosen dan staf pegawai Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara yang selama ini telah memberi ilmu pengatahuan kepada penulis.
7. Seluruh pegawai dan administrasi di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara yang telah banyak membantu seluruh proses dalam penyelesaian skripsi ini.
8. Pihak Biro Pusat Badan Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara, yang telah memberikan data-data yang diperlukan dalam penyusunan skripsi ini 9. Orang Tua tercinta ibunda Sri Yanti dan ayahanda Sangwirawan, penulis
mengucapkan terimakasih atas segala keiklasannya dalam mendukung dan senantiasa mendoakan, memberikan semangat serta perhatian selama penulis mengikuti pendidikan hingga selesai.
10. Kakak tersayang Shinta Sakinah dan Adik - adik kesayangan saya Widya Darris Sa’adah, Arif Mursidan, Wasilaturrahmi dan keponakan tercinta Malika Kirana yang telah banyak memberikan motivasi dan doanya selama pengerjaan skripsi ini.
meluangkan waktunya untuk membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
12. Kerabat saya Devi Usmawati, Siti Rahma Putri, Ni’mah Sari Siregar, AtikaHidayati, Zulfahri Amin, Riki Kurniawan, Dede Patria Nugraha, Mhd Hafiz, Agus Bastian, Arie Febriansyah, Mhd Arif Nst, Herry Arie Chandra, Sunny Purbawy, Ichsan Mustaqim, Andri Prasetyo, tim rumah kontrakan saya yang berperan sebagai umak Masyitoh Art, kakak besar Diah Ayu Putri srg dan kakak tengah Wahyu Annisa dan teman – teman lainnya angkatan 2014 Program StudiAgribisnis yang telah memberikan doadan semangat kepada penulis baikdukungan secara langsung maupun tidak langsung.
13. Pihak - pihak lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini.
Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan pengetahuan bagi semua pihak yang berkepentingan.
Medan, Mei 2018
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Identifikasi Masalah ... 4
1.3 Tujuan Penulisan ... 4
1.4 Kegunaan Penelitian... 4
1.5 Keaslian Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ayam Broiler ... 6
2.2 Landasan Teori ... 9
2.2.1 Faktor – Faktor yang mempengaruhi Permintaan ... 11
2.2.2 Perubahan Permintaan ... 13
2.3 Penelitian Terdahulu ... 13
2.4 Kerangka Pemikiran ... 16
2.5 Hipotesis Penelitian ... 17
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penetuan Daerah Penelitian ... 18
3.2 Metode Pengumpulan Data ... 18
3.3 Metode Analisis Data ... 19
3.4 Definisi Dan Batasan Operasional ... 25
3.4.1 Definisi ... 25
3.4.2 Batasan Operasional ... 26
BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN 4.1 Letak Geografis, Iklim, dan Topografi Provinsi Sumatera Utara ... 27
4.2 Keadaan Penduduk Sumatera Utara ... 30
4.3 Sentra Populasi Daging Ayam Broiler di Provinsi Sumatera Utara .... 30
4.4 Perkembangan Produksi Daging Ayam Broiler di Provinsi Sumatera Utara ... 31
4.5 Jumlah Konsumsi Daging Ayam Broiler di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2001 – 2016 ... 32
4.6 Harga Daging Ayam Broiler di Provinsi Sumatera Utara ... 33
Sumatera Utara ... 36 5.2 Hasil Uji Hipotesis 2 Analisis Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Daging Ayam Broiler di Provinsi Sumatera Utara ... 37 5.2.1 Uji Asumsi Klasik ... 37 5.2.2 Uji Kesesuaian (Goodness of Fit Test) ... 40 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan ... 43 6.2 Saran ... 44 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
No Tabel Judul Hal
1.1 Perkembangan Konsumsi Daging Ayam Broiler dan
Ayam Buras di Indonesia Tahun 2000 - 2015 2 1.2 Kandungan Gizi Pada 100gram Daging Ayam 2 1.3 Produksi Daging Ayam Broiler Menurut Provinsi
Sumatera Utara 2010 – 2015 3
1.4 Populasi Ternak Unggas Menurut Jenis (ekor) 2010 –
2016 3
2.1 Penelitian Terdahulu 13
3.1 Produksi Daging Ayam Broiler di Indonesia Tahun
2012 – 2016 18
4.1 Jumlah Penduduk Sumatera Utara Tahun 2001 – 2016 29 4.2 Populasi Ternak Unggas Menurut Jenis (ekor) 2010 –
2016 30
4.3 Produksi Daging Ayam Broiler di Provinsi Indonesia
Tahun 2012 – 2016 30
4.4 Produksi Daging Ayam Broiler di Provinsi Sumatera
Utara Tahun 2001 – 2016 (kg) 31
4.5 Konsumsi Daging Ayam Broiler di Provinsi Sumatera
Utara Tahun 2001 – 2016 (Kg/Kapita/Tahun) 32 4.6 Harga Daging Ayam Broiler (Rp/Kg) Tahun 2001 –
2016 33
4.7 Harga Ikan Kembung di Provinsi Sumatera Utara Tahun
2001 – 2016 34
4.8 Tingkat Pendapatan Sumatera Utara Tahun 2001 – 2016 35 5.1 Hasil permintaan dan Pertumbuhan Daging Ayam
Broiler 36
5.2 Hasil Uji Asumsi Normalitas Model Permintaan Daging
Ayam Broiler 38
5.3 Hasil Uji Asumsi Multikolineritas Model Permintaan
Daging Ayam Broiler 38
5.4 Hasil Uji Asumsi Heterokedastisitas Model Permintaan
Daging Ayam Broiler 39
5.5 Uji Asumsi Autokorelasi dengan menggunakan Uji
Durbin-Watson 39
5.6
Analisis Pengaruh harga daging ayam Broiler, harga ikan kembung, produksi daging ayam Broiler, dan pendapatan
40
2.1 Faktor yang Mempengaruhi Permintaan 12 2.2
Skema Kerangka Pemikiran Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Daging Ayam Broiler Di Provinsi Sumatera Utara
17
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Judul
1. Harga Daging Ayam Broiler (Rp/Kg) 2. Produksi Daging Ayam Broiler (Kg/Tahun) 3. Harga Ikan Kembung (Rp/Kg)
4. Pendapatan (Rp)
5. Konsumsi Daging Ayam Broiler (Kg/Kap/Tahun) 6. Jumlah Penduduk (Jiwa)
7. Uji Normalitas 8. Uji Multikolinieritas 9. Uji Heterokedastisitas 10. Uji Autokorelasi 11. Uji R Square 12. Uji F
13. Uji t
1.1 Latar Belakang
Daging ayam broiler merupakan konsumsi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan protein penduduk di Sumatera Utara. Sebagai kebutuhan konsumsi pokok pada penduduk, daging ayam broiler mudah untuk di temui di pasar juga harga daging ayam broiler yang dapat dijangkau masyarakat. Hal ini mengakibatkan permintaan daging ayam broiler meningkat dari tahun ke tahun.
Konsumsi dapat diartikan sebagai bagian pendapatan rumah tangga yang digunakan untuk membiayai pembelian aneka jasa dan kebutuhan lain. Besarnya konsumsi selalu berubah – ubah sesuai dengan naik turunnya pendapatan, apabila pendapatan meningkat maka konsumsi akan meningkat. Sebaliknya, apabila pendapatan turun maka konsumsi akan turun. Konsumsi dibagi menjadi dua, yaitu konsumsi untuk makanan. Data konsumsi (dalam rupiah) ini dapat digunakan untuk melihat pola konsumsi penduduk (Partadireja, 1990).
Mengkonsumsi daging ayam broiler terlalu sering dapat berakibat buruk bagi kesehatan. Daging ayam broiler mengandung suntikan hormon yang disuntikkan ke bagian leher dan sayap ayam. Hormon tersebut dapat menumpuk didalam daging dan berguna mempercepat pertumbuhan ayam tersebut. Suntikan hormon tersebut berbahaya dan dapat memicu berbagai penyakit seperti kanker dan kista. Oleh karena itu, daging ayam broiler tidak boleh terlalu sering dikonsumsi.
2
Tabel 1.1 Perkembangan Konsumsi Daging Ayam Broiler dan Ayam Buras di Indonesia Tahun 2011 – 2015
Tahun Ayam Broiler (Kg/Kap/Th)
Ayam Buras (Kg/Kap/Th)
Total (Kg/Kap/Th)
2011 3,6500 0,6257 4,2757
2012 3,4936 0,5214 4,0150
2013 3,6500 0,4693 4,1193
2014 3,9880 0,4992 4,4872
2015 3,9733 0,5220 4,4953
Rata - Rata 3,7510 0,5275 4,2785
Sumber : BPS diolah Pusdatin
Dari Tabel 1.1 dapat dijelaskan bahwa perkembangan konsumsi daging ayam broiler di Indonesia mengalami fluktuasi dan meningkat beberapa tahun terakhir berbeda dengan ayam buras, dimana jumlah konsumsi relatif lebih sedikit dibandingkan ayam broiler.
Tabel 1.2 Kandungan Gizi Pada 100 gram Daging Ayam Komposisi Gizi Ayam
Energi 302 kkal
Protein 18,2 gr
Lemak 25 gr
Kalsium 14 mg
Fosfor 200 mg
Zat Besi 2 mg
Vitamin A 810 IU
Vitamin B1 0,08 mg
Vitamin C 0 mg
Sumber : Kementrian Kesehatan RI
Mengkonsumsi daging ayam memang baik karena mengandung nilai gizi, mineral, dan nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Dapat dilihat dari Tabel 1.2 komposisi gizi ayam ras terdiri dari energi sebesar 302 kkl, protein sebesar 18,2 gr, lemak sebesar 25 gr, kalsium sebesar 14 mg, fosfor sebesar 200 mg, zat besi 2 mg, vitamin A sebesar 810 IU, vitamin B1 sebesar 0,08 mg, vitamin C sebesar 0 mg.
Tabel 1.3 Produksi Daging Ayam Broiler Menurut Provinsi Sumatera Utara 2010 – 2015
Tahun Produksi Daging Ayam Broiler (Ton)
2010 54.254
2011 47.122
2012 35.287
2013 37.808
2014 38.855
2015 39.112
Sumber : databoks.katadata.co.id
Dari Tabel 1.3 Produksi daging ayam broiler sempat mengalami fluktuasi dimana terjadi penurunan dalam beberapa tahun lalu namun kemudian kembali meningkat pada tahun 2013 yaitu 37.808 ton.
Tabel 1.4 Populasi Ternak Unggas Menurut Jenis (ekor) 2010 – 2016
Tahun Jenis Unggas
Pedaging Petelur Ayam Buras Itik
2010 39.376.258 8.839.750 11.671.883 2.569.664 2011 40.360.663 9.060.742 11.963.681 2.633.909 2012 42.813.178 12.055.592 12.073.428 2.790.326 2013 46.064.412 15.704.311 15.545.153 2.411.989 2014 47.179.814 14.838.083 14.037.817 2.361.944 2015 49.798.186 15.207.333 14.254.756 2.529.676 2016 54.398.314 15.790.582 15.035.745 2.627.291 Sumber : Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera utara
Dari Tabel 1.4 dapat diketahui bahwa populasi ternak unggas mengalami perubahan pada setiap tahunnya. Populasi ayam pedaging dari tahun 2010 sampai 2016 merupakan populasi terbesar dari jenis ternak unggas lainnya. Sedangkan populasi ternak unggas terkecil adalah itik.
4
1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana permintaan daging ayam broiler di Provinsi Sumatera Utara ? 2. Apakah faktor – faktor (harga daging ayam broiler, produksi ayam broiler,
pendapatan dan harga ikan kembung) yang mempengaruhi permintaan daging ayam broiler di Provinsi Sumatera Utara ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui permintaan daging ayam broiler di Provinvi Sumatera Utara.
2. Untuk menganalisis faktor – faktor (harga daging ayam broiler, produksi ayam broiler, pendapatan dan harga ikan kembung) yang mempengaruhi permintaan daging ayam broiler di Provinsi Sumatra Utara.
1.4 Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi:
1. Peternak, dapat lebih meningkatkan produksi dan menjaga ketersediaan daging ayam broiler agar dapat memenuhi permintaan pasar.
2. Pemerintah, sebagai informasi untuk menjaga kestabilan harga maupun membantu para peternak atau pelaku usaha dalam memenuhi permintaan akan daging ayam khususnya di Sumatera Utara.
3. Sebagai bahan informasi dan referensi bagi penelitian selanjutnya serta bagi pihak yang membutuhkan.
1.5 Keaslian Penelitian
1. Model Penelitian : Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah Analisis Regresi Linier Berganda.
2. Jumlah Sampel : Sampel dalam penelitian ini adalah data time series perhitungan dari tahun 2001 – 2016.
3. Waktu Penelitian : Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari sampai Maret 2018.
4. Lokasi Penelitian : Penelitian ini dilakukan di Sumatera Utara.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ayam Broiler
Menurut (NGA Mulyantini, 2011) ayam pedaging atau yang disebut juga ayam broiler adalah ayam hasil budidaya teknologi peternakan yang memiliki karakteristik ekonomi dengan ciri khas sebagai penghasil daging.
Pertumbuhannya cepat dengan konvensi makanan yang irit, dan siap dipotong pada usia yang relatif muda, yaitu hanya 5-6 minggu sudah bisa di panen. Jenis ayam broiler adalah jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging ayam.
Ayam ini baru populer di Indonesia sejak tahun 1980-an, dan telah dikembangkan dengan sangat pesat di setiap negara. Di Indonesia, usaha ternak ayam pedaging juga sudah dapat dijumpai di hampir setiap provinsi.
Berikut adalah klasifikasi ternak ayam adalah sebagai berikut;
Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata Kelas : Aves Subkelas : Neornithes Ordo : Galliformes Marga : Gallus
Spesies : Gallus domesticuss
Menurut (NGA Mulyantini, 2011) terdapat dua teori mengenai proses domestikasi unggas, yaitu teori monopiletik dan polipiletik.
1. Teori Monopiletik, yaitu teori asal usul ayam yang mengatakan bahwa ayam berasal dari satu keturunan Gallus gallus / ayam hutan yang banyak terdapat di hutan-hutan Asia Tenggara. Teori ini berdasarkan bukti bahwa persilangan ayam peliharaan dengan Gallusgallus menghasilkan telur yang fertil, sedangkan dengan Gallus yang lainnya tidak menghasilkan telur yang fertil. Bukti lain menunjukkan bahwa ayam peliharaan yang terdapat di berbagai wilayah di dunia mengandung darah ayam hutan merah (Gallusgallus) serta warna bulu mirip dengan warna bulu Gallus gallus.
2. Teori Polipiletik, yaitu teori asal usul ayam yang menyatakan bahwa ayam berasal dari beberapa persilangan ayam hutan / Gallus gallus. Persilangan tersebut dapat berasal dari beberapa Gallus,yaitu;
Gallus varius, yaitu ayam hutan hijau yang banyak terdapat di Pulau Jawa.
Gallus bankiva, yaitu ayam hutan merah yang terdapat di Asia Tenggara, misalnya di Thailand, Birma, dan Sumatera.
Gallus sonnerati, yaitu ayam hutan kelabu yang banyak tersebar di India Barat.
Gallus laffayetti, yaitu yang banyak terdapat di Srilanka.
Lebih dari 4000 tahun yang lalu, orang – orang yang tinggal di tempat yang sekarang bernama India mendomestikasi ayam hutan lokal yang merupakan asal muasal ayam modern kita. Dari lembah Indus, praktek memelihara Gallus gallus disekitar rumah menyebar ke berbagai daerah. Sekitar 500 tahun SM ayam yang didomestikasi tersebut telah mencapai Korea di timur dan Mediterania di
8
barat. Pada tahun 1000 M, ayam – ayam di besarkan di peternakan di Islandia, Madagaskar, Bali, dan Jepang. 500 tahun kemudian, ketika ayam pertama mencapai Amerika mendarat dari kapal Columbus, ayam hutan yang sederhana menaklukkan dunia.
Semua ayam modern merupakan keturunan dari Gallus gallus dari India, tetapi pada tahapan awal beberapa keturunan dan verietas telah berkembang (semua ayam yang berasal dari keturunan yangsama memiliki bentuk yang sama varietas dalam keturunan berbeda dalam hal warna bulu ayam).
Orang orang Cina kuno sudah kenal dengan beberapa jenis ayam, dan begitu juga dengan orang Yunani. Selama ribuan tahun ayam-ayam diternakkan bukan karena kualitas mereka sebagai ayam pedaging (broiler) atau ayam petelur, tetapi untuk semangat berjuang mereka atau nilai mereka sebagai benda yang unik, seperti kemampuan bertarung, keberadaan jengger di kepala, ataupun bulu yang menarik.
Di Asia, peternakan menjamur selama beberapa abad, dan beberapa breed superior telah dikembangkan. Sementara di peternakan ayam Eropa, meskipun tersebar luas, tetap menjadi pekerjaan sampingan. Usaha peternakan unggas, jika adalebih diarahkan menuju angsa daripada ayam.
Setelah perang agama yang merusak dan revolusi petani pada abad ke -16, ayam berhenti menjadi pemandangan yang umum di kota-kota Eropa atau halaman peternakan. Kebanyakan orang menghabiskan seluruh hidup mereka tanpa pernah merasakan ayam. Hal ini berubah secara dramatis pada abad ke -18 dan ke -19, ketika pengenalan ternak berkualitas dari Asia secara hebat menstimulasi kepentingan ekonomis dari ayam.
Ayam broiler breeder sekarang ini dikembangkan dari dua sumber keturunan utama. Untuk garis paternal digunakan keturunan White Cornish.
Keturunan ini dikembangkan di Inggris abad ke -19 dari ayam aduan Asia.
Keturunan White Plymouth Rock, dikembangkan terutama di USA selama paruh pertama abad ke -20, digunakan sebagai sumber garis maternal broiler. Keturunan Cornish pada keadaan aslinya, lebih terspesialisasi pada pertumbuhan otot (dada), sementara ayam betina White Plymouth Rock adalah ayam petelur terbaik dari kedua jenis (Nurkirman, 2016).
2.2 Landasan Teori Teori Permintaan
Teori permintaan adalah teori ekonomi yang menyatakan bahwa harga dipengaruhi oleh permintaan. Oleh karena itu, teori tersebut berasumsi bahwa ketika permintaan di pasar naik, maka harga barangpun akan ikut naik. Tetapi, jika permintaan turun, maka hargapun akan ikut turun. Turunnya permintaan itu sendiri disebabkan oleh naiknya atau terlalu tingginya harga dipasar, sehingga masyarakat berfikir ulang untuk spending money. Ketika masyarakat tidak berminat untuk membeli barang mereka (produsen), maka produsen akan menurunkan harganya, agar masyarakat dapat kembali mengkonsumsi barang yang mereka produksi.
Kaidah permintaan dapat dinyatakan dalam cara yang paling sederhana yaitu;
Pada harga tinggi, lebih sedikit barang yang akan diminta ketimbang pada harga rendah asalkan hal-hal lain sama.
Pada harga rendah, lebih banyak barang yang akan diminta ketimbang pada harga tinggi asalkan hal-hal lain sama.
10
Jadi kaidah permintaan menyatakan bahwa kuantitas yang diminta untuk suatu barang berhubungan terbalik dengan hargabarang tersebut,asalkan hal-hal lain sama pada setiap tingkat harga.
Frase “asalkan hal-hal lain sama” adalah bagian dari kaidah permintaan.
Harga bukanlah satu-satunya hal yang mempengaruhi berapa jumlah barang yang ingin dibeli orang. Ada beberapa hal lain yang mempengaruhi jumlah yang dibeli.
Pengaruh “non harga” yang penting dalam pendapatan. Jika ketika suatu barang berubah pendapatan juga berubah, kita tidak akan tau apakah perubahan kuantitas yang dijual belikan dalam pasar itu akibat perubahan pendapatan. Akan tetapi jika pendapatan konstan. Disamping parameter harga non barang lainnya, dan harga yang berubah, dengan yakin kita akan mengetahui bahwa perubahan harga menyebabkan perubahan kuantitas yang diminta (Roger, 2000).
Konsumsi merupakan kegiatan menggunakan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup. Barang dan jasa yang digunakan dalam proses produksi tidak termasuk konsumsi, karena barang dan jasa itu tidak digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Barang dan jasa dalam proses produksi ini digunakan untuk memproduksi barang lain.
Tindakan konsumsi dilakukan setiap hari oleh siapapun, tujuannya adalah untuk memperoleh kepuasan setinggi - tingginya dan mencapai tingkat kemakmuran dalam arti terpenuhi berbagai macam kebutuhan, baik kebutuhan pokok maupun sekunder, barang mewah maupun kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Tingkat konsumsi memberikan gambaran tingkat kemakmuran seseorang atau masyarakat. Adapun pengertian kemakmuran adalah semakin
tinggi tingkat konsumsi seseorang maka semakin makmur, sebaliknya rendah tingkat konsumsi seseorang berarti semakin miskin (James, 2001).
2.2.1 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Permintaan
Perubahan permintaan terdapat suatu barang terjadi disebabkan oleh perubahan beberapa faktor, apakah sebagai faktor utama (harga barang itu sendiri), maupun faktor lainnya sebagai pendukung. Dengan fungsi sebagai berikut :
D = f (Pq, Y, Py, T, C, Ed)
Dimana :
Pq : Harga barang itu sendiri(q)
Y : Pendapatan konsumen yang siap untuk dibelanjakan Py : Harga barang (y) yang dapat mensubtitusikan barang (x) T : Taste (selera konsumen)
C : Jumlah konsumen
Ed : Expected (harapan konsumen)
Perubahan jumlah barang yang diminta oleh pembeli tidak hanya bertumpu kepada harga barang itu sendiri tetapi banyak faktor. Perubahan tingkat pendapatan konsumen yang mengalami kenaikan dan harga barang (P) tetap, bukan berarti permintaan akan mengalami kenaikan jika ternyata selera konsumen kurang berkenan. Akan tetapi pada kenaikan tingkat pendapatan konsumen diikuti oleh kenaikan jumlah konsumen sudah tentu jumlah permintaan akan meningkat dan harga barang (P) tetap, demikian seterusnya (Sumanjaya dkk, 2011).
12
Po A B C
harga per unit ($)
P1 E F G
D1 D0
0 qa qb qEqcqf qG
Banyaknya Permintaan Barang(q1)/Unit
Gambar 2.1 Faktor yang Mempengaruhi Permintaan
Garis permintaan ini mengandung makna bahwa jumlah barang yang diminta akan mengalami perubahan apakah naik atau turun dipengaruhi jumah faktor tersebut. Garis permintaan bergeser kesebelah kanan berarti jumlah permintaan meningkat dan sebaliknya menurun jumlah permintaan ditandai dengan pergeseran garis permintaan ke sebelah kiri. Pergeseran garis permintaan ini tentunya sebagai konsekuensi perubahan independent variable dari jumlah barang yang akan diminta atau dibeli konsumen (Sumanjaya dkk, 2011).
2.2.2 Perubahan Permintaan
Perubahan permintaan dapat dibedakan menjadi : - Pergerakan sepanjang kurva permintaan - Pergeseran kurva permintaan
Pergeseran sepanjang kurva permintaan, perubahan permintaan sepanjang kurva permintaan terjadi bila harga komoditi yang diminta berubah (naik atau turun). Penurunan harga komoditi tersebut akan menaikkan jumlah yang diminta
Lanjutan Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Pergeseran kurva permintaan ke kanan atau ke kiri disebabkan oleh perubahan permintaan yang ditimbulkan oleh faktor-faktor harga komoditi tersebut. Sebagai contoh kenaikan pendapatan memungkinkan pembeli untuk menaikkan harga pada setiap tingkat harga bila harga komoditi yang dibeli tidak berubah sehingga akan menggeser kurva permintaan komoditi tersebut ke kanan (Sugiarto dkk,2000).
2.3 Penelitian Terdahulu Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No. Nama Judul
Penelitian
Identifikasi Masalah
Metode
Analisis Hasil Penelitian 1. Alexander
Sinaga (2014)
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Daging Ayam Kampung
1. Faktor – faktor apa yang
mempengaruhi permintaan daging ayam kampung?
2. Bagaimana hubungan karakteristik umur,
pekerjaan dan tingkat
pendidikan dengan perilaku konsumen dalam membeli daging ayam kampung
Regresi Linier Berganda dan korelasi rank spearman
1. Hanya faktor pendapatan yang berpengaruh pada perilaku konsumen terhadap permintaan daging ayam kampung sedangkan faktor harga daging ayam kampung, jumlah tanggungan dan harga daging ayam
potong tidak
berpengaruh
2. Tidak terdapat hubungan karakteristik umur, pekerjaan dan tingkat pendidikan pada perilaku konsumen terhadap permintaan daging ayam kampung di daerah penelitian.
2. Khoirunnisa (2008)
Analisis Permintaan Daging Ayam Broiler
konsumen Rumah Tangga di Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok
1. Faktor- faktor apakah yang
mempeugaruhi permintaan daging ayam broiler pada konsumen rumah tangga
Analisis deskriptif dan regresi linier berganda
1. Faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap permintam daging ayam broiler konsumen rumah tangga di daerah penelitian yaitu harga daging ayam broiler, harga daging sapi,
14
Lanjutan Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Pancoran Mas Kota Depok?
2. Berapakah besamya elastisitas permintaan daging ayam broiler
konsumen rumah tangga di Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok?
anggota keluarga dan
dummy tingkat
kesukaan.
2. Elastisitas permintaan daging ayam broiler konsumen rumah tangga di Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok bersifat elastis
3. Ashari Rohim (2017)
Analisis Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Daging Ayam Broiler di Pasar
Tradisional Kecamatan Citeureup Kabupaten Bogor
1. Bagaimana karakteristik konsumen daging ayam broiler di pasar
tradisional Kecamatan Citeureup Kabupaten Bogor?
2. Faktor- faktor apa saja yang
mempengaruhi permintaan daging ayam broiler di pasar
tradisional Kecamatan Citeureup Kabupaten Bogor?
3. Bagaimana elastisitas permintaan daging ayam broiler di pasar
tradisional Kecamatan Citeureup Kabupaten
Analisis deskriptif dan regresi linier berganda
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi
permintaan daging ayam broiler secara nyata adalah harga daging ayam broiler, pendapatan, dummy selera, dan dummy tingkat pendidikan.
Harga telur ayam, jumlah anggota keluarga, dan usia tidak berpengaruh secara nyata terhadap permintaan daging ayam broiler.
2. Elastisitas permintaan daging ayam broiler menunjukan bahwa elastisitas harga atas permintaan daging ayam broiler adalah elastis.
Lanjutan Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu 4. Helmi
Mawaddah (2015)
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Permintaan dan
Ketersediaan Daging Ayam (Broiler) di Kota Medan
1. Faktor- faktor apa sajakah yang mempengaruhi permintaan daging ayam broiler di Kota Medan?
2. Faktor- faktor apa sajakah yang mempengaruhi ketersediaan daging ayam broiler di Kota Medan?
Regresi linier berganda
1. Secara serempak harga daging ayam broiler, harga daging ayam buras,
konsumsi daging ayam
broiler tahun
sebelumnya dan konsumsi protein masyarakat Kota Medan mempengaruhi
permintaan daging ayam broiler
di Kota Medan.
Sedangkan secara parsial hanya harga daging ayam broiler yang mempengaruhi permintaan daging ayam broiler di Kota Medan.
2. Secara serempak produksi daging ayam broiler, permintaan daging ayam
broiler dan konsumsi daging ayam broiler mempengaruhi
ketersediaan
daging ayam broiler di
Kota Medan.
Sedangkan secara parsial hanya
produksi daging ayam
broiler yang
mempengaruhi ketersediaan daging ayam broiler di Kota Medan.
Pada uji Durbin Watson diperoleh kesimpulan sesuai dengan poin 3 yakni tidak ada kepastian atau kesimpulan yang
pastiada atau
tidaknyagejala autokorelasi.
16 Lanjutan Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
2.4 Kerangka Pemikiran
Dalam memenuhi kebutuhan manusia akan terlebih dahulu mementingkan kebutuhan yang mendesak yaitu kebutuhan untuk mempertahankan hidup dengan kata lain kebutuhan manusia yang paling penting yaitu makanan. Tubuh manusia membutuhkan berbagai zat makanan seperti karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral. Untuk memenuhi kebutuhan protein dapat diperoleh dari tumbuhan (protein nabati) dan hewan (protein hewani). Daging ayam broiler merupakan salah satu komoditas pangan yang mengandung protein hewani. Hal ini mengakibatkan tingginya tingkat konsumsi pangan terhadap daging ayam broiler tersebut.
Oleh karena ini menyebabkan tingkat permintaan akan daging ayam broiler di Provinvi Sumatera Utara di pengaruhi oleh faktor-faktor harga daging ayam broiler, produksi ayam broiler, pendapatan dan harga ikan kembung.
Berdasarkan pernyataan di atas maka kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 2.2 berikut ini :
Permintaan Daging Ayam Broiler
Keterangan :
= Menyatakan Pengaruh
Daging Ayam Broiler
Perkembangan Permintaan Ayam Broiler 1. Harga Daging Ayam
Broiler
2. Produksi Daging Ayam Broiler
3. Pendapatan
4. Harga Ikan Kembung
2.5 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah, tinjauan pustaka, dan kerangka pemikiran maka hipotesis dalam penelitian ini di susun sebagai berikut :
1. Terdapat peningkatan terhadap permintaan daging ayam broiler di Provinsi Sumatera Utara.
2. Terdapat pengaruh faktor-faktor (harga daging ayam broiler, produksi ayam broiler, pendapatan dan harga ikan kembung) terhadap permintaan daging ayam broiler di Provinsi Sumatera Utara.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian
Daerah penelitian dilakukan secara purposive (sengaja) di Provinsi Sumatera Utara. Hal ini dikarenakan produksi daging ayam broiler pedaging di Provinvi Sumatera Utara merupakan salah satu produksi terbesar di Indonesia.
Produksi daging ayam broiler di Provinsi Sumatera Utara terus mengalami peningkatan hingga tahun 2016.
Tabel 3.1 Produksi Daging Ayam Broiler di Indonesia Tahun 2012 - 2016 No Provinsi Produksi Daging Ayam Broiler (Ton)
2012 2013 2014 2015 2016
1 Jawa Barat 492.413 496.862 563.529 543.765 566.559 2 Jawa Timur 159.822 162.845 162.892 198.016 202.967 3 Jawa Tengah 104.774 114.178 127.728 130.357 132.563 4 DKI Jakarta 108.642 117.913 129.206 102.794 102.794
5 Banten 114.568 111.159 109.029 96.554 98.976
6 Kalimantan Selatan 39.319 36.177 55.032 46.511 44.480 7 Sumatera Utara 35.287 37.835 38.751 40.902 42.814 Sumber : Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan diolah Pusdatin
Di Provinvi Sumatera Utara prospek pengembangan agribisnis peternakan cukup besar. Hal ini dapat dilihat dari Tabel 3.1 bahwa Sumatera Utara memiliki peringkat ke tujuh produksi daging ayam broiler di Indonesia.
3.2 Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang berbentuk time series (data deret waktu). Data sekunder diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber-sumber yang telah ada dan data sekunder disebut juga sebagai data tersedia. Data tersebut dapat diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS, Badan
sekunder berupa informasi statistik. Sebagai bahan referensi data diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), literatur-literatur, internet serta laporan tahunan.
Data yang di peroleh adalah data tahunan selama kurun waktu 16 tahun (2001- 2016).
3.3 Metode Analisis Data
Untuk membuktikan hipotesis 1, terdapat permintaan daging ayam broiler di Provinsi Sumatera Utara dianalisis dengan metode deskriptif dengan melihat data permintaan daging ayam broiler selama 16 tahun terakhir.
Untuk membuktikan hipotesis 2, yaitu faktor – faktor (harga ayam broiler, produksi ayam broiler, pendapatan dan harga ikan kembung) yang mempengaruhi permintaan daging ayam broiler di Provinsi Sumatera Utara dengan menggunakan analisis regresi linear berganda.
Persamaan yang digunakan adalah :
Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 +β4X4 + e
Dimana :
α = Konstanta
β1 – β5 = Koefisien regresi
Y = (∑) Permintaan Daging Ayam Broiler (Kg/Thn) X1 = Harga daging Ayam Broiler (Rp)
X2 = Produksi daging Ayam Broiler (Kg/Rp)
X3 = Pendapatan (Rp)
X4 = Harga Ikan Kembung (Subtitusi) (Kg/Rp)
e = Standar error
20
Dengan kriteria sebagai berikut :
Ho : tidak ada pengaruh harga ayam broiler, produksi ayam broiler, pendapatandan harga ikan kembung terdahap permintaan daging ayam broiler.
H1 : ada pengaruh harga ayam broiler, produksi ayam broiler, pendapatan dan harga ikan kembung terhadap permintaan daging ayam broiler.
Dalam penelitian ini terdapat regresi yang melihat faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan daging ayam broiler di Provinsi Sumatera Utara. Pada uji ststistika ini dilihat dari koefisien determinasi (R-Squared), nilai probabilitas F-statistik,serta uji t yang berdasarkan nilai probabilitas masing-masing variabel independentnya yang dibandingkan dengan taraf nyata yang digunakan yaitu 5%.
Pengujian terhadap kriteria ekonometrika adalah berdasarkan pada pelanggaran asumsi dalam metode OLS (Ordinary Least Squares). Penyimpangan yang terjadi terhadap asumsi BLUE (Best Linear Unbiased Estimator) akan menyebabkan estimasi terhadap nilai yang diukur menjadi tidak valid. Pengujian statistika dan ekonometrika yang dilakukan peneliti menggunakan program SPSS 17 sebagai alat analisis. Serangkaian evaluasi model sebagai berikut :
1. Normalitas
Tujuan uji normalitas adalah ingin mengetahui apakah distribusi sebuah data mengikuti atau mendejati disktribusi normal, yakni distribusi data dengan bentuk lonceng. Data yang baik adalah data yang mempunyai pola seperti distribusi normal, yakni distribusi data tersebut tidak melenceng ke kiri atau
Uji normalitas pada multivariant sebenarnya sangat kompleks karena hanya dilakukan pada seluruh variabel secara bersama-sama. Namun uji ini juga dilakukan pada setiap variabel, dengan logika bahwa jika secara individual masing-masing variabel memenuhi asumsi normalitas, maka secara bersama- sama variabel tersebut bias dianggap memenuhi asumsi normalitas. Adapun kriteria pengujian yaitu:
Nilai signifikan > 0,05 berdistribusi normal
Nilai signifikan < 0,05 berdistribusi tidak normal (Syafrizal, 2007).
2. Multikolinearitas
Pada mulanya multikoleaniritas ini berarti adanya hubungan linear yang
“sempurna” atau pasti diantara beberapa atau semua variabel yang diartikan sebagai hubungan linear antara variabel eksplanatoris dari suatu model regresi adalah sempurna. Koefisien-koefisien regresi biasanya diinterpretasikan sebagai ukuran perubahan variabel terikat jika salah satu variabel bebas lainnya dianggap tetap. Namun, interpretasi ini mejadi tidak benar antara variabel bebas.
Kriteria pengambilan keputusan yaitu batas tolarance value adalah 0,1 dan batas VIF adalah 10, dimana :
Tolarence value ≤ 0,1 atau VIF ≥ 10 maka terjadi multikolinearitas Tolerance value ≥ 0,1 atau VIF ≤ 10 maka tidak terjadi multikolienaritas 3. Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas ini dilakukan untuk menentukan sifat dasar masalah, dimana ada dua cara yaitu untuk mendeteksi keberadaan heterokedesitas yaitu metode informal biasanya dilakukan dengan metode grafik. Sumbu vertikal
22
menjelaskan nilai prediksi variabel regression. Sedangkan metode formal antara lain adalah Park Test, Glejser Test, Spearman’s Rank Correlation Test, Golfed Quandt Test, Breusch-Pagan Godfrey Test, White’s General Heteroscedasticity Test dan Koenker Basset Test.
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terdapat ketidaksamaan variance. Dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainya. Jika variance dari satu residual ke pengamatan ke pengamatan lainnya tetap maka terjadi homokedastisitas jika berbeda maka disebut heteroskedastisitas. Untuk melihat apakah heteroskedastisitas atau tidak dapat dilakukan berbagai cara yaitu cara grafik dan cara statistik.
Adapun pengujian heteroskedastisitas adalah dengan menggunakan Uji Glesjer, adapun criteria pengujiannya yaitu :
Nilai signifikan > 0,05 menunjukkan adanya homoskedastisitas
Nilai signifikan < 0,05 menunjukkan adanya heteroskedastisitas
4. Autokolerasi
Istilah autokolerasi dapat didefenisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu (seperti dalam deret waktu) atau ruang (seperti dalam cross-section). Dalam konteks regresi, model regresi linear klasik mengasumsikan bahwa autokolerasi seperti itu tidak terdapat dalam disturbasi atau gangguan Ui.
Artinya nilai variabel regresan dari satu periode dipengaruhi oleh priode lainnya, atau nilai variabel regresan dipengaruhi oleh nilai variabel regresan lainnya. Kolerasi uji autokolerasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada kolerasi antara kesalahan pengganggu pada periode sebelumnya.
Autokolerasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Masalah ini timbul karena residual (kesalahan penggangu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Hal ini biasanya terjadi pada time series. Karena gangguan pada satu data cenderung mengganggu data lainnya.
Metode pengujian autokorelasi dalam penelitian ini adalah Percobaan d dari Durbin-Watson. Ada beberapa asumsi penting dari statistik d antara lain; (1) model regresi mencakup titik potong (2) variabel eksplanatoris adalah tetap pada sampel berulang. (3) error term digenerasi oleh proses AR (1) karena itu statistik tidak dapat digunakan untuk mendeteksi higher order autogressive, (4) error termdiasumsikan mengikuti distribusi normal (5) model regresi tidak mencakup lagged dependent variabel dan (6) tidak ada data yang hilang dalam observasi.
Kriteria pengambilan keputusan :
Hipotesis Nol Keputusan Jika
Tidak ada autokorelasi positif Tolak 0 < d < dl Tidak ada autokorelasi positif No decision dl ≤ d ≤ du Tidak ada autokorelasi negatif Tolak 4 – dl < d < 4 Tidak ada korelasi negatif No decision 4 – du ≤ d ≤ 4 – dl Tidak ada autokorelasi positif
atau negatif
Tidak ditolak du < d < 4 – du
1. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi R2 merupakan suatu nilai statistik yang dihitung dari data sampel. Koefisien ini menunjukkan persentase variasi seluruh variabel terikat yang dapat dijelaskan oleh perubahan variabel bebas (explanatory variables). Koefisien ini merupakan suatu ukuran sejauh mana varuabel bebas dapat merubah variabel terikat dalam suatu hubungan (Firdaus, 2011).
24
Nilai koefisien determinasi (R2) berkisar anatara 0 < R2< 1, dengan kriteria pengujiannya adalah R2 yang semakin tinggi (mendekati 1) menunjukkan model yang terbentuk mampu menjelaskan keragaman dari bariabel terikat, demikian pula sebaliknya.
2. Uji F
Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji F-test, dimana pada dasarnya uji statistik F digunakan untuk menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen atau terikat (Ghozali, 2006). Uji F dilakukan dengan membandingkan nilai signifikansi dengan taraf nyata yang digunakan dengan ketentuan:
- H0 diterima dan H1 ditolak jika nilai signifikansi > α (0,05). Hal ini berarti bahwa secara bersamaan variabel yang digunakan tidak dapat menjelaskan keragaman dari variabel terikat secara nyata.
- H0 ditolak dan H1 diterima jika nilai signifikansi < α (0,05). Hal ini berarti bahwa secara bersamaan variabel yang digunakan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.
3. Uji t
Uji statistik t pada dasarnya untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen. Uji t dilakukan dengan membandingkan nilai signifikansi dengan taraf nyata yang digunakan dengan ketentuan:
- H0 diterima dan H1 ditolak jika nilai signifikansi > α (0,05). Hal ini berarti bahwa variabel bebas tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat secara parsial.
- H0 ditolak dan H1 diterima jika nilai signifikansi < α (0,05). Hal ini berarti bahwa variabel bebas yang digunakan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat secara parsial.
3.4 Definisi dan Batasan Operasional 3.4.1 Definisi
1. Ayam broiler atau yang disebut juga ayam ras pedaging adalah jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging ayam.
2. Harga adalah suatu nilai tukar yang bisa disamakan dengan uang atau barang lain untuk manfaat yang diperoleh dari suatu barang atau jasa bagi seseorang atau kelompok pada waktu tertentu dan tempat tertentu.
3. Pendapatan adalah pendapatan perkapita di Provinsi Sumatera Utara berdasarkan data PDRB Sumatera Utara.
4. Barang Subtitusi adalah barang pemuas kebutuhan manusia yang saling menggantikan fungsinya dengan sempurna. Dengan kata lain apabila tidak ada barang yang satu, maka dapat digantikan dengan barang lainnya.
5. Permintaan daging ayam broiler adalah Jumlah kebutuhan masyarakat Sumatera Utara akan komoditi ayam broiler, diperoleh dengan mengalikan jumlah konsumsi dengan jumlah penduduk.
26
6. Analisis regresi berganda adalah suatu metode statistik umum yang digunakan untuk meneliti pengaruh serta hubungan antara sebuah variabel dependen dengan beberapa variabel independen.
3.4.2 Batasan Opersional
1. Data yang diambil adalah data dalam kurun waktu 2001-2016 yang meliputi populasi ternak unggas menurut jenis ternak (kg/tahun)
2. Penelitian dilakukan dalam wilayah Provinsi Sumatera Utara 3. Waktu penelitian tahun 2018
BAB IV
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN
4.1 Letak Geografis , Iklim, dan Topografi Provinsi Sumatera Utara
Provinsi Sumatera Utara berada di bagian barat Indonesia, terletak pada garis 1˚- 4˚ Lintang Utara dan 98˚-100˚ Bujur Timur. Letak geografis Provinsi Sumatera Utara berada pada jalur strategis pelayaran Internasional Selat Malaka yang dekat dengan Singapura , Malaysia dan Thailand. Secara administratif Provinsi Sumatera Utara berbatasan dengan daerah perairan dan laut serta dua provinsi lain dengan batas wilayah sebagai berikut:
Utara : berbatasan dengan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Timur : berbatasan dengan Negara Malaysia di Selat Malaka Selatan :berbatasan dengan Provinsi Riau dan Sumatera Barat Barat : berbatasan dengan Samudera Hindia.
Wilayah Provinsi Sumatera Utara termasuk daerah beriklim tropis dengan suhu maksimum rata-rata berada pada kisaran 25,1˚C – 33,2˚C dan suhu minimum rata-rata berada pada kisaran 16,9˚C – 24,1˚C dengan penguapan berada pada kisaran 2,7 – 4,9 mm/h. Hari hujan sepanjang tahun berada pada kisaran 199 - 258 hari dengan curah hujan mencapai 1.109 mm hingga 3.885 mm dengan kelembapan udara tercatat sebesar 80 – 89 persen dan penyinaran matahari sebesar 41 – 58 persen. Ketinggian permukaan daratan Provinsi Sumatera Utara sangat bervariasi dengan kecepatan angin mencapai 0,2 – 2,9 mis/sec (BPS Sumatera Utara, 2012).
Berdasarkan topografinya, Provinsi Sumatera Utara dibagi atas 3 daerah yaitu:
28
1. Pantai Barat, (1) Kabupaten Nias, (2) Kabupaten Nias Utara, (3) Kabupaten Nias Barat, (4) Kabupaten Mandailing Natal,(5) Kabupaten Tapanuli Selatan , (6) Kabupaten Padang Lawas,(7) Kabupaten Padang Lawas Utara, (8) Kabupaten Tapanuli Tengah, (9) Kabupaten Nias Selatan, (10) Kota Padang Sidempuan, (11) Kota sibolga dan (12) Kota Gunung Sitoli.
2. Daratan Tinggi, (1) Kabupaten Tapanuli Utara, (2) Kabupaten Toba Samosir, (3) Kabupaten Simalungun, (4) Kabupaten Dairi, (5) Kabupaten Karo, (6) Kabupaten Humbang Hasudutan, (7) Kabupaten Pakpak Bharat dan (8) Kota Pematang Siantar.
3. Pantai Timur, (1) Kabupaten Labuhanbatu, (2) Kabupaten Labuhanbatu Utara, (3) Kabupaten Labuhanbatu Selatan, (4) Kabupaten Asahan, (5) Kabupaten Batu Bara, (6) Kabupaten Deli Serdang, (7) Kabupaten Langkat, (8) Kabupaten Serdang Bedagai, (9) Kota Tanjung Balai, (10) Kota Tebing Tinggi, (11) Kota Medan dan (12) Kota Binjai.
4.2 Keadaan Penduduk Provinsi Sumatera Utara
Berikut ini Tabel 4.1 jumlah penduduk Provinsi Sumatera Utara periode 2001 hingga 2016 berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara.
Tabel 4.1 Jumlah Penduduk Provinsi Sumatera Utara Tahun 2001-2016
Tahun Jumlah (Jiwa)
2001 11.643.780
2002 11.775.780
2003 11.923.460
2004 12.123.360
2005 12.322.090
2006 12.455.690
2007 12.723.960
2008 12.723.960
2009 12.858.570
2010 12.982.200
2011 13.035.960
2012 13.154.010
2013 13.326.307
2014 13.766.851
2015 13.766.851
2016 14.102.911
Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS), 2017.
Dari Tabel 4.1 diatas dapat dilihat bahwa jumlah penduduk di Sumatera Utara dari tahun 2001 – 2008 mengalami fluktuasi. Jumlah penduduk tertinggi yaitu terjadi pada tahun 2016 sebesar 14.102.911 sedangkan jumlah penduduk terendah yaitu terjadi pada tahun 2001 sebesar 11.643.780. Meningkatnya jumlah penduduk setiap tahun dan perubahan pola konsumsi serta selera masyarakat telah menyebabkan konsumsi daging ayam broiler menigkat.
30
4. 2 Sentra Populasi Daging Ayam Broiler di Provinsi Sumatera Utara
Di Provinsi Sumatera Utara, prospek pengembangan peternak ayam broiler berkembang pesat. Hal ini dapat dilihat dari Tabel 4.2 berikut :
Tabel 4.2 Populasi Ternak Unggas Menurut Jenis (ekor) 2010 – 2016
Tahun Jenis Unggas
Broiler Petelur Ayam Buras Itik
2010 39.376.258 8.839.750 11.671.883 2.569.664 2011 40.360.663 9.060.742 11.963.681 2.633.909 2012 42.813.178 12.055.592 12.073.428 2.790.326 2013 46.064.412 15.704.311 15.545.153 2.411.989 2014 47.179.814 14.838.083 14.037.817 2.361.944 2015 49.798.186 15.207.333 14.254.756 2.529.676 2016 54.398.314 15.790.582 15.035.745 2.627.291 Sumber : Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera utara
Dari Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa ayam broiler merupakan populasi terbesar dari jenis unggas lainnya . Sedangkan populasi unggas terkecil adalah itik.
Tabel 4.3 Produksi Daging Ayam Broiler di Indonesia Tahun 2012 - 2016 No Provinsi Produksi Daging Ayam Broiler (Ton)
2012 2013 2014 2015 2016
1 Jawa Barat 492.413 496.862 563.529 543.765 566.559 2 Jawa Timur 159.822 162.845 162.892 198.016 202.967 3 Jawa Tengah 104.774 114.178 127.728 130.357 132.563 4 DKI Jakarta 108.642 117.913 129.206 102.794 102.794
5 Banten 114.568 111.159 109.029 96.554 98.976
6 Kalimantan Selatan 39.319 36.177 55.032 46.511 44.480 7 Sumatera Utara 35.287 37.835 38.751 40.902 42.814 Sumber : Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan diolah Pusdatin
Di Provinsi Sumatera Utara prospek pengembangan agribisnis peternakan cukup besar. Hal ini dapat dilihat dari Tabel 4.3 bahwa Sumatera Utara memiliki peringkat ke tujuh produksi daging ayam broiler di Indonesia.
4.4 Perkembangan Produksi Daging Ayam Broiler di Provinsi Sumatera Utara
Produksi daging ayam di Provinsi Sumatera Utara dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang signifikan. Provinsi Sumatera Utara juga merupakan provinsi yang menduduki peringkat tujuh besar dalam memproduksi daging ayam di Indonesia. Peningkatan produksi dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah input yang baik. Berikut adalah Tabel 4.4 produksi daging ayam Broiler di Sumatera Utara :
Tabel 4.4 Produksi Daging Ayam Broiler di Sumatera Utara Tahun 2001- 2016 (kg)
Tahun Jumlah
2001 25.635,91
2002 36.089,74
2003 45.581,34
2004 44.687,58
2005 41.778,09
2006 39.054,85
2007 50.359,93
2008 50.380,07
2009 51.654,69
2010 46.385,91
2011 47.049,23
2012 35.168,26
2013 37.835,60
2014 38.751,75
2015 40.902,39
2016 41.238,74
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2017.
Dari Tabel 4.4 diatas dapat dilihat bahwa perkembangan produksi daging ayam broiler di Sumatera Utara mengalami fluktuasi. Dimana produksi tertinggi pada tahun 2009.
32
4.5 Jumlah Konsumsi Daging Ayam Broiler di Sumatera Utara tahun 2001 – 2016
Pada penelitian ini diketahui jumlah konsumsi daging ayam di Sumatera Utara pada tahun 2001sampai pada tahun 2016.
Tabel 4.5 Konsumsi Daging Ayam Broiler di Sumatera Utara Tahun 2001 - 2016 (Kg/Kapita/Tahun)
Su mb er :Di nas Ket aha nan
Pa ngan dan Peternakan 2017
Dari Tabel 4.5 diketahui bahwa konsumsi daging ayam broiler tiap tahun terus mengalami fluktuasi atau kenaikan dan penurunan per tahun nya. Konsumsi daging ayam broiler tertinggi di Sumatera Utara yaitu pada tahun 2009 sebesar 3,9 kg/kapita/tahun sedangkan konsumsi terendah pada tahun 2001 sebesar 2,21 kg/kapita/tahun.
Tahun Jumlah
2001 2,21
2002 3,03
2003 3,11
2004 3,37
2005 3,45
2006 3,17
2007 3,67
2008 3,46
2009 3,9
2010 3,55
2011 3,35
2012 2,76
2013 2,83
2014 2,81
2015 2,93
2016 3,2
4.6 Harga Daging Ayam Broiler di Sumatera Utara
Pada penelitian ini diketahui harga daging ayam broiler di Sumatera Utara yaitu pada tahun 2001 – 2016 yang mengalami fluktuasi atau kenaikkan dan penurunan harga.
Tabel 4.6 Harga Daging Ayam Broiler (Rp/kg) Tahun 2001-2016
Tahun Jumlah (Rp/Kg)
2001 11.300
2002 12.440
2003 12.820
2004 13.000
2005 13.390
2006 15.500
2007 18.700
2008 21.000
2009 21.800
2010 22.300
2011 22.500
2012 21.500
2013 24.000
2014 24.450
2015 24.600
2016 25.500
Sumber :Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan,2017
Dari Tabel 4.6 diatas dapat dilihat bahwa harga daging ayam broilerdi Sumatera Utara terus mengalami peningkatan harga yang fluktuatif. Harga daging ayam broiler tertinggi yaitu terjadi pada tahun 2016 sebesar Rp. 25.500 sedangkan harga daging ayam broiler terendah yaitu terjadi pada tahun sebesar 2001 yaitu sebesar Rp. 11.300.
34
4.7 Harga Ikan Kembung Rp/kg Tahun 2001 -2016
Pada penelitian ini dapat diketahui harga ikan kembung pada Sumatera Utara pada tahun 2001 - 20016 yaitu :
Tabel 4.7 Harga Ikan Kembung di Sumatera Utara Tahun 2001 -20016
Tahun Harga Ikan Kembung
2001 14.630
2002 15.320
2003 15.830
2004 16.000
2005 16.500
2006 17.210
2007 17.680
2008 18.000
2009 18.370
2010 19.000
2011 19.430
2012 20.500
2013 22.120
2014 22.740
2015 25.670
2016 30.561
Sumber : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, 2017.
Berdasarkan Tabel 4.7 diatas dapat dilihat bahwa harga ikan kembung merupakan barang subtitusi atau pengganti dari daging ayam broiler. Dari tabel 4.8 dapat dilihat harga ikan kembung tertinggi yaitu terjadi pada tahun 2016 yaitu 30.561 sedangkan harga ikan kembung terendah yaitu terjadi pada tahun 2001 sebesar 14.630.
4.8Tingkat Pendapatan Sumatera Utara Tahun 2001-2016
Pada penelitian ini dapat diketahui tingkat pendapatan pada Sumatera Utara tahun 2001- 2016 yaitu :
Tabel 4.8 Tingkat Pendapatan Sumatera Utara Tahun 2001-2016 Tahun Tingkat Pendapatan (Kp/Thn)
2001 6.741.914
2002 7.482.946
2004 9.741.566
2005 11.026.516
2006 12.684.532
2007 14.166.626
2008 16.813.290
2009 18.381.013
2010 21.236.780
2011 23.778.381
2012 26.184.746
2013 29.722.268
2014 37.913.895
2015 41.019.539
2016 44.447.761
Sumber : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, 2017
Berdasarkan Tabel 4.8dapat diketahui bahwa tingkat pendapatan di Sumatera Utara pada tahun 2001 – 2016 mengalami kenaikkan setiap tahun.
Tingkat Pendapatan tertinggi yaitu pada tahun 2016 sebesar 44.447,761 sedangkan untuk pendapatan terendah yaitu pada tahun 2001 sebesar 6.741,914.
Perubahan dalam distribusi pendapatan akan menyebabkan naiknya permintaan untuk komoditi yang akan dibeli.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Uji Hipotesis 1 Terdapat Peningkatan Permintaan Daging Ayam Broiler di Provinsi Sumatera Utara
Tingkat konsumsi daging ayam broiler selama periode 2001 sampai 2016 mengalami kenaikkan yang fluktuatif begitupun dengan produksinya.
Peningkatan permintaan daging ayam broiler di Provinsi Sumatera Utara disebabkan oleh beberapa faktor yang diantaranya yaitu harga daging ayam broiler, produksi daging broiler, pendapatan dan harga ikan kembung.
Tabel 5.1 Tabel Permintaan dan Perkembangan Daging Ayam Broiler Tahun Permintaan (Kg) Perkembangan Permintaan
Daging ayam Broiler(%)
2001 25.709.466,24 -
2002 35.680.613,4 38,78
2003 37.081.960,6 3,92
2004 40.855.723,2 10,17
2005 42.511.210,5 4,05
2006 39.484.537,3 -7,11
2007 46.204.052,2 17,01
2008 44.024.901,6 -4,71
2009 50.148.423 13,9
2010 46.086.810 -8,09
2011 43.670.466 -5,24
2012 36.305.067,6 -16,86
2013 37.713.448,81 3,87
2014 38.684.851,31 2,57
2015 40.837.745,21 5,56
2016 45.129.315,2 10,5
Rata - Rata 40.633.037,01 4,55
Sumber : Data diolah Lampiran
Berdasarkan Tabel 5.1 pada tahun 2002 jumlah permintaan daging ayam broiler mengalami peningkatan sebesar 38,78%, pada tahun 2003 jumlah permintaan daging ayam broiler mengalami peningkatan juga sebesar 3,92%,
pada tahun 2004 jumlah permintaan daging ayam broiler mengalami peningkatan sebesar 10,17% , pada tahun 2005 jumlah permintaan daging ayam broiler mengalami peningkatan sebesar 4,05%, pada tahun 2006 jumlah permintaan daging ayam broiler mengalami penurunan sebesar 7,11%, pada tahun 2007 jumlah permintaan daging ayam broiler kembali meningkat sebesar 17,01%, tahun 2008 jumlah permintaan daging ayam broiler menurun kembali sebesar 4,71%, pada tahun 2008 jumlah permintaan daging ayam broiler naik sebesar 13,9%, pada tahun (2010, 2011, 2012) jumlah permintaan daging ayam broiler mengalami penurunan masing – masing (8,09%, 5,24%, 16,86%), dan kembali meningkat lagi pada tahun (2013, 2014, 2015, 2016) masing – masing sebesar (3,87%, 2,57%, 5,56%, 10,5%), dan rata – rata pertumbuhan permintaan daging ayam broiler sebesar 4,55%.
5.2 Hasil Uji Hipotesis 2 Terdapat Faktor –Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Daging Ayam Broiler di Provinsi Sumatera Utara
Untuk mengukur faktor – faktor yang mempengaruhi permintaan daging ayam broiler di Provinsi Sumatera Utara, maka dilakukan uji dengan menggunakan regresi linear berganda, yaitu sebagai berikut :
5.2.1 Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik dilakukan untuk memberikan kepastian bahwa persamaan regresi yang didapatkan memiliki ketepatan dalam estimasi, tidak bias, dan konsisten. Suatu model persamaan harus terbebas dari gejala multikolinearitas, autokorelasi, heteroskedastisitas, dan normalitas.
a. Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk melihat error term terdistribusi normal
38
Tabel 5.2Hasil Uji Asumsi Normalitas Model Permintaan Daging Ayam Broiler
No Uji Sig.
1 Kolmogorov-Smirnov 0,743
Sumber : Data diolah dari Lampiran
Dari Tabel 5.2 dapat dilihat nilai signifikansi pada uji tersebut sebesar0,743. Nilai tersebut lebih besar dari nilai α (0,05), sehingga H0 diterima dan H1 ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.
Dari pengujian asumsi klasik yang telah dilakukan maka model dapat dikategorikan sebagai model yang baik karena telah memenuhi asumsi–asumsi yang telah ditetapkan.
b. Multikolinearitas
Uji Multikolinearitas dideteksi dengan melihat nilai Tollerance dan VIF.
Nilai Tolerance 0.1 dan VIF 10, mengindikasikan bahwa tidak adanya pelanggaran multikolinearitas. Hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel 5.3 berikut ini:
Tabel 5.3 Hasil Uji Asumsi Multikolienaritas Model Permintaan Daging Ayam Broiler
No Varibel Bebas Tollerance VIF
1 Harga Daging Ayam Broiler 0,304 3,292
2 Produksi Daging Ayam Broiler 0,815 1,226
3 Pendapatan Perkapita 0,201 4,978
4 Harga Ikan Kembung 0,141 7,067
Sumber : Data diolah dari Lampiran
Dari Tabel 5.3 dapat dilihat nilai Tollerance dari variabel bebas lebih besar dari 0,1 dan nilai VIF lebih kecil dari 10. Hal ini dapat disimpulkan bahwa asumsi ini terpenuhi atautidak terjadi multikolinearitas.
c. Heterokedastisitas
Uji Heteroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan uji Glejser. Nilai signifkansi yang lebih besar dari 0,05 menunjukkan bahwa model tidak melanggar asumsi heteroskedastisitas. Hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel 5.4 berikut ini.
Tabel 5.4 Hasil Uji Asumsi Heterokedastisitas Model Permintaan Daging Ayam Broiler
No Variabel Bebas Sig
1 Harga Ayam Broiler 0,753
2 Produksi Ayam Broiler 0,306
3 Pendapatan Perkapita 0,434
4 Harga Ikan Kembung 0,844
Sumber : Data diolah dari Lampiran
Dari Tabel 5.4 dapat dilihat bahwa nilai signifikansi dari variabel bebas lebih besar dari nilai α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak adanya pelanggaran terhadap asumsi heteroskedastisitas.
d. Autokorelasi
Uji Autokorelasi dilihat dengan menggunakan Uji Durbin-Watson. Hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel 5.5 berikut ini.
Tabel 5.5 Uji Asumsi Autokolerasi dengan Menggunakan Uji Durbin-Watson
No Uji dL dW Du
1 Dubin-Witson 0,7340 2,305 1,9351
Sumber : Data diolah dari Lampiran
Dari Tabel 5.5 dapat dilihat bahwa nilaidW yang diperoleh sebesar 2,305.
Nilai dW tersebut berada diantara nilai dL sebesar 0,7340 dan nilai dU 1,9351 sebesar. Kriteria yang memenuhi nilai tersebut adalah 4 – dU ≤ dW< 4 - dL yang berarti ada tidaknya autokolerasi tidak dapat disimpulkan. Hasil ini sesuai dengan penelitian Helmi Mawaddah (2015).