PENGELOLAAN SUMBERDAYA IKAN KEMBUNG LELAKI (Rastrelliger kanagurta Cuvier 1817) MENGGUNAKAN MODEL ANALISIS BIOEKONOMI DI PPP LABUAN, BANTEN

67 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

ANALISIS BIOEKONOMI DI PPP LABUAN, BANTEN

RANI YULIANIE

SKRIPSI

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

(2)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI

DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul :

Pengelolaan Sumberdaya Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta Cuvier 1817) Menggunakan Model Analisis Bioekonomi di PPP Labuan, Banten

adalah benar merupakan hasil karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka dibagian akhir skripsi ini.

Bogor, Juli 2012

Rani Yulianie C24080071

(3)

RINGKASAN

Rani Yulianie. C24080071. Pengelolaan Sumberdaya Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta Cuvier 1817) Menggunakan Model Analisis Bioekonomi di PPP Labuan, Banten.

Ikan kembung lelaki merupakan ikan dominan kedua (24%) setelah ikan tongkol (47%) yang tertangkap di PPP Labuan, Banten. Alat tangkap utama yang digunakan untuk menangkap ikan ini ialah jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inchi dan purse seine. Jaring rampus dioperasikan menggunakan kapal motor berukuran 2-6 GT dan purse seine berukuran 12-15 GT.

Rata-rata hasil tangkapan sebesar 8.673,99 kg dengan tangkapan tertinggi tahun 2011 sebesar 17.376. Hasil tangkapan terendah terdapat pada tahun 2002 sebesar 3.372 kg. Puncak penangkapan ikan kembung lelaki dilihat dari data hasil tangkapan tahun 2011 terjadi pada bulan Juli dengan hasil tangkapan sebesar 4.409 kg. Analisis effort tertinggi pada tahun 2011 sebesar 516 kg dan effort terendah pada tahun 2002 sebesar 113 trip. Nilai CPUE tertinggi sebesar 36 kg/trip dan tahun 2006 memiliki nilai CPUE terendah 32 kg/trip dengan rata-rata CPUE sebesar 33 kg/trip. Hasil Matriks sebaran dan ukuran panjang menunjukkan pada bulan Juni-Juli penangkapan ikan kembung lelaki terjadi disekitar Pulau Rakata, Tanjung Lesung, Sumur, dan Pulau Panaitan. TKG yang tertangkap pada ikan jantan dan ikan betina ialah TKG 1 yaitu pada bulan April dengan daerah penangkapan Pulau Rakata, sementara TKG betina yang telah matang gonad yaitu TKG 3, 4, dan 5, jumlah terbanyak ada pada bulan Mei untuk TKG 3 dan bulan September untuk TKG 4 dengan lokasi peangkapan Sumur, Pulau Panaitan, Tanjung Lesung. Pergerakan nilai indeks musim penangkapan (IMP) tertinggi pada bulan Juni sebesar 198,60% dan nilai IMP terendah bulan Januari sebesar 28,72 %. Hasil perhitungan dengan mengunakan analisis bioekonomi didapatkan nilai tangkapan pada rezim MEY sebesar 68.176,31 kg dengan effort 2.340 trip menghasilkan rente ekonomi sebesar Rp 1.047.410.148,51. Rezim MSY, hasil tangkapan yang diperoleh sebesar 69.368,89 kg dengan effort 2.693 trip menghasilkan rente ekonomi sebesar Rp 1.023.558.603,51. Rezim open access, hasil tangkapan yang diperoleh sebesar 31.611,61 kg dengan effort 4.681 trip menghasilkan rente ekonomi sama dengan nol. Apabila dibandingkan dengan tangkapan aktual sebesar 17.376 kg dan effort sebesar 516 trip dapat disimpulkan bahwa ikan kembung lelaki yang ditangkap disekitar perairan Selat Sunda belum mengalami biologic overfishing dan juga belum mengalami ekonomic overfishing karena nilai effort yang masih dibawah nilai effort pada rezim MSY dan MEY.

(4)

PENGELOLAAN SUMBERDAYA IKAN KEMBUNG LELAKI

(Rastrelliger kanagurta Cuvier 1817) MENGGUNAKAN MODEL

ANALISIS BIOEKONOMI DI PPP LABUAN, BANTEN

RANI YULIANIE

C24080071

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh

gelar Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

(5)

PENGESAHAN SKRIPSI

Judul Skripsi : Pengelolaan Sumberdaya Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta Cuvier 1817)

Menggunakan Model Analisis Bioekonomi di PPP Labuan, Banten

Nama : Rani Yulianie NIM : C24080071

Program Studi : Manajemen Sumberdaya Perairan

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Ir. Achmad Fahrudin, M.Si Dr. Yonvitner, S.Pi, M.Si NIP. 196403271989031003 NIP. 19750825 200501 1 003

Mengetahui,

Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan

Dr. Ir. Yusli Wardiatno, M.Sc NIP. 19660728 199103 1 002

(6)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-NYA sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengelolaan Sumberdaya Ikan Kembung Lelaki

(Rastrelliger kanagurta Cuvier 1817) Menggunakan Model Analisis Bioekonomi di PPP Labuan, Banten”.

Pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan terimaksih kepada pihak-pihak yang telah membantu baik dalam hal bimbingan, dukungan maupun arahan dalam menulis skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Penulis berharap dengan tersusunnya skripsi ini dapat memberikan manfaat untuk berbagai pihak.

Segala bentuk kritik, masukan, dan saran sangat penulis harapkan untuk kajian evaluasi serta perbaikan skripsi ini untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

Bogor, Juli 2012

(7)

UCAPAN TERIMA KASIH

Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada :

1.

Dr. Ir. Achmad Fahrudin, M.Si dan Dr. Yonvitner, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan, masukan, serta saran selama penelitian dan penyelesaian skripsi ini.

2.

Dr. Ir. Etty Riani H, M.S sebagai dosen penguji tamu yang selalu memberi motivasi kepada penulis dan juga telah memberi saran dan perbaikan pada skripsi ini.

3.

Ir. Agus Samosir, M.Phil selaku Komisi Pendidikan Program S1 atas saran, nasihat, dan perbaikan yang diberikan.

4.

Para staf Tata Usaha MSP yang saya hormati terutama Mbak Widar, Mbak Maria atas arahannya.

5.

Staf dari TPI Labuan, Bapak Didin dan Bapak Yanto yang telah memberikan kontribusi secara langsung selama penulis melaukan penelitian di sana

6.

Keluarga tercinta, Mama, Papa, Iyu, Iyan yang selalu mendengarkan keluhan dan memberikan masukan kepada penulis.

7.

Teman-teman biekonomi, Ayu, Ami, Ria, Yuli, dan Fair yang membantu penulis dalam mengolah data skripsi ini.

8.

Teman-teman pink house, Memey dan Risty yang selalu mendengarkan curhatan penulis dalam menyelesaikan skripsi.

9.

Sahabat-sahabat penulis, terutama untuk Lodi yang telah memberikan motivasi dan semangat berarti buat penulis, Fitri, Pion, dan Nimas.

10.

Teman-teman penelitian mosi, untuk Icha yang setia bersama penulis ke kampus dan LSI bareng.

11.

Teman-teman MSP 45 dan MSP 46 lainnya yang penulis tidak bisa sebutkan satu persatu namanya.

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 16 Juli 1990 sebagai anak ketiga dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Soebawano dan Ibu Meutia Nauli Isda. Pendidikan formal yang pernah dijalani oleh penulis berawal dari TK Ani’mah (1996), SDN Pondok Labu 03 Pagi (1997), SMPN 96 Jakarta (2003), SMAN 66 Jakarta (2005). Tahun 2008 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMPTN), penulis diterima di Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Selama mengikuti perkuliahan penulis pernah menjadi Asisten Metode Penarikan Contoh (2010/2011) dan Asisten Pengkajian Stok Ikan (2010/2011). Penulis juga aktif mengikuti organisasi kemahasiswaan sebagai bendahara Divisi Pemanfaatan Sumberdaya Manusia (PSDM) HIMASPER (Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan) periode 2009/2010. Penulis juga aktif dalam beberapa kepanitiaan seperti menjadi anggota divisi humas OMBAK 2009/2010, anggota humas IPB Art Contest 2010/2011, anggota divisi acara Festival Air 2011, penulis juga aktif mengikuti beberapa seminar di lingkungan kampus IPB.

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, penulis menyusun skripsi dengan judul “Pengelolaan Sumberdaya Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger

kanagurta Cuvier 1817) Menggunakan Model Analisis Bioekonomi di PPP Labuan, Banten”.

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL

... x

DAFTAR GAMBAR

... xi

DAFTAR LAMPIRAN

... xii

1. PENDAHULUAN

………... 1 1.1. Latar Belakang ………. 1 1.2. Perumusan Masalah ………. 2 1.3. Tujuan Penelitian ………. 3 1.4. Manfaat Penelitian ………... 4

2. TINJAUAN PUSTAKA ………

5

2.1. Ikan Kembung Lelaki ………... 5

2.1.1. Biologi ikan kembung lelaki ………... 5

2.1.2. Distribusi, migrasi, dan pemijahan …………... 6

2.2. Alat Tangkap Ikan Kembung Lelaki ……… 7

2.2.1. Purse seine ………. 7

2.2.2. Jaring insang dasar ………... 8

2.3. Pola Musim Penangkapan Ikan ……… 9

2.4. Model Surplus Produksi ………... 9

2.5. Pendekatan Bioekonomi ………... 10

2.6. Pengelolaan Sumberdaya Perikanan ……… 11

3. METODE PENELITIAN ……….

14

3.1. Waktu dan Tempat ………... 14

3.2. Alat dan Bahan ……….. 14

3.3. Jenis dan Sumber Data ………... 14

3.4. Teknik Pengumpulan Data……… 15

3.4.1. Metode pengambilan contoh ………... 15

3.4.2. Teknik analisis ………... 16

3.4.3. Konsepsi dan batasan ………. 20

4. HASIL DAN PEMBAHASAN ………...

22

4.1. Kondisi Umum PPP Labuan ………. 22

4.2. Komposisi Hasil Tangkapan ………. 23

4.3. Daerah dan Musim Penangkapan ………. 24

4.4. Upaya Penangkapan (effort)………. 25

4.5. Hasil Tangkapan……… 26

4.6. Catch per unit effort (CPUE) ………... 29

4.7. Matriks Sebaran dan Ukuran Panjang ……….. 31

(10)

4.9. Bioekonomi ………... 35

5. KESIMPULAN DAN SARAN

………... 42

5.1. Kesimpulan ………... 42

5.2. Saran ………. 42

(11)

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Rumus perhitungan pengelolaan ikan kembung lelaki model statis... 21

2. Perkembangan jumlah armada perikanan Labuan, Banten ……… 23

3. Matriks sebaran dan ukuran panjang ikan kembung lelaki... 31

4. Matriks sebaran dan tingkat kematangan gonad (TKG)... 32

5. Nilai parameter biologi dan ekonomi dalam penentuan MEY dan MSY... 36

(12)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Perumusan masalah... 3

2. Ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta)... 5

3. Unit penangkapan purse seine... 8

4. Lokasi penelitian... 14

5. Komposisi hasil tangkapan... 24

6. Daerah penangkapan ikan... 25

7. Upaya penangkapan ikan kembung lelaki... 26

8. Hasil tangkapan ikan kembung lelaki... 27

9. Hasil tangkapan ikan kembung lelaki tahun 2011... 28

10. Catch per unit effort... 30

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Hasil tangkapan/alat tangkap dan standarisasi effort... 47

2. Perhitungan indeks musim penangkapan... 48

3. Biaya operasional... 49

4. Harga ikan kembung lelaki... 50

5. Model Hilborn & Walter (1992)... 51

6. Gambar ikan-ikan pelagis... 52

(14)

1.1. Latar Belakang

Wilayah Kabupaten Pandeglang memiliki panjang garis pantai 230 km yang terletak di ujung barat dari provinsi Banten. Batas administrasi wilayah ini sebelah utara adalah Kabupaten Serang, sebelah selatan Samudera Hindia, sebelah barat Selat Sunda, dan sebelah timur Kabupaten Lebak. Luas perairan di Kabupaten Pandeglang kurang lebih sekitar 1.700 km2 dengan pengelolaan laut sejauh 4 mil. Kabupaten Pandeglang memiliki kemudahan akses ke beberapa perairan seperti Laut Jawa dan Selat Sunda, serta Samudera Hindia. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Pandeglang memiliki peluang yang cukup besar dalam pengembangan usaha perikanan. Daerah yang memiliki potensi besar disektor perikanan salah satunya kecamatan Labuan. Kecamatan Labuan ini memiliki Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Labuan yang berhadapan langsung dengan Selat Sunda di sebelah barat.

Potensi ikan pelagis kecil di WPP 712 Laut Jawa dan Selat Sunda mencapai 380.000 ton dengan produksi sebesar 331.764 ton setiap tahunnya. Ikan pelagis kecil di Laut Jawa dan Selat Sunda 87,31% telah tereksplotasi penuh (Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap 2011). Salah satu jenis sumberdaya ikan pelagis kecil ialah ikan kembung lelaki. Ikan kembung lelaki paling banyak ditangkap untuk dijadikan konsumsi bagi sebagian besar masyarakat Labuan bila dibandingkan dengan ikan pelagis lainnya. Berdasarkan survei data lapang tahun 2011, tercatat data produksi ikan kembung lelaki di PPP Labuan pada tahun 2010 mencapai 7.423,91 kg dengan nilai produksi Rp. 697.872.000 dan pada tahun 2011 produksi meningkat menjadi 17.376 kg dengan nilai produksi Rp. 834.761.040. Nilai ekonomi yang tinggi pada ikan kembung lelaki mengakibatkan nelayan Labuan cenderung melakukan penangkapan secara berlebih tanpa memerhatikan aspek biologi ikan kembung lelaki.

Pola musim yang berfluktuasi di perairan Selat Sunda dapat mempengaruhi hasil tangkapan karena daerah penangkapan dan aktivitas penangkapan bergantung pada kemampuan nelayan dalam melakukan aktivitas penangkapan. Perlu dilakukan

(15)

upaya pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan kembung lelaki didasarkan pada pengetahuan mengenai pola musim penangkapan ikan kembung lelaki. Strategi pengelolaan juga dapat dilakukan terhadap usaha penangkapan ikan kembung lelaki dengan menggunakan analisis model bioekonomi. Model bioekonomi ini merupakan perpaduan antara faktor biologi dan faktor ekonomi yang mempengaruhinya. Model bioekonomi diperlukan dalam pengelolaan karena selama ini permasalahan perikanan hanya terfokus pada maksimalisasi penangkapan saja tanpa memperhatikan faktor produksi seperti biaya operasional penangkapan. Analisis menggunakan model bioekonomi memiliki peranan penting dalam mengetahui bagaimana kondisi yang sebenarnya dalam melakukan usaha penangkapan ikan kembung lelaki di PPP Labuan, Banten. Analisis model bioekonomi juga dapat menggambarkan penangkapan yang mengarah pada usaha komersil masih dapat dikembangkan atau tidak. Informasi tersebut tentunya akan bermanfaat dalam menentukan rencana pengelolaan penangkapan ikan kembung lelaki di PPP Labuan, Banten. Rencana pengelolaan ini nantinya akan tercipta pemanfaatan sumberdaya ikan kembung lelaki yang tidak hanya didasari pada pengetahuan akan pola musim penangkapan berserta daerah penangkapannya saja, tetapi juga disertai dengan penangkapan yang tanpa merusak kelestarian sumberdaya namun tetap dapat memberikan keuntungan yang maksimum.

1.2. Perumusan Masalah

Sumberdaya perikanan memiliki kemampuan untuk dapat memperbaiki diri (renewable), namun apabila dimanfaatkan melebihi batas kelestariannya akan mengakibatkan kepunahan. Kelompok ikan pelagis kecil menjadi dominan dan penting di Kabupaten Pandeglang. Kelompok ikan ini mendapat perhatian khusus untuk dijaga kelestariannya karena 60% produksi perikanan berasal dari kelompok ikan pelagis kecil yang termasuk ikan kembung lelaki.

Permasalahan yang sering dihadapi dalam melakukan penangkapan sumberdaya ikan pelagis kecil adalah permasalahan biologi dan ekonomi. Permasalahan biologi mencakup terancamnya kelestarian stok sumberdaya ikan di perairan sedangkan jika dilihat dari permasalahan ekonomi mencakup usaha

(16)

Pemanfaatan Sumberdaya

penangkapan yang belum dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan. Beberapa pemikiran di atas dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.

Gambar 1. Perumusan masalah

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah

1. Mengetahui pola musim kelimpahan ikan kembung lelaki beserta daerah penangkapannya.

2. Mengestimasi potensi lestari sumberdaya ikan kembung lelaki di PPP Labuan, Banten untuk mengetahui status pemanfaatannya.

3. Relokalisasi kebijakan dalam pengelolaan sumberdaya ikan kembung lelaki berdasarkan potensi lestari di PPP Labuan, Banten.

Penurunan kualitas lingkungan Stok sumberdaya ikan Peningkatan upaya penangkapan Ekonomi masyarakat Ketersediaan sumberdaya Tidak Ya Investasi Potensi Stok Menurun Berkelanjutan

(17)

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah

1. Sebagai acuan dalam pengelolaan dan pemanfaatan ikan kembung lelaki secara berkelanjutan di PPP Labuan, Banten.

2. Sebagai informasi bagi instansi pemerintah dan pihak yang berwenang untuk mengembangkan dasar kebijakan pengelolaan sumberdaya ikan lainnya.

(18)

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sumberdaya Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta)

Klasifikasi ikan kembung lelaki menurut Cuvier (1817) dalam buku identifikasi Saanin (1984) adalah sebagai berikut :

Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Pisces Subkelas : Teleostei Ordo : Percomorphi Sub ordo : Scombridae Famili : Scombridae Genus : Rastrelliger

Spesies : Rastrelliger kanagurta Cuvier 1817

Nama umum : Indian mackerel (Inggris) dan kembung lelaki (Indonesia). Nama Lokal : Kembung banyar (Makasar)

Gambar 2. Ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta)

Secara umum ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) memiliki tubuh seperti cerutu dan ditutupi oleh sisik yang berukuran kecil dan tidak lepas. Bentuk tubuh pipih dengan bagian dada lebih besar daripada bagian tubuh yang lain. Ikan kembung lelaki tidak punya gigi pada bagian tulang langit-langit. Ikan kembung lelaki memiliki dua buah sirip punggung. Sirip punggung kedua dan sirip dubur terdapat 5-6 sirip tambahan yang disebut finlet. Sirip ekor bercagak dalam, sirip dada lebar, dan meruncing sedangkan sirip perut terdiri dari 1 jari-jari lemah. Ikan kembung lelaki memiliki warna keperakan dan titik gelap sepanjang punggung.

(19)

Warna punggung biru kehijau-hijauan. Sirip dorsal berwarna kekuning-kuningan dengan ujung berwarna hitam (Sujastani 1972).

Ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) memiliki satu noda hitam di belakang sirip dada. Ikan kembung lelaki memilki 2 baris bulatan hitam di bawah sirip punggung dan garis hitam membujur sepanjang badan. Panjang tubuh mencapai 35 cm (Saanin 1984). Ikan kembung lelaki biasanya ditemukan di perairan yang jernih dan agak jauh dari pantai dengan kadar garam lebih dari 320/00 (Nontji

1993 in Syahrir 2011). Penyebaran utama ikan kembung di perairan barat, timur, dan selatan Kalimantan serta Selat Malaka (Balai Penelitian Perikanan Laut 1992).

2.1.1. Biologi ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta)

Ikan kembung merupakan ikan pelagis yang hidup di perairan pantai maupun lepas pantai. Ikan kembung hidup bergerombol dan masuk ke perairan estuari untuk mencari makan berupa plankton, copepoda, dan crustaceae (Moazzam 2005). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Luther 1973 in Burhanuddin et al., (1984), ikan kembung lelaki pemakan plankton seperti detritus dan filamenteus algae. Ukuran ikan kembung lelaki berkisar antara 184 mm-300 mm dan pada ikan kembung lelaki memiliki tapis insang yang lebih besar karena plankton yang dimakannya memiliki ukuran yang besar (Nontji 2005 in Astuti 2007). Menurut Wyrtki (1961) salinitas untuk pemijahan ikan kembung lelaki berkisar antara 320/00

– 340

/00. Suhu permukaan laut untuk pemijahan ikan kembung lelaki berkisar antara

280C-29,390C (Dhebataron & Chotiyapatt 1974).

2.1.2. Distribusi, migrasi, dan musim pemijahan

Ikan kembung penyebarannya dibagi menjadi dua bagian yaitu penyebaran secara vertikal dan horizontal. Ikan kembung lelaki di Laut Jawa mempunyai dua kali musim pemijahan yaitu pada musim barat dari bulan Oktober sampai Februari dan pada musim timur dari bulan Juni sampai September (Burhanuddin et al., 1984). Menurut Hardenberg (1938) in Sinaga (2010) ikan kembung di Laut Jawa dipengaruhi oleh oleh angin musim. Musim angin timur yaitu pada bulan Desember sampai Februari sekelompok ikan kembung bergerak dari arah Laut Jawa menuju

(20)

arah barat. Kelompok ikan kembung ini perlahan-lahan menghilang dari Laut Jawa kemudian selang beberapa minggu, ikan kembung yang baru, memasuki Laut Jawa dari arah timur. Musim barat yaitu pada bulan Juni sampai September, dinamika stok ikan kembung yang masuk ke Laut Jawa berasal dari Laut Cina Selatan dan Samudra Hindia melalui Selat Sunda.

2.2. Alat Tangkap Ikan Kembung Lelaki 2.2.1. Purse Seine

Ikan kembung lelaki ditangkap menggunakan purse seine. Purse seine dioperasikan secara aktif dengan cara mengejar dan melingkarkan jaring pada suatu gerombolan ikan. Penangkapan dilakukan dengan merentangkan jaring panjang berbentuk dinding melingkari gerombolan ikan dan bagian atas dari jaring berada dipermukaan laut. Purse seine terdiri dari kantong (bag, bunt), badan jaring, tepi jaring, pelampung (float, corck), tali pelampung (corck line, float line), sayap (wing), pemberat (singker, lead), tali penarik (purse line), tali cincin (purse ring) dan silvege. Fungsi mata jaring (mesh size) dan jaring yaitu sebagai dinding penghadang dan bukan sebagai penjerat ikan, sehingga perlu ditentukan besarnya ukuran mata jaring (mesh size) dan ukuran benang jaring (twine) yang sesuai untuk setiap ikan yang menjadi tujuan penangkapannya (Ayodhyoa 1981).

Teknik pengoperasian purse seine dibagi menjadi 4 tahap yaitu tahap persiapan, penentuan daerah penangkapan, tahap pengoperasian (setting), dan penarikan (hauling). Tahap persiapan merupakan tahap pemeriksaan mesin dan semua alat yang dibutuhkan seperti penyiapan bahan bakar 300 liter untuk 2 hari berlayar, es balok, dan bahan untuk perbekalan para ABK. Tahap kedua yaitu tahap penentuan daerah penangkapan, kapal purse seine umumnya berangkat sekitar pukul 1 siang dan membutuhkan waktu sekitar 5 jam perjalanan untuk sampai pada daerah penangkapan yang berada disekitar pulau Rakata. Pengoperasian purse seine dilakukan pada malam hari dengan satu kali operasi membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Penangkapan ikan kembung lelaki menggunakan lampu sebagai alat bantu penerangan yang diletakkan di atas bambu yang sudah dirakit yang disebut dengan bangkrak. Kapal penangkap segera melingkari gerombolan ikan sambil menurunkan jaring dan peralatan menuju tali kolor yang telah dilemparkan pada permulaan

(21)

operasi penangkapan. Jaring berbentuk satu lingkaran penuh, tali kolor segera ditarik dan terakhir ialah penarikan alat (hauling) dilakukan setelah semua tali kolor tertarik sedikit demi sedikit bagian jaring ditarik. Penarikan purse seine selesai hingga tersisa bagian kantong dan ikan yang terkurung diambil dengan menggunakan serok (Ayodhyoa 1981).

Gambar 3. Unit penangkapan purse seine Sumber : www.europacifictuna.com

2.2.2. Jaring insang dasar (bottom gillnet)

Jaring insang dasar atau jaring rampus berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran mata jaring sama termasuk dalam klasifikasi jaring insang (gillnet). Menurut Martasuganda (2008), bagian-bagian bottom gillnet yaitu pelampung (float), berfungsi untuk mengapungkan alat tangkap. Tali pelampung (float line), adalah tali yang berfungsi untuk menyambungkan antar pelampung. Tali ris atas dan bawah dipakai untuk memasangkan atau menggantungkan badan jaring. Tali penggantung badan jaring bagian atas dan bawah (upper bolch line and under bolch

line) adalah tali yang berfungsi untuk menyambungkan atau menggantungkan badan

jaring pada tali ris. Srampad atas dan bawah (upper selvedge and under selvedge) adalah susunan mata jaring yang ditambahkan pada badan jaring bagian atas dan bagian bawah. Badan jaring atau jaring utama (main net) adalah bagian dari jaring yang digunakan untuk menangkap ikan. Tali pemberat (sinker line) adalah tali yang berfungsi untuk memasang pemberat yang bahannya terbuat dari bahan sintetis seperti haizek, vinylon, polyvinyl chloride, saran atau bahan lainnya yang bisa dijadikan untuk tali pemberat. Pemberat (sinker) berfungsi untuk menghasilkan gaya berat pada bottom gillnet.

(22)

2.3. Pola Musim Penangkapan Ikan

Pola musim penangkapan ikan dipengaruhi oleh arus dan perubahan arah angin. Arus permukaan Indonesia akan selalu berubah setiap tahun akibat adanya arah angin disetiap musimnya (angin muson). Pola angin ini bertiup kearah tertentu pada suatu periode dan periode lainnya bertiup kearah yang berlainan pula sehingga dikenal dengan musim barat, musim timur, musim peralihan 1, dan musim peralihan 2. Musim angin barat di Indonesia biasanya terjadi pada bulan Desember, Januari, dan Februari karena pada bulan tersebut terjadi musim angin dibelahan bumi bagian utara dan musim panas dibelahan bumi bagian selatan. Angin yang berhembus dari Asia memiliki tekanan tinggi, menuju Australia yang memiliki tekanan rendah. Angin musim timur di Indonesia terjadi pada bulan Juli sampai Agustus karena pusat tekanan tinggi berada di benua Australia dan pusat tekanan rendahnya berada di benua Asia (Nontji 2007).

2.4. Model Surplus Produksi

Model surplus produksi merupakan model yang digunakan dalam pendugaan stok ikan. Model ini menggunakan data hasil tangkapan dalam kg/tahun sebagai peubah tak bebas, dan effort dalam trip/tahun sebagai peubah bebas. Tiga parameter dalam menduga model surplus produksi ialah pertumbuhan alami r, daya dukung lingkungan K, dan koefisien kemampuan alat tangkap q.

Syarat yang harus dipenuhi dalam menganalisis model produksi surplus adalah ketersediaan ikan pada tiap-tiap periode tidak mempengaruhi daya tangkap relatif, distribusi ikan menyebar rata, dan masing-masing alat tangkap memilki kemampuan menangkap yang seragam (Gulland1983). Hilborn & Walters (1992) menyatakan bahwa situasi surplus produksi dapat diintegrasikan sebagai stok ikan yang meningkat pada saat taraf konstan. Model surplus produksi memiliki kelebihan dan kelemahan tergantung pada penerapannya. Model ini tergantung pada empat macam besaran diantaranya biomassa populasi pada waktu tertentu, tangkapan untuk waktu tertentu, upaya tangkap pada waktu tertentu, dan laju pertambahan natural yang konstan.

(23)

2.5. Bioekonomi Perikanan

Sumberdaya perikanan merupakan sumberdaya yang dapat dipulihkan (renewable resources) namun memiliki keterbatasan. Pemanfaatan yang melebihi kemampuan daya pulih sumberdaya (regenerasi stok) akan berakibat pada penurunan sumberdaya menuju kepunahan. Pendekatan Maximum Suistainable

Yield (MSY) atau potensi lestari perlu dikembangkan. MSY merupakan tingkat

pemanfaatan sumberdaya perikanan tanpa mengganggu kelestarian sumberdaya atau jumlah ikan yang ditangkap masih berada pada batasan surplus produksi (Sari et al., 2009). Pendekatan bioekonomi diperlukan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan. Permasalahan perikanan selama ini hanya terfokus pada maksimalisasi penangkapan dengan mengabaikan faktor produksi seperti biaya operasional penangkapan. Konsep MSY didasarkan atas suatu model yang sederhana dari suatu populasi ikan yang dianggap sebagai unit tunggal. Konsep ini dikembangkan dari kurva biologi yang menggambarkan yield sebagai fungsi dari effort dengan suatu nilai maksimum yang jelas (Widodo & Suadi 2006).

Konsep MSY ini memiliki beberapa keuntungan diantaranya dapat ditentukan dengan ukuran fisik yang sederhana yaitu berat atau jumah ikan yang tertangkap (Widodo & Suadi 2006). Konsep MSY juga memilki beberapa kelemahan yaitu banyak stok ikan yang dinamikanya tidak dapat dilukiskan hanya dengan gambaran yang sederhana. Konsep ini juga tidak dapat menampung berbagai interaksi populasi dengan populasi lainnya, adanya struktur umur dalam populasi, dan adanya recruitment (Widodo & Suadi 2006). Menurut Conrad & Clark (1987) in Fauzi 2010 kelemahan pendekatan MSY antara lain : (1) bersifat tidak stabil karena perkiraan stok yang meleset dapat mengakibatkan pada pengurasan stok; (2) hanya didasarkan pada kondisi steady state (keseimbangan); (3) tidak dapat diterapkan pada perikanan yang multispesies; dan (4) tidak memperhitungkan nilai ekonomis jika stok ikan tidak dipanen;

Kondisi perikanan yang terbuka, rente ekonomi yang positif akan menimbulkan daya tarik dari armada lain untuk ikut berpartisipasi dalam perikanan. Partisipasi tersebut berupa penambahan input seperti peningkatan ukuran kapal dan penambahan tenaga kerja. Effort akan bertambah dan akan terus berlangsung sampai rente ekonomi terkuras. Tingkat input yang dibutuhkan pada kondisi open access

(24)

dengan rente ekonomi yang nol jauh lebih besar daripada yang dibutuhkan pada keuntungan yang maksimum. Gordon menyebutkan bahwa keseimbangan open

access tidak optimal secara sosial karena biaya korbanan yang terlalu besar.

Pengelolaan yang optimal dan efisien secara sosial pada kondisi MEY (Maximum

Economic Yield). MEY ini bisa diperoleh jika perikanan dikendalikan dengan

kepemilikan yang jelas atau disebut dengan istilah “sole owner” (Fauzi 2010). Menurut Anderson (1986) bahwa Maxsimum Ekonomic Yield (MEY) dapat dicapai apabila kurva penerimaan marginal memotong kurva biaya marginal. Produksi open

access terjadi bila penerimaan total seimbang dengan biaya total sehingga laba

upaya penangkapan sama dengan nol. Keuntungan secara fisik (biologi) dan ekonomis dalam usaha perikanan yang ideal berada pada konsep MEY (Fauzi 2010).

2.6. Pengelolaan Sumberdaya Perikanan

Pengelolaan sumberdaya perikanan (fisheries resource management) tidak hanya sekedar proses mengelola sumberdaya ikan tetapi sesungguhnya adalah proses mengelola manusia sebagai pengguna, pemanfaat, dan pengelola sumberdaya ikan (Nikijuluw 2005). Permasalahan pemanfaatan sumberdaya perikanan ialah seberapa banyak ikan dapat diambil tanpa mengganggu stok yang ada di alam itu sendiri (Sari et al., 2009). Prinsip pengelolaan perikanan terdiri dari sistem manajemen perikanan, pemantauan, pengendalian, dan pengawasan serta sistem perikanan berbasis peradilan. Tiga prinsip pengelolaan perikanan ini satu sama lain saling tergantung untuk kesuksesan. Ketiganya merupakan mata rantai yang jika salah satu dari prinsip ini tidak terlaksana dengan baik akan mengakibatkan kegagalan dalam pengelolaan terhadap sumberdaya perikanan secara keseluruhan (Puthy & Kristofersson 2007). Pengelolaan perikanan tidak hanya sebatas menyediakan sumber daya secara berkelanjutan tetapi juga mencapai manfaat ekonomi secara efisien (Strydom & Nieuwoudt1 1998). Menurut Water (1991) in Strydom & Nieuwoudt (1998) ada beberapa peraturan yang membatasi tingkat input dalam sistem pengelolaan perikananan. Peraturan tersebut diantaranya pembatasan penangkapan, penutupan daerah penangkapan dan musim penangkapan, pembatasan beberapa tipe alat tangkap, dan pembatasan effort penangkapan.

(25)

Usaha pengelolaan sumberdaya secara lestari ditempuh dengan jalan pengelolaan sumberdaya perikanan berbasis komunitas. Pengelolaan sumberdaya perikanan berbasis komunitas ini adalah segenap komponen terlibat secara langsung dan tidak langsung dalam pemanfaatan dan pengeloaan sumberdaya pesisir dan lautan. Komponen yang telibat diantaranya adalah masyarakat lokal, LSM, swasta, perguruan tinggi, dan kalangan peneliti lainnya. Pengelolaan sumberdaya perikanan berbasis komunitas diartikan sebagai strategi untuk mencapai pembangunan yang berpusat pada masyarakat dan dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan dua aspek kebijakan yaitu aspek ekonomi dan ekologi. Pelaksanaannya merupakan tanggung jawab dan wewenang antara pemerintah maupun masyarakat (Dahuri et

al., 2001).

Pengelolaan sumberdaya perikanan terdapat dua model yaitu model yang didasarkan pada tingkat pengendalian stakeholder dan model yang didasarkan pada

rights yaitu berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya. Model pertama, Jentoft

(1989) in Satria (2002), mengklasifikasikannya menjadi tiga, yakni pemerintah (command and control), community-based management (CBM), dan

co-management. Model kedua terdapat dua bentuk regulasi dalam pengelolaan

sumberdaya perikanan yaitu open access dan controlled access regulation. Regulasi pertama mengartikan bahwa nelayan dapat menangkap ikan kapan saja, di mana saja, dan dengan alat tangkap apa saja berapa pun jumlahnya. Regulasi ini menyebabkan kerusakan sumberdaya perikanan. Regulasi kedua yaitu controlled

access karena gagalnya regulasi pada model pertama. Menurut Anderson (1995) in

Satria (2002), ada dua kategori yang melandasi model ini yaitu berdasarkan pembatasan input dan pembatasan output. Pembatasan input meliputi pembatasan jumlah dan jenis kapal, jenis alat tangkap, dan berdasarkan jumah tangkapan bagi setiap pelaku berdasarkan kuota Individual Quota (IQ), Individual Transferable

Quota (ITQ) (Satria 2002). Penerapan Individual Transferable Quota (ITQ) prinsip

pelaksanaanya dengan memberikan pre-rasionalisasi dengan menetapkan hak kepemilikan dan hak kepentingan umum menjadi hak kepemilikan sebagian atau

partial property right (Fauzi 2005).

Pengelolaan perikanan saat ini harus diperhatikan karena semakin meningkatnya tekanan eksploitasi terhadap berbagai stok ikan (Widodo & Suadi

(26)

2006). Menurut Charles (2001) konsep pengelolaan perikanan secara berkelanjutan mengandung beberapa aspek antara lain :

a. Ecological sustainability (keberlanjutan ekologi) yang dapat meningkatkan kualitas dari ekosistem menjadi perhatian utama.

b. Socioeconomic sustainability (keberlanjutan sosio-ekonomi) yang dapat mempertahankan serta mencapai tingkat kesejahteraan masyarakat.

c. Community sustainability mengandung arti bahwa kesejahteraan dari sisi komunitas harus menjadi perhatian utama dalam pembangunan perikanan berkelanjutan.

d. Institusional sustainability (keberlanjutan kelembagaan) menyangkut perihal pemeliharaan aspek finansial dan administrasi yang sehat sebagai prasyarat ketiga pembangunan berkelanjutan di atas.

(27)

3. METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2011 sampai bulan Februari 2012 dengan interval waktu pengambilan sampel 1 bulan. Penelitian dilakukan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Labuan, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Lokasi penelitian seperti pada Gambar berikut.

Gambar 4. Lokasi penelitian

3.2. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi alat tulis, daftar pertanyaan (kuisioner), dan alat dokumentasi (kamera digital). Bahan yang digunakan adalah ikan kembung lelaki.

3.3. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer didapat dari hasil wawancara dengan pemilik kapal. Data wawancara yang diambil meliputi data banyaknya hasil tangkapan yang didapatkan pada saat musim puncak dan musim paceklik, biaya operasional per trip, harga ikan saat musim

(28)

puncak dan paceklik, dan daerah penangkapan ikan kembung lelaki saat musim puncak dan pacekik. Pengumpulan data sekunder diperoleh dari kantor TPI Labuan 1, TPI Labuan 2, TPI Labuan 3, dan kantor UPT (Unit Pelaksana Teknis) Labuan, Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten yang merupakan data berkala (time series) tahun 2001-2002, 2004, 2006, 2010-2011 serta data upaya penangkapan (effort) berdasarkan hasil tangkapan untuk alat tangkap jaring rampus, dan purse seine, data hasil tangkapan ikan per tahun, dan data harga ikan.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian dilakukan dengan metode survei yang mencakup observasi dan wawancara. Metode observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran umum objek yang diteliti dilihat dari segi aspek ekonomi ikan kembung lelaki seperti harga ikan, biaya operasional maupun pendapatan nelayan. Metode wawancara dilakukan untuk memperdalam informasi mengenai aspek ekonomi ikan kembung lelaki yang dikaji. Teknik wawancara dilakukan terhadap responden dengan menggunakan media kuisioner antara lain untuk mengetahui rata-rata produksi hasil tangkapan per trip, rata-rata biaya operasional penangkapan per trip, rata-rata pendapatan per trip, jumlah trip selama 1 tahun, dan musim serta daerah penangkapan ikan kembung lelaki. Data dan informasi yang terkumpul selanjutnya dianalisis untuk diketahui pola musiman ikan kembung lelaki serta mendapatkan gambaran bioekonomi dan status pemanfaatan sumberdaya ikan kembung lelaki di PPP Labuan, Banten.

3.4.1. Metode pengambilan contoh

Contoh merupakan sebagian anggota dari populasi sesungguhnya. Pengambilan contoh adalah suatu proses yang dilakukan untuk memilih dan mengambil contoh secara benar dari suatu populasi sehingga dapat mewakili populasi sebenarnya.

Responden utama yang dipilih saat wawancara adalah pemilik kapal purse

seine dan jaring rampus di PPP Labuan, Banten. Pemilihan responden didasarkan

(29)

dilakukan secara purposive sampling yaitu pengambilan contoh dengan sengaja memilih contoh didasarkan pada lokasi yang seimbang dari populasi.

Alat tangkap yang diamati adalah alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan kembung lelaki yaitu purse seine dan jaring rampus. Dua jenis alat tangkap tersebut kemudian dilakukan standarisasi terlebih dahulu ke dalam satuan baku yang mempunyai nilai FPI (Fish Power Index) lebih besar atau sama dengan satu.

3.4.2. Analisis Data

3.4.2.1.Matriks sebaran, ukuran panjang dan tingkat kematangan gonad

Tabel matriks digunakan untuk mengetahui ukuran tangkap ikan kembung lelaki selama bulan Maret sampai Oktober beserta daerah penangkapannya. Daerah penangkapan diplotkan sesuai dengan bulan terjadinya penangkapan untuk masing-masing daerah penangkapan.

Langkah-langkah untuk penentuan ukuran panjang ikan ialah sebagai berikut 1. Selang kelas panjang ikan ditentukan oleh peneliti terdahulu.

2. Plotkan jenis kelamin ikan (jantan dan betina) dimasing-masing selang kelas panjang pada bulan yang merupakan bulan terjadinya penangkapan ikan kembung lelaki.

3. Penentuan persentase tingkat kematangan gonad dilakukan setelah ikan dianalisis gonadnya oleh peneliti terdahulu, selanjutnya dihitung banyaknya persentase masing-masing TKG pada setiap bulan penangkapannya dengan membagi banyaknya TKG n dengan jumlah total dari TKG 1, 2, 3, 4, dan 5 disetiap bulan.

3.4.2.2. Catch per unit effort (CPUE)

Menurut Gordon (1954) besarnya hasil tangkapan nelayan bergantung pada jenis alat tangkap yang digunakan dan besarnya ketersediaan sumberdaya perikanan yang ada. Analisis CPUE (catch per unit effort) perlu dihitung dari masing-masing alat tangkap dengan rumus sebagai berikut:

(30)

CPUE =

Keterangan:

CPUE = Catch Per Unit Effort (kg/trip) Yt = hasil tangkapan per tahun (kg)

ft = jumlah upaya penangkapan per tahun (trip)

3.4.2.3. Analisis pola musim penangkapan ikan

Analisis pola musiman ikan kembung lelaki di sekitar perairan Selat Sunda digunakan sebagai pertimbangan dalam melakukan operasi penangkapan ikan. Indeks musim penangkapan dihitung dengan menggunakan data catch per unit effort (CPUE) dari data bulanan ikan kembung lelaki. Data bulanan diurutkan dari tahun 2001 sampai tahun 2011, setelah itu dihitung dengan metode rata-rata bergerak (moving average). Menurut Dajan (1986), rumus untuk mendapatkan nilai indeks musim penangkapan (IMP) adalah sebagai berikut:

Menyusun deret CPUEi bulan Januari 2001 sampai Desember 2011

ni = CPUEi ………(1) Keterangan :

i = 1, 2, 3, ... , 96 ni = CPUE urutan ke-i

Menyusun rata-rata bergerak CPUE selama 12 bulan (RG)

RGi =

……….(2)

Keterangan :

Rgi = Rata-rata bergerak 12 bulan urutan ke-i

CPUEi = CPUE urutan ke-i

i = 1, 2, 3, ... , 96 j = 7, 8, 9, ... , 91

Menyusun rata-rata bergerak CPUE terpusat (RGP)

(31)

Rasio rata-rata bulan (Rb)

Rbi

=

………(4)

Keterangan :

Rbi = rasio rata-rata bulan ke-i

CPUEi = CPUE urutan ke-i

i =1, 2, 3, ... , 96

Menyusun nilai rata-rata dalam suatu matriks berukuran i x j yang disusun setiap bulannya, dimulai dari bulan Juli. Menghitung nilai total rasio rata-rata tiap bulan, menghitung total rasio rata-rata secara keseluruhan, dan menghitung indeks musim penangkapan.

Rasio rata-rata untuk bulan ke-i (RRBi)

RRBi = ∑ ………(5) Keterangan :

RRBi = Rata-rata RBij untuk bulan ke-i

RBij = Rasio rata-rata bulanan dalam matriks ukuran i x j

i = 1, 2, 3, ... , 12 j = 1, 2, 3, ... , n

JRRB = ∑ ………..(6) Jumlah rasio rata-rata bulanan (JRRB)

Keterangan :

JRRBi = Jumlah rasio rata-rata bulan

RRBi = Rata-rata RBij untuk bulan ke-i

i = 1, 2, 3, ... , 12 Menghitung faktor koreksi : FK =

……….(7)

Keterangan :

FK = Nilai faktor koreksi

(32)

Indeks musim penangkapan

IMPI = RRBi x FK ………(8) Keterangan :

IMPi = Indeks musim penangkapan bulan ke-i

RBBi = Rasio rata-rata untuk bulanan ke-i

i = 1, 2, 3, ... , 12

Kriteria Indeks Musim Penangkapan (IMP) : IMP < 50 % = Musim paceklik

IMP 50%<IMP<100% = Bukan musim penangkapan IMP>100% = Musim penangkapan

3.4.2.4. Model Hilborn dan Walter (1992)

Sala satu model surplus produksi ialah model Hilborn dan Walter (1992). Model ini dapat memberikan dugaan masing-masing untuk parameter fungsi produksi surplus r, q, dan K dari tiga koefisien regresi. Persamaannya sebagai berikut:

Bt+1 = Bt + rBt (

)- Ct

Prosedur model Walter-Hilborn adalah sebagai berikut: Ct = qXtft,

Jika Bt

=

Maka diperoleh :

=

Persamaan dasar model produksi surplus dapat diformulasikan kembali sebagai berikut:

(

) -

CPUEtft

Pindahkan

kesisi kiri dan mengalikan persamaan dengan

sehingga diperoleh persamaan:

– 1 = r +

+

(33)

Persamaan di atas diregresikan dengan laju perubahan biomassa sebagai peubah tidak bebas dan upaya penangkapan sebagai peubah bebas. Persamaan regresinya menjadi: Yt = α + βX1t + γX2t +εt Dimana: Yt =

– 1

X1t = X2t = ft

α = r

β =

γ = q

3.4.3. Konsepsi dan batasan

1. Analisis bioekonomi merupakan analisis terpadu dari aspek biologi dan ekonomi dalam upaya pemanfaatan sumberdaya secara lestari.

Analisis ini berdasarkan dinamika pertumbuhan populasi ikan kembung lelaki yang dikaitkan dengan upaya mencapai keuntungan maksimum dengan model Hilborn dan Walter (1992).

2. Upaya pemanfaatan sumberdaya ikan kembung lelaki yang dilakukan para nelayan yang mendaratkan ikannya di PPP Labuan, Banten.

3. Harga ikan kembung lelaki adalah harga persaingan oleh para nelayan yang ada di PPP Labuan, Banten.

4. Pengelolaan Maximum Suistainable Yield adalah tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan kembung lelaki pada saat effort MSY (EMSY).

5. Pengelolaan Maximum Economic Suistainable Yield adalah tingkatan pemanfaatan sumberdaya ikan kembung lelaki pada saat effort MEY (EMEY).

6. Pengelolaan open access adalah tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan kembung lelaki pada rente ekonomi sama dengan nol.

3.4.4. Analisis model bioekonomi

Model bioekonomi merupakan salah satu cara pendekatan yang paling mudah dan sederhana untuk mengetahui MSY, EMSY, EMEY, MEY, dan EOA.

(34)

Berikut merupakan tabel perhitungan hasil tangkapan (h), upaya penangkapan (E), dan keuntungan (π) dari berbagai kondisi rezim pengelolaan.

Tabel 1. Rumus perhitungan pengelolaan ikan kembung lelaki model statis (Fauzi 2010). MSY MEY OA H ( ) ( ) ( ) E ( ) ( )

π (p* hMSY)-(c*EMSY) (p* hMEY)-(c *EMEY) (p* hOA)-(c *EOA)

Untuk menghitung persamaan di atas maka diperlukan data-data berikut : p = Price (harga, Rp/kg)

c = Average cost (biaya, Rp/upaya)

TR = Total revenue (penerimaan usaha, Rp/tahun) TC = Total cost (biaya usaha, Rp/tahun)

(35)

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Kondisi Umum PPP Labuan, Banten

Wilayah Kabupaten Pandeglang secara geografis terletak antara 6021’- 7010’ Lintang Selatan dan 104048’-106011’ Bujur Barat dengan luas daerah 2.747 km2 atau sebesar 29,98% dari luas Provinsi Banten. Batas administrasi wilayah ini sebelah utara adalah Kabupaten Serang, sebelah selatan Samudera Hindia, sebelah barat Selat Sunda, dan sebelah timur Kabupaten Lebak. Posisi tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Pandeglang memiliki potensi perikanan cukup besar karena kemudahan akses kebeberapa perairan. 10% dari wilayah daratan kabupaten ini memiliki kawasan perairan laut sehingga potensi sumberdaya ikan laut cukup besar untuk dikembangkan (Fieka 2008).

Kabupaten Pandeglang memiliki 5 kecamatan, salah satunya Kecamatan Labuan yang memiliki Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP Labuan). Kondisi topografi area pelabuhan merupakan daerah datar dengan kemiringan 0-2%. Areal untuk pengembangan Pelabuhan sekitar 4,3 ha dibatasi oleh Sungai Cipunteun Agung di sebelah selatan dan areal kebun kelapa milik swasta di sebelah utara. Pemanfaatan lahan telah tercampur antara daerah kerja pelabuhan dengan pemukiman penduduk. Pemanfaatan lahan yang telah tercampur dengan pemukiman penduduk menjadi penghambat dalam pengembangan PPP (Fieka 2008).

Fasilitas di PPP Labuan terdiri dari fasilitas pokok dan fasilitas fungsional. Fasilitas pokok terdiri dari dermaga bongkar muat, kolam pelabuhan, dan

breakwater. Fasilitas fungsional yang terkait dengan pelelangan/pemasaran antara

lain seperti basket/wadah ikan, pengadaan air bersih, pengadaan es, dan tempat pelelangan ikan (TPI). Gedung TPI dibuat sebagai prasarana transaksi antara nelayan dan pedagang-pembeli (bakul). Gedung TPI terdiri dari ruang lelang dan kantor TPI. Gedung TPI 1 terletak disisi muara sungai dan menghadap kearah selatan atau tepat berhadapan langsung dengan aliran Sungai Cipunteun Agung. Gedung TPI 2 terletak ditepi pantai dengan jarak sekitar 50 meter dari garis pantai. Bangunan ini menghadap kearah timur dan berhadapan langsung dengan kolam pelabuhan PPP Labuan (Fieka 2008). Kedalaman perairan sungai yang tidak sesuai

(36)

untuk ukuran draft kapal berukuran 1,5 meter atau lebih menjadi hambatan bagi kelancaran keluar masuknya kapal ke TPI 1 Labuan. TPI 1 hanya bisa dimasuki oleh kapal kecil berukuran 0-5 GT. TPI 2 dengan posisi yang terletak di pinggir laut sedikit memudahkan kapal ukuran 5-10 GT untuk mendaratkan hasil tangkapannya (Fieka 2008).

Alat tangkap yang beroperasi di Labuan yaitu payang, purse seine, jaring rampus, gillnet, pancing, jaring arad, dan jaring cantrang (Tabel 2). Jaring arad merupakan alat tangkap terbanyak yang ada di Labuan yaitu berjumlah 119 unit. Alat tangkap kedua dan ketiga terbanyak yaitu pancing berjumlah 68 unit dan gillnet berjumlah 65 unit. Berikut merupakan perkembangan armada penangkapan ikan di Labuan :

Tabel 2. Jumlah alat penangkapan ikan di PPP Labuan periode 2001-2008

No Alat Tangkap Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 1 Payang 25 28 43 45 44 43 43 45 60 61 59 2 Cantrang 193 193 40 48 49 49 49 48 13 11 6 3 Arad - - 125 125 130 121 121 119 181 181 180 4 Purse seine 10 8 16 16 20 20 20 18 10 8 8 5 Rampus 68 65 32 30 32 32 32 35 41 41 41 6 Jaring Klitik 32 32 10 10 4 0 0 0 0 0 0 7 Pancing 26 28 32 32 65 68 68 68 68 68 68

Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang, 2008

4.2. Komposisi Hasil Tangkapan

Ikan kembung lelaki merupakan ikan dominan kedua (24%) setelah ikan tongkol (47%) yang tertangkap di PPP Labuan, Banten. Alat tangkap utama yang digunakan untuk menangkap ikan ini ialah jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inchi dan purse seine. Jaring rampus dioperasikan menggunakan kapal motor berukuran 2-6 GT dan purse seine berukuran 12-15 GT. Nelayan Labuan biasa menangkap ikan kembung lelaki di sekitar Pulau Jongor, Sumur, Pulau Rakata, dan Pulau Panaitan. Nelayan akan mencari daerah penangkapan lain di sekitar Tanjung Lesung ataupun Jongor saat hasil tangkapan di Pulau Rakata rendah. Penangkapan ikan kembung lelaki di Pulau Rakata terjadi pada bulan Juli sampai Agustus serta

(37)

pada bulan Maret sampai April. Hasil tangkapan total berdasarkan data berat ikan disajikan pada Gambar berikut :

Gambar 5. Presentase ikan kembung lelaki di PPP Labuan, Banten Sumber : Data harian PPP Labuan, tahun 2011

4.3. Daerah dan Musim Penangkapan Ikan di Labuan, Banten

Menurut hasil wawancara dengan nelayan, daerah penangkapan berada disekitar Pulau Rakata, Pulau Panaitan , Sumur, Pulau Papole, Jongor serta Tanjung Lesung. Jarak tempuh antara daerah penangkapan dengan PPP Labuan berkisar 3-4 jam perjalanan. Musim penangkapan ikan di sekitar perairan Selat Sunda terdiri dari 3 musim yaitu musim timur, musim peralihan, dan musim barat. Musim timur merupakan musim dengan aktivitas penangkapan tertinggi terjadi pada bulan Mei sampai Juli. Musim peralihan terbagi menjadi dua yaitu musim peralihan satu dan musim perlihan dua. Musim peralihan satu terjadi pada bulan Februari sampai April. Musim peralihan dua pada bulan Agustus sampai Oktober. Musim peralihan dua menandakan datangnya musim paceklik yaitu bulan November sampai Januari (Amri 2002). Daerah penangkapan ikan kembung lelaki di perairan Selat Sunda disajikan pada Gambar berikut :

24% 2% 1% 47% 9% 17% Kembung lelaki Tenggiri Selar Tongkol Cumi Tembang

(38)

Gambar 6. Daerah penangkapan ikan kembung lelaki di Labuan, Banten Menurut nelayan di Labuan, musim puncak penangkapan ikan kembung lelaki terjadi pada bulan Juni sampai September. Daerah penangkapan pada bulan tersebut di sekitar Pulau Rakata, Pulau Panaitan, Tanjung Lesung, dan Sumur. Musim paceklik ikan kembung lelaki terjadi pada bulan Januari sampai Mei dan bulan Oktober sampai Desember. Nelayan melakukan penangkapan ikan kembung lelaki di Pulau Papole menggunakan jaring rampus saat musim paceklik. Alat tangkap purse seine digunakan oleh nelayan untuk daerah penangkapan yang lebih jauh dari PPP Labuan. Daerah Binuangen hingga sekitar daerah Lempasing, Lampung merupakan tujuan utama nelayan purse seine saat musim paceklik.

4.4. Upaya Penangkapan (effort)

Jaring rampus merupakan alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan kembung lelaki. Ikan kembung lelaki juga ditangkap menggunakan purse seine dengan waktu pengoperasian bisa mencapai 2 sampai 3 hari. Penangkapan dengan jaring rampus hanya satu hari. Upaya penangkapan (effort) ikan kembung lelaki

(39)

yang telah distandarisasi dengan upaya alat tangkap purse seine yang memiliki nilai FPI sama dengan satu ditampilkan pada Gambar berikut:

Gambar 7. Upaya penangkapan ikan kembung lelaki di PPP Labuan, Banten Sumber : data sekunder PPP Labuan, Banten

Gambar 7 terlihat bahwa effort ikan kembung lelaki mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tingkat kenaikan effort ikan kembung lelaki di PPP Labuan, Banten memiliki hubungan linier dengan persamaan y = 54 + 58,42x. Persamaan tersebut diperoleh nilai a = 54 dan b = 58,42 dengan koefisien determinasi (R2) 0,607. Penurunan terjadi pada tahun 2002 sebesar 113 trip/tahun dari 179 trip/tahun pada tahun 2001 lalu terjadi peningkatan kembali pada tahun 2004 dan 2006. Effort tahun 2010 mengalami penurunan sebesar 211 trip dari tahun 2006. Penurunan effort ini diduga karena adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Tahun 2011

effort meningkat kembali sebesar 516 trip. Tahun 2011 merupakan effort tertinggi

bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Banyaknya upaya penangkapan berbanding lurus dengan hasil tangkapan. Semakin banyak upaya penangkapan, maka akan semakin besar pula hasil tangkapannya.

4.5. Hasil Tangkapan Ikan Kembung Lelaki

Analisis data hasil tangkap dilakukan atas data yang terkumpul tahun 2001-2002, 2004, 2006, 2010, dan 2011. Rata-rata hasil tangkapan sebesar 8.673,99 kg.

y = 58.421x + 54.009 R² = 0.6077 0 100 200 300 400 500 600 2001 2002 2004 2006 2010 2011 Ef fo rt (t rr ip ) Tahun

(40)

Hasil tangkapan tertinggi pada Gambar 6 pada tahun 2011 sebesar 17.376 kg dan hasil tangkapan terendah tahun 2002 sebesar 3.372 kg. Tingkat kenaikan hasil tangkapan ikan kembung lelaki di PPP Labuan, Banten memiliki hubungan linier dengan persamaan y = 1776 + 1970x. Persamaan tersebut diperoleh nilai a = 1776 dan b = 1907 dengan koefisien determinasi (R2) 0,605. Gambar hasil tangkapan ikan kembung lelaki dari alat tangkap jaring rampus dan purse seine. Hasil ini berdasarkan standarisasi jaring rampus terhadap purse seine.

Gambar 8. Hasil tangkapan ikan kembung kelaki di PPP Labuan, Banten Sumber : data sekunder PPP Labuan, Banten

Berdasarkan data bulanan pada tahun 2011, hasil tangkapan ikan kembung lelaki mengalami peningkatan dan penurunan yang erat kaitannya dengan adanya perubahan musim. Berikut merupakan fluktuasi hasil tangkapan yang dapat dilihat dari Gambar 9. Tahun 2002 (Tabel 2) mengalami penurunan hasil tangkapan dari tahun 2001 disebabkan oleh penurunan armada penangkapan ikan pada tahun tersebut. Tahun 2002 armada penangkapan kapal purse seine berjumlah 8 unit menurun dari tahun 2001 yang berjumlah 10 unit. Armada penangkapan dengan jaring rampus pada tahun 2002 juga mengalami penurunan dari tahun 2001 yang berjumlah 68 unit menjadi 65 unit.

y = 1970.6x + 1776.8 R² = 0.6051 0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000 18000 20000 2001 2002 2004 2006 2010 2011 H a sil T a ng k a pa n (k g ) Tahun

(41)

Gambar 9. Hasil tangkapan ikan kembung lelaki di PPP Labuan, Banten tahun 2011 Sumber : data sekunder PPP Labuan, Banten

Tingkat penurunan hasil tangkapan ikan kembung lelaki di PPP Labuan, Banten memiliki hubungan linier dengan persamaan y = 2216 – 90,93x. Persamaan tersebut diperoleh nilai a = 2216 dan b = - 90,93 dengan koefisien determinasi (R2) 0,034. Gambar 9 dapat disimpulkan bahwa pada bulan Januari tidak ada hasil tangkapan karena merupakan musim barat (paceklik). Bulan Februari dan Maret terdapat hasil tangkapan dalam jumlah sedikit yaitu masing-masing sebesar 43 kg dan 87 kg. Hasil tangkapan yang sedikit dikarenakan bulan Februari dan Maret merupakan musim peralihan satu yang ditandai mulai tertangkapnya ikan kembung lelaki. Musim timur berlangsung selama tiga bulan yaitu pada bulan Mei sampai Juli sehingga mengakibatkan adanya peningkatan hasil tangkapan dibandingkan dengan musim barat. Puncak penangkapan ikan kembung lelaki terjadi pada bulan Juli yang mencapai 4.409 kg. Bulan Agustus sampai Oktober hasil tangkapan mulai menurun drastis terutama pada bulan Oktober yang merupakan akhir dari musim peralihan dua, hasil tangkapan sebesar 96 kg.

Menurut Pakpahan (1999) in Amri (2002), awal produksi ikan pelagis kecil di perairan Selat Sunda hampir selalu dimulai pada bulan April dan berakhir pada bulan November selanjutnya akan diikuti pula dengan penurunan produksi. Gambar 9 dapat dilihat pada bulan April merupakan awal dari penangkapan tinggi mencapai

0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 Hasi l T an gk ap an (kg) Bulan

(42)

2.952 kg. Bulan sebelumnya yaitu bulan Maret hanya sebesar 87 kg. Bulan November akhir dari peningkatan produksi sebesar 439 kg dari bulan Oktober sebesar 96 kg. Bulan Desember mulai terjadi penurunan hasil tangkapan sebesar 382 kg. Data bulanan, hasil tangkapan tertinggi yang merupakan puncak penangkapan terjadi pada bulan Juli saat musim timur.

Menurut Wyrtki (1961), musim timur ketinggian gelombang hanya berkisar antara 0,5 m-1 m bahkan bisa kurang dari 0,5 m. Bulan Juli biasanya gelombang rendah sehingga memudahkan nelayan untuk melaut. Operasi penangkapan yang meningkat tentunya akan meningkatkan hasil tangkapan. Ikan-ikan pelagis kecil khususnya ikan kembung lelaki akan bergerak mencari daerah bersuhu rendah. Musim timur terjadi pendinginan permukaan air laut sehingga hasil tangkapan ikan akan melimpah. Angin pada musim timur bertiup lemah menyebabkan ikan kembung lelaki melakukan penjelajahan wilayah untuk migrasi secara luas dan berkembang biak. Ikan kembung lelaki ini menyebar di perairan Selat Sunda dan hampir terdapat di seluruh perairan (Wyrtki 1961).

4.6. Catch Per Unit Effort (CPUE)

Analisis CPUE menggambarkan hubungan antara hasil tangkapan (C) dengan upaya penangkapan (E) pada waktu tertentu. Setiap alat tangkap mempunyai kemampuan berbeda dalam menangkap ikan kembung lelaki. CPUE dapat menilai efektivitas suatu alat tangkap sehingga perlu dilakukannya standarisasi alat tangkap. Hasil standarisasi menunjukkan bahwa alat tangkap purse seine memiliki nilai

Fishing Power Indeks (FPI) = 1, hal ini berarti purse seine digunakan sebagai alat

tangkap standar untuk menangkap ikan kembung lelaki. Hasil tangkapan per satuan upaya dari ikan kembung lelaki ditampilkan pada Gambar 10.

Berdasarkan Gambar 10, nilai CPUE tertinggi terjadi pada tahun 2001 sebesar 36 kg/trip dan nilai CPUE terendah pada tahun 2002 sebesar 30 kg/trip. Nilai CPUE yang rendah pada tahun 2002 dikarenakan upaya penangkapan dan hasil tangkapan pada tahun tersebut sedikit. Menurut Gulland (1983), CPUE merupakan fungsi dari variabel q. Fungsi variabel ini disetiap daerah penangkapan dalam kurun waktu tertentu cenderung akan mengurangi hasil tangkapan ikan serta dapat mengalahkan tingkat pertumbuhan alami ikan tersebut.

(43)

Tahun 2004 nilai CPUE mengalami peningkatan karena terjadinya penurunan jumlah alat tangkap rampus (Tabel 2). Penurunan ini disertai dengan peningkatan kapasitas kapal sehingga hasil tangkapan yang diperoleh masih melimpah. Tahun 2006 Nilai CPUE mulai mengalami penurunan dikarenakan adanya peningkatan dari jumlah alat tangkap purse seine dan jaring rampus (Tabel 2). Peningkatan purseine diduga menyebabkan persaingan dalam hasil tangkapan sehingga menyebabkan nilai CPUE cenderung menurun.

Gambar 10. Catch per unit effort (CPUE)

Sumber: data sekunder PPP Labuan, Banten

Tingkat kenaikan CPUE ikan kembung lelaki di PPP Labuan, Banten memiliki hubungan linier dengan persamaan y = 32,87 + 0,142x. Persamaan tersebut diperoleh nilai a = 32,87 dan b = 0,1422 dengan koefisien determinasi (R2) 0,016. Nilai R² menunjukkan bahwa 1,6% CPUE dipengaruhi oleh trip penangkapan, sementara 98,4% dipengaruhi oleh faktor lain. Hubungan antara CPUE dan effort penangkapan ikan kembung lelaki menunjukkan bahwa semakin tinggi effort maka nilai CPUE juga akan semakin tinggi. Hubungan ini mengindikasikan bahwa produktivitas purse seine sebagai alat tangkap standar bertambah dengan menurunnya effort. y = 0.142x + 32.879 R² = 0.0166 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 2001 2002 2004 2006 2010 2011 CP UE (k g /t rip) Tahun

(44)

4.7. Matriks Sebaran dan Ukuran Panjang

Ikan kembung lelaki tangkapan nelayan bervariasi dan memiliki berbagai macam ukuran. Hasil antara lokasi dan waktu penangkapan terlihat pada Tabel 3. Bulan Juni sampai Juli yang merupakan musim timur di Pulau Rakata, Tanjung Lesung, Sumur, dan Pulau Panaitan terjadi penangkapan dengan ukuran panjang ikan terkecil sampai terbesar. Ukuran ikan kembung lelaki terkecil yaitu ukuran 105 mm-120 mm tertangkap pada bulan Juni. Daerah penangkapan ikan kembung lelaki berada di sekitar Sumur dan Pulau Panaitan. Ukuran ikan kembung lelaki terbesar yaitu ukuran 233 mm-248 mm tertangkap pada bulan Mei sampai Juli dan bulan September. Bulan-bulan tersebut penangkapan ikan kembung lelaki berada di sekitar Rakata, Sumur, Panaitan, dan Tanjung Lesung. Daerah penangkapan dapat dijadikan habitat bagi ikan-ikan yang telah matang gonad.

Tabel 3.Matriks sebaran dan ukuran panjang ikan kembung lelaki di perairan Selat Sunda periode penangkapan bulan Maret sampai Oktober 2011

Lokasi Bulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Lokasi Penangkapan 1. Pulau Rakata √ √ √ √ 2. Sumur √ √ √ 3. Pulau Panaitan √ √ √ √ √ 4. Carita √ √ 5. Tanjung Lesung √ √ √ √ 7. Pulau Papole √ √ √ √ √ SK Panjang (mm) 105-120 jb 121-136 jb b 137-152 jb jb j 153-168 jb jb jb jb 169-184 jb j jb jb 185-200 jb jb jb jb jb 201-216 jb jb jb jb j 217-232 jb jb jb jb 233-248 jb j b jb Keterangan : V = dilaporkan tertangkap j = jantan b = betina jb = jantan betina

(45)

Berdasarkan Tabel 4, TKG betina yang telah matang gonad yaitu TKG 3, 4, dan 5, jumlah terbanyak pada bulan Mei untuk TKG 3 dan bulan September untuk TKG 4 dengan lokasi peangkapan Sumur, Pulau Panaitan, dan Tanjung Lesung. TKG 1 dan 2 yang belum siap melakukan pemijahan presentase terbanyak pada bulan April dengan daerah penangkapan berada di Pulau Rakata. Bulan Juli dengan daerah penangkapan Rakata, Sumur, Panaitan, dan Tanjung Lesung memiliki presentase TKG 1 dan 2 terbesar dibandingkan dengan TKG yang telah siap melakukan pemijahan.

Tabel 4. Matriks sebaran dan tingkat kematangan gonad (TKG) ikan kembung lelaki di perairan Selat Sunda periode penangkapan bulan Maret sampai Oktober 2011.

Keterangan :

V =dilaporkan tertangkap

Nilai IMP (Gambar 11) tertinggi pada bulan Juni sebesar 198,60%. Nilai IMP yang tinggi merupakan musim puncak penangkapan ikan kembung lelaki.

Lokasi Bulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Lokasi Penangkapan 1. Pulau Rakata √ √ √ √ 2. Sumur √ √ √ 3. Pulau Panaitan √ √ √ √ √ 4. Carita √ √ 5. Tanjung Lesung √ √ √ √ 6. Pulau Papole √ √ √ √ √ TKG Jantan (%) 1 74 5 33 56 52 2 26 21 13 18 48 3 3 54 44 15 42 4 20 8 12 55 5 2 TKG Betina (%) 1 74 43 55 50 2 20 6 11 19 50 6 3 3 62 43 9 44 4 3 32 3 14 50 5 3

(46)

Bulan Juni jika dihubungkan dengan Tabel 3 matriks sebaran dan ukuran panjang ikan, ikan tertangkap dengan berbagai ukuran di sekitar Sumur dan Pulau Panaitan. Alat tangkap yang biasanya digunakan didaerah ini adalah purse seine. Banyaknya ikan yang tertangkap bila dilihat dari TKG ikan betina yang telah matang gonad yaitu TKG 4 presentasenya hanya sebesar 3% dan TKG 3 sebesar 43%.

Berdasarkan presentase TKG 3 dan TKG 4 baik ikan jantan maupun ikan betina sama-sama tertangkap dibulan Mei untuk TKG 3 dan bulan September untuk TKG 4. Bulan Mei dan bulan September dapat diindikasikan sebagai musim pemijahan ikan dengan daerah pemijahan yaitu di sekitar Sumur, Pulau Panaitan, dan Tanjung Lesung. Sesuai dengan pernyataan Puslitbangkan (1994) in Amri 2002 bahwa ikan kembung lelaki memiliki dua kali musim pemijahan yaitu pada bulan Oktober sampai Februari dan Bulan Juni sampai September. Bulan Mei merupakan musim penangkapan ikan kembung lelaki dengan nilai IMP 143,62% sedangkan bulan September sebesar 94,34%. Bulan September tidak termasuk musim penangkapan karena merupakan akhir dari musim pemijahan.

Selain purse seine, nelayan juga menangkap ikan kembung lelaki dengan jaring rampus. Daerah penangkapan jaring rampus di sekitar Pulau Rakata dengan waktu tempuh 3-4 jam. Bulan Juli sampai Agustus masih termasuk musim penangkapan ikan kembung lelaki. Menurut informasi dari nelayan setempat, bulan Maret dan April termasuk musim paceklik bagi ikan kembung lelaki sehingga pada bulan-bulan tersebut nelayan hanya menangkap disekitar Pulau Rakata dengan hasil tangkapan sedikit dan bulan Maret tidak mendapatkan hasil tangkapan.

Berdasarkan Tabel 3 matriks sebaran dan ukuran ikan yang tertangkap pada bulan April berkisar antara selang kelas panjang 153 mm–216 mm. Bulan April memiliki nilai IMP sebesar 108,62% sudah mengindikasikan musim penangkapan ikan kembung lelaki sehingga terdapat hasil tangkapan walaupun tidak terlalu banyak. Menurut pernyataan Purwandani 2001 in Amri (2002) pada bulan Maret dan April merupakan musim peralihan satu sebelum memasuki musim timur yang berakibat pada hasil tangkapan yang belum stabil setelah akhir musim barat yaitu musim paceklik.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :