JANTAN YANG DIINDUKSI PAKAN TINGGI LEMAK
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mencapai gelar Sarjana Farmasi (S.Farm) Program Studi Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Islam Indonesia Yogyakarta
Oleh:
YOGIE ANDIKA TRI NANDA
14613121
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA APRIL 2018
v
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahirabbil’aalamiin, puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan berkah, rahmat dan karunia-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi saya yang berjudul “Pengaruh Ekstrak Etanol Biji Petai (Parkia Speciosa Hassk.) Terhadap Kadar High Density Lipoprotein Dan Low Density Lipoprotein Pada Tikus Wistar Jantan Yang Diinduksi Pakan Tinggi Lemak“. Penulisan Skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Farmasi Program Studi Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Islam Indonesia.
Saya menyadari bahwa keberhasilan pembuatan skripsi ini, tidak lepas dari bantuan serta dukungan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terimakasih kepada: 1. Ibu Dr. Arba Pramundita, M.Sc., Apt. selaku dosen pembimbing utama dan Ibu
Cynthia Astiti Putri, M.Si., Apt. selaku dosen pembimbing pendamping yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan arahan, masukan, dan motivasi serta memberikan pendanaan selama penelitian ini.
2. Ibu drh. Sitarina Widyarini, MP., Ph.D dan Bapak Hady Anshory, M.Sc., Apt. selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan masukan, kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki kekurangan dalam skripsi ini sehingga lebih baik ke depannya.
3. Bapak Drs. Allwar, M.Sc., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam Indonesia dan Bapak Pinus Jumaryatno, S.SI., M.Phil., Ph.D., Apt selaku Ketua Program Studi Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam Indonesia yang telah memberikan fasilitas dalam mendukung penyusunan skripsi ini.
4. Ibu Annisa Fitria, M.Sc., Apt. selaku dosen pembimbing akademik yang telah membimbing dan memberi nasehat hingga saat ini.
vi
5. Seluruh laboran dan staf pengajar Program Studi Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Islam Indonesia yang telah memberikan banyak bantuan dan bekal ilmu hingga penulis menyelesaikan skripsi ini.
6. Keluarga saya tercinta yang terus memberikan do’a, semangat, dan motivasi agar tetap gigih, tabah, kuat dan sabar dalam menyelesaikan penelitian ini. 7. Tesha Paramitha yang selalu mendampingi, memberikan do’a, semangat, saran
dan motivasi selama proses penelitian hingga skripsi ini selesai.
8. Grup SaMaWa, Buaya, serta Rekan-rekan Farmasi B 2014 yang tak henti-hentinya memberikan do’a, semangat dan motivasi hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
9. Seluruh pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan semuanya.
Saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekeliruan dalam penulisan skripsi ini. Saya menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan dan pemerintah Indonesia.
Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Yogyakarta, 18 April 2018
vii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
INTISARI ... xiii
ABSTRACT ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan Penelitian ... 2
1.4 Manfaat Penelitian ... 3
BAB II STUDI PUSTAKA ... 4
2.1 Tinjauan Pustaka ... 4
2.1.1 Dislipidemia ... 4
2.1.2 Lemak ... 5
2.1.3 Obat - Obat Antidislipidemia ... 10
2.1.3.1 Golongan Inhibitor HMG Koa Reduktase ... 11
2.1.3.2 Golongan Resin Penukar Anion ... 14
2.1.3.3 Asam Nikotinat / Niacin ... 15
2.1.3.4 Golongan Asam Fibrat ... 16
2.1.3.5 Golongan Ezetemibe ... 17
2.1.4 Petai (Parkia speciosa Hassk.) ... 18
2.1.4.1 Deskripsi ... 18
viii
2.1.4.3 Penelitian Tentang Biji Petai ... 20
2.1.5 Ekstraksi ... 21
2.2 Landasan Teori ... 21
2.3 Hipotesis ... 22
2.4 Kerangka Konsep ... 22
BAB III METODE PENELITIAN ... 23
3.1 Bahan dan Alat ... 23
3.1.1 Bahan... 23
3.1.2 Alat ... 23
3.1.3 Subjek Uji ... 23
3.2 Cara Penelitian ... 24
3.2.1 Skema Alur Penelitian... 24
3.2.2 Pengajuan Ethical Clearance ... 25
3.2.3 Koleksi Tanaman ... 25
3.2.4 Determinasi Tanaman ... 25
3.2.5 Perlakuan Paska Panen ... 25
3.2.6 Pembuatan Ekstrak Etanol Biji Petai ... 26
3.2.7 Uji Identifikasi Senyawa ... 26
3.2.7.1 Uji Flavonoid Menggunakan Pereaksi Wilstater ... 27
3.2.7.2 Uji Flavonoid Menggunakan Pereaksi Bate Smite-Metcalfe ... 27
3.2.7.3 Uji β-sitosterol Menggunakan KLT ... 27
3.2.8 Penentuan Dosis ... 28
3.2.8.1 Penentuan Dosis Simvastatin ... 28
3.2.8.2 Pembuatan Larutan Na-CMC 0,5 % ... 28
3.2.8.3 Penentuan Induksi Pakan Tinggi Lemak ... 28
3.2.8.4 Pembuatan Induksi Pakan Tinggi Lemak ... 29
3.2.8.5 Penentuan Dosis Ekstrak Etanol Biji Petai ... 29
3.2.9 Rancangan Penelitian ... 31
3.2.9.1 Besar Sampel ... 31
3.2.9.2 Aklimatisasi Hewan Uji ... 31
3.2.9.3 Pembagian Kelompok Hewan Uji ... 32
ix
3.2.9.5 Terminasi Hewan Uji ... 34
3.2.9.6 Skema Penelitian... 34
3.3 Analisis Hasil ... 35
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 36
4.1 Determinasi Tanaman ... 36
4.2 Ekstraksi ... 37
4.3 Hasil Uji Kualitatif Senyawa ... 40
4.3.1 Uji Identifikasi Senyawa Flavonoid ... 40
4.3.1 Uji Kualitatif β-sitosterol Menggunakan KLT ... 43
4.4 Induksi Pakan Tinggi Lemak ... 45
4.5 Uji Aktivitas Anti Dislipidemia ... 46
4.5.1 Kadar HDL ... 46
4.5.2 Kadar LDL ... 48
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 52
5.1 Kesimpulan ... 52
5.2 Saran ... 52
DAFTAR PUSTAKA ... 53
x
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Metabolisme Lipoprotein Eksogen dan Endogen ... 7
Gambar 2.2 Metabolisme Lipoprotein Reverse Cholesterol Transport ... 9
Gambar 2.3 Struktur Obat Simvastatin, Atorvastatin, Lovastatin, Fluvastatin, Pravastatin dan Rosuvastatin... 12
Gambar 2.4 Mekanisme Kerja Obat Golongan Statin ... 13
Gambar 2.5 Struktur Obat Kolestiramin, Kolestipol dan Kolesevelam ... 15
Gambar 2.6 Struktur Obat Asam Nikotinat ... 16
Gambar 2.7 Struktur Obat Gemfibrozil, Bezafibrat, Ciprofibrat dan Fenofibrat 17 Gambar 2.8 Struktur Obat Ezetemibe... 18
Gambar 2.9 Biji Petai (Parkia speciosa Hassk.) ... 19
Gambar 2.10 Kerangka Konsep Penelitian... 22
Gambar 3.1 Skema Alur Penelitian ... 24
Gambar 3.2 Prinsip Reaksi (Fromm et al., 1980) ... 33
Gambar 3.3 Skema Penelitian ... 34
Gambar 4.1 Ekstrak Kental Biji Petai ... 37
Gambar 4.2 Hasil Uji Flavonoid dengan Pereaksi Wilstater ... 40
Gambar 4.3 Reaksi Uji Wilstater ... 41
Gambar 4.4 Hasil Uji Flavonoid dengan Pereaksi Bate Smite-Metcalfe ... 42
Gambar 4.5 Reaksi Uji Bate Smite-Metcalfe ... 43
Gambar 4.6 Hasil Uji Kualitatif Β-sitosterol Menggunakan KLT ... 43
Gambar 4.7 Reaksi Steroid dengan Pereaksi Lieberman Burchard ... 44
Gambar 4.8 Grafik Hasil Rata-rata Kadar HDL ... 47
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Rentang Kadar Normal dan Dislipidemia Tikus ... 4 Tabel 3.1 Komposisi Induksi Pakan Tinggi Lemak ... 29 Tabel 4.1 Hasil Uji Organoleptik ... 39
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Ethical clearance ... 59
Lampiran 2. Hasil Determinasi Tanaman ... 60
Lampiran 3. Hasil Pengukuran Kadar LDL dan HDL ... 61
Lampiran 4. Hasil Rata-Rata Kadar LDL dan HDL ... 62
xiii
PENGARUH EKSTRAK ETANOL BIJI PETAI (Parkia speciosa Hassk.) TERHADAP KADAR HIGH DENSITY LIPOPROTEIN DAN LOW
DENSITY LIPOPROTEIN PADA TIKUS WISTAR JANTAN YANG
DIINDUKSI PAKAN TINGGI LEMAK
Yogie Andika Tri Nanda Prodi Farmasi
INTISARI
Petai (Parkia speciosa Hassk.) merupakan tanaman yang ditemukan berlimpah di Indonesia. Biji petai mengandung senyawa seperti asam oleat,
β-sitosterol dan flavonoid yang dipercaya dapat bermanfaat sebagai
antidislipidemia. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol biji petai terhadap kadar HDL dan LDL pada tikus Wistar jantan yang diinduksi pakan tinggi lemak. Hewan uji yang digunakan tikus sebanyak 24 ekor dan dibagi dalam 6 kelompok yaitu kelompok I (Na-CMC 0,5%), kelompok II (Na-CMC 0,5%), kelompok III (simvastatin 178,5 mg/200 gBB), kelompok IV (ekstrak etanol biji petai 100 mg/kgBB), kelompok V (ekstrak etanol biji petai 200 mg/kgBB), dan kelompok VI (ekstrak etanol biji petai 400 mg/kgBB). Induksi pakan tinggi lemak menggunakan campuran pakan standar BR-II (81,25%) + minyak babi (15%) + kuning telur puyuh (3,75%) diberikan sehari sekali kepada selain kelompok I. Induksi pakan tinggi lemak dan sediaan uji diberikan selama 45 hari. Pada hari ke-0 dan 46, dilakukan pengambilan sampel darah melalui vena orbitalis mata untuk pengukuran kadar HDL dan LDL. Analisis statistik menggunakan paired t-test dan One Way Anova dengan tingkat kepercayaan sebesar 95%. Hasil peningkatan kadar HDL tertinggi terdapat pada kelompok IV yang meningkat sebesar 8,95±7,94 mg/dL, namun tidak berbeda signifikan dibandingkan dengan kelompok II yang tidak diberikan ekstrak etanol biji petai (p=0,248). Hasil penurunan kadar LDL tertinggi terdapat pada kelompok VI yang menurun signifikan sebesar 20,25 ± 2,84 mg/dL, namun tidak berbeda signifikan dibandingkan dengan kelompok II (p=0,177). Pemberian ekstrak etanol biji petai selama 45 hari dapat meningkatkan kadar HDL dan menurunkan kadar LDL pada tikus Wistar jantan yang diinduksi pakan tinggi lemak.
xiv
EFFECT OF ETHANOLIC EXTRACT OF PETAI SEEDS (Parkia Speciosa Hassk.) ON HIGH DENSITY LIPOPROTEIN AND LOW DENSITY LIPOPROTEIN LEVEL IN MALE WISTAR RATS INDUCED BY
HIGH-FAT DIET
Yogie Andika Tri Nanda Departement Of Pharmacy
ABSTRACT
Petai (Parkia speciosa Hassk.) is a plant founded abundantly in Indonesia. Petai seeds contained compounds such as oleic acid, β-sitosterol, and flavonoids believed to be useful as anti-dyslipidemia. The aim of this study was to determine the effect of ethanolic extract of petai seeds on HDL and LDL levels in male Wistar rats induced by high-fat diet. The animals used were 24 rats and divided into 6 groups: group I (Na-CMC 0,5%), group II (Na-CMC 0,5%), group III (simvastatin 178,5 mg/200 gBW), group IV (ethanolic extract of petai seeds 100 mg/kgBW), group V (ethanolic extract of petai seeds 200 mg/kgBW), and group VI (ethanolic extract of petai seeds 400 mg/kgBW). Induction of high fat-diet used a mixture of standard feed BR-II (81.25%) + lard (15%) + quail egg yolk (3.75%) given once daily to except group I. Induction of high fat-diet and treatment were carried out for 45 days. On days 0 and 46, blood samples were collected through the eye orbital vein for measurement of HDL and LDL levels. Statistical analysis was performed using paired t-test and One Way Anova with 95% confidence level. The highest increased on HDL levels was in the group IV which increased by 8,95±7,94 mg/dL but not significantly different from group II which was not given the ethanolic extract of petai seeds (p=0.248). The highest decreased on LDL levels was in the group VI which decreased significantly 20,25 ± 2,84 mg/dL, but not significantly different compared to group II (p=0,177). Administration of ethanolic extract of petai seeds for 45 days can increased HDL and decreased LDL levels in male Wistar rats induced by high fat-diet.
1
1.1 Latar Belakang Masalah
Dislipidemia merupakan suatu gangguan metabolisme lipid pada tubuh seseorang yang ditandai dengan meningkatnya kadar kolesterol total, trigliserida, LDL dan menurunnya kadar HDL didalam serum (Kementerian Kesehatan RI, 2013). Menurut Riset kesehatan dasar tahun 2013, prevalensi pada penduduk berusia >15 tahun di Indonesia dengan kondisi HDL rendah sebesar 22,9%, LDL dengan kategori mendekati optimal-batas normal tertinggi sebesar 60,3% dan kategori tinggi-sangat tinggi sebesar 15,9% (Kementerian Kesehatan RI, 2013).
Seseorang yang memiliki abnormalitas kadar lipid akan berisiko memicu terjadinya penyakit kardiovaskular dan metabolik, seperti aterosklerosis, penyakit jantung koroner, stroke, sindrom metabolik dan sebagainya (Kementerian Kesehatan RI, 2013). Abnormalitas kadar lipid merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian penyakit kardiovaskular yang dapat menyebabkan kematian sebanyak 17,7 juta orang per tahun (Iskandar et al., 2017 ; WHO, 2017). Salah satu obat sintetik yang umum digunakan untuk penanganan dislipidemia adalah simvastatin.
Simvastatin telah terbukti memiliki keefektivitasan dalam memodifikasi kadar LDL, HDL, trigliserida serta total kolesterol di dalam darah (Kumar et al., 2014 ; Hsu et al., 1995), namun simvastatin memiliki kelemahan yaitu dapat menimbulkan efek samping seperti konstipasi, miopati, serta rabdomiolisis (Wells et al., 2015). Efek samping tersebut mendorong dilakukannya penemuan obat alternatif untuk penanganan dislipidemia, salah satunya bersumber dari tanaman obat yang dapat berperan sebagai terapi preventif dan kuratif (Setia and Ami, 2017). Salah satu penanganan penyakit dislipidemia yaitu dapat dimulai dari pencegahan (preventif). Tanaman obat terbukti memiliki efek samping yang lebih kecil dibandingkan dengan obat sintetik sehingga lebih aman untuk penggunaan jangka panjang (Katno, 2008). Diantara berbagai tanaman obat yang banyak ditemukan di Indonesia, petai merupakan salah satu tanaman pangan yang berpotensi sebagai obat namun masih sedikit diteliti.
Berdasarkan penelitian sebelumnya, aktivitas biji petai yang pernah diteliti membuktikan bahwa ekstrak etanol biji petai memiliki potensi aktivitas sebagai antianemia, antibakteri, antiinflamasi dan antipiretik. Aktivitas tersebut didukung oleh senyawa aktif yang terdapat di dalam biji petai seperti flavonoid (Nursucihta et al., 2014 ; Verawaty, 2016 ; Tanjaya et al., 2015). Selain flavonoid, biji petai juga mengandung senyawa seperti asam oleat dan β-sitosterol (Yunusa and Kadird, 2011 ; Zhari, 2007 ; Tanjaya et al., 2015). Senyawa tersebut dapat berperan sebagai antidislipidemia. Asam oleat merupakan asam lemak tak jenuh yang dapat menurunkan oksidasi LDL, sehingga dapat melindungi jantung dan sistem kardiovaskuler (Nugraheni, 2012 ; Djaelani, 2015). β-sitosterol memiliki fungsi sebagai antioksidan dan bertindak sebagai inhibitor kompetitif dalam penyerapan dan sintesis kolesterol di dalam tubuh (Nashriana et al., 2015). Flavonoid berfungsi sebagai antioksidan yang mampu memperbaiki profil lipid (Grassi et al., 2010).
Berdasarkan uraian diatas perlu dilakukan penelitian untuk membuktikan aktivitas biji petai sebagai terapi preventif dislipidemia. Parameter dislipidemia yang akan diamati yaitu kadar HDL dan LDL terhadap tikus Wistar jantan. Oleh karena itu penting untuk dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol biji petai (Parkia speciosa Hassk.) terhadap kadar HDL dan LDL pada tikus Wistar jantan yang diinduksi pakan tinggi lemak. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang aktivitas biji petai sehingga dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk pengobatan dislipidemia di masyarakat.
1.2 Perumusan Masalah
Bagaimana pengaruh pemberian ekstrak etanol biji petai (Parkia speciosa Hassk.) terhadap kadar HDL dan LDL pada tikus Wistar jantan yang diinduksi pakan tinggi lemak?
1.3 Tujuan Penelitian
Mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol biji petai (Parkia speciosa Hassk.) terhadap kadar HDL dan LDL pada tikus Wistar jantan yang diinduksi pakan tinggi lemak.
1.4 Manfaat Penelitian 1. Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang pemanfaatan tanaman obat khususnya biji petai (Parkia speciosa Hassk.) yang memiliki efek potensial untuk pengobatan dislipidemia. 2. Instansi
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan dan referensi untuk penelitian berikutnya.
3. Masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomis petai dan menjadi salah satu alternatif untuk pencegahan dislipidemia.
4
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Dislipidemia
Dislipidemia merupakan gangguan kadar lipid yang ditandai dengan terjadinya peningkatan kadar total kolesterol, LDL (low density lipoprotein) dan trigliserida, serta terjadi penurunan kadar HDL (high density lipoprotein) di dalam darah (Musunuru, 2010). Kelainan patologis pada dislipidemia disebabkan oleh adanya permasalahan dalam transportasi dan proses pengelolaan lipid yang terdiri atas kolesterol, triasilgliserol, fosfolipid dan asam lemak bebas (Purnomo, 2008). Seseorang dapat dikatakan dalam keadaan dislipidemia apabila konsentrasi kolesterol total ≥ 240 mg/dL, LDL ≥ 160 mg/dL, HDL < 40 mg/dL dan trigliserida ≥ 200 mg/dL (Adult Treatment Panel III, 2001). Rentang kadar normal dan dislipidemia tikus dapat dilihat pada tabel 2.1
Tabel 2.1 Rentang Kadar Normal dan Dislipidemia Tikus (Harini and Astirin, 2009 ; Schaefer and McNamara, 1997; Herwiyarirasanta and Eduardus, 2010;
Gani et al., 2013). Kadar (mg/dL) HDL LDL Total Kolesterol Trigliserida Normal ≥ 35 7-27,2 10-54 26-145 Dislipidemia < 35 > 27,2 > 54 > 145
Kolesterol merupakan suatu prekusor senyawa steroid yang ada di dalam tubuh seperti kortikosteroid, hormon seks, asam empedu, dan vitamin D. Kolesterol LDL memiliki fungsi untuk mengangkut kolesterol menuju ke sel perifer di seluruh tubuh. Kolesterol HDL memiliki fungsi untuk mengangkut timbunan kolesterol dari jaringan untuk dibawa kembali ke hati untuk didaur ulang (Montgomery et al., 1983).
Berlebihnya kadar kolesterol LDL dan rendahnya kadar kolesterol HDL di dalam tubuh dapat menyebabkan meningkatnya potensi terjadinya aterosklerosis dan penyakit kardiovaskuler. Hal ini dapat terjadi dikarenakan kolesterol LDL
mudah teroksidasi sehingga dapat memicu terjadinya aterosklerosis (Krummel, 2008). Berdasarkan penelitian Grundy, resiko penurunan penyakit jantung koroner akan menurun sebesar 30 % setiap terjadi penurunan LDL sebesar 30 mg/dL (Grundy, 2004).
2.1.2 Lemak
Lemak atau lipid adalah suatu senyawa yang berfungsi sebagai sumber energi untuk proses metabolisme tubuh. Lemak yang ada di dalam tubuh dapat bersumber dari makanan (eksogen) dan juga hasil produksi organ hati (endogen) (Guyton and Hall, 2006). Lemak yang terdapat dalam makanan tersebut nantinya akan diuraikan menjadi kolesterol, trigliserida, fosfolipid dan juga asam lemak bebas. Senyawa tersebut akan diserap dan diangkut ke peredaran darah. Lemak atau lipid merupakan senyawa yang tidak larut dalam air, berarti lemak juga tidak larut dalam plasma darah sehingga lemak perlu dibuat dalam bentuk terlarut. Zat pelarut yang dapat melarutkan lemak merupakan suatu protein yang dikenal dengan nama apolipoprotein atau apoprotein (Adam, 2009). Oleh karena itu, untuk mengangkut lemak ke dalam sirkulasi darah maka susunan molekulnya perlu dimodifikasi yaitu dengan cara berikatan dengan protein spesifik untuk membentuk suatu kompleks yang larut dalam air yang disebut lipoprotein (Suyatna, 2007).
Lipoprotein adalah suatu gabungan molekul lipid yang mengandung kolesterol, trigliserida, fosfolipid, yang berikatan dengan protein. Sintesis lipoprotein terjadi di hati. Tiap jenis lipoprotein dibedakan berdasarkan ukuran, densitas, dan jenis lipid yang diangkut (Almatsier, 2009). Lipoprotein memiliki fungsi untuk mengangkut lemak di dalam darah dari tempat pembentukannya menuju tempat penggunaannya. Lipoprotein terdiri dari 4 kelas utama, yaitu (Brunton et al., 2008):
a. Kilomikron
Kilomikron merupakan partikel dengan densitas terbesar dan paling ringan dari lipoprotein plasma. Kilomikron disintesis dari asam lemak dari diet trigliserida dan kolesterol yang diabsorpsi dari usus halus oleh sel epitel. Fungsi kilomikron yaitu untuk mengangkut lemak dari makanan yang diabsorpsi di usus lalu masuk ke sirkulasi darah. Lemak yang
diangkut oleh kilomikron menuju ke sirkulasi darah lebih banyak mengandung trigliserida yakni sebesar 80-95 %. Kilomikron di dalam darah dapat dikurangi hanya dengan mengurangi konsumsi lemak. Pada tubuh yang normal, kilomikron terdapat di plasma selama 3-6 jam setelah mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak dan tidak ada yang tertinggal di plasma setelah 10-12 jam. Kilomikron kemudian dikonversi menjadi kilomikron sisa dengan cara menghidrolisis trigliserida pada kilomikron oleh Lipoprotein Lipase (LPL). Asam lemak bebas yang dilepaskan oleh LPL digunakan sebagai energi oleh jaringan otot dan juga sebagian disimpan di jaringan adipose. Selama hidrolisis awal trigliserida dari kilomikron oleh LPL, terjadi pelepasan apoA-I dan fosfolipid dari permukaan kilomikron sehingga tetap berada di plasma. Hal ini merupakan salah satu mekanisme pembentukan HDL (prekursor) dihasilkan. kilomikron sisa bukan merupakan prekursor LDL, namun diet kolesterol akan dikirim ke hati oleh kilomikron sisa sehingga akan meningkatkan kadar LDL di plasma dengan cara mengurangi katabolisme LDL yang dimediasi reseptor LDL oleh hati
b. Very low density lipoprotein (VLDL).
Very low density lipoprotein (VLDL) merupakan lipoprotein dengan densitas yang sangat rendah. VLDL berisi trigliserida yang berasal dari usus dan hati. VLDL lebih banyak mengangkut trigliserida dari makanan yang diabsorpsi di usus yakni sebesar 55-80 % lalu masuk ke sirkulasi darah dan membawanya ke jaringan perifer (jaringan adipose). VLDL diproduksi di hati ketika produksi trigliserida yang distimulasi oleh peningkatan fluks asam lemak bebas atau melalui peningkatan plasma hati. c. Low density lipoprotein (LDL).
Low density lipoprotein (LDL) merupakan lipoprotein dengan densitas rendah yang berisi kolesterol. Fungsi LDL yaitu untuk membawa kolesterol ester menuju ke sel-sel perifer yang berguna untuk pembentukan membran. Kadar LDL dipengaruhi oleh makanan yang mengandung lemak jenuh. Apabila makanan mengandung lemak jenuh, maka akan terjadi peningkatan kadar LDL karena pembentukannya akan
meningkat dan katabolismenya menjadi berkurang. Kadar LDL yang meningkat melebihi batas ambang normal akan berpotensi menyebabkan hiperkolesterolemia dan berpotensi menyebabkan terjadinya penebalan dinding pembuluh darah.
d. High density lipoprotein (HDL)
High density lipoprotein (HDL) merupakan suatu lipoprotein dengan densitas yang tinggi. Fungsinya untuk membawa kolesterol dari jaringan perifer menuju ke hati. HDL merupakan jenis kolesterol yang bersifat baik, karena HDL dapat mengangkut LDL dari pembuluh darah kembali ke hati sehingga mencegah terjadinya penebalan dinding pembuluh darah sehingga dapat mencegah terjadinya proses aterosklerosis. Semakin rendah kadar HDL kolesterol, maka akan semakin besar kemungkinan terjadinya penyakit jantung koroner.
Metabolisme lipoprotein dapat dibagi menjadi tiga jalur yaitu jalur metabolisme eksogen, jalur metabolisme endogen dan jalur balik kolesterol (Reverse Cholesterol Transport).
1. Jalur Metabolisme Eksogen
Gambar 2.1 Metabolisme Lipoprotein Eksogen dan Endogen (Kasper et al., 2015)
Keterangan : Apo C : Apolipoprotein C Apo E : Apolipoprotein E Apo B-48 : Apolipoprotein B48 Apo B-100 : Apolipoprotein B100 LDL R : Reseptor LDL LPL : Lipoprotein Lipase FFA : Asam Lemak Bebas
VLDL : Very Low Density Lipoprotein IDL : Intermediate Density Lipoprotein LDL : Low Density Lipoprotein
Pada jalur ini lemak dapat diperoleh dari makanan yang dicerna di usus halus dan juga kolesterol yang diekskresikan dari hati bersama asam empedu ke usus halus. Makanan berlemak mengandung senyawa trigliserida & kolesterol yang akan diserap ke dalam enterosit mukosa usus halus. Di dalam proses pencernaan, trigliserida akan terurai menjadi monogliserida dan asam lemak bebas. Namun nantinya, monogliserida dan asam lemak bebas tersebut akan disintesis kembali menjadi trigliserida, sedangkan kolesterol mengalami esterifikasi menjadi kolestrol ester. Untuk mengangkut senyawa tersebut ke dalam sirkulasi darah maka senyawa tersebut akan membentuk suatu kompleks bersama fosfolipid dan apolipoprotein yang disebut lipoprotein kilomikron. Kilomikron ini akan membawanya masuk ke dalam peredaran darah melalui duktus torasikus (Adam, 2009).
Sebagian trigliserida yang ada di kilomikron akan diuraikan oleh enzim Lipoprotein Lipase (LPL) menjadi asam lemak bebas dan gliserol. Asam lemak bebas ini dapat digunakan sebagai energi dan juga dapat diubah kembali menjadi trigliserida untuk disimpan di jaringan adiposa. Sisa trigliserida yang tidak terurai menjadi kilomikron sisa yang sebagian besar terdiri dari kolesterol dan protein yang akan dibawa ke hati dengan cara berikatan dengan reseptor LDL hati. Di hati kilomikron sisa akan dimetabolisme menjadi kolesterol bebas. Sebagian kolesterol tersebut akan dikeluarkan melalui saluran empedu dan sebagian lagi diubah menjadi asam empedu. Selain itu, kolesterol juga akan didistribusikan oleh hati ke jaringan tubuh lainnya melalui jalur endogen. Sisa kilomikron yang lemaknya telah diambil akan dikeluarkan ke aliran darah (Adam, 2009).
2. Jalur Metabolisme Endogen
Pada jalur ini lemak diperoleh dari sintesis yang dilakukan oleh hati. Hati memiliki kemampuan untuk mensintesis trigliserida dan kolesterol yang kemudian akan diangkut ke dalam peredaran darah dalam bentuk lipoprotein Very Low Density Lipoprotein (VLDL). VLDL tersusun dari trigliserida dan apolipoprotein B100. Pada saat VLDL berada di dalam peredaran darah, sebagian trigliserida yang terdapat di dalam VLDL mengalami penguraian oleh enzim Lipoprotein Lipase (LPL) menjadi asam lemak bebas dan gliserol. Asam lemak bebas ini dapat digunakan sebagai energi dan juga dapat diubah kembali menjadi trigliserida untuk disimpan di jaringan adiposa. Sedangkan sisa VLDL yang tidak terurai menjadi Intermediate Density Lipoprotein (IDL). Kemudian sebagian partikel IDL akan kembali ke hati dan sebagian lagi akan dihidrolisis menjadi LDL. Sebagian dari LDL tersebut akan diambil oleh reseptor LDL hati untuk dikatabolisme dan sebagian lagi masuk ke jaringan perifer yang kemudian dapat mengalami oksidasi dan dapat ditangkap oleh reseptor scavenger-A (SR-A) makrofag menjadi sel busa yang dapat menyebabkan plak aterosklerosis (Adam, 2009).
3. Jalur Balik Kolesterol (Reverse Cholesterol Transport)
Gambar 2.2 Metabolisme Lipoprotein Reverse Cholesterol Transport (Kasper et al., 2015)
Keterangan :
Apo A-1 : Apolipoprotein A1
VLDL : Very Low Density Lipoprotein IDL : Intermediate Density Lipoprotein LDL : Low Density Lipoprotein HDL : High Density Lipoprotein
CETP : Cholesterol Ester Transfer Lipoprotein LCAT : Lecithin Cholesterol Asil Transferase SR-B1 : Reseptor Scavenger B1
Jalur balik kolesterol merupakan sebuah proses untuk mengangkut kolesterol yang ada di sel perifer menuju ke hati dan usus. Jalur ini difasilitasi oleh HDL. Partikel HDL nascent disintesis dari usus halus dan hati. HDL nascent mempunyai bentuk gepeng yang mengandung apoA-1. HDL nascent akan mendekati makrofag untuk mengambil kolesterol yang terdapat di makrofag. Proses ini dapat berjalan apabila kolesterol bebas yang terdapat di bagian dalam dari makrofag dibawa ke permukaan membran oleh suatu transporter ATP-Binding Cassette transporter-1 (ABC-1). Setelah HDL mengambil kolesterol bebas dari makrofag, kolesterol bebas yang terdapat pada HDL akan diesterifikasi oleh Lecithin Cholesterol Asil Transferase (LCAT) menjadi kolesterol ester. Saat HDL memperoleh lebih banyak kolesterol ester, HDL nascent berubah menjadi HDL dewasa yang berbentuk bulat dan terjadi penambahan apolipoprotein dan lipid yang berasal dari permukaan kilomikron dan VLDL selama lipolisis.
Selanjutnya HDL akan membawa kolesterol ke hati dapat melewati jalur langsung dan tidak langsung. Kolesterol HDL dapat diambil secara langsung oleh hati melalui reseptor scavenger class B1 (SR-B1) yang merupakan reseptor yang terdapat di permukaan sel yang memperantarai perpindahan selektif lipid ke dalam sel hati. Kolesterol ester dalam HDL ditransfer ke lipoprotein yang mengandung apoB (VLDL) sebagai pertukaran dengan trigliserida oleh Protein Transfer Ester Cholesteryl (CETP). VLDL tersebut akan diurai menjadi IDL dan akan dihidrolisis menjadi LDL. Kemudian LDL akan diambil oleh reseptor LDL hati untuk dikatabolisme (Adam, 2009).
2.1.3 Obat - Obat Antidislipidemia
Obat-obat antidislipidemia secara umum dapat digolongkan menjadi lima yaitu golongan inhibitor HMG Koa reduktase, golongan resin penukar anion, golongan asam nikotinat, golongan fibrat, dan golongan inhibitor pada absorpsi kolesterol usus (Neal, 2006).
2.1.3.1 Golongan Inhibitor HMG Koa Reduktase
Contoh obat dari golongan ini yaitu simvastatin, atorvastatin, lovastatin, fluvastatin, pravastatin dan rosuvastatin. Struktur dari obat tersebut dapat dilihat di gambar 2.3. Inhibitor HMG KoA reduktase / statin adalah golongan obat yang bekerja dengan cara menghambat enzim HMG KoA reduktase (Adam, 2009). HMG KoA reduktase (3-hydroxy-3-methyglutaryl Koenzyme A) merupakan sebuah enzim yang mengkatalis fase awal proses sintesis kolesterol (Brunton et al., 2008). Mekanisme kerja obat ini yaitu dengan cara menghambat enzim HMG KoA reduktase yang berfungsi mengkonversi HMG KoA menjadi asam mevalonat, apabila enzim tersebut dihambat maka asam mevalonat tidak akan terbentuk. Golongan ini merupakan agen penurun lipid yang paling efektif dan paling toleran dalam menurunkan kolesterol total dan LDL sebesar 30 % (Wells et al., 2015). Obat golongan ini memberikan efek dalam penurunan kadar LDL melalui struktur yang menyerupai struktur HMG KoA yang menghambat HMG KoA reduktase secara kompetitif. Melalui pengurangan pembentukan mevalonat, berarti obat mampu menghambat pembentukan kolesterol di hati. Akibat penurunan kadar kolesterol bebas di hati, maka sintesis reseptor LDL meningkat. Jumlah reseptor LDL yang meningkat di permukaan hati menyebabkan peningkatan pengambilan LDL di plasma sehingga kadar LDL di plasma berkurang. Selain itu obat golongan ini juga mengurangi kadar LDL dengan cara meningkatkan pengembalian prekursor LDL (VLDL dan IDL) dan juga melalui penurunan produksi VLDL (Brunton et al., 2008). Inhibitor HMG KoA reduktase mampu memblok sintesis kolesterol dalam hati. Golongan obat ini sangat efektif dalam menurunkan kadar kolesterol total dan LDL dengan cara meningkatkan jumlah reseptor LDL (Neal, 2006). Efek samping yang sering terjadi akibat penggunaan obat golongan ini seperti miositosis yang ditandai dengan nyeri otot dan peningkatan kadar kreatin kinase, gangguan fungsi hati dan yang paling berbahaya yaitu rhabdomyolisis (Adam, 2009).
Simvastatin Atorvastatin Lovastatin
Fluvastatin Pravastatin Rosuvastatin
Gambar 2.3 Struktur Obat Simvastatin, Atorvastatin, Lovastatin, Fluvastatin, Pravastatin dan Rosuvastatin (Martindale, 2009)
a) Simvastatin
Simvastatin dengan rumus molekul C25H38O5 memiliki berat molekul 418,6 g/mol, titik lebur 1350C - 1380C dengan pemerian berupa serbuk kristal putih, tidak larut dalam air, dalam n-heksana, dan asam klorida tetapi larut dalam kloroform, dimetil sulfoksida, metanol, etanol, polietilen glikol, NaOH, dan propilen glikol (Moffat et al., 2011).
b) Mekanisme Kerja
Simvastatin memiliki struktur yang mirip dengan HMG KoA reduktase. Simvastatin memiliki mekanisme kerja dengan cara menghambat HMG KoA reduktase secara kompetitif pada proses sintesis kolesterol di hati yaitu dengan menghambat proses perubahan asetil KoA menjadi asam mevalonat (Wells et al., 2015). Bentuk kompleks antara HMG KoA reduktase dengan simvastatin akan menghalangi terbentuknya kompleks antara substrat dengan enzim. Ikatan yang terjadi antara obat Simvastatin dengan enzim HMG KoA reduktase adalah ikatan van der
Waals yang bersifat ikatan kuat (Manzoni and Rollini, 2002). Simvastatin merupakan suatu prodrug dalam bentuk lakton yang harus dimetabolisme terlebih dahulu untuk menjadi senyawa aktifnya yaitu asam β-hidroksi di hati, hasil hidrolisis tersebut lebih dari 95% akan berikatan dengan protein plasma. Dosis awal pemberian obat simvastatin yaitu sebesar 5-10 mg/hari, dengan dosis maksimal 80 mg/hari (Brunton et al., 2008). Pemberian obat disarankan dilakukan pada malam hari karena simvastatin memiliki durasi waktu yang pendek yaitu 2 jam dan juga karena pada malam hari kerja hati maksimal memproduksi kolesterol (Wierzbicki et al., 1999).
Gambar 2.4 Mekanisme Kerja Obat Golongan Statin dalam Menghambat Biosintesis Kolesterol (Manzoni and Rollini, 2002)
c) Efek Samping
Efek samping yang sering muncul akibat dari pemakaian simvastatin salah satunya adalah miopati. Miopati ringan menunjukkan gangguan otot, nyeri otot, kelemahan otot dan kram otot yang dapat terjadi sewaktu-waktu dalam penggunaan obat, tetapi biasanya terjadi dalam 4-6 minggu setelah penggunaan obat simvastatin. Namun akibat penggunaan simvastatin juga dapat menyebabkan miopati parah dan juga rhabdomiolisis. Insiden terjadinya miopati dilaporkan cukup rendah (0,11%), sedangkan insiden terjadinya rhabdomiolisis (<0,5%). Rhabdomiolisis merupakan efek samping yang paling berbahaya dari
simvastatin karena dapat menyebabkan kegagalan multi organ bahkan kematian (Maghsoodi and Wierzbicki, 2016). Golongan statin dikontraindikasikan selama kehamilan karena kolesterol merupakan suatu komponen yang penting untuk perkembangan normal fetus (Neal, 2006).
2.1.3.2 Golongan Resin Penukar Anion
Contoh obat dari golongan ini yaitu kolestiramin, kolestipol, dan kolesevelam. Struktur dari obat tersebut dapat dilihat di gambar 2.5. Dosis obat untuk kolestiramin yaitu 8-16 g/hari, kolestipol 10-20 g/hari dan kolesevelam 6,5 gram/hari. Obat golongan ini dapat menurunkan kadar LDL sebesar 15-30 %. Obat golongan ini tidak diserap di usus dan digunakan untuk pasien dengan hiperkolesterolemia saja (Adam, 2009). Mekanisme kerja obat golongan ini yaitu sekuen asam empedu yang bermuatan positif akan mengikat asam empedu yang bermuatan negatif di usus halus dan mengeluarkannya bersama dengan tinja. Peningkatan ekskresi asam empedu menyebabkan meningkatnya produksi asam empedu yang berasal dari kolesterol hati. Penurunan kolesterol hati menyebabkan peningkatan aktivitas HMG Koa reduktase dan jumlah reseptor LDL di hati sehingga menurunkan kolesterol LDL di plasma (Neal, 2006). Efek samping yang dapat muncul akibat pemakaian obat golongan ini seperti konstipasi, diare, perut kembung, mual, hypernatremia, hiperkloremia dan gangguan penyerapan vitamin A, D, E dan K (Wells et al., 2015).
Kolesevelam
Gambar 2.5 Struktur Obat Kolestiramin, Kolestipol dan Kolesevelam (Martindale, 2009)
2.1.3.3 Asam Nikotinat / Niacin
Asam nikotinat (gambar 2.6) merupakan obat penurun lipid yang pertama kali ditemukan, namun obat ini memilik efek samping yang banyak sehingga saat ini obat ini hampir tidak digunakan lagi (Neal, 2006). Niacin dengan dosis 2-6 g/hari memiliki efek maksimal dalam 4-7 hari yang dapat mengurangi kadar trigliserida sebesar 35-50 %, sedangkan niacin dengan dosis 4,5-6 g/hari memiliki efek maksimal dalam 3-6 minggu dapat mengurangi kadar LDL sebesar 25 %. Obat ini juga dapat meningkatkan kadar HDL sebesar 30-40 %. Mekanisme kerja obat ini yaitu dengan cara menghambat proses lipolisis trigliserida melalui penghambatan enzim hormone sensitive lipase di jaringan adiposa. Penghambatan tersebut menyebabkan pengangkutan asam lemak bebas ke hati dan pembentukan trigliserida di hati berkurang. Penurunan sintesis trigliserida menyebabkan pengurangan sintesis VLDL di hati dan LDL di plasma. Efek dari obat ini juga meningkatan aktivitas LPL, mempromosikan pembersihan kilomikron dan VLDL trigliserida (Brunton et al., 2008). Efek samping yang sering terjadi akibat pemakaian obat ini yaitu perasaan panas yang terjadi pada muka bahkan badan. Namun, dengan ditemukannya asam nikotinat lepas lambat (Niaspan), penyerapannya di usus akan diperlambat sehingga efek sampingnya pun berkurang (Adam, 2009). Selain itu, obat niacin juga dapat menyebabkan
tes fungsi hati meningkat, hiperuricemia dan hiperglikemia. Penggunaan niacin dikontraindikasikan pada pasien dengan penyakit hati aktif (Wells et al., 2015).
Asam nikotinat
Gambar 2.6 Struktur Obat Asam Nikotinat (Martindale, 2009)
2.1.3.4 Golongan Asam Fibrat
Contoh obat dari golongan ini yaitu gemfibrozil, bezafibrat, ciprofibrat dan fenofibrat. Namun yang banyak digunakan di Indonesia yaitu gemfibrozil dan fenofibrat. Struktur dari obat tersebut dapat dilihat di gambar 2.7. Obat golongan ini dapat menurunkan sintesis trigliserida di hati dan juga meningkatkan HDL yang diduga melalui peningkatan apoprotein A-I dan A-II (Adam, 2009). Obat golongan ini dapat menurunkan LDL sebesar 10 %, meningkatkan HDL sebesar 10 % dan juga dapat menurunkan trigliserida di plasma sebesar 30 %. Fibrat bekerja sebagai ligan untuk reseptor transkripsi nukleus, reseptor alfa peroksisom yang diaktivasi proliferator (PPAR-α, peroksisome proliferator-activated receptor alpha) dan menstimulasi aktivitas LPL (Neal, 2006). Kebanyakan efek dari golongan ini diperantarai oleh interaksinya dengan PPARs yang mengatur transkripsi gen. Obat berikatan dengan PPAR-α yang diekspresikan terutama di hati dan jaringan adiposa. Fibrat dapat mengurangi kadar trigliserida melalui stimulasi proses oksidasi asam lemak yang diperantarai PPAR-α, peningkatan sintesis LPL dan mengurangi ekspresi apoC-III (Brunton et al., 2008). Efek samping yang dapat terjadi akibat pemakaian obat golongan ini seperti keluhan gastrointestinal, ruam, pusing, peningkatan level keratin kinase dan transaminase, myalgia, lemah, kekakuan. Penggunaan gemfibrozil dan
fenofibrat dapat meningkatkan pembentukan batu empedu, namun hal tersebut jarang terjadi (Wells et al., 2015).
Gemfibrozil Bezafibrat
Ciprofibrat Fenofibrat
Gambar 2.7 Struktur Obat Gemfibrozil, Bezafibrat, Ciprofibrat dan Fenofibrat (Martindale, 2009)
2.1.3.5 Golongan Ezetemibe
Mekanisme kerja dari golongan ini yaitu dengan cara menghambat kolesterol secara selektif baik yang berasal dari makanan maupun dari asam empedu di usus halus (Adam, 2009). Contoh obat golongan ini yaitu ezetemibe (gambar 2.8). Dosis ezetemibe yaitu 10 mg/hari. Obat ini dapat menurunkan LDL sebesar 10 % dan 12-20 % ketika dikombinasikan dengan obat dari golongan statin. Obat ini dapat digunakan sebagai terapi tunggal dan dikombinasikan dengan obat dari golongan statin. Vytorin merupakan obat kombinasi yang didalamnya mengandung ezetemibe 10 mg dan simvastatin 10, 20, 40, atau 80 mg yang tersedia (Wells et al., 2015). Pada dosis simvastatin tertinggi yaitu 80 mg, ditambah ezetimibe 10 mg terjadi penurunan kadar LDL sebesar 60 %. Hal tersebut melebihi persentase yang dicapai pada penggunaan terapi tunggal obat golongan statin. Ezetemibe dapat mengurangi penyerapan kolesterol hingga 54 %, sebagai kompensasi hal tersebut mengakibatkan peningkatan sintesis
kolesterol di hati. Namun sintesis kolesterol di hati dapat dihambat oleh penggunaan obat golongan statin. Akibat dari penghambatan penyerapan kolesterol di usus, menyebabkan pengurangan penggabungan kolesterol menjadi kilomikron. Pengurangan kandungan kolesterol di kilomikron menyebabkan penghantaran kolesterol ke hati melalui kilomikron sisa berkurang. Pengurangan pengantaran kolesterol ke hati akan menstimulasi ekspresi gen hati yang mengatur ekspresi reseptor LDL dan biosintesis kolesterol. Ekspresi pada reseptor LDL hati meningkatkan pembersihan LDL di plasma. Efek samping yang kemungkinan dapat terjadi seperti miopati, namun secara umum dikaitkan akibat penggunaan obat kombinasi dengan obat dari golongan statin tetapi juga dapat terjadi akibat penggunaan terapi tunggal (Brunton et al., 2008).
Ezetemibe
Gambar 2.8 Struktur Obat Ezetemibe (Martindale, 2009)
2.1.4 Petai (Parkia speciosa Hassk.)
2.1.4.1 Deskripsi
Petai merupakan tanaman yang ditemukan berlimpah di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Tanaman dengan nama lokal pete, petai papan, peuteuy; gede, pete, segobang, petai pare (Jawa) biasa digunakan oleh masyarakat sebagai salah satu bahan pangan. Petai dikenal dengan baunya yang menyengat, namun tidak mengurangi penikmat untuk mengkonsumsinya. Tanaman ini dikenal dengan kandungan nutrisinya yang tinggi (Orwa et al., 2009). Petai memiliki khasiat sebagai obat cacing kremi, peluruh air seni, dan kencing manis (Anonim, 2001). Biji petai (Parkia speciosa Hassk.) memiliki kandungan protein, lemak, karbohidrat,
mineral dan vitamin (Kamisah et al., 2013). Selain itu, di dalam tanaman ini juga terkandung asam oleat dan β-sitosterol (Yunusa and Kadird, 2011)
Tanaman petai ini berbentuk pohon dengan tingginya mencapai 15-40 meter dengan diameter 50-100 cm, memiliki cabang yang banyak, kulit batang berwarna coklat kemerah-merahan, daunnya menyirip ganda, bunganya berwarna hijau ketika masih muda, keras dan berbentuk bongkol. Buah petai bentuknya berpolong-polong dan setiap polong berisi 10-18 biji besar yang lunak ketika masih muda dan mengeras setelah menjadi tua. Tanaman petai ini tumbuh baik di daerah dataran rendah dengan ketinggian 0-1000 (1.400) m dengan lingkungan yang terbuka atau tidak terlindungi oleh pepohonan lain, karena petai sangat membutuhkan sinar matahari (Orwa et al., 2009).
Gambar 2.9 Biji Petai (Parkia speciosa Hassk.) (Dokumentasi pribadi)
2.1.4.2 Klasifikasi Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Sub kelas : Rosidae Ordo : Fabales Familia : Fabaceae Genus : Parkia
2.1.4.3 Penelitian Tentang Biji Petai
Tanaman petai terdapat berbagai kandungan yang diduga memiliki khasiat dan manfaat dalam dunia kesehatan. Kandungan tersebut dapat terletak hampir di seluruh bagian tanamannya, salah satunya terdapat pada biji petai. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Verawaty mengemukakan bahwa ekstrak etanol biji petai dengan konsentrasi 5, 10 dan 20 % memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap Escherichia coli berdasarkan kemampuan daya hambat pertumbuhan bakteri. Daerah zona hambat yang dihasilkan dari ekstrak etanol biji petai dengan konsentrasi 5, 10, dan 20 % berturut turut yaitu sebesar 0,74 cm, 0,94 cm dan 1,3 cm. Berdasarkan hasil tersebut, semakin besar konsentrasi ekstrak etanol biji petai maka daya hambatnya juga akan semakin besar (Verawaty, 2016). Pada penelitian lainnya, ekstrak biji petai dengan konsentrasi 0; 6,25; 12,5; 25; 50; dan 100 % memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap Shigella dysentriae berdasarkan luas zona hambat bakteri Shigella dysentriae dengan konsentrasi 100 % sebagai konsentrasi yang paling efektif dengan zona hambat yang dihasilkan sebesar 16,79 mm (Triastuti, 2014)
Penelitian lain menyatakan bahwa ekstrak etanol biji petai dosis 400 mg/kgBB memiliki aktivitas sebagai antianemia. Ekstrak etanol biji petai dosis 400 mg/kgBB selama 14 hari mampu meningkatkan kadar hemoglobin tikus putih jantan galur Wistar sebesar 0,94±0,646 g/dl yang berbeda signifikan dibandingkan kontrol normal (p > 0,05) (Nursucihta et al., 2014). Pada penelitian lain, ekstrak etanol biji petai dosis 100 mg/kgBB memiliki aktivitas yang optimum sebagai antiinflamasi dan antipiretik yang dilihat berdasarkan persen daya hambat radang dan juga penurunan suhu demam pada tikus putih jantan galur Wistar (Tanjaya et al., 2015).
Pada penelitian Chee dan Hamdan, ekstrak air biji petai dosis 400 mg/kgBB mampu berperan sebagai antihipoglikemia pada tikus Sprague Dawley jantan. Pada penelitian tersebut menunjukkan bahwa ekstrak biji petai dosis 400 mg/kgBB mampu menurunkan kadar glukosa secara signifikan (Jin and Noor, 2008). Pada penelitian Mustaqim dan Halijah,
ekstrak etanol biji petai dosis 200 dan 400 mg/kg memiliki potensi aktivitas sebagai antistress berdasarkan waktu imobilitas berdasarkan uji forced swim dan tail suspension pada mencit Swiss Albino jantan. Hasil yang diperoleh pada forced swim test menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji petai 200 dan 400 mg/kg memberikan efek yang signifikan (67.33 ± 1.687) dan (59.50 ± 3.030) dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05). Pada
suspension test menunjukkan hasil yang serupa dengan forced swim test
dimana ekstrak etanol biji petai 200 dan 400 mg/kg memberikan efek yang signifikan dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05) (Shuib and Hassan, 2014)
2.1.5 Ekstraksi
Ekstraksi adalah penarikan senyawa pokok yang diinginkan dari bahan mentah menggunakan pelarut yang cocok dengan tujuan melarutkan senyawa yang diinginkan dalam pelarut tersebut. Pelarut dipilih berdasarkan kemampuan mengikat senyawa aktif yang diinginkan dalam jumlah maksimal dan senyawa yang tidak diinginkan dalam jumlah minimal (Harmanto, 2005).
Maserasi adalah proses penarikan senyawa yang ada di simplisia dengan menggunakan pelarut yang sesuai dengan beberapa kali pengocokan pada temperatur ruangan. Tujuan dari maserasi yaitu untuk menarik zat yang berkhasiat yang ada di simplisia baik yang tahan ataupun tidak tahan pemanasan (Departemen Kesehatan RI, 2000). Keuntungan dari maserasi yaitu peralatan yang digunakan sederhana, prosedur yang mudah untuk dilakukan, tidak menggunakan pemanasan sehingga zat aktif di dalam simplisia tidak terurai (Nurhasnawati et al., 2017). Adapun kerugian dari maserasi yaitu hasil penyarian yang kurang sempurna dan membutuhkan proses pengerjaan yang lama (Departemen Kesehatan RI, 2000).
2.2 Landasan Teori
Dislipidemia merupakan suatu kondisi dimana kolesterol dalam darah meningkat melebihi ambang normal yang ditandai dengan meningkatnya kadar kolesterol total, trigliserida, dan LDL serta menurunnya kadar HDL di dalam darah. Di dalam biji petai (Parkia speciosa Hassk.) terdapat beberapa kandungan senyawa kimia, diantaranya asam oleat yang merupakan asam lemak tak jenuh
yang dapat menurunkan oksidasi LDL, β-sitosterol yang dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah, dan flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan. Oleh karena itu, dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol biji petai (Parkia speciosa Hassk.) terhadap kadar HDL dan LDL pada tikus Wistar jantan yang diinduksi pakan tinggi lemak.
2.3 Hipotesis
Ekstrak etanol biji petai (Parkia speciosa Hassk.) memiliki potensi aktivitas sebagai antidislipidemia berdasarkan parameter HDL dan LDL pada tikus Wistar jantan yang diinduksi pakan tinggi lemak.
2.4 Kerangka Konsep
Gambar 2.10 Kerangka Konsep Penelitian Variable Pengganggu Terkontrol
Galur, jenis kelamin, berat tikus, minuman, kondisi kandang, pakan dan
tempat pembiakan Variabel Bebas
Variasi dosis ekstrak petai
Variabel Terikat
23
3.1 Bahan dan Alat
3.1.1 Bahan
Bahan – bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah biji petai (Parkia speciosa Hassk.), akuades, etanol 70 %, etil asetat, HCl pekat, kertas saring, ketamine, mikrotube, Na-CMC, pakan BR-II, pipa kapiler, plate silika gel 60 F254, serbuk Mg, simvastatin dari PT. Kimia Farma, spuit injeksi, toluena, vacutainer EDTA, xylazine, minyak babi dan kuning telur puyuh.
3.1.2 Alat
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah alat-alat gelas, alat miller, cabinet dryer, desicator, kandang tikus, homogenizer, microtube, rotary evaporator, sentifugator, spuit oral, timbangan analitik, timbangan hewan, pompa vakum, vortex dan waterbath.
3.1.3 Subjek Uji
Subjek uji yang digunakan pada penelitian ini adalah tikus yang berasal dari Laboratorium Hewan Fakultas Farmasi UGM Yogyakarta. Adapun kriteria inklusi pada penelitian ini antara lain tikus galur Wistar, jantan, umur 2-3 bulan, berat badan 150-250 gram, sehat. Sedangkan kriteria eksklusi antara lain tikus yang mati sebelum dan selama mendapatkan perlakuan sesuai protokol.
3.2 Cara Penelitian 3.2.1 Skema Alur Penelitian
Gambar 3.1 Skema Alur Penelitian Pengajuan Ethical Clearance
Pengumpulan tanaman
Perlakuan paska panen
Pembuatan ekstraksi
Pengujian identifikasi senyawa
Uji aktivitas antidislipidemia
Analisis hasil Aklimatisasi selama 14 hari
Penentuan kriteria Inklusi dan Eksklusi
Kadar HDL Kadar LDL
Determinasi tanaman petai
Kriteria inklusi: Wistar, jantan, umur 2-3 bulan, berat badan 150-250 gram, sehat. Kriteria eksklusi:
3.2.2 Pengajuan Ethical Clearance
Pengajuan surat permohonan kepada komite Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia dengan menerapkan prinsip 3R dan 5F dalam protokol penelitian menggunakan tikus supaya terjamin kesejahteraannya. Prinsip 3R yaitu Replacement (menggantikan dengan alternative yang lain), reduction (mengurangi jumlah), dan Refinement (mengurangi rasa sakit). Ketiga prinsip tersebut perlu dikombinasikan dengan 5F dalam menjamin kesejahteraan hewan, yaitu Freedom from hunger and thirst (bebas dari rasa lapar dan haus), Freedom from discomfort (bebas dari rasa tidak nyaman), Freedom from pain, injury and diseases (bebas dari rasa sakit, luka dan penyakit), Freedom from fear and distress (bebas dari rasa takut dan stres) dan Freedom to express natural behaviour (bebas untuk mengekspresikan tingkah-laku alamiah).
3.2.3 Koleksi Tanaman
Penelitian ini menggunakan petai yang berasal dari kebun petai di kecamatan Imogiri, kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kriteria petai yang dipanen yaitu petai yang warna kulit buahnya hijau tua kecoklatan. Proses pemanenan dilakukan pada pagi hari, dengan memotong bagian tangkai setiap sekumpulan petai menggunakan pisau. Kemudian hasil panen dimasukkan pada wadah seperti keranjang / karung bersih untuk dilakukan sortasi.
3.2.4 Determinasi Tanaman
Tanaman petai dilakukan determinasi untuk mengetahui keaslian tanaman yang dilakukan di Laboratorium Sistematika Tumbuhan Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
3.2.5 Perlakuan Paska Panen
Petai yang didapatkan kemudian disortasi dengan cara memisahkan petai yang bagus dengan kriteria bentuk buah petai yang lurus, kulit yang tebal dengan warna agak hijau tua kecoklatan, permukaan yang retak - retak kasar. Bagian yang digunakan pada penelitian ini yaitu bagian biji petai dengan kriteria biji petai yang tidak dirusak dimakan hama. Biji petai yang masih segar dicuci bersih dengan air
mengalir kemudian dipotong secara melintang. Biji petai yang sudah dipotong kemudian dikeringkan menggunakan kabinet dryer pada suhu ± 50°C selama 2 hari. Sebelum dan sesudah proses pengeringan dilakukan penimbangan sampel untuk perhitungan % susut pengeringan. Kemudian biji petai yang sudah kering di miller hingga berbentuk serbuk lalu dimasukkan ke plastik yang tertutup rapat dan disimpan di suhu ruangan (27- 30 0C) serta terhindar dari sinar secara langsung. Tujuan penyerbukan yaitu untuk memperbesar luas permukaan pada simplisia sehingga saat ekstraksi berlangsung senyawa akan lebih mudah untuk dilarutkan. Perhitungan % susut pengeringan dilakukan dengan cara menghitung berat air dalam sampel kemudian dibandingkan dengan berat sampel basah seperti pada persamaan di bawah ini :
3.2.6 Pembuatan Ekstrak Etanol Biji Petai
Serbuk biji petai sebanyak 80 gram diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70 % sebanyak 320 mL selama 3 X 24 jam pada suhu ruang. Kemudian ampas/sisanya kemudian di remaserasi kembali menggunakan pelarut etanol 70 % sebanyak 160 mL selama 3 X 24 jam pada suhu ruang. Hasil ekstraksi disaring menggunakan bantuan vakum, kemudian dipekatkan menggunakan rotary evaporator selama ± 2 jam dengan suhu 50 °C dan dengan tekanan ± 175 kPa hingga diperoleh ekstrak kental. Ekstrak kental tersebut kemudian diuapkan diatas oven dengan suhu ± 50 °C selama 2 x 24 jam kemudian ditimbang, dihitung rendemen ekstraknya yang dinyatakan dalam persen dan dikemas dalam wadah kaca dan disimpan dalam desikator. Perhitungan % rendemen dilakukan dengan cara membandingkan antara massa ekstrak kental dengan massa awal biji petai seperti pada persamaan dibawah ini :
3.2.7 Uji Identifikasi Senyawa
Uji identifikasi senyawa pada penelitian ini dilakukan secara kualitatif yakni untuk mendeteksi ada tidaknya senyawa flavonoid dan β-sitosterol di dalam
ekstrak etanol biji petai (Parkia speciosa Hassk.). Uji kualitatif untuk menentukan ada tidaknya senyawa flavonoid pada penelitian ini menggunakan dua cara, yaitu uji flavonoid menggunakan pereaksi Wilstater dan uji flavonoid menggunakan pereaksi Bate Smite-Metcalfe, sedangkan uji kualitatif untuk menentukan senyawa β-sitosterol dilakukan dengan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT).
3.2.7.1 Uji Flavonoid Menggunakan Pereaksi Wilstater
Sampel ekstrak etanol biji petai sebanyak 200 mg dilarutkan dengan 5 ml etanol 70 %. Kemudian dipanaskan selama 5 menit di dalam tabung reaksi. Selanjutnya dilakukan penambahan beberapa tetes HCl pekat dan 0,2 gram bubuk Mg. Hasil dinyatakan positif dengan timbulnya warna merah tua, kuning atau jingga (Marlinda et al., 2012 ; Ikalinus et al., 2015 ; Illing et al., 2017).
3.2.7.2 Uji Flavonoid Menggunakan Pereaksi Bate Smite-Metcalfe Sampel ekstrak etanol biji petai sebanyak 200 mg dilarutkan dengan 5 ml etanol 70 %. 2 ml larutan ekstrak etanol biji petai di dalam tabung reaksi ditambahkan beberapa tetes HCl pekat, lalu dipanaskan. Hasil dinyatakan positif dengan timbulnya warna merah (Ikalinus et al., 2015).
3.2.7.3 Uji β-sitosterol Menggunakan KLT
Sampel ekstrak etanol biji petai sebanyak 100 mg dilarutkan dengan 2 ml etanol, lalu di vortex selama 2 menit. Kemudian disentrifuge selama 3 menit. Sebanyak 20 µl larutan ekstrak petai dan standar
β-sitosterol ditotolkan pada plate silica gel 60 F254. Selanjutnya dielusikan ke
dalam bejana yang berisi toluena : etil asetat (80:20) yang telah dijenuhkan hingga tanda batas. Kemudian diangkat, dikeringkan dan diamati di bawah UV 254 dan 366 nm. Lalu disemprot menggunakan pereaksi Lieberman Burchard (LB). Hasilnya dipanaskan selama 2 menit pada oven dengan suhu 110 0C, kemudian diamati kembali di bawah UV 254 dan 366 nm. (Wagner, 1987).
3.2.8 Penentuan Dosis
3.2.8.1 Penentuan Dosis Simvastatin
Dosis simvastatin yang digunakan, yaitu sebesar 10 mg/70kgBB manusia. Dosis = 10 mg/70 kg BB manusia Dosis Konversi = 10 mg x 0,018 = 0,18 mg / 200 gram BB tikus. Stok = = 0,09 mg/mL
Jumlah tikus = 4 ekor, sehingga dibuat stok 4 x 2 mL = 8 mL. Jumlah volume stok yang dibutuhkan selama 3 hari = 4 tikus x 2 mL x 3 hari = 24 mL. Volume stok dilebihkan hingga 50 mL, jadi volume stok akhir menjadi 0,09 mg/mL x 50 mL = 4,5 mg / 50 mL. Tablet obat simvastatin ditimbang satu persatu dan dihitung berat rata-ratanya kemudian digerus menjadi serbuk.
3.2.8.2 Pembuatan Larutan Na-CMC 0,5 %
Larutan Na-CMC 0,5 % dibuat dengan cara Na-CMC ditimbang sebanyak 0,5 gram kemudian dilarutkan menggunakan aquadest hingga 100 mL dengan bantuan homogenizer.
Na-CMC 0,5 % = 0,5 g / 100 mL
3.2.8.3 Penentuan Induksi Pakan Tinggi Lemak
Induksi pakan tinggi lemak yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan campuran yang terdiri dari pakan standar BR-II + minyak babi + kuning telur puyuh yang dibentuk menjadi pelet. Dosis pakan tinggi lemak yang digunakan mengacu pada penelitian Ika Puspita Sari dkk, dengan dilakukan modifikasi (Sari et al., 2013). Konsentrasi dari induksi pakan tinggi lemak dapat dilihat pada tabel 3.1.
Tabel 3.1 Komposisi Induksi Pakan Tinggi Lemak
Bahan Konsentrasi (%)
Modifikasi Acuan
Pakan standar BR-II 81,25 80
Minyak babi 15 15
Kuning telur puyuh 3,75 5
3.2.8.4 Pembuatan Induksi Pakan Tinggi Lemak
Pemberian induksi pakan tinggi lemak dilakukan dengan pemberian pakan campuran antara pakan standar BR-II, minyak babi dan kuning telur puyuh. Induksi tinggi lemak dilakukan dengan pemberian minyak babi murni yang berasal dari Pasar Kranggan, Yogyakarta. Cara pembuatan pakan tinggi lemak yaitu minyak babi sebanyak 60 gram dicampurkan dengan 15 gram kuning telur puyuh yang telah dipisahkan dari putihnya kemudian dicampur dengan pakan standar BR-II sebanyak 325 gram hingga homogen. Pakan tinggi lemak tersebut diberikan sekali sehari secara ad libitum selama 45 hari.
3.2.8.5 Penentuan Dosis Ekstrak Etanol Biji Petai
Dalam penelitian ini digunakan 3 variasi dosis ekstrak etanol biji petai yang digunakan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol biji petai terhadap kadar HDL dan LDL yaitu sebesar 100, 200, dan 400 mg/kgBB. Penentuan variasi dosis ini mengacu pada dosis yang digunakan dalam penelitian Mustaqim dan Halijah yang meneliti tentang aktivitas antistres pada ekstrak etanol biji petai pada mencit Swiss Albino jantan yang diinduksi stres. Dosis yang digunakan pada penelitian tersebut yaitu 200 dan 400 mg/kgBB. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dosis 200 dan 400 mg/kgBB memiliki potensi aktivitas sebagai antistres. Selain itu, pada penelitian tersebut juga menunjukkan ekstrak etanol biji petai mampu menurunkan kadar glukosa, trigliserida dan kolesterol total (Shuib and Hassan, 2014). Sehingga pada penelitian ini digunakan 3 variasi dosis yaitu 100, 200, dan 400 mg/kgBB.
1. Dosis 1 :
x = 20 mg / 200 g BB tikus
Stok =
= 10 mg / mL
Jumlah tikus = 4 ekor tikus, sehingga dibuat stok 4 x 2 mL = 8 mL. Jumlah volume stok yang dibutuhkan selama 3 hari = 4 tikus x 2 mL x 3 hari = 24 mL. Volume stok dilebihkan hingga 50 mL, jadi 10 mg/mL x 50 mL = 500 mg / 50 mL. 2. Dosis 2 : Dosis = 200 mg/KgBB x = 40 mg / 200 g BB tikus Stok = = 20 mg / mL
Jumlah tikus = 4 ekor tikus, sehingga dibuat stok 4 x 2 mL = 8 mL. Jumlah volume stok yang dibutuhkan selama 3 hari = 4 tikus x 2 mL x 3 hari = 24 mL. Volume stok dilebihkan hingga 50 mL, jadi 20 mg/mL x 50 mL = 1000 mg / 50 mL. 3. Dosis 3 : Dosis = 400 mg / Kg BB Tikus x = 80 mg / 200g BB tikus Stok = = 40 mg / mL
Jumlah tikus = 4 ekor tikus, sehingga dibuat stok 4 x 2 mL = 8 mL. Jumlah volume stok yang dibutuhkan selama 3 hari = 4 tikus x 2 mL x 3 hari = 24 mL. Volume stok dilebihkan hingga 50 mL, jadi 40 mg/mL x 50 mL = 2000 mg / 50 mL.
3.2.9 Rancangan Penelitian
3.2.9.1 Besar Sampel
Jumlah hewan coba pada penelitian ini menggunakan rumus Federer, yaitu (Federer, 1963):
(n - 1)(t - 1) ≥15
Keterangan : t = jumlah perlakuan
n = jumlah pengulangan untuk tiap perlakuan Maka : (n - 1)(6 - 1) ≥15 (n - 1)(5) ≥15 5n - 5 ≥15 5n ≥20 n ≥ 4
Jadi jumlah minimal tikus yang digunakan dalam tiap kelompok adalah 4 ekor. Jadi, total jumlah tikus yang digunakan pada penelitian ini adalah sebesar 24 ekor tikus Wistar jantan.
3.2.9.2 Aklimatisasi Hewan Uji
Aklimatisasi hewan uji dilakukan minimal selama 7 hari sebelum proses pengujian. Guna menjamin aspek kesehatan hewan uji maka diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a) Tikus ditempatkan dalam kandang yang berkuran panjang x lebar x tinggi = 40 cm x 30 cm x 20 cm. Satu kandang tikus diisi dengan 4 ekor tikus.
b) Tikus dipelihara dengan ventilasi yang cukup. Suhu ruangan berkisar 22 - 26oC.
c) Makanan dan minuman diberikan secara ad libitum dalam bentuk pakan tikus standar BR-II.
d) Untuk menjaga kesehatan subjek uji, dilakukan penggantian kandang setiap 3 hari sekali.
3.2.9.3 Pembagian Kelompok Hewan Uji
Tikus yang memenuhi persyaratan dibagi secara acak menjadi 6 kelompok, dengan pembagian sebagai berikut:
1. Kelompok I
Tikus diberi pakan standar BR-II dan Na-CMC 0,5 % selama 45 hari.
2. Kelompok II
Tikus diinduksi pakan tinggi lemak dan Na-CMC 0,5 % selama 45 hari.
3. Kelompok III
Tikus diinduksi pakan tinggi lemak dan simvastatin 178,5 mg/200 gBB tikus selama 45 hari.
4. Kelompok IV
Tikus diinduksi pakan tinggi lemak dan ekstrak etanol biji petai 100 mg/kg BB selama 45 hari.
5. Kelompok V
Tikus diinduksi pakan tinggi lemak dan diberikan ekstrak etanol biji petai 200 mg/kg BB selama 45 hari.
6. Kelompok VI
Tikus diinduksi pakan tinggi lemak dan diberikan ekstrak etanol biji petai 400 mg/kg BB selama 45 hari.
Pada hari ke-0 dan 46, tikus diambil darahnya ± 2 mL melalui vena orbitalis untuk digunakan pada pengukuran kadar HDL dan LDL. Sebelumnya tikus dipuasakan terlebih dahulu selama 12-16 jam dan dianastesi menggunakan campuran ketamine 0,05 ml + xylazine 0,05 ml secara intramuscular.
3.2.9.4 Pengukuran Kadar HDL dan LDL
Pemeriksaan kadar HDL dan LDL dapat dihitung menggunakan metode presipitasi. Metode presipitasi ini dilakukan dengan cara mengendapkan komponen HDL atau LDL dan menghilangkan komponen lain selain komponen tersebut. Setelah komponen selain HDL atau LDL dihilangkan, HDL atau LDL diukur menggunakan pereaksi kit yang sama
dengan pengukuran total kolesterol. Prinsip dari metode ini yaitu pembentukan quinoneimine dye dari kolesterol ester yang mempunyai panjang gelombang maksimum pada 540 nm (Widyaningsih et al., 2010). Prinsip reaksi dapat dilihat pada gambar 3.2
Sampel darah yang diperoleh kemudian disentrifuse pada kecepatan 4000 rpm selama 10 menit. Serum yang berupa cairan bening bagian atas dipisahkan dengan endapan merah (sel darah) menggunakan micropipet. Metode presipitasi dilakukan dengan mencampurkan sampel serum tikus ke larutan pengendap (presipitant), diinkubasi selama 15 menit pada suhu ruang (20-250C) kemudian disentrifuse selama 2 menit dengan kecepatan 12000 rpm, diambil supernatan, ditambahkan reagen kolesterol, diinkubasi selama 10 menit pada suhu ruang (20-25 0C), dan diukur menggunakan photometer microlab 300 dengan Panjang gelombang (λ) 546nm.
3.2.9.5 Terminasi Hewan Uji
Pada akhir penelitian, dilakukan pengorbanan hewan coba (tikus) dengan cara dislokasi leher. Sebelum di-terminasi, tikus diberikan anestesi ketamine 0,05 ml + xylazine 0,05 ml secara intramuscular.
3.2.9.6 Skema Penelitian
Gambar 3.3 Skema Penelitian Pengukuran kadar HDL dan LDL
Dianalisis secara statistik
Pada hari ke-46, pengambilan darah tikus (post perlakuan)
Kelompok VI (Ekstrak etanol biji petai dosis 400 mg/kg BB tikus secara p.o + pakan tinggi lemak) selama 45 hari Kelompok V (Ekstrak etanol biji petai dosis 200 mg/kg BB tikus secara p.o + pakan tinggi lemak) selama 45 hari Kelompok IV (Ekstrak etanol biji petai dosis 100 mg/kg BB tikus secara p.o + pakan tinggi lemak) selama 45 hari Kelompok III (Simvastatin 178,5 mg/200 g BB tikus secara p.o + pakan tinggi lemak) selama 45 hari Kelompok II (Na-CMC secara p.o + pakan tinggi lemak) selama 45 hari Kelompok I (Na-CMC secara p.o + pakan standar BR-II) selama 45 hari Hewan uji
3.3 Analisis Hasil
Data HDL dan LDL yang diperoleh, diuji normalitasnya dengan uji Shapiro-Wilk karena jumlah sampel yang digunakan kurang dari 50 (Dahlan, 2009). Apabila nilai signifikansi lebih dari 0,05 maka data terdistribusi normal. Kemudian dilakukan analisis statistik menggunakan paired t-test untuk melihat pengaruh pemberian sebelum dan sesudah perlakuan serta One Way Anova (apabila nilai probabilitas signifikansi lebih dari 0,05 maka tidak terdapat perbedaan yang signifikan), yang dilanjutkan analisis Post-Hoc Tukey HSD untuk mengetahui perbedaan signifikasi antar kelompok. Masing-masing uji memiliki derajat kemaknaan 95%.