BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Media Sosial
Menurut Hafied Cangara dalam Dewi (2014: 25), Media merupakan alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator pada khayalak. Dengan menyampaikan pesan pada khayalak, diharapkan terjadi respon sesuai dengan tujuan awal disampaikannya pesan tersebut. seberapa baik reaksi yang diberikan oleh khayalak tergantung dari bagaimana penerimaan khayalak terhadap pesan tersebut.Berkembangnya teknologi khususnya teknologi komunikasi berimplikasi pada keberadaan media yang ada. Media seperti televise, radio, dan surat kabar merupakan media yang popular dimasyarakat. Tetapi media saat ini yang banyak digunakan oleh masyarakat adalah media sosial yang secara tidak langsung mengikis keberadaan media-media yang sudah ada sebelumnya.
Mandibergh dalam Wahid (2016: 92) mendefenisikan media sosial sebagai media yang mewadahi kerjasama diantara pengguna yang menghasilkan konten (user generated content). Media sosial dipandang sebagai lingkungan interaksi antar penggunanya yang menghasilkan sebuah hubungan. Dimana akan tercipta suatu keadaan yang saling memberikan pendapat dan membentuk suatu pola interaksi.
Andreas Kaplan dan Michael Haenlein dalam Gusti (2012: 10) mendefinisikan media sosial sebagai sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang dibangun diatas dasar ideologi dan teknologi web 2.0, dan memungkinkan penciptakan dan pertukaran user-generated content. Web 2.0 merupakan platform dasar pada media sosial. Andreas Kaplan dan Michael haenlein membagi media sosial kedalam enam jenis yaitu:
1. Proyek kolaborasi (Wikipedia) 2. Blog dan microblogs (twitter) 3. Komunitas konten (youtube) 4. Situs jaringan sosial (facebook) 5. Virtual game (world of warcraft) 6. Virtual social (second life)
Situs jaringan sosial merupakan tempat dimana setiap orang bisa membuat halaman web yang berisi informasi pribadinya, dimana setiap orang dapat terhubung didalamnya untuk saling berbagi informasi dan berkomunikasi. Beberapa jejaring sosial yang cukup popular antara lain facebook, twitter, myspace, dan plurk.
Berdasarkan karakteristik yang dimilikinya Nasrullah dalam Umaimah (2016 :93) membagi media sosial kedalam beberapa karakteristik, diantaranya adalah:
4. Interaktif (interaction)
5. Stimuli sosial (stimulation of social)
6. Konten oleh pengguna (user-generated-content)
Lahirnya media sosial tidak terlepas dari perkembangan teknologi komunikasi yang terjadi. Sejarah perkembangan internet menjadi dasar dari tercetusnya media sosial. Ada beberapa tahap yang menjadi dasar penemuan media sosial :
1. Penemuan Sistem Papan Buletin pada tahun 1978
Sistem ini memungkinkan kita untuk dapat berhungan dengan orang lain melalui pesan elektronik, ataupun mengunggah dan mengunduh perangkat lunak. Semua aktivitas maya ini dilakukan masih dengan menggunakan saluran telepon yang terhubung dengan modem.
2. Lahirnya situs GeoCities pada tahun 1995
Situs ini menyediakan layanan penyewaan penyimpanan data-data website agar halaman website bisa di akses dari mana saja. Kemunculan GeoCities ini menjadi tonggak munculnya website-website di seluruh dunia.
3. Munculnya situs jejaring sosial pertama Sixdegree.com pada tahun 1997 Walaupun sebenarnya pada tahun 1995 terdapat situs classmates.com yang juga merupakan situs jejaring sosial. Namun, sixdegree.com dianggap lebih menawarkan sebuah situs jejaring sosial dibandingkan classmates.com
Situs ini menawarkan penggunanya untuk bisa membuat halaman situsnya sendiri, sehingga penggunanya bisa memuat hal tentang apapun, termasuk hal pribadi ataupun untuk mengkritisi pemerintah. Sehingga bisa dikatakan blogger ini menjadi tonggak berkembangnya sebuah media sosial.
5. Berdirinya Friendster pada tahun 2002
Friendster merupakan situs jejaring sosial yang pada saat itu menjadi booming, dan keberadaan sebuah media sosial menjadi fenomenal.
6. Lahirnya LinkedIn pada tahun 2003
LinkedIn tidak hanya berguna untuk bersosialisasi, akan tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mencari pekerjaan, sehingga fungsi dari sebuah media sosial makin berkembang.
7. Berdirinya MySpace pada tahun 2003
MySpace menawarkan kemudahan dalama menggunakannya, sehingga MySpace disebut sebagai situs jejaring sosial yang user friendly.
8. Lahirnya Facebook pada tahun 2004
Facebook merupakan situs media sosial yang sangat fenomenal saat ini. Facebook merupakan situs jejaring sosial yang terkenal hingga saat ini, dan merupakan salah satu situs jejaring sosial yang memiliki anggota terbanyak.
9. Peluncuran Twitter pada tahun 2006
Perkembangan teknologi komunikasi juga turut mempengaruhi perkembangan media sosial yang ada. Penggunaan media sosial yang berbasis dari internet dapat diakses dari mobile phone. Hal ini menempatkan media sosial sebagai media komunikasi yang paling popular. Tingginya pengguna media sosial di Indonesia juga mempengaruhi budaya yang ada, termasuk penggunaan media sosial untuk kepentingan politik, seperti kampanye menjelang Pemilu ataupun Pilkada.
2.2 Facebook
Facebook merupakan salah satu media sosial yang paling popular di dunia saat ini. Facebook didirikan oleh Mark Zuckerberg bersama teman sekamarnya dan sesama mahasiswa universitas Harvard, Eduardo Saverin, Andrew McCollum, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes. Keanggotaan situs web ini awalnya terbatas untuk mahasiswa Harvard saja, kemudian diperluas ke perguruan lain di Boston, Ivy League, dan Universitas Stanford. Situs ini secara perlahan membuka diri kepada mahasiswa di universitas lain sebelum dibuka untuk siswa sekolah menengah atas, dan akhirnya untuk setiap orang yang berusia minimal 13 tahun. Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain.
(https://id.wikipedia.org/wiki/Facebook).
Facebook pada awalnya merupakan sebuah situs pertemanan yang mengusung konsep social network. Sejak tahun 2004 hingga saat ini, facebook telah mengalami transformasi dan beberapa kali update-update fitur secara berkala. Beberapa fitur dasar yang terdapat pada facebook adalah :
1. Status Updates
Fitur ini adalah yang paling dasar dan sering digunakan oleh user, yaitu untuk melakukan posting pesan, baik berupa teks, gambar, link, ataupun video. Status update ini nantinya dapat dilihat oleh teman-teman yang ada di facebook, tergantung pada pengaturan yang digunakan.
terbaru akan muncul paling atas di timeline dan juga tercatat pada bagian recently updated.
2. Timeline
Fitur ini merupakan pembaharuan dari profile dan wall facebook yang diberlakukan sejak tanggal 15 desember 2011. Disinilah semua konten posting user akan diatur dan ditampilkan kepada orang lain, khususnya teman-teman yang ada di facebook. Di timeline ini foto, video, dan posting yang ada akan dikategorikan dan diurutkan berdasarkan waktu uploadnya (penayangannya). Sehingga sepintas seperti catatan harian yang mengisahkan perjalanan user tersebut sejak bergabung dengan facebook. Konten-konten yang akan ditampilkan di timeline dapat diatur melalui timeline privacy setting, sehingga user dapat menentukan siapa yang
berhak untuk melihat profile dan wallnya yang ada di facebook. 3. Friends
Fitur ini digunakan oleh facebookers untuk mencari dan mendapatkan teman, yaitu deengan cara mengetikkan kata pencarian (baik nama orang, group, berdasarkan lokasi, nama sekolah, dsb), kemudian mengirimkan permintaan untuk menjadi teman (sent friend request). Kedua facebookers dapat menjadi teman jika pihak yang mendapatkan request menyetujuinya (accept friend request). User dapat menolak permintaan tersebut atau menyembunyikannya dengan menggunakan tombol Not Now.
4. Like
saja yang diminati oleh facebookers tersebut. User dapat memberikan feedback like ini pada update status teman, komentar teman, foto-foto yang dipublish, atau link yang dikirimkan oleh teman, halaman fanfage di facebook, serta iklan-iklan yang dimunculkan di facebook. Cukup dengan menekan tombol like yang ada dibawah konten tersebut.
Selain itu fitur like ini juga sudah tersedia di berbagai website diluar facebook, dimana user dapat memberikan like untuk konten-konten website tersebut dan hal ini akan diposting sebagai aktifitas dan minat user tersebut ke facebook.
5. Message dan Inbox
Fitur ini digunakan untuk mengirimkan pesan kepada user lain secara privat (privat message). User dapat mengirimkan pesan kepada banyak teman sekaligus. Namun pesan ini tersimpan di kedua belah pihak, yaitu pengirim dan penerima. Jika pesan ini dihapus oleh salah satu pihak, maka pesan tersebut masih ada dipihak yang lain.
Sejak akhir tahun 2010, facebook telah meluncurkan penyempurnaan fitur ini yang disebut dengan layanan facebook messages. Setiap facebookers diberikan semacam alamat email dengan @facebook.com, namun bukanlah sekedar email saja, namun merupakan penggabungan antara SMS (text messaging), pesan chat (instant messaging), email, dan pesan privat (pripate message). Sehingga banyak yang menyebutnya sebagai Gmail killer.
Setelah banyaknya kasus dan kejadian yang membuat account facebook yang dibajak, maka facebook hanya memberikan perhatian khusus kepada sector ini. Sejak 12 mei, facebook telah meluncurkan fitur keamanan dan privasi baru yang dirancang untuk memberikan tingkat keamanan dan kenyamanan bagi facebookers dari serangan malware maupun pembajakan akun facebooknya.
Facebook telah meneraplan mekanisme autentikasi dengan menggunakan dua lapisan loginapproval, dimana jika fitur ini diaktifkan, user harus memasukkan kode yang dikirimkan lewat SMS ke handphone pemilik account pada saat user melakukan log in dari perangkat baru atau perangkat yang tidak dikenali.
7. News feeds
News feed pada dasarnya merupakan tempat dimana aktivitas user dan teman-temannya akan tertampil secara berkala. News feed memberikan highlight informasi seperti penggantian profile, event-event yang akan datang (misalnya ulang tahun teman), update status, dan update info lainnya (seperti percakapan antar wall dengan teman).
8. Notification
komentar baru pada gambar user tersebut, atau gambar dimana user tersebut pernah memberikan komentar.
9. Graph search
Fitur ini masih dalam versi beta (belum final), dimana melalui fitur ini user dapat melakukan pencarian seperti di google. Namun pencarian ini tidak seperti mesin pencari pada umumnya yang hanya memberikan daftar website yang relevan dengan kata pencarian. Dengan banyaknya informasi yang ada didalam percakapan antar user di facebook dan jejaring koneksi yang luas, memungkinkan user untuk mendapatkan jawaban yang lebih natural mengenai sesuatu pertanyaan.
10.Networks, Groups, and Pages
Selain ditujukan untuk digunakan secara personal (pribadi), facebook juga terbuka bagi kelompok, organisasi, lembaga, atau perusahaan untuk bergabung dalam jejaring sosial ini. Hal ini hamper sama dengan membuat sebuah blog di facebook dan menjadi administratornya. Banyak perusahaan atau public figur yang menggunakan fitur ini dengan membuat halaman khusus yang disebut fanfage.
(http://www.peoplehope.com/chat/fitur-fitur-dasar-facebook-dan-beberapa-update-fitur-terbaru-facebook-2013)
2.3 Pilkada
duduk diposisi kepala daerah dan wakil kepala daerah, seperti Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, Walikota dan Wakil Walikota.
Pilkada di Indonesia memiliki sejarah yang panjang sejak era kolonialisme. Sebelum tahun 2015, Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah(DPRD). Sejak berlakunya Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemilihan Kepala Daerah, Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dipilih secara langsung oleh rakyat melalui penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah atau disebut Pilkada Langsung.
Penyelenggaran Pilkada secara langsung ini sesuai dengan prinsip demokrasi yang dianut oleh Indonesia. Menurut Joko (2005: 34-37) mekanisme Pilkada berlangsung Demokratis apabila memenuhi parameter sebagai berikut:
1. Pemilihan Umum
Pemilihan kepala daerah harus dilaksanakan dengan Pemilihan Umum (Pemilu) yang diselenggarakan secara teratur dengan tenggang waktu yang jelas, kompetitif, jujur dan adil. Pemilu merupakan gerbang awal dalam tahap awal demokrasi karena dengan melangsungkan pemilu akan menghasilkan lembaga yang demokratis.
2. Rotasi Kekuasaan
3. Rekrutmen Terbuka
Dimana proses perekrutan orang-orang untuk jabatan publik harus dilaksanakan secara terbuka yaitu dengan member kesempatan yang sama kepada setiap orang selama orang tersebut memenuhi syarat-syarat yang diterntukan.
4. Akuntabilitas Publik
Para pemegang jabatan publik haruslah berani mempertanggung-jawabkan kepada publik apa yang dilakukannya sebagai pribadi maupun sebagai pejabat publik. Kepala Daerah rakyat ataupun pemegang jabatan publik lainnya harus menjelaskan mengapa mengeluarkan kebijakan tersebut, hal ini dikarenakan pemegang jabatan publik mendapat amanah dari rakyat, maka ia harus menjaga, memelihara dan bertanggung jawab terhadap amanah tersebut.
Partisipasi rakyat dalam setiap penyelenggaraan pemilu merupakan elemen penting yang tidak dapat dipisahkan. Keterlibatan rakyat untuk memilih secara langsung menjadikan rakyat sebagai subjek demokrasi yang sesungguhnya. untuk menentukan pilihannya rakyat tentu harus dibekali dengan pengetahuan mengenai calon-calon pemimpin yang akan dipilihnya. Dalam Syamsul (2005) penyelenggaraan Pilkada, selain untuk memilih kepala daerah periode selanjutnya, pilkada juga berfungsi sebagai:
1. Media rakyat untuk menyuarakan pendapatnya 2. Mengubah kebijakan
5. Menyalurkan aspirasi lokal
Untuk mencapai hal tersebut maka dalam penyelenggaraan pemilu ataupun pilkada dilangsungkan, didahului dengan tahap perkenalan antar kandidat dengan rakyat sebagai pemilihnya, tahapan ini dikenal dengan kampanye.
Rogers dan Storey dalam Jalaluddin (2004) mendefinisikan bahwa Kampanye merupakan serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan menciptakan efek tertentu pada sejeumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu. Kampanye dalam hal ini juga memiliki kharakteristik yaitu sumber yang jelas, yang menjadi penanggung jawab suatu produk kampanye. Sehingga individu dapat mengevaluasi isi pesan kampanye yang diterimanya setiap saat. Jenis kampanye dinilai berdasarkan motivasi dalam melaksanakan kampanye tersebut. kampanye yang berorientasi politik tentu memiliki hasrat untuk meraih kekuasaan. Kampanye politik memiliki tujuan untuk memenangkan dukungan masyarakat terhadap kandidat-kandidat yang diajukan untuk menduduki jabatan-jabatan politik lewat proses Pemilihan umum.
Ada berbagai macam cara-cara kampanye politik yang dilakukan dalam Pilkada untuk merebut hati pemilih. Dalam Achmad (2005) mengutip dari draf keputusan KPUD tentang petunjuk teknis kampanye Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang disusun dan disiapkan oleh Komisi Pemilihan Umum, disimpulkan sebagai berikut
1. Pertemuan terbatas 2. Tatap muka dan dialog
4. Penyiaran melalui radio dan televisi
5. Penyebaran bahan kampanye kepada umum 6. Pemasangan alat peraga
7. Rapat umum
8. Debat publik/debat terbuka antar calon
9. Kegiatan lainnya, seperti kegiatan sosial, perlombaan olahraga, dan media sosial
Perubahan dari sistem Pemilihan kepala daerah dari sebelumnya dipilih oleh DPRD menjadi pemilihan umum yang langsung dilaksanakan oleh rakyat juga mengubah wajah perpolitikan di Indonesia. Meskipun tidak terlibat langsung dalam pengambilan keputusan yang dilaksanakan pemerintah tetapi rakyat dapat melakukan kontrol atas jalannya pemerintahan yang mendapat mandat langsung dari rakyat. Pilkada secara langsung ini juga memberikan peran yang lebih besar terhadap rakyat, kepala daerah tentu harus mampu merebut hati rakyat untuk menduduki jabatan tersebut. rakyat akan lebih mengenal Kepala Daerah nya dibandingkan Kepala Daerah yang dipilih oleh DPRD.
2.5 Media Sosial Sebagai Media Kampanye Baru
mengetahui berbagai berita terbaru dari Negara-negara lain di dunia hanya dalam hitungan detik. (Wahid 2016 : 80)
Flew dalam Andriadi (2016: 78) mengungkapkan lima karakteristik yang dimiliki oleh media baru:
1. Manipulable
Informasi digital yang dimiliki oleh media baru mudah diubah dan diadaptasi dalam berbagai bentuk, penyimpanan, pengiriman, dan penggunaan.
2. Networkable
Informasi digital dapat dibagi dan dipertukarkan secara terus menerus oleh sejumlah besar pengguna diseluruh dunia.
3. Dense
Informasi digital berukuran besar dapat disimpan diruang penyimpanan kecil (contohnya USB) atau penyedia layanan jaringan.
4. Compresibble
Ukuran informasi digital yang diperoleh dari jaringan manapun dapat diperkecil melalui proses kompres dan dapat didekompres kembali saat dibutuhkan.
5. Impartial
Informasi digital yang disebarkan melalui jaringan bentuknya sama dengan yang direpresentasikan dan yang digunakan oleh pemiliknya.
1. Bersifat Desentralisasi.
Pengadaan dan pemilihan berita tidak lagi sepenuhnya ada di tangan pemasok komunikasi. Posisi dari penyedia layanan hanya untuk menyediakan wadah, sementara untuk pengadaan informasi berada ditangan pengguna.
2. Memiliki Kemampuan tinggi.
Penghantaran infomasi yang berlangsung melalui kabel dan satelit menghindarkan gangguan ataupun hambatan komunikasi yang disebabkan oleh pemancar lainnya. Gangguan komunikasi sering kita temukan pada Media sebelumnya, dimana hambatan dapat berakibat terhentinya komunikasi.
3. Melahirkan komunikasi timbal balik (inter-activity).
Penerima dapat memilij, menjawab kembali, menukar informasi dan dihubungkan dengan penerima lainnya secara langsung.
4. Memiliki kelenturan (fleksibilitas) bentuk, isi dan penggunaan.
Ward dan Smith dalam Umaimah (2016 : 81) mengungkapkan lima karakter yang membedakan media baru dengan media lama atau tradisional pada umumnya. Antara lain:
1. Packet Switcing
2. Multimedia
Pesan yang dikirimkan melalui media internet dapat dikemas dalam berbagai bentuk, baik suara, gambar, maupun video. Semuanya dapat disajikan secara bersamaan dan melalui beberapa channel.
3. Interaktif
Tidak semua media konvensional bersifat interaktif, di mana komuniator dan komunikan bias saling berhubungan secara real time seperti sedang bertatap muka secara langsung. Dalam konteks media baru sebagai sumber informasi informasi, pengguna dapat menjadi produce dan consumer dalam waktu yang bersamaan. Pada saat mengonsumsi sebuah berita, pengguna pun dapat memproduksi sebuah berita, baik di halaman yang sama maupun berbeda. Dari hal tersebut muncul istilah procumer (produces dan consumer).
4. Synchronicity
karena terjadi perbedaan waktu antara pengguna yang satu dan yang lainnya.
5. Hypertextuality
Media internet menyajikan sesuatu yang berbeda dengan media lama atau tradisional, baik cara mengonsumsi maupun cara memproduksinya. Proses produksi sebuah pesan pada media lama atau tradisional harus mengikuti aturan-aturan pada umumnya. Bila pesan berupa teks, cara penulisannya pun harus berurutan dan mengikuti aturan penulisan yang baku. Namun, jika pesan tersebut berupa halaman-halaman kertas, cara mengonsumsi serta memproduksinya pun harus berurutan dan sesuai dengan urutan halaman yang ada.
Media sosial merupakan salah satu ruang publik yang menjadi primadona saat ini. Hampir setiap individu dari berbagai lapisan masyarakat memiliki akun media sosial untuk berinteraksi dengan individu lainnya yang berakibat pada lahirnya ruang publik baru. Ruang publik baru ini nantinya akan menjadi ajang bagi setiap individu untuk saling mencurahkan opini-opini maupun kritiknya tanpa adanya batasan.
lebih efektif dari penggunaan media-media lain. Dimana penggunaan internet yang didalamnya terdapat media sosial dapat menciptakan situasi dimana seseorang dapat mengetahui segala kejadian yang ada di suatu daerah tanpa harus berada didaerah tersebut.
Sebagai salah satu agenda politik, kampanye merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Pada umumnya kampanye yang dilakukan oleh pelaku-pelaku poolitik di Indonesia dilakukan dengan cara mendatangi masyarakat secara langsung, brosur, baliho, media cetak, dan televisi. Perlahan pola kampanye tradisional tersebut mulai ditinggalkan karena dirasa sudah tidak sesuai dengan perkembangan yang ada, dimana kampanye melalui media sosial menjadi alternatif terbaik.
Menurut Abugaza ( 2013 : 189-191) ada beberapa alasan yang memberikan penjelasan kenapa harus menggunakan media sosial dalam kampanye politik, yaitu:
1. Efek Penguatan
Salah satu langkah awal dalam perencanaan komunikasi politik adalah mengidentifikasi pesan utama kampanye. Pesan yang disampaikan melalui media cetak, dan kegiatan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, akan mudah menghilang tanpa bekas. Disinilah media sosial memainkan peranannya untuk mengingatkan (recall memory) dan menguatkan pesan yang telah disampaikan.
2. Membentuk koneksitas pribadi
disentuh secara langsung. Setiap orang punya keinginan yang sama untuk bisa berinteraksi dan menyampaikan pesan dan keinginan secara langsung. Media sosial dengan karakter komunikasi yang tidak mengenal batas, jarak dan waktu, mampu member solusi.
3. Kecanggihan teknologi
Perangkat yang tersedia saat ini memudahkan penyampaian pesan. Kecanggihan teknologi yang ditampilkan dalam media sosial memungkinkan kita tinggal memilih format dan aplikasi yang kita inginkan. Pesan yang akan disampaikan ada di ujung telunjuk.
4. Kemampuan merespons
Media sosial membangun kemampuan untuk merespons. Pilkada sering berujung pada demarketing dan penyampaian isu negatif yang bisa menyebar dengan sangat cepat. Disaat kondisi seperti inilah media sosial menjadi solusi paling tepat, karena sifat komunikasi telah terbangun dalam model pertemanan yang member ruang pesan bisa sanpai pada personal secara langsung.
5. Pengumpulan informasi
Tidak hanya berfungsi sebagai media komunikasi. Tetapi media sosial juga telah menjelma menjadi media yang berfungsi untuk mengumpulkan informasi dari public dan mengukur tingkat kesukaan publik terhadap kita yang akhirnya bisa menghasilkan peta strategis dalam menyusun program pilkada.
Permasalahan yang satu ini adalah persoalan klasik yang pasti dialami dalam kampanye. Tidak jarang jalan pintas digunakan untuk membiayainya, bisa menjual asset, meminjam sana sini dan bahkan ada yang sampai nekat mencuri. Namun dengan menggunakan media sosial untuk mengumpulkan dana, permasalahan tersebut dapat diatasi dengan mudah.
7. Menyentuh pemilih pemula
Media sosial juga dapat menjadi alat paling efektif dalam menyentuh dan meyakinkan komunitas pemilih cerdas yang tidak memiliki waktu dan perhatian terhadap pilkada dengan mengirimkan visi-misi dan program langsung ke personal yang bisa dibuka ketika mereka memiliki waktu. 8. Batasan kampanye dalam media sosial belum diatur
Salah satu keuntungan dari kampanye di media sosial adalah belum adanya aturan yang membatasi waktu dan konten sehingga member ruang yang tidak terbatas untuk menggunakan media sosial dalam berkampanye.
Selain itu pola kampanye tradisional juga cenderung membutuh dana kampanye yang besar, sementara dana kampanye melalui media sosial tidak sebanyak yang dibutuhkan dalam kampanye tradisional.
Keunikan lainnya dari kampanye melalui media sosial ini adalah bentuk dukungan terhadap seorang kandidat dapat dilakukan dengan menyebarluaskan materi kampanye dari akun kandidat tersebut. Seorang pemilih yang sudah menjadi pendukung kandidat tersebut dapat menyebarluaskan materi kampanye dari akun kandidat tersebut. Dengan pesan yang sudah dipersonalisasi pendukung tersebut akan memancing perbincangan dengan teman-temannya didunia maya tersebut. dengan demikian tingkat keberhasilan dari kampanye media sosial ini tergantung dari keaktifan daripada banyaknya orang yang menjadi pengikut akun kandidat tersebut dalam media sosial.
2.6 Modal Sosial
Coleman dalam Dini (2013) mendefinisikan modal sosial sebagai aspek dari struktur hubungan antar individu yang memungkinkan mereka menciptakan nilai baru. Modal sosial disebut varian entitas dari beberapa struktur sosial yang memfasilitasi tindakan dari pelakunya, apakah dalam bentuk personal atau korporasi dalam suatu struktur sosial. Modal sosial inheren dalam struktur relasi antar individu. Struktur relasi dari jaringan ini nantinya akan menciptakan berbagai ragam kewajiban sosial, menciptakan iklim saling percaya, dan menetapkan norma dan sanksi sosial bagi para anggotanya.
Bentuk ini menekankan dimana tingkat kepercayaan dari lingkungan sosial dan perluasan aktual kewajiban yang sudah dipenuhi menentukan bagaimana tingkatan modal sosial yang didapatkan. Tingginya tingkat kepercayaan memiliki modal sosial yang lebih baik daripada seituasi yang sebaliknya.
2. Potensi Informasi
Informasi sangat dibutuhkan sebagai pertimbangan sebelum melakukan sesuatu. Keadaan yang demikian menempatkan seseorang yang memiliki informasi akan memiliki modal sosial yang tinggi karena dipastikan memiliki jaringan yang lebih luas untuk mendapatkan informasi tersebut. 3. Norma dan Sanksi Efektif
Adanya norma dalam sebuah komunitas akan membentuk komunitas tersebut kearah yang lebih baik. Dengan adanya aturan-aturan dan sanksi-sanksi yang diberikan tentu akan mendidik anggotanya untuk bertindak lebih baik. Seseorang yang menjalankan norma yang ada dalam komunitas dengan baik tentu akan memiliki nilai sosial yang lebih baik.
Hasbullah dalam Inayah (2012: 44) mengetengahkan ada enam unsur pokok dalam modal sosial:
1. Participation in network
2. Reciprocity
Kecendrungan saling tukar kebaikan antar masyarakat dalam suatu kelompok kehidupan sosial. Pola pertukaran terjadi didalam suatu kombinasi jangka panjang dan jangka pendek dengan nuansa altrusime tanpa mengharapkan imbalan.
3. Trust
Suatu bentuk keinginan untuk mengambil resiko dalam hubungan-hubungan sosialnya yang didasari oleh perasaan yakin bahwa yang lain akan melakukan sesuatu seperti yang diharapkan dan akan senantiasa bertindak dalam suatu pola tindakan yang saling mendukung
4. Social Norms
Sekumpulan aturan yang diharapkan dipatuhi dan diikuti oleh masyarakat dalam suatu entitas sosial tertentu. Aturan-aturan ini biasanya terinstitusionalisasi, tidak tertulis tapi dipahami sebagai penentu pola tingkah laku baik dalam lingkup hubungan sosial sehingga ada sanksi sosial bagi yang melanggar.
5. Values
Sesuatu ide yang telah turun-temurun dianggap benar dan penting oleh anggota masyarakat.
6. Proactive Action
Secara umum ada tiga bentuk modal sosial yang paling dominan : 1. Trust
Dalam terminologi sosiologi, konsep kepercayaan dikenal dengan trust. Giddens dalam Damsar ( 2009 : 185 ) mengungkapkan bahwa kepercayaan pada dasarnya terikat, bukan kepada resiko, namun kepada berbagai kemungkinan. Kepercayaan selalu mengandung konotasi keyakinan ditengah-tengah berbagai akibat yang serba mungkin, apakah dia berhubungan dengan tindakan individu atau dengan beroperasinya sistem. Defenisi kepercayaan yang tidak dikaitkan dengan resiko juga dikemukan oleh Zucker (Damsar, 2009 : 186). Zucker memberi batasan kepercayaan sebagai “seperangkat harapan yang dimiliki bersama – sama oleh semua yang berada dalam pertukaran”. Defenisi Zuker tersebut dekat dengan batasan yang diberikan oleh lawang. Lawang dalam Damsar (2009 : 186) mengartikan kepercayaan sebagai hubungan antara dua belah pihak atau lebih yang mengandung harapan yang menguntungkan salah satu pihak atau kedua belah pihak melalui interaksi sosial. Selanjutnya Lawang dalam Damsar (2009 : 187) menyimpulkan inti konsep kepercayaan sebagai berikut : (i) Hubungan sosial antara dua orang atau lebih. Termasuk dalam hubungan ini adalah institusi, yang dalam pengertian ini diwakili orang. (ii) Harapan yang akan terkandung dalam hubungan itu, yang kalau direalisasikan tidak akan merugikan salah satu atau kedua belah pihak. (iii) Interaksi yang memungkinkan hubungan dan harapan itu berwujud
Menurut M.Z Lawang dalam Damsar (2009 : 157), Jaringan Sosial merupakan terjemahan dari network yang berasar dari dua suka kata yaitu net dan work. Net diterjemahkan kedalam bahasa sebagai jarring, yaitu tennunan seperti jala, terdiri dari banyak ikatan atar simpul yang saling berhubungan satu sama lainnya. Sedangkan kata work bermakna sebagai kerja. Gabungan kata net dan work sehingga menjadi network yang penekanannya terletak pada kata kerja bukan pada jaring.
Sedangkan sosial dimengerti sebagai sesuatu yang dikaitkan atau dihubungkan dengan orang lain atau menunjukkan pada makna subjektif yang mempertimbangkan perilaku atau tindakan orang lain yang berkaitan dengan pemaknaan tersebut. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa studi jaringan sosial melihat hubungan antara individu yang memiliki makna subyektif yang berhubungan atau dikaitkan dengan sesuatu sebagai simpul dan ikatan.
Suatu cirri khas teori jaringan adalah pemusatan pada struktur mikro hingga makro. Artinya, bagi teori jaringan, actor mungkin saja individu tetapi mungkin pula kelompok, perusahaan, dan masyarakat. Hubungan dapat terjadi ditingkat struktur sosial skala luas maupun ditingkat yang lebih mikroskopik.
3. Norma
atau menolak suatu perilaku. Norma dapat dibedakan atas lima tingkatan, yaitu : cara (usage), kebiasaan (folkways), tata kelakuan (mores), adat istiadat (custom), dan hukum (laws).
Norma sosial merupakan faktor perilaku dalam suatu kelompok atau masyarakat tertentu yang memungkinkan seseorang untuk menentukan terlebih dahulu bagaimana tindakannya akan dinilai pihak lain. Norma sosial berfungsi sebagai aturan dan sanksi-sanksi untuk mendorong seseorang, kelompok atau masyarakat untuk mencapai nilai-nilai sosial, disamping itu norma sosial juga merupakan aturan-aturan yang tumbuh dan hidup dalam masyarakat sebagai unsure pengikat dan pengendali manusia dalam hidup bermasyarakat. (Damanik, 2009 :5)
Dalam ajang Pilkada ataupun pemilihan-pemilihan untuk jabatan publik lainnya, Modal yang dimiliki oleh para calon pemangku jabatan publik tersebut akan turut menentukan apakah mereka berhasil atau tidak untuk memenangkan hati rakyat. Modal yang dimaksudkan bukan hanya modal harta, uang, ataupun barang-barang berharga. Modal yang dianggap menjadi faktor penentu adalah modal sosial. Modal sosial yang dimiliki seseorang akan meningkatkan tingkat kepercayaan orang lain terhadap dirinya. Tentunya kepemilikan terhadap modal sosial akan memudahkan calon Kepala Daerah untuk memenangkan hati dari para pemilihnya.