1.1Latar Belakang
Kehamilan merupakan proses fisiologis yang terjadi dalam tubuh seorang wanita, dimana kehamilan merupakan proses fertilisasi atau menyatunya spematozoa dan ovum yang dilanjutkan dengan proses nidasi atau implantasi yang berlangsung selama 40 minggu. Meskipun kehamilan merupakan suatu proses fisiologis banyak sekali penyulit yang biasanya menyertai kehamilan yang dapat mengakibatkan tingginya angka kematian maternal (Amiruddim,2007).
setiap tahun hampir 10.000 wanita meninggal karena masalah kehamilan dan persalinan ( Lestari, 2013 ).
Berdasarkan data dari WHO (World Health Organization) lebih dari 585.000 ibu pertahunnya meninggal saat hamil. Sebanyak 99% kematian ibu akibat masalah persalinan atau kelahiran yang dirujuk terjadi di negara berkembang. Angka kematian ibu di dunia mencapai 529.000 per tahun, dengan rasio 400 kematian ibu per 100.000
kelahiran hidup dimana 12 % dari kematian ibu disebabkan oleh preeklamsia (WHO, 2010).
Preeklamsia dan eklamsia merupakan masalah kesehatan yang memerlukan perhatian khusus karena preeklamsi merupakan penyebab kematian ibu hamil dan perinatal yang tinggi terutama di negara berkembang. Sampai saat ini preeklamsia dan eklamsia masih merupakan “the disease of theories” karena angka kejadian
preeklamsia-eklamsia tetap tinggi dan mengakibatkan morbiditas dan mortalitas maternal yang tinggi (Manuaba, 2011).
Preeklamsia merupakan penyebab kedua setelah perdarahan sebagai penyebab langsung yang spesifik terhadap kematian maternal, pada sisi lain insiden dari eklamsia pada Negara berkembang sekitar 1 kasus per 100 kehamilan sampai 1 kasus per 1700 kehamilan. Pada Negara Afrika kejadian preeklamsia sekitar 1,8 % sampai dengan 7,1 %, di Nigeria prevalensinya sekitar 2 % sampai dengan 16,7 (Osungbade, 2011).
Hasil dari Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, menyatakan bahwa sepanjang tahun 2007-2012 kasus kematian ibu melonjak naik. Pada tahun 2012 AKI mencapai 359 per 100.000 kelahiran hidup atau meningkat sekitar 57 % bila dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2007, yaitu sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. Hal ini disebabkan karena terjadinya bumil risti (ibu hamil dengan risiko tinggi), prioritas penyebab langsung kematian ibu adalah perdarahan (28%),Pre-Eklamsia (24%), Infeksi (11%), Abortus (5%),dan partus lama (5%)(SDKI, 2012).
Menurut Wirakusuma (2010) preeklamsia merupakan salah satu penyebab kematian pada ibu hamil yang dapat berkembang menjadi eklamsia (keracunan kehamilan). Preeklamsia ditandai oleh timbulnya hipertensi dengan proteinuria, edema atau dengan keduanya akibatsuatu kehamilan atau pengaruh suatu kehamilan yang timbul pada usia kehamilan >20 minggu. Preeklamsia merupakan suatu keadaaan patologi yang belum diketahui secara pasti penyebabnya walaupun telah ada beberapa teori yang mencoba menjelaskan tentang penyebab preeklamsi. Penyebab terjadinya preeklamsia tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan banyak faktor yang menyebabkan terjadinya preeklamsia dan eklamsia ( multiple caution ).
Faktor risiko preeklampsia antara lain umur, paritas, penambahan berat badan selama masa kehamilan, aktivitas fisik, sosial ekonomi. Pengendalian terhadap faktor risiko berperan penting sehubungan dengan pencegahan preeklampsia. Diagnosis dini preeklampsia dengan penanganan yang cermat memberikan prognosis yang baik. Preeklampsia yang terlambat ditangani dapat memberi dampak terburuk yaitu kematian bagi ibu dan janinnya (Chobanian, 2004).
risiko terjadi preeklamsia 3,58 kali lebih besar dibandingkan ibu hamil yang berusia 20-35 tahun dengan paritas primipara.
Beberapa ahli menyimpulkan bahwa wanita dengan keadaan sosial ekonomi yang
lebih baik akan lebih jarang menderita preeklampsia, tanpa mempedulikan hal tersebut,
preeklampsia yang diderita oleh wanita dari keluarga mampu tetap saja bisa menjadi
berat dan membahayakan nyawa seperti halnya eklampsia yang diderita wanita didaerah
kumuh (Cunningham,dkk, 2005). Penelitian Zamli (2007) menyatakan bahwa dari 94
responden ditemukan ada hubungan status gizi ibu hamil dengan kejadian preeklampsia.
Hal ini dikaitkan dengan tingkat pendapatan yang rendah sehingga mereka tidak mampu
membeli makanan dengan gizi yang baik.
Penelitian William (2006) pola tidur (istirahat) sangat berpengaruh terhadap
peningkatan tekanan darah ibu hamil trimester kedua dan ketiga. Trimester ketiga terjadi
peningkatan tekanan darah tinggi sekitar 3,72 mmHg lebih tinggi pada ibu hamil dengan
pola tidur yang kurang dari 6 jam setiap malam.
aktivitas fisik sebanyak 420 menit per minggu atau lebih memiliki nilai OR sebesar 1,78 memiliki peningkatan risiko pereklampsia.
Wiknjosastro (2006) menyatakan bahwa pencegahan preeklampsia adalah pengetahuan yang diberikan berupa manfaat diet dan istirahat. Istirahat tidak berarti berbaring tetapi mengurangi pekerjaan sehari-hari dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring.
Menurut penelitian Cedergren (2007) diperoleh data dimana ibu hamil dengan
penambahan berat badan sebesar 5-7 kg semasa kehamilan terdapat 8% menderita
preeklampsia, peningkatan berat badan ibu hamil sebesar 7,5-12,5 kg terdapat 10%
menderita preeklampsia, penambahan berat badan sebesar 12,5-17,5 kg terdapat 12%
menderita preeklampsia dan berat badan ibu hamil dengan penambahan berat badan >17
kg terdapat 17% menderita preeklampsia. Menurut Luealon, et al (2010) risiko
preeklampsia bertambah seiring bertambahnya berat badan ibu sewaktu hamil, terdapat
16,3% kasus.
Studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di Poli Kebidanan RSUD
Rantauprapat kepada tiga orang ibu hamil yang mengalami preeklampsia. Dua ibu
berusia >35 tahun multigravida dan ibu yang satu berusia 27 tahun
primigravida.Pekerjaan sehari-harinya adalah ibu rumah tangga dan wiraswasta.Ketiga
ibu menyatakan tidak pernah melakukan senam hamil, olahraga dan juga jarang
berjalan kaki santai. Dua Ibu diantaranya mengatakan melakukan kegiatan rumah sperti
Data di atas memberikan gambaran bahwa masalah preeklamsia perlu mendapatkan perhatian dan penanganan yang baik, mengingat prevalensinya yang tinggi dan komplikasi yang cukup berat. Agar mendapatkan gambaran yang lebih tepat maka diperlukan penelitian untuk mengetahui faktor mana dari karakteristik (umur, paritas, pendapatan) aktifitas fisik dan penambahan berat badan tersebut yang paling berpengaruh terhadap kejadian preeklamsia.
Berdasarkan hasil survey pendahuluan yang dilakukan di RSUD Rantauprapat Labuhan batu, diperoleh data pada bulan Januari-April sebanyak 86 kasus, bulan Mei-Agustus sebanyak 99 kasus, bulan September-Desember sebanyak 101 kasus, total kasus preeklamsia-eklamsia sebanyak 286 di tahun 2015.
Berdasarkan hal uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh karakteristik, aktifitas fisik dan penambahan berat badan Ibu
hamil terhadap kejadian preeklamsia di RSUD Rantau prapat tahun 2016.
1.2Permasalahan
1.3Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh karakteristik (umur, paritas, pendapatan), aktifitas fisik dan penambahan berat badan ibu hamil terhadap kejadian preeklamsia di RSUD Rantau Prapat Tahun 2016.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui pengaruh umur terhadap kejadian preeklamsia di RSUD Rantau Prapat Tahun 2016.
2. Mengetahui pengaruh paritas terhadap kejadian preeklamsia di RSUD Rantau Prapat Tahun 2016.
3. Mengetahui pengaruh pendapatan terhadap kejadian preeklamsia di RSUD Rantau Prapat Tahun 2016.
4. Mengetahui pengaruh aktifitas fisik trehadap kejadian preeklamsia di RSUD Rantau Prapat Tahun 2016.
1.4 Hipotesis
1. Ada pengaruh umur terhadap kejadian preeklamsia di RSUD Rantau Prapat Tahun 2016.
2. Ada pengaruh paritas terhadap kejadian preeklamsia di RSUD Rantau Prapat Tahun 2016.
3. Ada pengaruh pendapatan terhadap kejadian preeklamsia di RSUD Rantau Prapat Tahun 2016.
4. Ada pengaruh aktifitas fisik terhadap kejadian preeklamsia di RSUD Rantau Prapat Tahun 2016.
5. Ada pengaruh penambahan berat badan terhadap kejadian preeklamsia di RSUD Rantau Prapat Tahun 2016.
1.5. Manfaat Penelitian
1. Bagi RSUD Rantau Prapat dapat menjadi masukan bagi pihak rumah sakit dalam dalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak khususnya preeklamsi dan dapat memberikan pendidikan kesehatan tentang faktor resiko selama kehamilan sehingga dapat mencegah terjadinya preeklamsia.