• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOORPERATIF. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOORPERATIF. docx"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. JUDUL

Pada Penelitian ini penulis mengambil judul : “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Learning Together (LT) Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XI SMA PGRI 1 Tulungagung Tahun Ajaran 2015/2016 Pada Pokok Bahasan Trigonometri”.

B. MASALAH

1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan media yang sangat berperan untuk menciptakan manusia yang berkualitas dan berpotensi dalam arti yang seluas-luasnya, melalui pendidikan akan terjadi proses pendewasaan diri sehingga di dalam proses pengambilan keputusan terhadap suatu masalah yang dihadapi selalu disertai dengan rasa tanggung jawab yang besar.

Matematika sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah dinilai cukup memegang peranan penting dalam membentuk siswa menjadi berkualitas, karena matematika merupakan suatu sarana berpikir untuk mengkaji sesuatu secara logis dan sistematis. Oleh karena itu, maka perlu adanya peningkatan mutu pendidikan matematika.

(2)

Kenyataan yang terjadi adalah penguasaan siswa terhadap materi matematika masih tergolong rendah jika dibanding dengan mata pelajaran lain.

Kondisi seperti ini terjadi pula pada SMA PGRI 1 Tulungagung. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan guru matematika yang mengajar di kelas XI bahwa penguasaan materi matematika oleh siswa masih tergolong rendah. Salah satu materi matematika yang penguasaan siswa rendah adalah pada pokok bahasan Trigonometri, di mana pada materi tersebut banyak siswa yang belum bisa menentukan cara yang mudah dalam menyelesaikan suatu persoalan Trigonometri, siswa juga kurang bisa menyatakan suatu bentuk persamaan trigonometri. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar dari ulangan harian matematika bab trigonometri hanya sebesar 5,0 pada tahun ajaran 2013/2014, kemudian pada tahun ajaran 2014/2015 rata-rata hasil belajar dari ulangan matematika bab trigonometri hanya menunjukkan angka 5,25 , pada tahun ajaran 2015/2016-pun rat-rata hasil ujiannyapun hanya menunjukkan angka 5,50. Meskipun jika dilihat hail tersebut selalu menunjukkan kenaikan dari tahun ke tahun tetapi kenaikaannya masih rendah serta nilai rata-rata masih dibawah KKM.

(3)

konsep matematika tetapi juga dibutuhkan suatu pemahaman serta kemampuan menyelesaikan persoalan matematika dengan baik dan benar. Melalui model pembelajaran ini siswa dapat mengemukakan pemikirannya, saling bertukar pendapat, saling bekerja sama jika ada teman dalam kelompoknya yang mengalami kesulitan. Hal ini dapat meningkatkan motivasi siswa untuk mengkaji dan menguasai materi pelajaran matematika sehingga nantinya akan meningkatkan prestasi belajar matematika siswa. Model pembelajaran kooperatif terdiri dari empat pendekatan yaitu: STAD (Student Teams Achievement Division), Jigsaw, IK (Investigasi Kelompok), dan pendekatan struktural. Pendekatan struktural terdiri dari beberapa tipe yaitu tipe Think Pair Share, tipe Numbered Heads Together (NHT) serta tipe Learning Together (LT).

Melihat penguasaan siswa terhadap materi matematika khususnya Trigonometri masih kurang, maka dalam penelitian ini model pembelajaran yang dipilih adalah model pembelajaran kooperatif tipe LT (Learning Together) karena pada model pembelajaran ini siswa menempati posisi sangat dominan dalam proses pembelajaran dan terjadinya kerja sama dalam kelompok dengan ciri utamanya adanya pengelompokan siswa yang dipilih secara acak (heterogen) oleh guru sehingga semua siswa dapat bekerja sama tanpa pilih-pilih teman serta berusaha untuk memahami setiap materi yang diajarkan dan bertanggung jawab kelompoknya masing-masing. Dengan pemilihan model pembelajaran ini, diharapkan proses pembelajaran yang terjadi dapat lebih bermakna dan memberi kesan yang kuat kepada siswa.

Berdasarkan pemikiran di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan suatu penelitian yang berjudul “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Learning Together (LT) Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XI SMA PGRI 1 Tulungagung Tahun Ajaran 2015/2016 Pada Pokok Bahasan Trigonometri”.

2. Identifikasi Masalah

(4)

a. Apakah Peserta didik kurang antusias untuk belajar dan lebih cenderung menerima apa saja yang disampaikan oleh guru ?

b. Apakah Guru masih menggunakan Model pembelajaran yang bersifat konvensional ?

c.

Apakah model pembelajaran dapat mempengaruhi minat belajar siswa?

d.

Apakah model pembelajaran Learning Together berpengaruh terhadap hasil belajar siswa?

3. Pembatasan masalah

Berdasakan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka batasan masalah dalam penelitian ini adalah:

a. Minat belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran Learning Together pada siswa kelas XI SMA PGRI 1 Tulungagung Tahun Ajaran 2015/2016 pada bab Trigonometri.

b. Hasil belajar matematika dengan penerapan model pembelajaran Learning Together pada siswa kelas XI SMA PGRI 1 Tulungagung Tahun Ajaran 2015/2016 pada bab Trigonometri.

c. Pengaruh penerapan model pembelajaran Learning Together pada siswa kelas XI SMA PGRI 1 Tulungagung Tahun Ajaran 2015/2016 pada bab Trigonometri.

4. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut :

a. Apakah ada minat belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran Learning Together pada siswa kelas XI SMA PGRI 1 Tulungagung Tahun Ajaran 2015/2016 pada bab Trigonometri ?

(5)

c. Apakah terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran Learning Together (LT) dalam meningkatkan hasil belajar siswa di SMA PGRI 1 Tulungagung Kelas XI Semester 1 tahun Ajaran 2015/2016 ?

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

a. Ada minat belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran

Learning Together pada siswa kelas XI SMA PGRI 1 Tulungagung Tahun Ajaran 2015/2016 pada bab Trigonometri.

b. Ada peningkatan hasil belajar siswa pada Trigonometri di SMA PGRI 1 Tulungagung Kelas XI Semester I Tahun Ajaran 2015/2016 dengan penerapan Model Pembelajaran Learning Together (LT).

c. Melalui penggunaan model pembelajaran Learning Together dapat mempengaruhi peningkatan hasil belajar siswa kelas XI Semester 1 di SMA PGRI 1 Tulungagung Tahun Ajaran 2015/2016.

D. MANFAAT PENELITIAN

Berdasarkan tujuan penelitian yang hendak di capai, maka penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat atau kegunaan dalam pendidikan baik secara langsung maupun tidak. Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Manfaat Teoritis

Secara teoritis hasil penelitian ini di harapkan mampu memberikan sumbangan kepada pembelajaran matematika, terutama terhadap peningkatan hasil belajar matematika siswa pada bab Trigonometri. Serta secara khusus penelitian ini memberikan kontribusi pada strategi pembelajaran matematika yang berupa pergeseran dari pembelajaran yang tidak hanya mementingkan hasil menuju pembelajaran tetapi juga mementingkan prosesnya.

(6)

- Memberi masukan kepada guru dalam menentukan strategi mengajar yang tepat, yang dapat menjadi alternatif lain dalam mata pelajaran matematika.

- Memberi sumbangan informasi untuk meningkatkan mutu pendidikan di Sekolah Menengah.

- Memberi masukan kepada siswa untuk meningkatkan kreativitas belajarnya, megoptimalkan kemampuan berfikir positif dalam mengembangkan diri di tengah – tengah lingkungan dalam meraih keberhasilan belajar.

(7)

BAB II

DESKRIPSI TEORITIS

A.HAKIKAT DARI VARIABEL Y

1. Pengertian Belajar

Sebagian besar ahli berpendapat bahwa belajar adalah merupakan proses perubahan, dimana perubahan tersebut merupakan hasil dari pengalaman. Dengan pengembangan tekhnologi informasi, belajar tidak hanya diartikan sebagai suatu tindakan terpisah dari kehidupan manusia. Banyak ilmuwan yang mengatakan belajar menurut sudut pandang mereka.

Beberapa definisi belajar sebagai suatu perubahan menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut.

- Menurut Suharsimi Arikunto (1980:19) mengartikan bahwa belajar merupakan suatu proses karena adanya usaha untuk mengadakan perubahan terhadap diri manusia yang melakukan, dengan maksud memperoleh perubahan dalam dirinya, baik berupa pengetahuan, ketrampilan maupun sikap.

(8)

suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam lingkungannya.

Berdasarkan definisi-definisi tersebut batasan-batasan belajar dapat disimpulkan sebagai berikut :

- Suatu aktivitas atau usaha yang disengaja

- Perubahan-perubahan itu meliputi perubahan keterampilan jasmani, kecepatan perseptual, isi ingatan, abilitas berpikir, sikap terhadap nilainilai dan inhibisi serta lain-lain fungsi jiwa (perubahan yang berkenaan dengan aspek psikis dan fisik)

2. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Kingsley (dalam Sudjana, 2001:22) membagi tiga macam hasil belajar, yaitu : (1) keterampilan dan kebiasaan; (2) pengetahuan dan pengertian; (3) sikap dan cita-cita yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ada pada kurikulum sekolah.

Beberapa ciri untuk melihat hasil belajar yang diperoleh siswa setelah melakukan proses belajar adalah sebagai berikut:

- Siswa dapat mengingat fakta, prinsip, konsep yang telah dipelajarinya dalam kurun waktu yang cukup lama.

- Siswa dapat memberikan contoh dari konsep dan prinsip yang telah dipelajarinya.

- Siswa dapat mengaplikasikan atau menggunakan konsep dan prinsip yang telah dipelajarinya.

(9)

- Siswa terampil mengadakan hubungan sosial seperti kerja sama dengan siswa lain, berkomunikasi dengan orang lain, dan lain-lain.

- Siswa memperoleh kepercayaan diri bahwa ia mempunyai kemampuan dan kesanggupan melakukan tugas belajar.

3. Pengertian matematika

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia matematika diartikan sebagai: “ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur bilangan operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan” (Tim Penyusun KBBI, 2007:723). Sedangkan menurut Djati Kerami dan Sitanggang (2003:158) mengartikan matematika adalah: “pengkajian logis mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berkaitan “.

Matematika dikelompokan kedalam tiga bidang, yakni:

- Aljabar, pada dasarnya aljabar melibatkan bilangan dan pengabstrakannya.

- Analisis, melibatkan kekontinuan dan limit.

- Geometri, membahas bentuk-bentuk dan konsep-konsep yang berkaitan (Djati Kerami dan Sitanggang, 2003:158).

B. HAKIKAT DARI VARIABEL X

1. Model Pembelajaran

(10)

approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

Pembelajaran atau pengajaran menurut Daeng (Uno, 2006: 134- 135) adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Secara implisit dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode untuk mencapa hasil pembelajaran yang memliki hakikat perencanaan atau perancangan sebagai upaya untuk membelajarkan siswa. Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpilan bahwa pembelajaran merupakan suatu interaksi peserta didik dengan pendidik dengan menggunakan media pembelajaran.

Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran adalah pola yang menggambarkan urutan alur tahap–tahap keseluruhan yang pada umumnya disertai dengan serangkaian kegiatan pembelajaran. Sintaks dari suatu model pembelajaran tertentu menunjukkan dengan jelas kegiatan–kegiatan apa yang harus dilakukan guru atau siswa.

2. Model Pembelajaran Kooperatif

a. Pengertian pembelajaran kooperatif

Dalam kegiatan belajar mengajar guru dapat menerapkan beberapa model pembelajaran sesuai dengan kondisi kelas dan materi yang diajarkan. Model Pembelajaran yang efektif untuk diterapkan di kelas adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif atau Cooperative Learning mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam satu kelompok kecil, saling membantu dalam belajar. Dalam Pembelajaran kooperatif siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda satu sama lain.

(11)

kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar”.

Sedangkan Abdurrahman dan Bintoro (2000:78) mengatakan bahwa: “pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata”.

Dari penjelasan para ahli di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa pembelajar kooperatif adalah pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar guna mencapai tujuan belajar yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata.

b. Unsur-unsur pembelajaran kooperatif

Selanjutnya Nurhadi dkk. (2004:61-62) menyebutkan unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:

a. Saling ketergatungan positif, Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Hubungan yang saling membutuhkan inilah yang dimaksud dengan saling ketergantungan positif.

(12)

c. Akuntabilitas individual, Pembelajaran kooperatif menampilkakan wujudnya dalam belajar kelompok. Meskipun demikian, penilaian ditunjukkan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual.

d. Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi, Dalam pembelajaran kooperatif keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri, dan berbagai sifat lain yang bermafaat dalam menjalin hubungan antar pribadi (interpersonal relationshi) tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan.

c. Peran guru dalam pembelajaran kooperatif

Masih menurut pendapat Nurhadi dkk. (2004:68-72) pembelajaran kooperatif menuntut guru untuk berperan aktif berbeda dari pembelajaran tradisional. Berbagai peran guru dalam pembelajaran kooperatif tersebut dikemukakan sebagai berikut ini :

- Merumuskan tujuan pembelajaran.

- Menentukan jumlah anggota dalam kelompok belajar. - Menentukan tempat duduk siswa.

- Merancang bahan untuk meningkatkan saling ketergantungan positif.

- Menentukan peran siswa untuk menunjang saling ketergantungan positif.

- Menjelaskan tugas akademik.

(13)

- Menyusun kerja sama antar kelompok.

- Melakukan intervensi untuk mengajarkan keterampilan bekerja sama.

- Menutup pelajaran.

- Menilai kualitas pekerjaan atau hasil belajar siswa. - Menilai kualitas kerja sama antar anggota kelompok. d. Model Pembelajaran Learning Together

Slavin (2008) mengungkapkan bahwa David dan Roger Johnson dari Universitas Minnesota mengembangkan model Learning Together dari pembelajaran kooperatif (Jhonson and Jhonson 1987; Jhonson dan Jhonson & Smith, 1991). Model yang mereka teliti melibatkan siswa yang dibagi dalam kelompok yang terdiri atas empat atau lima siswa dengan latar belakang berbeda mengerjakan lembar tugas. Kelompok-kelompok ini menerima satu lembar tugas, menerima pujian dan penghargaan berdasarkan hasil kerja kelompok. Model ini menekankan pada empat unsur yakni :

- Interaksi tatap muka : para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan empat sampai lima siswa.

- Interdependensi positif : para siswa bekerja bersama untuk mencapai tujuan kelompok.

- Tanggung jawab individual : para siswa harus memperlihatkan bahwa mereka secara individual telah menguasai materinya.

(14)

jawab individual metode-metode Johnson ini sama dengan STAD. Akan tetapi, mereka juga menyoroti perihal pembangunan kelompok dan menilai sendiri kinerja kelompok, dan merekomendasikan penggunaan penilaian tim ketimbang pemberian sertifikat atau bentuk rekognisi lainnya (Slavin, 2008).

Pada pembelajaran kooperatif tipe LT setiap kelompok diharapkan bisa membangun dan menilai sendiri kinerja kelompok mereka. Masing-masing kelompok harus bisa memperlihatkan bahwa kelompok mereka adalah kelompok yang kompak baik dalam hal diskusi maupun dalam hal mengerjakan soal, setiap anggota kelompok harus bertanggung jawab atas hasil yang mereka peroleh. Jika hasil tersebut belum maksimal atau lebih rendah dari kelompok lain maka mereka harus meningkatkan kinerja kelompoknya.

Adapun sintaks dari Learning Together (LT) adalah:  Guru menyajikan pelajaran.

 Membentuk kelompok yang anggotanya 4 sampai 5 siswa secara heterogen

(campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku dan lain-lain).

 Masing-masing kelompok menerima lembar tugas untuk bahan diskusi dan menyelesaikannya.

 Beberapa kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya.

 Pemberian pujian dan penghargaan berdasarkan hasil kerja kelompok. Bentuk penghargaan yang diberikan kepada kelompok didasarkan pada pembelajaran individual semua anggota kelompok, sehingga dapat meningkatkan pencapaian siswa dan memiliki pengaruh positif pada hasil yang dikeluarkan (Slavin, 2008).

C.KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

1. Hubungan Antara Variabel X dengan Y

(15)

Rooijakkers (1991 : 14) merupakan faktor internal yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Salah satu cara untuk menumbuhkan motivasi adalah dengan model pembelajaran yang bervariatif dan tidak monoton. Model pembelajaran Learning Together adalah salah satu model pembelajaran yang bercirikan kerjasama antar siswa, berpikir, dan tanggung jawab sehingga siswa akan termotivasi untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Dan pada akhirnya hasil belajar siswa pun akan meningkat.

D. HIPOTESIS PENELITIAN

Berdasarkan pemaparan di atas, maka penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut:

a. Hipotesis kerja H1

Terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran Learnig Together dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas XI SMA PGRI 1 Tulungagung Tahun Ajaran 2015/2016 pada pokok bahasan Trigonometri.

b. Hipotesis Nihil H0

(16)

BAB III

METODE PENELITIAN, TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN, ANALISIS DATA

A. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN

Penulis memilih subyek penelitian ini adalah siswa SMA PGRI 1 Tulungagung, sedangkan waktu penelitian direncanakan akan dilaksanakan selama 1 bulan yakni dari pertengahan Juli hingga pertengahan Agustus 2016.

1. Populasi dan Sampel a. Populasi

Populasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA PGRI 1 Tulungagung Tahun Ajaran 2015/2016 yang memiliki tiga jurusan yaitu XI IPA dengan jumlah kelas sebanyak 4 Kelas yaitu kelas A-D dan setiap kelas berisi 40 siswa sehingga jumlah seluruh siswa kelas XI IPA yaitu sebanyak 160 siswa, untuk XI IPS dengan jumlah kelas sebanyak 4 Kelas yaitu A-D dengan jumlah siswa setiap kelas yaitu 40 siswa sehingga jumlah seluruh siswa kelas XI IPS yaitu 160 siswa, kemudian untuk XI Bahasa dengan jumlah kelas sebanyak 2 kelas yaitu A-B untuk setiap kelas juga berisi 40 siswa sehingga jumlah seluruh siswa kelas XI Bahasa yaitu 80 siswa. Demikian populasi dalam penelitian ini berjumlah sebanyak 400 siswa.

(17)

Dengan populasi dalam penelitian ini berjumlah sebanyak 400 siswa dan ini berarti subyeknya lebih dari 100, maka peneliti menggunakan teknik Random Sampling (Pengambilan Acak). Keputusan ini berdasarkan apa yang dikemukakan oleh Arikunto (1996:120) bahwa, “Apabila subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua hingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-15 %, atau 20-25% atau lebih”.

Pengambilan dilakukan secara random (acak), karena setiap kelas mempunyai karakteristik yang sama. Sampel diambil sebanyak 3 kelas, dengan cara membuat gulungan kertas sebanyak kelas dalam populasi. Dua kelas yaitu kelas XI IPA A dan XI IPA C sebagai kelas eksperimen dengan menggunakan pembelajaran Learning Together (LT) dan satu kelas lagi yaitu kelas XI Bahasa B sebagai kelas kontrol menggunakan model pembelajaran langsung.

B. METODE PENELITIAN

Berdasarkan tujuan penelitian yang ingin dicapai yaitu untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran Learning Together (LT) dalam meningkatkan hasil belajar matematika khususnya pada pokok bahasan Trigonometri, maka dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode eksperimen dengan cara membandingkan hasil belajar kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol.

(18)

arti pembelajarannya menggunakan metode tradisional dan hanya mendapatkan post tes.

C. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Penerapan model pembelajaran Learning Together dalam penelitian ini membutuhkan data-data yang dapat dianalisis sehingga dapat ditarik kesimpulan yang akurat dari hasil eksperimen yang dilakukan. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode :

1. Tes

Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Suharsimi Arikunto, 1996:150). Tes ini digunakan untuk mendapatkan hasil data pembelajaran matematika siswa sesudah diberikan perlakuan pada pokok bahasan Trigonometri. Tes yang digunakan berupa tes obyektif.

2. Metode Dokumentasi

(19)

3. Metode Observasi

Metode ini digunakan untuk mendapatkan informasi pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran Learning Together dilaksanakan.

D. TEKNIK ANALISIS DATA

Dalam menganalisis data ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:

a. Analisis Uji Instrumen Penelitian

Dalam analisis uji coba tes langkah-langkah yang ditempuh adalah:

1) Analisis Validitas Tes

Analisis validitas tes digunakan untuk mengetahui apakah butir soal sebagai instrumen penelitian valid atau tidak valid. Untuk menghitung koefisien validitasnya, peneliti menggunakan rumus korelasi product moment sebagai berikut:

Rumus 1 : Dengan nilai Simpangan

r

xy

=

xy

(

x

2

)(

y

2

)

Keterangan :

x

=

X

X

y=Y

−Y

X

=

skor rata

ratadari X

Y

=

skor rata

rata dari Y

Rumus 2 : Dengan angka kasar

r

xy

=

N

XY

(

X

)

(

Y

)

{

N

X

2

(

X

2

)

}

{

N

Y

2

(

Y

2

)

}

(20)

N

=

Banyak siswa peserta tes

X

=

skor rata

ratadari X

Y

=

skor rata

rata dari Y

Dari nilai rxy yang diperoleh tersebut kemudian dibandingkan dengan tabel harga kritis produk moment. Butir Soal dikatakan

valid jika rhitung ≤ rtabel.

2) Analisis Reabilitas Tes

Reliabel artinya dapat dipercaya sehingga dapat diandalkan. Menurut Arikunto Reabilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa sesuatu Instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena Instrumen tersebut sudah cukup baik (2010:221). Dalam penelitian ini, tehnik analisis reabilitas yang digunakan yaitu tehnik belah dua oleh Rulon dengan Rumus :

r11=1−Vd Vt

Untuk mencari

V

d atau S2d

dengan rumus :

Vd=

d2−

(

d

)

2

N N

Keterangan : r11=reabilitasinstrumen

V

t

=

var

ianstotal atau

var

ians skor total

V

d

=

var

ians

(21)

Dari nilai r11 yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan nilai tabel r

Product Moment. Instrumen dikatakan reliabel jika

r

hitung

r

tabel .

b. Analisis Uji Data Hasil Penelitian

1. Uji Prasyarat Analisis

Uji prasyarat analisis bertujuan untuk mengetahui normalitas dan homogenitasnya sebelum data tersebut dianalisis dengan menggunakan rumus uji komparasi atau uji-t.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas ini digunakan untuk menguji apakah data berdistribusi normal atau tidak (Budiyono, 2004:168). Uji normalitas ini diberikan kepada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol setelah diberikan pos tes. Peneliti menggukan statistik uji chi kuadrat untuk menghitung normalitas penelitian ini. Rumus statistic uji Chi-Kuadrat :

χ2=

i=1

k

(

o ijeij

)

2

eij ~χ

2

(

k3

)

Untuk mencari

e

ij dengan rumus :

eij=

(

Ni..Nj.

)

N. .

Nilai

e

ij diperoleh dari tabel Kontingensi 2 arah.

Keterangan :

χ

2

=

Chi

Kuadrat

O

ij

=

Frekuensi yang diperolehberdasarkan data

E

ij

=

Frekuensi yang diharapkan

(22)

χ2 hitung yang telah diperoleh dari hasil perhitungan selanjutnya

dibandingkan dengan χ2 tabel dengan derajat kebebasan dk = K – 3 dan taraf signifikansi α = 5%. Data dikatakan normal apabila

χ2hitung < χ2tabel.

Tabel 1. Tabel Kontingensi 2 arah Variabel

1

Variabel 2 Total

Y1 Y2 Yk

X1 O11 O12 … O1k N1.

… …. … …

Xm Om11 Om2 … Omk Nm.

Total N.1 N.2 N.k N..

b. Uji Homogenitas.

Uji homogenitas ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah varians populasi homogen atau tidak. Peneliti melakukan pengujian dengan uji Fisher (uji F). Rumus Statistik uji-F :

Fο=MKk

MKd~dengan F(nb−1,nk−1)

Keterangan :

F

ο

=

Homogenitas yang dicari

MK

k

=

Mean kuadrat kelompok

MK

d

=

Mean kuadrat dalam

(23)

Dikatakan kelompok ekperimen dan kelompok kontrol berasal dari populasi yang memiliki variansi yang relative sama apabila

Fhitung < Ftabel .

2. Pengujian Hipotesis

Setelah melakukan uji normalitas dan uji homogenitas, maka langkah berikutnya adalah melakukan analisis uji-t untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran Learning Together terhadap hasil belajar matematika siswa. Peneliti menggunakan uji statistik uji-t untuk satu pihak (pihak kanan).

Hipotesis yang akan diujikan adalah:

H

0

:

μ

1

μ

2 Nilai rata-rata kelompok eksperimen lebih rendah dari

pada nilai rata-rata kelompok kontrol.

H1:μ1>μ2 Nilai rata-rata kelompok ekperimen lebih tinggi dari pada

nilai rata-rata kelompok kontrol. Dengan Tingkat Kesalahan (α) = 5% Keterangan :

H0 = Tidak terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran Learning

Togeter dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas XI SMA PGRI 1 Tulungagung Tahun Ajaran 2015/2016 pada pokok bahasan Trigonometri.

H1 = Terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran Learning

Togeter

dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas XI SMA PGRI 1 Tulungagung Tahun Ajaran 2015/2016 pada pokok bahasan Trigonometri.

(24)

t=

(

X1−X2

)

d0

Sp

1 n1+

1

n2

db=n1+n2−2

Dengan

S

p2=

(

n1−1

)

.S

12+

(

n2−1

)

.S22

n1+n2−2

Keterangan :

t

=

Statistik Uji

X

1

=

Mean Kelompok Eksperimen

X

2

=

Mean Kelompok Kontrol

n1=Jumlah Anggota Kelompok Eksperimen

n2=Jumlah Anggota Kelompok Kontrol

S

12=Standar Deviasi Kelompok Eksperimen

S

22=Standar Deviasi Kelompok Kontrol

Sp=Variansi Gabungan

d0=0(sebab tidak membicarakan selisihrataan) (Budiono, 2004:151)

Hasil yang diperoleh dari thitung selanjutnya dibandingkan dengan ttabel yang memiliki derajat kebebasan dk = N1 + N2 - 2 dan taraf signifikansi α = 5%. Dalam hal ini tolak hipotesis nol

(25)

3. Statistik Hipotesis Penelitian (Secara Matematika)

Hipotesis statistik yang diajukan adalah sebagai berikut:

Ho : μ1 ≤ μ2 : nilai rata-rata kelompok eksperimen lebih rendah dari pada nilai

rata kelompok kontrol.

H1 : μ1 > μ2 : nilai rata-rata kelompok ekperimen lebih tinggi dari pada nilai

rata kelompok kontrol.

α = 5% Keterangan:

H0 = Tidak terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran penerapan

model pembelajaran Learning Together dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas XI SMA PGRI 1 Tulungagung Tahun

Ajaran 2015/2016 pada pokok bahasan Trigonometri.

H1 = Terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran penerapan model

pembelajaran Learning Together dalam meningkatkan hasil belajar

matematika siswa kelas XI SMA PGRI 1 Tulungagung Tahun Ajaran 2015/2016 pada pokok bahasan Trigonometri.

E. INDIKATOR KEBERHASILAN

(26)

Referensi

Dokumen terkait

Tahapan terakhir dari proses isolasi nanoserat selulosa adalah proses sentrifugasi dengan kecepatan 8400 rpm selama 10 menit untuk memisahkan residu dari filtratnya, yang

Sehubungan dengan telah dilakukannya evaluasi administrasi, teknis dan kewajaran harga serta formulir isian Dokumen Kualifikasi untuk penawaran paket pekerjaan tersebut diatas,

Hal ini karena Allah hanya menjadikannya bagi orang-orang yang memohon ampun bagi mereka (yakni para Sahabat), dari orang-orang yang datang setelah mereka.” Ibu Katsir

Kajian dan pengertian kecelakaan darurat, dikembangkan menjadi pengembangan strategis yang diwujudkan dalam bentuk pengembangan Prosedur Manajemen Kecelakaan (PMK) serta

Skripsi yang berjudul Pengaruh Pembiayaan Bank Riau Syariah (BPD Riau) Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Riau (Tinjauan Laporan Ekonomi Makro Provinsi Tahun

Dibuat oleh : Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen tanpa ijin tertulis dari Fakultas Ilmu Pendidikan1. Universitas

Murid menyalin ayat dengan cara yang betul dari segi ketepatan huruf, huruf besar atau huruf kecil, tanda bacaan, jarak antara perkataan

Untuk mengatasi masalah tersebut, penulis memberikan saran yang mungkin dapat berguna bagi perusahaan, diantaranya perusahaan hendaknya mengoptimalkan karyawan yang