• Tidak ada hasil yang ditemukan

laporan keuangan perbankan syariah id

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "laporan keuangan perbankan syariah id"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

MANAJEMEN PERBANKAN SYARIAH “MENGENAL LAPORAN PERBANKAN SYARIAH”

Diajukan

Untuk memenuhi salah satu tugas pada Mata Kuliah Manajemen Perbankan Syariah

Disusun Oleh:

Ine Rachmawaty 1128020036

Manajemen A/ 7

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG JL.A.H. NASUTION NO.105 BANDUNG 401614 TELP. 022-7800525

(2)

MENGENAL LAPORAN PERBANKAN SYARIAH

A. Mengenal PSAK Bank Syariah

1. Pengertian Standar Akuntansi Keuangan

Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah suatu kerangka dalam prosedur pembuatan laporan keuangan agar terjadi keseragaman dalam penyajian laporan keuangan. Standar Akuntansi Keuangan (SAK) merupakan hasil perumusan Komite Prinsipil Akuntansi Indonesia pada tahun 1994 menggantikan Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) tahun 1984. Standar Akuntansi di Indonesia merupakan terapan dari beberapa standard akuntansi yang ada seperti:

 IAS (International Accounting Standards)

 IFRS ( International Financial Reporting Standards)  GAAP (Generally Accepted Accounting Principles)  ETAP (Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik)

 PSAK syariah dan juga SAP ( Standar Akuntansi Pemerintahan)

Selain untuk keseragaman laporan keuangan, Standar akuntansi juga diperlukan untuk memudahkan penyusunan laporan keuangan, memudahkan auditor serta memudahkan pembaca laporan keuangan untuk menginterpretasikan dan

membandingkan laporan keuangan entitas yang berbeda. PSAK-IFRS, SAK ETAP ditetapkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia. PSAK Syariah diterbitkan oleh Dewan Akuntansi Syariah sedangkan SAP oleh Komite Standar Akuntansi Pemerintah.

2. Sejarah Standar Akuntansi Syariah yang Berlaku di Indonesia

Terhitung Sejak 1992-2002 atau 10 tahun lembaga keuangan baik bank syariah maupun entitas syariah yang lain tidak memiliki PSAK khusus yang mengatur transaksi dan kegiatan berbasis syariah. PSAK 59 sebagai produk pertama DSAK – IAI untuk entitas syariah perlu diajungkan jempol dan merupakan awal dari

pengakuan dan eksistensi keberadaan akuntansi syariah di Indonesia. PSAK ini disahkan tanggal 1 Mei 2002, berlaku mulai 1 Januari 2003 atau pembukuan yang berakhir tahun 2003 . hanya berlaku hanya dalam tempo 5 tahun.

(3)

lain maka komite akuntansi syariah dewan standar akuntasi keuangan (KAS DSAK) menerbitkan enam pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) bagi seluruh lembaga keuangan syariah (LKS) yang disahkan tanggal 27 Juni 2007 dan berlaku mulai tanggal 1 Januari 2008 atau pembukuan tahun yang berakhir tahun 2008.

Keenam PSAK itu adalah PSAK No 101 tentang penyajian laporan keuangan syariah, PSAK No 102 tentang akuntansi Murabahah (Jual beli), PSAK No 103 tentang Akuntansi Salam, PSAK No 104 tentang Akuntansi Isthisna, PSAK No 105 tentang Akuntansi Mudarabah (Bagi hasil), dan PSAK No 106 tentang Akuntansi Musyarakah (Kemitraan).

Keenam PSAK merupakan standar akuntansi yang mengatur seluruh transaksi keuangan syariah dari berbagai LKS. Dalam penyusunaan keenam PSAK, KAS DSAK mendasarkan pada pernyataan akuntansi perbankan syariah indonesia (PAPSI) Bank Indonesia. Selain itu, penyusunan keenam PSAK juga mendasarkan pada sejumlah fatwa akad keuangan syariah yang diterbitkan oleh dewan syariah nasional majelis ulama indonesia (DSN MUI).

3. PSAK Syariah

PSAK Syariah digunakan oleh entitas yang melakukan transaksi syariah baik entitas lembaga syariah maupun lembaga non syariah. Dalam PSAK Syariah ini pengembangan dilakukan dengan model PSAK umum namun psak ini berbasis syariah dengan acuan fatwa MUI. PSAK Syariah berada dalam PSAK 100-106 yang terdiri dari :

a. Kerangka Konseptual

b. Penyajian Laporan Keuangan Syariah c. Akuntansi Murabahah

d. Musyarakah e. Mudharabah f. Salam g. Istishna

4. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 101-109

1. PSAK 101 - Penyajian Laporan Keuangan Syariah

PSAK No. 101 ini berfungsi untuk mengatur penyajian dan pengungkapan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statements) untuk entitas syariah yang selanjutnya disebut “laporan keuangan”.

Pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan transaksi dan peristiwa tertentu diatur dalam Pernyatan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK).

(4)

Murabahah merupakan akad penyediaan barang berdasarkan prinsip jual beli, dimana bank membelikan kebutuhan barang nasabah (investasi/modal kerja) dan bank menjual kembali kepada nasabah ditambah dengan keuntungan yang disepakati.

 Rukun Murabahah :

1) Subjek (penjual dan pembeli), 2) Objek, dan

3) Akad (shighat).  Syarat Murabahah :

1) Penjual memberitahu biaya modal kepada nasabah,

2) Kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun yang diterapkan, 3) Kontrak harus bebas dari riba,

4) Penjual harus menjelaskan kepada pembeli bila terjadi cacat atas barang sesudah pembelian, dan

5) Penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya bila pembelian dilakukan secara hutang Dalam akuntansi murabahah terdapat prinsip persaudaraan (ukhuwah) yang esensi nya mempunyai semangat saling tolong menolong dan tidak boleh mendapat keuntungan diatas kerugian orang lain.

3. PSAK 103 - Akuntansi Salam

Salamadalah akad pembelian suatu hasil produksi (komoditi) untuk pengiriman yang ditangguhkan dengan pembayaran segera sesuai dengan persyaratan tertentu atau penjualan suatu komoditi untuk pengiriman yang ditangguhkan dengan pembayaran segera/di muka.

Salam adalah akad jual beli barang pesanan (muslam fiih) dengan pengiriman di kemudian hari oleh penjual (muslam illaihi) dan

pelunasannya dilakukan oleh pembeli pada saat akad disepakati sesuai dengan syarat-syarat tertentu.

 Rukun Salam :

1) Subjek : muslam (pembeli) dan muslam ilaih (penjual) 2) Akad (shighat)

3) Ma'qud alaih meliputi dua hal yaitu modal/harga dan muslam fiih -(barang yang dipesan)

 Syarat Salam :

(5)

2) Muslam fiih (barang yang dipesan) : harus jelas jenis, ciri-cirinya, kualitas dan kuantitasnya.

Contoh, seorang pebisnis tepatnya petani sayuran organik

membutuhkan dana untuk membeli peralatan budidaya, namun masa panen yang dinanti untuk menghasilkan uang pembeli peralatan masih akan memakan waktu satu bulan ke depan. Nah, pebisnis tersebut bisa saja meminjam sejumlah dana ke bank dengan meminta kepada bank syariah untuk membeli hasil panen yang akan datang yang kemudian bank akan menjualnya kembali kepada petani tersebut dengan cicilan yang disepakati dalam jangka waktu tertentu. Untuk ini bank syariah akan menerapkan persentase keuntungan tertentu sesuai kesepakatan. Namun pada pembiayaan salam ini pada dasarnya bank dapat

(6)

Istishna’ adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan dan penjual. Selain itu ada juga istishna paralel, yaitu suatu bentuk akad istishna antara pemesan dan penjual kemudian untuk memenuhi kewajibannya kepada penjual, penjual memerlukan pihak lain sebagai pembeli.

Berdasarkan akad istishna’, pembeli menugaskan penjual untuk menyediakan barang pesanan (mashnu’) sesuai spesifikasi yang

disyaratkan untuk diserahkan kepada pembeli, dengan cara pembayaran di muka atau tangguh.

Spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati oleh pembeli dan penjual di awal akad. Ketentuan harga barang pesanan tiak dapat berubah selama jangka waktu akad.

a. Akuntansi penjual

Segmentasi akad jika proposal terpisah untuk setiap asset, dinegosiasikan terpisah untuk setiap aset, dan biaya serta pendapatan tiap asset bisa di identifikasi. Penyatuan akad jika dinegosiasika sebagai satu paket, asset berhubungan erat sekali, dan

dilakukan serentak (berkesinambungan).

Pendapatan : metode persentase penyelesaian dan metode akad selesai.

Pendapatan istishna pembayara tangguh (lebih dari satu tahun) terdiri dari margin keuntungan (jika dihitung secara tunai) dan selisih nilai akad dengan nilai tunai. Pengakuan taksiran rugi jika total biaya perolehan melebihi pendapatan.

b. Akuntansi pembeli

Beban istishna’ tangguhan : selisih antara harga beli dan biaya perolehan tunai. Beban istishna’ tangguhan diamortisasi secara proporsional sesuai dengan porsi pelunasan hutang istishna’

Pernyataan ini berlaku efektif untuk laporan keuangan entitas yang mencakup periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2008.

Pernyataan ini menggantikan PSAK No. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah, yang berhubungan dengan pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan transaksi istishna’.

(7)

- margin keuntungan pendapatan barang pesanan yang dihitung apabila istishna dilakukan secara tunai diakui sesuai persentase penyelesaian - Selisih antara nilai akad dengan nilai tunai pada saat penyerahan diakui

selama periode pelunasan secara proporsional sesuai dengan jumlah pembayaran. Proporsional yang dimaksud sesuai dengan paragraf 24-25 PSAK 102 : Akuntansi Murabahah

Meskipun istishna dilakukan dengan pembayaran tangguh, penjual harus menentukan nilai tukar istishna pada saat penyerahan barang pesanan sebagai dasar untuk mengakui margin keuntungan terkait dengan proses pembuatan barang pesanan. Margin ini menunjukkan nilai tambah yang dihasilkan pada proses pembuatan barang pesanan. Sedangkan yang dimaksud dengan nilai akad dalam istishna dengan pembayaran langsung adalah harga yang disepakati antara penjual dan pembeli akhir.

 Rukun Istishna’ :

1) Subjek : shaani’ (produsen atau penjual) dan mustashni’ (konsumen atau pembeli)

2) Ma’qud ‘alaih (barang yang dipesan) 3) Akad (shighat)

 Syarat Istishna’ :

1) Jenis barang yang dibuat, macam, kadar, dan sifatnya jelas, 2) Barang berlaku muamalat di antara manusia, dan

3) Tidak ada ketentuan mengenai tempo penyerahan barang yang dipesan.

Contoh

PT Amanah membutuhkan rumah tipe 120/216 dengan spesifikasi khusus untuk kantor. Harga rumah Rp.200 juta, dana yang

(8)

bank juga menandatangani akad pembelian/pesanan kepada pengembang pada 1 juli 2011, dengan harga beli Rp.170 juta. Berikut ini data dan tagihan yang dilakukan oleh pengembang sampai dengan selesai per 1 Maret 2012

5. PSAK 105 – Akuntansi Mudharabah

Mudharabahadalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama pemilik dana menyediakan seluruh dana sedangkan pihak kedua (pengelola dana) bertindak selaku pengelola, dan keuntungan dibagi diantara mereka sesuai kespakatan sedangkan kerugian financial hanya ditanggung oleh pemilik dana apabila kesalahan terjadi murni karena regulasi usaha. Tetapi jika kesalahan/kerugian disebabkan karena kelalain mudharib maka kerugian ditanggung oleh mudharib.

 Rukun Mudharabah :

1) Subjek : pemilik modal (shahibul maal) dan pengelola dana (mudharib)

2) Objek

3) Akad (shighat)  Syarat Mudharabah :

1) Modal ditangan pengusaha berstatus amanah, seperti wakil dalam jual beli,

2) Pengusaha berhak atas keuntungan sesuai kesepakatan, 3) Komponen biaya disepakati sejak awal akad, dan

4) Pemilik modal (shahibul maal) berhak atas keuntungan dan menanggung resiko.

Pada akad mudharabah terdapat prinsip persaudaraan yang pada dasarnya merupakan interaksi sosial dan harmonisasi kepentingan para pihak untuk kemanfaatan umum dengan semangat saling tolong menolong, menjunjung tinggi nilai kebersamaan dalam memperoleh manfaat sehingga seseorang tidak boleh mendapat keuntungan diatas kerugian orang lain.

6. PSAK 106 - Akuntansi Musyarakah

(9)

 Rukun Musyarakah : 1) Subjek (‘aqidani) 2) Objek (ma’qud alaihi) 3) Akad (shighat)

4) Nisbah (bagi hasil)  Syarat Musyarakah :

1) Diperbolehkan untuk menerima atau mengirimkan wakil untuk bertindak hukum terhadap objek perserikataan sesuai dengan izin pihak lainnya,

2) Presentase pembagian keuntungan jelas, dan

3) Keuntungan untuk masing-masing pihak ditentukan sesuai kesepakatan.

7. PSAK 107 - Akuntansi Ijarah

Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas suatu barang dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa tanpa diikuti dengan pemindahan

kepemilikan atas barang tersebut.  Rukun Ijarah :

1) Subjek : mu’jir (pemberi sewa) dan musta’jir (penyewa) 2) Objek

3) Akad (shighat)  Syarat Ijarah :

1) Kesepakatan kedua belah pihak untuk melakukan penyewaan, 2) Barang yang disewakan tidak termasuk kategori haram, dan 3) Harga sewa harus terukur.

8. PSAK 108 – Akuntansi Transaksi Asuransi Syaria

Asuransi Syariah menurut Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang, melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau Tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad yang sesuai dengan syariah.

Dari pengertian nya sudah sangat jelas bahwa asuransi syariah

mengaplikasikan prinsip persaudaraan (ukhuwah). Ukhuwah dalam transaksi syariah berdasarkan prinsip saling mengenal (ta’aruf), saling memahami (tafahum), saling menolong (ta’awun), saling menjamin (takaful), saling bersinergi dan beraliansi (tahaluf) dan prinsip tersebut diaplikasikan pada asuransi syariah.

9. PSAK Syariah 109 Akuntansi Zakat dan Infaq/Sedekah

(10)

Ruang Lingkup dalam ED PSAK Syariah 109, pernyataan ini berlaku untuk amil yang menerima dan menyalurkan zakat dan infak/sedekah. Amil yang menerima dan menyalurkan zakat dan infak/sedekah, yang

selanjutnya disebut “amil”, merupakan organisasi pengelola zakat yang pembentukannya dimaksudkan untuk mengumpulkan dan menyalurkan zakat dan infak/sedekah.

B. Mengenal Akun Lap. Keuangan Produk Bank dan Akun Lap. Jasa Perbankan Syariah

1. Unsur-unsur Dasar Laporan Keuangan 1) Pernyataan posisi keuangan

a) Aset

Merupakan sesuatu yang mampu menimbulkan aliran kas positif atau manfaat bagi ekonomi lainnya, baik dengan dirinya sendiri ataupun dengan aset lainnya, yang haknya di dapat oleh bank syari’ah sebagai hasil dari transaksi atau suatu peristiwa di masa lalu.

b) Liabilitas

Liabilitas merupakan kewajiban yang berjalan untuk memindahkan suatu aset dan meneruskan penggunaannya atau menyediakan jasa untuk pihak lain di masa depan sebagai hasil dari transaksi atau peristiwa dimasa lalu.

 Porsi pemegang rekening investasi tak terbatas

Rekening investasi tak terbatas merujuk pada dana-dana yang diterima oleh bank syari’ah dari individu-individu atau kelompok dengan dasar bahwa bank syari’ah akan memiliki hak untuk menggunakan dan menginvestasikan dana-dana tersebut tanpa adanya batasan. Dengan

demikian, bank syari’ah berhak mencampurkan dana yang di investasikan itu dengan modalnya sendiri.

 Saham Pemilik

(11)

investasi tak terbatas dan yang serta dengannya, serta pendapatan yang dilarang jika ada.1

2) Pernyataan Pendapatan a. Pendapatan

Pendapatan merupakan kenaikan kotor dalam aspek atau penurunan dalam liabilitas atau gabungan dari keduanya selama periode yang dipilih oleh penyertaan pendapatan yang berakibat dari investasi yang halal, perdagangan, memberikan jasa, dan lain-lain.

b. Biaya

Biaya merupakan penurunan kotor dalam suatu aspek atau kenaikan dalam liabilitas atau gabungan dari keduanya selama periode yang dipilih oleh pernyataan pendapatan yang berakibat dari investasi yang halal, perdagangan, atau aktivitas yang termasuk pemberian jasa. c. Keuntungan

Keuntungan merupakan kenaikan bersih dari aset bersih sebagai akibat dari memegang aset yang mengalami peningkatan nilai selama periode yang dipilih oleh pernyataan pendapatan.

d. Kerugian

Kerugian merupakan penurunan bersih dari aset bersih sebagai akibat dari pemegang aset yang mengalami penurunan nilai selama periode yang dipilih oleh pernyataan pendapatan.

Keuntungan pada rekening investasi tak terbatas yang setaranya menunjukkan kondisi atau posisi rekening investasi mudharabah mutlaqoh.

e. Keuntungan bersih (kerugian bersih)

Gambaran keberadaan keuntungan atau kerugian bersih yang diperoleh bank syariah selama periode akuntansi.

3) Pernyataan perubahan dalam saham pemilik atau pernyataan laba ditahan.

4) Pernyataan aliran kas

- Kas dan setara kas: Kas uang tunai yg paling likuid sehingga ditempatkan pada urutan teratas aset. Yang termasuk dalam kas yangseluruh alat pembayaran yang dapat diginakan dengan segera seperti uang dan saldo rekening giro.

(12)

Setara kas adalah investasi yng sidatnya likuid, berjangka pendek dan yg dengan cepat dpt dijadikan kas dlm jumlah tertentu tanpa menghadapi resiko perubahan nilai yg signifikan.(tempo 3bulan atau kurang)

- Aliran kas dan transaksi : aliran kas adalh (cash flow) aliran pemasukan dan pengeluaran kas yg mengubah kondisi kas bank atau perusahaan, proyek setiap periode pembukuan dan

menggabmbarkan perubahan kondisi kas proyek atau bisnis dr period eke periode berkutnya.

Transaksi adalah aktifitas suatu perusahaan yg menimbulkan perubahan terhadap posisi harta keuangan (menjual, membeli, membayar gaji dll)

- Aliran kas dari aktivitas investasi : transaksi yg berhubungan dgn perolehan fasilitas inves dan non kas lainnya yg digunakan oleh perusahaan. Arus kas terjadi masuk jika kas yg diterima dari hasil atau pengembalian inves yg dilakukan sblmnya. Misalnya dari hasil penjuakan , arus kas yg masuk yang berasal dari akitvitas inves.

- Aliran kas dari aktivitas pembiayaan : keg. Pendapatan sumber dana dari pemilik dgn memberikan prospek penghasilan dari sumber dana tsb, meminjam dan membayar hutang kembali atau

melakukan pinjaman jangka panjang untk membayar hutang tsb. Contoh : penerimaan kas dan surat berharga dalm bentuk sewajarnya, pembayaran kas pd pemegang saham untuk menarik atau menebus saham perusahaan

5) Pernyataan perubahan dalam investasi a. Investasi terbatas

b. Simpanan dan penarikan oleh pemegang rekening investai terbatas dan ekuivalensinya.

c. Keuntungan atau kerugian investasi sebelum bagian keuntungan manager investasi sebagai seorang mudharib atau

konvensasiseabagi investasi.

d. Bagian manager investasi dalam keuntungan investasi terbatas dari seorang mudharib atau kompensasi sebagai manager investasi. 6) Pernyataan sumber dan pengguanaan dana zakat serta dana social

(13)

b. Penggunaan dana zakat dan dana social c. Saldo dana zakat dan dana social

7) Pernyataan sumber dan penggunaan dana dalam karadh a. Karadh : pinjaman tanpa imbalan yang memungkinkan

peminjam untuk menggunakan dana tsb selama jangka wkt tertentu dan wajib mengembalikan dlm jumlah yg sama b. Sumber dana dalam karadh : diperoleh dari modal LKS

(lembaga keuangan syariah)

c. Penggunaan dana dalam karadh : digunakan untuk memmenuhi kebutuhan dana yang mendesak atau kebutuhan lainnya yang tidak bersifat komersial.

d. Saldo dana dalam karadh2 2. Tujuan laporan keuangan

Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi, menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu entitas syariah yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi, Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan dari suatu entitas syariah. Tujuan laporan keuangan untuk tujuan umum adalah memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan arus kas entitas syariah yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban (stewardship) manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, suatu laporan keuangan menyajikan informasi mengenai entitas syariah yang meliputi:

a. Asset : merupakan kekayaan (sumber daya) yang dimiliki oleh entitas bisnis yang bisa diukur secara jelas menggunakan satuan uang serta sistem pengurutannya berdasar pada seberapa cepat perubahannya dikonversi menjadi satuan uang kas.

b. Kewajiban

c. dana syirkah temporer d. ekuitas

e. pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian f. arus kas

(14)

h. dana kebajikan beberapa tujuan lainnya adalah:

a. Meningkatkan kepatuhan terhadap prinsip syariah dalam semua transaksi dan kegiatan usaha.

b. Informasi kepatuhan entitas syariah tidak sesuai dengan prinsip syariah, serta informasi aset, kewajiban pendapatan dan beban yang tidak sesuai dengan prinsip syariah bila ada dan bagaimana perolehan dan

penggunaannya.

c. Informasi untuk membantu mengevaluasi pemenuhan tangung jawab entitas syariah terhadap amanah dalam mengamankan dana,

menginvestasikan pada tingkat keuntungan yang layak.

d. Informasi mengenai tingkat keuntungan investasi yang diperoleh penanam modal dan pemilik dana syirkah temporer; dan informasi mengenai pemenuhan kewajiban (obligation) fungsi sosial entitas termasuk pengelolaan dan penyaluran zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Laporan keuangan harus menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas syariah dengan menerapkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan secara benar disertai pengungkapan yang diharuskan Pernyataan Standar Akuntansi

Keuangan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Informasi lain tetap diungkapkan untuk menghasilkan penyajian yang wajar walaupun pengungkapkan tersebut tidak diharuskan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan

Laporan keuangan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan bersama sebagai pengguna laporan keuangan, serta dapat digunakan sebagai bentuk laporan dan pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dapat dipercayakan kepadannya.

3. Unsur-Unsur Laporan Keuangan Bank Syariah

a. Laporan posisi keuangan (statement of financial position) b. Laporan laba rugi (statement of income)

c. Laporan arus kas (statement of cashflows)

d. Laporan laba ditahan atau saldo laba (statement of retained earning) e. Laporan perubahan dana investasi terikat (statement of change in restricted

(15)

f. Laporan sumber dan penggunaan dana zakat, infaq, dan shadaqah (statement of source and use of fund in zakat and charity fund)

g. Laporan sumber dan penggunaan dana qadhuk hasan (statement of source of fund in qard fund)

Empat laporan pertama adalah unsur laporan keuangan yang sudah dikenal selama ini secara konvensional, sedangkan tiga yang terakhir bersifat khas. Ketiga

laporan yang terakhir muncul akibat perbedaan peran dan fungsi bank syariah, dibandingkan bank konvensional.

4. Penyajian laporan Keuangan Bank Syariah a. Laporan posisi keuangan (neraca)

Unsur-unsur neraca meliputi aktiva, kewajiban, investasi tidak terikat, dan ekuitas. Penyajian aktiva pada neraca atau pengungkapan pada catatan atas laporan keuangan atas aktiva yang dibiayai oleh bank sendiri dan aktiva yang dibiayai oleh bank bersama pemilik dana investasi tidak terikat, dilakukan secara terpisah.

b. Laporan laba dan rugi

c. Dengan memperhatikan ketentuan dalam PSAK lainnya,dalam laporan laba rugi mencakup, tetapi tidak terbatas pada pos-pos pendapatan dan beban.

d. Laporan arus kas

e. Laporan perubahan ekuitas

f. Laporan perubahan investasi terikat

Laporan perubahan dana investasi terikat memisahkan dana investasi terikat berdasarkan sumber dana dan memisahkan investasi berdasarkan jenisnya.

g. Laporan sumber dan penggunaan dana zakat, infaq dan shadaqah - Bank syari’ah menyajikan laporan sumber dan penggunaan zakat,

infaq, dan shodaqoh sebagai komponen utama laporan keuangan yang menunjukkan:3

- Sumber dana zakat, infaq dan shadaqah yang berasal dari penerimaan a) Zakat dari bank syari’ah

b) Zakat dari pihak luar bank syaria’ah c) Infaq

d) Shadaqah

h. Kenaikan atau penurunan sumber dana zakat, infaq dan shadaqah i. Saldo awal dana penggunaan dana zakat, infaq, dan shadaqah j. Saldo akhir dana penggunaan dana zakat, infaq, dan shadaqah k. Laporan sumber dan pengguna dana qardhul hasan

(16)

- Bank syariah menyajikan laporan sumber dan penggunaan qardhul hasan sebagai komponen utama laporan keuangan, yang menunjukkan: - Sumber dana qardhul hasan yang berasal dari penerimaan:

a) Infaq b) Shadaqah c) Denda

d) Dan pendapatan non halal

- Penggunaan dana qardhul hasan untuk: a) Pinjaman

b) Sumbangan

c) Kenaikan atau penurunan sumber dana qardhul hasan d) Saldo awal dana penggunaan dana qardhul hasan, e) Saldo akhir dana penggunaan dana qardhul hasan l. Catatan-catatan laporan keuangan

Laporan keuangan harus mengungkapkan semua informasi dan material yang perlu unutuk menjaikan laporan keuangan tersebut memadai, relevan, dan bisa dipercaya (andal) bagi para pemakainya.

- Pernyataan, laporan dan data lain yang membantu dalam menyediakan informasi yang diperlukan oleh para pemakai laporan keuangan sebagaimana ditentukan didalam statement of obyektif.

- Laporan ini diterbitkan dalam bentuk komparatif. Artinya, laporan tersebut menyajikan data periode sekarang dan periode yang lalu. Untuk memberikan gambaran keadaan laporan keuangan bank syari’ah.

Apabila di perbandingkan dengan laporan keuangan yang harus di buat dalam bank konvensional, yang di atur dalam PSAK 31, yaitu

Kerangka Dasar penyusnan dan penyajian laporan keuangan

N O

Bank Konvensional (PSAK 31)

(17)

1. 2. 3. 4. 5. 6.

7.

Laporan posisi keuangan Laporan laba rugi

Laporan perubahan ekuitas

Laporan arus kas Catatan laporan keuangan

Laporan posisi keuangan Laporan laba rugi

Laporan perubahan ekuitas Laporan arus kas

Laporan investasi Terikat Laporan sumber dan penggunaan

Dana Al Al-qardhul hasan Laporan sumber dan penggunaan dana ZIS

Hal-hal yang Terkait dengan Laporan

Secara singkat dan secara garis besar, ada hal-hal yang terkait dengan laporan keuangan tersebut, yaitu :4[6]

1. Laporan posisi keuangan ( Neraca )

Dalam unsur aktiva neraca Bank Syariah, ada beberapa hal yang berbeda dengan unsur neraca Bank konvensional penyaluran dana hanya di tampung dalam perkiraan “ kredit “ atau pinjaman yang di berikan “, hal ini sangatlah berbeda dengan Bank Syariah yaitu dimana dalam

penyalurannya dana di tampung dalam perkiraan yang sesuai dengan prinsip penyalurannya yaitu:

- Prinsip jual beli di bukukan pada perkiraan “piutang”, seperti misalnya Murabahah, piutang istishna, piutang salam

- Prinsip bagi hasil di tampung dalam perkiraan “pembiayaan”, seperti pembiayaan mudharabah, dan pembiyaan musyarakah.

2. Aktiva

Beberapa akun dalam aktiva yang perlu di jelaskan , yaitu :

a. Piutang dagang , yaitu di gunakan untuk membukukan penyaluran dana yang

mempergunakan prinsip jual beli seperti murabahah, istishna dan salam, sehingga dalam bank syariah “piutang” semuanya dapat di kategorikan sebagai aktiva yang produktif. b. Pembiayaan , di gunakan untuk membukukan penyaluran dana yang mempergunakan

prinsip bagi hasil, yaitu mudharabah adn pembiyaan musyarakah.

(18)

c. Persediaan/assets. Di gunakan untuk menampung barang-barang milik Bank Syariah yang di maksudkan untuk dijual kembali , seperti persediaan/assets murabahah, persediaan/assets salam, persediaan/assets istishna.

d. Aktiva ijarah. Di gunakan untuk membukukan assets ijarah yang telah di sewakan, dimana assets ijarah yang telah di sewakan harus di pisahkan dengan aktiva tetap milik bank dan persediaan.

e. Istishna dalam penyelesaian (istishna Work in Proses) , di gunakan untuk menampung transaksi istishna yang sedang berjalan proses penyelesaiannya.

f. Penyaluran Dana investasi terikat Executing , di gunakan untuk membukukan penyaluran mudharabah muqayyah ( investasi Terikat ) dengan pola penyaluran Executing.

g. Pinjaman Qardh , di gunakan untuk membukukan pinjaman qardh yang sumber dananya dari intern bank Syariah.

h. Penyertaan , di gunakan untuk membukukan penyertaan, dimana bank syariah memiliki saham suatu perusahaan, baik yang di lakukan dalam rangka penyelamatan pembiayaan atau yang di tanamkan pada anak perusahaan.

3. Kewajiban

Dalam neraca bank syariah itu ada unsur kewajibannya, yaitu :

a. Simpanan/titipan , di gunakan untuk membukukan penghimpunan dana yang

mempergunakan prinsip wadiah ( titipan ), karena prinsip dari wadiah adalah titipan yang harus di kembalikan kapan saja oleh bank apabila si penitip meminta kembali, dalam kondisi apapun bank syariah harus mengembalikan dana titipan tersebut kepada penitip, bank syariah harus mengembalikan dana titipan tersebut seratus persen kepada penitip. Jadi yang di bukukan itu pada kewajiban bank syariah adalah Tabungan Wadiah, Giro Wadiah.

b. Kewajiban Investasi Terikat Executing , di gunakan untuk membukukan penerimaan mudharabah Muqayyadah dengan pola penyaluran Executing.

c. Keuntungan Di umumkan Belum Di bagikan . di gunakan untuk membukukan bagi hasil hak milik investasi dana Investasi Tidak Terikat yang di himpun,yang sampai dengan tanggal laporan belum di bayarkan kepada pemiliknya dan data yang di pergunakan itu dalam perkiraan ini bersumber dari perhitungan pembagian hasil usaha.

4. Investasi Tidak Terikat

(19)

5. Laporan Laba Rugi

Beberapa unsur laporan laba dan rugi yang ada dalam laporan laba dan rugi bank syariah yaitu : a. Pendapatan operasi utama , pendapatan ini merupakan kelompok pendapatan operasi

utama bank syariah atas penyaluran di lakukan sesuai prinsip syariah, yang meliputi : pendapatan penyaluran yang menggunakan prinsip bagi hasil, yang kedua pendapatan penyaluran yang mempergunakan jual beli, yaitu pendapatan margin murabahah, pendapatan bersih salam paralel dan pendapatan bersih istishna parel dan terakhir yaitu pendapatan bersih jiarah. Itulah yang terdapat dari kelompok pendapatan operasi utama bank syariah atas penyaluran yang di lakukan sesuai prinsip syariah.

b. Hak pihak ketiga atas bagi hasil investasi tidak terikat . unsur ini merupakan jumlah bagi hasil yang diberikan oleh bank syariah kepada pemilik dana. Hak pihak ketiga atas bagi hasil investasi tidak terikat ini tidak dapat di kategorikan sebagai pendapatan dan beban dari bank syariah.

c. Pendapatan operasi lainnya , pendapatan ini di gunakan untuk menampung pendapatan operasi utama lainnya , yang merupakan milik bank syariah sepenuhnya (tidak di bagihasilkan).

(20)

Contoh Bentuk Laporan Keuangan Bank Syariah 1. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)

(Nama Bank)

Laporan Posisi Keuangan Konsolidasi Pada Bulan xx Tahun xxxx

(21)

Aktiva

Kas dan setara kas Piutang penjualan Investasi

Investasi dalam surat-surat berharga

Investasi Mudharabah Investasi Musyarakah Penyertaan modal Persediaan

Investasi pada real estate Aktiva yang disewakan Istishna’

Total aktiva xxx.xxx.xxx xxx.xxx.xxx

2. Laporan Laba rugi

(Nama Bank) Laporan Laba Rugi

Pada tahun yang terakhir (tahun) dengan ( tahun lalu)

Uraian Catatan xxxx ( tahun )

(22)

Pendapatan

Penjualan tangguh Investasi

Dikurangi

Keuntungan rekening investasi tidak terbatas sebelum bagian bank sebagai mudharib

Bagian bank sebagai mudharib Keuntungan terhadap rekening investasi tidak terbatas sebelum zakat Bagian bank pada pendapatan dari

investasi ( sebagai mudharib dan sebagai pemilik dana )

Pendapatan bank dari investasi Bagian keuntungan bank dari rekening

investasi terbatas sebagai mudharib Fee bank sebagai agen investasi untuk

investasi terbatas

Pendapatan dan jasa-jasa perbankan Pendapatan lain-lain

Total pendapatan bank

Biaya umum dan administrasi Depresiasi

Pendapatan netto sebelum zakat dan pajak

Provisi untuk zakat

Pendapatan netto sebelum saham minoritas ( saham minoritas ) Pendapatan netto

3. Laporan Arus Kas

(23)

Pada tahun yang terakhir ( tahun ) dengan ( tahun lalu )

Uraian Catatan Unit Moneterxxx ( tahun ) Unit Moneterxxxx( tahun ) Arus kas dari operasi

Pendapatan netto Penyesuaian terhadap pendapatan netto Kas netto dari kegiatan operasional Keuntungan dari rekening

investasi tidak terbatas

Keuntungan dari penjualan aktiva tetap

Depresiasi dari aktiva yang disewakan

Provisi untuk penurunan nilai investasi pada surat-surat berharga

Piutang ragu-ragu Pembelian aktiva tetap Arus kas netto dari operasi Arus dari kegiatan investasi Penjualan real estate yang

disewakan

Pembelian real estate yang disewakan

Penjualan real estate

Investasi pada surat-surat berharga Kenaikan pada investasi

mudharabah

Penjualan persediaan Penjualan istishna’ Kenaikan netto pada piutang Arus kas netto dari kegiatan

(24)

investasi

Arus kas dari kegiatan keuangan Kenaikan netto pada rekening

investasi tidak terbatas Kenaiakn netto pada rekening

koran

Deviden yang dibayarkan Kenaikan pada saldo kredit dan

biaya-biaya (penurunan) pada biaya yang dikeluarkan

(accrud expenses)

Kenaikan pada saham minoritas Penurunan pada aktiva lain Penurunan arus kas dari kegiatan

pembiayaan

Kenaikan/penurunan uang kas dan setara kas

Kas dan setara kas pada awal tahun

Kas dan setara kas pada akhir tahun

4. Laporan Perubahan Modal atau Laporan Laba Ditahan

( Nama Bank )

Laporan perubahan Modal

Untuk tahun yang terakhir ( tahun ) dengan ( tahun yang lalu )

(25)

Emisi ( ) saham Saldo per tahun

--5. Laporan Sumber-sumber dan penggunaan Dana Zakat, Infak dan Shadaqah

(Nama Bank)

Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat, Infak dan Shadaqah Untuk tahun yang terakhir dengan tahun lalu

Uraian Catatatan xxxx ( tahun )Unit Moneter Unit Moneter xxxx ( tahun ) Sumber-sumber zakat dan sumbangan

Zakat jatuh tempo dari bank

Zakat jatuh tempo dari para pemilik rekening

Sumbangan

Total sumber zakat

(26)

Zakat untuk fisabilillah

Zakat untuk amil zakat ( biaya administrasi dan umum )

Total penggunaan dana

Kenaikan ( penurunan ) sumber-sumber terhadap penggunaan

Zakat dan sumbangan yang belum dibagikan pada awal tahun

Zakat dan sumbangan yang belum dibagikan pada akhir tahun

xxx.xxx

6. Laporan Sumber-sumber dan Penggunaan Dana Qardul Hasan

( Nama bank )

Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Qardhul Hasan

Untuk tahun yang terakhir ( tahun ) dengan (tahun lalu )

Uraian Catatan xxxx ( tahun )Unit Moneter xxxx ( tahun )Unit Moneter Saldo awal

Pinjaman kebajikan

Sumber-sumber dana Qardhul Hasan Alokasi dari rekening koran

Alokasi dari pendapatan yang dilarang syariah ( haram )

Sumber diluar bank

Total sumber dana selama tahun ini

Penggunaan Qardhul Hasan Pinjaman kepada para pelajar Pinjaman kepada para pengrajin Penyelesaian rekening koran

Total penggunaan selama tahun ini

(27)

Pinjaman kebajikan

Dana tersedia untuk pinjaman xxx.xxxxxx.xxx xxx.xxxxxx.xxx

DAFTAR PUSTAKA

Adnan, M. Akhyar. 2005. Akuntansi Syarikat. Yokyakarta: UII Pres.

Harahap, Sofyan S. 2005. Akuntansi Perbankan Syariah. Jakarta: LPFE Usakti Jakarta. Muhammad. 2002. Manajemen Bank Syari’ah. Yogyakarta: (UPP) AMP YKPN

Referensi

Dokumen terkait

Penyusunan laporan keuangan tersendiri (Paragraf 11B) PSAK 4 (Penyesuaian 2014) menyatakan bahwa ketika entitas induk berhenti menjadi entitas investasi, maka entitas induk

Sebagai dampak dari revisi PSAK 108: Akuntansi Transaksi Asuransi Syariah, ED PSAK 101 (Revisi 2015): Penyajian Laporan Keuangan Syariah merevisi ilustrasi 2 - Laporan Surplus

h. Laporan posisi keuangan pada awal periode terdekat sebelumnya yang disajikan ketika entitas syariah menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat

ƒ Investasi dalam pengendalian bersama entitas dan entitas asosiasi yang dicatat sesuai dengan PSAK 55 dalam laporan keuangan konsolidasian dicatat dengan cara yang sama dalam

Pada PSAK 60 Mensyaratkan entitas untuk mengungkapkan nilai tercatat untuk setiap kategori instmmen keuangan dalam laporan posisi keuangan dan catatan atas laporan keuangan, hal

 Jika entitas induk masih memiliki entitas anak yang diperoleh sebelum tanggal efektif Pernyataan ini untuk tujuan dijual atau dialihkan dalam jangka pendek, dan entitas

Standar yang berlaku efektif pada periode berjalan Pada periode berjalan, Perusahaan dan anak perusahaan menerapkan PSAK revisi berikut ini yang berlaku efektif untuk laporan keuangan

Dokumen ini membahas tentang pentingnya eliminasi transaksi antara entitas induk dan entitas anak dalam laporan keuangan konsolidasian berdasarkan PSAK 65 (Revisi