• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELA"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS X TSM4

MELALUI PENDEKATAN NUMBERED HEADS TOGETHER

MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA PADA TOPIK KERJA

SAMA MEMBANGUN TEKS ANEKDOT DI SMK KARTANEGARA

KOTA KEDIRI

Disusun Oleh:

Drs. SETYA SUCIPTA

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (P T K)

MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA

PELAKSANAAN 24 AGUSTUS - 6 SEPTENBER 2014

(2)

Lembar Pengesahan

MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS X TSM4

MELALUI PENDEKATAN NUMBERED HEADS TOGETHER

MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA PADA TOPIK KERJA

SAMA MEMBANGUN TEKS ANEKDOT DI SMK KARTANEGARA

KOTA KEDIRI

Disyahkan pada :

Hari :

Tanggal :

Di :

Kediri, 18 Oktober 2014

Mengetahui Penyusun,

Kepala Sekolah

Drs. AGUNG WICAKSONO Drs. SETYA SUCIPTA

(3)

Dokumentasi PTK dengan Judul :

MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS X TSM4

MELALUI PENDEKATAN NUMBERED HEADS TOGETHER

MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA PADA TOPIK KERJA

SAMA MEMBANGUN TEKS ANEKDOT DI SMK KARTANEGARA

KOTA KEDIRI

Didokumentasikan pada :

Hari :

Tanggal :

Di : Perpustakaan SMK Kartanegara

Kediri, 18 Oktober 2014

Mengetahui Penyusun,

Kepala Perputakaan,

(4)

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah swt, berkat rahmatnya penulis dapat menyusun PTK Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berjudul Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas X Tsm4 Melalui Pendekatan Numbered Heads Together Mata

Pelajaran Bahasa Indonesia Pada Topik Kerja Sama Membangun Teks Anekdot Di Smk

Kartanegara Kota Kediri, yang penulis susun untuk memenuhi syarat kelengkapan kenaikan pangkat/golonga ruang.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Yth :

1. Bapak Drs. Agung Wicaksono selaku Kepala SMK Kartanegara Kota Kediri

2. Teman-teman sejawat yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu dan pihak-pihak terkait yang turut membantu dan memberi masukan sehingga PTK ini dapat terselesaikan

Mengingat keterbatasan yang ada, penyusunan PTK ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mohon kritik dan saran yang konstruktif demi perbaikan penulisan selanjutnya.

Kediri, 18 Oktober 2014 Penyusun,

(5)

DAFTAR ISI

Halaman Judul ……….. i

Lembar Pengesahan ……….. ii

Dokumentasi ……….. iii

Kata Pengantar ……….. iv

Daftar Isi ……….. v

Abtraksi ……….. vii

B A B I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ……….. 1

B. Identifikasi Masalah ……….. 3

C. Batasan Masalah ……….. 4

D. Rumusan Masalah ……….. 4

E. Tujuan Penelitian ……….. 4

F. Manfaat Hasil Penelitian ……….. 5

B A B II : KAJIAN PUSTAKA DAN RENCANA TINDAKAN A. Konsep Teori ………... 6

B. Teks Anekdot ………... 18

C. Hipotesis Penelitian ……….. 20

(6)

B. Subyek Penelitian ……….. 23

C. Teknik Pengumpulan Data ……….. 24

D. Instrumen Pengumpulan Data ... 25

E. Prosedur Penelitian ……….. 26

F. Teknis Analisis Data ……….. 37

G. Kriteria Keberhasilan Tindakan .……….. 38

B A B IV : HASIL PENELITIAN A. Hasil Penelitian Siklus I ……….. 39

B. Hasil Penelitian Siklus II ……….. 49

C. Pendapat dan Tanggapan Siswa ……….. 57

B A B V : PENUTUP A. Kesimpulan ……….. 63

B. Saran ……….. 64

DAFTAR PUSTAKA

(7)

ABSTRAK

Kurang optimalnya pelaksanaan sistem pendidikan (yang sebenarnya sudah cukup baik) di Indonesia yang disebabkan kurangnya motivasi siswa dalam belajar. Sebenarnya kurikulum Indonesia tidak kalah dari kurikulum di negara maju tetapi pelaksanaannya yang masih jauh dari optimal. Kurikulum pendidikan yang sering berganti-ganti, bukanlah masalah utama, yang menjadi masalah utama adalah pelaksanaan di lapangan kurang optimal karena metode pengajaran yang digunakan, sehingga siswa menjadi bosan dan malas untuk belajar. Untuk itu diperlukan suatu pengelolaan pembelajaran melalui penerapan dengan model yang sesuai yang dapat mengaktifkan siswa dalam belajar.

Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas X TSM4 Melalui Pendekatan Numbered Heads Together Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Pada Topik Kerja Sama Membangun Teks Anekdot Di SMK Kartanegara Kota Kediri”

Hasil penelitian siklus I : melihat bahwa kuantitas siswa betanya ada peningkatan dari 5 siswa atau 16,67 % menjadi 11 siswa atau 36,67% dan kualitas pertanyaan sesuai materi tidak mengalami perubahan, kualitas pertanyaan detail ada peningkatan dari 3 siswa menjadi 4 siswa atau dari 10,00% menjadi 13,33 % dan kualitas pertanyaan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari di sekitar siswa terdapat pengkatan sebesar 16,67% atau sebanyak 5 siswa. Kuantitas jawaban siswa terdapat peningkatan dari 6 siswa menjadi 23 siswa atau ada peningkatan dari 20% menjadi 76, 67%

keaktifan siswa pada pertemuan pertama dan kedua, maka terlihat bahwa pada pertemuan pertama terdapat 21 siswa tidak pernah bertanya atau menjawab pertanyaan atau sebesar 70,00% dan pada pertemuan ke dua terdapat 13 siswa atau sebesar 43,33%. Jadi ada peningkatan sebesar 26,67%. Terdapat peninggkatan keaktifan yang siswa kadang-kadang bertanya atau menjawab pertanyaan dari 10 siswa menjadi 13 siswa atau dari 33,33% menjadi 43,33% dan terjadi peningkatan keaktifan siswa sering bertanya atau menjawab pertanyaan sebesar 5 siswa atau sebesar 16,67%.

Hasil siklus II : Total semua pertanyaan siswa pada siklus II ada 24 yang terdiri atas 9 pertanyaan sesuai materi, 10 pertnyaan detail dan 5 pertanyaan yang relevan tentang teks anekdot. Total jawaban siswa 39 jawaban yang terdiri atas 15 jawaban salah, dan 14 jawaban benar tapi tidak lengkap serta 10 jawaban benar.

Peningkatan frekuensi siswa yang tidak pernah bertanya dan menjawab pertanyaan sama dengan 0 (nol) ini berarti semua siswa dalam kelas telah aktif dalam proses pembelajaran. Namun hal ini belum bisa menjamin ketuntasan belajar bisa mencapai 100% sebab masih banyak siswa yang menjawab pertanyaan dengan tidak benar. Namun pada siswa yang mempunyai frekuensi kadang-kadang dan sering menjawab bertanya atau menjawab pertanyaan, ini bisa dipastikan akan mencapai ketuntasan belajar.

Melihat keaktifan guru pada pertemuan ketiga di sikus II ini penampilan guru semakin mantap dan optimis bahwa “Metode Numbered Heads Together” akan berhasil meningkatkan motivasi belajar siswa.

Dari hasil tes formatif siswa kelas X TSM4 ini terlihat nyata bahwa siswa-siswa yang mempunyai frekuensi bertanya dan menjawab pertanyaan dengan baik mempunyai korelasi yang signifikan.

(8)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pendidikan merupakan perwujudan dari salah satu tujuan pembangunan nasional Indonesia, yaitu ingin mencerdaskan kehidupan bangsa. Saat ini bidang pendidikan merupakan salah satu bidang pambangunan yang dapat parhatian serius dari pemerintah. Dengan memahami tujuan pendidikan maka tercermin bahwa, pendidikan merupakan faktor yang sangat strategis sebagai dasar pembangunan bangsa. Sejalan dengan itu apabila dihubungkan dengan eksistensi dan hakaikat hidup manusia, kegiatan pendidikan diarahkan pada manusia sebagai mahluk individu, sosial, dan religius.

Menurut Shertian (2000) pendidikan merupakan usaha sadar yang dengan sengaja dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan salah satu usahanya adalah melaui suatu proses pembelajaran di sekolah. Dalam usaha tersebut, siswa merupakan sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan secara terus menerus. Sekarang ini masalah pendidikan menghadapi berbagai masalah salah satunya adalah rendahnya nilai rata-rata ujian nasional (UN) yang dicapai siswa khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Rendahnya mutu pandidikan di Indonesia, banyak opini yang muncul baik datangya dari pejabat, pakar dan praktisi pendidikan ataupun masyarakat antara lain, kurangnya kualitas tenaga pengajar, muatan kurikulum terlalu padat dan pola pembelajaran yang kurang menarik.

(9)

berganti-ganti, bukanlah masalah utama, yang menjadi masalah utama adalah pelaksanaan di lapangan, kurang optimal karena metode pengajaran yang digunakan, sehingga siswa menjadi bosan dan malas untuk belajar. Seperti yang telah kita lihat metode dalam peroses pembelajaran yang dilakukan oleh guru terkesan itu-itu saja (konvensional). Dalam hal ini fakta, konsep, dan perinsip pembelajaran lebih banyak dicurahkan melalui ceramah, tanya jawab, atau diskusi tanpa ditindak lanjut dengan kegiatan praktek. Kombinasi pembelajaran yang tidak bervariasi seperti yang sering diterapkan oleh guru adalah, mengajar dengan ceramah dan dikombinasikan dengan media dan siswa tidak terlibat aktif dalam pembelajaran.

(10)

Untuk itu diperlukan suatu pengelolaan pembelajaran melalui

penerapan dengan model yang sesuai yang dapat mengaktifkan siswa dalam belajar.

Guru harus bisa memilih model yang tepat dan sesuai dengan materi pembelajaran

untuk diterapkan di kelas. Seperti model pembelajaran yang akan diterapkan oleh

peneliti dalam penelitiannya ini yaitu, Numbered Heads Together, Numbered Heads

Together adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian

dibuat suatu kelompok. Kemudian secara acak guru memanggil nomor yang telah

diberikan siswa tadi. Dengan demikian siswa diharapkan lebih aktif dan

mempunyai motivasi dalam belajar.

Hal ini juga harus didukung dengan konsistensi guru dalam menerapkan

model yang ia pilih dan sesuai dengan RPP yang telah disusun. Berdasarkan uraian

di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul

Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas X TSM4 Melalui Pendekatan Numbered Heads Together Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Pada Topik Kerja Sama Membangun Teks Anekdot Di SMK Kartanegara Kota Kediri

B. IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti mengidentifikasi

masalah, yaitu apakah rendahnya minat belajar siswa salah satunya diakibatkan

karena kesalahan konsep dan metode pembelajaran yang diterapkan atau mungkin

karena penerapan metode pembelajaran yang diterapkan oleh tenaga pengajar

(11)

C. BATASAN MASALAH

Agar penelitian terarah dan dapat mencapai sasaran maka perlu

adanya batasan masalah dalam penelitian ini yaitu:

a. Penelitian ditekankan pada kinerja guru dalam menerapkan model pembelajaran

pada RPP yang dibuat.

b. Penelitin ini dilaksanakan pada proses pembelajaran oleh tenaga pengajar

c. Penelitian ini dilakukan di SMK Kartanegara Kota Kediri pada siswa kelas X

TSM4 Semester Gasal Tahun Pelajaran 2014/2015

d. Implementasi konsep penelitian pada materi Kerja Sama Membangun Teks

Anekdot.

D. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti merumusnan masalah,

yakni bagaimana cara metode Numbered Heads Together diterapkan sehingga dapat

meningkatkan motivasi belajar siswa kelas X TSM4 Semester Gasal Tahun

Pelajaran 2014/2015 pada Topik Kerja Sama Membangun Teks Anekdot di SMK

Kartanegara Kota Kediri?

E. TUJUAN PENELITIAN

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian

ini adalah, untuk mengetahui cara penerapan metode Numbered Heads Together

dalam meningkatkan motivasi belajar siswa kelas X TSM4 Semester Gasal Tahun

Pelajaran 2014/2015 pada Topik Kerja Sama Membangun Teks Anekdot di SMK

(12)

F. MANFAAT PENELITIAN

a. Manfaat secara teoritis

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi

perkembangan pendidikan, terutama dapat mengembangkan khazanah ilmu

tentang peningkatan motivasi belajar Bahasa Indonesia melalui pendekatan

Numbered Heads Together.

2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan perbandingan bagi

peneliti terdahulu yang terkait dengan penelitian ini.

b. Manfaat secara praktis

1. Bagi siswa

Untuk meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia

sehingga pemahaman siswa mengenai konsep Bahasa Indonesia yang

dipelajari menjadi lebih baik.

2. Bagi guru

Sebagai pedoman dalam menerapkan pendekatan pembelajaran Bahasa

Indonesia khususnya dengan pendekatan Numbered Heads Together.

3. Bagi sekolah

Penelitian ini merupakan sumbangan yang bermanfaat dalam rangka

perbaikan pembelajaran Bahasa Indonesia. Dan mungkin juga bisa

diaplikasikan pada mata pelajaran yang lain.

(13)

METODE PENELITIAN

A. DESAIN PENELITIAN

Desain Penelitian Tindakan Kelas yang di gunakan adalah desain PTK

Model John Elliott.

Seperti halnya desain model PTKnya Kemmis & Mc. Taggart, desain

PTK model John Elliott juga dikembangkan berdasarkan konsep dasar Kurt Lewin.

Model John Elliot ini lebih rinci jika dibandingkan dengan model Kurt Lewin dan

model Kemmis & Mc. Taggart karena di dalam setiap siklus terdiri dari beberapa

tindakan, yaitu antara tiga sampai lima tindakan. Sementara itu, setiap tindakan

terdiri dari beberapa langkah yang terealisasi dalam bentuk kegiatan

belajar-mengajar. Model Elliot dapat digambarkan sebagai berikut:

SIKLUS I SIKLUS II

Survei (Penemuan fakta dan analisis)

Implementasi Tindakan 1

Survei (menjelaskan) kegagalan terhadap implementasi dan efek Pengaruh dan

(14)

SIKLUS II

Model ini diawali dari mengidentifikasi masalah, yang pada hakikatnya

bagaimana pernyataan yang menghubungkan antara gagasan atau ide dengan

pengambilan tindakan. Seperti contoh identifikasi masalah berikut:

1) Para siswa merasa tidak puas dengan metode penilaian yang digunakan guru

kelasnya. Bagaimana kalau guru berkolaborasi untuk meningkatkan pengukuran

terhadap kemampuan siswa?

2) Para siswa hanya membuang-buang waktu percuma di kelas. Bagaimana cara

guru membawa siswa lebih banyak lagi menggunakan waktu mereka untuk

menyelesaikan tugas-tugas mereka?

3) Orang tua siswa bersedia membantu sekolah dengan melakukan supervisi

“pekerjaan rumah”. Bagaimana caranya agar bantuan orang tua siswa bekerja

lebih produktif?

Apa pun masalah yang akan diangkat dalam penelitian, hendaknya

tetap berada dalam lingkup permasalahan yang dihadapi guru dalam praktek

(15)

serta berusaha mengubahnya dan sekaligus memperbaikinya. Apabila guru dalam

melakukan pembelajaran sehari-hari merasakan ada sesuatu yang janggal atau

adanya ketimpangan dan kurang memuaskan, yang oleh peneliti juga dicermati

pada waktu orientasi atau tahapan awal penelitian sebagai peningkatan, maka

diperlukan penjelasan lebih lanjut. Misalkan, kejanggalan itu ialah para siswa

banyak membuang waktu percuma di kelas perlu deskripsi yang mendetail, seperti:

siswa yang mana yang membuang waktu percuma di kelas itu? Tugas apa yang

sebenarnya yang mereka lakukan? Pada saat-saat mana dalam pelajaran mereka

melakukannya? Dan manifestasi bentuk kegiatan apa yang mereka tampilkan waktu

”membuang waktu dengan percuma” di kelas?

Informasi yang didapat dari pertanyaan-pertanyaan di atas akan

menolong untuk membedakan berbagai aspek permasalahan penelitian dan

membantu ke arah mana perbaikan pembelajaran harus dilakukan. Refleksi atau

pertimbangan baik atau buruknya atau berhasil belum berhasilnya tindakan,

merupakan bagian dari tahapan diskusi dan analisis penelitian sesudah tindakan

dilakukan sehingga memberikan arah bagi perbaikan selanjutnya. Bentuk dari

model ini digambarkan dalam alur-alur tahap penelitian yang dikenal model siklus.

B. SUBJEK PENELITIAN

Subjek penelitian menurut Amirin (1986) merupakan seseorang atau

sesuatu mengenai yang mengenainya ingin diperoleh keterangan. Menurut

Suharsimi Arikonto (1989) memberi batasan subjek penelitian sebagai benda, hal

atau orang tempat data untuk variabel penelitian melekat, dan yang

(16)

sangat strategis karena pada subjek penelitian itulah data tentang variabel yang

peneliti akan amati. Kesimpulan dari kedua penngertian diatas Subjek penelitian

adalah individu, benda, atau organisme yang dijadikan sumber informasi yang

dibutuhkan dalam pengumpulan data penelitian. Dalam hal ini yang menjadi subjek

penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas X TSM4 semester gasal di SMK

Kartanegara Kota Kediri tahun pelajaran 2014/2015..

C. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data berupa hasil

kemampuan siswa dalam membaca teks anedot, menulis ulang teks anedot,

mengidentifikasi pelaku teks anekdot, membaca teks anekdot dalam puisi dan dapat mengidentifikasi struktur teks serta mengartikan makna kata dalam puisi, dapat membuat naskah drama singkat anekdot yang berisi kritik sosial bertema sampah serta siswa dapat melengkapi bagian teks anekdot dan menyusunnya kembali dengan tokoh. Semua kemampun siswa ini akan direkam dengan instrument observasi berupa lembar pengamatan aktivitas siswa dan guru. Metode observasi ini memudahkan peneliti

untuk turut berpartisipasi secara wajar dalam kegiatan penelitian.

Penelitian didampingi oleh seseorang observer yang akan mengamati

aktivitas siswa selama pembelajaran. Dalam hal ini, observer juga berperan sebagai

guru mitra yang turut membantu proses pembelajaran.

Data dalam penelitian ini diperoleh melalui :

1. Lembar penilaian keaktifan siswa dalam melakukan penelitian data ini

ditentukan berdasarkan skala penilaian (tidak pernah, kadang-kadang, sering)

(17)

2. Laporan tertulis dari kegiatan penelitian ini dilakukan dengan memban-dingkan

nilai keaktifan siswa yang tidak pernah, kadang-kadang dan sering dalam

bertanya dan menjawab pertanyaan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. 3. Angket sikap siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran.

D. INSTRUMENT PENGUMPULAN DATA

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes kemampuan,

lembar observasi, jurnal dan catatan lapangan.

1. Tes Kemampuan

Tes adalah berupa pertanyaan atau jawaban siswa yang digunakan

untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat

yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Adapun tes yang dilakukan yaitu

berupa pertanyaan atau jawaban tentang teks anekdot. Hal ini dimaksudkan

untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran telah dicapai.

2. Lembar Observasi

Lembar observasi merupakan alat pengamatan yang digunakan

untuk mengukur atau melihat aktivitas siswa dan peneliti dilihat dari

keterampilan kooperatif dan memotivasi siswa selama kegiatan belajar

mengajar. Alat yang digunakan adalah lembar observasi yang diisi oleh

observer sebagai pencatat lapangan.

Aktivitas peneliti yang diamati adalah keterampilan mengajar

mulai, dari membuka pelajaran sampai pada menutup pelajaran. Aspek yang

diamatinya berupa kelengkapan dan keahlian guru dalam mengajar sebagai

refleksi untuk pertemuan berikutnya.

(18)

Jurnal siswa diberikan pada setiap akhir pembelajaran. Jurnal ini

diberikan untuk mengetahui apa yang diperoleh siswa setelah pembelajaran

yang diterapkan di kelas. Hasil ini akan digunakan untuk melakukan perbaikan

pada tindakan pembelajaran siklus berikutnya.

4. Catatan Lapangan

Catatan lapangan adalah temuan selama pembelajaran yang

diperoleh peneliti, yang tidak ternamai dalam lembar observasi. Bentuk temuan

ini berupa aktivitas siswa dan permasalahan yang dihadapi selama

pembelajaran berlangsung.

E. PROSEDUR PENELITIAN

Siklus Penelitian menurut John Elliot

1. Siklus Pertama

a. Rencana Tindakan Siklus I

Sebagai upaya untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan

optimal, peneliti menerapkan metode Numbered Heads Together sebagai

metode yang dapat melibatkan antara guru dan siswa dan dapat berperan aktif

dalam proses kegiatan belajar-mengajar. Karena jika hanya menggunakan

metode-metode klasik seperti metode ceramah ataupun yang lainnya

dirasakan kurang tepat jika diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia

pada kelas X TSM4 semester gasal di SMK Kartanegara Kota Kediri.

Sebelum pelaksanaan pada siklus I, peneliti melakukan

perencanaan melalui beberapa tahap persiapan yaitu:

1) Membuat rencana pembelajaran.

(19)

3) Peneliti membagai siswa kelas X TSM4 semester gasal di SMK

Kartanegara Kota Kediri, menjadi beberapa kelompok sekaligus memberi

tugas masing-masing kelompok.

4) Setelah pembentukan kelompok, kemudian peneliti mengambil alat

observasi guna mengetahui keantusiasan dan keaktifan siswa dalam proses

pembelajaran berlangsung.

b. Pelaksanaan Siklus I

Setelah diputuskan menggunakan metode Numbered Heads

Together siswa kelas X TSM4 semester gasal di SMK Kartanegara Kota

Kediri Tahun Pejalaran 2014/2015. Maka tahapan pembelajaran sesuai

dengan tahapan dalam metode Numbered Heads Together. Proses

pembelajarannya berlangsung selama 2 X 40 menit, yang meliputi:

Pertemuan I : 2 X 40 menit

1. Kegiatan Pendahuluan

a) Salah seorang peserta didik memimpin berdoa dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

b) Presensi dan memberikan apersepsi kepada siswa.

c) Tukar pendapat tentang fungsi teks anekdot dalam kehidupan sehari-hari setelah menyimak tayangan teks anekdot.

d) Mengekspresikan rasa syukur atas keberadaan bahasa Indonesia setelah menyimak tayangan teks anekdot.

e) Menyampaikan tujuan pembelajaran.

f) Memberikan motivasi sesuai dengan topik yang akan dibahas

g) Menyepakati kegiatan yang akan dilakukan.

(20)

Pre Activity

a) Peneliti/ guru memberikan stimulus materi

b) Peneliti/guru membagi siswa menjadi 6 kelompok.

c) Peneliti/guru memberi tugas kepada masing-masing kelompok.

Whilst Activity

a) Peneliti/guru memberikan instruksi membaca teks anekdot yang

berjudul “Politisi Blusukan Banjir’ kemudian mengidentifikasi

partisipan dan hubungan antarpartisipan

b) Peserta didik membandingkan kegiatan partisipan dalam teks anekdot

dengan kegiatan yang dilakukan oleh tokoh nyata.

c) Peserta didik menentukan tahap krisis pada teks anekdot yang berjudul “Politisi Blusukan Banjir”

d) Peserta didik menata ulang kalimat - kalimat di bacaan buku bahasa

Indonesia halaman 123 secara urut sehingga dapat membentuk cerita

yang bagus

e) Peserta didik menulis ulang teks anekdot yang berjudul “Politisi

Blusukan Banjir” dengan menyisipkan beberapa dialog

f) Dari kegiatan a sampai dengan e siswa diberikan waktu bekerjasama

dalam kelompok beberapa menit. Kemudian dilanjutkan dengan

praktek yang disesuaikan dengan materi serta mempresentasikannya

sesuai dengan nomor yang ditunjuk oleh peneliti/guru.

g) Peneliti/guru mengatur jalannya pembelajaran.

h) Peneliti/guru melontarkan pertanyaan untuk kemudian menunjuk

(21)

i) Peneliti/guru mencatat jawaban siswa dalam lembar keaaktifan siswa

dengan memberikan skor 1 untuk jawaban yang salah, 2 untuk jawaban

kurang lengkap dan 3 untuk jawaban yang lengkap.

j) Jika jawaban salah maka pertanyaan diberikan pada nomor siswa

berikutnya dan seterusnya sampai didapat pertanyaan yang benar.

k) Jika tidak didapatkan jawaban yang benar maka peneliti/guru memberi

kesempatan bertanya kepada siswa nomor berikutnya secara acak dan

menuliskan pertanyaan siswa dengan skor 1 bila pertanyaan sesuai

materi, skor 2 bila menanyakan hal yang lebih detail dan skor 3

menanyakan hal lain yang masih relevan.

Post Activity

a) Peneliti/guru mengevaluasi hasil kinerja siswa selama pembelajaran.

b) Peneliti/guru meluruskan permasalahan dan memberikan feed back yang

tepat atas permasalahan yang ada.

3. Tahap Akhir

a) Peneliti/guru dan pserta didik menyimpulkan pembelajaran

b) Peserta didik melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah

dilaksanakan

c) Peneliti/guru memberikan motivasi-motivasi agar para siswa bisa lebih

meningkatkan belajarnya.

d) Peneliti/guru memberikan informasi mengenai bahasan selanjutnya.

e) Peneliti Peserta didik menyimak informasi mengenai rencana tindak

lanjut pembelajaran.

(22)

Pertemuan II : 2 X 40 menit

1. Tahap Pendahuluan

a) Siswa berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing dan dilan-jutkan

dengan memberikan salam pembuka (Assalamu’alaikum Wr. Wb.)

b) Presensi Siswa

c) Siswa menerima intruksi untuk membentuk formasi kelompok seperti

minggu lalu.

d) Siswa menerima informasi tentang keterkaitan pembelajaran

sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan.

e) Siswa menyimak penjelasan guru mengenai kompetensi, materi,

tujuan, manfaat, dan langkah pemelajaran yang akan dilaksanakan.

f) Siswa menerima penjelasan secara singkat kompetensi yang harus

dimiliki oleh siswa sebagai hasil belajar

2. Tahap Inti

Whilst Activity

a) Peserta didik membaca teks anekdot yang berjudul “Puntung Rokok “pada buku paket bahasa Indonesia kelas X hal 124 -125.

b) Peserta didik mengidentifikasi pelaku dalam teks anekdot yang berjudul “Puntung Rokok “.

c) Peserta didik mengidentifikasikan isi dan konteks dalam teks anekdot yang berjudul “Puntung Rokok “.

d) Peserta didik mengurutkan kalimat kalimat secara acak dengan cara membubuhkan nomor pada setiap kalimat dalam teks cerita “Puntung Rokok”.

(23)

f) Peserta didik membandingkan hasil kerja mereka dengan kelompok lain dan memperbaikinya.

g) Peserta didik mempresentasikan teks yang mereka susun di dapan

kelas dengan pengucapan dan intonasi yang benar dan meminta

kelompok lain mengometarinya

h) Peneliti/guru memberikan kesempatan kepada nomor dari

masing-masing kelompok yang belum menjawab.

i) Peneliti/guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk

mengajukan pendapatnya, baik dalam bentuk menyanggah ataupun

yang lainnya dan mencatatnya kegiatan ini pada lembar penilaian

keaktifan siswa.

Post Activity

a) Peneliti/guru beserta siswa menyimpulkan pembelajaran.

b) Peneliti/guru melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah

dilaksanakan.

c) Peneliti/guru memperjelas secara detail materi teks anekdot.

3. Tahap Akhir

a) Peserta didik menyimak informasi mengenai rencana tindak

lan-jut pembelajaran

b) Peneliti/guru memberi kesempatan kepada siswa untuk betanya.

c) Peneliti/guru memberi tugas kepada siswa untuk mempelajari

materi selanjutnya

d) Peneliti/guru memberikan motivasi-motivasi agar para siswa

(24)

c. Observasi Siklus I

Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, peneliti di sini

selain bertindak sebagai guru, peneliti juga bertindak sebagai observer yang

mencatat lembar pengamatan pada lembar observasi prilaku siswa. Hasil

pengamatan pada tahap I, kegiatan siswa sudah cukup bagus atau belum,

siswa terlihat lebih antusias dalam memperhatikan pelajaran atau tidak, dan

apakah pelajaran yang didapatkan akan lebih menyenangkan dari biasanya

atau tetap seperti biasanya.

Memasuki tahapan II, apakah siswa lebih antusias dan lebih

aktif dalam belajarnya, hal ini dilihat dari kegiatan siswa dalam proses

pembelajaran. Apakah mayoritas siswa mampu membuat teks anekdot dengan

baik serta bersemangat dalam mengapresiasikannya.

d. Refeleksi Siklus I

Tujuan penelitian menerapkan metode Numbered Heads

Together adalah untuk mengatasi kesulitan belajar siswa, agar metode-metode

pembelajaran Bahasa Indonesia dapat dirasakan efektif oleh siswa.

Khususnya pada kelas XTSM4 semester I di SMK Kartanegara Kota Kediri

tahun pelajaran 2014/2015. Yang mana hal ini tidak terlepas dari kebiasaan

siswa dalam belajar yang dialaminya selama ini. Untuk menyikapi kenyataan

diatas, maka diambil langkah-langkah:

1) Memperhatikan peningkatan siswa yang lebih tertib dalam mengikuti

proses pembelajaran.

2) Sebagian kecil siswa yang kurang mampu menguasai materi teks anekdot,

(25)

2. Siklus Kedua

a. Rencana Tindakan Siklus II

Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam pembelajaran,

peneliti memantapkan penggunaan metode Numbered Heads Together yang

nantinya akan melibatkan lebih banyak lagi siswa yang terlibat dalam proses

pembelajaran Bahasa Indonesia pada topik Kerja Sama Membangun Teks

Anekdot.

Sebelum pelaksanaan metode Numbered Heads Together pada

siklus II, peneliti melakukan perencanaan melalui beberapa tahap persiapan

yaitu:

1) Membuat rencana pembelajaran.

2) Membagi materi selanjutnya menjadi beberapa bagian.

3) Peneliti/guru membagi siswa kelas X menjadi 6 kelompok sekaligus

memberi tugas masing-masing kelompok..

4) Setelah pembentukan kelompok, kemudian peneliti mengambil alat

observasi guna mengetahui keantusiasan dan keaktifan siswa dalam

proses pembelajaran berlangsung.

b. Pelaksanaan Siklus II

Dengan tetap menggunakan metode Numbered Heads Together

maka tahapan pembelajaran yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Pertemuan I : 2 X 40 menit

(26)

a) Salah seorang siswa memimpin berdoa dengan menggunakan bahasa

Indonesia yang baik dan benar.

b) Presensi siswa.

c) Siswa menerima informasi tentang keterkaitan pembelajaran sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan.

d) Siswa didik menyimak penjelasan guru mengenai kompetensi, materi,

tujuan, manfaat, dan langkah pemelajaran yang akan dilaksanakan.

2. Tahap Inti

Pre Activity

a) Peneliti/guru memberikan stimulus materi teks anekdot

b) Peneliti/ guru membagi siswa menjadi 6 kelompok.

c) Peneliti/ guru memberi tugas kepada masing-masing kelompok.

Whilst Activity

a) Siswa membaca teks anekdot yang ada pada buku paket Bahasa Indonesia kelas X hal 130.

b) Siswa mengelompokkan berdasarkan struktur teks anekdot seperti abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, koda.

c) Siswa menyusun teks anekdot lain berdasarkan teks yang sudah ada

dengan mengganti pelaku, seting, dan persoalan yang dihadapi pelaku.

d) Poin a) sampai c) didiskusikan secara berkelompok.

e) Peneliti/guru menghentikan jalannya diskusi setelah dirasa cukup dan

memulai kegiatan bertanya dan menjawab pertanyaan yang

disampaikan masing-masing kelompok yang ditunjuk oleh sesuai

dengan nomor yang telah diberikan oleh peneliti.

(27)

a) Peneliti/guru mengevaluasi hasil kinerja siswa selama proses

pembelajaran melalui instrumen lembar keaktifan siswa seperti pada

siklus I.

b) Peneliti/guru memberikan koreksi selama berlangsung porses

pembelajaran dan memberikan feed back yang tepat atas permasalahan

yang ada.

3. Tahap Akhir

a) Peneliti/ guru beserta siswa menyimpulkan hasil pembelajaran

b) Siswa melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah

dilaksanakan

c) Tes formatif

d) Salam penutup

c. Observasi Siklus II

Setelah diadakan perbaikan-perbaikan terhadap hasil yang didapat

dari siklus I kegiatan siswa dalam proses belajar-mengajar diharapkan lebih

bagus lagi, karena ada kemajuan bagi kelompok siswa yang belum presentasi.

Dari hasil pengamatan, diperoleh dapat diperoleh kesimpulan apakah siswa

cukup antusias dalam mengikuti kegiatan belajar-mengajar, dan apakah siswa

bertambah aktif untuk bertanya dan menjawab. Dan juga siswa mengalami

peningkatan kemampuan dalam membuat teks anekdot.

Prestasi belajar siswa yang merupakan hasil akhir dari

pembelajaran metode Numbered Heads Together yaitu dapat dilihat pada

(28)

d. Refleksi Siklus II

Dari kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung dengan

menggunakan metode Numbered Heads Together, maka tujuan pembelajaran

yaitu untuk dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan agar siswa untuk

lebih aktif, kreatif dalam proses belajar-mengajar.

Dari hasil observasi pada siklus II, maka langkah yang akan

diambil:

a) Pemahaman dan ketaatan siswa menunjukkan bahwa metode Numbered

Heads Together harus terus diterapkan kepada siswa untuk lebih mudah

dimengerti secara mendalam makna yang terkandung dalam materi yang

disampaikan.

b) Menjaga agar kualitas belajar yang sudah berjalan berkembang lebih baik

(29)

F. Teknik Analisis

Analisis data merupakan kegiatan yang dilakukan setelah kegiatan

pengumpulan data. Dalam penelitian ini, tehknik analisis data yang digunakan

adalah teknik analisis deskriptif kualitatif. Teknik deskriptif kualitatif adalah suatu

teknik yang menganalisis data dengan cara mengiterpretasikan data yang diperoleh

dengan menggunakan kata-kata.

Untuk memperoleh data yang benar dan akurat dalam penelitian ini,

maka penulis menggunakan beberapa metode antara lain :

1. Observasi

Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara

sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.Yang dilakukan

waktu pengamatan adalah mengamati gejala-gejala sosial dalam kategori yang

tepat, mengamati berkali-kali dan mencatat segera dengan memakai alat bantu

seperti alat pencatat, formulir dan alat mekanik.

2. Pengukuran test hasil belajar

Pengukuran test hasil belajar ini dilakukan dengan tujuan untuk

mengetahui peningkatan keterampilan berbicara siswa dengan melihat nilai yang

diperoleh oleh siswa.

3. Wawancara

Wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang, melibatkan

seseorang yang ingin memperoleh informasi dari seseorang lainnya dengan

mengajukan pertanyaan-pertanyaan, berdasarkan tujuan tertentu.

(30)

Tidak kalah penting dari metode-metode lain adalah metode

dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa

catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger,

agenda dan sebagainya.

G. Kriteria Keberhasilan Tindakan

Kriteria keberhasilan penelitian dilihat sama seperti pada siklus 1, yaitu:

1. Bilamana ada peningkatan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dari

pertemuan pertama dan kedua pada siklus I.

2. Ketercapaian ketuntasan belajar siswa secara klasikal dalam menyerap materi

(31)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. HASIL PENELITIAN SIKLUS I

1. Perencanaan

Di SMK Kartanegara Kota Kediri kelas X.TSM2 dengan jumlah

murid 30, peneliti memang menemukan dan merasakan bahwa sebagian besar

murid (sekitar 60 s.d 70%) tidak bisa aktif dalam proses pembelajaran bahasa

Indonesia dan bahkan ada beberapa siswa hanya diam saja. Untuk itu peneliti

mencoba metode pembelajaran baru yang belum pernah diterapkan yaitu

“Metode Numbered Heads Together”. Metode ini diharapkan dapat mengaktifan seluruh siswa dalam proses pembelajaran. Sedangkan yang perlu dipersiapkan

sebelum model ini diterapkan adalah perangkat pengumpulan data yaitu, 1).

Lembar Penilaian Keaktifan Siswa, 2). Lembar Pertanyaan Siswa, 3). Lembar

Pendapat dan Tanggapan Siswa, 4). Dan lembar keaktifan guru serta 5) Buku

Materi (BKS MGMP).

2. Pelaksanaan

Pada siklus ke-1 Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dimulai hari

Sabtu, 24 Agustus 2014 dengan materi membahas materi membaca teks anekdot

yang berjudul “Politisi Blusukan Banjir’ dan teks anekdot yang berjudul

“Puntung Rokok“ yang dilaksanakan selama dua kali pertemuan. Prosedur

(32)

Together” seperti penjelasan di BAB. III, dan ternyata secara praktis bisa

dikatakan bahwa langkah-langkah dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana.

3. Pengamatan

Dari pengamatan yang kemudian data diisikan pada lembar

Penilaian Keaktifan Siswa dan lembar keaktifan guru diproleh hasil sebagai

berikut :

B. HASIL PENELITIAN SIKLUS II 1. Perencanaan

Pada siklus I prosen pembelajaran “Metode Numbered Heads

Together” dapat diterima oleh siswa yang mempunyai kemampuan rerata dan di

atas rerata, namun bagi siswa yang malas tetap mempunyai kecenderungan untuk

menyesuaikan teman-temannya. Siswa yang bekemampuan tinggi cenderung

untuk mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan walaupun sudah dibuat

kesepakatan bahwa siswa yang ditunjuk sesuai dengan nomor yang telah

diberikan yang boleh bertanya atau menjawab pertanyaan.

2. Pelaksanaan

Siklus II dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 6 Septeber 2014

membahas materi buku paket kelas X halaman 130 dimana siswa

mengelompokkan berdasarkan struktur teks anekdot seperti abstraksi, orientasi,

krisis, reaksi, koda dan siswa harus menyusun teks anekdot lain berdasarkan teks

yang sudah ada dengan mengganti pelaku, seting, dan persoalan yang dihadapi

pelaku.

(33)

Berdasarkan pengalaman di siklus I, pengamatan di siklus II ini

peneliti berkolaborasi secara intensif agar pelaksanaan penelitian lebih berhasil

untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dengan membuat suasana yang lebih

santai dan menyenangkan. Dari hasi pengamatan diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 7

LEMBAR PENILAIAN KEAKTIFAN SIWA PERTEMUAN 3 SIKLUS II

N

o N a m a

KEGIATAN FREKUENSI

Frekuensi

Bertanya Menjawab Berta-nya Menja-wab

1 Aditya Pregawa Pratama 1 1 2 2 2 Sering

2 Aleck Franando 1 0 1 Kadang-kadang

3 Andi Prasetyo 1 0 1 Kadang-kadang

4 Dicky Fernando 3 1 3 1 2 Sering

5 Dicky Wibowo Prapditya 1 0 1 Kadang-kadang

6 Dino Andrianto 1 2 3 1 2 Sering

7 Ervan Fajar Setiawan 1 0 1 Kadang-kadang

8 Fandi Novantoro 2 2 1 1 Kadang-kadang

9 Feri Andrian 1 1 1 1 Kadang-kadang

10 Heri Cahyono 2 2 1 1 Kadang-kadang

11 Heru Dwi Susanto 2 1 2 3 1 3 Sering

12 Heru Hermawan 2 0 1 Kadang-kadang

13 Jefrika Efendi 2 3 3 2 1 Sering

14 M. Bahaudin Sya Roni 2 1 0 Kadang-kadang

15 M. Fadil Asan Firmansyah 2 0 1 Kadang-kadang

16 Markus Deo Pradipta 2 1 0 Kadang-kadang

17 Mesi Rizki Pujianto 2 0 1 Kadang-kadang

18 Meydo Fajar Muharom 1 1 2 1 2 Sering

19 Moh. Suprayitno 1 0 1 Kadang-kadang

20 Muhammad Zamroji 1 0 1 Kadang-kadang

21 Putra Nuryahya Ramadhan 1 2 3 3 3 1 Sering

22 Redo Pratama 2 3 2 3 2 2 Sering

23 Ricko Puspa Kurniawan 1 0 1 Kadang-kadang

24 Septian Yuli Saputra 1 1 1 1 Kadang-kadang

(34)

N

o N a m a

KEGIATAN FREKUENSI

Frekuensi

Bertanya Menjawab Berta-nya Menja-wab

26 Wirawan Bagus Susilo 1 2 2 3 2 2 Sering

27 Yoga Fian Aldianto 2 2 3 1 2 Sering

28 Yoga Setiawan 1 0 1 Kadang-kadang

29 Yoghaswara kholifi Yunan 2 3 0 2 Kadang-kadang

30 Yosef Adi Pratama 1 3 1 3 2 2 Sering

Skor 2 = meminta keterangan yang lebih detail Skor 3 = menanyakan hal lain yang masih relevan

B. Menjawab Pertanyaan Skor 1 = menjawab tidak benar

Skor 2 = menjawab benar tetapi kurang lengkap Skor 3 = menjawab benar dan lengkap

C. Frekuensi bertanya/menjawab pertanyaan Skor 0 = tidak pernah (0 kali)

Skor 1 = kadang-kadang (1-2 kali) Skor 3 = sering (> 3 kali)

Tabel 8

LEMBAR PENILAIAN KEAKTIFAN GURU PERTEMUAN 2 SIKLUS I

(35)

NO

. AKTIFITAS GURU

SKOR

1 2 3 4

memimpin doa

2 Guru melakukan presensi dan memberikan

apersepsi kepada siswa 

3

Guru melakukan tukar pendapat tentang fungsi teks anekdot dalam kehidupan sehari-hari

setelah menyimak tayangan teks anekdot 

4

Guru mengekspresikan rasa syukur atas

keberadaan bahasa Indonesia setelah menyimak

tayangan teks anekdot 

5 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

6 Guru memberikan motivasi sesuai dengan topik

yang akan dibahas. 

7 Guru menyepakati kegiatan yang akan dilakukan

Kegiatan Inti

1 Peneliti/ guru memberikan stimulus materi

2 Peneliti/guru membagi siswa menjadi 6

kelompok 

3 Peneliti/guru memberi tugas kepada

masing-masing kelompok 

4

Guru memberi kesempatan peserta didik untuk membaca teks anekdot yang berjudul “Politisi Blusukan Banjir’ secara berkelompok, kemudian mengidentifikasi partisipan dan hubungan antar partisipan

5

Guru mengamati peserta didik membandingkan kegiatan partisipan dalam teks anekdot dengan

kegiatan yang dilakukan oleh tokoh nyata. 

6

Guru mengamati peserta didik menentukan tahap krisis pada teks anekdot yang berjudul

“Politisi Blusukan Banjir” 

7

Guru mengamati peserta didik menata ulang kalimat-kalimat di bacaan buku bahasa Indonesia halaman 123 secara urut sehingga dapat membentuk cerita yang bagus

8

Guru mengamati peserta didik menulis ulang teks anekdot yang berjudul “Politisi Blusukan

Banjir” dengan menyisipkan beberapa dialog. 

9 Guru menghentikan diskusi hasil diskusi 

10 Guru menunjuk salah satu kelompok untuk

mempresentasikan hasil diskusi 

11 Guru melontarkan pertanyaan untuk kemudian

menunjuk nomor siswa yang akan menjawabnya 

(36)

NO

. AKTIFITAS GURU

SKOR

1 2 3 4

untuk jawaban yang salah, 2 untuk jawaban kurang lengkap dan 3 untuk jawaban yang lengkap

13

Jika jawaban salah maka guru memberikan pertanyaan pada nomor siswa berikutnya dan seterusnya sampai didapat pertanyaan yang benar

14

Jika tidak didapatkan jawaban yang benar maka peneliti/guru memberi kesempatan bertanya kepada siswa nomor berikutnya secara acak dan menuliskan pertanyaan siswa dengan skor 1 bila pertanyaan sesuai materi, skor 2 bila

menanyakan hal yang lebih detail dan skor 3 menanyakan hal lain yang masih relevan.

Penutup

1 Peserta didik bersama guru menyimpulkan

pembelajaran 

2 Peserta didik melakukan refleksi terhadap

kegiatan yang sudah dilaksanakan 

3 Guru melaksanakan tes formatif  4 Siswa melaksakan tes formatif

5 Doa penutup

Jumlah nilai aktivitas guru = Skor perolehan

Skor maksimum x 100 %

No N a m a Nilai Keterangan

1 Aditya Pregawa Pratama 76 Tuntas

2 Aleck Franando 58 Remidi

3 Andi Prasetyo 76 Tuntas

4 Dicky Fernando 90 Tuntas

5 Dicky Wibowo Prapditya 78 Tuntas

(37)

No N a m a Nilai Keterangan

7 Ervan Fajar Setiawan 76 Tuntas

8 Fandi Novantoro 80 Tuntas

9 Feri Andrian 76 Tuntas

10 Heri Cahyono 88 Tuntas

11 Heru Dwi Susanto 96 Tuntas

12 Heru Hermawan 80 Tuntas

13 Jefrika Efendi 98 Tuntas

14 M. Bahaudin Sya Roni 82 Tuntas

15 M. Fadil Asan Firmansyah 84 Tuntas

16 Markus Deo Pradipta 78 Tuntas

17 Mesi Rizki Pujianto 80 Tuntas

18 Meydo Fajar Muharom 82 Tuntas

19 Moh. Suprayitno 76 Tuntas

20 Muhammad Zamroji 76 Tuntas

21 Putra Nuryahya Ramadhan 98 Tuntas

22 Redo Pratama 98 Tuntas

23 Ricko Puspa Kurniawan 74 Remidi

24 Septian Yuli Saputra 78 Tuntas

25 Vicky Firdaus Ananda 76 Tuntas

26 Wirawan Bagus Susilo 94 Tuntas

27 Yoga Fian Aldianto 96 Tuntas

28 Yoga Setiawan 74 Remidi

29 Yoghaswara kholifi Yunan 90 Tuntas

30 Yosef Adi Pratama 90 Tuntas

Nilai tertinggi 98

Nilai terendah 58

Nilai rata-rata 83

Total siswa yang tuntas belajar 27

Total siswa yang remidi 3

(38)

KEGIATAN FREKUENSI

Frekuensi

Bertanya Menjawab Berta-nya Menja-wab

Sering 0 Siswa 0,00 %

Kadang-kadang 10 Siswa 33,33 %

Tidak pernah 21 Siswa 70,00 %

JUMLAH 2 4 5 9 5 9 11 23

Sering 5 Siswa 11,90 %

Kadang-kadang 13 Siswa 44,83 %

Tidak pernah 13 Siswa 26,00 %

JUMLAH 9 10 5 15 14 10 25 39

Sering 11 Siswa 26,19 %

Kadang-kadang 19 Siswa 65,52 %

Tidak pernah 0 Siswa 0,00 %

Tabel 11

Total skor pertemuan pertama 4 22

Total skor pertemua kedua 26

Total skor pertemuan ketiga 21 5

Nilai keaktifan guru pada pertemua pertama Cukup baik

Nilai keaktifan guru pada pertemua kedua Baik

Nilai keaktifan guru pada pertemuan ketiga Baik

4. Refleksi

Proses pembelajaran di siklus II dipertemuan ketiga ini diperoleh

hasil pengamatan keaktifan siswa, keaktifan guru dan hasil tes sebagai berikut :

Total semua pertanyaan siswa pada siklus II ada 24 yang terdiri atas

(39)

tentang teks anekdot. Total jawaban siswa 39 jawaban yang terdiri atas 15

jawaban salah, dan 14 jawaban benar tapi tidak lengkap serta 10 jawaban benar.

Peningkatan frekuensi siswa yang tidak pernah bertanya dan

menjawab pertanyaan sama dengan 0 (nol) ini berarti semua siswa dalam kelas

telah aktif dalam proses pembelajaran. Namun hal ini belum bisa menjamin

ketuntasan belajar bisa mencapai 100% sebab masih banyak siswa yang

nebjawab pertanyaan dengan tidak benar. Namun pada siswa yang mempunya

frekuensi kadang-kadang dan sering menjawab pertanyaan atau menjawab

pertanyaan ini bisa dipastikan akan mencapai ketuntasan belajar.

Melihat keaktifan guru pada pertemuan ketiga di sikus II ini

penampilan guru semakin mantap dan optimis bahwa “Metode Numbered Heads

Together” akan berhasil meningkatkan motivasi belajar siswa.

Dari hasil tes formatif siswa kelas X TSM4 ini terlihat nyata bahwa

siswa-siswa yang mempunyai frekuensi bertanya dan menjawab pertanyaan

dengan baik mempunyai korelasi yang signifikan.

Dengan ketuntasan belajar klasikal sebesar 90% ini berarti sudah

melampoi batas minimal ketuntasan belajar secara klasikal yaitu sebesar 80%.

C. PENDAPAT DAN TANGGAPAN SISWA

Rekapitulasi pendapat siswa kelas X TSM4 SMK Kartanegara Kota

Kediri Tahun Pelajaran 2014/2015 sebagai berikut :

1. Nama : Dirahasiakan

(40)

menyampaikan pendapat, bertanya, menjawab dan menyampaikan

tanggapan, kepada sesama teman dan bahkan guru.

2. Nama : Dirahasiakan

 Saya sangat setuju. Pembelajaran itulah yang harus diterapkan disekolah

karena sekarang sistemnya siswa harus aktif. Jadi murid harus banyak

melakukan aktivitas.

3. Nama : Dirahasiakan

 Saya sangat setuju, karena dengan pembelajaran “Metode Numbereds Heads

Together” setiap siswa bisa mendapatkan suasana baru berupa kesempatan

untuk mempresentasikan apa yang didengarkan, bertanya, menjawab, dan

menyampaikan tanggapan kepada guru.

4. Nama : Dirahasiakan

 Saya sangat setuju dengan sistem pembelajaran “Metode Numbereds Heads

Together” karena dengan model pembelajaran ini siswa bisa bertanya dan

menuangkan hal sesuatu yang belum dimengerti untuk ditanyakan kepada

guru pengajar.

5. Nama : Dirahasiakan

 Setuju, karena dengan adanya prinsip ini dapat membuat siswa semangat

belajar dan akan bertanya dan menggunakan sesuatu yang belum di ketahui /

penemuan.

6. Nama : Dirahasiakan

 Sebaiknya ibu guru jadi guru ekonomi?

(41)

 Setuju, karena sebagian besar siswa tidak berani untuk bertanya secara

langsung dan menerangkannya kalau bisa lebih dari 20 menit agar para

siswa lebih jelas menangkapnya dan seharusnya diterangkan melalui contoh

yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, serta penggunaan buku paket

harus diutamakan.

8. Nama : Dirahasiakan

 Setuju, karena sebagian besar siswa tidak berani bertanya kepada guru, tapi

guru harus menambah waktu untuk memberikan teori dari 20 menit menjadi

1 jam pelajaran.

9. Nama : Dirahasiakan

 ½ tolong prinsip “Metode Numbereds Heads Together” harus diterapkan

dan jangan membuat soal di jawab sendiri kecuali kalau siswa tidak bisa.

10. Nama : Dirahasiakan

 My teacher is less to jess

 Saya setuju dengan diberikan lembaran, jadi para siswa bisa bertanya tanpa

ada suasana berisik. Dengan begini apa yang ada di benak para murid bisa

ditanyakan.

11. Nama : Dirahasiakan

 Saya sangat setuju sekali, karena itu bisa memajukan para siswa untuk

bertanya.

12. Nama : Dirahasiakan

 Setuju, karena siswa juga bertanya apabila ada pertanyaa yang belum jelas ?

(42)

 Setuju, karena dengan adanya kelas pertanyaan semua murid bisa paham

betul dengan pelajaran dan juga untuk murid yang tidak berani bertanya bisa

menanyakannya melalui kertas pertanyaan.

14. Nama : Dirahasiakan

 Setuju, sebab karena ada “Metode Numbereds Heads Together” kita bisa

belajar rikels, santai, dan dapat mencarikan suasana dan kita bisa lebih

enjoy.

15. Nama : Dirahasiakan

 Setuju, karena dengan diberikannya lembaran untuk bertanya murid dapat

bertanya dengan bebas dan murid bisa memberikan motivasinya.

16. Nama : Dirahasiakan

Setuju, Karen siswa juga bisa bertanya apa yang ia belum ketahui dari apa

yang guru ajarkan kepada muridnya dan dengan “Metode Numbereds Heads

Together” semua siswa dapat bertanya kepada guru sebelum ada model

pembelajaran. Kebanyakan siswa tidak berani bertanya atau malu bertanya.

Saya kira dengan model pembelajaran “Metode Numbereds Heads

Together” ini cukup bagus untuk semua murid. Terima kasih.

17. Nama : Dirahasiakan

Saya setuju karena dengan model pembelajaran “Metode Numbereds Heads

Together” siswa bisa mengungkapkan dengan jenis tentang pelajaran yang

tidak mereka mengerti dengan cara membuat pertanyaan secara tertulis.

18. Nama : Dirahasiakan

 Saya setuju, karena dengan “Metode Numbereds Heads Together” para

(43)

menanyakan sesuatu yang belum dimengerti. Tetapi dapat memperlambat

waktu penerangan.

19. Nama : Dirahasiakan

 Setuju, tetapi cara menjelaskannya pelan-pelan agar mudah dimengerti.

20. Nama : Dirahasiakan

 Saya sangat setuju dengan model pembelajaran “Metode Numbereds Heads

Together” yang ditetapkan seperti sekarang ini. karena dari siswa dapat

bertanya apa yang ia belum tau/mengerti.

21. Nama : Dirahasiakan

 Saya setuju, dengan pembelajaran “Metode Numbereds Heads Together”

karena siswa bisa aktif bertanya kepada guru dan mengerjakan soal-soal.

22. Nama : Dirahasiakan

Setuju karena dalam sistem pembelajaran “Metode Numbereds Heads

Together” sekarang yang digunakan adalah sistem siswa harus aktif dalam

sistem ini murid dituntut bertanya dan dapat menerangkannya.

23. Nama : Dirahasiakan

Saya setuju dengan cara pembelajaran “Metode Numbereds Heads

Together” ini adalah sistem siswa harus aktif dalam sistem ini siswa di

tuntut untuk membuat pertanyaan dan siswa harus dapat menerangkannya,

tetapi kalau menerangkan materi dengan terlalu cepat biar siswa dapat

menerimanya dengan jelas.

(44)

 Setuju, karena cepat gurunya dalam memberi materi sehingga kami tidak

mengerti. Dan kalau memberikan materi harus pelan-pelan dan kalau

memberikan rumusnya harus diberi satuannya………ok…………?

Saya harap Ibu tidak marah,……!

25. Nama : Dirahasiakan

 Setuju, tapi cara bapak menerangkan materi terlalu cepat.

26. Nama : Dirahasiakan

 Setuju, tetapi cara Ibu menerangkan terlalu cepat sehingga kamu sulit untuk

memahaminya.

27. Nama : Dirahasiakan

 Setuju tetapi cara Ibu menerangkan terlalu cepat sehingga kami sulit untuk

memahaminya.

28. Nama : Dirahasiakan

 Setuju, tetapi cara menjelaskannya harus pelan-pelan supaya mudah

dimengerti.

29. Nama : Dirahasiakan

 Setuju, tetapi cara menjelaskannya harus pelan-pelan supaya mudah

dimengerti.

30. Nama : Dirahasiakan

K. Setuju, tetapi cara menjelaskannya harus pelan-pelan supaya mudah

(45)

BAB V

PENUTUP

Hasil penelitian tindakan kelas berjudul “Meningkatkan Motivasi Belajar

Siswa Kelas X TSM4 Melalui Pendekatan Numbered Heads Together Mata Pelajaran

Bahasa Indonesia Pada Topik Kerja Sama Membangun Teks Anekdot Di SMK

Kartanegara Kota Kediri” dengan dengan tujuan meningkatkan motivasi belajar siswa

kelas X TSM4 Semester Gasal Tahun Pelajaran 2014/2015 pada Topik Kerja Sama

Membangun Teks Anekdot peneliti dapat memberikan kesimpulan dan saran seperti di

bawah ini.

A. KESIMPULAN

1. Bahwa metode Numbered Heads Together dapat meningkatkan motivasi belajar

siswa kelas X TSM4 Semester Gasal Tahun Pelajaran 2014/2015 pada Topik

Kerja Sama Membangun Teks Anekdot di SMK Kartanegara Kota Kediri. Hal

ini dapat dilihat pada peningkatan keaktifan siswa pada pertemuan pertama,

kedua dan ketiga.

2. Bahwa metode Numbered Heads Together juga dapat meningkatkan hasil

belajar siswa kelas X TSM4 Semester Gasal Tahun Pelajaran 2014/2015 pada

Topik Kerja Sama Membangun Teks Anekdot di SMK Kartanegara Kota

Kediri. Hal ini dapat dilihat pada hasil tes formatif dengan hasil nilai rata-rata

83 dan ketuntasan belajar klasikal sebesar 90%

3. Dari hasil penelitian bahwa hipotesis : “Penerapan pendekatan Numbered

(46)

SMK Kartanegara Kota Kediri khususnya pada mata pelajaran Bahasa

Indonesia dengan topik Kerja Sama Membangun Teks Anekdot” terbukti benar.

B. SARAN

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan pendidikan, terutama dapat mengembangkan khazanah ilmu

tentang peningkatan motivasi belajar Bahasa Indonesia melalui pendekatan

Numbered Heads Together.

2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan perbandingan bagi peneliti yang akan menerapkan proses pembelajaran agar dapat memberikan motivasi

pada peserta didik dalam peningkatan hasil belajarnya.

3. Penelitian ini mudah-mudahan dapat memberikan sumbangan yang bermanfaat dalam rangka perbaikan proses pembelajaran Bahasa Indonesia. Dan mungkin

(47)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto Suharsimi, (1986). Prosedur Penelitian, Jakarta : Bina Aksara

Andayani.dkk, (2009) Pemantapan Kemampuan Profesional,Jakarta : Universitas

Terbuka

C.George Boeree, (2008) Metode Pembelajaran Dan Pengajaran, Jogjakarta :Ruzz

Media

Departemen Pendidikan Nasional, (1999). Penelitian Tindakan Action Research.

Jakarta : Ditjen : Penerbit Rineka Cipta

http://id.wikipedia.org/wiki/Anekdot

Idrus, Muhammad, (2009). Metode Penelitian Ilmu Sosial. Yogyakarta: Erlangga.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, (2014). Bahasa Indonesia ekspresi Diri dan

Akademik, Edisi Revisi, Jakarta.

Gambar

Tabel 7LEMBAR PENILAIAN KEAKTIFAN SIWA PERTEMUAN 3
Tabel 8LEMBAR PENILAIAN KEAKTIFAN GURU PERTEMUAN 2
Tabel 9HASIL TES FORMATIF SISWA
Tabel 10REKAPITULASI PENILAIAN KEAKTIFAN SISWA
+2

Referensi

Dokumen terkait

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP MATA PELAJARAN. Universitas Pendidikan Indonesia |

Tujuan Penelitian ini adalah untuk meningkatkan motivasi belajar dalam pembelajaran sub tema peristiwa – peristiwa penting melalui metode Numbered Heads Together (NGT)

mengetahui bahwa metode Numbered Heads Together dapat meningkatkan.. hasil belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi pada siswa kelas X Ak 2 di. SMK Negeri 1 Banyudono. Dapat

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MESIN BUBUT DASAR KELAS

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari implementasi model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) terhadap motivasi siswa, pengaruh motivasi

PENERAPAN COOPERATIVE LEARNING TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN AKUNTANSI SMK YPKK 2 SLEMAN Penelitian Tindakan

Meningkatkan Hasil Belajar peserta didik kelas VIII pada mata pelajaran IPS. menggunakan model kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT)

Nisak, Khoirun. Penerapan Model Numbered Heads Together untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPS Kelas IV SDN 1 Getassrabi Kudus