PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS X TSM4
MELALUI PENDEKATAN NUMBERED HEADS TOGETHER
MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA PADA TOPIK KERJA
SAMA MEMBANGUN TEKS ANEKDOT DI SMK KARTANEGARA
KOTA KEDIRI
Disusun Oleh:
Drs. SETYA SUCIPTA
PENELITIAN TINDAKAN KELAS (P T K)
MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA
PELAKSANAAN 24 AGUSTUS - 6 SEPTENBER 2014
Lembar Pengesahan
MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS X TSM4
MELALUI PENDEKATAN NUMBERED HEADS TOGETHER
MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA PADA TOPIK KERJA
SAMA MEMBANGUN TEKS ANEKDOT DI SMK KARTANEGARA
KOTA KEDIRI
Disyahkan pada :
Hari :
Tanggal :
Di :
Kediri, 18 Oktober 2014
Mengetahui Penyusun,
Kepala Sekolah
Drs. AGUNG WICAKSONO Drs. SETYA SUCIPTA
Dokumentasi PTK dengan Judul :
MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS X TSM4
MELALUI PENDEKATAN NUMBERED HEADS TOGETHER
MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA PADA TOPIK KERJA
SAMA MEMBANGUN TEKS ANEKDOT DI SMK KARTANEGARA
KOTA KEDIRI
Didokumentasikan pada :
Hari :
Tanggal :
Di : Perpustakaan SMK Kartanegara
Kediri, 18 Oktober 2014
Mengetahui Penyusun,
Kepala Perputakaan,
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah swt, berkat rahmatnya penulis dapat menyusun PTK Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berjudul Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas X Tsm4 Melalui Pendekatan Numbered Heads Together Mata
Pelajaran Bahasa Indonesia Pada Topik Kerja Sama Membangun Teks Anekdot Di Smk
Kartanegara Kota Kediri, yang penulis susun untuk memenuhi syarat kelengkapan kenaikan pangkat/golonga ruang.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Yth :
1. Bapak Drs. Agung Wicaksono selaku Kepala SMK Kartanegara Kota Kediri
2. Teman-teman sejawat yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu dan pihak-pihak terkait yang turut membantu dan memberi masukan sehingga PTK ini dapat terselesaikan
Mengingat keterbatasan yang ada, penyusunan PTK ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mohon kritik dan saran yang konstruktif demi perbaikan penulisan selanjutnya.
Kediri, 18 Oktober 2014 Penyusun,
DAFTAR ISI
Halaman Judul ……….. i
Lembar Pengesahan ……….. ii
Dokumentasi ……….. iii
Kata Pengantar ……….. iv
Daftar Isi ……….. v
Abtraksi ……….. vii
B A B I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ……….. 1
B. Identifikasi Masalah ……….. 3
C. Batasan Masalah ……….. 4
D. Rumusan Masalah ……….. 4
E. Tujuan Penelitian ……….. 4
F. Manfaat Hasil Penelitian ……….. 5
B A B II : KAJIAN PUSTAKA DAN RENCANA TINDAKAN A. Konsep Teori ………... 6
B. Teks Anekdot ………... 18
C. Hipotesis Penelitian ……….. 20
B. Subyek Penelitian ……….. 23
C. Teknik Pengumpulan Data ……….. 24
D. Instrumen Pengumpulan Data ... 25
E. Prosedur Penelitian ……….. 26
F. Teknis Analisis Data ……….. 37
G. Kriteria Keberhasilan Tindakan .……….. 38
B A B IV : HASIL PENELITIAN A. Hasil Penelitian Siklus I ……….. 39
B. Hasil Penelitian Siklus II ……….. 49
C. Pendapat dan Tanggapan Siswa ……….. 57
B A B V : PENUTUP A. Kesimpulan ……….. 63
B. Saran ……….. 64
DAFTAR PUSTAKA
ABSTRAK
Kurang optimalnya pelaksanaan sistem pendidikan (yang sebenarnya sudah cukup baik) di Indonesia yang disebabkan kurangnya motivasi siswa dalam belajar. Sebenarnya kurikulum Indonesia tidak kalah dari kurikulum di negara maju tetapi pelaksanaannya yang masih jauh dari optimal. Kurikulum pendidikan yang sering berganti-ganti, bukanlah masalah utama, yang menjadi masalah utama adalah pelaksanaan di lapangan kurang optimal karena metode pengajaran yang digunakan, sehingga siswa menjadi bosan dan malas untuk belajar. Untuk itu diperlukan suatu pengelolaan pembelajaran melalui penerapan dengan model yang sesuai yang dapat mengaktifkan siswa dalam belajar.
Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas X TSM4 Melalui Pendekatan Numbered Heads Together Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Pada Topik Kerja Sama Membangun Teks Anekdot Di SMK Kartanegara Kota Kediri”
Hasil penelitian siklus I : melihat bahwa kuantitas siswa betanya ada peningkatan dari 5 siswa atau 16,67 % menjadi 11 siswa atau 36,67% dan kualitas pertanyaan sesuai materi tidak mengalami perubahan, kualitas pertanyaan detail ada peningkatan dari 3 siswa menjadi 4 siswa atau dari 10,00% menjadi 13,33 % dan kualitas pertanyaan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari di sekitar siswa terdapat pengkatan sebesar 16,67% atau sebanyak 5 siswa. Kuantitas jawaban siswa terdapat peningkatan dari 6 siswa menjadi 23 siswa atau ada peningkatan dari 20% menjadi 76, 67%
keaktifan siswa pada pertemuan pertama dan kedua, maka terlihat bahwa pada pertemuan pertama terdapat 21 siswa tidak pernah bertanya atau menjawab pertanyaan atau sebesar 70,00% dan pada pertemuan ke dua terdapat 13 siswa atau sebesar 43,33%. Jadi ada peningkatan sebesar 26,67%. Terdapat peninggkatan keaktifan yang siswa kadang-kadang bertanya atau menjawab pertanyaan dari 10 siswa menjadi 13 siswa atau dari 33,33% menjadi 43,33% dan terjadi peningkatan keaktifan siswa sering bertanya atau menjawab pertanyaan sebesar 5 siswa atau sebesar 16,67%.
Hasil siklus II : Total semua pertanyaan siswa pada siklus II ada 24 yang terdiri atas 9 pertanyaan sesuai materi, 10 pertnyaan detail dan 5 pertanyaan yang relevan tentang teks anekdot. Total jawaban siswa 39 jawaban yang terdiri atas 15 jawaban salah, dan 14 jawaban benar tapi tidak lengkap serta 10 jawaban benar.
Peningkatan frekuensi siswa yang tidak pernah bertanya dan menjawab pertanyaan sama dengan 0 (nol) ini berarti semua siswa dalam kelas telah aktif dalam proses pembelajaran. Namun hal ini belum bisa menjamin ketuntasan belajar bisa mencapai 100% sebab masih banyak siswa yang menjawab pertanyaan dengan tidak benar. Namun pada siswa yang mempunyai frekuensi kadang-kadang dan sering menjawab bertanya atau menjawab pertanyaan, ini bisa dipastikan akan mencapai ketuntasan belajar.
Melihat keaktifan guru pada pertemuan ketiga di sikus II ini penampilan guru semakin mantap dan optimis bahwa “Metode Numbered Heads Together” akan berhasil meningkatkan motivasi belajar siswa.
Dari hasil tes formatif siswa kelas X TSM4 ini terlihat nyata bahwa siswa-siswa yang mempunyai frekuensi bertanya dan menjawab pertanyaan dengan baik mempunyai korelasi yang signifikan.
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan perwujudan dari salah satu tujuan pembangunan nasional Indonesia, yaitu ingin mencerdaskan kehidupan bangsa. Saat ini bidang pendidikan merupakan salah satu bidang pambangunan yang dapat parhatian serius dari pemerintah. Dengan memahami tujuan pendidikan maka tercermin bahwa, pendidikan merupakan faktor yang sangat strategis sebagai dasar pembangunan bangsa. Sejalan dengan itu apabila dihubungkan dengan eksistensi dan hakaikat hidup manusia, kegiatan pendidikan diarahkan pada manusia sebagai mahluk individu, sosial, dan religius.
Menurut Shertian (2000) pendidikan merupakan usaha sadar yang dengan sengaja dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan salah satu usahanya adalah melaui suatu proses pembelajaran di sekolah. Dalam usaha tersebut, siswa merupakan sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan secara terus menerus. Sekarang ini masalah pendidikan menghadapi berbagai masalah salah satunya adalah rendahnya nilai rata-rata ujian nasional (UN) yang dicapai siswa khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Rendahnya mutu pandidikan di Indonesia, banyak opini yang muncul baik datangya dari pejabat, pakar dan praktisi pendidikan ataupun masyarakat antara lain, kurangnya kualitas tenaga pengajar, muatan kurikulum terlalu padat dan pola pembelajaran yang kurang menarik.
berganti-ganti, bukanlah masalah utama, yang menjadi masalah utama adalah pelaksanaan di lapangan, kurang optimal karena metode pengajaran yang digunakan, sehingga siswa menjadi bosan dan malas untuk belajar. Seperti yang telah kita lihat metode dalam peroses pembelajaran yang dilakukan oleh guru terkesan itu-itu saja (konvensional). Dalam hal ini fakta, konsep, dan perinsip pembelajaran lebih banyak dicurahkan melalui ceramah, tanya jawab, atau diskusi tanpa ditindak lanjut dengan kegiatan praktek. Kombinasi pembelajaran yang tidak bervariasi seperti yang sering diterapkan oleh guru adalah, mengajar dengan ceramah dan dikombinasikan dengan media dan siswa tidak terlibat aktif dalam pembelajaran.
Untuk itu diperlukan suatu pengelolaan pembelajaran melalui
penerapan dengan model yang sesuai yang dapat mengaktifkan siswa dalam belajar.
Guru harus bisa memilih model yang tepat dan sesuai dengan materi pembelajaran
untuk diterapkan di kelas. Seperti model pembelajaran yang akan diterapkan oleh
peneliti dalam penelitiannya ini yaitu, Numbered Heads Together, Numbered Heads
Together adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian
dibuat suatu kelompok. Kemudian secara acak guru memanggil nomor yang telah
diberikan siswa tadi. Dengan demikian siswa diharapkan lebih aktif dan
mempunyai motivasi dalam belajar.
Hal ini juga harus didukung dengan konsistensi guru dalam menerapkan
model yang ia pilih dan sesuai dengan RPP yang telah disusun. Berdasarkan uraian
di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul
“Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas X TSM4 Melalui Pendekatan Numbered Heads Together Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Pada Topik Kerja Sama Membangun Teks Anekdot Di SMK Kartanegara Kota Kediri”
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti mengidentifikasi
masalah, yaitu apakah rendahnya minat belajar siswa salah satunya diakibatkan
karena kesalahan konsep dan metode pembelajaran yang diterapkan atau mungkin
karena penerapan metode pembelajaran yang diterapkan oleh tenaga pengajar
C. BATASAN MASALAH
Agar penelitian terarah dan dapat mencapai sasaran maka perlu
adanya batasan masalah dalam penelitian ini yaitu:
a. Penelitian ditekankan pada kinerja guru dalam menerapkan model pembelajaran
pada RPP yang dibuat.
b. Penelitin ini dilaksanakan pada proses pembelajaran oleh tenaga pengajar
c. Penelitian ini dilakukan di SMK Kartanegara Kota Kediri pada siswa kelas X
TSM4 Semester Gasal Tahun Pelajaran 2014/2015
d. Implementasi konsep penelitian pada materi Kerja Sama Membangun Teks
Anekdot.
D. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti merumusnan masalah,
yakni bagaimana cara metode Numbered Heads Together diterapkan sehingga dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa kelas X TSM4 Semester Gasal Tahun
Pelajaran 2014/2015 pada Topik Kerja Sama Membangun Teks Anekdot di SMK
Kartanegara Kota Kediri?
E. TUJUAN PENELITIAN
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian
ini adalah, untuk mengetahui cara penerapan metode Numbered Heads Together
dalam meningkatkan motivasi belajar siswa kelas X TSM4 Semester Gasal Tahun
Pelajaran 2014/2015 pada Topik Kerja Sama Membangun Teks Anekdot di SMK
F. MANFAAT PENELITIAN
a. Manfaat secara teoritis
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi
perkembangan pendidikan, terutama dapat mengembangkan khazanah ilmu
tentang peningkatan motivasi belajar Bahasa Indonesia melalui pendekatan
Numbered Heads Together.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan perbandingan bagi
peneliti terdahulu yang terkait dengan penelitian ini.
b. Manfaat secara praktis
1. Bagi siswa
Untuk meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia
sehingga pemahaman siswa mengenai konsep Bahasa Indonesia yang
dipelajari menjadi lebih baik.
2. Bagi guru
Sebagai pedoman dalam menerapkan pendekatan pembelajaran Bahasa
Indonesia khususnya dengan pendekatan Numbered Heads Together.
3. Bagi sekolah
Penelitian ini merupakan sumbangan yang bermanfaat dalam rangka
perbaikan pembelajaran Bahasa Indonesia. Dan mungkin juga bisa
diaplikasikan pada mata pelajaran yang lain.
METODE PENELITIAN
A. DESAIN PENELITIAN
Desain Penelitian Tindakan Kelas yang di gunakan adalah desain PTK
Model John Elliott.
Seperti halnya desain model PTKnya Kemmis & Mc. Taggart, desain
PTK model John Elliott juga dikembangkan berdasarkan konsep dasar Kurt Lewin.
Model John Elliot ini lebih rinci jika dibandingkan dengan model Kurt Lewin dan
model Kemmis & Mc. Taggart karena di dalam setiap siklus terdiri dari beberapa
tindakan, yaitu antara tiga sampai lima tindakan. Sementara itu, setiap tindakan
terdiri dari beberapa langkah yang terealisasi dalam bentuk kegiatan
belajar-mengajar. Model Elliot dapat digambarkan sebagai berikut:
SIKLUS I SIKLUS II
Survei (Penemuan fakta dan analisis)
Implementasi Tindakan 1
Survei (menjelaskan) kegagalan terhadap implementasi dan efek Pengaruh dan
SIKLUS II
Model ini diawali dari mengidentifikasi masalah, yang pada hakikatnya
bagaimana pernyataan yang menghubungkan antara gagasan atau ide dengan
pengambilan tindakan. Seperti contoh identifikasi masalah berikut:
1) Para siswa merasa tidak puas dengan metode penilaian yang digunakan guru
kelasnya. Bagaimana kalau guru berkolaborasi untuk meningkatkan pengukuran
terhadap kemampuan siswa?
2) Para siswa hanya membuang-buang waktu percuma di kelas. Bagaimana cara
guru membawa siswa lebih banyak lagi menggunakan waktu mereka untuk
menyelesaikan tugas-tugas mereka?
3) Orang tua siswa bersedia membantu sekolah dengan melakukan supervisi
“pekerjaan rumah”. Bagaimana caranya agar bantuan orang tua siswa bekerja
lebih produktif?
Apa pun masalah yang akan diangkat dalam penelitian, hendaknya
tetap berada dalam lingkup permasalahan yang dihadapi guru dalam praktek
serta berusaha mengubahnya dan sekaligus memperbaikinya. Apabila guru dalam
melakukan pembelajaran sehari-hari merasakan ada sesuatu yang janggal atau
adanya ketimpangan dan kurang memuaskan, yang oleh peneliti juga dicermati
pada waktu orientasi atau tahapan awal penelitian sebagai peningkatan, maka
diperlukan penjelasan lebih lanjut. Misalkan, kejanggalan itu ialah para siswa
banyak membuang waktu percuma di kelas perlu deskripsi yang mendetail, seperti:
siswa yang mana yang membuang waktu percuma di kelas itu? Tugas apa yang
sebenarnya yang mereka lakukan? Pada saat-saat mana dalam pelajaran mereka
melakukannya? Dan manifestasi bentuk kegiatan apa yang mereka tampilkan waktu
”membuang waktu dengan percuma” di kelas?
Informasi yang didapat dari pertanyaan-pertanyaan di atas akan
menolong untuk membedakan berbagai aspek permasalahan penelitian dan
membantu ke arah mana perbaikan pembelajaran harus dilakukan. Refleksi atau
pertimbangan baik atau buruknya atau berhasil belum berhasilnya tindakan,
merupakan bagian dari tahapan diskusi dan analisis penelitian sesudah tindakan
dilakukan sehingga memberikan arah bagi perbaikan selanjutnya. Bentuk dari
model ini digambarkan dalam alur-alur tahap penelitian yang dikenal model siklus.
B. SUBJEK PENELITIAN
Subjek penelitian menurut Amirin (1986) merupakan seseorang atau
sesuatu mengenai yang mengenainya ingin diperoleh keterangan. Menurut
Suharsimi Arikonto (1989) memberi batasan subjek penelitian sebagai benda, hal
atau orang tempat data untuk variabel penelitian melekat, dan yang
sangat strategis karena pada subjek penelitian itulah data tentang variabel yang
peneliti akan amati. Kesimpulan dari kedua penngertian diatas Subjek penelitian
adalah individu, benda, atau organisme yang dijadikan sumber informasi yang
dibutuhkan dalam pengumpulan data penelitian. Dalam hal ini yang menjadi subjek
penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas X TSM4 semester gasal di SMK
Kartanegara Kota Kediri tahun pelajaran 2014/2015..
C. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data berupa hasil
kemampuan siswa dalam membaca teks anedot, menulis ulang teks anedot,
mengidentifikasi pelaku teks anekdot, membaca teks anekdot dalam puisi dan dapat mengidentifikasi struktur teks serta mengartikan makna kata dalam puisi, dapat membuat naskah drama singkat anekdot yang berisi kritik sosial bertema sampah serta siswa dapat melengkapi bagian teks anekdot dan menyusunnya kembali dengan tokoh. Semua kemampun siswa ini akan direkam dengan instrument observasi berupa lembar pengamatan aktivitas siswa dan guru. Metode observasi ini memudahkan peneliti
untuk turut berpartisipasi secara wajar dalam kegiatan penelitian.
Penelitian didampingi oleh seseorang observer yang akan mengamati
aktivitas siswa selama pembelajaran. Dalam hal ini, observer juga berperan sebagai
guru mitra yang turut membantu proses pembelajaran.
Data dalam penelitian ini diperoleh melalui :
1. Lembar penilaian keaktifan siswa dalam melakukan penelitian data ini
ditentukan berdasarkan skala penilaian (tidak pernah, kadang-kadang, sering)
2. Laporan tertulis dari kegiatan penelitian ini dilakukan dengan memban-dingkan
nilai keaktifan siswa yang tidak pernah, kadang-kadang dan sering dalam
bertanya dan menjawab pertanyaan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. 3. Angket sikap siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran.
D. INSTRUMENT PENGUMPULAN DATA
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes kemampuan,
lembar observasi, jurnal dan catatan lapangan.
1. Tes Kemampuan
Tes adalah berupa pertanyaan atau jawaban siswa yang digunakan
untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat
yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Adapun tes yang dilakukan yaitu
berupa pertanyaan atau jawaban tentang teks anekdot. Hal ini dimaksudkan
untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran telah dicapai.
2. Lembar Observasi
Lembar observasi merupakan alat pengamatan yang digunakan
untuk mengukur atau melihat aktivitas siswa dan peneliti dilihat dari
keterampilan kooperatif dan memotivasi siswa selama kegiatan belajar
mengajar. Alat yang digunakan adalah lembar observasi yang diisi oleh
observer sebagai pencatat lapangan.
Aktivitas peneliti yang diamati adalah keterampilan mengajar
mulai, dari membuka pelajaran sampai pada menutup pelajaran. Aspek yang
diamatinya berupa kelengkapan dan keahlian guru dalam mengajar sebagai
refleksi untuk pertemuan berikutnya.
Jurnal siswa diberikan pada setiap akhir pembelajaran. Jurnal ini
diberikan untuk mengetahui apa yang diperoleh siswa setelah pembelajaran
yang diterapkan di kelas. Hasil ini akan digunakan untuk melakukan perbaikan
pada tindakan pembelajaran siklus berikutnya.
4. Catatan Lapangan
Catatan lapangan adalah temuan selama pembelajaran yang
diperoleh peneliti, yang tidak ternamai dalam lembar observasi. Bentuk temuan
ini berupa aktivitas siswa dan permasalahan yang dihadapi selama
pembelajaran berlangsung.
E. PROSEDUR PENELITIAN
Siklus Penelitian menurut John Elliot
1. Siklus Pertama
a. Rencana Tindakan Siklus I
Sebagai upaya untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan
optimal, peneliti menerapkan metode Numbered Heads Together sebagai
metode yang dapat melibatkan antara guru dan siswa dan dapat berperan aktif
dalam proses kegiatan belajar-mengajar. Karena jika hanya menggunakan
metode-metode klasik seperti metode ceramah ataupun yang lainnya
dirasakan kurang tepat jika diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia
pada kelas X TSM4 semester gasal di SMK Kartanegara Kota Kediri.
Sebelum pelaksanaan pada siklus I, peneliti melakukan
perencanaan melalui beberapa tahap persiapan yaitu:
1) Membuat rencana pembelajaran.
3) Peneliti membagai siswa kelas X TSM4 semester gasal di SMK
Kartanegara Kota Kediri, menjadi beberapa kelompok sekaligus memberi
tugas masing-masing kelompok.
4) Setelah pembentukan kelompok, kemudian peneliti mengambil alat
observasi guna mengetahui keantusiasan dan keaktifan siswa dalam proses
pembelajaran berlangsung.
b. Pelaksanaan Siklus I
Setelah diputuskan menggunakan metode Numbered Heads
Together siswa kelas X TSM4 semester gasal di SMK Kartanegara Kota
Kediri Tahun Pejalaran 2014/2015. Maka tahapan pembelajaran sesuai
dengan tahapan dalam metode Numbered Heads Together. Proses
pembelajarannya berlangsung selama 2 X 40 menit, yang meliputi:
Pertemuan I : 2 X 40 menit
1. Kegiatan Pendahuluan
a) Salah seorang peserta didik memimpin berdoa dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
b) Presensi dan memberikan apersepsi kepada siswa.
c) Tukar pendapat tentang fungsi teks anekdot dalam kehidupan sehari-hari setelah menyimak tayangan teks anekdot.
d) Mengekspresikan rasa syukur atas keberadaan bahasa Indonesia setelah menyimak tayangan teks anekdot.
e) Menyampaikan tujuan pembelajaran.
f) Memberikan motivasi sesuai dengan topik yang akan dibahas
g) Menyepakati kegiatan yang akan dilakukan.
Pre Activity
a) Peneliti/ guru memberikan stimulus materi
b) Peneliti/guru membagi siswa menjadi 6 kelompok.
c) Peneliti/guru memberi tugas kepada masing-masing kelompok.
Whilst Activity
a) Peneliti/guru memberikan instruksi membaca teks anekdot yang
berjudul “Politisi Blusukan Banjir’ kemudian mengidentifikasi
partisipan dan hubungan antarpartisipan
b) Peserta didik membandingkan kegiatan partisipan dalam teks anekdot
dengan kegiatan yang dilakukan oleh tokoh nyata.
c) Peserta didik menentukan tahap krisis pada teks anekdot yang berjudul “Politisi Blusukan Banjir”
d) Peserta didik menata ulang kalimat - kalimat di bacaan buku bahasa
Indonesia halaman 123 secara urut sehingga dapat membentuk cerita
yang bagus
e) Peserta didik menulis ulang teks anekdot yang berjudul “Politisi
Blusukan Banjir” dengan menyisipkan beberapa dialog
f) Dari kegiatan a sampai dengan e siswa diberikan waktu bekerjasama
dalam kelompok beberapa menit. Kemudian dilanjutkan dengan
praktek yang disesuaikan dengan materi serta mempresentasikannya
sesuai dengan nomor yang ditunjuk oleh peneliti/guru.
g) Peneliti/guru mengatur jalannya pembelajaran.
h) Peneliti/guru melontarkan pertanyaan untuk kemudian menunjuk
i) Peneliti/guru mencatat jawaban siswa dalam lembar keaaktifan siswa
dengan memberikan skor 1 untuk jawaban yang salah, 2 untuk jawaban
kurang lengkap dan 3 untuk jawaban yang lengkap.
j) Jika jawaban salah maka pertanyaan diberikan pada nomor siswa
berikutnya dan seterusnya sampai didapat pertanyaan yang benar.
k) Jika tidak didapatkan jawaban yang benar maka peneliti/guru memberi
kesempatan bertanya kepada siswa nomor berikutnya secara acak dan
menuliskan pertanyaan siswa dengan skor 1 bila pertanyaan sesuai
materi, skor 2 bila menanyakan hal yang lebih detail dan skor 3
menanyakan hal lain yang masih relevan.
Post Activity
a) Peneliti/guru mengevaluasi hasil kinerja siswa selama pembelajaran.
b) Peneliti/guru meluruskan permasalahan dan memberikan feed back yang
tepat atas permasalahan yang ada.
3. Tahap Akhir
a) Peneliti/guru dan pserta didik menyimpulkan pembelajaran
b) Peserta didik melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah
dilaksanakan
c) Peneliti/guru memberikan motivasi-motivasi agar para siswa bisa lebih
meningkatkan belajarnya.
d) Peneliti/guru memberikan informasi mengenai bahasan selanjutnya.
e) Peneliti Peserta didik menyimak informasi mengenai rencana tindak
lanjut pembelajaran.
Pertemuan II : 2 X 40 menit
1. Tahap Pendahuluan
a) Siswa berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing dan dilan-jutkan
dengan memberikan salam pembuka (Assalamu’alaikum Wr. Wb.)
b) Presensi Siswa
c) Siswa menerima intruksi untuk membentuk formasi kelompok seperti
minggu lalu.
d) Siswa menerima informasi tentang keterkaitan pembelajaran
sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
e) Siswa menyimak penjelasan guru mengenai kompetensi, materi,
tujuan, manfaat, dan langkah pemelajaran yang akan dilaksanakan.
f) Siswa menerima penjelasan secara singkat kompetensi yang harus
dimiliki oleh siswa sebagai hasil belajar
2. Tahap Inti
Whilst Activity
a) Peserta didik membaca teks anekdot yang berjudul “Puntung Rokok “pada buku paket bahasa Indonesia kelas X hal 124 -125.
b) Peserta didik mengidentifikasi pelaku dalam teks anekdot yang berjudul “Puntung Rokok “.
c) Peserta didik mengidentifikasikan isi dan konteks dalam teks anekdot yang berjudul “Puntung Rokok “.
d) Peserta didik mengurutkan kalimat kalimat secara acak dengan cara membubuhkan nomor pada setiap kalimat dalam teks cerita “Puntung Rokok”.
f) Peserta didik membandingkan hasil kerja mereka dengan kelompok lain dan memperbaikinya.
g) Peserta didik mempresentasikan teks yang mereka susun di dapan
kelas dengan pengucapan dan intonasi yang benar dan meminta
kelompok lain mengometarinya
h) Peneliti/guru memberikan kesempatan kepada nomor dari
masing-masing kelompok yang belum menjawab.
i) Peneliti/guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengajukan pendapatnya, baik dalam bentuk menyanggah ataupun
yang lainnya dan mencatatnya kegiatan ini pada lembar penilaian
keaktifan siswa.
Post Activity
a) Peneliti/guru beserta siswa menyimpulkan pembelajaran.
b) Peneliti/guru melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah
dilaksanakan.
c) Peneliti/guru memperjelas secara detail materi teks anekdot.
3. Tahap Akhir
a) Peserta didik menyimak informasi mengenai rencana tindak
lan-jut pembelajaran
b) Peneliti/guru memberi kesempatan kepada siswa untuk betanya.
c) Peneliti/guru memberi tugas kepada siswa untuk mempelajari
materi selanjutnya
d) Peneliti/guru memberikan motivasi-motivasi agar para siswa
c. Observasi Siklus I
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, peneliti di sini
selain bertindak sebagai guru, peneliti juga bertindak sebagai observer yang
mencatat lembar pengamatan pada lembar observasi prilaku siswa. Hasil
pengamatan pada tahap I, kegiatan siswa sudah cukup bagus atau belum,
siswa terlihat lebih antusias dalam memperhatikan pelajaran atau tidak, dan
apakah pelajaran yang didapatkan akan lebih menyenangkan dari biasanya
atau tetap seperti biasanya.
Memasuki tahapan II, apakah siswa lebih antusias dan lebih
aktif dalam belajarnya, hal ini dilihat dari kegiatan siswa dalam proses
pembelajaran. Apakah mayoritas siswa mampu membuat teks anekdot dengan
baik serta bersemangat dalam mengapresiasikannya.
d. Refeleksi Siklus I
Tujuan penelitian menerapkan metode Numbered Heads
Together adalah untuk mengatasi kesulitan belajar siswa, agar metode-metode
pembelajaran Bahasa Indonesia dapat dirasakan efektif oleh siswa.
Khususnya pada kelas XTSM4 semester I di SMK Kartanegara Kota Kediri
tahun pelajaran 2014/2015. Yang mana hal ini tidak terlepas dari kebiasaan
siswa dalam belajar yang dialaminya selama ini. Untuk menyikapi kenyataan
diatas, maka diambil langkah-langkah:
1) Memperhatikan peningkatan siswa yang lebih tertib dalam mengikuti
proses pembelajaran.
2) Sebagian kecil siswa yang kurang mampu menguasai materi teks anekdot,
2. Siklus Kedua
a. Rencana Tindakan Siklus II
Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam pembelajaran,
peneliti memantapkan penggunaan metode Numbered Heads Together yang
nantinya akan melibatkan lebih banyak lagi siswa yang terlibat dalam proses
pembelajaran Bahasa Indonesia pada topik Kerja Sama Membangun Teks
Anekdot.
Sebelum pelaksanaan metode Numbered Heads Together pada
siklus II, peneliti melakukan perencanaan melalui beberapa tahap persiapan
yaitu:
1) Membuat rencana pembelajaran.
2) Membagi materi selanjutnya menjadi beberapa bagian.
3) Peneliti/guru membagi siswa kelas X menjadi 6 kelompok sekaligus
memberi tugas masing-masing kelompok..
4) Setelah pembentukan kelompok, kemudian peneliti mengambil alat
observasi guna mengetahui keantusiasan dan keaktifan siswa dalam
proses pembelajaran berlangsung.
b. Pelaksanaan Siklus II
Dengan tetap menggunakan metode Numbered Heads Together
maka tahapan pembelajaran yang dilakukan adalah sebagai berikut:
Pertemuan I : 2 X 40 menit
a) Salah seorang siswa memimpin berdoa dengan menggunakan bahasa
Indonesia yang baik dan benar.
b) Presensi siswa.
c) Siswa menerima informasi tentang keterkaitan pembelajaran sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
d) Siswa didik menyimak penjelasan guru mengenai kompetensi, materi,
tujuan, manfaat, dan langkah pemelajaran yang akan dilaksanakan.
2. Tahap Inti
Pre Activity
a) Peneliti/guru memberikan stimulus materi teks anekdot
b) Peneliti/ guru membagi siswa menjadi 6 kelompok.
c) Peneliti/ guru memberi tugas kepada masing-masing kelompok.
Whilst Activity
a) Siswa membaca teks anekdot yang ada pada buku paket Bahasa Indonesia kelas X hal 130.
b) Siswa mengelompokkan berdasarkan struktur teks anekdot seperti abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, koda.
c) Siswa menyusun teks anekdot lain berdasarkan teks yang sudah ada
dengan mengganti pelaku, seting, dan persoalan yang dihadapi pelaku.
d) Poin a) sampai c) didiskusikan secara berkelompok.
e) Peneliti/guru menghentikan jalannya diskusi setelah dirasa cukup dan
memulai kegiatan bertanya dan menjawab pertanyaan yang
disampaikan masing-masing kelompok yang ditunjuk oleh sesuai
dengan nomor yang telah diberikan oleh peneliti.
a) Peneliti/guru mengevaluasi hasil kinerja siswa selama proses
pembelajaran melalui instrumen lembar keaktifan siswa seperti pada
siklus I.
b) Peneliti/guru memberikan koreksi selama berlangsung porses
pembelajaran dan memberikan feed back yang tepat atas permasalahan
yang ada.
3. Tahap Akhir
a) Peneliti/ guru beserta siswa menyimpulkan hasil pembelajaran
b) Siswa melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah
dilaksanakan
c) Tes formatif
d) Salam penutup
c. Observasi Siklus II
Setelah diadakan perbaikan-perbaikan terhadap hasil yang didapat
dari siklus I kegiatan siswa dalam proses belajar-mengajar diharapkan lebih
bagus lagi, karena ada kemajuan bagi kelompok siswa yang belum presentasi.
Dari hasil pengamatan, diperoleh dapat diperoleh kesimpulan apakah siswa
cukup antusias dalam mengikuti kegiatan belajar-mengajar, dan apakah siswa
bertambah aktif untuk bertanya dan menjawab. Dan juga siswa mengalami
peningkatan kemampuan dalam membuat teks anekdot.
Prestasi belajar siswa yang merupakan hasil akhir dari
pembelajaran metode Numbered Heads Together yaitu dapat dilihat pada
d. Refleksi Siklus II
Dari kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung dengan
menggunakan metode Numbered Heads Together, maka tujuan pembelajaran
yaitu untuk dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan agar siswa untuk
lebih aktif, kreatif dalam proses belajar-mengajar.
Dari hasil observasi pada siklus II, maka langkah yang akan
diambil:
a) Pemahaman dan ketaatan siswa menunjukkan bahwa metode Numbered
Heads Together harus terus diterapkan kepada siswa untuk lebih mudah
dimengerti secara mendalam makna yang terkandung dalam materi yang
disampaikan.
b) Menjaga agar kualitas belajar yang sudah berjalan berkembang lebih baik
F. Teknik Analisis
Analisis data merupakan kegiatan yang dilakukan setelah kegiatan
pengumpulan data. Dalam penelitian ini, tehknik analisis data yang digunakan
adalah teknik analisis deskriptif kualitatif. Teknik deskriptif kualitatif adalah suatu
teknik yang menganalisis data dengan cara mengiterpretasikan data yang diperoleh
dengan menggunakan kata-kata.
Untuk memperoleh data yang benar dan akurat dalam penelitian ini,
maka penulis menggunakan beberapa metode antara lain :
1. Observasi
Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara
sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.Yang dilakukan
waktu pengamatan adalah mengamati gejala-gejala sosial dalam kategori yang
tepat, mengamati berkali-kali dan mencatat segera dengan memakai alat bantu
seperti alat pencatat, formulir dan alat mekanik.
2. Pengukuran test hasil belajar
Pengukuran test hasil belajar ini dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui peningkatan keterampilan berbicara siswa dengan melihat nilai yang
diperoleh oleh siswa.
3. Wawancara
Wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang, melibatkan
seseorang yang ingin memperoleh informasi dari seseorang lainnya dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan, berdasarkan tujuan tertentu.
Tidak kalah penting dari metode-metode lain adalah metode
dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa
catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger,
agenda dan sebagainya.
G. Kriteria Keberhasilan Tindakan
Kriteria keberhasilan penelitian dilihat sama seperti pada siklus 1, yaitu:
1. Bilamana ada peningkatan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dari
pertemuan pertama dan kedua pada siklus I.
2. Ketercapaian ketuntasan belajar siswa secara klasikal dalam menyerap materi
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. HASIL PENELITIAN SIKLUS I
1. Perencanaan
Di SMK Kartanegara Kota Kediri kelas X.TSM2 dengan jumlah
murid 30, peneliti memang menemukan dan merasakan bahwa sebagian besar
murid (sekitar 60 s.d 70%) tidak bisa aktif dalam proses pembelajaran bahasa
Indonesia dan bahkan ada beberapa siswa hanya diam saja. Untuk itu peneliti
mencoba metode pembelajaran baru yang belum pernah diterapkan yaitu
“Metode Numbered Heads Together”. Metode ini diharapkan dapat mengaktifan seluruh siswa dalam proses pembelajaran. Sedangkan yang perlu dipersiapkan
sebelum model ini diterapkan adalah perangkat pengumpulan data yaitu, 1).
Lembar Penilaian Keaktifan Siswa, 2). Lembar Pertanyaan Siswa, 3). Lembar
Pendapat dan Tanggapan Siswa, 4). Dan lembar keaktifan guru serta 5) Buku
Materi (BKS MGMP).
2. Pelaksanaan
Pada siklus ke-1 Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dimulai hari
Sabtu, 24 Agustus 2014 dengan materi membahas materi membaca teks anekdot
yang berjudul “Politisi Blusukan Banjir’ dan teks anekdot yang berjudul
“Puntung Rokok“ yang dilaksanakan selama dua kali pertemuan. Prosedur
Together” seperti penjelasan di BAB. III, dan ternyata secara praktis bisa
dikatakan bahwa langkah-langkah dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana.
3. Pengamatan
Dari pengamatan yang kemudian data diisikan pada lembar
Penilaian Keaktifan Siswa dan lembar keaktifan guru diproleh hasil sebagai
berikut :
B. HASIL PENELITIAN SIKLUS II 1. Perencanaan
Pada siklus I prosen pembelajaran “Metode Numbered Heads
Together” dapat diterima oleh siswa yang mempunyai kemampuan rerata dan di
atas rerata, namun bagi siswa yang malas tetap mempunyai kecenderungan untuk
menyesuaikan teman-temannya. Siswa yang bekemampuan tinggi cenderung
untuk mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan walaupun sudah dibuat
kesepakatan bahwa siswa yang ditunjuk sesuai dengan nomor yang telah
diberikan yang boleh bertanya atau menjawab pertanyaan.
2. Pelaksanaan
Siklus II dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 6 Septeber 2014
membahas materi buku paket kelas X halaman 130 dimana siswa
mengelompokkan berdasarkan struktur teks anekdot seperti abstraksi, orientasi,
krisis, reaksi, koda dan siswa harus menyusun teks anekdot lain berdasarkan teks
yang sudah ada dengan mengganti pelaku, seting, dan persoalan yang dihadapi
pelaku.
Berdasarkan pengalaman di siklus I, pengamatan di siklus II ini
peneliti berkolaborasi secara intensif agar pelaksanaan penelitian lebih berhasil
untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dengan membuat suasana yang lebih
santai dan menyenangkan. Dari hasi pengamatan diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 7
LEMBAR PENILAIAN KEAKTIFAN SIWA PERTEMUAN 3 SIKLUS II
N
o N a m a
KEGIATAN FREKUENSI
Frekuensi
Bertanya Menjawab Berta-nya Menja-wab
1 Aditya Pregawa Pratama 1 1 2 2 2 Sering
2 Aleck Franando 1 0 1 Kadang-kadang
3 Andi Prasetyo 1 0 1 Kadang-kadang
4 Dicky Fernando 3 1 3 1 2 Sering
5 Dicky Wibowo Prapditya 1 0 1 Kadang-kadang
6 Dino Andrianto 1 2 3 1 2 Sering
7 Ervan Fajar Setiawan 1 0 1 Kadang-kadang
8 Fandi Novantoro 2 2 1 1 Kadang-kadang
9 Feri Andrian 1 1 1 1 Kadang-kadang
10 Heri Cahyono 2 2 1 1 Kadang-kadang
11 Heru Dwi Susanto 2 1 2 3 1 3 Sering
12 Heru Hermawan 2 0 1 Kadang-kadang
13 Jefrika Efendi 2 3 3 2 1 Sering
14 M. Bahaudin Sya Roni 2 1 0 Kadang-kadang
15 M. Fadil Asan Firmansyah 2 0 1 Kadang-kadang
16 Markus Deo Pradipta 2 1 0 Kadang-kadang
17 Mesi Rizki Pujianto 2 0 1 Kadang-kadang
18 Meydo Fajar Muharom 1 1 2 1 2 Sering
19 Moh. Suprayitno 1 0 1 Kadang-kadang
20 Muhammad Zamroji 1 0 1 Kadang-kadang
21 Putra Nuryahya Ramadhan 1 2 3 3 3 1 Sering
22 Redo Pratama 2 3 2 3 2 2 Sering
23 Ricko Puspa Kurniawan 1 0 1 Kadang-kadang
24 Septian Yuli Saputra 1 1 1 1 Kadang-kadang
N
o N a m a
KEGIATAN FREKUENSI
Frekuensi
Bertanya Menjawab Berta-nya Menja-wab
26 Wirawan Bagus Susilo 1 2 2 3 2 2 Sering
27 Yoga Fian Aldianto 2 2 3 1 2 Sering
28 Yoga Setiawan 1 0 1 Kadang-kadang
29 Yoghaswara kholifi Yunan 2 3 0 2 Kadang-kadang
30 Yosef Adi Pratama 1 3 1 3 2 2 Sering
Skor 2 = meminta keterangan yang lebih detail Skor 3 = menanyakan hal lain yang masih relevan
B. Menjawab Pertanyaan Skor 1 = menjawab tidak benar
Skor 2 = menjawab benar tetapi kurang lengkap Skor 3 = menjawab benar dan lengkap
C. Frekuensi bertanya/menjawab pertanyaan Skor 0 = tidak pernah (0 kali)
Skor 1 = kadang-kadang (1-2 kali) Skor 3 = sering (> 3 kali)
Tabel 8
LEMBAR PENILAIAN KEAKTIFAN GURU PERTEMUAN 2 SIKLUS I
NO
. AKTIFITAS GURU
SKOR
1 2 3 4
memimpin doa
2 Guru melakukan presensi dan memberikan
apersepsi kepada siswa
3
Guru melakukan tukar pendapat tentang fungsi teks anekdot dalam kehidupan sehari-hari
setelah menyimak tayangan teks anekdot
4
Guru mengekspresikan rasa syukur atas
keberadaan bahasa Indonesia setelah menyimak
tayangan teks anekdot
5 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
6 Guru memberikan motivasi sesuai dengan topik
yang akan dibahas.
7 Guru menyepakati kegiatan yang akan dilakukan
Kegiatan Inti
1 Peneliti/ guru memberikan stimulus materi
2 Peneliti/guru membagi siswa menjadi 6
kelompok
3 Peneliti/guru memberi tugas kepada
masing-masing kelompok
4
Guru memberi kesempatan peserta didik untuk membaca teks anekdot yang berjudul “Politisi Blusukan Banjir’ secara berkelompok, kemudian mengidentifikasi partisipan dan hubungan antar partisipan
5
Guru mengamati peserta didik membandingkan kegiatan partisipan dalam teks anekdot dengan
kegiatan yang dilakukan oleh tokoh nyata.
6
Guru mengamati peserta didik menentukan tahap krisis pada teks anekdot yang berjudul
“Politisi Blusukan Banjir”
7
Guru mengamati peserta didik menata ulang kalimat-kalimat di bacaan buku bahasa Indonesia halaman 123 secara urut sehingga dapat membentuk cerita yang bagus
8
Guru mengamati peserta didik menulis ulang teks anekdot yang berjudul “Politisi Blusukan
Banjir” dengan menyisipkan beberapa dialog.
9 Guru menghentikan diskusi hasil diskusi
10 Guru menunjuk salah satu kelompok untuk
mempresentasikan hasil diskusi
11 Guru melontarkan pertanyaan untuk kemudian
menunjuk nomor siswa yang akan menjawabnya
NO
. AKTIFITAS GURU
SKOR
1 2 3 4
untuk jawaban yang salah, 2 untuk jawaban kurang lengkap dan 3 untuk jawaban yang lengkap
13
Jika jawaban salah maka guru memberikan pertanyaan pada nomor siswa berikutnya dan seterusnya sampai didapat pertanyaan yang benar
14
Jika tidak didapatkan jawaban yang benar maka peneliti/guru memberi kesempatan bertanya kepada siswa nomor berikutnya secara acak dan menuliskan pertanyaan siswa dengan skor 1 bila pertanyaan sesuai materi, skor 2 bila
menanyakan hal yang lebih detail dan skor 3 menanyakan hal lain yang masih relevan.
Penutup
1 Peserta didik bersama guru menyimpulkan
pembelajaran
2 Peserta didik melakukan refleksi terhadap
kegiatan yang sudah dilaksanakan
3 Guru melaksanakan tes formatif 4 Siswa melaksakan tes formatif
5 Doa penutup
Jumlah nilai aktivitas guru = Skor perolehan
Skor maksimum x 100 %
No N a m a Nilai Keterangan
1 Aditya Pregawa Pratama 76 Tuntas
2 Aleck Franando 58 Remidi
3 Andi Prasetyo 76 Tuntas
4 Dicky Fernando 90 Tuntas
5 Dicky Wibowo Prapditya 78 Tuntas
No N a m a Nilai Keterangan
7 Ervan Fajar Setiawan 76 Tuntas
8 Fandi Novantoro 80 Tuntas
9 Feri Andrian 76 Tuntas
10 Heri Cahyono 88 Tuntas
11 Heru Dwi Susanto 96 Tuntas
12 Heru Hermawan 80 Tuntas
13 Jefrika Efendi 98 Tuntas
14 M. Bahaudin Sya Roni 82 Tuntas
15 M. Fadil Asan Firmansyah 84 Tuntas
16 Markus Deo Pradipta 78 Tuntas
17 Mesi Rizki Pujianto 80 Tuntas
18 Meydo Fajar Muharom 82 Tuntas
19 Moh. Suprayitno 76 Tuntas
20 Muhammad Zamroji 76 Tuntas
21 Putra Nuryahya Ramadhan 98 Tuntas
22 Redo Pratama 98 Tuntas
23 Ricko Puspa Kurniawan 74 Remidi
24 Septian Yuli Saputra 78 Tuntas
25 Vicky Firdaus Ananda 76 Tuntas
26 Wirawan Bagus Susilo 94 Tuntas
27 Yoga Fian Aldianto 96 Tuntas
28 Yoga Setiawan 74 Remidi
29 Yoghaswara kholifi Yunan 90 Tuntas
30 Yosef Adi Pratama 90 Tuntas
Nilai tertinggi 98
Nilai terendah 58
Nilai rata-rata 83
Total siswa yang tuntas belajar 27
Total siswa yang remidi 3
KEGIATAN FREKUENSI
Frekuensi
Bertanya Menjawab Berta-nya Menja-wab
Sering 0 Siswa 0,00 %
Kadang-kadang 10 Siswa 33,33 %
Tidak pernah 21 Siswa 70,00 %
JUMLAH 2 4 5 9 5 9 11 23
Sering 5 Siswa 11,90 %
Kadang-kadang 13 Siswa 44,83 %
Tidak pernah 13 Siswa 26,00 %
JUMLAH 9 10 5 15 14 10 25 39
Sering 11 Siswa 26,19 %
Kadang-kadang 19 Siswa 65,52 %
Tidak pernah 0 Siswa 0,00 %
Tabel 11
Total skor pertemuan pertama 4 22
Total skor pertemua kedua 26
Total skor pertemuan ketiga 21 5
Nilai keaktifan guru pada pertemua pertama Cukup baik
Nilai keaktifan guru pada pertemua kedua Baik
Nilai keaktifan guru pada pertemuan ketiga Baik
4. Refleksi
Proses pembelajaran di siklus II dipertemuan ketiga ini diperoleh
hasil pengamatan keaktifan siswa, keaktifan guru dan hasil tes sebagai berikut :
Total semua pertanyaan siswa pada siklus II ada 24 yang terdiri atas
tentang teks anekdot. Total jawaban siswa 39 jawaban yang terdiri atas 15
jawaban salah, dan 14 jawaban benar tapi tidak lengkap serta 10 jawaban benar.
Peningkatan frekuensi siswa yang tidak pernah bertanya dan
menjawab pertanyaan sama dengan 0 (nol) ini berarti semua siswa dalam kelas
telah aktif dalam proses pembelajaran. Namun hal ini belum bisa menjamin
ketuntasan belajar bisa mencapai 100% sebab masih banyak siswa yang
nebjawab pertanyaan dengan tidak benar. Namun pada siswa yang mempunya
frekuensi kadang-kadang dan sering menjawab pertanyaan atau menjawab
pertanyaan ini bisa dipastikan akan mencapai ketuntasan belajar.
Melihat keaktifan guru pada pertemuan ketiga di sikus II ini
penampilan guru semakin mantap dan optimis bahwa “Metode Numbered Heads
Together” akan berhasil meningkatkan motivasi belajar siswa.
Dari hasil tes formatif siswa kelas X TSM4 ini terlihat nyata bahwa
siswa-siswa yang mempunyai frekuensi bertanya dan menjawab pertanyaan
dengan baik mempunyai korelasi yang signifikan.
Dengan ketuntasan belajar klasikal sebesar 90% ini berarti sudah
melampoi batas minimal ketuntasan belajar secara klasikal yaitu sebesar 80%.
C. PENDAPAT DAN TANGGAPAN SISWA
Rekapitulasi pendapat siswa kelas X TSM4 SMK Kartanegara Kota
Kediri Tahun Pelajaran 2014/2015 sebagai berikut :
1. Nama : Dirahasiakan
menyampaikan pendapat, bertanya, menjawab dan menyampaikan
tanggapan, kepada sesama teman dan bahkan guru.
2. Nama : Dirahasiakan
Saya sangat setuju. Pembelajaran itulah yang harus diterapkan disekolah
karena sekarang sistemnya siswa harus aktif. Jadi murid harus banyak
melakukan aktivitas.
3. Nama : Dirahasiakan
Saya sangat setuju, karena dengan pembelajaran “Metode Numbereds Heads
Together” setiap siswa bisa mendapatkan suasana baru berupa kesempatan
untuk mempresentasikan apa yang didengarkan, bertanya, menjawab, dan
menyampaikan tanggapan kepada guru.
4. Nama : Dirahasiakan
Saya sangat setuju dengan sistem pembelajaran “Metode Numbereds Heads
Together” karena dengan model pembelajaran ini siswa bisa bertanya dan
menuangkan hal sesuatu yang belum dimengerti untuk ditanyakan kepada
guru pengajar.
5. Nama : Dirahasiakan
Setuju, karena dengan adanya prinsip ini dapat membuat siswa semangat
belajar dan akan bertanya dan menggunakan sesuatu yang belum di ketahui /
penemuan.
6. Nama : Dirahasiakan
Sebaiknya ibu guru jadi guru ekonomi?
Setuju, karena sebagian besar siswa tidak berani untuk bertanya secara
langsung dan menerangkannya kalau bisa lebih dari 20 menit agar para
siswa lebih jelas menangkapnya dan seharusnya diterangkan melalui contoh
yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, serta penggunaan buku paket
harus diutamakan.
8. Nama : Dirahasiakan
Setuju, karena sebagian besar siswa tidak berani bertanya kepada guru, tapi
guru harus menambah waktu untuk memberikan teori dari 20 menit menjadi
1 jam pelajaran.
9. Nama : Dirahasiakan
½ tolong prinsip “Metode Numbereds Heads Together” harus diterapkan
dan jangan membuat soal di jawab sendiri kecuali kalau siswa tidak bisa.
10. Nama : Dirahasiakan
My teacher is less to jess
Saya setuju dengan diberikan lembaran, jadi para siswa bisa bertanya tanpa
ada suasana berisik. Dengan begini apa yang ada di benak para murid bisa
ditanyakan.
11. Nama : Dirahasiakan
Saya sangat setuju sekali, karena itu bisa memajukan para siswa untuk
bertanya.
12. Nama : Dirahasiakan
Setuju, karena siswa juga bertanya apabila ada pertanyaa yang belum jelas ?
Setuju, karena dengan adanya kelas pertanyaan semua murid bisa paham
betul dengan pelajaran dan juga untuk murid yang tidak berani bertanya bisa
menanyakannya melalui kertas pertanyaan.
14. Nama : Dirahasiakan
Setuju, sebab karena ada “Metode Numbereds Heads Together” kita bisa
belajar rikels, santai, dan dapat mencarikan suasana dan kita bisa lebih
enjoy.
15. Nama : Dirahasiakan
Setuju, karena dengan diberikannya lembaran untuk bertanya murid dapat
bertanya dengan bebas dan murid bisa memberikan motivasinya.
16. Nama : Dirahasiakan
Setuju, Karen siswa juga bisa bertanya apa yang ia belum ketahui dari apa
yang guru ajarkan kepada muridnya dan dengan “Metode Numbereds Heads
Together” semua siswa dapat bertanya kepada guru sebelum ada model
pembelajaran. Kebanyakan siswa tidak berani bertanya atau malu bertanya.
Saya kira dengan model pembelajaran “Metode Numbereds Heads
Together” ini cukup bagus untuk semua murid. Terima kasih.
17. Nama : Dirahasiakan
Saya setuju karena dengan model pembelajaran “Metode Numbereds Heads
Together” siswa bisa mengungkapkan dengan jenis tentang pelajaran yang
tidak mereka mengerti dengan cara membuat pertanyaan secara tertulis.
18. Nama : Dirahasiakan
Saya setuju, karena dengan “Metode Numbereds Heads Together” para
menanyakan sesuatu yang belum dimengerti. Tetapi dapat memperlambat
waktu penerangan.
19. Nama : Dirahasiakan
Setuju, tetapi cara menjelaskannya pelan-pelan agar mudah dimengerti.
20. Nama : Dirahasiakan
Saya sangat setuju dengan model pembelajaran “Metode Numbereds Heads
Together” yang ditetapkan seperti sekarang ini. karena dari siswa dapat
bertanya apa yang ia belum tau/mengerti.
21. Nama : Dirahasiakan
Saya setuju, dengan pembelajaran “Metode Numbereds Heads Together”
karena siswa bisa aktif bertanya kepada guru dan mengerjakan soal-soal.
22. Nama : Dirahasiakan
Setuju karena dalam sistem pembelajaran “Metode Numbereds Heads
Together” sekarang yang digunakan adalah sistem siswa harus aktif dalam
sistem ini murid dituntut bertanya dan dapat menerangkannya.
23. Nama : Dirahasiakan
Saya setuju dengan cara pembelajaran “Metode Numbereds Heads
Together” ini adalah sistem siswa harus aktif dalam sistem ini siswa di
tuntut untuk membuat pertanyaan dan siswa harus dapat menerangkannya,
tetapi kalau menerangkan materi dengan terlalu cepat biar siswa dapat
menerimanya dengan jelas.
Setuju, karena cepat gurunya dalam memberi materi sehingga kami tidak
mengerti. Dan kalau memberikan materi harus pelan-pelan dan kalau
memberikan rumusnya harus diberi satuannya………ok…………?
Saya harap Ibu tidak marah,……!
25. Nama : Dirahasiakan
Setuju, tapi cara bapak menerangkan materi terlalu cepat.
26. Nama : Dirahasiakan
Setuju, tetapi cara Ibu menerangkan terlalu cepat sehingga kamu sulit untuk
memahaminya.
27. Nama : Dirahasiakan
Setuju tetapi cara Ibu menerangkan terlalu cepat sehingga kami sulit untuk
memahaminya.
28. Nama : Dirahasiakan
Setuju, tetapi cara menjelaskannya harus pelan-pelan supaya mudah
dimengerti.
29. Nama : Dirahasiakan
Setuju, tetapi cara menjelaskannya harus pelan-pelan supaya mudah
dimengerti.
30. Nama : Dirahasiakan
K. Setuju, tetapi cara menjelaskannya harus pelan-pelan supaya mudah
BAB V
PENUTUP
Hasil penelitian tindakan kelas berjudul “Meningkatkan Motivasi Belajar
Siswa Kelas X TSM4 Melalui Pendekatan Numbered Heads Together Mata Pelajaran
Bahasa Indonesia Pada Topik Kerja Sama Membangun Teks Anekdot Di SMK
Kartanegara Kota Kediri” dengan dengan tujuan meningkatkan motivasi belajar siswa
kelas X TSM4 Semester Gasal Tahun Pelajaran 2014/2015 pada Topik Kerja Sama
Membangun Teks Anekdot peneliti dapat memberikan kesimpulan dan saran seperti di
bawah ini.
A. KESIMPULAN
1. Bahwa metode Numbered Heads Together dapat meningkatkan motivasi belajar
siswa kelas X TSM4 Semester Gasal Tahun Pelajaran 2014/2015 pada Topik
Kerja Sama Membangun Teks Anekdot di SMK Kartanegara Kota Kediri. Hal
ini dapat dilihat pada peningkatan keaktifan siswa pada pertemuan pertama,
kedua dan ketiga.
2. Bahwa metode Numbered Heads Together juga dapat meningkatkan hasil
belajar siswa kelas X TSM4 Semester Gasal Tahun Pelajaran 2014/2015 pada
Topik Kerja Sama Membangun Teks Anekdot di SMK Kartanegara Kota
Kediri. Hal ini dapat dilihat pada hasil tes formatif dengan hasil nilai rata-rata
83 dan ketuntasan belajar klasikal sebesar 90%
3. Dari hasil penelitian bahwa hipotesis : “Penerapan pendekatan Numbered
SMK Kartanegara Kota Kediri khususnya pada mata pelajaran Bahasa
Indonesia dengan topik Kerja Sama Membangun Teks Anekdot” terbukti benar.
B. SARAN
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan pendidikan, terutama dapat mengembangkan khazanah ilmu
tentang peningkatan motivasi belajar Bahasa Indonesia melalui pendekatan
Numbered Heads Together.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan perbandingan bagi peneliti yang akan menerapkan proses pembelajaran agar dapat memberikan motivasi
pada peserta didik dalam peningkatan hasil belajarnya.
3. Penelitian ini mudah-mudahan dapat memberikan sumbangan yang bermanfaat dalam rangka perbaikan proses pembelajaran Bahasa Indonesia. Dan mungkin
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto Suharsimi, (1986). Prosedur Penelitian, Jakarta : Bina Aksara
Andayani.dkk, (2009) Pemantapan Kemampuan Profesional,Jakarta : Universitas
Terbuka
C.George Boeree, (2008) Metode Pembelajaran Dan Pengajaran, Jogjakarta :Ruzz
Media
Departemen Pendidikan Nasional, (1999). Penelitian Tindakan Action Research.
Jakarta : Ditjen : Penerbit Rineka Cipta
http://id.wikipedia.org/wiki/Anekdot
Idrus, Muhammad, (2009). Metode Penelitian Ilmu Sosial. Yogyakarta: Erlangga.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, (2014). Bahasa Indonesia ekspresi Diri dan
Akademik, Edisi Revisi, Jakarta.