PROFIL KOMODITAS
TEPUNG TERIGU
Daftar Isi
1. Deskripsi Komoditas ... 3
1.1 Bahan Baku Tepung Terigu ... 3
1.1.1 Klasifikasi Ilmiah ... 4
1.2 Jenis Komoditas/Varietas ... 5
1.2.1 Jenis Berdasarkan Kandungan Dan Kualitas ... 5
1.2.2 Jenis Tepung Terigu Di Pasar Indonesia ... 10
1.3 Pohon Industri ... 11
1.4 Struktur Kepengusahaan Tepung Terigu ... 13
1.5 Produk Substitusi ... 13
1.6 Proses Produksi Terigu ... 13
2. Pasokan ... 17
2.1 Sentra & volume produksi ... 17
2.1.1 Sentra Produksi ... 20
2.2 Rendemen ... 21
2.3 Pola produksi dan stok tepung terigu ... 21
2.4 Faktor-faktor kritis yang mempengaruhi produksi ... 22
2.5 Kebijakan pemerintah terkait ... 24
2.6 Klasifikasi Komoditas Tepung Terigu ... 25
3. Permintaan ... 26
3.1 Konsumen Terigu ... 26
3.2 Wilayah Dan Volume Konsumsi ... 26
3.3 Pangsa Pengeluaran Rumah Tangga ... 41
3.4 Pola konsumsi ... 41
3.5 Faktor-faktor kritis yang mempengaruhi konsumsi ... 46
3.6 Kebijakan pemerintah terkait ... 47
3.7 Standar Mutu ... 48
4. Pasar dan Distribusi Domestik ... 49
4.1 Struktur pasar lokal ... 49
4.2 Jalur & Margin distribusi ... 50
4.3 Infrastruktur logistik ... 76
4.4 Kebijakan pemerintah terkait ... 77
5. Pasar Internasional ... 78
5.1 Penawaran Internasional ... 78
1.
Deskripsi Komoditas
Kata terigu dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Portugis, trigo, yang berarti "gandum". Pengertian tepung terigu adalah tepung atau bubuk halus yang berasal dari bulir gandum dan digunakan sebagai bahan dasar pembuat kue, mi, roti dan lain-lain. Tepung terigu mengandung banyak zat pati yaitu karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air. Selain itu, tepung terigu juga mengandung protein dalam bentuk gluten. Gluten berperan dalam menentukan kekenyalan makanan yang terbuat dari bahan terigu.
Tepung terigu merupakan salah satu bahan pangan non beras yang banyak digunakan oleh industri dan masyarakat sebagai bahan baku utama pembuatan mi, biskuit, kue kering, roti, cake dan lain lain. Walaupun demikian konsumsi tepung terigu per kapita di Indonesia baru mencapai + 15 kg/kapita untuk tahun 2002 dan telah meningkat + 17,1 kg pada tahun 2007, namun masih sangat kecil jika dibandingkan dengan negara lain seperti misalnya Singapura yang mencapai + 71 kg /kapita atau Malaysia + 40 kg /kapita.
Karakteristik tepung terigu mempunyai efek substitusi terhadap beras, dengan demikian dapat mengurangi tekanan terhadap konsumsi beras. Terlebih saat ini komoditi tersebut semakin mudah diperoleh dengan harga yang relatif murah. Kondisi ini membuat masyarakat mengalami ketergantungan terhadap tepung terigu. Kebutuhan tepung terigu domestik dipenuhi melalui produksi dari perusahaan-perusahaan pengolah biji gandum yang ada di Indonesia dan juga oleh tepung terigu impor.
Berdasarkan data Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (APTINDO), permintaan tepung terigu nasional pada tahun 2009 mencapai 3,8 juta ton. Sedangkan pada tahun 2010 yang akan datang diperkirakan permintaan tepung terigu akan mengalami kenaikan hingga 6 persen. Dengan pertumbuhan permintaan yang lumayan signifikan tersebut berpotensi direbut oleh produk-produk terigu impor.
1.1 Bahan Baku Tepung Terigu
Gandum (Triticum spp.) adalah sekelompok tanaman serealia dari suku padi-padian yang kaya akan karbohidrat. Gandum biasanya digunakan untuk memproduksi tepung terigu, pakan ternak, ataupun difermentasi untuk menghasilkan alkohol.
1.1.1 Klasifikasi Ilmiah Kerajaan : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Ordo : Poales Famili : Poaceae Genus : Triticum
Gandum merupakan makanan pokok manusia, pakan ternak dan bahan industri yang mempergunakan karbohidrat sebagai bahan baku [2]. Gandum dapat diklasifikasikan berdasarkan tekstur biji gandum (kernel), warna kulit biji (bran), dan musim tanam. Berdasarkan tekstur kernel, gandum diklasifikasikan menjadi hard, soft, dan durum. Sementara itu berdasarkan warna bran, gandum diklasifikasikan menjadi red (merah) dan white (putih). Untuk musim tanam, gandum dibagi menjadi winter (musim dingin) dan spring (musim semi). Namun, secara umum gandum diklasifikasikan menjadi hard wheat, soft wheat dan durum wheat.
T. aestivum (hard wheat)
T. aestivum adalah spesies gandum yang paling banyak ditanam di dunia dan banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan roti karena mempunyai kadar protein yang tinggi. Gandum ini mempunyai ciri-ciri kulit luar berwarna coklat, bijinya keras, dan berdaya serap air tinggi. Setiap bulir terdiri dari dua sampai lima butir gabah.
T. compactum (soft wheat)
T. compactum merupakan spesies yang berbeda dan hanya sedikit ditanam. Setiap bulirnya terdiri dari tiga sampai lima buah, berwarna putih sampai merah, bijinya lunak, berdaya serap air rendah dan berkadar protein rendah. Jenis gandum ini biasanya digunakan untuk membuat biskuit dan kadang-kadang membuat roti.
T. durum (durum wheat)
T. durum merupakan jenis gandum yang khusus. Ciri dari gandum ini ialah bagian dalam (endosperma) yang berwarna kuning, bukan putih, seperti jenis gandum pada umumnya dan memiliki biji yang lebih keras, serta memiliki kulit yang berwarna coklat. Gandum jenis ini
digunakan untuk membuat produk-produk pasta, seperti makaroni, spageti, dan produk pasta lainnya
1.2 Jenis Komoditas/Varietas
1.2.1Jenis Berdasarkan Kandungan Dan Kualitas
Ada berbagai macam jenis dan kualitas tepung terigu yang di produksi di Indonesia, begitu juga yang diimpor. Keadaan ini membuat para pengguna terigu, industri makanan berbasis terigu, leluasa memilih jenis terigu yang sesuai dengan kebutuhannya. Bagi produsen terigu tentu akan berlomba-lomba untuk konsisten dalam mempertahankan kualitas dengan harga terjangkau.
Secara umum spesifikasi tepung terigu berdasarkan kandungan proteinnya dapat dikelompokan menjadi tiga yaitu :
1. Tepung berprotein tinggi (bread flour): tepung terigu yang mengandung kadar protein tinggi lebih dari 12%, digunakan sebagai bahan pembuat roti, mi, pasta, dan donat. 2. Tepung berprotein sedang/serbaguna (all purpose flour): tepung terigu yang
mengandung kadar protein sedang, sekitar 10%-11%, digunakan sebagai bahan pembuat kue cake.
3. Tepung berprotein rendah (pastry flour): mengandung protein sekitar 8%-9%, umumnya digunakan untuk membuat kue yang renyah, seperti biskuit atau kulit gorengan ataupun keripik.
Gambar berikut memperlihatkan kandungan protein untuk masing-masing spesifikasi tepung terigu :
Gambar 1-1 Spesifikasi Tepung Terigu
Sementara itu, kualitas tepung terigu dipengaruhi oleh:
1. Persentase Moisture :
Moisture adalah jumlah kadar air pada tepung terigu. Moisture ini berpengaruh besar sekali terhadap kualitas tepung. Bila moisture rendah maka kualitas tepung terigu bagus dan harganya mahal. Bila jumlah moisture melebihi standar maksimum maka tepung terigu akan semakin cepat rusak, antara lain:
a. Berjamur, b. Berbau apek,
c. Penambahan air pada adonan berkurang.
2. Persentase Protein :
Dengan mengetahui kadar protein dalam tepung terigu, produsen dapat menentukan tepung apa yang paling cocok untuk membuat produk makanan yang akan diproduksi. Bila protein dalam tepung terigu tinggi maka kualitas produk bagus sehingga harganya mahal. Protein dalam tepung terigu sangat menentukan dalam :
a. Jenis produk makanan yang dibuat, b. Jenis peralatan yang digunakan,
Protein sangat erat hubungannya dengan gluten, dimana gluten sendiri adalah suatu zat yang ada pada tepung terigu yang bersifat elastis dan kenyal. Semakin tinggi kadar proteinnya maka semakin banyak gluten yang ada pada tepung tersebut, begitu pula sebaliknya.
3. Persentase Ash :
Ash adalah kadar abu yang ada pada tepung terigu, dimana kadar abu ini sangat mempengaruhi pada proses pengolahan tepung terigu menjadi produk turunannya. Bila ash
rendah maka kualitas tepung terigu bagus sehingga harganya mahal. Hasil akhir produk dengan ash rendah adalah :
a. Warna daging produk akan gelap,
b. Tingkat kestabilan adonan pada kelebihan waktu aduk berkurang, c. Tingkat kestabilan adonan pada kelebihan waktu fermentasi berkurang.
Kesemuanya ini terlepas dari jumlah maupun kualitas protein, jadi setinggi apapun proteinnya sedangkan ash countent-nya tinggi maka beberapa hal akan terjadi terutama akan memutuskan serat gluten. Untuk beberap jenis produk tertentu jumlah kandungan ash tidak bermasalah, tetapi ada beberapa jenis produk tertentu sangat memperhatikan jumlah ash countent-nya, yang menyebabkan kurang bersihnya warna pada tepung terigu.
4. Persentase Gluten:
Gluten adalah satu-satunya zat yang hanya ada pada tepung terigu sedangkan pada jenis tepung lainnya tidak ada. Sifat dari zat ini adalah kenyal dan elastis. Gluten ini sangat penting dan diperlukan dalam pembuatan roti agar dapat mengembang dengan baik dan mie supaya kenyal atau beberapa produk makanan yang memerlukan gluten yang tinggi seperti pembuatan kulit martabak telur supaya tidak mudah robek dan sebagainya.
Gluten akan terbentuk lebih sempurna bila :
a. Waktu umur tepung minimal 7 hari setelah digiling, b. Bila diberikan energi (proses aduk).
Cara mendapatkan gluten dengan mudah :
a. Siapkan tepung seberat 500 gram, b. Tambahkan air seberat 300 cc, c. Aduk adonan sampai kalis,
d. Rendam adonan dalam air selama 30 menit,
e. Cuci adonan sampai bersih hanya tersisa gumpalan berwarna agak kekuningan.
Banyak /sedikitnya gluten yang didapat tergantung dari berapa banyak jumlah protein dalam tepung itu sendiri. Semakin tinggi proteinnya maka semakin banyak jumlah gluten yang didapat, begitu pula sebaliknya. Dengan adanya pemberian energi akan memperbanyak kadar gluten yang dihasilkan tetapi sebaliknya jika tidak ada pemberian energi.
Gluten akan rusak bila :
a. Jumlah ash countent-nya terlalu tinggi, b. Waktu aduk adonan kurang,
c. Waktu aduk adonan berlebih.
Gluten akan lunak dan lembut bila :
a. Diberikan gula, b. Diberikan lemak,
c. Diberikan asam (proses fermentasi).
5. Persentase Water Absorption :
Water Absorption adalah kemampuan tepung terigu menyerap jumlah air secara maksimal dalam adonan. Kemampuan daya serap air tepung berkurang bila :
a. Kadar air dalam tepung (% moisture) terlalu tinggi, b. Tempat penyimpanan tepung lembab.
Dalam ketentuannya, semakin tinggi protein tepung terigu maka daya serap air akan semakin besar tetapi semakin rendah kadar proteinnya maka semakin rendah daya serap airnya.
Water absorption ini berhubungan dengan jumlah tepung terigu yang dihasilkan, seperti berikut ini:
Water absorption tinggi = kualitas tepung bagus = hasil jadi banyak
Water absorption rendah = kualitas tepung jelek = hasil jadi sedikit
Kelima persentase di atas dibutuhkan untuk menghasilkan tepung terigu yang berkualitas, tetapi dalam pengolahan tepung terigu menjadi makanan olahan dibutuhkan suatu kondisi
kalis agar produk yang dihasilkan bagus. Untuk mencapai tepung terigu yang kalis, tepung terigu mengalami develoving time. Developing time adalah tingkat kecepatan tepung terigu dalam pencapaian develop (kalis). Bila dalam pengadukan terjadi kurang aduk disebut under mixing sebaliknya bila terlalu lama setelah pencapaian develop/ kalis disebut over mixing. Hubungan antara kualitas tepung terigu dan developing time sebagai berikut:
Kualitas tepung bagus = developing time lama = stability lama
Kualitas tepung jelek = developing time cepat = stability cepat
Akibat yang ditimbulkan bila adonan tepung terigu mengalami under mixing (kurang waktu aduk) antara lain :
a. Volume tidak maksimal, b. Serat / remah roti kasar, c. Teksture roti terlalu kenyal, d. Aroma roti asam,
e. Warna daging dan kulit roti kusam (tidak cerah), f. Hasil jadi roti cepat keras,
g. Rasa roti tidak enak,
h. Permukaan kulit roti pecah dan tebal, i. Adonan sulit mengembang.
Akibat yang ditimbulkan bila adonan tepung terigu over mixing (kelebihan waktu aduk) antara lain:
a. Volume roti melebar/ cenderung flat (datar), b. Serat/ remah roti kasar,
c. Warna kulit roti pucat,
d. Permukaan kulit roti banyak gelembung, e. Permukaan roti mengecil,
f. Tidak ada oven spring pada saat dibakar, g. Roti kurang mengembang,
h. Daging roti tidak kenyal.
Untuk melihat kemampuan tepung dalam proses pengadukan dilihat dari kecepatan adonan mencapai develop (kalis) dan juga dapat dilihat dari stabilitas adonan setelah pencapaian
kalis. Stabilitas adonan adalah kemampuan tepung terigu untuk menahan stabilitas adonan tetap sempurna meskipun telah melewati waktu develop (kalis).
Stabilitas tepung terhadap adonan sangat dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain :
a. Jumlah protein, b. Kualitas protein,
c. Zat aditif yang ditambahkan.
1.2.2Jenis Tepung Terigu Di Pasar Indonesia
Kebutuhan terigu dalam negeri dipenuhi oleh terigu produksi domestik dan terigu impor. Terigu domestik diproduksi oleh 4 produsen utama yaitu: Bogasari, Berdikari, Sriboga dan Panganmas. Sementara terigu impor berasal dari Turki, India dan Srilanka.
Produsen terigu umumnya menjual terigu dalam kemasan 25 kg, 2 kg dan 1 kg. Terigu kemasan 25 kg biasanya dikonsumsi oleh industri pengolahan berbahan baku terigu, sementara kemasan 1 kg dan 2 kg dikonsumsi oleh rumah tangga. Selain itu beberapa produsen juga menyediakan terigu khusus dan terigu dengan spesifikasi sesuai pesanan.
Setiap produsen terigu dapat memiliki lebih dari 1 merek terigu. Perbedaan merek berkaitan dengan kualitas terigu tersebut, khususnya kandungan protein. Semakin tinggi kandungan protein, semakin mahal harga terigu.
Merek-merek terigu yang beredar di Indonesia ditunjukkan pada tabel berikut.
Tabel 1-1 Merek-Merek Tepung Terigu yang Beredar di Indonesia
Bogasari Sriboga Berdikari Pangan Mas Terigu Impor
Cakra Kembar
Mas Seri Naga Gerbang Kantil Kapal
Cakra Kembar Seri Beruang Gunung Melati Layer
Kastil Seri Pita Pirana Soka Dolphin
Segitiga Biru Seri Tali Serdadu Merah Raflesia Australia Map
Kunci Biru Produk Khusus Kawan Baru Panda
Lencana Merah Produk Customized Kompas Pokeman
Taj Mahal Gatot Kaca Frog
1.3 Pohon Industri
Pohon industri dari tepung terigu bermula dari industri tepung terigu nasional yang berjumlah 8 perusahaan. Hasil produksinya disalurkan secara langsung maupun tidak langsung (melalui distributor, depot, grosir dan ritel) ke industri berbahan baku terigu dan keperluan rumah tangga. Mayoritas (sekitar 68 persen atau 30.000 usaha) pengguna tepung terigu adalah industri kecil-tradisional, menengah (UKM) dan sisanya (sekitar 32 persen atau 200 perusahaan) industri besar-modern.
Produk akhir hasil produksi industri besar-modern yaitu mie instan, mie kering, snack, biskuit, cake dan bakery. Sedangkan produk akhir dari industri kecil-tradisional yaitu mie kering, mie basah, kue kering, snack, biskuit, jajanan pasar, martabak, cakwe, kerupuk, gorengan, dan lain-lain.
Gambar berikut memperlihatkan pohon industri berikut pengguna tepung terigu nasional.
Gambar 1-2 Pohon Industri Pengguna Terigu
Melihat pohon industri tersebut, pengguna utama tepung terigu adalah industri mie (basah dan kering), industri roti dan biskuit. Penggunaan tepung terigu tersebut terutama bergantung pada kandungan protein dan daya serap air masing-masing jenis tepung terigu.
Produsen-produsen tepung terigu umumnya memberikan merek tertentu untuk masing-masing segmen pengguna, seperti ditunjukkan pada tabel berikut.
1.4 Struktur Kepengusahaan Tepung Terigu
1.5 Produk Substitusi
Saat ini, tepung terigu sudah merupakan komoditas substitusi tidak langsung dari beras. Pertama, lonjakan harga beras dapat mengakibatkan konsumen akan mengurangi konsumsi beras dan meningkatkan konsumsi mie instan. Kedua, pola hidup masyarakat semakin menguat ke arah pengurangan konsumsi beras menjadi mengkonsumsi roti. Mie dan roti merupakan bahan pangan berbahan baku tepung terigu.
Di sisi lain, tepung terigu sendiri juga memiliki produk substitusi, yaitu tepung jagung dan tepung ubi. Lonjakan harga tepung terigu, seperti yang terjadi di tahun 2007, akan
meningkatkan penggunaan tepung jagung dan tepung ubi sebagai pengganti tepung terigu. (lengkapi dengan data)
1.6 Proses Produksi Terigu
Proses produksi pada produk tepung terigu merupakan proses produksi yang terus menerus (continuos process), karena aliran bahan dari bahan baku (gandum) sampai menjadi produk jadi (tepung terigu) mengalir terus menerus. Proses tersebut dimulai dari penyedotan gandum
di kapal pembawa gandum yang bersandar di dermaga (jetty) lalu gandum dialirkan dengan alat material handling yang berupa : chain conveyor, belt conveyor, screw conveyor dan
bucket elevator ke tempat penampungan gandum sementara (wheat silo). Kemudian dari
wheat silo, setelah gandum dibersihkan dengan menggunakan mesin-mesin pembersih, lalu gandum dialirkan dengan menggunakan alat material handling yang sama ditambah dengan alat screw conveyor ke tempat penggilingan (milling). Gandum yang digiling menjadi tepung terigu kemudian tepung terigu dialirkan dengan menggunakan pipa-pipa, dimana pemindahan tepung terigu dengan pipa-pipa ini menggunakan prinsip-prinsip gaya gravitasi dan dengan tiupan udara yang bertekanan tinggi hingga akhirnya tepung terigu dikumpulkan di tempat penampungan tepung terigu (bin tepung). Selanjutnya dari bin tepung, tepung terigu tersebut di kemas.
Tahapan proses pembuatan tepung terigu terdiri dari tahap Cleaning (pembersihan),
Tempering (mengkondisikan biji gandum agar siap digiling), Milling (penggilingan), dan
Packing, yang diuraikan sebagai berikut:
1. Cleaning (Pembersihan)
Cleaning merupakan proses pembersihan serta pengkondisian bahan baku agar memiliki sifat dan persyaratan sesuai dengan yang dikehendaki. Di dalam proses cleaning bahan baku berupa biji gandum dibersihkan dan dipisahkan dari material-material yang tidak diinginkan yang dapat merusak mesin produksi serta kualitas tepung terigu yang dihasilkan. Pada tahap ini, gandum akan melewati beberapa macam mesin seperti classifier (saat transfer dari silo tempat penyimpan biji gandum), magnetic separator, combi cleaner, trieur, disc carter dan
scourer.
Classifier memisahkan impurities atau kotoran dengan range ukuran tertentu. Magnetic separator menjamin biji gandum terhindar dari berbagai macam partikel besi dan logam yang mungkin terbawa pada saat penerimaan dan penyimpanan. Combi Cleaner memisahkan
impurities berdasarkan berat jenis serta batu, pasir dan lempengan logam. Kalau Trieur
memisahkan benda asing yang berukuran lebih kecil dari butiran biji gandum, maka Disc Carter berfungsi memisahkan benda asing yang berukuran lebih besar dari biji gandum. Sedangkan Scourer bertindak sebagai sikat untuk merontokkan bulu-bulu halus, debu dan partikel ringan yang menempel pada biji gandum.
2. Tempering (Pengkondisian Biji Gandum Agar Siap Digiling)
Selanjutnya bahan baku yang telah bersih masuk ke dalam proses Tempering. Pada tahap ini gandum akan disemprot dengan air agar bahan baku gandum tersebut bisa mencapai kadar air tertentu, kemudian didiamkan dalam jangka waktu tertentu pula (pemeraman). Lama
tempering tergantung pada jenis biji gandum yang digunakan. Biasanya berkisar antara 18 jam untuk biji gandum soft (kadar protein rendah) dan 24-36 jam untuk biji gandum hard
(kadar protein tinggi).
3. Milling
Tahap berikutnya adalah proses milling yaitu proses penggilingan mekanik yang menjadikan gandum menjadi tepung, bran dan polard. Pada tahap ini, gandum akan melewati beberapa proses yang berulang-ulang seperti proses pemecahan, penggilingan (rolling), pengayakan (shifting) dan pemurnian (purifying).
Proses pengayaan untuk memisahkan komponen-komponen utama dari gandum dan endosperm menjadi bagian-bagian yang terpisah dan kemudian menggiling endosperm menjadi tepung terigu.
Untuk menghindari dan membersihkan telur-telur kutu yang mungkin ada pada biji gandum, ditempatkan peralatan yang disebut entoleter atau detacher. Peralatan tersebut menghancurkan berbagai macam jenis serangga, kutu, larva dan telur kutu.
Di proses ini juga bisa dilakukan fortifikasi (penambahan mineral dan vitamin) dan penambahan flour additives sesuai produsen terigu masing-masing.
4. Packing
Tepung terigu yang telah siap dan oke kualitasnya kemudian dikemas dan disimpan di gudang. Tepung terigu bisa juga dikirim secara curah (bulk loading) langsung ke industri makanan berbasis terigu.
Flowchart tahapan pembuatan tepung terigu disajikan pada gambar berikut:
2.
Pasokan
2.1 Sentra & volume produksi
Produksi tepung terigu selama periode 2004 – 2009 meningkat rata-rata sekitar 4% per tahun yaitu dari 3,2 juta pada 2005 menjadi 3,9 ton pada 2009. Pada 2008, produksinya sempat anjlok sekitar 8,7% menjadi 3,3 juta ton. Pada 2009, produksi tepung terigu meningkat sekitar 17,9%. Kinerja produsen tepung terigu nasional lebih banyak dipengaruhi trend penjualan yang selama lima tahun terakhir hanya tumbuh 3,4% per tahun. Di sisi lain, tepung terigu impor cenderung meningkat sehingga persaingan bisnis tepung terigu di pasar domestik semakin ketat.
Tabel 2-1 Produksi Tepung Terigu di Indonesia, 2004 - 2009
Tahun Produksi (ton) Pertumbuhan
(%) 2004 3.168.162 - 2005 3.263.206 3,5 2006 3.481.840 6,7 2007 3.645.486 4,7 2008 3.328.329 -8,7 2009 3.923.819 17,9 Pertumbuhan rata-rata 4,0 Sumber : APTINDO (2010)
Tepung terigu pasokan domestik berasal dari gandum yang diimpor oleh pabrik penggilingan gandum, dengan rincian yang disajikan pada tabel berikut.
Tabel 2-2 Produksi Tepung Terigu dalam Negeri
No Importir 2007
Oct- Dec
2008 2009 2010
Jan-Jun 1 PT INDOFOOD SUKSES MAKMUR 654,787 2,946,80
4
2,854,048 1,390,159
2 PT EASTERN PEARL FLOUR MILLS 188,080 688,146 537,325 308,161
3 PT FUGUI FLOUR & GRAIN 47,721 374,485 365,934 218,821
4 PT SRIBOGA RATURAYA 47,599 196,248 319,253 224,444
5 PT PANGANMAS INTI PERSADA 35,289 20,572 3,888 0
6 PT BERKAT INDAH GEMILANG 3,568 22,145 30,396 19,391
7 PT PURNOMO SEJATI 3,405 8,262 20,990 13,749
8 PT JAKARANA TAMA 929 3,055 17,486 8,335
9 PT VIDER (PT ASIA RAYA) 2,068 2 4,548 4,702
15 PT PAKINDO JAYA PERKASA 123 2,537 39,882 14,561
16 PT. PUNDI KENCANA 0 0 33,414 0
17 PT LUMBUNG NASIONAL FLOUR MILLS
18 PT NEW HOPE INDONESIA 0 0 0 483
19 PT PRAKARSA ALAM SEGAR 0 0 0 4,091
20 OTHERS 212 2893 421,967 31,630
Total 983,781 4,265,14
9
4,649,129 2,250,681 Sumber : APTINDO (2010)
Sedangkan jika dilihat dari negara asal impor gandum, maka rinciannya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2-3 Gandum Impor Berdasarkan Negara Asal Impor Periode 2009 – 2010 (in MT)
No Negara Asal 2009 Jan - Jun 2010
1 AUSTRALIA 2,650,732 1,500,192 2 CANADA 885,306 386,039 3 UNITED STATES 602,059 252,472 4 RUSSIA FEDERATION 283,385 71,408 5 UKRAINE 178,679 12,243 6 BRAZIL 25,000 0 7 BULGARIA 22,900 0 8 SINGAPORE 1,003 0 9 TAIWAN 63 0 10 LITHUANIA 0 28,327 Total 4,649,129 2,250,680 Sumber : APTINDO (2010)
Sedangkan pasokan terigu, diimpor dari beberapa negara, rinciannya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2-4 Terigu Impor Periode 2007 – 2010 (in MT)
No Negara Asal 2007 2008 2009 Jan-Jun2010
1 AUSTRALIA 136,692 146,145 42,245 32,740 2 SRILANKA 103,051 61,067 132,336 70,353 3 TURKEY 167,493 227,472 382,145 179,343 4 BELGIUM 38,363 70,704 76,371 32,058 5 CHINA 56,415 13,718 1,164 84 6 JAPAN 6,286 5,286 5,566 2,713 7 SINGAPORE 7,004 4,792 1,750 1,507 8 TAIWAN 0 99 0 0 9 VIETNAM 308 0 1,980 1,783 10 FRANCE 0 45 0 0 11 BULGARIA 0 606 0 0 12 UKRAINE 0 979 851 15,578 13 SPAIN 0 0 600 2,448 14 OTHERS 1948 0 0 383 Total 530,914 645,009 338,992 Sumber : APTINDO (2010)
Berdasarkan data jumlah perusahaan dari Departemen Perindustrian dan Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (APTINDO) dapat diketahui sebaran sentra produksi tepung terigu, yang diperlihatkan pada Gambar 7. Sebaran sentra produksi tepung terigu mayoritas terdapat di Pulau Jawa, yaitu di Jakarta, Cilegon, Semarang, Cilacap, dan Surabaya. Sedangkan yang berada di luar Pulau Jawa adalah di Makassar, sementara di daerah lainnya belum ada yang beroperasi.
Gambar 2-1 Sebaran Produsen Tepung Terigu
Secara total produsen tepung terigu di Indonesia saat ini berjumlah 14 perusahaan, dengan rincian tertera pada tabel berikut.
Tabel 2-5 Market Share Perusahaan Penggilingan Tepung Terigu di Indonesia Tahun 2010
No Company Location Capacity
(MT/year)
Market share (%)
1 PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Bogasari FM
Jakarta & Surabaya
4,905,000 62.14%
2 PT Eastern Pearl Flour Mills Makassar 750,000 9.50%
3 PT Sriboga Ratu Raya Semarang 450,000 5.70%
4 PT Fugui Flour & Grain Indonesia Gresik 324,000 4.10%
5 PT Pangan Mas Inti Persada Cilacap 300,000 3.80%
6 PT Purnomo Sejati Sidoarjo 120,000 1.52%
7 PT Asia Raya Sidoarjo 72,000 0.91%
8 PT Berkat Indah Gemilang Tangerang 43,000 0.54%
9 PT Jakaranatama Medan 43,000 0.54%
10 PT Pakindo Jaya Perkasa Sidoarjo 43,000 0.54%
11 PT Pundi Kencana Cilegon 324,000 4.10%
12 PT Lumbung Nasional Cibitung 300,000 3.80%
14 PT Halim Sejahtera Medan 70,000 0.89%
Total 7,894,000 100.00%
Sumber : APTINDO (Maret 2010) 2.1.1Sentra Produksi
Sebaran sentra produksi tepung terigu mayoritas terdapat di Pulau Jawa, yaitu diDKI Jakarta (1,68 juta ton), Jawa Barat (238,7 ribu ton), Jawa Tengah (267 ribu ton), Jawa Timur (1,08 juta ton), Banten (130,1 ribu ton). Diluar pulau jawa antara lain Sumatera Utara (121,4 ribu ton), Sulawesi Selatan (387,1 ribu ton).
Gambar 2.1.1 Daerah Sentra Produksi Tepung Terigu
Tabel 2.1.1 Data Produksi Tepung Terigu
0 200000 400000 600000 800000 1000000 1200000 1400000 1600000 1800000 Pr o d u ksi (To n ) Provinsi
2.2 Rendemen
Bahan baku utama industri tepung terigu adalah biji gandum. Biji gandum yang dibutuhkan sangat bergantung pada impor dari Amerika Serikat, Australia dan negara-negara kawasan Eropa. Melalui proses pengolahan biji gandum tersebut menghasilkan tepung terigu. Konversi dari biji gandum ke tepung terigu untuk setiap pabrik berbeda-beda tergantung pada kualitas biji gandum dan tingkat efisiensi mesin pengolahnya. Menurut Departemen Perindustrian, rata-rata rendemen biji gandum adalah 74 persen atau dari 100 kg biji gandum rata-rata akan menghasilkan tepung terigu sebanyak 74 kg.
2.3 Pola produksi dan stok tepung terigu
Pola produksi yang dilakukan oleh pabrik penggilingan tepung terigu di Indonesia adalah harian yang dinyatakan sebagai kapasitas giling dengan satuan mt/hari. Contohnya, Bogasari memiliki dua buah pabrik tepung terigu yaitu di Jakarta dan Surabaya yang masing-masing dibangun di areal seluas 29 Ha dan 13 Ha. Pabrik ini memiliki fasilitas penggilingan (Milling), penyimpanan (Storage), dan dermaga/terminal (Jetty) yang modern dan terpadu. Pabrik penggilingan tepung terigu Bogasari Jakarta dan Surabaya memiliki kapasitas giling 10.000 Mt/hari dan 5.900 Mt/hari. Sedangkan kapasitas pelletizing adalah 110 Mt/jam untuk Jakarta dan 38 Mt /jam untuk Surabaya.
Untuk menjamin persediaan gandum yang memadai, Bogasari Jakarta memiliki 140 buah Silo Gandum dengan total kapasitas ± 400.000 Mt, Silo Pellet dengan kapasitas 69.000 Mt, dan gudang untuk penyimpanan persediaan barang jadi sebesar 65.000 Mt. Sedangkan Bogasari Surabaya memiliki 84 buah silo gandum dengan total kapasitas ± 214.000 mt, Silo pellet sejumlah 60.000 mt, dan gudang untuk penyimpanan persediaan barang jadi sebesar 35.000 mt.
Perusahaan tepung terigu lain adalah PT. Eastern Pearl Flour Mills. Perusahaan ini telah berpengalaman lebih dari 30 tahun di bidang industri terigu dan saat ini telah mengoperasikan 2 pabrik penggilingan gandum yakni Sea Side Plant dan City Side Plant.
Sea Side Plant beroperasi sejak tahun 1972 dengan kapasitas awal 900 M ton per hari (2 lini). Sekarang kapasitas ini telah menjadi 1.300 M ton perhari (4 lini) dengan menerapkan mesin-mesin berteknologi canggih. City Side Mill dibangun pada tahun 1999 dan dilengkapi dengan mesin-mesin berteknologi modern dengan kapasitas 1.500 M ton per hari. Secara lengkap kedua pabrik penggilingan ini dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel 2-6 Sea Side Mill and City Side Mill Tepung Terigu PT. Eastern Pearl Flour Mills
Selain kedua pabrik di atas, PT. Sriboga Raturaya memiliki pabrik tepung terigu yang dibangun diatas dua lahan yang berhadapan seluas kurang lebih 26.000 m2 dan 15.670 m2 di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Bangunan pertama pabrik terdiri dari 12 lantai dengan luas sekitar 18.945 m2, dilengkapi dengan menara intake setinggi 52 m di atas permukaan laut dan memiliki fasilitas dermaga dengan panjang 180 m dan kedalaman laut 10 m. Dermaga tersebut dilengkapi dengan peralatan unloading biji gandum berkapasitas 300 ton/ jam, serta peralatan loading berkapasitas 150 ton/ jam. Bangunan kedua pabrik terdiri dari gedung Mixing Plant yang terdiri dari 8 lantai, gedung Packing yang terdiri dari 7 lantai, gudang penyimpanan tepung terigu berkapasitas maksimal 17.000 zak karung dan gedung kantor dimana terletak juga Bakery/ Noodle Clinic di lantai 3. Total luas bangunan yang ada yakni sekitar 9.405m2.
2.4 Faktor-faktor kritis yang mempengaruhi produksi
Faktor-faktor kritis utama yang mempengaruhi produksi tepung terigu adalah ketersediaan gandum, dimana gandum dalam negeri berasal dari impor. Ketersediaan gandum di luar negeri, di negara produsen gandum, dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu:
Pertama, perubahan iklim di negara produsen. Perubahan iklim mempengaruhi tingkat produktivitas panen gandum. Tingginya curah hujan di areal pertanian Amerika Serikat, misalnya, mengakibatkan panen gandum tertunda dan sejumlah areal rusak parah (Amerika Serikat merupakan produsen 10% total gandum dunia).
Area Pabrik 22.085 M² Area Pabrik 12.834 M²
Pneumatic ship unloader 500 Mt/jam Silo Tepung Terigu 9.400 Mt
Silo Gandum 117.940 Mt Flour packer 25kg 4.800 Bags/Jam
Silo Tepung Terigu 4.500 Mt Industrial packer 25 kg 2x400 Bags/Jam Industrial flour packer 25kg 175 Bags/Jam Bran/polar 50kg 200 Bags/Jam Flour packer 25kg 2.400 Bags/Jam Kapasitas Rumah Tangga 4.000 Mt Bran/polar 50kg 135 Bags/Jam
Kapasitas Pellet 4x10 Mt/Jam
silo Pelet 18.000 Mt
Kapasitas Rumah Tangga 4.500 Mt Sumber: http://www.epflour.com
Musim kemarau yang melanda 10 juta hektare lahan gandum Ukraina pada tahun 2005, juga telah membuat 650 ribu hektare lahan di negara eksportir gandum terbesar keenam di dunia itu rusak, dan produksi gandum di sana juga menurun. Hal yang sama terjadi di Australia yang mengalami penurunan produksi gandum sebesar 60% pada tahun 2006.
Kedua, kenaikan harga minyak dunia sejak 2007 memicu negara-negara mencari sumber energi alternatif biofuel, termasuk negara produsen gandum. Biji gandum dapat diolah menjadi etanol. Etanol merupakan salah satu unsur bahan baku biofuel. Negara-negara produsen biofuel ikut berburu biji gandum untuk diolah sebagai etanol. Akibatnya, selain mengurangi produksi gandum untuk terigu, petani produsen gandum juga mengalami kesulitan mendapatkan biji gandum pada musim tanam.
Ketiga, kenaikan biaya pengiriman ke dalam negeri akan mempengaruhi jumlah gandum yang dapat diimpor. Misalnya biaya pengiriman dari Australia biasanya sebesar US$ 17-US$ 18 dolar, tahun 2006 menjadi US$ 35. Produsen terigu tidak dapat serta merta menaikkan harga penjualannya di dalam negeri, karena konsumen terigu sangat sensitif terhadap harga. Sebagian besar konsumen ini adalah UMKM yang akan berhenti membeli terigu jika harga melonjak terlalu tajam. Akibatnya importir gandum akan mengurangi volume impornya atau menaikkan harga secara bertahap.
Keempat, kecenderungan melonjaknya nilai investasi (spekulasi) komoditas pangan di pasar komoditas global, dibandingkan dengan pasar keuangan global yang sedang diliputi ketidakpastian. Walaupun masih harus dicermati dalam rentang waktu yang agak panjang, namun beberapa kejadian akhir-akhir ini merupakan bukti-bukti awal dari pergeseran fokus perdagangan komoditas global. Faktor lesunya pasar keuangan global atau bursa saham di pasar-pasar besar dunia, serta melemahnya nilai tukar dollar AS terhadap mata uang lain di dunia, juga ikut mempengaruhi keputusan para investor yang mulai meminati pasar komoditi global. Dalam istilah pasar keuangan global, fenomena saat ini juga dikenal sebagai low inventory stocks, yang sekaligus menunjukkan terjadinya tingkat volatilitas pasar yang sangat tinggi. Akibatnya, tingkat harga pangan di pasar global menjadi ”tersandera” oleh keputusan segelintir investor (spekulan) skala besar, yang sebenarnya tidak mencerminkan prinsip-prinsip klasik perdagangan, yang berdasar pada perbedaan keuntungan komparatif dalam memproduksi komoditas pangan. Tidak berlebihan untuk dikatakan bahwa akan sangat berisiko tinggi apabila perdagangan pangan, hanya digantungkan pada pasar keuangan dan
pasar komoditas global, yang pasti menimbulkan dampak ketidakmerataan dan ketimpangan yang mengkhawatirkan.
2.5 Kebijakan pemerintah terkait
Berdasarkan peraturan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 407/MPP/KEP/11/1997, pengadaan dan penyaluran tepung terigu di dalam negeri dilaksanakan oleh BULOG baik hasil produksi di dalam negeri dan luar negeri.
3.
Permintaan
3.1 Konsumen Terigu
Pengguna tepung terigu terbesar di Indonesia adalah sektor usaha kecil dan menengah (UKM) sebanyak 30.263 unit dengan volume konsumsi sekitar 59,6 %, diikuti industri rumah tangga (10.000 unit) dengan volume 4 %, industri besar pengguna tepung terigu (200 unit) dengan volume 31,8%, dan rumah tangga dengan volume 4,6%.
Gambar 3-1 Pangsa Konsumsi Tepung Terigu berdasarkan End Product dan By User
3.2 Wilayah Dan Volume Konsumsi
Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (2009), wilayah konsumsi (permintaan) tepung terigu di Indonesia dapat diuraikan sebagai berikut :
1). Provinsi Sumatera Utara
Distributor tepung terigu di Sumatera Utara dipasok langsung dari produsen yang berkedudukan di Kota Administrasi Jakarta Utara. Secara khusus pedagang di Kota Medan mendapat pasokan dari Kota Administrasi Jakarta Utara, Singapura, dan Kota Medan. Selanjutnya pedagang di wilayah ini memasarkan kembali ke Kabupaten Deli Serdang dan Kota Medan. Untuk pedagang di Kabupaten Deli Serdang mendapat pasokan dari wilayah Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Lamongan, dan Kediri. Selanjutnya para pedagang memasarkan kembali hanya ke Kabupaten Deli Serdang. Kemudian untuk pedagang di Kabupaten Langkat mendapat pasokan dari Kota Medan, Kota Binjai, dan Kabupaten
Langkat. Selanjutnya pedagang di wilayah ini memasarkan kembali hanya di Kabupaten Langkat.
Sedangkan untuk pedagang di kabupaten Serdang Bedagai mendapat pasokan dari wilayah Kota Medan, Kabupaten Serdang Bedagai, dan Tebing Tinggi. Selanjutnya pedagang di wilayah ini menjual kembali hanya di wilayah Kabupaten Serdang Bedagai. Pedagang tepung terigu di Kota Binjai sebagian mendapat pasokan dari wilayah Kota Medan dan sebagian lagi mendapat pasokan dari Kota Binjai. Selanjutnya pedagang tersebut menjual kembali hanya di wilayah Kota Binjai. Dengan demikian distribusi perdagangan tepung terigu di Sumatera Utara dapat disajikan pada gambar berikut.
Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)
Gambar 3-2 Peta Distribusi Perdagangan Tepung Terigu di Provinsi Sumatera Utara
2). Provinsi Sumatera Selatan
Pedagang yang merupakan distributor tepung terigu di Kota Palembang dipasok langsung dari produsen yang berkedudukan di Kota Administrasi Jakarta Utara. Sedangkan pedagang lainnya dipasok dari wilayah Kota Administrasi Jakarta Pusat dan Kota Palembang. Selanjutnya pedagang di wilayah ini menjual kembali ke wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir, Muara Enim, Musi Banyuasin, Banyu Asin, dan Kota Palembang.
Pedagang tepung terigu di Kabupaten Ogan Komering Ilir dipasok dari wilayah Kota Pelembang dan sebagian pedagang aeceran dipasok dari wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir. Selanjutnya para pedagang menjual kembali komoditi tersebut hanya di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir.
Pedagang tepung terigu di wilayah Kabupaten Muara Enim dipasok dari wilayah Kabupaten Prabumulih dan sebagian dipasok dari wilayah sendiri. Selanjutnya para pedagang menjual kembali komoditi tersebut hanya di wilayah Kabupaten Muara Enim.
Pedagang tepung terigu di wilayah Kabupaten Banyuasin dipasok dari wilayah Kota Palembang dan sebagian dipasok dari wilayah Kota Administrasi Jakarta Utara. Selanjutnya para pedagang menjual kembali komoditi tersebut hanya di wilayah Kabupaten Banyuasin. Dengan demikian distribusi perdagangan tepung terigu di Sumatera Selatan disajikan pada gambar berikut.
Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)
Gambar 3-3 Peta Distribusi Perdagangan Tepung Terigu di Provinsi Sumatera Selatan
3). Provinsi Lampung
Distributor tepung terigu di Bandar Lampung mendapat pasokan dari produsen di Kota Administrasi Jakarta Utara dan beberapa pedagang yang lain mendapat pasokan dari Kota Palembang. Selanjutnya para pedagang di wilayah tersebut memasarkan kembali di kota tersebut dan ke Kabupaten Tanggamus, Lampung Selatan, dan Kota Bandar Lampung.
Kemudian pedagang tepung terigu di wilayah Kabupaten Tanggamus sebagian mendapat pasokan dari Kota Bandar Lampung dan sebagin mendapat pasokan dari wilayah Kabupaten Tanggamus. Selanjutnya para pedagang di wilayah tersebut memasarkan kembali hanya di wilayah Kabupaten Taggamus.
Sedangkan pedagang tepung terigu di wilayah Kabupaten Lampung Selatan sebagian mendapat pasokan dari Kota Bandar Lampung dan sebagin lagi mendapat pasokan dari
wilayah Kabupaten Lampung Selatan. Selanjutnya para pedagang di wilayah tersebut memasarkan kembali hanya di wilayah Kabupaten Selatan. Dengan demikian distribusi perdagangan tepung terigu di Lampung disajikan pada gambar berikut.
Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)
Gambar 3-4 Peta Distribusi Perdagangan Tepung Terigu di Provinsi Lampung
4). Provinsi DKI Jakarta
Pedagang tepung terigu yang merupakan distributor dipasok langsung dari produsen yang berkedudukan di Kota Administrasi Jakarta Utara. Kemudian untuk pedagang yang lain dipasok dari wilayah Kota Administrasi Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Kabupaten Bogor, Bekasi, Tangerang, Kota Bekasi, Depok, dan Tangerang. Selanjutnya para pedagang di wilayah ini menjual kembali ke wilayah Kota Administrasi Jakarta Selatan dan Kota Depok.
Kemudian pedagang tepung terigu di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur mendapat pasokan dari wilayah itu sendiri dan dari Kota Administrasi Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Kabupaten Bogor, Bekasi, dan Kota Depok. Selanjutnya para pedagang di wilayah ini menjual kembali utamanya di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur.
Untuk pedagang tepung terigu di wilayah Kota Administrasi Jakarta Pusat mendapat pasokan dari wilayah Kota Administrasi Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Kabupaten Bogor. Selanjutnya para pedagang di wilayah ini menjual kembali di wilayah Kota Administrasi Jakarta Pusat.
Untuk pedagang tepung terigu di wilayah Kota Administrasi Jakarta Barat mendapat pasokan dari wilayah Kota Administrasi Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Barat,
Jakarta Utara, dan Kota Tangerang. Selanjutnya para pedagang di wilayah ini menjual kembali di wilayah Kota Administrasi Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Kota Tangerang. Dan untuk pedagang tepung terigu di wilayah Kota Administrasi Jakarta Utara mendapat pasokan dari wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Utara, Kabupaten Bogor, Bekasi, Tangerang, dan Kota Bogor. Selanjutnya para pedagang di wilayah ini menjual kembali di wilayah Kota Administrasi Jakarta Utara. Dengan demikian distribusi perdagangan tepung terigu di DKI Jakarta disajikan pada gambar berikut.
Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)
Gambar 3-5 Peta Distribusi Perdagangan Tepung Terigu di Provinsi DKI Jakarta
5). Provinsi Jawa Barat
Pedagang tepung terigu di wilayah Kota Bandung mendapat pasokan dari wilayah Kota Administrasi Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Kabupaten Lampung Barat, Subang, Semarang, Pemalang, Kota Bandung dan Cimahi. Selanjutnya pedagang tersebut menjual kembali ke wilayah Kabupaten Bandung, Kota Bandung, dan Cimahi.
Pedagang tepung terigu di wilayah Kabupaten Bandung mendapat pasokan dari wilayah Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Bandung, Kota Bandung, dan Kota Administrasi Jakarta Pusat. Selanjutnya pedagang di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut ke wilayah Kabupaten Bandung.
Pedagang tepung terigu di wilayah Kabupaten Bandung Barat mendapat pasokan dari wilayah Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Kota Bandung, dan Cimahi. Selanjutnya pedagang di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut ke wilayah Kabupaten Bandung Barat. Karena wilayah ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Bandung dan hingga
laporang ini disusun belum tersedia petanya, maka dalam penyajiannya masih tergabung dengan wilayah Kabupaten Bandung.
Untuk pedagang tepung terigu di wilayah Kota Cimahi, mendapat pasokan dari wilayah Kota Bandung dan Kota Cimahi. Selanjutnya pedagang di wilayah tersebut selain menjual di Kota Cimahi juga menjual ke wilayah Kabupaten Bandung. Dengan demikian distribusi perdagangan tepung terigu di Jawa Barat disajikan pada Gambar 12 berikut.
Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)
Gambar 3-6 Peta Distribusi Perdagangan Tepung Terigu di Provinsi Jawa Barat
6). Provinsi Jawa Tengah
Pedagang tepung terigu di wilayah ini mendapat pasokan dari wilayah sendiri maupun dari wilayah lain. Pasokan dari wilayah lain meliputi dari Kota Administrasi Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Kabupaten Surakarta. Selanjutnya pedagang di wilayah ini menjual kembali ke wilayah Kabupaten Cilacap, Purbalingga, Semarang, Kendal, Demak, Surakarta, dan Kota Semarang. Kemudian untuk pedagang tepung terigu di wilayah Kabupaten Demak mendapat pasokan dari wilayah Kota Semarang, Kabupaten Demak, dan Semarang. Selanjutnya pedagang di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut ke wilayah Kabupaten Demak dan Bangli di Provinsi Bali.
Pedagang tepung terigu di wilayah Kabupaten Semarang mendapat pasokan dari wilayah Kota Semarang, Kabupaten Salatiga, dan Semarang. Selanjutnya pedagang di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut ke wilayah Kabupaten Semarang dan Kota Banjarmasin di Provinsi Kalimantan Selatan.
Pedagang tepung terigu di wilayah Kabupaten Kendal mendapat pasokan dari wilayah Kota Semarang dan Kabupaten Kendal. Selanjutnya pedagang di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut ke wilayah Kabupaten Kendal. Dengan demikian distribusi perdagangan tepung terigu di Jawa Tengah disajikan pada gambar berikut.
Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)
Gambar 3-7 Peta Distribusi Perdagangan Tepung Terigu di Provinsi Jawa Tengah
7). Provinsi Jawa Timur
Pedagang tepung terigu di wilayah ini mendapat pasokan dari wilayah sendiri maupun dari wilayah lain. Pasokan dari wilayah lain meliputi dari Kota Semarang, Kabupaten Sidoarjo, dan Kota Surabaya. Selanjutnya pedagang di wilayah ini menjual kembali ke wilayah Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, Sidoarjo, Gresik, dan Kota Surabaya.
Kemudian untuk pedagang tepung terigu di wilayah Kabupaten Sidoarjo mendapat pasokan dari wilayah Kota Surabaya, Pasuruan, Kabupaten Sidoarjo, dan Mojokerto. Selanjutnya pedagang di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut ke wilayah Kabupaten Sidoarjo.
Kemudian untuk pedagang tepung terigu di wilayah Kabupaten Gresik mendapat pasokan dari wilayah Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik. Selanjutnya pedagang di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut ke wilayah Kabupaten Gresik. Dengan demikian distribusi perdagangan tepung terigu di Jawa Timur disajikan pada gambar berikut.
Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)
Gambar 3-8 Peta Distribusi Perdagangan Tepung Terigu di Provinsi Jawa Timur
8). Provinsi Bali
Pedagang tepung terigu di wilayah Kota Denpasar mendapat pasokan dari wilayah Kota Surabaya dan sebagian dipasok dari wilayah sendiri. Selanjutnya pedagang di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut ke wilayah Kabupaten Tabanan, Badung, Gianyar, dan Kota Denpasar.
Kemudian untuk pedagang tepung terigu di wilayah Kabupaten Tabanan mendapat pasokan dari wilayah Kota Denpasar dan Kabupaten Tabanan. Selanjutnya pedagang di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut ke wilayah Kabupaten Tabanan.
Sedangkan untuk para pedagang tepung terigu di wilayah Kabupaten Badung mendapat pasokan dari wilayah Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Selanjutnya pedagang di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut ke wilayah Kabupaten Badung. Sedangkan untuk pedagang tepung terigu di wilayah Kabupaten Gianyar mendapat pasokan dari wilayah Kota Denpasar dan Kabupaten Jember. Selanjutnya pedagang di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut ke wilayah Kabupaten Gianyar. Dengan demikian distribusi perdagangan tepung terigu di Bali disajikan pada gambar berikut.
Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)
Gambar 3-9 Peta Distribusi Perdagangan Tepung Terigu di Provinsi Bali
9). Provinsi Nusa Tenggara Barat
Distributor tepung terigu di Kota Mataram mendapat pasokan dari produsen di Kota Surabaya. Untuk pedagang di bawah distributor selain mendapat pasokan dari Kota Mataran, juga mendapat pasokan dari Kabupaten Lombok Barat.
Selanjutnya pedagang di Kota Mataram memasarkan kembali komoditi tersebut ke wilayah Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Kota Mataram. Kemudian untuk pedagang tepung terigu di wilayah Kabupaten Lombok Barat mendapat pasokan dari wilayah Kota Mataram. Selanjutnya para pedagang tepung terigu di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut hanya ke wilayah Kabupaten Lombok Barat.
Dan untuk pedagang tepung terigu di wilayah Kabupaten Lombok Tengah juga mendapat pasokan dari wilayah Kota Mataram. Selanjutnya para pedagang tepung terigu di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut hanya ke wilayah Kabupaten Lombok Tengah.
Dan untuk pedagang tepung terigu di wilayah Kabupaten Lombok Tengah juga mendapat pasokan dari wilayah Kota Mataram. Selanjutnya para pedagang tepung terigu di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut hanya ke wilayah Kabupaten Lombok Tengah. Dengan demikian distribusi perdagangan tepung terigu di Nusa Tenggara Barat disajikan pada gambar berikut.
Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)
Gambar 3-10 Peta Distribusi Perdagangan Tepung Terigu di Provinsi Nusa Tenggara Barat
10). Provinsi Kalimantan Selatan
Pedagang tepung terigu di Kota Banjarmasin mendapat pasokan dari Kota Surabaya dan Banjarmasin. Selanjutnya para pedagang tepung terigu di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut ke wilayah Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Hulu Sungai Utara, Kota Banjarmasin, dan Banjar Baru. Kemudian untuk pedagang tepung terigu di wilayah Kabupaten Banjar mendapat pasokan dari wilayah Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar. Selanjutnya para pedagang tepung terigu di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut di wilayah Kabupaten Banjar dan Kota Banjar Baru.
Untuk pedagang tepung terigu di wilayah Kabupaten Barito Kuala mendapat pasokan dari wilayah Kota Banjarmasin dan Kabupaten Barito Kuala. Selanjutnya para pedagang tepung terigu di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut hanya ke wilayah Kabupaten Barito Kuala. Dan untuk pedagang tepung terigu di wilayah Kota Banjar Baru mendapat pasokan dari wilayah Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar. Selanjutnya para pedagang tepung terigu di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut hanya ke wilayah Kota Banjar Baru. Dengan demikian distribusi perdagangan tepung terigu di Provinsi Kalimantan Selatan disajikan pada gambar berikut.
Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)
Gambar 3-11 Peta Distribusi Perdagangan Tepung Terigu di Provinsi Kalimantan Selatan
11). Provinsi Kalimantan Timur
Pedagang tepung terigu di wilayah Kota Samarinda mendapat pasokan dari Kabupaten Semarang, Kota Surabaya, dan Samarinda. Selanjutnya pedagang tepung terigu di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut ke wilayah Kabupaten Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Kota Balikpapan, Samarinda, dan Bontang.
Sedangkan pedagang tepung terigu di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara mendapat pasokan dari Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai Kartanegara. Selanjutnya pedagang tepung terigu di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut ke wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.
Kemudian untuk pedagang tepung terigu di wilayah Kota Balikpapan mendapat pasokan dari Kota Surabaya, Samarinda, dan Balikpapan. Selanjutnya pedagang tepung terigu di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut hanya di wilayah Kota Balikpapan.
Dan untuk pedagang tepung terigu di wilayah Kota Tarakan mendapat pasokan dari Kota Surabaya, Makassar, dan Tarakan. Selanjutnya pedagang tepung terigu di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut ke wilayah Kabupaten Berau, Malinau, Bulungan, Nunukan, dan Kota Tarakan. Dengan demikian distribusi perdagangan tepung terigu di Provinsi Kalimantan Timurdisajikan pada gambar berikut.
Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)
Gambar 3-12 Peta Distribusi Perdagangan Tepung Terigu di Provinsi Kalimantan Timur
12). Provinsi Sulawesi Utara
Pedagang tepung terigu di Kota Manado dipasok oleh produsen di Kota Surabaya dan ada beberapa pedagang lainnya dipasok dari Kota Manado. Selanjutnya pedagang tepung terigu di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut ke wilayah Kabupaten Minahasa, Minahasa Utara, Kota Manado, dan Tomohon.
Sedangkan untuk pedagang tepung terigu di Kabupaten Minahasa dipasok dari wilayah Kota Manado dan ada beberapa pedagang lainnya yang dipasok dari Kabupaten Minahasa. Selanjutnya pedagang tepung terigu di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut ke wilayah Kabupaten Minahasa.
Kemudian untuk pedagang tepung terigu di Kabupaten Minahasa Utara dipasok dari wilayah Kota Surabaya dan ada beberapa pedagang lainnya yang dipasok dari Kota Manado. Selanjutnya pedagang tepung terigu di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut ke wilayah Kabupaten Minahasa Utara.
Dan untuk pedagang tepung terigu di Kota Tomohon sebagian dipasok dari wilayah Kota Manado dan sebagian dipasok dari Kota Tomohon itu sendiri. Selanjutnya pedagang tepung terigu di wilayah ini menjual kembali komoditi tersebut ke wilayah Kota Tomohon. Dengan demikian distribusi perdagangan tepung terigu di Provinsi Sulawesi Utara disajikan pada gambar berikut.
Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)
Gambar 3-13 Peta Distribusi Perdagangan Tepung Terigu di Provinsi Sulawesi Utara
13). Provinsi Sulawesi Selatan
Untuk wilayah Kota Makassar, pedagang tepung terigu di wilayah ini dipasok dari Kota Makassar dan Kota Administrasi Jakarta Utara. Selanjutnya pedagang tersebut menjual kembali komoditi tepung terigu ke wilayah Kabupaten Gowa, Maros, Bone, Kota Makassar, dan Palopo. Disamping itu juga menjual ke provinsi lain seperti ke Sulawesi Tenggara (Kabupaten Kolaka dan Kota Kendari), ke Nusa Tenggara Barat (Kabupaten Lombok Tengah), dan ke Maluku (Kota Ambon).
Untuk wilayah Kabupaten Gowa, pedagang tepung terigu di wilayah ini dipasok dari Kota Makassar dan Kabupaten Gowa itu sendiri. Selanjutnya pedagang tersebut menjual kembali komoditi tepung terigu ke wilayah Kabupaten Gowa, Janeponto, dan Takalar. Untuk wilayah Kabupaten Maros, pedagang tepung terigu di wilayah ini dipasok dari Kota Makassar. Selanjutnya pedagang tersebut menjual kembali komoditi tepung terigu ke wilayah Kabupaten Maros. Dengan demikian distribusi perdagangan tepung terigu di Provinsi Sulawesi Selatan disajikan pada gambar berikut.
Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)
Gambar 3-14 Peta Distribusi Perdagangan Tepung Terigu di Provinsi Sulawesi Selatan
14). Provinsi Maluku
Pedagang tepung terigu di Kabupaten Seram Bagian Barat mendapat pasokan dari wilayah Kota Ambon. Selanjutnya pedagang di wilayah ini menjual kembali komoditi tepung terigu tersebut ke wilayah Kabupaten Seram Bagian Barat. Gambaran ini bisa terjadi karena sampel yang mewakili merupakan pedagang eceran.
Untuk wilayah Kota Ambon, pedagang tepung terigu di wilayah ini mendapat pasokan dari wilayah Kota Ambon. Selanjutnya pedagang di wilayah ini menjual kembali komoditi tepung terigu tersebut ke wilayah Kabupaten Buru, Seram Bagian Barat, dan Kota Ambon. Gambaran ini bisa terjadi karena sampel yang mewakili merupakan agen dan pedagang eceran.
Untuk wilayah Kabupaten Maluku Tengah, perdagangan tepung terigu di wilayah ini tidak bisa digambarkan karena tidak ada informasi hingga laporan ini disusun. Dengan demikian distribusi perdagangan tepung terigu di Provinsi Maluku disajikan pada gambar berikut.
Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)
Gambar 3-15 Peta Distribusi Perdagangan Tepung Terigu di Provinsi Maluku
15). Provinsi Papua
Untuk mengetahui asal pasokan tepung terigu dan wilayah pemasarannya dilakukan survei di wilayah Kabupaten Merauke, Jayapura, Biak Numfor, Mimika, Keerom, dan Kota Jayapura. Dari hasil survei diperoleh informasi bahwa pedagang tepung terigu di Kota Jaya Pura (sebagai Ibu Kota Provinsi Papua) dipasok dari wilayah Kota Surabaya dan Kota Jaya Pura. Selanjutnya pedagang tepung terigu di wilayah ini menjual kembali ke Kabupaten Merauke, Mimika, dan Kota Jayapura.
Untuk wilayah Kabupaten Merauke, pedagang tepung terigu di wilayah ini mendapat pasokan dari wilayah Kota Surabaya, Kota Jayapura, dan Kabupaten Merauke. Selanjutnya pedagang di wilayah ini menjual kembali komoditi tepung terigu tersebut ke wilayah Kabupaten Merauke.
Dan untuk wilayah Kabupaten Mimika, pedagang tepung terigu di wilayah ini mendapat pasokan dari wilayah Kota Administrasi Jakarta Pusat Jakarta Utara, dan Kota Jayapura. Selanjutnya pedagang di wilayah ini menjual kembali komoditi tepung terigu tersebut ke wilayah Kabupaten Mimika. Dengan demikian distribusi perdagangan tepung terigu di Provinsi Papuadisajikan pada gambar berikut.
Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)
Gambar 3-15 Peta Distribusi Perdagangan Tepung Terigu di Provinsi Papua
3.3 Pangsa Pengeluaran Rumah Tangga
Menurut APTINDO (2010) bahwa pangsa konsumsi tepung terigu untuk rumah tangga hanya 5% atau 1,5 MT/bulan, sedangkan UKM sebesar 65% atau 159,154 MT/bulan dan Industri Besar 30% atau 79,537 MT/bulan (lihat Gambar 22, Tabel 6, Tabel 7) . Bila mengacu kepada konsumsi tepung terigu sebesar 17,1 kg/tahun/kapita dan jenis tepung terigu yang dikonsumsi rumah tangga adalah Tepung berprotein rendah (pastry flour) dengan harga rata-rata Rp. 5.300,- /kg., maka pengeluaran konsumsi tepung terigu = 17,1 kg/tahun/kapita x Rp. 5.300,- /kg. = Rp. 90.630,-/tahun/kapita. Jika rata-rata setiap rumah tangga terdiri dari 5 orang, maka pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi tepung terigu = 5 orang x Rp. 90.630,-/tahun/orang = Rp. 453.150/tahun.
3.4 Pola konsumsi
Tepung terigu telah berkembang menjadi salah satu bahan makan subtitusi bahan makanan pokok beras. Industri tepung terigu dipacu oleh beberapa faktor seperti:
1. Peningkatan kesadaran bahwa tepung adalah makanan yang sehat dan bergizi, 2. Peningkatan konsumsi makanan berbasis terigu,
3. Terigu sebagai alternatif diversifikasi pangan,
Tepung terigu tergolong produk bahan makanan yang umumnya digunakan sebagai bahan baku pada industri mie, biskuit, roti dan lainnya. Selain itu, tepung terigu juga digunakan
sebagai bahan baku untuk pembuatan makanan dan kue-kue oleh masyarakat baik untuk konsumsi sendiri maupun untuk diperdagangkan.
Menurut data Susenas 2002, bahwa perkembangan tingkat konsumsi tepung terigu beserta makanan olahan berbahan baku tepung terigu untuk wilayah perkotaan dan pedesaan disajikan pada tabel berikut ini.
Tabel 4-1 Perkembangan Tingkat Konsumsi Produk Gandum Per Kapita Per Tahun, 1993-2002
Berikut ini dapat dilihat profil industri pengguna terigu dimana ada 60% UKM, 32% Industri Modern dan 8% Rumah Tangga.
Daerah/Makanan 1993 1996 1999 2002 Kota Terigu (Kg) 1,1 1,0 0,9 1,4 Mi Instan (Kg) 0,16 2,61 2,05 2,82 MI Basah (Kg) - 0,3 0,2 0,3 Mi Bakso/Rebus/Goreng - 28,5 26,2 26,7 Mi Instan (Porsi) - 1,6 1,0 1,5 Roti Tawar (Kg) 1,6 - - -
Roti Tawar (Bks Kecil) - 6,2 2,9 3,7 Roti Manis (Potong) - 18,5 14,7 18,1
Desa Terigu (Kg) 0,6 0,8 0,6 1 Mi Instan (Kg) 0,07 1,18 1,49 1,5 MI Basah (Kg) - 0,2 0,1 0,2 Mi Bakso/Rebus/Goreng - 13,6 12,7 13,2 Mi Instan (Porsi) - 0,8 0,6 1 Roti Tawar (Kg) 0,1 - - -
Roti Tawar (Bks Kecil) - 1,9 1 1,2 Roti Manis (Potong) - 15,1 9,2 12,4 Sumber : Data Susenas 1993, 1996, 1999, 2002 (Diolah)
Tabel 4-2 Profil Industri Pengguna Terigu Nasional
Keterangan:
Industri modern : mesin & manajemen modern, berbadan hukum, konsumsi terigu 10 MT sampai 6.000 MT/bulan.
UKM : mesin & manajemen tradisional umumnya usaha keluarga dan tidak berbadan hukum (UKM Besar > 45 MT/Bulan; UKM Menengah 11 – 45 MT/Bulan; UKM Kecil 1,5 – 11 MT/Bulan).
Industri Rumah Tangga : < 1,5 MT/Bulan.
Dengan asumsi stok awal dan stok akhir sama, produksi ditambah impor dikurangi ekspor maka akan diketahui konsumsi tepung terigu dan pertumbuhannya. Dalam lima tahun terakhir (2005-2009), konsumsi tepung terigu nasional meningkat menjadi 4,6 juta ton pada 2009. Selama periode di atas, peningkatan konsumsi tertinggi dicapai pada 2006 yaitu sekitar 7,9% dari 3,6 juta ton menjadi 3,9 juta ton. Sedangkan peningkatan terendahnya terjadi pada 2008 yaitu hanya sekitar 1,4% dari 4,2 juta ton menjadi 4,3 juta ton.
Tabel 4-3 Perkiraan Konsumsi Tepung Terigu Indonesia, 2005 – 2009
MIE MT Jumlah MT Jumlah MT Jumlah MT Jumlah MT Jumlah MT/Bln MT/Bln MT Jumlah
Mie Instan 61.230 45 - - - 61.230 45 Mie Kering 7.981 23 184 4 156 14 399 255 739 273 50 8.770 296 Mie Basah 250 5 17.207 81 14.461 269 29.582 4.855 6.250 5.205 4.106 65.606 5.210 68.461 73 17.391 85 14.617 283 29.981 5.110 6.989 5.478 4.156 135.606 5.551 BISKUIT Cookies 4.255 32 3.306 63 1.480 110 19.845 10.145 24.633 10.318 1.652 30.540 10.350 Wafer 2.570 22 - - - 2.570 22 Marie 674 15 - - - 674 15 Snack 220 10 217 5 110 10 23 15 350 30 23 593 40 7.719 79 3.523 68 1.590 120 19.868 10.160 24.983 10.348 1.675 34.377 10.427 BAKERY
Roti Tawar & Manis 2.192 31 8.736 140 15.150 850 27.907 10.665 51.793 11.655 3.472 57.458 11.686 Cake & Pastry 166 17 - - - - 55 55 55 35 4 224 52 Lain-Lain - - 1.348 18 1.300 50 7.686 10.334 10.334 2.748 693 11.027 2.748 2.358 48 10.084 158 16.450 900 35.648 21.054 62.182 14.438 4.169 68.709 14.486 Total 79.537 200 31.000 311 32.657 1.303 85.497 28.150 149.154 29.763 10.000 11.500 250.191 30.463 31,80% 59,65% 4,00% 4,60% Sumber: APTINDO Industri Rumah Tangga Rumah Tangga Total Industri Besar Modern UKM
Besar Menengah Kecil Total UKM
Tahun Produksi Ekspor Impor Konsumsi Pertumbuhan (%)
2005 3.263.206 62.991 477.976 3.678.191 -2006 3.481.840 47.173 536.926 3.971.593 8,0 2007 3.645.486 14.712 580.887 4.211.661 6,0 2008 3.754.851 13.383 530.914 4.272.382 1,4 2009 3.923.819 18.019 646.711 4.552.511 6,6 Pertumbuhan rata-rata 4,4 Sumber : Mediadata
Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) bahwa volume konsumsi tepung terigu di Indonesia pada Tahun 2007 adalah 17.1 kg per kapita. Pengguna tepung terigu terbesar di Indonesia adalah sektor usaha kecil dan menengah (KM) sebanyak 30.263 unit usaha dengan volume konsumsi sekitar 64%, diikuti industri rumah tangga (10.000 unit) dengan volume 4%, industri besar pengguna tepung terigu (200 unit) dengan volume konsumsi 27,4%, dan rumah tangga dengan volume 4,6%.
Dengan melihat konsumsi per kapita, pada tahun 2009 mencapai 19,7 Kg/Tahun atau meningkat sekitar 5,5% dibandingkan tahun sebelumnya 18,7 Kg/Kapita/Tahun. Sementara itu pertumbuhan rata konsumsi per kapita tepung terigu selama periode 2005-2009 rata-rata nik sebesar 3,5% per tahun. Konsumsi tepung terigu per kapita di Indonesia, masih sangat kecil jika dibandingkan dengan negara lain seperti Singapura yang mencapai ± 71 Kg/Kapita/Tahun atau Malaysia ± 40 Kg/Kapita/Tahun.
Tabel 4-1 Konsumsi Per Kapita Tepung Terigu Indonesia, 2005 – 2009
Penyerap tepung terigu dibedakan menjadi dua kelompok yaitu kelompok industri dan kelompok usaha kecil dan menengah (UKM). Kelompok industri besar dan modern di bidang makanan meliputi industri mie instan, roti, biskuit dan snack serta mie kering. Sedangkan kelompok UKM adalah pengusaha dengan modal relatif kecil dan teknologi sederhana. Kelompok UKM ini menekuni bidang yang sama dengan kelompok industri besar kecuali mie instan. Selain itu, tepung terigu juga dimanfaatkan oelh industri plywood yang digunakan sebagai bahan perekat dan sektor industri rumah tangga (home industry) sebagai bahan baku kue atau penganan.
Kontribusi terbesar pemakaian tepung terigu adalah kelompok UKM. Pada 2009, kelompok UKM yang meliputi usaha mie basah & kering, biskuit & snack dan roti peranannya diperkirakan mencapai sekitar 58,3% dari total konsumsi tepung terigu. Berikutnya kelompok industri besar dan modern yang meliputi industri mie instan, mie kering, mie basah, biskuit &
Tahun Konsumsi (Ton) Jumlah Penduduk (000 jiwa) Konsumsi Per Kapita (Kg) Pertumbuhan (%) 2005 3.678.191 218.868 16,8 -2006 3.971.593 222.747 17,8 6,3 2007 4.211.661 225.642 18,6 5,1 2008 4.272.382 228.532 18,7 0,5 2009 4.552.511 231.265 19,7 5,5 Pertumbuhan rata-rata 3,5 Sumber : Mediadata