• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Prinsip Piercing The Corporate Veil Dalam Kasus Perdata Antara. PT. Bank CIMB Niaga Tbk VS PT. Adi Partner Perkasa, Dkk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Penerapan Prinsip Piercing The Corporate Veil Dalam Kasus Perdata Antara. PT. Bank CIMB Niaga Tbk VS PT. Adi Partner Perkasa, Dkk"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

PT. Bank CIMB Niaga Tbk VS PT. Adi Partner Perkasa, Dkk

(Studi Putusan Nomor: 313/Pdt.G/2011/PN.Jkt.Sel)

SKRIPSI

Diajukan untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

Oleh:

RUTH SECYLIA SIALLAGAN NIM: 140200529

DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(2)

2

(3)

Abstrak

*** Ruth Secylia Siallagan

**Dr. Detania Sukarja SH., L.LM

* Prof Bismar Nasution SH.,MH

Perseroan Terbatas (Perseroan) selaku organisasi usaha berbadan hukum memiliki kedudukan yang setara dengan manusia di hadapan hukum. Hal ini dilandasi dengan kebolehannya untuk melakukan perbuatan hukum dan dapat juga ditutut pertanggungjawabannya atas tindakan yang dilakukan atas nama suatu perseroan. RUPS, direksi dan dewan komisaris selaku organ Perseroan memiliki andil yang besar dalam pengambilan kebijakan (policy) oleh perseroan. Ketiganya berperan aktif dalam menentukan tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh perserodan. Kendati demikian, ketiganya memiliki kewajiban untuk bertanggungjawab atas kerugian yang diperoleh atas tindakan hukum yang dilakukan oleh perseroan. Pertanggungjawaban tersebut bersifat terbatas (limited liability). Namun, ada kalanya pertanggungjawaban tersebut dapat dituntutkan secara penuh kepada organ perseroan yang melakukan perbuatan yang menyalahi tugas dan tanggungjawabnya atau mempengaruhi kebijakan perseroan yang berujung pada terjadinya pelanggaran hukum atau kerugian terhadap perseroan.

Penuntutan pertanggungjawaban ini diakomodir dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dengan berdasar pada prinsip pierching the corporate veil yang merupakan prinsip yang menegasikan pertanggungjawaban terbatas yang dimiliki oleh organ perseroan.

Penerapan prinsip pierching the corporate veil telah ada dalam tatanan praktik hukum di Indonesia, penerapan prinsip ini memberikan titik cerah akan transparansi dalam pengelolaan dan pengambilan kebijakan suatu perseroan.

Sehingga perseroan melalui organnya juga turut berhati-hati dan taat pada ketentuan peraturan perundang-undangan dalam pengambilan kebijakan perseroan karena telah ada hukum yang mengikatnya. Penulis melaksanakan penelitian terhadap penerapan prinsip ini dalam praktik penegakan hukum di Indonesia.

Metode yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat normatif yaitu penelitian dengan cara mengumpulkan data-data sekunder, yang merupakan bahan hukum primer, sekunder dan tersier melalui peraturan perundang-undangan, buku-buku, dan media elektonik/internet.

Kata Kunci: Dewan Komisaris, Piercing The Corporate Veil

*Dosen Pembimbing I

**Dosen Pembimbing II

***Mahasiswa

(4)

4

KATA PENGANTAR

Terpujilah Tuhan yang Maha Esa yang memberikan rahmat dan berkatNya kepada setiap manusia yang beriman kepadaNya. Tuhan yang Maha Esa yang memberikan penulis kekuatan untuk menjalankan perkuliahan di fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sampai sekarang Tuhan masih memberikan saya kekuatan untuk menulis skripsi ini.

Pada saat ini saya menulis skrispsi yang berjudul “Penerapan Prinsip Piercing The Corporate Veil Dalam Kasus Perdata Antara PT. CIMB Niaga

VS PT. Adi Partner Perkasa, Dkk (Studi Putusan Nomor:

313/Pdt.G/2011/PN.Jkt.Sel)” adalah guna memenuhi persyaratan mencapai gelar Sarjana Hukum Universitas Sumatera Utara.

Dalam hal ini Penulis menyampaikan banyak terima kasih sebesar- besarnya kepada orang-orang yang memberikan dukungan secara materi dan moral serta mendukung penulis dalam doa, adapun yang penulis ucapkan terima kasih, yaitu:

1 Prof. Dr.Budiman Ginting, S.H.,M.Hum, Selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

2 Prof. Dr.O.K. Saidin, S.H., M.Hum, selaku wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera;

3 Puspa Melati Hasibuan, S.H., M.Hum, selaku wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera;

4 Dr. Jelly leviza, S.H., M.Hum, selaku wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera;

(5)

5 Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H.,M.H selaku Ketua Departemen Hukum Ekonomi Fakultas Hukum dan sebagai Dosen Pembimbing I, yang telah banyak memberikan masukan selama penulisan skripsi penulis;

6 Tri Murti Lubis, S.H., M.Hum Selaku Seketaris Departemen Hukum Ekonomi Fakultas, yang telah banyak membantu penulis dalam penentuan judul skripsi;

7 Dr. Detania Sukarja, S.H., L.L.M Selaku Dosen Pembimbing II, yang telah memberikan saya ilmu hukum ekonomi dan membimbing saya untuk terus menulis skripsi, Penulis senang mengenal dosen yang cantik ini;

8 Seluruh Dosen dan Staff Pengajar di Fakultas Hukum Universitas Utara, terimakasih untuk ilmu dan didikan yang telah penulis terima;

9 Penulis secara pribadi yang berterima kasih kepada Bapak yang terkasih Posman Siallagan dan Ibu yang terkasih Juniar Sianipar terimakasi penulis ucapkan Boru mu sudah jadi sarjana, penulis sangat mencintai kalian berdua.

10 Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada saudara kandung penulis yaitu Poltak Siallagan dan eda Fransiska Maria Manurung yang membantu dan memberikan motivasi yang lebih dan selalu berdoa untuk penulis.

11 Kelompok kecil penulis Gameliel (kakak ku cantik Saidibot Panjaitan, Kakak ku yang manis kak Evi Lestari Situmorang, dan para laki-laki yang melindungiku selama ini Kristian hutapea, Elia Fransisco Silitonga, Yohannes Unggul Sagala, Sonny Anugrah Siregar) yang selama penulis

(6)

6

kuliah juga selalu memberikan penulis hal-hal baru untuk melakukan yang terbaik untuk penulis tanpa kalian hidupku tidak akan berubah;

12 Sahabat terbaik penulis Nadya Primaasha Brahmana, Chessa Stefany, Elyas Franklin H.S, Rigta Ginting dan Mulana Bona Manik yang tergabung dalam Squad Semangat Belajar. Yang selalu memberikan sukacita kepada penulis melalui setiap candaan dan doa yang selalu dipanjatkan.

13 Sahabat terbaik penulis sepanjang masa “Forever” Agre, Vani, Ade, dan Lidya yang selaalu membagikan setiap cerita mereka dengan penulis yang menjadi penyemangat dalam menyelesaikan tugas akhir.

14 Adik-adik kelompok kecil ku yang selalu memberikan aku cobaan untuk mengelompokkan mereka Abigail ada Clara si rempong, Tasya yang suka curhat, Reyvani yang selalu ramah menegur, dan Rida Yanti sosok yang misterius dan juga kelompok Gideon, Febri yang hobi belajar, Chris yang suka nyanyi lagu batak, Awil yang paling pendiam di dalam kelompok, dan adik ku Pundu yang sudah jadi Pns. Penulis mengucapkan banyak terimakasih.

15 Sahabatku terkasih, yang selalu mendukung, mendokan penulis dalam menjalankan perkuliahan di Fakultas Hukum, saya sudah selesai, dan tinggal bagianmu doa ku menyertaimu.

16 UKM KMK UP HUKUM yang tempat penulis bertumbuh dan tempat untuk mengisi diri untuk menjadi yang terbaik dalam mengenal Kristus dan bertumbuh menjadi lebih baik lagi dalam menjalani keseharian.

(7)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... i

Abstrak ... iii

Daftar Isi ... v

BAB I PENDAHULUAN ... 9

A. Latar Belakang... 9

B. Rumusan Masalah ... 14

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 14

D. Keaslian Penulisan... 15

E. Tinjauan Kepustakaan ... 16

F. Metode Penelitian ... 20

G. Sistematika Penulisan ... 24

BAB II PERKEMBANGAN HUKUM PERSEROAN TERBATAS DI AAAAA INDONESIA ... 26

A. Sejarah dan Perkembangan Hukum Perseroan Terbatas di Indonesia ... 26

B. Pengertian Serta Maksud dan Tujuan Perseroan Terbatas ... 30

C. Organ-Organ Perseroan Terbatas. ... 36

D. Klasifikasi Perseroan Terbatas ... 45

BAB III PENGATURAN HUKUM TENTANG PRINSIP PIERCING THE GGHG CORPORATE VEIL DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 40 SSSSSS TAHUN 2007 ... 48

A. Sejarah Prinsip Piercing The Corporate Veil ... 48

B. Pengaturan Hukum Prinsip Piercing The Corporate Veil dalam Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas ... 52

C. Objek Penerapan Prinsip Piercing The Corporate Veil ... 56

BAB IV PENERAPAN PRINSIP PIERCING THE CORPORATE VEIL SAADD DALAM PUTUSAN NOMOR: 313/Pdt.G/2011/PN.Jkt.Sel ... 65

A. Perbuatan Melawan Hukum (onrechtmatige daad) ... 65

(8)

8

B. Kasus Posisi ... 67

C. Analisis Penerapan Piercing The Corporat Veil Pada Kasus Perdata Antara Bank Cimb Niaga VS PT. Adi Partner Perkasa, Dkk. ... 71

BAB V PENUTUP ... 81

A. Kesimpulan ... 81

B. Saran ... 83

DAFTAR PUSTAKA ... 86

(9)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kata “perseroan” dalam pengertian umum adalah perusahaan atau organisasi usaha1. Perseroan merupakan suatu tempat untuk melakukan kegiatan usaha yang bertujuan untuk mencari laba atau keuntungan, sehingga bentuk perseroan lebih mudah untuk mengumpulkan modal usaha dibandingkan dengan badan usaha lainnya. Di Indonesia dikenal terminologi Perseroan Terbatas (selanjutnya disebut “PT”). PT adalah salah satu bentuk organisasi usaha atau badan usaha yang ada dan dikenal dalam sistem hukum dagang Indonesia.

Perseroan sebagai badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal besar yang seluruhnya terbagi dalam saham, dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan, serta peraturan pelaksanaannya. Ketentuan ini menambahkan bahwa perseroan adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal. Selain sebagai badan hukum, PT juga merupakan tempat para pihak melakukan kerja sama, yaitu melakukan hubungan kontraktual. Kerjasama ini menciptakan badan hukum yang sengaja diciptakan, yaitu PT sebagai suatu

“artificial person”.2

Secara khusus badan usaha PT diatur dalam Pasal 1 angka 1 Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya disebut

“UU PT Tahun 2007”) memberikan defenisi PT adalah badan hukum yang

1 I.G Rai Widjaya, Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas, (Bekasi: Kesaint Blanc, 2006), hlm. 1.

2 Jamin Ginting, Hukum Perseroan Terbatas (UU No. 40 Tahun 2007), (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2007), hlm. 13.

(10)

10

merupakan persekutuan modal dan didirikan berdasarkan perjanjian. Kegiatan PT harus sesuai dengan maksud dan tujuannya serta tidak bertentangan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, ketertiban umum dan atau kesusilaan3.

Dalam melaksanakan kepengurusan, PT mempunyai tiga organ. Ketiga organ tersebut tercantum dalam Pasal 1 ayat 2 UU PT Tahun 2007 yang terdiri atas Rapat Umum Pemegang Saham (selanjutnya disebut “RUPS”), Komisaris, dan Direksi. Dalam rangka mencapai kesuksesan pada sebuah PT ketiga organ tersebut selayaknya saling bahu membahu dalam melaksankan tanggung jawab masing-masing, baik di skala pembuatan kebijakan, pengawasan maupun pelaksanaan.4 Dalam UU PT Dewan Komisaris merupakan salah satu organ yang harus ada di dalam PT. Dewan Komisaris pada umumnya bertugas untuk melakukan pengawasan secara umum dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta memberi nasihat kepada direksi. Sama halnya seperti organ PT lain, anggota direksi yang diangkat oleh RUPS memiliki tanggung jawab penuh untuk kepentingan dan tujuan PT serta mewakili PT di dalam dan di luar pengadilan sesuai dengan ketetapan dalam anggaran dasar. Meskipun memiliki tanggungjawab penuh dalam hal kepengurusan PT, seorang direksi tetaplah harus dalam batasan-batasan yang telah di tentukan undang-undang serta anggaran dasar PT. Dimana dalam menjalankan tugas dan wewenangnya direksi harus dengan dua prinsip dasar, yaitu menjaga kepercayaan yang diberikan PT kepadanya dan kemampuan yang dimiliki serta kehati-hatian atas tindakan direksi.

3 Ibid.,hlm. 3.

4 Orinton Purba, Petunjuk Praktis Bagi RUPS, Komisaris dan Direksi Perseroan Terbatas Agar Terhindar Dari Jerat Hukum, (Jakarta: Raih Asa Sukses, 2012), hlm. 26.

(11)

Seorang direksi diwajibkan untuk menjaga kepercayaan yang diberikan PT kepadanya atau sering dikenal dengan prinsip fiduciary duty, dimana prinsip inilah yang menjadi dasar dalam pelaksaan manejemen secara keseluruhan. Di Indonesia prinsip ini juga dibebankan kepada dewan komisaris. Karena sama halnya dengan direksi, komisaris juga memiliki peran yang penting dalam menjalankan sebuah pengawasan pada PT. Dalam mengelola PT, direksi dituntut untuk mengambil keputusan bisnis secara tepat dan cepat. Dengan adanya prinsip fiduciary duty, direksi diwajibkan dengan itikad baik menjalankan tugas dan fungsinya yaitu dalam fungsi manajemen dan fungsi representasi5.

Dalam UU PT dijelaskan bahwa modal adalah sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan pengesahan sebagai badan hukum. Modal dasar PT terdiri atas seluruh nominal saham yang ditempatkan dan disetor penuh dan dibuktikan dengan pembuktian penyetoran yang sah. Persyaratan kepemilikan saham dapat ditetapkan dalam anggaran dasar dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Adapun hak-hak yang dimiliki oleh para pemegang saham antara lain antara lain:

1. Menghadiri dan mengeluarkan suara dalam RUPS;

2. Menerima pembayaran deviden dan sisa kekayaan hasil likuidasi;

3. Menjalankan hak lain berdasarkan Undang-Undang Perseroan Terbatas.6

Berdasarkan status badan hukum yang dimiliki PT maka tanggungjawab yang dimiliki bagi para pemegang saham, direksi dan komisaris adalah terbatas.

5 Freddy Harris dan Teddy Anggoro, Hukum Perseroan Terbatas Kewajiban Pemberitahuan oleh Direksi, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2013), hlm. 38.

6 Indonesia (PT), Undang-Undang Tentang Perseroan Terbatas, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lebaran Negara Republik Indonesia Nomor 4756, Pasal 52 ayat 1.

(12)

12

Prinsip tanggung jawab terbatas pemegang saham diatur dalam pasal 3 ayat 1 UU PT Tahun 2007 yang menyatakan bahwa pemegang saham PT tidak bertanggung jawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama PT terbatas dan tidak bertanggungjawab atas kerugian PT melebihi saham yang dimilikinya7.

Ketentuan Pasal 3 ayat 1 UU PT Tahun 2007 tersebut sejalan dengan doctrine of separate legal personality of a company. Dengan doktrin tersebut ada penegasan bahwa, antara PT dan pemegang saham ada satu tabir pemisah. Disini dapat dipahami tentang prinsip tanggung jawab terbatas pemegang saham dalam PT.8

Pertanggungjawaban terbatas tersebut tidaklah mutlak, karena tidak ditutup kemungkinan pemegang saham, direksi ataupun komisaris melakukan kesalahan atau bahkan menimbulkan kerugian bagi sebuah PT. Oleh karena itu, terdapat pengecualian bahwa di dalam UU PT menganut prinsip piercing the corporate veil, yang dalam Bahasa Indonesia disebut sebagai menyingkap tabir atau cadar perseroan.9 Bagi pemegang saham yang memiliki tanggung jawab terbatas sebagaimana disebutkan Pasal 3 ayat 1 UU PT Tahun 2007 menjadi tidak berlaku dalam hal yang dinyatakan pada Pasal 3 ayat 2. Prinsip piercing the corporate veil ini pada hakikatnya merupakan sebuah doktrin yang memindahkan tanggung jawab dari perusahaan kepada pemegang saham, direksi atau komisaris, dan biasanya doktrin ini diterapkan jika ada klaim atau tuntut dari pihak ketiga

7 Ibid, Pasal 3 ayat 1

8 Bismar Nasution (I), Tanggung Jawab Pemegang Saham Bank dan Doktrin Piercing The Corporate Veil, disampaikan pada Focus Group Discussion “Pembahasan Isu Mengenai Bank Pembangunan dan Tanggung Jawab Pemegang Saham Pengendali Bank Dalam Kelompok Usaha, yang dilaksanakan Otoritas Jasa Keuangan tanggal 7 Desember 2015 di Makasar.

9 Chatamarrasjid, Menyingkap Tabir Perseroan (Piercing The Corporate Veil), ( Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000), hlm. 3.

(13)

kepada PT.10 Dengan demikian apabila dapat dibuktikan bahwa pemegang saham, direksi atau komisaris baik langsung ataupun tidak langsung dengan itikad buruk memanfaatkan PT untuk kepentingan pribadinya, maka setiap kesalahan, kelalaian dan kerugian yang timbul harus dipertanggungjawabkan secara pribadi.

Penerapan prinsip ini dalam tatanan hukum di Indonesia tidak dapat dipungkiri telah banyak terjadi. Salah satu contoh kasus yang menggunakan doktrin penyingkapan tirai perusahaan (piercing the corporate veil) ini adalah kasus perjanjian kredit antara PT Djaya Tunggal dengan Bank Perkembangan Asia.11 Di samping itu, pada tahun 2011 kembali muncul penerapan terhadap prinsip piercing the corporate veil yakni setelah jatuhnya Putusan Perkara Nomor:

313/Pdt.G/2011/PN.Jkt.Sel) Antara PT. Cimb Niaga Tbk VS PT. Adi Partner Perkasa. Hal ini melegitimasi akan perlunya pengawasan yang lebih terhadap Direksi dalam kepengurusannya dalam PT, demi tercapainya tata kelola perusahaan yang baik, transparan dan menguntungkan. Berdasarkan latar belakang diatas, maka perlu dilakukan penulisan skripsi dengan judul

“Penerapan Prinsip Piercing The Corporate Veil dalam Kasus Perdata Antara PT. CIMB Niaga Tbk VS PT. Adi Partner Perkasa (Studi Putusan Nomor: 313/Pdt.G/2011/PN.Jkt.Sel)”

10 Munir Fuady (I), Perseroan Terbatas Paradigma Baru, ( Jakarta: Citra Aditya Bakti, 2003), hlm. 87.

11 “Penerapan Doktrin Piercing The Corporate Veil pada Perseroan Terbatas (Studi Kasus PT. Djaya Tunggal dan PT. Bank Perkembangan Asia)”, diakses dari https://www.researchgate.net/publication/42323290_Penerapan_Doktrin_Piercing_The_Corporate _Veil_pada_Perseroan_Terbatas_Studi_Kasus_PT_Djaya_Tunggal_dan_PT_Bank_Perkembangan _Asia, pada tanggal 6 Maret 2017, pukul 18.37.

(14)

14

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah penulis paparkan sebelumnya, penulis memilih beberapa hal yang menjadi permasalahan dalam penulisan skripsi ini. Adapun permasalahan yang akan dibahas, antara lain:

1. Bagaimanakah pengaturan hukum perseroan terbatas di Indonesia?

2. Bagaimanakah pengaturan hukum terhadap prinsip piercing the corporate veil dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007?

3. Bagaimanakah analisis hukum penerapan prinsip piercing the corporate veil dalam putusan nomor: 313/Pdt.G/2011/PN.Jkt.Sel?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Adapun yang menjadi tujuan dari akan dicapai dari penulisan skripsi ini, adalah:

1. Untuk mengetahui pengaturan hukum perseroan terbatas di Indonesia.

2. Untuk mengetahui pengaturan hukum terhadap prinsip piercing the corporate veil dalam Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007.

3. Untuk mengetahui penerapan prinsip piercing the corporate veil di Indonesia.

Selain tujuan- tujuan tersebut diatas, penulisan skripsi ini juga diharapkan bermanfaat untuk berbagai hal diantaranya :

1. Secara Teoritis

a. Hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran secara teoritis dalam pengembangan ilmu hukum khususnya dalam bidang hukum perusahaan.

(15)

b. Pembahasan terkait masalah-masalah dalam penulisan ini diharapkan dapat memperkaya wawasan pemikiran akademisi dalam bidang hukum perusahaan khususnya pemahaman yang lebih mendalam mengenai bagaimana penerapan prinsip piercing the corporate veil jika terjadi suatu pelanggaran yang dilakukan oleh pengurus perusahaan berdasarkan Undang-Undang Perseroan Terbatas.

2. Secara Praktis

Pembahasan ini diharapkan dapat :

a. Memberi pengetahuan bagi pembaca terutama bagi para pihak yang terlibat dalam suatu perseroan terbatas bahwa sifat pertanggungjawaban terbatas pemegang saham tidaklah mutlak berdasarkan pada Undang-Undang Perseroan Terbatas.

b. Meberikan informasi bagi masyarakat terutama kalangan dunia usaha seperti pemegang saham yang merupakan investor pada perusahaan bahwa pertanggungjawaban terbatas yang diatur dalam UU PT tidaklah mutlak.

D. Keaslian Penulisan

Penulisan skripsi yang mengangkat judul “Penerapan Prinsip Piercing The Corporate Veil dalam Kasus Perdata Antara PT. CIMB Niaga Tbk VS

PT. Adi Partner Perkasa (Studi Putusan Nomor:

313/Pdt.G/2011/PN.Jkt.Sel)” ini belum pernah dilakukan sebelumnya. Hal ini dapat dibuktikan karena, sepanjang penelusuran yang dilakukan pada arsip perpustakaan Universitas Cabang Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

(16)

16

maupun kearsipan di Departemen Hukum Ekonomi, penulis tidak menemukan judul, permasalahan maupun tujuan yang sama dengan tulisan ini. Maka, dapat dikatakan bahwa penulisan ini merupakan hasil pemikiran dari penulisan sendiri serta bantuan dari berbagai refrensi seperti buku, jurnal hukum, putusan pengadilan maupun internet. Skripsi ini bukan merupakan hasil jiplakan atas karya orang lain ataupun sudah pernah diangkat sebelumnya oleh orang lain.

E. Tinjauan Kepustakaan 1. Dewan Komisaris

Organ lain yang kedudukannya tidak kalah penting dalam sistem kepengurusan PT, yakni komisaris (beberapa pihak menyebutkan dewan komisaris). Setelah rapat umum pemegang saham (RUPS), keberadaan komisaris bisa diibaratkan sebagai tangan kedua yang ikut bertanggung jawab dalam penyelenggaraan sebuah PT.12

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (selanjutnya disebut dengan

“KBBI”), kata Dewan Komisaris ialah badan yang ditunjuk oleh para pemegang saham untuk menentukan dan mengawasi pengurusan perusahaan.13 Secara resmi apa yang dimaksud dengan Komisaris dapat kita lihat pada Pasal 111 UU PT Tahun 2007 yang dimaksud dengan Komisaris adalah Orang yang diberikan kepercayaan oleh para pemegang saham serta diangkat melalui RUPS.14

Dewan Komisaris adalah terjemahan dari bahasa Belanda, raad van commissarissen, oleh sebab itu konsep dewan komisaris masih banyak

12 Orinton Purba, op.cit, hlm.60.

13 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, https://kbbi.kemendikbud.go.id/.

14 Indonesia (PT), op.cit, Pasal 111.

(17)

persamaannya dengan raad van commissarissen di Belanda. Karena pada masa lalu perusahaan pribumi di Indonesia, pada umumnya tidak sebesar perusahaan di negeri Belanda maka terdapat variasi bentuk raad van commissarissen. Ada anggota komisaris yang ditunjuk, ada yang ditetapkan oleh suatu kelompok dan ada pula yang mewakili pemegang saham tertentu.15

Komisaris diangkat untuk jangka waktu tertentu dengan kemungkinan diangkat kembali. Tata cara pencalonan, pengangkatan, dan pemberhentian komisaris diatur dalam anggaran dasar PT. Yang dapat diangkat menjadi komisaris adalah orang perseorangan yang mampu melaksanakan perbuatan hukum dan tidak pernah dinyatakan pailit atau menjadi anggota direksi atau komisaris yang dinyatakan bersalah menyebabkan suatu PT dinyatakan pailit, atau orang yang pernah dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan negara dalam waktu lima tahun sebelum pengangkatan.16

Komisaris bertugas mengawasi kebijaksanaan direksi dalam menjalankan PT, serta memberikan nasihat kepada direksi. Komisaris wajib dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas untuk kepentingan dan usaha persroan. Atas nama PT, pemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 bagian dari jumlah seluruh saham dengan suara yang sah dapat mengajukan gugatan ke pengadilan negeri terhadap komisaris yang karena kesalahannya menimbulkan kerugian pada PT.17

Perseroan Terbatas sebagai badan hukum dalam menjalankan tugas pengawasan sehari-hari dilakukan oleh komisaris. Berdasarkan anggaran dasar

15 Moenaf H. Regar, Dewan Komisaris Peranannya Sebagai Organ Perseroan, (Jakarta:

Bumi Aksara, 2000), hlm. 34.

16 Frans Satyo Wicaksono, Tanggung Jawab Pemegang Saham, Direksi, & Komisaris Perseroan Terbatas (PT), (Jakarta Selatan:Visi Media, 2009), hlm. 29.

17 Ibid, hlm. 30.

(18)

18

dan keputusan RUPS, dewan komisaris yang diberikan kekuasaan untuk mengawasi dan memberikan nasihat kepada direksi serta melakukan tindakan kepengurusan PT dalam keadaan tertentu untuk jangka waktu tertentu.

2. Piercing The Corporate Veil

Ciri utama PT yaitu merupakan subjek hukum yang berstatus badan hukum, yang pada gilirannya membawa tanggung jawab terbatas (limited lialbility) bagi para pemegang saham, anggota Direksi, dan Komisaris.18 Prinsip tanggung jawab terbatas pemegang saham tetap dianut dalam Pasal 3 ayat (1) UU PT Tahun 2007 yang berbunyi:

“Pemegang saham Perseroan tidak bertanggung jawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama Perseroan dan tidak bertanggung jawab atas kerugian Perseroan melebihi saham yang dimilikinya.”

Menurut Misahardi Wilamarta yang dikutip dalam buku Hasbullah F.

Sjawie, adanya pemisahan antara PT dan pemegang sahamnya disebut sebagai tabir dari pembentukan PT (veil of incorporation) karena jika PT telah berbadan hukum, pengadilan tidak akan melakukan piercing the corporate veil atau menyingkap tabirnya dan tidak akan meminta pertanggungjawaban pemegang sahamnya. Prinsip separate entity yang dimiliki PT tidak bersifat mutlak karena meskipun PT kedudukannya terpisah dari pemegang sahamnya, dalam hal-hal tertentu pengadilan dapat meniadakan sifat kemandiriannya, meniadakan cadar yang memisahkan PT dengan pemegang sahamnya dan menetapkan pemegang saham secara pribadi harus bertanggung jawab atas kewajiban PT.19

Dengan adanya tanggung jawab terbatas yang dimiliki oleh pemegang saham, maka ada tiga tujuan adanya tanggung jawab terbatas tersebut. Pertama,

18 Chatamarrasjid, op.cit, hlm. 2.

19 Hasbullah F. Sjawie, Direksi Perseroan Terbatas serta Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2013), hlm. 140.

(19)

tanggung jawab terbatas bertujuan untuk melindungi pemegang saham dari kerugian yang lebih besar diluar apa yang telah mereka investasikan. Kedua, pemegang saham mampu mengalihkan resiko kegagalan bisnis yang potensial kepada kreditor perusahaan. Ketiga, untuk mendororng investasi dan memfasilitasi akumulasi modal perusahaan. Disamping itu, prinsip tanggung jawab terbatas pada umumnya mempunyai dua keuntungan. Pertama, tanggung jawab terbatas memberikan akses bagi setiap orang untuk meminimalisasi risiko dalam kegiatan usahanya, sehingga orang tersebut dapat menghasilkan keuntungan yang diharapkan.20

Namun tidak selamanya tanggung jawab terbatas (limited liability) yang dimiliki oleh pemegang saham berlaku mutlak, karena ada saatnya dalam keadaan tertentu pemegang saham dapat dimintai pertanggungjawabannya secara pribadi.

Bahwa UU PT menganut prinsip piercing the corporate veil yang terlihat dalam Pasal 3 ayat 2 UU PT Tahun 2007, yang mengatakan tanggung jawab terbatas pemegang saham hapus atau tidak berlaku apabila terjadi hal-hal tertentu, yaitu:

a. Persyaratan Perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi;

b. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung dengan itikad buruk memanfaatkan Perseroan untuk kepentingan pribadi;

c. Pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan hukum yang dilakukan Perseroan;

d. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung secara melawan hukum menggunakan kekayaan Perseroan, yang mengakibatkan kekayaan Perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi utang Perseroan.21

20 Bismar Nasution (I), op.cit

21 Indonesia (PT), op.cit, Pasal 3ayat 2.

(20)

20

F. Metode Penelitian

Penelitian (research) berarti pencarian kembali. Pencarian yang dimaksud adalah pencarian terhadap pengetahuan yang benar (ilmiah), karena hasil dari pencarian ini akan dipakai untuk menjawab permasalahan tertentu. Dengan kata lain, penelitian (research) merupakan upaya pencarian yang amat bernilai edukatif; ia melatih kita untuk selalu sadar bahwa di dunia ini banyak yang tidak kita ketahui, dan apa yang kita coba cari, temukan, dan ketahui itu tetaplah bukan kebenarkan mutlak. Oleh sebab itu, masih perlu diuji kembali.22 Fungsi metode penelitian ialah alat guna mengetahui sesuatu masalah yang akan diteliti. Dengan kata lain, sarana dalam melakukan suatu penelitian. Adapun metode penelitian terbagi pula atas beberapa bagian, yakni sebagai berikut:

1. Spesifikasi Penulisan

Jenis penelitian yang dipakai pada penulisan skripsi ini adalah penelitian hukum normatif yakni penelitian yang terdiri dari penelitiantrhadap inventarisasi hukum positif, penelitian asas-asas hukum, penelitian hukum klinis, penelitian hukum yang mengkaji sistematika peraturan perundang-undangan, penelitian yang ingin menelaah sinkronisasi peraturan perundang-undangan, penelitian perbandingan hukum, dan penelitian sejarah hukum.23 Dengan kata lain penelitian ini didasarkan pada hukum itu sendiri yakni, berupa peraturan perundang- undangan. Adapun perundang-undangan yang akan dibahas dalam penulisan skripsi ini adalah Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

22 Amiruddin dan H. Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 19.

23 Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hlm. 17.

(21)

Dalam penelitian ini, penelitian hukum dipergunakan untuk menemukan peraturan-peraturan yang berhubungan dengan penerapan prinsip piercing the corporate veil pada suatu PT. Oleh karena jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini ialah pendekatan yuridis yakni dengan meneliti peraturan perundang-undangan (statute approach) secara literatur-literatur hukum lainnya yang memuat doktrin-doktrin ataupun asas-asas yang berkaitan dengan permasalahan yang diangkat dalam penulisan skripsi ini.24

2. Data Penelitian

Jenis penelitian yuridis normatif ini menggunakan sumber data sekunder sebagai data utama. Adapun yang termasuk dalam data sekunder ini dapat bersifat pribadi dan bersifat publik. Yang bersifat pribadi misalnya surat-surat, sejarah kehidupan seseorang, buku-buku harian dan lain-lain, sedangkan yang bersifat publik meliputi data resmi pada instansi pemerintah, data arsip, yurisprudensi Mahkamah Agung dan sebagainya.25 Data penelitian tersebut terdiri atas:

a) Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer ialah bahan hukum yang mempunyai otoritas (authority), yang artinya mengikat. Bahan hukum primer dapat dibedakan lagi menjadi bahan hukum primer yang bersifat mandatory authority (meliputi peraturan perundang-undangan yang dikelurkan di wilayah hukum sendiri dan putusan hakim) dan persuasive authority (meliputi peraturan perundang-undangan di wilayah hukum negara lain

24 Ibid, hlm. 24.

25 Suratman dan H. Philips Dillah, Metode Penelitian Hukum, (Bandung: Alfa Beta, 2014), hlm. 51.

(22)

22

tetapi menyangkut hal yang sama dan putusan hakim di wilayah yuridiksi negara lain).26

Adapun dalam penulisan skripsi ini bahan hukum primer yang digunakan adalah merupakan peraturan perundang-undangan, yurisprudensi, dokumen, dan lain-lain yang berhubungan dengan doktrin piercing the corporate veil yakni diantaranya sebagai berikut:

1. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

2. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.

3. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

b) Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder ialah bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer dan memiliki hubungan dengan bahan hukum primer dan dapat pula digunakan untuk memahami bahan hukum primer yang ada.27 Adapun bahan hukum sekunder ini berupa publikasi tentang hukum dan bukan merupakan dokumen-dokumen resmi yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang. Bahan hukum sekunder ini seperti halnya jurnal-jurnal hukum, hasil seminar, makalah-makalah dari pakar hukum, koran, majalah, dan sumber lainnya seperti internet yang berkaitan dengan permasalahan dalam penulisan skripsi ini.

26 Dyah Ochtorina dan A’an Efendi, Pnelitian Hukum (Legal Research), (Jakarta: Sinar Grafika, 2014), hlm. 52.

27 Soerjono Soekanto, Pengatar Peneitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 2008), hlm. 52.

(23)

c) Bahan Hukum Tersier

Bahan hukum tersier ialah bahan hukum yang berupa petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti kamus dan ensiklopedia.28

3. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara melakukan penelitian kepustakaan (Library Research) atau studi kepustakaan. Adapun penelitian kepustakaan dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data yakni peraturan perundang-undangan, buku-buku, jurnal-jurnal hukum, surat kabar, serta literatur lainnya yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas dalam penulisan skripsi ini. Disamping itu, penelitian ini juga dilakukan tidak lepas dari sumber lainnya seperti internet dan media cetak.

4. Analisis Data

Data-data yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan diaengan cara nalisis deskriptif kualitatif. Metode deskriptif ialah dengan menggambarkan secara mnyeluruh apa yang menjadi pokok dari permasalahan-permasalahan.

Sedangkan, kualitatif ialah metode analisa data dengan cara menyeleksi data-data yang diperoleh menurut kualitas dan kebenarannya untuk kemudian dihubungkan dengan teori-teori yang diperoleh dari penelitian kepustakaan sehingga didapatkan pembahasan yang akan menjawab permasalahan-permasalahan yang diangkat.

28 Amiruddin dan Zainal Asikin, op.cit, hlm. 32.

(24)

24

G. Sistematika Penulisan

Dalam penulisan dan penyajian suatu penelitian harus terdapat suatu keselarasan dan keteraturan agar terciptanya suatu hasil karya illmiah yang benar dan baik. Oleh karena itu, dalam penulisan skripsi ini penulis membaginya kedalam beberapa bab yang saling berkesinambungan antara bab pertama dengan bab – bab seterusnya. Adapun sistematika yang terdapat dalam penulisan skripsi ini adalah:

Bab I skripsi ini merupakan bab pendahuluan yang pada bab ini akan membahas apa yang mnjadi latar belakang penulisan skripsi yang penulis angkat, rumusan permasalahan sebagai topik yang akan dibahas secara mendalam, tujuan dan manfaat penulisan, keaslian penulisan skripsi, tinjauan pustaka, dan metode penelitian yang digunakan serta sistematika dari penulisan ini.

Bab II merupakan bab yang akan membahas tentang bagaimana pengaturan hukum PT terbatas di Indonesia yang terdiri atas sejarah dan perkembangan hukum perusahaan di Indonesia, kemudian pengertian PT terbatas dan bagaimana klasifikasi PT, serta maksud dan tujuan pada PT.

Bab III membahas bagaimana pengaturan hukum terhadap prinsip piercing the corporate veil dalam Undang – Undang Nomor 40 tahun 2007. Pada bab ini akan menjelaskan mengenai sejarah dari prinsip piercing of the corporate veil, serta pada bab ini juga akan menjelaskan bagaimana penerapan hukumnya dalam Undang – Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan juga bagaimana obyek penerapan prinsip dari prinsip piercing the corporate veil.

Bab IV membahas bagaimana analisis hukum penerapan prinsip piercing the corporate veil pada kasus perdata antara PT.CIMB Niaga Tbk dengan Adi

(25)

Partner Perkasa, Dkk. Serta membahas bagaimana tugas dan tanggung jawab direksi dan dewan komisaris sesuai dengan ketentuan Undang – Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan juga pada bab ini akan menjelaskan tentang analisis hukum penulis terhadap penerapan prinsip piercing of the corporate veil dalam kasus perdata antara PT.CIMB Niaga Tbk dengan Adi Partner Perkasa, Dkk.

Bab V merupakan bab terakhir ini yang berisi kesimpulan atas keseluruhan bab dan saran-saran yang mungkin nantinya dibutuhkan bagi perkembangan hukum perusahaan di Indonesia di masa yang akan datang.

(26)

26 BAB II

PERKEMBANGAN HUKUM PERSEROAN TERBATAS DI INDONESIA

A. Sejarah dan Perkembangan Hukum Perseroan Terbatas di Indonesia PT sebagaimana sekarang menjadi salah satu bentuk badan usaha yang dipilih oleh kalangan pengusaha nyatanya tidaklah muncul begitu saja. Melainkan timbul dan berkembang melalui beberapa proses. Di Indonesia sendiri PT tidak muncul langsung begitu saja, melainkan mengadopsi negara-negara lain yang sudah terlebih dahulu mengenal dan mengaplikasikan. Peter Meinhardt dan Nigel Davis sebagaimana dikutip Hasbullah F. Sjawie menyatakan di negara-negara common law selain istilah company, dipergunakan juga istilah corporation. Kedua istilah ini hakikatnya bermakna sama karena company adalah:29 “A legal entity (legal persons or body corporate) distinct from its shareholder who are its members.” Pada umumnya di negara-negara common law terdapat undang- undang tersendiri yang mengatur mengenai company, dimana prinsip-prinsip dasar serta hal detail dari company law tidak selalu dimuat didalamnya, tetapi pada case law.

Sedangkan di Indonesia, istilah PT sebenarnya sudah lama muncul. Hal itu dapat dilihat karna pada sekitar abad ke-16, Indonesia dikenal sebagai penghasil rempah-rempah yang menjadikan banyak para pedagang dari luar Indonesia datang untuk mencari rempah-rempah dan dijual kembali di negaranya, salah satunya adalah bangsa Belanda. Pada awalnya para pedagang asal Belanda ini disebut “reder”, yaitu gabungan para pengusaha kapal yang merupakan

29 Hasbullah F. Sjawie, op.cit, hlm. 36.

(27)

compagnie kecil-kecil, salah satu yang terkenal adalah Compagnie van Verre, yang memodali, memimpin dan bertanggung jawab secara pribadi, tanggung- menanggung (renteng) diantara mereka, sama halnya dengan bentuk usaha Firma yang ada saat ini.30

Pada saat mengumpulkan sejumlah modal dalam menjalankan usahanya, para reders ini mencari mitra-mitra usaha yang bersedia menanamkan modalnya untuk dijalankan oleh para reders di dalam perdagangan rempah-rempah yang diambil dari Indonesia, tanpa ikut serta menjalankan pengurusan perusahaan dan tanggung jawabnya tidak melebihi modal yang ditanamkan terhadap kerugian- kerugian yang timbul dalam perdagangan ini. Kepada para pemodal yang telah menanamkan modalnya (comenda participle) akan mendapatkan keuntungan sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati, tetapi pertanggungjawabannya atas resiko kerugian yang ditimbulkannya hanya sebatas pada jumlah modal yang ditanamkannya pada para reders.31

Maka pada tahun 1602, di negeri Belanda didirikan suatu badan usaha yang merupakan penggabungan dari para reders dan comenda participle untuk melakukan pembelian rempah-rempah di Indonesia yang dikenal dengan sebutan Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC). Pengurusan badan usaha ini diserahkan kepada suatu organ (dewan direksi) yang bernama “de heeren zevententien”. Semua penanaman modal tidak lagi bertanggung jawab secara pribadi, melainkan dibebankan semata-mata terbatas pada harta kekayaan yang terkumpul pada VOC.32

30 Agus Budiarto, Kedudukan Hukum & Tanggung Jawab Pendiri Perseroan Terbatas, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2009), hlm. 15.

31 Ibid, hlm. 15-16.

32 Ibid, hlm 16.

(28)

28

Hal inilah yang menjadi awal mula terbentuknya Naamlooze Vennootschap (NV) atau PT yang telah dikembangkan di negeri Belanda yang kemudian dibawa ke Indonesia yang berdasarkan pada asas konkordansi berlaku pula hukum Belanda yang mengatur NV. Sejak diberlakukan Kitab Undang- Undang Hukum Dagang (selanjutnya disebut “KUHD”) di Indonesia pada tahun 1848, dasar-dasar yuridis yang modern sudah ada, yaitu Pasal 36 sampai Pasal 56 KUHD. Sejak itu mulai banyak PT yang didirikan di Indonesia.33

Meskipun hanya terdiri dari 21 (dua puluh satu) pasal yang mengatur tentang PT terbatas, tetapi saat itu KUHD dianggap sebagai suatu hukum yang memenuhi syarat untuk melakukan bisnis. Karena kekosongan hukum dalam KUHD tersebut dapat diisi oleh pihak pendiri ataupun pemegang saham mayoritas dari PT untuk mengaturnya di dalam anggaran dasar.34

Kemunculan korporasi dengan konsep tanggung jawab terbatas dan entitas mandiri merupakan simbol kejayaan korporasi antara civil law system dan common law system. Sejarah korporasi dengan konsep ini dapat dilihat sejak zaman Romawi, dimana dalam putusan perkara Salomon v. A. Salomon & Co.

Ltd., disebutkan bahwa “the nation of non-human juristic entities has a history going back at least to roman times”. Hal ini jelas menunjukan bahwa korporasi dengan konsep tanggung jawab terbatas dan entitas mandiri ini sudah ada sejak zaman itu dan pada perkembangannya konsep tersebut dikenal dengan limited liability doctrine dan separate legal personality doctrine.35

Setelah hampir lebih satu setengah abad berlaku di Indonesia atau hampir lima puluh tahun sejak Indonesia merdeka, pada 7 Maret 1995 Indonesia memiliki

33 Munir Fuady (I),op.cit, hlm. 36.

34 Ibid, hlm. 42

35 Freddy Harris dan Teddy Anggoro, op.cit, hlm. 2-3.

(29)

Undang-Undang nasional sendiri yang mengatur mengenai badan hukum PT, yaitu melalui lahirnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 (selanjutnya disebut UU PT Tahun 1995) . Undang-Undang ini sebenarnya bukan produk hukum nasional yang pertama, karena sesungguhnya KUHD sudah pernah diubah melalui Undang-Undang Nomor 4 tahun 1971, tetapi tetap saja UU PT Tahun 1995 adalah produk hukum yang sepenuhnya dibuat oleh lembaga legislatif Indonesia.36

Dalam rangka melakukan penyempurnaan terhadap ketentuan yang mengatur tentang PT, setelah dua belas tahun berlakunya Undang-Undang tersebut, pada 16 Agustus 2007 pemerintah mengundangkan Undang-Undang Perseroan Terbatas yang baru, yaitu Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007.

Adapun setidaknya terdapat 4 (empat) alasan pokok dari diundangkannya UU PT Tahun 2007 menggantikan UU PT Tahun 1995, yaitu sebagai berikut:37

1. Perkembangan ilmu pengetahuan, tekhnologi dan informasi serta prinsip syariah.

2. Tuntutan masyarakat akan pelayanan yang cepat, berkepastian hukum serta pengembangan dunia usaha yang sesuai dengan prinsip pengelolaan korporasi yang baik.

3. Memperjelas dan mempertegas ketentuan yang menyangkut organ PT, yang termasuk didalamnya tugas dan tanggung jawab direksi dan dewan komisaris.

4. Menegaskan bahwa tujuan PT tidak semata-mata untuk mencarikan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi pemegang saham tetapi juga

36 Ibid, hlm. 6.

37 Ibid, hlm. 7.

(30)

30

ditujukan bagi pemangku kepentingan dan lingkungan hidup, hal ini dengan diperkenalkannya konsep Corporate Social Responsibility.

Begitulah serangkaian sejarah lahirnya PT di Indonesia, sehingga kini mulai banyak pula pengusaha yang memilih badan usaha berbentuk PT. Kini dalam pelaksanaannya pun para pengusaha yang memiliki badan usaha berbentuk PT berlandaskan pada UU PT Tahun 2007 yang telah menggantikan UU PT yang lama.

B. Pengertian Serta Maksud dan Tujuan Perseroan Terbatas 1. Pengertian Perseroan Terbatas.

Seiring dengan perkembangan dunia usaha, maka berbagai pihak mengajukan untuk melakukan pengkajian terhadap dunia usaha secara lebih komprehensif, baik dari sudut pandang praktis maupun teoritis. Menurut M. Smith dan Fred Skousen yang dikutip dalam buku Sentosa Sembiring menyatakan PT (corporation) adalah badan usaha yang dibentuk berdasarkan undang-undang, mempunyai eksistensi yang terpisah dari para pemiliknya dan dapat melakukan usaha dalam batas-batas tertentu sebagaimana lazimnya manusia biasa.38

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, PT adalah perusahaan yang berbentuk badan hukum, didirikan dengan modal yang terbagi atas saham, memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam UU PT serta peraturan pelaksanaannya; tanggung jawab pemegang saham terbatas sebesar jumlah nominal saham yang dimiliki (limited company). Di Indonesia dikenal berbagai macam bentuk perusahaan seperti persekutuan perdata (maatschap), firma, persekutuan komanditer (CV), maupun PT. Adapun yang membedakan antara

38 Sentosa Sembiring, Hukum Perusahaan Tentang Perseroan Terbatas, (Bandung:

Nuansa Aulia, 2006), hlm. 11-12.

(31)

bentuk-bentuk perusahaan tersebut ialah ada yang berbadan hukum dan tidak berbadan hukum.

Menurut Binoto Nadapdap, dalam pelaksanaannya bentuk perusahaan atau badan usaha yang cenderung menjadi pilihan para pelaku usaha ialah PT. Jika ditelusuri, ada beberapa faktor atau alasan mengapa para pelaku usaha lebih cenderung memilih PT untuk menjalankan usaha dibandingkan dengan bentuk perusahaan lain seperti Persekutuan Perdata, Koperasi, Firma, dan CV, yaitu sebagai berikut:39

a. semata-mata untuk mengambil manfaat karakteristik pertanggungjawaban terbatas;

b. atau dengan maksud kelak manakala diperlukan mudah melakukan transformasi perusahaan;

c. atau alasan fiskal.

Adapun beberapa istilah PT dalam beberapa negara diantaranya yaitu:40 1) Di Prancis menggunakan istilah Society Anoynyme yang lebih

menonjolkan pada keterikatan badan itu dengan orang-orangnya.

2) Di Inggris menggunakan istilah Limited Company

a) Company: menonjolkan lembaga usaha yang diselenggarakan itu tidak seorang diri, namun terdiri dari beberapa orang yang tergabung dalam suatu badan.

39Binoto Nadapdap, Hukum Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang No 40 Tahun 2007, (Jakarta: Permata Aksara, 2013), hlm. 3.

40Handri Raharjo, Hukum Perusahaan, ( Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2009), hlm. 69- 71.

(32)

32

b) Limited: terbatasnya tanggung jawab pemegang saham, dalam arti bertanggung jawab tidak lebih dari dan semata-mata dengan harta kekayaan yang terhimpun dalam badan itu.

Dengan kata lain, hukum Inggris lebih menampilkan segi tanggung jawabnya.

3) Di Jerman menggunakan istilah Aktien Gesellschaft a) Aktien, berarti saham dan

b) Gesellschaft, berarti himpunan usaha ini.

Lebih menonjolkan segi saham yang merupakan ciri khasnya.

4) Di Indonesia menurut Rudy Prasetyo, istilah PT sebenarnya mengawinkan antara sebutan yang digunakan hukum Inggris (menampilkan segi tanggungjawab) dan Jerman (menonjolkan segi saham).

PT terdiri dari dua kata, yaitu:

a) Perseroan, artinya modal PTyang terdiri dari sero-sero atau saham- saham. Hal ini dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 1 ayat 1 UU PT Tahun 2007.

b) Terbatas, artinya tanggung jawab pemegang saham yang terbatas pada nilai nominal semua saham yang dimilikinya. Hal ini dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 3 ayat 1 UU PT Tahun 2007.

5) Pasal 2.64.1 NBW (BW Belanda yang baru) mendefinisikan NV sebagai: “Badan hukum yang didirikan dengan penyerahan saham yang terbagi dalam modal dasar dimana pemegang saham tidak

(33)

bertanggungjawab secara pribadi terhadap kerugian yang diderita PT, kecuali hanya sebatas modal yang disetor”.

Namun demikian, menurut Sutantya dan Sumantoro sebagaimana dikutip oleh Agus Budiarto mengatakan bahwa berdasarkan pasal-pasal yang terdapat pada KUHD tersebut dapat disimpulkan bahwa suatu PT mempunyai unsur-unsur sebagai berikut:41

a. Adanya kekayaan yang terpisah dari kekayaan pribadi masing-masing persero (pemegang saham) dengan tujuan untuk membentuk sejumlah dana sebagai jaminan bagi semua perikatan PT.

b. Adanya PT atau pemegang saham yang tanggung jawabnya terbatas pada jumlah nominal saham yang dimilikinya. Sedangkan mereka semua dalam RUPS merupakan organ tertinggi dalam PT yang berwenang mengangkat dan memberhentikan Direksi dan Komisaris, berhak menetapkan garis-garis besar kebijaksanaan menjalankan perusahaan, serta menetapkan hal-hal yang belum ditetapkan dalam Anggaran Dasar dan lain-lain.

c. Adanya pengurus yakni Direksi dan Komisaris sebagai pengawas yang merupakan satu kesatuan pengurusan dan pengawasan terhadap PT dimana tanggung jawabnya terbatas pada tugasnya sesuai dengan Anggaran Dasar atau keputusan RUPS.

Lain halnya dengan Ridwan Syahrani yang dikutip oleh Freddy Harris dan Teddy Anggoro berpendapat bahwa PT sebagai badan hukum mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.42

41 Agus Budiarto, op.cit, hlm. 24.

42 Freddy Harris dan Teddy Anggoro, op.cit, hlm. 14-15.

(34)

34

1) Adanya harta kekayaan yang terpisah; yaitu bahwa PT mempunyai harta kekayaan yang terpisah dari harta para pemegang sahamnya.Dan didapat dari pemasukan para pemegang saham yang berupa modal dasar, modal yang ditempatkan dan modal yang disetor.

2) Mempunyai tujuan tertentu, yaitu tujuan tertentu dari suatu PT dapat diketahui dalam Anggaran Dasarnya sebagaimana dalam Pasal 15 huruf b UU PT Tahun 1995 menyebutkan bahwa Anggaran Dasar memuat sekurang-kurangnya maksud dan tujuan serta kegiatan usaha PT yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3) Mempunyai kepentingan sendiri; yaitu hak-hak subjektif sebagai akibat dari peristiwa hukum yang dialami yang merupakan kepentingan yang dilindungi hukum dan dapat menuntut serta mempertahankan kepentingannya terhadap pihak ketiga.

4) Adanya organisasi yang teratur,yaitu badan hukum mempunyai organisasi yang teratur, demikian pula dengan PT mempunyai Anggaran Dasar yang terdapat dalam akta pendiriannya yang menandakan adanya organisasi yang teratur.

2. Maksud dan Tujuan Perseroan Terbatas

Pada sub bab ini akan membahas mengenai permasalahan “maksud dan tujuan” dari didirikannya sebuah PT. Hal tersebut diatur dalam Pasal 2 UU PT Tahun 2007, yaitu:43

“Perseroan harus mempunyai maksud dan tujuan serta kegiatan usaha yang tidak bertentangan dengan ktentuan peraturan perundang-undangan, ketertiban umum, dan atau kesusilaan.”

43 Indonesia (PT), op.cit, Pasal 2.

(35)

Berdasarkan ketentuan pasal tersebut berarti bahwa setiap PT harus mempunyai “maksud dan tujuan” serta kegiatan usaha yang jelas dan tegas.

Dalam pengkajian hukum, disebut “klausul objek” (object clause). PT yang tidak mencantumkan dengan tegas apa yang menjadi maksud dan tujuan serta kegiatan usahanya, dianggap “cacat hukum” (legal defect), sehingga keberadaannya menjadi tidak valid (invalidate).44

Adapun tujuan pendirian dari PT berdasarkan peraturan yang pernah berlaku maupun yang sedang berlaku mengenai PT yakni baik KUHD, UU PT Tahun 1995 maupun UU PT Tahun 2007, semuanya menyebutkan bahwa tujuan pendirian PT adalah untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal yang sekecil-kecilnya.45

Lebih lanjut, maksud dan tujuan pendirian PT haruslah di cantumkan dalam anggaran dasar yang dilakukan pada saat pembuatan Akta Pendirian sebagaiman diatur dalam Pasal 8 ayat 1 UU PT Tahun 2007. Pencantuman maksud dan tujuan dalam anggaran dasar bersifat “imperatif” dan memegang peranan “fungsi prinsipil”. Dikatakan bersifat imperatif ialah dimaksudkan dalam untuk memperoleh Keputusan Menteri mengenai pengesahan badan hukum PT.

Sedangkan dikatakan memegang peranan fungsi prinsipil, karena pencantuman dalam anggaran dasar merupakan landasan hukum (legal foundation) bagi pengurus PT.46

Menurut James D. Cox yang dikutip M. Yahya Harahap mengatakan bahwa terdapat dua teori mengenai perumusan maksud dan tujuan PT. Pertama,

44 M. Yahya Harahap, Hukum Perseroan Terbatas, (Jakarta: Sinar Grafika, 2016), hlm.

60.

45 Freddy Haris dan Teddy Anggoro, op.cit, hlm. 19.

46 M. Yahya Harahap, op.cit, hlm. 61.

(36)

36

teori konsensi (concession theory) yakni dalam anggaran dasar harus dicantumkan beberapa kegiatan usaha yang bersifat defenitif. Kedua, teori fleksibel (flexibility theory) bahwa anggaran dasar harus mencantumkan kegiatan usaha yang bersifat sederhana (simply) dan fleksibel. Walaupun bersifat sederhana dan fleksibel, namum bidangnya harus pasti (certainty).47 Dari penjelasan diatas, pencantuman maksud dan tujuan dalam anggaran dasar dapat dikatakan bersifat hukum memaksa.

C. Organ-Organ Perseroan Terbatas.

Secara teoritis dikemukan bahwa PT merupakan subjek hukum yang berarti mempunyai status persona standi in judicio. Yang artinya sekalipun ia hanya berwujud suatu badan dan bukan manusia alamiah, namun di mata hukum dipandang sama seperti manusia yang dapat menjadi mendukung hak dan kewajiban menurut hukum.48 Oleh karena itu, salah satu unsur yang paling penting dalam badan usaha PT adalah adanya organnya. Hal ini juga dijelaskan dalam UU PT yakni organ PT adalah RUPS, Direksi dan Komisaris.49 Untuk memahami lebih lanjut mengenai tugas masing-masing organ, maka diuraikan sebagai berikut:

1) Rapat Umum Pemegang Saham

RUPS merupakan organ PT yang memiliki kewenangan eksklusif.

Dimana RUPS merupakan organ PT yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan atau dialihkan kepada direksi atau dewan komisaris

47 Ibid, hlm. 63.

48 Rudhi Prasetya, Teori & Praktik Perseroan Terbatas, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), hlm. 18.

49 Indonesia (PT), op.cit, Pasal 1 Angka 2.

(37)

dalam batas yang ditentukan dalam undang-undang dan/atau anggaran dasar, batasan yang dimaksud adalah hak untuk:

1. Mengangkat dan memberhentikan anggota direksi dan dewan komisaris;

2. Menyetujui penggabungan, peleburan, pengambilalihan, atau pemisahan;

3. Menyetujui pengajuan permohonan agar PT dinyatakan pailit;

4. Menyetujui perpanjangan jangka waktu berdirinya PT;

5. Mengubah anggaran dasar;

6. Membubarkan PT.50

Adapun kedudukan RUPS dalam PT dapat dilihat dalam Pasal 1 angka (4) UU PT Tahun 2007 yang menyatakan:

“Rapat Umum Pemegang Saham yang selanjutnya disebut RUPS adalah Organ Perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam Undang-Undang ini dan/atau anggaran dasar.”51

Dalam forum RUPS, pemegang saham berhak memperoleh keterangan yang berkaitan dengan PT dari direksi dan/atau dewan komisaris, sepanjang berhubungan dengan kepentingan rapat dan tidak bertentangan dengan kepentingan PT. Hal ini dimaksudkan berkenaan dengan hak pemegang saham untuk memperoleh keterangan berkaitan dengan rapat.52

50 Arus Akbar Silondae dan Wirawan B. Ilyas, Pokok-Pokok Hukum Bisnis, (Jakarta:

Salemba Empat, 2011), hlm. 48.

51Indonesia (PT), op.cit, Pasal 1 angka 4.

52 Jamin Ginting, op.cit, hlm. 99.

(38)

38

UU PT tampak menempatkan RUPS dalam urutan pertama dari tiga organ PT lainnya. Sekalipun pembentuk undang-undang sama sekali tidak bermaksud memberikan peringkat terhadap ketiga organ tersebut dalam pengertian organ yang satu lebih superior dari organ yang lainnya yang terdapat dalam PT. Namun, melalui definisi organ PT yang terdapat dalam UU PT tersebut tampak adanya “pemeringkatan”

dimana RUPS sebagai organ PT yang pertama dan utama.53

Sebagai salah satu organ yang penting dalam PT, segala keputusan yang akan diambil haruslah sesuai dengan UU PT dan anggaran dasar. Ada beberapa asas yang harus diperhatikan oleh RUPS ketika akan mngambil suatu keputusan, yaitu asas itikad baik dan kepatutan.

Sehingga RUPS tidak boleh mengambil keputusan yang sewenang- wenang, harus memperhatikan pmegang saham minoritas.54

Wewenang RUPS tersebut terwujud dalam bentuk jumlah suara yang dikeluarkan dalam setiap rapat. Hak suara dalam RUPS dapat digunakan untuk berbagai maksud dan tujuan diantaranya ialah menyetujui atau menolak:

a. Rencana perubahan Anggaran Dasar;

b. Rencana penjualan asset dan pemberian jaminan hutang;

c. Pengangkatan dan pemberhentian anggota direksi dan/atau komisaris;

d. Laporan keuangan yang disampaikan oleh direksi;

e. Pertanggungjawaban direksi;

f. Rencana penggabungan, peleburan dan pengambilalihan;

53Cornelius Simanjuntak dan Natalie Mulia, Organ Perseroan Terbatas, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hlm.3.

54 Sentosa Sembiring, op.cit, hlm. 35.

(39)

g. Rencana pembubaran PT.55

RUPS terdiri atas RUPS tahunan dan RUPS lainnya. Yang dimaksud dengan RUPS lainnya adalah RUPS yang diadakan dalam keadaan kegentingan yang memaksa yang diatur dalam anggaran dasar dan pemegang saham dapat melakukan RUPS luar biasa pada saat tertentu berdasarkan ketentuan dalam anggaran dasar. Dalam melaksanakan RUPS tahunan wajib diadakan dalam jangka waktu paling lambat 6 bulan setelah tahun buku akhir, yang didalamnya diajukan semua dokumen dari laporan tahunan PT.56

2) Direksi

Salah satu organ yang cukup penting dalam menjalankan PT adalah direksi. Secara resmi pada Pasal 1 angka 5 UU PT Tahun 2007 menjelaskan apa yang dimaksud dengan direksi, yaitu:57

“Organ Perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan, sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar.”

Direksi PT itu dapat terdiri dari satu orang Direktur atau dapat pula lebih dari satu orang Direktur. Antara Direksi dan Direktur terdapat perbedaan makna. Kata “Direksi” untuk menunjuk kepada lembaganya, sedangkan kata “Direktur” dipergunakan untuk menunjuk orangnya.58 Direksi menjalankan pengurusan PT untuk kepentingan serta sesuai dengan maksud dan tujuan PT. Kewenangan direksi lainnya adalah

55 Rachmadi Usman, Dimensi Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas, (Bandung:

Alumni, 2004), hlm. 131.

56 Jamin Ginting, op.cit. hlm. 101.

57 Indonesia (PT), op.cit, Pasal 1 Angka 5.

58 Rudhi Prasetya, op.cit, hlm. 23.

(40)

40

menjalankan pengurusan pereroan sesuai dengan kebijakan yang tepat yaitu didasarkan pada keahlian, peluang yang tersedia, dan kelaziman dalam dunia usaha yang sejenis.59

Menurut Gautama yang dikutip dalam buku Hasbullah F. Sjawie hubungan yang terdapat di antara direksi dan PT adalah suatu hubungan yang unik di sebut sebagai hubungan keagenan. Hal ini berlandaskan prinsip hukum keagenan, yang terdapat dalam Pasal 1809 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (selanjutnya disebut KUHPerdata), principal bertanggung jawab atas perbuatan agennya, sepanjang perbuatan nya dilaksanakan dngan prinsip kehati-hatian dan masih dalam lingkup keagenan.60

Kemudian dari rumusan Pasal 92 ayat 1 UU PT Tahun 2007 dapat diketahui bahwa organ PT yang bertugas melakukan pengurusan PT adalah direksi. Setiap anggota direksi wajib dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas untuk kepentingan dan usaha PT. “Hal ini membawa konsekuensi hukum bahwa setiap anggota direksi bertanggung jawab secara pribadi apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya untuk kepentingan dan usaha PT”.61

Secara teoritis, prinsip pengelolaan yang dilakukan Direksi dalam berbagai kepustakaan hukum dibagi atas dua prinsip yakni: Prinsip Kolegial yang berarti bahwa kedudukan para direktur sama tingginya,

59 Arus Akbar Silonde dan Wirawan Ilyas, op.cit, hlm. 50.

60 Hasbullah F. Sjawie, op.cit, hlm. 116.

61 Gunawan Widjaja, Tanggung Jawab Direksi atas Kepailitan Perseroan, (Jakarta:

RajaGrafindo Persada, 2004, hlm. 21.

(41)

sehingga tidak ada yang menjadi Presiden Direktur (Presdir). Perbedaan hanya terletak pada perbedaan wewenang dan tanggung jawabnya.

Selanjutnya ialah Prinsip Direktorial yakni seorang direktur dapat menjadi presiden direktur atau direktur utama. Ini berarti terdapat direktur lainnya yang berada di bawahnya dan bertanggung jawab kepadanya. Sedangkan presdir bertanggung jawab kepada Dewan Komisaris. Jika memperhatikan UU PT, tampaknya menganut prinsip kolegial. Sebagai seorang yang mengendalikan PT, Direksi memiliki tugas dan tanggung jawab sebagaimana diatur dalam UU PT serta Anggaran Dasar PT.62

Direksi PT terdiri atas satu orang anggota direksi atau lebih. Pada Perseroan Terbuka ( PT Tbk) wajib mempunyai paling sedikit dua anggota direksi. Dalam hal direksi terdiri dari dua orang atau lebih, pembagian tugas dan wewenang pengurusan di antara anggota direksi ditetapkan berdasarkan keputusan RUPS atau berdasarkan keputusan direksi apabila tidak disebutkan di dalam RUPS.63

Pada prinsipnya ada 2 (dua) fungsi utama dari direksi suatu PT, yaitu sebagai berikut:

1. Fungsi manajemen, dalam arti direksi melakukan tugas memimpin perusahaan. Fungsi manajemen ini dalam hukum Jerman disebut dengan Geschaftsfuhrungs-befugnis,

2. Fungsi representasi, dalam arti direksi mewakili perusahaan di dalam dan di luar pengadilan. Prinsip mewakili perusahaan di luar pengadilan menyebabkan perseroan sebagai badan hukum akan terikat dengan transaksi atau kontrak-kontrak yang dibuat oleh direksi atas nama dan untuk kepentingan perseroan. Fungsi

62 Cornelius Simanjuntak dan Natalie Mulia, op.cit, hlm. 44.

63 Orinton Purba, op.cit, hlm. 32.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

1.Pembangunan politik secara geografis berarti proses perubahan politik pada neggara berkembang dengan menggunakan konynsep dan metode yang pernah digunakan

351 2018301775 18256015710018 ROKHAENI ROSPA Pendidikan Bahasa Inggris.. Universitas

Kandungan karbohidrat pada sagu yang tertinggi di antara bahan pangan lainnya, tidak semata-mata berpotensi sebagai pengganti beras, tetapi ada produk lain yang

Hal ini menarik perhatian penulis untuk mengadakan penelitian yang berkaitan dengan motivasi pria lansia melakukan olahraga bulutangkis dan jalan kaki serta

Setelah diadakan tindakan perbaikan pembelajaran pada siklus 2, ternyata ada peningkatan nilai evaluasi siswa hanya 5 orang siswa yang belum mencapai KKM atau (12,5%)

Teh hijau adalah teh yang dibuat tanpa proses fermentasi, tetapi dengan melakukan pemanasan, jika diseduh menghasilkan teh dengan warna terang, teh hijau yang

Komputer merupakan salah satu sarana dalam perkembangan informasi dewasa ini, karena dengan bantuan komputer dapat menghasilakan hasil yang optimal dalam waktu yang relatife