PENGARUH KEPUTUSAN INVESTASI, KEBIJAKAN HUTANG, KEBIJAKAN DIVIDEN DAN PROFITABILITAS TERHADAP
NILAI PERUSAHAAN PROPERTI DAN REAL ESTATE YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
PERIODE 2010-2016
OLEH
HELMINA SARAGIH 160521009
PROGRAM STUDI STRATA-1 MANAJEMEN EKSTENSI DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
DEPARTEMEN MANAJEMEN PENANGGUNG JAWAB SKRIPSI
Nama : Helmina Saragih
NIM : 160521009
Program Studi : S1 Manajemen Ekstensi Konsentrasi : Manajemen Keuangan
Judul : Pengaruh Keputusan Investasi, Kebijakan Hutang, Kebijakan Dividen dan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan Properti dan Real Estate yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2016
Medan, September 2018
Helmina Saragih
NIM. 160521009
4
LEMBAR PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “Pengaruh Keputusan Investasi, Kebijakan Hutang, Kebijakan Dividen dan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan Properti dan Real Estate yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2016” adalah benar hasil karya saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga, dan/atau dari hasil karya orang telah mendapat izin, dan/atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, September 2018
Helmina Saragih
i
ABSTRAK
PENGARUH KEPUTUSAN INVESTASI, KEBIJAKAN HUTANG, KEBIJAKAN DIVIDEN DAN PROFITABILITAS TERHADAP
NILAI PERUSAHAAN PROPERTI DAN REAL ESTATE YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
PERIODE 2010-2016
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh keputusan investasi (PER), kebijakan hutang (DER), kebijakan dividen (DPR) dan profitabilitas (ROA) terhadap nilai perusahaan (PBV) properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2016. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan tahunan perusahaan properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2016. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 48 perusahaan dan diperoleh sampel sebanyak 19 perusahaan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif dan analisis regresi linier berganda data panel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara serempak, keputusan investasi (PER), kebijakan hutang (DER), kebijakan dividen (DPR) dan profitabilitas (ROA) berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan (PBV) properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sedangkan secara parsial, keputusan investasi (PER), kebijakan dividen (DPR) dan profitabilitas (ROA) berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan (PBV) properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Kata Kunci: Nilai Perusahaan (PBV), Keputusan Investasi (PER), Kebijakan
Hutang (DER), Kebijakan Dividen (DPR) dan Profitabilitas
(ROA).
THE EFFECT OF INVESTMENT DECISIONS, DEBT POLICY, DIVIDEND POLICY AND PROFITABILITY ON VALUE
OF PROPERTY AND REAL ESTATE COMPANY LISTED IN INDONESIA STOCK EXCHANGE
PERIOD 2010-2016
This study aims to determine and analyze the influence of investment decision (PER), debt policy (DER), dividend policy (DPR) and profitability (ROA) to firm value (PBV) of property and real estate listed on Indonesia Stock Exchange 2010- 2016. The data used in this study is secondary data obtained from the annual financial statements of property and real estate companies listed on the Indonesia Stock Exchange period 2010-2016. The population in this study amounted to 48 companies and obtained sample of 19 companies by using purposive sampling technique. Data analysis method used in this research is descriptive statistics and multiple linear regression analysis of panel data. The results of this study indicate that simultaneously, investment decisions (PER), debt policy (DER), dividend policy (ROA) and profitability (ROA) have a positive and significant effect on the value of the company (PBV) property and real estate listed on the Indonesia Stock Exchange. While partially, investment decision (PER), dividend policy (DPR) and profitability (ROA) have a positive and significant influence to the value of the company (PBV) property and real estate listed on Indonesia Stock Exchange.
Keywords: Firm Value (PBV), Investment Decision (PER), Debt Policy
(DER), Dividend Policy (DPR) and Profitability (ROA)
iii
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya peneliti masih diberikan kesehatan sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Keputusan Investasi, Kebijakan Hutang, Kebijakan Dividen dan Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan Properti dan Real Estate yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2016”. Tujuan penulisan skripsi ini adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, karena itu peneliti masih mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak, agar skripsi ini dapat lebih baik lagi. Dengan segala kerendahan hati, peneliti berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak.
Pada kesempatan ini, peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya buat orang tua tercinta ayahanda Tuahman Saragih dan ibunda Rosenna Purba yang telah membesarkan, mendidik dan memberikan dukungan, dan doa yang tak henti-hentinya kepada peneliti. Selama proses penyusunan skripsi ini peneliti menyadari banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak.
Untuk itu peneliti mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Dr. Amlys Syahputra Silalahi, SE, M.Si dan Bapak Doli Muhammad Ja’far Dalimunthe, SE, M.Si, selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Drs. Syahyunan, M.Si, selaku Dosen Pembimbing yang telah
membantu dan memberikan bimbingan, dukungan, arahan kepada peneliti
3. Ibu Dra. Lisa Marlina, M.Si, selaku Dosen Penguji I dan Ibu Dra. Nisrul Irawati, MBA, selaku Dosen Penguji II yang telah memberikan arahan dan masukan dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Untuk seluruh Dosen dan Pegawai Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara untuk setiap jasa-jasanya selama perkuliahan.
5. Terimakasih kepada saudara peneliti, Lisbet Saragih S.Pd, Rikwansius Saragih, Veranika Saragih, Indra Siahaan, S.Kom dan terkhusus buat orang terkasih Irpan Purba, SP terima kasih atas doa, semangat, dan dukungan yang diberikan kepada peneliti.
6. Terimakasih sahabat peneliti Asela, Mariana, Dini, Mutia, Rosi, bang Jaya dan Leo serta kepada rekan-rekan khususnya bagi Manajemen Ekstensi 2016 grup A dan Konsentrasi Manajemen Keuangan yang telah memberikan semangat kepada peneliti.
Akhir kata peneliti berharap skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca dan dapat dipergunakan untuk menambah pengetahuan dan bahan masukan bagi penelitian selanjutnya.
Medan, September 2018 Peneliti,
Helmina Saragih
160521009
v
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... i
KATA PENGANTAR... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah... 13
1.3 Tujuan Penelitian... 14
1.4 Manfaat Penelitian... 14
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 16
2.1 Landasan Teori ... 16
2.1.1 Teori Signal (Signalling Theory) ... 16
2.1.2 Teori Keagenan (Agency Theory) ... 17
2.1.3 Nilai Perusahaan ... 19
2.1.4 Keputusan Investasi ... 20
2.1.5 Kebijakan Hutang... 25
2.1.6 Kebijakan Dividen ... 27
2.1.7 Profitabilitas ... 31
2.2 Penelitian Terdahulu ... 33
2.3 Kerangka Konseptual ... 36
2.4 Hipotesis ... 38
BAB III METODE PENELITIAN ... 39
3.1 Jenis Penelitian ... 39
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 39
3.3 Batasan Operasional ... 39
3.4 Definisi Operasional ... 40
3.5 Populasi dan Sampel ... 43
3.6 Jenis dan Sumber Data ... 44
3.7 Metode Pengumpulan Data ... 45
3.8 Teknik Analisis Data ... 45
3.8.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 45
3.8.2 Analisis Regresi Data Panel. ... 46
3.9 Uji Asumsi Klasik ... 48
3.9.1 Uji Normalitas ... 48
3.9.2 Uji Multikolinearitas ... 48
3.9.3 Uji Autokorelasi ... 49
3.9.4 Uji Heteroskedastisitas... 49
3.10 Pengujian Hipotesis ... 50
3.10.2 Uji Signifikansi Pengaruh Parsial (Uji t) ... 51
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 53
4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 53
4.2 Analisis Statistik Deskriptif ... 64
4.3 Analisis Regresi Data Panel ... 67
4.3.1 Model Regresi Data Panel ... 67
4.3.2 Pemilihan Model Regresi Data Panel ... 70
4.4 Uji Asumsi Klasik ... 72
4.4.1 Uji Normalitas ... 72
4.4.2 Uji Multikolinearitas ... 72
4.4.3 Uji Autokorelasi ... 73
4.4.4 Uji Heteroskedastisitas... 73
4.5 Pengujian Hipotesis ... 75
4.5.1 Uji Signifikansi Pengaruh Serempak (Uji F) .... 75
4.5.2 Uji Signifikansi Pengaruh Parsial (Uji t) ... 76
4.6 Pembahasan ... 77
4.6.1 Pengaruh PER Terhadap Nilai Perusahaan ... 77
4.6.2 Pengaruh DER Terhadap Nilai Perusahaan ... 78
4.6.3 Pengaruh DPR Terhadap Nilai Perusahaan ... 79
4.6.4 Pengaruh ROA Terhadap Nilai Perusahaan ... 80
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 81
5.1 Kesimpulan ... 81
5.2 Saran ... 81
DAFTAR PUSTAKA ... 83
DAFTAR LAMPIRAN ... 84
vii
DAFTAR TABEL
No.Tabel Judul Halaman
1.1 Data PBV, DER, DPR dan ROA dari Beberapa Perusahaan Properti dan Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Periode 2010-2016 ... 6
2.1 Penelitian Terdahulu ... 33
3.1 Operasionalisasi Variabel Penelitian ... 42
3.2 Jumlah Populasi dan Sampel Penelitian ... 43
3.3 Sampel Perusahaan Properti dan Real Estate di BEI ... 44
3.4
Kriteria Uji Durbin Watson... 49
4.1 Hasil Statistik Deskriptif ... 64
4.2 Pengujian Pooled Least Square ... 67
4.3 Pengujian Fix Effect Model (FEM) ... 68
4.4 Pengujian Random Effect Model (REM) ... 69
4.5 Hasil Uji Chow ... 70
4.6 Hasil Uji Hausman ... 70
4.7 Hasil Uji Multikolinearitas dengan Uji Matriks Korelasi ... 72
4.8 Hasil Uji Autokorelasi dengan Durbin Watson ... 73
4.9 Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 74
No. Gambar Judul Halaman 1.1 Nilai Perusahaan (PBV) dari Beberapa Perusahaan Properti dan
Real Estate yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode
2010-2016 ... 6 1.2 Keputusan Investasi (PER) dari Beberapa Perusahaan Properti
dan Real Estate yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode
2010-2016 ... 8 1.3 Kebijakan Hutang (DER) dari Beberapa Perusahaan Properti
dan Real Estate yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode
2010-2016 ... 9 1.4 Kebijakan Dividen (DPR) dari Beberapa Perusahaan Properti
dan Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode
2010-2016 ... 10 1.5 Profitabilitas (ROA) dari Beberapa Perusahaan Properti dan
Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode
2010-2016 ... 11
2.1 Kerangka Konseptual ... 37
4.1 Hasil Uji Normalitas dengan Jargue-Bera ... 72
ix
DAFTAR LAMPIRAN
No. Lampiran Judul Halaman
1. Daftar Sampel Penelitian ... 86
2. Data PBV,PER,DER,DPR DAN ROA ... 88
3. Hasil Statistik Deskriptif ... 91
4. Pengujian Pooled Least Square ... 92
5. Pengujian Fixed Effect Model (FEM) ... 93
6. Pengujian Random Effect Model (REM) ... 94
7. Hasil Uji Chow ... 95
8. Hasil Uji Hausman ... 95
9. Uji Normalitas dengan Jarque Bera... 95
10. Hasil Uji Multikolinearitas dengan Matriks Korelasi ... 96
11. Hasil Uji Autokorelasi dengan Durbin Watson ... 96
12. Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 97
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Industri properti dan real estate merupakan industri yang bergerak dibidang pembangunan gedung-gedung dan fasilitas umum. Pasar properti secara umum dibagi tiga bagian yaitu residental properti, yang meliputi apartemen, perumahan, falt, dan bangunan multi unit; commercial properti, yaitu properti yang dirancang untuk keperluan bisnis, misalnya gedung penyimpanan barang dan areal parkir; dan industri properti, yaitu properti yang dirancang untuk keperluan industri, misalnya bangunan–bangunan pabrik. Pasar properti di Indonesia pada dasarnya dapat dibagi kedalam beberapa segmen pasar yaitu, gedung perkantoran (office building); retail market yang meliputi swalayan dan mall;
apartemen dan kondominium; pasar kawasan industri (industrial estate market); dan pasar hotel (hotel market).
Dihampir semua negara termasuk Indonesia, sektor industri properti dan
real estate merupakan dengan sektor karakteristik yang sulit untuk diprediksi dan
berisiko tinggi. Sulit diprediksi artinya adalah pasang surut sektor ini memiliki
amplitude yang besar yaitu pada saat terjadi pertumbuhan ekonomi yang tinggi
dan kondisi perekonomian secara makro dalam keadaan baik, industri properti dan
real estate mengalami booming dan over supplied, namun sebaliknya pada saat
pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan dan kondisi makro ekonomi sedang
resesi, secara cepat sektor ini akan mengalami penurunan yang cukup drastis pula.
2
risiko tinggi, hal ini disebabkan pembiayaan atau sumber dana utama sektor ini umumnya diperoleh melalui kredit pada sektor perbankan sementara sektor ini beroperasi dengan menggunakan aktiva tetap.
Perusahaan properti dan real estate semakin hari semakin berkembang, hal ini dapat dilihat dari semakin bertambahnya jumlah perusahaan properti dan real estate yang di Bursa Efek Indonesia dari 45 jumlah perusahaan dari tahun 2016 menjadi 48 perusahaan pada update terakhir 31 Desember 2017.
Tujuan utama perusahaan yang telah go public adalah meningkatkan kemakmuran pemilik atau para pemegang saham melalui peningkatan nilai perusahaan. Menurut Aries (2011:158) nilai perusahaan merupakan hasil kerja manajemen dari beberapa dimensi diantaranya arus kas bersih dari keputusan investasi, pertumbuhan dan biaya modal perusahaan. Nilai perusahaan juga merupakan cerminan harga per lembar saham perusahaan berdasarkan penilaian investor di Bursa Efek. Nilai perusahaan dapat diukur dengan Price Book Value (PBV). Menurut Sugiono dan Untung (2008:112) Price Book Value (PBV) menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai saham suatu perusahaan.
Makin tinggi nilai rasio ini berarti pasar percaya akan prospek perusahaan tersebut. Sebagai suatu perusahaan yang memiliki manajemen yang baik maka diharapkan PBV perusahaan juga tinggi.
Nilai perusahaan yang tinggi tercermin dalam harga saham yang tinggi di
bursa saham. Harga saham yang tinggi akan mengindikasikan kemakmuran
pemegang saham juga tinggi. Harga saham dipasar modal terbentuk berdasarkan
kesepakatan antar permintaan dan penawaran investor, sehingga harga saham
merupakan fair price yang dapat dijadikan proksi nilai perusahaan.
Untuk meningkatkan nilai perusahaan dibutuhkan seorang manajer yang dapat mengambil keputusan keuangan yang tepat. Manejer keuangan bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan keuangan yang tepat. Keputusan keuangan tersebut yaitu keputusan investasi (investment decision), kebijakan hutang (financing decision) dan kebijakan dividen (dividend policy), (Brigham dan Houston, 2012).
Menurut Reilly dan Brown (2012:4), keputusan investasi pada dasarnya adalah keputusan dalam mengalokasikan sejumlah dana untuk memperoleh peningkatan jumlah dana (memperoleh bunga investasi) dimasa yang akan datang.
Kesalahan dalam peramalan untuk investasi yang akan dilakukan oleh perusahaan akan dapat mengakibatkan kerugian.
Keputusan investasi sangat dipengaruhi oleh ketersediaan dana perusahaan yang berasal dari sumber pendanaan internal (internal financing) maupun sumber pendanaan eksternal (external finanacing). Susanti (2010:49) menyatakan bahwa nilai perusahaan ditentukan oleh keputusan investasi, artinya keputusan investasi itu penting karena dalam mencapai tujuan perusahaan dapat dicapai melalui kegiatan investasi perusahaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa apabila dalam berinvestasi perusahaan mampu menghasilkan keuntungan dengan menggunakan sumber daya perusahaan secara efisien, maka perusahaan akan memperoleh kepercayaan dari calon investor untuk membeli sahamnya. Dalam penelitian ini keputusan investasi diukur dengan rasio Price Earning Ratio (PER).
Rasio ini mengukur bagaimana investor menilai prospek pertumbuhan perusahaan
4
dimasa yang akan datang, dan tercermin pada harga saham yang bersedia dibayar oleh investor untuk setiap rupiah laba yang diperoleh perusahaan.
Kebijakan hutang yang harus diambil oleh manajer berhubungan dengan alternatif pendanaan yang dilakukan oleh perusahaan. Kebijakam hutang berkaitan dengan proses pemilihan sumber dana yang dipakai untuk membelanjai investasi yang direncanakan dengan berbagai alternatif sumber dana yang tersedia sehingga diperoleh sutu kombinasi pembelanjaan yang paling efektif. Alternatif pendanaan yang yang dilakukan oleh perusahaan berasal dari penggunaan hutang.
Kebijakan hutang perusahaan merupakan tindakan manajemen perusahaan yang akan mendanai perusahaan dengan menggunakan modal yang berasal dari hutang. Menurut Brigham dan Houston (2012:78) kebijakan hutang merupakan kebijakan mengenai keputusan yang diambil perusahaan untuk menjalankan operasionalnya dengan menggunakan hutang keuangan atau finacial leverage.
Kebijakan pengambilan hutang yang diambil oleh perusahaan berkaitan dengan kemampuan perusahaan dalam pengembalian hutangnya. Disisi lain, penambahan hutang akan meningkatkan tingkat risiko atas arus pendapatan perusahaan.
Semakin besar hutang maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya
perusahaan tidak mampu membayar kewajiban tetap berupa pokok dan bunga
pinjamannya. Berdasarkan Trade of Theory kenaikan hutang akan bermanfaat
jika dapat meningkatkan nilai perusahaan, artinya bahwa penambahan hutang
belum mencapai titik optimal (suatu batas optimal dari jumlah hutang yang dapat
menyebabkan nilai perusahaan tersebut maksimal). Jika manfaat hutang lebih
kecil dibandingkan dengan nilai kebangkrutan maka penambahan hutang akan
menurunkan nilai perusahaan. Kebijakan hutang pada penelitian ini diukur dengan rasio Debt to Equity Ratio (DER) yaitu rasio yang mengukur sejauh mana modal pemilik dapat menutupi hutang kepada pihak luar.
Keputusan terakhir yang mempengaruhi nilai perusahaan adalah kebijakan dividen. Dividen merupakan alasan bagi investor untuk berinvestasi disuatu perusahaan. Dimana kebijakan dividen menyangkut masalah penggunaan laba yang menjadi hak para pemegang saham. Pada dasarnya, laba tersebut bisa dibagi sebagai dividen atau ditahan untuk di investasikan kembali. Menurut Brigham dan Houston (2012), kebijakan dividen yang optimal adalah kebijakan dividen yang menciptakan keseimbangan diantara dividen saat ini dan pertumbuhan dimasa mendatang sehingga memaksimumkan harga saham perusahaan. Semakin besar dividen yang dibagikan kepada pemegang saham, maka kinerja perusahaan akan dianggap baik, dan pada akhirnya penilaian terhadap perusahaan yang tercermin melalui harga saham akan akan semakin baik pula. Dengan demikian dividen memiliki peran yang penting dalam menjelaskan nilai perusahaan. Kebijakan dividen dalam penelitian ini diukur dengan rasio Dividen Payout Ratio (DPR) yaitu rasio yang menunjukkan perbandingan dividen per lembar saham dengan laba per lembar saham.
Nilai perusahaan juga dapat ditentukan dengan profitabilitas perusahaan.
Profitabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan
keuntungan pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham tertentu (Brigham dan
Houston,2011:196). Profitabilitas yang tinggi akan mampu mempengaruhi
persepsi investor terhadap perusahaan mengenai prospek perusahaan di masa yang
6
akan datang. Karena dengan tingkat profitabilitas yang tinggi maka semakin tinggi juga minat investor terhadap saham perusahaan sehingga harga saham meningkat yang mengakibatkan nilai perusahaan juga meningkat. Profitabilitas pada penelitian ini diukur dengan rasio Return on Asset (ROA) yaitu rasio yang menunjukkan sejauh mana aset dapat menghasilkan laba bersih perusahaan.
Berikut ini disajikan data nilai perusahaan keputusan investasi (PER), kebijakan hutang (DER), kebijakan dividen (DPR) dan profitabilitas (ROA) beberapa perusahaan properti dan real estate.
Tabel 1.1
Data PBV, PER, DER, DPR dan ROA dari Beberapa Perusahaan Properti dan Real Estate yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010-2016
Perusahaan Tahun PBV PER
(%)
DER (%)
DPR (%)
ROA (%) Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) 2010 2,22 16,91 1,07 24,78 6,33 2011 2,95 13,66 1,16 18,20 10,01 2012 2,49 9,86 1,31 24,78 11,11 2013 1,58 9,50 1,71 24,78 6,17 2014 1,73 9,35 1,66 11,69 6,95 2015 1,02 9,85 1,83 24,78 3,67 2016 0,96 13,55 1,81 5,78 2,58 Agung Podomoro Land Tbk (APLN) 2010 1,87 19,25 0,84 9,93 3,20 2011 1,43 12,37 1,15 21,20 6,35 2012 1,18 9,22 1,39 17,68 5,54 2013 0,61 5,18 1,73 14,45 4,73 2014 0,81 8,06 1,80 16,17 4,15 2015 0,75 8,05 1,71 36,22 4,55 2016 0,43 6,44 1,58 46,04 3,74 Ciputra Development Tbk (CTRA) 2010 1,08 20,59 0,43 26,47 2,75 2011 1,60 25,71 0,76 28,57 2,82 2012 2,17 20,51 1,17 24,78 3,92 2013 1,16 11,72 1,06 24,78 7,03 2014 1,94 14,37 1,60 24,78 7,71 2015 1,96 17,38 1,57 22,62 7,18
Lanjutan Tabel 1.1
Perusahaan Tahun PBV PER
(%)
DER (%)
DPR (%)
ROA (%) Ciputra Development Tbk (CTRA) 2016 1,44 23,84 1,03 24,78 4,03 Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) 2010 2,57 39,93 0,70 26,62 3,37 2011 2,50 20,40 0,66 24,78 6,58 2012 1,83 14,97 0,59 24,78 7,68 2013 1,68 8,39 0,68 9,75 12,87 2014 1,80 8,54 0,52 7,10 14,20 2015 1,57 16,01 0,63 13,34 5,66 2016 1,39 18,83 0,57 5,36 7,05 Sumber: Data diolah
Berdasarkan pada Tabel 1.1 maka dapat dilihat Gambar 1.1 berikut ini:
Sumber: www.idx.com, 2018 (Data Diolah)
Gambar 1.1
Nilai Perusahaan (PBV) dari Beberapa Perusahaan Properti dan Real Estate yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010-2016
Berdasarkan Gambar 1.1 dapat dilihat bahwa nilai perusahaan yang dihitung dengan rasio PBV dari beberapa perusahaan yaitu Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), Agung Podomoro Land Tbk (APLN), Ciputra Development Tbk (CTRA) dan Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) mengalami penurunan di tahun 2010-2016 pada Bursa Efek Indonesia. Hal tersebut bisa saja diakibatkan oleh penurunan ekuitas yang sangat mungkin merupakan indikasi perusahaan merugi.
Jika terus menerus perusahaan rugi maka, bukan tidak mungkin ekuitas perusahaan akan bernilai negatif sehingga price book value nya (PBV) pun negatif. Selain itu bisa juga disebabkan menurunnya kualitas dan kinerja fundamental emiten yang bersangkutan.
Selanjutnya berdasarkan Tabel 1.1 tersebut dapat kita lihat grafik dibawah ini:
8
Sumber: www.idx.com, 2018 (Data Diolah)
Gambar 1.2
Keputusan Investasi (PER) dari Beberapa Perusahaan Properti dan Real
Estate yang Tedaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2016Berdasarkan Gambar 1.2 diketahui bahwa Price Earning Ratio (PER) Perusahaan Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) meningkat pada tahun 2015-2016 tetapi nilai perusahaannya menurun. Price Earning Ratio (PER) Agung Podomoro Land Tbk (APLN) meningkat pada tahun 2012-2013 tetapi nilai perusahaannya menurun. Price Earning Ratio (PER) Ciputra Development Tbk (CTRA) meningkat pada tahun 2015-2016 tetapi nilai perusahaannya menurun.
Price Earning Ratio (PER) Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) meningkat pada tahun 2014-2015 tetapi nilai perusahaannya menurun. Hal ini tidak sesuai dengan yang dinyatakan dalam Signalling Theory yang menyatakan bahwa pengeluaran investasi tinggi memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang, sehingga meningkatkan harga saham sebagai indikator nilai perusahaan (Brigham dan Houston, 2012).
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
ASRI APLN CTRA BSDE
Keputusan keuangan kedua yaitu kebijakan hutang. Kebijakan hutang beberapa perusahaan properti dan real estate dapat kita lihat pada grafik.
Berdasarkan Tabel 1.1, maka dapat dilihat Grafik 1.3 berikut ini:
Sumber: www.idx.com, 2018 (Data Diolah)
Gambar 1.3
Kebijakan Hutang (DER) dari Beberapa Perusahaan Properti dan Real
Estate yang Tedaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2016Berdasarkan Gambar 1.3 diketahui bahwa DER Alam Sutera Realty (ASRI) meningkat pada tahun 2011-2012 dan 2014-2015 tetapi nilai perusahaannya menurun. DER Agung Podomoro Land Tbk (APLN) meningkat pada tahun 2011-2012 dan 2013-2014 tetapi nilai perusahaan menurun. DER Ciputra Development Tbk (CTRA) menurun pada tahun 2012-2013 tetapi nilai perusahaannya meningkat. Hal ini tidak sesuai dengan Teori MM (Merton Miller dan Franco Modigliani) menyatakan bahwa peningkatan utang dapat meningkatkan nilai perusahaan apabila belum mencapai titik optimalnya, hal ini diperkuat oleh Teori Trade off yang menjelaskan bahwa penggunaan utang dapat mengurangi beban pajak
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8 2
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
ASRI APLN CTRA BSDE
10
Keputusan keuangan berikutnya adalah kebijakan dividen. Kebijakan dividen dapat kita lihat pada grafik 1.4 berikut ini.
Berdasarkan tabel 1.1, maka dapat dilihat Gambar 1.4 berikut ini:
Sumber: www.idx.com, 2018 (Data Diolah)
Gambar 1.4
Kebijakan Dividen (DPR) dari Beberapa Perusahaan Properti dan real estate yang Tedaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2016
Berdasarkan Gambar 1.4 DPR Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) meningkat pada tahun 2011-2012 dan 2014-2015 tetapi nilai perusahaannya menurun. DPR Agung Podomoro Land Tbk (APLN) meningkat pada tahun 2014-2015 tetapi nilai perusahaannya menurun. DPR Ciputra Development Tbk (CTRA) meningkat pada tahun 2015-2016 tetapi nilai perusahaanya menurun. DPR Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) meningkat pada tahun 2015-2016 tetapi nilai perusahaannya menurun. Hal ini tidak sesuai dengan Bird in the Hand Theory. Teori ini dikemukakan oleh Gordon dan Lintner yang menyatakan bahwa nilai perusahaan akan dimaksimumkan dengan rasio pembayarn dividen yang tinggi. Apabila
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
ASRI APLN CTRA BSDE
kemampuan perusahaan membayar dividen tinggi, maka harga saham cenderung tinggi sehingga nilai perusahan juga tinggi karena investor menganggap bahwa risiko dividen tidak sebesar kenaikan biaya modal, sehingga investor lebih menyukai dividen daripada keuntungan yang diharapkan dari biaya modal.
Berikut data profitabilitas (ROA) beberapa perusahaan properti dan real estate yang terdaftar di Bursa efek Indonesia.
Berdasarkan Tabel 1.1, maka dapat dilihat Gambar 1.5 berikut ini:Sumber: www.idx.com, 2018 (Data Diolah)
Gambar 1.5
Profitabilitas (ROA) dari Beberapa Perusahaan Properti dan Real Estate yang Tedaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2016
Berdasarkan Gambar 1.5 diketahui bahwa ROA Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) meningkat pada tahun 2011-2012 tetapi nilai perusahaannya menurun.
ROA Agung Podomoro Land Tbk (APLN) meningkat pada tahun 201-2011 tetapi nilai perusahaannya menurun. ROA Ciputra Development TbkBumi Serpong Damai (BSDE) meningkat pada tahun 2015-2016 tetapi nilai perusahaannya menurun. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan menurut Brigham dan Houston (2012:196) yang menyatakan bahwa profitabilitas yang meningkat maka semakin
0.00 5.00 10.00 15.00
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) Agung Podomoro Land Tbk (APLN) Ciputra Development Tbk (CTRA) Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)
12
tinggi minat investor terhadap harga saham perusahaan sehingga nilai perusahaan akan meningkat juga.
Dalam penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, banyak terdapat perbedaaan (gap) yang ditemukan dalam menganalisis pengaruh keputusan investasi, kebijakan hutang, kebijakan dividen, dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan. Menurut hasil penelitian Dewi dan Farida Lina (2017) bahwa keputusan investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
Berbeda dengan hasil penelitian Herawati. T (2013) bahwa keputusan investasi berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Kebijakan hutang dalam penelitian Pertiwi.P.J (2016) mempunyai pengaruh positif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Ferina.I.S (2015) menyatakan bahwa kebijakan hutang berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Kebijakan dividen dalam penelitian Tariq. A (2016) mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Ni Luh Putu (2013) yang menyatakan bahwa kebijakan dividen berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Profitabilitas dalam penelitian Sucuachi William (2016
)mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Herawati. T (2013), yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
Berdasarkan penjelasan data diatas dan penelitian terdahulu yang terdapat
hasil yang berbeda-beda, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
kembali dengan judul “Pengaruh Keputusan Investasi, Kebijakan Hutang, Kebijakan Dividen, dan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan Properti dan Real Estate yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2016”
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apakah keputusan investasi berpengaruh terhadap nilai perusahaan properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
2. Apakah kebijakan hutang berpengaruh terhadap nilai perusahaan properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
3. Apakah kebijakan dividen berpengaruh terhadap nilai perusahaan properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
4. Apakah profitabilitas berpengaruh terhadap nilai perusahaan properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
5. Apakah keputusan investasi, kebijakan hutang, kebijakan dividen dan profitabilitas secara serempak berpengaruh terhadap nilai perusahaan properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh keputusan investasi terhadap
nilai perusahaan properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia.
14
2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh kebijakan hutang terhadap nilai perusahaan properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
4. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
5. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh keputusan investasi, kebijakan hutang, kebijakan dividen dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi calon investor
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan ketika melakukan investasi di bursa saham, guna untuk mengetahui apakah nilai perusahaan tersebut tinggi atau tidak.
2. Bagi perusahaan
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi perusahaan
dalam mengaplikasikan variabel–variabel penelitian untuk meningkatkan
nilai perusahaan serta sebagai bahan pertimbangan emiten untuk
mengevaluasi, memperbaiki, dan meningkatkan kinerja manajemen di masa
yang akan datang.
3. Bagi Peneliti
Sebagai sarana untuk menambah wawasan serta pengetahuan tentang hubungan beberapa rasio keuangan yang digunakan untuk melihat nilai perusahaan.
4. Bagi peneliti selanjutnya
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan referensi atau
bahan wacana untuk peneliti selanjutnya yang sejenis dan berkaitan.
16 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Teori Signal (Signaling Theory)
Teori signal mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan signal kepada pengguna laporan keuangan. Signal is an action taken by a firm’s managament that provides clues to investors about how managament views the firm’s prospects, Brigham dan Houston (2012:441). Signal merupakan tindakan manajemen perusahaan untuk memberikan informasi kepada manajemen mengenai kondisi perusahaan. Signal dapat berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik.
Informasi yang dilakukan oleh perusahaan merupakan hal yang penting karena pengaruhnya terhadap keputusan investasi pihak luar perusahaan.
Informasi tersebut penting bagi investor dan pelaku bisnis karena informasi pada
hakekatnya menyajikan keterangan, catatan atau gambaran, baik untuk keadaan
masa lalu, saat ini maupun masa yang akan datang bagi kelangsungan hidup
perusahaan dan bagaimana efeknya pada perusahaan. Pada waktu informasi
diumumkan dan semua pelaku pasar sudah menerima informasi tersebut, pelaku
pasar terlebih dahulu menginterpretasikan dan menganalisis informasi tersebut
sebagai signal yang bagus (good news) atau signal buruk (bad news). Jika
pengumuman informasi tersebut sebagai signal baik bagi investor, maka terjadi
perubahan dalam volume perdagangan saham.
Signaling theory menjelaskan mengapa perusahaan mempunyai dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal. Dorongan perusahaan untuk memberikan informasi karena terdapat asimetri informasi antara perusahaan dan pihak luar karena perusahaan mengetahui lebih banyak mengenai perusahaan dan prospek yang akan datang dari pihak luar (investor dan kreditor).
Kurangnya informasi bagi pihak luar mengenai perusahaan menyebabkan mereka melindungi diri mereka dengan memberikan harga yang rendah untuk perusahaan.
Salah satu jenis informasi yang diberikan oleh perusahaan yang dapat jadi signal bagi pihak luar perusahaan, terutama bagi investor adalah laporan tahunan.
Informasi yang diungkapkan dalam laporan tahunan dapat berupa informasi yang berkaitan dengan laporan keuangan dan informasi yang tidak berkaitan dengan laporan keuangan. Laporan tahunan hendaknya memuat informasi yang relevan dan mengungkapkan informasi yang dianggap penting untuk diketahui oleh pengguna laporan baik pihak dalam maupun luar perusahaan. Semua investor memerlukan informasi untuk mengevaluasi risiko relatif setiap perusahaan sehingga dapat melakukan diversifikasi portofolio dan kombinasi investasi dengan preferensi risiko yang diinginkan. Jika suatu perusahaan ingin sahamnya dibeli oleh investor maka perusahaan harus melakukan pengungkapan laporan keuangan secara terbuka dan transparan.
2.1.2 Teori Keagenan ( Agency Theory)
Teori keagenan merupakan konsep yang menjelaskan hubungan
kontraktual antara principals dan agents. Pihak principals adalah pihak yang
memberikan mandat kepada pihak lain, yaitu agents untuk melakukan semua
18 kegiatan atas nama principals dalam kapasitasnya sebagai pengambil keputusan.
Dalam hubungan keagenan manajer sebagai pihak yang memiliki akses langsung terhadap informasi perusahaan, memiliki asimetris informasi terhadap pihak eksternal perusahaan, seperti kreditor dan investor.
Masalah keagenan antara pemegang saham dengan manajer terjadi apabila manajer tidak memiliki saham mayoritas perusahaan sehingga manajer cenderung bertindak untuk mengejar kepentingan dirinya dan sudah tidak berdasarkan maksimalisasi nilai dalam pengambilan keputusan pendanaan. Kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari pemisahan fungsi pengelola dengan fungsi kepemilikan, manajemen tidak menanggung risiko atas kesalahan dalam mengambil risiko, risiko tersebut sepenuhnya ditanggung pemegang saham (principals). Oleh karena itu, manajemen cenderung melakukan pengeluaran yang bersifat konsumtif dan tidak produktif untuk kepentingan pribadinya, seperti peningkatan gaji dan status. Pemegang saham menginginkan manajemen bekerja dengan tujuan memaksimumkan kemakmuran pemegang saham sebaliknya manajer bisa saja bertindak tidak untuk memaksimumkan kemakmuran pemegang saham tetapi memaksimumkan kemakmuran diri sendiri, Syahyunan (2013:5).
Perbedaaan kepentingan tersebut sering sekali membuat beberapa informasi tidak diungkapkan oleh pihak manajemen kepada pihak pemegang saham.
Untuk memperkecil asimetris informasi, maka pengelolaan perusahaan harus diawasi dan dikendalikan untuk memastikan bahwa pengelolaan dilakukan dengan penuh kepatuhan kepada berbagai peraturan dan ketentuan yang berlaku.
Upaya ini menimbulkan apa yang disebut sebagai agency cost, yang menurut teori
ini harus dikeluarkan sedemikian rupa sehingga mengurangi biaya yang timbul.
Menurut Machowicz dan Horne (2008:460), agency cost mencakup biaya untuk pengawasan oleh pemegang saham, biaya yang dikeluarkan oleh manajemen untuk menghasilkan laporan yang transparan, serta biaya audit yang independen dan pengendalian internal. Pengawasan secara total terhadap kegiatan para manajer akan memecahkan masalah keagenan, tetapi dibutuhkan biaya yang mahal dan terkadang kurang efisien. Solusi yang lebih baik adalah memberi satu paket kompensasi berupa gaji tetap ditambah dengan bonus kepemilikan perusahaan jika kinerja mereka baik.
Masalah keagenan juga dapat terjadi antara manajemen dan kreditur atau pemegang obligasi. Konflik antara mereka akan muncul jika manajemen mengambil proyek yang berisiko besar dan juga ketika perusahaan meningkatkan jumlah hutang mencapai tingkatan yang lebih tinggi. Tindakan tersebut akan meningkatkan risiko financial perusahaan dan selanjutnya akan menurunkan nilai pasar hutang yang belum jatuh tempo sehingga kreditur atau pemegang saham akan dirugikan.
2.1.3 Nilai Perusahaan
Secara normatif, tujuan dari keputusan keuangan adalah untuk
memaksimumkan nilai perusahaan. Menurut Husnan (2010:64), nilai perusahaan
adalah harga sebuah saham yang beredar dipasar saham yang harus dibayar oleh
investor untuk dapat memiliki sebuah perusahaan. Nilai perusahaan juga
merupakan cerminan harga per lembar saham perusahaan berdasarkan penilaian
investor di Bursa Efek. Nilai perusahaan tersebut menggambarkan kepercayaan
masyarakat terhadap perusahaan. Meningkatnya nilai perusahaan merupakan
20 sebuah prestasi dari sebuah perusahaan tersebut, karena dengan meningkatnya nilai perusahaan maka kesejahteraan para pemilik juga akan meningkat. Dengan demikian nilai perusahaan yang tinggi akan membuat pasar percaya tidak hanya pada kinerja perusahaan saat ini tapi pada prospek perusahaan di masa depan.
Apabila perusahaan diperkirakan sebagai perusahaan yang mempunyai prospek yang bagus di masa yang akan datang, nilai sahamnya akan menjadi semakin tinggi. Sebaliknya apabila perusahaan dinilai kurang mempunyai prospek maka harga sahamnya menjadi lemah.
Nilai perusahaan dapat diukur dengan rasio Price Book Value (PBV), yang berfungsi untuk mengidentifikasi saham mana yang harganya wajar, terlalu rendah (undervalued) dan terlalu tinggi (overvalued). Apabila nilai PBV <1, maka perusahaan dapat dikatakan kurang memiliki prospek yang bagus, sedangkan apabila PBV >1, maka perusahaan dapat dikatakan memiliki prospek yang bagus karena kemampuan menghasilkan laba yang tinggi.
2.1.4 Keputusan Investasi 1. Pengertian Investasi
Investasi berkaitan dengan keputusan mengalokasikan sejumlah dana, dalam
suatu waktu tertentu, pada aset tertentu, sehingga investor akan mendapatkan
pengembalian di masa yang akan datang. Menurut PSAK Nomor 13 dalam
Standar Akuntansi Keuangan per 1 Oktober 2004, investasi adalah suatu aset
yang digunakan perusahaan untuk pertumbuhan kekayaan (accretion of
whealth) melalui distribusi hasil investasi seperti bunga, royalti, dividen dan
uang sewa untuk apresiasi nilai nvestasi, atau manfaat yang diperoleh melalui
hubungan perdagangan, lebih lanjut dijelaskan tentang beberapa pengertian tentang investasi:
a. Investasi lancar adalah investasi yang dapat segera dicairkan dan dimaksudkan untuk di miliki selama setahun atau kurang dari setahun.
b. Investasi jangka panjang adalah investasi selain investasi jangka pendek.
c. Investasi properti adalah investasi pada tanah atau bangunan yang tidak digunakan atau dioperasikan oleh perusahaan yang berinvestasi atau perusahaan lain dalam grup yang sama dengan perusahaan yang berinvestasi.
d. Investasi dagang adalah investasi yang ditujukan untuk mempermudah atau mempertahankan bisnis atau hubungan dagang.
Dengan demikian, investasi dapat didefinisikan sebagai bentuk pengelolaan dan guna memberikan keuntungan dengan cara menempatkan dana tersebut pada alokasi yang diperkirakan akan memberikan tambahan keuntungan.
2. Tujuan Investasi
Untuk mencapai suatu efektivitas dan efisiensi dalam keputusan maka diperlukan ketegasan akan tujuan yang diharapkan. Begitu pula halnya dalam bidang investasi kita perlu menetapkan tujuan yang hendak dicapai. Menurut Syahyunan (2014:1) tujuan dari investasi adalah:
a. Untuk mendapatkan kehidupan yang layak di masa mendatang.
Seseorang yang bijaksana akan berpikir bagaimana meningkatkan taraf
hidupnya dari waku ke waktu atau setidaknya berusaha bagaimana
mempertahankan tingkat pendaptannya yang ada sekarang agar tidak
22 b. Mengurangi Tekanan Inflasi
Dengan melalakukan investasi dalam pemilikan perusahaan atau kegiatan investasi lainnya, seseorang dapat menghindarkan diri dari risiko penurunan nilai kekayaan akibat adanya pengaruh inflasi.
c. Dorongan untuk menghemat pajak
Dibeberapa negara, banyak melakukan kebijakan yang bersifat mendorong tumbuhnya investasi dimasyarakat melalui pemberian fasilitas perpajakan kepada masyarakat yang melakukan investasi pada bidang usaha tertentu.
3. Bentuk Investasi
Bentuk investasi yang beragam dapat dijadikan sebagai sarana investasi.
Masing-masing memiliki ciri tersendiri dan kandungan risiko dan return yang berbeda-beda. Secara umum investasi ada dua 2 bentuk yaitu:
a. Real Asset Investment (investasi nyata)
Real asset investment adalah komitmen mengikatkan aset pada sektor real dan investasi yang dilakukan dalam aset-aset yang berwujud. Seperti diketahui, istilah sektor real sering digunakan untuk menunjukkan sektor diluar keuangan, seperti perdagangan, industri, pertanian dan lain sebagainya. Dengan demikian, investasi pada sektor real adalah komitmen mengikatkan aset di luar sektor keuangan.
b. Financial Investment (investasi disektor keuangan)
Financial investment adalah komitmen untuk mengikatkan aset pada surat-surat berharga (securities), yang diterbitkan oleh penerbitnya.
Financial asset bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu langsung dan tidak
langsung. Langsung artinya investor membeli aset-aset keuangan perusahaan, tidak langsung membeli saham dari perusahaan investasi yang mempunyai portofolio aset-aset keuangan dari perusahaan lain.
4. Keputusan Investasi Perusahaan
Keputusan investasi adalah pemahaman tentang hubungan antara return yang diharapkan dengan risiko suatu investasi artinya, semakin besar risiko yang harus ditanggung, semakin besar pula tingkat return yang diharapkan.
Keputusan investasi sering dianggap sebagai keputusan terpenting dalam pengambilan keputusan manajer keuangan perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan, yaitu memaksimalkan kemakmuran pemegang saham.
Keputusan investasi menyangkut tentang keputusan alokasi dana baik dana
yang berasal dari dalam perusahaan maupun dana dari luar perusahaan pada
berbagai bentuk investasi. Aktiva jangka pendek biasanya didefinisikan
sebagai aktiva dengan jangka waktu kurang dari satu tahun atau kurang dari
satu siklus bisnis, dalam hal ini dana yang diinvestasikan pada aktiva jangka
pendek diharapkan akan diterima kembali dalam waktu dekat atau kurang
dari satu tahun dan diterima sekaligus. Keputusan investasi dimulai dengan
identifikasi peluang investasi, yang sering disebut dengan proyek investasi
modal. Manajer keuangan harus membantu perusahaan mengidentifikasikan
proyek-proyek yang menjanjikan dan memutuskan berapa banyak akan
diinvestasikan dalam tiap proyek. Keputusan investasi berhubungan langsung
dengan perusahaan, dalam artian bahwa keputusan investasi erat kaitannya
dengan kegiatan investasi yang dilakukan perusahaan. Keputusan investasi
24 yang baik akan dapat menarik investor untuk berinvestasi pada perusahaan tersebut. Keputusan investasi tidak bisa diamati secara langsung oleh pihak luar. Beberapa studi yang dilakukan dalam hubungannya dengan keputusan investasi salah satunya adalah Investment Opportunities Set (IOS) yang dikenalkan oleh Myers pada tahun 1977. IOS memberi petunjuk yang lebih luas dimana nilai perusahaan tergantung pada pengeluaran perusahaan di masa yang akan datang. Investment Opportunities Set (IOS) merupakan nilai perusahaan yang besarnya tergantung pada pengeluaran-pengeluaran yang ditetapkan manajemen di masa yang akan datang, dimana pada saat ini merupakan pilihan-pilihan investasi yang diharapkan akan menghasilkan return yang besar Proksi IOS dapat digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu sebagai berikut:
a. Proksi IOS berdasar harga (price-based proxies)
IOS berbasis harga merupakan proksi yang menyatakan bahwa prospek pertumbuhan perusahaan sebagian dinyatakan dalam harga pasar. Proksi berdasarkan anggapan yag menyatakan bahwa prospek pertumbuhan perusahaan secara parsial dinyatakan dalam harga-harga saham, dan perusahaan yang tumbuh akan memiliki nilai pasar yang lebih tinggi secara relatif untuk aktiva-aktiva yang dimiliki (asset in place) dibandingkan perusahaan yang tidak tumbuh.
b. Proksi IOS berdasar investasi (investment-based proxies)
Proksi IOS berbasis pada investasi merupakan proksi yang percaya pada
gagasan bahwa suatu level kegiatan investasi yag tinggi berkaitan secara
positif dengan nilai IOS suatu perusahaan.
c. Proksi IOS berdasar varian (variance measures)
Proksi IOS berbasis pada varian merupakan proksi yang mengungkapkan bahwa suatu opsi akan menjadi lebih bernilai jika menggunakan variabilitas ukuran untuk memperkirakan besarnya opsi yang tumbuh, seperti variabilitas return yang mendasari peningkatan aktiva.
Proksi IOS yang dapat digunakan untuk mengukur keputusan investasi perusahaan adalah price earning ratio (PER). Price earning ratio (PER) merupakan rasio yang menunjukkan perbandingan antara harga per lembar saham (closing price) dengan laba per lembar saham (earning per share).
Menurut signalling theory pengeluaran investasi tinggi memberikan signal positif tentang pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang, sehingga meningkatkan harga saham sebagai indikator nilai perusahaan (Brigham dan Houston, 2012).
2.1.5 Kebijakan Hutang 1. Pengertian Hutang
Hutang adalah semua kewajiban keuangan perusahaan kepada pihak-pihak
lain yang belum terpenuhi, dimana hutang ini merupakan sumber dana atau
modal suatu perusahaan. Hutang menunjukkan sumber modal yang berasal
dari kreditur dengan jangka waktu tertentu dimana pihak perusahaan wajib
membayar kembali atau wajib memenuhi tagihan yang berasal dari pihak luar
perusahaan tersebut. Pemenuhan kewajiban ini dapat berupa pembayaran
uang, penyerahan barang atau jasa kepada pihak yang telah memberikan
pinjaman kepada perusahaan. Dalam pengambilan keputusan mengenai
26 hutang, harus dipertimbangkan besarnya biaya tetap berupa bunga yang akan menyebabkan meningkatnya hutang.
2. Kebijakan Hutang Perusahaan
Menurut Brigham dan Houston (2012:120), kebijakan hutang adalah keputusan yang diambil oleh perusahaan apakah menggunakan modal yang berasal dari hutang. Sebagian perusahaan menganggap bahwa penggunaan hutang dirasa lebih aman dari pada menerbitkan saham baru. Dengan demikian semakin tinggi kebijakan hutang yang dilakukan, maka semakin tinggi nilai perusahaan dengan catatan laba perusahaan selalu meningkat.
Kebijakan hutang dalam penelitian ini diukur dengan mengguDebt to Equity Ratio (Brigham dan Houston, 2012:120) yang didapat dari membagi total hutang perusahaan dengan total ekuitasnya (modal awal). Hutang merupakan salah satu sumber pembiayaan eksternal yang digunakan oleh perusahaan untuk membiayai kebutuhan dananya. Dalam pengambilan keputusan akan penggunaan hutang ini harus mempertimbangkan besarnya biaya tetap yang muncul dari hutang berupa bunga yang akan menyebabkan semakin meningkatnya leverage keuangan dan semakin tidak pastinya tingkat pengembalian bagi para pemegang saham biasa.
3. Teori Kebijakan Hutang
Berikut ini beberapa teori kebijakan hutang yang menyangkut atau berhubungan dengan nilai perusahaan:
a. Teori Miller dan Modigliani
Teori ini menyatakan bahwa peningkatan hutang dapat meningkatkan
nilai perusahaan apabila belum mencapai titik optimalnya. Sejauh
pembayaran bunga bisa dipergunakan untuk mengurangi pajak, maka penggunaan hutang memberikan manfaat bagi pemilik perusahaan yang akan meningkatkan nilai perusahaan (Brigham dan Houston, 2012).
b. Tradeoff Theory
Teori ini menganggap bahwa penggunaan hutang 100% sulit dijumpai.
Tetapi pada titik tertentu penggunaan hutang dapat meningkatkan nilai perusahaan. Penggunaan hutang lebih disukai perusahaan karena biaya yang dikeluarkan lebih murah dibandingkan dengan biaya penerbitan saham. Penggunaan hutang dapat mengurangi biaya pajak dan biaya agensi perusahaan.
2.1.6 Kebijakan Dividen 1. Pengertian Dividen
Dividen merupakan salah satu tujuan kenapa seseorang atau organisasi
melakukan investasi. Dividen adalah bagian dari keuntungan perusahaan
yang dibagikan kepada pemilik saham. Pemegang saham selalu berharap
memperoleh pembayaran dividen atas penyertaan modalnya dalam suatu
perusahaan. Pemegang saham biasa memperoleh pembayaran dividen secara
periodik yang besarnya telah ditentukan sebelumnya atau telah ditentukan
dalam kebijakan dividen perusahaan tersebut. Menurut Syahyunan
(2015:314), ”Kebijakan dividen adalah keputusan apakah laba yang diperoleh
perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen
atau akan ditahan sebagai laba di tahan untuk menambah modal perusahaan
guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang”. Wachowicz dan
28 Horne (2008:270) menyatakan kebijakan dividen adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam keputusan pendanaan. Apabila perusahaan memutuskan akan membagikan laba perusahaan sebagai dividen, maka akan mengurangi kesempatan perusahaan dalam mendapatkan modal internal
Dividen yang diterima oleh pemegang saham secara tunai disebut dengan dividen kas yang akan mempenagruhi persepsi penanam modal terhadap perusahaan.
2. Kebijakan Dividen Perusahaan
Kebijakan dividen mengacu kepada pilihan perusahaan apakah akan membagikan dividen dalam bentuk kas ataupun dalam bentuk pilihan yang lainnya, berapa besaran dividen yang akan dibagikan dan seberapa sering dividen akan dibagikan. Menurut Syahyunan (2014:314) terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kebijakan dividen. Faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut:
a. Posisi Solvabilitas Perusahaan
Apabila perusahaan dalam kondisi solvabilitasnya kurang menguntungkan, biasanya perusahaan tidak membagikan laba. Hal ini disebabkan laba yang diperoleh lebih banyak digunakan untuk memperbaiki posisi struktur modal perusahaan.
b. Posisi Likuiditas Perusahaan
Perusahaan membayarkan dividen berarti harus bisa menyediakan
uang kas yang cukup banyak dan ini akan menurunkan tingkat
likuiditas perusahaan. Bagi perusahaan yang kondisi likuiditasnya
kurang baik, biasanya DPRnya kecil, sebab sebagian laba digunakan
untuk menambah likuiditas.
c. Kebutuhan Untuk Melunasi Hutang
Hutang-hutang harus segera dibayar pada saat jatuh tempo. Untuk membayar hutang-hutang tersebut harus disediakan dana. Semakin banyak hutang yang harus dibayar, semakin besar dana yang harus disediakan sehingga akan mengurangi jumlah dividen yang akan dibayarkan kepada pemegang saham.
d. Rencana Perluasan
Perusahaan yang berkembang ditandai dengan semakin pesatnya pertumbuhan perusahaan, dan hal ini bisa dilihat dari perluasan yang digunakan oleh perusahaan. Semakin pesat pertumbuhan perusahaan, semakin pesat perluasan yang dilakukan. Konsekuensinya semakin besar kebutuhan dana untuk membiayai perluasan tersebut.
e. Kesempatan Investasi
Semakin terbuka kesempatan investasi, semakin kecil dividen yang dibayarkan sebab dananya digunakan untuk memperoleh kesempatan investasi. untuk membayar dividen.
f. Stabilitas Dividen
Perusahaan yang pendapatannya stabil tidak perlu menyedikan kas yang banyak untuk berjaga-jaga, sedangkan perusahaan yang pendapatannya tidak stabil harus menyediakan uang kas yang cukup besar untuk berjaga- jaga untuk pembagian dividen.
3. Indikator Kebijakan Dividen
Indikator kebijakan dividen dapat dihitung dengan menggunakan Dividend
30 Payout Ratio (DPR). Dividend Payout Ratio merupakan perbandingan antara dividen yang dibagikan dengan laba bersih yang didapatkan perusahaan.
Dividend Payout Ratio juga menentukan jumlah laba ditahan atau retained earning yang digunakan sebagai sumber pendanaan dalam perusahaan
. Rumus menghitung Dividend Payout Ratio (Bringham dan Houston, 2012) adalah:Share per Earning
Share per Dividend Ratio
Payout
Dividend