• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRODI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR TAHUN 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PRODI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR TAHUN 2020"

Copied!
152
0
0

Teks penuh

(1)

i

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS MELALUI P E N E R A P A N KE G I A T A N M E M B E N T U K P O L A D E N GA N PLAYDOUGH PADA

ANAK USIA 4-5 TAHUN DI KELOMPOK A RA AISYIYAH KAMPUNG DAENG DESA SENGKA KECEMATAN BONTONOMPO

SELATAN KABUPATEN GOWA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Pada Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh : HARDIANTI NIM 105450007715

PRODI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR TAHUN 2020

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR Jl. Sultan Alauddin Telp. (0411) 860 132 Makassar 90221

SURAT PERNYATAAN

Saya bertanda tangan di bawah ini:

Nama : HARDIANTI

NIM : 105450007715

Program Studi : Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas : Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

Judul Skripsi : Meningkatan Kemampuan Motorik Halus melalui Penerapan Kegiatan Membentuk Pola dengan Playdough pada Anak Usia 4-5 Tahun Di Kelompok A RA AISYIYAH Kampung Daeng Desa Sengka Kec. Bontonompo Selatan Kab. Gowa Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya saya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuaRAan oleh siapapun.

Demikian pernyataan ini saya buat dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Bontonompo, Desember 2019 Yang Membuat Pernyataan

Hardianti

(5)

v

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

Jl. Sultan Alauddin Telp. (0411) 860 132 Makassar 90221

SURAT PERJANJIAN

Saya bertanda tangan di bawah ini:

Nama : HARDIANTI

NIM : 105450007715

Program Studi : Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas : Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai skripsi ini, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).

2. Dalam menyusun skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.

3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (plagiat) dalam penyusunan skripsi.

4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3 saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.

Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.

Bontonompo, Desember 2019 Yang Membuat Pernyataan

Hardianti

(6)

vi

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Jadilah seperti karang di lautan yang kuat dihantam ombak dan kerjakanlah hal yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain, karena hidup hanyalah sekali. Ingat hanya pada Allah apapun dan di manapun kita berada kepada Dia-lah tempat kita memohon.

Penulis Persembahkan Kepada :

Ayah dan Ibu Tercinta, saudaraku, keluarga dan sahabatku

(7)

vii

ABSTRAK

HARDIANTI, 2019. Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus melalui Kegiatan Membentuk Pola dengan Playdough Pada Anak Usia 4-5 Tahun Di Kelompok A RA Aisyiyah Kampung Daeng Desa Sengka Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa. Skripsi. Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Tasrif Akib dan Pembimbing II Sri Sufliati Romba.

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kemampuan motorik halus melalui kegiatan membentuk dengan playdough pada anak usia 4-5 tahun di RA Aisyiyah Kampung Daeng Desa Sengka Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa.

Jenis penelitian ini ialah penelitian tindakan kelas (Class Action Research) yang terdiri dari dua siklus dimana setiap siklus dilaksanakan sebanyak 3 kali pertemuan. Prosedur penelitian meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini ialah anak didik Kelompok A RA Aisyiyah Kampung Daeng Desa Sengka Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa. Sebanyak 15 Anak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I dari 15 anak,.

Peningkatan kemampuan anak dalam membentuk pola melalui playdough dalam pelaksanaan siklus I memperoleh nilai rata-rata diperoleh ialah 49.4% dengan kriteria Mulai Berkembang (MB). Sedangkan pada siklus II dimana dari 15 anak diperoleh nilai rata-rata 77.5% dengan kriteria Berkembang Sesuai Harapan (BSH).

Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas, dapat disimpulkan kemampuan motorik halus melalui kegiatan membentuk dengan playdough pada anak usia 4-5 tahun di RA Aisyiyah Kampung Daeng Desa Sengka Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa mengalami peningkatan

Kata kunci : Kemampuan motorik halus melalui kegiatan membentuk playdough

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah Swt. atas segala nikmat dan karunia-Nya, Tuhan Maha Penyayang. Demikian kata untuk mewakili atas segala nikmat-Nya. Jiwa ini takkan henti bersyukur atas anugerah pada detik waktu, denyut jantung, dan gerak langkah pada-Nya, Sang Khalik. Dan salam penulis curahkan kepada Rasulullah Muhammad Saw, Sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal yang berjudul "Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Penerapan Kegiatan Membentuk Pola dengan Playdough Pada Anak Usia 4-5 Tahun di Kelompok A RA Aisyiyah Kampung Daeng Desa Sengka Kec. Bontonompo Selatan Kab. Gowa" walaupun jauh dari kata sempurna. Segala daya dan upaya telah penulis kerahkan untuk membuat tulisan ini dengan baik dan bermanfaat dalam dunia pendidikan khususnya dalam lingkup Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam perampungan tulisan ini. Oleh karena itu segala rasa hormat penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada kedua orang tua tercinta, Ayahanda tercinta Sikwan dengan Ibunda Jumatia, yang telah mengasuh, mendoakan, memotivasi, dan mencintai penulis hingga sekarang. Kepada saudaraku yang tak pernah berhenti memberikan bantuan moril, doa, dan semangat yang luar biasa selama ini menjadi tempat berbagi suka dan duka. Air mata dan senyum yang kalian hadiahkan akan menjadi

(9)

ix

kisah terindah akan selalu penulis rindukan. Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada; Prof. Dr Rahman Rahim, SE., MM selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Erwin Akib, M.Pd., P.hD selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, dan Tasrif Akib, S.Pd., M.Pd selaku ketua Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini serta seluruh dosen dan para staf pegawai dalam lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan serangkaian ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi penulis.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kepala sekolah dan guru RA Ayang telah membantu dan member izin kepada penulis untuk melakukan penelitian. Kepada sahabat dan teman-teman di PG-PAUD Angkatan 2015 yang selalu memberikan motivasi, saran dan bantuannya kepada penulis

Teristimewa, penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang tulus kepada kedua orang tua tercinta, Ayahanda tercinta Sikwan dengan Ibunda Jumatia, yang telah mengasuh, mendoakan, memotivasi, dan mencintai penulis hingga sekarang. Kepada saudaraku yang tak pernah berhenti memberikan bantuan moril, doa, dan semangat yang luar biasa selama ini menjadi tempat berbagi suka dan duka. Air mata dan senyum yang kalian hadiahkan akan menjadi kisah terindah akan selalu penulis rindukan. Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada keluargaku yang selalu memberi semangat, doa dan motivasi yang sangat luar biasa. Kepada Tasrif Akib, S.Pd., M.Pd dan Sri Sufliati Romba, S.Pd., M.Pd sebagai pembimbing I dan pembimbing II yang telah memberikan

(10)

x

bimbingan, motivasi dan banyak ilmu sejak awal penyusunan proposal hingga skripsi.

Semoga segala kebaikan yang diberikan dari semua pihak mendapat balasan dari Allah SWT. Skripsi ini tidak lepas dari kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan Penulis berharap skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak.

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Makassar, Desember 2019

Penulis

(11)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MOTTO ... vi

ABSTRAK ... vii

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Masalah Penelitian ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 6

A. Kerangka Teori ... 6

1. Hasil penelitian relevan... 6

2. Motorik ... 7

3. Karakteristik Anak Usia 4-5 Tahun ... 16

4. Kegiatan Membentuk dengan Playdough ... 17

B. Kerangka Pikir ... 24

C. Hipotesis Tindakan ... 26

(12)

xii

BAB III METODE PENELITIAN ... 27

A. Jenis Penelitian... 27

B. Lokasi dan Subjek Penelitian ... 27

C. Faktor yang diselidiki ... 28

D. Prosedur Penelitian ... 29

E. Instrumen Penelitian ... 31

F. Teknik Pengumpulan Data ... 33

G. Teknik Analisis Data... 34

H. Indikator Keberhasilan ... 35

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 37

A. Hasil Penelitian ... 37

1. Pemaparan Siklus I ... 37

2. Pemaparan Siklus II ... 58

B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 80

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 82

A. Simpulan ... 82

B. Saran ... 83

DAFTAR PUSTAKA ... 85 LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.1 Hasil Penelitian Relevan ... 6

3.2 Kriteria Penilaian Anak ... 32

3.3 Kategori Penilaian Harian Belajar ... 32

4.1 Observasi Guru Siklus I Pertemuan I ... 44

4.2 Observasi Anak Didik Siklus I Pertemuan I ... 45

4.3 Observasi Guru Siklus I Pertemuan 2 ... 46

4.4 Observasi Anak Didik Siklus I Pertemuan 2 ... 47

4.5 Observasi Guru Siklus I Pertemuan 3 ... 49

4.6 Observasi Anak Didik Siklus I Pertemuan 3 ... 50

4.7 Hasil Observasi Anak Didik Siklus I Pertemuan1, 2, 3 ... 52

4.9 Observasi Guru Siklus II Pertemuan I ... 65

4.10 Observasi Anak Didik Siklus II Pertemuan I ... 66

4.11 Observasi Guru Siklus II Pertemuan 2 ... 68

4.12 Observasi Anak Didik Siklus II Pertemuan 2 ... 69

4.13 Observasi Guru Siklus II Pertemuan 3 ... 71

4.14 Observasi Anak Didik Siklus II Pertemuan 3 ... 72

4.15 Hasil Observasi Anak Didik Siklus II Pertemuan1, 2, 3 ... 74

(14)

xiv

DAFTAR GRAFIK

Tabel Halaman

4.8 Rekapitulasi Hasil Observasi Anak Didik Siklus I ... 52 4.16 Rekapitulasi Hasil Observasi Anak Didik Siklus II ... 75

(15)

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1 Kerangka Pikir ... 25 3.1 Prosedur Penelitian... 29

(16)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Surat Izin penelitian

2. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian

3. Daftar Nama Anak Didik Kelompok A RA Aisyiyah Kampung Daeng 4. Lembar observasi (Cheklist). Instrumen penilaian Anak dan Instrumen

penilaian guru

5. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) 6. Data Lengkap Hasil Penelitian

7. Dokumentasi Kegiatan Pembelajaran

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan prasekolah merupakan pendidikan yang membantu pertumbuhan dan perkembangan anak, baik jasmani maupun rohani. Masa kanak- kanak merupakan masa yang sangat penting untuk mendasari pemahaman terhadap perubahan dan perkembangan sikap dan perilaku, pengetahuan dan kecerdasan, dan bahasa. Warga Negara berhak mendapatkan pendidikan, tidak terkecuali bagi anak usia dini, di mana pendidikan tersebut dapat mengembangkan potensi dan memberikan pondasi yang kokoh sehingga kemampuan anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Salah satu tujuan bangsa Indonesia yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa”, di mana setiap warga negara atau manusia berhak mendapatkan pendidikan.

Pemerintah mewujudkan tujuan bangsa Indonesia tersebut dengan membuat UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) BAB 1 Pasal 1 Ayat (14) di sebutkan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang di tujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan 6 tahun yang di lakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Masa usia dini adalah masa emas perkembangan anak di mana semua aspek perkembangan dapat mudah distimulasi. Periode emas ini hanya berlangsung satu kali sepanjang rentang kehidupan manusia. Salah satu

(18)

perkembangan anak usia dini yang dapat dengan mudah distimulasi yaitu perkembangan motorik halus.

Motorik halus merupakan salah satu aspek perkembangan yang sangat penting untuk di berikan rangsangan atau stimulasi, karena motorik anak sangat penting untuk tumbuh kembangnya di masa yang akan mendatang. Salah satu alternatif yang dapat di gunakan oleh guru untuk memberikan stimulasi motorik halus kepada anak yaitu melalui kegiatan membentuk.

Salah satu kegiatan yang perlu di kembangkan yaitu meningkatkan kemampuan motorik halus melalui penerapan kegiatan membentuk.

Perkembangan motorik ini erat kaitannya dengan perkembangan pusat motorik di otak. Keterampilan motorik berkembang sejalan dengan kematangan saraf dan otot. Oleh sebab itu setiap gerakan yang di lakukan anak sesederhana apapun sebenarnya merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang di kontrol otak.

Dengan di laksanakannya kegiatan membentuk menggunakan playdough ini di harapkan dapat mengatasi masalah yang ada pada anak yang kemampuan motorik halusnya masih kurang. Anak yang memiliki kemampuan motorik halus yang masih kurang akan membuat anak susah dalam hal memainkan jari- jemarinya untuk melakukan aktivitas seperti: menggambar, menulis, menggunting, mengancing baju sendiri, membentuk dan menggambar.

(19)

3

Berdasarkan hasil observasi yang di lakukan pada kelompok A RA Aisyiyah Kampung Daeng Desa Sengka Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa. Pada tanggal 9 sampai 12 April 2019. Anak usia 4-5 Tahun memiki kemampuan mengenal, membedakan berbagai objek berdasarkan bentuk dan warna. Penulis melihat dalam hal perkembangan kemampuan keterampilan motorik halus yang masih rendah yang di sebabkan oleh penggunaan media pembelajaran yang sangat terbatas. terdapat 11 anak di antara 15 anak belum mampu membuat bentuk pola sesuai dengan ukuran. Penulis melihat pada saat pengamatan berlangsung anak masih belum bisa mengontrol gerakan tangan yang menggunakan otot halus, misalnya menggenggam dan menekan menggunakan telapak tangan saat kegiatan menjumput dan meremas. Saat anak di berikan kesempatan untuk membentuk pola, anak masih belum mampu membuat bentuk pola sesuai dengan ukuran. Terkait dengan berbagai masalah tersebut, perlu adanya perbaikan di dalam pembelajaran yang diharapkan mampu mengoptimalkan perkembangan motorik halus anak, khususnya dalam membentuk.

Dari latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk mengangkat judul penelitain “Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus melalui Penerapan Kegiatan Membentuk Pola dengan Playdough Pada Anak Usia 4-5 Tahun Di Kelompok A RA Aisyiyah Kampung Daeng Desa Sengka Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa”.

(20)

B. Masalah Penelitian 1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat di identifikasi masalah berikut:

a. Anak belum mampu mengontrol gerakan tangan.

b. Anak belum mampu membuat bentuk sesuai dengan ukuran.

c. Anak juga masih sulit menuangkan ide.

d. kegiatan membentuk menggunakan playdough masih sangat jarang digunakan oleh guru.

Hal inilah yang mengakibatkan rendahnya kemampuan motorik halus melalui kegiatan membentuk di RA Aisyiyah Kampung Daeng Desa Sengka Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa.

2. Alternatif Pemecahan Masalah

Masalah tentang rendahnya kemampuan motorik halus pada anak melalui kegiatan membentuk dengan playdough akan di pecahkan melalui kegiataan penerapan membentuk.

3. Rumusan Masalah

Berdasarkan alternatif pemecahan masalah di atas maka dapat di rumuskan “Bagaimana meningkatkan kemampuan motorik halus melalui kegiatan membentuk dengan playdough pada anak usia 4-5 tahun di RA Aisyiyah Kampung Daeng Desa Sengka Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa?”.

(21)

5

4. Pemecahan Masalah

Masalah tentang rendahnya kemampuan motorik halus pada anak melalui kegiatan membentuk dengan playdough akan di pecahkan melalui penerapan kegiatan membentuk.

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan keterampilan motorik halus melalui kegiatan membentuk dengan playdough pada anak di Kelompok A di RA Aisyiyah Kampung Daeng Desa Sengka Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu: di harapkan dapat bermanfaat bagi anak, guru, sekolah dan peneliti.

1. Manfaat bagi anak : Pemberian kegiatan membentuk dapat melatih keterampilan motorik halus anak di RA Aisyiyah Kampung Daeng Desa Sengka Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa.

2. Manfaat bagi Guru : Di harapkan dapat menyajikan kegiatan yang bervariasi sehingga akan memotivasi anak untuk mengikuti kegiatan, selain itu kegiatan membentuk dapat di gunakan untuk mengembangkan motorik halus.

3. Manfaat bagi Sekolah : Sebagai bahan informasi yang bermanfaat dalam rangka usaha peningkatan mutu pendidikan pada umumnya.

4. Manfaat bagi Peneliti : Menambah pengetahuan dan wawasan khususnya dalam mengembangkan motorik halus.

(22)

6 BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

A. Kajian Pustaka

1. Hasil Penelitian Relevan

Ada beberapa peneliti terdahulu yang relevan atau berhubungan dengan penelitian yang di lakukan peneliti yaitu, sebagai berikut:

a. Peneliti oleh Ryska Erliansyah (2016), dengan judul “Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Membentuk dengan Playdough Anak Usia 4-5 Tahun di TK Ibnul Qoyyim Berbah Sleman.”

b. Penelitian oleh Heni Primasari (2013), berjudul “Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Membentuk Menggunakan Media Tanah Liat di Kelompok A TK Gita Insani Sleman.”

Beberapa penelitian terdahulu di atas memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang akan di lakukan peneliti, antara lain yaitu:

No Judul Penelitian Perbedaan Persamaan

1. Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Melalui

Kegiatan Membentuk dengan Playdough Anak Usia 4-5 Tahun di TK Ibnul

Qoyyim Berbah Sleman

Penelitian ini akan meningkatkan kemampuan motorik

halus anak melalui kegiatan membentuk

pola segitiga, segiempat dan lingkaran dengan

menggunakan playdough, peneliti

ini meningkatkan kemampuan motorik

halus anak melalui

Sama-sama meningkatkan

kemampuan motorik halus melalui kegiatan membentuk dengan

playdough

(23)

7

kegiatan membentuk playdough kegiatan

membentuk 2. Meningkatkan Kemampuan

Motorik Halus melalui Kegiatan Membentuk Menggunakan Media Tanah

Liat di Kelompok A TK Gita Insani Sleman

Peneliti melakukan kegiatan membentuk

pola segitiga, segiempat dan lingkaran dengan

menggunakan playdough, Peneliti

itu melakukan kegiatan membentuk menggunakan media

tanah liat

Sama-sama meningkatkan kemampuan motorik halus

2. Motorik

a. Pengertian Perkembangan Motorik

Perkembangan motorik berarti perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot yang terkoordinasi.

Perkembangan tersebut berasal dari perkembangan refleksi dan kegiatan massa yang ada pada waktu lahir. Sebelum perkembangan tersebut terjadi, anak akan tidak berdaya. Kondisi ketidak berdayaan tersebut berubah secara cepat. 4 atau 5 tahun pertama kehidupannya, anak dapat mengendalikan gerakan kasar. Gerakan tersebut melibatkan bagian tubuh yang digunakan untuk berjalan, berlari, berenang dan sebagainya. Setelah berusia 5 tahun koordinasi otot-otot tubuhnya semakin baik yang melibatkan kelompok otot yang lebih kecil, yang digunakan untuk menggenggam, melempar, menangkap bola, menulis dan menggunakan alat. Aisyah, dkk. (2007:4.35).

(24)

Berkembangnya kemampuan motorik di tentukan oleh dua faktor yaitu faktor pertumbuhan dan faktor perkembangan. Kemampuan motorik terbagi menjadi dua yaitu motorik kasar dan motorik halus.

a. Pengertian Motorik Kasar

Menurut Rohendi dan Laurens Seba (2007:119), menjelaskan bahwa

“perkembangan motorik kasar adalah perkembangan gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar (big muscle) atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan”.

Musfiroh (2012:113), “motorik kasar adalah kemampuan gerak tubuh yang menggunakan otot-otot besar, sebagian besar atau seluruh anggota tubuh. Motorik kasar diperlukan agar anak dapat duduk, menendang, berlari, naik turun tangga dan sebagainya. Perkembangan motorik kasar anak lebih dulu daripada motorik halus, misalnya memegang benda-benda yang ukuran besar daripada ukuran kecil, karena anak belum mampu mengontrol gerakan jari-jari tangannya untuk kemampuan motorik halusnya, seperti meronce, menggunting dan lain-lain”.

Berdasarkan uraian di atas, dapat di simpulkan bahwa motorik kasar merupakan gerakan yang dikendalikan oleh seluruh tubuh yang meliputi otot-otot besar. Dengan demikian yang dimaksud motorik kasar dalam penelitian adalah kemampuan yang membutuhkan koordinasi bagian tubuh seperti tangan dan aktivitas otot kaki.

b. Pengertian Motorik Halus

Perkembangan motorik halus adalah perkembangan gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot kecil serta koordinasi mata dan tangan. Gerakan motorik halus berkaiatan dengan kegiatan meletakkan atau memegang suatu objek dengan menggunakan jari tangan. Usia 4 tahun menurut Aep Rohendi (2017:118) adalah :

(25)

9

Koordinasi gerakan motorik halus anak sangat berkembang bahkan hampir sempurna, sedangkan pada usia 4-5 tahun koordinasi gerakan motorik halus berkembang pesat. Walaupun motorik halus pada anak berkembang di usia 4 tahun masa ini anak telah mampu mengkoordinasikan gerakan visual motorik seperti mengkoordinasikan gerakan mata dan tangan, lengan dan tubuh secara bersamaan pada waktu anak menulis atau menggambar.

Menurut Elizabet B. Hurlock (1998:39), “mengemukakan bahwa perkembangan motorik halus anak adalah suatu proses kematangan yang berhubungan dengan aspek deferensial bentuk atau fungsi termasuk perubahan sosial emosional. Proses motorik adalah gerakan yang langsung melibatkan otot untuk bergerak dan proses persyaratan yang menjadikan seseorang mampu menggerakan anggota tubuhnya (tangan, kaki dan anggota tubuh)”.

Menurut M Saputra, Rutyanto (2005:118), “mengatakan bahwa motorik halus adalah kemampuan anak beraktivitas dengan menggunakan otot-otot halus (kecil) seperti menulis, meremas, menggenggam, menggambar dan menyusun balok”.

Menurut Rahyubi (2014:223), “mengatakan bahwa motorik halus adalah kemampuan anak dalam beraktivitas dengan menggunakan otot-otot halus (kecil) seperti mencoret-coret, menulis, menggunting, menggerakkan gunting, memotong sesuai garis”.

Perkembangan motorik menurut Sumantri (2005:47), “adalah proses gerak yang sejalan dengan bertambahnya usia secara bertahap dan berkesinambungan, ditandai oleh peningkatan dari arah sederhana dan belum terkoordinasi kearah kompleks yang terkoordinasi dengan baik seiring dengan proses menua”.

(26)

Berdasarkan defenisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa motorik halus adalah salah satu kegiatan yang berhubungan dengan koordinasi matan dan tangan yang melibatkan otot-otot halus untuk di kembangkan secara optimal karena akan mempengaruhi perkembanganselanjutnya.

b. Pengertian Keterampilan Motorik Halus

Sukadiyanto (2012:11), “berpendapat bahwa keterampilan motorik halus adalah aktivitas jasmani yang melibatkan kelompok otot kecil (serabut saraf/otot- otot halus) ditandai dengan unsur ketepatan, kecermatan, ketelitian, serta koordinasi”.

Harun Rasyid, Mansyur, Suratno (2012:95), “menjelaskan bahwa ada 5 keterampilan motorik halus yang meliputi: memegang, manipulasi, koordinasi dua tangan, koordinasi mata dan tangan, ketangkasan dan kekuatan. Pendapat diatas di perkuat oleh Mudjito AK, (2007:9), bahwa keterampilan motorik (motorik halus) merupakan keterampilan yang berkembang sejalan dengan kematangan saraf dan otot”.

Sumantri, (2005:143), “mengemukakan bahwa keterampilan motorik halus merupakan keterampilan-keterampilan yang memerlukan kemampuan untuk mengontrol otot-otot kecil/halus untuk mencapai pelaksanaan keterampilan yang berhasil”.

Keterampilan motorik halus adalah kemampuan mengkoordinasi gerakan otot kecil dari anggota tubuh. Keterampilan motorik halus terutama melibatkan jari tangan, dan biasanya dengan koordinasi mata. Keterampilan ini melibatkan gerakan tangan yang di atur secara halus seperti menggenggam mainan,

(27)

11

mengancingkan baju, menulis atau melakukan apapun yang memerlukan keterampilan tangan. Saat lahir, bayi masih mengalami kesulitan mengendalikan keterampilan motorik halusnya. Awalnya, bayi hanya memperlihatkan gerakan bahu dan siku yang kasar tetapi kemudian memperlihatkan gerakan pergelangan tangan, perputaran tangan, koordinasi ibu jari dan jari telunjuk tangan, serta kemampuan meraih dan menggenggam yang makin baik.

Keterampilan motorik halus mulai berkembang setelah di awali oleh kegiatan yang sangat sederhana seperti memegang pensil, memegang sendok dan mengaduk. Keterampilan motorik harus membutuhkan kemampuan yang lebih sulit misalnya konstrentasi, kontrol, kehati-hatian dan koordinasi otot tubuh dengan yang lain. Seiring dengan pertambahan usia anak, kepandaian anak akan kemampuan motorik halus semakin berkembang dan maju pesat.

Aktivitas motorik merupakan pengendalian gerakan tubuh melalui aktivitas yang terkoordinir antara susunan saraf otot, otak dan urat saraf tulang belakang. Berdasarkan jenisnya aktivitas motorik dibagi menjadi dua, yaitu aktivitas motorik kasar dan aktivitas motorik halus.

Aktivitas motorik kasar adalah keterampilan gerak atau gerakan tubuh yang memakai otot-otot besar sebagai dasar utama gerakannya. Keterampilan motorik kasar meliputi pola lokomotor (gerakan yang menyebabkan perpindahan tempat) seperti berjalan, berlari, menendang, naik turun tangga, melompat dan sebagainya. Sedangkan aktivitas motorik halus sebagai keterampilan yang memerlukan kemampuan untuk mengoordinasikan atau mengatur otot-otot kecil/halus. misalnya, berkaitan dengan gerakan mata dan tangan yang efisien,

(28)

tepat dan adaptif. Perkembangan kontrol motorik halus atau keterampilan koordinasi mata dan tangan mewakili bagian yang penting dalam perkembangan motorik. misalnya kemampuan memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret, menyusun balok, menggunting, menulis dan sebagainya. Rahyubi. (2014):222).

c. Karakteristik Keterampilan Motorik Halus

Menurut Mudjito AK (2007:6), “karakteristik perkembangan motorik halus adalah sebagai berikut: mampu mengoles mentega pada roti, mampu mengikat tali sepatu sendiri dengan sedikit bantuan, mampu membentuk dengan tanah liat atau plastisin, membangun menara yang terdiri dari 5-9 buah balok, memegang kertas dengan satu tangan dan mengguntingnya, meniru melipat kertas satu sampai dua lipatan serta mewarnai gambar sesuai minat anak”.

Menurut Mudjito AK (2007) dalam Erliansyah Ryska (2016:12).

menegaskan pula bahwa karakteristik motorik halus anak dapat dijelaskan sebagai berikut:

a) Pada usia 3 tahun, kemampuan gerakan motorik halus belum terlalu berbeda dari kemampuan gerakan pada masa bayi. meskipun anak sudah mampu menjumput benda dengan menggunakan jempol dan jari telunjuknya, namun gerakan tersebut masih kaku.

b) Pada usia 4 tahun, koordinasi motorik halus anak secara substansial mengalami kemajuan, gerakan lebih cepat dan cenderung sempurna

c) Pada usia 5 tahun koordinasi motorik halus anak sudah lebih sempurna

d) Pada usia 6 tahun anak belajar menggunakan jemari dan pergelangan tangan untuk menggerakkan ujung pensil.

(29)

13

d. Tujuan Pengembangan Keterampilan Motorik Halus

Pengembangan keterampilan motorik halus pada anak usia dini adalah gerakan yang bertujuan melatih otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih.

Kemempuan memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret, menyusun balok, menggunting, menulis dan sebagainya. Dalam program ini lembaga pendidikan anak usia dini aktivitas seperti menari, menggambar, melukis, menempel dan aktivitas lainnya yang melatih otot-otot akan membantu perkembangan motorik anak. Aisyah, dkk (2007:4.42).

Sumantri (2005:145), berpendapat bahwa “aktivitas pengembangan keterampilan motorik halus pada anak usia dini bertujuan melatih koordinasi motorik anak. Hal ini dapat mempengaruhi kesiapan anak dalam menulis.

Kemampuan daya melihat merupakan kegiatan keterampilan motorik halus yang lain. Selain itu kemampuan anak dalam melihat kearah kiri, kanan, atas dan bawah itu sangat penting bagi persiapan membaca awal”.

M.Saputra dan Rudyanto (2005:115), mengemukakan tujuan pengembangan motorik halus yaitu “mampu mengfungsikan otot-otot kecil seperti gerakan jari tangan, mengkoordinasikan kecepatan tangan dengan mata serta mengendalikan emosi”.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keterampilan motorik halus memiliki tujuan melatih motorik atau mengfungsikan gerakan jari tangan serta koordinasi mata.

(30)

e. Fungsi dan Manfaat Keterampilan Motorik Halus

Hurlock (1978: 163) mengemukakan bahwa fungsi pengembangan motorik halus adalah:

1. Melalui keterampilan motorik, anak mampu menghibur dirinya dan memperoleh perasaan senang.

2. Melalui keterampilan motorik, anak mampu beranjak dari kondisi tidak berdaya pada bulan-bulan pertama kehidupan, menuju pada kondisi yang indepenen. Anak dapat bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya.

3. Melalui keterampilan motorik, anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah. Pada usia prasekolah, anak dapat dilatih menggambar, melukis, berbaris maupun persiapan menulis.

Sienger dalam Sukadiyanto (2012:1), berpendapat bahwa “pengalaman dan praktek intensif dalam berbagai keterampilan motorik akan menghasilkan kemudahan dalam penguasaan keterampilan. Pengalaman keterampilan motorik halus di masa lalu akan bermanfaat besar dalam menjalani kehidupan pada masa- masa berikutnya”.

Hurlock (1978:162), berpendapat bahwa “memainkan peranan penting bagi kehidupan anak terutama dalam penyesuaian sosial serta pribadi anak.

Keterampilan motorik halus berfungsi untuk membantu mendapatkan penerimaan sosial, karena kemandirian sangat penting untuk menjalankan peran sosialnya”.

3. Karakteristik Anak Usia 4-5 Tahun

Anak Taman Kanak-kanak merupakan anak usia dini dengan rentang usia antara 4-6 tahun. Di usia ini anak memiliki energi yang tinggi untuk melakukan

(31)

15

kegiatan dalam meningkatkan keterampilan fisik, baik keterampilan motorik kasar dan maupun motorik halus.

Perkembangan pada anak usia dini mencakup beberapa aspek perkembangan yaitu sosial emosional, fisik motorik, kognitif dan bahasa. Anak usia 4-5 tahun memiliki karakteristik umum pada aspek fisik motoriknya yaitu koordinasi mata dan tangan semakin baik. Seperti yang diungkapkan Hurlock (1978:156) ada beberapa alasan kenapa masa kanak-kanak sangat ideal belajar keterampilan motorik yaitu:

1) Anak memiliki tubuh yang lebih lentur dari pada orang dewasa sehingga anak lebih muda dalam menerima pembelajaran.

2) keterampilan anak masih belum banyak memiliki keterampilan sehingga anak masih muda menerima keterampilan baru, bagi anak keterampilan baru lebih muda di pelajari.

3) Anak lebih berani mencoba sesuatu dari pada orang dewasa, hal tersebut dapat menjadi motivasi dalam belajar.

4) Anak senang dengan pengulangan-pengulangan sehingga otak anak terlatih secara efektif.

Adapun karakteristik perkembangan motorik anak usia 4-5 tahun menurut Sumantri (2005):16) adalah sebangai berikut:

a) Menempel

b) Mengerjakan puzzle (menyusun potongan gambar) c) Menarik garis lurus, lengkung dan miring

d) Mencoblos kertas menggunakan pensil atau spidol

(32)

e) Makin terampil menggunakan jari tangan (mewarnai dengan rapi) f) Mengancingkan kancing baju

4. Kegiatan Membentuk dengan Playdough a. Pengertian Membentuk

Menurut Catur Budi (2012:9) mengemukakan bahwa Arti kata membentuk di maksudkan sebagai mengubah, membangun dan mewujudkan.

Membentuk dalam kegiatan senirupa berasal dari kata belanda, “bootseren”, dan bahasa inggris “modeling”. Umumnya bahan-bahan yang digunakan dalam membentuk adalah bahan yang lunak seperti tanah liat, playdoudgh, plastisin dan sebagainya. Namun bisa juga menggunakan bahan-bahan lain seperti kertas karton atau bahan-bahan lain yang mudah dibentuk.

Menurut Sumanto (2005:139) mengemukakan bahwa “membentuk adalah proses kerja senirupa dengan maksud untuk menghasilkan karya tiga dimensi (tri matra) yang memiliki volume dan ruang dengan media tanah liat dalam tatanan unsur senirupa yang indah dan artistic”. Membentuk merupakan kegiatan seni sebagai perwujudan suatu ide, gagasan bentuk yang sudah ada atau kreasi ciptaan baru (murni). Umumnya bahan yang digunakan untuk membentuk adalah bahan-bahan lunak seperti tanah liat, playdough, plastisin dan sejenisnya (Cindelaras Art Education).

Menurut Hajar Pamadhi (2008:8.5), “membentuk adalah membuat bentuk terapan yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari maupun bentuk-bentuk yang kreatif sebagai karya seni murni”.

(33)

17

b. Tujuan Membentuk

Kegiatan seni perlu diajarkan kepada anak untuk memberi kesempatan mengungkapkan ekspresi perasaan dengan menyanyi, menggambar, mencat, membuat sesuatu dari playdough dan sebagainya. Hajar Pamadhi (2008:8.5),

“berpendapat bahwa tujuan dari kegiatan membentuk pada anak usia dini antara lain: melatih motorik halus anak, melatih pengamatan, kecermatan, ketelitian, melatih kemampuan ketepatan, dan melatih kreativitas”.

Sumanto (2005:141) memaparkan tujuan membentuk yaitu:

a. Sebagai media hias, suatu upaya dalam mendapatkan rasa keindahan yang dapat memberikan kepuasan, sentuhan rasa indah, kesenangan, serta rasa seni bagi pengamatnya.

b. Sebagai media ekpresi, perwujudan ungkapan perasaan dan penciptanya yang bersifat bebas dan individual.

Menurut Sumantri (2005:155), membentuk bertujuan untuk mengembangkan kemampuan koordinasi mata dan tangan. Dalam kegiatan membentuk dapat mengembangkan fisik motorik anak.

Hajar Pamadhi (2007:20), mengemukakan tujuan membentuk untuk anak usia dini sebagai berikut:

1. Pengamatan

2. Kecermatan dan ketelitian 3. Kemampuan dan ketepatan 4. Kreativitas

5. Kepekaan dan rasa indah

(34)

6. Menggunakan bahan secara ekonomis dan hemat 7. Mengembangkan rasa keterpakaian tinggi

8. Dapat memanfaatkan benda limbah menajdi benda baru untuk permainan maupun untuk kesenian.

c. Prosedur Kegiatan Membentuk

Dalam kegiatan membentuk dengan playdough terdapat langkah kerja:

Menurut Sumanto (2005:145) terdapat langkah kerja dalam melakukan kegiatan membentuk playdough yaitu:

a. Guru menyiapkan bahan playdough yang sudah berbentuk adonan.

b. Guru memandu langkah kerja membentuk dengan memberikan peragaan membentuk dari bahan playdough dengan ukuran besar agar anak mudah mengamati bentuk.

c. Guru mengingatkan pada anak agar dalam melakukan kegiatan membentuk harus di lakukan dengan tenang dan setelah selesai agar membereskan kembali peralatan yang sudah di gunakan.

Dari uraian di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa terdapat beberapa langkah kerja dalam kegiatan membentuk yaitu menyiapkan bahan, memandu dengan memberikan peragaan membentuk, kemudian memulai membentuk dan terakhir membereskan peralatan yang sudah di gunakan.

d. Pengertian Playdough

Play dalam kamus besar bahasa Inggris adalah bermain dan dough adalah adonan. playdough adalah bermain melalui adonan. Adonan tersebut terbuat dari

(35)

19

campuran tepung, terigu, garam dan bahan lainnya. Menurut Jatmika (2012) dalam Erliansyah Ryska, (2016:24). playdough adalah adonan mainan yang merupakan bentuk modern dari tanah liat atau lempung yang terbuat dari tepung terigu.

Menurut Meyesky M (2005:3), “menjelaskan bahwa playdough adalah bahan yang sangat baik untuk mengekspresikan kreativitas anak karena bahannya yang fleksibel dan lembut. Adonan dapat di gulung menjadi suatu bentuk, dan beberapa bentuk lainnya”. Menurut Meyke S. Tadjasaputra (2005:57),

“menjelaskan bahwa playdough yaitu suatu jenis permainan yang membutuhkan keahlian motorik halus dan membutuhkan suatu kreativitas yang tinggi, sebab dalam permainan ini anak dapat membentuk dan membuat jenis benda.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa playdough adalah bahan yang di bentuk menjadi sebuah media dan bisa di mainkan oleh anak.

e. Manfaat Membentuk dengan Playdough

Manfaat membentuk playdough menurut Hajar Pamadhi (2008:8.11) yaitu anak bisa mengenal benda di sekitarnya, mengembangkan fungsi otak dan rasa, serta mengembangkan keterampilan teknis kecakapan hidup. Dikutip dari Rumah Utama Tanpopo (2012) dalam Erliansyah Ryska, (2016:25). Playdough adalah salah satu aktivitas yang bermanfaat untuk perkembangan otak anak.

Adapun manfaatnya yaitu:

1. Kemampuan Sensori

Playdough salah satu cara untuk mengenalkan sesuatu yaitu melalui sentuhan. Dengan belajar playdough anak belajar tentang tekstur, serta

(36)

menciptakan sesuatu.

2. Kemampuan Berfikir

Bermain playdough bisa mengasah kemampuan berfikir anak. Melatih anak dengan memberikan contoh bagaimana bermain menciptakan sesuatu dengan playdough.

3. Kemampuan Berbahasa

Penggunaan kata-kata untuk mendeskripsikan kegiatan bermain playdough atau memberi nama untuk setiap bentuk yang di buat dari playdough.

4. Kemampuan Sosial

Kesempatan yang di berikan kepada anak untuk bermain playdough dapat menjalin interaksi yang akrab dengan teman-temannya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa membentuk dengan playdough memiliki banyak manfaat bagi anak yaitu dapat mengenal benda di sekitarnya, mengembangkan fungsi otak serta mengembangkan keterampilan.

f. Pelaksanaan Pembelajaran 1. Perencanaan Pembelajaran

Standar proses kegiatan pembelajaran meliputi:

a. Pengembangan rencana pembelajaran

b. Perencanaa penyelenggaraan PAUD yaitu: Rencana kegiatan mingguan (RKM) dan Rencana Kegiatan Harian (RKH)

c. Menyiapkan media pembelajaran 2. Pelaksanaan Kegiatan

Pelaksanaan kegiatan meliputi:

(37)

21

a. Pendidik membuka pembelajaran dengan salam, do’a dan menyanyi.

Kemudian guru menjelaskan terlebih dahulu tentang kegiatan yang akan dilakukan dengan media playdough

b. Mengadakan interaksi pembelajaran yang terdiri atas memberikan kepada peserta didik untuk bertanya, membahas materi dan melibatkan peserta didik untuk lebih aktif.

3. Penilaian atau Evaluasi Pembelajaran

a. Teknik penilaian, meliputi: Pengamatan, penugasan, unjuk kerja, pencatatan anekdot, percakapan, laporan orang tua, dokumentasi hasil karya anak (portofolio), serta deskripsi profil anak

b. Lingkup, meliputi: seluruh tingkat pencapaian perkembangan anak didik, dan data tentang kesehatan, pengasuhan dan pendidikan

c. Proses, meliputi: penilaian yang dilakukan secara berkala, intensif, bermakna,menyeluruh dan berkelanjutan

d. Pengelola hasil, meliputi: pendidik membuat kesimpulan dan laporan kemajuan peserta didik berdasarkan informasi yang tersedia, pendidik menyusun dan menyampaikan laporan perkembangan peserta didik secara tertulis kepada orang tua secara berkala, minimal satu kali dalam satu semester, dan laporan perkembangan peserta didik di sampaikan kepada orang tua dalam bentuk laporan lisan dan tertulis

B. Kerangka Pikir

Berdasarkan kajian teori dan beberapa faktor yang dapat di lihat di lapangan, maka dapat di garis bawahi kegiatan membentuk dengan playdough

(38)

yang di berikan dalam pembelajaran di RA. memeiliki pengaruh terhadap keterampilan motorik halus pada anak, khususnya pada usia 4-5 tahun. Ketika pendidik memberikan kegiatan membentuk dengan playdough maka keterampilan motorik halus pada anak akan berkembang secara optimal. Perkembangan motorik adalah perubahan jasmaniah yang terkoordinasi melibatkan aspek perilaku serta kemampuan gerak anak.

Demikian pula seperti yang tertuang di dalam Pedoman Pengembangan Program di RA , Mudjito AK (2010:5). Pendidikan seni yang ada sebaiknya menyatuh secara utuh dan tercermin kedalam setiap kegiatan pembelajaran di Taman Kanak-kanak. Kegiatan membentuk dengan playdough merupakan kegiatan yang menyenangkan karena anak dapat bereksplorasi dengan suatu benda. Anak akan merasa senang dan menunjukkan kepuasan ketika mengekspresikan perasaannya melalui sebuah karya. Melalui kegiatan membentuk dengan playdough yang dilakukan secara kontinu dan bertahap diharapkan dapat meningkatkan keterampilan motorik halus anak khususnya dalam membentuk dengan playdough.

(39)

23

Berdasarkan uraian diatas maka dibuat bagan sebagai berikut:

Bagan Kerangka Pikir 2.1

Kemampuan keterampilan motorik halus anak masih rendah

Siklus I : Anak didik melakukan kegiatan membentuk playdough sesuai

pola

Pengamatan

Siklus II :Anak didik melakukan kegiatan membentuk playdough sesuai pola setelah

pelaksanaan siklus I

Keterampilan motorik halus anak didik meningkat

KONDISI

AWAL 1. Anak belum mampu mengontrol gerakan tangan

2. Anak belum mampu membuat bentuk sesuai dengan ukuran dan pola

3. Media playdough masih jarang di gunakan 4. Anak masih sulit menuangkan ide

Kegiatan membentuk pola dengan playdough

Pemberian Tindakan Perencanaan

(40)

C. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori dan kerangka pikir diatas, hipotesis dalam penelitian ini adalah Jika diterapkan kegiatan membentuk dengan playdough maka dapat meningkat keterampilan motorik halus pada anak kelompok A di RA Aisyiyah Kampung Daeng Desa Sengka Kecamatan. Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa.

(41)

25 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini menggunkanan penelitian Tindakan kelas (PTK) yang mengkaji tentang Meningkatkan Kemampuan Motrik Halus Melalui Penerapan Kegiatan Membentuk Pola dengan Playdough Pada Anak Usia 4-5 Tahun Di Kelompok A RA Aisyiyah Kampung Daeng Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa. Adapun tahapannya yaitu: Tahap perencanaan, Pelaksanaan, Observasi dan Refleksi.

B. Lokasi, Waktu dan Subjek Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini di laksanakan pada Anak Kelompok A usia 4-5 tahun di RA Aisyiyah Kampung Daeng Desa Sengka Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa.

2. Waktu Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan pada Tahun Ajaran 2019/2020. Penentuan waktu penelitian mengacu pada kelender pendidikan di sekolah.

3. Subjek Penelitian

Dengan subjek penelitian seluruh anak didik pada kelompok A di RA Aisyiyah sebanyak 15 anak usia 4-5 tahun yang terdiri dari 6 Laki-laki dan 9 Perempuan pada tahun ajaran 2019/2020.

(42)

C. Faktor yang Diselidiki

Untuk memecahkan masalah yang telah di rumuskan di atas, ada beberapa faktor yang akan di selidiki yaitu:

a. Faktor anak didik

Meningkatkan kemampuan motorik halus anak melalui penerapan kegiatan membentuk pola melalui playdough dapat meningkatkan kreatifitas anak.

b. Faktor Guru

Guru di sekolah jarang menerapkan kegiatan yang membentuk motorik halus anak.

c. Faktor proses pembelajaran

Pembelajaran yang monoton dan berpusat pada guru menjadi faktor rendahnya kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan membentuk. Maka dari itu di amati kemampuan motorik halus anak.

(43)

27

D. Prosedur Penelitaian

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3.1

Rencana Model Penelitian PTK Kemmis & Mc Taggart Perencanaan

Pelaksanaan

Refleksi SIKLUS I

Pengamatan

Perencanaan

Pelaksanaan

SIKLUS II

Refleksi

Pengamatan

?

(44)

Siklus I

a. Tahap perencanaan

Pada tahap ini peneliti terlebih dahulu melakukan perencanaan dengan seksama tentang jenis tindakan yang akan di lakukan. Dalam perencanaan ini peneliti bersama guru mempersiapkan rancangan pembelajaran berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) sesuai dengan tema kegiatan membentuk dalam meningkatkan keterampilan motorik halus. Selanjutnya mempersiapkan media yang akan di gunakan yaitu playdough. Kemudian peneliti menyiapkan instrumen pengamatan mengenai keterampilan motorik halus melalui kegiatan membentuk dengan playdough, serta melakukan pendokumentasian kegiatan.

b. Tahap pelaksanaan

Setelah melakukan perencanaan pada tahap ini peneliti melaksanakan pembelajaran sesuai dengan penyusunan perangkat yang telah di tetapkan menggunakana panduan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) dan Media yang akan di gunakan pada saat pengamatan sesuai dengan indikator yang ingin di capai.

Dalam pelaksanaannya terdiri dari 3 tahap yaitu; awal, inti dan akhir.

Kegiatan awal yang di isi dengan berbaris di depan kelas, bernyanyi, salam dan berdoa. Kegiatan inti berupa kegiatan yang menyangkut tentang tema yang telah disusun, baik itu menggunting, mewarnai dan membentuk dengan. Kegiatan akhir, yang berisi tanya jawab seputar apa yang telah di kerjakan di kegiatan awal dan kegiatan inti, menyampaikan pembelajaran esok hari, berdoa, salam.

(45)

29

c. Tahap Observasi

Pada tahap ini observasi harus menjadi perhatian bagi peneliti agar hasil penelitian valid dan dapat dipertanggung jawabkan. Observasi dilakukan dengan cara mengidentifikasi keadaan anak didik selama proses belajar mengajar berlangsung dan mencatat pada lembar observasi. Adapun yang diamati ialah kemapuan motorik halus anak melalui kegiatan membentuk dengan playdough.

d. Tahap refleksi

Pelaksanaan tahap refleksi dilaksanakan peneliti setelah proses pembelajaran sebelumnya di lihat, apakah terjadi peningkatan kemampuan anak dengan kegiatan membentuk pola untuk meningkatkan motorik halus. Selanjutnya jika hasil refleksi perlu adanya perbaikan, maka rencana tindakan perlu di sempurnakan kembali agar tindakan selanjutnya tidak ada pengulangan. Peneliti dapat melaksanakan Siklus II untuk menyempurnakannya.

Siklus II

Langkah-langkah yang dilakukan pada siklus II ini relatif sama dengan perencanaan dan pelaksanaan dalam siklus I dengan mengadakan beberapa perbaikan.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang di gunakan pada penelitan ini adalah sebagai berikut:

Observasi kegiatan ini dilakukan peneliti dengan beberapakali pengamatan menurut aspek-aspek identifikasi. Adapun aspek yang di amati yaitu

(46)

kegiatan (membentuk pola dengan playdough) dalam meningkatkan motorik halus anak. Observasi ini di lakukan dengan menggunakan pengamatan sesuai dengan indikator capaian untuk kemudian hasil pengamatan tersebut dimuat dalam lembar observasi. Kisi-kisi instrumen lembar observasi perkembangan kemampuan motorik halus melalui kegiatan membentuk pola dengan playdough.

Instrumen kemampuan motorik halus berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 146 Tahun 2014 tentang Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini, adapun tingkat pencapaian perkembangan anak adalah:

1.) Melakukan kegiatan yang menunjukkan anak mampu terampil menggunakan tangan kanan dan kiri dalam berbagai aktivitas (misal: mengancingkan baju, menali sepatu menggambar, menempel, menggunting, pola, meniru bentuk) keterampilan menggunakan tangan kanan dan kiri dalam berbagai aktivitas yang mempergunakan jari-jari tangan hal ini dapat di lihat dalam aktivtas seperti: keterampilan dalam membentuk playdough, dan keterampilan memengan media.

2.) Gerakan terkoordinasi secara terkontrol, seimbang dan berbagai gerakan yang teratur. Gerakan terkoordinasi secara terkontrol, seimbang dapat di lihat pada saat anak mampu melakukan kegiatan membentuk playdough sesuai dengan pola segitiga, segiempat dan lingkaran menggunkanan tangannya secara terkoordinir.

F. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang akan di gunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan dokumentasi.

(47)

31

1. Observasi

Observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung peneliti melakukan observasi terhadap anak didik di RA Aisyiyah Kampung Daeng Desa Sengka Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa.

2. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan catatan penting suatu peristiwa dan untuk memperkuat data apabila terjadi kekeliruan dari sumber data. Dokumentasi ini berupa foto-foto membentuk pola dengan playdough.

G. Teknik Analisis Data 1. Teknik Analisis Data

Data yang dikumpulkan melalui observasi dan dokumentasi kemudian dianalisis. Teknik dalam menganalisis data yang di gunkanan teknik Deskriptif Kualitatif. Adapun rumus yang di gunakan dalam menganalisis data dengan teknik deskriptif kualitatif menurut Anas Sudijono (2010:43) seperti dibawa ini :

P = 100%

Keterangan:

P = Angka Persentase

N = Number of cases (Jumlah frekuensi/banyaknya induvidu) F = Frekuensi yang sedang dicari persentasenya

Sedangkan untuk mengetahui peningkatan keterampilan motorik halus anak di lakukan dengan cara membandingkan persentase skor yang di peroleh anak sebelum dan setelah pembelajaran melalui kegiatan membentuk dengan playdough.

Gambar

Tabel         Halaman
Gambar        Halaman
tabel 3.2 sebagai berikut : Anas Sudijono (2010:43)  Tabel 3.2
Tabel 4.1 Observasi Guru siklus I pertemuan I
+7

Referensi

Dokumen terkait

Shalawat serta salam juga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang memberikan kesempatan untuk kita mempelajari ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan zaman, semoga

Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sehingga penulis dapat menyelesaikan dalam penyusunan skripsi yang berjudul “Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Kepuasan Pelanggan Pada

Karena itu Ibu Ida mengatakan setuju dengan alat permainan edukatif busy board untuk motorik halus ini agar proses pembelajaran menjadi lebih efektif, dapat

Menurut Agus dkk dalam penelitiannya yang berjudul “ studi eksploratif dampak pandemic covid-19 terhadap proses pembelajaran online di sekolah, mengungkap bahwa kendala

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, Shalawat beserta salam semoga senantiasa terlimpah curahkan kepada Nabi Muhammad SAW, karena berkat rahmat

Penelitian yang berjudul Efektivitas Pembelajaran Matematika Melalui Penerapan Model Berbasis Budaya Bugis Makassar Pada Siswa Kelas VIII B SMP Negeri 2 Barombong Kabupaten Gowa oleh

Permasalahan penelitian tersebut yang berjudul senjata trdisional Bugis Bone Selawasi Selatan studi analisis jenis, bentu dan fungsi... Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan

Permasalahan penelitian tersebut yang berjudul senjata trdisional Bugis Bone Selawasi Selatan studi analisis jenis, bentu dan fungsi... Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan