LAPORAN PENELITIAN
HIBAH PENELITIAN JURUSAN ARSITEKTUR TAHUN 2015
JUDUL PENELITIAN
PERANAN ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI
PADA PEMBENTUKAN IDENTITAS TEMPAT DI DENPASAR
Tim Pengusul :
1. I Wayan Wiryawan,ST,MT NIP 19780416 200501 1 001 2. Ni Made Swanendri, ST, MT NIP 19730421 200003 2 001 3. Dr Ir Ni Ketut Ayu Siwalatri, MT NIP 19590107 198602 2 001
JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS UDAYANA
SEPTEMBER 2015
HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN PENELITIAN HIBAH PENELITIAN JURUSAN ARSITEKTUR TAHUN 2015
Judul Penelitian : Peranan Arsitektur Tradisional Bali dalam Membentuk Identitas Kota di Denpasar.
…...…...
Ketua Peneliti:
a. Nama Lengkap : I Wayan Wiryawan, ST, MT....
b. NIDN / NIP : 19780416 200501 1001/0016047806 c. Jabatan Fungsional : Lektor..
d. Nomor HP / email : 081338228745 /[email protected]
Anggota Peneliti (1) :
a. Nama Lengkap : Ni Made Swanendri,ST, MT.
b. NIDN / NIP : 19730421 200003 2 001/ .0004217303.
c. Jabatan Fungsional : Lektor...
d. Nomor HP / email : 08123964025 / d_endri @yahoo.com
Anggota Peneliti (2) :
a. Nama Lengkap : Dr Ir Ni Ketut Ayu Siwalatri, MT b. NIDN / NIP : 19590107 198602 2 001/0007015906 c. Jabatan Fungsional : Lektor Kepala...
d. Nomor HP / email : 081337880344
Biaya Penelitian : -diusulkan ke JurusanRp. 10.000.000,- - dana institusi lain Rp.………. ...
- inkind sebutkan ………...
Bukit Jimbaran, 3 September 2015 Menyetujui,
Ketua Jurusan Arsitektur FT-UNUD Ketua Tim Peneliti
Ir I Made Suarya, MT Nip 19561015 198601 1 001.
I Wayan Wiryawan, ST,MT NIP. 19780416 200501 1001
DAFTAR ISI Halaman judul
Lembar pengesahan ...
Daftar isi...i
Ringkasan...ii
BAB.1. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang permasalahan ...1
1.2.Rumusan Masalah ...2
1.3.Tujuan penelitian ...2
BAB.2. KAJIAN TEORI 2.1. Pengertian dan konsep Identitas...4
2.2.Identitas Arsitektur... 4
2.3.Identitas Tempat/Place Identity ...6
2.4. Arsitektur Tradisional Bali ...7
BAB.3. METODA PENELITIAN 3.1. Penentuan Metoda Penelitian ...11
3.2. Metoda Penelitian ...11
3.2.1. Metoda Interpretasi ...11
3.2.2 Tahapan Pelaksanaan Penelitian ...12
BAB.4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1.Perkembangan Kota Denpasar ...14
4.2.Pembahasan Identitas Tempat...15
4.3.Pembahasan Identitas berbadasrkan Fungsi Bangunan di Denpasar ...20
4.3.1 Bangunan Pemerintahan ...20
4.3.2.Bangunan Komersial...21
4.3.3.Bangunan Sosial...22
4.3.4.Bangunan Hunian...23
4.4.Hasil Pembahasan ...23
BAB.5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1.Kesimpulan ...27
5.2.Saran Penelitian Selanjutnya...28
BAB.6.RENCANA ANGGARAN BIAYA DAN JADWAL PELAKSANAAN 6.1. Rencana Anggaran Biaya...29
6.2. Jadwal Pelaksanaan penelitian ...29
DAFTAR PUSTAKA...30
Lampiran 1 Justifikasi Anggaran Penelitian ...33
Lampiran 2. Dukungan saran dan Prasarana Penelitian...34
Lampiran 3Tim Peneliti ...35
Lampiran 4 Biodata Peneliti ...37
Lampiran 5 Surat Pernyataan Peneliti...54
RINGKASAN
Judul : Peranan Arsitektur Tradisional Bali dalam Pembentukan Identitas kota di Denpasar
Kemajuan teknologi informasi mengakibatkan globalisasi melanda hampir seluruh bagian dunia sehingga kecenderungan munculnya universalisme menjadisangat kuat. Di era globalisasi ini identitas kota menjadi issue yang sangat penting. Globaliasi juga berimbas pada peningkatan jumlah orang untuk berpergian/traveling dan memberi pengaruh pada pembangunan fisik kota.
Identitas tempat sangat dibutuhkan bagi masyarakat dimana mereka tinggal,tetapi juga dibutuhkan bagipengunjung atau pendatang yang mendatang suatu tempat, karena identitas merupakan suatu karakter/kualitas yang membedakan suatu tempat dengan tempat lainnya.
Kota Denpasar sebagai bagian dari propinsi Bali merupakan salah satu kota yang menjadi daerah tujuan wisata, menjaditempat yang menarik untuk berinvestasi, dan menjadi daerah yang diminati masyarakat luar daerah untuk datang/urbanisasi. Fenomena ini membawa pengaruh pada pembangunanfisik yang membentuk identitas kota. Peraturan daerah tentang pengaturan tata bangunan telah dimiliki namun belum banyak penelitian yang dilakukan berkaitan dengan penerapan prinsip arsitektur tradisional Bali dalam pembentukan identitas kota. Karena penerapan prinsip arsitektur tradisional Bali dianggap memiliki konsekwensi pada rancangan seperti penambangan biaya atau dapat dianggap sebagai kekangan atau pembatasankreativitas.
Namun disisi lain tujuan penerapan prinsip arsitektur tradisional Bali dalam rancangan masa kini adalah untuk menciptakan dan mempertahankan identitas lokal tempat .
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan prinsip arsitektur tradisional Bali pada rancangan masa kini yang telah dilakukan oleh masyarakat, dan bagaimana peranan arsitektur tradisional Bali dalam pembentukkan identitas kota. Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui bagaimana interpretasi masyarakat pada penerapan elemen arsitektur tradisional Bali pada rancangan masa kini, sehingga dapat digunakan sebagai masukan untuk penerapan peraturan daerah tentang bangunan di masa depan.
Dari penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa aplikasi ATB pada bangunan masa kini dapat menciptakan identitas kawasan atau identitas kota. Identitas diciptakan dengan menggabungkan elemen bangunan ATB ke dalam rancangan masa kini. Elemen ATB yang dapat diaplikasikan dalam rancangan masa kini adalah bentuk bangunan, material bangunan yang digunakan dalam ATB,ornamen tradisional Bali, penggunaan tembokpenyengker dan pintu masuk tradisional Bali danorganisasi keruangan tradisional Bali. Dari analisis yang dilakukan pada 12 bangunan di Denpasar ditemukanbahwa bangunan pemerintahan dan bangunan sosial mengaplikasikan elemen ATB dengan baik, sedangkan bangunan komersial hanya mengaplikasikan sedikit ornamen dan bentuk bangunan yang tidak dominan dalam rancangannya.
Penggunan elemen bangunan ATB dalam rancangan masa kini mampu menciptakan identitas, karena bentuknya yang khas,namun di sisi lain aplikasi ini ada kemungkinan terjadinya degradasi kualitas arsitektur bia tidak dilakukan dengan baik. Penggunaan elemen ATB dalam banguna masa kinikalau hanya dilakukan dengan penempelan tanpa melakukan pendalaman pada aturan dan order ATB maka kemungkinan tersebut dapat terjadi. Langkah penggalian, pemahaman dan aktualisasi makna elemen bangunan dalam ATB harus dilakukan dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat masa kini.
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Permasalahan
Fenomena globalisasi saat ini telah melanda hampir semua belahan dunia. Kemajuan teknologi informasi dan transportasi memicu banyak orang untuk datang dan tinggal ditempat yang berbeda-beda. Urbanisasi dan globalisasi menjadi fenomenayang banyak terjadi di kota-kota besar dan mempengaruhi kehidupan sosial,ekonomi dan juga kondisi fisik lingkungan. Ditengah derasnya arus globalisasi masuk ke Bali karena pengaruh pariwisata, maka issue yang banyak diperdebatkan adalah masalah identitas tempat/place identity.
Indentitas tempat menjadi sesuatu yang penting pada era global saat ini karena identitas tempat dibutuhkan untuk memberikan ciri khas daerah atau tempat tertentu.
Identitas sudah banyak diteliti diberbagai bidang ilmu terutama dibidang psikologi, sosiologi, geografi dan antropologi. Kota-kota besar saat ini bersifat multi kultural,karena penduduknya berasal dari berbagai wilayha. Kota denpasar sebagai salah satu kota besar di Indonesia dan menjadi salah satu daerah tujuan wisata menyebabkan penduduk kota denpasar terdiridari berbagai kelompok budaya. Tahun 2013 jumlah penduduk kota denpasar adalah 708.454 orang dan 65 % adalah penduduk Bali yang beragama Hindu dan sisanya adalah pendatang yang menetap di kota Denpasar (BPS Denpasar, 2013). Fenomena ini terjadi di hampir semua kota besar di dunia dimana kota-kota menjadi multikultural dan heterogen, oleh karena itu kota-kota akan mencari dan menggali potensi yang dimiliki masyarakatnya sehingga dapat digunakan sebagai indentitas.
Peranan arsitektur tradisional atau arsitektur lokal pada bangunan masa kini memiliki beberapa permasalahan antara lain bangunan masa kini cenderung besar, dan memiliki berbagai fungsi yang tidak dimiliki oleh arsitektur tradisional. Sehingga penerapan elemen arsitektur tradisional membutuhkan perlakukan yang khusus untuk dapat menyatu dengan rancangan masa kini dan dapat menjadi identitas bagi tempat tersebut. Identitas tempat merupakan dimensi yang penting pada kehidupan sosial masyarakat kota dan selanjutnya akan berkembang menjadi keterikatan pada tempat dan meningkatkan rasa memiliki masyarakat pada tempat. Menurut ilmu psikologi lingkungan manusia secara instringtif melakukan ikatan dengan tempat tinggalnya, ikatan manusia dengan tempat dimana mereka tinggal terjadi secara emosional dan secara kognisi dan fenomena ini bukan hanya karena karakter fisikal lingkungan, tetapi karena tempat memiliki ikatan makna tertentu dengan masyarakatnya (Kaymaz, 2013).
Pulau Bali telah dikenal sebagai salah satu daerah tujuan wisata dunia. Pariwisata banyak memberi pengaruh pada kehidupan sosial masyarakatnya. Selain itu Bali juga dikenal sebagai salah satu tempat yang memiliki potensi arsitektur yang unik dan menjadi salah satu identitas tempat di Bali. Kekhawatiran akan hilangnya identitas telah disadari oleh masyarakat Bali sejak lama, oleh karena itu Pemerintah Daerah Bali telah menerbitkan peraturan Daerah yang mengatur tentang pembangunan di Bali yaitu Perda no 2,3,4 tahun 1974 dan peraturan daerah no 5 tahun 2005. Perda ini bertujuan untuk mempertahankan identitas tempat di Bali dengan mewajibkan setiap bangunan di Bali menerapkan prinsip- prinsip arsitektur tradisional Bali dalam rancangannya. Penerapan Perda ini masih terus diperdebatkan karena berbagai pihak beranggapan bahwa penggunaan elemen arsitektur tradisional Bali untuk membetuk identitas tidak sepenuhnya berjalan dengan baik. Penelitian ini ingin mengetahui bagaimana penggunaan elemen arsitektur tradisional Bali pada bangunan masa kini, dan pengaruhnya dalam pembentukan identitas kota. Penelitian ini akan dilakukan di kota Denpasar dan mengambil sampel beberapa pada bangunan pemerintahan dan bangunan komersial. Hasil akhir penelitian ini diharapkan dapat memahami bagaimana peranan elemen bangunnan pada arsitektur tradisional Bali pada rancangan masa kini untuk membentuk identitas kota.
1.2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang permasalahan yang telah dijabarkan maka pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana penggunaan elemen bangunan tradisional Bali pada rancangan masa kini dan bagaimana peranan elemen arsitektur tradisional Bali dalam pembentukan indentitas kota. Penelitian tentang identitas sangat dibituhkan pada eraglobalisasi dan urbanisasi.
Identitas kota dapat meningkatkan rasa kepemilikan masyarakat pada lingkungannya dan di sisi lain juga akan meningkatkan ikatan masyarakat pada tempat. Pemerintah Daerah Bali telah menerbitkan beberapa peraturan yang berkaitan dengan penataan bangunan, namun pelaksanaan peraturan ini harus di dukung dengan pemahaman bagaimana penerapan peraturan dilapangan yang dilakukan oleh masyarakat. Penerapan prinsi arsitektur tradisional Bali pada bangunan masa kini harus memberi kontribusi positif pada potensi arsitektur tradisional Bali itu sendiri.
1.3.Tujuan dan manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan elemen bangunan tradisional
Bali dalam pembentukan identitas kota/tempat. Dari penelitian ini akan diketahui bagaimana perancang/arsitek menerapkan prinsip-prinsip arsitektur tradisional Bali pada rancangan masa kini. Pemahaman ini penting dan dibutuhkan untuk memahami bagaimana para perancangatau masyarakat menginterpretasikan perda yang diterbitkan oleh pemerintah daerah Bali, dan hasil penelitian ini dapat menjadi umpan balik untuk menyempurnakan peraturan daerah yang sudah ada.
BAB.2. KAJIAN TEORI
2.1. Pengertian dan Konsep Identitas
Identitas memiliki terminologi yang luas dan terminologi ini sering digunakan pada ilmu sosial dan identitaas sering dikaitkan dengan keunikan seseorang atau sesuatu yang berbeda dengan lainnya. Kata identitas sering dan sudah umum digunakan, namun banyak yang belum memahami pengertian dan konsep identitas. Kata identitas berasal dari bahasa latin
“identitas” yang berarti fakta tentang seseorang atau sesuatu. Identitas pada umumnya bersifat stabil, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk berubah seiring dengan perubahan waktu. Identitas memiliki definisi yang beragam, seperti Castells mendefinisikan bahwa indentitas merupakan sumber makna dan pengalaman masyarakat, dan Katzeintein mendefinisikan bahwa identitas melibatkan sesuatu dengan yang lainnya dan keduanya diciptakan dan memiliki kesetaraan (dalam Kaymaz 2013).
Identitas tercipta melalui pengalaman manusia dan melalui pengalaman ini manusia dapat membedakan seseorang dengan yang lain atau membedakan sesuatu dengan yang lainnya. Dari berbagai definisi dan pengertian identitas maka konsep di dalam identitas terdapat pengertian: ( a) keunikan dari seseorang atau sesuatu; (b) identitas membutuhkan pembanding diantara sesuatu ;(c) makna dan pengalaman memiliki peranan yang penting dalam mempersepsi identitas; (d) identitas tidak pernah stabil karena identitas merupakan fenomena yang dinamis; (e) identitas membutuhkan interaksi dengan yang lain (Kaymaz, 2013). Identitas memiliki berbagai pengertian sesuai dengan bidang ilmu yang menggunakannya. Secara umum identitas dapat didefinisikan sebagai kumpulan tanda-tanda material, biologikal, psikologikal, atau budaya yang membedakannya dengan individu lainnya, dengan kelompok, populasi, atau budaya lainnya (Torabi dan Brahman, 2013).
2.2. Identitas Arsitektur
Arsitektur selalu memiliki ikatan dengan budaya, nilai dan pola perilaku masyarakatnya, oleh karena itu bentuk arsitektur pada perioda tertentu merupakan refleksi dari sistem budaya dan seni masyarakatnya (Torabi dan Brahman, 2013). Perubahan yang terjadi pada arsitektur sejalan dengan perubahan yang terjadi pada kehidupan masyarakatnya, oleh karena itu perubahan dibutuhkan sebagai jawaban untuk memenuhi kebutuhan manusia. Menurut Rapoport identitas berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan dan mengidentifikasi elemen dari yang lain. Identitas adalah feature dari lingkungan yang tidak berubah pada
situasi yang berbeda. Feature ini dapat berupa objek fisikal, atau aktivitas tertentu, atau praktek yang dilakukan dalam sebuah lingkungan terbangun. Feature ini dapat berupa objek fisikal seperti bentuk, ukuran, ornamen dsb, atau aktivitas tertentu, atau praktek yang dilakukan dalam sebuah lingkungan terbangun (Rapoport, dalan Torabi dan Brahman,2013).
Menurut Tarobi dan Brahman (2013), karakteristik dari identitas arsitektur dapat dilihat dari 7 aspek yaitu (a) wujud dan bentuk bangunan, (b) prinsip umum design, (c) material bangunan, hubungannya dengan konteks lingkungan, (d) organisasi temporal, (e) organisasi semantik dan (f) organisasi keruangan. Seperti juga identitas manusia, identitas arsitektur memiliki asepk tetap dan dinamik pada setiap perioda kesejarahan. Aspek yang membentuk identitas arsitektur oleh Tobari dijabarkan dalam skema dibawah ini :
Skema aspek pembentuk identitas (sumber :Tobari dan Brahmann, 2013)
Manusia menciptakan arsitektur berdasarkan motivasi yang dimilikinya yang berakibat pada perubahan fungsi lingkungan dan kondisi fisik lingkungan. Ikatan emosional antara manusia dan lingkungan tercipta karena tempat atau lingkungan memiliki arti/makna tertentu pada manusia. Ikatan manusia pada suatu tempat dapat terjadi secara sadar maupun tidak sadar. Ikatan terbentuk karena manusia memberi makna tertentu pada tempat sebagai hasil interaksi manusia dengan tempat tinggal mereka (Kaymaz, 2013).
2.3. Identitas Tempat/Place Identity
Arsitektur sebagai salah satu budaya fisik memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk identitas, karena identitas berkaitan erat dengan memori seseorang atau sekelompok orang dimana mereka beraktivitas. Memori seseorang terbentuk di dalam kerangka sosial melalui komunikasi dan interaksi. Memori selalu terjadi dalam ruang dan waktu melalui komunikasi yang dimungkinkan oleh kelompok sosial. Memori tidak hanya merekonstruksi masa lalu tetapi juga mengatur masa kini dan masa depan (Czumalo, 2012).
sekelompok orang berinteraksi dalam sebuah tempat/ruangan maka memori ini akan ditransformasikan kedalam bentuk image dan menyesuaikannya dengan sesuatu yang fisikal.
Assmann membedakan memori menjadi dua yaitu memori komunikatif dan memori kultural.
Memori komunitakitif berkaitan dengan memori yang baru yang akan menghilang seiring dengan perjalanan waktu, dan memori kultural mengacu pada titik yang tetap dan masih dipertahankan dan ditransformasikan menjadi figure simbolik dan dipertahankan, dan kultural memori memiliki dimensi sakral (Assmann dalam Czumalo, 2012). Pada tingkatan dimana ruangan yang digunakan untuk melakukan aktivitas dan berinteraksi dengan masyarakat lainnya dan mamiliki makna tertentu bagi orang atau sekelompok orang, maka ruangan menjadi tempat yang memiliki arti tertentu bagi masyarakat.
Tempat adalah sesuatu yang diciptakan oleh manusia atau sekelompok orang, dan identitas mengacu pada pengalaman hidup manusia, dan perasaan subjektif yang diasosiasikan dengan kesadaran keseharian manusia atau pengalaman dan perasaan yang menempel pada setting hubungan sosial yang lebih luas, seperti yang disampaikan oleh Rutherford bahwa identitas merupakan tanda hubungan masa lalu kita dengan keadaan sosial, budaya, dan ekonomi dimana kita hidup. Hubungan yang terjadi antara tempat dan identitas karena manusia merasa menjadi bagian dari tempat tersebut, tempat dimana manusia merasa nyaman atau bagaimana manusia meletakkan dirinya yang disimbolkan dengan kualitas tertentu dari tempat atau bagian dari tempat tersebut (Rose, 1995). Kualitas tertentu dari sebuah tempat membentuk ikatan antara manusia dengan tempat yang menciptakan rasa terhadap tempat. Rasa terhadap tempat tertentu memiliki tingkatan dan dari tingkatan yang paling dekat yaitu disekitar rumah tinggal sampai dengan kawasan yang lebih luas. Peranan arsitektur untuk membentuk rasa terhadap tempat pada manusia sehingga tempat memiliki makna bagi penghuni dan membentuk rasa memiliki yang kuat.
Identitas tempat juga menjadi komponen yang penting bagi pendatang yang berkumjung ke suatu tempat, karena dengan identitas yang kuat pada suatu tempat membentuk memori dan pengalaman yang bagi pengunjung. Schulz menyatakan kedatangan seseorang pada suatu tempat yang memiliki kualitas tertentu membentuk memori pada manusia dan menjadikannya sebagai tempat (Schulz, 1976). Menurut Rapoport identitas berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan dan mengidentifikasi elemen dari yang lain. Identitas adalah feature dari lingkungan yang tidak berubah pada situasi yang berbeda.
Feature ini dapat berupa objek fisikal, atau aktivitas tertentu, atau praktek yang dilakukan dalam sebuah lingkungan terbangun (Rapoport dalam Tobari dan Brahmann, 2013)
2.4.Arsitektur Tradisional Bali
Arsitektur tradisiobal Bali adalah salah satu arsitektur tradisional yang dimiliki oleh masyarakat Bali. Arsitektur Tradisional Bali adalah isitilah yang digunakan untuk menjabarkan arsitektur yang berkembang di Bali , khususnya di daerah Bali selatan/dataran.
Arsitektur ini berkembang setelah periodan Bali kuno yaitu sekitar abad 13 sampai dengan abad 16 yaitu pada masa kerajaan di Bali yang banyak mendapatkan pengaruh dari Jawa/Majapahit dan masih berkembang dandigunakan masyarakat Bali sampai saat ini.
Arsitektur tradisioanl Bali ini kemudian dipakai sebagai referensi untuk membentuk identitas di Bali
Masyarakat Bali dataran memiliki keyakinan bahwa setiap manusia harus menjaga keseimbangan antara makro kosmos/dunia dan mikro kosmos/manusia antara bhuwana agung dan bhuwana alit. Makro kosmos/banua/bhuwana dalam masyarakat Bali memiliki pengertian seperti dapat berarti dunia, desa, langit, rumah atau bangunan, sedangkan manusia dilihat sebagai isi yang menempati wadahnya. Menjaga keseimbangan antara wadah dan isi di ekspresikan menjadi berbagai konsep yang menjadi landasan hidup masyarakat Bali dan salah satunya adalah filosofi tri hita karana yaitu tiga unsur yang menyebabkan kebaikan yang terdiri dari atman, kaya/prana dan angga. Untuk menjaga keseimbangan antara bhuwana agung dan bhuwana alit pengertian tri hita karana juga memiliki pengertian bagaimana menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dan Tuhan, manusia dan manusiadan manusia dan lingkungannya.
Konsep kosmologi masyarakat Bali dipengaruhi oleh agama Hindu yang masuk ke Indonesia dan bercampur dengan kepercayaan asli masyarakat setempat. Dunia menurut kepercayaan masyarakat Bali terdiri dari tiga lapisan (tri loka) yaitu lapisan atas/swah loka untuk Tuhan, lapisan tengah/bhwah loka untuk manusia, dan lapisan bawah/bhur loka untuk binatang dan butha kala. Konsep tiga lapisan dunia tidak hanya ditemukan di Bali tetapi juga ditemukan di beberapa tempat di Indonesia seperti Aceh dan Batak walaupun masyarakatnya tidak memeluk agama Hindu (Waterson, 1990:93). Keadaan ini terjadi kemungkinan kepercayaan itu merupakan milik masyarakat Indonesia sebelum agama-agama besar masuk ke Indonesia
Sistem kosmologi juga memiliki peranan untuk mengatur orientasi, seperti orientasi tidur, orientasi rumah dan pola tata ruang permukiman desa. Di Bali kosmologi di ekspresikan dengan delapan arah mata angin dan ditambahkan satu di tengah. Orientasi
ditentukan dengan arah gunung/kaja- laut/kelod dan arah timur-barat. Kedua arah ini akan menghasilkan 8 arah mata angin dan arah gunung/kaja selalu dianggap arah yang paling suci.
Ke delapan arah ini ditambahkan dengan satu pusat ditengah menjadi sembilan arah.
Kesembilan arah disebut dengan dewata nawa sanga dan merupakan simbol perputaran dan keseimbangan dunia (Siwalatri, 1997). Filosofi dewata nawa sanga di aplikasikan ke dalam pola tata ruang menjadi sanga mandala yaitu sembilan hirarkhi zona ruang dan sanggah/tempat suci selalu diletakkan pada zona paling suci/utama yaitu arah kaja kangin (Waterson, 1990: 97). Masyarakat Bali sangat memperhatikan orientasi baik dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk arsitekturnya. Sumbu kaja-kelod dan timur barat menghasilkan sembilan tingkatan ruang dari utamaning utama (paling suci) sampai dengan nistaning nista (paling profan). Konsep utama-nista tidak sama dengan konsep baik buruk, karena laut sebagai arah selatan/nista tidak sepenuhnya memiliki makna buruk/evil tetapi juga memiliki makna kekuatan, sumber kehidupan, tempat mensucikan, dan sebagainya.
Konsep utama, madya, nista lebih menekankan pada kesesuaian dn kepatutan bukan merupakan dikotomi antara baik dan buruk (Waterson, 1990:97)
Perhitungan waktu untuk masyarakat Bali berbeda dengan perhitungan waktu barat.
Masyarakat Bali menghitung waktu secara melingkar (cycle) dan perhitungan hari dimulai pagi hari sampai dengan pagi hari berikutnya, berbeda dengan perhitungan barat yang bersifat linear dimana hari dimulai setelah jam 12 malam (Ramseyer, 2009:28). Perhitungan waktu yang melingkar menyebabkan kehidupan ini tidak pernah berakhir tetapi terus berlanjut.
Lingkaran lahir, hidup,dan mati (tri pramana) terus berlanjut dan tujuan akhirnya adalah moksa.
Filosofi tri hita karana diterapkan pada semua kehidupan manusia dan termasuk juga pada arsitekturnya, bahwa setiap bangunan memiliki tiga unsur untuk memberi pengaruh positif pada penghuninya yaitu atma/jiwa, kaya/prana/tenaga dan angga/badan fisik. Ketiga unsur tersebut sebagai ekspresi usaha manusia untuk menjaga keseimbangan antara bhuwana agung dan bhuwana alit dimana dunia juga dianggap memiliki ketiga unsur yang sama.
Untuk mencapai keseimbangan maka setiap desa sampai dengan rumah tinggal memiliki ke tiga unsur tersebut. Dalam arsitektur ketiga unsur tersebut diekspresikan menjadi parhyangan, pawongan dan palemahan. Tempat suci atau tempat pemujaan dianggap sebagai jiwa dari sebuah lingkungan binaan,
Arsitektur tradisional Bali secara garis besar terdiri dari tiga kelompok yaitu arsitektur untuk tempat suci atau tempat pemujaan, arsitektur untuk hunian/rumah tinggal dan
arsitektur untuk fasilitas umum. Tipologi ini merupakan bentuk aplikasi filosofi tri hita karana pada arsitektur. Ketiga tipe arsitektur ini terdapat pada tingkatan makro, meso dan mikro. Tempat suci untuk tingkatan makro yang disebut dengan kahyangan jagat, tingkat desa disebut dengan kahyangan tiga dan pada tingkat rumah tangga disebut dengan sanggah pemerajan. Untuk hunian tingkatannya adalah hunian untuk raja/puri, hunian untuk masyarakat berkasta/jero, hunian untuk pendeta/geria dan hunian untuk masyarakar kebanyakan/umah. Fasilitas umum dapat berupa bale banjar/tempat bersama,pasar dan kuburan.
Bangunan pada arsitektur tradisional Bali pada umumnya bersifat terbuka dan hanya memiliki dinding di beberapa sisi saja. Bangunan terbuka dibutuhkan karena bangunan memiliki berbagai fungsi baik fungsi keseharian dan fungsi sakral. Bangunan yang dibutuhkan harus memiliki fleksibelitas tinggi. Bangunan dalam arsitektur tradisional Bali disebut dengan bale, dan penamaan bale biasanya berdasarkan posisinya (dangin, dauh, daja dan delod), fungsinya (sumanggen, paon) dan berdasarkan jumlah tiang kayu/saka yang digunakan (bale sakanem/ bale saka roras,dsb) Penamaan bangunan pada tempat suci sering juga berdasarkan pada bentuk bangunan (padmasana, rong tiga, tugu, dsb) atau nama dewa yang dipuja di tempat tersebut (pelinggih/pesimpangan betara sri, pelinggih betara dalem, dsb).
Bangunan pada arsitektur tradisional Bali menggunakan struktur kayu dan batu.
Dimensi atau besaran bangunan ditentukan oleh jumlah tiang kayu yang digunakan. Tipologi bangunan/bale bervariasi dari bangunan dengan satu tiang sampai dengan bangunan dengan 12 tiang. Untuk fungsi yang membutuhkan ruangan yang lebih besar maka diperlakukan dengan menambah tiang tambahan di depan bangunan disebut dengan bale gunung rata.
Untuk kegiatan yang membutuhkan ruang yang besar (biasanya untuk kegiatan upacara), maka akan dibangun tempat naungan yang bersifat sementara menggunakan material bambu dan anyaman daun kelapa dan atau alang-alang atau disebut dengan tetaring. Bangunan ini akan dirubuhkan apabila kegiatan upacara sudah selesai dilaksanakan.
Pola tata ruang pada rumah tinggal memiliki hirarkhi yang sama yaitu utama, madya dan nista. Hirarkhi ruang pada skala rumah tinggal di tata dengan sanggah pemerajan di area utama dan terjauh, bangunan untuk kegiatan keseharian di area madya dan pintu masuk dan telajakan di area nista. Pola tata letak bangunan memiliki pola compound dengan natah sebagai pusat orientasi dan bangunan lainnya mengelilingi natah. Posisi bangunan di letakkan sesuai dengan prosesi pencapaian masuk kedalam rumah. Prosesi pencapaian selain
dikaitkan dengan fungsi bangunan juga berdasarkan pada sistem kepercayaan masyarakat dimana setiap orang yang memasuki rumah harus melalui proses pembersihan dan dapur dianggap sebagai simbol dewa Brahma/dewa api yang mensimbolkan membersihkan semua mala pada manusia, sehingga prosesi memasuki rumah harus melalui dapur terlebih dahulu.
Arsitektur tradisional Bali dataran memiliki beberapa aturan yang menjadi dasar untuk membangun rumah atau fasilitas lainnya. Aturan yang berkaitan dengan arsitektur tradisional Bali di dataran seperti asta bhumi yang mengatur tata letak bangunan dalam sebuah tapak, asta kosala kosali : aturanyang berkaitan dengan bangunan dari prose pengambilan material bangunan, memilih tapak sampai dengan ukuran dan proses upacara.
Ada juga lontar yang mengatur hierarhi kayu dan cara penggunaannya dan aturan lainnya.
Aturan ini pada umumnya ditulis dalam bahasa Jawa kuno atau bahasa Bali kuno,dan sudah banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Aturan yang berkaitan dengan arsitektur ini di miliki oleh beberapa sumber dan setiap daerah memiliki variasi dalam menyusun aturan yang dibuat.
BAB.3 METODA PENELITIAN
3.1. Penentuan Metoda Penelitian
Untuk menentukan metoda yang digunakan dalam penelitian ini ada beberapa kondisi yang menjadi pertimbangan antara lain :
1. Identitas merupakan pengalaman yang terjadi pada seseorang atau sekelompok orang yang mengakibatkan terjadinya ikatan emosional maupun kognisi pada orang tersebut pada suatu lingkungan terbangun.
2. Sebuah lingkungan terdiri dari berbagai karakter bangunan dan aktivitas yang dilakukan masyarakatnya dan secara bersama-sama memberi kontribusi pada karakter wajah kota sehingga dikenali oleh pengamatnya. Identitsas adalah karakter tertentu yang mampu membedakan sesuatu dengan lainnya.
3. Objek penelitian ini adalah bangunan yang ada di kota Denpasar, yaitu bangunan yang menggunakan elemen arsitektur tradisionla Bali dalam rancangannnya. Wajah kota lebih banyak dipengaruhi oleh bangunan publik seperti bangunan pemerintahan, bangunan untuk aktifitas komersial maupun bangunan untuk aktifitas sosial.
4. Penelitian ini adalah penelitian arsitektur oleh karena itu penelitian ini lebih menekankan pada peranan bangunan untuk membentuk karakter tertentu yang menjadi identitas kota dan tidak banyak membahas identitas dari sudut pandang aktivitas masyarakat.
Dengan pertimbangan diatas maka pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan interpretasi pada bangunan di kota Denpasar dan menganalisa peranan elemen bangunan pada arsitektur tradisional Bali pada pembentukan indentitas kota.
3.2.Medoda Penelitian
3.2.1. Pengertian Interpretasi
Manusia harus selalu melakukan interpretasi, karena manusia harus dapat menempatkan dirinya dalam konteks yang selalu berubah. Interpretasi merupakan hakekat transedensi manusia untuk menghadapi dan menghindari eksistensinya tenggelam dalam arus perubahan dunia (Poespoprodjo, 1987: 4). Tujuan utama dari interpretasi adalah penjelasan/elucidate sebuah objek, tetapi kemudian orang-orang mulai mencari arti yang lebih luas seperti edification dan atau transformasi. Edifikasi adalah proses pengembangan moral atau spiritual, termasuk didalamnya pengembangan diri, penyembuhan, kebebasan emansipasi
dan transformasi diri, namun tujuan utama dari interpretasi dan edifikasi adalah sangat berbeda (Krausz, 2007:1).
Fungsi interpretasi dapat dilihat sebagai produk dan sekaligus sebagai proses. Ada 3 fitur dari interpretasi yaitu (a) interpretasi adalah sebuah referensi objek mengenai sesuatu yang berbeda tentang objek itu sendiri, (b) interpretasi yang melibatkan penilaian dari yang dianggap berharga untuk di interpretasikan dan (c) tujuan utama dari interpretasi adalah elucidation (penjelasan) atau untuk memahami objek yang di interpretasikan. Secara kontras dalam menjelaskan sebuah objek yang diinterpretasi, interpreter mungkin mencari harapan perbaikan (edification) untuk dirinya. Tujuan utama dari edifikasi dan interpretasi berbeda (Krausz, 2007: 2).
Interpretasi harus didekatkan dalam konteks pemikiran ilmiah teknologis, karena dengan demikian interpretasi dapat menjadi alat untuk menjelaskan dan menjabarkan objek secara konseptual. Interpretasi bukan hanya merupakan penjelasan visulaisasi objek semata, karena dengan pola pemikiran seperti ini interpretasi hanya menjelaskan sesuatu yang sudah diketahui, oleh karena itu interpretasi harus mampu mengungkapkan sesuatu yang baru tentang kebenaran (Poespoprodjo, 1987: 8)
Untuk dapat melakukan interpretasi pada sebuah objek interpretasi, maka dibutuhkan beberapa kondisi terutama untuk pemula (Poespoprodjo, 1987: 175-176). Kondisi pertama adalah, interpreter harus memiliki sebuah dunia yang sama, minat yang sama dan universe discourse yang sama. Pengamat harus memahami konteks dari objek yang akan ditafsirkan.
Kedua terjadi sirkularitas pada pra pemahaman, sehingga mampu menghasilkan interpretasi yang baru. Proses ini terjadi untuk dapat memahami secara lebih mendalam dan terjadi resiprositas yaitu proses timbal balik antara teks dan interpreter sehingga menemukan perbaikan, pembenaran atau sesuatu yang baru. Ketiga adalah melakukan cara ekspresi yang lain. Setelah melakukan pemahamn maka dibutuhkan cara ekspresi yang berbeda dengan ekspresi sebelumnnya. Melakukan cara ekspresi yang berbeda baru dapat dilakukan kalau terjadi pemahaman yang utuh, dan juga bukan berarti cara yang sebelumnya salah. Dan yang terakhir adalah interpreter harus memiliki empati dan minat pada objek yang di interpretasikan
3.2.2.Tahapan Pelaksanaan Penelitian
Secara keseluruhan penelitian ini terdiri dari tiga tahapan yaitu tahap pertama penyusunan roposal, pengumpulan data dan tahap analisis dan hasil.
a. Tahap pengumpulan data:
Data dikumpulkan dengan melakukan observasi pada bangunan-bangunan yang terpilih menjadi sample yaitu bangunan publik yang terdiri dari bangunan pemerintahan, bangunan komersial dan bangunan sosial. Untuk penelitian ini sample yang dipilih dilakukan dengan random sampling yaitu bangunan yang terdapat di kota Denpasar dan menggunakan elemen arsitektur tradisional Bali pada rancangannya.
Untuk penelitian ini bangunan yang dipilih tidak dibatasi perkecamatan, tetapi dipilih bangunan yang memiliki karakter kuat dan dapat mewakili permasalahan yang akan dibahas
b. Tahap analisis Data
Setelah semua informasi terkumpul maka tahapan selanjutnya adalah analisis data mengan melakukan identifikasi elemen arsitektur tradisional Bali yang digunakan dalam bangunan tersebut. Dari tahapan selanjutnya adalah menginterpretasi bangunan tersebut dan menganalisa peranan elemen arsitektur Tradisional Bali dalam membentuk identitas kota. Interpretasi dilakukan oleh responden yang dipilih untuk mengetahui apakah elemen bangunan arsitektur tradisional Bali berperan membentuk identitas kota. Analisis dilakukan dengan melakukan diskusi antara hasil yang diperoleh dengan teori identitas kota sehingga diperoleh kesimpulan bagaimana peranan elemen bangunan arsitektur Tradisional Bali membentuk identitas kota.
BAB.4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Perkembangan Kota Denpasar
Kota Denpasar berkembang sejak masa kerajaan di Bali. Pada abad 16 Raja-raja di Bali secara politik mengakui kekuasaan kerajaan Klungkung di Gelgel, namun secara praktis mereka idenpenden dan memiliki kebijakaan yang berbeda. Kota Denpasar pada saat itu berada di wilayah kerajaan Badung sebelum menjadi kota Denpasar. Seperti kota kota lainnya di Bali yang berkembang dari cikal bakal kerajaan, kota Denpasar juga berkembang berawal dari kerajaan Badung. Setelah terjadi perang puputan tahun 1906,dan hampir semuainfra struktur hancur termasuk Puri Badung saat itu. Setelah itu Bali dikuasai dan diperintah oleh Pemerintah Belanda. Mereka mulai membangun infra stuktur yang dibuthkan masyarakat seperti jalan-jalan diaspal, kantor pemerintahan dibangun, museum dan hotel.
Potensi pulau Bali sebagai daerah yang menarik wisatawan disadari oleh pemerintah Belanda, dan mencetuskan gagasan Balisering (dalam situs kota Denpasar, anomin, hal 20). Gagasan ini ingin mempertahankan Bali sesuai dengan keadaannya dan mempertahankan karakter arsitekturnya sesuai dengan akar budayanya. Gagasan ini menjadikan pulau Bali sebagai tujuan wisata dan mempertahankan karakter bangunan sehingga tetap dapat mempertahankan identitasnya. Gagasan untuk mempertahankan karakter arsitektur Bali dan menjadikannya sebagai identitas tempat telah dimulai sejak jaman penjajahan Belanda.
Perkembangan kota Denpasar sebagai pusat pemerintahan dan pusat perekonomian menjadikan kota Denpasar mendapatkan berbagai pengaruh dari luar baik pengaruh positf maupun negatif. Perkembangan kota Denpasar dari kota kerajaan dan menjadi kota besar dapat dilihat dalam gambar 4.1
Peta kota denpasar tahun dari waktu ke waktu (sumber Google image)
4.2.Pembahasan Identitas Tempat
Dari observasi yang telah dilakukan pada bangunan yang ada di kota Denpasar maka diputuskan untuk mengambil sample dari beberapa bangunan menurut fungsi yang diwadahi.
Menurut Perwali kota Denpasar no 25 tahun 2010 tentang Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung kota Denpasar menyebutkan enam (6) fungsi bangunan yaitu fungsi hunian, fungsi keagamaan, fungsi usaha, fungsi sosial budaya, fungsi khusus dan fungsi campuran. Dari keenam fungsi yang ditetapkan dalam Perwali kota Denpasar, maka dalam pembahasan ini bangunan yang dibahas akan dikelompokkan menjadi empat yaitu bangunan pemerintahan baik untuk fungsi pemerintahan, bangunan dengan fungsi sosial , bangunan komersial dan bangunan hunian. Pengelompokkan tersebut dilakukan berdasarkan pertimbangan bahwa bangunan khusus tidak banyak keberadaannya di Denpasar, Sedangkan bangunan campuran dapat dimasukkan kedalam bangunan komersial. Untuk pembahasan setiap fungsi diwakilkan oleh tiga buah bangunan sebagai sample. Dari 12 bangunan yang diamati, selanjutnya dilihat bagaimana aplikasi penggunaan elemen arsitektur tradisional Bali dalam rancangannya dan diinterpretasi peranan komponentersebut dalammembentuk identitas tempat
Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi komponen arsitektur tradisional Bali yang digunakan dalam bangunan tersebut. Bangunan di klasifikasikan dalam fungsi yang diwadahinya. Komponen yang ATB dibahas adalah (a) bentuk bangunan, (b) material yang digunakan, (c) ornamentasi, (d) pintu masuk dan tembok penyengker, dan (e) organisasi keruangan fasilitas yang dibahas. Penggunaan komponen ATB ditentukan berdasarkan bagaimana masyarakat mengaplikasikan ATB pada rancangan dan juga yang berpengaruh pada karakter tampilan bangunan. Tobari dalam artikelnya menyebutkan ada tujuh komponen yang dapat menciptakan identitas arsitektur, namun khusus untuk kasus kota Denpasar atau Bali, hanya dibahas dalam 5 aspek di atas. Keputusan ini diambil berdasarkan pada hasil observasi awal yang dilakukan dan mengamati kecenderungan masyarakat pada penerapan ATB pada rancangan masa kini.
Bangunan yang dianalisa merupakan contoh-contoh bagaimana masyarakat mengaplikasikan komponen ATB dalam rancangannya. Bangunan tersebut merupakan kasusyang dipakai untuk mengarahkan pembahasan dan dapat menggambarkan permasalahan yang dibahas. Dalam tabel 4.1 ditampilkan 12 bangunan yang digunakan sebagai kausu dalam tahapan pembahasan.
Tabel 4.1. Gambaran bangunan di Denpasar dan bagaimana aplikasi komponen ATB dalam rancangan
No Fungsi Bangunan Deskripsi keterangan
Bangunan Pemerintahan
1 Kantor Wali Kota Denpasar Menggunakan atap
limasan dan
menampilkan pembagian yang jelas antara atap bagian badan dan bebaturan
Menggunakan ornamen tradisional Bali
Menggunakan material yang biasa dalam ATB
Menggunakan tembok penyengker dan pintu masuk tradisional Bali
Penerapan organisasi keruangan tradisional Bali yang telah diadaptasi
Aplikasi elemen
ATB dalam
rancangan masa kini mampu menjadi identitas kawasan
2 Gedung keuangan Negara bentuk futuristik dengan kolom berbentuk Y
atap datar dengan beton
dihias dengan ornamen dan dekorasi Tradisional Bali
material beton, batu bata dan paras
organsasi keruangan : ada tempat suci di arah kaja kangin
tembok penyengker dan pintu masuk tradisional Bali
penggabungan karakter modern dan karakter tradisional Bali
tampilan yang kontras antara bentuk bangunan modern dan ornamen
tradisional Bali
Bangunan Sosial
3 museum Bali menggunakan adaptasi
bentuk bangunan ATB
pembagian bagian bangunan yang jelas
menggunakan ornamen ATB
menggunakan material yang digunakan dalam ATB
bangunan ini dirancang oleh arsitek Belanda
Aplikasi elemen bangunan pada bangunan masa kini mampu menciptakan identitas tempat
4 Bale Banjar Langon Bangunan sosial/ bale
banjar yang
menggunakan adaptasi bentuk ATB
pembagian yang jelas komponen atap, badan dan bebaturan
menggunakan material yang biasa digunakan dalamATB, tidak dominan
menggunakan ornamen tardisional Bali
menggunakan organisasi keruangan tradisionsl Bali
tidak memiliki tembok penyengker, dinding bangunanmenjadi batas properti
Bangunan ini merupakan aset pusaka kota Denpasar
5 Sekolah tinggi Primakara Bangunan sosial/Sekolah tinggi Primakara
menggunakan berntuk bangunan modern, atap plat
pembagian yang jelas antara atap, badan dan bebaturan
ornamen minimal (pada canopy)
material
fabrikasi/sintetik
organisasi keruangan adaptasi sanga mandala
indentitas “Bali”
tidak terlalu kuat, karena elemen bangunan ATB yang digunakan minimal
sebagai fasilitas publik, bangunan
ini dapat
menciptakan identitas tempat
6 Fakultas Kedokteran Warmadewa Bangunan sosial
Menggunakan adaptasi bentuk bangunanATB
pemilajan bagian bangunan kurang jelas/bebaturan tidak dominan
menggunakan material organik/batu candi dan palimanan
sedikit ornamen pada canopy
organisasi keruangan ATB tidak terlalu nampak
merupakan bagian/salah satu bangunan dari kawasan kampus warmadewa
Fasilitas Komersial
7 Pusat perdagangan menggunakan bentuk
dari adaptasi bangunan tradisional Bali
menggunakan atap limasan
menggunakan material batu bata dan batu paras
menggunakan ornamen tradisional Bali
organisasi keruangan tradisional Bali tidak terlalu nyata
tidakmenggunakan tembok penyengker dan pintu masuk tradisional Bali
bangunan inicukup
memiliki dentitas
“Bali” yang cukup kuat
8 Toko tekstil dan perhiasan bentuk bangunan tidak menampilkan pembagian yang jelas antara atap, badan bangunan dan bebaturan
atap datar/plat
material
fabrikasi/sintetik
ornamen yang
digunakan dari adaptasi ornamen tradisional Bali
tanpa tembok
penyengker dan pintu masuk ATB
organisasi keruangan
ATB tidak
teraplikasikan
9 Pusat Penjualan Gadget menggunakan bentuk
bangunan modern, tanpa menampilkan pembagian yang jelas
menggunakan atap datar/plat
material bangunan modern/kaca
tidak menggunakan ornament tradisional Bali
membutuhkan ruang untuk reklame/billboard
tidak menggunakan material organik
bangunan ini tidak memiliki identitas “ Bali”
10 Pusat Pertokoan Ramayana menggunakan bentuk dari adaptasi bangunan tradisional Bali
menggunakan atap limasan
menggunakan material batu bata dan batu paras
menggunakan ornamen tradisional Bali
organisasi keruangan tradisional Bali tidak terlalu nyata
tidakmenggunakan tembok penyengker dan pintu masuk tradisional Bali
bangunan inicukup
memiliki dentitas
“Bali” yang cukup kuat
11 Pusat Penjualan Gadget menggunakan bentuk
bangunan modern, tanpa menampilkan pembagian yang jelas
sedikit menggunakan bentuk tradisionalbali
menggunakan atap datar/plat
material bangunan modern/kaca
sedikit menggunakan ornament tradisional Bali
membutuhkan ruang untuk reklame/billboard
tidak menggunakan material organik
12 Bangunan Hunian menggunakan bentuk
dengan pembagian bagian bangunan yang jelas
bentuk atap limasan
menggunakan material organik/batu hitam
ornamen tradisional Bali yang disederhanakan
menggunakan tembok penyengker dan pintu masuk modern
secara keseluruhan identitas yang ditampilkan tidak khas identitas
“Bali”
menampilkan identitas arsitektur tropis/Indonesia
4.3.Analisis Identitas kota berdasarkan Fungsi bangunan di Denpasar 4.3.1. Bangunan Pemerintahan.
Bangunan pemerintahan yang digunakan sebagai objek bahasan adalah kantor walikota denpasar dan kantor unit pelayanan di lumintang. Dari kedua bangunan tersebut nampak bahwa bangunan kantor pemerintahan menggunakan semua aspek yang menjadi parameter pembahasan yaitu bentuk bangunnan, elemen bangunan ATB, material yang biasa digunakandalam ATB, ornamen dan organisasi keruangannya. Bangunan pemerintahan walaupun menerapkan struktur bangunan modern tetapi mampu melakukan adaptasi dengan baik sehingga penggunaan elemen arsitektur Tradisional Bali mampumenyatu dengan rancangan dan tidak memiliki kesan ditempel atau dipaksakan.
Kedua bangunan pemerintahan menggunakan bentuk atap limasan dan mengekspresikan pembagian bagian bangunan dengan jelas. Pembagian bagian bangunan yang jelas adalah secara visual dengan mudah dapat dibendakan antara bagian atap, dinding dan bagian bebaturan. Konsep tri angga ini diekspresikan dengan baik. Ekspresi tampak bangunan pemerintahan sangat kuat mengrepresentasikan identitas Bali karena menggunakan material organik yang biasanya digunakan pada ATB seperti batu bata dan batu paras dan banyak mengaplikasikan ornament tradisional Bali pada tampilan luarnya. Secara keseluruhan bangunan pemerintahan dapat menjadi salah satu contoh bagaimana mengaplikasikan komponen ATB dalam rancangan.
Aplikasi bahasa lokal pada rancangan bangunan pemerintahan juga diterapkan sampai dengan organisasi keruangannya. Walaupun tidak dapat menerapkan konsep sangamandala secara utuh, namunorganisasi keruangan kantorpemerintahan beruaha mengaplikasikannya dalamrancangan. Pembagian 9 zona pada konsep sanga mandala diadaptasi dengan tetap mempertahankan zona utama yaitu zona dengan hirarkhi paling tinggi sebagai ruangan sakral yang digunakan untuk tempat pemujaan, dan menempatkan pintu masuk/main entrance di zona nista zona dengan hirarkhi paling rendah. Sedangkan zona lainnya disesuaikan dengan kebutuhan rancangan masa kini. Adaptasi organisasi keruangan berdasarkan sanga mandala merupakan salah satu pendekatan bahwa aplikasi ATB pada rancangan juga dapat sampai pada konsep keruangan dan tidak hanya pada tataran tambilan bangunan.
Identitas berkaitan dengan pengenalan (sense of recognation), karena dengan menggunakan bahasa arsitektur lokal maka identitas arsitektur yang menjadi bagaian dari identitas kota langsung dapat dikenali. Rasa pengenalan/sense of recognation juga berkaitan dengan rasamemiliki atau manusia merasa bahwa bentuk-bentuk tersebut menjadi bagian dari
diri mereka dan manusia merasa menjadi bagian dari lingkungan tersebut. Penggunaan bahasa lokal dapat menjadi salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalammenciptakan identitas tempat. Namun aplikasi komponen arsitektur lokal harus dilakukan dengan hati-hati agartidak terjadi degradasi kualitas arsitektur yang menyebabkan terjadi kitchs.
Keberhasilan bangunan pemerintahandalam menerapkan komponen ATB pada rancangan tidak terlepas dari ketersediaan biaya untuk mengaplikasikan komponen ATB pada rancangan, dan kemampuan pemeritan untuk melakukan pemeliharaan. Penggunakan komponen bangunan ATB pada rancangan masa kini memiliki beberapakonsekwensi yaitu biaya bangunan menjadi lebih mahal karena menggunakan material organik dan membutuhkan biaya yang cukup besar untuk pemeliharaan. Material bangunan organikmemiliki tingkat durabilitas yang lebih rendah dibandingkan dengan material sintetik, sehingga membutuhkan biaya untuk maintenance yang lebih tinggi.
Aplikasi komponen ATB ada rancangan bangunan pemerintahan juga memiliki nilai simbolik, yaitu sebagai ekspresi dari tokoh yang menjadi panutan masyarakat. Bangunan pemerintahan harus mampu menjadi contoh/panutan bagi masyarakat bagaimana menggunakan komponen ATB dengan baik dan dapat menjadi identitas kawasan.
4.3.2. Bangunan Komersial
Bangunan komersial adalah bagunan yang mewadahi kegiatan komersial dan kelompok bangunan ini banyak terdapat diseputar pusat kota dan psat perdaganan lainnya di Denoasar. Bangunan komersial memiliki peranan yang cukup signifikan mempengaruhi wajah kota atau dengan kata lain karakter yang menjadi identitas kota. Bangunan komersial pada umumnya didominasi dengan penggunaan material sintetik terutama kaca. Material kaca dibutuhkan sebagai ekspresi bangunan komersial yang membutuhkan karakter etalase,yaitu karakter bangunan yang memamerkan produk yang dijual untuk menarik pengunjung untuk datang. Karakter ini direpresentasikan dengan menggunakan material yang transparan.
Bentuk bangunan komersial cendrung memilih bentuk yang mudah dilihat/eye catching sehingga menggunakan bentuk yang tidak teratur,banyak menggunakan garis lengkung dan menampilkan karakter bangunan modern. Penggunaan elemen ATB pada bangunan komersial terutama bangunan yang menggunakan bentuk yang tidak persegi dan menggunakan banyak material kaca memiliki kesulitan untuk memadukan karakter bangunan late modern dengan karakter bangunan ATB. Pada bentuk bangunan seperti ini mereka cenderung menggunakan bentuk atap datar dan bukan bentuk atap limasan. Ornamen tradisionalBali hanya digunakan dibeberapa bidang kecil yang dan beberapa bagian lainnya.
Pada bangunan komersial juga penggunaan tembok penyengker dan pintu masuk tradisional sulit diaplikasikan karena fasilitas komersial membutuhkan kemudahan aksesibilitas dan parkir. Namu ada fasilitas komersial yang menerapkan komponen ATB dalam rancangannya dengan intensitas yang cukup tinggi. Hal ini memungkinkan karena fasilitas tersebut memiliki lahan yang cukup luas danterletak di pusat kota (gambar 4.2). Bangunan komersial membutuhkan ekspresi modern atau late modern juga disebabkan oleh produk yang dijual.
Gerai-gerai yang menjual produk teknologi informasi cenderung ingin menampilkan bangunan yang modern dengan menggunakan banyak kaca sebagai representasi dari modernitas, sehingga penggunaan elemen ATB pada rancangan menjadi minimal.
Identitas berkaitan dengan memori dari seseorang. Apabila seseorang melakukan aktivitas disuatu ruangan tertentu, maka akan terbentuk image dan menjadi memori di dalam diri seseorang. Identitas tempat memang banyak dipengaruhi oleh karakter fisikal yang menciptakan memori, tetapiidentitas tempat juga dipengaruhi oleh hal-hal yang tidak fisikal seperti aktivias. Memori manusia menurut assman dapat dilihat dalam dua kategori yaitu komunikatif memori dan cultural memori. Memori yang kedua berkaitan dengan masa lalu dan melekat pada ingatan manusia. Sedangkan komunikatif memori dapat menghilang dengan berjalannya waktu
Peranan arsitektur menciptakan dalam menciptakan identitas adalah bagaimana arsitektur disuatu tempat dapat menjadi image yang melekat dalam memori manusia.
Kemampuan untuk menjadi memori tidak hanya untuk penduduk setmpat tetapi juga bagi pendatang dan pengunjung yang mendatangi sebuah tempat. Karakter fisikal suatu tempat menjadi memori dan kemudian akan menjadi identitas tempat.
4.3.3. Bangunan Sosial
Bangunan sosial adalah bangunan dengan fungsi pelayanan pada masyarakatseperti balai banjar, sekolah, museum dan sebagainya. Banguan sosial memiliki peranan yang penting pada penciptaan identitas kota karena bangunan ini banyakdikunjungi atau digunakan oleh masyarakat. Pada umumnya bangunan sosialadaalah miliki pemerintah,milik intansi tertentu atau milik masyarakat. Dari observasi yang dilakukannampak bahwa bangunan sosial menggunakan elemen ATB dalamrancangannya dengan baik. Instansi bangunan sosial memiliki kesadaran untuk menerapkan elemen ATB untuk menciptakan tampilan bangunan dengan karakter Bali. Seperti bangunan bale banjar di kota Denpasar menggunakan elemen ATB dalam rancangannya dengan baik, karena bale banjar merupakan milik masyarakat.
Masyarakt Bali pada umumnya memiliki kewajiban untuk menerapkan ATB pada ranccangan
bale banjar mereka, walaupun tetap melakukan adaptasi dengan menggunakan material modern. Aplikasi elemen ATB pada bangunan bale banjar nampak pada bentuk bangunan , penggunaan ornamen tradisional Bali dan penggunaan tempok penyengker dan pintu masuk tradisional Bali. Secara keseluruhanidentitas Balidapat tampil dengan baik pada bangunan bale banjar.
Pada bangunan sosial lainnya seperti sekolah, penerapan elemen ATB pada rancangan bervariasi, adayang menrapkan dengan baik,namun ada juga yang hanya menrepakan beberapa elemen ATB seperti ornamen dan bentuk atap. Keinginan untuk tampil modern dengan menggunakan material sintetik produksi pabrik pada tampilan bangunan merupakan pilihan yang dilakukan oleh perancangnya. Tampil modern dan cenderung minimalis merupakan trend yang banyak dipilih terutama untuk bangunan komersia dan bangunan milik swasta.
4.3.4. Bangunan Hunian
Penggunaan elemen ATB pada bangunan hunian juga bervariasi. Bangunan hunian yang merupakan pengembangan dari rumah adat pada umumnya masih tetap mempertahankan konsep arsitektur tradidional Bali, hanya melakukan perubahan pada material yang digunakan yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas bangunan. Penggunaan material bangunan modern diaplikasikan pada lantai, dinding, elemen sruktur dan sebagainya.
Karena kesadaran untuk mempertahankan karakter bangunan tradisional Bali, maka penggunaan elemen ATB masih diterapkan dengan baik.
Pada bangunan hunian yang dibangun baru, penerapan ATB dalam rancangan bervariasi. Pada umumnya bangunan hunian menerapkan bentuk bangunan dengan pembagian komponen bangunan yang jelas, emnggunakan atap limasan atau pelana dan mengekspresikan bebaturan dengan jelas. Sebagai aksen, penggunaan material organik tropis memberikan karakter bangunan tropis dan dapat menjadi representasi dari bahasa lokal yangyang digunakan. Aplikasi elemen bangunan ATB pada hunian masa kini lebih bebas dan lebih sederhana, karena generasi muda lebih condong menyukai sesuatu yang sederhana.
4.4. Hasil pembahasan
Dari pemaparan di atas dapat dilihat bahwa elemen bangunan ATB yang digunakan untuk menciptakan identitas adalah :
a. Bentuk bangunan :
Bentuk bangunan adalah ekspresi bangunan secara menyeluruh. Pada bangunan ATB bentuk bangunan memiliki karakter tampilan yang mampu menampilknan bagian
bagunan dengan jelas, artinya pemilahan bagian bangunan secara visual datap diidentifikasi dengan jelas. Ekspresi ini adalah representasi dari konsep tri angga pada bangunan. Konsep tri angga adalah konsep yang menganalogikan bangunan dengan manusiadan direpresentasikan dengan pembagianbagian bagunan dengan jelas antara atap, bgaian dinding/kolom dan bagian bebaturan atau sering dinyatakan sebagai pembagian yang jelas antara kepala, badan dan kaki. Dengan pemilahan yang jelas makakarakter bangunan ATB dapat terbaca.
Dari ketiga bagian bangunan di atas, maka bagian atap memegang peranan terpenting untuk menciptakan identitas tempat. Variasi bentuk atap arsitektur nusantara menupakan kekayaan masyarakat Indonesia yang tercipta dari apresiasi masyarakaa pada lingkungan. Pada arsitektur tradisional Bali, bentuk atap yang merepresentasikan ATB adalah bentuk atap limasan atau kekampiahan. Bentuk atap ini sesungguhnya merupakan solusi dari berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat. Bentuk atap limasan merupakan sintesa dari masalah iklim tropis di Bali, ketersediaan material dan penguasaan teknologi masyarakat saat itu, sehingga terlahir bentuk atap limasan.
Penggunaan bentuk bangunan yang merepresentasikan bangunan ATB dapat membentuk identitas kota, karena bentuk tersebut sudah dikenal oleh masyarakat Bali.
Identitas adalah sesuatu yang berkaitan dengan memori dan rasa pengenalan.
b. Ornamen dan dekorasi tradisional Bali
Ornamen dan tradisional Bali banyak digunakan dalam bangunan maa kini di denpasar. Penggunaan ornamen ini adalah usaha masyarakat untuk mengikuti peraturan daeran Bali tentang bangunan dan penggunaan ini bervariasi dari yang hanya sekedar menempel sampai dengan menggunakannya pada hampir keseluruhan bidang tampak bangunan. Ornamen ATB dianggap sebagai salah satu elemen bangunan yang paling mudah diterapkan dan dianggap sebagai representasi identitas Bali. Namun dalam prakteknya penggunaan ornemen ATB kadang tidak memperhatikan aturan dan kaidah penggunaan ornamen, karena ornamen pada ATB adalah simbol/tanda yang digunakan masyarakat Bali dahulu untuk menyampaikan sesuatu pada pengamat. Aplikasi ornamen dan dekorasi ATB pada bangunan masa kini cenderung dianggap sebagai langkah “ menghias” bangunan, hanya dianggapsebagai bagian dari estetika bangunan dan makna yang terkandung didalam
ornamen sering dilupakan. Langkah “menghias” bangunan banyak diaplikasikan pada dinding/bidang kosong yang ingin dihias.
Ornamen dan dekorasi ATB karena memiliki bentuk yang khas sehingga dengan mudah dapat dikenali, walaupun diaplikasikan pada bangunan masa kini.
c. Material Bangunan
Bangunan ATB menggunakan material yang ada disekitar mereka,sehingga ATB sangat kontekstual. Namun sejalan dengan perkembangan teknologi dan teknologi informasi tentang material bangunan dapat diperoleh dari mana saja dengan ketersediaan yang berlimpah. Materal yang digunakan tidak terbatas yang tersedia disekitar lingkungan mereka , tetapi dapat menggunakan berbagai material yang berasal dari daerah lain. Tampilan Arsitektur Tradisional Bali memiliki karakter menggunakan material bangunan organikseperti batu alam, batu bata, katu, alang- alang dan sebagainya. Pada penerapannya saat ini karakter ini yang ditampilkan untuk menciptakan identitas. Di Denpasar bangunan banyak menggunakan materialbatu bata, batu dan batu paras yang umum digunakan pada bangunan tradisional Bali, sehingga diharapak mampu menciptakan identitas tempat . Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi material organik yang digunakan tidak terbatas karena banyak material organik yang didatangan dari luar Bali bahkan dariluar Indonesia. Penggunaan material organik dapat memperkaya tampilan bangunan di Denpasar, walaupun tidak penuhnya mampu menjadi Identitas. Identitas dapat tercipta karena dilakukan secara berulang, oleh karena itu penggunaan material organik yang dilakukan secara berulang/banyak pihak dapat menjadi identitas kota Denpasar, walaupun materialnya berasal dari luar Bali.
d. Penggunaan tembok penyengker dan pintu masuk tradisional Bali.
Konsep keruangan asitektur Tradisional Bali, terutamayang berkembang di dataran memiliki batas properti yang jelas, oleh karena itu setiap fasilitas dibatasi oleh tembok pembatas yang jelas. Pada bangunan masa kini penggunaan tembok dan pintu masuk tradisional Bali menjadi salah satu yang digunakan untuk menampilkan karakter
“Bali” dalam rancangannya. Tembok penyengker dan pintu masuk merupakan wajah terluar dari tampilan keseluruhan tapak, sehingga penggunaan elemen ATB pada bagian ini memberikan karakter tampilan yang khas Bali. Penambahan tembok penyengker ini selain untuk tujuan keamanan, juga untuk mencipakan identitas.
e. Organisasi Keruangan
Dalam menentukan tata letak bangunan, terutama pada bangunan pemerintahan dan bangunan sosial, adaptasi konsep sanga mandala dapat dilakukan dengan baik.
Organisasi keruangan fasilitas pemerinyahan memberikan ruang yang cukup untuk tempat suci/sanggah dan berusaha meletakkan pintu masuk di areal nista,. Adaptasi konsep keruangan ini dapat menjadi identitas, kadang tidak nampak dalam tampilan bangunan dari luar
BAB.5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa penggunaan komponen Atb dalam rancangan masa kini mampu menciptakan identitas “Bali”.Identitas ini dapat menjadi identitas tempat atau kawasan. Penggunaan komponen ATB pada rancangan masa kini mampu dikenali sebagai bagian dari identitas tempat /Bali.
Dari lima aspek yang dibahas, yaitu komponen atau elemen yang ATB yang digunakan dalam rancangan masa kini pada beberapa kasusyang dibahas dapat disimpulkan bahwa identitas dapat dilihat paling kuat apabila menggunakan kelima elemen tersebut yaitu bentuk bangunan, pemakaian material yang jamak digunakan dalam ATB,penggunaan ornamen dan dekorasi tradisional Bali, penggunaan organisasi keruangan tradisional Bali dan penggunaan tembokpenyengker tradisional Bali. Kelima aspek ini digunakan secara bersama atau terpisah,namun dengan konsekwensi intensitas identitas tidaksekuat apabila digunakan bersama-sama.
Dari kelima elemen tersebut di atas, penggunaan ornamen dan dekorasi tradisional Bali dan penggunaan material organik yang biasa digunakan dalam ATB merupakan elemen yang paling banyak diaplikasikandalam bangunan masa kini, karena dianggap memiliki karakter yang khas dan unik dan tidak ditemukan di tempat lain. Elemen ini diaplikasikan hampir disemua fungsi bangunan, baik pada bangunan pemerintahan maupun bangunan dengan fungsi komersial, walaupun dengan intensitas yang berbeda.
Bangunan komersial, terutamayang ingin mengekspresikan modern/futuristik yang banyak menggunakan material kaca, penggunaan elemen tradisional Bali agak sulit diterapkan atau dengan kata lain belum banyak diterapkan. Fenomena ini mungkin disebabkan perancang kesulitasn memadukanmaterial kaca yang transparan dengan kesanringan dengan elemen bangunan tradisonal Bali yang cenderung memiliki kesan beart dan stabil. Selain itu bangunan dengan fungsi komersial membutuhkan banyak ruang untuk menempatkan reklamedan signboard, sehingga menggunakan sebagian tampak bangunan untuk menempatkannya. Kondisi ini membuat elemen tradisional yang digunakan tidak berfungsi dengan baik.