• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. antara lain penelitain yang telah dilakukan oleh Susanto & Ramadhani (2016)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. antara lain penelitain yang telah dilakukan oleh Susanto & Ramadhani (2016)"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

9 BAB II

TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS A. Revieu Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai konservatisme akuntansi telah banyak dilakukan antara lain penelitain yang telah dilakukan oleh Susanto & Ramadhani (2016) yang berjudul faktor-faktor yang mempengaruhi konservatisme akuntansi pada perusahaan di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2014 dengan menggunakan sampel 22 perusahaan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis regresi berganda yang menunjukkan bahwa ukuran perusahaan dan intensitas modal berpengaruh positif terhadap konservatisme. Sedangkan leverage dan, liquiditas dan growth opportuniy tidak berpengaruh positif terhadap konservatisme akuntansi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar Bursa efek Indonesia tahun 2010-2014.

Syifa et al.,( 2017) Melakukan penelitian yang berjudul fiancial distress, kepemilikan institusional, profitabilitas terhadap konservatisme akuntansi pada perusahaan food dan bevereges yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2011-2015 dengan menggunakan sampel sebanyak 40 unit. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis regresi data panel yang menunukkan bahwa fiancial distress, kepemilikan instistusional dan profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap konservatisme akuntansi.

Andreas et al., (2017) melakukan penelitian yang berjudul konservatisme akuntansi di Indonesia pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012 dan tahun 2013 dengan menggunakan sampel sebanyak 114

(2)

10

perusahaan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model regresi linier berganda yang menunjukkan bahwa company growth, profitability dan investment opportuniy set berpengaruh positif terhadap konservatisme akuntansi.

Sulastri & Anna (2018) melakukan penelitian yang berjudul pengaruh financial distress dan leverage terhadap konservatisme akunatansi pada perusahaan manufaktur yang tedaftar di Bursa Efek Indonesia sektor pertambangan tahun 2012-2016 dengan menggunakan sampel sebanyak 44 perusahaan manufaktur. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model anailisis regresi linier berganda yang menunjukkan bahwa financial distress dan leverage berpengaruh terhadap konservatisme akunatnsi.

Utama, E.P (2018) melakukan penelitian yang berjudul pengaruh leverage, ukuran perusahaan, kepemilikan manajerial dan protabilitas terhadap konservatisme akuntansi pada perusahaan subsektor telekomonikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2016 dengan menggunakan sampel sebanyak 30 perusahaan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitianya adalah analisis statistik deskriptif dan analisis data panel yang menunjukkan bahwa leverage, ukuran perusahaan dan kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan terhadap konservatisme akuntansi. Sedangkan profitabilitas berpengaruh secara signifikan dengan arah negatif terhadap konservatisme akuntansi pada perusahaan subsektor telekomunikasi yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia pada tahun 2011-2016.

(3)

11

Abdurrahman & Ermawati (2018) melakukan penelitian yang berjududul pengaruh leverage, financial distress dan profitabilitas terhadap konservatisme akuntansi pada perusahaan pertambangan di Indonesia tahun 2013-2017 dengan menggunakan 20 sampel perusahaan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis linear berganda data panel menggunakan program Eviews 10 yang menunjukkan bahwa leverage dan fienancial distress tidak berpengaruh terhadap konservatisme. Profitabilitas berpengaruh negatif signifikan terhadap konservatisme akuntansi perusahaan pertambangan.

El-haq (2019) melakukan penelitian yang berjudul pengaruh kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, growth opportunities, dan profitablitas terhadap konservatisme pada perusahaan BUMN yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012-2018 dengan menggunakan sampel 49 perusahaan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode ekspalanasi dan anailisis regresi linier berganda dengan bantuan SPSS Versi 23 yang menunjukkan bahwa kepemilikan institusional dan growth opportunities berpengaruh signifikan terhadap konservatisme akuntansi. Sedangkan kepemilikan manajerial dan profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap konservatisme akuntansi.

Kodriyah & Framita (2019) melakukan penelitian yang berjudul menguji dampak financial distress dan leverage terhadap konservatisme akuntansi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2017 dengan menggunakan sampel 7 perusahaan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode ekspalanasi dan analisis regresi linier berganda

(4)

12

dengan bantuan SPSS Versi 25 yang menunjukkan bahwa financial distress berpengaruh signifikan negatif. Sedangkan leverage menunjukkan berpengaruh positif terhadap konservatisme pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013-2017.

Putra & Sari (2020) melakukan penelitian yang berjudul finacial distress dan Leverage dan profitabilitas terhadap koservatisme akuntansi. Penelitian ini menggunakan finacial distress, Leverage dan profitabilitas sebagai variabel independen dan konservatisme akuntansi sebagai variabel dependen. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive sampling dengan sampel sebanyak 60 perusahaan. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah model regresi yang menunjukkan bahwa finacial distress tidak berpengaruh signifikan terhadap konservatisme akuntansi. Sedangkan Leverage dan profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap konservatisme akunatnsi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2015-2019.

Hariyanto (2020) melakukan penelitian yang berjudul analisis faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap konservatisme akuntansi pada perusahaan real estate dan property di Indonesia. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah anailisis regresi linier berganda yang menunjukan bahwa profitabilitas dan kepemilikan saham oleh manajerial berpengaruh positif terhadap konservatisme akuntansi. Ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap konservatisme akuntansi, sedangkan kepemilikan institusi tidak berpengaruh terhadap konservatisme akuntansi.

(5)

13 B. Tianjauan Pustaka

1. Teori Akuntansi Positif (Positive Accounting Teori)

Teori akuntansi positif didasarkan atas adanya pihak-pihak yang berkepentingan dengan laporan keuangan untuk memprediksi kebijakan akuntansi yang hendak dipilih oleh perusahaan dalam kondisi tertentu. Akuntansi positif lebih kepada bagaimana realita praktek-praktek akuntansi yang ada kepada masyarakat. Kebebasan yang dimiliki manajer dalam menentukan metode akuntansi dan kebijakan yang diterapkan menimbulkan perilaku opportunistik. Manajer dinilai dapat memilih metode dan kebijakan akuntansi yang sesuai dengan kepentingannya. Manajer berusaha untuk memaksimalkan keuangan mereka, sehingga secara langsung akan berpengaruh terhadap kompensasi dan kesejahteraan yang akan diterima.

Resiko yang dihadapi perusahaan dari kebijakan tersebut akan semakin tinggi seperti salah satunya memiliki biaya politis yang besar. Perusahaan tidak ingin menanggung biaya politis yang besar. Maka untuk menghindari tindakan tersebut perusahaan akan menerapkan prinsip konservatisme yaitu dengan memilih metode yang dapat menurunkan laba.

Watts, R.L & Zimmerman (1986) menjelaskan tentang adanya tiga hipotesis yang dapat diaplikasikan untuk melakukan prediksi dalam positive accounting theory mengenai manajer memilih suatu prinsip akuntansi konservatif atau tidak, hipotesis-hipotesis tersebut yang dimaksud adalah sebagai berikut:

(6)

14

Hipotesis ini menyatakan bahwa manajer perusahaan lebih cenderung menggunakan metode akuntansi yang bisa meningkatkan laba yang dilaporkan untuk meningkatkan perolehan bonus mereka. Manajer berperilaku seiring dengan bonus yang diberikan. Manajer dinilai melakukan manajemen laba agar target laba terpenuhi. Hal ini membuat laporan laba keuangan cenderung optimis dan tidak konsevatisme.

b) Hipotesis utang ekuitas (Debt Equity Hypothesis)

Hipotesisi ini dapat dijelaskan dengan rasio leverage yang merupakan rasio antara total hutang dan total aset. Maka apabila manajer melakukan manajemen laba ketika dalam kedaan melakukan perjanjian hutang, maka laba cenderung tidak konservatif sehingga semakin tinggi rasio utang atau ekuitas yang dimiliki perusahaan akan berbanding terbalik dengan tingkat konservatisme akuntansi. c) Hipotesis Biaya Politik (Political cost hypothesis)

Hipotesis ini menjelaskan perusahaan besar diprediksikan lebih sensitif terhadap adanya biaya politik daripada perusahaan kecil (Watts dan Zimmerman, 1990). Biaya politik timbul akibat adanya konflik kepentingan antara manajer dengan pemerintah. Kebijakan pemerintah untuk hal tersebut adalah kewajiban membayar pajak. Semakin besar tingkat pendapatan atau laba yang diperoleh perusahaan, maka semakin besar pula pajak yang harus dibayar.

Berdasarkan political cost hypothesis, manajer ingin mengecilkan laba untuk mengurangi biaya politis yang akan ditanggung perusahaan. Perusahaan dengan ukuran besar dinilai menerapkan prinsip konservatisme akuntansi dalam melaporkan keuangan dengan menyajikan angka laba yang bernilai rendah,

(7)

15

dikarenakan biaya politik yang mungkin ditanggung perusahaan akan mempengaruhi dimasa mendatang berdasarkan kebijakan pemerintah. Untuk menghindari pembayaran biaya politis yang tinggi, manajer akan cenderung melaporkan laba yang rendah sehingga terjadi pelaporan laba yang tidak konservatif.

Sedangkan menurut debt/equity hypotesis, perusahaan yang memiliki tingkat laverage yang tinggi akan cenderung menyajikan labanya lebih tinggi pada periode tertentu untuk mendapatkan kepercayaan kreditor dalam melunasi kewajiban perusahaan, namun kreditor akan ikut melibatkan diri dalam mengawasi tindakan manajer dengan mendorong penerapan konservatisme. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa manajer cenderung menyelenggarakan akuntansi yang meningkatkan nilai laba untuk mengindari kineja buruk, namun kreditur dan pemegang saham perusahaan cenderung meminta manajer menyelenggarakan akuntansi konservatif yang dapat menurunkan nilai laba untuk mengindari biaya politis.

2. Teori Sinyal (Signaling Theory)

Teori ini menjelaskan mengapa perusahaan mempunyai dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal. Dorongan perusahaan untuk memberikan informasi karena terdapat asimetri informasi antara perusahaan dan pihak luar karena perusahaan mengetahui lebih banyak mengenai perusahaan dan prospek yang akan datang daripada pihak luar. Salah satu cara yang digunakan untuk mengurangi asimetri informasi tersebut adalah dengan memberikan sinyal pada pihak luar, salah satunya berupa informasi laporan

(8)

16

keuangan yang dapat dipercaya dan dapat mengurangi ketidakpastian mengenai prospek perusahaan yang akan datang (Wolk et al, 2000 dalam Kurniawati, 2018). Untuk memastikan pihak-pihak yang berkepentingan meyakini keandalan informasi keuangan yang disampaikan pihak perusahaan (agent), perlu mendapatkan opini dari pihak lain yang bebas memberikan pendapat tentang laporan keuangan (Juma’an, 2008).

Watts (2003) menyatakan bahwa understatement aktiva bersih yang sistematik atau relatif permanen merupakan salah satu ciri dari konservatisme akuntansi sehingga dapat dikatakan bahwa konservatisme akuntansi menghasilkan laba yang berkualitas kerena prinsip ini mencegah perusahaan melakukan tindakan membesar-besarkan laba dan membantu pengguna laporan keuangan dengan penyajian laba dan aktiva yang tidak overstate.

Sinyal yang dimiliki perusahaan mampu menunjukkan kualitas dari perusaaan tersebut. Investor juga diharapkan dapat menerima sinyal ini dan menilai perusahaan tersebut dengan baik karena informasi yang di sajikan dalam laporan keungan dapat diandalkan. Maka dengan menyajikan laporan keuangan secara konservatif perusahaan terhindar dari keraguan pihak pengguna laporan keuangan. Sebagai contoh dari adanya sinyal perusahaan tersebut adalah laba dan informasi di dalama laporan keuangan (Harianti, 2017).

Teori sinyal dapat membantu pihak perusahaan (agent), pemilik (principal), dan pihak luar perusahaan dalam memberikan informasi tentang kondisi perusahaan sebagai acuan pada reaksi pasar yang beragam. Semakin baik dalam menyajikan laporan keuangan semakin baik kualitas perusahaan yang mampu

(9)

17

menarik respond pasar terhadap perusahaan. Berdasarkan teori ini maka perusahahaan ditekankan untuk menyajikan informasi berupa laporan keuangan yang lengkap agar dapat menarik minat investor melakukan pendanaan pada perusahaan tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang melaporkan keuangan secara lengkap cenderung informasi yang disajikan dalam laporan keuangan lebih dipercaya di hadapan penggunanya. Begitu pula dengan perusahaan yang menerapkan prinsip konservatif. Perusahaan dinilai lebih berhati-hati dalam melaporkan laba atau profitnya untuk menghindari ketidakpastian yang dapat menimbulkan informasi yang asimetri antara prinsipal dan agent.

3. Prinsip Konservatisme

Prinsip konservatisme adalah konsep yang mengakui beban dan kewajiban sesegera mungkin meskipun ada ketidakpastian tentang hasilnya, namun hanya mengakui pendapatan dan aset ketika sudah yakin akan diterima. Berdasarkan prinsip konservatisme, jika ada ketidakpastian tentang kerugian, perusahaan harus mencatat kerugian. Sebaliknya, jika ada ketidakpastian tentang keuntungan, perusahaan tidak harus mencatat keuntungan. Dengan demikian, laporan keuntungan cenderung menghasilkan jumlah keuntungan dan nilai aset yang lebih rendah demi untuk berjaga-jaga.

4. Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan merupakan suatu indikator untuk mentukan besar atau kecilnya suatu perusahaan yang dinilai dari total aset. Selain itu ukuran perusahaan juga sebagai indikator untuk mengamati besar kecilnya biaya politis

(10)

18

yang harus ditanggung oleh perusahaan. Ukuran perusahaan dapat diukur dengan logaritma natura total aset yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Menurut Bahaudin dan Divianto (2011), ada tiga kategori ukuran perusahaan yaitu perusahaan besar (large size), perusahaan menengah (medium size) serta perusahaan kecil (small size).

Menunut Machfoeddz (1994) dalam Divianto (2011) ukuran perusahaan terbagi menjadi 3 jenis antara lain:

a. Perusahaan Besar

Perusahaan besar adalah perusahaan yang memiliki kekayaan bersih lebih besar dari Rp. 10 Milyar termasuk tanah dan bangunan. Memiliki penjualan labih dari Rp. 50 Milyar/tahun

b. Perusahaan Menegah

Perusahaan menengah adalah perusahaan yang memiliki kekayaan bersih lebih besar dari Rp. 1-10 Milyar termasuk tanah dan bangunan. Memiliki penjualan labih dari Rp. 1 Milyar dan kurang dari 50 Milyar/tahun

c. Perusahaan Kecil

Perusahaan Kecil adalah perusahaan yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200 juta tidak termasuk tanah dan bangunan. Memiliki penjualan minimal Rp. 1 Milyar/tahun

Perusahaan yang masuk dalam kategori besar memiliki sistem yang lebih kompleks serta profit yang lebih tinggi dan ruang lingkup yang luas, hal tersebut membuat perusahaan juga dihadapkan dengan risiko yang lebih besar. Perusahaan berukuran besar dinilai lebih sensitif terhadap biaya politis dan lebih diawasi oleh

(11)

19

pemerintah terkait ketetapan pembiyaan publik karena perusahaan dinilai memiliki aset yang besar serta dapat mempengaruhi tingkat penjualan. Perusahaan yang memiliki tingkat penjualan yang tinggi pada perusahaan cenderung memiliki laba yang tinggi. Laba yang tinggi dari perusahaan akan mempengaruhi besarnya biaya politis yang ditanggung oleh perusahaan.

Namun perusahaan cenderung tidak ingin menanggung biaya pajak dalam jumlah besar. Untuk mengindari resiko tersebut perusahaan akan lebih hati-hati dalam pelaporan agar menciptakan hubungan yang baik dengan berbagai pihak, baik investor, kreditur maupun pemasok dan masyarakat. Maka perusahaan besar cenderung menggunakan prinsip akuntansi yang dapat mengurangi nilai laba untuk mengurangi besarnya biaya politis. Hal ini membuktikan bahwa besar kecilnya suatu perusahaan dapat mempengaruhi konservatisme dalam laporan keuangan.

5. Rasio Leverage

Rasio leverage dapat digunakan untuk menunjukkan seberapa besar perusahaan dibiayai oleh utang dan perbandingannya dengan total asset yang dimiliki perusahaan. Rasio leverage juga dapat menjadi suatu indikasi bagi pemberi pinjaman untuk menilai tingkat pengembalian dana yang telah diberikan kepada perusahaan. Untuk mendapatkan pinjaman perusahaan harus menunjukan kinerja yang baik dihadapan pemberi pinjaman agar memperoleh kepercayaan yang tinggi. Perusahaan dengan rasio laverage tinggi ditandai dengan jumlah aset yang dimiliki perusahaan lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah aset krediturnya. Perusahaan tidak ingin mendapatkan citra yang buruk maka

(12)

20

perusahaan melakukan pelaporan keuangan secara optimis atau kurang konservatif.

6. Profitabilitas

Tingkat profitabilitas yang tinggi pada perusahaan akan meningkatkan daya saing antar perusahaan. Perusahaan yang memperoleh tingkat keuntungan yang tinggi akan membuka lini atau cabang yang baru serta memperbesar investasi atau membuka investasi baru terkait dengan perusahaan induknya. Tingkat keuntungan yang tinggi menandakan pertumbuhan perusahaan pada masa mendatang. Profitabilitas yang tinggi memberikan sinyal mengenai pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang.

Perusahaan dengan profitabilitas yang lebih tinggi akan memiliki kesempatan bersaing lebih baik dengan jenis perusahaan yang sama serta akan membuat perusahaan memiliki laba ditahan yang besar yang mengindikasikan adanya penerapan prinsip konservatisme akuntansi. Profitabilitas perusahaan dalam penelitian ini diproksikan dengan Return On Equiity (ROE). Jika ROE perusahaan tinggi, maka jumlah laba ditahan akan meningkat dan menyebabkan pula peningkatan konservatisme akuntansi. Perusahaan dengan tingkat ROE yang tinggi mengindikasikan bahwa kompensasi keuangan yang diberikan oleh perusahaan pada pemegang saham tinggi dan hal ini membawa kecenderungan bagi perusahaan untuk menerapkan prinsip konservatisme akuntansi.

C. Pengembangan Hipotes

(13)

21

Ukuran perusahaan merupakan besar kecilnya suatu perusahaan yang diukur dari total asetnya (Utama, 2018). Ukuran perusahaan akan mempengaruhi besarnya biaya politis yang ditanggung oleh perusahaan. Perusahaan yang tergolong ukuran besar biasanya lebih dalam pengawasan pemerintah untuk didorong dalam meningkatkan pelayanan publik dan tanggung jawab sosial sehingga perusahaan lebih sensitif terkait dengan biaya politis. Perusahaan yang berukuran besar dinilai memiliki biaya politis yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang berukuran lebih kecil. Maka perusahaan tidak ingin menanggung biaya politis yang terlalu besar. Hal demikian mengakibatkan salah satu pemicu pihak perusahaan untuk melakukan konservatisme dengan memilih metode yang dapat menurunkan laba dengan tujuan untuk meminimalkan resiko politik berupa tanggungan biaya politik.

Uruaian diatas jika dihubungkan dengan teori political cost hypothesis, maka teori ini menjelaskan bahwa manajer ingin mengecilkan laba untuk mengecilkan biaya politis yang akan ditanggung perusahaan karena perusahaan yang berukuran besar lebih sensitif terhadap baya politis. Sehingga perusahaan yang dengan ukuran besar dinilai lebih menerapkan prinsip konservatisme akuntansi dalam melaporkan keuangan. Hal tersebut dikarenakan perusahaan menyajikan akuntansi yang dapat menurunkan nilai laba dalam mengindari biaya politis yang besar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara ukuran perusahaan terhadap konservatisme akuntansi. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Barkah (Susanto & Ramadhani, 2016); Kadek Weda

(14)

22

Noveadjani Tista & I Ketus Suryanawa ( 2017) menunjukkan hasil bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap konservatsime akuntansi.

H1 : Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap konservatisme akuntansi 2. Pengaruh Leverage terhadap konservatisme akuntansi

Rasio leverage menunjukkan seberapa besar kemampuan perusahaan tersebut dibiayai oleh pihak luar, dinilai dari utang yang dibandingkan dengan aset perusahaan ataupun dari modal sendiri. Semakin tinggi tingkat leverage perusahaan maka kreditor mempunyai hak lebih besar untuk mengawasi dan mengetahui penyelenggaran operasi dan akuntansi perusahaan karena kreditur berkepentingan untuk mengamankan dananya.

Uraian diatas jika dihubungkan teori debt/equity hypotesis, perusahaan yang memiliki tingkat laverage yang tinggi akan cenderung menyajikan labanya lebih tinggi pada tahun tertentu untuk mendapatkan kepercayaan kreditor dalam melunasi kewajiban perusahaan, namun hal ini akan mempengaruhi perusahaan dalam resiko yang lebih tinggi pula. Maka kreditor akan ikut melibatkan diri dalam mengawasi tindakan manajer dengan mendorong penerapan konservatisme. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa manajer cenderung menyelenggarakan akuntansi yang meningkatkan nilai laba untuk mengindari kineja buruk, namun kreditur dan pemegang saham perusahaan cenderung meminta manajer menyelenggarakan akuntansi konservatif bertujuan memberikan kepercayaan kepada pihak eksternal, dengan demikian manajemen perusahaan akan cenderung memilih prosedur akuntansi yang akan menurunkan laba dan menyajikan laporan keuangan sesuai dengan penerapan prinsip konservatisme akunatansi. Menurut

(15)

23

Utama & Titik (2018), Abdurrahman & Ermawati (2018), Kodriyah & Framita (2019) dan Putra & Sari (2020) menunjukkan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap konservatisme akuntansi.

H2 : Leverage berpengaruh terhadap konservatisme akuntansi 3. Pengaruh profitabilitas terhadap konservatisme akuntansi

Profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan atau laba pada suatu periode tertentu. Pertumbuhan laba yang terus meningkat dari tahun ke tahun mengindikasikan bahwa kinerja perusahaan tersebut dinilai baik. Teori signaling yang menejelaskan mengapa perusahaan mempunyai dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal. Untuk terhindar dari informasi asimetri antara pihak internal perusahaan dengan pihak luar perusahaan dan memastikan pihak-pihak yang berkepentingan meyakini keandalan informasi keuangan yang disampaikan pihak perusahaan (agent) pada tahun tertentu.

Jika dihubungkan dengan teori signaling, perusahaan yang menyajikan informasi yang secara lengkap cenderung lebih dipercaya secara umum. Perdasarkan pernyataan ini maka terdapat hubungan antara konservatisme akuntansi dan profitabilitas, karena prinsip ini dinilai menghasilkan laba yang berkualitas. Selain itu prinsip ini mencegah perusahaan melakukan tindakan membesar-besarkan laba dan membantu pengguna laporan keuangan dengan penyajian laba dan aktiva yang tidak overstate. Sinyal yang dimiliki perusahaan mampu menunjukkan kualitas dari perusaaan tersebut.

(16)

24

Perusasahaan yang memiliki tingkat profitabilitas yang tinggi akan menerapkan prinsip konservatisme karena profitabilitas digunakan sebagai bagian dari manjemen laba untuk mengatur dalam perataan laba agar tidak terjadi fluktuasi yang tinggi (Suwati dkk. 2020). Berdasarkan pada argumen penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Syifa et al.,( 2017); Andreas et al., (2017); Abdurrahman & Ermawati (2018); Utama & Titik (2018) dan Putra & Sari (2020) menunjukkan bahwa profitabilitas berepngaruh terhadap konservatisme akuntansi, maka dirumuskan hipotesis tiga sebagai berikut.

H3 : Profitabilitas berpengaruh terhadap konservatisme akuntansi.

D. Kerangka Berfikir Gambar 2.1. Model Penelitian

Ukuran Perusahaan (X1) Leverage (X2) Profitabilitas (X3) Konservatisme Akuntansi (Y) H1 H2 H3

(17)

25 Kerangka Pikir Penelitian

Perusahaan yang dikategorikan berukuran lebih besar cenderung memiliki total aset yang besar. Perusahaan dengan total aset yang besar dinilai mampu meningkatkan penjualan yang dapat mempengaruhi laba. Tingkat laba yang tinggi pada perusahaan cenderung diawasi oleh kebijakan pemerintah terkait biaya politis yang ditanggung perusahaan. Hal tersebut akan mempengaruhi perusahaan menerapkan prinsip konservatisme. Maka untuk mengurangi pembayaran biaya politis tersebut perusahaan melakukan pelaporan keuangan secara konservatif karena biaya politis akan meningkat siring dengan ukuran perusahaan. Jika perusahaan menghadapi biaya politis yang relatif besar maka perusahaan akan cenderung memilih metode yang mampu menurunkan laba atau konservatf.

Rasio Leverage juga memiliki hubungan terhadap konservatisme akuntansi kaitannya dengan kontrak utang. Rasio leverage dapat digunakan untuk menunjukkan seberapa besar perusahaan dibiayai utang yang dijadikan sebagai indikasi bagi pemberi pemberi pinjaman menilai tingkat keamanan terhadap dana yang diberikan. Hal tersebut mempengaruhi lemahnya penerapan konservatisme disebabkan suatu perusahaan ingin menunjukkan citra yang baik terhadap pemberi penjaman maka perusahaan akan melaporkan kinerja yang baik guna memperoleh utang jangka panjang. Dengan demikian perusahaan cenderung optimis dan memilih metode yang mampu menaikkan laba atau kurang konservatisme.

Profitabilitas berhubungan dengan konservatisme akuntansi dalam mempertatankan daya saing perusahaan. Perusahaan yang memiliki propfitabilitas tinggi cenderung memiliki tingkat laba yang tinggi. Tingkat laba yang tinggi akan

(18)

26

terus mengembangkan dan meningkatkan kinerja perusahaan setiap tahunnya. Hal ini mencerminkan daya saing perusahaan tidak mengalami penurunan. Perusahaan menerapkan prinsip konservatisme karena profitabilitas perusahaan digunakan sebagai media untuk mengatur perataan laba agar laba yang dimilki perusahaan tidak mengalami fluktuasi yang tinggi.

Referensi

Dokumen terkait

Namun terkadang masih ada mahasiswa yang melakukan keterampilan keperawatan tidak sesuai dengan buku pedoman praktek laboratorium terutama keterampilan dalam

Bentonit dipilarisasi dengan polikation aluminium Al1~jenis Keggin [AI,~O 4(OH)24(H20) 12]7+ menghasilkan bahan berpilar yang mempunyai ruang basal Garak antara lembaran),

Data-data teknis yang diperoleh selama tahapan basic desain antara lain: basic engineering design data; unit desain basis, deskripsi proses , diagram alir kualitatif dan

Data penelitian ini adalah data kualitatif, yaitu data yang menunjukkan kualitas atau mutu dari suatu yang ada, berupa keadaan, proses, kejadian/peristiwa dan

55 Maksud peneliti dalam hal ini, data sekunder biasanya terwujud data dokumentasi yang berupa data yang diperoleh dari sumber tidak langsung yang berfungsi sebagai

Mengisi resin akrilik ke dalam mold disebut packing. Mengisi resin ke dalam mold adalah pada tahap ke III atau dough like. Tahap ini merupakan salah satu tahap yang paling

Pemikiran sebagai konsep pengembangan civic education seperti yang dikemukakan Chamim dalam Sabirin (2003) dapat pula dijadikan acuan basis kompetensi Pendidikan Kewarganegaraan

Motivasi: Guru menyampaikan manfaat mempelajari materi ini, yaitu setelah mempelajari materi ini peserta didik dapat menganalisis penyebab gangguan yang berhubungan dengan