i
PENGARUH DIAMETER BATANG POHON, POSISI TAJUK DAN BENTUK TAJUK TERHADAP
PRODUKSI BUAH DURIAN (Durio zibethinus) PADA SISTEM AGROFORESTRI
DI DESA PAPPANDANGAN KEC. ANREAPI KAB. POLEWALI MANDAR SULAWESI BARAT
NUR ANISAR M 111 14 082
DEPARTEMEN KEHUTANAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
ii
iii
ABSTRAK
Nur Anisar (M111 14 082), Pengaruh Diameter Batang Pohon, Posisi Tajuk dan Bentuk Tajuk terhadap Produksi Buah Durian (Durio zibethinus) pada Sistem Agroforestri di Desa Pappandangan Kec. Anreapi Kab. Polewali Mandar Sulawesi Barat, di bawah bimbingan Dr. Ir. Syamsuddin Millang, MS, Ir. Budirman Bachtiar, MS.
Agroforestri merupakan sistem pengelolaan lahan dengan memadukan kegiatan pengelolaan hutan dengan pertanian maupun ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh diameter batang, posisi tajuk dan bentuk tajuk terhadap produksi buah durian pada sistem agroforestri. Untuk mengetahui hubungan antara diameter batang, posisi dan bentuk tajuk dengan produksi buah yaitu menggunakan regresi linear berganda. Nilai koefisien korelasi ( R ) sebesar 0,948 atau 94,8%. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,898 atau 89,8%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar diameter batang tanaman durian maka produksi buah semakin besar. Posisi tajuk yang terkena cahaya matahari penuh memiliki produksi buah yang lebih dibanding posisi tajuk yang tidak terkena cahaya matahari penuh.Pohon yang memiliki tajuk simetris menghasilkan buah yang lebih banyak dibandingkan dengan tajuk yang tidak simetris.
Kata Kunci : Agroforestri, Diameter Batang, Posisi Tajuk, Bentuk Tajuk, Produksi
iv KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah S.W.T karena atas berkat limpahan rahmat, hidayah dan inayah-Nya penulis diberi kesempatan untuk dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan judul: Pengaruh Diameter Batang Pohon, Posisi Tajuk dan Bentuk Tajuk terhadap Produksi Buah Durian (Durio zibethinus) pada Sistem Agroforestri di Desa Papandangan Kec.
Anreapi Kab. Polewali Mandar Sulawesi Barat.
Sudah menjadi sesuatu yang jamak apabila setiap mahasiswa yang sudah memasuki periode tingkat akhir masa perkuliahan wajib untuk melakukan sebuah kegiatan riset yang akan menjadi bahan penyusunan tugas akhir, penyusunan tugas akhir tersebut juga menjadi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin.
Penulis sangat menyadari bahwa proses penulisan skripsi ini sangat dipengaruhi oleh bantuan berbagai pihak, baik dalam tataran ide maupun dalam konteks dukungan lainnya, pada kesempatan ini penulis dengan segala kerendahan hati ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Dr. Ir. Syamsuddin Millang, MS dan kepada Bapak Ir. Budirman Bachtiar, MS selaku Dosen Pembimbing yang dengan sabar telah mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
2. Bapak Prof. Dr. Ir. Samuel A. Paembonan, Ibu Dr. Siti Halimah Larekeng, MP, dan Bapak Dr. Ir. M. Ridwan, MSE selaku penguji yang telah memberikan masukan dan saran-saran guna penyempurnaan skripsi ini.
v 3. Bapak Prof. Dr. Yusran, S.Hut., M.Si. selaku Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, bapak Dr. Forest. Muhammad Alif K.S, S.Hut., M.Si selaku Ketua Departemen Kehutanan beserta seluruh dosen dan staff Fakultas Kehutanan.
4. Bapak Dr. A. Mujetahid., S.Hut., MP, selaku Penasihat Akademik yang telah banyak mengarahkan penulis dalam masalah akademik selama ini.
5. Sahabat-sahabat seangkatanku : Ayu Rahayu L S.Hut, Inar S.Hut, Endang Ariyanti, Tri Ayu Permatasari, Nadia Sri Amelia, Nurul Muflihah, Mayaslika S.Hut, Ade Rahmatul Fitrah, Erwin Wellang S.Hut, Alam Firdausi S.Hut, Baso Darmawansyah, dan Ferdiansyah Prawira Rosa S.Hut terima kasih atas motivasi kalian.
6. Sahabat Sahabat SMA : Sri Winda Amelia, Muh. Aqsha Maulana, Abdi Mustajab, Dian Seniwati SH, Wardianti, Desti Kurniasari, Didi Wahyu terima kasih atas bantuan dan dukungannya selama ini.
7. Teman posko KKN : Hildawati, Nur Wahyuni, Helen Salundung, Dewi Sisilia Yolanda, Charly Candra Ciputra, Danar Wiratno, Askar Yusuf terima kasih atas motivasi kalian.
8. Keluarga besar, Saudara-saudariku di Laboratorium Silvikultur, terima kasih atas dukungan dan bantuannya selama ini.
9. Teman-teman angkatan 2014, terima kasih atas kerjasamanya dan semangat yang kalian berikan.
Penghormatan, Bakti dan terima kasih penulis persembahkan kepada Ayahanda Patayangi H, Ibunda Hastinah S., atas kasih sayangnya yang senantiasa mendoakan dan memberikan perhatian, nasihat, dan dukungan kepada
vi penulis. Saudariku Nurul Anisa P, Semoga dihari esok penulis kelak menjadi anak yang membanggakan.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini banyak kekurangan yang disebabkan keterbatasan penulis. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk penyempurnaan daripada skripsi ini. Semoga hasil dari penelitian ini dapat memberi manfaat dan pengetahuan baru bagi kita semua.
Makassar, Agustus 2018
Nur Anisar
vii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
ABSTRAK ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang ... 1
1.2.Tujuan dan Kegunaan ... 2
I.I. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Diameter Batang Pohon ... 3
2.2.Posisi dan Bentuk Tajuk ... 3
2.3. Agroforestri ... 6
2.4.Durian ... 9
2.4.1.Klasifikasi ... 9
2.4.2.Morfologi ... 9
2.4.3.Fenologi ... 10
2.4.4.Tempat Tumbuh ... 11
viii III.METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat ... 12
3.2. Alat dan Objek Penelitian ... 12
3.3.Prosedur Penelitian ... 12
3.3.1.Data Primer ... 12
3.3.2.Data Sekunder ... 13
3.4. Analisis Data ... 13
IV.HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1.Produksi Buah Durian ... 15
4.2. Kisaran Diameter, Posisi Tajuk dan Bentuk Tajuk Terhadap Produksi Buah Durian ... 17
4.3. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda ... 21
V.KESIMPULAN DAN SARAN 5.1.Kesimpulan ... 24
5.1. Saran ... 24
DAFTAR PUSTAKA ... 25
LAMPIRAN ... 28
ix
DAFTAR TABEL
No Judul Halaman
1. Produksi Total Buah Durian di Desa Pappandangan ... 15 2. Produksi Total Buah Durian berdasarkan Kelas Umur
di Desa Pappandangan ... 16 3. Produksi Total Buah Durian berdasarkan Kelas Umur dan Diameter
di Desa Pappandangan ... 17 4. Produksi Buah Durian berdasarkan Kelas Diameter ... 17 5. Produksi Buah Durian berdasarkan Posisi Tajuk ... 19 6. Produksi Buah Durian berdasarkan Posisi Tajuk setiap
Kebun... 19 7.. Produksi Buah Durian berdasarkan Bentuk Tajuk ... 20 8. Produksi Buah Durian berdasarkan Bentuk Tajuk setiap
Kebun... 20 9. Hasil Uji Regresi Linier Berganda ... 22
x
DAFTAR GAMBAR
No Judul Halaman
1. Klasifikasi Posisi Tajuk menurut Dawkins ... 4 2. Klasifikasi Bentuk Tajuk menurut Dawkins ... 5 3. Grafik Pengaruh Diameter Batang dengan Produksi Buah ... 18
xi
DAFTAR LAMPIRAN
No Judul Halaman
1. Data Durian Kapuk di Desa Pappandanga ... 28
2. Hasil Analisis SPSS ... 32
3. Dokumentasi Foto ... 33
4. Peta Administrasi Desa Pappandangan ... 36
5. Strukturdan Komposisi Kebun di Desa Pappandangan ... 37
1
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Agroforestri merupakan suatu sistem penggarapan tanah atau penggunaan lahan di mana kegiatan kehutanan, pertanian, dan peternakan dikombinasikan secara bersama-sama. Agroforestri merupakan suatu sistem penggunaan lahan secara spasial yang dilakukan oleh manusia dengan menerapkan berbagai teknologi yang ada melalui pemanfaatan tanaman semusim, tanaman tahunan (perdu, palem, bambu, dan sebagainya) dan atau ternak dalam waktu bersamaan atau bergiliran pada suatu periode tertentu sehingga terbentuk interaksi ekologi, sosial, dan ekonomi di dalamnya (Hairiah, dkk., 2003).
Kerapatan tegakan menentukan ketersediaan ruang tumbuh yang cukup bagi pertumbuhan pohon. Tegakan yang rapat menghasilkan pohon dengan diameter kecil dan memanjang ke atas, sedangkan tegakan yang jarang menghasilkan pohon dengan diameter besar atau batangnya cenderung melebar ke samping. Masing-masing pohon memiliki ruang tumbuh yang terbatas karena pohon-pohon di sekitarnya. Keterbatasan tersebut antara lain dalam mendapatkan cahaya matahari maupun air dan unsur-unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan (Raharjo dan Sadono, 2008).
Tajuk pohon adalah kenampakan dari keseluruhan daun, cabang, ranting, bunga dan buah. Jarak tanam pohon mempengaruhi posisi dan bentuk tajuk.
Pohon dengan jarak tanam yang lebar memiliki bentuk tajuk yang lebar atau lebih mengarah kesamping, sedangkan pohon dengan jarak tanam yang sempit memiliki tajuk yang kecil dan menjulang ke atas (Mahendra, 2009). Menurut Lanisa (2015), bentuk dan posisi tajuk mempengaruhi produksi buah. Posisi tajuk yang terkena cahaya matahari penuh dan bentuk tajuk yang simetris (lebar dan berbentuk lingkaran utuh) menghasilkan produksi buah yang lebih banyak dibandingkan pohon dengan posisi tajuk yang tidak terkena cahaya matahari penuh dan bentuk tajuk tidak simetris.
Durian merupakan tanaman spesifik tropis yang bernilai ekonomis cukup tinggi untuk meningkatkan pendapatan petani, devisa negara, dan kebutuhan
2 agribisnis (Wulan, dkk., 2010). Durian merupakan buah dengan berbagai macam jenis. Durian yang ada di Indonesia diantaranya durian montong, durian bawor, durian merah, durian musang, durian hepe, durian gundul dan durian petruk. Salah satu daerah yang memiliki banyak pohon durian yaitu di Desa Pappandangan, Kecamatan Anreapi, Kabupaten Polewali Mandar. Penelitian tentang durian telah banyak dilakukan, namun sejauh ini penelitian mengenai produksi buah durian dalam kaitannya dengan tajuk dan diameter belum pernah dilakukan. Olehnya itu, pada penelitian ini akan menganalisis pengaruh diameter batang pohon, posisi tajuk dan bentuk tajuk terhadap produksi buah durian.
1.2. Tujuan dan Kegunaan
Adapun tujuan penelitian ini yaitu :
a. Menganalisis pengaruh diameter batang terhadap produksi buah durian pada sistem agroforestri.
b. Menganalisis pengaruh bentuk tajuk terhadap produksi buah durian pada sistem agroforestri.
c. Menganalisis pengaruh posisi tajuk pohon terhadap produksi buah durian pada sistem agroforestri.
Adapun kegunaan penelitian ini yaitu :
a. Memberikan informasi penting mengenai produksi buah
b. Dijadikan sebagai bahan masukan bagi pihak yang terkait, seperti Lembaga Pemeritahan, Lembaga Pendidikan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan masyarakat.
3
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Diameter Batang Pohon
Pengukuran diameter batang pohon dilakukan pada seluruh jenis pohon dewasa yang sehat dan mempunyai diameter ≥20 cm. Beberapa ketentuan pengukuran diameter berdasarkan keadaan pohon adalah sebagai berikut (Sidiyasa, dkk., 2006):
a. Pengukuran dilakukan pada posisi setinggi dada (± 1.30 m) diatas tanah b. Pohon-pohon yang berbanir lebih tinggi dari 1.30 m dilakukan pengukuran 20
cm diatas banir
c. Pohon yang cabangnya lebih rendah dari 1.30 m, maka pengukuran dilakukan pada setinggi dada kedua cabangnya dan dihitung 2 pohon.
d. Pohon-pohon yang terletak pada tanah miring, posisi pengukur harus di bagian permukaan tanah yang lebih tinggi.
2.2. Posisi dan Bentuk Tajuk Pohon
Hutan yang memiliki banyak pohon dengan tajuk yang rapat, hanya tunas- tunas pepohonan besar, rumput-rumputan dan tumbuhan merambat yang tahan naungan atau dapat hidup dilantai hutan. Tumbuhan dibawah lantai hutan membawa pengaruh yang unik terhadap iklim mikro daerah sekitarnya.
Akibatnya, sinar matahari dilantai hutan berkurang sehingga temperaturnya berbeda dengan diluar naungan. Tajuk hutan yang menaungi lantai hutan secara berlapis-lapis menimbulkan mikroklimat dan kegiatan mikroorganisme tinggi.
Kegiatan mikroorganisme akan mengakibatkan hancurnya serasah, yang selanjutnya melalui proses pencucian basa dan memberikan sifat-sifat khusus tanah hutan dan mampu menimbulkan kesuburan bagi tumbuhan hutan (Arief, 2001).
Posisi tajuk pohon berdasarkan klasifikasi Dawkins dengan cara setiap pohon diberi nilai indeks mulai dari 5 sampai 1 yang meliputi (Cunningham, 2014) :
4 a. Emergent (nilai indeks = 5) : Tajuk tumbuhan terkena sinar matahari
sepenuhnya dan tidak ada kompetisi dari samping
b. Full overhead light (nilai indeks = 4) : Tajuk tumbuhan terkena cahaya penuh dari atas (secara vertikal)
c. Some overhead light (nilai indeks = 3) : Sebagian tajuk yang mendapatkan cahaya penuh dari atas
d. Some side light (nilai indeks = 2) : tajuk mendapatkan cahaya hanya dari celah tajuk pohon diatasnya dari arah atas atau samping
e. No direct light (nilai indeks = 1) : Tajuk tumbuhan ternaungi dari atas dan dari samping
Gambar 1. Klasifikasi Posisi Tajuk (Crownposition) menurut Dawkins (Sumber : ICRAF, 2005).
Alder dan Synnot (1992) mengemukakan bentuk tajuk pohon berdasarkan klasifikasi Dawkins dengan cara setiap pohon diberi nilai indeks mulai dari 5 sampai 1 yang meliputi :
5 a. Perfect (nilai indeks = 5) : Kriteria bagi pohon dengan tajuk terbaik dalam hal bentuk dan pertumbuhan. Tajuk lebar, berbentuk lingkaran utuh, dan simetris b. Good (nilai indeks = 4) : Kriteria bagi pohon dengan tajuk hampir ideal,
dimana dari segi silvikultur memuaskan, tetapi sedikit tidak simetris dan atau beberapa cabang mati.
c. Tolerabe (nilai indeks = 3) : Kriteria bagi pohon dengan tajuk yang hanya memuaskan dari segi silvikultur, tajuk tampak jelas tetapi tidak simetris atau lonjong. Meskipun demikian masih dapat diperbaiki bentuk tajuk dengan diberi ruang lebih.
d. Poor (nilai indeks = 2) : Kriteria bagi pohon dengan tajuk yang tidak memuaskan dari segi silvikultur. Hal ini disebabkan banyak cabang yang mati, sangat tidak simetris dan hanya memiliki beberapa cabang saja, meskipun demikian masih memiliki kemungkinan untuk bertahan hidup.
e. Very poor (nilai indeks = 1) : Kriteria bagi pohon dengan tajuk dalam keadaan tertekan atau rusak berat dan kemungkinan sulit untuk meningkatkan kemampuan tumbuhnya meskipun sudah terbebas dari tekanan (pesaing ruang untuk pertumbuhan tajuk).
Gambar 1. Klasifikasi Bentuk Tajuk (Crownform) menurut Dawkins (Sumber : ICRAF, 2005).
Gambar 2. Klasifikasi Bentuk Tajuk (Crown form) menurut Dawkins (Sumber : ICRAF, 2005).
6
2.3. Agroforestri
Alih guna lahan hutan menjadi lahan Pertanian disadari menimbulkan banyak masalah, seperti penurunan kesuburan tanah, usaha-usaha pertanian tradisional yang dilakukan dengan mengkonversi lahan hutan menjadi lahan pertanian, sering menjadi penyebab terjadinya lahan kritis. Indonesia merupakan negara dengan praktek-praktek usaha tani dan pemanfaatan lahan yang tidak atau kurang memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air, serta praktek perladangan berpindah menyebabkan timbulnya lahan kritis, erosi, bencana kekeringan, serta penurunan kualitas dan kuantitas hasil pertanian (Bukhari dan Febryano, 2009). Persoalan konservasi, lingkungan dan energi berdampak sangat besar tidak hanya terhadap hal-hal yang berkenaan dengan persoalan tersebut saja, tapi juga terhadap konflik regional yang melibatkan banyak pihak dalam suatu batas ekosistem (Pasya, dkk., 2004).
Pengelolaan secara berkelanjutan (sustainable management) menjadi istilah ‘klise’ yang kurang mempertimbangkan kebutuhan masyarakat yang dapat berubah sesuai dengan permintaan pasar. Masalah lainnya adalah tidak tersedianya metode pemantauan (monitoring) atau bahkan mungkin metode pemantauan telah tersedia tetapi belum digunakan, dan belum diberlakukannya kriteria yang jelas untuk keberhasilan suatu usaha konservasi lingkungan.
Tambahan lagi, kurang diperhatikannya aspek kepadatan jumlah penduduk, kebutuhan hidup dan harapan masyarakat dalam berbagai diskusi yang berhubungan dengan sistem penutupan lahan yang dibutuhkan. Kenyataan tersebut di atas akan menyebabkan adanya perbedaan antara warna peta sistem penggunaan lahan yang diharapkan perencana dengan kondisi sebenarnya di lapangan (Noordwijk, dkk., 2004).
Penerapan agroforestri merupakan salah satu sistem pengolahan lahan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah yang timbul akibat adanya alih guna lahan tersebut di atas, dan sekaligus juga untuk mengatasi masalah pangan (Amin, dkk., 2016). Agroforestri atau dikenal juga sebagai suatu sistem usaha tani atau pertanian hutan merupakan suatu sistem penggunaan lahan secara spasial yang dilakukan oleh manusia dengan menerapkan berbagai teknologi yang ada
7 melalui pemanfaatan tanah semusim, tanaman tahunan (perdu, palem, bambu, dan sebagainya) dan atau ternak dalam waktu bersamaan atau bergiliran pada suatu periode tertentu sehingga terbentuk interaksi ekologi, sosial dan ekonomi di dalamnya (Hairiah, dkk., 2003). Agroforestri merupakan suatu bentuk pengelolaan sumber daya yang memadukan kegiatan pengelolaan hutan atau pohon kayu-kayuan dengan penanaman komoditas atau tanaman jangka pendek, seperti tanaman pertanian. Agroforestri menjadi cabang ilmu pengetahuan tersendiri di bidang pertanian, kehutanan, dan peternakan yang berupaya mengenali dan mengembangkan sistem agroforestri yang telah lama dipraktekkan oleh petani secara turun temurun (Hamdani dan Murdiningrum, 2014).
Semua definisi agroforestri tersebut di atas mengimplikasikan bahwa: (1) terdapat interaksi yang kuat, baik kompetitif maupun komplementer antara komponen pohon-pohonan dan bukan pepohonan; (2) terdapat perbedaan yang nyata antara masing-masing komponen agroforestri dalam dimensi fisik, umur, dan penampilan fisiologi; (3) agroforestri umumnya mengintegrasikan dua atau lebih jenis tanaman (atau tanaman dan ternak), di mana paling tidak salah satunya merupakan tanaman berkayu; (4) agroforestri selalu mempunyai dua atau lebih hasil; (5) siklus agroforestri selalu lebih dari satu tahun; (6) walaupun dalam bentuk sederhana, secara ekologi dan ekonomi agroforestri lebih kompleks dibandingkan dengan usaha tani monokultur; dan (7) agroforestri dapat diterapkan pada lahan-lahan yang berlereng curam, berbatu-batu, berawa ataupun tanah marginal dimana sistem usaha tani lainnya kurang cocok (Kurnia dkk., 2004).
Hairiah, dkk., (2003) menyatakan bahwa sistem agroforestri multistrata merupakan salah satu sistem penggunaan lahan dengan tanaman tajuk bertingkat, biasanya terdiri dari 3 sampai 5 tingkat. Strata/tingkat tersebut terdiri dari strata semak (sayuran, cabai, umbi-umbian), perdu (pisang, pepaya, tanaman hias), dan strata pohon yang tingginya lebih dari 35 meter (damar, durian, duku). Jenis-jenis tanaman pada sistem agroforestri yang dapat digunakan di strata tertinggi adalah durian (Durio zibethinus), strata tengah adalah melinjo (Gnetum gnemon), dan strata terendah adalah rumput gajah (Pennisetum purpureum) (Fiqa dan Laksono, 2013).
8 Agroforestri terdiri dari tiga komponen pokok yaitu kehutanan, pertanian dan peternakan, di mana masing-masing komponen sebenarnya dapat berdiri sendiri-sendiri sebagai satu bentuk sistem penggunaan lahan. Penggabungan tiga komponen tersebut menghasilkan beberapa kemungkinan bentuk kombinasi sebagai berikut (Yuwariah, 2015) :
a. Agrisilvikultur : Kombinasi antara komponen atau kegiatan (pepohonan, perdu, palem, bambu, dll.) dengan komponen pertanian.
b. Agropastura :Kombinasi antara komponen atau kegiatan pertanian dengan komponen peternakan
c. Silvopastura :Kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan dengan peternakan
d. Agrosilvopastura : Kombinasi antara komponen atau kegiatan pertanian dengan kehutanan dan peternakan/hewan.
Agrisilvikultur merupakan bentuk agroforestri tradisional merupakan campuran dari kegiatan kehutanan dan pertanian pangan. Salah satu model agroforestri yang menggunakan sistem agrisilvikultur yaitu kebun. Kebun adalah sistem bercocok-tanam berbasis pohon yang paling terkenal di Indonesia. Kebun yang umum diawali dengan penebangan dan pembakaran hutan atau semak belukar yang kemudian ditanami dengan tanaman semusim selama beberapa tahun (fase kebun). Pada fase kedua, pohon buah-buahan (durian, rambutan, pepaya, pisang) ditanam secara tumpang sari dengan tanaman semusim (fase kebun campuran). Pada fase ketiga, beberapa tanaman asal hutan yang bermanfaat dibiarkan tumbuh sehingga terbentuk pola kombinasi tanaman asli setempat misalnya bambu, pepohonan penghasil kayu lainnya dengan pohon buah-buahan (fase talun). Pada fase ini tanaman semusim yang tumbuh di bawahnya amat terbatas karena banyaknya naungan. Sistem agroforestri kebun campuran dicirikan dengan (Yuwariah, 2015) :
a. Struktur vegetasi kompleks (tajuk pohon berlapis-lapis)
b. Jumlah komponen tanaman cukup banyak (ada pohon tinggi, pohon sedang, semak, dan tanaman rendah lainnya)
c. Secara ekologi mempunya fungsi seperti hutan, contoh kebun pekarangan.
9 Agroforestri memiliki dua dimensi utama, yaitu aspek sosial-ekonomi dan aspek lingkungan. Secara ekonomi agroforestri telah terbukti cukup berhasil dalam memenuhi kebutuhan jangka pendek masyarakat melalui agro dan jangka panjang melalui tanaman kayunya. Sistem agroforestri diharapkan dapat menjadi suatu solusi masalah kemiskinan di Indonesia. Kegiatan ini membuat masyarakat dapat memanfaatkan lahan hutan untuk kegiatan yang menghasilkan tanaman pangan di antara tanaman hutan dan pohon jenis serbaguna. Masyarakat juga dapat mengembangkan teknologi budidaya mereka melalui teknik (kearifan) lokal seperti pengembangan tanaman pekarangan, kebun, pemeliharaan hutan sekunder, dan kawasan lindung sekitar desa untuk perlindungan tata air dan mengelola hasil hutan dengan cara pemanfaatan hasil hutan non-kayu (Widiyanto, 2013).
2.4. Durian
2.4.1. Klasifikasi
Klasifikasi tanaman durian sebagai berikut (Sobir dan Rodame, 2010) : Regnum : Plantae
Divisi : Spermatophyta Sub Divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Malvales Famili : Bombacaceae Genus : Durio
Spesies : Durio zibethinus Murray 2.4.2. Morfologi
Pohon durian bisa mencapai ketinggian 50 m dan diameter batangnya juga besar. Durian yang ditanam pada tempat lapang, sinar mataharinya tidak terhalang oleh pepohonan lain, maka pertumbuhan batang dan cabangnya serempak. Pohon durian memiliki bentuk tajuk seperti segitiga/kerucut (Setiadi, 1985). Daun tanaman durian umumnya berbentuk bulat memanjang (oblogus) dengan bagian ujung meruncing. Letaknya berselang-seling dan pertumbuhannya secara tunggal.
10 Struktur daun agak tebal dengan permukaan daun sebelah atas berwarna hijau mengkilap dan bagian bawah berwarna cokelat atau kuning keemasan (Wiryanta, 2008).
Pohon durian termasuk tumbuhan yang berbunga ramiflorous, artinya bunga yang bermunculan dicabang atau diranting. Buah durian biasanya berbentuk bulat, bulat panjang atau variasi lain dari kedua bentuk itu. Kulit durian diselimuti oleh duri-duri yang tajam berbentuk kerucut, ada yang mempunyai duri yang rapat dan ada juga yang memiliki duri yang renggang.
Warna kulit buah durian hijau, hijau kekuningan, atau kuning (Untung, 2007).
2.4.3. Fenologi
Musim durian di Indonesia umumnya pada bulan Desember sampai Februari. Pembungaannya dimulai kurang lebih empat bulan sebelumnya, yaitu pada bulan September (Wiryanta, 2008). Bunga durian mekar (anthesis) pada sore hari ( sekitar pukul 15.00) hingga malam hari, sebelum mekar bunga sebelumnya berbentuk tunas yang muncul pada batang sekunder dan tersier namun terkadang juga muncul pada batang utama. Tunas yang muncul terus berkembang selama 3 minggu kemudian bunga mekar. Bunga mekar merupakan indikasi bahwa bunga jantan dan bunga betina telah siap untuk mengadakan penyerbukan, selanjutnya setelah terjadi penyerbukan mahkota bunga terus layu dan rontok, sementara calon buah yang masih kecil terus tumbuh dan berkembang dan pada umur 5-6 bulan setelah penyerbukan buah sudah matang dan bisa dipanen (Ashari, 2017).
Durian termasuk tanaman yang masa berbuahnya tergantung musim.
Umumnya tanaman durian akan mengeluarkan bunga setelah mengalami masa kering dua bulan atau lebih dan mendapat masa basah berturut-turut minimum sekitar satu bulan. Di alam, hal ini biasanya terjadi setelah tanaman mengalami musim kemarau dan berganti dengan musim hujan (Wiryanta, 2009). Pembungaan pada tanaman durian dipengaruhi oleh faktor luar dan faktor dalam. Faktor dalam berkaitan suplai karbohidrat dalam tanaman dan keseimbangan hormon tanaman.
Faktor luar berkaitan dengan kondisi kering yang terjadi selama 7 hingga 14 hari,suhu rendah 20-22ºC dengan kelembaban 50-60% sangat mendukung proses pembungaan (Ashari, 2017).
11 2.4.4. Tempat Tumbuh
Durian yang ditanam di lahan miring lebih menguntungkan dibandingkan ditanam di lahan datar serta akan terhindar dari genangan air. Durian umumnya cocok ditanam di daerah dengan ketinggian 200-600 mdpl dengan suhu udara 22- 30oC. Curah hujan untuk tanaman durian sekitar 1500-2500 mm/tahun dan merata sepanjang tahun dengan musim kemarau berlangsung sekitar 1-2 bulan. Tanaman durian yang mendapatkan bulan kering lebih dari dua bulan perlu pengairan teratur pada musim kering untuk menjaga kelembaban sehingga durian tetap bisa tumbuh optimal di daerah beriklim kering (Wijaya, 2009).
Durian merupakan tumbuhan yang berupa pohon, sehingga tanaman ini digunakan sebagai pencegah erosi di lahan-lahan yang miring. Batang tanaman durian juga kerap digunakan sebagai bahan bangunan/perkakas rumah tangga (Sobir dan Rodame, 2010). Menurut (Wijaya, 2009) selain buahnya yang dapat dimakan, kulit durian juga dapat digunakan sebagai abu gosok yang bagus dengan cara dijemur sampai kering dan dibakar sampai hancur. Bijinya yang memiliki kandungan pati cukup tinggi, berpotensi sebagai alternatif pengganti makanan (dapat dibuat bubur yang dicampur daging buahnya).
12
III. METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – Mei 2018. Lokasi penelitian yaitu di Desa Pappandangan, Kecamatan Anreapi, Polewali Mandar Sulawesi Barat yang merupakan pusat penghasil durian yang menerapkan sistem agroforestri. Luas wilayah Desa Pappandangan tercatat 35,82 Km² yang terletak pada ketinggian 500 m dpl. Jarak tempuh dari Desa Pappandangan menuju ibu kota Kecamatan sejauh 3.5 km, sedangkan jarak menuju ibu kota Kabupaten sejauh 9.5 km.
3.2. Alat dan Objek Penelitian
Peralatan yang digunakan pada penelitian ini adalah rollmeter, pita diameter, tally sheet, kuisioner, alat tulis menulis, SPSS 21.00 dan GPS (Global Positioning System). Objek penelitian adalah pohon durian yang berada pada sistem agroforestri dan masyarakat yang menerapkan sistem agroforestri.
3.3. Prosedur Penelitian
3.3.1. Data Primer
Data Primer merupakan hasil pengamatan dan pengukuran secara langsung di lokasi penelitian. Pengumpulan data primer di lakukan dengan cara :
a. Menentukan sampel pohon yang tumbuh dengan baik dari beberapa kebun di Desa Pappandangan. Pohon yang akan diamati dipilih secara purposive dengan mempertimbangkan pohon yang dipilih adalah pohon yang sudah pernah berbuah. Kebun yang dipilih sebanyak 10 kebun yang dianggap sudah mewakili beberapa kelas diameter, indeks bentuk dan posisi tajuk.
b. Mengukuran diameter batang setinggi dada (1.3 m).
c. Mengamati posisi tajuk, yang dibagi menjadi dua kategori yaitu 1, pohon yang mendapatkan cahaya penuh dan 0, pohon yang mendapatkan cahaya tidak penuh.
13 d. Pengamatan bentuk tajuk, yang dibagi menjadi dua kategori yaitu 1, pohon yang memiliki bentuk tajuk simetris dan 0, pohon yang memiliki bentuk tajuk tidak simetris.
e. Wawancara dengan petani pemilik pohon durian yang berhubungan dengan produksi buah setahun terakhir.
3.3.2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data penunjang yang diperoleh dari berbagai sumber baik melalui studi yang berhubungan dengan masalah penelitian maupun data penunjang lainnya yang berhubungan dengan keadaan lokasi penelitian misalnya jumlah penduduk, pendidikan, pekerjaan . Data tersebut berupa data dari Badan Pusat Statistik (BPS).
3.4. Analisis Data
Data yang sudah diperoleh, selanjutnya dianalisis dalam bentuk tabel dan grafik. Data-data tersebut dianalisa dengan menggunakan SPSS 21.00 melalui metode enter atau metode analisis regresi yang digunakan untuk menganalisis semua variabel independent dan variabel dependent melalui analisis nilai korelasi multiple (R) dari variabel X1, X2 dan X3, koefisien determinasi (R2) juga nilai F hitung. Regresi linier berganda digunakan untuk mencari hubungan antara variabel produksi durian dengan variabel yang mempengaruhinya, seperti diameter batang, dan faktor ekologi kompetensi cahaya berdasarkan kondisi tajuk (posisi tajuk) dan bentuk.
Berikut persamaan regresi linear berganda yang digunakan : Y = a0 + a1x1 + a2x2x1 + a3x3x1
Dimana :
Y = produksi buah durian x1 = diameter pohon durian (cm) x2 = kompetisi cahaya (posisi tajuk)
x2 = 1, jika pohon mendapatkan cahaya penuh 0, jika pohon tidak mendapatkan cahaya penuh x3 = kondisi tajuk (bentuk tajuk)
14 x3 = 1, jika tajuk berbentuk simetris
0, jika tajuk tidak berbentuk simertis a0 = bilangan konstanta
a1-a3 = koefisien prediktor untuk masing-masing peubah bebas
15
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Produksi Buah Durian
Masyarakat Desa Pappandangan Kecamatan Anreapi umumnya memiliki mata pencaharian sebagai petani. Komoditas utamanya yaitu kakao, selain itu masyarakat juga menanam tanaman lain yakni durian. Kisaran produksi durian selama setahun adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Produksi Total Buah Durian di Desa Pappandangan
Kebun Jumlah pohon
Produksi Durian (buah)
Luas (ha) Total Produksi Rata-rata per
pohon
1 10 1.690 169 1
2 9 420 47 1
3 12 2.110 176 1
4 5 990 198 1
5 7 1.040 149 0.5
6 6 150 25 1
7 3 420 140 1
8 7 480 69 0.5
9 12 3.120 260 2
10 12 1.110 92 1
Tabel 1. menunjukkan bahwa produksi buah durian di Desa Pappandangan bervariasi yaitu >200 buah ditemukan pada kebun 9, 100-200 buah ditemukan pada kebun 1, 3, 4, 5 dan 7, <100 buah ditemukan pada kebun 2, 6, 8 dan 10. Ide (2013) dalam bukunya mengungkapkan bahwa pohon yang sudah cukup tua bisa menghasilkan 200 buah perpohon. Produksi buah terbanyak terdapat pada kebun 9 yaitu sebanyak 3.120 buah durian dengan jumlah produksi rata-rata perpohon 260 buah sedangkan produksi buah paling sedikit pada kebun 6 yaitu total produksi buah sebanyak 150 dengan jumlah produksi rata-rata 25 buah.
Berdasarkan hasil wawancara dengan petani mengenai umur, didapatkan sebaran frekuensi berdasarkan umur pohon durian yang disajikan pada Tabel 2.
16 Tabel 2. Produksi Total Buah Durian berdasarkan Kelas Umur di Desa
Pappandangan
Kelas Umur Jumlah pohon Produksi Durian (buah)
Total Produksi Rata-rata per pohon
10-20 28 1.240 44
21-31 37 4.250 115
32-42 6 1.500 250
43-53 5 1540 308
54-64 3 1.100 367
65-75 3 1400 467
76-86 1 500 500
Waktu berbuah durian tergantung pada umur tanaman, di alam tanaman durian yang berasal dari biji mulai berbuah pada umur 10-12 tahun. Durian lokal yang berasal dari sambung pucuk atau okulasi biasanya akan berbuah pada umur 8 tahun (Wiryanta, 2008). Hasil wawancara dengan petani pemilik kebun didapatkan umur pohon durian yang diamati berkisar antara 10 tahun sampai dengan 80 tahun yang semua tanamannya berasal dari biji.
Jumlah pohon yang masih muda lebih banyak dibandingkan pohon yang sudah tua, ini dikarenakan pohon yang sudah tua telah banyak ditebang dan beberapa pohon yang sudah tua juga telah mengalami kematian. Perbedaan produksi buah perpohon dapat disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya umur pohon. Rata-rata pohon yang berumur 10-12 tahun jumlah produksinya relatif masih sedikit ini dikarenakan umurnya baru memasuki fase berbuah.
Hasil dari Tabel 2. menjelaskan bahwa pertambahan umur pohon durian diikuti dengan pertambahan produksi buah durian. Alder dan Synnot (1992) mengungkapkan bahwa umur pohon berhubungan erat dengan produksi buah, semakin tua umur pohon maka produksi buah yang dihasilkan semakin banyak.
Hasil penelitian Yudistina, dkk., (2013) juga mengungkapkan bahwa bertambahnya umur tanaman akan berpengaruh nyata dan positif terhadap produksi buah.
Berdasarkan hasil wawancara dengan petani mengenai umur dan produksi serta hasil pengukuran diameter di lapangan didapatkan sebaran frekuensi umur pohon yang disajikan pada Tabel 3.
17 Tabel 3. Produksi Total Buah Durian berdasarkan Kelas Umur dan Diameter
Batang di Desa Pappandangan
Kelas Umur Diameter rata- rata (cm)
Produksi Durian (buah)
Total Produksi Rata-rata per pohon
10-20 22.3 1.240 44
21-31 36.7 4.250 115
32-42 44 1.500 250
43-53 50.5 1540 308
54-64 57.1 1.100 367
65-75 64.8 1400 467
76-86 94.4 500 500
Tabel 3. menunjukkan setiap pertambahan kelas umur diikuti dengan pertambahan diameter batang pohon dan produksi buah durian. Pohon durian yang memiliki produksi terendah terdapat pada kelas diameter 10-20 tahun dengan diameter rata-rata per pohon 22,3 cm, sedangkan pohon durian yang memiliki produksi tertinggi terdapat pada pohon dengan kelas umur 76-86 dengan diameter rata-rata per pohon yaitu 94.4 cm. Uthbah, dkk., (2017) mengungkapkan bahwa umur tanaman sangat mempengaruhi ukuran diameter batang, meningkatnya umur tanaman berarti semakin besar juga diamater batang.
Yudistina, dkk., (2013) meengungkapkan bahwa umur tanaman memiliki korelasi positif dengan diameter batang. Bertambahnya umur dan semakin besarnya diameter batang akan berpengaruh nyata terhadap produksi buah.
4.2. Kisaran Diameter, Posisi Tajuk dan Bentuk Tajuk terhadap Produksi Buah Durian
Berdasarkan pengukuran di lapangan, berikut sebaran kelas diameter pohon durian yang disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Produksi Buah Durian berdasarkan Kelas Diameter
Diameter Jumlah Pohon Produksi rata-rata/pohon (buah)
1 – 20.9 cm 8 20
21 – 40.9 cm 48 63
41 – 60.9 cm 20 258
61 – 80.9 cm 6 450
81- 100.9 cm 1 500
18 Hasil pengukuran diameter tersebut dapat juga dibuat dalam bentuk grafik menggunakan SPSS 21.00 yang disajikan pada Gambar 3.
Gambar 3. Grafik Pengaruh Diameter Batang dengan Produksi Buah Hasil fotosintesis digunakan oleh tumbuhan untuk melakukan pertumbuhan, baik secara vertikal (tinggi) maupun horizontal (diameter) dan sisanya disimpan dalam batang (Hardjana, dkk, 2014). Korelasi diameter batang dengan tingkat produksi buah dilatarbelakangi oleh kondisi dimana semakin besar diameter pohon maka xylem sebagai pengangkut zat hara dan air dari tanah semakin besar, sehingga akan semakin banyak zat hara dan air dari tanah.
Akhirnya kuantitas fotosintesis semakin tinggi yang menyebabkan pembentukan bunga dan buah semakin banyak. Pengaruh diameter batang terhadap produksi buah secara fisiologis tidak terjadi secara langsung tetapi melalui kondisi tajuk yang berkaitan dengan proses penerimaan cahaya matahari yang selanjutnya secara fisiologis mempengaruhi produksi buah (Bramasto dan Kurniawati, 2014).
Tabel 4. dan Gambar 3. menjelaskan bahwa diameter batang berbanding lurus dengan produksi buah durian yang dihasilkan. Semakin besar diameter batang maka semakin banyak buah yang dihasilkan. Hasil penelitian oleh Fajri dan Supartini (2014) juga mengungkapkan bahwa produksi buah semakin tinggi dengan bertambahnya diameter batang pohon, begitu juga penelitian Bramasto dan Kurniawati (2014) mengungkapkan diameter batang berkorelasi nyata dan positif terhadap produksi buahnya. Setyawan, dkk., (2004) pada penelitiannya
19 terkait produksi buah berdasarkan beberapa kelas diameter didapatkan hasil pada diameter kecil produksi buah sedikit sebaliknya pada diameter besar produksi buahnya juga banyak.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, diperoleh produksi buah berdasarkan indeks posisi tajuk dan diameter masing masing indeks yang disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Produksi Buah Durian berdasarkan Posisi Tajuk
Indeks Posisi Tajuk Umur rata-rata (tahun) Diameter rata-rata Produksi rata-rata/pohon
0 23 31,30 cm 74 buah
1 47 60,05 cm 388 buah
Berdasarkan pengamatan di lapangan, diperoleh produksi buah berdasarkan indeks posisi tajuk pada masing masing indeks kebun yang disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Produksi Buah Durian berdasarkan Posisi Tajuk (PT) setiap Kebun (K)
Sinar matahari sangat diperlukan untuk tanaman durian dalam pertumbuhannya. Daun, air, dan karbon dioksida dengan bantuan sinar matahari akan diubah menjadin energi dan oksigen (Sobir dan Rodame, 2010). Energi hasil fotosintesis dapat dipakai untuk pembentukan generatif atau pembentukan bunga dan buah (Untung, 2008). Daun membutuhkan intensitas cahaya matahari yang tepat agar mampu melakukan tugasnya dengan baik. Oleh karenanya, sebaiknya lokasi untuk berkebun durian dipilih di lahan yang terbuka walaupun durian relatif tahan naungan (Sobir dan Rodame, 2010). Hutan yang terlalu rapat menyebabkan mengakibatkan sedikitnya sinar matahari yang didapatkan oleh tanaman karena adanya persaingan dengan tanaman disekitarnya (Arief, 2001). Kekurangan cahaya matahari juga menyebabkan pembentukan vegetatif atau pertumbuhan batang, cabang, daun dan perakaran tidak sempurna, akibatnya tanaman tidak
PT K
Kebun.1 (buah/
pohon)
Kebun.2 (buah/
pohon)
Kebun.3 (buah/
pohon)
Kebun.4 (buah/
pohon)
Kebun.5 (buah/
pohon)
Kebun.6 (buah/
pohon)
Kebun.7 (buah/
pohon)
Kebun.8 (buah/
pohon)
Kebun.9 (buah/
pohon)
Kebun.10 (buah/
pohon)
Total
0 69 47 112 97 88 25 10 69 103 73 693
1 500 0 367 350 300 0 400 0 417 300 2634
20 dapat membentuk buah. Kalaupun dapat berbuah, produksi sangat rendah (Juanda dan Bambang, 2005).
Tabel 5. dan Tabel 6. menjelaskan pohon durian yang terkena cahaya matahari penuh memiliki diameter batang rata-rata besar, umur yang tua dan menghasilkan buah yang banyak, sebaliknya pohon yang tidak terkena cahaya matahari penuh memiliki diameter batang rata-rata rendah, umur yang masih muda dan menghasilkan buah yang relatif sedikit. Posisi tajuk pada penelitian ini mempunyai pengaruh positif terhadap produksi buah durian. Pohon dengan posisi tajuk yang terkena cahaya matahari penuh menghasilkan buah lebih banyak dibandingkan dengan pohon yang tajuknya tidak terkena cahaya matahari penuh, ini sesuai dengan penelitian Munawir (2013) yang menyatakan bahwa pohon yang posisi tajuknya mendapat cahaya penuh dari atas dan samping, produksi buahnya lebih tinggi dibandingkan dengan pohon yang ditanam rapat dan ternaungi dari tajuk pohon sekitarnya.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, diperoleh produksi buah berdasarkan indeks bentuk tajuk dan diameter masing masing indeks yang disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Produksi Buah Durian berdasarkan Bentuk Tajuk
Indeks Bentuk Tajuk Umur rata-rata (tahun) Diameter rata-rata Produksi rata-rata/pohon
0 24 32,66 cm 85 buah
1 52 62,40 cm 431 buah
Berdasarkan pengamatan di lapangan, diperoleh produksi buah berdasarkan indeks posisi tajuk pada masing masing indeks kebun yang disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Produksi Buah Durian berdasarkan Bentuk Tajuk (BT) setiap Kebun (K)
BT K
Kebun.1 (buah/
pohon)
Kebun.2 (buah/
pohon)
Kebun.3 (buah/
pohon)
Kebun.4 (buah/
pohon)
Kebun.5 (buah/
pohon)
Kebun.6 (buah/
pohon)
Kebun.7 (buah/
pohon)
Kebun.8 (buah/
pohon)
Kebun.9 (buah/
pohon)
Kebun.10 (buah/
pohon)
Total
0 69 47 121 97 107 25 10 69 131 92 768
1 500 0 300 350 400 0 400 0 440 0 2390
21 Penentuan ruang tumbuh bagi pohon dilakukan melalui pengaturan jarak tanam. Pengaturan jarak tanam dilakukan berdasarkan pada kualitas tempat tumbuh (bonita). Pertumbuhan tajuk dapat dimanfaatkan sebagai pertimbangan untuk menentukan besarnya ruang tumbuh yang diperlukan oleh setiap individu.
Tajuk yang tumpang tindih menunjukkan bahwa ruang tumbuh yang tersedia sudah tidak cukup. Ruang tumbuh mempengaruhi pembentukan tajuk. Ruang tumbuh yang rapat membuat tajuk pohon menjadi tidak simetris karena lebar tajuk sulit bertambah karena adanya persaingan dengan tajuk pohon di sekitarnya (Raharjo dan Sadono, 2008). Jarak tanam durian yang dianjurkan adalah 8 m x 8m atau 10 m x 10 m (Setiadi, 1985).
Tabel 7. dan Tabel 8. menjelaskan pohon durian dengan bentuk tajuk yang simetris memiliki diameter rata-rata besar, umur rata-rata yang tua dan menghasilkan buah yang banyak, sebaliknya pohon dengan tajuk yang tidak simetris memiliki diameter rata-rata kecil, umur rata-rata masih muda dan menghasilkan buah yang relatif sedikit. Bentuk tajuk yang dihasilkan berbanding lurus dengan produksi buah, bentuk tajuk yang simetris menghasilkan buah yang lebih banyak dibandingkan pohon dengan bentuk tajuk yang tidak simetris. Lanisa (2015) mengungkapkan bahwa bentuk tajuk berpengaruh terhadap banyaknya produksi buah yang dihasilkan. Pohon yang memiliki bentuk tajuk yang simetris menghasilkan produksi buah yang lebih banyak dibandingkan dengan pohon yang memiliki tajuk yang tidak simetris.
4.3. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
Persamaan garis regresi linier berganda yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
Y = - 95,091 + 5,485x1 +1,042x2.x1 + 1,688x3.x1
Persamaan regresi yang diperoleh di dalam penelitian ini, dapat didefinisikan diperoleh nilai konstanta (a0) jumlah produksi buah durian (Y) sebesar -95,091 yang berarti jika semua variabel bebas memiliki nilai nol (0) maka nilai variabel terikat sebesar -95,091 dan arah atau tanda negative berarti bahwa pada saat diameter 0 hingga ukuran tertentu pohon durian tidak akan berbuah. Nilai koefesien untuk variabel X1 sebesar 5,485 artinya setiap kenaikan
22 diameter batang satu satuan maka variabel produksi akan naik sebesar 5,485 dan tanda positif (arah) berarti pengaruh diameter batang berbanding lurus dengan jumlah produksi buah durian.
Nilai koefisien untuk variabel X2.X1 sebesar 1,042 artinya setiap kenaikan satu satuan posisi tajuk maka variabel produksi akan naik sebesar 1,042 dan tanda positif (arah) berarti faktor posisi tajuk berbanding positif dengan jumlah produksi buah durian. Posisi tajuk yang terkena cahaya matahari penuh produksi buahnya lebih besar dibandingkan posisi tajuknya yang ternaungi. Nilai koefesien untuk variabel X3.X1 sebesar 1,688 artinya setiap kenaikan satu satuan bentuk tajuk maka variabel produksi akan naik sebesar 1,688 dan tanda positif (arah) berarti faktor bentuk tajuk berbanding positif dengan jumlah produksi buah durian dan terlihat lebih besar dibanding dengan faktor posisi tajuk.
Uji analisis regresi linear berganda dilakukan untuk mengetahui hubungan antara produksi buah durian dengan variabel yang mempengaruhinya seperti diameter batang, bentuk tajuk dan posisi tajuk pohon. Hasi analisis regresi linear berganda disajikan dalam Tabel 9.
Tabel 9. Hasil Uji Regresi Linear Berganda
Varibel B Standar error Sig.
Konstanta -95.091 20.222 .000
Diameter Pohon 5.485 .620 .000
Posisi Tajuk x diameter pohon 1.042 .535 .055 Bentuk Tajuk x diameter pohon 1.688 .507 .001 R (Koefisien Korelasi) : 0.948
R2(Koefisien Determinasi) : 0.898 Signifikasi : 0.000
Tabel 9. menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi (R) antara variabel- variabel bebas seperti diameter pohon (X1), posisi tajuk (X2), dan bentuk tajuk (X3) terhadap variabel terikat yaitu: produksi buah durian (Y) sebesar 0,948 atau 94,8 % yang artinya diameter batang pohon, posisi tajuk dan bentuk tajuk secara bersama-sama memiliki hubungan yang positif terhadap jumlah buah produksi durian. Nilai koefesien determinasi (R2) sebesar 0,898 atau 89,8% artinya: nilai Y atau jumlah produksi buah durian sebesar 0,898 atau 89,8% dipengaruhi oleh
23 diameter pohon (X1), posisi tajuk (X2) , bentuk tajuk (X3) sedangkan sisanya sebesar 10,2% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti.
Nilai F pada tabel anova yang digunakan untuk mengetahui apakah variasi nilai variabel-variabel independen dapat menjelaskan berpengaruh secara bersama-sama terhadap variasi nilai variabel dependen. Pengujian apakah hipotesa yang diajukan diterima atau ditolak maka dilakukan dengan cara melihat pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Pengaruh tersebut diketahui dengan melihat nilai signifikansi (p=sig), apabila signifikansi lebih kecil atau sama dengan 0.05 maka Ha diterima dan Ho ditolak. Berdasarkan pada kolom signifikansi diperoleh nilai 0.00 artinya: diameter pohon, posisi tajuk (crown position) dan bentuk tajuk (crown form) secara bersama-sama berpengaruh terhadap jumlah produksi buah durian.
24 V.
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan persamaan analisis regresi linear berganda dapat disimpulkan :
a. Diameter batang pohon memiliki korelasi positif terhadap produksi buah.
Pohon yang memiliki diameter besar menghasilkan buah yang lebih banyak dibandingkan pohon yang memiliki diameter yang kecil.
b. Pohon durian yang mendapatkan cahaya penuh akan menghasilkan produksi buah yang lebih banyak dibandingkan dengan pohon durian yang mendapatkan cahaya tidak penuh.
c. Pohon durian yang memiliki bentuk tajuk simetris akan menghasilkan produksi buah yang lebih banyak dibandingkan dengan pohon durian yang memiliki bentuk tajuk tidak simetris
5.2. Saran
Agar produksi buah durian optimal maka disarankan untuk mengatur jarak tanam 10 m x 10 m sehingga diameter batang dan tajuk dapat berkembang dengan baik dan mendapatkan cahaya penuh.
25
DAFTAR PUSTAKA
Alder, D dan Synnot, T.J. 1992. Permanent Sample Plot Techniques for Mixed Tropical Forest. Oxford Forestry Institute, Department of Plant Science.
Oxford. Vol 25.
Arief, A. 2001. Hutan dan Kehutanan. Kanisisus. Yogyakarta.
Amin, M., Imran, R., dan Sitti, R 2016. Jenis Agroforestri dan Orientasi Pemanfaatan Lahan di Desa Simoro Kecamatan Gumbasa Kabupaten Sigi. Jurnal Warta Rimba. Vol 4(1) : 97-104.
Ashari, S. 2017. Durian King of the Fruits. Universitas Brawijaya Press. Malang.
Bukhari dan Febryano, G. 2009. Desain Agroforestri Pada Lahan Kritis (Studi Kasus Di Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar). Jurnal Perennial, 6(1) : 53-59.
Bramasto, Y dan Kurniawati, P.P. 2014. Potensi Produksi Buah Mindi Besar (Melia azedarach L.) pada beberapa Kelas Diameter Batang. Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan. Bogor.
Cunningham, A.B. 2014. Applied Ethnobotany: "People, Wild Plant Use and Conservation" . Routledge. New York.
Fajri, M dan Supartini. 2014. Produksi Buah Tengkawang pada beberapa Topografi dan Dimensi Pohon. Jurnal Penelitian Dipterokarpa. Vol. 8 (2) : (109-116)
Fiqa, A.P dan Laksono, R.A. 2013. Pengembangan Sistem Agroforestri Berbasis Indigenous Spesies dan Kesesuaian Lahan di Wilayah Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Prosiding Seminar Nasional Agroforestri 2013.
Hairiah, K., Sardjono, M.A., dan Sabarnurdin, S. 2003. Pengantar Agroforestri.
Bogor: World Agroforestry Centre (ICRAF).
Hamdani, F.A.U dan Murdiningrum,Y. 2014. Lesson Learn Agroforestri Hutan Rakyat untuk Ketahanan Pangan dan Kedaulatan Bangsa. Prosiding Seminar Agroforestry 2015. Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Agroforestry, Bandung, Hal 172-178.
Hardjana A.K., Amiril S., dan Rina W.C. 2014. Model Alometrik Pendugaan Biomassa dan Karbon Tegakan Hutan Jenis Kerung (Dipterocarpus Sp) pada Hutan Alam Produksi di Kalimantan Tengah. Prosiding Seminar Nasional Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Menuju Tata Kelola Hutan dan Lahan Lestari. Balai Pengelola REED+. Jakarta, Hal 237-243.
26 ICRAF. 2005. <http://www.worldagroforestry.org/.../index.htm>. into perspective a case of sustainale technology develepmont in jungle rubber agroforest in Jambi. ICRAF. Bogor.
Ide, P. 2013. Health Secret of Durian. Elex Media Komputindo. Jakarta.
Juanda, D.J.S dan Bambang, C. 2005. Wijen Teknik Budi Daya dan Analisis Usaha Tani. Kanisius. Yogyakarta.
Kurnia, U., Rachman, A., dan Dariah, A. 2004. Teknologi Konservasi Tanah pada Lahan Pertanian Berlereng. Pusat Penelitian dan Penelitian Tanah dan Agroklimat (Puslitbangtanak). Bogor.
Lanisa, S. 2015. Hubungan Diameter Pohon, Bentuk Tajuk, dan Posisi Tajuk terhadap Produksi Buah Kemiri (Aleurites moluccana) pada Hutan Kemiri di Kabupaten Bantaeng [Skripsi] Fakultas Kehutanan. Universitas Hasanuddin. Makassar.
Mahendra, F. 2009. Sistem Agroforestry dan Aplikasinya. Graha Ilmu.
Yogyakarta.
Munawir, A. 2013. Hubungan Diameter Pohon, Bentuk Tajuk, dan Posisi Tajuk terhadap Produksi Buah Kapuk Randu di Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan [Skripsi] Fakultas Kehutanan. Universitas Hasanuddin. Makassar.
Noordwijk, M.V., Fahmuddin, A., Didik, S., Hurniatun, H., Gamal, P., Bruno, V., dan Farida. 2004. Peranan Agroforestri dalam Mempertahankan Fungsi Hodrologi Daerah Aliran Sungai (DAS). Jurnal Agrivita. Vol. 26(1).
Pasya, G., Chip, F., dan Meina, V.N. 2004. Sistem Pendukung Negosiasi Multi Tataran dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam sezara Terpadu : dari Konsep hingga Praktek. Jurnal Agrivita. Vol. 26(1).
Raharjo, J.T dan Sadono, R. 2008. Model Tajuk Jati (Tectona grandis L.F) dari Berbagai Famili Pada Uji Keturunan Umur 9 Tahun. Jurnal Ilmu Kehutanan. Vol. 2(2) : 89-95.
Setiadi. 1985. Bertanam Durian. Penebar Swadaya, Jakarta.
Setyawan, D., Ina, W., dan Sumadiwangsa, E.S. 2004. Pengaruh Tembah Tumbuh, Jenis dan Diameter Batang terhadap Produktivitas Pohon Penghasil Biji Tengkawang. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. Vol. 22 (1) : 23-33.
Sidiyasa, K., Zakaria dan Ramses, I. 2006. Hutan desa Setulang dan Sengayan Malinau, Kalimantan Timur: potensi dan identifikasi langkah-langkah perlindungan dalam rangka pengelolaannya secara lestari. CIFOR. Bogor.
27 Sobir dan Rodame, M.N. 2010. Bertanam Durian Unggul. Penebar Swadaya,
Jakarta.
Untung, O. 2007. Durian untuk Kebun Komersial dan Hobi. Penebar Swadaya.
Depok.
Untung, O. 2008. Agar Tanaman Berbuah diluar Musim. Penebar Swadaya.
Depok.
Uthbah, Z., Eming, S dan Edy, Y. 2017. Analisis Biomassa dan CadanganKarbon pada berbagai Umur Tegakan Damar (Agathis dammara (Lamb.) Rich. Di KPH Banyumas Timur. Jurnal Scripta Biologi. Vol 4(2) : 119-124.
Widiyanto, A. 2013. Agroforestry dan Peranannya dalam Mempertahankan Fungsi Hidrologi dan Konservasi. Vol. 9 (hal. 12).
Wijaya, A. 2009. Bertanam Durian. Ganeca Exact. Bekasi.
Wiryanta, B.T.W. 2008. Sukses Bertanam Durian. PT. AgroMedia Pustaka.
Jakarta Selatan.
Wiryanta, B.T.W. 2009. Panen Durian di Pekarangan Rumah. PT. AgroMedia Pustaka. Jakarta Selatan.
Wulan, Y.R., Ashari, S., dan Ainurrasjid. 2010. Pengaruh Posisi Semai Benih terhadap Perkecambahan dan Pertumbuhan Bibit Durian (Durio zibethinus Murr). Jurnal Pertanian Universitas Brawijaya. 1-9.
Yudistina, V., Mudji, S., dan Nurul, A. 2013. Hubungan antara Diameter Batang dengan Umur Tanaman terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kelapa Sawit. Jurnal Buana Sains. Vol 17(1) : 43-48
Yuwariah. 2015. Potensi Agroforestry untuk Meningkatkan Pendapatan, Kemandirian Bangsa dan Perbaikan Lingkungan. Prosiding Seminar Agroforestry 2015. Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Agroforestry, Bandung, Hal 1-29
28
LAMPIRAN
LAMPIRAN 1.DATA DURIAN KEBUN 1 DI DESA PAPPANDANGAN Ketinggian : ± 135 mdpl
DATA DURIAN KEBUN 2 DI DESA PAPPANDANGAN No Diameter (cm) Indeks Bentuk
Tajuk
Indeks Posisi Tajuk
Total Produksi Buah
Umur (tahun)
Kelerengan
1 23.4 0 0 10 25 35˚
2 19.1 0 0 20 25 35˚
3 38.4 0 0 150 28 35˚
4 17.4 0 0 10 21 35˚
5 28.6 0 0 50 25 35˚
6 34.1 0 0 100 25 35˚
7 25.5 0 0 20 25 35˚
8 22.9 0 0 10 21 35˚
9 38 0 0 50 30 35˚
Ketinggian : ± 138mdpl
No Diameter (cm) Indeks Bentuk Tajuk
Indeks Posisi Tajuk
Total Produksi Buah
Umur (tahun)
Kelerengan
1 20.7 0 0 10 20 5˚
2 41.7 0 0 150 20 5˚
3 30.7 0 0 100 25 5˚
4 34.5 0 0 100 20 5˚
5 45.4 0 0 200 30 5˚
6 67.5 1 1 500 50 5˚
7 69.13 1 1 500 50 5˚
8 30.29 0 0 50 30 5˚
9 30.7 0 0 50 20 5˚
10 20.42 0 0 30 14 5˚
29 DATA DURIAN KEBUN 3 DI DESA PAPPANDANGAN
Ketinggian : ± 84 mdpl
DATA DURIAN KEBUN 4 DI DESA PAPPANDANGAN
Ketinggian : ± 119 mdpl
DATA DURIAN KEBUN 5 DI DESA PAPPANDANGAN
Ketinggian : ± 223 mdpl
No Diameter (cm) Indeks Bentuk Tajuk
Indeks Posisi Tajuk
Total Produksi Buah
Umur (tahun)
Kelerengan
1 34.5 0 0 100 25 0˚
2 28.8 0 0 30 10 0˚
3 52.8 0 0 200 25 0˚
4 38.5 0 0 50 10 0˚
5 36.42 0 0 100 15 0˚
6 94.4 1 1 500 30 0˚
7 50.5 0 0 200 15 0˚
8 76.8 1 1 400 25 0˚
9 38 0 0 100 10 0˚
10 27.9 0 0 30 10 0˚
11 50.3 0 1 200 25 0˚
12 53.7 0 0 200 25 0˚
No Diameter (cm) Indeks Bentuk Tajuk
Indeks Posisi Tajuk
Total Produksi Buah
Umur (tahun)
Kelerengan
1 28.5 0 0 50 30 30˚
2 38.1 0 0 200 30 30˚
3 40.8 1 1 300 45 30˚
4 27.4 0 0 40 45 30˚
5 59.8 1 1 400 80 30˚
No Diameter (cm)
Indeks Bentuk Tajuk
Indeks Posisi Tajuk
Total Produksi Buah
Umur (tahun)
Kelerengan
1 51.06 0 1 200 30 35˚
2 44 0 0 200 20 35˚
3 22.1 0 0 20 30 35˚
4 34 0 0 50 25 35˚
5 38.5 0 0 150 30 35˚
6 50.6 1 1 400 35 35˚
7 28.5 0 0 20 20 35˚
30 DATA DURIAN KEBUN 6 DI DESA PAPANDANGAN
No Diameter (cm)
Indeks Bentuk Tajuk
Indeks Posisi Tajuk
Total Produksi Buah
Umur (tahun)
Kelerengan
1 27.5 0 0 30 25 10˚
2 36.6 0 0 50 25 10˚
3 20.8 0 0 20 15 10˚
4 34.5 0 0 30 25 10˚
5 21.3 0 0 10 20 10˚
6 23.5 0 0 10 20 10˚
Ketinggian : ± 134 mdpl
DATA DURIAN KEBUN 7 DI DESA PAPPANDANGAN No Diameter (cm) Indeks Bentuk
Tajuk
Indeks Posisi Tajuk
Total Produksi Buah
Umur (tahun)
Kelerengan
1 51.8 1 1 400 30 0˚
2 24.9 0 0 10 15 0˚
3 27.8 0 0 10 15 0˚
Ketinggian : ± 86 mdpl
DATA DURIAN KEBUN 8 DI DESA PAPPANDANGAN No Diameter (cm) Indeks Bentuk
Tajuk
Indeks Posisi Tajuk
Total Produksi Buah
Umur (tahun)
Kelerengan
1 22.8 0 0 20 25 10˚
2 40.9 0 0 200 35 10˚
3 21.2 0 0 20 20 10˚
4 23.2 0 0 10 20 10˚
5 19.3 0 0 20 20 10˚
6 33.5 0 0 200 25 10˚
7 25.6 0 0 10 20 10˚
Ketinggian : ± 189 mdpl
31 DATA DURIAN KEBUN 9 DI DESA PAPPANDANGAN
No Diameter (cm) Indeks Bentuk Tajuk
Indeks Posisi Tajuk
Total Produksi Buah
Umur (tahun)
Kelerengan
1 58.2 1 1 400 60 20˚
2 60.63 1 1 400 70 20˚
3 51 0 0 200 60 20˚
4 66.4 1 1 500 70 20˚
5 21.8 0 0 10 15 20˚
6 30.5 0 0 100 30 20˚
7 31.3 0 0 100 30 20˚
8 53.1 1 1 400 70 20˚
9 42.3 0 0 200 60 20˚
10 62 1 1 500 60 20˚
11 62.3 0 1 300 50 20˚
12 21.05 0 0 10 40 20˚
Ketinggian : ± 206 mdpl
DATA DURIAN KEBUN 10 DI DESA PAPPANDANGAN No Diameter (cm) Indeks Bentuk
Tajuk
Indeks Posisi Tajuk
Total Produksi Buah
Umur (tahun)
Kelerengan
1 20.3 0 0 30 15 5˚
2 46.1 0 1 300 40 5˚
3 33.5 0 0 100 25 5˚
4 42.9 0 0 200 40 5˚
5 41.2 0 0 200 40 5˚
6 28.8 0 0 30 25 5˚
7 23.6 0 0 10 15 5˚
8 35.9 0 0 50 25 5˚
9 20.6 0 0 20 25 5˚
10 22.3 0 0 20 30 5˚
11 39 0 0 50 30 5˚
12 43 0 0 100 40 5˚
Ketinggian : ± 227mdpl
32 LAMPIRAN 2
HASIL ANALISIS SPSS
Model Summary Mode
l
R R
Squar e
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Change Statistics R Square
Change
F Change df1 df2 Sig. F Change
1 .948
a
.898 .894 48.18024 .898 232.713 3 79 .000
a. Predictors: (Constant), X3_X1, X1, X2_X1
ANOVAa
Model Sum of
Squares
df Mean
Square
F Sig.
1
Regression 1620616.930 3 540205.643 232.713 .000b Residual 183385.479 79 2321.335
Total 1804002.410 82
a. Dependent Variable: Y
b. Predictors: (Constant), X3_X1, X1, X2_X1
Coefficientsa
Model Unstandardized
Coefficients
Standardize d Coefficients
t Sig. Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Toleranc
e
VIF
1
(Constant )
-95.091 20.222 -4.702 .000
X1 5.485 .620 .565 8.845 .000 .316 3.167
X2_X1 1.688 .507 .266 3.328 .001 .201 4.967
X3_X1 1.042 .535 .176 1.948 .055 .158 6.332
a. Dependent Variable: Y
33 LAMPIRAN 3
DOKUMENTASI FOTO
Gambar 1. Pohon durian (Durio zibethinus) dengan bentuk tajuk simetris
p
Gambar 2. Pohon durian (Durio zibethinus) dengan bentuk tajuk tidak simetris
34 Gambar 3. Pohon durian (Durio zibethinus) dengan posisi tajuk terkena cahaya
matahari penuh
Gambar 4. Pohon durian (Durio zibethinus) dengan posisi tajuk tidak terkena cahaya matahari penuh