Daftar Isi
Daftar Isi ... i
Bagian Kesatu ... 1
Kondisi wakaf saat ini ... 2
Bagian Kedua ... 20
A. What Is Wakaf ... 20
B. The History Of Wakaf ... 25
C. All About The Book Of Wakaf ... 30
D. The Types of Wakaf ... 37
E. The Golden Arrow: Wakaf for Charity ... 40
Bagian Ketiga ... 46
A. Weaknesses and Threads ... 48
B. The All New Product: Wakaf Produktif ... 53
C. Vacancy: Wakaf Produktif di Indonesia! ... 61
D. Good Example Design: Pemberdayaan Tanah Wakaf Produktif ... 70
Bagian Keempat ... 77
A. Wakaf Tunai dan Pembangunan Ekonomi ... 82
B. Gimana sih Mengelola Wakaf Tunai? ... 89
ii
C. Masa Depan Cerah Menunggu ... 91
D. Contoh Desain Usaha : Pemberdayaan Tanah Wakaf Strategis ... 96
Bagian Kelima ... 99
A. Apa Yang Bisa Kamu Wakafkan ... 99
B. Simulasi Pelaksanaan Wakaf ... 103
C. Pilih Jadi Wakif atau Nazhir nih ... 108
Referensi ... 113
BAGIAN PERTAMA
The Big Problem:
Beginilah Kondisi Kita sekarang!
Kalau kita bicara tentang Islam dan ekonomi, sebenarnya kita bukan hanya membincangkan satu golongan tertentu (agama tertentu) saja. Tapi juga berarti kita lagi membicarakan sebuah persoalan kemanusiaan yang besar, yang berhubungan dengan kehidupan banyak orang di dunia ini.
Secara umum, coba kita pikirkan, apa sih motivasi terbesar dari adanya penjajahan di dunia ini? Baik penjajahan militeristik maupun penjajahan kolonialistik, semuanya pasti punya motif ekonomi. Ingat kan, waktu di SMA kita belajar sejarah tentang penjajahan? Ada istilah gold, gospel, and glory.
Yang disebut pertama kan gold, artinya emas, harta.
Hubungannya ke ekonomi. Baru deh ada motif gospel (penyebaran agama) dan terakhir glory atau prestise.
Lepas dari penjajahan, berbagai rezim yang berkuasa juga melakukan kontrol gede-gedean atas perekonomian suatu bangsa, terutama yang rezimnya militeristik atau diktator. Mereka pegang kendali atas hampir semua sektor ekonomi di negara tersebut.
Naaah... look who's hiding! Di belakangnya pasti ada kepentingan negara besar tertentu. Istilahnya ada
atau negara terbelakang. Mau tahu contohnya negara maju tersebut? Gak jauh-jauhlah... negaranya Om Bush itu, alias Amerika Serikat.
Memasuki abad 20, Amerika melihat potensi perkembangan ekonomi dan ideologi pasar Cina yang beda sama dia. Maka dia jadi khawatir. Dibidiklah beberapa negara potensial, termasuk Indonesia.
AS tahu banget kalau Indonesia potensial dalam segi kekayaan alam, tapi lemah dalam SDM. OK deh, cocok banget buat dia kuasai. Nggak bisa melakukan invasi atau penjajahan berupa pencaplokan daerah, dia tetap keukeuh menancapkan hegemoninya lewat pemerintah. Terutama zaman Orde Baru. Dibuatnya Indonesia dan banyak negara berkembang lainnya tergantung sekali kepada AS.
Caranya gimana?
Dengan 'pintarnya' mereka mempengaruhi sekaligus memaksa pasar untuk mengikuti desain pola ekonomi politik global everytime they need. Dasarnya kita juga nggak peka, ya sudah... ikut terus!
Padahal ekonomi global itu juga jelas punya dampak negatif lho. Misalnya disintegritas alias perpecahan. Gini nih, sejak awal globalisasi mengiklankan dirinya sebagai 'pemersatu' secara universal. Gimana bisa? Tiap komunitas itu kan unik. Gak bisa dipaksakan semua harus 'satu' diantara terlalu banyak perbedaan. Sementara globalisasi sebagai salah satu ide bikinan manusia juga punya sifat rapuh. Emang bisa mengikat semua perbedaan dalam 'pemersatu' yang rapuh? Nggak logis kan?
Kedua, masalah kemiskinan. Globalisasi itu kan pada hakikatnya adalah keterbukaan dimana semua orang bebas bersaing di pasar terbuka. Coba bayangkan, iya kalau yang bersaing itu si kuat dalam segi modal dan ketrampilan. Tapi kalau dia si lemah, baik dalam modal dan ketrampilan?
Hmmm... siap-siap aja menyingkir sebelum digusur.
Kejam ya? Ya begitulah. Jadilah jargon 'Siapa suruh jadi orang miskin, bodoh pula?', sebagai kata-kata sakti untuk memasuki dunia penuh kompetisi ini. The winner takes it all, and the looser has to fall.
So, globalisasi sebagai sistem sudah 'miskin keadilan'.
Globalisasi diciptakan hanya untuk si kaya dan si pandai.
Bagus sih, dari satu sisi menciptakan nilai-nilai kompetitif.
Tapi di sisi lain, kalau kita tidak masuk kriteria itu, siap-siap tersingkir dan tersungkur.
Indonesia sebagai negara yang jujur saja, banyak hutangnya, sudah tentu jadi sasaran 'diobok-obok' oleh badan-badan ekonomi milik si kuat, seperti IMF, Bank Dunia, dan WTO, dengan dalih 'membantu demi memulihkan kondisi ekonomi menyongsong pasar bebas dan era globalisasi' (Mulia sekalee...:P). Negara-negara berkembang lain juga sama saja nasibnya.
Nah, Indonesia sebagai negara muslim terbesar harusnya bisa dong keluar dari jerat ekonomi global itu.
Caranya?
Be brave! Kita harus berani keluar dari jerat itu dengan menciptakan sebuah sistem yang tangguh. Bisa nggak?
Bisa dong. Mungkin kita bisa mencontoh Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan yang membuat sistem ekonomi berbasis negara. Jadi mereka menghindari sistem keuangan pasar yang dimonopoli negara-negara maju.
Jadi kita membutuhkan sebuah sistem ekonomi yang dibangun atas dasar kesetaraan, demokratis, dan islami.
Karena demokrasi, tanpa mengedepankan etika dan moral yang baik, tetap saja akan berdampak buruk bagi kemanusiaan.
Ini wajah ekonomi umat Islam Indonesia
Indonesia ini sebenarnya negara besar, tapi ekonominya timpang. Sebagian besar ekonominya dikuasai oleh dua kelompok: (1) tradisional feodalis, (2) modern kapitalis. Mereka pakai sistem ribawi pula!
Kaum tradisional feodalis menguasai sektor ekonomi di desa. Mereka adalah para pemilik sawah, ladang, kebun serta tambak. Persaingan biasanya antar keluarga, dan dimenangkan oleh keluarga yang anggotanya lebih banyak, lebih rajin, lebih kaya, dan lebih nekad.
Nah, keluarga yang kalah harus mengabdi dengan bekerja kepada keluarga yang menang. Begitu seterusnya turun temurun.
Yang kaya tambah kaya, yang miskin tetap miskin atau tambah miskin. Kadang-kadang mereka terpaksa menjerat diri dengan meminjam uang kepada rentenir/tengkulak.
Makin miskin deh. Sudah dosa, miskin pula.
Bagi yang tahan dengan nasib ini, tetap memburuh di desa. Yang nggak tahan memilih jadi urban di kota. Iya kalau sukses di kota, kalau nggak? Bahkan kaumm urban yang bermodal nekat ke kota bisa jadi gelandangan, pengemis, bahkan pelaku tindak kriminal. Huh, nggak banget dech!
Sudah banyak sekali kisah seperti ini kita dengar.
Mungkin kita juga mengenal mereka sebagai orang-orang di sekitar kehidupan kita.
Sementara di kota, dikuasai oleh masyarakat modern kapitalis. Ini biasanya bersinergi dengan perbankan dan lembaga keuangan lain dalam menjalankan sistem ekonomi ribawi. Jelas dong, kemenangan ada di pihak dengan SDM dan modal gede!
Maka terciptalah ketimpangan sosial akibat sistem ekonomi kapitalis, yang disebabkan oleh:
1. Efisiensi modal dan tenaga. Bagaimana dengan modal kecil dan tenaga yang sedikit bisa dapat untung gede.
Nggak heran PHK dimana-mana, dalihnya efisiensi.
Jadi posisi kaum buruh memang lemah banget. Kalau bukan tenaga terampil, ya siap-siap diputus kontrak sewaktu-waktu. Makanya banyak kaum buruh demo dimana-mana.
2. Penekanan harga beli dan pelambungan harga jual.
Harga beli bahan baku dari masyarakat ditekan, tapi giliran sudah jadi, dijual dengan harga tinggi. Untung kan si produsen?
Kalau produk itu bukan produk primer sih nggak terlalu masalah. Tapi kalau sudah menyangkut kebutuhan pokok
dengar adanya pengusaha kartel yang menguasai dari ujung sampai pangkal. Sehingga, para pengusaha berideologi kapitalis itu mudah mempermainkan harga.
Lagi-lagi masyarakat kecil yang kena getahnya. Apa- apa mahal, cari kerja susah. Gimana coba?
Kaidah Hobbes ”yang kuat memakan yang lemah” jadi mainstream yang berlaku dimana-mana, di desa dan di kota.
Siapa yang kuat itu?
Mereka sebetulnya hanya segelintir orang saja. Tapi duitnya banyak, sehingga dapat mempengaruhi ekonomi.
Mereka itu adalah:
1. Para bankir... jelaas dong. Namanya juga bankir, tempatnya orang naruh duit.
2. Para pengusaha kuat. Ya, pengusaha jenis ini biasanya memiliki lobby yang sangat kuat untuk mempengaruhi kekuasaan. Pokoknya, banyak kebijakan penguasa yang pada akhirnya bias gara-gara dipengaruhi oleh pengusaha.
3. Nasabah kakap. Orang tajir (kaya raya) yang memiliki uang berlimpah.
4. Nasabah menengah dan kecil yang punya tabungan dan deposito. Meskipun mereka duitnya nggak terlalu banyak, atau bahkan tidak banyak, tetapi karena jumlah mereka banyak, maka akumulasi duitnya juga banyak.
Terus gimana nasib kaum duafa/marginal? Nggak sepenuhnya benar kalau ada asumsi mereka tertolong oleh
adanya kaum tradisional feodalis dan kaum modern kapitalis.
Yang jelas, mereka tetap tertindas.
Berapa jumlah pengangguran dan jumlah lapangan kerja yang ada? Seimbang nggak?
Terus, apa kita berdiam diri dan tetap setia jadi pengikut dan penikmat sistem ekonomi kapitalis? Apalagi sistem kapitalis sudah mulai ada tanda-tanda tumbang dengan gejolak saham di Wall Street, AS, pada awal bulan oktober 2008 yang lalu. Bahkan menurut ekonomi Islam, sistem kapitalis tinggal menunggu waktu untuk bangkrut.
Nah sekarang, kenapa kita nggak melirik lembaga- lembaga pemberdayaan ekonomi Islam seperti zakat dan wakaf? Bukankah zakat dan wakaf dibangun atas prinsip kejujuran dan keadilan sosial? Dan memang dua ajaran itu sudah terbukti dalam sejarah bukan? Bahkan sebagai penopang berdirinya peradaban Islam yang sangat maju.
Khusus untuk wakaf, di negeri kita, jika lihat dari ketersediaan aset dengan kesejahteraan sosial, kan belum dikelola secara optimal. Peruntukkannya masih sebatas untuk pembangunan pesantren, sekolah, madrasah, masjid, dan makam. Belum produktif untuk pemberdayaan ekonomi gitu loh. Padahal potensi wakaf itu sungguh luar biasa dan harusnya dapat diberdayakan.
Secara umum, ini image wakaf di Indonesia:
1. Umumnya berupa benda tak bergerak, kayak tanah dan bangunan.
2. Biasanya di atas tanah itu didirikan masjid atau
3. Penggunaannya tergantung wasiat yang mewakafkan (Wakif).
4. Pengelola (Nazhir) benda wakaf rata-rata karena faktor kepercayaan, misalnya percaya kepada kyai, ustadz, ajengan, ulama atau tokoh masyarakat.
Sementara kemampuan profesionalnya belum tentu.
5. Timbul pandangan kalau benda wakaf nggak boleh diutak-atik, meski untuk renovasi. Akibatnya? Banyak benda wakaf yang terlantar!
Padahal lagi nih, kalau saja wakaf bisa dikelola secara profesional, bisa menjadi salah satu solusi yang luar biasa untuk mengatasi masalah ekonomi umat yang ujungnya ke masalah sosial. Apalagi sifat dari aset wakaf itu harus tetap hingga hari kiamat. Gimana caranya?
Sabar... kita akan membahas hal itu nanti. Setelah ini kita masih akan mengamati kondisi umat Islam di negara lain dan gimana 'pintarnya' Yahudi memainkan perannya.
Yang sama menyedihkan: Kondisi ekonomi umat Islam dunia(The Truth about the Muslim World Economic Disasters!)
1. Peristiwa Black September dianggap sebagai titik balik keadaan ekonomi dunia. Hampir semua belahan bumi menganggap peristiwa 11 September 2001 itu sebagai sejarah hitam bagi dunia ekonomi, khususnya AS. Boleh dibilang, pasca kejadian itu, ekonomi AS kelimpungan. Negara-negara maju termasuk AS makin
menggiatkan intimidasi terhadap negara-negara muslim yang dianggap sebagai 'sarang teroris'. AS menggulirkan kebijakan-kebijakan yang sifatnya menekan negara-negara muslim dengan tujuan agresi dan invasi dengan semboyan 'mengenyahkan teroris'.
Tapi menurut para analis, kebijakan AS menyerang teroris cenderung berstandar ganda.
2. Di sisi lain, kebijakan AS itu memperparah kondisi ekonomi negara-negara muslim yang sedang terpuruk.
Padahal sebelumnya kondisi umat Islam pernah mengalami kemajuan, tidak hanya bidang ekonomi, tapi juga di bidang ilmu pengetahuan, seni budaya dan semua bidang ilmu. Namun semua itu lambat laun menurun seiring dengan direbutnya teknologi oleh negara-negara barat.
3. Lima belas tahun yang lalu, Pakistan pernah mengalami kebangkitan ekonomi. Proporsi kebangkitan ekonominya dari 13% bisa mencapai 33%. Tapi sekarang kehidupan warganya kembali terpuruk. Sudah begitu, negara itu demen banget perang saudara, sampai bom-boman segala. Hampir sepertiga warganya hanya memiliki pendapatan kurang dari 2 USD dalam sehari. Aduh, di negara kita bagaimana ya? Kamu sendiri, berapa USD kira-kira pendapatanmu perhari?
4. Sementara itu Kuwait, Brunei Darussalam, dan Uni Emirat Arab memiliki angka pendapatan perkapita 10.000 USD. Makmur bener kan? Tapi dari 56 negara lain, dimana di dalamnya terdapat populasi muslim, angka pendapatan perkapita mereka masih kurang dari
5. Saat ini paling tidak terdapat enam negara muslim dari delapan negara miskin di dunia. Betapa menyedihkannya! Negara-negara itu adalah Etiopia, Sierra Leone, Afghanistan, Somalia, Nigeria, Mozambique, dan Pakistan. Padahal di masa lalu, kita ingat benar bahwa enam negara muslim itu, selama tujuh abad (abad VII-XIV) pernah mengalami kejayaan dalam ilmu kimia, matematika, filsafat, ilmu perbintangan hingga kedokteran dan farmasi.
6. Warisan kekayaan sumber daya alam berupa minyak bumi dan mineral yang banyak terdapat di negara- negara muslim ternyata belum bisa dikelola secara optimal (karena keterbatasan teknologi?). Misalnya Saudi Arabia, Iran, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab diperkirakan memiliki 700 milyar barrel minyak hanyalah produk domestik kotor dari keseluruhan kekayaan 'dunia Islam' yang ditaksir mencapai 1,05 trilyun USD. Bandingkan dengan pemilikan AS yang mencapai 14 trilyun USD, Perancis 1,5 trilyun USD, Jerman 2 trilyun USD, Inggris 1,5 trilyun USD, dan Itali 1,05 trilyun USD.
7. Salah satu sebab kemunduran umat Islam adalah merosotnya kemampuan dalam bidang IPTEK. Lebih dari 800 juta, dari total populasi sekitar 1,3 milyar umat Islam, adalah buta huruf. Tidak lebih dari 600 universitas di dunia Islam yang mencapai standar internasional dan hanya mempunyai 300.000 ilmuwan.
Bandingkan dengan Jepang, misalnya, yang memiliki 1000 universitas yang memiliki standar pengajaran dan riset internasional. Tokyo sebagai salah satu kota
besarnya sudah memiliki sekurang-kurangnya 113 universitas terkemuka dengan 700.000 ilmuwan. AS memiliki 5758 universitas dengan 1,1 juta ilmuwan.
India memiliki 8407 universitas.
8. Jadi, kemerosotan umat Islam bukan hanya di bidang ekonomi, tapi juga di bidang pendidikan dan sosial politik.
Sungguh sebuah bencana besar yang mengerikan dan membuat kita menangis. Mengapa kita sedemikian terpuruk?
Tidak ada jalan lain, selain mengangkat kembali ketiga perangkat kehidupan tersebut untuk meraih kembali kejayaan yang pernah kita peroleh di masa lalu. Siap nggak kita?
Ya, harus siap dong...
Jerat Ekonomi Yahudi: The Jewish' Economic Chain Saat ini negara-negara besar dan maju berlomba- lomba untuk menginvasi ekonomi ke negara-negara dunia ketiga, kayak Indonesia. Kebesaran dan kemajuannya dijadikan modal untuk menakan negara lemah. Ya lemah SDM, lemah teknologi, lemah militer, lemah poltik dan lemah ekonomi. Kenapa?
Karena umumnya negara-negara dunia ketiga punya sumber daya ekonomi yang besar. Indonesia juga termasuk nih, yang sedang mengalami terpaan ekonomi global gede- gedean. Sudah gitu, sumber daya manusianya belum mampu pula untuk mengoptimalkan kekayaan alamnya. Kesempatan
terjadi adalah eksploitasi ekonomi besar-besaran!
Dampaknya adalah rakyat Indonesia makin miskin dan kita juga mengalami ketergantungan yang luar biasa terhadap asing.
Tatanan ekonomi dunia memang bukan didesain untuk kepentingan dunia ketiga, tapi untuk negara maju. Mereka berusaha dengan segenap cara agar dapat menguasai dunia di segala bidang. Mau perang juga hayuuuk. Terpaksa deh negara-negara dunia ketiga yang banyak muslimnya harus mati-matian bekerja demi kepentingan mereka. Contohnya invasi AS dan Inggris ke Irak dan Afghanistan. Ngapain mereka capek-capek ke sana? Mau membangun sekolah?
Orang mereka ke sana jelas-jelas mengincar ladang- ladang minyak. Kita sama-sama tahu bahwa Irak dan Afghanistan memiliki cadangan minyak terbesar setelah Arab Saudi. Bahkan sekarang-sekarang ini Iran juga diincar mau diserang. Alasannya? Lagi-lagi karena Iran dituduh mengembangkan senjata nuklir. Rupanya mereka nggak kapok-kapok juga setelah kegagalan total di Irak yang dituduh menyimpan senjata pemusnah massal. Buktinya?
Bohong besar dan hanya jadi alat untuk menyerang dan menjajah demi minyak! Sungguh terlalu memang mereka!
Trus, siapa pelopornya?
Tunjuk hidung Om Bush, alias AS. Selain itu, didukung habis sama Om Tony Blair, PM Inggris. Dua orang itu ibarat jari telunjuk dan jari tengah. Saking deketnya, keinginan AS kayak apapun hampir pasti didukung. Makanya ada yang bilang, Tony Blain diibaratkan buldog. Siapa di belakangnya?
Nggak lain Yahudi! Sudah bukan rahasia lagi, kalau para penentu kebijakan politik dan bisnis di sana adalah Yahudi. Siapapun presiden AS yang terpilih, di belakangnya dapat dipastikan kaum Yahudi yang sangat berpengaruh.
Siapa para pemegang saham The Federal Reserve (Bank Sentral AS)?
1. Rothschilds Bank of London 2. Rothschilds Bank of Berlin 3. Israel Moses Seif Bank of Italy 4. Wanburg Bank of Amsterdam 5. Wanburg Bank of Hamburg 6. Lazard Brothers of Paris 7. Lehman Brothers of New York 8. Kuhn and Loeb Bank of New York 9. Chase Manhattan Bank of New York 10. Goldman-Sachs of New York.
Semua lembaga keuangan raksasa itu adalah milik Yahudi.
Siapa penguasa dan pemain utama di lembaga keuangan raksasa di New York seperti IMF dan World Bank yang suka meminjamkan uang ke kita? Istilah meminjamkan itu kata halusnya lho, tapi hakikatnya mereka itu jual jasa rentenir internasional. Kok? Ya, iya. Peminjaman utang itu kan harus
tidak mampu membayar sesuai jadwal, maka berlaku bunga berbunga. What? Bukankah itu budaya kapitalis yang suka meng-anak-kan uang. Menurut istilah Zaim Saidi, Direktur Tabung Wakaf Indonesia, uang beranak uang adalah riba murni.
Nah, lembaga keuangan dunia itu dikuasasi oleh kelompok tertentu. Mereka adalah Yahudi yang sejak tahun 1664 sampai sekarang menjadikan New York sebagai tujuan utama migrasi mereka. Nggak heran kan jika mereka murka banget saat WTC diledakkan. Mereka kan menganggap New York sebagai mesin uang bagi tumbuh kembangnya gerakan zionisme di dunia. Tapi sebenarnya aktor intelektual peledakan itu siapa ya?
Trus, siapa raja bisnis pers dan penerbitan di AS?
The New York Times dimiliki oleh keluarga Suzberger, pemodal Yahudi. Suzberger juga menguasai 36 perusahaan surat kabar lainnya dan 12 majalah, termasuk Mc Call's dan Family Circle. Pimpinan majalah Time adalah Stephen J Ross, Yahudi juga.
Penerbit buku kelas raksasa seperti Random House, Simon and Schuster, dan Ime Inc. Book Co, juga dimiliki pemodal Yahudi.
Pimpinan Simon and Schuster adalah Richard Snyder dan Jeremy Kaplan, keduanya Yahudi. Penerbit buku anak, Western Publishing, dengan pangsa pasar 50% buku anak di seluruh dunia, dimiliki oleh Richard Bernstein, Yahudi juga.
Walt Disney Company, yang merupakan konglomerasi bisnis media yang termasuk terbesar, dipimpin seorang Yahudi, Michael Eisner.
Eits... bukan hanya di AS lho, mereka pegang peran utama.
Siapa penyebab awal krisis ekonomi di Asia Tenggara, terutama Indonesia dan Malaysia?
Ya, dialah si pialang kelas kakap George Soros, Yahudi pula. Dengan kekuatan modalnya, Soros sengaja menjungkirbalikkan sistem ekonomi Indonesia yang pada saat itu memang sudah rapuh. Gimana nggak rapuh, kan digerogoti virus KKN yang ditularkan rezim penguasa saat itu.
Pengaruh Yahudi yang begitu besar dalam percaturan ekonomi dan politik dunia sudah barang tentu menyebabkan pertarungan ideologi. Bahkan dalam tataran tertentu, sasaran ke negara berpenduduk muslim seperti Indonesia, dilandasi target 'hancurkan!'. Paling lemah, ya mereka dapat mengendalikan negara target untuk bersekutu demi kepentingan mereka dalam memerangi musuh-musuh mereka.
Kalau menentang, konsekuensinya mereka akan menciptakan kekacauan, dalam bidang politik dan ekonomi.
Aaarrrgghh... mau marah kan?
Sementara itu, saat ini hanya ada satu sistem ekonomi dalam pasar dunia yaitu ekonomi kapitalistik ciptaan mereka.
Salah satu ciri utamanya adalah peran akumulasi modal atau kapital dalam menjalankan roda perekonomiannya. Pola yang dikembangkan dengan sistem bunga, fiskal dan pajak. Zaim Saidi berpendapat bahwa sistem bungan itu anak dari demokrasi.
Di Indonesia, kita sudah sama-sama tahu bahwa
modal besar dengan si pemilik modal kecil. Akibatnya angka kemiskinan membengkak di hampir semua wilayah Indonesia karena si gajah tega menindas si semut.
Hal ini jelas menjadi kendala bagi pemberdayaan ekonomi lemah, seperti lembaga wakaf misalnya. Apalagi semua sektor sudah dicengkeram erat oleh sistem ribawi.
Katakanlah di sektor mikronya sistem ekonomi Syariah sudah dijalankan. Namun pas berhadapan dengan kondisi makronya, kepentok lagi dengan sistem ribawi.
Fakta-fakta di atas dipaparkan bukan bermaksud menjadikan kamu parno atau antipati sama Yahudi. Ini hanya sekedar gambaran bahwa sudah waktunya we get back on the track. Kembali bersatu dan menggerakkan sistem ekonomi Islam. Ini bisa menjadi alternatif yang luar biasa dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat muslim dunia.
Apalagi tanda-tanda kebangkitan ekonomi Islam sudah mulai terasa dan isyarat kehancuran sistem kapitalisme mulai terlihat.
Semangat yuk! Hyuuk...
All for one, one for all...
Sekarang kita akan melihat dulu keadaan dan potensi sumber daya alam di beberapa negara muslim.
Sejak tahun 1945-1958, Timur Tengah telah memberikan sumbangan produksi minyak ke seluruh dunia.
Pada mulanya sumbangan tersebut hanya sebesar 7,5% saja, tapi kemudian meningkat hingga 25,4%. Bahkan cadangan minyak yang dimiliki saat ini hampir 85% persediaan minyak
di seluruh dunia. Dan jika persediaan minyak ini dapat dikelola dan diberdayakan melalui kemampuan teknologi yang memadai, cadangan minyak yang ada bisa digunakan sampai 150 tahun ke depan.
Libya, Aljazair, dan Tunisia diperkirakan memiliki cadangan minyak melimpah. Selain minyak, Indonesia dan Malaysia memiliki kekayaan berupa karet dan timah. Mesir memiliki kekayaan kapas terbesar di dunia. Turki yang menguasai Bosporus dan Dardanella sangat strategis sebagai penjaga pintu gerbang utara ke Laut Tengah.
Dengan demikian, bisa dibilang lebih dari 60% wilayah Laut Tengah merupakan wilayah yang dimiliki oleh Islam.
Tapi bangga saja nggak cukup lho. Soalnya kalau segala kekayaan itu tidak segera dioptimalkan dengan peningkatan iptek, bisa keburu habis dimanfaatkan pihak asing.
Saat ini banyak negara muslim yang justru sedang terpuruk secara ekonomi masih terlena dengan kejayaan masa lalu. Sedangkan faktor lain terpuruknya ekonomi Islam adalah karena di saat yang sama sedang terjadi kebangkitan kapitalisme Eropa dan adanya pengaruh kultur tradisional yang belum melakukan modifikasi dengan pasar.
Jadi sudah waktunya bagi negara-negara muslim berpikir dan bergerak untuk bersatu secara strategis dalam mengembangkan ekonomi masyarakatnya. Masyarakat muslim juga nggak harus terpaku dengan perkembangan teknologi dari barat yang kadang juga nggak sesuai dengan konsep pengembangan ekonomi Islam.
Contohnya sistem bagi hasil dalam ekonomi Islam
dengan sistem ekonomi modern yang dikenal dengan bank konvensional. Pemberdayaan ekonomi muslim harus dilakukan dengan meneliti dan menyesuaikan kebutuhan dan keadaan kehidupan masyarakat muslim itu sendiri.
Sebaiknya masyarakat muslim memiliki kebijakan tersendiri berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi tanpa terpaku dan tergantung dengan kebijakan ekonomi barat atau eropa.
Menurut MA Mannan, ekonom asli Bangladesh, strategi pemberdayaan ekonomi masyarakat muslim dilakukan karena faktor-faktor berikut:
1. Untuk mengeksploitasi sumber daya alam yang luas dan berkembang pesat di negara muslim, sehingga hasilnya bisa dirasakan secara luas oleh masyarakat muslim juga.
2. Untuk menyesuaikan sumber daya alam dengan penduduk muslim yang berkembang pesat.
3. Untuk menciptakan stabilitas ekonomi dan mengurangi pemborosan.
4. Untuk menghindari eksploitasi monopolistik, bisnis spekulatif dan pemborosan yang anti sosial dalam sistem kompetitif.
5. Untuk membantu terciptanya ditribusi pendapatan dan kekayaan yang lebih adil.
6. Untuk melakukan perubahan struktural dan menyeluruh dalam ekonomi negara-negara Islam secara cepat.
7. Untuk pemerataan ekonomi antara negara muslim yang sudah maju dengan negara muslim yang sedang berkembang.
Di sini perlu banget lembaga-lembaga Islam yang bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi umat duduk bareng untuk mencari solusi memecahkan masalah ini. Perlu juga dipertimbangkan ide dimana masyarakat miskin harus menciptakan modal sosial sebagai senjata melakukan perubahan. Modal sosial itu misalnya:
1. Bantuan dari luar hanya ditujukan kepada mereka yang sudah bisa membantu dirinya sendiri dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
2. Masyarakat miskin harus jadi pelaku utama dalam perubahan.
3. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat.
4. Memberikan kesempatan yang luas bagi para dhuafa untuk berpartisipasi aktif dalam proses sosial.
5. Mengenalkan dua bentuk intervensi, yaitu fokus pada kerjasama tingkat individu/pribadi per pribadi, dan melakukan kerjasama sosial yang didukung oleh reformasi institusi dan struktur yang memberdayakan
BAGIAN KEDUA
The Alternative Solution: Wakaf!
Seperti yang sudah kita bahas, bahwa situasi ekonomi umat Islam yang sedang sangat terpuruk ini harus segera diperbaiki. Salah satu cara adalah dengan mengoptimalkan lembaga-lembaga wakaf, termasuk yang ada di Indonesia.
Mungkin diantara kamu ada yang belum faham, apa sih sebenarnya wakaf itu dan bagaimana penggunaannya, kok bisa membantu menjadi solusi bagi umat?
Nah sekarang kita bahas satu-satu ya.
A. What is Wakaf?
Dalam istilah syara' secara umum, wakaf adalah sejenis pemberian yang pelaksanaannya dilakukan dengan jalan menahan (kepemilikan) asal (tahbisul ashli), lalu menjadikan manfaatnya berlaku umum. Yang dimaksud tahbisul ashli ialah menahan barang yang diwakafkan itu agar tidak diwariskan, dijual, dihibahkan, digadaikan, disewakan, dan sejenisnya. Sedangkan cara pemanfaatannya adalah digunakan sesuai dengan kehendak pemberi wakaf (Wakif) tanpa imbalan.
Namun para ahli fikih dalam tataran pengertian wakaf yang lebih rinci, saling bersilang pendapat. Biar kamu nggak bingung, kita bahas sedikit ya.
a. Imam Abu Hanifah
Wakaf adalah menahan suatu benda yang menurut hukum tetap milik si Wakif dalam rangka mempergunakan manfaatnya untuk kebajikan. Pemilikan harta wakaf tidak lepas dari si Wakif, malah dia boleh menariknya kembali.
Jika si Wakif meninggal dunia, harta wakaf diwariskan kepada ahli warisnya. Jadi efek dari wakaf hanyalah 'menyumbangkan manfaatnya'.
b. Imam Malik
Wakaf tetap menjadi milik Wakif, tetapi si Wakif tidak boleh melakukan sesuatu yang menyebabkan kepemilikannya atas harta itu lepas, dan ia nggak boleh menarik kembali wakafnya, serta ia wajib menyedekahkan manfaat wakaf tersebut.
Wakaf dilakukan dengan mengucapkan lafadz wakaf untuk waktu tertentu, jadi tidak ada wakaf selamanya (kekal).
Dengan kata lain, pemilik harta menahan benda itu dari penggunaan secara pemilikan, tetapi membolehkan pemanfaatan hasilnya untuk tujuan kebaikan, sedang benda itu tetap jadi milik si Wakif.
c. Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hambal
Wakaf adalah melepaskan harta yang diwakafkan dari kepemilikan wakaf, setelah sempurna prosedur perwakafan.
Wakif tidak boleh lagi melakukan apapun terhadap harta yang diwakafkan. Wakif menyalurkan manfaat harta yang diwakafkannya kepada mauquf alaih (yang diberi wakaf) sebagai sedekah yang mengikat, dimana Wakif tidak dapat melarang penyaluran sumbangannya tersebut.
d. Madzhab Imamiyah
Benda yang diwakafkan menjadi milik mauquf alaih, namun tidak boleh menghibahkan dan menjualnya.
Keabadian Benda Wakaf
Para imam madzhab, kecuali Imam Maliki, berpendapat bahwa wakaf terjadi jika benda itu diwakafkan selama- lamanya atau terus menerus. Itu sebabnya wakaf disebut sebagai shadaqah jariyyah.
Sementara pendapat Maliki, wakaf ada jangka waktunya, setelah itu kembali kepada pemiliknya. Hal ini cukup relevan dengan kondisi saat ini, seperti kita kenal dalam hukum agraria ada istilah HGB (Hak Guna Bangunan), Hak Pakai, atau sistem kontrak.
Penjualan Benda Wakaf
Nggak terlalu banyak perbedaan di kalangan ulama tentang masalah ini. Ada yang sama sekali melarang menjualnya dan ada pula yang nggak berpendapat.
Secara umum, ketentuannya adalah:
a. Masjid
Semua sepakat tidak boleh menjual masjid. Namun Imam Hambali berpendapat bahwa masjid boleh dijual ketika nggak ada jemaahnya yang shalat di situ lagi, atau karena masjid itu sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi kecuali dengan cara dijual. Jadi terpaksa banget...
b. Kekayaan masjid
Sebagian ulama membolehkan menjualnya atau mengambil manfaatnya sebagai upah bagi yang mengurusnya.
c. Wakaf Non Masjid
Sebagian ulama, kecuali Syafii membolehkan menjual wakaf non masjid dengan alasan:
1. Bila benda wakaf itu sudah tidak memberi manfaat lagi sesuai dengan peruntukkannya
2. Bila hanya bisa dimanfaatkan dengan menjualnya 3. Bila benda itu sudah rusak atau ambruk
4. Bila disyaratkan atau diizinkan oleh Wakif 5. Bila ada sengketa antara pengurus wakaf
6. Bila benda wakaf itu dijual sehingga hasilnya bisa dipakai untuk memperbaiki bagian lainnya
7. Bila masjidnya ambruk, barang-barang seperti batu bata, papan, pintu, kaca dll penjualannya dilihat dari kemaslahatannya yang dipandang oleh para pengurus.
Dasar Hukum Wakaf
Tidak ada ayat Al Quran yang secara tegas memerintahkan wakaf. Namun ada ayat yang difahami berkaitan dengan wakaf sebagai amal kebaikan, misalnya:
QS Al Hajj 77, Ali Imran 92, dan Al Baqarah 261.
Selain itu ada beberapa hadits Nabi saw:
Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka putuslah amalnya, kecuali tiga perkara: shadaqah jariyyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang
Hadits tersebut dikemukakan dalam bab wakaf, karena para ulama menafsirkan shadaqah jariyyah dengan wakaf (Imam Muhammad Ismail al Kahlani, tt. 87).
Dari Ibnu Umar ra berkata, bahwa sahabat Umar ra memperoleh sebidang tanah di Khaibar, kemudian menghadap kepada Rasulullah saw untuk memohon petunjuk.
Umar berkata, "Ya Rasulullah, saya mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, saya belum pernah mendapatkan harta sebaik itu, maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku?"
Rasulullah saw menjawab, "Bila kamu suka, kamu tahan pokoknya (tanahnya) dan kamu sedekahkan hasilnya".
Kemudian Umar melakukan shadaqah, tidak dijual, tidak juga dihibahkan dan tidak juga diwariskan.
Berkata Ibnu Umar, Umar menyedekahkannya kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, budak belian, sabilillah, ibnu sabil dan tamu. Dan tidak mengapa atau tidak dilarang bagi yang menguasai tanah wakaf itu (pengurusnya) makan dari hasilnya dengan cara baik (sepantasnya) atau makan dengan tidak bermaksud menumpuk harta (HR Muslim).
Dari Ibnu Umar ra. ia berkata, Umar mengatakan kepada Nabi saw, saya mempunyai seratus dirham saham di Khaibar. Saya belum pernah mendapat harta yang paling saya kagumi seperti itu. Tetapi saya ingin menyedekahkannya. Nabi saw mengatakan kepada Umar,
"Tahanlah (jangan jual, hibahkan atau wariskan) asalnya (modal pokok) dan jadikan buahnya sedekah untuk sabilillah"
(HR Bukhari dan Muslim).
Jadi kalau melihat hukumnya, wakaf termasuk dalam kategori muamalah sunnah yang segala ketentuannya bersifat ijtihadi, artinya sesuai dengan hasil penggalian hukum-hukum oleh para ahli fikih. Sehingga hal itu sifatnya fleksibel.
Jelas deh kalau wakaf itu potensinya cukup besar untuk bisa dikembangkan sesuai kebutuhan zaman, terutama dalam pengembangan ekonomi lemah.
Beda dengan zakat. Kalau zakat kan hukumnya wajib dikeluarkan dengan batas nishab yang ditentukan. Ayat-ayat Al Quran yang membahas tentang zakat diantaranya adalah QS At-Taubah 60 dan At-Taubah 103.
B. The History of Wakaf Masa Rasulullah saw
Wakaf disyariatkan setelah Rasulullah saw hijrah ke Madinah, yaitu pada tahun 2 Hijriyah. Ada dua pendapat fuqaha (para ahli fikih) tentang siapa yang pertama kali melaksanakan wakaf.
Sebagian ulama mengatakan, yang pertama melaksanakan wakaf adalah Rasulullah saw yang mewakafkan tanahnya untuk dibangun masjid. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Syabah dari 'Amr bin Saad bin Muad.
Ia berkata, kami bertanya tentang mula-mula wakaf dalam Islam. Orang Muhajirin mengatakan adalah wakaf Umar, sedangkan orang-orang Anshar mengatakan adalah
Rasulullah saw pada tahun 3 Hijriyyah pernah mewakafkan tujuh kebun kurma di Madinah, diantaranya adalah kebun A'raf, Shafiyah, Dalal, Barqah dan beberapa kebun lainnya.
Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa yang pertama kali melaksanakan syariat wakaf adalah Umar bin Khattab ra, sesuai dengan hadits yang sudah kita bahas sebelumnya.
Setelah Umar, syariat wakaf dilakukan oleh Abu Thalhah yang mewakafkan kebun kurma kesayangannya yang diberi nama Bairaha. Selanjutnya disusul Abu Bakar yang mewakafkan tanahnya di Mekkah. Utsman menyedekahkan hartanya di Khaibar. Ali bin Abi Thalib mewakafkan tanahnya yang subur. Mu'adz bin Jabal mewakafkan rumahnya yang disebut Dar al-Anshar. Wakaf juga dilaksanakan oleh Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Zubair bin Awwam, dan Aisyah istri Rasulullah saw.
Tuh kan, para sahabat dan keluarga Nabi juga tidak segan-segan mewakafkan harta kesayangannya.
Masa Dinasti-dinasti Islam
Praktek wakaf semakin berkembang pada masa dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Semua orang berduyun-duyun melaksanakan wakaf. Wakaf tidak hanya untuk fakir miskin saja, tetapi wakaf menjadi modal untuk membangun lembaga pendidikan, perpustakaan, membayar gaji para guru dan stafnya, serta memberi beasiswa bagi para siswa dan mahasiswanya. Semangat masyarakat melaksanakan wakaf telah menarik perhatian negara sehingga negara mau
mengelolanya secara profesional, untuk membangun solidaritas sosial dan ekonomi masyarakat.
Wakaf pada awalnya hanyalah keinginan seseorang untuk berbuat baik dengan kekayaannya dan dikelola secara individu tanpa ada aturan yang pasti. Namun setelah masyarakat Islam merasakan manfaatnya lembaga wakaf, maka timbullah keinginan untuk mengatur perwakafan dengan baik. Kemudian dibentuk lembaga yang mengatur wakaf untuk mengelola, memelihara dan menggunakan harta wakaf, baik secara umum seperti masjid, atau secara individu dan keluarga.
Pada masa dinasti Umayyah yang menjadi hakim Mesir adalah Taubah bin Ghar al-Hadhramiy, pada masa khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Ia sangat perhatian dan tertarik dengan pengembangan wakaf, sehingga membentuk lembaga wakaf tersendiri sebagaimana lembaga lainnya dibawah lembaga pengawasan hakim.
Lembaga wakaf inilah yang pertama kali dilakukan dalam administrasi wakaf di Mesir, bahkan di seluruh dunia Islam. Pada saat itu juga hakim Taubah mendirikan lembaga wakaf di Basrah. Sejak saat itu, pengelolaan lembaga wakaf di bawah Departemen Kehakiman dikelola dengan baik dan hasilnya disalurkan kepada yang membutuhkan dan yang berhak.
Pada masa dinasti Abbasiyah terdapat lembaga wakaf yang disebut dengan Shadr al Wuquuf yang mengurus administrasi dan memilih staf pengelola wakaf. Lembaga wakaf berkembang searah makin teraturnya administrasi.
Pada masa dinasti Ayyubiyah di Mesir, perkembangan wakaf juga cukup menggembirakan, dimana hampir semua tanah pertanian menjadi tanah wakaf. Semuanya dikelola dan menjadi milik negara (baitul mal).
Ketika Shalahuddin Al Ayyubi memerintah Mesir, ia bermaksud mewakafkan tanah-tanah milik negara, diserahkan kepada yayasan-yayasan keagamaan dan yayasan sosial, sebagaimana yang dilakukan oleh dinasti Fathimiyah sebelumnya. Sebenarnya dalam hukum fikih Islam, masih terdapat perbedaan pendapat dalam mewakafkan harta baitul mal.
Orang pertama kali yang mewakafkan tanah milik negara (baitul mal) adalah Raja Nuruddin asy-Syahid dengan ketegasan fatwa yang dikeluarkan seorang ulama pada masa itu, Ibnu 'Ishrun dan didukung ulama lainnya, bahwa mewakafkan harta milik negara hukumnya boleh (jawaz).
Argumentasinya adalah menjaga dan memelihara harta milik negara, sebab dasar hukumnya sebenarnya tidak boleh.
Shalahuddin al-Ayyubi banyak mewakafkan harta milik negara untuk keperluan pendidikan, seperti mewakafkan beberapa desa (qaryah) untuk pengembangan madrasah madzhab Asy-Syafi'iyah, Malikiyah dan Hanafiyah. Dana didapat dengan model mewakafkan kebun dan tanah pertanian. Pembangunan madrasah madzhab Syafi'i dibangun di samping makam Imam Syafi'i, dengan cara mewakafkan kebun pertanian dan pulau Al-Fil.
Dalam rangka kesejahteraan ulama dan pengembangan misi Sunni, Shalahuddin Al-Ayyubi menetapkan kebijakan bagi orang Kristen yang datang dari Iskandariyah untuk
berdagang wajib membayar bea cukai. Hasilnya dikumpulkan dan diwakafkan kepada para fuqaha dan keturunannya.
Perkembangan wakaf pada masa dinasti Mamluk sangat pesat dan berkembang. Apapun yang dapat diambil manfaatnya boleh diwakafkan. Yang paling banyak diwakafkan adalah tanah pertanian dan gedung-gedung, seperti perkantoran, penginapan dan sekolah. Pada masa itu juga terdapat hamba-hamba sahaya yang diwakafkan untuk merawat lembaga-lembaga agama. Seperti mewakafkan budak/pelayan untuk mengurus masjid dan madrasah. Hal ini pertama kali dilakukan oleh penguasa dinasti Utsmani ketika menaklukkan Mesir, Sulaiman Basya yang mewakafkan budaknya untuk merawat masjid.
Manfaat wakaf pada masa dinasti Mamluk digunakan sebagaimana tujuannya. Wakaf keluarga untuk kepentingan keluarga, wakaf umum untuk kepentingan sosial, membangun tempat pengurusan jenazah dan membantu fakir miskin.
Ada juga wakaf untuk sarana di Mekkah dan Madinah (Haramain), seperti kain Ka'bah (Kiswatul Ka'bah). Raja Shaleh bin Al-Nasir membeli desa Bisus lalu diwakafkan untuk membeli kiswah Ka'bah setiap tahunnya dan mengganti kain kuburan Nabi saw dan mimbarnya setiap lima tahun sekali.
Perundang-undangan wakaf pada dinasti Mamluk telah dimulai sejak Raja Al Dzahir Bibers al Bandaq (1260-1277 M) dimana dengan undang-undang tersebut Raja Al Dzahir Bibers memilih hakim dari masing-masing empat madzhab Sunni. Pada masa ini wakaf dibagi 3 kategori:
1. Pendapatan negara dari hasil wakaf yang diberikan oleh penguasa kepada orang-orang yang dianggap berjasa;
2. Wakaf untuk membantu Haramain (tanah suci Makkah dan Madinah);
3. Wakaf untuk kepentingan masyarakat umum.
Sejak abad kelima belas, kerajaan Turki Utsmani dapat memperluas wilayah kekuasaannya, sehingga meliputi sebagian besar wilayah Arab. Hal ini tentu saja mempermudah untuk menerapkan Syariat Islam, termasuk wakaf. Diantaranya adalah dibuatnya peraturan tentang pembukuan pelaksanaan wakaf yang dikeluarkan pada tanggal 19 Jumadil Akhir 1280 H. Undang-undang tersebut mengatur tentang pencatatan wakaf, sertifikasi wakaf, cara pengelolaan wakaf, cara pencapaian tujuan wakaf, dan melembagakan wakaf.
Pada tahun 1287 H dikeluarkan undang-undang yang menjelaskan tentang kedudukan tanah-tanah kekuasaan Turki Utsmani dan tanah-tanah wakaf produktif. Itu sebabnya sampai sekarang di wilayah Arab masih banyak tanah berstatus wakaf.
Demikianlah wakaf masih dilaksanakan dari waktu ke waktu dan berkembang ke semua negara muslim, termasuk Indonesia. Bahkan lembaga wakaf itu telah meresap menjadi hukum adat bangsa Indonesia. Disamping di Indonesia juga banyak terdapat harta wakaf, baik berupa benda bergerak maupun tidak bergerak.
Di negara-negara muslim lain, wakaf juga mendapat perhatian serius sehingga menjadi amal sosial yang memberi manfaat bagi masyarakat banyak. Dalam sejarahnya, wakaf terus berkembang dengan inovasi yang sesuai dengan pergerakan zaman, seperti adanya bentuk wakaf tunai (uang), wakaf HAKI dll. Di Indonesia, saat ini wakaf juga mendapat perhatian yang lebih serius dengan dikeluarkannya Undang-Undang Wakaf untuk memayungi berbagai hal tyang terkait dengan wakaf.
C. All About The Book of Wakaf
Nah, sekarang kita mulai sedikit lebih dalam membahas tentang wakaf ini. Biar nggak pusing, kita bahas sedikit demi sedikit dulu.
Syarat dan Rukun Wakaf
Wakaf dinyatakan sah bila telah dipenuhi rukun dan syaratnya. Rukun wakaf adalah:
1. Waqif (orang yang mewakafkan harta)
2. Mauquf bih (barang atau harta yang diwakafkan) 3. Mauquf 'alaih (Pihak yang diberi wakaf/peruntukan
wakaf)
4. Shighat (pernyataan atau ikrar Wakif untuk mewakafkan sebagian hartanya).
Syarat Pemberi Wakaf (Wakif)
Orang yang mewakafkan disyaratkan memiliki kecakapan hukum dalam membelanjakan hartanya. Hal ini
1. Merdeka, bukan budak. Sekarang sudah tidak ada lagi kali ya yang disebut budak?
2. Berakal sehat. Kalau orang tidak berakal sehat, alias gila, maka secara hukum apa yang dilakukan tidak sah.
3. Dewasa/baligh. Kedewasaan juga menunjukkan kebebasan kehendak. Anak kecil yang belum baligh tidak boleh mewakafkan hartanya, kecuali didampingi oleh walinya.
4. Tidak berada dalam pengampuan (boros/tabarru').
Syarat Benda Wakaf (Mauquf bih)
Di sini akan berkaitan dengan dua hal, yaitu syarat sahnya harta yang diwakafkan, dan kadar benda yang diwakafkan.
Syarat sahnya harta yang diwakafkan:
1. Mutaqawwam (segala sesuatu yang dapat disimpan dan halal digunakan dalam keadaan normal/bukan dalam keadaan darurat).
2. Diketahui dengan yakin ketika diwakafkan, sehingga tidak menimbulkan sengketa atau kebingungan.
Misalnya jangan mewakafkan sebagian tanah (sebagian yang mana?).
3. Milik Wakif. Kepemilikannya harus juga sempurna, bukan sebagian milik orang lain. Contoh, mewakafkan rumah yang cicilannya belum lunas. Karena kepemilikannya belum sepenuhnya (sebagian milik
pengembang), maka rumah dimaksud belum dapat diwakafkan.
4. Terpisah, bukan milik bersama. Demikian juga, kepemilikan bersama tidak boleh diwakafkan, wong milik bersama kok. Ya, kalau yang lain semua setuju, tetapi kalau yang lain tidak setuju bagaimana?
Secara umum, syarat benda itu dapat diwakafkan ketika berupa benda yang memiliki keabadian manfaat yang dapat diambil berulang-ulang. Sifatnya tidak berupa benda yang langsung habis. Sebagai misal, makanan atau minuman.
Kedua benda ini tidak bisa diwakafkan karena sifatnya yang langsung habis ketika dimakan atau diminum.
Lagian nggak mungkin lah orang mewakafkan bakso semangkuk, bakwan sepiring, es buah sebaskom, minyak wangi sebotol, dan lain sebagainya. Kalau kita memberikan makanan, minuman, minyak wangi atau benda lain yang sifatnya dapat habis seketika kepada orang lain, maka disebut sedekah biasa. Sementara kalau wakaf itu, bendanya harus utuh dan manfaatnya dapat diambil secara berulang-ulang. Dalam undang-undang No. 41 Tahun 2004 tentang wakaf bahwa wakaf itu harus dapat diambil manfaat selamanya atau dalam jangka waktu tertentu.
Bagaimana dengan wakaf uang? Bukankah uang sifatnya lentur, bisa muncul tiba-tiba, sekaligus bisa hilang dalam sekejab?
Ya memang betul uang itu sifatnya mobile atau lentur.
Namun, dalam pelaksanaan wakaf, uangnya tetap tidak boleh
memelihara keabadiaan nilai nominalnya. Oleh karena itu, wakaf uang harus dikelola secara transparan untuk diinvestasikan pada produk-produk LKS dan/atau instrumen Syariah. (PP No. 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-undang tentang Wakaf, Pasal 48 ayat (2)).
Bagaimana jika dalam pengelolaannya dilakukan di luar bank Syariah dan terjadi lost atau kerugian? Di dalam PP tersebut Pasal 48 ayat (5) telah mengatur, bahwa pengelolaan di luar bank Syariah harus mengasuransikan dengan asuransi Syariah. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya kerugian yang dapat mengurangi, atau bahkan menghilangkan aset wakaf.
Jenis Benda yang diwakafkan:
Benda wakaf tak bergerak:
a. Tanah b. Bangunan
c. pohon untuk diambil buah/hasilnya d. sumur untuk diambil airnya.
Benda wakaf bergerak:
a. hewan
Dalilnya dari Hadits yang diceritakan Abu Hurairah ra,
"Orang yang menahan (mewakafkan) kuda di jalan Allah, karena imannya kepada Allah dan mengharapkan pahalanya dari Allah, maka makanannya, kotorannya, dan kencingnya dalam penilaian Allah yang mengandung kebaikan-kebaikan"
(HR Bukhari).
b. perlengkapan rumah ibadah c. senjata
d. pakaian e. buku f. mushaf
g. uang, saham, atau surat berharga lainnya. Ini yang sekarang dikenal dengan wakaf tunai.
Berhubungan dengan wakaf tunai, ada beberapa pendapat yang bisa kita ambil.
1. Imam Bukhari menyebutkan bahwa Imam Azh Zhuhri (wafat 124H) berpendapat boleh mewakafkan dinar dan dirham. Caranya ialah menjadikan dinar dan dirham tersebut sebagai modal usaha, kemudian menyalurkan keuntungannya sebagai wakaf.
2. Dr. Az-Zuhaili juga menyebutkan memperbolehkannya sebagai pengecualian karena sudah banyak dilakukan masyarakat, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud ra, yang berbunyi, "Apa yang dipandang kaum muslimin itu baik, dipandang baik juga oleh Allah".
Syarat Penerima Wakaf (Mauquf 'alaih)
Wakaf harus dimanfaatkan dalam batas-batas yang sesuai dan diperbolehkan syariat Islam. Pada dasarnya,
kepada Tuhannya. Karena itu mauquf 'alaih haruslah pihak yang berbuat kebajikan. Para ulama fikih sependapat bahwa infaq kepada pihak yang berbuat kebajikan inilah yang membuat wakaf menjadi ibadah yang mendekatkan manusia kepada Tuhannya.
Pentingnya Pengelola Wakaf (Nazhir)
Nazhir adalah pihak yang diberi kepercayaan mengelola harta wakaf. Para ulama sepakat bahwa Wakif harus menunjuk Nazhir, baik perseorangan, organisasi atau lembaga. Tujuannya agar harta wakaf tetap terjaga dan terurus, sehingga harta itu tidak sia-sia. Kalau Nazhir nggak mampu melaksanakan tugasnya, maka pemerintah wajib menggantinya dengan tetap menjelaskan alasan-alasannya.
Syarat moral Nazhir:
1. Paham tentang hukum wakaf dan ZIS 2. Jujur, amanah dan adil
3. Tahan godaan, terutama menyangkut perkembangan usaha
4. Pilihan, sungguh-sungguh dan suka tantangan 5. Cerdas spiritual dan emosional.
Syarat manajemen:
1. Punya jiwa leadership yang OK. Jiwa kepemimpinan itu penting karena terkait dengan pengelolaan harta umat dan manajemen SDM.
2. Visioner. Maksudnya, memiliki konsep untuk pengembangan masa depan.
3. Cerdas intelektual, sosial dan pemberdayaan. Tentu, kecerdasan sangat penting, karena untuk memecahkan berbagai persoalan diperlukan kejelian dan kecepatan penanganan.
4. Profesional dalam bidang pengelolaan harta. Ya, kalau belum memiliki pengalaman dalam pengelolaan harta takut amburadul.
Syarat bisnis:
1. Mempunyai keinginan. Tentu keinginan dalam pengelolaan. Bahasa sederhananya memiliki semangat.
2. Mempunyai pengalaman dan atau siap untuk magang.
Pengalaman merupakan salah satu poin penting. Tanpa pengalaman dikhawatirkan bekerja tidak optimal.
3. Punya ketajaman untuk melihat peluang usaha seperti seorang enterpreneur.
Hmm... kira-kira siap nggak ya jadi Wakif atau Nazhir?
D. The Types of Wakaf
Bila ditinjau dari segi peruntukannya, wakaf dibagi atas dua jenis, yaitu:
1. Wakaf Ahli
Yaitu wakaf yang ditujukan kepada orang-orang tertentu, satu orang atau lebih, keluarga si Wakif atau bukan.
Dalilnya secara hukum Islam dibenarkan berdasarkan Hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik ra tentang adanya wakaf keluarga Abu Thalhah terhadap kaum kerabatnya.
Di ujung hadits tersebut dinyatakan sebagai berikut:
Aku telah mendengar ucapanmu tentang hal tersebut.
Saya berpendapat sebaiknya kamu memberikannya kepada keluarga terdekat. Maka Abu Thalhah membagikannya untuk para keluarganya dan anak-anak pamannya.
Pada perkembangannya, wakaf ahli dinilai kurang bisa dirasakan manfaatnya oleh umum. Apalagi kadang suka muncul pertentangan antar keluarga. Di Mesir, Turki, Maroko dan Aljazair, wakaf jenis ini telah dihapuskan.
Menurut pertimbangan dari berbagai segi, wakaf dalam bentuk ini dinilai tidak produktif.
2. Wakaf Khairi
Wakaf yang peruntukkannya secara tegas untuk keagamaan dan kepentingan masyarakat luas. Seperti wakaf yang diserahkan untuk kepentingan pembangunan masjid, sekolah, jembatan, kuburan, panti asuhan yatim piatu, dan lain sebagainya yang berupa wakaf konsumtif. Sedangkan yang produktif itu terdiri dari berbagai jenisnya.
Hal yang membedakan dengan yang konsumtif adalah pola pengelolaannya, seperti wakaf tanah yang dikelola secara produktif, tanah wakaf yang di atasnya dibangun
usaha-usaha produktif, wakaf uang yang dikelola pada produk-produk Syariah dan jenis wakaf produktif lainnya.
Prinsip dari wakaf khairi ini adalah untuk kebajikan umum. Jika wakaf ahli hanya diperuntukkan kepada keluarga atau orang-orang tertentu. Sedangkan wakaf khairi cakupannya lebih luas, yaitu untuk kesejahteraan masyarakat, baik untuk kepentingan ibadah murni, seperti masjid, mushalla, panti asuhan, kuburan, atau untuk kepentingan sosial lainnya, seperti sumur (sumber air), jembatan, tanah wakaf yang peruntukannya untuk umum dan lain sebagainya.
Benda-benda yang Boleh Diwakafkan
Nah, kita sudah membahas jenis wakaf tersebut, kira- kira sudah kepikiran belum, apa yang bisa kita wakafkan dari harta kita.
Kayaknya nih kalau zaman sekarang, kita susah deh mewakafkan hewan peliharaan. Kalau hewannya berguna bagi umum sih bisa. Misalnya hewan ternak. Pada zaman dulu, hewan yang diwakafkan itu berupa hewan yang bisa diambil manfaatnya, seperti kuda untuk perang atau unta untuk sarana transportasi. Tapi kayaknya wakaf model beginian sudah kurang relevan.
Begitu juga dengan pakaian. Bagaimana kegunaan pakaian kita untuk umum? Ya, pakaian yang dimaksud itu adalah salah satunya pakaian perang. Tentu kamu tahu bahwa pakaian perang pada jaman dulu terbuat dari besi, atau kere (bahasa Jawa) yang berfungsi untuk menahan atau pelapis badan dari serangan musuh, seperti sabetan pedang
Kasus wakaf senjata demikian juga. Kalau zaman sekarang, di Indonesia, kita mewakafkan senjata, salah- salah kita bisa dicurigai mau berbuat kejahatan atau mendukung terorisme. Konteks wakaf senjata adalah saat dimana Islam pada waktu itu dalam kondisi mendapat serangan dari musuh. Namun, dalam keadaan damai, rasanya nggak mungkin wakaf berupa senjata. Karena prinsip dari senjata, khususnya sejata api, dikuasai oleh negara sebagai alat untuk mempertahankan diri atau untuk menjaga negara dari serangan musuh.
Wakaf yang paling mungkin untuk dilakukan dari dulu hingga kini adalah wakaf tanah, bangunan, uang, kendaraan, logam mulia, surat berharga atau buku (yang sesuai dengan Islam dan atau prinsip-prinsip penyebaran ilmu).
So, jangan tunggu waktu berlalu. Persiapkan diri kita untuk mewakafkan harta kita untuk kemaslahatan umum.
E. The Golden Arrow: Wakaf for Charity
Pada masa kejayaan Islam, wakaf sudah pernah mencapai puncak keemasannya, walaupun pengelolaannya masih sangat sederhana. Pada abad 8-9 Hijriyyah dipandang sebagai zaman keemasan wakaf. Pada saat itu wakaf meliputi berbagai macam benda, yaitu masjid, mushalla, sekolah, tanah pertanian, rumah, toko, kebun, pabrik roti, bangunan kantor, gedung pertemuan dan perniagaan, bazaar, pasar, tempat pemandian, tempat pangkas rambut, gudang beras, pabrik sabun, tempat pembiakan ayam, dll. Banyak banget kan? Soalnya para penguasa zaman dulu itu serius
banget untuk mengembangkan wakaf dan menganjurkan rakyatnya untuk berwakaf.
Kebiasaan tersebut dilanjutkan hingga sekarang di beberapa negara dengan menggunakan wakaf untuk proyek penulisan buku, penerjemahan, dan riset dalam berbagai bidang, termasuk kesehatan. Penggunaan wakaf dalam bidang kesehatan juga mencakup pembangunan rumah sakit, sekolah-sekolah kedokteran, dan pembangunan industri farmasi dan obat-obatan.
Dilihat dari bentuknya, wakaf ternyata bukan hanya dalam bentuk benda tak bergerak. Di beberapa negara seperti Mesir, Yordania, Arab Saudi dan Turki, wakaf juga berbentuk tanah pertanian, perkebunan, flat, uang, saham, real estate yang kesemuanya dikelola secara produktif.
Dengan demikian hasilnya dapat benar-benar digunakan untuk kesejahteraan umat.
Dari negara-negara tersebut, Turki adalah negara yang paling panjang sejarah perwakafannya. Pemberdayaan wakaf mencapai puncaknya pada masa dinasti Utsmaniyah.
Pada tahun 1925 diperkirakan tanah wakaf mencapai lebih dari separo tanah produktif. Hebat ya?
Selain pemerintah, mereka juga memiliki sebuah lembaga yang memobilisasi sumber-sumber wakaf untuk membiayai bermacam-macam proyek joint venture yang disebut Waqf Bank and Finance Corporation.
Hasil wakaf produktif misalnya wakaf rumah sakit, seperti rumah sakit yang didirikan tahun 1823 oleh ibunda Sultan Abdul Mecit di Istambul. Rumah sakit modern ini
perawat, dan staf. Sedangkan untuk pelayanan pendidikan dan sosial dilakukan oleh lembaga Imaret yang sudah dikenal sejak masa Utsmaniyah.
Sedangkan upaya komersial Ditjen Wakaf Turki adalah melakukan kerjasama dan investasi di berbagai lembaga seperti Yvalik and Aydem Olive Oil Corp., Tasdelen Healthy Water Corp., Auqaf Guraba Hospital, Taksim Hotel (Sheraton), Turkish Is Bank, dan Aydin Textile Industry.
Di Mesir ada berbagai macam harta yang telah dikelola Badan Wakaf. Antara lain harta yang dikhususkan pemerintah untuk anggaran umum; barang yang menjadi jaminan hutang, hibah, wasiat, dan sedekah; dokumen dan uang/harta yang harus dibelanjakan dan benda lain yang berguna untuk mengembangkan/meningkatkan harta wakaf.
Agar harta-harta ini produktif dan bermanfaat bagi masyarakat luas, Badan Wakaf menetapkan beberapa kebijakan:
1. Menitipkan harta wakaf di bank Islam agar dapat berkembang;
2. Melalui Wizaratu Awqaf, Badan Wakaf berpartisipasi untuk mendirikan bank-bank Islam dan bekerja sama dengan berbagai perusahaan;
3. Memanfaatkan tanah-tanah kosong untuk dikelola secara produktif dengan cara mendirikan lembaga- lembaga ekonomi bekerja sama dengan beberapa perusahaan;
4. Membeli saham dan obligasi perusahaan-perusahaan penting.
Jadi di Mesir, bukan saja harta wakafnya yang beraneka ragam, tapi juga pengelolaannya fleksibel. Tenaga pengelolanya profesional dan dilandasi Undang-undang yang jelas.
Di Bangladesh dalam banyak kasus, penghasilan dari banyak harta wakaf yang kecil-kecil dan tersebar amat tidak mencukupi untuk biaya pemeliharaan harta wakaf itu sendiri. Harta wakaf di bawah kekuasaan Nazhir tradisional justru menjadi beban umat karena tidak menghasilkan apa- apa. Yang juga menambah kusut adalah wakaf yang dikelola perseorangan yang kurang bertanggung jawab. Kondisi inilah yang melatarbelakangi dilakukannya reformasi dalam manajemen administrasi harta wakaf di sana.
Di sana ada lembaga non-pemerintah yang menjadi solusi dalam menangani kemiskinan yaitu Social Investment Bank Limited (SIBL). Bank ini menjadi alternatif peningkatan pendapatan bagi jutaan warga miskin, disamping pilihan yang menguntungkan bagi warga kaya untuk investasi, mendapatkan bagi hasil dan hidup dalam lingkungan yang lebih aman dan damai. Caranya SIBL memperkenalkan Sertifikat Wakaf Tunai, sebuah produk baru dalam sejarah perbankan sektor voluntary. Di Dakka, SIBL membuka peluang untuk membuka rekening deposito wakaf tunai dengan tujuan berbagai sasaran penting jangka panjang.
Hal yang ditangani antara lain peningkatan standar hidup orang miskin, rehabilitasi orang cacat, peningkatan standar hidup warga penghuni daerah kumuh, membantu pendidikan anak yatim piatu, beasiswa, pengembangan pendidikan modern dan sekolah, kursus, akademi hingga
dan bank darah, menyelesaikan masalah sosial warga nonmuslim, membantu proyek penciptaan lapangan kerja, dan menghapus kemiskinan.
Wakaf tunai di Bangladesh terbukti membuka peluang yang unik untuk menciptakan investasi. Caranya adalah dengan membuka penukaran tabungan orang-orang kaya dengan Cash Waqf Certificate.
Hal-hal tersebut tentu membuat negara kita juga bersemangat mengembangkan masalah wakaf ini. Secara jumlah, harta wakaf di tanah air kita sangat besar, dan sebagian besarnya berupa tanah yang dibangun untuk rumah ibadah, lembaga pendidikan Islam, pekuburan dan lain-lain yang rata-rata tidak produktif. Hal ini mendapat perhatian khusus karena selama ini wakaf pada umumnya berbentuk benda nggak bergerak, yang sebenarnya potensinya besar sekali seperti tanah-tanah produktif strategis untuk dikelola secara produktif. Untuk itu harta wakaf harus dikelola dengan manajemen yang baik dan modern, serta tetap sesuai syariat Islam dong.
Tentu saja ini butuh kerjasama dari semua pihak, termasuk perbankan dan lembaga-lembaga pihak ketiga yang tertarik pada pengembangan wakaf. Kerjasama ini butuh dukungan dan komitmen semua pihak, seperti pemerintah, ulama, kaum profesional, cendekiawan, pengusaha, arsitek, perbankan, lembaga bisnis, lembaga penjamin dan keuangan syariah dan seluruh masyarakat umum (kita nih termasuk).
Mustafa Edwin Nasution pernah membuat perkiraan kasar bahwa jika jumlah penduduk muslim kelas menengah di Indonesia sebanyak 10 juta jiwa dengan penghasilan rata-
rata 0,5-10 juta perbulan. Misalnya jika penduduk berpenghasilan 0,5 juta rupiah ada 4 juta jiwa saja dan setiap tahun berwakaf Rp 60.000, setiap tahun akan terkumpul 240 milyar rupiah. Jika warga yang berpenghasilan 1-2 juta rupiah ada sebanyak 3 juta jiwa dan masing-masing berwakaf Rp 120.000 akan terkumpul dana sebesar Rp 360 milyar. Jika warga berpenghasilan 2-5 juta ada sebanyak 2 juta orang dan setiap tahun berwakaf Rp 600.000, akan terkumpul dana Rp 1,2 trilyun. Dan jika warga berpenghasilan 5-10 juta ada 1 juta jiwa dan setiap tahun berwakaf Rp 1,2 juta akan terkumpul dana Rp 1,2 trilyun.
Jadi dana yang terkumpul mencapai 3 trilyun rupiah pertahun. Wow, subhanallah, luar biasa besar bukan?
Jika dana itu diserahkan kepada pengelola profesional dan oleh pengelola wakaf tersebut diinvestasikan di sektor yang produktif, dimana mereka menjamin jumlahnya tidak berkurang, tapi justru bertambah dan akan terus bergulir.
Misalnya saja dana itu dititipkan di Bank Syariah yang katakanlah setiap tahun memberikan bagi hasil sebesar 9%
maka pada akhir tahun sudah ada dana segar 270 milyar rupiah. Akan sangat banyak yang bisa dilakukan untuk pemberdayaan ekonomi umat dengan uang sebanyak itu.
Model wakaf tunai sangat tepat memberikan jawaban yang menjanjikan dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dan membantu mengatasi krisis ekonomi Indonesia, melepaskan bangsa kita dari jerat hutang dan ketergantungan terhadap luar negeri.
Nanti akan kita bahas lagi lebih lanjut tentang wakaf tunai di bagian keempat ya... Sekarang kita gali terus
BAGIAN KETIGA Overview: Wakaf di Indonesia
Sudah kita ketahui kalau tanah wakaf dan harta-harta wakaf di Indonesia jumlahnya banyak sekali dan masih banyak yang belum dikelola secara baik, sehingga hasilnya juga belum bisa digunakan secara optimal untuk kepentingan umat. Perwakafan dan tanah wakaf di Indonesia termasuk ke dalam bidang Hukum Agraria, yaitu perangkat peraturan yang mengatur tentang bagaimana penggunaan dan pemanfaatan bumi, air, dan ruang angkasa Indonesia, untuk kesejahteraan bersama seluruh rakyat Indonesia, bagaimana hubungan hukum antara orang dengan bumi, air, dan ruang angkasa, serta hubungan bumi, air dan ruang angkasa tersebut.
Pengaturan dan pelaksanaan perwakafan tanah hak milik di Indonesia dapat dibagi dalam 3 waktu:
1. Sebelum kemerdekaan 2. Setelah kemerdekaan Sebelum Kemerdekaan
Lembaga perwakafan sebenarnya sudah dikenal dan dilaksanakan sejak zaman dahulu oleh penduduk muslim di Indonesia. Hal ini wajar karena di Indonesia banyak berdiri kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak, Samudera Pasai, dan lain-lain.
Lembaga perwakafan itu berasal dari lembaga yang berdasar hukum Islam, namun seolah-olah sudah disepakati
bahwa lembaga tersebut juga adalah merupakan bagian hukum adat Indonesia, sebab diterimanya lembaga ini berasal dari suatu kebiasaan masyarakat.
Sejak zaman dulu, peraturan tentang wakaf ini telah diatur dalam Hukum Adat yang sifatnya tidak tertulis dengan bersumber dari Hukum Adat. Pemerintah Kolonial juga telah mengeluarkan beberapa peraturan tentang wakaf.
Setelah Kemerdekaan
Beberapa waktu setelah proklamasi kemerdekaan, peraturan perwakafan zaman Belanda masih diberlakukan, mengingat belum lengkapnya peraturan kenegaraan kita.
Namanya juga negara baru.
Namun tanggal 22 Desember 1953, Departemen Agama mengeluarkan Petunjuk-petunjuk Mengenai Wakaf.
Untuk selanjutnya perwakafan ini menjadi wewenang bagian D (ibadah sosial) Jawatan Urusan Agama. Kemudian tahun 1956 dikeluarkan Surat Edaran tentang Prosedur Perwakafan Tanah.
Beberapa peraturan perwakafan tanah di atas ternyata dirasakan kurang memadai dan masih banyak kelemahannya. Yaitu belum memberikan kepastian hukum mengenai tanah-tanah wakaf. Untuk itu pemerintah terus mengadakan peraturan-peraturan khusus, baik secara Hukum Agraria maupun peraturan pemerintah lainnya.
Setelah melalui proses yang cukup panjang dan penelitian yang mendalam, akhirnya keluarlah Undang-
Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaannya.
Jadi semua peraturan perwakafan sebelumnya nggak berlaku lagi.
Tujuan dari adanya Undang-undang wakaf dan Peraturan Pemerintah tentang pelaksanaannya yaitu agar wakaf dapat diakomodir dalam koridor peraturan perundang-undangan yang khusus. Selain itu, ada tujuan lain yang lebih penting, yaitu agar wakaf dapat dikelola dan dikembangkan secara produktif sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat.
Kira-kira, kenapa ya, perwakafan di Indonesia belum semaju di negara lain?
A. Weaknesses and Threads
Banyak hambatan dan tantangan yang bisa kita anggap sebagai penyebab kenapa perkembangan wakaf di Indonesia belum semaju di negara lain.
1. Paham masyarakat Indonesia tentang wakaf
Sejak datangnya Islam di Indonesia, wakaf telah dilaksanakan berdasarkan faham yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Islam Indonesia, yaitu madzhab Syafi'iyah dan adat kebiasaan setempat.
Misalnya saja nih, perwakafan itu dilaksanakan dengan prinsip saling percaya, nggak pakai pencatatan. Ikrar dilakukan secara lisan kepada seseorang atau sebuah lembaga yang dipercaya. Wakaf dianggap sebagai sebuah amal shaleh yang nggak harus melibatkan pencatatan
administratif segala. Harta wakaf dianggap sebagai milik Allah semata dan nggak bakal ada yang berani mengganggu.
Jadi yang penting jujur dan saling percaya. Lugu banget kan? Nah kalau selanjutnya timbul perselisihan, baru deh bingung nyari bukti-buktinya.
Belum lagi masalah-masalah lain yang jadi ribet karena berpegang pada adat dan kebiasaan serta madzhab.
Misalnya nih, masalah ikrar, harta yang boleh diwakafkan, kedudukan harta setelah diwakafkan, tujuan harta wakaf, dan boleh tidaknya tukar menukar harta wakaf.
2. Jumlah tanah wakaf strategis
Menurut data Departemen Agama terakhir terdapat kekayaan tanah wakaf di Indonesia sebanyak 403.845 lokasi dengan luas 1.566.672.406 m2. Dari total jumlah seluruhnya tidak semuanya berlokasi strategis secara ekonomis. Tanah wakaf berupa perkebunan, sawah, ladang ternyata banyak yang nilai ekonomisnya sangat minim. Letak ketidakstrategisan secara ekonomis bisa dilihat dari:
a. letaknya yang jauh dari pusat perekonomian b. tanahnya gersang atau tidak subur
c. kemampuan pengelolaan tanah yang minim.
Disamping masalah tanah yang tidak strategis secara ekonomis, kendala lain adalah di dalam masyarakat kita masih terjadi pro kontra pengalihan tanah wakaf untuk
Misalnya; seorang Wakif mewakafkan tanahnya untuk sebuah pesantren di pusat kota, sementara letak tanahnya ada di desa yang jauh banget dari pesantren itu.
Pesantrennya sendiri nggak mampu mengelola tanah itu karena lokasinya yang jauh, nggak mampu menyediakan transportasi bolak-balik dan masalah lain. Otomatis tanah itu jadi 'nggak terurus' kan.
Ketika para Wakif ditawarkan untuk menjual tanah itu dan hasilnya untuk pesantren itu, misalnya untuk membangun perpustakaan, mereka menolak karena memegangi faham bahwa wakaf tidak bisa dijual.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pesantren Gontor mencari cara lain agar harta wakaf dapat dikelola secara optimal. Yaitu, sebelum calon Wakif ingin mewakafkan hartanya, misal tanah sawah, tidak secara otomatis pesantren Gontor menerimanya karena terkait dengan amanah dan tanggung jawab pengelolaan. Jika kondisi tanahnya strategis, maka akan diterima.
Namun, jika letak tanahnya kurang menguntungkan karena jauh dan tidak memungkinkan untuk dikelola oleh pesantren Gontor, maka disarankan kepada calon Wakif agar bersedia menjualnya dan hasil penjualannya (berupa uang) kemudian diwakafkan kepada pesantren Gontor.
Sebagai misal digunakan untuk membeli tanah di sekitar pesantren atau untuk membangun gedung, dan lain sebagainya.
Dengan cara demikian, diharapkan orang berwakaf dapat dimanfaatkan oleh umat. Karena banyak Nazhir yang