Nah, sekarang kita mulai sedikit lebih dalam membahas tentang wakaf ini. Biar nggak pusing, kita bahas sedikit demi sedikit dulu.
Syarat dan Rukun Wakaf
Wakaf dinyatakan sah bila telah dipenuhi rukun dan syaratnya. Rukun wakaf adalah:
1. Waqif (orang yang mewakafkan harta)
2. Mauquf bih (barang atau harta yang diwakafkan) 3. Mauquf 'alaih (Pihak yang diberi wakaf/peruntukan
wakaf)
4. Shighat (pernyataan atau ikrar Wakif untuk mewakafkan sebagian hartanya).
Syarat Pemberi Wakaf (Wakif)
Orang yang mewakafkan disyaratkan memiliki kecakapan hukum dalam membelanjakan hartanya. Hal ini
1. Merdeka, bukan budak. Sekarang sudah tidak ada lagi kali ya yang disebut budak?
2. Berakal sehat. Kalau orang tidak berakal sehat, alias gila, maka secara hukum apa yang dilakukan tidak sah.
3. Dewasa/baligh. Kedewasaan juga menunjukkan kebebasan kehendak. Anak kecil yang belum baligh tidak boleh mewakafkan hartanya, kecuali didampingi oleh walinya.
4. Tidak berada dalam pengampuan (boros/tabarru').
Syarat Benda Wakaf (Mauquf bih)
Di sini akan berkaitan dengan dua hal, yaitu syarat sahnya harta yang diwakafkan, dan kadar benda yang diwakafkan.
Syarat sahnya harta yang diwakafkan:
1. Mutaqawwam (segala sesuatu yang dapat disimpan dan halal digunakan dalam keadaan normal/bukan dalam keadaan darurat).
2. Diketahui dengan yakin ketika diwakafkan, sehingga tidak menimbulkan sengketa atau kebingungan.
Misalnya jangan mewakafkan sebagian tanah (sebagian yang mana?).
3. Milik Wakif. Kepemilikannya harus juga sempurna, bukan sebagian milik orang lain. Contoh, mewakafkan rumah yang cicilannya belum lunas. Karena kepemilikannya belum sepenuhnya (sebagian milik
pengembang), maka rumah dimaksud belum dapat diwakafkan.
4. Terpisah, bukan milik bersama. Demikian juga, kepemilikan bersama tidak boleh diwakafkan, wong milik bersama kok. Ya, kalau yang lain semua setuju, tetapi kalau yang lain tidak setuju bagaimana?
Secara umum, syarat benda itu dapat diwakafkan ketika berupa benda yang memiliki keabadian manfaat yang dapat diambil berulang-ulang. Sifatnya tidak berupa benda yang langsung habis. Sebagai misal, makanan atau minuman.
Kedua benda ini tidak bisa diwakafkan karena sifatnya yang langsung habis ketika dimakan atau diminum.
Lagian nggak mungkin lah orang mewakafkan bakso semangkuk, bakwan sepiring, es buah sebaskom, minyak wangi sebotol, dan lain sebagainya. Kalau kita memberikan makanan, minuman, minyak wangi atau benda lain yang sifatnya dapat habis seketika kepada orang lain, maka disebut sedekah biasa. Sementara kalau wakaf itu, bendanya harus utuh dan manfaatnya dapat diambil secara berulang-ulang. Dalam undang-undang No. 41 Tahun 2004 tentang wakaf bahwa wakaf itu harus dapat diambil manfaat selamanya atau dalam jangka waktu tertentu.
Bagaimana dengan wakaf uang? Bukankah uang sifatnya lentur, bisa muncul tiba-tiba, sekaligus bisa hilang dalam sekejab?
Ya memang betul uang itu sifatnya mobile atau lentur.
Namun, dalam pelaksanaan wakaf, uangnya tetap tidak boleh
memelihara keabadiaan nilai nominalnya. Oleh karena itu, wakaf uang harus dikelola secara transparan untuk diinvestasikan pada produk-produk LKS dan/atau instrumen Syariah. (PP No. 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-undang tentang Wakaf, Pasal 48 ayat (2)).
Bagaimana jika dalam pengelolaannya dilakukan di luar bank Syariah dan terjadi lost atau kerugian? Di dalam PP tersebut Pasal 48 ayat (5) telah mengatur, bahwa pengelolaan di luar bank Syariah harus mengasuransikan dengan asuransi Syariah. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya kerugian yang dapat mengurangi, atau bahkan menghilangkan aset wakaf.
Jenis Benda yang diwakafkan:
Benda wakaf tak bergerak:
a. Tanah b. Bangunan
c. pohon untuk diambil buah/hasilnya d. sumur untuk diambil airnya.
Benda wakaf bergerak:
a. hewan
Dalilnya dari Hadits yang diceritakan Abu Hurairah ra,
"Orang yang menahan (mewakafkan) kuda di jalan Allah, karena imannya kepada Allah dan mengharapkan pahalanya dari Allah, maka makanannya, kotorannya, dan kencingnya dalam penilaian Allah yang mengandung kebaikan-kebaikan"
(HR Bukhari).
b. perlengkapan rumah ibadah c. senjata
d. pakaian e. buku f. mushaf
g. uang, saham, atau surat berharga lainnya. Ini yang sekarang dikenal dengan wakaf tunai.
Berhubungan dengan wakaf tunai, ada beberapa pendapat yang bisa kita ambil.
1. Imam Bukhari menyebutkan bahwa Imam Azh Zhuhri (wafat 124H) berpendapat boleh mewakafkan dinar dan dirham. Caranya ialah menjadikan dinar dan dirham tersebut sebagai modal usaha, kemudian menyalurkan keuntungannya sebagai wakaf.
2. Dr. Az-Zuhaili juga menyebutkan memperbolehkannya sebagai pengecualian karena sudah banyak dilakukan masyarakat, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud ra, yang berbunyi, "Apa yang dipandang kaum muslimin itu baik, dipandang baik juga oleh Allah".
Syarat Penerima Wakaf (Mauquf 'alaih)
Wakaf harus dimanfaatkan dalam batas-batas yang sesuai dan diperbolehkan syariat Islam. Pada dasarnya,
kepada Tuhannya. Karena itu mauquf 'alaih haruslah pihak yang berbuat kebajikan. Para ulama fikih sependapat bahwa infaq kepada pihak yang berbuat kebajikan inilah yang membuat wakaf menjadi ibadah yang mendekatkan manusia kepada Tuhannya.
Pentingnya Pengelola Wakaf (Nazhir)
Nazhir adalah pihak yang diberi kepercayaan mengelola harta wakaf. Para ulama sepakat bahwa Wakif harus menunjuk Nazhir, baik perseorangan, organisasi atau lembaga. Tujuannya agar harta wakaf tetap terjaga dan terurus, sehingga harta itu tidak sia-sia. Kalau Nazhir nggak mampu melaksanakan tugasnya, maka pemerintah wajib menggantinya dengan tetap menjelaskan alasan-alasannya.
Syarat moral Nazhir:
1. Paham tentang hukum wakaf dan ZIS 2. Jujur, amanah dan adil
3. Tahan godaan, terutama menyangkut perkembangan usaha
4. Pilihan, sungguh-sungguh dan suka tantangan 5. Cerdas spiritual dan emosional.
Syarat manajemen:
1. Punya jiwa leadership yang OK. Jiwa kepemimpinan itu penting karena terkait dengan pengelolaan harta umat dan manajemen SDM.
2. Visioner. Maksudnya, memiliki konsep untuk pengembangan masa depan.
3. Cerdas intelektual, sosial dan pemberdayaan. Tentu, kecerdasan sangat penting, karena untuk memecahkan berbagai persoalan diperlukan kejelian dan kecepatan penanganan.
4. Profesional dalam bidang pengelolaan harta. Ya, kalau belum memiliki pengalaman dalam pengelolaan harta takut amburadul.
Syarat bisnis:
1. Mempunyai keinginan. Tentu keinginan dalam pengelolaan. Bahasa sederhananya memiliki semangat.
2. Mempunyai pengalaman dan atau siap untuk magang.
Pengalaman merupakan salah satu poin penting. Tanpa pengalaman dikhawatirkan bekerja tidak optimal.
3. Punya ketajaman untuk melihat peluang usaha seperti seorang enterpreneur.
Hmm... kira-kira siap nggak ya jadi Wakif atau Nazhir?