• Tidak ada hasil yang ditemukan

The Golden Arrow: Wakaf for Charity

Dalam dokumen Daftar Isi. Daftar Isi... i (Halaman 43-51)

Pada masa kejayaan Islam, wakaf sudah pernah mencapai puncak keemasannya, walaupun pengelolaannya masih sangat sederhana. Pada abad 8-9 Hijriyyah dipandang sebagai zaman keemasan wakaf. Pada saat itu wakaf meliputi berbagai macam benda, yaitu masjid, mushalla, sekolah, tanah pertanian, rumah, toko, kebun, pabrik roti, bangunan kantor, gedung pertemuan dan perniagaan, bazaar, pasar, tempat pemandian, tempat pangkas rambut, gudang beras, pabrik sabun, tempat pembiakan ayam, dll. Banyak banget kan? Soalnya para penguasa zaman dulu itu serius

banget untuk mengembangkan wakaf dan menganjurkan rakyatnya untuk berwakaf.

Kebiasaan tersebut dilanjutkan hingga sekarang di beberapa negara dengan menggunakan wakaf untuk proyek penulisan buku, penerjemahan, dan riset dalam berbagai bidang, termasuk kesehatan. Penggunaan wakaf dalam bidang kesehatan juga mencakup pembangunan rumah sakit, sekolah-sekolah kedokteran, dan pembangunan industri farmasi dan obat-obatan.

Dilihat dari bentuknya, wakaf ternyata bukan hanya dalam bentuk benda tak bergerak. Di beberapa negara seperti Mesir, Yordania, Arab Saudi dan Turki, wakaf juga berbentuk tanah pertanian, perkebunan, flat, uang, saham, real estate yang kesemuanya dikelola secara produktif.

Dengan demikian hasilnya dapat benar-benar digunakan untuk kesejahteraan umat.

Dari negara-negara tersebut, Turki adalah negara yang paling panjang sejarah perwakafannya. Pemberdayaan wakaf mencapai puncaknya pada masa dinasti Utsmaniyah.

Pada tahun 1925 diperkirakan tanah wakaf mencapai lebih dari separo tanah produktif. Hebat ya?

Selain pemerintah, mereka juga memiliki sebuah lembaga yang memobilisasi sumber-sumber wakaf untuk membiayai bermacam-macam proyek joint venture yang disebut Waqf Bank and Finance Corporation.

Hasil wakaf produktif misalnya wakaf rumah sakit, seperti rumah sakit yang didirikan tahun 1823 oleh ibunda Sultan Abdul Mecit di Istambul. Rumah sakit modern ini

perawat, dan staf. Sedangkan untuk pelayanan pendidikan dan sosial dilakukan oleh lembaga Imaret yang sudah dikenal sejak masa Utsmaniyah.

Sedangkan upaya komersial Ditjen Wakaf Turki adalah melakukan kerjasama dan investasi di berbagai lembaga seperti Yvalik and Aydem Olive Oil Corp., Tasdelen Healthy Water Corp., Auqaf Guraba Hospital, Taksim Hotel (Sheraton), Turkish Is Bank, dan Aydin Textile Industry.

Di Mesir ada berbagai macam harta yang telah dikelola Badan Wakaf. Antara lain harta yang dikhususkan pemerintah untuk anggaran umum; barang yang menjadi jaminan hutang, hibah, wasiat, dan sedekah; dokumen dan uang/harta yang harus dibelanjakan dan benda lain yang berguna untuk mengembangkan/meningkatkan harta wakaf.

Agar harta-harta ini produktif dan bermanfaat bagi masyarakat luas, Badan Wakaf menetapkan beberapa kebijakan:

1. Menitipkan harta wakaf di bank Islam agar dapat berkembang;

2. Melalui Wizaratu Awqaf, Badan Wakaf berpartisipasi untuk mendirikan bank-bank Islam dan bekerja sama dengan berbagai perusahaan;

3. Memanfaatkan tanah-tanah kosong untuk dikelola secara produktif dengan cara mendirikan lembaga-lembaga ekonomi bekerja sama dengan beberapa perusahaan;

4. Membeli saham dan obligasi perusahaan-perusahaan penting.

Jadi di Mesir, bukan saja harta wakafnya yang beraneka ragam, tapi juga pengelolaannya fleksibel. Tenaga pengelolanya profesional dan dilandasi Undang-undang yang jelas.

Di Bangladesh dalam banyak kasus, penghasilan dari banyak harta wakaf yang kecil-kecil dan tersebar amat tidak mencukupi untuk biaya pemeliharaan harta wakaf itu sendiri. Harta wakaf di bawah kekuasaan Nazhir tradisional justru menjadi beban umat karena tidak menghasilkan apa-apa. Yang juga menambah kusut adalah wakaf yang dikelola perseorangan yang kurang bertanggung jawab. Kondisi inilah yang melatarbelakangi dilakukannya reformasi dalam manajemen administrasi harta wakaf di sana.

Di sana ada lembaga non-pemerintah yang menjadi solusi dalam menangani kemiskinan yaitu Social Investment Bank Limited (SIBL). Bank ini menjadi alternatif peningkatan pendapatan bagi jutaan warga miskin, disamping pilihan yang menguntungkan bagi warga kaya untuk investasi, mendapatkan bagi hasil dan hidup dalam lingkungan yang lebih aman dan damai. Caranya SIBL memperkenalkan Sertifikat Wakaf Tunai, sebuah produk baru dalam sejarah perbankan sektor voluntary. Di Dakka, SIBL membuka peluang untuk membuka rekening deposito wakaf tunai dengan tujuan berbagai sasaran penting jangka panjang.

Hal yang ditangani antara lain peningkatan standar hidup orang miskin, rehabilitasi orang cacat, peningkatan standar hidup warga penghuni daerah kumuh, membantu pendidikan anak yatim piatu, beasiswa, pengembangan pendidikan modern dan sekolah, kursus, akademi hingga

dan bank darah, menyelesaikan masalah sosial warga nonmuslim, membantu proyek penciptaan lapangan kerja, dan menghapus kemiskinan.

Wakaf tunai di Bangladesh terbukti membuka peluang yang unik untuk menciptakan investasi. Caranya adalah dengan membuka penukaran tabungan orang-orang kaya dengan Cash Waqf Certificate.

Hal-hal tersebut tentu membuat negara kita juga bersemangat mengembangkan masalah wakaf ini. Secara jumlah, harta wakaf di tanah air kita sangat besar, dan sebagian besarnya berupa tanah yang dibangun untuk rumah ibadah, lembaga pendidikan Islam, pekuburan dan lain-lain yang rata-rata tidak produktif. Hal ini mendapat perhatian khusus karena selama ini wakaf pada umumnya berbentuk benda nggak bergerak, yang sebenarnya potensinya besar sekali seperti tanah-tanah produktif strategis untuk dikelola secara produktif. Untuk itu harta wakaf harus dikelola dengan manajemen yang baik dan modern, serta tetap sesuai syariat Islam dong.

Tentu saja ini butuh kerjasama dari semua pihak, termasuk perbankan dan lembaga-lembaga pihak ketiga yang tertarik pada pengembangan wakaf. Kerjasama ini butuh dukungan dan komitmen semua pihak, seperti pemerintah, ulama, kaum profesional, cendekiawan, pengusaha, arsitek, perbankan, lembaga bisnis, lembaga penjamin dan keuangan syariah dan seluruh masyarakat umum (kita nih termasuk).

Mustafa Edwin Nasution pernah membuat perkiraan kasar bahwa jika jumlah penduduk muslim kelas menengah di Indonesia sebanyak 10 juta jiwa dengan penghasilan

rata-rata 0,5-10 juta perbulan. Misalnya jika penduduk berpenghasilan 0,5 juta rupiah ada 4 juta jiwa saja dan setiap tahun berwakaf Rp 60.000, setiap tahun akan terkumpul 240 milyar rupiah. Jika warga yang berpenghasilan 1-2 juta rupiah ada sebanyak 3 juta jiwa dan masing-masing berwakaf Rp 120.000 akan terkumpul dana sebesar Rp 360 milyar. Jika warga berpenghasilan 2-5 juta ada sebanyak 2 juta orang dan setiap tahun berwakaf Rp 600.000, akan terkumpul dana Rp 1,2 trilyun. Dan jika warga berpenghasilan 5-10 juta ada 1 juta jiwa dan setiap tahun berwakaf Rp 1,2 juta akan terkumpul dana Rp 1,2 trilyun.

Jadi dana yang terkumpul mencapai 3 trilyun rupiah pertahun. Wow, subhanallah, luar biasa besar bukan?

Jika dana itu diserahkan kepada pengelola profesional dan oleh pengelola wakaf tersebut diinvestasikan di sektor yang produktif, dimana mereka menjamin jumlahnya tidak berkurang, tapi justru bertambah dan akan terus bergulir.

Misalnya saja dana itu dititipkan di Bank Syariah yang katakanlah setiap tahun memberikan bagi hasil sebesar 9%

maka pada akhir tahun sudah ada dana segar 270 milyar rupiah. Akan sangat banyak yang bisa dilakukan untuk pemberdayaan ekonomi umat dengan uang sebanyak itu.

Model wakaf tunai sangat tepat memberikan jawaban yang menjanjikan dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dan membantu mengatasi krisis ekonomi Indonesia, melepaskan bangsa kita dari jerat hutang dan ketergantungan terhadap luar negeri.

Nanti akan kita bahas lagi lebih lanjut tentang wakaf tunai di bagian keempat ya... Sekarang kita gali terus

BAGIAN KETIGA Overview: Wakaf di Indonesia

Sudah kita ketahui kalau tanah wakaf dan harta-harta wakaf di Indonesia jumlahnya banyak sekali dan masih banyak yang belum dikelola secara baik, sehingga hasilnya juga belum bisa digunakan secara optimal untuk kepentingan umat. Perwakafan dan tanah wakaf di Indonesia termasuk ke dalam bidang Hukum Agraria, yaitu perangkat peraturan yang mengatur tentang bagaimana penggunaan dan pemanfaatan bumi, air, dan ruang angkasa Indonesia, untuk kesejahteraan bersama seluruh rakyat Indonesia, bagaimana hubungan hukum antara orang dengan bumi, air, dan ruang angkasa, serta hubungan bumi, air dan ruang angkasa tersebut.

Pengaturan dan pelaksanaan perwakafan tanah hak milik di Indonesia dapat dibagi dalam 3 waktu:

1. Sebelum kemerdekaan 2. Setelah kemerdekaan Sebelum Kemerdekaan

Lembaga perwakafan sebenarnya sudah dikenal dan dilaksanakan sejak zaman dahulu oleh penduduk muslim di Indonesia. Hal ini wajar karena di Indonesia banyak berdiri kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak, Samudera Pasai, dan lain-lain.

Lembaga perwakafan itu berasal dari lembaga yang berdasar hukum Islam, namun seolah-olah sudah disepakati

bahwa lembaga tersebut juga adalah merupakan bagian hukum adat Indonesia, sebab diterimanya lembaga ini berasal dari suatu kebiasaan masyarakat.

Sejak zaman dulu, peraturan tentang wakaf ini telah diatur dalam Hukum Adat yang sifatnya tidak tertulis dengan bersumber dari Hukum Adat. Pemerintah Kolonial juga telah mengeluarkan beberapa peraturan tentang wakaf.

Setelah Kemerdekaan

Beberapa waktu setelah proklamasi kemerdekaan, peraturan perwakafan zaman Belanda masih diberlakukan, mengingat belum lengkapnya peraturan kenegaraan kita.

Namanya juga negara baru.

Namun tanggal 22 Desember 1953, Departemen Agama mengeluarkan Petunjuk-petunjuk Mengenai Wakaf.

Untuk selanjutnya perwakafan ini menjadi wewenang bagian D (ibadah sosial) Jawatan Urusan Agama. Kemudian tahun 1956 dikeluarkan Surat Edaran tentang Prosedur Perwakafan Tanah.

Beberapa peraturan perwakafan tanah di atas ternyata dirasakan kurang memadai dan masih banyak kelemahannya. Yaitu belum memberikan kepastian hukum mengenai tanah-tanah wakaf. Untuk itu pemerintah terus mengadakan peraturan-peraturan khusus, baik secara Hukum Agraria maupun peraturan pemerintah lainnya.

Setelah melalui proses yang cukup panjang dan penelitian yang mendalam, akhirnya keluarlah

Undang-Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaannya.

Jadi semua peraturan perwakafan sebelumnya nggak berlaku lagi.

Tujuan dari adanya Undang-undang wakaf dan Peraturan Pemerintah tentang pelaksanaannya yaitu agar wakaf dapat diakomodir dalam koridor peraturan perundang-undangan yang khusus. Selain itu, ada tujuan lain yang lebih penting, yaitu agar wakaf dapat dikelola dan dikembangkan secara produktif sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat.

Kira-kira, kenapa ya, perwakafan di Indonesia belum semaju di negara lain?

Dalam dokumen Daftar Isi. Daftar Isi... i (Halaman 43-51)