umum.
Kekuatan hukum
Sejak tahun 2004, wakaf telah memiliki Undang-undang No. 41 Tahun 2004 tentang wakaf dan pada tahun 2006 terbit Peraturan Pemerintah No. 42 tentang Pelaksanaan Undang-undang No. 41 Tahun 2004 tentang wakaf. Selain itu, saat ini sedang disusun Draft Peraturan Menteri Agama tentang Petunjuk Pelaksanaan Wakaf di Indonesia. Selain itu, terdapat beberapa Perda di beberapa wilayah yang mendukung bagi pemberdayaan wakaf secara produktif.
Dengan terbitnya peraturan perundang-undangan tentang wakaf dan perautan pendukung lainnya, maka pengelolaan dan pengembangan aset wakaf memiliki status hukum yang kuat. Wakaf secara legal formal telah diatur secara rinci dan jelas oleh Undang-undang, sehingga wakaf selayaknya mendapat perhatian yang lebih baik.
Jadi, nunggu apa lagi?
D. Good Example Design: Pemberdayaan Tanah Wakaf Produktif
Tanah-tanah wakaf produktif strategis yang sudah didata oleh Departemen Agama RI di seluruh Indonesia bisa diberdayakan secara maksimal dengan bentuk:
1. Aset wakaf yang menghasilkan produk barang atau jasa
Hal ini harus ditunjang oleh pihak Nazhir (pengelola) yang memiliki dana cukup. Kalau tidak, tentu harus bekerjasama dengan pihak ketiga untuk mengembangkan lebih jauh.
Beberapa proyek wakaf yang dapat dijadikan sebagai contoh bagi pengembangan wakaf yang menghasilkan barang dan jasa adalah proyek percontohan wakaf produktif yang dilaksanakan oleh Departemen Agama.
Proyek percontohan wakaf produktif yang dapat dikatakan berhasil adalah: (1) Yayasan al-Khairat, Palu, Sulawesi Tengah, yang mendirikan pasar swalayan. (2) Yayasan Muslin Kota pekalongan yang mendirikan bangunan berupa hotel Syariah, lembaga pendidikan, tempat kuliner dan masjid. (3) Yayasan Masjid Lasem, Rembang Jateng yang mendirikan swalayan dan wisata agama, (4) Nazhir wakaf di Jembrana Bali yang membangun rumah kost muslim, dan lain sebagainya.
Aset-aset wakaf yang memiliki potensi ekonomi, sudah saatnya untuk dikembangkan. Namun tentu saja diperlukan para pengelola yang profesional dan amanah.
2. Aset wakaf yang berbentuk investasi usaha
Aset wakaf ini adalah kekayaan lembaga Nazhir hasil
untuk kemudian dikembangkan melalui investasi kepada pihak ketiga atau lembaga Nazhir wakaf yang lain. Bentuk investasi usaha yang akan dilakukan harus memenuhi standar syariah yaitu:
a. Akad Musyarakah
Akad ini merupakan bentuk partisipasi usaha yang melibatkan dua pihak atau lebih (termasuk Nazhir) dalam sebuah bentuk usaha dengan modal patungan dan pembagian keuntungan sesuai kesepakatan. Kalau ternyata rugi, semua pihak harus ikut menanggung kerugian sesuai persentase besar modal yang dia tanamkan.
Pihak-pihak tersebut dapat ikut serta, mewakilkan, atau membatalkan haknya dalam pengelolaan usaha tersebut. Modal yang diikutsertakan dapat berupa uang atau harta benda yang dinilai dengan uang.
Namun karena terkait dengan aset nggak boleh berkurang, maka dalam pelaksanaan usahanya harus mengasuransikan kepada asuransi syariah. Asuransi ini merupakan keharusan agar aset wakaf tidak berkurang atau hilang ketika usaha terjadi kerugian.
b. Akad Mudlarabah
Suatu bentuk akad dimana modal seluruhnya berasal dari pemilik modal, diserahkan kepada pihak pengelola.
Pemilik modal tidak ikut serta dalam manajemen pengelolaan usaha. Jika terjadi kerugian, yang menanggung kerugian materil hanya si penanam modal. Sedangkan pengelola hanya menanggung kerugian waktu dan tenaga serta tidak memperoleh keuntungan apapun.
Semua hasil usaha harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat banyak, dalam bentuk:
1. Asset yang dapat langsung dinikmati manfaatnya oleh masyarakat, misalnya sekolah, rumah sakit, panti asuhan dll.
2. Asset berupa investasi SDM dan kebudayaan jangka panjang, misalnya pemberian beasiswa untuk kuliah, perpustakaan, pembiayaan riset, pelayanan kesehatan untuk duafa, penyediaan SDM dalam bidang kesehatan seperti tenaga dokter, dll.
Lalu apa yang harus dilakukan?
1. Menangkap peluang usaha pemberdayaan tanah wakaf produktif, ada beberapa pertanyaan yang harus dikaji oleh para Nazhir:
a. Apakah ada peluang usaha produktif yang memungkinkan dijalankan di lokasi tersebut?
b. Apakah sudah faham benar liku-liku usaha yang akan dijalankan?
c. Apakah ada kompetitor dan calon kompetitor yang sudah dikenal di situ?
d. Seberapa besar pasarnya?
e. Apakah ada suppliernya?
f. Apakah sudah faham teknik pembuatan barangnya?
g. Seberapa banyak modal yang sudah ada dan perlu nggak ada tambahan lagi?
h. Bagaimana cara mendapatkan tenaga kerja?
i. Apakah sudah faham tentang peralatan dan teknologi yang diperlukan?
j. Apakah sudah faham tentang seluk beluk peraturan yang berhubungan dengan usaha tersebut?
2. Mulai deh usahanya. Ada lima tahap yang wajib dilakukan nih:
a. memilih peluang usaha dan jenis bidang usaha b. mendirikan/membentuk badan usaha
c. mempersiapkan kegiatan usaha d. merencanakan kegiatan usaha
e. mulai deh usahanya dan melakukan strategi-strategi pengembangan.
Strategi Pengembangan
Bagaimana caranya ya agar strategi pengembangan wakaf dapat tercapai? Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh untuk mengembangkan wakaf secara produktif:
Pertama, pemetaan potensi ekonomi. Sebelum pemberdayaan wakaf dilakukan, pemetaan potensi ekonomi harus dibuat terlebih dahulu. Sejauh mana dan seberapa
mungkin benda wakaf itu dapat diberdayakan dan dikembangkan secara produktif? Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemetaan potensi ekonomi adalah letak geografis benda wakaf (jika berupa tanah), seberapa besar dukungan masyarakat dan tokohnya, bagaimana peluang pasarnya, serta dukungan teknologi apa yang tersedia.
Kedua, melakukan studi kelayakan usaha. Studi kelayakan usaha dibuat berdasarkan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity and Thread). Metode SWOT ini untuk menjajagi tentang kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman terhadap upaya pemberdayaan wakaf produktif.
Ketiga, membuat proposal pemberdayaan. Isi proposal tersebut paling tidak memuat beberapa hal, yaitu: latar belakang, aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis dan teknologis, aspek organisasi dan manajemen, aspek ekonomi dan keuangan (biaya investasi, biaya operasi dan pemeliharaan, sumber pembiayaan, perkiraan pendapatan, analisis kriteria investasi, break even point dan pay back period, proyeksi laba-rugi dan lairan kas), serta kesimpulan dan rekomendasi.
Keempat, menjalin kemitraan usaha. Menjalin kemitraan usaha atau mencari investor adalah langkah strategis jika Nazhir tidak memiliki kemampuan finansial.
Profil dan performance mitra usaha harus diperhatikan karena sangat menentukan bagi sukses tidaknya usaha yang akan dilakukan. Karena banyak mitra usaha yang hanya mengandalkan modal besar, tetapi tidak memiliki etika
dipertimbangkan, yaitu Islamic Development Bank (IDB), perbankan Syariah dan unit usaha swasta lainnya.
Kelima, menyiapkan SDM berkualitas. Menyiapkan SDM yang amanah dan professional adalah prasyarat mutlak dalam pemberdayaan wakaf produktif. Komposisi SDM yang dilibatkan harus sesuai dengan porsi usaha yang akan dilakukan dengan kualifikasi tertentu. Jika Nazhir tidak memiliki kemampuan yang baik dalam pengeloaan wakaf secara langsung, maka Nazhir harus mempercayakan kepada SDM yang memiliki komitmen, kualitas dan moralitas tinggi.
Keenam, mengelola dengan manajemen amanah dan professional. Pemberdayaan wakaf produktif harus dikelola dengan manajerial amanah, modern, transparan, dan akuntabel. Modal kepercayaan yang tinggi tanpa dibarengi kemampuan mengorganisir usaha, tidak akan memperoleh hasil yang baik. Pola pengelolaannya harus mengacu pada profesionalisme yang mengimbangi perkembangan dunia usaha masa kini, termasuk menerapkan sistem kontrol dan pengawasan yang baik untuk menghindari terjadinya penyelewengan dan penyelahgunaan wakaf.
BAGIAN KEEMPAT
Introducing: Cash Waqf (Wakaf Uang)
Karena sifat ajarannya yang fleksibel dan terbuka bagi pemahaman, salah satu konsep wakaf yang saat ini sedang trend dan terkait dengan perkembangan ilmu tentang moneter dan perbankan adalah wakaf uang. Wakaf uang dipopulerkan oleh ahli ekonomi Bangladesh, Prof.
MA Mannan tentang cash waqf (wakaf uang).
Cash waqf diterjemahkan sebagai wakaf tunai. Tapi kalau melihat objeknya, yaitu uang, kayaknya lebih tepat disebut wakaf uang deh.
Dalam konsep tersebut, wakaf bisa menjadi sumber dana tunai. Keuntungan praktisnya adalah orang yang berwakaf nggak perlu harus menjadi orang kaya terlebih dahulu. Karena uang sifatnya fleksibel.
Dalam pelaksanaannya, wakaf uang dapat dilakukan sesuai dengan kemampuannya melalui satuan berupa sertifikat wakaf uang. Wakaf uang diformulasikan dalam beberapa besaran donasi wakaf, seperti misalnya Rp.
10.000,-, Rp. 50.000,-, Rp. 100.000,-, Rp. 1.000.000,-, Rp.
10.000.000,- dan seterusnya. Bisa datang ke Lembaga Keuangan Syariah (LKS) atau cukup dengan ATM atau phone banking yang sudah online melayani wakaf uang. Mudahkan?
Selain itu, bentuk wakaf bisa berwujud harta lancar yang penggunaannya sangat fleksibel sehingga bisa jadi modal finansial yang disimpan di bank-bank atau lembaga
Adapun wakaf uang didefinisikan sebagai wakaf yang dilakukan oleh seseorang, kelompok orang, lembaga, dan atau badan hukum dalam bentuk uang tunai. Hukumnya telah lama menjadi perhatian para fuqaha. Beberapa sumber menyebutkan bahwa wakaf uang telah dipraktekkan oleh masyarakat penganut madzhab Hanafi.
Ada satu hal yang perlu diterangkan disini bahwa yang dimaksud dengan wakaf tunai (uang) bukan semua hal yang berbau uang. Sebagai contoh, misalnya ada pengurus masjid yang mengumumkan akan merenovasi masjid. Kemudian pengurus mengumumkan: barang siapa yang ingin wakaf uang, akan dibelikan semen, genteng, keramik dan lain-lain.
Nah, contoh pengumpulan uang yang akan dibelikan bahan bangunan itu bukan wakaf uang yang dimaksud dalam pengertian peraturan perundang-undangan wakaf. Tapi, wakaf semen, genteng, keramik dll melalui uang yang akan dibelikan barang tersebut oleh pengurus masjid. Sekali lagi bukan wakaf uang! Karena wakaf uang itu pola pengelolaannya harus diinvestasikan bidang Syariah atau produk-produk Syariah.
Trus yang dimaksud dengan investasi di bidang Syariah atau produk-produk Syariah apa ya? Itu mah ada lagi dalam sistem perbankan Syariah. Kamu bisa tanya kok di bank Syariah. Nah kalau produk-produk Syariah itu dalam pengelolaannya harus dijaminkan ke asuransi Syariah.
Maksudnya, jika dalam perjalanan pengelolaan wakaf uangnya lost atau rugi, bisa diganti atau dicover oleh asuransi. Tentu asuransi Syariah lho!
Dasar dibolehkannya wakaf tunai (uang) itu didasarkan pada firman Allah swt dalam QS Ali Imran (3):92, Al Baqarah (2):261, Hadits Nabi saw tentang amalan yang tak putus dan kisah Umar ra mewakafkan tanahnya di Khaibar.
Secara khusus, para ulama juga berpendapat tentang wakaf tunai ini. Selain madzhab Hanafi, sebagian ulama madzhab Syafii juga membolehkannya.
Abu Tsaur meriwayatkan dari Imam Syafii, tentang dibolehkannya wakaf dinar dan dirham (uang).
Komisi fatwa MUI juga membolehkan wakaf uang, dengan dikeluarkannya fatwa tanggal 11 Mei 2002.
Argumentasinya didasarkan kepada Hadits Ibnu Umar yang sudah kita bahas di bab terdahulu. Komisi fatwa MUI juga merumuskan definisi (baru) tentang wakaf, yaitu:
Menahan harta yang dapat dimanfaatkan tanpa lenyap bendanya atau pokoknya, dengan cara tidak melakukan tindakan hukum terhadap benda tersebut (menjual, memberikan, menjaminkan atau mewariskannya) untuk disalurkan (hasilnya) pada sesuatu yang mubah (tidak haram).
Dari syarat yang dibebankan kepada Wakif, nggak disebutkan kalau harta yang akan diwakafkan itu harus sejumlah tertentu (kayak zakat). Maka sebenarnya, siapa saja bisa dan boleh menjadi Wakif. Dana wakaf, terutama wakaf uang, dapat dihimpun dari para Wakif yang nggak terbatas. Semua bisa jadi Wakif. Kamu juga bisa lho.
Sementara itu, Bank Indonesia menyodorkan definisi wakaf uang sebagai penyerahan aset wakaf berupa uang
selain untuk kepentingan umum yang tidak mengurangi ataupun menghilangkan jumlah pokoknya.
Karena itu, perbankan syariah dapat menghimpun dana dari seluruh masyarakat yang ingin berwakaf dengan menerbitkan Sertifikat Wakaf Tunai. Penerbitan Sertifikat ini akan membuka peluang penggalangan dana yang cukup besar karena:
a. Lingkup sasaran Wakif bisa sangat lebih luas ketimbang wakaf biasa. Maksudnya, untuk berwakaf tidak harus menunggu menunggu jadi orang kaya dulu atau juragan tanah, tetapi dengan memiliki 10 ribu misalnya, kamu juga bisa berwakaf. Dengan wakaf uang, semua kalangan dapat melaksanakan amal sosial wakaf.
b. Sertifikat Wakaf Tunai dapat dibuat dalam berbagai macam pecahan yang sesuai dengan kemampuan dan keinginan Wakif yang dituju. Misalnya ada pecahan Rp 10.000, Rp 25.000 dan seterusnya.
Dana wakaf tunai bisa didapat juga dari muslim kelas menengah (berpendapatan Rp 500.000-Rp 10.000.000/bulan). Mereka selama ini lebih menyukai beramal di sektor tradisional, misal nyumbang ke masjid, rumah yatim piatu, duafa dll.
Nah jika ada lembaga wakaf yang profesional, hal ini bakal jadi lahan baru bagi mereka. Mereka ini kan semangat beramalnya tinggi lho.
Dari asumsi wakaf tunai dari masyarakat muslim kelas menengah saja bisa didapat dana kira-kira 3 trilyun
pertahun. Belum lagi kalau lembaga-lembaga ekonomi lain ikutan juga.
Mobilisasi dana wakaf tunai ini dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi kegiatan ekonomi yang ada. Sudah bukan rahasia lagi deh, kalau yang namanya pajak juga nggak efektif-efektif amat.
Dana wakaf tunai juga bisa diperoleh dari Usaha Kecil, Menengah dan Koperasi (UKMK). Tokoh UKMK, Adi Sasono, mengungkapkan, kalau pemerintah mau memberdayakan kegiatan UKMK, maka kegiatan tersebut akan mampu meningkatkan penerimaan dari pajak sebesar Rp 400 trilyun.
Jika 2,5% saja dari total itu dialihkan ke bentuk wakaf tunai, maka akan terkumpul dana dari sektor ini melalui wakaf tunai sebesar Rp 10 trilyun saja. Ck ck ck... luar biasa bukan?
Jadi potensi dana wakaf tunai yang dapat dihimpun dari masyarakat melalui lembaga wakaf profesional sangat besar jumlahnya. Nah penting banget kan untuk segera direalisasikan.
Dana segede itu harus dimanfaatkan secara produktif agar dapat dinikmati hasilnya oleh seluruh masyarakat luas, sehingga tercipta kesejahteraan lahir dan batin. Dana itu harus selalu ada hingga akhir zaman, sehingga terus memberi manfaat bagi masyarakat dan pahala si Wakif.
Dapat dibayangkan betapa besar dana wakaf yang akan terkumpul secara kumulatif dari tahun ke tahun yang bisa dijadikan sebagai Modal Sosial Abadi.
A. Wakaf Tunai dan Pembangunan Ekonomi