1. Konsep Wakaf yang Fleksibel
Di dalam Al Quran dan Hadits Nabi saw, hanya sedikit kita temukan aturan tentang wakaf. Berbeda dengan zakat yang lengkap banget. Makanya ajaran wakaf ini ditempatkan dalam ajaran yang bersifat ijtihadi, yang lebih bisa bersifat fleksibel.
Kamu tahu nggak yang dimaksud dengan ijtihadi itu?
Dalam kajian ushul fikih (filsafat fikih), dalil nash (al-Quran dan al-Hadits) itu ada yang disebut ta’abbudi dan ta’aqquli (ijtihady). Dalil ta’abbudi itu adalah dalil yang bersifat semestinya yang memiliki hukum pasti dan harus dilaksanakan oleh umat Islam, seperti dalil al-Quran tentang perintah mendirikan sholat, membayar zakat, puasa, haji, atau larangan menkonsumsi daging babi, dan seterusnya.
Perintah atau larangan itu tidak boleh dibantah dan harus dikerjakan atau ditinggalkan.
Sedangkan dalil ta’aqquli (ijtihady) itu dalil yang memberi peluang bagi interpretasi atau kajian lebih lanjut, sehingga sifatnya fleksibel sesuai dengan perkembangan zaman. Intinya, dalil al-Quran atau Hadts yang boleh ditafsirkan atau dimaknai sesuai dengan kebutuhan jaman.
Namun, aturan tentang wakaf yang 'cuma sedikit', bahkan dapat dikatakan tidak ada yang langsung menyebut kata “waqf” tersebut bisa menjadi pedoman para ahli fikih.
Penafsiran ajaran tentang wakaf, dari waktu ke waktu terus dinamis. Hasilnya, wakaf terus berkembang dari zaman Khulafaur Rasyidin hingga sekarang. Karena fleksibel itulah, wakaf bisa terus dan akan terus berkembang sampai nanti.
Termasuk juga di Indonesia.
2. Wakaf, Solusi Masalah Ekonomi!
Dalam beberapa bulan terakhir, pasar bursa Wall Street, Amerika Serikat, rontok. Pasar modal dunia pun terguncang dengan ambruknya berbagai saham unggulan.
Kita semua tahu, bahwa Amerika terkenal dengan nagara
besar yang makmur. Namun sekarang ada tanda-tanda krisis ekonomi menghampirinya.
Tidak terkecuali, pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga terseret tajam dalam keterpurukan. Para investor panik, sehingga muncul kekhawatiran akan terjadi krisis ekonomi global yang menakutkan. Kamu inget nggak krisis ekonomi tahun 2008, yang menjadikan masyarakat kita hidup serba susah.
Kalau kondisi ekonomi terus merosot, para investor mulai menarik dananya secara besar-besaran, khususnya di dalam negeri. Tahu sendiri kan, negara kita tergantung dari investor! Kalau dah begitu, stabilitas ekonomi nasional akan terguncang dengan semakin banyaknya PHK di berbagai perusahaan.
Untuk di AS, menurut pengamat ekonomi, kondisi ekonominya saat ini sedang mengalami puncak keterpurukan ekonomi. Selama dalam beberapa dasawarsa, Amerika menjadi penopang ekonomi dunia. Ke depan, ekonomi Amerika diperkirakan akan hancur seiring dengan runtuhnya sistem kapitalisme global yang sedang terjadi.
Nah, sekarang pertanyaannya, kenapa krisis ekonomi global sekarang terjadi? Bukankah ekonomi dunia didukung sangat kuat oleh kekuatan kapitalisme Barat yang kokoh?
Jawabannya adalah karena kapitalisme menganut doktrin:
Sistem bunga yang tidak jujur dan adil;
Sistem yang mengandalkan penumpukan modal;
Sistem penguasaan ekonomi pada orang kaya dan
Penguasaan politik kekuasaan dengan menghalalkan segala cara.
Disamping praktik ekonomi kapitalisme dunia yang secara prinsip memiliki kelemahan fundemantal karena praktik ribawi, pembangunan ekonomi nasional juga terancam. Kenapa? Karena Indonesia termasuk negara penganut sistem kapitalisme dan lagi ditopang atas tiang-tiang penyangga yang rapuh, seperti birokrasi yang rumit dan belum transparan, kurangnya konsistensi kebijakan, praktik KKN yang masih kuat dan lemahnya penegakan hukum.
Jika tidak diantisipasi dengan tepat dan cepat, maka krisis ekonomi nasional yang lebih dahsyat tidak dapat dihindari. Bukan tidak mungkin, negeri kita akan semakin terpuruk yang dapat mengancam eksistensi, martabat dan harga diri bangsa.
So, di tengah ketidakpastian ekonomi dunia dan ancaman terhadap krisis ekonomi nasional yang menghantui stabilitas nasional, pemerintah berupaya mencari jalan alternatif untuk mengantisipasi guncangan ekonomi dengan membangun pondasi ekonomi kerakyatan yang memiliki basis konsep dan praktik yang mandiri, adil, fair dan menjunjung tinggi atas asas pemerataan kesejahteraan masyarakat yang lebih terpercaya.
Salah satu jalan alternatif membangun pondasi dan kekuatan ekonomi kerakyatan yang memiliki basis moral adalah meningkatkan peran kelembagaan ekonomi wakaf, selain tentu saja zakat. Ekonomi wakaf merupakan asset
tetap yang memiliki basis ideologis dalam Islam yang bersifat tetap (abadi), yang dapat dikelola dan dikembangkan secara optimal.
Dikaji dalam tinjauan sejarah, ekonomi wakaf merupakan praktik ekonomi Islam yang genuine (asli) Islam.
Karena wataknya yang lebih menekankan pada pengelolaan dan pengembangan komoditi dengan prinsip sosial yang sangat kuat.
Secara konsepsional, praktik ekonomi Islam yang mengedepankan pada keadilan, kejujuran, kepercayaan, kerja sama, transparansi, tolong menolong dan sebagainya telah menjadi ciri khas wakaf. Sehingga wakaf menjadi salah satu tegaknya prinsip ekonomi Islam yang selayaknya dikembangkan. Apalagi di saat gelombang resesi telah melanda sistem ekonomi kapitalis yang mengancam runtuhnya nilai-nilai kemanusiaan, seperti yang sedang terjadi di Amerika Serikat dan Uni Eropa.
3. Prospek Wakaf Produktif
Setelah kamu mengerti peluang ekonomi wakaf sebagai jalan alternatif pasca-kapitalisme, kamu juga harus tahu kekuatan yang dimiliki oleh wakaf. Setidaknya ada empat kekuatan besar wakaf produktif yang dapat dijadikan penopang untuk membangun kekuatan ekonomi masyarakat, yaitu:
Kekuatan konsep
Seperti dijelaskan sebelumnya, secara konsepsi ajaran,
tidak ada secara eksplisit menyebut tentang ajaran wakaf.
Jika ada bersifat umum. Sehingga ajaran wakaf ini diletakkan pada wilayah yang bersifat ijtihady, bukan ta'abbudy, khususnya yang berkaitan dengan aspek pengelolaan, jenis wakaf, syarat, peruntukan dan lain-lain.
Oleh karenanya, ketika suatu hukum (ajaran) Islam yang masuk dalam wilayah ijtihadi, maka hal tersebut menjadi sangat fleksibel, terbuka terhadap penafsiran-penafsiran baru, dinamis, futuristik (berorientasi pada masa depan.). Sehingga dengan demikian, ditinjau dari aspek ajaran saja, wakaf merupakan sebuah potensi yang cukup besar untuk bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan zaman. Apalagi ajaran wakaf ini termasuk bagian dari muamalah yang memiliki jangkauan yang sangat luas, khususnya dalam pengembangan ekonomi lemah.
Ditinjau dari kekuatan hukum, ajaran wakaf merupakan ajaran yang bersifat anjuran (sunnah), namun kekuatan yang dimiliki sesungguhnya begitu besar sebagai tonggak menjalankan roda kesejahteraan masyarakat banyak.
Sehingga dengan demikian, ajaran wakaf yang masuk dalam wilayah ijtihadi, dengan sendirinya menjadi pendukung yang bisa dikembangkan pengelolaannya secara optimal.
Kekuatan aset
Di Indonesia, perbuatan wakaf telah ada bersamaan dengan lahirnya Islam itu sendiri. Secara umum, pelaksanaan wakaf selama ini lebih banyak berupa harta benda tidak bergerak, seperti tanah, bangunan dan tanaman.
Menurut data Departemen Agama, kekayaan tanah wakaf umat Islam Indonesia yang sangat besar, yaitu seluas
1.566.672.406 m2 dengan 403.845 lokasi. Dari jumlah tersebut sebanyak 75 % bersertifikat dan sekitar 10%
berlokasi strategis dan potensial untuk dikembangkan secara ekonomi. Dilihat dari luasnya, tanah wakaf tersebut menyamai atau setidaknya mendekati luasnya negeri singapore. Tentu ini menjadi modal yang sangat penting dan menjanjikan jika tanah-tanah tersebut dapat dikembangkan secara produktif.
Jika diasumsikan secara kasar setiap /M2 menghasilkan us $10 pertahun, maka potensi tanah wakaf produktif US $ 1,5 milyar (Rp. 15 triyun) per-tahun. Jumlah dana yang sangat besar dan banyak hal yang dapat dilakukan oleh umat Islam untuk mengembangkan potensi, memperkuat daya tawar serta membangun peradaban yang maju. Dengan kekayaan aset besar tersebut selayaknya wakaf dapat bangkit dan menjadi pioner bagi bangkitnya ekonomi umat yang saat ini sedang memprihatinkan.
Selain itu, aset wakaf berupa wakaf uang dapat dibangun dan dikembangkan. Mustafa Edwin Nasution pernah membuat perkiraan kasar bahwa jumlah penduduk muslim kelas menengah di Indonesia sebanyak 10 juta jiwa dengan penghasilan rata-rata antara 0,5 juta – 10 juta per bulan. Dan ini merupakan potensi yang besar. Bayangkan misalnya warga yang berpenghasilan Rp 0,5 juta sebanyak 4 juta orang dan setiap tahun masing-masing berwakaf Rp 60 ribu. Maka setiap tahun akan terkumpul Rp 240 miliar.
Jika warga yang berpenghasilan 1-2 juta sebanyak 3 juta jiwa dan setiap tahun masing-masing berwakaf 120 ribu, maka akan terkumpul dana sebesar Rp 360 miliar. Jika
dan setiap tahun masing-masing berwakaf Rp 600 ribu, akan terkumpul dana Rp 1,2 trilyun. Dan jika warga berpenghasilan Rp 5-10 juta berjumlah 1 juta orang dan setiap tahun masing-masing berwakaf 1,2 juta, akan terkumpul dana 1,2 trilyun. Jadi dana yang terkumpul mencapai 3 trilyun setahun.
Hitungan itu jelas merupakan potensi yang sangat luar biasa. Terutama jika dana itu diserahkan kepada pengelola profesional dan oleh pengelola wakaf itu diinvestasikan di sektor yang produktif. Dijamin jumlahnya tidak akan berkurang, tapi bertambah bahkan bergulir. Misalnya saja dana itu dititipkan di Bank Syari’ah yang katakanlah setiap tahun diberikan bagi hasil sebesar 9%, maka pada akhir tahun sudah ada dana segar 270 miliar. Tentunya akan sangat banyak yang bisa dilakukan dengan dana sebanyak itu.
Kekuatan sistem
Wakaf sebagai sebuah konsep ekonomi, sebenarnya telah dijalankan dengan baik oleh umat Islam, bahkan pada masa Rasulullah sendiri yang memberikan petunjuk kepada Umar dalam pengelolaan wakaf. Dialog Rasulullah dengan Umar bin Khattab terkait dengan tanah di Khaibar (Madinah) dapat dijadikan spirit sistem pengelolaan wakaf secara produktif. Ketika Rasulullah ditanya oleh Umar tentang sebidang tanah di Khaibar yang sangat subur, Rasulullah menjawab yang intinya: tahan pokoknya dan sedekahkan hasilnya (ihbis ashlaha wa tashaddaq tsamrataha).
Maksud dari dialog tersebut dapat dipahami bahwa Rasulullah menginginkan agar sebidang tanah Umar tersebut dikelola secara produktif dan hasilnya untuk kepentingan kebajikan umum. Dialog itu mengandung pesan yang menekankan pada aspek produktifitas dengan tetap memperhatikan aspek kekekalan substansinya (dzatnya), sehingga kemanfaatannya dapat terus dinikmati umat dan berpahala mengalir abadi.
Nah, berdasarkan dialog Rasulullah-Umar tersebut, seharusnya tidak ada istilah harta benda wakaf membebani umat, karena prinsip dari wakaf itu sendiri sesungguhnya untuk meningkatkan kesejateraan masyarakat, baik pada ranah spiritual maupun materiil.
Untuk mengimplementasikan sistem pengelolaan yang diisyaratkan oleh Rasulullah, Ditjen Bimas Islam telah memfasilitasi di berbagai event dalam rangka menggalang kemitraan usaha dengan para calon investor seperti BKPM dan KADIN di beberapa daerah dalam pemberdayaan wakaf secara produktif. Aset-aset wakaf di Indonesia yang cukup besar sangat potensial untuk dikembangkan dengan mengajak beberapa lembaga pihak ketiga yang tertarik dalam pengembangan wakaf untuk memaksimalkan peran sosial-ekonomi wakaf untuk kesejahteraan umum.
Prinsip dari system kerja sama yang ingin dikembangkan oleh Departemen Agama adalah prinsip Syariah yang tidak bertentangan dengan paradigma pengelolaan asset wakaf, yaitu menjaga keutuhan aset, dan boleh mengembangkannya melalui berbagai pola dan system sesuai dengan prinsip yang tidak bertentangan dengan
Harus diakui, pola pengelolaan dengan sistem itu memiliki kelebihan karena tetap mementingkan eksistensi aset. Hal ini seperti pola pengelolaan dana abadi, dimana tidak boleh kurang asetnya dengan menekankan pada