Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada Materi Sistem Organisasi Kehidupan Makhluk Hidup melalui Model
Problem Based Learning dan Metode Praktikum
Rahma1, Alimin2, Martiningsih3
SMPN 2 Galesong Utara1, Universitas Negeri Makassar2, SMPN 6 Makassar3
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada materi sistem organisasi kehidupan makhluk hidup melalui model pembelajaran Problem Based Learning dan metode praktikum. Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan subjek penelitian adalah siswa kelas VII G SMPN 2 Galesong Utara yang berjumlah 20 orang.
Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan tes hasil belajar yaitu tes pilihan ganda dan uraian. Data yang dikumpul dianalisis dengan menggunakan analisis statistik deskriptif dan diperoleh skor rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 70,50 siklus II 74,20 dan siklus III 80,75. Ketuntasan hasil belajar secara klasikal pada siklus I sebesar 45%. Pada siklus II dan siklus III terjadi peningkatan yaitu 60%, dan 90%. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning dan metode praktikum dapat meningkatkan hasil belajar siswa
Kata Kunci : Model pembelajaran Problem Based Learning, metode praktikum, hasil belajar materi sistem organisasi kehidupan makhluk hidup.
1. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan sarana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan cara memperbaiki proses belajar mengajar. Belajar mengajar pada dasarnya adalah hubungan timbal balik antara guru dan siswa. Guru dituntut untuk bisa sabar dan mempunyai sikap terbuka disamping kemampuan dalam situasi belajar mengajar yang lebih aktif. Tugas seorang guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa tidaklah mudah. Guru harus memiliki berbagai kemampuan yang dapat menunjang tugasnya agar tujuan pendidikan dapat dicapai. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam meningkatkan kompetensi profesinya ialah
kemampuan mengembangkan model pembelajaran. Dalam mengembangkan model pembelajaran seorang guru harus dapat menyesuaikan antara model yang dipilihnya dengan kondisi siswa, materi pelajaran, dan sarana yang ada. Oleh karena itu, guru harus menguasai beberapa jenis model pembelajaran agar proses belajar mengajar berjalan lancar dan tujuan yang ingin dicapai dapat terwujud.
Sub pokok bahasan pada penelitian ini adalah sistem organisasi kehidupan makhluk hidup. Pengajaran sistem organisasi kehidupan makhluk hidup kepada siswa SMP termasuk sulit karena siswa umumnya sulit mengerti terutama bila pengajaran hanya dilakukan secara konvensional melalui metode ceramah saja. Untuk itu perlu dipikirkan model dan metode pengajara yang mampumeningkatkan minat siswa dalam [email protected]
mempelajari IPA pada sub pokok bahasan organisasi kehidupan makhluk hidup sehingga menjadi menarik dan mudah dimengerti oleh siswa.
Pada penelitian tindakan kelas ini dipilih penerapan model pembelajaran Problem Based Learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Pembelajaran dilakukan secara berdiskusi dari permasalahan yang diberikan oleh guru. Model pembelajaran Problem Based Learning ini merupakan inovasi dalam pembelajaran, hal ini karena dalam penerapannya kemampuan berpikir siswa dioptimalkan melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji, dan mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan.
Studi yang dilakukan oleh Widodo (2013) menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang rendah disebabkan oleh kurangnya partisipasi aktif dan keterlibatan siswa selama proses pembelajaran. Penerapan model pengajaran berbasis masalah dianggap mampu mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Dari penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa. Hasil serupa juga dikemukakan oleh Vasconcelos (2012) bahwa PBL dapat membantu siswa mengembangkan kelompok kerja kolaboratif dalam mempelajari masalah lingkungan di kehidupan nyata, selain menjadi metode pembelajaran yang aktif dan dinamis bagi siswa.
Ilmu pengetahuan alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta- fakta konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah.
Metode pengajaran yang menjadi pilihan adalah metode praktikum. Sebagai metode pengajaran, metode praktikum bertujuan untuk membantu proses belajar mengajar agar lebih mudah dicerna dan diingat oleh siswa. Metode pengajaran dengan menggunakan metode praktikum akan dapat menolong siswa dalam memikirkan konsep pengetahuan dan kenyataan di laboratorium melalui percobaan atau praktikum. Dengan demikian kesan pembelajaran akan memberikan efektifitas yang lebih baik dalam meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi (Anna, 2003). Metode ini menekankan pada kegiatan yang harus dialami sendiri, dicari dan ditemukan sendiri data dan pemecahannya. Metode mengajar seperti ini, siswa mencari dan menyelidiki sendiri, kebenaran dari sesuatu objek maupun proses.
Siswa harus mengalami sendiri dan bukan hanya percaya atau mengandalkan keterangan guru ataupun penjelasan yang diuraikan dalam suatu buku pelajaran. Prinsip yang mendukung metode ini adalah pendapat bahwa murid harus dapat mencapai suatu defenisi (batasan), memahami cara kerjanya, memahami hukum-hukum atau dalil-dalil melalui percobaan yang dapat dikontrol dan bukan hanya menghapalkan diluar kepala dari buku-buku atau catatan yang diperoleh dari guru, artinya dengan praktikum berarti siswa melihat dan mengamati fenomena alam sekitar (Utomo, 2011).
Berdasakan hasil observasi yang dilakukan peneliti dan berdasarkan pengalaman nyata selama mengajar di SMPN 2 Galesong Utara diperoleh hasil observasi bahwa guru pada saat melakukan pembelajaran masih kurang dalam memanfaatkan dan menggunakan metode praktikum di sekolah sebagai sebuah model alternatif dalam menyampaikan materi, tapi lebih banyak menggunakan metode konvensional. Sehingga terlihat siswa merasa bosan dan menganggap bahwa pembelajaran kurang menarik yang ditunjukkan dengan sikap siswa dalam belajar yang tidak serius seperti berbicara dengan teman sebangku dan
bermain handphone. Saat diinstruksikan untuk melakukan percobaan tampak siswa kebingungan yang terlihat dari sikap siswa kurang terampil dalam melakukan praktikum.
Hal ini berdampak pada hasil belajar siswa yang masih banyak dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditetapkan oleh sekolah dan guru yaitu 73. Berdasakan hasil wawancara dengan guru IPA di SMPN 2 Galesong Utara, pada materi sistem organisasi kehidupan makhluk hidup sebesar 63,33%
siswa tidak tuntas dengan metode pembelajaran secara konvensional.
Berdasarkan fakta-fakta tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada Materi Sistem Organisasi Kehidupan Makhluk Hidup melalui Model Problem Based Learning dan Metode Praktikum Siswa Kelas VII G SMPN 2 Galesong Utara. Melalui penggunaan pendekatan ini diharapkan hasil belajar siswa di SMPN 2 Galesong Utara dapat ditingkatkan.
2. METODE
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang disebut juga Classroom Action Research / CAR ( Kunandar,2008:41).
PTK adalah suatu jenis penelitian yang berbasis kepada kelas. Oleh karena itu, penelitian ini harus dilakukan di kelas yang sehari- hari diajar oleh guru, dengan tujuan agar guru dapat memperbaiki kegiatan pembelajaran menjadi lebih baik. Perbaikan yang dimaksudkan dalam penelitian ini berupa peningkatan hasil belajar siswa.
Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) bertujuan untuk menyelesaikan masalah yang dialami guru dan siswa melalui penerapan belajar langsung di kelas atau sebagai tindak lanjut bagi guru untuk memperbaiki hal-hal yang kurang tepat dilakukannya di saat berlangsungnya proses belajar mengajar di kelas.
Penelitian ini dilakukan di kelas VII. G SMPN 2 Galesong Utara semester ganjil tahun ajaran 2020/2021 dengan jumlah
peserta didik 20 orang, terdiri dari 4 orang peserta didik laki-laki dan 16 orang peserta didik perempuan. Penelitian ini terdiri dari tiga tahapan utama yaitu 1) perencanaan, 2) tindakan dan pengamatan, dan 3) refleksi.
a. Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan yaitu: a) menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang berisikan langkah-langkah proses pembelajaran dengan model PBL dengan metode praktikum dan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), b) menyusun soal tes yang akan diberikan pada setiap akhir siklus.
b. Tindakan dan observasi
Tahap tindakan dan pelaksanaan dilakukan secara bersamaan. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru yang menyampaikan pembelajaran berdasarkan RPP. Pelaksanaan awal penelitian dilakukan dengan memberikan tes awal pada peserta didik, kemudian dilanjutkan dengan memberikan perlakuan dengan menerapkan pembelajaran model PBL dengan metode praktikum.
c. Refleksi
Tahap ini peneliti mengumpulkan data yang telah diperoleh selama observasi, berupa hasil tes peserta didik. Kegiatan refleksi merupakan kegiatan yang sangat penting yang bertujuan untuk mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilakukan dengan melihat apa yang masih perlu diperbaiki, ditingkatkan atau dipertahankan. Tindakan ini merupakan salah satu bentuk evaluasi terhadap diri sendiri.
Dari hasil refleksi tersebut dicari solusinya kemudian dilanjutkan pada siklus berikutnya.
Ketiga tahapan ini dilakukan secara berulang ke siklus berikutnya sampai masalah yang dihadapi dapat teratasi dan diperoleh hasil yang ajeg (Saregar, A. 2016). Indikator keberhasilan dalam pembelajaran ini
tercermin dari adanya peningkatan hasil belajar peserta didik di setiap siklusnya, yaitu peningkatan hasil belajar kognitif baik secara individual maupun klasikal. Dimana KKM untuk mata pelajaran IPA kelas VII di SMPN 2 Galesong Utara adalah 73. KKM berfungsi sebagai patokan guru dalam menilai kompetensi peserta didik sesuai kompetensi dasar mata pelajaran yang diikuti (Ratumanan
& Laurens, 2011). Peserta didik dianggap tuntas belajar bila memperoleh nilai 73 atau sama dengan atau lebih besar dari nilai KKM (Novitasari, Devi., Wahyuni, Dwi., &
Prihatin, Jekti, 2015). Selain itu secara klasikal diharapkan siswa memahami materi yang dipelajari dengan pencapaian 75% siswa dapat tuntas pada kompetensi dasar yang diberikan (Gumrowi, A. 2016). Menghitung Ketuntasan Belajar Klasikal (KBK) menggunakan rumus sebagai berikut:
Jumlah peserta didik tuntas
KBK= x100%
Jumlah peserta didik
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil belajar siswa merupakan upaya kemampuan siswa dalam menguasai materi pembelajaran melalui model PBL ( Problem Based Learning ) dan metode Praktikum yang dilakukan oleh peneliti dalam tiga siklus.
Adapun hasil rekapitulasi mengenai nilai hasil tes, baik tes awal dan tes akhir setiap siklus, yaitu siklus I, siklus II, dan siklus III, dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.
Tabel 1. Hasil Belajar Siswa
Keterangan Tes Awal
Siklus I
Siklus II
Siklus III Nilai Tertinggi 75 80 85 90 Nilai Terendah 40 60 60 70 Rata-Rata 56,50 70,50 74,20 80,75
Keterangan Tes Awal
Siklus I
Siklus II
Siklus III Jumlah peserta
didik yang tuntas
1 orang
9 orang
13 orang
18 orang Ketuntasan
belajar klasikal 5 % 45 % 60 % 90 % Pembahasan
Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa hasil belajar kognitif peserta didik mengalami peningkatan disetiap siklus. Pada tes awal persentase KBK 5% yang artinya hanya 1 orang peserta didik yang tuntas. Hal ini dikarenakan peserta didik sama sekali belum diajarkan materi tersebut. Setelah pemberian tindakan pada siklus I, diperoleh persentase KBK sebesar 45% dengan kategori sangat kurang. Dari hasil analisis siklus I, proses pembelajaran dengan model PBL dan metode praktikum belum mencapai kriteria ketuntasan 75%, sehingga dapat dikatakan bahwa hasil belajar kognitif peserta didik pada siklus I belum berhasil. Hal ini disebabkan peserta didik masih bingung dan kesulitan dalam mengerjakan LKPD yang diberikan, selain itu peserta didik juga masih sangat kebingungan dan belum mengerti cara menggunakan alat-alat praktikum karena tidak terbiasa melakukan praktikum di laboratorium. Sebagaimana dikatakan oleh Majid (2013) kesulitan belajar adalah salah satu hambatan terhadap upaya peserta didik dalam mencapai tujuan belajar. Olehnya itu dengan mengacu hasil refleksi siklus I, maka guru melakukan upaya perbaikan dalam melaksanakan proses pembelajaran pada siklus II.
Pada siklus II diperoleh persentase klasikal 60% dengan kategori cukup.
Peningkatan hasil belajar kognitif dari siklus I (45%) kesiklus II (60%) adalah sebesar 15%.
Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan model PBL dan metode praktikum pada siklus II juga belum berhasil. Hal ini disebabkan peserta didik masih kurang lancar
dan kurang mahir dalam menggunakan
alat-alat praktikum di laboratorium. Olehnya itu guru terus melakukan upaya perbaikan dalam melaksanakan proses pembelajaran pada siklus III.
Pada siklus III diperoleh persentase klasikal 90%. Peningkatan hasil belajar kognitif dari siklus II (60%) ke siklus III (90%) adalah sebesar 30%. Hal ini terjadi karena peserta didik mengikuti pembelajaran dengan baik dan memahami materi yang mereka telah terima serta terampil dalam menggunkan alat-alat praktikum di laboratorium. Hal senada yang disampaikan oleh (Novitasari Devi, Dwi Wahyuni, Jekti Prihatin, 2015) bahwa PBL ini memiliki kelebihan yaitu lebih ingat dan meningkatkan pemahamannya atas materi ajar, meningkatkan fokus pada pengetahuan yang relevan, mendorong untuk berpikir, membangun kerja tim, kepemimpinan, dan keterampilan sosial, membangu kecakapan belajar, memotivasi pembelajar, realistik dengan kehidupan siswa. Hal senada juga disampaikan oleh (Deni Juwita, 2015) bahwa Metode praktikum adalah metode pembelajaran yang akan membuat siswa lebih mudah memahami konsep IPA dari materi yang akan dipelajari. Dengan penerapan metode praktikum ini diharapkan siswa bisa lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran dan dapat meningkatkan hasil belajar (Vindri Catur, 2013). Secara klasikal proses pembelajaran pada siklus III dinyatakan tuntas karena telah memenuhi kriteria ketuntasan belajar 75%.
Berdasarkan data hasil belajar peserta didik menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran PBL dan metode praktikum dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi Sistem Organisasi Kehidupan Makhluk Hidup. Hal ini sesuai dengan dengan penelitian yang dilakukan Fathimah Zahrah (2017) yang menyatakan bahwa penerapan praktikum dengan model Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan keterampilan berfikir kritis siswa pada konsep laju reaksi dan penelitian yang dilakukan oleh Nensy Rerung (2017) yang menyatakan
bahwa penerapan model pembelajaran PBL dapat meningkatkan hasil belajar kognitif pada materi usaha dan energi.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan tujuan penelitian, hasil dan pembahasan, maka kesimpulan penelitian ini yaitu: Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan metode praktikum dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi Sistem Organisasi Kehidupan Makhluk Hidup di kelas VII.G SMPN 2 Galesong Utara. Hal ini dapat dilihat berdasarkan peningkatan persentase KBK.
Persentase KBK pada siklus I sebesar 45%.
Pada siklus II dan III meningkat yaitu 60%, dan 90%.
5. UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. Alimin, MS selaku dosen pembimbing. Terimakasih kepada Ibu Martiningsih, S. Pd., M. Pd. selaku guru pamong yang telah banyak mengorbankan tenaga dan waktu serta pikirannya dalam membimbing penulis. Selanjutnya, kepada Ratnasari, S. Pd. yang telah banyak membantu penulis, sehingga artikel ini bisa terselesaikan.
REFERENSI
Anna, P. (2003). Pengembangan Model Pembelajaran Kimia Berbasis Experimen Pada Bahan Kajian Larutan untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis dan Keterampilan Proses Sains Peserta Didik SMU. Laporan Penelitian.
Bandung: UPI.
Deni, J. (2015). Pengaruh Model Quantum Teaching Dengan Metode Praktikum
Terhadap Kemampuan
Multipresentasi Siswa Pada Mata Pelajaran Fisika Kelas X di SMA Plus
Darul Hikmah. Jurnal Pendidikan Fisika, Vol. 4 No.2, September 2015, hal 116 – 120.
Gumrowi. A. (2016). Meningkatkan Hasil Belajar Listrik Dinamik Menggunakan Strategi Pembelajaran Team Assisted Individualization Melalui Simulasi Crocodile Physics.
Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika Al- Biruni, 5 (1) 105-111.
Kunandar. (2008). Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta:
Rajawali Pers.
Novitasari, D., Wahyuni, D., & Prihatin J.
(2015). Pembelajaran Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Dilengkapi Teknik Mind Mapping Terhadap Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa SMAN 1 Pakusari Jember Pokok Bahasan Jamur Kelas X Semester Gasal Tahun Ajaran 2013/2014. Jurnal Pancaran, 4 (2) 35- 47.
Ratumanan & Laurens. (2011). Penilaian Hasil Belajar pada Tingkat Satuan Pendidikan Edisi 2. Ambon: Unesa University Press.
Rerung Nensy. (2017). Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta didik SMA pada Materi Usaha dan Energi. Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika Al-BiRuNi, 06 (1), 47-55.
Saregar. A. (2016). Pembelajaran Pengantar Fisika Kuantum Dengan Memanfaatkan Media Phet Simulation dan LKM Melalui Pendekatan Saintifik: Dampak Pada Minat dan Penguasaan Konsep Mahasiswa.
Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika Al- Biruni, 5 (1) 53-60.
Utomo, P, M. (2011). Adaptasi Pelaksanaan Praktikum Kimia Negara OECD.
Yogyakarta: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta.
Vasconcelos, C. (2010). Teaching Environmental Education through PBL: Evaluation of a Teaching Intervention Program. DOI 10.1007/s11165-010-9192-342:219–
232 Research Science Education.
Oporto University. Portugal.
Vindri, C. (2013). Penerapan Pembelajaran Berbasis Praktikum Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains dan Penguasaan Konsep Siswa Kelas XI IPA 1 di SMA
Muhammadiyah 1 Malang.
Jurnal Pendidikan Fisika, Vol. 2 No.3, hal 11 – 20.
Widodo, L. W. (2013). Peningkatan Aktivitas Belajar dan Hasil Belajar Siswa dengan Metode Problem Based Learning Pada Siswa Kelas VIIA MTs Negeri Donomulyo Kulon Progo Tahun Pelajaran 2012/2013. Jurnal Fisika Indonesia Universitas Ahmad Dalan, Yogyakarta,49, (XVII).
Zahrah Fathimah. (2017). Penerapan Praktikum dengan Model Problem Based Learning (PBL) pada Materi Laju Reaksi di SMA Negeri 1 Lembah Selawah. Jurnal Pendidikan Sains Indonesia, Vol. 5 No.2, hlm. 115-123.