BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia, dimana data penelitian dikumpulkan dengan melakukan dokumentasi terhadap pemberitaan mengenai dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama pada Media Online Kompas.com dan Republika.co.id periode Oktober – November 2016 secara online.
Adapun waktu penelitian ini dilakukan dalam jangka waktu 1 tahun 1 bulan terhitung dari bulan November 2019 sampai dengan bulan Desember 2020.
2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan analisis framing. Menurut Cresswell dalam Silalahi (2009, h. 77), penelitian kualitatif didefinisikan sebagai “suatu proses penyelidikan untuk memahami masalah sosial berdasarkan pada penciptaan gambaran holistik lengkap yang dibentuk dengan kata-kata, melaporkan pandangan informan secara terperinci, dan disusun dalam sebuah latar alamiah”. Sementara menurut Sugiyono (2013, h. 1), metode penelititian kualitatif adalah:
“Metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi”.
Penelitian kualitatif meletakkan penelitinya sebagai instrumen (human instrument) dan oleh karenanya, apabila hendak melakukan penelitian dengan metode ini, peneliti haruslah memiliki pemahaman akan commit to user
teori dan pengetahuan yang luas sehingga objek dari penelitian yang dilakukan menjadi lebih jelas dan bermakna. Peneliti menggunakan data pasti dalam penelitian kualitatif. Data ini adalah data yang murni, apa adanya, tanpa adanya perubahan sama sekali, seperti yang ditemui di lapangan. Dan untuk mendapatkan data seperti ini, peneliti membutuhkan beragam sumber data maupun teknik pengumpulan data. Dan data yang dipakai pun tidaklah sembarangan, tetapi data yang mengandung suatu makna.
Dalam konteks ilmu komunikasi, metode penelitian kualitatif dimaksudkan untuk memberikan ilustrasi dan/atau pengertian terhadap bagaimana dan mengapa suatu realitas komunikasi atau fenomena bisa terjadi (Pawito, 2008, h. 35).
Penelitian yang akan dilakukan ini akan menggambarkan bagaimana dua media online yang saling berseberangan secara ideologi, Kompas.com dan Republika.co.id, dalam melakukan konstruksi pemberitaan dan pembingkaian (framing) terhadap isu dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, pada saat berkunjung ke Pulau Pramuka.
Analisis Framing merupakan bagian dari metode analisis teks yang terkategorikan dalam paradigma konstruksionis, dimana realitas yang dijumpai tidaklah muncul secara tiba-tiba atau terbentuk secara alamiah, melainkan dibentuk dan dikonstruksi. Penelitian ini akan menggunakan analisis framing untuk meneliti isu dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pada 2016 silam.
Analisis ini digunakan karena peneliti ingin melihat bagaimana kedua media online tersebut melakukan konstruksi dan pembingkaian atas isu dugaan penistaan agama tersebut kepada audiensnya.
3. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel
Pada metode penelitian kualitatif, populasi disebut dengan istilah social situation (situasi sosial) yang terbagi atas tiga bagian, yakni tempat, commit to user
pelaku, dan aktivitas yang saling berhubungan antara satu sama lainnya (Sugiyono, 2013, h. 49).
Elemen pertama dari situasi sosial adalah tempat. Tempat adalah sumber data yang kerap dimanfaatkan oleh peneliti. Tempat terhubung dengan permasalahan yang hendak ditelitu (Sutopo, 2006, h. 60). Dari pemahaman yang didapat oleh peneliti melalui elemen ini, peneliti dapat melakukan pengkajian secara kritis dan membuat deduksi kesimpulan yang berhubungan dengan topik permasalahan yang dikaji.
Dalam penelitian ini, tempat yang dijadikan kajian penelitian adalah Kompas.com dan Republika.co.id. Dari kedua media online ini, peneliti dapat memperoleh informasi berupa pemberitaan (terutama yang sifatnya straight news) mengenai kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.
Kedua, yakni pelaku. Dalam penelitian ini, pelaku merupakan keseluruhan tim redaksi masing-masing media yang terdiri atas wartawan, redaktur pelaksana, kepala redaksi, dan penanggung jawab redaksi yang berkontribusi dalam tahap pembentukan dan konstruksi realitas.
Ketiga, yakni aktivitas. Dimana wartawan memperhatikan suatu fenomena yang terjadi di lapangan dan dilanjutkan dengan tahapan pembentukan dan konstruksi pesan dan realitas, melalui tahap editing dan pemilihan berita sehingga akhirnya diunggah pada portal berita.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh pemberitaan bersifat straight news yang ditampilkan pada portal media online Kompas.com dan Republika.co.id pada periode 6 Oktober – 16 November 2016 dimana pemberitaan masih berfokus pada kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama. Periode tersebut dipilih karena pada tanggal 6 Oktober 2016, Buni Yani mengunggah narasi penistaan agama oleh Ahok lengkap dengan video pendek pidato Ahok dalam akun facebooknya, yang mana selanjutnya menjadi viral dalam waktu yang singkat, dan tanggal 16 November 2016 adalah waktu dimana Bareskrim Mabes Polri menetapkan Ahok sebagai tersangka kasus dugaan commit to user
penistaan agama. Periode ini juga dipilih karena fokus pemberitaan mulai beralih pada bahasan mengenai Aksi Bela Islam yang dilakukan secara masif di Jakarta setelah periode tersebut berlangsung.
Pada penelitian kualitatif, teknik sampling lebih bersifat purposive karena dianggap dapat menjangkau kelengkapan dan kedalaman data dalam menghadapi realitas yang bersifat abstrak. Dalam penelitian kualitatif, sampling (cuplikan) atau juga sering disebut sebagai internal sampling memiliki sifat yang bertolakbelakang dengan sifat sampling yang terdapat pada penelitian kuantitatif (external sampling). Sampling pada penelitian kualitatif diambil untuk dipakai informasinya, dan bukan populasinya. Kelengkapan dan kedalamannya pun tidak ditentukan oleh besaran sumber data yang diperoleh. Hal ini dikarenakan informan yang jumlahnya sedikit mampu memberi informasi secara detail dan kredibel (Sutopo, 2006, h. 63). Pengambilan sampel bersifat purposive ini tentunya dengan pertimbangan tertentu dari peneliti. Lincoln dan Guba (1985) dalam Sugiyono (2008, h. 54) menyatakan bahwa setidaknya ada empat ciri khusus sampel purposive yakni:
a. Emergent sampling design/sementara
b. Serial selection of sample units/menggelinding seperti bola salju (snow ball)
c. Continuous adjustment or ‘focusing’ of the sample/disesuaikan dengan kebutuhan
d. Selection to the point of redundancy/dipilih sampai jenuh Adapun kriteria purposive sampling yang digunakan oleh peneliti adalah sebagai berikut:
a. Pemberitaan dari media kompas.com dan republika.co.id dipilih berdasarkan urutan waktu dimulai dengan munculnya narasi mengenai isu dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama yang diunggah oleh Buni Yani dalam akun facebooknya tertanggal 6 Oktober 2016 sampai dengan commit to user
penetapan Basuki Tjahaja Purnama sebagai tersangka kasus penistaan agama oleh Bareskrim Polri pada 16 November 2016.
b. Berita dari kompas.com dan republika.co.id dipilih berdasarkan kemiripan informasi dan bahasan yang saling berkaitan dengan isu dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, pada saat lawatannya ke Pulau Pramuka, Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta.
4. Data dan Sumber Data
Data yang hendak digunakan dalam penelitian dihimpun dari beragam sumber. Dan data ini memiliki dua macam sumber data, yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer berasal dari materi orisinil pelaku, yang biasa juga disebut dengan informasi tangan pertama (firsthand information), dan terdiri atas dokumen legal, historis, data statistic, hasil eksperimen, naskah penulisan kreatif, dan objek-objek seni (Silalahi, 2009, h. 289).
Data primer yang hendak dikumpulkan dalam penelitian ini menggunakan dokumentasi dengan cara memilih pemberitaan bersifat straight news mengenai isu dugaan penistaan yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama pada media online Kompas.com dan Republika.co.id periode 6 Oktober – 16 November 2016. Berita-berita tersebut dapat diperoleh dengan mengakses secara online dengan bantuan internet masing-masing portal media online yang hendak dikaji.
Pemberitaan bersifat straight news sendiri dipilih karena merupakan format penulisan fakta dalam pers (Mursito, 2006, h. 161).
Straight news disusun berdasarkan rumus 5W + H (what, who, when, where, why, dan how) yang mana disusun berdasarkan piramida terbalik, dikarenakan kesibukan pembaca surat kabar sehingga mereka hanya
commit to user
membaca judul dan lead berita saja dan terbatasnya halaman yang disediakan oleh media.
Adapun daftar berita yang tayang pada portal media Kompas.com dan Republika.co.id periode 6 Oktober –16 November 2016 adalah sebagai berikut:
Tabel III.1
Daftar Berita Kompas.com yang Dianalisis No Tanggal/Waktu Terbit Judul Berita
1 6 Oktober 2016/Pukul 20.51 WIB
Kata Ahok, Lawan Politik yang Buat Videonya Kutip Ayat Suci Jadi
"Viral"
2 7 Oktober 2016/Pukul
10.22 WIB Ahok Bantah Menghina Kitab Suci 3 10 Ooktober 2016/Pukul
09.24 WIB
Ahok Minta Maaf kepada Umat Islam
4 11 Oktober 2016/Pukul 22.40 WIB
Lakukan Kajian, Ini Pendapat MUI Soal Pernyataan Ahok
5 12 Oktober 2016/Pukul 15.29 WIB
Bareskrim Polri Serahkan Video Lengkap Pernyataan Ahok ke Laboratorium Forensik 6 13 Oktober 2016/Pukul
18.46 WIB
Bawaslu DKI Sebut Ahok Tak Langgar Aturan Pemilu
7 17 Oktober 2016/Pukul 17.04 WIB
Ini Penjelasan Polisi Soal Kesaksian Masyarakat Kepulauan Seribu atas Video Ahok
8 24 Oktober 2016/Pukul 14.16 WIB
Polisi Klarifikasi Ahok Terkait Konten Video yang Mengutip Ayat Suci
9 6 November 2016/Pukul 16.35 WIB
Polri Pastikan Gelar Perkara Ahok Dilakukan Terbuka
10 7 November 2016/Pukul 18.10 WIB
Sembilan Jam Diperiksa Bareskrim, Ahok Dicecar 22 Pertanyaan
11 15 November 2016/Pukul 13.26 WIB
Ini Alasan Ahok Tak Hadiri Gelar Perkara Kasus Dugaan Penistaan Agama
12 16 November 2016/Pukul 10.21 WIB
Saat Polri Umumkan Status Tersangka, Ahok Asyik Layani Aduan Warga
Sumber: http://www.kompas.com/indeks commit to user
Tabel III.2
Daftar Berita Republika.co.id yang Dianalisis No Tanggal/Waktu Terbit Judul Berita
1 6 Oktober 2016/Pukul 14.17 WIB
Video Ahok: Anda Dibohongi Al- Quran Surat Al-Maidah 51 Viral di Medsos
2 7 Oktober 2016/Pukul 08.14 WIB
Komnas HAM: Lecehkan Al-Quran, Ahok Harus Segera Minta Maaf 3 10 Oktober 2016/Pukul
10.12 WIB
Minta Maaf, Ahok Minta Kasus Al- Maidah 51 Tak Dilanjutkan
4 11 Oktober 2016/Pukul 16.06 WIB
Ini Tanggapan Resmi MUI Soal Pernyataan Ahok tentang Al-Maidah 5 12 Oktober 2016/Pukul
15.07 WIB
Bareskrim Kirim Rekaman Video Pidato Ahok ke Puslabfor
6 13 Oktober 2016/Pukul 18.09 WIB
Bawaslu DKI Mengaku Tak Bisa Tindak Lanjuti Kasus Ahok 7 17 Oktober 2016/Pukul
11.06 WIB
Bareskrim Periksa Saksi di Pulau Seribu, Ini Hasilnya
8 24 Oktober 2016/Pukul 16.46 WIB
Diperiksa Bareskrim, Ahok Ditanya Kegiatannya di Kepulauan Seribu 9 6 November 2016/Pukul
20.19 WIB
Gelar Perkara Kasus Ahok akan Dilakukan Secara Terbuka 10 7 November 2016/Pukul
18.39 WIB
Ahok Disuguhkan 22 Pertanyaan, Ini Hasilnya
11 15 November 2016/Pukul 09.30 WIB
Alasan Ahok Tak Hadiri Gelar Perkara
12 16 November 2016/Pukul 10.31 WIB
Ditetapkan Jadi Tersangka, Ini Tanggapan Resmi Ahok Sumber: http://www.republika.co.id/indeks
Sementara itu, data sekunder atau informasi tangan kedua (second- Hnd information) adalah data yang didapatkan dari sumber-sumber lain yang telah ada seperti halnya bahasan mengenai materi asli, komentar, dan juga interpretasi sebelum penelitian dilakukan (Silalahi, 2009, h. 291).
Data sekunder yang diimplementasikan pada penelitian ini adalah studi pustaka berupa materi penelitian yang terdapat dalam surat kabar, commit to user
majalah, atau portal daring, buku-buku literatur terkait, penelitian terdahulu berupa skripsi, jurnal ilmiah, dan artikel ilmiah yang relevan dengan objek yang dikaji.
Penulis juga memakai prosedur wawancara, yang digunakan untuk menguji keabsahan data penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti mewawancarai Pemerhati Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta, meFngenai framing isu dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama pada media online kompas.com dan republika.co.id.
5. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian, pengumpulan data adalah salah satu hal yang krusial karena tujuan utama dari dilakukannya penelitian adalah untuk memperoleh data. Seorang peneliti yang tidak mengetahui seperti apa teknik pengumpulan data, maka peneliti tersebut tidak akan memperoleh data yang sesuai dengan standar data yang ditetapkan (Sugiyono, 2008, h.
62). Teknik pengumpulan masing-masing data dalam penelitian ini akan dijabarkan sebagai berikut:
a. Data Primer 1. Dokumentasi
Pada penelitian ini, dokumentasi dipakai sebagai sumber data primer dari penelitian. Jenis dokumentasi yang digunakan yakni dokumen berupa berita yang terdapat pada portal media online Kompas.com dan Republika.co.id. Berita yang dikumpulkan adalah semua pemberitaan pada kedua media yang membahas tentang isu dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama dalam rentang waktu 6 Oktober – 16 November 2016. Teknik pengumpulan data dengan teknik dokumentasi ini paling krusial dilakukan karena peneliti hendak melakukan pengkajian pada pemberitaan kedua media terkait isu dugaan penistaan agama tersebut. commit to user
b. Data Sekunder 1. Studi Pustaka
Peneliti menggunakan studi pustaka untuk menghimpun data mengenai pemberitaan isu dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama pada kedua media yang diteliti, yakni Kompas.com dan Republika.co.id. Studi pustaka dilakukan dengan mencari buku-buku, literatur, catatan, dan artikel ilmiah yang berhubungan dengan topik penelitian.
2. Penelusuran Data Online
Sebagai tambahan data pada studi pustaka yang diperoleh pada dokumen cetak dalam bentuk buku, literatur, catatan, dan artikel ilmiah, peneliti juga melakukan pengumpulan data dengan metode penelusuran data online yang berhubungan dengan topik analisis framing dan permasalahan yang hendak dikaji.
Penelusuran data online sendiri merupakan suatu metode pengumpulan data penelituan yang dilakukan dengan cara menelusuri data pada media daring seperti internet atau media jaringan lainnya yang tersedia secara daring, dimana data dan informasi yang mampu dipertanggungjawabkan secara akademis terdapat di dalamnya dapat dimanfaatkan oleh peneliti dengan mudah dan cepat (Bungin, 2011, h. 128).
3. Wawancara
Wawancara yang dilakukan sebagai instrumen pengumpulan data dalam penelitian kualitatif memiliki tujuan dan biasanya didahului dengan pertanyaan yang bersifat informal. Esterberg (2002) dalam Sugiyono (2013, h. 72) mendefinisikan interview sebagai berikut:
“A meeting of two persons to exchange information and idea through question and responses, resulting in communication and joint construction of meaning about commit to user
particular topic” (wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu).
Dalam penelitian ini, peneliti mewawancara Pemerhati Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan topik bahasan mengenai framing isu dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama pada media online kompas.com dan republika.co.id. Tahapan wawancara ini dilakukan oleh penulis sebagai bentuk uji validitas data berupa triangulasi metode, dimana peneliti membandingkan hasil temuan dari analisis yang dilajukan dengan hasil wawancara dengan informan. Dengan adanya keragaman perspektif maka diharapkan diperoleh hasil yang mendekati kebenaran (Gunawan, 2017, h. 220).
6. Uji Validitas Data
Tujuan dari uji validitas data adalah untuk membuktikan bahwa data hasil temuan penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah kebenarannya. Dan triangulasi merupakan salah satu uji validitas data yang kerap kali dipakai dalam penelitian kualitatif. Pawito (2007, h. 97) menjelaskan bahwa “Validitas data dalam penelitian komunikasi kualitatif lebih menunjuk pada tingkat sejauh mana data yang diperoleh telah secara akurat mewakili realitas gejala yang diteliti.”
Menurut Patton dalam Pawito (2007, h. 99-100), terdapat empat macam teknik triangulasi, diantaranya adalah triangulasi data (sering kali juga disebut dengan triangulasi sumber), triangulasi metode, triangulasi teori, dan triangulasi peneliti.
Pertama, triangulasi data (triangulasi sumber). Dilakukan oleh peneliti dengan cara mencari sumber-sumber yang lebih beragam untuk melengkapi data yang membahas persoalan serupa. Peneliti lalu commit to user
membandingkan data-data yang telah didapatkannya tersebut untuk diuji datanya.
Kedua, triangulasi metode, yakni dimana peneliti melakukan perbandingan atas hasil temuan data yang didapatkan dengan memakai metode tertentu (catatan observasi, misalnya) dengan data yang didapat dengan metode lain (transkrip wawancara mendalam) mengenai suatu permasalahan dan berasal dari sumber yang sama. Metode ini biasanya didapati pada penelitian komunikasi kualitatif yang memakai multiple methods. Patton dalam Moleong (2014, h. 331) menyatakan bahwa terdapat dua strategi dalam triangulasi dengan metode, yakni, “Pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data dan pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama”. Pada teknik triangulasi ini, diperlukan adanya peneliti atau pengamat lain untuk melakukan peninjauan ulang derajat kepercayaan data. Dengan adanya peninjuan yang dilakukan oleh peneliti lain, maka akurasi dalam pengumpulan data dapat terbantukan.
Cara lain yang dapat dilakukan dengan menggunakan satu tim penelitian dan dengan melakukan perbandingan hasil pekerjaan antaracsatu analis dengan analis lainnya.
Ketiga, triangulasi teori. Merupakan metode yang merujuk pada pemakaian perspektif teori yang bervariasi dalam menginterpretasikan data yang sama.
Dan yang terakhir, yakni triangulasi peneliti, yang dilakukan apabila terdapat beberapa peneliti yang bekerja secara bersamaan dalam satu kelompok dan mengkaji permasalahan serupa.
Teknik triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi metode. Rahardjo dalam Gunawan (2017, h. 220) menyatakan bahwa triangulasi ini dilakukan dengan membandingkan informasi atau data yang telah diperoleh dengan cara yang berbeda. Dalam penelitian kualitatif, peneliti mengunakan metode survei, wawancara, dan observasi.
Untuk mendapatkan kebenaran atas informasi dan gambaran jelas perihal commit to user
suatu informasi, peneliti dapat memakai metode wawancara bebas atau wawancara terstruktur.
Uji keabsahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara membandingkan hasil temuan analisis framing mengenai isu dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama pada media online kompas.com dan republika.co.id periode 6 Oktober 2016 - 16 dengan hasil wawancara pada narasumber yang memiliki keterkaitan dengan bahasan topik penelitian.
Pada penelitian kualitatif, informan penelitian dipilih oleh peneliti berhubungan dengan seperti apa langkah yang dipilih oleh peneliti agar data atau informasi dapat diperoleh (Bungin, 2011, h. 107). Penelitian ini memilih informan dengan prosedur purposive sampling. Prosedur ini adalah strategi yang kerap kali dilakukan dalam penelitian kualitatif.
Peneliti memilih informan dengan cara menentukan kelompok peserta berdasar dengan kriteria terpilih yang mana sesuai dengan topik bahasan penelitian. Dalam prosedur purposive sampling, biasanya key person lah yang dipilih sebagai informan dalam wawancara. Hal ini dikarenakan key person merupakan seorang individu yang kompeten pada bidangnya.
Penguasaan informasi dari informan merupakan kunci penting dalam penggunaan prosedur sampling ini.
Dalam penelitian ini, wawancara dilakukan dengan pemerhati Ilmu Komunikasi sebagai informan penelitian. Pemilihan informan dengan kriteria tersebut dilakukan karena bahasan penelitian mengenai pemberitaan dugaan penelitian penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama masuk ke dalam ranah Ilmu Komunikasi. Dan oleh karenanya, pemilihan pemerhati Ilmu Komunikasi sebagai informan dalam uji keabsahan data merupakan hal paling tepat dilakukan dalam penelitian ini.
7. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan oleh peneliti untuk mengkaji permasalahan mengenai pemberitaan dugaan penistaan agama ini adalah commit to user
analisis framing. Adapun metode analisis yang hendak dipakai dalam penelitian adalah analisis framing metode Robert Entman karena metode ini dinilai sesuai dengan pokok permasalahan yang hendak dikaji oleh penulis. Terlebih, metode analisis Robert Entman memiliki salah satu elemen framing yang dapat digunakan dalam mendefinisikan kasus dugaan penistaan agama ini dengan tepat yakni dengan menggunakan salah satu elemen framing, make moral judgement (membuat keputusan moral) yang dipakai dalam memberi pembenaran dan argumentasi pada definisi permasalahan yang dibuat.
Dalam artikel jurnalnya yang berjudul Framing: Toward Clarification of a Fractured Paradigm, Entman (1993, h. 52) mendefinisikan framing sebagai berikut:
“To frame is to select some aspects of a perceived reality and make them more salient in a communicating text, in such a way as to promote a particular problem definition, causal interpretation, moral evaluation, and/or treatment recommendation for the item described” (Framing adalah metode yang dilakukan dengan cara menyeleksi beberapa aspek dari realitas yang telah dipersepsi sebelumnya dan kemudian membuat realitas itu menjadi lebih menonjol dalam sebuah teks, yang selanjutnya digunakan sedemikian rupa untuk menegaskan suatu pendefinisian masalah, interpretasi penyebab, evaluasi moral, dan/atau menekankan penyelesaian untuk isu yang dibahas).
Dalam konsep framing Entman, framing dilihat dalam dua dimensi utama yakni seleksi isu dan penekanan atau penonjolan (salience) dari aspek-aspek tertentu dari realitas oleh media. Semakin besar penonjolan yang diberikan oleh media terhadap suatu realitas, maka semakin besar pula penonjolan tersebut mempengaruhi pemahaman audiens atas suatu realitas. Penonjolan atau saliency sendiri merupakan suatu proses dalam membuat informasi sehingga menjadi lebih bermakna, lebih menarik, berarti, atau lebih diingat oleh khalayak.
Adanya penonjolan aspek dari suatu isu yang dilakukan oleh media tersebut menggunakan beragam strategi wacana, seperti dikutip dari commit to user
Eriyanto, 2012, h. 221) yakni dengan menempatkan headline pada halaman depan atau halaman belakang koran sehingga atensi pembaca berfokus karena penempatan berita tersebut, terdapatnya unsur pengulangan, penyertaan grafis sebagai penonjolan, penggunaan label saat memberi gambaran akan peristiwa dalam pemberitaan, pengasosiasian teradap simbol-simbol kebudayaan, generalisasi, dan simplifikasi.
Penonjolan atau saliensi adalah proses yang dilakukan dalam tahap konstruksi pesan agar informasi yang disajikan dapat diingat dengan kuat oleh khalayak karena menarik, bermakna, dan berarti.
Dalam pendekatan framing yang dikemukakan oleh Robert Entman, framing merujuk pada pemberian definisi, penjelasan, evaluasi, dan rekomendasi dalam wacana dalam rangka menekankan kerangka berpikir audiens atau skema tertentu terhadap peristiwa yang hendak direncanakan. Keempat konsepsi framing tersebut dijabarkan sebagai berikut:
Tabel III.4
Empat Konsepsi Framing Robert Entman
Define Problems
(Pendefinisian Masalah)
Bagaimana suatu peristiwa/isu dilihat?
Sebagai apa? Atau sebagai masalah apa?
Diagnose causes
(Memperkenalkan masalah atau sumber masalah)
Peristiwa itu dilihat disebabkan oleh apa?
Apa yang dianggap sebagai penyebab dari suatu masalah? Siapa (aktor) yang dianggap sebagai penyebab masalah?
commit to user
Make moral judgement (Membuat keputusan moral)
Nilai moral apa yang disajikan untuk menjelaskan masalah? Nilai moral apa yang dipakai untuk melegitimasi atau
mendelegitimasi suatu tindakan?
Treatment recommendation (Menekankan Penyelesaian)
Penyelesaian apa yang ditawarkan untuk mengatasi masalah/isu? Jalan apa yang ditawarkan dan harus ditempuh untuk mengatasi masalah?
Sumber: Eriyanto, 2012, h. 223-224
a. Define problems (pendefinisian masalah), adalah elemen pertama yang dilihat dalam konsepsi framing Entman. Elemen ini juga merupakan frame utama (master frame). Pada elemen ini, yang ditekankan adalah bagaimana seorang wartawan memahami dan mempersepsi suatu fenomena atau peristiwa yang terjadi. Hal ini biasanya dipengaruhi juga dengan latarbelakang yang dimiliki oleh tiap-tiap wartawan dan juga visi misi beserta dengan ideologi dari media yang bersangkutan dan oleh karenanya, berakibat dengan adanya perbedaan dalam pembingkaian berita. Karenanya, khalayak atau audiens pun disajikan dengan realitas yang telah dikonstruksi sebelumnya oleh media.
b. Diagnose causes (penyebab masalah), merupakan elemen framing yang digunakan untuk menentukan aktor dari suatu peristiwa atau fenomena. Penyebab masalah dalam elemen ini adalah jawaban dari pertanyaan apa (what) atau siapa (who). Media yang telah melakukan konstruksi atas pemberitaan akan menentukan siapa dan apa yang menjadi penyebab permasalahan. Dan oleh karenanya, dalam menyajikan pemberitaan pun, penyebab masalahnya akan dimaknai secara berbeda pula.
commit to user
c. Make moral judgement (membuat pilihan moral). Elemen ini dipakai dalam memberikan pembenaran atau pendapat mengenai pendefinisian masalah yang telah dijabarkan sebelumnya. Saat masalah telah dijabarkan dan penyebab dari permasalahan tersebut telah ditentukan, maka diperlukan pendapat yang kuat untuk menyokong gagasan tersebut. Biasanya, gagasan yang dikutip oleh wartawan berkaitan dengan sesuatu yang dikenal secara baik oleh audiens.
d. Treatment recommendation (penekanan penyelesaian). Elemen terakhir ini digunakan dalam memberikan penilaian apa yang diinginkan oleh wartawan dalam mengkonstruksi pemberitaan, terutama mengenai hal seperti apa yang disarankan oleh wartawan dalam menyelesaikan masalah. Penyelesaian masalah yang disajikan tergantung pada seperti apa peristiwa atau fenomena tersebut dilihat dan siapa yang dianggap sebagai penyebab dari masalah.
Keempat elemen framing Entman inilah yang dipakai oleh penulis dalam menganalisa pemberitaan mengenai pemberitaan dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama pada media Kompas.com dan Republika.co.id periode Oktober – November 2016.
commit to user