A. Latar belakang
Manusia sebagai mahluk sosial setiap saat akan membutuhkan orang lain. Interaksi sosial setiap orang membutuhkan kemampuan penyesuaian diri dengan lingkungannya. Penyesuaian diri merupakan suatu syarat yang penting untuk mencapai kesehatan jiwa atau mental individu. Teori yang dikemukakan oleh Schneider dalam (Desmita, 2009), menyatakan bahwa penyesuaian diri adalah suatu proses yang mencakup respon mental dan tingkah laku, dimana individu berusaha untuk dapat berhasil mengatasi kebutuhan-kebutuhan dalam dirinya, ketegangan-ketegangan, konflik-konflik, dan frustrasi yang dialaminya, sehingga terwujud tingkat keselarasan atau harmoni antara tuntutan dari dalam diri dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan dimana dia tinggal.
Pendapat Lazarus dalam (Desmita, 2009), bahwa penyesuaian diri yang sehat lebih merujuk pada konsep “sehatnya” kehidupan pribadi
tingkah laku sehingga terwujud tingkat keselarasan atau harmoni atara tuntutan dari dalam diri dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan.
Umumnya setiap individu melakukan penyesuaian diri, baik dalam hubungannya dengan diri sendiri, dengan orang lain maupun dengan lingkungan sekitarnya. Individu yang tidak mampu menyesuaikan diri akan tersingkir atau tidak dapat melanjutkan eksistensinya, hal ini akan mengakibatkan penderitaan dan individu tidak mampu mencapai kebahagiaan yang maksimal dalam kehidupannya, tidak jarang pula ditemui orang-orang yang mengalami stres atau depresi disebabkan oleh kegagalan mereka dalam menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang penuh dengan tekanan. Keberhasilan individu dalam menghadapi tekanan berbeda-beda hal ini dapat dipengaruhi oleh pengalaman yang dimiliki individu, kepribadian, kondisi mental, dan kondisi lingkungan hidupnya (Lailiya, 2008).
kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan dan dalam masyarakat pada umumnya (Mu’tadin, 2005).
Masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasuki masa dewasa. Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Masa remaja akan terjadi transisi kehidupan, salah satunya transisi sekolah yang merupakan perpindahan siswa dari sekolah yang lama ke sekolah yang baru yang lebih tinggi tingkatannya (Sarwono, 2010).
siswa memiliki kecenderungan untuk melakukan penyesuaian yang menyimpang (Sukadji, 2000).
Selain perubahan-perubahan yang diakibatkan transisi sekolah, faktor lain yang berpengaruh terhadap ketidamampuan individu untuk menyesuaian diri adalah transisi yang terjadi pada diri individu itu sendiri sebagai seorang remaja yang mengalami perubahan. Semua perubahan yang terjadi didalam diri pada masa remaja menuntut seseorang untuk melakukan penyesuaian didalam dirinya dan membentuk sense of self yang baru tentang siapa dirinya untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan (Agustiana, 2009).
Penelitian yang dilakukan oleh (Irfan, 2014), yang meneliti tentang hubungan self-efficacy dengan penyesuaian diri terhadap perguruan tinggi pada mahasiswa baru fakultas psikologi universitas airlangga. Terdapat hubungan yang bermakna antara self-efficacy dengan penyesuaian diri terhadap perguruan tinggi pada mahasiswa baru Fakultas Psikologi Universitas Airlangga dengan kekuatan hubungan yang berada pada kategori sedang, ditunjukkan dengan nilai signifikansi 0,00 yang lebih kecil dari 0,05 (p <0,05) dan nilai koefisien korelasi dalam penelitian ini sebesar 0,467 dan bernilai positif.
Masa remaja akan mengalami perkembangan baik fisik, mental, emosional maupun sosial, sehingga pada masa ini remaja dikenal dengan storm & stress dimana terjadi pergolakan emosi yang diiringi dengan
pubertas ini remaja juga mengalami perubahan dalam sistem kerja hormon dalam tubuhnya dan hal ini memberi dampak baik pada perubahan fisik (terutama pada organ-organ seksual) dan psikis terutama emosi. Perubahan emosi yang terjadi pada remaja menyebabkan remaja pada umumnya memiliki emosi yang labil, dan ketegangan meningkat sehingga remaja juga cenderung memiliki emosi yang negatif, Perubahan emosi itu dapat menyebabkan penyesuaian diri yang tidak baik (sita, 2014). Ada 4 aspek kepribadian dalam penyesuaian diri yang sehat antara lain: kematangan emosional, kematangan intelektual, kematangan social, dan tanggungjawab (Desmita, 2009).
Kaitanya penyesuaian diri remaja yang melakukan transisi dari sekolah ke perguruan tinggi terlebih perguruan tinggi yang menerapkan sistem boarding school, dimana kebiasaan mereka akan berubah mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Adanya aturan yang mengikat, menyebabkan setiap orang harus mengikuti aturan yang berlaku meskipun mereka tidak ingin melakukan hal tersebut. hal ini akan menimbulkan kesan pemaksaan meskipun bentuk pemaksaan ini merupakan pemaksaan yang baik.
Boarding School merupakan sebuah sistem sekolah berasrama, di
mana peserta didik dan juga para guru dan pengelola sekolah tinggal di asrama yang berada dalam lingkungan sekolah dalam kurun waktu tertentu biasanya satu semester diselingi dengan berlibur satu bulan sampai menamatkan sekolahnya. Mahasiswa mengikuti pendidikan reguler dari pagi hingga siang di sekolah kemudian dilanjutkan dengan pendidikan agama atau pendidikan nilai-nilai khusus di malam hari. Selama 24 jam anak didik berada di bawah pendidikan dan pengawasan para guru pembimbing (Gaztambide, 2009)
Boarding school adalah lembaga pendidikan dimana para siswa
tidak hanya belajar tetapi juga bertempat tinggal dan hidup menyatu dengan di lembaga tersebut. Boarding School mengkombinasikan tempat di rumah, dipindah ke institusi sekolah, dimana di sekolah tersebut disediakan berbagai fasilitas tempat tinggal; ruang tidur, ruang tamu, ruang belajar dan tempat olah raga, perpustakaan, kesenian (Maksudin, 2006).
Menurut Cookson et al. (2008), berpendapat bahwa dengan mahasiswa mengikuti akan memberikan rasa disiplin, dan, dengan demikian, mempersiapkan mereka untuk posisi kepemimpinan. Tapi boarding school juga telah digunakan untuk meningkatkan kesempatan
Boarding School bukan sesuatu yang baru dalam konteks
pendidikan di Indonesia. Karena sudah sejak lama lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia menghadirkan konsep pendidikan boarding
school yang mengadopsi “Pondok Pesantren”. Seiring dengan
perkembangan zaman, saat ini banyak institusi pendidikan yang melakukan terobosan menawarkan berbagai program ada insttitusi yang menawarkan program full day school, boarding school, dan lain-lain. Program ini dimaksudkan dalam upaya unuk mencetak generasi-generasi yang memiliki kemampuan daya saing yang tinggi di tengah-tengah bangsa lain tetapi tetap memiliki akhlak, karakter dan keperibadian (Khalidah, 2013).
Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan oleh peneliti terhadap 6 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokero yang mengikuti program boarding school, diperoleh data bahwa 4 mahasiswa mengungkapkan masih belum bisa menyesuaikan diri sepenuhnya dengan lingkungan dan program yang diterapkan dalam system boarding school di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, hal ini dikarenakan belum terbiasa dengan lingkungan yang baru, apalagi dengan kegiatan keagamaan seperti ma’had yang wajib diikuti, 1 mahasiswa mengungkapkan sama sekali belum bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang menerapkan program boarding school dikarenakan aturan yang diterapkan, pembagian waktu belajar dan kegiatan keagamaan, 1 mahasiswa mengungkapkan sudah bisa menyesuaikan diri dengan program boarding school karena pernah bersekolah dengan latar belakang keagamaan. Menurut Pembina ma’had banyak pelanggaran yang dilakukan oleh mahasiswa yang mengikuti program boarding school diantaranya sering pulang terlalu malam, memakai pakaian yang tidak sesuai dengan peraturan kampus dan tidak mengikuti sholat wajib berjamaah.
membaca Al-Qur’an dari 26 mahasiswa kebidanan terdapat 19 mahasiswa yang tidak lulus atau 73,1%, dan 7 mahasiswa yang lulus atau 26,9%. B. Rumusan Masalah
Penyesuaian diri merupakan suatu syarat untuk mencapai kesehatan jiwa individu. Banyak individu yang menderita dan merasa tidak mampu mecapai kebahagian dalam hidupnya salah satunya adalah remaja, karena ketidakmampuannya dalam menyesuaikan diri baik dalam kehidupan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Penyesuaian diri remaja yang melakukan transisi dari sekolah ke perguruan tinggi terlebih perguruan tinggi yang menerapkan sistem boarding school, dimana kebiasaan mereka akan berubah mengikuti aturan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti merumuskan rumusan masalah yaitu “Bagaimana Penyesuaian Diri Mahasiswa Universitas
Muhammadiyah Purwokerto Tingkat 1 Terhadap Pelaksanaan Program
Boarding School Tahun 2017”
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui penyesuaian diri mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto tingkat 1 terhadap pelaksanaan program boarding school tahun 2017.
2. Tujuan Khusus
b. Untuk mengetahui penyesuaian diri aspek kematangan emosional pada mahasiswa tingkat 1 yang mengikuti program boarding school
c. Untuk mengetahui penyesuaian diri aspek kematangan intelektual pada mahasiswa tingkat 1 yang mengikuti program boarding school
d. Untuk mengetahui penyesuaian diri aspek kematangan sosial pada mahasiswa tingkat 1 yang mengikuti program boarding school e. Untuk mengetahui penyesuaian diri aspek tanggung jawab pada
mahasiswa tingkat 1 yang mengikuti program boarding school D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Penulis
Dapat menambah wawasan peneliti mengenai cara dan metode dalam melakukan penelitian, dan membangun jiwa peneliti untuk terus mengembangkan berbagai penelitian di bidang keperawatan.
2. Bagi Perawat
3. Bagi Pembina Asrama
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menerapkan aturan dan program yang ada, sehingga akan tercipta suasana asrama yang kondusif.
E. Keaslian Penelitian
1. Dika Chrisyanti, Dewi Mustami’ah, dan Wiwik Sulistiani (2010) Judul : Hubungan antara penyesuaian diri terhadap tuntutan akademik dengan kecenderungan stres pada mahasiswa.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara penyesuaian diri terhadap tuntutan akademik dengan kecenderungan stres pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif korelasional yaitu untuk mencari hubungan antara dua variabel dan dapat dianalisis secara statistik untuk menjawab hipotesis penelitian.
Perbedaan dengan penelitian ini adalah pada variabel terikat yang diteliti adalah pelaksanaan program boarding school, persamaan penelitian ini pada variabel bebas sama-sama meneliti tentang penyesuaian diri.
2. Erina Nur Anggraini
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kemandirian dengan penyesuaian diri pada mahasiswa yang merantau di kota Malang. Penelitian ini menggunakan skala kemandirian dari Steinberg dan skala penyesuaian diri Runyon dan Haber. Analisis data menggunakan teknik statistik korelasi product moment-pearson.
Perbedaan dengan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah menggunakan teknik teknik proportional random sampling. Persamaan penelitian ini yaitu sama-sama
meneliti mahasiswa baru 3. Bilal Adel al-Khatib
Judul: Student's Adjustment to College Life at Albalqa Applied University
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat penyesuaian mahasiswa dalam kehidupan kampus di Albalqa terapan Technical University, para peneliti menerapkan skala penyesuaian untuk perguruan tinggi. Sampel dalam penelitian iniang terdiri dari 334 siswa, yang dipilih secara acak dari masing-masing perguruan tinggi dan mewakili 10% dari populasi.
Perbedaan dengan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah menggunakan teknik teknik proportional random sampling. Persamaan penelitian ini yaitu sama-sama
4. Mitra Sadat Noghabaee
Judul: The effect of assertiveness training on self-efficacy among Iranian high school female students
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh pelatihan ketegasan terhadap penyesuaian diri pada siswi sekolah tinggi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Hezbergru ini ketegasan kuesioner dan The Skala Morgan-Jinks Mahasiswa Efikasi (MJSES). Analisi data yang digunakan adalah independent t-test.