GRAVIDARUM DI RSU ANANDA PURWOKERTO TAHUN 2009-2011 Tri Anasari
Akademi Kebidanan YLPP Purwokerto [email protected]
Abstrak : Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan yang dapat mengganggu pekerjaan sehari-hari. Penyebab hiperemesis
gravidarum belum diketahui secara pasti, namun beberapa faktor mempunyai
pengaruh antara lain yaitu faktor predisposisi (primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda), faktor organik (alergi, masuknya vili khorialis dalam sirkulasi, perubahan metabolik akibat hamil dan resistensi ibu yang menurun) serta faktor psikologi (umur dan pekerjaan).
Mengetahui beberapa determinan penyebab kejadian hiperemesis gravidarum di RSU Ananda Purwokerto tahun 2009-2011
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan desain case
control. Populasi penelitian ini adalah semua ibu hamil yang tercatat di RSU
Ananda Purwokerto periode 1 Januari 2009-31 Desember 2011. Sampel kasus dan sampel control masing sebanyak 107 ibu hamil. Instrumen penelitian menggunakan checklist. Analisis data menggunakan uji chi square.
Ibu hamil di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011 paling banyak umurnya tidak beresiko (85,0%), paritas tidak beresiko (53,7%), tidak mengalami kehamilan ganda (92,5%), dan tidak bekerja (69,6%). Ada hubungan antara antara faktor umur ibu dengan kejadian hiperemesis gravidarum (p = 0,021, OR =2,511). Ada hubungan antara faktor paritas dengan kejadian hiperemesis
gravidarum (p = 0,020, OR = 1,905). Ada hubungan antara faktor kehamilan
ganda dengan kejadian hiperemesis gravidarum (p = 0,038, OR = 3,253). Ada hubungan antara faktor pekerjaan ibu dengan kejadian hiperemesis gravidarum (p = 0,026, OR = 1,908).
Ada hubungan antara faktor umur, paritas, kehamilan ganda dan pekerjaan dengan kejadian hiperemesis gravidarum. Faktor yang mempunyai resiko paling tinggi untuk terjadi hyperemesis gravidarum adalah kehamilan ganda.
Kata Kunci : umur, paritas, kehamilan ganda, pekerjaan, hiperemesis
SEVERAL DETERMINAN THAT CAUSED THEINCIDENCE OF HYPEREMESIS GRAVIDARUM IN THE RSU ANANDA
PURWOKERTO YEAR 2009-2011
Tri Anasari
Akademi Kebidanan YLPP Purwokerto [email protected]
Hyperemesis gravidarum is excessive nausea and vomiting that can interfere with daily work. The cause of hyperemesis gravidarum is not known with certainty, but several factors have an influence, among others, the predisposing factors (primigravid, hydatidiform mole and multiple pregnancy), organic factors (allergy, the inclusion of the villi khorialis in circulation, and metabolic changes caused by pregnant mothers decreased resistance) and psychological factors (age and employment).
Objectives: to determine the factors that association with the incidence of hyperemesis gravidarum in the RSU Ananda Purwokerto years 2009-2011.
This study was a descriptive analytic research with case control design. The population of study were all pregnant women thet registered in RSU Ananda Purwokerto period 1 January 2009-31 December 2011. Samples of each case and control samples were 107 pregnant women. Research instrument used a checklist. The methods of data analysis used Chi Square test.
Pregnant women at RSU Ananda Purwokerto Year 2009-2011 his age mostly weren’t at risk (85,0%), the parity wasn’t at risk (53,7%), haven’t a multiple pregnancy (92,5%), and didn’t’ work ( 69,6%). There was an association between the pregnan women age factor with the in incidence of hyperemesis gravidarum (p = 0,021) with OR =2,511. There was an association between the factors with the incidence of hyperemesis gravidarum parity (p = 0,020) with OR = 1,905. There was an association between factors of multiple pregnancy with the incidence of hyperemesis gravidarum (p = 0,038) with OR = 3,253. There was an association between maternal employment factors with the incidence of hyperemesis gravidarum (p = 0,026) with OR = 1,908.
The results suggest that factors associated with the incidence of hyperemesis gravidarum was a factor of age, parity, multiple pregnancy and work.
PENDAHULUAN
Pengawasan sebelum lahir
(antenatal) terbukti mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kesehatan mental dan fisik kehamilan, untuk menghadapi persalinan. Pengawasan hamil dapat diketahui berbagai komplikasi ibu yang mempengaruhi kehamilan atau komplikasi hamil sehingga segera dapat diatasi. Keadaan yang tidak dapat dirujuk ke tempat yang lebih lengkap peralatannya sehingga mendapat perawatan yang optimal (Manuaba, 2007).
Mual (nause) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering didapatkan pada kehamilan trimester I. Mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala-gejala ini kurang lebih terjadi setelah 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. Mual dan muntah terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60% terjadi pada multigravida. Satu diantara seribu kehamilan gejala-gejala mual muntah ini menjadi berat (Sarwono, 2005).
Hiperemesis gravidarum adalah
mual dan muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum menjadi buruk. Mual dan muntah yang terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi,
hiponatremia, hipokloremia,
penurunan klorida urin, selanjutnya terjadi hemokonsentrasi yang mengurangi perfusi darah ke jaringan dan menyebabkan tertimbunnya zat toksik. Pemakaian cadangan karbohidrat dan lemak menyebabkan oksidasi lemak yang tidak sempurna sehingga sehingga terjadi ketosis. Hipokalemia akibat muntah dan eksresi yang berlebihan selanjutnya menambah frekuensi muntah dan merusak hepar. Selaput lendir esofagus dan lambung dapat robek sehingga terjadi perdarahan gastrointestinal (Mansjoer, 2009).
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara
pasti, namun beberapa faktor mempunyai pengaruh antara lain yaitu faktor predisposisi (primigravida, mola
hidatidosa dan kehamilan ganda),
faktor organik (alergi, masuknya vili
khorialis dalam sirkulasi, perubahan
metabolik akibat hamil dan resistensi ibu yang menurun) serta faktor
psikologi (umur dan pekerjaan) (Mansjoer, 2009).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Armilah (2010) mengungkapkan bahwa usia ibu memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian
hiperemesis gravidarum. Usia ibu < 20
tahun dan > 35 tahun lebih berisiko terhadap kejadian hiperemesis gravidarum dibandingkan dengan usia
ibu 20-35 tahun. Pekerjaan memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian hiperemesis gravidarum. Ibu yang bekerja lebih besar risikonya terhadap kejadian hiperemesis gravidarum dibandingkan dengan ibu
yang tidak bekerja. Faktor psikologi memegang peranan penting pada penyakit ini, misalnya rumah tanggaretak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan atau takutterhadap tanggung jawab sebagai ibu (Winkjosastro, 2005).
Komplikasi yang ditimbulkan dapat terjadi pada ibu dan janin, seperti ibu akan kekurangan nutrisi dan cairan sehingga keadaan fisik ibu menjadi lemah dan lelah, dapat pula mengakibatkan gangguan asam basa,
pneumoni aspirasi, robekan mukosa
esofagus, kerusakan hepar dan kerusakan ginjal. Hal ini akan memberikan pengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan janin karena nutrisi yang tidak terpenuhi atau tidak sesuai dengan kehamilan, yang mengakibatkan peredaran darah janin berkurang serta terjadi perdarahan pada retina yang disebabkan oleh meningkatnya tekanan darah ketika penderita muntah (Setiawan, 2007).
Berdasarkan survey pendahuluan di RSU Ananda Purwokerto, diperoleh data kejadian hiperemesis gravidarum pada tahun 2009 dari 783 ibu hamil, yang mengalami hiperemesis gravidarum sebanyak 31 orang (3,95%) dan pada tahun 2010 dari 826 ibu hamil, yang mengalami
hiperemesis gravidarum sebanyak 37
orang (4,48%) dan pada tahun 2011 dari ibu hamil sejumlah 848 yang mengalami hiperemesis gravidarum sebanyak 39 orang (4,59%). Kejadian hyperemesis gravidarum di RSU Ananda Purwokerto dalam 3 tahun terakhir mengalami kenaikan walaupun tidak signifikan.
Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Menggambarkan faktor umur
ibu hamil, paritas ibu hamil, pekerjaan dan kehamilan ganda di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011,
2) Menganalisis hubungan antara faktor Umur ibu dengan kejadian
hiperemesis gravidarum di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011,
3) Menganalisis hubungan antara faktor Paritas dengan kejadian
hiperemesis gravidarum di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011,
4) Menganalisis hubungan antara faktor Kehamilan ganda dengan kejadian hiperemesis gravidarum di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011,
5) Menganalisis hubungan antara faktor Pekerjaan ibu dengan kejadian
hiperemesis gravidarum di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian survey analitik, yaitu Penelitian deskriptif analitik yaitu penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi dengan tujuan melihat hubungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lain (Notoatmodjo, 2005). Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan case
control yaitu suatu penelitian (survey)
analitik yang menyangkut bagaimana faktor risiko dipelajari dengan menggunakan pendekatan retrospektif, dengan kata lain efek diidentifikasi pada saat ini kemudian faktor risiko diidentifikasi ada atau terjadinya pada waktu yang lalu (Notoatmodjo, 2010). Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder.
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang ada dalam wilayah penelitian (Notoatmodjo, 2010). Populasi dari penelitian ini adalah keseluruhan ibu hamil yang tercatat di RSU Ananda Purwokerto periode 1 Januari 2009-31 Desember 2011, baik yang mengalami dan yang tidak mengalami hiperemesis gravidarum yang berjumlah 2.457
orang. Jumlah ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum sebanyak 107 orang dan yang tidak mengalami hiperemesis gravidarum sebanyak 2.350 orang. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan Total sampling. Sampel penelitian adalah seluruh ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya yang mengalami
hiperemesis gravidarum berjumlah 107
orang sebagai sampel kasus. Sedangkan sampel kontrolnya menyesuaikan dari sampel kasus yaitu sejumlah 107 ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya di RSU Ananda pada tahun 2009-2011 yang tidak mengalami hiperemesis gravidarum.
Instrumen dalam penelitian ini menggunakan ceklist berisi tentang nama responden, umur, paritas, jumlah janin yang dikandung serta pekerjaan responden. Tehnik Pengolahan data dan analisis Data adalah editing,
coding, data entry, tabulating. Analisis
univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusifrekuensi dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2010).
Analisis bivariat yaitu analisis yang dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan atau pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikat (Notoatmodjo, 2010). Uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Chi-square.
H1 ditolak yaitu apabila X2 hitung < X2 tabel atau ρ > 0,05, artinya tidak signifikan atau tidak ada hubungan
antara variabel independen dengan variabel dependen.
H1 diterima yaitu apabila X2 hitung > X2 tabel atau ρ < 0,05, artinya signifikan atau ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependent.
Perhitungan Odd Ratio (OR) untuk mengestimasi tingkat risiko antara variabel dependen dan independen. OR = 1, artinya tidak ada hubungan antara variabel dependen dan independen
OR>1, artinya sebagai penyebab OR<1, artinya sebagai efek perlindungan (efek proteksi)
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran faktor umur ibu hamil, paritas ibu hamil, pekerjaan dan kehamilan ganda di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011
Hasil analisis univariate didapatkan umur ibu hamil di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011 paling banyak tidak berisiko sebanyak 182 orang (85,0%). Paritas ibu hamil di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011 yang paling banyak tidak berisiko sebanyak 115 orang (53,7%). Ibu hamil di RSU Ananda Purwokerto
Tahun 2009-2011 paling banyak tidak mengalami kehamilan ganda sebanyak 198 orang (92,5%). Ibu hamil di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011 paling banyak tidak bekerja sebanyak 149 orang (69,6%).
Umur ibu mempunyai pengaruh yang erat dengan perkembangan alat reproduksi. Hal ini berkaitan dengan keadaan fisiknya dari organ tubuh ibu di dalam menerima kehadiran dan mendukung perkembangan janin. Seorang wanita memasuki usia perkawinan atau mengakhiri fase tertentu dalam kehidupannya yaitu umur repoduksi (Yunita, 2005).
Menurut Saifuddin (2009), paritas adalah jumlah kehamilan yamg menghasilkan janin yang mampu hidup diluar rahim (28 mg). Paritas dapat dibedakan menjadi nullipara, primipara, multipara dan grande multipara. Kejadian hiperemesis gravidarum lebih sering dialami oleh
primigravida daripada multigravida, hal ini berhubungan dengan tingkat kestresan dan usia si ibu saat mengalami kehamilan pertama.
Kehamilan ganda merupakan faktor predisposisi yang menyebabkan
hiperemesis gravidarum.Kehamilan
ganda dapat didefinisikan sebagai suatu kehamilan dimana terdapat dua atau lebih embrio atau janin sekaligus. Kehamilan ganda terjadi apabila dua atau lebih ovum dilepaskan dan dibuahi atau apabila satu ovum yang dibuahi membelah secara dini hingga membentuk dua embrio yang sama pada stadium massa sel dalam atau lebih awal. Kehamilan kembar dapat memberikan risiko yang lebih tinggi terhadap ibu dan janin. Oleh karena itu, dalam menghadapi kehamilan ganda harus dilakukan perawatan antenatal yang intensif (Purniantika, 2010).
Pekerjaan adalah segala usaha yang dilakukan atau dikerjakan untuk mendapatkan hasil atau upah yang dapat dinilai dengan uang (Depkes RI, 2008). Pekerjaan berkaitan dengan status sosial ekonomi keluarga yang akan mendukung kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhannya. Sosial ekonomi adalah tingkat kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kemampuan ekonomi seseorang dipengaruhi oleh pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan sebagai mata pencaharian sehari-hari (Soekanto, 2006).
B. Hubungan antara Faktor Umur Ibu dengan Kejadian Hiperemesis
Gravidarum di RSU Ananda
Purwokerto Tahun 2009-2011.
Hubungan antara faktor umur ibu
dengan kejadian hiperemesis
gravidarum di RSU Ananda
Purwokerto Tahun 2009-2011 disajikan pada tabel berikut :
Tabel 1. Hubungan antara Faktor Umur Ibu dengan Kejadian Hiperemesis Gravidarum di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011
Umur
Kejadian Hiperemesis Gravidarum
p CI 95% Ya Tidak Jumlah f % F % f % Berisiko Tidak Berisiko 22 85 20,6 79,4 10 97 9,3 90,7 32 182 15 85 0,021 1,126-5,600 Jumlah 107 100 107 100 214 100 OR 2,511
Berdasarkan Tabel 1. di atas dapat diketahui bahwa Tingkat risiko antara faktor umur dengan kejadian
hiperemesis gravidarum ditunjukkan
dengan nilai OR sebesar 2,511, sehingga dapat dinyatakan bahwa umur ibu yang berisiko, cenderung mengalami hiperemesis gravidarum 2,5 kali lebih besar dibandingkan umur ibu yang tidak berisiko. Nilai CI = 1,126-5,600 artinya ibu umur berisiko memiliki risiko terendah 1,126 kali dan risiko tertinggi 5,600 kali untuk mengalami kejadian Hiperemesis Gravidarum. Hasil analisis bivariat
dengan menggunakan uji chi square
diperoleh nilai p = 0,021. Nilai p = 0,021 yang lebih kecil dari = 0,05 artinya ada hubungan antara antara faktor umur ibu dengan kejadian
hiperemesis gravidarum di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011.
Hiperemesis Gravidarum
dibawah umur 20 tahun lebih disebabkan karena belum cukupnya kematangan fisik, mental dan fungsi sosial dari calon ibu yang menimbulkan keraguan jasmani cinta kasih serta perawatan dan asuhan bagi anak yang akan di lahirkannya. Hal ini mempengaruhi emosi ibu sehingga terjadi konflik mental yang membuat
ibu kurang nafsu makan. Bila ini terjadi maka bisa mengakibatkan iritasi lambung yang dapat memberi reaksi pada impuls motorik untuk memberi rangsangan pada pusat muntah melalui saraf otak kesaluran cerna bagian atas dan melalui saraf spinal ke diafragma dan otot abdomen sehingga terjadi muntah (Yunita, 2005).
Hiperemesis Gravidarum yang
terjadi diatas umur 35 tahun juga tidak lepas dari faktor psikologis yang di sebabkan oleh karena ibu belum siap hamil atau malah tidak menginginkan kehamilannya lagi sehingga akan merasa sedemikian tertekan dan menimbulkan stres pada ibu. Stres mempengaruhi hipotalamus dan memberi rangsangan pada pusat
muntah otak sehingga terjadi kontraksi otot abdominal dan otot dada yang disertai dengan penurunan diafragma menyebabkan tingginya tekanan dalam lambung, tekanan yang tinggi dalam lambung memaksa ibu untuk menarik nafas dalam-dalam sehingga membuat
sfingter esophagus bagian atas terbuka
dan sfingter bagian bawah berelaksasi inilah yang memicu mual dan muntah (Yunita, 2005).
C. Hubungan antara Faktor Paritas dengan Kejadian Hiperemesis
Gravidarum di RSU Ananda
Purwokerto Tahun 2009-2011.
Hubungan faktor paritas dengan kejadian hiperemesis gravidarum di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011 disajikan pada tabel berikut:
Tabel 2. Hubungan Faktor Paritas dengan Kejadian Hiperemesis Gravidarum di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011
Paritas
Kejadian Hiperemesis Gravidarum
p CI 95% Ya Tidak Jumlah F % F % f % Berisiko Tidak Berisiko 58 49 54,2 45,8 41 66 38,3 61,7 99 115 46,3 53,7 0,020 1,105-3,285 Jumlah 107 100 107 100 214 100 OR 1,905
Berdasarkan Tabel 2. di atas dapat diketahui bahwa Tingkat risiko antara faktor paritas dengan kejadian
hiperemesis gravidarum ditunjukkan
dengan nilai OR sebesar 1,905, sehingga dapat dinyatakan bahwa
paritas ibu yang berisiko, cenderung mengalami hiperemesis gravidarum 1,9 kali lebih besar dibandingkan paritas ibu yang tidak berisiko. Nilai CI = 1,105-3,285 artinya ibu paritas berisiko memiliki risiko terendah 1,105 kali dan risiko tertinggi 3,285 kali untuk mengalami kejadian
Hiperemesis Gravidarum. Hasil analisis bivariat dengan menggunakan uji chi square diperoleh nilai p = 0,020. Nilai p = 0,020 yang lebih kecil dari = 0,05 artinya ada hubungan antara faktor paritas dengan kejadian
hiperemesis gravidarum di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011.
Faktor paritas mempengaruhi kejadian hiperemesis gravidarum, hal ini disebabkan hiperemesis gravidarum lebih sering dialami oleh primigravida daripada multigravida, hal ini berhubungan dengan tingkat kestresan dan usia ibu saat mengalami kehamilan pertama. Pada ibu dengan primigravida, faktor psikologik memegang peranan penting pada penyakit ini, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai seorang ibu
dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup (Nining, 2009).
Hal ini sesuai dengan pendapat Winkjosastro, (2007) yang mengungkapkan bahwa ibu primigravida belum mampu beradaptasi terhadap hormon estrogen
dan khorionik gonadotropin.
Peningkatan hormon ini membuat kadar asam lambung meningkat, hingga muncullah keluhan rasa mual. Keluhan ini biasanya muncul di pagi hari saat perut ibu dalam keadaan kosong dan terjadi peningkatan asam lambung.
D. Hubungan antara Faktor Kehamilan Ganda dengan Kejadian Hiperemesis Gravidarum di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011.
Hubungan antara faktor kehamilan ganda dengan kejadian
hiperemesis gravidarum di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011 disajikan pada tabel berikut:
Tabel 3. Hubungan Faktor Kehamilan Ganda dengan Kejadian Hiperemesis Gravidarum di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011
Kehamilan Ganda
Kejadian Hiperemesis Gravidarum
P CI 95% Ya Tidak Jumlah F % F % f % Ya Tidak 12 95 11,2 88,8 4 103 3,7 96,3 16 198 7,5 92,5 0,038 1,014-10,432 Jumlah 107 100,0 107 100,0 214 100,0 OR 3,253
Berdasarkan Tabel 3. di atas dapat diketahui bahwa Tingkat risiko antara faktor kehamilan ganda dengan kejadian hiperemesis gravidarum
ditunjukkan dengan nilai OR sebesar 3,253, sehingga dapat dinyatakan bahwa ibu yang mengalami kehamilan ganda, berisiko mengalami hiperemesis
gravidarum 3,2 kali lebih besar
dibandingkan ibu yang tidak mengalami kehamilan ganda. Nilai CI = 1,014-10,432 artinya ibu dengan kehamilan ganda memiliki risiko terendah 1,014 kali dan risiko tertinggi 10,432 kali untuk mengalami kejadian
Hiperemesis Gravidarum.Hasil analisis
bivariat dengan menggunakan uji chi
square diperoleh nilai p = 0,038. Nilai p = 0,038 yang lebih kecil dari =
0,05 artinya ada hubungan antara faktor kehamilan ganda dengan
kejadian hiperemesis gravidarum di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011.
Kehamilan kembar umumnya plasenta besar atau ada 2 plasenta, maka produksi hCG akan tinggi. Frekuensi hiperemesis yang tinggi pada kehamilan ganda menimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan karena pada keadaan tersebut hormon Chorionik
Gonadotropin (hCG) dibentuk
berlebihan (Winkjosastro, 2007). Ibu hamil dengan kehamilan ganda, kadar hormon estrogen dan hCG (human Chorionic gonadotropin) meningkat sehingga mual muntah pada kehamilan ini meningkat dibandingkan dengan kehamilan janin tunggal (Prawirohardjo, 2002).
E. Hubungan antara Faktor Pekerjaan Ibu dengan Kejadian
Hiperemesis Gravidarum di RSU
Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011.
Hubungan antara faktor pekerjaan ibu dengan kejadian hiperemesis gravidarum di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011 disajikan pada tabel berikut:
Tabel 4. Hubungan Faktor Pekerjaan Ibu dengan Kejadian Hiperemesis Gravidarum di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011.
Pekerjaan
Kejadian Hiperemesis Gravidarum
Ya Tidak Jumlah P CI F % F % f % Ya Tidak 40 67 11,2 88,8 25 82 3,7 96,3 65 149 30,4 69,6 0,026 1,080-3,550 Jumlah 107 100,0 107 100,0 214 100,0 OR 1,958
Berdasarkan Tabel 4. di atas dapat diketahui bahwa Tingkat risiko antara faktor pekerjaan dengan kejadian hiperemesis gravidarum
ditunjukkan dengan nilai OR sebesar 1,958, sehingga dapat dinyatakan bahwa ibu yang bekerja, berisiko mengalami hiperemesis gravidarum 3,2 kali lebih besar dibandingkan ibu yang tidak bekerja. Nilai CI = 1,080-3,550 artinya ibu bekerja memiliki risiko terendah 1,080 kali dan risiko tertinggi 3,550 kali untuk mengalami kejadian Hiperemesis Gravidarum. Hasil analisis bivariat dengan menggunakan uji chi square diperoleh
nilai p = 0,026. Nilai p = 0,026 yang lebih kecil dari = 0,05 artinya ada hubungan antara faktor pekerjaan ibu dengan kejadian hiperemesis
gravidarum di RSU Ananda
Purwokerto Tahun 2009-2011.
Pekerjaan memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian
hiperemesis gravidarum. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Armilah, (2010) yang mengungkapkan bahwa ibu yang bekerja lebih besar risikonya terhadap kejadian hiperemesis gravidarum
dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja.
Pekerjaan adalah aktivitas yang dilakukan untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarganya, diukur berdasarkan jenis kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Pekerjaan ibu yang berisiko rendah terhadap hiperemesis gravidarum
antaraibu rumah tangga dan pekerja salon. Sedangkan pekerjaan yang berisiko tinggi antara lain adalah pelayan toko, pelayan departement store, pekerja kantor, karyawan pabrik, petani (Ismail, 2010).
Hal ini sesuai dengan pendapat Winkjosastro (2007) yang mengungkapkan bahwa faktor psikologi memegang peranan penting dalam penyakit ini, misalnya, kehilangan pekerjaan, beban pekerjaan yang berat, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai pelarian kesukaran hidup. Hal ini tidak jarang dapat diatasi dengan cara memberikan suasana baru, sehingga dapat mengurangi frekuensi muntah.
KESIMPULAN
1. Umur ibu hamil di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011 paling banyak tidak berisiko sebanyak 182 orang (85,0%), Paritas ibu hamil di
RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011 yang paling banyak tidak berisiko sebanyak 115 orang (53,7%), Ibu hamil di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011 paling banyak tidak mengalami kehamilan ganda sebanyak 198 orang (92,5%), Ibu hamil di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011 paling banyak tidak bekerja sebanyak 149 orang (69,6%).
2. Ada hubungan antara antara faktor umur ibu dengan kejadian
hiperemesis gravidarum di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011 dengan nilai p = 0,021 dengan OR sebesar 2,511 (95% CI :1,126-5,600)
3. Ada hubungan antara faktor paritas dengan kejadian hiperemesis
gravidarum di RSU Ananda
Purwokerto Tahun 2009-2011 dengan nilai p = 0,020 dengan OR sebesar 1,905 (95% CI : 1,105-3,285)
4. Ada hubungan antara faktor kehamilan ganda dengan kejadian
hiperemesis gravidarum di RSU Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011 dengan nilai p = 0,038 dengan OR sebesar 3,253 (95% CI : 1,014-10,432)
5. Ada hubungan antara faktor pekerjaan ibu dengan kejadian
Ananda Purwokerto Tahun 2009-2011 dengan nilai p = 0,026 dengan OR sebesar 1,908 (95% CI : 1,080-3,550)
DAFTAR PUSTAKA
Armilah. (2010). Hubungan umur ibu
dan pekerjaan terhadap kejadian hiperemesis gravidarumdi RS
Islam Kustati Surakarta tahun 2009.
Depkes RI. (2008). Kebijakan departemen kesehatan tentang peningkatan pemberian air susu ibu (ASI) pekerja wanita.Jakarta:
Pusat Kesehatan Kerja Depkes RI.
Ismail (2010). Pengaruh Pekerjaan
terhadap Mual muntah dalam kehamilan.
Http://www.newshealth.com. Mansjoer, A. (2009). Kapita Selekta
Kedokteran. Jakarta: Media Aeskulapius.
Manuaba, I.B.G. (2007). Konsep obstetri dan ginekologi sosial Indonesia. Jakarta: EGC.
Nining (2009). Hiperemesis Gravidarum.
http://www.kesehatan-reproduksi-wanita.com.
Notoatmodjo, S. (2005). Promosi
Kesehatan dan Ilmu Perilaku.
Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta :
Rineka Cipta.
Purniantika (2010). Kehamilan Ganda
: Komplikasi dan Penyulit dalam kehamilan.
http://www.dioklik-kesehatan.com.
Saifuddin, A.B. (2009). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Setiawan, A. (2007). Metode Penelitian Kebidanan DIII, DIV, S1 dan S2. Yogyakarta : Nuha
Medika
Soekanto. (2006). Sosiologi Suatu
Pengantar. Jakarta: PT Raja
Gravindo Persada
Wiknjosastro, H. (2007). Ilmu kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
Yunita (2005) Hubungan Umur dan
Gravida terhadap Hiperemesis Gravidarum pada Ibu hamil di
ruang Camar RSUD Arifin Achmad Pekanbaru 2010. http://www.kumpulan kti kebidanan.com.