• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bimbingan UKMPPD (UKDI) - Pediatri 2

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bimbingan UKMPPD (UKDI) - Pediatri 2"

Copied!
168
0
0

Teks penuh

(1)

dr. Gandi A Febryanto

dr. Anindya K Zahra

dr. Yuniantika

dr. Denise Utami P

PEDIATRI 2

(2)
(3)

Sepsis Neonatorum

• Sindrom klinik penyakit sistemik akibat infeksi

yang terjadi pada satu bulan pertama kehidupan.

Mortalitas mencapai 13-25%

• Jenis :

– Early Onset

= Dalam 3 hari pertama, awitan tiba-tiba,

cepat berkembang menjadi syok septik

– Late Onset

= setelah usia 3 hari, sering diatas 1

minggu, ada fokus infeksi, sering disertai meningitis

• Tanda awal sepsis pada bayi baru lahir tidak

spesifik → diperlukan skrining dan pengelolaan

faktor risiko

(4)

• Maternal fever (≥38oC saat persalinan)

• KPD > 24jam

• Foul smelling amnion

Risk Factor

• Klinis: 4 sistem @ >1 gejala

• KU: Tampak sakit, letargi, tak mau minum, hipotermi/demam, sklerema/skleredema • SCV: takikardia, edema, dehidrasi

• S. Resp.: dispnea, takipnea, sianosis

• SGI: muntah, diare, kembung, hepatomegali

• SSP: Letargi, iritabel, kejang, fontanele bulging (meningitis)

• Hematologi:ikterus, splenomegali, perdarahan, leukopenia, rasio I/M > 0,2

• Hasil kultur positif

• Darah, urin, CSF bila suspek meningitis -> lakukan LP pada anak < 12 bulan

(5)

Tata Laksana

Stabilisasi ABC

Antibiotik

• Ampicilin 100 mg/kgBB/hari (terbagi dalam 2dosis @ 12 jam) +

Gentamisisn 5-7,5 mg/kgBB/hari (sekali sehari)

• Jika tidak membaik lakukan kultur dan berikan antibiotik yg sesuai

Tangani penyakit penyerta/ komplikasi (kejang, gangguan

metabolik, gangguan hematologi, hiperbilirubin, dll)

(6)

Tetanus Neonatorum

Cause : bacterium Clostridium tetani.

(7)

Neonates Diagnosis

• Berdasarkan Usia

NKB : kurang 36 minggu

NCB : 36-42 minggu

NLB : > 42 minggu

• Berdasarkan BBL

KMK : < persentil 10

SMK : persentil 10-90

BMK : > persentil 90

(8)
(9)

How to differentiate?

Characteristic Preterm At Term

Posture More relaxed, limbs more extended,

body size smaller, head larger in proportion, lanugo is abundant

More subcutaneous fat tissues, rest in a more flexed attitude

Ear Cartilages are poorly developed Cartilage well formed

Sole More rigid, fine wrinkles Deeply creased

Female genital Clitoris prominent, labia major gaping Fully developed Male genital Scrotum less pendulous, minimal

ruggae, may develop UDT

Testes both in scrotal sac, well developed

Scarf sign + Resisting attempt

(10)

Age = (2*score+120) /5)

(11)
(12)

Lesi Features of external swelling Increases after birth Cross Suture Lines Marked Blood Loss Caput succadeneum

Soft, pitting No Yes No

Cephal hematoma

Firm, tense (may calcify and later liquefy)

Yes No No

Subgaleal hematome

(13)
(14)

Down Syndrome

Children with Down syndrome have multiple malformations, medical conditions, and

cognitive impairment because of the presence

(15)

Spina

Bifida

Kurangnya asupan asam folat

Tubuh bagian bawah dapat terkena dampaknya terutama kaki, bladder, dan usus.

Gejala lain dapat berupa: orthopedic deformities, Hydrocephalus, Chiari II malformation (structural defects in the part of the brain that controls balance)

(16)

Necrotizing Enterocolitis

(17)

NEC

Bayi dengan NEC mempunyai variasi gejala klinis dan onset bisa secara

tersembunyi maupun tiba-tiba. Onset NEC biasanya muncul pada

usia <

2 minggu pertama kelahiran sampai 3 bulan pada bayi yang

berat lahir sangat rendah.

Tanda umum pada NEC (WHO (2008):

a.

Distensi perut atau adanya nyeri tekan

b.

Toleransi minum yang buruk

c.

Muntah kehijauan atau cairan kehijauan keluar melalui NGT

d.

Darah pada feses

e.

Tanda-tanda umum gangguan sistemik :

Apneu

Terus mengantuk atau tidak sadar

Demam atau hipotermi

(18)
(19)
(20)
(21)

Tidak terkonjugasi:Bil I

• Bilirubin indirek

• Tidak larut dalam air

• Berikatan dengan albumin untuk

transport

• Komponen bebas larut dalam

lemak

• Komponen bebas bersifat toksik

untuk otak

Terkonjugasi:BIL II

• Bilirubin direk

• Larut dalam air

• Tidak larut dalam lemak

• Tidak toksik untuk otak

(22)

Mengapa bayi mengalami ikterus pada minggu

pertama kehidupan?

• Meningkatnya produksi bilirubin

– Turnover sel darah merah yang lebih tinggi

– Penurunan umur sel darah merah

• Penurunan ekskresi bilirubin

– Penurunan uptake dalam hati

– Penurunan konyugasi oleh hati

– Peningkatan sirkulasi bilirubin enterohepatik

Ekskresi bilirubin membaik setelah 1 minggu

(23)

Faktor risiko :

• BBLR,

• Penyakit hemolisis karena inkompatibilitas

gologan darah ABO, RHESUS

• Asfiksia atau asidosis,

• Hipoksia, trauma serebral,

(24)
(25)

IKTERUS NON FISIOLOGIS

• Awitan terjadi sebelum usia 24 jam

• Tingkat kenaikan > 0,5 mg/dl/jam

• Tingkat cutoff indirect

> 12 mg/dl pada bayi cukup bulan

> 15 mg/dl pada bayi prematur

• Ikterus bertahan

> 14 hari pada bayi cukup bulan

> 21 hari pada bayi prematur

• Direct bilirubin >20% or >1,5 mg/dL

• Kramer 5

• Tanda-tanda penyakit lain

TOO EARLY

TOO LONG

TOO HIGH

(26)
(27)

Ikterus pada neonatus:

MENGAPA KITA KHAWATIR ?

 bilirubin

bilirubin ensefalopati

Kernikterus

Tahap 1: Letargi, hipotonia, refleks isap buruk

Tahap 2: Demam, hipertonia, opistotonus

Tahap 3: Kondisi terlihat membaik

Sekuele:

Kehilangan pendengaran sensorineural

Serebral palsi koreoatetoid

(28)
(29)
(30)

Penatalaksanaan

Usia

Terapi sinar

Transfusi Tukar

Bayi sehat

Faktor Risiko*

Bayi sehat

Faktor Risiko*

mg/dL

mol/L mg/dL

mol/L mg/dL

mol/L mg/dL

mol/L

Hari 1

Setiap ikterus yang terlihat

15

260

13

220

Hari 2

15

260

13

220

25

425

15

260

Hari 3

18

310

16

270

30

510

20

340

Hari 4

dst

20

340

17

290

30

510

20

340

* (American Academy of Pediatrics, Subcommittee on hyperbilirubinemia, Management of hyperbil in NB, 2004)

(31)

Bayi yang diberi minum lebih awal atau lebih sering mempunyai insiden lebih rendah untuk terjadinya ikterus fisiologis.

Pada bayi yang diberi minum ASI cenderung memiliki kadar bilirubin yg lebih tinggi dalam serumnya, disbanding bayi yang dberikan susu formula.

Jaundice pada Bayi yang Mendapat ASI

Bayi yang

mendapat ASI

Early Onset

Jaundice

Berhubungan

dengan breast

feeding

Late Onset

Jaundice

Berhubungan

dengan ASI

(32)

Hyperbilirubinemia in breast-fed infants

Breast-feeding Jaundice

Breast-milk Jaundice

Onset During the first week of life After the first week of life

Etiology Poor caloric intake and/or dehydration

increased enterohepatic circulation of bilirubin as a result of the presence of

beta-glucuronidase in human milk and/or

to the inhibition of the hepatic

glucuronosyl transferase by a factor such as free fatty acids in some human milk Usual time of peak bilirubin 3-6 days 5-15 days Peak TSB >12 mg/dl >10mg/dl Age when TSB <3mg/dl >3 weeks 9 weeks Incidence 12-13% 2-4%

(33)

Hemolytic disease as a cause of jaundice?

• Family history

of hemolytic disease

• Bilirubin rise of >0.5 mg/dL/h

• Failure of phototherapy

to lower serum bilirubin levels

• Ethnicity suggestive of inherited disease (e.g., glucose

6-phosphate dehydrogenase deficiency)

• Onset of jaundice before 24 hours of age

• Reticulocytosis

(>8% at birth, >5% during first 2-3 days,

>2% after first week)

• Changes in peripheral smear (microspherocytosis,

anisocytosis, target cells)

• Significant decrease in hemoglobin

(34)
(35)

Inkompatibilitas ABO

• Infants who are type A or B

and whose

mothers

are type O

.

• In individuals with type A or B blood, naturally

occurring anti-A and anti-B isoantibodies are

primarily igM and do not cross the placenta.

• However, in type O individuals, isoantibodies are

frequently IgG. These antibodies can cross the

placenta and cause hemolysis. Although

approximately 12% of maternal/infant pairs

qualify as "set ups" for ABO incompatibility, < 1%

of infants have significant hemolysis.

(36)
(37)

Diagnostic

The diagnosis based on history and laboratory findings:

• The typical diagnostic findings

: jaundice, pallor (anemia),

hepatosplenomegaly, and fetal hydrops in severe cases

.

• The jaundice typically

manifests at birth or in the first 24 hours

• Blood tests done on the newborn baby

– Biochemistry tests for jaundice

– Peripheral blood morphology shows increased reticulocytes. Erythroblasts (also known as nucleated red blood cells) occur in moderate and severe disease.

– Positive direct Coombs test (might be negative after fetal interuterine blood transfusion)

• Blood tests done on the mother

– Positive indirect Coombs test

• Serological diagnostic :

– Golongan ABO – Rh

(38)
(39)
(40)
(41)
(42)
(43)
(44)
(45)

•Umumnya bayi post term, kecil

masa kehamilan dengan kuku

panjang dan kulit terwarnai oleh

mekonium menjadi kuning

kehijauan dan terdapat mekonium

pada cairan ketuban.

•Cairan amnion berwarna kehijauan

dapat jernih maupun kental

•Tanda sindrom gangguan

pernafasan mulai tampak dalam 24

jam pertama setelah lahir.

•Kadang-kadang terdengar

ronchi pada kedua paru dan

mungkin terlihat empishema

atau atelektasis.

•Kesulitan benafas saat lahir

•Retraksi

•Takhipnea

•Sianosis

•Frekuensi denyut jantung rendah

sebelum dilahirkan

(46)

Transient Tachypnea of Newborn

• respiratory disorder seen shortly after delivery in full-term or late preterm

babies

• Transient tachypnea of the newborn (TTN) is a self-limited disease

• Transient tachypnea is more likely to occur in babies who were:

1. Born before 38 weeks gestation

2. Delivered by C-section, especially if labor has not already started

3. Born to a mother with diabetes

• Newborns with transient tachypnea have breathing problems soon after

birth, most often within 1 - 2 hours.

• Symptoms include:

1. Bluish skin color (cyanosis)

2. Rapid breathing, which may occur with noises such as grunting

3. Flaring nostrils or movements between the ribs or breastbone known

as retractions

(47)
(48)
(49)
(50)

Rheumatic Fever (Jones Criteria)

Required

Criteria

Evidence of antecedent Strep infection: ASO / Strep

antibodies / Strep group A throat culture

Major Criteria

(CaPoCES)

Carditis Polyarthritis migratory Chorea Erythema marginatum Subcutaneous Nodules

Minor Criteria

Fever Arthralgia Previous RF or RHD

Acute phase reactants: ESR / CRP

Prolonged PR interval

1 Required Criteria + 2 Major Criteria + 0 Minor Criteria 1 Required Criteria + 1 Major Criteria + 2 Minor Criteria

(51)

Subcutaneous nodule

(52)
(53)
(54)
(55)
(56)

Heart auscultation sites –punctum

maximum?

(57)
(58)

Ejection systolic

Holosystolic

Early diastolic

Pandiastolic

(59)

Congenital Heart Disease

Typical Heart Sounds

ASD S1 normal/mengeras, S2 split lebar dan menetap. Daerah

pulmonal terdengar murmur ejeksi sistolik akibat stenosis pulmonal relatif

VSD Pansistolik murmur, bisa didahului early systolic click.

Punctum maximum di SIC III-IV LPS sinistra.

PDA Murmur kontinu pada SIC II-III LPS sinistra

ToF S1 normal, S2 tunggal. Murmur ejeksi sistolik di daerah

(60)
(61)
(62)
(63)
(64)
(65)
(66)
(67)
(68)

Tanda Gejala

a.

Sianosis

b.

Dispnea: Terjadi bila penderita melakukan aktifitas fisik.

c.

Serangan-serangan dispnea paroksimal (serangan-serangan anoksia

biru) umum pada pagi hari. Semakin bertambah usia, sianosis

bertambah berat. setelah melakukan aktivitas, anak selalu jongkok.

d.

Keterlambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan

e.

Denyut pembuluh darah normal

f.

Bising sistolik

g.

Bayi mengalami kesulitan untuk menyusu

h.

Jari tangan clubbing

i.

Serangan sianosis biasanya terjadi ketika anak melakukan aktivitas

(misalnya menangis atau mengedan), dimana tiba-tiba sianosis

memburuk sehingga anak menjadi sangat biru, mengalami sesak nafas

dan bisa pingsan.

(69)

“Tet Spell”

• “Tet spells” at

2-3yo, child

becomes

cyanotic, may

experience

syncope

(70)
(71)
(72)

Chest radiograph will show

oligaemic lung fields. The cardiac silhouette may be normal size, or enlarged (in the case above, this was from right atrial enlargement due to poor communication between right and left atria via a restricted foramen ovale). Fistulae from the right ventricle to the coronary circulation may be present, particularly if the right ventricle and tricuspid valve are small.

(73)
(74)

Eisenmenger Syndrome

Symptoms:

• cyanosis (pale blue or grayish skin due to decreased oxygen in the blood) • dyspnea on exertion (shortness of breath with activity)

• shortness of breath at rest • fatigue

• chest pain or chest tightness

• heart palpitations ("skipping beats" or "racing") • headache

• dizziness or syncope (fainting)

• paresthesias (numbness and/or tingling of fingers and toes) • blurred vision

Complications:

• blood clots (e.g., deep vein thrombosis in extremities) • hemorrhage (bleeding)

• stroke

• brain abscesses • gout

(75)
(76)

Tuberculosis

Pathogenesis

(77)

Sistem Skoring TB Anak

Cut-off point: > 6  TERAPI

• Adanya skrofuloderma langsung didiagnosis TB

(78)

Interpretasi

• Cara : Suntikkan

0,1 ml PPD

intrakutan di

bagian volar

lengan bawah.

Pembacaan 48-72

jam setelah

penyuntikan

 0 - 5 mm : negatif

 5 - 9 mm :

meragukan

 > 10 mm : positif

Bila Negatif:

1.

Tidak ada infeksi TB

2.

Masa inkubasi

(79)

©Bimbel UKDI MANTAP

Diagnosis TB

Anak

(80)

Prinsip Pengobatan TB Anak

(81)

• Fase Intensif

: Kombinasi 3-5 OAT selama 2 bulan awal (2 RHZ)

• Fase Lanjutan

: Kombinasi 2 OAT selama 4 bulan (4 RH)

(82)

Pemantauan TB Anak

(83)

Klasifikasi TB

(ATS/CDC modified)

Kelas

Kontak

Infeksi

(Tuberkulin)

Sakit

Tindakan

0

-

-

-

-1

+

-

-

Profilaksis I

2

+

+

-

Profilaksis II

(84)

Profilaksis Primer

• Mencegah Infeksi TB

• Kontak (+), Infeksi (-)  uji tuberkulin negatif

• Obat:

INH 5 - 10 mg/kgBB/hari

• Selama kontak ada: kontak harus diobati

• 3-6 bulan

• Ulang uji tuberkulin:

– Negatif: berhasil, stop INH

(85)

Profilaksis sekunder

• Mencegah sakit TB: paparan (?), infeksi (+), sakit (-)

• Uji tuberkulin positif

• Populasi risiko tinggi

– BALITA, Pubertas

– Penggunaan steroid yang lama

– Keganasan

– Infeksi khusus: campak, pertusis

• Obat:

INH 5 - 10 mg/kgBB/hari

(86)
(87)

Diagnosis

Ciri

Asma

 Hipersensiti

fitas

-Riwayat wheezing berulang, kadang tidak berhubungan

dengan batuk pilek -> ada pencetus

-hiperinflasi dinding dada

-Ekspirasi memanjang

-Berespon baik terhadap bronkodilator

-Riwayat keluarga dengan alergi

Bronkiolitis

 RSV

-Episode pertama Wheezing pada anak umur <2 tahun

-Hiperinflasi dinding dada

-Ekspirasi memanjang

-Dapat disertai demam subfebris

-Gejala pada pneumonia juga dapat dijumpai

-Respon kurang/tidak ada respon dengan bronkodilator

(88)
(89)
(90)

Classification

Derajat Keparahan

KNAA:

•Episodik Jarang

•Episodik Sering

•Persistent

WHO/GINA:

•Intermitent

•Persisten ringan

•Persisten sedang

•Persisten Berat

Derajat Serangan

•Ringan

•Sedang

•Berat

Level Kontrol

•Terkontrol

•Partially controlled

•Tidak terkontrol

(91)
(92)
(93)

PNEUMONIA

Pneumonia Ringan

DEMAM + batuk dan kesulitan

bernafas, dapat ditemui nafas cepat

Kotrimoksasol 2x4mg TMP/kgBB(3

hari) ATAU

Amoksisilin 2x25mg/kgBB (3 hari)

 bisa rawat jalan

Pneumonia Berat

DEMAM + batuk dan kesulitan bernafas, + minimal satu dari:

- Kepala terangguk-angguk - Pernafasan cuping hidung - Retraksi subkostal

-Foto dada menunjukkan gambaran pneumonia (infiltrat luas, konsolidasi, dll)

- Tidak dapat menyusu, atau memuntahkan semuanya

- Kejang, letargis. Atau tidak sadar - Sianosis

-Distress nafas berat

Ampisilin/amoksisilin 4x25-50

mg/kgBB/kali IV atau IM DAN

+ Kloramfenikol 3x25mg/kgBB IM atau IV ATAU + Gentamisin 1x7,5mg/kgBB IM ATAU Seftriakson 1x80-100 mg/kgBB IM atau IV  rawat inap

(94)

E.Colli

aerobic gram-negative bacilli, lactose-fermenting and beta-hemolytic on blood agar.

Klebsiella pneumoniae

Gram negative bacteria, bacilli,

non-motile, lactose fementinge

Pseudomonas aeruginosa

Gram negative, aerobic, coccobacillus bacterium with unipolar motility

it can be isolated as clear colonies onMacConkey agar, positive oxidase test, non ferment lactosa

Haemophilus influenza

Gram negative, coccobacill, facultative anaerobic bacterium

Media isolasi chocolate agar  varian agar darah yg dilisiskan mll pemanasan

(95)

Diagnosis Banding Stridor

Diagnosis Gejala

Croup

- Batuk Menggonggong - Low grade fever

- Suara Serak

- Distress pernafasan

Benda Asing

- Riwayat tiba-tiba tersedak - Distres Pernafasan

Difteri

- Imunisasi DPT tidak ada/tidak lengkap - Sekret hidung bercampur darah

- Bull neck

- Tenggorokan merah / faringitis

- Membran putih keabuan di faring/tonsil -> pseudomembran

Laryngomalacia

The most common cause of chronic stridor, esp in children < 2 y.o.

 a sign of upper airway obstruction.

 Inspiratory stridor suggests airway obstruction above the glottis while an

expiratory stridor is indicative of obstruction in the lower trachea.

(96)
(97)

Croup

(98)

Dexamethasone dose:

(99)

Croup

Klasifikasi Penanganan Croup Ringan: -Demam -Suara Serak -Batuk Menggonggong

-Stridor Terdengar hanya jika anak gelisah

Corticosteroid (Dexamethasone)

Edukasi, bila membaik -> rawat jalan

Croup Sedang:

-Batuk menggonggong lebih sering

-Stridor terdengar walaupun anak tenang -Nafas cepat dan tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam

Corticosteroid (Dexamethasone)

Monitor dalam 4 jam

Membaik -> Edukasi, rawat jalan

Jika tidak membaik, tangani sebagai Croup Berat

Croup Berat:

-Batuk menggonggong lebih sering -Stridor terdengar jelas

-Nafas cepat dan tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam

-Anak agitasi dan stressed

- Corticosteroid (Dexamethasone)

- Epinefrin rasemik. 2ml adrenalin 1/1000 dalam 2-3 ml NaCl, dengan nebulizer selama 20 menit, ulangi bila perlu - Oksigenasi

(100)

Croup

Intubasi dan trakeostomi

:

Jika terdapat tanda obstruksi saluran respiratorik

seperti tarikan dinding dada bagian bawah ke

dalam yang berat dan anak gelisah, lakukan intubasi

(101)

EPIGLOTITIS

: infeksi pada epiglotis/supraglotis

Epiglotitis hampir selalu disebabkan oleh bakteri haemophilus influenza tipe b

Gejala

3D: drooling (air liur keluar berlebihan), dysphagia (sulit menelan), dysphonia (suara serak) + stidor.

(102)

Epiglottitis

Thumb sign

Normal Epiglotis : Halloween Sign

(103)

Epiglotitis

Kondisi Pasien Terapi/Penanganan

Stable (no airway compromise, respiratory difficulty, stridor, or drooling, and who have only mild swelling on laryngoscopy)

Broad-spectrum antibiotic. Immediate tx.

Should not wait for the blood and tissue culture result.

More targeted antibiotic. The drug may be

changed later, depending on what's causing the epiglottitis.

Unstable (respiratory distress, airway compromise on examination, stridor,

inability to swallow, drooling, sitting erect, and deterioration within 8-12 hours)

Jaga patensi jalan nafas:

-Awasi ketat

Jika diperlukan: intubasi/tracheostomy/ cricothyrotomy/percutaneous transtracheal jet ventilation (PTJV)

(104)

Pertusis

• Causa: Bordetella Pertusis

• Batuk Berat lebih dari 2 minggu

• Batuk Paroksismal diikuti suara whoop saat inspirasi

“whooping cough”

• Perdarahan Subkonjungtiva

• Anak tidak tahu atau belum lengkap imunisasi terhadap

pertusis

• Bayi muda mungkin tidak disertai whoop, tetapi batuk

yang diikuti oleh berhentinya napas atau sianosis, atau

napas berhenti tanpa batuk (apneic spell)

(105)
(106)

Pertusis

Stadium Kataral

• Gejala minimal dengan/tanpa demam; rinorea; anoreksia, frekuensi

batuk bertambah. Paling infeksius.

Stadium Paroksismal

• Batuk paroksismal yang dicetuskan oleh pemberian makan (bayi) dan

aktivitas; inspiratory whooping; post-tussive vomiting. Muka merah

atau sianosis; mata menonjol; lidah menjulur; lakrimasi; hipersalivasi;

distensi vena leher selama serangan; apatis; penurunan BB.

Stadium Konvalesens;

• gejala akan berkurang dalam beberapa minggu sampai dengan

beberapa bulan; dapay terjadi petekia pada leher/kepala; perdarahan

konjungtiva, dan terdengar crackles difus

(107)

Pertusis

• Eritromisin oral (12,5 mg/kgBB/kali, 4 kali sehari)

selama 14 hari atau jenis makrolid lainnya.

• > 6 bulan rawat jalan, <6 bulan rawat inap

Usia Eritromisin Klaritromisin Azitromisin Alternatif TMP-SMX

<1 bulan 40-50 mg/kgBB/hari terbagi 4 dosis selama 14 hari Tidak direkomendaik an 10 mg/kgBB/hari dosis tunggal selama 5 hari Kontraindikasi untuk <2 bulan 1 s.d. 5 bulan s.d.a 15 mg/kgBB/hari terbagi 2 dosis selama 7 hari

s.d.a Usia>2 bulan: TMP 8

mg/kgBB/hari; SMX 40 mg/kgBB/hari terbagi 2 dosis selama 14 hari > 6 bulan s.d.a (maks 2

g/hari)

s.d.a 10 mg/kgBB dosis

tunggal pada hari 1 (maks 500 mg); kemudian 5

mg/KgBB/ hari dosis tunggal pada hari ke 2-5 (maks 250 mg) s.d.a Remaja 2 g/hari terbagi 4 dosis selama 24 hari 1 g/hari terbagi 2 dosis selama 7 hari 500 mg dosis tunggal pada hari 1, kemudian 250 mg dosis tunggal hari ke 2-5

TMP 300mg/hari; SMX 1.600 mg/hari terbagi 2 dosis selama 14 hari

(108)
(109)

DENGUE

(110)
(111)

Normal hematocrit levels

Newborns: 55%-68%

One (1) week of age: 47%-65%

One (1) month of age: 37%-49%

Three (3) months of age: 30%-36%

One (1) year of age: 29%-41%

Ten (10) years of age: 36%-40%

Adult males: 42%-54%

Adult women: 38%-46%

Adult pregnant women: about 30% - 34% lower limits and

46% upper limits

(112)
(113)
(114)

Tata laksana Cairan IV (WHO)

Cairan awal: BB <15kg : 7 ml/kgBB/jam BB 15-40kg: 5 ml/kgBB/jam BB > 40kg : 3 ml/kgBB/jam Tetesan dikurangi secara bertahap

Monitor tanda vital, diuresis AT, Ht, Hb, leukosit tiap 6jam

Perbaikan

Gelisah Distres nafas Frek nadi naik Ht tinggi

Diuresis kurang Tidak ada perbaikan

Berikan tatalaksana Syok Tidak gelisah Nadi kuat Tek drh stabil Ht turun Diuresis 1 ml/kgBB/jam

(115)

Dengue

syok

O2 2-4 l/menit

Larutan isotonis 20ml/kgbb/jam

RL / RA / NS

Evaluasi. Perbaikan?

Ya Tidak 10 ml/KgBB/jam dalam 2-4 jam Evaluasi ketat Klinis stabil

Stop cairan tidak >48 jam setelah syok teratasi

Lanjutkan pemberian Kedua; atau pertimbangkan

pemberian koloid 10-20ml/kgBB/jam (max 30 ml.kgBB/24 jam Tidak teratasi Syok teratasi Ht turun naik koloid transfusi Tdk ada perbaikan Inotropik

(116)
(117)

Tonsilitis folikular: >GABHS Tonsilitis lakunaris

Tonsilitis Akut

Folikular Lakunar Membranosa

Tonsilitis

(118)

Tonsilitis Kronik

(119)

Tonsillitis Akut Membranosa:

Diphteria

Tonsilitis membranosa: difteri Bull neck

Tx:

Anti Difteri Serum 40.000

IU im/iv

Penicillin Prokain 50.000

IU / kgBB / im (7 hari)

• Tanda tarikan dinding

dada bagian bawah ke dalam yang berat dan gelisah merupakan indikasi

dilakukan trakeostomi

(120)
(121)
(122)
(123)

Pemberian Vit A

• 50.000 IU pada < 6 bulan (1/2 kap biru)

• 100.000 IU pada 6-11 bulan (1 kap biru)

• 200.000 pada 12 bulan hingga 5 tahun (1 kap merah)

• Pada gizi buruk diberikan 3 kali: hari 1, hari 2, dan 2-4

minggu setelah pemberian kedua

• Komplikasi campak:

– Pneumonia

– Dehidrasi

– Gizi buruk

– Ensefalitis

– OMA

(124)

TRIAS RUBELLA CONGENITAL

1. Sensory neural deafness (58% of

patients)

2. Eye abnormalities—

especially retinopathy, cataract and

microphtalmia (43% of patients)

(125)

Scarlet Fever

Group A Streptococcus

Sandpaper texture, pastia line

(126)

Erythema Infectiosum

Parvovirus B19

(127)
(128)
(129)

Mumps

Mumps is the classic virus known to cause parotitis. Mumps

parotitis is bilateral in 70% of cases and usually follows a 1-2 day

prodrome of fever, headache, emesis, and myalgias

Complications:

Deafness (SNHL), meningitis and/or encephalitis, painful swelling of the testicles or ovaries, and rarely sterility.

These diseases spread from person to

person through the air. One can easily catch them by being around someone who is already infected.

(130)

Enterobiasis

- Causa: Enterobius vermicularis

- Manusia adalah satu-satunya

host

- Sering menyerang anak pada

usia sekolah

- Symptom: gatal di area anus,

memburuk pada malam hari

- Drug of choice : Pirantel

Pamoat, albendazole

(131)
(132)
(133)
(134)

“Non-Toxic Adverse Food Reactions”

• Food Allergy

– Ingestion of food results in

hypersensitivity

reactions mediated most commonly by

IgE

• Food Intolerance

– Ingestion of food results in symptoms

not

immunologically mediated

, e.g: digestive and

absorptive limitations of host (e.g., lactase

(135)
(136)

Lactose Intolerance

• Inability to digest lactose

• Deficiency of the intestinal enzyme lactase

that

splits lactose into two smaller sugars, glucose and

galactose,

• Diagnosed by

– eliminating lactose from the diet

– milk challenge

– breath test

– blood glucose test

– stool acidity test

– intestinal biopsy

(137)

Lactose Intolerance

• Is a common cause of diarrhea and abdominal

discomfort in older children/teenager

• Diarrhea

• Flatulence

• Abdominal pain

• Abdominal bloating,

• nausea

(138)
(139)

Type of Lactose Intolerance

• Kongenital  Defisiensi Laktase kongenital akibat

mutasi gen – early onset

• Primer  induksi produksi laktase menurun, dapat

terjadi akibat penurunan frekuensi minum susu

setelah dewasa

• Sekunder  Adanya penyakit yg merusak mukosa

usus halus (penghasil laktase) misal dgn adanya

proses infeksi, post op GIT

(140)

•Hydrogen breath test. This is the most accurate lactose intolerance test.

Before the test, you need to avoid certain foods and medicines and cigarettes. On the day of the test, you will drink a liquid that contains lactose and then breathe into a machine several times over a couple of hours. If the hydrogen levels in your breath are high, you may have lactose intolerance. This test is not usually done on babies and very young children, because it can cause

severe diarrhea.

•Lactose tolerance test. This test measures your blood sugar after you eat or

drink lactose. After midnight on the night before the test, you should not eat or drink anything. On the day of your test, you will drink a liquid that contains

lactose, which may cause gas or pain in your belly. Then your blood will be tested every 30 minutes for 2 hours. If your blood sugar levels do not rise, you may be lactose-intolerant. This test is not done on people who have diabetes. And it is usually not done on babies and very young children

(141)
(142)

Food Allergy

(143)

Food Allergy

• Chronic manifestation

:

(144)
(145)
(146)
(147)
(148)

Kejang Demam : Klasifikasi

• Kejang demam sederhana (KDS)

• Kejang demam kompleks (KDK):

 Sifatnya fokal

 Lamanya >15’

(149)

Faktor risiko berulangnya kejang demam

• Riwayat kejang demam dalam keluarga

• Usia kurang dari 18 bulan

• Tingginya suhu badan sebelum kejang

• Lamanya demam sebelum kejang

* Bila ada 3 faktor

kemungkinan

berulang 80%

* Bila tidak ada faktor

10-15%

* Kemungkinan berulang paling besar pada

tahun pertama

(150)

Pungsi lumbal

• Menyingkirkan atau menegakkan diagnosis meningitis

• Pada kejang demam pertama

@ Umur < 12 bulan: harus dilakukan

@ Umur 12-18 bulan: harus difikirkan

@ Umur > 18 bulan: tidak dianjurkan, kecuali

ada gejala meningitis atau kecurigaan infeksi

intrakranial

(151)

Terapi

Diazepam rectal (0,5-0,75mg/kgBB), atau 5 mg utk. BB<10 kg, 10 mg utk BB>10 kg; atau iv 0,2 - 0,5 mg/kgBB/kali kecepatan 0,5-1 ml/menit

Tunggu 10 menit + oksigenasi

MASIH KEJANG

Diazepam dosis kedua

Tunggu 10 menit + oksigenasi

MASIH KEJANG

Diazepam dosis ketiga; atau Fenitoin IV/Fenobarbital IV/IM (15 mg/kgBB)

Tunggu 10 menit + oksigenasi

MASIH KEJANG

Masuk ICU - anestesi umum Midazolam

(152)
(153)

Pemberian obat rumatan untuk kejang demam diberikan

dengan indikasi berikut:

·

Kejang lama >15 menit

· Kejang fokal

· Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah

kejang, misalnya hemiparesis, paresis Todd, cerebral palsy,

retardasi mental, hidrosefalus.

· Pengobatan rumatan dipertimbangkan bila:

* Kejang berulang 2 X atau lebih dalam 24 jam

* Kejang demam 4 X atau lebih pertahun

· Adanya gangguan perkembangan saraf

(CP, mikrosefal)

(154)

Terapi Jangka Panjang

Obat yang biasa digunakan:

- Fenobarbital

4-5 mg / kg BB/hari

- Asam Valproat 15-40 mg/kg BB/hari

-

Fenitoin & carbamazepin tidak efektif

untuk pencegahan kejang demam

Selama minimal 1 tahun bebas kejang, dengan

penurunan dosis bertahap.

(155)

Febrile Seizures: Clinical Practice Guideline for the Long-term Management of the Child With Simple Febrile Seizures – AAP Guidelines 2008

(156)

absans umum: postiktal langsung sadar

(157)

Photosensitive Epilepsy

People with photosensitive

epilepsy

have seizures

that are triggered by:

• Flashing lights

• Bold, contrasting visual patterns (such as stripes

or checks)

• Overexposure to video games

Anti-epileptic medicines are available to reduce the

risk of a seizure. But people with photosensitive

epilepsy should take steps to minimize their

exposure to seizure triggers.

(158)

OAE Lini Pertama

Tipe Kejang OAE Lini Pertama Dewasa OAE Lini Pertama Anak

Lena

VPA

LTG

VPA

ETX

Mioklonik VPA VPA

Tonik Klonik

VPA

CBZ

PHT

PB

VPA

CBZ

PB

Atonik VPA Parsial CBZ PHT PB OXC LTG TPM GBP CBZ PHT PB OXC LTG TPM GBP

Tidak Terklasifikasi VPA VPA

(159)
(160)
(161)

Treatment Recommendation –Epilepsy

“If complete seizure control is accomplished by an

anticonvulsant, a minimum of 2 seizure-free years is

an adequate and safe period of treatment for a

patient with no risk factors”

“When the decision is made to discontinue the drug,

the weaning process should occur for 3–6 mo,

because abrupt withdrawal may cause status

epilepticus”

National Institute of Health and Clinical Excellence. The diagnosis and management of the epilepsies in adults and children in primary and secondary care. 2012.

(162)
(163)

Cerebrospinal Fluid

Appearance Opening Pressure Leukosit Dominansi leukosit Protein Glucose NORMAL Clear <18 cmH2O 0-3

sel/mm3 (-) 15-45 45-80 Pyogenic bacterial Meningitis Yellowish, turbid   PMN   Viral Meningitis Clear N  Limfosit N/ N/ Tuberculous Menigitis Yellowish and viscous (N/slightly cloudy) N  Limfosit    Fungal

Meningitis and viscous Yellowish (fibrin web)

(164)

Acute Bacterial Meningitis

• A number of strains of bacteria can cause acute

bacterial meningitis. The most common include:

– Streptococcus pneumoniae (pneumococcus)*

– Neisseria meningitidis (meningococcus)*

– Haemophilus influenzae

(haemophilus)* -> children

– E. coli

-> neonates

– Listeria monocytogenes (listeria)

(165)

Meningeal Signs

Kernig’s Sign

Brudzinski’s Neck Sign

Nuchal Rigidity

(166)

Superior Trunk (C5-C6) Injury:

Antara leher dgn bahu teregang →

Erb-Duchenne Palsy (Waiter’s Tip)

→ Paralisis m. deltoid, biceps, brachialis,

dan brachioradialis.

→ Adduksi bahu, rotasi medial lengan, dan

ekstensi siku. Parestesia lateral upper limb .

(167)

Inferior Trunk (C8-T1) Injury:

Tarikan mendadak dan keras upper limb →

(168)

Referensi

Dokumen terkait

ASI tidak perlu dibeli sehingga dana yang seharusnya digunakan untuk membeli susu formula dapat digunakan untuk keperluan lain dan karena bayi yang mendapat ASI lebih jarang

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Salsabi- la (2010), bahwa ada perbedaan status gizi bayi usia 6-12 bulan yang diberi ASI Eksklusif dengan bayi yang diberi susu formula

Beberapa penelitian yang membandingkan pola defekasi pada bayi yang mendapat ASI dan susu formula pada umumnya memfokuskan perhatian pada bulan-bulan pertama

pada plak balita yang minum ASI bila dibandingkan dengan balita yang minum susu formula lebih sedikit, perbedaan jumlah koloni pada plak balita yang minum ASI

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Salsabi- la (2010), bahwa ada perbedaan status gizi bayi usia 6-12 bulan yang diberi ASI Eksklusif dengan bayi yang diberi susu formula

Insiden karies dentis pada bayi yang mendapat susu formula jauh lebih tinggi dibanding yang mendapat ASI, karena kebiasaan menyusui dengan botol dan dot terutama pada waktu

Susu formula bayi terindikasi pada bayi yang mendapat ASI eksklusif dengan cara yang benar namun menunjukkan at risk of failure to thrive sedangkan bayi tersebut

R : Sistem pembekuan darah pada bayi baru lahir belum sempurna maka semua bayi beresiko untuk mengalami perdarahan tidak tergantung apakah bayi minum susu formula atau ASI atu kehamilan