BAB V
ANALISA FRAMING
5.1 Analisa Framing
Peneliti melakukan analisis framing pada berita headline tentang Kasus Nazaruddin di Harian Kompas dengan menggunakan perangkat framing Robert N. Etman. Berita yang akan diteliti berjumlah 10 berita yang diambil dari Harian Kompas edisi Juli 2011 sampai April 2012. 10 berita yang di teliti adalah berita yang penting dan dinilai dapat mewakili untuk mengungkap kasus korupsi Nasarudin. Untuk membahasnya, peneliti membuat kategori sesuai perangka framing dari Etnman. Hasil analisis ini selanjutnya akan dilihat sebagai bentuk peradilan yang dilakukan oleh media
Kasus Nazarudin mulai mengemuka, ketika tanggal 21 April 2011, Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap Sekretaris Menteri Pemuda dan Olah Raga Wafid Muharam, pejabat perusahaan rekanan Mohammad El Idris, dan perantara Mindo Rosalina Manulang karena diduga sedang melakukan tindak pidana korupsi suap menyuap. Penyidik KPK menemukan 3 lembar cek tunai dengan jumlah kurang lebih sebesar Rp 3,2 milyar di lokasi penangkapan dan ketiga orang tersebut dijadikan tersangka tindak pidana korupsi suap menyuap terkait dengan pembangunan wisma atlet untuk SEA Games ke-26 di Palembang, Sumatera Selatan. Pada 27 April 2011 dinyatakan bahwa Mindo Rosalina adalah staf Muhammad Nazarudin, walaupun sempat menyangkal akhirnya Nazarudin dijadikan tersangka kasus suap wisma atlit untuk SEA GAMES ke-26. Akan tetapi Nazzarudin sudah meninggalkan Indonesia sebelum statusnya ditetapkan menjadi tersangka. Dan melalui media massa Nazarudin menyatakan bahwa sejumlah pejabat lain juga terlibat dalam kasus suap
Cartagena de Indias, Kolombia. Dan pada 20 April 2012 divonis 4 tahun 10 bulan penjara. Dipihak lain kasus Nazaruddin ini, dianggap hanya permainan elite politik, dan Nazaruddin sebagai korban. Namum di pihak yang lain menganggap ini kasus hukum dan Nazaruddin yang sebagai tersangjka bersalah. Masing-masing pihak saling menggunakan klaim kebnenaran tertentu untuk meyakinkan khalayak bahwa mereka yang menang. Bagaimanakah Kompas selaku media memberitakan fakta kasus Nazaruddin?
5.1.1 List Judul berita di Harian Kompas yang terkait dengan Nazarudin
Tanggal Judul Berita
1 Juli 2011 Singapura Diminta Pulangkan
Nazaruddin Jadi Tersangka
9 Agustus 2011 Jaga Keselamatan Nazaruddin
Nazaruddin Ditangkap Polisi Khusus di Kolombia
14 Agustus 2011 Nazaruddin di Tangan KPK
Partai Demokrat Tidak Akan Beri Bantuan Hukum
1 Desember 2011 Hanya Angelina yang Disebut
Nazaruddin Mulai Diadili dalam Kasus Wisma Atlet
17 Januari 2012 Anas Disebut Ketua Besar
Mindo beberkan jatah untuk Demokrat
18 Januari 2012 KPK : Panggil Semua Nama
Ketua Tak Kebal Hukum
KPK: Wajar Angelina Berbohong
1 Maret 2012 Anas Terima Milyaran Rupiah
Anas Urbaningrum: itu Dagelan, Bukan kesaksian
29 Maret 2012 Nazaruddin Bersikukuh Tidak Tahu
21 April 2012 Dana untuk Anas
Dikesampingkan
Nazaruddin Dihukum 4 Tahun 10 Bulan Penjara
Table 5.1.1 List Judul berita headline di Harian Kompas yang terkait dengan Nazaruddin
Sumber : Harian Kompas Edisi Juli 2011 – April 2012
5.2 Analisis Framing Kasus Nazaruddin Pada KOMPAS
Pada analasis framing ini tiap berita akan dijabarkan satu persatu menurut elemen-elemen framing model Robert N. Entman
5.2.1 Berita Kompas 1 Juli 2011
Disini Kompas menurunkan laporan mengenai ditetapkannya Nazaruddin menjadi tersangka, dan diminta dipulangkan dari Singapura ke Indonesia, juga ditetapkannya Nazaruddin menjadi tersangka kasus penyuapan Wisma Atlet SEA Games. Ada 2 laporan yang diturunkan oleh Kompas pada edisi ini. Masing-masing dengan judul “ Singapura Diminta Pulangkan, Nazaruddin
Jadi Tersangka” sebagai tulisan utama, disusul “Jadi Korban” tulisan pendukung.
Problem identification (Define problem) :
Kompas mengidentifikasi kasus Nazaruddin ini sebagai masalah hukum. Segala hal yang berhubungan dengan kasus Nazaruddin ini tidak dari segi politik, tetapi dari aspek hukum. Ada beberapa alasan kenapa kita bisa mengatakan bingaki hukum sebagai bingaki yang dominaan dalam pemberitaan Kompas mengenai kasus Nazaruddin. Pertama, semua masalah ditarik dalam wilayah hukum. Dalam pandangan Kompas, kasus ini sarat dengan muatan dan nuansa hukum. Penangkapan Nazaruddin yang sudah ditetapkan menjadi tersangaka penyuapan wisma atlet, yang sedang buron inipun sudah mendapat dukungan penuh dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menurutnya Nazaruddin sudah merepotkan banyak pihak dan membebani pemerintah juga partai demokrat. Kedua, sebagai konsekuensi melihat masalah ini sebgai masalah hukum, sumber berita yang diwawancarai adalah sumber berita yang beelatar hukum. Atau kalaupun bukan orang yang berlatar belakang hukum (ahli hukum atau pengacara), tetapi berbicara dalam kerangka masalah hukum.
Judul Isi berita/ Wawancara Sumber
Singapura Diminta Pulangkan
Nazaruddin Jadi Tersangka
Presiden SBY meminta kerja sama pemerintah
Singapura untuk
memulangkan Naza rudin. Nazarudin jadi tersangka.
Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik Daniel Sparringa,
Ketua
Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK) Busyro Muqoddas Staf Khusus Presiden Bidang
Hukum Denny Indrayana Wakil Ketua
Casual Interpretaion (Diagnose Causes) :
Dalam keseluruhan berita Kompas, Nazaruddin diposisikan sebagai pelaku (aktor), sebagai penyebab masalah. Nazaruddin di tuding membebani membebani Partai Demokrat juga membebani kepemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono
“Menurut Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik Daniel Sparringa, Kamis (30/6),di Jakarta, Presiden sejak awal ingin dugaan korupsi yang mengaitkan Nazaruddin dibuka. Tak perlu ada yang ditutupi karena kasus itu tak hanya membebani Partai Demokrat, tetapi juga membebani pemerintahannya.”
Pada ini juga menjelaskan usaha Pemerintah juga KPK yang meminta kerja sama pemerintah Singapura untuk memulangkan Nazarudin yang sudah ditetapkan tersangka korupsi Wisma Atlet SEA Games ke Indonesia. Dapat dilihat bagaimana teks berita menempatkan penilaian hukum lebih dominan kepada Nazarudin, dan bagaimana Nazaruddin seolah-olah membuat repot banyak pihak dalam mengurus kepulangannya ke Indonesia sebagai tersangka.
“Secara terpisah, Wakil Ketua KPK Bibit Samad Rianto menyatakan belum ada langkah konkret dari KPK untuk memulangkan Nazaruddin. ”Kami akan lakukan semua prosedur. KPK tidak akan diam. Masak setiap langkah harus ngomong di koran. Kabur nanti
Jadi Korban Penasihat Hukum
Nazarudin mengatakan bahwa Nazarudin adalah korban rekayasa politik. Partai Demokrat berjanji akan membantu Nazarudin
apabila Nazarudin
membutuhkan bantuan dan bersedia pulang ke Indonesia dan mematuhi prosedur pemeriksaan
Penasihat hukum
Nazaruddin, OC Kaligis Ketua Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat Denny Kailimang
pengiriman red notice (perintah penangkapan) kepada Interpol masih dipertimbangkan. Tak ada batas waktu untuk memulangkan Nazaruddin ke Tanah Air.”
Kompas juga seakan menyetir pendapat Bibit bahwa Nazaruddin tidak memerlukan penjelasan ataupun pembelaan mengapa bisa dijadikan tersangka. Dimana dan bagaimanapun Nazaruddin sudah ditetapkan sebagai tersangka.
“ ”Kami tak menetapkan orang tanpa dasar. Apakah ia di dalam atau di luar (negeri), enggak ada urusan. Itu teknik penyidikan, pengembangan dari tertangkap tangan itu. Kami kembangkan hasilnya ketemu tersangka satu lagi,” kata Bibit “
Walaupun Penasihat Hukum Nazaruddin menyatakan, Nazarudin merupakan korban rekayasa politik, dan Nazarudin akan membeberkan Kader Demokrat yang terkait.
“ ”Jadi, sudah bisa diduga, awalnya akan dicegah (dilarang ke luar negeri), kemudian jadi saksi, lalu tersangka. Nanti diadili in absentia (tanpa kehadiran terdakwa) dan dihukum,” katanya . Karena dijadikan korban rekayasa politik, menurut Kaligis, Nazaruddin belum mau kembali ke Indonesia. Namun, Nazaruddin tetap akan membongkar korupsi yang melibatkan kader Partai Demokrat. ”
Posisi Nazarudin yang menjadi korban disini secara tidak langsung dipatahkan oleh Ketua Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat. Denny Kailimang menyatakan akan membela Nazarudin jika Ia meminta bantuan kepada Demokrat, asalkan Nazarudin mau pulang ke Indonesia dan memenuhi prosedur hukum yang ada.
“ ”Namun, kami tidak akan menawarkan bantuan hukum kepada Nazaruddin. Kami akan bersifat pasif. Jika ia membutuhkan, dapat meminta ke partai dan kami baru bergerak,” katanya. Namun, Denny berharap Nazaruddin memenuhi dahulu janjinya untuk kembali ke Tanah Air. Dengan demikian, ia dapat membuat klarifikasi dan menyampaikan pembelaan. Apalagi, salah satu isi sumpah jabatannya sebagai anggota DPR adalah taat dan patuh pada hukum.”
Jadi jika Nazarudin bersikeras tidak pulang ke Indonesia maka jelas membenarkan bahwa Nazarudin merupakan pihak yang bersalah.
Penilaian Nazarudin sebagai penyebab masalah pertama, ditetapkannya Nazarudin sebagai tersangka. Kedua , jika memang Nazarudin tidak bersalah mengapa Ia tidak kembali ke Indonesia untuk mengklarifikasi dan menyampaikan pembelaannya sesuai yang di ungkapkan Deni Kailimang. Dengan ditegaskannya Polri akan membantu KPK dan bisa meminta bantuan Interpol untuk meburu Nazarudin. Semakin menguatkan bahwa Nazarudin adalah pihak yang bersalah dan tidak mempunyai pilihan lain selain kembali ke Indonesia dan menjalankan prosedur hukum yang ada.
Treatment Recommendation :
Atas semua masalah yang disebabkan oleh Nazaruddin tersebut, Kompas “merekomendasikan” agar Nazaruddin segera ditangkap, dipulangkan, dan dibawa kepengadilan. Ini sebagai konsekuensi logis dari melihat kasus ini sebagai maslah hukum, bukan politik atau moral. Dan sebagai masalah hukum yang dibidik sebagai tersangka memang Nazaruddin.
5.2.2 Berita Kompas 9 Agustus 2011
Disini Kompas menurunkan laporan mengenai tertangkapnyanya Nazaruddin di Cartagena, Kolombia. Ada 4 laporan yang diturunkan oleh Kompas pada edisi ini. Masing-masing dengan judul “Jaga Keselamatan Nazaruddin, Nazarudin Ditangkap Polisi Khusus di Kolombia” sebagai tulisan utama, disusul “Bersama Neneng” . “Pasti Nazaruddin”, “Prestasi Tim” sebagai tulisan pendukung.
Problem identification (Define problem) :
politik, tetapi dari aspek hukum. Ada beberapa alasan kenapa kita bisa mengatakan bingkai hukum sebagai bingkai yang dominaan dalam pemberitaan Kompas mengenai kasus Nazaruddin. Pertama, semua masalah ditarik dalam wilayah hukum. Dalam pandangan Kompas, kasus ini sarat dengan muatan dan nuansa hukum.Dilihat dari peristiwa Penangkapan Nazaruddin oleh hasil kerja sama Interpol, KPK, Kementrian Luar Negeri, dan Hak Asasi Manusia . Presiden Indonesia yang meminta Nazaruddin segera dipulangkan ke Indonesia dan segera menjalani proses hukum di Komisi Pemberatasan Korupsi. Kedua, sebagai konsekuensi melihat masalah ini sebagai masalah hukum, sumber berita yang diwawancarai adalah sumber berita yang berlatar belakang hukum. Atau kalaupun bukan orang yang berlatar belakang hukum (ahli hukum atau pengacara), tetapi berbicara dalam kerangka masalah hukum.
Judul Isi berita/ Wawancara Sumber
Jaga Keselamatan Nazaruddin
Nazaruddin Ditangkap Polisi Khusus di Kolombia
Nazaruddin di tangkap di Cartagena Kolumbia yang merupakan hasil kerjasama Interpol, KPK, Kementrian Luar Negeri, serta Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia
Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan,
Djoko Suyanto
Bersama Neneng Duta Besar RI di Kolumbia membenarkan penangkapan Nazaruddin. Saat ditangkap Nazarudin sedang bersama istrinya Neneg Sri Wahyuni.
Duta Besar RI untuk Kolombia,
Michael Menufandu. Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal, Anton Bachrul Alam Pasti Nazaruddin Dari hasil pemeriksaan
sidik jari di pastikan yang tertangkap di Kolumbia adalah Nazaruddin. Dan untuk lebih meyakinkan Polisi merencanakan
pemeriksaan DNA
terhadap Nazaruddin
Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal, Anton Bachrul Alam
Casual Interpretaion (Diagnose Causes) :
Dalam keseluruhan berita Kompas, Nazaruddin terlihat sebagai pelaku (aktor), sebagai penyebab masalah. Nazaruddin yang awalnya tidak mengakui identitas aslinya, akhirnya hasil sidik jari membuktikan bahwa yang ditangkap polisi khusus Cratagena benar Nazaruddin. Dalam keseluruhan isi berita jelas mengenai Nazaruddin yang ditetapkan sebagai tersangka Korupsi wisma Atlet dan juga menjadi buronan, akhirnya berhasil ditangkap Polisi Khusus di Cartagena, Kolumbia
“Di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Senin siang, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto, yang didampingi Kepala Polri Jenderal (Pol) Timur Pradopo, menyampaikan, Nazaruddin ditangkap di Cartagena, Minggu malam. Menteri Luar Negeri Marty Natale g awa menerima informasi penangkapan itu dari Duta Besar
Republik Indonesia di Kolombia. Penangkapan tersebut merupakan hasil kerja sama Interpol, KPK, Kementerian Luar Negeri, serta Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.”
Pada bagian lain Kompas menmpatkan KPK sebgai pihak sebagai aktor penting karena telah berhasil menangkap Nazaruddin. Kompas ingin KPK menjadi pusat sorotan dalam penangkapan Nazzarudin.
“ Ketua KPK M Busyro Muqoddas mengatakan, penangkapan Nazaruddin merupakan prestasi. ”Ini prestasi tim yang sistemik,” katanya.”
Moral Evaluation (Make Moral Judgement) :
Penilaian Nazarudin sebagai penyebab masalah pertama, berhasil ditangkapnya Nazarudin oleh Interpol. Kedua , semua bukti yang ada termasuk hasil identifikasi data diri membuktikan bahwa yang tertangkap memang
dalam menangkap dan menanganani kasus Nazarudin ini. KPK juga di dukung oleh Presiden yang menyatakan percaya kepada KPK dalam menyelsaikan kasus Nazaruddin. Ini semakin jelas bahwa KPK ingin dilihat sebagai pihak yang sudah memberikan penenganan yang terbaik dalam kasus Nazaruddin ini.
Treatment Recommendation :
Atas semua masalah yang disebabkan oleh Nazaruddin tersebut, Kompas “merekomendasikan” agar Nazaruddin segera ditangkap, dipulangkan, dan dibawa kepengadilan. Ini sebagai konsekuensi logis dari melihat kasus ini sebagai maslah hukum, bukan politik atau moral. Dan sebagai maslah hukum yang dibidik sebagai tersangka memang Nazaruddin.
5.2.3 Berita Kompas 14 Agustus 2011
Disini Kompas menurunkan laporan mengenai pemulangan Nazaruddin ke Indonesia dan penyerahan Nazaruddin ke tangan KPK. Ada 2 laporan yang diturunkan oleh Kompas pada edisi ini. Masing-masing dengan judul “ Nazaruddin Di Tangan KPK, Partai Demokrat Tidak Akan Beri Bantuan Hukum “ sebagai tulisan utama, disusul “ Dikawal Ketat ” tulisan pendukung.
Problem identification (Define problem) :
Kompas mengidentifikasi kasus Nazaruddin ini sebagai masalah hukum. Segala hal yang berhubungan dengan kasus Nazaruddin ini tidak dari segi politik, tetapi dari aspek hukum. Ada beberapa alasan kenapa kita bisa mengatakan bingkai hukum sebagai bingkai yang dominan dalam pemberitaan Kompas mengenai kasus Nazaruddin. Pertama, semua masalah ditarik dalam wilayah hukum. Dalam pandangan Kompas, kasus ini sarat dengan muatan dan
nuansa hukum.Dilihat dari peristiwa Penangkapan Nazaruddin oleh KPK hingga pemulangannya ke Indonesia dan penyerahaan Nazaruddin ketangan KPK. Kedua, sebagai konsekuensi melihat masalah ini sebagai masalah hukum, sumber berita yang diwawancarai adalah sumber berita yang berlatar belakang hukum. Atau kalaupun bukan orang yang berlatar belakang hukum (ahli hukum atau pengacara), tetapi berbicara dalam kerangka masalah hukum.
Judul Isi berita/ Wawancara Sumber
Nazaruddin di Tangan KPK
Partai Demokrat Tidak Akan Beri Bantuan Hukum Nazaruddin tiba di Indonesia, langsung diserahkan ke KPK. KPK menegaskan akan menjaga independensi. Presiden SBY percaya KPK
KPK,
Busyro Muqoddas, M Jasin,
Haryono Umar, Chandra M
Hamzah, Bibit Samad Rianto.
Kepala
Bareskrim Mabes Polri Komisaris
Jenderal Sutarman, dan pihak Imigrasi.
Juru Bicara
Kepresidenan Julian Aldrin
Pasha Dikawal Ketat Kronologi tibanya
Nazaruddin ke Indonesia, diserahkan ke KPK dan di tahan di Rutan Brimob. Demokrat tidak akan
memberi Nazaruddin
bantuan hukum
Direktur Tindak Pidana Tertentu Badan Reserse Kriminal Polri Brigadir Jenderal (Pol),
Anas yusuf. Juru bicara KPK, Johan Budy
Ketua Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat ,
Casual Interpretaion (Diagnose Causes) :
Dalam berita disini masalah yang akan disorot adalah mengenai tibanya Nazarudin di Indonesia dan langsung diserahkan kepada KPK. Nazaruddin dan KPK disini sama-sama sebagai actor. Nazarudin aktor yang negative karena merupakan tersangka yang akan ditahan dan dekenai tindak pidana. Sedangkan KPK adalah aktor positf yang berhasil menangkap Nazaudin dan akan memproses kasus Nazaruddin hingga tuntas. Disini KPK secara tidak langsung disorot sebagai aktor penting yang berjasa dalam Kasus Nazaruddin.KPK secara otomatis di diposisikan sebagai pihak yang patut di dukung dan dipercaya akan menyelsaikan kasus Nazaruddin.
“Busyro Muqoddas menegaskan, ”Kami pertahankan independensi kami. Jangan khawatir, kami akan transparan.”.”
Di bagian lain Demokrat yang awalnya menyatakan akan memberi bantuan kepada Nazaruddin, kini menyatakan tidak akan memberi bantuan kepada Nazaruddin karena Nazaruddin sudah bukan kader Demokrat dan sudah mempunyai pengacara
“Ketua Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat Deny Kailimang menuturkan, Partai Demokrat tidak akan memberi bantuan hukum kepada Nazaruddin. Pasalnya, Nazaruddin bukan lagi kader Partai Demokrat. Nazaruddin juga sudah memiliki pengacara.”
Seolah menekankan bahwa Nazaruddin pihak yang akan menjalani proses hukum tanpa di bantu pihak lainnya.
KPK sebagai pihak yang dipercaya dari dalam penanganan kasus Nazarudin ini di dukung oleh Presiden yang menyatakan percaya kepada KPK dalam menyelsaikan kasus Nazaruddin. Selain itu KPK juga menekankan akan meningkatkan keamanan Nazaruddin. Jadi KPK secara tidak langsung ingin membuktikan bahwa mereka sudah memberikan penenganan yang terbaik dalam kasus Nazaruddin ini.
Treatment Recommendation :
Atas semua masalah yang disebabkan oleh Nazaruddin tersebut, Kompas “merekomendasikan” agar proses pemeriksaan dan pengadilan Nazaruddin segera dilakukan dan diselesaikan. Ini sebagai konsekuensi logis dari melihat kasus ini sebagai maslah hukum, bukan politik atau moral. Dan sebagai maslah hukum yang dibidik sebagai tersangka memang Nazaruddin.
5.2.4 Berita Kompas 1 Desember 2011
Disini Kompas menurunkan laporan mengenai dimulainya proses pengedilan terhadap Nazaruddin. Ada 2 laporan yang diturunkan oleh Kompas pada edisi ini. Masing-masing dengan judul “ Hanya Angelina Yang Disebut, Nazaruddin Mulai Diadili dalam Kasus Wisma Atlet “ sebagai tulisan utama, disusul “ Tidak Pernah Ditanya ” sebagai tulisan pendukung.
Kompas mengidentifikasi kasus Nazaruddin ini sebagai masalah hukum. Segala hal yang berhubungan dengan kasus Nazaruddin ini tidak dari segi politik, tetapi dari aspek hukum. Ada beberapa alasan kenapa kita bisa mengatakan bingkai hukum sebagai bingkai yang dominan dalam pemberitaan Kompas mengenai kasus Nazaruddin. Pertama, semua masalah ditarik dalam wilayah hukum. Dalam pandangan Kompas, kasus ini sarat dengan muatan dan nuansa hukum. Kedua, sebagai konsekuensi melihat masalah ini sebgai masalah hukum, sumber berita yang diwawancarai adalah sumber berita yang beelatar hukum. Atau kalaupun bukan orang yang berlatar belakang hukum (ahli hukum atau pengacara), tetapi berbicara dalam kerangka masalah hukum.
Casual Interpretaion (Diagnose Causes) :
Judul Isi berita/ Wawancara Sumber
Hanya Angelina yang Disebut
Nazaruddin Mulai Diadili dalam Kasus Wisma Atlet
Nazarudin mulai diadili di Pengadilan tindak Pidana Korupsi.
Nama yang awal pernah diungkapkan Nazaruddin tidak disebutkan semua. Hanya nama Angelina
Sondakh saja yang
disebutkan
Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan Indonesia Corruption Watch, Febri Diansyah. Juru Bicara KPK, Johan Budi Ketua Departemen Penegakan
Hukum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat. Benny K Harman Tidak Pernah Ditanya Selama proses
penyelidikan Nazarudin tidak pernah ditanya mengenai hal-hal yang didakwakan kepadanya.
Nazarudin KPK
Dalam berita Kompas, Nazaruddin adalah pihak yang bersalah dan pihak penyebab. Masalah diletakkan pada Nazaruddin, yang awalnya sudah menjadi tersangka. Walaupun Nazaruddin juga yang mengungkapkan pihak-pihak Partai Demokrat yang terkait, tetap tidak merupah posisi Nazaruddin yang ditempatkan sebagai penyebab masalah. Berita keseluruhan di tujukan kepada Nazaruddin, sedangkan pihak-pihak lainnya dianggap tidak termasuk dalam bagian kasus ini. penilaian hukum pun lebih banyak di tujukan kepada Nazzarudin.
“ Ketua Departemen Penegakan Hukum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat Benny K Harman menyatakan bahwa pertanyaan terkait dakwaan terhadap Nazaruddin harus ditujukan kepada KPK. Partai Demokrat tak mengintervensi kasus itu. Kasus Nazaruddin menciptakan persepsi buruk pada Partai Demokrat. ”Kami serahkan kasus ini ke penegak hukum. Silakan dibuka di sidang dengan bukti dan bukan kata. Publik akan menilai langkah
KPK menangani kasus ini,” kata nya.”
Di sini jelas Demokrat diposisikan sebagai korban. Demokrat menyatakan bahwa kader yang diungkapkan Nazarudin terkait kasus Wisma Atlet, hanya Angelina saja yang disebut sebagai dakwaan karena jelas kaitannya dengan Nazaruddin. Sedangkan yang lain selain tidak di dukungnya bukti juga kurang jelas kaitannya antara dakwaan dan yang di dakwa.
“Juru Bicara KPK Johan Budi mengatakan, dakwaan harus terkait dengan orang yang didakwa.”Selain itu, nama-nama yang disebutkan Nazaruddin harus di dukung bukti. Tidak bisa hanya karena pengakuan, lantas orang lain dijadikan tersangka. KPK juga masih mengembangkan kasus ini. Apakah dalam sidang nanti muncul fakta lain yang mendukung pengakuan Nazaruddin tentu akan ditindaklanjuti. Kasus ini belum selesai,” katanya .”
Di bagian lain Nazaruddin kembali menceritakan kembali keterlibatan Anas. Nazaruddin pun mengeluhkan surat dakwaan yang dianggap cacat dan hasil rekayasa. Nazaruddin menyatakan Ia tidak mengerti perkara yang dituduhkan kepadanya karena KPK tidak pernah bertanya perihal perkara yang dituduhkan selama proses penyelidikan. Akan tetapi sebesar apapun pembelaan Nazaruddin akan di patahkan kembali oleh jaksa.
menyusun dakwaan, jaksa mendasarkan pada semua alat bukti yang diperoleh, bukan hanya keterangan terdakwa.”
Ini menegaskan bagaimana Nazaruddin ditempatkan sebagai pihak yang tidak di percaya.
Moral Evaluation (Make Moral Judgement) :
Nazaruddin dinilai sebagai sumber masalah datang dari pengungkapan Nazaruddin mengenai pihak-pihak lain yang terlibat. Bisa saja surat dakwaan Nazaruddin tidak ada bukti pendukung sehingga surat dakwaan dianggap cacat oleh jaksa. “ dalam menyusun dakwaan, jaksa mendasarkan pada semua alat bukti yang diperoleh, bukan hanya keterangan terdakwa ” . Selain itu pernyataan Juru bicara KPK juga “Selain itu, nama-nama yang disebutkan Nazaruddin harus di dukung bukti. Tidak bisa hanya karena pengakuan, lantas orang lain dijadikan tersangka. KPK juga masih mengembangkan kasus ini. Apakah dalam sidang nanti muncul fakta lain yang mendukung pengakuan Nazaruddin tentu akan ditindaklanjuti. Kasus ini belum selesai.” Menguatkan posisi Nazaruddin sebagai pihak yang tidak dipercaya.
Treatment Recommendation :
Atas semua masalah yang disebabkan oleh Nazaruddin tersebut, Kompas “merekomendasikan” agar proses pemeriksaan dan pengadilan Nazaruddin segera di tuntaskan. Ini sebagai konsekuensi logis dari melihat kasus ini sebagai maslah hukum, bukan politik atau moral. Dan sebagai maslah hukum yang dibidik sebagai tersangka memang Nazaruddin.
Disini Kompas menurunkan laporan mengenai kesaksian Mindo Rosalina Manulang, dlam terdakwa kasus penyuapan Wisma Atlet. Ada 2 laporan yang diturunkan oleh Kompas pada edisi ini. Masing-masing dengan judul “ Anas disebut ketua besar, Mindo beberkan jatah untuk Demokrat” sebagai tulisan utama, disusul “Keluarkan 20 Milyar” tulisan pendukung.
Problem identification (Define problem) :
Kompas mengidentifikasi kasus hukum. Segala hal yang berhubungan dengan kasus ini disoroti tidak dari segi politik, melainkan dari aspek hukum. Alasan mengapa dikatakan bingkai hukum yang menjadi bingkai dominan dalam pemberitaan Kompas adalah, Pertama, berita yang disampaikan mengenai kesaksian Mindo Rosalina Manulang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta mengenai kasus penyuapan wisma atlet dan pihak-pihak yang ikut terkait serta didalamnya seperti beberapa kader Partai Demokrat. Kedua, sebagai konsekuensi melihat masalah ini sebgai masalah hukum, sumber berita yang diwawancarai adalah sumber berita yang beelatar hukum. Atau kalaupun bukan orang yang berlatar belakang hukum (ahli hukum atau pengacara), tetapi berbicara dalam kerangka masalah hukum.
Judul Isi berita/ Wawancara Sumber
Anas Disebut Ketua Besar
Mindo beberkan jatah untuk Demokrat
Mindo Rosalina Manulang menegaskan ada jatah untuk Partai Demokrat dalam proyek wisma atlet. Hal ini diungkapkan saat Mido bersaksi dalam persidangan terdakwa kasus wisma atlet lainnya.
Mindo Rosalina Manulang
Penasihat Hukum
Nazaruddin Elsya Syarief
Penasihat Hukum Ketua Umum Partai Demokrat,
Anas Urbaningrum
Casual Interpretaion (Diagnose Causes) :
Mindo menjelaskan perihal perckapannya dengan Angelina Sondakh (Angie) melaluia Blackberry Messenger (BBM).
Menurut Mindo pada waktu itu Angie meminta
uang pada saat
pembahasan anggaran Kemenpora. Mindo juga mengatakan ketua besar disini adalah Anas Urbaningrum.
Keluarkan 20 Milyar Mindo Rosalina menjelaskan beberapa fakta mengenai sirkulasi uang dalam tender wisma atlet dan beberapa pihak yang terkait didalamnya
termasuk Anas
Urbaningrum.
Sidang Nazaruddin terlihat sangat lebih ketat daripada sidang-sidang sebelumnya.
Anggota Lembaga Perlindungan Saksi dan korban
Dalam isi berita Kompas, Nazaruddin diposisikan sebagai aktor dan penyebab masalah. Karena kasus kali ini merupakan mengenai persidangan Nazaruddin. Mindo sendiri disini juga diposisikan sebagai aktor namun bukan penyebab masalah. Mindo yang memberikan kesaksian dipengadilan perihal dakwaan Nazaruddin dan orang-orang yang terlibat didalamnya, membuat posisi Mindo sebgai pihak yang sangat membantu.
Mindo yang membenarkan adanya percakapan dengan Angelina dan juga pernyataan mengenai keterlibatan Anas, secara tidak langsung membenarkan dakwaan Nazaruddin mengenai pihak-pihak lain yang terlibat.
“ ”Jadi bosnya siapa dari partai Demokrat? “ ujar Elza. Mido menjawab, “
Mirwan Amir (Wakil Ketua Badan Anggaran DPR) .”
” Elza juga menanyakan tentang siapa yang dimaksud dengan istilah ketua dan ketua besar AU dalam percakapan BBM. Menurut Mindo, istilah ketua mengacu kepada Ketua Komisi X DPR Mahyudin dan ketua besar AU adalah Anas Urbaningrum.”
Walaupun keseluruh isi berita mengenai kesaksian Mindo mengenai aliran uang dalam partai Demokrat, juga pihak yang terlibat di dalamnya, salah satunya adalah Anas Urbaningrum yang dari awal memang dituding oelh Nazaruddin. Namun pada bagian lain pendapat Patra M. Zein penasihat hukum Anas, seolah menyetir opini yang menyatakan bahwa Anas tidak terlibat sama sekali dalam kasus ini dan memang faktanya adalah Nazaruddin lah yang menjadi tersangka.
“Tudingan itu tidak berdasar, karena Anas tidak pernah terlibat atau melakukan korupsi. ”Bukan sekali dua kali Nazaruddin menuding Anas, faktanya Nazaruddin yang didakwa melakukan korupsi dalam kasus wisma atlet,” kata patra.”
Moral Evaluation (Make Moral Judgement) :
kesaksian yang diberikan Mindo perihal kebenaran percakapan antara Mindo dan Angie di BBM, menegaskan keterlibatan Anggie dalam kasus ini. Mindo sendiri diposisikan sebagai pihak yang memiliki peran penting karena kesaksiannya dipengadilan. Anas disini walaupun mendapat tudingan keterlibatan dalam wisma atlet, belum diposisikan di pihak yang bersalah. Anas disini diposisikan sebagai korban tuduhan yang tak berdasar, hal ini ditegaskan olenh pernyataan kuasa hukum Anas, Putra M. Zein.
Treatment Recommendation :
Atas semua masalah yang disebabkan oleh Nazaruddin tersebut, Kompas “merekomendasikan” agar kasus Nazaruddin segera dituntaskan, dan pihak-pihak yang disebut terlibat agar segera diselidiki dan diproses lebih lanjut. Ini sebagai konsekuensi logis dari melihat kasus ini sebagai maslah hukum, bukan politik atau moral. Dan sebagai maslah hukum yang dibidik sebagai tersangka memang Nazaruddin.
5.2.6 Berita Kompas 18 Januari 2012
Disini Kompas menurunkan laporan mengenai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadikan kesaksian Mindo Rosalina Manulang di persidangan sebagai alat bukti. Ada 2 laporan yang diturunkan oleh Kompas pada edisi ini. Masing-masing dengan judul “ KPK: Panggil Semua Nama, Ketua Partai Tak Kebal Hukum” sebagai tulisan utama, disusul “Mallarangeng Membantah” tulisan pendukung.
Kompas mengidentifikasi kasus hukum. Segala hal yang berhubungan dengan kasus ini disoroti tidak dari segi politik, melainkan dari aspek hukum. Alasan mengapa dikatakan bingkai hukum yang menjadi bingkai dominan dalam pemberitaan Kompas adalah, Pertama, berita yang disampaikan mengenai kesaksian Mindo Rosalina Manulang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta mengenai kasus penyuapan wisma atlet dan pihak-pihak yang ikut terkait serta didalamnya dijadikan sebagai alat bukti oleh KPK. Kedua, sebagai konsekuensi melihat masalah ini sebgai masalah hukum, sumber berita yang diwawancarai adalah sumber berita yang beelatar hukum. Atau kalaupun bukan orang yang berlatar belakang hukum (ahli hukum atau pengacara), tetapi berbicara dalam kerangka masalah hukum.
Judul Isi berita/ Wawancara Sumber
KPK: Panggil Semua Nama
Ketua Partai Tak Kebal Hukum
KPK menjadikan
pengakuan Mindo
Rosalina Manulang di persidangan sebagai alat bukti.
Tidak menutup
kemungkinan nama-nama tersebut dipanggil oleh KPK. Jadi tidak ada yang namanya kebal hukum. KPK juga sudah memiliki calon tersangka baru dalam kasus wisma atlet.
Ketua KPK Abraham Samad Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto Juru Bicara KPK Johan Budi, SP
Casual Interpretaion (Diagnose Causes) :
Dalam isi berita Kompas, Mindo diposisikan sebagai aktor yang penting. Pada edisi ini Mindo seolah seperti tokoh utama. Karena keberaniannya bersaksi dan mengungkapkan kejujuran mengenai kasus ini, walaupun Mindo sendiri mendapat
pemeriksaan terhadap
nama-nama yang
disebutkan oleh Mindo.
Andi Mallarangeng
mengatakan bahwa dirinya tidak terlibat. Dan jika KPK mempunyai bukti nyata, Andi siap diperiksa oleh KPK.
KPK tetap menghargai apresiasi Mindo. Apalagi
Mindo saat itu
mendapatkan ancaman akan mati, dari banyak pihak.
Tudingan atas beberapa kader Demokrat yang terlibat, dianggap sebagai tudingan tanpa dasar, yang
bertujuan untuk
menjatuhkan Demokrat.
Ketua Advokasi dan Bantuan Hukum Dewan Pengurus Pusat Partai Demokrat
Denny Kailimang
Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat
tekanan dan ancaman dari banyak pihak. Kesaksian Mindo juga dijadikan sebagai alat bukti oleh KPK.
“Penegasan pengakuan Mindo sebagai alat bukti itu diungkapkan Ketua KPK Abraham Samad dan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto secara terpisah, Selasa (17/1) .”
Anas yang dari awal dituding terlibat dalam kasus ini diposisikan absurd. Di sisi awal Kompas memberitakan bahwa nama-nama yang disebutkan dalam kesaksian bisa menjadi tersangka dan akan segera dilakukan proses pemeriksaan. Dan dalam hal ini tidak ada yang namanya kebal hukum walaupun dia ketua partai sekalipun, jadi dengan kata lain Anas pun tidak kebal hukum dan bisa saja menjadi tersangka.
“Dalam hukum ada namanya equality before the law ( persamaan dimuka hukum). Jadi tidak ada yang kebal hukum. Apakah dia ketua partai, ia tidak kebal hukum,”ujar Samad.”
“Ketika ditanya apakah semua nama itu akan dimintai keterangan, Samad kembali mengungkapkan, “ Iya. Kalau kasusnya mengharuskan meminta keterangan, kami akan lakukan.”
Tapi disis lain Kompas seakan menyetir pendapat Denny Kailimang yang menyatakan semua tuduhan itu tidak benar karena tidak didukung oleh bukti yang kuat. Menurut Denny ini hanya untuk mengalihkan perhatian untuk mengusik Partai Demokrat saja.
“Tudingan-tudingan itu tanpa didukung bukti-bukti, hanya untyuk mengalihkan perhatian saja dan ada kecanderungan mengusik Partai Demokrat. Sebagai juara bertahan, wajar saja kalau Partai Demokrat diusik terus, tapi Partai Demokrat akan tetap tegar menghadapi hal ini. “
Moral Evaluation (Make Moral Judgement) :
intimidasi masih mau memberikan kesaksian membuat dia semakin ada disisi positif dan benar.
Sedangkan Anas dan sejumlah Kader Demokrat yang disebutkan dikenakan nilai moral yang absurd. Meski tidak diurai secara detail dan mencantumkan banyak pernyataan, namun berita itu mampu mengidentifikasi adanya pembelaan terhadap Demokrat. Dan menyatakan bahwa itu semua hanya untuk menjatuhkan Partai Demokrat oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan bersaing dengan Demokrat..
Treatment Recommendation :
Kompas “merekomendasikan” agar kasus Nazaruddin segera dituntaskan, dan pihak-pihak yang disebut terlibat agar segera diselidiki dan diproses lebih lanjut. Ini sebagai konsekuensi logis dari melihat kasus ini sebagai maslah hukum, bukan politik atau moral. Dan sebagai maslah hukum yang dibidik sebagai tersangka memang Nazaruddin.
5.2.7 Berita Kompas 16 Februari 2012
Disini Kompas menurunkan laporan mengenai kesaksian Angelina Sondakh yang diragukan kebenarannya. Ada 3 laporan yang diturunkan oleh Kompas pada edisi ini. Masing-masing dengan judul “ Kesaksian Angelina Diragukan, KPK: Wajar Angelina Berbohong” sebagai tulisan utama, disusul “KPK Punya Bukti” , “ Wajar Berbohong” tulisan pendukung.
Kompas mengidentifikasi kasus hukum. Segala hal yang berhubungan dengan kasus ini disoroti tidak dari segi politik, melainkan dari aspek hukum. Alasan mengapa dikatakan bingkai hukum yang menjadi bingkai dominan dalam pemberitaan Kompas adalah, Pertama, berita yang disampaikan mengenai kesaksian Angeliana PP Sondakh di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta mengenai keterkaitannya dalam kasus wisma atlet, berdasarkan kesaksian Mindo Rosalina Manulang. Kedua, sebagai konsekuensi melihat masalah ini sebgai masalah hukum, sumber berita yang diwawancarai adalah sumber berita yang beelatar hukum. Atau kalaupun bukan orang yang berlatar belakang hukum (ahli hukum atau pengacara), tetapi berbicara dalam kerangka masalah hukum.
Judul Isi berita/ Wawancara Sumber
Kesaksian Angelina Diragukan KPK: Wajar Angelina Berbohong Dalam persidangan Angelina membantah pernah melakukan
percakapan dengan Mindo melalui BBM. Angie mengaku tidak memiliki BB hingga tahun 2010. Angie juga mengatakan Ia
tidak tahu menahu
mengenai istilah-istilah yang diebutkan Mindo. Angie juga berkelit bahwa baru mengenal Mindo setelah kasus dugaan wisma atlet terungkap.
Angelina PP Sondakh Ketua Majelis Hakim Darmawati Ningsih Anggota Majelis Hakim Ugo
Casual Interpretaion (Diagnose Causes) :
Dalam isi berita Kompas yang diteliti, Angelina terlihat sebagai pelaku (aktor), sebagai penyebab masalah. Masalah diletakkan pada Angelina, karena Angelina dianggap memberikan kesaksian yang tidak benar atau bohong. Dapat
KPK Punya Bukti KPK tidak masalah jika Angie tidak mengakui keterangan saksi Mindo Rosalina Manulang. KPK memiliki bukti rekaman percakapan Angie dan Mindo melalui BBM. Jasa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Anang Supriatna Penasihat Hukum Nazaruddin
Hotman Paris Hutapea
Wajar Berbohong Secara terpisah KPK
menilai wajar jika Angelina berbohong ketika menjadi saksi untuk Nazaruddin, sebab Angie sendiri juga berstatus sebagai tersangka.
KPK mengaku tidak
terlalu cemas jika Angie
berbohong dalam
kesaksiannya. Karena penyidik akan menjerat Angie dengan bukti lain yang ada yang dimiliki KPK.
Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto Juru bicara KPK Johan Budi
dilihat bagaimana teks berita menempatkan penilaian hukum lebih banyak kepada Angelina. Pertama Angelina menyangkal adanya hubungan percakapan dengan Mindo Rosalina Manulang melalui Blackberry Messenger (BBM), sedangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), terungkap adanya percangkapan antara Mindo dan Angelina.
“Dalam kesaksiannya, Angelina mengaku antara lain tak pernah berhubungan dengan saksi lain dalam kasus ini, Mondo Rosalina Manulang, melalui Blackberry Mesenger (BBM).”
“Dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Mindo, terungkap adanya percakapan dengan Angelina melalui BBM.”
Pada bagian lain, Kompas bahkan menyetir pendapat Anang Supriatna yang menyatakan, walaupun Angelina berbohong itu tidak masalah karena KPK mempunya bukti percakapan Angie dengan Mindo. Dan juga pendapat Bambang Widjajanto sangat yakin bila Angelina memberikan keterangan yang tidak benar.
“Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Anang Supriatna, mengatakan, tak masalah jika Angelina mengingkari keterangan dengan saksi lain, seperti Mindo yang mengakui pernah berhubungan dengannya melaui BBM. KPK mempunyai bukti pembicaraan Angelina dengan Mindo melalu BBM”
“Menurut Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto, ada potensi Angelina menghilangkan berbagai keterangan dan petunjuk yang potensialmenjelaskan keterlibatannya.”
Disini sudah terlihat sangat jelas bagaimana Kompas menempatkan Angelina sebagai pihak yang bersalah.
Penilaian Angelina sebagai sumber masalah datang dari hal yang sama-sama negatif terhadap Angelina. Pertama, Angelina mengingkari hal yang dituduhkan kepadanya dan memberikan kesaksian palsu. Padahal hal itu sudah sangat jelas dan KPK memiliki bukti percakapan Angelina dan Mindo. Kedua, Angie disini selain saksi juga bisa di tersangka. Jadi dinilai Angie pasti akan berbohong, untuk melindungi dirinya. Sedangkan saat itu Angie masih menjadi saksi.
Treatment Recommendation :
Kompas “merekomendasikan” agar kasus Nazaruddin segera dituntaskan, dan pihak-pihak yang disebut terlibat agar segera diselidiki dan diproses lebih lanjut. Ini sebagai konsekuensi logis dari melihat kasus ini sebagai maslah hukum, bukan politik atau moral. Dan sebagai maslah hukum yang dibidik sebagai tersangka memang Nazaruddin.
5.2.8 Berita Kompas 1 Maret 2012
Disini Kompas menurunkan laporan mengenai Anas yang menerima uang miliaran rupiah. Ada 2 laporan yang diturunkan oleh Kompas pada edisi ini. Masing-masing dengan judul “ Anas Terima Milyaran Rupiah, Anas Urbaningrum : Itu Dagelan, Bukan Kesaksian” sebagai tulisan utama, disusul “Untuk Uang Derah” tulisan pendukung.
Problem identification (Define problem) :
Kompas mengidentifikasi kasus hukum. Segala hal yang berhubungan dengan kasus ini disoroti tidak dari segi politik, melainkan dari aspek hukum. Alasan mengapa dikatakan bingkai hukum yang menjadi bingkai dominan dalam pemberitaan Kompas adalah, Pertama, berita yang disampaikan mengenai kesaksian mantan pegawai di Grup Permai dalam persidangan kasua korupsi
[royek penyuapan wisma atlet SEA Games. Kedua, sebagai konsekuensi melihat masalah ini sebgai masalah hukum, sumber berita yang diwawancarai adalah sumber berita yang beelatar hukum. Atau kalaupun bukan orang yang berlatar belakang hukum (ahli hukum atau pengacara), tetapi berbicara dalam kerangka masalah hukum.
Judul Isi berita/ Wawancara Sumber
Anas Terima Milyaran Rupiah
Anas Urbaningrum: Itu Dagelan, Bukan Kesaksian.
Disebutkan Anas adalah pemilik serta pengendali Grup Permai.
Sebulan sebelum kantor Grup Permai di geledah
KPK, Anas dinilai
menerima uang 1 juta Dollar Amerika Serikat (AS).
Anas menilai kesaksian
bekas keempat
karyawannya itu bukan kesaksian melainkan dagelan.
Anas Urbaningrum
Uang Untuk Daerah Mantan manajer gedung tower permai, mampang, jakarta tempat group permai berkantor Ferdian Rico Baskoro menuturkan
Manatan Manajer Gedung Tower Permai, Mampang, Jakarta
Ferdian Rico Bascoro Pengacara Nazaruddin Hotman Paris Hutapea
Casual Interpretaion (Diagnose Causes) :
Dalam keseluruhan isi berita di Kompas edisi ini, tampak bagaimana para saksi di posisikan sebagai aktor. Para saksi yang merupakan mantan pegawai di Grup Permai ini menyatakan perihal Anas menerima uang milyaran rupiah.
konsorium yang dimiliki Anas dan Hasyim kerabat Nazaruddin.
Tiga saksi lain, mantan supir di Grup Permai, juga mengatakan Grup Permai dimiliki Anas.
Putra M.Zen, penasihat hukum Anas, menilai, saksi yang dihadirkan jaksa sudah mementahkan keterangan empat saksi dari Nazaruddin itu.
Apabila saksi
mencemarkan nama baik Anas, tidak menutup
kemungkinan kuasa
hukum Anas akan
melakukan tindakan
hukum kepada mereka.
Aan
Supir Operasional
Keuangan Grup Permai Heri Sunandar
Mantan Supir Yulianis Hidayat
Penasihat Hukum Anas Putra M. Zen
Jaksa KPK Anang Supriatna
Anggota Lembaga
Perlindungan Saksi dan Korban
Akan tetapi Kompas lagi-lagi dengan cepat membantah keterlibatan Anas. Menganggap itu semua hanya lelucon. Disini Anas diposisikan sebagai korban. Yang dituduh tanpa adanya bukti yang jelas dan akurat.
“Anas, Rabu, menilai keterangan keempat bekas karyawan grup permai itu bukan kesaksian. “ Itu adalah dagelan dan kebohongan yang diorkestrasi secara telanjang. Saya tahu persis sudah diatur bicara seperti itu. Dari logika sederhana saja sangat tidak nyambung. Saya kasihan dengan pegawainya yang disuruh menyerang saya, seolah-olah sebagai kesaksiannya,” ”
“Putra M. Zen, penasihat hukum Anas, menilai, saksi yang dihadirkan jaksa sudah mementahkan keterangan empat saksi dari pihak Nazaruddin itu.saksi menyatakan Nazarudinn-lah pemilik Grup Permai. Apabila keterangan saksi itu mencemarkan nama baik Anas, tidak tyertutup kemungkinan kuasa hukum Anas, melakukan tindakan hukuman terhadap mereka.”
Moral Evaluation (Make Moral Judgement) :
Penilaian Anas sebagai pihak yang tidak bersalah sangat jelas sekali dalam teks berita Kompas. Bagaimana setiap saksi yang memberikan keterangan keterlibatan Anas, secara langsung dibantah oleh Anas ataupun kuasa hukumnya
Treatment Recommendation :
Kompas “merekomendasikan” agar kasus Nazaruddin segera dituntaskan, dan pihak-pihak yang disebut terlibat agar segera diselidiki dan diproses lebih lanjut. Ini sebagai konsekuensi logis dari melihat kasus ini sebagai maslah hukum, bukan politik atau moral. Dan sebagai maslah hukum yang dibidik sebagai tersangka memang Nazaruddin.
Disini Kompas menurunkan laporan mengenai Nazaruddin yang bersikukuh tidak tahu akan tuduhan yang didakwakan kepadanya. Ada 2 laporan yang diturunkan oleh Kompas pada edisi ini. Masing-masing dengan judul “ Nazaruddin Bersikukuh Tidak Tahu” sebagai tulisan utama, disusul “Menjadi Kordinator” tulisan pendukung.
Problem identification (Define problem) :
Kompas mengidentifikasi kasus hukum. Segala hal yang berhubungan dengan kasus ini disoroti tidak dari segi politik, melainkan dari aspek hukum. Alasan mengapa dikatakan bingkai hukum yang menjadi bingkai dominan dalam pemberitaan Kompas adalah, Pertama, berita yang disampaikan mengenai Nazaruddin tersangka penyuapan wisma atlet SEA Games sedang di adili. Kedua, sebagai konsekuensi melihat masalah ini sebgai masalah hukum, sumber berita yang diwawancarai adalah sumber berita yang beelatar hukum. Atau kalaupun bukan orang yang berlatar belakang hukum (ahli hukum atau pengacara), tetapi berbicara dalam kerangka masalah hukum.
Judul Isi berita/ Wawancara Sumber
Nazaruddin Bersikukuh Tidak Tahu
Nazaruddin bersikukuh
tidak tahu menahu
mengenai proyek
pembangunan wisma atlet.
Dalam sidang juga
terungkap nilai suap yang
diberikan kepada
Nazaruddin
Jaksa KPK Anang Supriatna
Nazaruddin tidak hanya 4,6 Milyar. Melainkan 3 cek yang belum dicairkan yang bernilai lebih dari 3 Milyar.
Nazaruddin membantah penjelasan jaksa dan
meminta jaksa
membuktikan jika Ia terkait dalam penerimaan suap wisma atlet tersebut.
Menjadi Kordinator Ketika ditanya perihal kedekatan Nazaruddin dengan Anas, Nazzaruddin mengaku menjadi ketua pembagian uang kepada dewan pimpinan cabang
(DPC) dan dewan
pimpinan daerah (DPD) partai Demokrat dalam kongres di Bandung tahun 2010. uang itu digunakan untuk memenangkan anas sebagai ketua umum. Nazaruddin menjelaskan bahwa Ia hanya diminta
Jaksa KPK Yudi
Ketua Majelis Hakim Dharmawati Ningsih
Casual Interpretaion (Diagnose Causes) :
Dalam berita Kompas ini Nazaruddin ditempatkan sebagai pelaku, penyebab masalah. Nazaruddin yang status tersangka penyuapan wisma atlit, sudah melalui
uang kepada DPC dan DPD selama kongres. Nazaruddin baru ikut membagikan uang itu secara langsung pada putaran kedua. Dan dilakukannya bersama Angelina.
Nazaruddin menjelaskan kedekatannya dengan Anas di Grup Permai. Anas menyuruh Nazaruddin mengamankan penggerebekkan Tower Permai oleh KPK. Nazaruddin juga menerangkan kaburnya keluar Singapura adalah atas perintah Anas ketika kasus wisma atlet mulai mencuat.
proses persidangan. Kendati demikian Nazaruddin tetap bersikukuh tidak tahu menahu akan dakwaan yang di tuduhkan kepadanya. Nazaruddin tetap mengatakan bahwa Anaslah yang terlibat. Akan tetapi setiap pernyataan Nazarudin selalu disangkal oleh Anas.
“Keterangan Nazaruddin ini juga dalam beberapa kesempatan dibantah oleh Anas.”
Moral Evaluation (Make Moral Judgement) :
Nasaruddin sebagai penyebab masalah dan juga korban, pertama Nazaruddin sebagai tersangka dan sudah ada beberapa bukti yang memberatkannya. Sebagai korban karena Nazaruddin bersikukuh tidak tahu perihal tuduhan yag dituduhkan kepada dirinya. Ia mengaku hanya mengikuti perintah Anas. Sedangkan Anas yang dari awal selalu dituduh terlibat diposiskan sebagai pihak yang dirugikan. Karena Anas tetap merasa tidak terlibat dalam kasus ini.
Treatment Recommendation :
Kompas “merekomendasikan” agar kasus Nazaruddin segera dituntaskan, dan pihak-pihak yang disebut terlibat agar segera diselidiki dan diproses lebih lanjut. Ini sebagai konsekuensi logis dari melihat kasus ini sebagai maslah hukum, bukan politik atau moral. Dan sebagai maslah hukum yang dibidik sebagai tersangka memang Nazaruddin.
Disini Kompas menurunkan laporan mengenai ditentukannya hukuman penjara terhadap Nazaruddin. Ada 3 laporan yang diturunkan oleh Kompas pada edisi ini. Masing-masing dengan judul “ Dana Untuk Anas Dikesampingkan, Nazaruddin Dihukum 4 tahun 10 Bulan Penjara “ sebagai tulisan utama, disusul “ Dihukum 4 Tahun 10 Bulan”, dan “Bagian Proses Peradilan” sebagai tulisan pendukung.
Problem identification (Define problem) :
Kompas mengidentifikasi kasus hukum. Segala hal yang berhubungan dengan kasus ini disoroti tidak dari segi politik, melainkan dari aspek hukum. Alasan mengapa dikatakan bingkai hukum yang menjadi bingkai dominan dalam pemberitaan Kompas adalah, Pertama, berita yang disampaikan mengenai Nazaruddin tersangka penyuapan wisma atlet SEA Games. Jelas seteelah menjalani proses persidangan sedang di adili Nazaruddin diputuskan bersalah dan divonis hukuman penjara. Kedua, sebagai konsekuensi melihat masalah ini sebgai masalah hukum, sumber berita yang diwawancarai adalah sumber berita yang beelatar hukum. Atau kalaupun bukan orang yang berlatar belakang hukum (ahli hukum atau pengacara), tetapi berbicara dalam kerangka masalah hukum.
Judul Isi berita/ Wawancara Sumber
Dana Untuk Anas Dikesampingkan
Nazaruddin Dihukum 4 tahun 10 Bulan Penjara
Keterangan Nazaruddin mengenai aliran dana untuk Anas tidak relevan
Anggota majelis hakim. Sofialdi
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
A Busyro Muqoddas 4 Tahun 10 Bulan Nazaruddin terbukti
menerima suap dan
dijatuhi hukuman 4 tahun
Majelis Hakin yang dipimpin Dharmawati Ningsih
Casual Interpretaion (Diagnose Causes) :
Dari keseluruhan berita Kompas. Penempatan Nazaruddin sebagai pihak yang bersalah dan penyebab masalah memang benar. Dugaan keterlibatan Anas yang diungkapkan Nazaruddin selama ini tidak terbukti. Dan Anas bisa dibilang adalan korban pencemaran nama baik. Sedangkan tuduhan untuk Nazaruddin terbukti dengan jelas. Dan final akhir dengan diputuskannya hukuman untuk Nazaruddin.
“Majelis hakim yang dipimpin Dharmawati Ningsih memutuskan, Nazaruddin sebagai penyelenggara negara terbukti menerima suap terkait proyek wisma atlet. Eks anggota DPR itu pun dijatuhi hukuman 4 tahun 10 bulan penjara, denda Rp 200 juta subsider 4 bulan kurungan, dan membayar biaya perkara.”
10 bulan penjara, dendaj 200juta subside 4 bulan kurungan
Bagian Proses Peradilan Tuduhan atas Anas selama ini bisa dikatakan tidak benar, kendati demikian Anas juga belum tentu tidak bersalah. KPK masi bisa menyelidik Anas.
Penasihat Hukum Anas, Firman Wijaya.
Guru Besar Hukum Pidana dari Universitas Indonesia, Indriyanto Seno Adji. Ahli Hukum Pidana, Gandjar Laksana.
Pusat Kajian Antikorupsi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta,
Oce Madril. Andi Mallarangeng
Jelasnya posisi Nazaruddin, tidak menutup bahwa Anas murni tidak bersalah. Secara tidak langsung Anas juga disorot sebagai pihak yang bisa saja menjadi tersangka.
“Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Oce Madril, mengatakan, Anas belum sepenuhnya aman dari jeratan kasus hukum. Masih ada kemungkinan Anas terjerat kasus Hambalang, yang juga disinggung hakim. Andi Mallarangeng menyerahkan sepenuhnya kasus proyek wisma atlet di Palembang, termasuk putusan terhadap Nazaruddin, kepada majelis hakim. ”Kita serahkan semua kepada KPK dan pengadilan,” katanya.”
Moral Evaluation (Make Moral Judgement) :
Nazaruddin hanya bisa pasrah mendengar hasil putusan Hakim tentang hukuman yang menjerat dirinya. Dan tuduhannya kepada Anas yang tidak terbukti kebenarannya. Walaupun Anas dikatan tidak ada hubungannya dalam kasus Nazaruddin. Tapi Guru Besar Hukum Pidana dari Universitas Indonesia Indriyanto Seno Adji mengatakan, fakta dugaan keterlibatan Anas tetap bisa dipakai KPK untuk menelusuri keterlibatan Ketua Umum Partai Demokrat itu. Namun tidak ada tanggapan pembenaran yang pasti untuk menelusuri kasus Anas.
Treatment Recommendation :
Kompas secara tidak langsung mengarahkan agar kasus yang masi terkait dengan Nazaruddin ataupun kasus-kasus serupa dengan Nazaruddin untuk segera mendapat perhatian dan diselidiki kebenarannya hingga tuntas.
5.3 Kesimpulan
Elemen
Frame
Problem Identification Casual Interpretation Moral Evaluation Treatment Recomendation Masalah hukum Nazaruddin adalah penyebab dan bersalah, sedangkan Anas yang diduga terlibat adalah korban tuduhan tak berdasar Nazaruddin adalah orang yang takut mengakui kesalahannya, sedangkan Anas adalah korban tuduhan yang tidak benar Setelah kasus ini tuntas, harap kasus-kasus serupa segera diselsaikan Kasus Nazaruddin adalah masalah HukumPembahasan diatas menunjukkan pendefisian suatu peristiwa itu bisa berbeda tiap masing-masing media dan penulisnya. Kompas mendefinisikan kasus Nazaruddin ini sebagai masalah hukum. Persoalan dilihat sebagai siapa yang salah, siapa yang benar, dan aturan –aturan hukumnya. Saat masalah Nazaruddin ini dilihat sebagai masalah hukum, aktor penyebab masalahnya adalah Nazaruddin. Karena Nazaruddin dianggap bersalah jelas dari pemberitaan Kompas, bagaimana partai Demokrat menjaga nama baik mereka. Walaupun dikatakan Demokrat tidak mengintervensi Nazaruddin namun ada beberapa aspek yang menyudutkan Nazaruddin.
Disini Kompas berusaha bersikap Netral dalam pemberitaannya. Konstruksi yang ada dalam pemberitaannya dibuat terlihat seminim mungkin. Dan dalam pemberitaannya Kompas juga mencoba menyampaikan fakta dengan akurat. Meskipun ada sedikit kesan Kompas melakukan judgement antara Nazarudin dan Anas juga Partai Demokrat, Dalam pemberitaan kasus Nazaruddin ini Kompas menyampaikan sesuai hasil dari persidangan.
5.4 Peradilan Media
Dari pembahasan diatas dapat di lihat bagaimana Kompas selayaknya media lainnya mempunyai cara pandang tersendiri dalam melihat peristiwa. Isi media pada hakikatnya adalah hasil konstruksi realitas. Itulah mengapa konsep kebenaran yang dianut media massa bukanlah kebenaran sejati, tetapi sesuatu yang dianggap benar oleh masyarakat (Sobur,2009:87). Dengan kata lain, kebenaran itu ditentukan oleh media massa.
Karena selain mampu membentuk opini publik melalui konstruksi realitas yang diciptakan, dan di dukung oleh kebebasan pers yang dimiliki setiap media, membuat tanpa sadar dalam pemberitaanya media banyak melakukan bias. Bias inilah yang terkadang tanpa media itu sadari berubah seperti sebuah peradilan dalam masyarakat.
Kendati media terikat oleh kode jurnalistik, tak jarang peradilan itu dibentuk dalam sebuah pemberitaannya. Melalui opini-opini yang dibentuk dalam pemberitaannya, media seolah menggiring khalayak untuk memberi vonis dalam sebuah peristiwa itu.
bentuk oleh Kompas dalam pemberitaan kasus Nazaruddin ini adanya ketimpangan. Bagaimana posisi Nazaruddin yang sangat di pojokkan. Bahkan setiap pembelaan yang di ajukan dan di cantumkan selalu tetap di bantah. Sedangkan setiap pernyataan dari pihak Demokrat tidak pernah ada bantahan.
Disini terlihat KOMPAS memang menempatkan Nazaruddin sebagai pihak yang bersalah. Tuduhan terhadap Anas yang seharusnya bisa di selidiki lebih dalam, tapi tidak diberitakan lebih lanjut.
Begitu juga dengan penempatan posisi KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang di berikan citra positif dalam pemberitaannya. Kompas membuat masyarakat percaya bahwa KPK adalah pihak yang sangat berjasa dalam kasus ini. Sedangkan Kompas tidak menyoroti kelemahan KPK dalam menyelidiki pihak-pihak Demokrat yang kemungkinan terkait dalam kasus penyuapan wisma atlet SEA Games.
Dalam kasus Nazaruddin ini Kompas terlihat memihak Demokrat dan menjaga nama Demokrat.
Kendati Kompas dalam pemberitaannya pun secara tidak langsung membentuk opini yang mampu menjadi vonis masyarakat.akan tetapi berita yang di sampaikan oleh Kompas terlihat akurat karena Kompas memuat kasus Nazaruddin ini sesuai dengan jalannya persidangan Nazaruddin. Jadi terlihat bahwa berita yang disampaikan oleh Kompas adalah hasil dari proses persidangan.
Kompas disini mampu meminimalisir bias yang terjadi dalam pemberitaannya. Sehingga masyarakat pun menganggap fakta yang disampaikan Kompas memang akurat dan benar.
Kompas disini tidak terlihat melakukan peradilan dalam pemberitaan Kasus Nazaruddin. Sesuai Misi yang dianut Kompas yaitu mengantisipasi dan merespon dinamika masyarakat secara profesional, sekaligus memberi arah perubahan dengan
menyediakan dan menyebarkan informasi yang terpercaya. Walaupun secara tidak langsung ada peradilan yang di lakukan oleh Kompas, sebisa mungkin bias tersebut tidak terlihat pada khalayak dan berita tersebut tetap menjadi infoemasi yang terpercaya.