39 BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1 Deskripsi Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum Perusahaan
Mitra Adiperkasa Tbk.
Menurut Annual Report 2013, PT Mitra Adiperkasa Tbk atau yang biasa dikenal dengan MAP merupakan sebuah perusahaan ritel Indonesia yang berdiri pada tanggal 23 Januari 1995 yang menjual produk-produk bermerek multinasional. Dengan visi menjadi perusahaan ritel marketing dari brand lifestyle ternama dan produk-produk berkualitas di Indonesia, MAP berhasil menjadi perusahaan ritel terbesar di Asia tenggara (Winners and Finalists 2013 World Retail Award, 2013).
MAP bertekat untuk memenuhi aspirasi konsumen untuk memenuhi kebutuhan akan gaya hidup yang sehat dengan menyediakan :
1. Produk yang terbaru dan terinovatif untuk konsumen 2. Pengalaman berbelanja yang paling menyenangkan 3. Customer service yang memuaskan
4. Harga yang terbaik
5. Rumah ketiga – selain kantor dan rumah pribadi konsumen
Filosofi bisnis MAP dirangkum dalam enam poin yang dapat disingkat menjadi PEOPLE. Kepanjangan dari PEOPLE sendiri akan dijelaskan sebagai berikut.
1. People centered approach
MAP menempatkan pelanggan dan karyawan di jantung keputusan bisnis tersebut.
2. Empowerment
MAP memberdayakan sumber daya manusianya dengan otoritas. Perusahaan ini percaya bahawa delegasi kuasa dan otonomi akan
mempromosikan kontribusi, akuntabilitas, dan kewirausahaan. Kewirausahaan itu sendiri adalah kunci dari keberhasilan sebuah perusahaan ritel serta membantu pengembangan pribadi staf.
3. Originality
MAP mempelopori konsep-konsep baru dan ide-ide dalam semua usaha mereka, baik dalam ritel, distribusi, manufaktur atau makanan dan minuman.
4. Principles
MAP menjunjung tinggi nilai kejujuran dan integritas. 5. Loyalty
MAP sangat membudayakan kesetiaan karyawan dan konsumen serta hubungan jangka panjang dengan para pelaku usaha, mitra bisnis, serta pemasok.
6. Earnings
Pendapatan harus tetap tercapai tanpa mengorbankan nilai-nilai perusahaan.
Pembentukan MAP dimulai dari pembukaan department store Sogo pertama di Indonesia pada tahun 1990 di kota Jakarta. Hak waralaba yang dimiliki Sogo Jepang tersebut kemudian dipegang oleh MAP untuk kawasan Indonesia pada tahun 1995. Pengambilalihan hak waralaba tersebut sekaligus menjadi awal terbentuknya perusahaan ini.
Bermula dari 40 outlet pada akhir tahun 1995, MAP terus bertumbuh dan berkembang pesat hingga awal tahun 2014 jumlah outlet MAP mencapai 1.710 buah outlet ritel di lebih dari 57 kota di Indonesia. Eksistensi MAP di mall-mall besar di Indonesia dapat dilihat dalam tabel berikut ini.
Shopping Mall MAP (sqm) Mall (sqm) Kontribusi MAP
Discovery 14,500 20,000 73%
Nusa Dua 13,000 25,000 52%
Paris Van Java 15,327 28,000 55%
Plaza Senayan 35,735 87,000 41%
Senayan City 34,305 80,000 43%
Grand Indonesia 55,675 132,272 42%
Pondok Indah Mall 40,387 100,000 40%
Galaxy Mall 20,456 60,000 34% Plaza Indonesia 20,558 56,000 37% Central Park 38,500 115,000 33% Sun Plaza 25,409 62,115 41% Emporium 18,259 61,243 30% Kota Kasablanka 29,500 110,000 27% Tunjungan Plaza 28,978 115,000 25%
Mall Kelapa Gading 30,040 130,000 23%
Supermall Karawaci 19,500 110,000 18%
Lippo Mall Kemang 14,650 20,000 73%
Total 454,779 1,311,630 35%
Tabel 4.1 Luas Store MAP di mall besar (sampai tahun 2013)
MAP mencatat sahamnya pada di Bursa Efek Jakarta tanggal 10 November 2004. Sampai saat ini, MAP telah memiliki sekurangnya 1,500 outlet ritel dengan lebih dari 21,000 karyawan yang tersebar di 58 kota di Indonesia.
Kepemilikan saham MAP terdiri dari 56 % PT Satya Mulia Gema Gemilang serta 44% dari pemerintah. Keduanya dibawah PT Mitra Adiperkasa, Tbk., terbagi-bagi menjadi 25 perseroan yang memegang brand masing-masing. Berikut adalah daftar perseroan tersebut.
Nama Perseroan Brand
PT Benua Hamparan Luas Debenhams
PT Bersama Karunia Mandiri Berskha
PT Dom Pizza Indonesia Domino's Pizza
MAP Active (Thailand) Ritel
PT Mitramode Duta Fashindo Massimo Duti
PT Mitra Garindo Perkasa Manufaktur Garmen
PT Mitra Gaya Indah Linea
PT Mitra Selaras Sempurna Marks & Spencer PT Premier Capital Investment Induk Investasi PT Premier Doughnut Indonesia Krispy Kreme
PT Prima Buana Perkasa Pull & Bear
PT Putra Agung Lestari Payless
PT Panen Lestari Internusa Sogo
PT Sari Burger Indonesia Burger King
PT Sari Boga Lestari Restoran
PT Sari Coffee Starbucks
PT Ice Cream Indonesia Cold Stone Creamery
PT Sarimode Fashindo Adiperkasa Zara
PT Sari Pizza Indonesia Pizza Marzano
PT Siola Sandimas Sunter Mall
PT Sukses Diva Mandiri Stradivarius
PT Alun Alun Indonesia Kreasi Alun Alun
PT Java Retailindo Java
PT Kinokunia Bukindo Toko Buku Kinokuniya
PT Panen Selaras Inti Buana Seibu
Tabel 4.2 PT dan Brand di bawah MAP
Pengelompokan jenis store yang ada di bawah jaringan MAP terbagi menjadi 4 dalam portofolio bisnis pada tahun 2012. Pengelompokan tersebut mencakup department store, active (sport, golf & leisure), fashion, kids, food & beverage, supermarket, dan lifestyle.
Department store di bawah MAP adalah Debenhams, Galaries Lafayette, Lotus, Seibu, dan Sogo. Dalam dunia olahraga MAP memegang brand Airwalk, Babolat, Brooke, Converse, Diadora, Lotto, New Balance, Reebok, Saucony, Speedo, Timex, dan Umbro. Dalam dunia golf mencakup Adams Golf, Adidas, Ashworth, Callaway, Calvin Klein Golf, Cleveland, Crocs, Ecco, Honma, Mizuno, Nike Golf, Oakley, Odyssey Srixon, Tabata, Taylor Made, U.S. Kids Golf, XXIO dan Yes!.
Di dunia fashion MAP memegang brand-brand seperti Accessorize, BCBGeneration, BCBMaxazria, Berskha, Brooks Brothers, Burton Menswear, Camaieu, Camper, Cath Kidston, Club Culture, Cotton On, Desigual, DKNY, Dorothy Perkins, Dr. Martens, Forever New, Hoss Intropia, Kipling, Lacoste, Linea, Loewe, Marks & Spencer, Massimo Dutti, Maxmara, Max & Co., Meetoo, Miss Selfridge, Nautica, New Look, Next, Nine West, Pandora, Penshoppe, Pretty Fit/Beetle Bug, Pull & Bear, Spanx, Staccato, Steve Madden, Stradivarius, Suite Blanco, Swarovski, Thomas Pink, Topman, Topshop, Wallis, Warehouse, dan Zara. Untuk anak-anak MAP memegang lisensi Barbie serta store Kidz Station, Oshikosh B’Gosh, Planet Kids serta Stride Rite. Lisensi dalam industri makanan seperti Burger King, Chatterbox, Cold Stone Creamery, Domino’s Pizza, Genki Sushi, Godiva, Palem Cage, Paul, Pizza Express serta Starbux berada di bawah jaringan perusahaan ini. Dalam kategori lifestyle store mencakup Alun Alun Indonesia, American Tourister, Crabtree & Evelyn, H2O+, Kinokuniya, Samsonite, Swatch, Travelogue dan Tumi. Sedangkan supermarket di bawah jaringan MAP adalah The FoodHall.
Berikut adalah tim manajemen MAP berdasarkan Annual Report MAP 2013.
B ag an 4 .1 T im M an aj em en M A P
MAP meraih sejumlah penghargaan selama 19 tahun perusahaan ini berdiri. Penghargaan tersebut diberikan baik dari dalam dan luar negeri. Berikut adalah sebagian daftar penghargaan tersebut.
1. Reebok Outperfom Award 2004 2. Sogo Superbrands Award 2005
3. Asia Best Managed Company (small cap sector) dari Asia Money Magazine 2005
4. Asia Best Managed Company (small cap sector) dari Finance Asia Magazine 2007
5. Pizza Marzano - First Winner of Asian Pizza Olympic 2007
6. Best Designer of the Year 2006 - Mattel Brands Consumer Product Southeast Asia
7. SOGO - Indonesia’s Most Admired Companies (IMAC) Award 2007 (Dept. Store Category)
8. Reebok ‘Distributor of the Year’ & ‘Retail Excellence’ Award 2008
9. ‘Department Store of the Year’ untuk SEIBU – awarded dari ARE-NASFM, Chain Store Age and VM + SD Magazines
10.Reebok ‘Distributor of the Year 2009’ 11.Lotto ‘Distributor of the Year 2009’
12.OshKosh B’Gosh ‘Global Merchandising’ Award, 2010
13.‘Outstanding Operation Performance’ Award 2010 untuk Burger King regional Asia Pacific
14.Converse - The Most Popular Brand in Social Media 2010 – dari SWA Magazine
15.The ‘Best Bond Issuer 2010’ Award dari Investor Magazine – Obligasi Mitra Adiperkasa I year 2009 Series B
16.“Asia’s Best Brand” Award 2011 untuk Excellence in Branding & Marketing (CMO Asia)
17.“Asia’s Best Employer Brand” Award 2011 untuk outstanding HR practices (World HRD Congress)
18.“Asian Leadership” Award 2011 untuk Asia’s Most Preferred Brand (Retail) – Asian Confederation of Businesses
19.Nominasi “Retailer For The Year 2013” di World Retail Awards dan World Retail Congress
Reebok Indonesia
Reebok pertama kali masuk di Indonesia tahun 1991 dalam store Big Foot Little Foot di Plaza Indonesia. Pada saat itu Reebok belum berada dalam jaringan MAP sampai pada tahun 1995, MAP memegang lisensi Reebok di Indonesia.
Di bawah manajemen MAP Tbk., brand Reebok menjalani peran baik dalam hal brand management serta retailer. Artinya, sebagai brand manaement Reebok mendistribusikan produk Reebok global serta mempertahankan citra brand tersebut di Indonesia. Sebagai retailer, Reebok mengambil desain Reebok global dan memproduksi produk tersebut secara lokal untuk dijual di pasar Indonesia. Reebok Indonesia berkembang pesat dan terus memperbanyak jumlah toko. Hingga saat ini Reebok memiliki 9 monotstore serta lebih dari 500 poin distribusi.
Dengan mengadopsi visi Reebok global yakni menjadi brand terkemuka di bidang olahraga fitness di dunia, Reebok Indonesia berupaya menjadi brand terdepan di bidang fitness di Indonesia. Untuk melengkapi visi tersebut, Reebok Indonesia memiliki misi untuk memimpin di bidang running, training dan walking.
4.1.2 Profil Singkat Produk
Penelitian ini akan menggunakan
produk terbaru Reebok untuk musim
Spring / Summer 2014 yaitu Reebok Z Series.
Berikut merupakan profil singkat produk
dari Reebok Global.
Gambar 4.1 Fitur Utama Reebok Z Series Fury
J o n i Y a n to A s s . R e ta il O p e ra tio n S a m s in a r S in a g a A p p M e rc h a n d is e r R e b e k k a A c c M e rc h a n d is e r S u g iy o n o A s s . R e ta il C yn a n th ia P ra m e ris ta A s s . P M A p p /A c c H e n n i W ir a P u s p a rin i A c c P ro d u c t M D U co k L e e G e n e ra l M a n a g e r M e la n ia D e w iy a n i B U R e e b o k S a n d ra S a p u tr i P ro d u c tio n A p p /A c c A lia M a h e s w a ri M a rC o m M a n a g e r L ia n a V e ro n ic a A s s . P M F o o tw e a r In d a h D e w i A d m S ta ff
Gambar 4.2 Fitur Utama Reebok Z Series Drive
Produk Z Series yang sudah keluar di pasar Indonesia saat ini merupakan Z Series Fury dan Z Series Drive. Seluruh produk Z Series terinspirasi dari bahan dasar ban Z Rated untuk outsole atau bagian dasarnya. Ditambah lagi dengan karet CRTek untuk meminimalisir gesekan pada titik gesek tertinggi di bagian kaki depan dan tumit
Pada midsole atau bagian tengah sepatu, Z Series diinjeksi dengan teknologi EVA yang dirancang secara geometris untuk kendali pengguna yang lebih baik. Permukaan yang terbagi-bagi membuat sol tengah dapat bergerak secara fleksibel dan membesar serta menambah sudut kontak dengan permukaan tanah.
Untuk bagian upper atau bagian atas sepatu, kedua produk ini dilengkapi dengan NanoWeb yakni teknologi lapisan karet seperti jaring laba-laba yang berfungsi untuk memberikan kenyamanan dan perlindungan pada kaki. Selain itu NanoWeb juga berfungsi untuk memberikan saluran udara yang baik untuk kaki. Bagian atas Z Series didesain dengan jahitan yang tidak nampak untuk mengurangi iritasi pengguna serta juga untuk memberikan rasa nyaman.
Kedua produk tersebut memiliki kelebihan dalam hal fleksibilitas dan kenyamanan. Pembedanya ialah Z Series Fury dilengkapi dengan NanoWeb di seluruh bagian upper sepatu sedangkan Z Series Drive hanya mencakup tiga per empat bagian. Dampaknya adalah produk Z Series Fury memiliki perlindungan yang lebih untuk bagian depan sepatu untuk gerak yang cepat dan responsif. Sedangkan, produk Z Series Drive memiliki saluran udara yang lebih baik sehingga kaki terasa lebih sejuk di dalam. Sehingga, Z Series Fury didesain untuk training sedangkan Z Series Drive terspesialisasi untuk running.
4.2 Gambaran Umum Responden
Penelitian ini secara umum akan membagi responden berdasarkan kelompok usia, jenis kelamin, frekuensi dan jenis olah raga yang digemari. Pembagian kelompok ini bertujuan untuk memberi gambaran profil konsumen yang secara umum yang mengunjungi store pada periode penelitian ini. Dengan demikian, Reebok dapat menjadikan kelompok tertentu fokus dari periklanan dan campaign produk.
4.2.1 Usia
Penelitian ini membagi responden ke dalam 3 kelompok besar yakni, kelompok umur dibawah 20 tahun, antara 20 sampai 40 tahun serta diatas 40 tahun.
Bagan 4.3 Diagram Data Demografis Usia
Usia : responden dengan usia dibawah 20 tahun sebanyak 23 responden (30,7%), usia 20-40 tahun sebanyak 12 responden (16%), dan diatas 40 tahun sebanyak 40 responden (53,3%).
4.2.2 Jenis Kelamin
Data demografis responden berdasarkan jenis kelamin adalah sebagai berikut.
Bagan 4.4 Diagram Data Demografis Jenis Kelamin
Jenis Kelamin : responden pria sebanyak 33 responden (44%) dan wanita sebesar 42 responden (56%).
4.2.3 Frekuensi Olahraga
Frekuensi berolahraga dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi tiga kelompok yang mencakup kurang dari satu kali seminggu, sekali seminggu dan lebih dari satu kali seminggu.
Bagan 4.5 Diagram Data Frekuensi Berolahraga
Frekuensi Berolahraga: jumlah responden yang berolahraga kurang dari satu kali dalam seminggu sejumlah 23 responden (30,7%), dan jumlah responden yang satu kali dalam seminggu berolahraga berjumlah 30 responden (40%), sedangkan responden yang lebih dari satu kali seminggu berolahraga berjumlah 22 responden (29,3%).
4.2.4 Jenis Olahraga yang Digemari
Ragam jenis olahraga yang dijawab oleh para responden dikelompokan menjadi 11 kelompok besar berdasarkan kemiripan jenis olahraganya.
Bagan 4.6 Diagram Jenis Olahraga yang Digemari
Olahraga yang digemari : responden yang menggemari olahraga aerobic / body combat/zumba berjumlah 4 responden (5,3%). Responden yang menggemari olahraga badminton berjumlah 4 responden (5,3%), basketball berjumlah 10 responden (13,3%), cycling 3 responden (4%), fitness / gym / training berjumlah 8 responden (10,7%) dan football / futsal berjumlah 9 responden (12%). Untuk olahraga golf diminati oleh 1 responden (1,3%) sedangkan jogging / running / walking berjumlah 19 responden (25,3%). Jumlah responden yang menjawab swimming sebagai olahraga kegemarannya berjumlah 12 responden (16%) sedangkan tennis berjumlah 4 responden (5,3%) dan yoga 1 responden (1,3%).
4.3 Deskripsi Variabel Penelitian
4.3.1 Analisis Indeks Jawaban Responden Variabel X Berikut adalah jawaban responden untuk variabel X.
No. Alternatif Jawaban f % x f(x)
1 Sangat Tidak Setuju 9 12.00% 1 9
2 Tidak Setuju 18 24.00% 2 36
3 Setuju 37 49.33% 3 111
4 Sangat Setuju 11 14.67% 4 44
Jumlah 75 100.00% 200
Tabel 4.3 Indeks Jawaban Responden Variabel X Butir Pertanyaan 10
No. Alternatif Jawaban f % x f(x)
1 Sangat Tidak Setuju 1 1.33% 1 1
2 Tidak Setuju 12 16.00% 2 24
3 Setuju 56 74.67% 3 168
4 Sangat Setuju 6 8.00% 4 24
Jumlah 75 100.00% 217
Tabel 4.4 Indeks Jawaban Responden Variabel X Butir Pertanyaan 11
No. Alternatif Jawaban f % x f(x)
1 Sangat Tidak Setuju 1 1.33% 1 1
2 Tidak Setuju 18 24.00% 2 36
3 Setuju 50 66.67% 3 150
4 Sangat Setuju 6 8.00% 4 24
Jumlah 75 100.00% 211
Tabel 4.5 Indeks Jawaban Responden Variabel X Butir Pertanyaan 12
No. Alternatif Jawaban f % x f(x)
1 Sangat Tidak Setuju 1 1.33% 1 1
2 Tidak Setuju 13 17.33% 2 26
3 Setuju 48 64.00% 3 144
4 Sangat Setuju 13 17.33% 4 52
Jumlah 75 100.00% 223
No. Alternatif Jawaban f % x f(x)
1 Sangat Tidak Setuju 1 1.33% 1 1
2 Tidak Setuju 17 22.67% 2 34
3 Setuju 51 68.00% 3 153
4 Sangat Setuju 6 8.00% 4 24
Jumlah 75 100.00% 212
Tabel 4.7 Indeks Jawaban Responden Variabel X Butir Pertanyaan 14
No. Alternatif Jawaban f % x f(x)
1 Sangat Tidak Setuju 0 0.00% 1 0
2 Tidak Setuju 15 20.00% 2 30
3 Setuju 52 69.33% 3 156
4 Sangat Setuju 8 10.67% 4 32
Jumlah 75 100.00% 218
Tabel 4.8 Indeks Jawaban Responden Variabel X Butir Pertanyaan 15
No. Alternatif Jawaban f % x f(x)
1 Sangat Tidak Setuju 0 0.00% 1 0
2 Tidak Setuju 16 21.33% 2 32
3 Setuju 48 64.00% 3 144
4 Sangat Setuju 11 14.67% 4 44
Jumlah 75 100.00% 220
4.3.2 Analisis Indeks Jawaban Responden Variabel Y Berikut adalah jawaban responden untuk variabel Y.
No. Alternatif Jawaban f % x f(x)
1 Sangat Tidak Setuju 0 0.00% 1 0
2 Tidak Setuju 10 13.33% 2 20
3 Setuju 46 61.33% 3 138
4 Sangat Setuju 19 25.33% 4 76
Jumlah 75 100.00% 234
Tabel 4.10 Indeks Jawaban Responden Variabel X Butir Pertanyaan 1
No. Alternatif Jawaban f % x f(x)
1 Sangat Tidak Setuju 1 1.33% 1 1
2 Tidak Setuju 12 16.00% 2 24
3 Setuju 43 57.33% 3 129
4 Sangat Setuju 19 25.33% 4 76
Jumlah 75 100.00% 230
Tabel 4.11 Indeks Jawaban Responden Variabel X Butir Pertanyaan 2
No. Alternatif Jawaban f % x f(x)
1 Sangat Tidak Setuju 6 8.00% 1 6
2 Tidak Setuju 28 37.33% 2 56
3 Setuju 28 37.33% 3 84
4 Sangat Setuju 13 17.33% 4 52
Jumlah 75 100.00% 198
Tabel 4.12 Indeks Jawaban Responden Variabel X Butir Pertanyaan 3
No. Alternatif Jawaban f % x f(x)
1 Sangat Tidak Setuju 3 4.00% 1 3
2 Tidak Setuju 18 24.00% 2 36
3 Setuju 45 60.00% 3 135
4 Sangat Setuju 9 12.00% 4 36
Jumlah 75 100.00% 210
No. Alternatif Jawaban f % x f(x)
1 Sangat Tidak Setuju 0 0.00% 1 0
2 Tidak Setuju 5 6.67% 2 10
3 Setuju 53 70.67% 3 159
4 Sangat Setuju 17 22.67% 4 68
Jumlah 75 100.00% 237
Tabel 4.14 Indeks Jawaban Responden Variabel X Butir Pertanyaan 5
No. Alternatif Jawaban f % x f(x)
1 Sangat Tidak Setuju 1 1.33% 1 1
2 Tidak Setuju 22 29.33% 2 44
3 Setuju 49 65.33% 3 147
4 Sangat Setuju 3 4.00% 4 12
Jumlah 75 100.00% 204
Tabel 4.15 Indeks Jawaban Responden Variabel X Butir Pertanyaan 6
No. Alternatif Jawaban f % x f(x)
1 Sangat Tidak Setuju 0 0.00% 1 0
2 Tidak Setuju 14 18.67% 2 28
3 Setuju 45 60.00% 3 135
4 Sangat Setuju 16 21.33% 4 64
Jumlah 75 100.00% 227
Tabel 4.16 Indeks Jawaban Responden Variabel X Butir Pertanyaan 7
No. Alternatif Jawaban f % x f(x)
1 Sangat Tidak Setuju 3 4.00% 1 3
2 Tidak Setuju 10 13.33% 2 20
3 Setuju 44 58.67% 3 132
4 Sangat Setuju 18 24.00% 4 72
Jumlah 75 100.00% 227
No. Alternatif Jawaban f % x f(x)
1 Sangat Tidak Setuju 1 1.33% 1 1
2 Tidak Setuju 13 17.33% 2 26
3 Setuju 43 57.33% 3 129
4 Sangat Setuju 18 24.00% 4 72
Jumlah 75 100.00% 228
Tabel 4.18 Indeks Jawaban Responden Variabel X Butir Pertanyaan 9 4.4 Analisis Data dan Pembahasan
4.4.1 Keabsahan Data
4.4.1.1 Validitas
Uji validitasi penelitian ini menggunakan tingkat kepercayaan 95% dengan jumlah sampel 75 responden. Dasar pengambilan keputusan uji validitas ini adalah sebagai berikut.
1. Jika > maka pertanyaan tersebut dianggap valid.
2. Jika < maka butir bertanyaan tersebtu dinyatakan
tidak valid.
3. Koefisien korelasi yang digunakan dalam adalah 73
( .
Berikut adalah hasil variabel X.
No. Pertanyaan Keterangan 10 0.579 0.227 Valid 11 0.425 0.227 Valid 12 0.574 0.227 Valid 13 0.480 0.227 Valid
14 0.509 0.227 Valid
15 0.688 0.227 Valid
16 0.633 0.227 Valid
menggunakan tingkat kepercayaan 95% untuk jumlah sampel 75 responden.
Tabel 4.19 Analisis Uji Validitas Variabel X Berikut adalah hasil variabel Y.
No. Pertanyaan Keterangan 1 0.359 0.227 Valid 2 0.359 0.227 Valid 3 0.157 0.227 Tidak Valid 4 0.546 0.227 Valid 5 0.481 0.227 Valid 6 0.545 0.227 Valid 7 0.533 0.227 Valid 8 0.664 0.227 Valid 9 0.394 0.227 Valid
menggunakan tingkat kepercayaan 95% untuk jumlah sampel 75 responden.
Tabel 4.20 Analisis Uji Validitas Variabel Y
Dari hasil data yang didapatkan, butir pertanyaan nomer 3 dinyatakan tidak valid. Pertanyaan nomer 1 dan 2 yang merupakan pertanyaan mengenai indikator brand association yang sama seperti pada pertanyaan nomer 3 akan mewakili butir pertanyaan nomer 3. Maka dengan demikian pertanyaan nomer 3 (mengenai brand association) tidak akan digunakan penelitian ini. Dengan demikian seluruh pertanyaan (kecuali pertanyaan butir 3) dinyatakan lolos uji sehingga dapat melanjutkan ke pengujian berikutnya.
4.4.1.2 Reliabilitas
Proses selanjutnya ialah uji reliabilitas. Pertanyaan dinyatakan reliabel apabila jawaban seseorang terhadap pertanyaan tersebut konsisten dan stabil. Penelitian ini menggunakan perangkat lunak
IBM SPSS Statistics 20 untuk mendapatkan hasil Cronbach’s Alpha. Jika nilai Cronbach’s Alpha variabel diatas 0,60 maka pertanyaan variabel tersebut akan dinyatakan reliabel. Namun, jika nilai tersebut dibawah 0,60 maka pertanyaan variabel tersebut dianggap tidak reliabel.
Cronbach's Alpha N of Items Keterangan
0.779 16 Reliabel
Tabel 4.21 Tabel Analisis Cronbach’s Alpha
Nilai Cronbach’s Alpha variabel X dan Y adalah 0,779. Nilai dari Cronbach’s Alpha tersebut keduanya diatas angka 0,60 sehingga seluruh pertanyaan baik untuk variabel X maupun variable Y semuanya dinyatakan reliabel.
4.4.1.3 Normalitas
Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan tabel Kolmogrov-Smirnov untuk mengetahui apakah data dalam penelitian ini terdistribusi secara normal atau tidak. Berikut adalah hasil uji normalitas yang dengan bantuan SPSS.
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
X .114 75 .067 .982 75 .348
Y .106 75 .087 .985 75 .521
a. Lilliefors Significance Correction
Tabel 4.22 Analisis Uji Normalitas
Hasil Kolmogorov-Smirnov dari variabel X adalah 0,067 dan variabel Y 0,087 dimana keduanya lebih besar dari taraf signifikansi (α) yakni sebesar 0,05. Artinya, kedua variabel tersebut berdistribusi normal. Selain daripada itu, tabel P-P Plot dan Histogram dari uji normalitas ini juga menunjukkan bahwa penelitian ini berdistribusi normal.
Bagan 4.7 Uji Normalitas P-P Plot
Tabel P-P Plot menunjukkan garis rata-rata atau mean serta jawaban dari responden yang digambarkan dengan lingkaran kecil pada tabel. Data berdistribusi normal memiliki terletak mendekati atau beririsan dengan garis mean tersebut. Dari tabel diatas dapat terlihat bahwa kedua variabel sama-sama terletak mendekati dan beririsan dengan garis mean, artinya kedua variabel berdistribusi normal.
Bagan 4.8 Histogram Uji Normalitas Variabel X
Bagan 4.2 dan 4.3 menunjukkan bahwa keduanya memiliki titik tertinggi di bagian tengah yang artinya keseluruhan data memiliki kecenderungan untuk mendekati mean. Dengan demikian, kedua histogram tersebut menunjukkan bahwa data dalam penelitian ini berdistribusi normal.
4.4.2 Analisis Data
4.4.2.1 Korelasi
Uji korelasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar hubungan antara variabel X dengan variabel Y. Penelitiain ini menggunakan metode korelasi product moment Pearson. Dengan analisis ini akan diketahui hipotesis diterima atau ditolak.
: PoP Advertising Reebok Z Series tidak berhubungan secara
signifikan terhadap Brand Association Reebok
: PoP Advertising Reebok Z Series berhubungan secara
signifikan terhadap Brand Association Reebok
Uji Korelasi X Y X Pearson Correlation 1 .599** Sig. (2-tailed) .000 N 75 75 Y Pearson Correlation .599** 1 Sig. (2-tailed) .000 N 75 75
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Tabel 4.23 Analisis Uji Korelasi
Dari tabel di atas diketahui bahwa besar hubungan antara variabel X dengan variabel Y adalah sebesar 0,599. Berdasarkan tabel 3.3 (tabel korelasi dan kekuatan hubungan), maka tingkat korelasi
kedua variabel dapat tergolong sedang. Koefisien korelasi yang positif menunjukkan bahwa kedua variabel searah. Hal tersebut berarti, jika variabel PoP Advertising meningkat maka variabel Brand Association akan meningkat pula. Dapat disimpulkan bahwa hubungan kedua variabel yang bersifat sedang dan searah sehingga ditolak.
4.4.2.2 Koefisien Determinasi
Besaran koefisien determinasi / R Square memberikan gambaran kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen. Berikut adalah hasil olah data koefisien determinasi.
Model Summary
Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
1 .599a .359 .350 2.239
a. Predictors: (Constant), X
Tabel 4.24 Hasil Koefisien Determinasi
Dari tabel tersebut didapatkan nilai koefisien determinasi dari kedua variabel adalah 0,359. Artinya variabel PoP Advertising Reebok Z Series mempu menjelaskan variabel Brand Association Reebok sebesar 35,9%. Dengan demikian sebesar 74,1% variabel Brand Association Reebok dapat dipengaruhi oleh variabel independen lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.
4.4.2.3 Regresi
Analisis ini digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil yang di dapat dalam uji regresi ini yang didapat dari perangkat lunak IBM SPSS Statistics 20 adalah sebagai berikut.
Descriptive Statistics
Mean Std. Deviation N
X 20.01 2.778 75
Tabel 4.25 Analisis Mean Variabel X dan Y
Dari hasil tabel diatas, dapat diketahui bahwa rata-rata / mean jawaban variabel X sebesar 23,96 dan mean jawaban variabel Y sebesar 20,01.
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized
Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 11.866 1.910 6.214 .000 PoP Advertising .604 .095 .599 6.393 .000
a. Variabel terikat: Brand Association
Tabel 4.26 Analisis Uji Regresi
Berdasarkan tabel tersebut dapat dibuat persamaan regresi : Y = 11.866 + 0.604X
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa koefisien regresi variabel independen berpengaruh positif terhadap variabel dependen. Dengan demikian apabila variabel independen naik maka variabel dependenpun akan mengalami peningkatan. Begitu pula sebaliknya, jika variabel independen menurun maka variabel dependen akan juga menurun.
4.4.2.4 Uji Hipotesis
Uji hipotesis penelitian ini akan menggunakan uji serta
membandingkannya dengan dengan hipotesis sebagai berikut.
: PoP Advertising Reebok Z Series tidak berpengaruh terhadap
: PoP Advertising Reebok Z Series berpengaruh terhadap Brand
Association Reebok
diterima, jika : - , sehinga
ditolak. Sebaliknya, ditolak, jika : , maka
diterima. Berdasarkan analisis SPSS terdapat hasil uji sebagai
berikut.
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized
Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 11.866 1.910 6.214 .000 PoP Advertising .604 .095 .599 6.393 .000
a. Variabel terikat: Brand Association
Tabel 4.27 Analisis Uji Hipotesis
Tabel tersebut menunjukkan bahwa sebesar 6,393 pada
tingkat signifikasi 0.000. Angka tersebut kemudian dibandingkan dengan dengan derajat kebebasan sebesar 73 sebesar 1,666.
Karena artinya ditolak dan diterima.
4.5 Pembahasan
Berdasarkan gambaran umum responden penelitian ini, mayoritas responden berasal dari kelompok usia 40 tahun ke atas, meskipun produk Reebok ditujukan untuk kelompok umum. Artinya, meskipun Reebok ingin melakukan branding dengan citra yang fresh, muda, dan sporty, Reebok Indonesia tidak dapat melewatkan branding untuk kelompok ini. Terlebih lagi, kelompok umur 40 tahun ke atas juga merupakan kelompok umur dalam usia produktif yang memiliki daya beli yang baik.
Berdasarkan jenis kelamin, mayoritas responden merupakan responden wanita. Advertising Reebok yang mayoritas menggunakan figur pria serta banyaknya pilihan produk pria dibandingkan produk wanita perlu kembali dipertimbangkan.
Kelompok responden berdasarkan frekuensi berolah raga paling banyak berasal dari responden dengan frekuensi yang satu kali seminggu. Melihat hal tersebut, Reebok dapat memperhatikan kembali kebutuhan jenis olah raga yang dilakukan satu kalo seminggu tersebut untuk masuk ke pasar kelompok tersebut.
Jenis olah raga yang paling digemari oleh responden adalah jogging / running / walking diikuti dengan basketball serta olah raga dalam gym (aerobic / body combat / zumba, fitness / gym / training, dan yoga) dan seterusnya. Kedua kelompok besar ini merupakan target utama Reebok untuk produk Z Series. Artinya, Reebok sudah tepat memasuki pasar tersebut sehingga Reebok tidak perlu banyak mengubah cara pendekatan terhadap respondennya.
Penelitian ini mengkaji keterkaitan dua buah variabel yaitu variabel PoP Advertising Reebok Z Series dengan variabel Brand Association Reebok. Brand association, yang merupakan nilai yang masyarakat ketahui terkait brand, dapat diperoleh dari begitu banyak aspek. Dapat berdasarkan harga barang / jasa, cara pengemasan produk tersebut sampai bagaimana penggunaan dan karakteristik penggunanya. Point-of-Purchase Advertising merupakan salah satu cara untuk menyampaikan nilai suatu barang / jasa kepada para konsumen. Penelitian ini membahas seberapa terkaitnya kedua variabel tersebut.
Uji korelasi menyimpulkan bahwa hubungan kedua variabel digolongkan dengan hubungan sedang, artinya PoP Advertising memiliki pengaruh terhadap Brand Association meskipun tidak signifikan. Dalam koefisien determinasi juga dijelaskan bahwa besar pengaruh kedua variabel tersebut sebesar 35,9% yang berarti cukup besar meskipun masih ada variabel-variabel independen lain yang memiliki pengaruh yang lebih besar.
Hubungan keduanya bersifat positif, artinya jika respon positif dari konsumen terhadap point-of-purchase akan membawa dampak membaiknya brand association Reebok secara keseluruhan pula. Demikian sebaliknya, jika konsumen memiliki
respon negatif terhadap point-of-purchase Reebok Z Series maka brand association Reebok akan mengarah ke arah yang negatif pula.
Berdasarkan uji statistik dalam penlitian ini dapat disimpulkan bahwa PoP Advertising Reebok Z Series memiliki pengaruh terhadap Brand Association Reebok. Artinya, Reebok Indonesia harus memperhatikan point-of-purchase Advertising setiap produknya (terutama produk baru) karena hal tersebut dapat mempengaruhi brand association Reebok secara keseluruhan.