• Tidak ada hasil yang ditemukan

BELAJAR INVESTASI SAHAM DARI LO KHENG HO (2)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BELAJAR INVESTASI SAHAM DARI LO KHENG HO (2)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1 BELAJAR INVESTASI SAHAM DARI LO KHENG HONG

Oleh : Muhajir R. Hakim Universitas Islam Indonesia 1. Pendahuluan

Memiliki pendidikan yang tinggi bukan jaminan kesuksesan. Demikian

juga memiliki latar belakang orang kaya tentu bukan jaminan seseorang menjadi

kaya. Secara akuntansi, kekayaan bersih seseorang merupakan selisih total aset

dengan total kewajiban sehingga kemampuan untuk terus meningkatkan nilai aset

merupakan faktor penting dalam pengelolaan keuangan. Banyak orang yang ingin

hidup menjadi kaya dan punya penghasilan besar tetapi tidak semua orang mampu

mewujudkannya.

Cara tradisional untuk menambah kekayaan adalah bekerja untuk

mendapat gaji, lalu menabung sisa gaji tersebut. Namun dengan adanya

perkembangan dunia secara global sekarang ini, tantangan yang sering menjadi

musuh utama adalah adanya inflasi serta kebutuhan konsumtif. Supaya hidup kita

tetap bertahan, kita perlu mempertimbangkan cara yang lebih baik untuk

mengatasi hal tersebut. Berinvestasi merupakan salah satu solusinya. Uang yang

akan kita investasikan tentu saja berasal dari menabung. Selain menabung, kita

juga harus mempertimbangkan apa yang akan dilakukan dengan uang gaji yang

kita miliki. Investasi tersebut sebaiknya disesuaikan dengan seberapa besar risiko

yang kita ambil, salah satunya dengan menginvestasikan ke aset yang

memberikan pertumbuhan maksimal seperti saham.

Salah satu yang patut kita jadikan bukti adalah Lo Kheng Hong, seorang

investor saham terkenal. Bagi para investor saham di Indonesia, nama Lo Kheng

Hong tentu sudah tidak asing lagi. Kisah inspiratifnya berinvestasi di pasar saham

menjadi contoh bagaimana latar belakang seseorang yang memiliki kesabaran

dalam berinvestasi akhirnya membuahkan hasil yang maksimal. Oleh karena itu,

melalui tulisan ini penulis akan mengulas lebih dalam lagi tentang investasi saham

berdasarkan pengalaman Lo Kheng Hong.

Lebih dari 20 tahun bermain di pasar saham, salah satu investor individual

(2)

2 untung di pasar saham. Oleh karena itu dalam tulisan ini akan diuraikan kembali

bagaimana Lo Kheng Hong berinvestasi dalam saham sehingga membuat dia

sukses sebagai investor saham.

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan penulisan

laporan ini adalah untuk mengetahui alasan berinvestasi di saham, cara

berinvestasi saham, dan kriteria pemilihan saham menurut pengalaman Lo Kheng

Hong.

2. Profil Singkat Lo Kheng Hong

Lo Kheng Hong terlahir sebagai anak pertama, hanya lulus SMA, dan bekerja di Bank sambil kuliah di Universitas Nasional Jakarta. Kuliah sejak 1979

dengan biaya yang murah saat itu dan bekerja sebagai tata usaha di Overseas

Express Bank (OEB). Sambil bekerja, Hong mulai terjun sebagai investor saham

saat berumur 30 tahun sejak 1989 dengan modal yang berasal dari gaji. Hong

adalah orang yang hemat, uangnya tidak dikonsumsi tapi semuanya dibelikan

saham.

Lo Kheng Hong disamakan dengan Warren Buffett, seorang investor

saham asal Amerika Serikat. Hong sekarang sudah menjadi investor saham yang

kerjanya tinggal menikmati kebahagiannya sehari-hari. Kebahagiaannya

diwujudkan dengan bersantai ke luar negeri paling sedikit ke 5 benua seperti

Inggris dan Amerika. Hong bebas melakukannya karena tidak ada beban sebagai

seorang atasan atau bawahan.

Pekerjaannya sebagai investor saham adalah duduk di rumah

mengamalkan prinsip investasi sahamnya yaitu reading, thinking, dan investing

(RTI). Pekerjaannya dilakukan sendiri tanpa sekretaris untuk meng-klipping dan

mem-file, serta mencetak artikel tentang pasar modal. Hong memiliki semuanya

kecuali 5 hal yaitu kantor, pelanggan, karyawan, pimpinan, dan utang. Hong

hanya punya 1 supir, 2 pembantu, dan 1 orang satpam.

Pada 1990 Hong telah bekerja selama 7 tahun sebagai investor saham,

ketika Hong pindah kerja ke Bank Ekonomi lalu menjadi kepala cabangnya.

Pengalaman bekerjanya juga sudah 17 tahun sehingga dengan 2 alasan ini, Hong

(3)

3 pertama dalam berinvestasi saham adalah membeli saham PT Gajah Surya Multi

Finance (Tbk) yang sedang IPO. Investasi ini membuat Hong merugi karena

saham perusahaan tersebut waktu listing harganya turun sehingga Hong

menjualnya dengan harga murah. Pengalaman ini sangat berharga buatnya,

sehingga Hong terus belajar tentang investasi saham dari buku Warren Buffett.

Harta Hong yang pertama adalah rumah pribadi yang dibeli tahun 1994

terletak di Green Garden, yang merupakan pembelian dari uang hasil investasinya

dengan keuntungan menjual saham PT Rig Tenders Indonesia Tbk (RIGS),

perusahaan pelayaran. Selain rumah tinggal, Hong juga membeli apartemen dan

vila untuk dimilikinya dan tidak pernah disewakan. Menurutnya seorang investor

tidak perlu mencari pendapatan lain selain saham saja.

Nilai pasar saham yang dimiliki Lo Kheng Hong kini mencapai Rp2,5

triliun. Jumlah ini merupakan dividen saham yang diterimanya di tahun 2011 dan

telah mampu mencukupi kebutuhannya seumur hidup. Jumlah ini jika

dibandingkan dengan total aset yang dimilikinya hanyalah 1% dari total portofolio

investasinya.

3. Definisi Saham

Saham adalah surat berharga yang menunjukkan bagian kepemilikan atas

suatu perusahaan. Ini berarti jika kita membeli saham, maka kita membeli

sebagian kepemilikan atas perusahaan tersebut. Oleh karena itu saham merupakan

suatu modal dasar sebelum terjun ke dalam dunia investasi saham. Saham dibagi

menjadi 2 kategori utama, yaitu saham biasa dan saham preferen.

Saham Biasa adalah suatu sertifikat atau piagam yang memiliki fungsi

sebagai bukti pemilikan suatu perusahaan dengan berbagai aspek-aspek penting

bagi perusahaan. Pemilik saham akan mendapatkan hak untuk menerima sebagian

pendapatan tetap atau deviden dari perusahaan serta kewajiban menanggung risiko

kerugian yang diderita perusahaan.

Saham preferen adalah saham yang pemiliknya akan memiliki hak lebih

dibanding hak pemilik saham biasa. Pemegang saham preferen akan mendapat

dividen lebih dulu dan juga memiliki hak suara lebih dibanding pemegang saham

(4)

4 berusaha sekuat tenaga untuk membayar ketepatan pembayaran dividen preferen

agar tidak lengser dari jabatannya (Jogiyanto Hartono, 2014).

4. Investasi Saham

Investasi saham adalah pemilikan atau pembelian saham-saham

perusahaan oleh suatu perusahaan lain atau perorangan dengan tujuan untuk

memperoleh pendapatan tambahan di luar pendapatan dari usaha pokoknya. Jadi

saham merupakan salah satu instrumen pasar modal yang diperbandingkan di

lantai bursa efek, yang digunakan bagi perusahaan untuk kelangsungan hidup

perusahaan dalam membutuhkan dana dari masyarakat (Jogiyanto Hartono, 2014).

Dengan membeli saham suatu perusahaan pada dasarnya kita telah

memiliki sebagian hak kepemilikan atas perusahaan tersebut. Semakin banyak

saham yang dibeli maka semakin banyak pula bagian kepemilikan atas perusahaan

tersebut. Ketika perusahaan yang sahamnya dibeli membukukan keuntungan,

maka kita pun berhak atas keuntungan tersebut, yang dinyatakan dalam dividen.

Kepemilikan saham atas perusahaan biasanya disebut sebagai ekuitas (Jogiyanto

Hartono, 2014).

5. Keuntungan dan Kerugian Berinvestasi Saham

Dikutip dari coki002.wordpress.com, ketika melakukan investasi saham

ada beberapa keuntungan yang didapatkan, yang pertama yaitu capital gain.

Capital gain adalah selisih positif antara harga beli dan harga jual. Misalnya kita

membeli saham dengan harga per lembar adalah Rp12.500 dan pada saat menjual

harga per lembarnya adalah Rp13.250, maka terdapat capital gain sebesar Rp 750

per lembar.

Keuntungan kedua adalah mendapatkan deviden yaitu merupakan bagian

laba yang dibagikan oleh perusahaan kepada para pemegang saham. Perusahaan

jika mendapatkan keuntungan biasanya menggunakan sebagian labanya untuk

mengembangkan usaha dan sebagian untuk diberikan kepada para pemegang

saham. Deviden biasanya dinyatakan dalam satuan rupiah per lembar saham atau

dalam bentuk persentase.

Keuntungan ketiga adalah saham bonus (jika ada) yaitu saham yang

(5)

5 Agio saham adalah selisih antara harga jual terhadap harga nominal saham

tersebut pada saat perusahaan melakukan penawaran umum di pasar perdana,

misalnya setiap saham dengan nilai nominal Rp500 dijual dengan harga Rp800

maka setiap saham akan memberikan agio kepada perusahaan sebesar Rp300

setiap sahamnya.

Selain keuntungan juga terdapat risiko atau kerugian dalam berinvestasi

saham. Pertama tidak ada pembagian dividen. Jika emiten tidak dapat

membukukan untung pada tahun berjalan atau Rapat Umum Pemegang Saham

(RUPS) memutuskan untuk tidak membagikan dividen kepada pemegang saham

karena laba yang diperoleh akan dipergunakan untuk ekspansi usaha.

Kedua, capital loss atau kehilangan modal. Investor akan mengalami

kehilangan modal, jika harga beli saham lebih besar daripada harga jual. Ketiga

adalah risiko likuidasi. Jika emiten bangkrut atau dilikuidasi, para pemegang

saham memiliki hak klaim terakhir terhadap aset perusahaan setelah seluruh

kewajiban emiten dibayar. Kondisi yang terburuk adalah jika tidak ada lagi aset

yang tersisa, maka para pemegang saham tidak memperoleh apa-apa.

Yang terakhir adalah saham delisting dari bursa. Karena beberapa alasan

tertentu, saham dapat dihapus pencatatannya di bursa, sehingga pada akhirnya

saham tersebut tidak dapat diperdagangkan.

6. Alasan Lo Kheng Hong Memilih Investasi Saham

Jika kita membaca dengan seksama, artikel tentang Lo Kheng Hong di

atas, sedikit banyak kita tentu terinspirasi untuk mengikuti jejaknya. Lalu muncul

pertanyaan, mengapa dalam berinvestasi Hong memilih saham? Alasan Hong

berinvestasi dalam saham adalah adanya capital gain dari saham walaupun dibeli

dalam jumlah yang sedikit. Pada awalnya Hong suka membeli saham yang lagi

IPO. Misalnya harga saham ketika IPO dibeli olehnya seharga Rp7.250 dan

taklama kemudian menjadi Rp35.000, keuntungan yang diperolehnya sebesar

Rp27.750 atau 383% (Rp27.750/Rp7.250 x 100), atau hampir 400%.

Mengapa bukan obligasi atau reksadana? Semua uangnya hanya untuk

dibelikan saham dan bukan untuk yang lain seperti obligasi atau reksadana.

(6)

6 Alasan kedua menyimpan uang di reksadana uang bisa hilang karena dikelola

orang lain yang mungkin tidak jujur atau tidak kompoten. Bisa-bisa uang kita

dibawa lari oleh orang perusahaan.

Mengapa bukan emas atau dolar? Hong beralasan bahwa kalau investasi

emas, jika disimpan emas tidak akan pernah bertambah beratnya di masa yang

akan datang. Satu kilo emas saat ini tetap satu kilo pada 5 tahun yang akan datang.

Demikian juga kalau dibelikan dolar, sifatnya spekulasi dan keuntungannya

jangka pendek karena keuntungannya hanya diperoleh dengan harapan terjadi

sesuatu yang buruk misalkan krisis ekonomi, negara tidak stabil, inflasi dan

rupiah melemah. Berbanding terbalik dengan saham yang selalu mendapatkan

keuntungan dari hal-hal yang harapannya terjadi dengan baik seperti negara aman,

ekonomi tumbuh, dan daya beli meningkat.

Mengapa bukan disimpan di bank? Hong beralasan bahwa jika disimpan di

bank seperti deposito walaupun dalam jumlah tabungan yang besar, bunga yang

diberikan bank terlalu kecil dibanding dengan tingkat inflasi sehingga tidak

menguntungkan karena makin lama uangnya makin habis dikurangi oleh bank

dengan adanya pajak dan kos administrasi setiap bulan. Ini sama saja dengan

memberikan uang kita cuma-cuma kepada pihak bank.

7. Rahasia Sukses Menjadi Investor Saham ala Lo Kheng Hong

Rahasia sukses pertama Lo Kheng Hong adalah membaca. Iya benar

hanya membaca. Lo Kheng Hong menuturkan, seorang investor wajib membaca

koran keuangan setiap hari, karena dari koran ini mereka akan tahu bagaimana

laporan keuangan terbaru. Ditambahkan oleh Hong janganlah membeli saham itu

seperti membeli kucing dalam karung yang tidak diketahui seluk beluknya.

Menurut dia, dengan berinvestasi dia bisa menikmati hidupnya tanpa harus

terjebak kemacetan.

Rahasia sukses kedua Hong adalah bahwa investor harus jadi seperti

seorang atlit yang memiliki nafas panjang dan kuat bertanding. Artinya seorang

investor saham itu harus kuat dalam hal permodalan. Uang untuk berinvestasi di

(7)

sehari-7 hari. Minimal kita memiliki modal 3 kali lipat jumlah kebutuhan kita sehari-hari

sebagai langkah awal antisipasi harga saham yang akan jatuh sewaktu-waktu.

Ketiga jadilah sebagai seorang value investor, yaitu melihat nilai

sahamnya dan bukan soal harga pasar sahamnya. Mencari nilai bisa dilakukan

dengan mencari perusahaan yang salah harga di bursa. Salah harga yang dimaksud

Hong yaitu dengan membeli saham perusahaan yang bagus dan murah, kemudian

menyimpannya, menunggu dengan sabar, sampai suatu hari pasar sadar bahwa

harga saham itu terlalu murah dan kembali naik ke harga wajarnya, dan dari

sinilah kita mendapatkan keuntungan. Menurut Hong 90% investor lain tidak tahu

strategi seperti ini, mereka membeli saham ibarat membeli kucing dalam karung.

Untuk mengetahui perusahaan mana yang salah harga tersebut, salah satu caranya

adalah dengan membandingkan berapa nilai pasar perusahaan itu dan berapa laba

bersih perusahaan itu. Sebagai contoh, pada tahun 2005 Hong membeli saham PT

Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI), perusahaan ternak ayam terbesar

kedua di Indonesia seharga Rp250. Hong mendapatkan sekitar 6 juta saham

MBAI atau sekitar 8,28 % dari total saham MBAI yang beredar di pasar. Jumlah

saham MBAI yang beredar di 2006 mencapai 75 juta lembar. Jadi, nilai

perusahaannya adalah Rp250 dikali 75 juta lembar, yaitu Rp18,75 miliar, padahal

labanya Rp106 miliar. Informasi ini tida ada yang tahu sehinga tidak ada yang

beli. Setelah disimpan selama 6 tahun, harganya naik menjadi Rp31.500 dan Hong

menjualnya di tahun 2011. Hong memperoleh untung 12.500%. Contoh lain Hong

juga pernah memiliki 850 juta lembar saham PT Panin Financial Tbk (berkode

PNLF). Hong membelinya di harga Rp100 dan 1,5 tahun kemudian Hong

menjualnya di harga Rp260. Setelah itu, harganya masih naik lagi ke Rp300.

Coba hitung berapa keuntungannya.

Keempat, memanfaatkan kondisi krisis. Misalnya prospek saham di BEI.

Sejak 11 tahun terakhir, harga saham di BEI naik sampai 10.000 persen yang

terjadi setelah tahun 2002 ke tahun 2013 naik dari 330 menjadi 5251. Misalnya

pernah Hong membeli saham perusahaan Petrokimia dengan harga Rp200, dan

pada tahun 2008 turun jadi Rp60. Tetapi Hong tidak jual, bahkan Hong membeli

(8)

8 dan Hong menjualnya. Kheng Hong juga dikabarkan sempat mengalami kerugian

cukup besar hingga uangnya tinggal 15% saat terjadi krisis 1997-1998. Namun, ia

tetap membeli saham dengan uang tersebut dan posisi yang rugi kemudian Hong

berbalik menjadi untung. Ia bahkan berhasil meningkatkan asetnya di saham

hingga 150 ribu sejak 1998 sampai 2013.

Rahasia terakhir adalah lebih fokus membeli sahan yang sedang

diperdagangkan di bursa dan tidak lagi membeli saham IPO. Setelah membeli

saham perdana, Hong menyarankan untuk lebih banyak membeli saham

perusahaan yang sedang dijual di bursa. Carilah perusahaan yang bagus seperti

perusahaan tambang batubara, karena harganya sudah jatuh banyak sekali dan

sangat murah. Buktinya saat ini Hong sudah memiliki saham dari sekitar 20

emiten, dan salah satunya adalah saham PT Petrosea Tbk yang saat ini

kepemilikannya telah mencapai sekitar 9%.

8. Kriteria Pemilihan Saham Menurut Lo Kheng Hong

Setelah mengetahui alasan dan rahasia sukses berinvestasi, sekarang mari

kita dalami bagaimana kriteria memilih saham. Ada empat kriteria Lo Kheng

Hong dalam memilih saham. Kriteria pertama adalah mengetahui apa yang kita

beli. Artinya lihatlah manajemennya apakah pengelolanya jujur atau tidak. Cari

jawabannya dari kompetitornya, karena biasanya kompetitornya tahu. Kita perlu

mengetahui agar tidak beli kucing dalam karung, karena ini menyangkut harta.

Jangan membeli sesuatu yang tidak kita tahu. Ini penting karena menjadi investor

di suatu perusahaan berarti mempercayakan seluruh harta milik kita ke

manajemen. Meski suatu perusahaan atau emiten memiliki fundamental bisnis

yang sangat bagus, bagi Kheng Hong, hal itu tidak akan berarti apa pun jika

manajemennya ternyata suka mengambil uang perusahaan.

Kriteria kedua adalah cari informasi tentang emiten. Artinya lihatlah

kinerja masa lalunya dan sektor usahanya. Ini juga terkait apakah emiten

bersangkutan mengalami pertumbuhan atau tidak? Untuk mengetahuinya bacalah

annual report-nya. Dari sinilah kita akah tahu yang mana perusahaan yang baik.

Menurutnya, kalau perusahaan sudah lima tahun berturut-turut growing, tandanya

(9)

9 misalnya saja dari tingkat return on equity (ROE) yang tinggi, atau dengan

menghitung marjin laba bersih. Dari sektor usaha, cari tahu apakah sektor

usahanya menarik atau tidak. Menurutnya, ada sektor usaha yang kurang menarik,

misalnya sepatu, tekstil, dan garmen. tetapi ada juga yang menarik, seperti kelapa

sawit dan pakan ayam. Buktinya Hong sering membeli saham perusahaan seperti

perusahaan pakan ternak.

Kriteria ketiga adalah cari saham yang salah harga. Artinya lihat harganya

berdasarkan price to earning ratio (PER). Apakah harganya undervalue atau

overvalue. Misalnya, saham yang harganya Rp70.000 bisa lebih murah dibanding

saham yang harganya Rp250. Menurutnya, harga yang reasonable untuk dibeli

yaitu yang PER-nya di bawah lima kali, itu sangat menarik dan potensial. Tapi

biasanya perusahaan yang sudah baik dan manajemennya bagus, PER-nya sudah

di atas 10 kali.

Kriteria keempat adalah jangan ada target waktu. Artinya jangan

ditentukan kapan kita harus menjual saham yang telah kita beli. Salah satu

indikator yang bisa kita jadikan patokan adalah bagaimana kemampuan emitennya

dalam membukukan keuntungan. Seberapa hebat kemampuan emiten mencetak

laba bersihnya? Return on asset (ROA) adalah rumus yang biasa digunakan untuk

mengukur seberapa hebat kemampuan suatu emiten mencetak laba bersih berbekal

nilai aset yang dimilikinya. Semakin besar ROA menunjukkan kemampuan

emiten yang handal mencetak keuntungan. Begitu juga sebaliknya. Belum tentu

emiten bermodal besar mampu mencetak laba yang besar. Namun tidak jarang

emiten beraset minim tetapi mampu membukukan pertumbuhan laba yang

signifikan. Berbeda dengan investor umumnya, Kheng Hong konsisten

memvaluasi saham berdasarkan kemampuannya mencetak laba (price earning

ratio). Dia tidak mempermasalahkan jika harga suatu saham telah naik tinggi,

asalkan PE- nya masih relatif kecil. Dari sinilah kita bisa mengetahui berapa lama

saham harus kita pegang dan kapan harus dilepas. Jika perusahaan diprediksi akan

rugi maka cepat dijual dan jika perusahaannya labanya tumbuh terus, maka coba

(10)

10 9. Penutup

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapatlah disimpulkan hal-hal

sebagai berikut:

1) Alasan Hong berinvestasi hanya pada saham adalah adanya capital gain dan

dividen. Berbeda dengan obligasi dan reksadana. Obligasi return-nya kecil

sementara reksadana uang kita dikelola orang sehinga mudah diselewengkan.

Demikian juga pada emas karena beratnya tidak akan bertambah. Pada dolar

sangat berefek buruk karena selalu mengharapkan yang buruk terjadi. Dan

terakhir begitu juga pada simpanan dan deposito, bunganya kecil dibanding

dengan laju tingkat inflasi sehari-hari.

2) Ada 5 rahasia sukses Hong dalam berinvestasi, yaitu membaca, menjadi

seperti seorang atlit, berorientasi pada value, memanfaatkan kondisi krisis dan

terakhir fokus pada perusahaan yang sedang menjual sahamnya di bursa

terutama perusahaan yang bergerak di bidang tambang, makanan, dan

lain-lain.

3) Ada 4 kriteria Hong dalam memilih saham, yaitu mengetahui apa yang kita

beli, cari informasi tentang emiten, cari saham yang salah harga, dan jangan

ada target waktu.

Kisah inspratif Lo Kheng Hong patut dicontoh. Semua orang bisa bermain

saham jika mengikuti pola yang sama, tapi tidak semua orang memiliki disiplin

seperti apa yang diterapkan Lo Kheng Hong.

Berinvestasi saham sebaiknya dilakukan untuk jangka panjang, dan

sebaiknya investor memilih saham-saham yang memiliki potensi dan fundamental

yang bagus karena setiap saham memang memiliki potensi kenaikan yang lebih

dari rata-rata 20-25% per tahun.

Investasi saham juga memiliki risiko yang lebih tinggi sehingga kita

sebaiknya harus berhati-hati dalam memantau pergerakannya. Intinya keuntungan

yang besar bisa didapatkan, jika investornya melakukan analisis fundamental dan

(11)

11 10. Referensi

Hartono, Jogiyanto. 2014. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi 8. Yogyakarta: BPFE.

www.wikipedia.com, diakses tanggal 23 November 2016 Jam 08.40 WIB.

www.swa.co.id, diakses tanggal 23 November 2016 Jam 09.00 WIB.

www.indonesianindustry.com, tanggal 23 November 2016 Jam 09.15 WIB.

www.howmoneyindonesia.com, tanggal 23 November 2016 Jam 09.22 WIB.

www.market.bisnis.com, diakses tanggal 23 November 2016 Jam 09.30 WIB.

Referensi

Dokumen terkait

Sarung tangan yang kuat, tahan bahan kimia yang sesuai dengan standar yang disahkan, harus dipakai setiap saat bila menangani produk kimia, jika penilaian risiko menunjukkan,

Kata profesional, menurut Nainggolan (2007:29) kata professional berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemahaman dan persepsi Wajib Pajak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah tentang Peraturan Pemerintah Nomor 46 tahun

bahan ceramah MENPPN oada Munas KORPRI Jakarta... bahan ceramah MENPPN oada Munas

Grafik hubungan antara ketahanan aus agregat pada putaran 500 dan faktor air semen (FAS) Menurut hasil pengujian yang dilhat pada Gambar 2 di atas menunjukkan bahwa perendaman

Produksi susu domba ekor tipis Jawa yang dipelihara di padang penggembalaan.. (Jarmuji

Low ankle brachial index predicts new vascular events and functional outcome after 1 year in patients with non-cardioembolic stroke: our experience and review.. Gil-N u ~

( independent ) dan angket kecerdasan spiritual siswa sebagai variabel terikatnya ( dependent ). Lebih jelasnya peneliti menyajikan dalam tabel dibawah ini..