• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal ltmu dan Teknologi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Jurnal ltmu dan Teknologi"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

fndonesian

Journal

(2)

lndonesian

Livestock

Journal

Jurnal

ltmu

dan

Teknologi

Peternakan lndonesia

tssN

2088-4753

Volume

1

*

Nomor

1

*

Januari2011

DAFTAR ISI

Evaluasi kualitas ransum

pabrik

pakan komersil

ditinjau dari

uji

banding bentuk

crumble, persentase

boboi

karkas, lemak abdomen dan organ dalam ayam Broiler

(Y

Retnani, N Saifudin, HRK Dewi

&

DM Suci)

sifat kimia dan daya terima abon daging domba dengan pelumuran sari jeruk Nipis (Citrus a urantifol ia) sebelum pengolahan

(Komariah, S Rahayu

&

S Arbian)

produksi susu dan status kesehatan sapi perah pada pemberian

A/oe

barbadensis

Miller sebagai suplemen Pakan (S Aisyah & lD RahaYu)

Produksi susu domba ekor tipis Jawa yang dipelihara

di

padang penggembalaan

(Jarmuji & Suharyanto)

Kualitas pelayanan koperasi persusuan

di

Jawa Timur

(Siswoyo &

A

Suryantini)

produksi antibiotik alami hasil isolasi AIoe barbadensis Miller dan pengujiannya pada

mencit (Rattus novergitus sp.) sebagai model

terapi

penyakit mastitis

(tD Rahayu, SD Hastuti & S Ais1ah)

Karakteristik produksi kelinci Rex pra-sapih selama

4

generasi

di

Balai Penelitian

Ternak Ciawi, Bogor

(B

Brahmantiyo,lC

Rahario,

M

Duldiaman & DV Damayanti)

Kajian pengembangan ternak kerbau berdasarkan potensi sumberdaya di Kabupaten

Kudus, Jawa Tengah

(Hitmawan E L CYrilla

&

H Nuraini)

Dampak pemberian

antelmintik terhadap luas

permukaan

viii

usus halus dan

produksi

telur

ayam

(L Zalizar)

Strategi Suplementasi Leguminosa untuk Meningkatkan Penampilan Domba

(E Marhaeniyanto & S Susantr)

1-7

8-14

15-21

22-28

29-41

42-46

47-50

51-58

59-62

(3)

lndonesian Livestock Journal 1 (1) 2011: 22 - 28

rssN 2088-4753

Jarmuji & Suharyanto

Produksi

susu

domba

ekor

tipis

Jawa

yang

dipelihara

di

padang

penggembalaan

(The

milk

production

of

Javanese

thin tail

sheep

which

rearing on grazing

system)

Jarmuiirr) &

SuharYanto

r)

r) Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu

JL. Kandang Limun, Bengkulu 38125

*Correspondence author e mail

:

[email protected]

Disetujui : 22.12.2010

Abstract

The objectives of this research were to know the effect of sheep's age on milk yield,reared on grazing. This

research

*ai

done in The Jonggol Animal Science Teaching, and Research Unit (JASTRU) located in Singasari Village,

Jonggol, Bogor district from June to November 2007. As many 100 local sheeps comprises of pregnant and lactating

"*"-ion

housed on au-rage nigh1. The 1-4 years iesult showed old were that used ewe's age in this research. significantly The effect sheeps its were milk yield grazed (P<0.01 from 9 The higest sheep a.m.

to

4 p.m. milkand yied was on average of 3 to 4 years old.

Keyrwords.' ewes, milk yield, grazing.

PENDAHULUAN

Domba

lokal

merupakan salah satu sumber

daya

genetik

ternak

yang

berpotensi

dikembangkan dalam penyediaan daging nasional.

Domba

lokal memiliki

beberapa keunggulan di

antaranya kemampuan dalam melahirkan anak

kembar dua ekor atau lebih, umur dewasa kelamin

relatif

cepat serta

tidak

mengenal musim kawin sehingga dapat beranak sepanjang tahun. Domba

lokal

pada dasarnya

digolongkan

menjadi dua

yaitu

domba

ekor tipis

Jawa, domba

ekor

tipis

Sumatera dan domba ekor gemuk.

Domba ekor tipis

jawa

memiliki

ciri

berekor

tipis dan

pendek. Bangsa domba

ini

sekitar

80-85% terdapat

di

daerah Jawa Barat

dan

Jawa Tengah (Direktorat Bina Perbibitan, 1998). Menurut Devendra & Mcleroy ('1982), domba

ini

memiliki

tubuh

dan

ekor

berukuran

kecil,

bobot

badan

betina

dewasa bervariasi

dari

25-35

kg

dengan

tinggi

badan rata-rata 57 cm, sedangkan bobot

badan domba jantan dewasa berkisar antara

40-60 kg dengan

tinggi

badan rata-rata 50 cm. Pada

umumnya domba

ini

mempunyai

bobot

potong

19

kg.

Domba

ekor

tipis

Jawa

memiliki

warna

dominan

putih dan terdapat

belang

hitam

di

sekeliling

mata, hidung dan

kadang-kadang di

seluruh tubuhnya.

Bagian

ekornya

tidak

menunjukkan adanya

deposisi

lemak.

Domba

jantan

memiliki

tanduk yang

melengkung,

sedangkan

domba

betina

biasanya tidak

bertanduk.

Domba

ekor tipis

Jawa mempunyai telinga ukuran sedang dan

wol

yang kasar. Domba ekor

tipis Jawa memiliki siklus reproduksi yang cepat,

dengan jarak kelahiran delapan bulan maka dalam

dua tahun seekor induk domba sedikitnya

meng-hasilkan

tiga

ekor anak pada kelahiran tunggal

atau

1.5 ekor anak per induk per tahun. Namun

kondisi

ini

masih dihadapkan

pada

masalah

kurangnya daya tahan hidup anak domba yang

dilahirkan per induk dalam mencapai usia sapih, terutama yang dilahirkan kembar dua atau lebih

dengan

tingkat

kematian

mencapai

4A-600/o

(lniquez

et

al., 1993'). Angka kematian yang tinggi

sebelum mencapai umur sapih ini sebagian besar

disebabkan

oleh

kurangnya

zat

makanan yang

disediakan

oleh induk

dalam bentuk

air

susu.

Sementara anak domba sangat tergantung pada

ketersediaan

air

susu sebagai

bahan

makanan

dalam menopang pertumbuhan

dan

kehidupan

sebelum ternak disapih. Produksi susu induk yang

rendah juga dapat menurunkan laju pertumbuhan

dan bobot

sapih. Domba

yang memiliki

bobot

sapih rendah

dapat

menurunkan kemampuan

dalam bersaing memperoleh hijauan

yang

berkualitas

di

padang penggembalaan, sehingga

pertumbuhan mencapai dewasa menjadi lambat dan menurunkan kemampuan reproduksi.

Populasi domba dapat ditingkatkan dengan

cara

mernperbaiki

produktivitas

induk

melalui

kemampuan menghasilkan

air

susu

dan

anak kembar pada kondisi lingkungan dan pakan yang

terbatas.

Seleksi

keunggulan

genetik

melalui

identifikasi suatu sifat yang diduga mempunyai hubungan kuat dengan sifat produksi, merupakan cara praktis guna mendukung program perbaikan

(4)

This age,

rting

and

milk

ndonesian l-ivestock journal 1 (1) 201 1:22 - 28

5SN 2088.4753

genetik dornba lokal

di

lapangan' Hasil penelitian

iiharapkan dapat digunakan sebagai kriteria seleksi

dalam upaya meningkatkan produktivitas induk

domba ekor tipis jawa yang dipelihara

di

padang

penggembalaan.

MATERI DAN METODE

Tempat dan waktu

Penelitian

ini

dilaksanakan

di

areal

padang

penggembalaan

Unit

Pendidikan, Penelitian dan

beternakan Jonggol lnstitut Pertanian Bogor

(UP3J-IPB) Desa Sirrgasari Kecamatan Jonggol Kabupaten

Bogor

dari

bulan Juni sampai dengan November

2007.

Bahan dan alat

Materi penelitian '100 ekor induk domba ekor

tipis

Jawa

umur

1-5

tahun yang

dipelihara

di

padang penggembalaan

dalan

kondisi bunting

Can laktasi.

Peralatan

yang

diperlukan

dalam

penelitian kandang

koloni induk yang

sedang r-nelahirkan, kandang koloni induk, kandang koloni

anak, kalung nomor dan timbangan ternak merk

5halter.

Pendataan

dan

identifikasi domba penelitian

Ternak domba urnur 1-5 tahun dalam keadaan

bunting dipilih sebanyak 100 ekor dan diberi tanda

c.rupJno*or

kalung, kemudian ditempatkan pada

"-ndung

:ilakukan pagi

kelompok.

hari, saat Pemilihan dimana kondisi

ternak

buntingrumen

'.idak

diprenuhi

oleh

pakan.

Untuk

mengetahui

<riteria

incJuk

bunting

dilakukan

dengan

mengamati besarnya

tubuh

sebelah kanan atau

rnengamati

dan

meraba

ambing'

Sistem

o.rJih"taan

domba digembalakan secara bebas

Ci

padang

penggembalaan

mulai pukul

09'00

sampai dengan pukut tO.OO dan sore harinya ternak

:imasukan ke dalam kandang.

Untuk melihat umur pada ternak domba dapat

:ilakukan

dengan cara

melihat

pergantian gigi

seri pada

ternak

(Tabel 1).

Jarmuji & SuharYanto

dahulu

dilakukan

penimbangan masing-masing

anak (Caja

et

al., 2006). Total selisih

bobot

anak

domba

sebelum

dan

sesudah menyusu tersebut

merupakan

jumlah

produksi susu

induk'

Pengukuran clilakukan

pukul

23'00, 05.00, 11.00

dan

'17.00 (satuan

dalam gram).

Produksi susu

diukur

setiap

tiga

hari sekali. Analisis stafrstik

Pengaruh umur induk pada produksi susu diuji

dengan

analisis raEam

dengan

menggunakan

General

Linier

ttladel (GLn{)

program

statistika,

apabila menunjukkan pengaruh

yang

nyata

dilanjutkan dengan

uji

beda Duncan.

Data

ditampilkan

sebagai rata-rata

*

standar deviasi

(sD).

HASIL DAI{ PENRBAHASAN

Keadaan umurn padang penggembalaan

Secara geografis UP3J-lPB terletak antara 60 LU

dan

'106.530

BT pada ketinggian

70

m

diatas

permukaan

laut.

Kondisi

iklim

selama penelitian

bulan Juni-tr,lopernber dengan rata-rata curah hujan

182.22 mm/bulan, kelembaban 75ak,

suhu

lingkungan 250C - 340C dan kecepatan angin

rata-rata 1848.89 m/jam (UP3J 2007).

Hijauan makanan ternak yang dikembangkan

di padang penEgembalaan adalah rumput Bachiaria

humidicola. Tanaman leEuminosa seperti gamal

(Glirisidiae sp.) dan lamtoro (Leuchena sp') ditanam

disekeliling padanE

penggernbalaan'

Sistem

penanarnan campuran

rumput dan

leguminosa

ielain dapat membantu memperkaya unsur hara di

dalam tanah,

juga

berfungsi

sebagai peneduh

ternak pada siang hari serta mengurangi terpahan

angin

kencang.

Rendahnya

curah hujan

dan

tingginya suhu lingkungan

selama

penelitian

menyebabka n rum put B' hu m i d i cola seba g ia n besa r

mengering. Malesi (2006) melaporkan pada musim

kemarau rata-rata produksi rumput B' humidicola

di UP3J yang dipanen umur 30 hari adalah sebesar

369.42 glm2,

sedangkan

pada musim

hujan

mencapai 404.20 g/m2' Produksi tersebut sangat

rendah jika dibandingkan dengan hasil penelitian

Mansyur (2004)

yaitu

sebesar

3.260

glm2'

Kekurangan

air

selama

musim kemarau

dapat

mengganggu

proses

metabolisme

diantaranya pengGangan pembukaan stomata, laju fotosintesis dan kehilangan air dari daun (Goldsworthy & Fisher

1992) dan menghambat penyerapan unsur hara di

dalam tanah oleh tanaman (Hardjowigeno 2003)'

Srstem penggernbalaan (grazi ng)

Pemberian pakan domba

ekor

tipis

Jawa di

UP3J

dilakukan dengan

sistem penggembalaan

secara kontinyu,

yaitu

dengan cara membiarkan

ternak merumput hijauan secara bebas

di

padang

;

alam reng-rggal rmun salah yan9 ;apih, lebih -60o/o linggi besar yang susu. pada kanan Jupan

( yang

buhan bobot npuan yang ringga ambat lengan nelalui

t

anak

rn yang

melalui rpunyai upakan rbaikan

1.

Umur domba berdasarkan pergantian gigi

Umur Pergantrdn gig-seri menjadi

tetap

Kode

Sepasang gigi tetap

Dua pasang gigi tetap Tiga pasang gigi tetaP

Empat pasang Eigi tetap

1.0-1.5tahun

2.0-3.0 tahun 3 0-4.0 tahun

1.0-5.0 tahun

l1

l2 l3

l4

-ber:

Ensminger (2002)

>engamatan

Peubah

yang

diamati dalam penelitian

ini

adalah produksi susu induk pada umur induk yang

cerbeda. Produksi susu incluk diukur dengan cara

*emisahkatr anak-anak domba, kemudian sebelum

(5)

lndonesian Livestock Journal 1 (1) 201 1: 22 - 28 rSsN '2088-4753

pengEem ba laan (g razi ng) sepanja ng m usi m' Sistem

penggembalaan kontinyu mempunyai sifat sangat

selektif memilih hijauan yang masih

muda,

sehingga pemanfaatan

hijauan

tidak

optimum

(Umberger 2001) dan menimbulkan pertumbuhan

kembali rumput (regrowth)

tidak

merata serta

interpensi

gulma

menjadi meningkat

(Susetyo

1980).

Ternak dilepas

di

padang

penggembalaan

(grazing) mulai pukul 09.00 sampai dengan pukul

16.00. Pemberian

air

minum

dilakukan dengan

menyediakan

di

sekitar padang penggembalaan.

Namun demikian, kondisi hijauan selama penelitian

sebagian besar mengalami

kekeringan,

hanya

bagian batang tanaman yang keras dan daun tua

yang

terlihat

tersisa (Gambar

1).

Ketersediaan

hijauan

yang

palatabel

dan

air

minum menjadi

sangat terbatas sehingga

ternak

harus berjalan

cukup

jauh untuk

memperoleh hijauan

dan

air

minum. Keadaan semacam tersebut menyebabkan

ternak terutama anak domba mengalami kelelahan

dan

akhirnya

tertinggal atau mati

di

padang

penggembalaan. Pada saat ternak dikandangkan,

sering kali terdapat sekelompok induk dan anak

domba yang tertinggal di padang penggembalaan,

terutama domba yang mencari pakan pada

semak-semak atau di padang penggembalaan yang cukup

jauh dari

kandang atau terpisah

dari

kelompok domba.

Pada bulan kering produksi hijauan segar di

UP3J yang dipanen umur 30 hari sebesar 369'42 gl

m2, sedangkan pada musim hujan mencapai404.20

g/m2 (Malesi 2006). Selanjutmya, kandungan

pro-tein

dan serat kasar hijauan pada

musim

kering

Jarmuji & SuharYanto

masing-masing sebesar 4.59% dan M.78o/o' Produksi

tersebut sangat rendah

jika di

banding dengan

hasil penelitian Mansyur (2004) bahwa produksi

rumput Brachiaria humidicola yang dipanen umur 30 hari dan dipupuk dengan 9 ton/ha dolomit, 2 ton/ha pupuk kandang, 450

kg

urea, 15 kg SP36

dan 430

kg

KCL

adalah

sebesar

3'260

grlm2,

dengan kandungan

nutrisi 5.5%

protein

kasar,

0.21o/o fospor dan 0.38% kalsium serta daya cerna

bahan kering dan bahan organik masing-masing

57.23 dan 57.52%. Skerman

dan

Riveros (1990)

menyatakan bahwa rumput Brachiaria humidicola

mengandung protein kasar sebesar 8-9% dan serat

kasar 32-35oh.

Penurunan

produksi hijauan

di

padang

penggembalaan

UP3J

selama

bulan

kering

disebabkan oleh rendahnya ketersediaan air tanah,

sehingga dapat mengganggu proses metabolisme

diantaranya pengurangan pembukaan stomata,

laju

fotosintesis

dan

kehilangan

air

dari

daun

(Goldsworthy

&

Fisher 1992)

dan

menghambat

penyerapan

unsur

hara

di

dalam

tanah

oleh

tanaman (Hardjowigeno 2003)' Menurut Minson

(1990), penurunan kandungan protein kasar pada

rumput

selain disebabkan

oleh umur

tanaman,

juga

dapat disebabkan oleh penurunan proporsi

helai daun

dengan kelopak

daun

dan

batang,

dimana pada helai daun mempunyai kandungan

protein yang lebih

tinggi

dibanding kelopak daun

dan batang. Konsentrasi nitrogen pada tanaman

akan menurun dengan

meningkatnya

umur

tanaman (Whitehead 2000). Suhu dan kelembaban

udara

merupakan

faktor yang

sangat

mempengaruhi secara langsung maupun tidak

(A) (8)

Gambar 1. Kondisi rumput 8 rachiaria humidicola di padang penggembalaan yang mengering (A) dan tingkahlaku domba saat menghindari terik matahari (B)

langsung kandungan

nutrisi

hijauan

di

padang penggembalaan, suhu lingkungan yang tinggi dapat

meningkatkan struktur material dinding sel tanaman

seperti lignin dan mempercepat proses metabolisme

yang dapat menurunkan ukuran ruang isi sel (Coleman

&

Henry, 2002). Henry

et

al',

(2000) menunjukkan

bahwa rumput ltalian ryegrass (Lolium multiflorum)

yang tumbuh pada suhu lingkungan 340C kandungan

lignin, selulosa dan hemiselulosa meningkat tajam,

sehingga nilai kecernaan bahan kering menjadi rendah.

(6)

lndonesian Livestock Journal 1 (1) 201 1:22 - 28

rssN 2088-4753

.an

m)

Kurva

produksi

susu

domba

Ekor Tipis Jawa

di

padang penggembalaan

Hasil pengamatan terhadap 100

ekor

induk

laktasi diperoleh rata-rata produksi susu 415t135

g/hari dengan koefisien keragaman 32.46%. Hasil ini lebih rendah dibanding dengan rataan produksi

susu domba ekor tipis jawa yang di injeksi dengan

prostaglandin dan dipelihara intensif yaitu sebesar

815 g/hari (Manalu & Sumaryadi 1998)" Produksi

susu

yang lebih

rendah pada domba

ekor

tipis

Jawa

di

padang penggembalaan UP3J disamping

pengaruh prostaglandin,

juga

pengaruh pakan

yang

dikonsumsi. Prostaglandin

merupakan

hormon

yang dapat

meningkatkan

laju

pertumbuhan kelenjar dan merangsang aktivitas

sel skretori dalam memproduksi air susu (Manalu

1999). Produksi

dan

kualitas hijauan

yang

dikonsumsi selama ternak selama ternak bunting

dan menyusui berpengaruh terhadap produksi susu. Menurut Coleman

&

Henry (2002) bahwa induk

domba pada saat

menyusui

kebutuhan

pakan

meningkat, karena disamping digunakan untuk

hidup

pokok dan pertumbuhan

juga

digunakan

untuk produksi susu. Rata-rata kebutuhan bahan

kering domba untuk hidup pokok sebesar 78-98

gl

hrAly'noo7s,

namun

pada

saat

laktasi

meningkat

menja'di 197 glhr

M

ro0 7s (Reksohadiprodjo 1994).

Kurva produksi susu pada induk 11, 12, 13 dan

14 menunjukkan bahwa selama 15 minggu laktasi

lr

y

=0.556112- 16.53r +480.67

P = 0.6861

tidak menggambarakan kurva produksi susu yang

normal (Gambar 2). Rata-rata puncak laktasiterjadi

pada minggu

pertama

dan

kedua

setelah

melahirkan

dan

produksinya

terus

mengalami

penurunan sampai

minggu 15

(hari

ke

59).

Penurunan laju produksi pada induk l1 cenderung

tidak stabil dan terjadi

beberapa

kali

puncak

laktasi dibanding dengan induk yang lebih tua,

hal ini menunjukkan bahwa produksi susu pada l1

diduga

lebih

rentan terhadap

perubahan

lingkungan

terutama

kondisi pakan

dan

suhu

lingkungan. Namun demikian, rata-rata penurunan

produksi susu setelah puncak laktasi pada l1 jauh

lebih

rendah dibanding

induk yang lebih

tua.

Rata-rata penurunan produksi susu setelah puncak

laktasi 11 2.21g/hr, sedangkan 12 5.57 glhr,13 7.05

g/hr dan

14 6.45

g/hr.

Hasil

ini

sesuai dengan

pendapat Pollott & Gootwine (2004) bahwa

rata-rata

penurunan produksi

susu

akibat

dampak

persistensi domba Jawa pada kelahiran pertama

sebesar 8.0 g/h, sedangkan pada induk umur tiga tahun mencapai sebesar 12 glhr.

Menurut Borlino

(2004),

laju

produksi susu

akan meningkat sampai mencapai puncak produksi

maksimum, setelah

itu

kemudian perlahan akan

mengalami penurunan sampai

akhir

laktasi (periode kering). Total produksi susu selama laktasi

dan bentuk kurva laktasi dipengaruhi oleh

faktor

lingkungan

seperti

manajemen pemeliharaan,

bulan saat melahirkan,

umur induk

dan jumlah

Iz

7 'lo 14 17 21 24 28 31 35 38 42 45 49 52 56 59

Harl lakt C (heri)

7 1014172124 2831 353A4245 49525659

Hari Laktad (hari)

600 550 500

9ltr

!

sso

:

3oo

I

zso

!

: 200

t lso 100

50

o

500

450

^ 400 E 350

d soo

.! 250 9= 2@

E,*

t 1oo

50

b50 600 550

e 500

Deso

; 400

t 350

'a 300

i

zso

Et*

E 150 100

50 0 700

650 600

? 550

i

soo

: 450

{ +oo

4 gso

!

eoo

i

;s3

L rso

100 50 0 lan

tffi,

ah. Gambar 2. Kurva produksi susu domba jonggol selama 59 hari laktasi berdasarkan umur induk

y = -0.91442. - 2.74'l2x+ 527.12

R2 = 0.9666

7 10 14 17 21 24 28 31 35 38 42 45 49 52 56 59

Hari laktaC (h.rl)

y= -o.85l7e -7.9363x + 651 08

RZ = 0.9757

7 10 14 17 21 24 28 31 35 8 42 45 49 52 56 59

(7)

lndonesian Livestock Journal 1 (1) 201 1:22 - 28

rsSN 2088-4753

anak

yang

menyusui

(Ruiz

et

a1.,2000).

Selanjutnya,

induk

bangsa

domba

laktasi yang

melahirkan

anak

pada

bulan

Nopember

menunjukkan produksi susu puncak laktasi terjadi

pada minggu kedua setelah melahirkan dengan

puncak produksi 1.50 lUhr; sedangkan induk yang

melahirkan

bulan

Maret

puncak laktasi terjadi

pada minggu keempat dengan produksi 1.20lVhr.

Macciotta et al., (1999), melaporkan pada musim

semi dimana ketersediaan pakan dengan kualitas

yang baik

laju

produksi susu akan membentuk

kurva normal dan hanya terdapat satu kali puncak

laktasi,

yaitu

pada minggu ke-3 atau ke-4 setelah

induk

melahirkan.

Namun

pada

musim

panas dimana ketersediaan dan kualitas pakan rendah

dan

temperatur

lingkungan

yang

tinggi

menyebabkan

kebutuhan

induk domba

tidak

terpenuhi, hal ini dapat menyebabkan kurva laktasi

menjadi semu (false), kadang tidak muncul puncak

laktasi atau

terjadi

beberapa

kali

puncak laktasi

selama periode laktasi.

Gambar

2

menunjukkan

dengan

ber-tambahnya

hari

laktasi (persistensi)

terjadi

rata-rata penurunan laju produksi susu secara lambat.

Menurut

Tucker

(1985)

bahwa

selama laktasi

kadar prolaktin akan tetap

tinggi

sebagai respon

terhadap

rangsang isapan

anak

domba

yang

berlangsung terus-menerus. Kadar prolaktin yang

tinggitersebur

berdampak pada kerja organ otak

dan ovarium.

Di otak, prolaktin

yang sampai di

hipotamalus

akan

menghambat sekresi GnRH.

Sedangkan kadar estrogen yang semula sangat

tinggi

selama persalinan karena

sekresi dari

plasenta

akan

mengalami penurunan

setelah

terlepasnya plasenta. Penurunan ini ternyata tidak

mampu merangsang hipotamalus untuk mensekresi

GnRH, hal

ini

mengisyaratkan adanya penurunan

hipotamalus

terhadap

mekanisme

umpan

balik

positif

terhadap

sekresi

LH

dan

FSH dalam

mengontrol pertumbuhan

folikel

dan

ovulasi.

Selama laktasi domba

tidak

menunjukkan estrus.

Menurut Manalu (1999) bahwa dengan semakin

bertambahnya

umur anak akan

menyebabkan

penurunan produksi susu, karena setelah anak

domba mulai memakan rumput rangsangan yang

diberikan

ke

kelenjar

dan

aktivitas

sekretoris

mensintesis air susu menjadi menurun.

Pakan merupakan faktor yang sangat penting

untuk pertumbuhan ambing selama kebuntingan.

Akselerasi

pertumbuhan

ambing pada

ternak domba

terjadi

pada fase

akhir

kebuntingan dan

hanya sekitar 5%

terjadi

pada

awal

laktasi

(Lawrence

&

Fowler 2002).

lnduk domba

yang

mengkonsumsi pakan dengan kualitas yang rendah

terutama pada

minggu-minggu

terakhir

kebuntingan menyebabkan pertumbuhan ambing

rendah

dan

menghasilkan ukuran ambing yang

kecil,

hal

ini

menyebabkan

volume

untuk

menampung sel-sel rendah dan dapat menurunkan

Jarmuji & Suharyanto

produksi susu 17-32% (Treacher

&

Caja 2002).

Selanjutnya, pemberian pakan yang cukup dan

kualitas baik pada saat laktasidapat meningkatkan

proses metabolisme sintesa

air

susu, dimana kandungan nitrogen dan aktivitas enzim di dalam

retikulum, abomasum dan usus halus meningkat.

Suhu dan kelembaban lingkungan yang tinggi

juga

dapat

meningkatkan produksi

panas

metabolisme

di

dalam

tubuh,

sehingga ternak

akan berusaha melepaskan panas

tubuh

dengan

meningkatkan

konsumsi

air

dan

mengurangi

konsumsi pakan, kondisi

ini

dapat

menurunkan

produksi susu. Pada rata-rata

suhu

lingkungan

sebesar 240 C

tidak

memberikan pengaruh yang

nyata terhadap produksi susu, namun pada suhu

lingkungan

340

C

sangat nyata

menurunkan

produksisusu (Esmay 1982). Laktasi harus berlanjut

minimal sampai ketahap ketika anak domba dapat

disapih dan dapat hidup dengan makanan sendiri.

Produksi susu

akan

mengalami

penurunan

bersamaan dengan bertambahnya

waktu

laktasi

(Pulina & Nudda 2004).

Produksi susu berdasarkan umur induk

Umur

induk

berpengaruh sangat

nyata

terhadap

produksi susu. Tabel

2

menunjukkan

rata-rata produksi susu kelompok induk 13 dan 14

sangat nyata lebih

tinggi

dibanding l1 dan 12 (p<

0.01).

Produksi susu

yang

tinggi

pada

13 diduga

disebabkan

oleh

perbedaan paritas

induk.

Jika

dalam satu

tahun ternak

domba

rata-rata

melahirkan anak sebanyak

tiga

kali, maka dapat

ditentukan

bahwa kelompok

induk

13 rata-rata

telah

melahirkan

sebanyak

lima

kali

(laktasi

kelima). Rata-rata produksi susu pada

induk

l1

sebesar 330 g/hr, kemudian meningkat menjadi

390 grlhr

pada

12 dan mencapai puncak produksi

rata-rata sebesar 490 glhr pada 13, namun

rata-rata produksi susu kembali mengalami penurunan

pada induk 14 dengan rata-rata produksi 430

grl

hr. Anderson (19S5) menyatakan bahwa ternak ruminansia

pada

umumnya mengalami puncak produksi pada laktasi kelima, dimana ternak pada umur tersebut telah mengalami pertumbuhan yang

maksimum seperti pertumbuhan

tulang

maupun

jaringan tubuh serta ambing. Penurunan produksi

susu pada induk domba yang tua disebabkan oleh

meningkatnya

laju

mortalitas sel-sel

skretori

di dalam kelenjar ambing, sehingga laju sintesis air

susu menjadi menurun (Pollott & Gootwine 2004)'

Kelompok

induk

13

dan

14 umumnya telah

telah

melahirkan

lebih dari satu kali,

sehingga

mendapat rangsanEan

dari

anak

lebih

banyak

untuk

pertumbuhan ambing. Menurut Lawrence & Fowler (2002), disampig

faktor

intrisik (kontrol

sistemik) yang mengontrol pertumbuhan annbing,

faktor

eksternal seperti kondisi pakan

dan

rangsangan

anak

domba

juga

daPat
(8)

I

I

l

1

lndonesian Livestock Journal 1 (1) 2011: 22 - 28

rssN 2088-4753

Jarmuji & Suharyanto

Tabel

2.

Rataan, simpangan baku dan koefisien keragaman produksi susu berdasarkan umur induk

Rataan produksi susu (g/ekor

n

Rataan produksi susu

(g/ekor/hari)

KK

Umur induk

(tahun) (ekor)

r'---

\J'

Vo)

12

(2,0-3,0)

19

390A8t140

29,23

r,

(l,O-+,0)

17

4904

t 130

27,12

to

(+,0-s,o)

lg

qlqABttJP

?9,2q

-Rataan

420

t 130

32,46

Keterangan : huruf yang tidak sama pada baris berbeda untuk setiap peubah bebas menunjukkan berbeda sangat nyata (p <0.01 ) lr s k n 1i n n

I

u n

rt

at ri, rn rsi ga ka ta rat rta asi l1 rdi ksi ta-ran

gtl

rak :ak rda ta tn l4 )<

mempengaruhi pertumbuhan kambing. Pada sapi

perah puncak produksi susu

terjadi

pada umur 7

atau 8 tahun dengan

total

peningkatan produksi

susu rata-rata sampai laktasi kelima adalah 30%,

dimana 13% peningkatan laktasi pertama sampai

laktasi kedua,

9%

laktasi kedua sampai ketiga,

5%, laktasi ketiga sampai keempat dan 3% laktasi

keempat sampai kelima (Anderson 1985).

Berdasarkan besarnya

nilai

koefisien

keragaman,

induk

domba Jonggol

umur

1-1.5

tahun

(11) memiliki

nilai

tertinggi

yaitu

34'54o/o

(Tabel

2).

Hasil

ini

menunjukkan bahwa seleksi

produksi susu induk domba Jonggol akan lebih

efektif

jika

dilakukan pada

induk umur

1-1'5

tahun (11), karena dengan tingkat keragaman yang

tinggi

akan menghasilkan efektifitas dan respon seleksi yang relatif

tinggi

(Martojo 1992)'

KESIMPUI.AN

Domba

ekor

tipis

Jawa

yang

dipelihara di

padang

penggembalaan

pada

musim kemarau dimana ketersediaan hijauan dan nutrisi terbatas

menghasilkan produksi susu rata-rata 415t135 g/

hr. Bertambahnya umur induk akan meningkatkan

produksi susu, namun demikian induk yang telah

berumur empat

tahun

cenderung

mulai

menunjukkan penurunan produksi susu. Secara umum domba ekor tipis yang dipelihara di padang

penggembalaan UP3J belum menunjukkan produksi

susu

yang

optimal, hal

ini

diduga

disebabkan

oleh

kondisi

iklim

yang panas

dan

ketersediaan

hijauan pakan

di

padang pengembalaan yang rendah.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson RR. 1985. Mammary Gland.The Lowa

State University Press/AMES.

Borlino AC,

NPP

Macciotta

&

G

Pulina. 2004.

Mathematical Modelling

of

Milk

Production Pattern in Dairy Sheep. ln : Pulina,

G,

editor.

Dairy Sheep Nutrition. CABI Publishing.

Caja G, AAK Salama

&

X

Such. 2006. Omitting

the dry

off

period

negatively affects

colos-trums and milk

yield in

dairy goat.

l.Dairy

Scr. 89

:

4220-28.

Coleman 5W & DA Henry. 2002. Nutritive Value

of

Herbage.

ln:

Free[ M, and

H. Dove, editor.

Sheep Nutrition. CABI Publishing.

Devendra C & GB McLeroy. 1982. Goat and Sheep Production

in

The Tropics. Longman Group

Limited, London.

Direktorat Bina Perbibitan. 1998. Petunjuk Teknis Pengembangan Pembibitan Pedesaan Kambing dan Domba. Cetakan kedua. Jakarta.

Ensminger ME. 2002. Sheep

and

Goat

Science.

lnterstate Publishet lnc.

Esmay LM. 1982. Principles of Animal Enviroment.

AVI Publishing Company, lnc. Wesport,

Con-necticut.

Goldsworthy

PR

&

NM

Fisher. '1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Gadjah Mada Uni-versity Press. Yogyakarta.

Hardjowigeno S. 2003.

llmu

Tanah. Akademika

Presindo. Jakarta.

Henry

DA,

RJ Simpson

&

RH MacMillan. 2000. Seasonal changes and

the

effect

of the

tem-perature and leave moisture conten on

intrin-sic shear strength of leaves of pastures grasses.

Aus. J.

Agr.

Res. 51:823-31.

lniquez L, WA Pattie & B Gunawan. 1993. Aspects of sheep breedingwith particular emphasis on

humid tropical

environments.

ln:

Wodzicka MT, Mastika

lM,

Djajanegara

A,

Gardiner S,

Wiradarya TR, editor. Goat and Sheep

Produc-tion

in

lndonesia. Sebelas

Maret

University

Press. Semarang.

Lawrence TLJ & VR Fowler. 2002. Growth

of

Farm

Animals. CABI Publishing.

Macciotta NPP, Borlino AC & G Pulina. 1999. Analy-sis

of

enviromentall

effect

of

tes day

rnilk yield of sarda dairy ewes. J. Dairy Sci.

77:1357-1 542.

Malesi

L.

2005.

Produksi

rumput

Brachiaria

humidicola dengan pemberian EM4 (Effective

Microorganisms)

di

padang

pengembalaan

ternak

domba

[Tesisl. Bogor:

Program Pascasarjana, lnstitut Pertanian Bogor.

Manalu W. 1999. Fisiologi Laktasi [Diktat Kuliah].

Bogor: Program Pascasarjana, Bogor: Program

Pasca Sarjana Fakultas Kedokteran Hewan,

lnstitut

Pertanian Bogor.

Manalu

W

&

MY

Sumaryadi. 1998. Mammary

gland indices at the endolactation in javanese

thin

tail

ewes

with

different

litter

size.

l.

Anim. Scr. 1 1:548-54.

Mansyur.

2004.

lnterval

pemotongan

rumput

B rach i a ri a h u m i d i co I a (Re nd I e) schwi ee k [Tesis].

(9)

lndonesian Livestock Journal 1 (1) 201 1:22 - 28

tSsN 2088-4753

Jarmuji & Suharyanto

Bogor: Program Pascasarjana, lnstitut Pertanian Bogor.

Martojo H. 1992. Peningkatan Mutu Genetik Ternak.

Departemen Pendidikan

dan

Kebudayaan.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat

Antar

Universitas Bioteknologi. lnstitut

Pertanian Bogor.

Pollott

GE

&

E

Gootwine.

2004. Reproductive

performance

and milk

production

of

assaf

sheep

in

an

intensif management system. J.

Da i

ry

Sci. 87:3590-703.

Pulina G

&

A

Nudda. 2004.

Milk

Production. ln:

Pullina G, editor. Dairy Sheep Nutrition. CABI Publishing.

Ruiz R, LM Oreguei & M Herrerot. 2000.

Compari-son

of

model

for

describing

the

lactation curve

of

laxta sheep and an an6lisis of factors

affecting milk yield. J. Dairy Sci.83:2709-719.

Susetyo

5.

1980. Padang Pengembalaan. Diktat

Kuliah, Fakultas Peternakan lnstitut Pertanian

Bogor. Bogor.

Treacher

TT

&

G

Caja. 2002.

Nutrition

during

Lactation.

ln:

Freer,

M

and

H

Dove, editor.

Sheep Nutrition. CABI Publishing.

Tucker HA. 1985. Endocrine and Neural Control

of

The

Mammary Gland.

ln:

Larson BL, editor.

Lactation.

The

lowa

State University Press/

AMES.

lUP3Jl Unit Pendidikan, Penelitian dan Peternakan Jonggol. 2007.

Data

lklim

di

UP3J selama

Periode 2007. Jonggol: Fakultas Peternakan.

lnstitut

Pertanian Bogor.

Whitehead

DC.

2000.

Nutrien

Element

in

Grassland: Soil

-

Plant - Animal Relationship.

Wallingford. CAB lnternational Publishing.

Gambar

Gambar 1. Kondisi rumput 8 rachiaria humidicola di padang penggembalaan yang mengering (A) dan tingkahlaku domba saat menghindari terikmatahari (B)
Gambar 2. Kurva produksi susu domba jonggol selama 59 hari laktasi berdasarkan umur induk

Referensi

Dokumen terkait

Secara umum sebuah audio professional adalah sistem stereo dengan pembagian kanal kiri dan kanan sehingga total bandpass filter untuk equalizer 1/3 oktaf adalah 62 slider untuk

Melalui kegiatan Pembelajaran daring dengan pendekatan saintifik menggunakan metode observasi, diskusi, presentasi dan model pembelajaran discovery learning peserta didik

Setelah melakukan tahap uji coba pada website ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa website ini dapat membantu pengguna memperoleh informasi mengenai hewan punah dan terancam

Penelitian ini dilakukan untuk menentukan akuifer dan lapisan litologi bawah permukaan daerah “x” Kabupaten Gorontalo dengan menggunakan metode Geolistrik

Suatu ketentuan lain yang tidak disebutkan pada ketentuan KUHD yang telah menghapuskan peraturan tentang perseroan terbatas, adalah mengenai kemungkinan komisaris dapat

Pertumbuhan ekonomi adalah sebagian dari perkembangan kesejahteraan masyarakat yang diukur dengan besarnya pertumbuhan produk domestik regional bruto perkapita (PDRB

21 Ali al- Wardi, seorang cendekiawan Syi’ah Irak dan penulis beberapa buku kontroversial, termasuk Manzilat al- ‘Aql al -Basyari (Kedudukan Akal Manusia), adalah orang

Agenda Acara dan Tata Tertib Muyawarah Kerja (MUSKER) Himpunan Mahasiswa Perpustakaan dan Informasi Indonesia (HMPII) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) IV Indonesia