KERAGAMAN DAN POTENSI ARDISIA KOLEKSI KEBUN RAYA
CIBODAS
Suluh Normasiwi
Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas – LIPI
Jl.Kebun Raya Cibodas, Sindanglaya PO. Box 19 Cipanas – Cianjur, Jawa Barat 43253, Indonesia. Telp/fax: 0263-512233
Email: [email protected]
Abstract
Ardisia a genus of flowering plants belongs to family Primulaceae is one of Cibodas Botanic Garden living collections. The knowledge and utilization of Ardisia were very limited due to the lack of information about these plants, especially in Indonesia. The aim of this study is to inform the Ardisia species collection of CBG and their potential utilization, in order to documenting the potencies of CBG plant collections and futher can be used as a source in environment education activities. The results showed that there were 11 species of Ardisia that had some potency to be a medicinal plant, ornamental, or fruit crops. Some of those species of Ardisia were already known and use in some region.
Keyword: Potency, Ardisia, Collection, Cibodas Botanic Garden.
Pendahuluan
Primulaceae merupakan jenis tumbuhan yang di dominasi oleh semak penyusun
vegetasi dasar hutan, pohon kecil, herba, semak memanjat dan beberapa jenis liana.
Diperkirakan terdapat 32 genus dan 1000 spesies Primulaceae tersebar di seluruh dunia
(Pascarella, 1997), 12 genus diantaranya berada di wilayah Malesia terutama
Kalimantan yang mempunyai kekayaan Primulaceae tertinggi (7 genus) (Stone, 1989).
Kebun Raya Cibodas (KRC) sebagai lembaga konservasi eks-situ tumbuhan
dataran tinggi basah, berada di kaki Gunung Gede Pangrango pada ketinggian
1300-1450 mdpl dengan topografi berbukit-bukit, memiliki tugas dan fungsi antara lain
konservasi, penelitian, pendidikan lingkungan, pariwisata, dan jasa lingkungan. KRC
telah mengkoleksi sebanyak 188 suku dan 1707 jenis dengan total 10280 spesimen
tumbuhan (SiRegist KRC Februari 2016). Salah satu suku yang menjadi koleksi KRC
adalah Primulaceae dan Ardisia merupakan marga dengan jumlah terbanyak dari suku
Primulaceae yang dikoleksikan di KRC.
Ardisia adalah salah satu marga terbesar pada suku Primulaceae, diperkirakan
dengan jumlah sebaran tinggi di Panama, Colombia dan wilayah Malesia (Pipoly,
1996). Ardisia sering dikenal dengan sebutan coralberry, marlberry atau spiceberry ini
ditemukan tumbuh di hutan dataran rendah hingga ketinggian 2500 m dpl. Identifikasi
jenis-jenis Ardisia hingga ke tingkat spesies sulit dilakukan karena minimnya kunci
identifikasi, sementara belum terdapat informasi terbaru dan akurat sehingga
membingungkan peneliti untuk mengkaji tumbuhan dari jenis ini (Kobayashi & Mejia,
2005).
Ardisia berpotensi sebagai tanaman obat dengan adanya kandungan derivat
benzoquinone dan triterpenoid saponin (Lemmens dan Bunyapraphatsara, 2003). Studi
fitokimia juga menunjukkan sifat obat dari genus ini, termasuk antioksidan, anti-HIV,
dan anti-tumor, serta Banyak diantara spesiesnya yang umum digunakan dalam
pengobatan tradisional Cina untuk mengobati gejala batuk dan diare (Chen,1979). Buah
maupun bagian tanaman Ardisia dikonsumsi oleh sebagian masyarakat Asia (Sundriyal
dan Sundriyal, 2001). Selain kandungan nutrisi dan obat-obatannya, Ardisia juga
dikenal sebagai tanaman hias dengan bentuk buah berry yang menarik. Namun
demikian, di Indonesia pemahaman dan pemanfaatan jenis Ardisia masih sangat terbatas
dikarenakan minimnya informasi tentang tumbuhan tersebut. Penelitian ini bertujuan
untuk menginformasikan jenis-jenis Ardisia yang dikoleksi KRC serta potensi
pemanfaatannya, guna menambah data dokumentasi KRC mengenai potensi tumbuhan
koleksi dan pengenalan pendidikan lingkungan.
Metode
Pengumpulan data dilakukan pada bulan Oktober – Desember 2015 dengan
penelusuran data di unit registrasi dan katalog KRC serta pengecekan tumbuhan koleksi
Ardisia yang tersebar di beberapa lokasi kebun Kebun Raya Cibodas, Cianjur, Jawa
Barat. Informasi terkait potensi masing-masing Ardisia koleksi dilakukan dengan
telusur pustaka. Selanjutnya data dianalisis secara deskriptif kualitiatif.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan dan inventarisasi data koleksi KRC tercatat
terdapat 11 jenis koleksi Ardisia yang diketahui memiliki potensi untuk dikembangkan
sebagai tanaman obat, hias, bahkan tanaman pangan. Beberapa jenis Ardisia telah
Tabel 1. Potensi dan Pemanfaatan spesies Ardisia
Species Pemanfaatan BagianTanaman
Bermanfaat Ardisia crenata Tanaman hias
Obat: Kontraksi perut Ardisia crispa Obat: Anti-inflamasi dan anti-hyperalgesic
Antimetastatic dan atitumor
Daun dan akar Tidak diketahui Ardisia elliptica Tanaman hias
Obat: Antibiotik Antivirus
Sayuran : Lalapan dan masak
Seluruh tanaman Buah kering Batang dan daun Tunas daun muda Ardisia fuliginosa Obat: Kudis Getah Batang Ardisia javanica Obat : Cacar Kulit batang Ardisia pendula Sumber pangan fungsional : Antioksidan Tidak diketahui Ardisia polycephala Obat: Anti racun Tidak diketahui Ardisia polysticta Tanaman hias Seluruh tanaman Ardisia sanguinolenta Obat : Obat batuk dan diare
Liver Demam
Akar Akar Buah Ardisia solanaceae Tanaman hias
Obat : Demam, diare, rematik Gegar otak dan memar Ardisia villosa Tanaman hias
Obat : demam dan batuk
Seluruh tanaman Tidak diketahui
Berikut adalah penjelasan pada setiap jenis yang dikoleksikan di KRC:
Ardisia crenata Sims. (coralberry, mata ayam, mata pelanduk)
Ardisia crenata merupakan tumbuhan semak dengan tinggi 2 – 3 m, daun
panjang meruncing, dan buah berbiji yang berwarna merah. Tumbuhan ini biasanya
tumbuh pada hutan dataran rendah hingga ketinggian 1200 mdpl (Lemmens dan
Bunyapraphatsara, 2003). A. crenata memiliki sejarah panjang sebagai tanaman hias,
hampir 200 tahun sejak pertama kalinya dikenalkan sebagai tanaman hias (Ku C, 2013).
Tersebar melalui perdagangan internasional dari China, Jepang, Korea, bagian dari
India dan Asia Tenggara, sebagai spesies hias ke Australia dan Amerika Serikat (Niu, et
al., 2012). Tanaman ini dibudidayakan sebagai tanaman hias karena buah berrynya yang
cantik berwarna merah cerah (Anonymous, 2011). Penelitian Sandoval-Mojica and
Capinera (2011) menyatakan ekstrak A. crenata berpotensi dikembangkan sebagai
Di sisi lain, A. crenata di Tiongkok telah lama dikenal sebagai tanaman obat
dengan berbagai kegunaan. Akar A. crenata mengandung triterpenoid saponin yang
tinggi (Kitajima et al., 2006). A. crenata memiliki beberapa sifat obat termasuk
utero-kontraksi, menurunkan tekanan darah, penghambat cAMP, dan antitrombin (Kobayashi
dan de Mejia, 2005). Secara tradisional di Tiongkok, sebagai obat luar A.crenata
digunakan untuk mengobati sakit kulit dan sakit telinga, sementara penggunaan internal
sebagai obat demam, batuk dan diare, serta mengobati infeksi saluran napas dan
gangguan menstruasi (Zaima et al., 2013). Buah dan daun A. crenata dinyatakan dapat
dimakan, daunnya digunakan sebagai sayuran pada salad (Lemmens dan
Bunyapraphatsara, 2003).
Ardisia crispa (Thunb.)A.DC
A.crispa adalah salah satu jenis Ardisia asli Indonesia, tersebar di Asia
sepanjang Jepang dan Himalaya hingga Jawa dan Filipina. Tanaman ini sering keliru
identifikasi dengan A.crenata karena kemiripan morfologisnya. A.crispa telah dikenal
sejak lama sebagai obat tradisional, sebagai anti-inflamasi dan anti-hyperalgesic. Di
wilayah Asia Tenggara dan Tiongkok, daun dan akar A.crispa dikonsumsi sebagai
pereda nyeri dan bengkak. Jus akar juga diketahui dapat mengobati sakit telinga, batuk,
demam, dan diare. Campuran daun dan akar digunakan sebagai obat gosok kulit
(Roslida & Kim, 2008). Kang (2001) menyatakan bahwa A.crispa juga mengandung
antimetastatic dan antitumor.
Ardisia elliptica Thunb.
Tanaman ini dikenal dengan nama Inkberry atau Buni keraton (Ind.) berasal dari
wilayah Indochina, Malaysia, Indonesia, dan India. Pada awalnya A.elliptica dikenalkan
sebagai tanaman hias, kemudian menjadi invasif di beberapa negara seperti Puerto Rico,
Australia dan Amerika Serikat. Tercatat dalam PROSEA A.elliptica dimanfaatkan
sebagai sayuran. Tunas daun muda dapat dijadikan sebagai lalapan maupun dimasak.
Buahnya dapat dimakan, dengan rasa sedikit asam dan hambar (Lim, 2012). Seperti
jenis Ardisia lainnya, A.elliptica memiliki kandungan obat antibakteri yang diperoleh
dari ekstrak buah keringnya (Phadungkit & Luanratana, 2006), serta antivirus dari
Ardisia fuliginosa Blume
Tanaman asli Indonesia A. fuliginosa tersebar di wilayah Sumatera, Jawa, dan
Kalimanan. Tidak banyak publikasi yang menyatakan manfaat dari tanaman ini. Di
Jawa Barat A. fuliginosa digunakan untuk mengobati kudis, dengan cara memanaskan
getah kering dari batang yang dicampur santan dan rimpang temulawak (Lemmens dan
Bunyapraphatsara, 2003)
Ardisia javanica A.DC.
A.javanica merupakan jenis Ardisia asli Indonesia, khususnya wilayah Jawa.
Yamada (1976) menyatakan bahwa A, javanica adalah jenis tumbuhan pada lapisan
bawah hutan yang cukup melimpah keberadaannya di Gunung Pangrango. Masyarakat
suku Sasak Lombok Barat, menggunakan kulit batang A.javanica sebagai obat cacar,
dengan mencampurnya dengan beras dan ditumbuk sebagai bahan pupur (Riswan dan
Andayaningsih, 2008).
Ardisia pendula Mez
Tanaman yang di Malaysia dikenal sebagai Semambuk ini memiliki potensi
yang tinggi sebagai sumber makanan fungsional. Wahab et al. (2015) melaporkan
bahwa A. pendula memiliki kandungan fenolik total tertinggi (28,21 gallic acid
equivalent/ kg sampel kering) dan aktivitas antioksidan sebesar 86,1 %. Hal ini mampu
menjadikan A. pendula sebagai sumber makanan baru dan sumber makanan fungsional
karena kekayaan nutrisi dan antioksidannya.
Ardisia polycephala Wall. Ex. A. DC.
Akar dari A.polycephala merupakan salah satu dari tumbuhan semak yang
digunakan oleh tabib di Thailand sebagai obat anti racun (Podimuang et al., 1971).
Ardisia polysticta Miq.
A.polysticta memiliki kemiripan morfologis dan filogeni dengan A.crenata
sehingga sering terjadi kesalahan identifikasi antara kedua spesies tersebut.
Perbedaannya terletak pada daerah sebarannya, A.polysticta berada di Asia Tenggara
dan A.crenata di Asia Barat (Ku et al., 2013). Oleh karena kemiripannya tersebut,
A.polysticta sering dijadikan tanaman hias sementara kandungan obatnya belum
Ardisia sanguinolenta Blume
Penyebaran dan distribusi tanaman A.sanguinolenta mulai dari India, Myanmar,
Thailand, Malaysia, Singapura dan Jawa. Tanaman ini sering disebut sebagai Lampeni
Gede oleh masyarakat Sunda. Masyarakat Melayu menggunakan rebusan akar
A.sanguinolenta sebagai obat batuk, diare, dan pasca melahirkan. Dalam pengobatan
tradisional Thailand pun memanfaatkan beberapa bagian tanaman A.sanguinolenta
sebagai obat; akarnya untuk mengobati penyakit liver dan buah-buahan nya digunakan
untuk mengobati diare dan demam.
Ardisia solanaceae (Poir.) Roxb.
Tanaman asli India, Pakistan, Srilangka, Asia Tenggara ini banyak ditanam
sebagai tanaman hias. Di India, akar A.solanaceae digunakan sebagai obat demam,
diare dan rematik, kulitnya untuk mengobati gegar otak dan memar. Disisi lain, buahnya
berpotensi sebagai penghasil warna kuning. A.solanaceae juga mengandung antioksidan
yang belum tereksplorasi secara maksimal.
Ardisia villosa Roxb.
Tanaman yang tersebar di Asia Tenggara ini, sering disebut Mata Pelanduk
Gajah. A.villosa tumbuh pada hutan hujan dan hutan kering Dipterocarpaceae hingga
ketinggian 1850 mdpl. Tanaman A.villosa dimanfaatkan sebagai tanaman obat
tradisional. Di Malaysia, daunnya digunakan mengobati edema, akarnya mengurangi
sakit demam dan batuk. Di Tiongkok, tanaman ini digunakan untuk mengobati memar,
reumatik, dan gangguan neuralgic (Wiart, 2006).
Secara umum, tanaman Ardisia memiliki potensi yang sangat besar untuk
dikembangkan lebih lanjut sebagai tanaman obat. Mengingat kandungan obat yang
terdapat pada tanaman Ardisia sangat tinggi. Di Indonesia, pemanfaatan jenis-jenis
Ardisia masih sedikit karena terbatasnya informasi dan pengetahuan masyarakat,
bahkan beberapa masyarakat awam menjauhi jenis tanaman ini karena mengira jenis
tanaman ini mengandung racun yang mengganggu metabolisme tubuh. Sejauh ini
pemanfaatan Ardisia sebagai tanaman obat di Indonesia dan sebagian wilayah Asia
diketahui secara tradisional ataupun turun temurun. Diperlukan penelitian dan pengujian
kandungan fitokimia lebih lanjut untuk mengetahui kandungan yang terdapat pada
Disisi lain, beberapa jenis Ardisia juga berpotensi sebagai tanaman hias karena
keindahan warna buahnya yang menarik. Tiga spesies Ardisia telah dikembangkan sejak
abad ke-18 di Jepang sebagai tanaman hias melalui pemuliaan tanaman dan seleksi
subsekuen terhadap daya tahan buah dan daun, yaitu Ardisia japonica Blume, Ardisia
crispa A. DC, dan Ardisia crenata Sims (Kobayashi & Mejia, 2005).
Kesimpulan
Tercatat 11 jenis Ardisia koleksi Kebun Raya Cibodas yang telah diketahui
potensinya sebagai tumbuhan yang bermanfaat bagi manusia. Secara umum, hampir
semua jenis Ardisia memiliki kandungan obat dan berfungsi sebagai obat dengan
berbagai kegunaan. Disisi lain, beberapa jenis Ardisia daunnya dimanfaatkan sebagai
sayuran dan buahnya dapat dimakan, serta digunakan sebagai tanaman hias karena buah
berrynya yang menarik.
Daftar Pustaka
Abdul wahab, Ahdan R, Ahmad Aufa, Kong KW, Johar MH, Shariff Mohd, Ismail A. 2015. Nutritional values and biactive component of under-utilized vegetables consumed by indigenous people in Malaysia. Jurnal of the Science Food and Agriculture. Vol 95 : 2704 -2711
Anonymous, 2011. Coral Berry. Weed of Australia. http://keyserver.lucidcentral.org/. Diakses tanggal 15 Februari 2016.
Chen C. 1979. Myrsinaceae. Flora Reipublicae Popularis Sinicae Tomus 58. Beijing: Science Press, 1-147
Chen, C., Pipoly, J.J., 1996. Myrsinaceae. In: Wu, Z., Raven, P.H. (Eds.), Flora of China. Science Press, Beijing, and Missouri Botanical Garden Press, St. Louis, pp. 1–38.
Chiang, L.C., Cheng, H.Y., Liu, M.C., Chiang, W., Lin, C.C., 2003. In vitro anti-herpes simplex viruses and anti-adenoviruses activity of twelve traditionally used medicinal plants in Taiwan. Biological and Pharmaceutical Bulletin 11, 1600–1604.
John J.Pipoly III. 1996. New species of Ardisia (Myrsinaceae) From Equador and Peru. SIDA, contributions to botany. Vol 17 (2): 445 – 458.
Kang, Y.H., Kim, W.H., Park, M.K., Han, B.H., 2001. Antimetastatic and antitumor effects of benzoquinonoid AC7-1 from Ardisia crispa. International Journal of Cancer 93, 736–740.
Biological Invasions, 8(7):1471-1482. http://www.springerlink.com/content/p18608r002r1r83j/fulltext.pdf
Kobayashi H, Mejía E de, 2005. The genus Ardisia: a novel source of health-promoting compounds and phytopharmaceuticals. Journal of Ethnopharmacology, 96(3):347-354. http://www.sciencedirect.com/science/journal/03788741
Ku C,Hu J-M,Kuo C-H. 2013. Complete Plastid Genome Sequence of the Basal Asterid Ardisia polysticta Miq. and Comparative Analyses of Asterid Plastid Genomes. PLoS ONE 8(4): e62548. doi: 10.1371/journal.pone.0062548
Methin Phadungkit and Omboon Luanratana. 2006. Anti-salmonella activity of constituents of Ardisia elliptica Thunb. Natural product research: formerly natural product letters. Vol 20 (7) : 693-696
Niu HongYu, Hong Lan, Wang ZhengFeng, Shen Hao, Ye WanHui, Mu HongPing, Cao HongLin, Wang ZhangMing, Bradshaw CJA, 2012. Inferring the invasion history of coral berry Ardisia crenata from China to the USA using
molecular markers. Ecological Research, 27(4):809-818.
http://www.springerlink.com/link.asp?id=112404
Pascarella, Jhon B. 1997. Breeding system of ardisia sw (Myrsinaceae). Brittonia. Vol 9 (1) : 45 – 53
Riswan, S dan D. Andayaningsih. 2008. Keanekaragaman tumbuhan obat yang digunakan dalam pengobatan tradisional masyarakat Sasak Lombok Barat. Jurnal Farmasi Indonesia. Vol 4 (2) : 96 – 103.
Roslida, A.H dan Kim, K.H.2008. PHCOG MAG: Research article anti-inflammatory and anti-hyperalgesic effects of A.crispa Thunb.D.C. Pharmacognosy magazine. Vol 4 no 16
Sandoval-Mojica AF, Capinera JL, 2011. Antifeedant effect of commercial chemicals and plant extracts against Schistocerca americana (Orthoptera: Acrididae) and Diaprepes abbreviatus (Coleoptera: Curculionidae). Pest Management
Science, 67(7):860-868.
http://onlinelibrary.wiley.com/journal/10.1002/(ISSN)1526-4998
Stone, Benjamin. C. 1989. New and Noteworthly Malesian Myrsinaceae , III. On the genus Ardisia in Borneo. Proceedings of the academy of natural science of Philadelphia. Vol 141 : 262-306
Sundriyal, M & R.C Sundriyal. 2001. Wild edible plants of the sikkim Himalaya: Nutritive values of selected species. Economic Botany. 55 (3) : 377 -390.
Rhabdia lycioides (Boraginaceae), and Balanophora polyandra (Balanophoraceae). Chemical and Pharmaceutical Bulletin. Vol 19 (1) : 207 – 208.
Wiart, C. 2006. Ethnopharmacology of Medical Plants : Asia and the Pasific. Humana Press. New Jersey.
Yamada, Isamu. 1976. Forest ecological studies of the montane forest of Mt.Pangrango, West Java. South East Asian Studies. Vol 13 (4) : 513-534.