• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Perkembangan Produk Domestik Br

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Perkembangan Produk Domestik Br"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Perkembangan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia Tahun 1973-2013

berdasarkan Komponen Pengeluaran

Mata Kuliah

: Ekonomi Pembangunan Lanjut

Nama Mhs.

:

Denny Hermansyah Haeruman

NIM

:

24014013

Dosen

: Dr. Ir. Muhammad Tasrif

Program Magister Studi Pembangunan

Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan

Institut Teknologi Bandung

(2)

1 |

Produk Domestik Bruto

Dinamika perekonomian di Indonesia yang terus bergulir menuntut pemerintah dan seluruh stakeholder (para pelaku ekonomi) untuk peka terhadap

fenomena yang terus berubah dari waktu ke waktu. Tanpa mengikuti pergerakan tersebut sangat mustahil untuk dapat menangkap fenomena yang ada

beserta keterkaitan unsur-unsur dan struktur di dalamnya. Sedangkan pembangunan ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan

masyarakat menuntut para pembuat kebijakan (pemerintah) peka terhadap gejolak ekonomi yang terjadi. Perencanaan pembangunan ekonomi di suatu

negara memerlukan berbagai macam indikator ekonomi. Dengan indikator ekonomi yang representatif, strategi pembangunan baik itu jangka menengah

maupun pembangunan jangka panjang akan lebih terarah.

Salah satu alat ukur atau indikator ekonomi yang sangat dibutuhkan sebagai bahan evaluasi dan perencanaan ekonomi makro terdapat dalam Produk

Domestik Bruto (PDB). Melalui PDB dengan segala turunannya dapat dilihat potret perekonomian dalam suatu negara. Umumnya PDB disajikan dalam

runtun waktu/series tahunan. Produk Domestik Bruto dapat memberikan gambaran tentang perekonomian yang dapat berguna bagi para ahli yang

bergerak dibidang perencanaan, pengambilan keputusan baik bersifat jangka pendek maupun jangka panjang, pembelanjaan, perumusan perpajakan,

keuangan, tenaga kerja sektoral dan kebijakan ekonomi lainnya yang dibuat oleh pemerintah maupun stakeholder lainnya.

Produk Domestik Bruto (PDB) atau dalam istilah internasional disebut Gross Domestic Product (GDP) merupakan data statistik yang merangkum perolehan

nilai tambah dari seluruh kegiatan ekonomi di suatu negara pada satu periode tertentu. Ada dua jenis PDB, yaitu atas dasar harga berlaku (PDB ADHB) dan

atas dasar harga konstan (PDB ADHK). PDB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada

setiap tahun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga pada suatu

(3)

2 |

PDB Pengeluaran = C + I + G + (X-M)

PDB pendapatan = sewa + upah + bunga + laba

PDB dapat didefinisikan berdasarkan tiga pendekatan dalam penghitungan yaitu :

1. Pendekatan Produksi(Production Approach)

PDB adalah jumlah nilai produk barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi pada suatu jangka waktu tertentu, biasanya

setahun.

2. Pendekatan Pendapatan(Income Approach)

PDB adalah jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut di dalam proses produksi di suatu negara pada jangka waktu

tertentu (biasanya setahun). Balas jasa faktor produksi tersebut adalah upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal, dan keuntungan. Dalam

pengertian PDB termasuk pula penyusutan barang modal tetap dan pajak tidak langsung neto. Jumlah semua komponen pendapatan ini per sektor

disebut sebagai nilai tambah bruto sektoral. PDB merupakan jumlah dari nilai tambah bruto seluruh sektor (lapangan usaha).

3. Pendekatan Pengeluaran (Expenditure Approach)

PDB adalah jumlah semua pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta yang tidak mencari untung, konsumsi pemerintah,

pembentukan modal tetap domestik bruto, perubahan stok/inventori, dan ekspor neto di suatu negara pada suatu periode (biasanya setahun).

Secara umum, komponen dalam penghitungan PDB berdasarkan pengeluaran adalah sebagai berikut:

1) Konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta yang tidak mencari untung (C)

2) Investasi, yakni pembentukan modal tetap domestik bruto ditambah perubahan inventori (I)

3) Konsumsi pemerintah (G)

(4)

3 |

PDB Indonesia Tahun 97

-Tabel 1

Produk Domestik Bruto Indonesia dan Komponennya berdasarkan Pengeluaran Tahun 1973 - 2013 (dalam milyar rupiah)

Tahun PDB ADHB

Komponen PDB ADHK berdasarkan pengeluaran (Tahun dasar : 2000)

Konsumsi

1973 6.753,40 336.444,97 8,10 161.801,99 24.065,14 64.803,31 179.027,06 49.197,71 129.829,36

1974 10.708,00 362.131,44 7,63 184.190,90 21.544,35 77.248,98 185.517,67 62.413,33 123.104,35

1975 12.642,50 380.155,82 4,98 191.800,22 28.081,60 88.525,18 167.460,30 67.334,59 100.125,71

1976 15.466,70 406.335,49 6,89 203.712,38 30.138,57 93.836,05 188.399,45 72.786,88 115.612,57

1977 19.010,70 441.935,87 8,76 217.276,09 35.102,84 108.765,49 230.542,12 88.934,31 141.607,81

1978 21.967,40 471.841,98 6,77 234.902,84 38.857,14 125.148,71 234.811,91 102.808,10 132.003,82

1979 32.025,40 506.401,15 7,32 265.660,99 45.206,17 130.679,52 240.853,07 123.551,46 117.301,61

1980 45.445,70 556.433,97 9,88 299.499,35 50.066,25 155.356,28 227.276,99 142.230,58 85.046,41

1981 54.027,00 600.543,36 7,93 349.545,93 55.154,89 172.656,83 221.843,92 180.718,18 41.125,74

1982 59.362,60 614.034,24 2,25 361.299,35 59.695,67 195.091,23 190.924,31 195.549,29 -4.624,98

1983 77.622,80 639.780,50 4,19 388.440,29 59.117,57 210.353,26 202.914,08 219.662,00 -16.747,91

1984 89.885,10 684.408,56 6,98 403.950,50 61.135,41 214.955,99 216.183,71 203.156,48 13.027,22

1985 96.996,90 701.259,69 2,46 408.125,18 65.806,38 248.109,58 199.312,20 213.877,74 -14.565,54

1986 92.492,60 742.458,18 5,87 417.055,60 67.636,86 262.257,93 229.632,25 222.792,53 6.839,72

1987 124.816,90 779.032,82 4,93 430.842,45 67.522,68 261.233,63 263.212,70 227.195,64 36.017,06

1988 142.104,80 824.063,93 5,78 447.552,74 72.635,72 248.711,50 265.980,32 184.722,51 81.257,81

1989 167.184,70 885.510,98 7,46 466.129,17 80.254,77 283.338,23 293.765,86 209.555,21 84.210,65

(5)

4 |

Komponen PDB ADHK berdasarkan pengeluaran (Tahun dasar : 2000)

Konsumsi

1991 227.450,20 1.015.643,34 6,95 549.559,27 88.652,57 348.268,67 353.755,71 301.402,73 52.352,98

1992 259.884,50 1.081.248,56 6,46 565.245,28 93.821,96 367.609,37 405.631,87 321.189,87 84.441,99

1993 329.775,80 1.151.490,00 6,50 598.191,27 93.900,27 397.575,74 432.438,98 335.443,46 96.995,51

1994 382.219,70 1.238.312,01 7,54 645.014,33 96.064,70 463.879,53 475.428,55 403.522,44 71.906,11

1995 454.514,10 1.340.101,35 8,22 726.185,30 97.352,19 524.465,45 512.137,21 488.016,04 24.121,17

1996 532.568,00 1.444.872,98 7,82 796.777,17 99.973,86 550.364,18 550.854,88 521.517,16 29.337,72

1997 627.695,40 1.512.780,26 4,70 859.088,97 100.035,08 585.108,62 593.821,42 598.263,50 -4.442,08

1998 955.753,50 1.314.201,75 -13,13 806.097,64 84.658,15 356.698,72 660.229,51 566.614,57 93.614,95

1999 1.099.731,60 1.324.598,74 0,79 843.446,15 85.246,35 273.811,82 450.243,64 336.142,74 114.100,90

2000 1.389.769,90 1.389.769,90 4,92 850.818,70 90.779,70 309.164,00 569.490,30 423.317,90 146.172,40

2001 1.646.322,00 1.440.405,70 3,64 886.736,00 97.646,00 335.639,50 573.163,40 441.012,00 132.151,40

2002 1.821.833,40 1.505.216,40 4,50 920.749,60 110.333,60 320.669,60 566.188,40 422.271,40 143.917,00

2003 2.013.674,60 1.577.171,30 4,78 956.593,40 121.404,10 355.427,75 599.516,40 428.874,60 170.641,80

2004 2.295.826,20 1.656.516,81 5,03 1.004.109,00 126.248,66 379.964,84 680.620,96 543.183,81 137.437,15

2005 2.774.281,10 1.750.815,23 5,69 1.043.805,10 134.625,56 427.008,81 793.613,00 639.701,85 153.911,15

2006 3.339.216,80 1.847.126,70 5,50 1.076.928,09 147.563,68 432.745,94 868.256,45 694.605,34 173.651,11

2007 3.950.893,20 1.964.327,30 6,35 1.130.847,10 153.309,62 441.118,48 942.431,43 757.566,17 184.865,26

2008 4.948.688,40 2.082.456,30 6,01 1.191.190,80 169.297,20 495.992,80 1.032.277,80 833.342,20 198.935,60

2009 5.606.203,00 2.178.851,00 4,63 1.249.069,00 195.835,00 508.022,00 932.249,00 708.529,00 223.720,00

2010 6.446.851,89 2.314.458,85 6,22 1.308.272,80 196.468,85 552.743,32 1.074.568,70 831.418,30 243.150,40

2011 7.422.781,00 2.464.677,00 6,49 1.369.882,00 202.755,00 610.925,00 1.221.229,00 942.298,00 278.931,00

2012 8.229.440,00 2.618.936,00 6,26 1.442.193,00 205.386,00 707.959,00 1.245.703,00 1.005.037,00 240.666,00 2013 9.083.973,00 2.770.345,00 5,78 1.518.393,00 215.393,00 742.328,00 1.311.760,00 1.017.191,00 294.569,00

(6)

5 |

Gambar 1

Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1973 – 2013 (dalam milyar rupiah) (Tahun Dasar : 2000)

Dalam empat dekade terakhir (1973-2013), PDB Indonesia berdasarkan harga konstan tahun 1973 secara garis besar mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Artinya bahwa secara riil, jumlah atau volume barang dan jasa yang diproduksi di Indonesia hampir selalu meningkat sejak 1973-2013. Bahkan secara kasar, dapat dikatakan bahwa jumlah produksi barang dan jasa di Indonesia pada tahun 2013 telah meningkat sebesar lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan dengan tahun 1973 (40 tahun silam).

(7)

6 |

Namun di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga mengalami banyak perubahan dan fenomena. Selama dekade 1970-an dan 1980-an, proses pembangunan mengalami banyak hambatan yang terutama disebabkan oleh faktor-faktor eksternal seperti merosotnya harga minyak mentah internasional pada dasawarsa 1980-an dan adanya resesi ekonomi dunia. Di tengah berbagai hambatan internal maupun eksternal, Indonesia tetap mampu mencapai pertumbuhan ekonomi yang impresif. Setelah hampir 25 tahun (1973 s/d 1997) Indonesia mengalami tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan, sayangnya pada tahun 1998 laju pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 13% akibat dari krisis moneter 1997.

Pada pertengahan tahun 1997 hingga akhir tahun 1998, aktivitas perekonomian di Indonesia, khususnya pada sektor formal, terhambat karena adanya krisis. Krisis tersebut diawali oleh fenomena krisis finansial Asia 1997 yang dimulai pada bulan Juli 1997 di Thailand, dan memengaruhi mata uang, bursa saham, dan harga aset lainnya di beberapa negara Asia, sebagian Macan Asia Timur. Peristiwa tersebut dikenal sebagai krisis moneter ("krismon") di Indonesia. Indonesia, Korea Selatan, dan Thailand adalah beberapa negara yang paling parah terkena dampak krisis tersebut.

Krisis di Thailand tersebut akhirnya membawa tekanan terhadap nilai tukar mata uang negara – negara lain di wilayah Asia, terutama Indonesia. Padahal, pada masa itu, tidak seperti Thailand, Indonesia memiliki inflasi yang rendah, perdagangan surplus lebih dari 900 juta dolar, persediaan mata uang luar yang besar, lebih dari 20 miliar dolar, dan sektor bank yang baik. Tapi sayangnya saat itu banyak perusahaan Indonesia yang meminjam dalam mata uang dolar AS, sehingga stok hutang luar negeri swasta yang sangat besar dan umumnya erja gka pe dek ya g telah e iptaka ketidaksta ila . Hal i i mungkin saja diperburuk oleh rasa percaya diri yang berlebihan, bahkan cenderung mengabaikan, dari para menteri dibidang ekonomi maupun masyarakat perbankan sendiri dalam menghadapi besarnya hutang swasta pada masa pra-krisis moneter tersebut.

Selain itu, pada masa tersebut pemerintah Indonesia seperti tidak memiliki mekanisme pengawasan terhadap hutang yang dibuat oleh sektor swasta di Indonesia. Setelah krisis berlangsung, barulah disadari bahwa hutang swasta tersebut benar-benar menjadi masalah yang serius. Antara tahun 1992 sampai dengan bulan Juli 1997, 85% dari penambahan hutang luar negeri Indonesia berasal dari pinjaman swasta (World Bank, 1998). Alasannya mungkin saja karena banyak kreditur asing pada saat itu memiliki antusiasme yang tinggi dalam meminjamkan modalnya kepada perusahaan-perusahaan (swasta) di negara yang memiliki inflasi rendah, memiliki surplus anggaran, mempunyai tenaga kerja terdidik dalam jumlah besar, memiliki sarana dan prasarana yang memadai, dan menjalankan sistem perdagangan terbuka, segala hal yang dimiliki Indonesia pada masa itu.

Kondisi krisis finansial tersebut diperparah pula oleh kondisi politik di Indonesia. Pada tahun 1998 krisis ekonomi bercampur ketegangan politik luar biasa saat rezim Soeharto hendak tumbang. Begitu sulitnya menumbangkan rezim Soeharto sehingga harus disertai pengorbanan besar berupa kekacauan yang mengakibatkan pemilik modal dan investor kabur dari Indonesia. Pelarian modal besar-besaran karena kepanikan politik ini praktis lebih dahsyat daripada pelarian modal yang dipicu oleh pertimbangan ekonomi semata. Karena itu, rupiah merosot amat drastis dari level semula Rp 2.300 per dollar AS (pertengahan 1997) menjadi level terburuk Rp17.000 per dollar AS (Januari 1998).

(8)

7 |

melunasi hutang. Dampaknya, banyak perusahaan besar tutup, dan hal tersebut tentu saja berimplikasi pada turunnya produktivitas perekonomian di Indonesia dikarenakan berkurangnya jumlah pelaku usaha dalam memproduksi barang dan jasa di Indonesia. Dan dalam 4 dekade terakhir, satu-satunya titik (dan untuk pertama kalinya sejak tahun 1970) dimana laju pertumbuhan ekonomi Indonesia bernilai negatif/mengalami penurunan, bahkan hingga mencapai 13% adalah pada tahun 1998.

Gambar 2

Laju Pertumbuhan PDB atas dasar harga konstan (Tahun dasar : 2000)

Sumber : diolah dari data BPS Indonesia

Namun perlahan tapi pasti, Indonesia mulai pulih dari krisis moneter 1997 meski prosesnya cenderung lebih lambat dibandingkan negara-negara lainnya di Asia Tengara seperti Singapura dan Malaysia. Pada tahun 1999 Indonesia mulai memperoleh kembali stabilitas perekonomiannya meskipun nilai PDB ADHK (tahun dasar 2000)nya masih lebih rendah dibanding tahun 1997. Perekonomian Indonesia mulai mengalami perbaikan, sehingga antara pasca krisis moneter tahun 1998, laju pertumbuhan ekonomi (sekaligus pengendalian laju inflasi) kembali dapat dikendalikan oleh pemerintah melalui berbagai

-15,00 -10,00 -5,00 0,00 5,00 10,00 15,00

(9)

8 |

instrumen kebijakan. Secara kontras, terdapat suatu perbedaan antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi pada periode sebelum dan sesudah krisis moneter 1997. Pada periode sebelum krisis, sebelum tahun 1997, inflasi walaupun berada di sekitar 11,50% per tahun, tetapi telah menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi (rata-rata 6,62% setahun). Setelah krisis, walaupun inflasi berhasil diturunkan menjadi rata-rata 8,15% setahun, tapi ternyata pertumbuhan ekonomi hanya 4,66% setahun. Perbedaan ini diduga akibat perbedaan kebijakan ekonomi yang diterapkan oleh pemerintah antara tahun sebelum tahun 1997 dan setelah tahun 1998, terutama yang terkait erat dengan usaha memicu pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pada saat bersamaan menjaga inflasi pada tingkat yang rendah.

Berdasarkan grafik pada gambar 2, terlihat bahwa sejak tahun 2005 hingga tahun 2013, kondisi ekonomi di Indonesia yang diwakili dengan tingkat pertumbuhan PDB rata-rata mengalami peningkatan hampir selalu diatas 5 %. Namun ada kondisi dimana pada tahun 2008 laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia mengalami perlambatan ketika terjadi krisis ekonomi global pada tahun 2008. Krisis tersebut dikenal sebagai krisis subprime mortgage di Amerika Serikat. Di mana kredit perumahan di AS diberikan kepada debitur-debitur yang memiliki portofolio kredit yang buruk. Efek domino krisis tersebut pun berimbas ke benua Eropa dan mempengaruhi kawasan ekonomi dunia lainnya hingga tahun 2012. Namun karena kondisi perekonomian di Indonesia yang cukup stabil ketika itu, krisis ekonomi global pada tahun 2008 tidak mempengaruhi kondisi perekonomian Indonesia secara signifikan, bahkan kondisi perekonomian Indonesia tergolong sangat baik dibandingkan kondisi perekonomian di negara Asia Tenggara lainnya (semisal Singapura dan Thailand) sebagaimana ditunjukkan pada gambar 3 berikut :

Gambar 3 :

Tingkat Pertumbuhan PDB Indonesia dibandingkan Thailand dan Malaysia

(10)

9 |

PDB Indonesia berdasarkan komponen pengeluaran

Berdasarkan tabel 1 (halaman 3-4), diperoleh grafik yang mendeskripsikan data PDB Indonesia berdasarkan komponen pengeluaran sebagai berikut :

Gambar 4 : Grafik Pertumbuhan PDB beserta Komponen Pengeluaran (Dalam Milyar Rupiah, Tahun Dasar : 2000)

(11)

10 |

Berdasarkan grafik pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) berdasarkan komponen pengeluaran, terlihat bahwa konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta yang tidak mencari untung(C) sangat dominan kontribusinya terhadap nilai Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia. Laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga makin meningkat setelah tahun 1992 sehingga makin terlihat dominasinya dibandingkan dengan komponen pengeluaran yang lain. Satu-satunya titik penurunan konsumsi rumah tangga (dan juga komponen pengeluaran lainnya) terjadi saat krisis moneter pada tahun 2008 sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya pada halaman 6 - 8 pada tulisan ini.

Adapun komponen pengeluaran investasi di Indonesia juga cukup dominan kontribusinya terhadap nilai Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia. Adapun tingkat pertumbuhan investasi makin meningkat setelah tahun 2008 sebagaimana terlihat pada gambar 4. Sedangkan untuk konsumsi atau pengeluaran yang dilakukan pemerintah, dari tahun ke tahun peningkatannya hampir linier dengan tingkat kemiringan grafik yang sangat landai (tingkat pertumbuhan yang relatif kecil). Peningkatan investasi yang cukup tinggi terjadi pada tahun 2010 – 2011 setelah efek krisis ekonomi berakhir sebagaimana terlihat pada gambar 4.

Sedangkan jika memperhatikan grafik runtun waktu untuk komponen PDB Ekspor Netto (ekspor dikurangi impor), terlihat bahwa nilai ekspor netto sangat fluktuatif. Bahkan pada tahun-tahun tertentu (awal dekade 80-an yang disebabkan oleh merosotnya harga minyak mentah internasional dan krisis moneter tahun 1997), nilai ekspor netto di indonesia sempat mencapai nilai negatif (defisit neraca perdagangan). Meskipun demikian, secara umum, nilai ekspor netto selalu mengalami tren pertumbuhan positif sejak tahun 2004 meskipun pada tahun 2009 sempat mengalami penurunan volume ekspor-impor dikarenakan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Sementara itu, nilai ekpor sekaligus impor yang sebagian besar menunjukan tren positif tidak merubah neraca perdagangan secara signifikan dikarenakan peningkatan ekspor selalu dibarengi dengan peningkatan impor dengan laju pertumbuhan yang identik.

-200.000

Eskpor (X) Impor (M) Ekspor Netto (X-M)

(12)

11 |

Referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Krisis_finansial_Asia_1997 (diakses pada 12 Sept 2014 Jam 20:35 WIB)

http://www.bps.go.id/ (diakses pada 13 Sept 2014 Jam 18:20 WIB)

http://www.fiskal.depkeu.go.id/2010/edef-konten-view.asp?id=20140305083352871176483 (diakses pada 13 Sept 2014 Jam 13:02 WIB)

Gambar

Tabel 1
Gambar 2
Gambar 3 : Tingkat Pertumbuhan PDB Indonesia dibandingkan Thailand dan Malaysia
Gambar 4 : Grafik Pertumbuhan PDB beserta Komponen Pengeluaran (Dalam Milyar Rupiah, Tahun Dasar : 2000)
+2

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis laju pertumbuhan ekonomi menunjukkan bahwa setelah pemekaran (Tahun 2008) laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Labuhanbatu Utara terus meningkat yakni sebesar

dimana infrastruktur listrik mengalami masa sulit sejak krisis ekonomi tahun 1997. Kemudian pada tahun 1998 PLN mengalami kebangkrutan, sehingga

Kemudian dalam penelitian (Darjanto,2001) menyebutkan dengan adanya krisis moneter, dimana tercatat pertumbuhan ekonomi Indonesia negatip, khususnya tahun 1998 pertumbuhan

Hasil analisis laju pertumbuhan ekonomi menunjukkan bahwa setelah pemekaran (Tahun 2008) laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Labuhanbatu Utara terus meningkat yakni sebesar

Sedangkan Pertumbuhan Ekonomi dapat dilihat dari besarnya nilai PDRB ADH Konstan 2000 pada tahun tertentu dibandingkan dengan nilai tahun sebelumnya, di mana

Kinerja sub sektor restoran pada tahun 2012 terlihat mengalami peningkatan yang signifikan, setalah sebelumnya sempat mengalami perlambatan di tahun 2011. Laju pertumbuhan sub

 Outlook pertumbuhan ekonomi di Q4 2014 diperkirakan <5% pertumbuhan 2014 keseluruhan mencapai 5,0% • Laju inflasi Indonesia diperkirakan lebih tinggi dari perkiraan awa

Peranan dan Laju Pertumbuhan Ekonomi Kategori Transportasi dan Pergudangan di Kabupaten Purworejo Persen, 2019-2023 Table Share and Economic Growth of Transportation & Storage