• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Perekonomian Terkini

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Perkembangan Perekonomian Terkini"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

Kementerian Keuangan Republik Indonesia

Perkembangan Perekonomian Terkini

Prof. Dr. Bambang P.S. Brodjonegoro

Menteri Keuangan

Dialog Kamar Dagang Indonesia

8 Desember 2014

(2)

Kementerian Keuangan

2

Outline

Perkembangan Perekonomian

Terkini

Fokus Pemerintah di Bidang Fiskal

APBN-P 2014 & APBN 2015

Kebijakan Pertumbuhan Jangka

Menengah

(3)

Kementerian Keuangan

Executive Summary :

Perekonomian Global

Kinerja ekonomi global 2014 sedikit lebih rendah dibanding perkiraan awal .

Revisi outlook perekonomian global oleh lembaga dunia (WEO : 3,6% (apr)  3,4% (juli)3,3% (okt))Ekonomi AS tumbuh cukup baik, Q3-2014: 3,9%, Eropa dan Jepang lebih rendah dari perkiraan awal.  Hasil FOMC 29 Oktober, The Fed mengakhiri Quantitative Easing pada Oktober 2014. Sementara itu,

kenaikan suku bunga acuan direncanakan akan dilakukan pada pertengahan tahun 2015.

 Q3 2014 perekonomian Jepang kontraksi sebesar -1,9% (QoQ), konsumsi masyarakat masih lemah dan belum mampu mendorong pertumbuhan. Rencana kenaikan pajak penjualan Jepang di tunda.

 Ekonomi Tiongkok masih sesuai perkiraan awal, perekonomian India relatif tumbuh lebih baik didorong reformasi ekonomi negara tersebut

Brazil telah menaikan suku bunga acuan sebesar 50bps menjadi 11.75%Likuiditas global diperkirakan masih relatif tidak berubah

 Ekspektasi perubahan kebijakan suku bunga rendah The Fed dapat menciptakan risiko pada pengetatan likuiditas global.

 Jepang dan Eropa masih mempertahankan kebijakan pembelian obligasi/stimulus monter hingga tahun 2015 sehingga diharapkan dapat mengimbangi pasokan likuiditasi di pasar. Tiongkok dan Rusia juga mempertimbangkan untuk melakukan pelonggaran moneter di tahun 2015.

Harga Komoditas Global masih cenderung menurun hingga akhir tahun.

Untuk harga minyak mentah masih terus turun karena melimpahnya supply minyak dunia, namun perlu diwaspadai risiko tekanan harga akibat kebutuhan untuk musim dingin.

Rata rata Brent, WTI di Nov-’14 pada kisaran USD75-78 per barel

(4)

Kementerian Keuangan

Executive Summary :

Perekonomian Domestik

Pertumbuhan Ekonomi berpotensi lebih lambat dari perkiraan sebelumnya

 Pertumbuhan ekonomi Indonesia Q3-2014 mencapai 5,01% (yoy) (Q1 5,21% (yoy), Q2 5,12% (yoy),

 Outlook pertumbuhan ekonomi di Q4 2014 diperkirakan <5% pertumbuhan 2014 keseluruhan mencapai 5,0% • Laju inflasi Indonesia diperkirakan lebih tinggi dari perkiraan awa (5,3%) sebagai dampak penyesuaian harga BBM

 Nov 1,5% (mtm), Jan-Nov: 5,75% (ytd), dengan kenaikan harga BBM Rp2000/liter inflasi 2014 diperkirakan 7.6% yoy • Ekspor Impor di bulan Oktober ‘14 mencatat surplus relatif kecil sebesar USD23,2 juta. Defisit kumulatif sedikit

menurun dibanding bulan lalu dan mencapai USD1,65 miliar

Neraca perdagangan bulan Agustus: Defisit US$ 318,1 juta, September 2014 : US$270 jutaKinerja transaksi berjalan Q3-2014 membaik dgn turunnya defisit dari US$8,7 miliar (4,06%

PDB) menjadi US$6,8 miliar (3,07% PDB)

 Neraca perdagangan barang Q3 kembali surplus sejalan dg peningkatan surplus neraca perdagangan nonmigas. Sementara impor turun sejalan dg moderasi pertumbuhan ekonomi.

 Kinerja transaksi finansial menunjukkan surplus yg cukup tinggi yg bersumber dari peningkatan investasi langsung sehingga mampu menutup defisit transaksi berjalan

 Cadangan devisa Nov 2014: USD 111,14 Billion • Nilai tukar masih mengalami tekanan

 Kinerja arus modal masuk menurun dalam tiga bulan terakhir, namun secara kumulatif arus modal masuk (Saham, SUN &SBI) selama tahun 2014 (per 31 Oktober) telah mencapai Rp. 178 Triliun

 Per 5 Desember 2014 : Rp12.296 depresiasi 0,88% (ytd) Nilai tukar rata-rata 2014 diperkiarkan Rp11,900/USD, • Nov 2014, Harga ICP USD 75.4/barel. Harga ICP (dan minyak dunia) masih menunjukkan penurunan. Outlook di tahun

2014 diperkirakan USD98/brl.

Outlook lifting minyak diperkirakan lebih rendah dari asumsi APBNP 2014

(5)

Perkembangan

Perekonomian Terkini

(6)

Kementerian Keuangan

6

Consensus forecast Oktober 2014

Sumber: WEO-IMF

Sumber: Worldbank

WEO IMF 2013 2014 2015

Apr'14 Jul'14 Oct'14 Apr'14 Jul‘14 Oct‘14

GDP World 3,3 3,6 3,4 3,3 3,9 4,0 3,8 US 2,2 2,8 1,7 2,2 3,0 3,0 3,1 Europe -0,4 1,2 1,1 0,8 1,5 1,5 1,3 China 7,7 7,5 7,4 7,4 7,3 7,1 7,1 India 4,7 5,4 5,4 5,6 6,4 6,4 6,4 ASEAN-5 6,2 4,9 4,6 4,7 5,4 5,6 5,4 Indonesia 5,8 5,4 5,2* 5,2 5,8 5,5* 5,5 Trade Vol. World 3,0 4,3 4,0 3,8 5,3 5,3 5,0

2012 2013e 2014f 2015f

Jan-14 Jun-14 Jan-14 Jun-14 Jan-14 Jun-14

World 2.5 2.4 2.4 3.2 2.8 3.4 3.4

Memo item: World (2010 PPP weights) 3.2 2.9 3.1 3.7 3.4 3.9 4.0

High Income 1.5 1.3 1.3 2.2 1.9 2.4 2.4 Euro Area -0.6 -0.4 -0.4 1.1 1.1 1.4 1.8 Japan 1.4 1.7 1.5 1.4 1.3 1.2 1.3 United States 2.8 1.8 1.9 2.8 2.1 2.9 3.0 Developing countries 4.8 4.8 4.8 5.3 4.8 5.5 5.4 China 7.7 7.7 7.7 7.7 7.6 7.5 7.5 Indonesia 6.3 6.3 5.8 5.3 5.3 5.5 5.6 India 6,7 4.5 4.5 4.7 6.2 5.5 6.6 6.3 Economic Forecasters 2014 2015 ING 5.2 5.5 Citigroup 5.1 5.1 Credit Suisse 5.0 5.2 Nomura 5.3 5.8 IHS Global Insight 5.2 5.5 HSBC Economics 5.2 6.0 ANZ Bank 5.4 5.8 JP Morgan Chase 4.9 5.1 Barclays Capital 5.3 5.5 OCBC Bank 5.5 5.7 FERI 5.1 5.5 Oxford Economics 5.1 5.8 Mandiri Sekuritas 5.3 5.6 Econ Intelligence Unit 5.2 5.9 BofA - Merrill Lynch 5.4 6.0

Rata-rata 5.2 5.6

*per September 2014

Institution 2014 2015

Bank Indonesia (Nov 2014) 5.1 - 5.5 5.4-5.8* IMF (Article IV, Des 2014) 5.1 5.0 World Bank (IEQ, Des 2014) 5.1 5.2 ADB (September 2014) 5.3 5.8 OECD (Desember 2014) 5,1 5,2

Perekonomian dunia masih belum stabil

... Hal ini memberikan tekanan pada perekonomian Indonesia

(7)

Kementerian Keuangan

Pertumbuhan PDB

2010-2013: 6.2%

2005-2009: 5.6%

2000-2004: 4.6%

Inflasi

2009-2013: 5.9%

2004-2008: 8.8%

1999-2003: 8.7%

Pencapaian

Kemiskinan &

pengangguran

2014: 11.25% & 5.94%

2013: 11.37% & 6.25%

2009: 14.15% & 7.87%

2004: 16.66% & 9.86%

Rasio Utang:

2013: 26.2%

2009: 28.3%

2004: 57%

Defisit Fiskal:

Terjaga < 3 % PDB

7

Tantangan

Rasio Gini (inequality)

2013: 0.41

2009: 0.37

2005: 0.36

Subsidi vs Modal (% thd Belanja Negara)

2013: 22% vs 8.9%

2009: 15% vs 8.1%

2004: 21% vs 14.4%

Productive spending terbatas

Pertumbuhan Sektor

Manufaktur

Era 2000-an 4.9%

Era 1990-an 10.2%

Pencapaian Perekonomian Indonesia

(8)

Kementerian Keuangan

Summary perkembangan indikator perekonomian

Indonesia 2014...

Pertumbuhan PDB 2014: Q1-2014 5,21% (yoy), Q2-2014 5,12% (yoy), Q3-2014 5,01% (yoy). Outlook pertumbuhan PDB 2014 5,0% antara lain didorong oleh kebijakan stabilisasi dan masih lemahnya permintaan global.

Pertumbuhan

ekonomi Nilai tukar Rupiah terhadap USD

mencapai Rp12.296 depresiasi 0,88% (ytd) pada penutupan 5 Desember 2014 Kondisi nilai tukar terkini merupakan kondisi equilibrium baru akibat normalisasi kebijakan moneter di AS (Tapering).

Nilai Tukar

Rupiah IHSG ditutup 5.187,99

menguat 21,38% (ytd) 5 Desember 2014. IHSG kembali melewati level psikologis 5000

Net capital inflow Jan –

Nov2014 tercatat sekitar Rp214,48 T

Yield SUN 10Y turun

dari 8,57% (Januari) menjadi 7,58% (5 Desember 2014) Pasar Keuangan Inflasi November 2014 : 1,5% (mtm) , 5,75% (ytd) atau 6,23% (yoy)

Koordinasi yang baik antara Pemerintah dan Bank Indonesia telah membantu terjaganya inflasi.

Inflasi Q3-2014 2014, investasi mencapai

Rp119.9T. (PMA : Rp 78.3T, PMDN: Rp 41.6T).

Angka investasi kuartalan yang terus menunjukkan peningkatan sejak tahun 2011 menunjukkan masih tingginya minat investor terhadap Indonesia. Investasi langsung Neraca perdagangan Oktober 2014 : ekspor US$15,4 miliar, impor US$15,3miliar. Surplus sebesar US$23,2 juta Jan-Okt 2014: Defisit perdagangan US$1.65 miliar.

Defisit Transaksi berjalan menbaik dari

US$9,1 miliar (4,27% PDB) pada Q2-2014 menjadi US$6,8 miliar (3,07% PDB) pada Q3-2014

Neraca Pembayaran

(9)

Kementerian Keuangan

Faktor Pendukung Perekonomian 2014

• Konsumsi Masyarakat  Kontribusi masih tinggi.

• Pertumbuhan konsumsi domestik yang relatif tinggi dan stabil telah mendukung PDB untuk terus tumbuh selama beberapa dekade terakhir.

• Pemerintah dan BI dapat menjaga Laju inflasi.

• Investasi  Trend positif FDI, Sentimen positif dari pemerintahan baru.

• Neraca Perdagangan  Untuk jangka pendek, kebijakan pembatasan ekspor mineral memberikan tekanan terhadap neraca pembayaran. Untuk jangka menengah, kebijakan tersebut akan memberikan dampak positif pada perekonomian.

• Pemulihan dan stabilisasi perekonomian global

Faktor Risiko Perekonomian 2014

• Performa neraca perdagangan Indonesia menjadi faktor penting pada outlook perekonomian 2014. Gejolak perekonomian dunia serta melemahnya pasar komoditas menimbulkan tekanan pada neraca perdagangan dan transaksi berjalan Indonesia. • Ketidakpastian perekonomian global

•  Perubahan kebijakan moneter di US •  Kondisi Tiongkok

• Volatilitas harga komoditas, termasuk harga minyak • Trend pelemahan harga komoditas  Kondisi Geopolitik • Dampak jangka pendek kebijakan stabilisasi dan minerba • Kondisi neraca berjalan Indonesia (Defisit migas tinggi) • Kenaikan laju inflasi  penyesuaian harga bbm bersubsidi

4.8% 5.0% 5.7% 5.5% 6.3% 6.0% 4.6% 6.2% 6.5% 6.3% 5.8% 5.2% 5.5% 5.8% (1.5%) 0.0% 1.5% 3.0% 4.5% 6.0% 7.5% 20 03 20 04 20 05 20 06 20 07 20 08 20 09 20 10 20 11 20 12 20 13 1H 2 01 4 20 14 Rev ise d B ud get 20 15 B ud ge t

Pertumbuhan PDB Tahunan (%, yoy)

Indonesia Peers (Baa1 - Baa3)

6.3 6.3 6.2 6.2 6.0 5.8 5.6 5.7 5.2 5.1 5.0 0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 2012 2013 2014

Pertumbuhan PDB Kuartalan (%,yoy)

9

Peluang dan Risiko Perekonomian 2014

(10)

Kementerian Keuangan

Supply Constraint

10

Faktor Ekonomi Global

Ketidakpastian perekonomian global, termasuk pertumbuhan ekonomi negara mitra

dagang utama, misalnya Tiongkok

Normalisasi kebijakan moneter di AS, tetapi kebijakan moneter yang pasti cukup

ekspansif di EU dan Jepang

Volatilitas harga komoditas

Penurunan harga minyak dunia yang terlalu cepat dan drastis - ketidakpastian

Kompetisi global yang semakin ketat

Faktor Domestik

Produktivitas rendah

Kapasitas produksi terbatas

Keterbatasan infrastruktur

Biaya logistik yang tinggi

Skills gap

Kurangnya pengembangan teknologi dan

inovasi

Pasar keuangan yang masih dangkal serta

high cost of funds

Kesenjangan pendapatan antar

kelompok dan daerah

Tingkat kemiskinan masih terus

membaik, tetapi kecepatan

penurunannya sudah mulai melambat

Pertumbuhan Non-Inklusif

Risiko dan Tantangan Perekonomian Indonesia

(11)

Kementerian Keuangan

Jumlah Populasi besar,

Peningkatan Angkatan

Kerja Produktif

 Jumlah penduduk peringkat 4 dunia,  Ekonomi terbesar di Asia Tenggara

 Bonus Demografi, peningkatan rasio angkatan kerja  Bertumbuhnya kelompok Middle Income

 Keragaman budaya dan kreativitas – potensi ekonomi kreatif

Dengan sumber daya alam , usia penduduk produktif dan tenaga kerja terdidik, Indonesia

memiliki potensi untuk lepas landas …

Sumber Daya Alam

berlimpah

 Batubara, gas bumi, mineral  Komoditi pertanian: CPO, karet  Tanah yang subur dan laut yang kaya

Kinerja Makroekonomi

yang stabil dan kuat

 Pertumbuhan ekonomi relatif stabil di kisaran 6%,  volatilitas pertumbuhan yang sangat rendah

 Investasi infrastruktur yang meningkat  Tren peningkatan investasi langsung  Laju inflasi yang cukup terkendali

Pengelolaan Fiskal

yang Prudent

 Defisit Anggaran Pemerintah ≤3% PDBManajemen Pengelolaan Utang

11

Potensi Perekonomian Indonesia

(12)

Fokus Pemerintah di

Bidang Fiskal

1 2

(13)

Kementerian Keuangan

13

1. Stabilitas Makroekonomi

2. Menciptakan struktur APBN yang

lebih baik

2 (dua) Fokus Pemerintah di bidang fiskal

Untuk Jangka Pendek :

(14)

Kementerian Keuangan

14

Beberapa upaya memperbaiki Transaksi Berjalan:

- Reformasi subsidi energi (Listrik, BBM).

- Insentif fiskal untuk industri penunjang

- Insentif fiskal untuk reinvestasi dividen

- Penguatan industri reasuransi dan shipping lokal

Pencapaian Stabilitas Makroekonomi

…memperbaiki kinerja transaksi berjalan (current account)...

-3000 -2000 -1000 0 1000 2000 3000 20 12 -J F M A M J J A S O N D 20 13 -J F M A M J J A S O N D 20 14 -J F M A M J J A S O J u ta U SD

Neraca Perdagangan (per bulan)

MIGAS NONMIGAS TOTAL

-12000 -10000 -8000 -6000 -4000 -2000 0 2000 4000 -10000 -5000 0 5000 10000 15000 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 2011 2012 2013 2014

Current Account

(15)

Kementerian Keuangan

15

Defisit Anggaran Yang Terjaga Belanja Yang Berkualitas Sumber Penerimaan yang berkelanjutan

Kebijakan dan administrasi

perpajakan yang lebih efektif.

Fokus pada Personal Income tax

Perbaikan sistem PPN

Pemberian insentif fiskal untuk

investasi yang lebih terukur

dan terarah

Price (commodity) subsidy 

targeted subsidy

Lanjutan reformasi subsidi BBM –

fixed subsidy

Re-alokasi angaran ke belanja yang

lebih produktif (Infrastruktur,

kesejahteraan sosial)

Fokus pada infrastruktur dasar

seperti ketahanan pangan,

maritim, sektor pertanian,

perikanan, dan energi

Perbaikan kinerja realisasi belanja

Memberikan ruang fiskal yang cukup guna mengantisipasi

ketidakpastian ekonomi global

Meningkatkan

peran serta sektor

swasta pada

pengembangan

infrastruktur

melalui skema PPP

Pengelolaan Anggaran - APBN

…menciptakan struktur APBN yang lebih baik

(16)

Kementerian Keuangan

Reformasi perpajakan

Optimalisasi PNBP

Efisiensi

Perbaikan penyerapan

Realokasi pengurangan subsidi

Peningkatan Fiscal Space

... Meningkatkan penerimaan, mendorong belanja produktif dan defisit

yang terjaga

16

Fiscal

Space

Optimalisasi

Penerimaan Negara

Peningkatan Kualitas

Belanja Negara

Belanja produktif

Pengurangan defisit

untuk menciptakan ruang

manuveur jika terjadi

gejolak global

(17)

Kementerian Keuangan

Berdasarkan APBN-P 2014, inflasi tanpa kenaikan BBM diperkirakan sebesar 5,3%(yoy).

• Berdasarkan realisasi inflasi hingga November serta proyeksi inflasi Desember sekitar 1,8% (mtm), laju inflasi hingga akhir tahun 2014 diperkirakan sekitar 7,6% (yoy).

• Potensi peningkatan laju inflasi Desember bersumber dari:

1. dampak lanjutan kenaikan harga BBM bersubsidi ke sektor transportasi, bahan pangan dan komoditas komponen inflasi lainnya  finalisasi penetapan tarif angkutan dalam kota, tarif taksi, tarif penyeberangan; serta

2. faktor musiman (Natal, tahun baru, awal musim tanam)  ditandai peningkatan harga beberapa komoditas bahan pangan, terutama beras.

1, 03 0, 75 0, 63 -0, 10 -0, 03 1,03 3, 29 1, 12 -0, 35 0,09 0, 12 0, 92 1, 07 0, 26 0, 08 -0, 02 0, 16 0, 43 0, 93 0, 47 0, 27 0,47 1, 50 1,78 1, 19 0,69 0,29 0,09 -0,07 0,10 0,66 1,34 0,87 0,29 0,08 0,22 0,58 -1,00 -0,50 0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 3,00 3,50

Jan-14 Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des Jan-15

(mt m , % ) 2013 2014 Rerata 5 tahun Perkiraan

Inflasi pada akhir tahun 2014 diperkirakan 7,6% (yoy).

Total dampak kenaikan BBM 2,52%(mtm) terdistribusi dalam

3 bulan

17

Dampak Penyesuaian Harga BBM Bersubsidi

(18)

Kementerian Keuangan

Dampak Pada Pertumbuhan PDB 2014

Proyeksi pertumbuhan PDB 2014

setelah memperhitungkan dampak kenaikan harga

serta kompensasi kenaikan harga BBM

:

5.0-5.1%

Dampak Pada Pertumbuhan PDB 2015

Penyesuaian harga BBM Rp2000/liter (premium dan solar)  savings/penghematan anggaran

Juga dilakukan kebijakan penghematan belanja operasional (rapat, perjalanan dinas dll)

Saving 2015:

Rp110T – Rp138T

Infrastruktur dasar:

Maritim

Ketahanan Pangan

Perlindungan Sosial:

Kartu Indonesia Pintar

Kartu Indonesia Sehat

Kartu Keluarga Sejahtera

Transfer ke Daerah

Melalui Dana Desa

Mengurangi Defisit APBN

Dengan realokasi

belanja ke yang lebih

produktif tersebut,

pertumbuhan

ekonomi 2015

diperkirakan dapat

mencapai 5.8%

Dampak Penyesuaian Harga BBM Bersubsidi

…pengaruh kepada pertumbuhan perekonomian

(19)

Kementerian Keuangan

Persentase Belanja Prioritas Terhadap PDB

reallocation to be more productive spending

Pengurangan Subsidi

...dapat menciptakan alokasi anggaran yang lebih baik

(20)

Ministry of Finance, Republic of Indonesia

Dukungan Fiskal Melalui Peningkatan Belanja

... peningkatan belanja infrastruktur dapat mendorong daya saing dan produktivitas

0.0 2.0 4.0 6.0 8.0 10.0 12.0 50 100 150 200 2008 2009 2010 2011 2012 2013

Infrastructure Spending

Belanja Infrastruktur

Ratio to Tot. Spending (RHS)

% t o T o t S pe nd in g ID R T rillion

Belanja infrastruktur bertujuan

untuk:

 Meningkatkan konektivitas antar

wilayah

 Mengurangi biaya logistik

 Meningkatkan daya saing

 Mendorong investasi

 Meningkatkan kapasitas

produksi

20

Rencana Investasi Infrastruktur 2015 – 2019

24 Pelabuhan Baru

115 Pengembangan Pelabuhan 26 Kapal Barang Perintis

15 Bandara Baru

40 Pengembangan Bandara Lama 20 Pesawat Perintis

2.159 km Kereta Api Antara Kota 1.099 km Kereta Perkotaan

2.650 km Jalan Baru 1.000 km Jalan Tol

46.770 km Pemeliharaan Jalan 29 Bus Rapid Transport (BRT)

Sumber: Bappenas

Defisit Infrastruktur

Indonesia :

Rp 720T/tahun

• Alokasi Belanja Infrastruktur Indonesia berkisar 3-4% PDB

• China 10.5% PDB • Thailand 7% PDB Sumber: Bappenas

(21)

Kementerian Keuangan

Nama : Program Keluarga Sejahtera

Penerima Manfaat : Keluarga kurang mampu di seluruh Indonesia. Diperluas mencakup penghuni panti asuhan, panti jompo, dan panti sosial lainnya

Bentuk Penyaluran Dana: Simpanan/tabungan di kantor pos atau bank yang ditunjuk bisa cairkan atau tetap disimpan

Besaran Bantuan:

Rp200.000/keluarga/bulan

Nama : Program Indonesia Pintar Penerima Manfaat : Siswa kurang

mampu, anak usia sekolah PMKS, anak jalanan, pekerja anak di seluruh Indonesia

Bentuk Penyaluran Dana:

Simpanan/tabungan di kantor pos atau bank yang ditunjuk bisa cairkan atau tetap disimpan

Besaran Bantuan: SD/MI sebesar Rp225.000/siswa/semester SMP/MTs sebesar Rp375.000/siswa/semester SMA/SMK sebesar Rp500.000/siswa/semester

Nama : Program Indonesia Sehat

Penyelenggara : Badan

Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)

Cakupan Pelayanan : Hingga satuan kesehatan di tingkat desa (Posyandu)

Penerima Manfaat :

Masyarakat kurang mampu yang telah memiliki kartu BPJS PBI ditambah kelompok

penyandang masalah

kesejahteraan sosial (PMKS) Manfaat : Selain pengobatan, juga pencegahan

Pelayanan Bantuan Sosial

...Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Keluarga Sejahtera

(22)

APBN-P 2014 & APBN

2015

2 2

(23)

Kementerian Keuangan

APBN-P

2014

APBN

2015

Pertumbuhan (%)

5.5

5.8

Inflasi (%)

5.3

4.4

Nilai Tukar (USD/IDR)

11,600

11,900

Suku Bunga (SPN 3 Bulan, %)

6.0

6.0

Harga Minyak ICP (US$/barrel)

105.0

105.0

Lifting Minyak dan Gas

Lifting Minyak (Juta Barrel/hari)

0.818

0.900

Lifting Gas (Juta barrel/ hari eopd)

1.224

1.248

23

Perkembangan Asumsi Makro APBN

…disesuaikan mengikuti kondisi terkini perekonomian...

(24)

Kementerian Keuangan

Realisasi 2013 (Audited) APBN-P 2014 % perubahan (2013 & 2014) Triliun Rupiah % PDB Triliun Rupiah % PDB

A. Pendapatan Negara 1,438.89 15.84% 1,635.40 16.30% 13.66%

I. Pendapatan Dalam Negri 1,432.06 15.76% 1,633.00 16.20% 24.73%

1. Penerimaan Perpajakan 1,077.31 11.86% 1,246.10 12.40% 15.67%

2. PNBP 354.75 3.91% 386.9 3.80% 9.06%

II. Grants 6.83 0.08% 2.3 0.00% (66.30)%

B. Belanja Negara 1,650.56 18.17% 1,876.90 18.70% 13.72%

I. Belanja Pemerintah Pusat 1,137.16 12.52% 1,280.40 12.70% 12.60%

1. Belanja Pegawai 221.69 2.44% 258.8 2.60% 16.74% 2. Belanja barang, Jasa dan Modal 350.58 3.86% 364.2 3.60% 3.88% 3. Interest payments 113.04 1.24% 135.5 1.30% 19.87%

4. Subsidi 355.05 3.91% 403 4.00% 13.51%

5. Hibah 1.30 0.01% 2.9 0.00% 123.08%

6. Belanja Sosial 92.14 1.01% 88.1 0.90% (4.38)%

7. Lanja Lain-Lain 3.37 0.04% 27.9 0.30% 727.89%

II. Transfer Daerah 513.26 5.65% 596.5 5.90% 16.22%

C. Primary balance2 (98.6) (1.09)% (106.0) (1.10)% 7.47% D. Overall balance (A - B) (211.6) (2.33)% (241.5) (2.40)% 14.09%

E. Pembiayaan 237.39 2.61% 241.5 2.40% 1.73%

I. Pembiayaan Dalam Negri 243.20 2.68% 254.9 2.50% 4.81%

II. Pembiayaan Luar Negri (5.81) (0.06)% (13.4) (0.10)% 130.64%

Penyesuaian APBN 2014

…antara lain disebabkan adanya perubahan pada angka asumsi makro...

(25)

Kementerian Keuangan

Defisit dijaga pada level dibawah 3%. Defisit APBN-P 2,4% naik dari realisasi 2013

sebesar 2,3%

Peningkatan pendapatan dalam negeri sebesar 24,7% didukung oleh meningkatknya

penerimaan perpajakan menjadi Rp. 1.246 Triliun. Sementara itu, belanja pemerintah

naik menjadi Rp. 1.877 Triliun yang membuat total defisit menjadi RP. 241.5 Triliun.

Melanjutkan kondisi pada tahun 2013, pembiayaan akan tetap diprioritaskan pada

pembiayaan dalam negri.

Beberapa kebijakan utama pada APBN-P 2014 antara lain :

Pemotongan anggaran belanja pemerintah sebesar Rp. 43 Triliun pada pos belanja

yang non-produktif dan pada pos belanja pegawai (seminar, perjalaanan dinas)

Penyesuaian tarif listrik secara bertahap untuk mengurangi beban subsidi nergi

Kuota konsumsi BBM bersubsidi dijaga sebesar 46 juta KL melalui, antara lain, konversi

dan kebijakan pembatasan.

Kebijakan Utama APBN 2014

…membantu menjaga stabilitas dan sustainabilitas perekonomian Indonesia...

(26)

Kementerian Keuangan

Rincian 2015

(Triliun rupiah) R-APBN APBN A. Pendapatan Negara 1,762.29 1,793.59

I. Pendapatan Dalam Negri 1,758.86 1,790.33 1. Penerimaan Perpajakan 1,370.83 1,379.99 2. Penerimaan Bukan Pajak 388.04 410.34

II. Hibah 3.43 3.36 B. Belanja Pemerintah 2,019.87 2,039.48 1. Belanja K/L 600.58 647.30 a. Belanja Pegawai 162.51 169.11 b. Belanja Barang 209.91 230.40 c. Belanja Modal 156.45 176.12 d. Belanja Sosial 71.67 71.67 2. Belanja Non-K/L 779.29 745.13 a. Belanja Pegawai 130.30 123.62 b. Pembayaran Bunga Utang 154.03 151.97

c. Subsidi 433.51 414.68

1. Subsidi Energi 363.53 344.70 2. Subsidi Non Energi 69.97 69.97 c. Belanja Lain-Lain 31.76 46.42

B. Transfer ke Daerah dan Dana Desa 639.99 647.04 1. Transfer ke Daerah 630.92 637.97 a. Dana Perimbangan 509.49 516.40 I. Dana Bagi Hasil 124.45 127.69 II. Dana Alokasi Umum 349.22 352.89 III. Dana Alokasi Khusus 35.82 35.82 b. Dana Otonomi Khusus 16.47 16.61 c. Dana Keistimewaan DIY 0.55 0.55 d. Dana Transfer Lainnya 104.41 104.41

2. Dana Desa 9.1 9.1

C. Keseimbangan Primer -103.53 93.92 D. Surplus/Defisit Anggaran -257.58 245.89

% defisit terhadap PDB -2.32 -2.21

E. Pembiayaan 257.58 245.89

I. Pembiayaan Dalam Negri 281.39 269.71 II. Pembiayaan Luar Negri (neto) -23.81 -23.81

APBN-2015

Baseline Budget. APBN 2015

disusun pada masa transisi dari

pemerintahan lama ke

pemerintahan baru. Baseline

budget memperhitungkan

kebutuhan pokok penyelenggaraan

pemerintahan dan pelayanan

kepada masyarakat, sehingga tetap

memberikan ruang gerak fiskal

kepada pemerintahan baru untuk

melakukan penyesuaian

Dana Desa. Pengalokasian Dana

Desa merupakan amanat Undang–

Undang Nomor 6 Tahun 2014

tentang Desa.

Postur APBN 2015

…merupakan Baseline Budget

(27)

Kebijakan Pertumbuhan

Jangka Menengah

2 7

(28)

Kementerian Keuangan

Sebelum 1990 Indonesia masuk dalam kelompok Low Income country (USD PPP 2005)

Sejak 1990 – sekarang: Indonesia tergolong Lower Middle Income Country

Terdapat risiko terjebak dalam Middle Income Trap

Perlu langkah terobosan 

Not Business as Usual

Periode Demographic Dividend /Bonus Demografi tersisa -- 2025-2030

Pendapatan per Kapita (PPP 2005, USD)

HIC threshold >USD 12000 (PPP 2005) 0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 The end of Demographic Dividend

28

Terdapat Risiko Pada Perekonomian

…terjebak dalam Middle Income Trap

(29)

Kementerian Keuangan

Indonesia’s Income per Capita Indonesia (Constant GNI, 2013 USD)

1,000 2,000 3,000 4,000 5,000 6,000 7,000 8,000 9,000 10,000 11,000 12,000 13,000 14,000 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014 2016 2018 2020 2022 2024 2026 2028 2030 2032 2034 2036 2038 2040

2

nd

Scenario

1

st

Scenario

3

rd

Scenario:

HIC at 2030

Simulated Average Growth Rate 1stScenario : 5.8%  HIC in 2040

2nd Scenario : 7.0%  HIC in 2035

3rd Scenario : Average growth to reach HIC

in 2030  8.7%

Low Inc (US$ 1,036)

Middle Inc (US$ 4,085)

High Inc (US$12,615)

2013 : US$3.580

2030: The end of demographic bonus

29

Simulasi Pertumbuhan Perekonomian

…perlu megoptmalkan bonus demografi

(30)

Kementerian Keuangan

Definisi Middle Income Trap

o “Countries stagnating and not growing to advanced country level” (ADB, 2012; Worldbank 2012) ,

o “Growth slowdown and stuck in the middle-income status” (Gill and Kharas, 2007; Eichengreen et al, 2011)

Thresholds Pendapatan

 Definisi trap dalam kerangka lamanya

waktu dalam kelompok middle income

 Lower-middle income (LM) Trap: bila berada dalam status LM selama 28 tahun atau lebih

 Upper-middle income (UM) : bila berada dalam UM selama 14 tahun atau lebih

.. menuju kelompok High Income Countries bukan hal yang mudah!

o WB (2012) menggunakan batas threshold dan perbandingan pendapatan terhadap PDB per kapita Amerika Serikat:

Dari 101 negara middle-income di tahun 1960, hanya 13negara yang berhasil mencapai high income countries di tahun 2008

88 negara lainnya tidak beranjak dari middle income group terjebak dalam Middle Income Trap o ADB (2012) dengan menggunakan batas threshold absolut:

• Pada tahun 2010, dari 52middle-income countries, 35negara terjebak dalam status the middle-income group  terjebak middle-income trap.

• Bahkan 30diantaranya terjebak dalam the lower-middle income trap.

ADB World Bank

GDP per Cap, PPP 1990P GNI per Cap. PPP 2005P Low Income <US$2,000 <US$1,036 Lower Middle Income US$2,000 - US$7,250 US$1,036-US$4,085 Upper Middle Income US$7,250 - US$11,750 US$US$4,085-12615 High Income >US$11,750 >US$12615

30

Middle Income Trap

Beberapa definisi dan konsep

(31)

Kementerian Keuangan

Produktivitas

Sumber Daya Manusia

Inovasi & teknologi

Stabilitas Ekonomi

Sustainable Growth

Kemiskinan

Kesenjangan: pendapatan & antar

daerah

Financial inclusion

Redistribusi Fiscal : Skema Subsidi

Equitable Growth

Kebijakan

Koordinasi kebijakan Fiskal – moneter – sektor riil

Kerangka kerja Ekonomi Makro dan Micro economic

Persepektif jangka pendek dan panjang

Keselarasan Pusat dan Daerah

31

Indonesia Perlu Mempersiapkan Kebijakan

…Pencapaian High Income Status menuntut penanganan isu secara komprehensif

(32)

Kementerian Keuangan

The slowdown of manufacturing sector is due to: Competitiveness faces pressures

• Infrastructure gap • Skill gap

• Shallow financial sector and relatively high cost of fund • Upward wage pressures

• Emergence of new Asian frontier markets (i.e Vietnam, Cambodia, Bangladesh, Lao PDR, Myanmar) • Import dependency of intermediate goods

• Volatility of exchange rate lead to higher and less certain import costs higher cost of production

GDP Growth

Manufacturing Growth

Source: BPS estimated

Low Productivity

-15 -10 -5 0 5 10 15 20 25 1970 1972 1974 1976 1978 1980 1982 1984 1986 1988 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 Average ‘70-’97: 10,9 Average ‘01-’13: 4,8 -15.0 -10.0 -5.0 0.0 5.0 10.0 15.0 1970 1973 1976 1979 1982 1985 1988 1991 1994 1997 2000 2003 2006 2009 2012 Average ‘70-’97: 7,1 Average ‘01-’13: 5,4

32

Tantangan pada sektor Industri

(33)

Kementerian Keuangan

Sumber: BPS (Indonesia’s Central Agency on Statistics)

Penurunan porsi sektor Industri terhadap perekonomian menunjukkan adanya tanda

terjadimya premature exit (de-industrialization)

Kontribusi penyediaan lapangan kerja dari sektor Industri juga relatif stagnan.

0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 19 62 19 65 19 68 19 71 19 74 19 77 19 80 19 83 19 86 19 89 19 92 19 95 19 98 20 01 20 04 20 07 20 10 20 13

Value added (% of GDP)

Services Agriculture Manufacturing 0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 19 91 19 93 19 95 19 97 19 99 20 01 20 03 20 05 20 07 20 09 20 11 20 13

% of total employment

Services Agriculture Manufacturing

33

Tantangan pada sektor Industri

(34)

Kementerian Keuangan

0.5

1.0

1.9

3.9

2.2

3.0

0.0 2.0 4.0 6.0 8.0 10.0 12.0

Capital

Labour

TFP

Sumber: Asian Productivity Organization (APO) database.

Rencahnya R&D, kualitas manusia dan

rendahnya innovasi

all lead to low

contribution of technology in economic growth 

difficult to sustain high growth

Source of Economic Growth (average 1990-2011)

GDP Growth ICOR

Realization Inv/PDB (Inv(t-1)/∆PDBt)

2001 3.6% 23.3% 6.1 2002 4.5% 21.3% 5.2 2003 4.8% 22.5% 4.5 2004 5.0% 22.9% 4.5 2005 5.7% 24.4% 4.0 2006 5.5% 23.4% 4.4 2007 6.3% 22.5% 3.7 2008 6.0% 23.8% 3.7 2009 4.6% 23.3% 5.1 2010 6.2% 23.9% 3.7 2011 6.5% 24.8% 3.7 2012 6.2% 27.3% 4.0 2013 5.8% 26.8% 4.7 Average 5.5% 23.9% 4.4

Average ICOR 4.4 menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan pertumbuhan investasi 4.4% untuk setiap 1% pertumbuhan ekonomi

Economic growth could be increased through :

a) Peningkatan Investment Ratio dari PDB

 Peningkatan Saving Rate  Financial Deepening

 Infrastructure spending fiscal space, revenue

optimization, efficiencies in expenditure policy

 Kebijakan untuk menarik investasi asing.

b) Penurunan ICOR

Efficiency through lower investment needs per unit of output.

 Productivity improvement, technological support and

innovation.

c) Kombinasi dari keduanya

34

Tantangan Pada Sisi Supply (1)

Rendahnya produktivitas dan efisiensi

(35)

Kementerian Keuangan

• Kurangnya dukungan infrastruktur menyebabkan tingginya biaya logistik

• Salah satu penyebab kurangnya dukungan infrastruktur adalah rendahnya belanja infrastruktur.

• Lack of infrastructure  low productivity and inefficiency 1.00 2.00 3.00 4.00

Chile South Africa Korea, Rep Malaysia Indonesia

Logistics Performance Index (1=low & 5=high)

2010 2012 2014

Source: Global Competitiveness Index 2014-15,

World Economic Forum Source: World Bank

Source: APO Country Overall Infrastructure Quality of Roads Quality of Ports Quality of Electricity Supply Singapore 5 6 2 6 Japan 9 10 26 25 Malaysia 20 19 19 39 Korea 23 18 27 44 Saudi Arabia 29 26 40 26 China 64 49 53 56 Indonesia 72 72 77 84 Thailand 76 50 54 58 Iran 82 63 80 61 India 90 76 76 103

Rank of infrastructure Quality

35

Tantangan Pada Sisi Supply (2)

Rendahnya dukungan infrastruktur

(36)
(37)

Kementerian Keuangan 188 141 131 133 59 40 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200

China Malaysia Thailand Korea Philippines Indonesia

% of GDP

M2 Market Capitalization

Source: World Development Report, September 2014

6.08 5.54 7.97 6.76 6.00 13.63 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00

China Malaysia Philippines Thailand Korea, Rep. Indonesia

Deposit Rate Lending Rate Spread (RHS) Source: WDI

• Sektor Perbankan Indonesia masih belum tumbuh dengan baik dan masih tertinggal

dibandingkan dengan peers.

• Financial deepening is needed

•Akses masyarakat terhadap perbankan masih rendah (20%)

• Financial inclusion is needed

• Relatively high spread  indicates relatively inefficient banking sector

• Relatively high lending rate  constrains economic capacity enhancement

37

Tantangan Pada Sisi Supply (4)

(38)

Kementerian Keuangan

Sustainable

and Equitable

Growth

Human Capital Development: High-quality education Education and industry link

Skill training Innovation Productivity

Inclusive growth: Anti poverty policies

Social protection Financial inclusion

Investment: Public and Private:

Connectivity Logistic High tech IT Macroeconomic stability: Sustainable growth Fiscal prudence Monetary prudence Effective incentive system

Strong Purchasing power Sustainable Resources Use

Alternative /renewable energy

High value added Nat. resource industry

Strong downstream industry, including Agriculture and Fishery

38

Pertumbuhan Yang Berkelanjutan

..new Indonesian Economic growth model

(39)

Ministry of Finance, Republic of Indonesia

6 pilar penting untuk dapat tumbuh tinggi

... Usulan Prof. Joseph E. Stiglitz untuk perttumbuhan berkesinambungan

• Mekanisme redistribusi dan regulasi yang baik akan dapat menghindari berbagai bentuk kegagalan pasar.

Peran Penting Pemerintah

• Kebijakan moneter dan fiskal sebaiknya tidak terlalu fokus pada satu tujuan.

Kebijakan makroekonomi yang baik

• Pengurangan ketimpangan melalui mekanisme subsidi yang lebih tepat sasaran

Mewujudkan pertumbuhan inklusif

• Melakukan transformasi struktural

Kebijakan sektor industri

• Perluasan jangkauan pelayanan sektor keuangan melalui kerangka sistem keuangan inklusif

Pengembangan sektor keuangan

• Koordinasi yang baik antara kebijakan moneter, fiskal, dan riil juga akan menciptakan landasan yang kuat sebagai prasyarat pertumbuhan tinggi yang berkesinambungan.

Tata kelola yang baik 1 2 3 4 5 6

39

(40)

Kementerian Keuangan

40

(41)

Kementerian Keuangan

Update Perekonomian Indonesia (1)

Indikator Kinerja

Nilai Tukar •• Per 31 Desember 2013 : Rp12.189/USD depresiasi 19,54%(ytd)Per 5 Desember 2014 : Rp12.296 depresiasi 0,88% (ytd)

• Periode 2 Jan – 5 Desember 2014 Terkuat Rp11.271/USD -- Terlemah Rp12.318/USD

IHSG •• Per 31 Desember 2013 : 4.274,18 melemah 0,98% (ytd)Per 5 Desember 2014: 5.187,99 menguat 21,38% (ytd)

• Periode 2 Jan – 5 Desember 2014 Tertinggi 5.246,48 – Terendah 4.175,81

Inflasi • Inflasi sepanjang tahun 2013 sebesar 8,38% (ytd, yoy), rata-rata inflasi 2013: 6,97%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata2012: 4,28% (SBH 2007)

• Inflasi November 2014 : 1,5% (mtm) , 5,75% (ytd) atau 6,23% (yoy)

Harga Minyak Mentah Indonesia

• Per November 2014 ICP mencapai US$75,4 per barel

• Rata-rata tahun 2013 sebesar US$105,6 per barel

• Rata-rata tahun 2014 s.d November sebesar US$99,86 per barel

Arus Modal Masuk

• Total capital inflow 2013 sebesar Rp36,0T. Saham = net outflow 20,6T; SUN net inflow 53,3T; SBI = net inflow 3,3T.

• Selama November 2014 saham net inflow Rp5,28T ; SUN net inflow Rp21,34T

• Selama 2014 (s.d 4 Des) pasar saham mengalami net inflow sebesar Rp50,48 T sementara SUN net inflow Rp163,21T

• Di pasar SUN, posisi kepemilikan asing per 4 Des 2014 adalah sebesar Rp477,87T atau mencapai 39,19% dari total SUN

diperdagangkan.

Yield SUN

• Per 31 Des 2013: Yield SUN 10Y 8,47%, Yield SUN 5Y  8,07%.

• Per 5 Desember 2014: Yield SUN 10Y  7,85%, Yield SUN 5Y  7,66%

• Periode 1 Jan – 5 Desember 2014 : Yield SUN 10Y Tertinggi 9,18% -- Terendah 7,69%

Yield SUN 5Y  Tertinggi 8,67% -- Terendah 7,56%

(42)

Kementerian Keuangan

Update Perekonomian Indonesia (2)

Indikator

Kinerja

Pertumbuhan PDB

• Q3-2014: 5,01 (yoy) • Q2-2014: 5,12% (yoy) • Q1-2014: 5,21% (yoy).

• Sepanjang 2013 : 5,78% (yoy). PDB nonmigas 6,3%, PDB migas -2,8%. • Sepanjang 2012 : 6,23% (yoy). PDB nonmigas 6,8%, PDB migas -3.3%

Investasi Langsung

• Realisasi PMA/PMDN Q3 2014 mencapai Rp119,9T atau naik 19,3% (yoy)  PMA : Rp 78,3T naik 16,9%(yoy)

 PMDN : Rp 41,6T naik 24,2%(yoy)

• Realisasi PMA/PMDN semester I 2014 mencapai Rp222,8T atau naik 15,56% (yoy)  PMA : Rp 150,0T naik 13,5%(yoy)

 PMDN : Rp 72,8T naik 20,2%(yoy)

Perdagangan Internasional

• Jan – Des 2013: Ekspor tumbuh -3.93% (yoy). Impor tumbuh -2,64% (yoy)

• Oktober 2014 : Ekspor turun 2,2% (yoy) menjadi US$15,4 miliar, sementara impor turun 2,2% (yoy) menjadi US$15,3miliar. Surplus neraca perdagangan sebesar US$23,2 juta

• Jan-Okt 2014 : ekspor turun 1,6% (yoy) menjadi US$148,1 miliar, sementara impor turun 4,05% (yoy) menjadi US$149,7 miliar. Defisit perdagangan sebesar US$1,65 miliar.

Neraca Pembayaran

• NPI pada triwulan III-2014 mengalami surplus US$6,5 miliar, meningkat dari US$4,3 miliar pada triwulan sebelumnya.

• Defisit transaksi berjalan pada triwulan III-2014 tercatat sebesar US$6,8 miliar (3,07% PDB), lebih rendah dibandingkan dengan defisit US$8,7 miliar (4,06% PDB) pada triwulan II-2014 dan defisit pada periode yang sama tahun 2013 sebesar US$8,6 miliar (3,89% PDB).

• Sementara surplus transaksi modal dan finansial mencapai US$13,7 miliar, terutama didukung aliran masuk modal asing.

(43)

Kementerian Keuangan

Indeks saham terus menguat di minggu pertama Desember meski terjadi net foreign selling.

• pasar saham selama November menunjukkan kinerja yang positif, IHSG mengalami kenaikan sebesar 2,97% dibandingkan bulan sebelumnya. • Rupiah mengalami tekanan antara lain dikarenakan

menguatnya Dolar AS terhadap mata uang negara lain seiring dengan membaiknya kinerja ekonomi

AS. Dibandingkan 2013 yield SUN cenderung lebih rendah,

Yield SUN 10Y  2 Jan 2014: 8,57%  5 Des 2014 : 7,85%, Yield SUN 5Y  2 Jan 2014: 8,09%  5 Des 2014: 7,66%

Rupiah terus melemah

Yield SUN terus mengalami penurunan

IDR IHSG 4000 4200 4400 4600 4800 5000 5200 5400 11,000 11,200 11,400 11,600 11,800 12,000 12,200 12,400 3 4 5 6 7 8 9 10 Ja n-13 Fe b-1 3 M ar -13 Ap r-13 M ay -1 3 Jun -1 3 Jul -1 3 Au g-13 Se p-1 3 O ct -13 N ov-13 De c-13 Ja n-14 Fe b-1 4 M ar -14 Ap r-14 M ay -1 4 Jun -1 4 Jul -1 4 Au g-14 Se p-1 4 O ct -14 N ov-14 De c-14 1Y 5Y 10Y 6.5 7 7.5 8 8.5 9 9.5 1Y 2Y 3Y 4Y 5Y 6Y 7Y 8Y 9Y 10Y 15Y 20Y 30Y 31 Des 13 31 Mar 14 30 Okt 14 5 Des 14

43

(44)

Kementerian Keuangan

Nilai tukar rupiah dan mata uang regional melemah terhadap dolar AS

• Selama Jan – Nov terjadi net capital inflow sekitar

Rp216,35T

 Pada bulan November, pasar saham mengalami net-inflow Rp5,28,2T dan SUN mengalami inflow Rp18,47T.

 Mingu pertama bulan Desember terjadi net outflow baik di pasar SUN (Rp3,33) maupun saham (Rp0,8T).

Triliun Rupiah Total

Saham SBI SUN Bulan Kumulatif

Jan-14 2,33 0,18 4,82 7,33 7,33 Feb-14 7,82 2,87 16,49 27,18 34,51 Mar-14 14,48 -0,34 15,77 29,91 64,42 Apr-14 8,67 3,46 16,09 28,22 92,64 Mei-14 8,09 8,37 20,16 36,62 129,26 Jun-14 2,74 -3,87 6,43 5,30 134,56 Jul-14 13,07 -6,73 14,67 21,01 148,24 Agust-14 -1,32 -2,96 15,94 11,66 167,22 Sept-14 -7,4 -3,57 21,66 10,69 177,92 Okt-14 -3,20 1,85 13,17 11,81 189,73 Nov-14 5,28 n.a 21,34 26,62 216,35

Net Foreign Buying

Pergerakan Index Saham Kawasan Perubahan Nilai Tukar Kawasan

Per 5 Desember 2014 Per 5 Desember 2014 depresiasi -4.89% 2.86% 2.85% 1.30% 1.12% 2.38% 5.80% 2.39% 0.30% 1.29% 21.43% -6.3% -1.2% -0.3% 3.0% 5.0% 8.0% 10.0% 21.4% 22.8% 23.0% 38.8% -10% 0% 10% 20% 30% 40% 50% Malaysia Korea Inggris Hong Kong Singapura Amerika Serikat Jepang Indonesia Filipina Thailand Tiongkok %YTD %MoM -5.00% -1.00% -3.76% -1.95% -1.82% -0.62% -1.69% -0.50% 0.97% -0.73% -14.30% -11.17% -5.97% -5.65% -4.29% -1.62% -0.88% -0.66% -0.41% -0.10% -20% -15% -10% -5% 0% 5% Jepang Euro Malaysia Inggris Singapura China Indonesia Thailand Filipina India %YTD %MoM

44

Referensi

Dokumen terkait

Ketika memasuki tahun 2007, perekonomian nasional sedang mengalami percepatan pertumbuhan.  Mulai pulihnya daya beli konsumen, prospek laju inflasi dan tingkat suku bunga yang

Namun kedepan, sejalan dengan inflasi yang tetap terjaga, tren suku bunga pinjaman yang masih menurun serta perbaikan pertumbuhan ekonomi (meningkatkan pendapatan per kapita)

Laju inflasi tahun kalender sampai bulan Februari 2014 sebesar 1,68 persen dan inflasi year on year (Februari 2014 terhadap Februari 2013) sebesar 7,49 persen. Di kota Bukittinggi

c) PBBH adalah laju pertumbuhan burung puyuh. Dilakukan penimbangan keseluruhan sebelum diberikan perlakuan dan sesudah perlakuan. Penimbangan dilakukan sebanyak 3

Kenaikan harga Premium tersebut diperkirakan akan memicu kenaikan laju inflasi 2012 di Jawa Tengah lebih tinggi dari pada perkiraan sebelumnya (4,5% +1%) yang pada akhirnya akan

 Dengan prospek inflasi yang semakin menurun ditambah dengan kecenderungan defisit neraca transaksi berjalan yang semakin terjaga serta perlambatan pertumbuhan ekonomi dalam

 Dengan prospek inflasi yang semakin menurun ditambah dengan kecenderungan defisit neraca transaksi berjalan yang semakin terjaga serta perlambatan pertumbuhan ekonomi

Sedangkan pada saat perekonomian dianggap terlalu laju yang ditandai dengan pertumbuhan yang tinggi dan tingkat inflasi yang juga tinggi, kebijakan fiskal dan