• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOPI di warung kopi cafe (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KOPI di warung kopi cafe (1)"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS

SISTEM PRODUKSI HASIL PERKEBUNAN DAN KEHUTANAN “KOPI”

Dosen Pengampu : Beauty Suestining Dyah D. ST, MT.

Kelas P

Andika Jaya P (125100300111017) Ardi Suherman (125100301111049) Abdul Fatah Tirtayasa (125100301110068)

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

(2)

DEFINISI

Menurut Andre Illy dan Rinantonio Viani (2005) dalam Pangabeaan (2011), kopi termasuk kelompok tanaman semak belukar dengan genus Coffea. Kopi termasuk ke dalam famili Rubiaceae, subfamili Ixoroideae, dan suku Coffeae. Seorang bernama Linnaeus merupakan orang yang pertama mendeskripsikan spesies kopi (Coffea arabica) pada tahun 1753. Menurut Bridson dan Vercourt pada tahun 1988, kopi dibagi menjadi dua genus, yakni Coffea dan Psilanthus. Genus Coffea terbagi menjadi dua subgenus, yakni Coffea dan Baracoffea. Subgenus Coffea terdiri dari 88 spesies. Sementara itu, subgenus Baracoffea terdapat 7 spesies. Berdasarkan geografik (tempat tumbuh) dan rekayasa genetik, kopi dapat dibedakan menjadi lima, kopi yang berasal dari Ethiopia, Madagaskar, serta Benua Afrika bagian barat, tengah, dan timur.

Kopi merupakan salah satu dari tiga minuman non-alkoholik (kopi, teh, cokelat) yang tersebar luas. Secara komersial, kita mengenal dua jenis kopi, yaitu kopi arabika dan kopi robusta. Selain itu, terdapat jenis kopi lainnya, seperti kopi liberika yang dahulu pernah dibudidayakan, tetapi sekarang sudah ditinggalkan (pangabean, 2011).

Menurut Anwar (2009), kopi merupakan bahan penyegar yang biasanya disajikan dalam bentuk minuman yang dibuat dari biji tanaman kopi yang telah dipanggang. Tanaman kopi terbagi menjadi dua spesies, yaitu arabika dan robusta. Arabika merupakan kopi tradisional dengan rasa yang enak. Sementara itu, robusta mempunyai rasa pahit dan sedikit asam serta mengandung kafein yang lebih tinggi. Kandungan kafein dalam secangkir kopi tergantung varietas kopi tersebut.

Tanaman kopi diduga berasal dari Benua Afrika, tepatnya dari Negaara Ethiopia. Pada abad ke-9, seorang pemuda bernama Kaldi tidak sengaja memakan biji mentah yang didapat dari semak belukar. Kaldi merasakan perubahan yang luar biasa setelah memakan biji tersebut, lalu ia menceritakan hal tersebut kepada warga sekitarnya dan menyebar hingga ke berbagai daerah. Biji mentah yang dimakan tersebut merupakan biji kopi (coffee bean) atau sering disingkat dengan “bean”. Selain coffee bean dan bean, penyebutan lainnya coffee, qawah, cafe, buni, mbuni, koffie, akeita, kafe, kava, dan kafo (Pangabean, 2011).

(3)
(4)

PROSES PENGADAAN BAHAN BAKU Panen

a. Pemanenan buah kopi dilakukan secara manual dengan cara memetik buah

yang telah masak. Ukuran kematangan buah ditandai oleh perubahan warna kulit buah. Kulit buah berwarna hijau tua ketika masih muda, berwarna kuning ketika setengah masak dan berwarna merah saat masak penuh dan menjadi kehitam-hitaman setelah masak penuh terlampaui (over ripe).

b. Kematangan buah kopi juga dapat dilihat dari kekerasan dan komponen

senyawa gula di dalam daging buah. Buah kopi yang masak mempunyai daging buah lunak dan berlendir serta mengandung senyawa gula yang relatif tinggi sehingga rasanya manis. Sebaliknya daging buah muda sedikit keras, tidak berlendir dan rasanya tidak manis karena senyawa gula masih belum terbentuk maksimal. Sedangkan kandungan lendir pada buah yang terlalu masak cenderung berkurang karena sebagian senyawa gula dan pektin sudah terurai secara alami akibat proses respirasi.

c. Tanaman kopi tidak berbunga serentak dalam setahun, karena itu ada beberapa cara pemetikan :

1) Pemetikan selektif dilakukan terhadap buah masak.

2) Pemetikan setengah selektif dilakukan terhadap dompolan buah masak.

3) Secara lelesan dilakukan terhadap buah kopi yang gugur karena terlambat pemetikan.

4) Secara racutan/rampasan merupakan pemetikan terhadap semua buah kopi yang masih hijau, biasanya pada pemanenan akhir.

Sortasi

(5)

b. Biji merah (superior) diolah dengan metoda pengolahan basah atau semi-basah, agar diperoleh biji kopi HS kering dengan tampilan yang bagus. Sedangkan buah campuran hijau,kuning, merah diolah dengan cara pengolahan kering.

c. Hal yang harus dihindari adalah menyimpan buah kopi di dalam karung plastik atau sak selama lebih dari 12 jam, karena akan menyebabkan pra-fermentasi sehingga aroma dan citarasa biji kopi menjadi kurang baik dan berbau busuk (fermented).

Pengolahan Cara kering

Metoda pengolahan cara kering banyak dilakukan mengingat kapasitas olah kecil, mudah dilakukan, peralatan sederhana dan dapat dilakukan di rumah petani. Tahapan pengolahan kopi cara kering dapat dilihat pada skema berikut :

Panen

Sortasi Buah

Pengeringan

Pengupasan kopi

Sortasi biji kering

Pengemasan dan penyimpanan biji

(6)

a. Pengeringan

1) Kopi yang sudah di petik dan disortasi harus sesegera mungkin dikeringkan agar tidak mengalami proses kimia yang bisa menurunkan mutu. Kopi dikatakan kering apabila waktu diaduk terdengar bunyi gemerisik.

2) Beberapa petani mempunyai kebiasaan merebus kopi gelondang lalu dikupas kulitnya, kemudian dikeringkan. Kebiasaan merebus kopi gelondong lalu dikupas kulit harus dihindari karena dapat merusak kandungan zat kimia dalam biji kopi sehingga menurunkan mutu. 3) Apabila udara tidak cerah pengeringan dapat menggunakan alat

pengering mekanis.

4) Tuntaskan pengeringan sampai kadar air mencapai maksimal 12,5 % 5) Pengeringan memerlukan waktu 2-3 minggu dengan cara dijemur 6) Pengeringan dengan mesin pengering tidak diharuskan karena

membutuhkan biaya mahal. b. Pengupasan kulit ( Hulling)

1) Hulling pada pengolahan kering bertujuan untuk memisahkan biji kopi dari kulit buah, kulit tanduk dan kulit arinya.

(7)

Pengolahan Cara Basah (Fully Washed)

Tahapan pengolahan kopi cara basah dapat dilihat pada skema berikut :

Gambar 2. Alur proses pengolahan kopi secara basah (Fully washed)

a. Pengupasan Kulit Buah

Pengupasan kulit buah dilakukan dengan menggunakan alat dan mesin pengupas kulit buah (pulper). Pulper dapat dipilih dari bahan dasar yang terbuat dari kayu atau metal. Air dialirkan kedalam silinder bersamaan dengan buah yang akan dikupas. Sebaiknya buah kopi dipisahkan atas dasar ukuran

Panen Pilih

Sortasi Buah

Pengupasan kulit buah merah

Fermentasi

Pencucian

Pengeringan

(8)

sebelum dikupas.

b. Fermentasi

1) Fermentasi umumnya dilakukan untuk pengolahan kopi Arabika, bertujuan untuk meluruhkan lapisan lendir yang ada dipermukaan kulit tanduk biji kopi. Selain itu, fermentasi mengurangi rasa pahit dan mendorong terbentuknya kesan “mild” pada citarasa seduhan kopi arabika.

2) Fermentasi ini dapat dilakukan secara basah dengan merendam biji kopi dalam genangan air, atau fermentasi cara kering dengan cara menyimpan biji kopi HS basah di dalam wadah plastik yang bersih dengan lubang penutup dibagian bawah atau dengan menumpuk biji kopi HS di dalam bak semen dan ditutup dengan karung goni.

3) Agar fermentasi berlangsung merata, pembalikan dilakukan minimal satu kali dalam sehari.

4) Lama fermentasi bervariasi tergantung pada jenis kopi, suhu, dan kelembaban lingkungan serta ketebalan tumpukan kopi di dalam bak. Akhir fermentasi ditandai dengan meluruhnya lapisan lendir yang menyelimuti kulit tanduk. Waktu fermentasi berkisar antara 12 sampai 36 jam.

c. Pencucian

1) Pencucian bertujuan menghilangkan sisa lendir hasil fermentasi yang menempel di kulit tanduk.

2) Untuk kapasitas kecil, pencucian dikerjakan secara manual di dalam bak atau ember, sedangkan kapasitas besar perlu dibantu mesin.

d. Pengeringan

1) Pengeringan bertujuan mengurangi kandungan air biji kopi HS dari 60 – 65 % menjadi maksimum 12,5 %. Pada kadar air ini, biji kopi HS relatif aman

(9)

lingkungan tropis.

3) Pengeringan dilakukan dengan cara penjemuran, mekanis, dan kombinasi keduanya.

4) Penjemuran merupakan cara yang paling mudah dan murah untuk pengeringan biji kopi. Penjemuran dapat dilakukan di atas para-para atau lantai jemur. Profil lantai jemur dibuat miring lebih kurang 5 – 7 o

dengan sudut pertemuan di bagian tengah lantai.

5) Ketebalan hamparan biji kopi HS dalam penjemuran sebaiknya 6 – 10 cm lapisan biji. Pembalikan dilakukan setiap jam pada waktu kopi masih basah. Pada areal kopi Arabika, yang umumnya didataran tinggi, untuk mencapai kadar air 15 -17 %, waktu penjemuran dapat berlangsung 2 – 3 minggu.

6) Pengeringan mekanis dapat dilakukan jika cuaca tidak memungkinkan untuk melakukan penjemuran. Pengeringan dengan cara ini sebaiknya dilakukan secara berkelompok karena membutuhkan peralatan dan investasi yang cukup besar dan tenaga pelaksana yang terlatih. Dengan mengoperasikan pengering mekanis secara terus menerus siang dan malam dengan suhu 45 – 500 C, dibutuhkan waktu 72 jam untuk

mencapai kadar air 12,5 %. Penggunaan suhu tinggi di atas 600 C

untuk pengeringan kopi Arabika harus dihindari karena dapat merusak citarasanya. Sedangkan untuk kopi Robusta, biasanya diawali dengan suhu lebih tinggi, yaitu sampai 90 – 1000C dengan waktu 20 – 24 jam

untuk mencapai kadar air maksimum 12,5 %, (pemanasan yang lebih singkat), karena jika terlalu lama maka warna permukaan biji kopi cenderung menjadi kecoklatan Untuk kopi Robusta dibutuhkan waktu 20-24 jam untuk mencapai kadar air 12,5 %.

(10)

terlebih dahulu hingga mencapai kadar air 20 – 25 %, maka untuk mencapai kadar air 12,5% diperlukan waktu pengeringan dengan mesin pengering selama 24 – 36 jam dengan suhu 45-50 0C.

e. Pengupasan kulit kopi HS

1) Pengupasan dimaksudkan untuk memisahkan biji kopi dari kulit tanduk yang menghasilkan biji kopi beras.

2) Pengupasan dapat dilakukan dengan menggunakan mesin pengupas (huller).

3) Sebelum dimasukkan ke mesin pengupas (huller), biji kopi hasil pengeringan didinginkan terlebih dahulu (tempering) selama minimum 24 jam.

Pengolahan Cara Semi Basah (Semi Washed Process)

Pengolahan secara semi basah saat ini banyak diterapkan oleh petani kopi arabika di NAD, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Cara pengolahan tersebut menghasilkan kopi dengan citarasa yang sangat khas, dan berbeda dengan kopi yang diolah secaara basah penuh (WP). Ciri khas kopi yang diolah secara semi-basah ini adalah berwarna gelap dengan fisik kopi agak melengkung. Kopi Arabika cara semi-basah biasanya memiliki tingkat keasaman lebih rendah dengan body lebih kuat dibanding dengan kopi olah basah penuh.

(11)

Pengupasan kulit cangkang Panen Pilih

Sortasi Buah

Pengupasan kulit buah merah

Fermentasi + pencucian lendir

Penjemuran 1-2 hari, KA ± 40 %

Penjemuran biji sampai KA 11 - 13 %

Penyimpanan dan penggudangan Sortasi dan pengemasan

Buah inferior diolah DP

(12)

a. Pengupasan kulit buah

1) Proses pengupasan kulit buah (pulp) sama dengan pada cara

basah-penuh. Untuk dapat dikupas dengan baik, buah kopi harus tepat masak (merah) dan dilakukan sortasi buah sebelum dikupas, yaitu secara manual dan menggunakan air untuk memisahkan buah yang diserang hama.

2) Pengupasan dapan menggunakan pulper dari kayu atau metal. Jarak silinder dengan silinder pengupas perlu diatur agar diperoleh hasil kupasan yang baik (utuh, campuran kulit minuman) beberapa tipe pulper memerlukan air untuk membantu proses pengupasan

3) Biji HS dibersihkan dari kotoran kulit dan lainnya sebelum

difermentasi.

b. Fermentasi dan Pencucian

a. Untuk memudahkan proses pencucian, biji kopi HS perlu difermentasi selama semalam atau lebih. Apabila digunakan alat-mesin pencuci lendir, proses fermentasi dapat dilalui.

b. Proses fermentasi dilakukan secara kering dalam wadah karung plastik

atau tempat dari plastik yang bersih.

c. Setelah difermentasi semalam kopi HS dicuci secara manual atau

menggunakan mesin pencuci (washer). c. Pengeringan awal

a. Pengeringan awal dimaksudkan untuk mencapai kondisi tingkat

kekeringan tertentu dari bagian kulit tanduk/cangkang agar mudah dikupas walaupun kondisi biji masih relatif basah.

b. Proses pengeringan dapat dilakukan dengan penjemuran selama 1-2

hari sampai kadar air mencapai sekitar ± 40 %, dengan tebal lapisan kopi kurang dari 3 cm (biasanya hanya satu lapis) dengan alas dari terpal atau lantai semen.

c. Biji kopi dibalik-balik setiap ± 1 jam agar tingkat kekeringannya

(13)

d. Jaga kebersihan kopi selama pengeringan. d. Pengupasan kulit tanduk/cangkang

Pengupasan kulit tanduk/cangkang pada kondisi biji kopi masih relatif basah dapat dilakukan dengan menggunakan huller yang didisain khusus untuk proses tersebut. Agar kulit dapat dikupas maka kondisi kulit harus cukup kering walaupun kondisi biji yang ada didalamnya masih basah:

a. Pastikan kondisi huller bersih, berfungsi normal dan bebas dari bahan-bahan yang dapat mengkonyimasi kopi sebelum digunakan

b. Lakukan pengupasan sesaat setelah pengeringan/penjemuran awal kopi HS. Apabila sudah bermalam sebelum dikupas kopi HS harus dijemur lagi sesaat sampai kulip cukup kering kembali

c. Atur aturan huller dan aliran bahan kopi agar diperoleh proses

pengupasan yang optimum. Sejumlah tertentu porsi kulit masih terikut bersama biji kopi labu yang keluar dari lubang keluaran biji. Hal tersebut tidak begitu masalah, karna porsi kulit tersebut mudah dipisahkan dengan tiupan udara (aspirasi) setalah kopi dikeringkan d. Biji kopi labu yang keluar harus segera dikeringkan, hindari

penyimpanan biji kopi yang masih basah karena akan terserang jamur yang dapat merusak biji kopi baik secara fisik atau citarasa, serta dapat terkontiminasi oleh mikotoksin (okhtratoksin A, aflatoksin dll)

e. Bersihkan huller setelah digunakan, agar sisa-sisa kopi dan kulit yang masih basah tidak tertinggal dan berjamur di dalam mesin.

e. Pengeringan biji kopi labu

1) Keringkan biji kopi labu hasil pengupasan dengan penjemuran atau menggunakan mesin pengering mekanis

2) Aturan tebal hamparan biji kopi kurang dari 5 cm, gunakan alas pelastik atau terpal atau latai semen. Hindari penjemuran langsung diatas permukaan tanah.

(14)

4) Tuntaskan proses pengeringan sampai dicapai kadar air biji 11-12% biasanya diperlukan waktu 3-5 hari dalam kondisi normal

5) Hindari penyimpanan biji kopi yang belum kering dalam waktu yang lebih dari 12 jam, karena akan rusak akibat dari serangan jamur.

Sortasi Kopi Beras

a. Sortasi dilakukan untuk memisahkan biji kopi dari kotoran-kotoran non kopi seperti serpihan daun, kayu atau kulit kopi.

b. Biji kopi beras juga harus disortasi secara fisik atas dasar ukuran dan cacat

biji. Sortasi ukuran dapat dilakukan dengan ayakan mekanis maupun dengan manual.

c. Pisahkan biji-biji kopi cacat agar diperoleh massa biji dengan nilai cacat sesuai dengan ketentuan SNI 01-2907-1999

Pengemasan dan Penggudangan

a. Kemas biji kopi dengan menggunakan karung yang bersih dan baik, serta

diberi label sesuai dengan ketentuan SNI 01-2907-1999. Simpan tumpukan kopi dalam gudang yang bersih, bebas dari bau asing dan kontaminasi lainnya

b. Karung diberi label yang menunjukkan jenis mutu dan identitas produsen. Cat

untuk label menggunakan pelarut non minyak.

c. Gunakan karung yang bersih dan jauhkan dari bau-bau asing

d. Atur tumpukan karung kopi diatas landasan kayu dan beri batas dengan dinding

e. Monitor kondisi biji selama disimpan terhadap kondisi kadar airnya, keamanan terhadap organisme gangguan (tikus, serangga, jamur, dll) dan faktor-faktor lain yang dapat merusak kopi

f. Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam penggudangan adalah: kadar

(15)

SISTEM PENGOLAHAN

1. Pengolahan Produk Primer Kopi a. .Panen Tepat Matang

Buah buah kopi matang ditandai oleh perubahan warna kulit buah kopi yang semula hijau menjadi merah.

b.Sortasi Buah Sehat

Buah sehat adalah buah matang yang bernas, tidak terkena serangan hama dan penyakit dan ditandai oleh tampilan kulit buah yang mulus dan segar. Buah kopi merah segera diolah lanjut tanpa penundaan.

c.Pengupasan Kulit Buah

Buah dikupas secara mekanis untuk memisahkan biji berkulit tanduk [biji kopi HS] dan kulit buah. Biji kopi HS diolah lanjut sebagai bahan minuman, sedangkan kulit buah merupakan limbah yang dapat digunakan sebagai bahan baku kompos, pakan ternak dan biogas.

d.Pencucian Biji Kopi

Biji kopi yang telah fermentasi dicuci secara mekanis dan dibilas dengan air sampai permukaan kulit tanduk menjadi licin.

e. Pencucian Biji Kopi

Biji kopi yang telah fermentasi dicuci secara mekanis dan dibilas dengan air sampai permukaan kulit tanduk menjadi licin

f. Pengeringan Mekanis

Biji kopi HS dikeringkan secara mekanis pada suhu 50-55 oC. Kadar air biji kopi yang semula 55 % turun menjadi 12 % selama 40 jam. Bahan bakar pengering adalah kayu yang diperoleh dari hasil pangkasan pohon pelindung tanaman. Kipas udara pengering digerakkan oleh motor listrik atau motor disel dengan bahan bakar bio-disel.

g. Pengupasan Biji Kopi Hs Kering

(16)

pakan ternak.

h. Sortasi Biji Kopi Kering

Biji kopi beras disortasi secara mekanik untuk memisahkan biji ukuran besar [ukuran > 6,5 mm], ukuran medium [5,5 mm<d<6,5mm] dan ukuran kecil [< 5,5 mm]. Biji pecah dan biji kecil terpisah di rak paling bawah.

i. Pengemasan Dan Penggudangan

Biji kopi beras atas dasar ukurannya dikemas dalam karung goni [@ 60 – 90 kg] berlabel produksi dan disimpan dalam gudang yang bersih dan berventilasi cukup. Tumpukan karung-karung disangga di atas palet kayu dan tidak menempel di dinding gudang.

2. Pengolahan Produk Sekunder [Biji Kopi Sangrai Dan Kopi Bubuk] a.Biji Kopi

Biji kopi merupakan bahan baku minuman sehingga aspek mutu [fisik, kimiawi, kontaminasi dan kebersihan] harus diawasi sangat ketat karena menyangkut citarasa, kesehatan konsumen, daya hasil [rendemen] dan efisiensi produksi. Dari aspek citarasa dan aroma, seduhan kopi akan sangat baik jika biji kopi yang digunakan telah diolah secara baik.

b. Penyangraian

Kunci dari proses produksi kopi bubuk adalah penyangraian. Proses sangrai diawali dengan penguapan air dan diikuti dengan reaksi pirolisis. Secara kimiawi, proses ini ditandai dengan evolusi gas CO2 dalam jumlah banyak dari ruang sangrai. Sedang secara fisik, pirolisis ditandai dengan perubahan warna biji kopi yang semula kehijauan menjadi kecoklatan. Kisaran suhu sangrai yang umum adalah antara 195 sampai 205oC.

c. Tingkat Sangrai

Waktu penyangraian bervariasi mulai dari 7 sampai 30 menit tergantung pada suhu dan tingkat sangrai yang diinginkan. Kisaran suhu sangrai adalah sebagai berikut, Suhu 190 –195 oC untuk tingkat sangrai ringan [warna coklat muda],

(17)

atas 205 oC untuk tingkat sangrai gelap [warna coklat tua cenderung agak hitam].

d. Pencampuran

Untuk mendapatkan citarasa dan aroma yang khas, kopi bubuk bisa diperoleh dari campuran berbagai jenis kopi atas dasar jenisnya [Arabika, Robusta, Exelsa dll], jenis proses yang digunakan [proses kering, semi-basah, basah], dan asal bahan baku [ketinggian, tanah dan agroklimat]. Pencampuran dilakukan dengan alat pencampur putar tipe hexagonal.

e. Penghalusan Biji Kopi Sangrai

Biji kopi sangrai dihaluskan dengan alat penghalus [grinder] sampai diperoleh butiran kopi bubuk dengan kehalusan tertentu. Butiran kopi bubuk mempunyai luas permukaan yang sangat besar sehingga senyawa pembentuk citarasa dan senyawa penyegar mudah larut saat diseduh ke dalam air panas.

f. Pengemasan

Biji kopi sangrai atau kopi bubuk dikemas dalam kemasan aluminium foil dan dipress panas. Kesegaran, aroma dan citarasa kopi bubuk atau kopi sangrai akan terjaga dengan baik pada kemasan vakum supaya kandungan oksigen di dalam kemasan minimal. Untuk mempermudah pemasaran dan distribusi ke konsumen, kemasan kopi bubuk atas dasar jenis mutu, ukuran kemasan dan bentuk kemasan dimasukkan dan dimuat di dalam kardus [karton]. Kardus diberi nama perusahan, merek dagang dan label produksi yang jelas. Tumpukan kardus kemudian disimpan di dalam gudang dengan sanitasi, penerangan dan ventilasi yang cukup.

Pengolahan Produk Kopi Instan a. Bubuk Kopi

Bubuk kopi sangrai merupakan bahan baku kopi instant. Bubuk kopi diperoleh dari proses penghalusan biji kopi sangrai. Ukuran partikel bubuk diatur pada tingkat medium [hasil ayakan 60 Mesh].

b. Pelarutan

(18)

dikempa secara manual untuk mengekstrak komponen kopi yang masih tertinggal. Kisaran rendemen ekstraksi antara 30 – 32 % [berat]. Sisa bubuk kopi merupakan limbah untuk diolah menjadi biogas.

c. Kristalisasi

Ekstrak kopi dimasukkan ke dalam alat kristalisator dan ditambah gula dengan proporsi 1/1. Selama 30 menit pertama, larutan ekstrak kopi dan gula dipanaskan pada 100 oC. Setelah larutan mendekati jenuh, suhunya diturunkan menjadi 70 oC

selama 20 menit berikutnya. Pada 10 menit terakhir, sumber panas dimatikan. Larutan jenuh kemudian didinginkan dengan udara lingkungan sampai terbentuk kristal gula-kopi.

d. Penghalusan

Kristal gula-kopi digiling secara mekanik menjadi bubuk halus. e. Pencampuran

Selain disajikan dalam bentuk murni, bubuk kopi instant juga bisa dicampur dengan bubuk krimer susu instant pada proporsi tertentu dengan alat pencampur putar tipe hexagonal.

f. Pengemasan

Bubuk kopi-krimer instant dikemas dalam kemasan saset aluminium foil @ 25 gr [sebagai pengemas primer].

g. Pelabelan

(19)

SISTEM PEMASARAN

Sistem pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, promosi dan mendsitribusikan barang-barang yang dapat memuaskan keinginandan mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan

Segmentasi

Segmentasi pasar dilakukan dengan membagi pasar heterogen menjadi kelompok homogen yang berbeda sehingga dapat diketahui ke arah mana produk akan dipasarkan.

1. Segmentasi berdasarkan geografis:

a. Propinsi : jawa timur b. Kota : malang

c. Daerah Tujuan : Penduduk yang tinggal di malang Kota 2. Segmentasi berdasarkan demografis

a. Umur : ≥ 17- 60 tahun 3. Segmentasi berdasarkan psikografis a. Gaya hidup : Sederhana

b. Kelas sosial : Kelas bawah sampai kelas atas

Targetting

Targetting adalah suatu kegiatan dalam mengevaluasi dan membandingkan kelompok yang sudah teridentifikasi untuk kemudian dipilih satu atau beberapa yang memiliki potensi tertinggi. Setelah dilakukan segmentasi pasar, maka dilakukan pemilihan target pasar yang memenuhi kriteria dalam pemasaran produk Kopi. Dalam hal ini, dipilih target pasar dengan spesifikasi:

(20)

Positioning

Positioning merupakan salah satu strategi dalam kegiatan pemasaran yang memiliki tujuan untuk membuat konsumen mengingat pada produk dengan cara memberikan perbedaan, dan manfaat yang lain dengan produk yang lain. Positioning pada produk Kopi berupa:

1. Mengidentifikasi target pasar

Target pasar yang ditujukan adalah semua kalangan masyarakat dari usia 17- 60 tahun yang bertempat tinggal di daerah malang Kota.

2. Menentukan keunggulan produk Kopi

Hal yang harus dilakukan untuk memberikan kesan pada konsumen adalah dengan memberikan keunggulan dari produk yang sejenis dengan pesaing.

Marketing Mix

Hal yang perlu diperhatikan dalam marketing mix Kedai Kopi Medan adalah dengan memperhatikan strategi 4P, yaitu product, price, promotion, dan place.

1. Strategi product

Strategi product dapat dilakukan dengan menggunakan jenis kopi yang bagus, harum dan berkualitas tinggi. Menjual produk dengan berbagai jenis kopi yakni kopi arabika, Expresso, Cappucino, Moccachino, Coffe Latte, Frappucino, dan White Coffee dan untuk makanan cemilannya adalah roti bakar dengan rasa coklat, keju, strawberry, srikaya, dan nenas.

2. Strategi price

(21)

a. Single Price adalah harga minuman dan makana per unit. Berikut ini harga kopi dan roti

b. Bundel Price adalah harga yang dijadika lebih murah oleh gabungan 2 harga yang berbeda.

3. Strategi promotion

Strategi promotion dilakukan dengan penjualan secara langsung pada konsumen, menyebarkan brosur, dan pemasaran melalui media online.

4. Strategi place

Strategi place dilakukan dengan membuka kedai kopi yang dekat dengan konsumen dan lokasi yang strategis sehingga produk mudah untuk dicari konsumen.

Analisis SWOT

Berikut analisis SWOT yang menggambarkan kekuatan dan kelemahan serta ancaman dan peluang yang akan dihadapi Kedai Kopi Medan, yakni:

1. Kekuatan (Strength)

a. Menjual minuman kopi yang berkualitas tinggi dan bervariatif b. Layanan terhadap pelanggan yang menyenangkan, baik, dan sopan c. Minuman yang disajikan dalam bentuk yang menarik

d. Loyalitas pelanggan yang tinggi. 2. Kelemahan (Weakness)

a. Kesulitan memperkenalkan merek kedai kopi medan ke konsumen b. Anggaran pemasaran yang terbatas untuk memasarkan produk minuman

c. Kesulitan menemukan seseorang dengan keterampilan kuliner yang cukup untuk mendukung

d. Kurangnya jenis minuman yang ditawarkan 3. Peluang (Opportunity)

a. Pertumbuhan pasar yang terus meningkat terhadap kebutuhan kopi

b. Belum banyak kedai kopi yang menjual produk seperti di Kedai Kopi Medan c. Kemampuan untuk menarik perhatian konsumen karena produk minuman yang menarik dan inovatif.

(22)

4. Ancaman (Threat)

a. Persaingan yang menyediakan kedai kopi di Medan cukup banyak. b. Tingginya biaya yang melekat pada produksi minuman kopi. c. Harga pesaing yang lebih murah.

(23)

FAKTOR PENDUKUNG

Standarisasi

Standar mutu diperlukan sebagai tolok ukur dalam pengawasan mutu dan merupakan perangkat pemasaran dalam menghadapi klaim dari konsumen dan dalam memberikan umpan balik ke bagian pabrik dan bagian kebun.

Standardisasi meliputi definisi, klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan, cara pengemasan. Standar Nasional Indonesia Biji kopi menurut SNI No 01-2907-1999 seperti pada Tabel 1 dan 2.

Tabel.1. Spesifikasi Persyaratan Mutu

No Jenis Uji Satuan Persyaratan

1 Kadar air, (b/b) % Masksimum 12

2 Kadar kotoran berupa ranting, batu, tanah dan benda-benda asing lainnya

5 Biji ukuran besar, tidak lolos ayakan lubang bulat ukuran diameter 7.5 mm (b/b)

% Maksimum lolos 2.5

6 Biji ukuran sedang lolos ayakan lubang bulat ukuran diameter 7.5 mm, tidak lolos ayakan lubang bulat ukuran diameter 6.5 mm (b/b)

% Maksimum lolos 2.5

7 Biji ukuran kecil, lolos ayakan lubang bulat ukuran diameter 6.5 mm, tidak lolos ayakan lubang bulat ukuran diameter 5,5 mm (b/b)

% Maksimum lolos 2.5

Tabel 2. Jenis Mutu

(24)

Mutu 1 Jumlah nilai cacat maksimum 11

Mutu 2 Jumlah nilai cacat 12 sampai dengan 25

Mutu 3 Jumlah nilai cacat 26 sampai dengan 44 Mutu 4-A Jumlah nilai cacat 45 sampai dengan 60

Mutu 4-B Jumlah nilai cacat 61 sampai dengan 80

Mutu 5 Jumlah nilai cacat 81 sampai dengan 150

Mutu 6 Jumlah nilai cacat 151 sampai dengan 225

Pelestarian Lingkungan

Pada prinsipnya penanganan pasca panen kopi harus memperhatikan keamanan pangan. Oleh karena itu harus dihindari terjadinya kontaminasi silang terhadap beberapa aspek yaitu :

a. Fisik (kontaminasi dengan barang-barang asing selain kopi, misalnya : rambut, kotoran, dll);

b. Kimia (tercemar bahan-bahan kimia);

c. Biologi (tercemar jasad renik yang bisa berasal dari pekerja yang sakit, kotoran/sampah di sekitar yang membusuk)

Tidak kalah pentingnya adalah penanganan limbah yang ramah lingkungan sehingga diperoleh produk akhir yang bersih dan sehat (clean product). Pada prinsipnya harus diperhatikan agar pemrosesan suatu produk tidak menimbulkan masalah lingkungan. Limbah yang dihasilkan harus dikelola dengan baik dan benar, seperti misalnya : limbah yang berupa bahan organik dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos; limbah yang berupa air harus dibuatkan saluran dan pembuangannya yang baik sehingga tidak menimbulkan genangan yang dapat menjadi sumber penyakit. Beberapa aspek yang harus dilakukan adalah :

1. Rencana Penanggulangan Pencemaran Lingkungan

(25)

a. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengolahan Lingkungan Hidup;

b. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan;

c. Peraturan Pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

2. Upaya Pencegahan Lingkungan

Dalam upaya pencegahan pencemaran lingkungan diperlukan perhatian khusus terhadap beberapa hal seperti :

a. Mencegah timbulnya erosi serta membantu penghijauan di areal usaha;

b. Menghindari polusi dan gangguan lain yang berasal dari lokasi usaha yang dapat mengganggu lingkungan berupa bau busuk, suara bising, serangga, tikus serta pencemaran air sungai/sumur;

c. Setiap usaha penanganan pasca panen kopi, harus membuat unit pengolahan limbah perusahaan (padat, cair dan gas) yang sesuai dengan kapasitas produksi limbah yang dihasilkan.

Pengawasan

1. Sistem Pengawasan

a. Usaha penanganan pasca panen kopi menerapkan sistem pengawasan secara baik pada titik kritis dalam proses penanganan pasca panen untuk memantau kemungkinan adanya kontaminasi;

(26)

2. Sertifikasi

a. Usaha penanganan pasca panen kopi yang produksinya untuk tujuan ekspor harus dilengkapi dengan sertifikat;

b. Sertifikat dikeluarkan oleh instansi yang berwenang setelah melalui penilaian dan rekomendasi.

3. Monitoring dan Evaluasi

b. Monitoring dan evaluasi dilakukan oleh lembaga yang berwenang di bidang perkebunan di provinsi/kabupaten/kota;

c. Evaluasi dilakukan setiap tahun berdasarkan data dan informasi yang dikumpulkan serta pengecekan/kunjungan ke usaha penanganan pasca panen kopi

4. Pencatatan

Usaha penanganan pasca panen kopi hendaknya melakukan pencatatan (recording) data yang terurut sewaktu-waktu dibutuhkan. Data yang perlu dicatat adalah : membuat laporan baik teknis maupun administratif, secara berkala (6 bulan dan tahunan) untuk keperluan pengawasan intern sehingga apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dapat mengadakan perbaikan/perubahan berdasarkan pelaporan yang ada.

(27)

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, F, dan Khomsan, A. 2009. Makan Tepat, Badan Sehat. Penerbit Hikmah. Jakarta.

Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian. 2006. Statistik Perkebunan Indonesia 2003 – 2005 (Kopi), Jakarta

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. 2006. Pengolah Produk Primer dan Sekunder Kopi. http://iccri.net/pengolahan-kopi/. Diakses 17 Desember 2014, 19:40

Gambar

Gambar 1.  Alur proses pengolahan kopi secara kering (Dry Process)
Gambar 2.  Alur proses pengolahan kopi secara basah (Fully washed)
Gambar 3. Alur proses pengolahan kopi secara semi-basah (Semi-Washed)
Tabel.1.   Spesifikasi Persyaratan Mutu

Referensi

Dokumen terkait

Fermentasi yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan biji kopi arabika pilihan dengan bakteri penghasil enzim xilanase hasil isolasi dari feses luwak.. Waktu fermentasi biji

Bahan baku yang digunakan berapa biji kopi jenis Arabika dan Robusta. Hasil Pusat Pengolahan Kopi dan

Kajian Mutu Biji Kopi Arabika (Coffee arabica) Kering Hasil Fermentasi Pengolahan Semi Basah Menggunakan Fermentor Terkendali; Diyah Ayukostioyorini, 081710201008;

Hal ini menunjukkan bahwa model page merupakan model terbaik untuk mempresentasekan pengeringan lapisan tipis biji kopi arabika dan biji kopi robusta karena memiliki nilai

Dalam pengolahan kopi bubuk terdapat berbagai perlakuan yaitu dimulai dari; Pengelupasan kulit tanduk(kopi biji) menjadi kopi beras; penyangraian kopi beras; agroindustri kopi

Pengupasan kulit tanduk pada kondisi biji kopi yang masih relatif basah (kopi labu) dapat dilakukan dengan menggunakan mesin pengupas (huller)1. Agar kulit

Biji berkulit tanduk adalah biji kopi yang masih terbungkus oleh kulit tanduk yang membungkus biji tersebut dalam keadaan utuh maupun besarnya sama dengan atau lebih besar dari ¾

Metode Basah Full dan Semi Wash Pada proses basah, proses fermentasi lapisan lendir di permukaan biji kopi HS basah dilakukan secara terkendali dalam suatu wadah atau bak dengan