Di Indonesia kopi mulai dikenal pada tahun 1696 yang dibawa oleh VOC. Tanaman kopi di Indonesia mulai di produksi di pulau Jawa dan hanya bersifat coba-coba, tetapi karena hasilnya memuaskan dan dipandang cukup menguntungkan oleh VOC sebagai komoditi perdagangan maka VOC menyebarkannya ke berbagai daerah agar para penduduk menanamnya (Najiyanti dan Danarti, 2004).
Menurut Najiyati dan Danarti (2006), kopi adalah spesies tanaman tahunan berbentuk pohon. Di dunia perdagangan, dikenal beberapa golongan kopi, tetapi yang paling sering dibudidayakan hanya kopi arabika, robusta, dan liberika. Secara lengkap, klasifikasi botani kopi adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Rubiales Famili : Rubiaceae Genus : Coffea Spesies : Coffea sp.
Buah kopi terdiri dari daging buah dan biji. Daging buah terdiri dari tiga lapisan yaitu lapisan kulit luar (exocarp), daging buah (mesocarp), dan kulit tanduk (endocarp) yang tipis, tetapi keras. Kulit luar terdiri dari satu lapisan tipis. Kulit buah yang masih muda berwarna hijau tua yang kemudian berangsur-angsur menjadi hijau kuning, kuning, dan akhirnya menjadi merah, merah hitam jika buah tersebut sudah masak sekali. Daging buah yang sudah masak akan berlendir dan rasanya agak manis. Biji terdiri dari kulit biji dan lembaga. Kulit biji atau endocarp yang keras biasa disebut kulit tanduk. Lembaga
(endosperma) merupakan bagian yang dimanfaatkan untuk membuat minuman kopi (Ciptadi dan Nasution 1985; Najiyati dan Danarti 2006).
(b) (a)
Gambar 2. Bagian – bagian buah kopi ( Sumber : Najiyati dan Danarti, 2006)
2.2 Kopi Arabika
Tumbuhan kopi (Coffea Sp.) termasuk familia Rubiaceae yang dikenal mempunyai sekitar 500 jenis dengan tidak kurang dari 600 species. Genus Coffea merupakan salah satu genus penting dengan beberapa species yang mempunyai nilai ekonomi dan dikembangkan secara komersial, terutama Coffea arabica (dengan hibridanya), Coffea liberica, dan Coffea canephora (di antaranya varietas robusta) (Siswoputranto, 1993).
Kopi arabika merupakan jenis tertua yang dikenal dan dibudidayakan dunia dengan varietas-varietasnya yaitu Maragocipe, Amarella, Bourbon, Murta, San Raon, Mocca, dan Nacional. Di Indonesia beberapa varietas kopi yang termasuk kopi arabika dan banyak diusahakan antara lain Abesinia, Pasumah, Marago type dan Congensis. Masing-masing varietas tersebut mempunyai sifat yang agak berbeda dengan yang lainnya (Siswoputranto, 1993).
Menurut Siswoputranto (1993), tanaman kopi arabika membutuhkan kelembaban udara yang cukup, berkaitan dengan masalah hilangnya air pada saat proses penguapan terutama selama musim panas. Selain itu, tanaman kopi arabika menghendaki tanah subur dengan drainase yang baik, curah hujan minimum 1300 mm/th dan toleran terhadap curah hujan yang tinggi. Masa bulan kering pendek dan maksimum 4 bulan. Jenis keasaman tanah yang dibutuhkan dengan pH 5,2-6,2 dengan kesuburan tanah yang baik. Kapasitas panambatan air juga tinggi, pengaturan tanah baik dan kedalaman tanah yang cukup. Untuk budidaya kopi dianjurkan memilih kawasan yang memenuhi persyaratan tersebut.
Biji kopi arabika berukuran cukup besar, dengan bobot 18-22 gr tiap 100 biji. Warna biji agak coklat dan biji yang terolah dengan baik akan mengandung warna agak kebiruan dan kehijauan. Yang bermutu baik dengan rasa khas kopi arabika yang kuat dan rasa sedikit asam, kandungan kafein: 1-1,3%. Kopi arabika yang terkenal dari Indonesia adalah kopi arabika asal Toraja dan asal Takengon (Aceh) yang memperoleh citra mutu prima dan dengan demikian memperoleh harga yang cukup baik di pasaran dunia. Kopi arabika memang dikenal terlebih dahulu oleh konsumen di banyak negara sehingga kelezatan kopi arabika lebih dikenal superior dibandingkan dengan kopi robusta. Secara umum, ciri-ciri kopi arabika sebagai berikut :
a. beraroma wangi yang sedap menyerupai aroma perpaduan bunga dan buah, b. terdapat cita rasa asam yang tidak terdapat pada kopi jenis robusta,
c. saat disesap di mulut akan terasa kental,
2.3 Proses Pengolahan Kopi Semi Basah
Pengolahan kopi semi basah merupakan kombinasi perlakuan proses antara pengolahan basah dan pengolahan kering. Menurut Calvert (1999), proses semi basah merupakan langkah lebih maju untuk memperbaiki mutu biji kopi yang dihasilkan dari proses pengolahan kering. Pada proses pengolohan kopi secara semi basah terdapat beberapa proses sebagai berikut :
2.3.1 Sortasi Buah
Sortasi buah sebaiknya telah dilakukan sejak di kebun untuk memisahkan buah merah dan buah campuran hijau-kuning-merah. Kotoran seperti daun, ranting, tanah, dan kerikil juga harus dibuang karena dapat merusak mesin pengupas (pulper). Pada tahap sortasi gelondong, buah kopi merah yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam bak sortasi yang berisi air akan terpisah antara buah kopi yang sehat dan berisi dengan buah kopi yang hampa dan terserang bubuk. Kopi gelondong yang sehat akan tenggelam kemudian disalurkan ke mesin pulper, pengupasan dilakukan dengan menggunakan mesin pengupas yang dapat dibuat dari bahan logam. Pada pengolahan basah, buah kopi sebaiknya telah mencapai tingkat kematangan optimal antara lain ditandai dengan kulit buah berwarna merah seragam dan segar yang harus dikupas dan dipisahkan dari bagian biji HS. Pada saat pengupasan harus diusahakan agar kulit tanduk masih tetap melekat pada butiran biji. Proses pengupasan sebaiknya tidak lebih dari 12-24 jam setelah pemetikan untuk mencegah terjadinya pembusukan buah (Clifford dan Wilson, 1985).
Umumnya proses pengupasan dan pemisahan kulit buah dibantu oleh sejumlah air dilakukan secara mekanis baik dengan sumber tenaga penggerak manual maupun dengan motor listrik atau motor bakar. Pengupasan kulit buah berlangsung di dalam celah di antara permukaan silinder yang berputar (rotor) dan permukaan plat atau pisau yang diam (stator) (Mulato et al. 2009; Clifford dan Wilson, 1985).
Menurut Widyotomo et al. (2009), dasar kerja mesin pulper yaitu menggencet buah kopi dengan suatu silinder yang berputar terhadap suatu dasar plat yang bertonjolan. Buah kopi yang masuk ke dalam corong mesin pulper, kemudian jatuh pada permukaan silinder yang sedang berputar. Selanjutnya buah kopi didesak dan dihimpit di antara silinder dan sebuah alat pememar. Dengan tekanan himpit tersebut maka biji yang masih berkulit tanduk dan sebagian lendir terlepas dari daging buahnya. Kedua bagian dari buah kopi tersebut dipisahkan oleh suatu plat dari karet.
Mengingat pengupasan dilakukan secara mekanik, terkadang masih meninggalkan sejumlah daging buah residu selain lendir yang melekat pada biji. Residu ini harus dibuang seluruhnya untuk mencegah kontaminasi biji kopi oleh bahan yang akan dihasilkan oleh degradasi lendir saat fermentasi. Proses pencucian awal sebelum fermentasi dilakukan untuk membuang residu ini.
2.3.3 Fermentasi
lendir, dan konsentrasi enzim. Akhir proses fermentasi dapat diduga dengan meraba permukaan biji. Apabila biji kopi telah kehilangan tekstur halusnya dan terasa lebih kasar, fermentasi berakhir.
Menurut Clifford dan Wilson (1985); Mulato et al. (2009), prinsip fermentasi adalah peruraian senyawa-senyawa yang terkandung di dalam lapisan lendir oleh mikroba alami dan dibantu dengan oksigen dari udara. Proses fermentasi dapat dilakukan secara basah (merendam biji kopi dalam genangan air) dan secara kering (tanpa rendaman air). Selama proses fermentasi, akan terjadi pemecahan komponen lapisan lendir (protopektin dan gula) dengan dihasilkannya asam-asam dan alkohol. Proses fermentasi yang terlalu lama akan menghasilkan kopi beras yang berbau apek karena terjadi pemecahan komponen isi lembaga.
Menurut Ridwansyah (2003), selama proses fermentasi terjadi pemecahan senyawa – senyawa yang terdapat dalam kopi biji seperti pemecahan senyawa polar seperti kafein dan asam klorogenat. Pemecahan senyawa – senyawa tesebut akan menurunkan berat perbiji kopi biji sekaligus menurunkan massa jenis kopi biji arabika.
Secara rinci Clarke dan Macrae (1989), menjelaskan perubahan yang dapat terjadi selama proses fermentasi adalah sebagai berikut.
a. Pemecahan komponen lendir.
lendir akan berjalan cukup cepat. Apabila pH diturunkan menjadi 4 maka kecepatan pemecahan menjadi 2 kali lipat lebih cepat. Pada saat proses pengupasan buah kopi, sebagian besar enzim tersebut terpisahkan dari kulit dan daging buah, akan tetapi sebagian kecil masih tertinggal dalam bagian sari buah kopi.
b. Pemecahan gula.
Sukrosa merupakan komponen penting dalam daging buah. Kadar gula akan meningkat dengan cepat selama proses pematangan buah yang dapat diketahui dengan adanya rasa manis pada buah kopi. Gula merupakan senyawa yang larut dalam air. Dengan adanya tahap pencucian akan menyebabkan kehilangan kandungan gula. Proses ini terjadi sewaktu perendaman dalam bak pengumpul dan pemisahan buah. Oleh karena itu kadar gula dalam daging biji akan mempengaruhi konsentrasi gula di dalam lendir beberapa jam setelah fermentasi. Gula merupakan substrat bagi mikroorganisme. Bakteri pemecah gula ini bekerja 5 sampai 24 jam dalam proses fermentasi. Hasil proses pemecahan gula adalah asam laktat dan asam asetat dengan kadar asam laktat yang lebih besar. Dengan terbentuknya asam ini pH akan turun menjadi lebih kecil dari 5. Namun, pada akhir fermentasi asam laktat akan dikonsumsi oleh bakteri terjadi kenaikan pH lagi. Asam-asam lain yang dihasilkan dari proses fermentasi ini adalah etanol, asam butirat, dan propionat. c. Perubahan warna kulit.
Biji kopi yang telah terpisahkan dari pulp, maka kulit ari akan berwarna coklat. Demikian pula jaringan daging biji akan berwarna sedikit kecoklatan yang semula berwarna abu-abu atau abu-abu kebiruan. Proses pencoklatan ini terjadi akibat oksidasi polifenol. Warna coklat yang kurang menarik ini dapat dicegah dalam proses fermentasi dengan menggunakan air pencucian yang bersifat alkalis.
perubahan komposisi kimia biji kopi di mana asam-asam alifatik akan berubah menjadi ester-ester asam karboksilat yang dapat menyebabkan cacat dan cita rasa busuk.
2.3.4 Pencucian (Washing)
Pencucian selanjutnya dilakukan untuk menghilangkan seluruh lapisan lendir dan kotoran lainnya yang masih tertinggal setelah difermentasi. Menurut Najiyati dan Danarti (2006), biji kopi dialirkan ke dalam bak pencucian yang segera diaduk-aduk dengan tangan atau diinjak-injak dengan kaki untuk melepaskan sisa lendir yang masih melekat. Pencucian berakhir apabila biji kopi tidak terasa licin lagi bila diraba. Kandungan air biji setelah proses pencucian adalah sekitar 60%.
Pencucian dengan mesin pencuci dilakukan dengan memasukkan biji kopi ke dalam suatu mesin pengaduk yang berputar pada sumbu horizontal dan mendorong biji kopi dengan air tetap mengalir. Pengaduk mekanik ini akan memisahkan lapisan lendir yang masih melekat pada biji dan lapisan lendir yang telah terpisah ini akan terbuang lewat aliran air yang seterusnya terbuang (Najiyati dan Danarti, 2006).
2.3.5 Penjemuran / Pengeringan Biji
Proses pengeringan dilakukan setelah pencucian untuk mengurangi kandungan air dari dalam biji kopi HS yang semula 60-65% hingga menjadi 12%. Pada kadar air ini, biji kopi HS relatif aman untuk dikemas dalam karung dan disimpan di dalam gudang pada kondisi lingkungan tropis. Proses pengeringan dapat dilakukan dengan cara penjemuran, mekanis dan kombinasi keduanya (Najiyati dan Danarti 2006).
dengan pengering mekanis untuk menjaga kontinuitas sumber panas. Secara teknis, penjemuran akan memberikan hasil yang baik jika terpenuhi syarat - syarat berikut : a. sinar matahari mempunyai intensitas yang cukup dan dapat dimanfaatkan
secara maksimal,
b. lantai jemur dibuat dari bahan yang mempunyai sifat menyerah panas, c. tebal tumpukan biji kopi di lantai jemur haruslah optimal,
d. pembalikan rutin dilakukan untuk efisiensi panas, e. biji kopi berasal dari buah kopi yang masak, dan
f. penyerapan ulang air dari permukaan lantai jemur harus dicegah.
Pengering mekanis juga dapat digunakan untuk mengeringkan biji kopi mulai dari kadar air awal 60 – 65 %, terutama jika memang cuaca tidak memungkinkan untuk melakukan penjemuran. Dengan mengoperasikan pengering mekanis secara terus menerus (siang dan malam), maka kadar air 12% dapat dicapai selama 48 – 54 jam.
2.3.6 Pengupasan Kulit Tanduk
Setelah proses pengeringan, biji kopi sebaiknya didiamkan terlebih dahulu hingga 24 jam untuk menyesuaikan diri terhadap keadaan lingkungan sebelum digiling. Hulling atau pengupasan kulit tanduk bertujuan untuk memisahkan biji kopi yang sudah kering dari kulit tanduk dan kulit ari. Di dalam mesin huller, biji kopi dihimpit dan diremas kulit tanduk dan kulit ari terlepas. Kulit yang sudah terlepas dari biji akan dihembuskan keluar biji keluar dari mesin dalam keadaan bersih. Biji kopi yang keluar dari huller adalah kopi beras yang siap disortasi untuk diklasifikasikan mutunya.
mempunyai berat bersih 60 kg dan diberi label yang menunjukkan jenis mutu dan identitas produsen.
2.4 Mutu Kopi
Kriteria yang umumnya digunakan untuk memilih biji kopi yang berkualitas terutama olah roaster adalah berdasarkan kriteria analitis (kadar air dan jumlah cacat) dan organoleptik (uji cita rasa). Roaster kopi specialty umumnya espresso membutuhkan kualitas spesial yang diperoleh dari kopi arabika olah kering, tidak adanya biji belum matang yang dapat menyebabkan flavor, astringent, dan metallic. Roaster skala besar membutuhkan kopi berkualitas baik dalam jumlah besar terutama jenis kopi Robusta. Sistem klasifikasi biji kopi terutama digunakan dalam perdagangan kopi dengan mempertimbangkan hal-hal berikut :
a. jenis pengolahan yang digunakan untuk kopi arabika dan kopi robusta, b. hasil uji organoleptik dan aspek ekonomisnya, dan
c. indikasi cacat yang serius, hal ini dapat diaplikasikan secara umum dalam perdagangan.
Berdasarkan standar ISO 10470:2004 yang menjadi acuan bagi SNI 01-2907-2008, cacat kopi adalah; (a) adanya benda asing yang bukan berasal dari kopi, (b) adanya benda asing yang bukan biji kopi, seperti potongan kulit kopi, (c) bentuk biji yang tidak normal dari segi kesatuannya (integritasnya), (d) biji yang tidak normal dari visualisasinya seperti biji hitam dan (e) biji yang tidak normal yang menyebabkan cacat rasa setelah disangrai dan diseduh (Anonim, 2008).
Hasil penelitian Wibowo (1985) membagi jenis cacat atau kerusakan biji kopi menjadi (1) kerusakan sejak dari kebun, (2) kerusakan selama pengolahan dan (3) adanya benda asing yang bukan biji kopi. Jenis kerusakan yang dimulai sejak dari kebun adalah jenis cacat biji berlubang, biji hitam dan biji muda.
membusuk. Cacat karena biji hitam meliputi cacat biji hitam, biji hitam sebagian, dan biji hitam pecah. Biji hitam yang pecah dapat terjadi karena proses pengolahan. Cacat biji hitam dan biji muda berasal dari buah kopi muda. Buah yang masih muda dengan tingkat kematangan tertentu jika diolah akan menghasilkan biji kopi berwarna hitam keriput. Buah yang lebih tua menghasilkan biji hijau keriput, sedangkan yang lebih tua lagi menghasilkan biji hijau tidak keriput (Hardjosuwito dan Hermansyah 1985).
Cacat biji muda diperkirakan berasal dari terikutnya buah kopi muda pada proses pemetikan ataupun sortasi buah merah yang kurang sempurna. Cacat biji berlubang terutama disebabkan oleh adanya serangan serangga, yaitu hama penggerek buah kopi atau hama bubuk buah kopi (Hypothenemus hampei Ferr). Buah kopi yang terserang hama bubuk akan mengering di tangkai atau jatuh ke tanah serta berlubang. Buah kopi yang terserang hama bubuk akan terlihat berwarna kuning kemerahan pucat seperti buah kopi masak, setelah pengolahan menjadi cacat biji hitam. Biji berlubang dapat menyebabkan kerusakan mutu kimia. Cacat biji berlubang juga dapat timbul saat penyimpanan karena serangan serangga, terutama jika kadar air biji tinggi.
Biji coklat umumnya terjadi karena pengeringan yang tidak benar, buah terlalu masak atau fermentasi yang berlebihan (over fermented). Kopi gelondong adalah buah kopi kering yang masih terbungkus dalam kulit majemuknya, baik dalam keadaan utuh maupun besarnya sama atau lebih dari ¾ bagian kulit majemuk yang utuh. Kopi gelondong dapat terjadi pada saat pengupasan buah (pulping) yang tidak sempurna. Cacat kopi gelondong sangat tidak disukai konsumen karena rasa pulp yang dominan. Menurut Sivetz dan Foote (1973), komponen terbesar pada pulp kopi adalah air dan serat kasar, masing-masing 42,5 % dan 27,5%. Selama pengeringan dan penyangraian air akan menguap dan serat kasar akan terbakar, rasa dominan pada kopi seduhannya adalah rasa serat terbakar.
Berdasarkan SNI 01-2907-2008, kulit kopi berukuran besar adalah kulit majemuk (pericarp) dari kopi gelondong dengan atau tanpa kulit ari (silver skin) dan kulit tanduk (parchment) di dalamnya yang berukuran lebih besar dari ¾ bagian kulit majemuk utuh. Kulit kopi berukuran sedang, apabila ukurannya di antara ½ sampai dengan ¾ bagian kulit majemuk yang utuh. Kulit kopi berukuran kecil berukuran kurang dari ½ bagian kulit majemuk yang utuh (Yusianto dan Mulato, 2002).
Kontaminasi benda asing lainnya adalah adanya kulit tanduk. Kulit tanduk berukuran besar adalah kulit tanduk yang terlepas atau tidak terlepas dari biji kopi yang berukuran lebih besar dari ¾ bagian kulit tanduk utuh. Kulit tanduk berukuran sedang yaitu kulit tanduk berukuran ½ sampai ¾ bagian kulit tanduk utuh. Kulit tanduk berukuran kecil yaitu kulit tanduk berukuran kurang dari ½ bagian kulit tanduk. Kulit tanduk ini diperkirakan berasal dari proses pelepasan kulit tanduk yang kurang sempurna (hulling) (Yusianto dan Mulato, 2002).
Berikut merupakan tabel nilai cacat dan penggolongan mutu kopi arabika : Tabel 1 Penentuan besarnya nilai cacat kopi biji
No. Persyaratan Nilai cacat
1 1 (satu) biji hitam 1 (satu)
2 1 (satu) biji hitam sebagian 1/2 (setengah) 3 1 (satu) biji hitam pecah 1/2 (setengah)
4 1 (satu) kopi gelondong 1 (satu)
5 1 (satu) biji coklat 1/4 (seperempat)
6 1 (satu) kulit kopi ukuran besar 1 (satu) 7 1 (satu) kulit kopi ukuran sedang 1/2 (setengah) 8 1 (satu) kulit kopi ukuran kecil 1/5 (seperlima) 9 1 (satu) biji berkulit tanduk 1/2 (setengah) 10 1 (satu) kulit tanduk ukuran besar 1/2 (setengah) 11 1 (satu) kulit tanduk ukuran sedang 1/5 (seperlima) 12 1 (satu) kulit tanduk ukuran kecil 1/10 (sepersepuluh)
13 1 (satu) biji pecah 1/5 (seperlima)
14 1 (satu) biji muda 1/5 (seperlima)
15 1 (satu) biji berlubang satu 1/10 (sepersepuluh) 16 1 (satu) biji berlubang lebih dari satu 1/5 (seperlima) 17 1 (satu) biji bertutul – tutul 1/10 (sepersepuluh) 18 1 (satu) ranting, tanah atau batu
berukuran besar 5 (lima)
19 1 (satu) ranting, tanah atau batu berukuran sedang
2 (dua)
20 1 (satu) ranting, tanah atau batu berukuran kecil
1 (satu)
Tabel 2 Syarat penggolongan mutu kopi arabika
Mutu Persyaratan
Mutu 1 Jumlah nilai cacat maksimum 11*
Mutu 2 Jumlah nilai cacat 12 sampai dengan 25
Mutu 3 Jumlah nilai cacat 26 sampai dengan 44 Mutu 4a Jumlah nilai cacat 45 sampai dengan 60 Mutu 4b Jumlah nilai cacat 61 sampai dengan 80 Mutu 5 Jumlah nilai cacat81 sampai dengan 150 Mutu 6 Jumlah nilai cacat 151 sampai dengan 225
CATATAN : Untuk kopi arabika mutu 4 tidak dibagi menjadi sub mutu 4a dan 4b. Penentuan besarnya nilai cacat dari setiap biji cacat dicantumkan dalam Tabel 1
*Untuk kopi peaberry dan polyembrioni (Anonim, 2008 ).
2.5 Wadah Fermentasi
Wadah fermentasi merupakan media untuk menjamin proses fermentasi berlangsung optimal. Ada dua jenis wadah yang dipergunakan dalam proses fermentasi kopi antara lain ember dan karung plastik. Dua jenis wadah ini berbeda dalam ukuran pori – porinya. Pori – pori permukaan karung plastik lebih besar dari pori – pori permukaan ember plastik karena karung plastik terbuat dari rajutan material PP (Polypropylene) (Hendrawan, 2009).
Ember merupakan bahan plastik yang terbuat dari jenis polimer PP (Polypropilene) atau HDPE (High Density Poly Ethylene). Plastik PP (Polypropylene) merupakan pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman. Khususnya untuk botol minuman bayi. Pastikan melihat ada simbol tulisan ini jika ingin membeli wadah plastik yang baik. Karakteristik bahan botol terlihat transparan, tetapi tidak jelas (mendung) (Taslim, 2012 ).
botol kosmetik, obat, minuman, tutup plastik, jeriken pelumas, dan cairan kimia. Sama seperti jenis plastik sebelumnya, plastik ini direkomendasikan hanya untuk sekali pakai juga (Taslim, 2012 ).
Karung plastik mulai pesat dipakai karena mempunyai sifat kuat, tahan air, lembam, transparan, dapat dibentuk, diisi dan disegel dengan mesin. Karung plastik umumnya terbuat dari polyolefin film yaitu polyethylene. Polyethylene (PE) terbuat dari ethylene polimer dan terdiri dari tiga macam yaitu Low Density Polyethylene (LDPE), Medium Density Polyethylene (MDPE), dan High Density Polyethylene (HDPE). LDPE paling banyak digunakan sebagai kantung, mudah dikelim dan sangat murah. MDPE lebih kaku daripada LDPE dan memiliki suhu leleh lebih tinggi dari LDPE. HDPE paling kaku di antara ketiganya, tahan terhadap suhu tinggi (1200) sehingga dapat digunakan untuk kemasan produk yang harus mengalami sterilisasi (Syarief dan Irawati, 1988).
Keuntungan dari Polyethylene yaitu permeabilitas uap air dan air rendah, mudah dikelim panas, fleksibel, dapat digunakan untuk penyimpanan beku (-50 0C), transparan sampai buram, dapat digunakan sebagai bahan laminasi dengan bahan lain. Kerugian dari Polyethylene yaitu permeabilitas oksigen agak tinggi, dan tidak tahan terhadap minyak. (Syarief dan Irawati, 1988).
Penggunaan karung plastik (woven bag) sebagai bahan fermentasi karena kemampuannya yang tahan terhadap air. Selain itu, karung plastik berlaminating atau laminated woven bag memeiliki kemampuan tahan terhadap air hingga 100% (Hendrawan, 2009).
Woven bag merupakan kantong plastik rajutan pada umummnya terbuat dari material jenis PP. Di Indonesia kantong plastik ini lebih di kenal dengan nama saks, penggunaanya banyak dijumpai untuk membungkus beras, pupuk, dan sebagainya (Karjadi, 2012)
Kabupaten Bondowoso memiliki luas 1.560 km2 yang terbagi menjadi 219
kelurahan / desa dan 23 kecamatan. Komoditi unggulan kabupaten Bondowoso yaitu sektor perkebunan, pertanian dan jasa. Sektor perkebunan komoditi unggulannya adalah kakao, tebu, kopi, kelapa, cengkeh, dan jambu mete. Sub sektor pertanian komoditi yang diunggulkan berupa tembakau dan kopi. Beberapa daerah penghasil kopi di Bondowoso yaitu desa Pedati kecamatan Sempol dan desa Sukosawah kecamatan Sumberwringin (BKPM, 2010).
Dusun Pedati berada di desa Kalisat kecamatan Sempol yang berada di ketinggian 1500 m di atas permukaan laut. Dusun Sukosawah berada di desa Gunung Sari kecamatan Sumberwringin yang berada pada ketingian 1100 m di atas permukaan laut . Menurut Arnawa (2010), kopi arabika sangat cocok tumbuh di ketinggian > 1000 m dari permukaan laut sehingga desa Pedati dan desa Sukosawah merupakan daerah yang cocok untuk penanaman dan pengembangan kopi arabika. Desa Pedati dan desa Sukosawah memiliki potensi kopi arabika karena para petaninya banyak mendapat bantuan langsung dari pemerintah setempat berupa dana atau alat – alat produksi kopi (Lintas Gayo, 2012).