• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Perkembangan islam (1) TRADISIONAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sejarah Perkembangan islam (1) TRADISIONAL"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Sejak zaman pra sejarah, penduduk kepulauan Indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di daratan Asia Tenggara. Wilayah Barat Nusantara dan sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual disana menarik bagi para pedagang, dan menjadi daerah lintasan penting antara Cina dan India. Sementara itu, pala dan cengkeh yang berasal dari Maluku dipasarkan di Jawa dan Sumatera, untuk kemudian dijual kepada para pedagang asing. Pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra dan Jawa antara abad ke-1 dan ke-7 M sering disinggahi para pedagang asing seperti Lamuri (Aceh), Barus, dan Palembang di Sumatra; Sunda Kelapa dan Gresik di Jawa.

Bersamaan dengan itu, datang pula para pedagang yang berasal dari Timur Tengah. Mereka tidak hanya membeli dan menjajakan barang dagangan, tetapi ada juga yang berupaya menyebarkan agama Islam. Dengan demikian, agama Islam telah ada di Indonesia ini bersamaan dengan kehadiran para pedagang Arab tersebut. Meskipun belum tersebar secara intensif ke seluruh wilayah Indonesia.

1.2RUMUSAN MASALAH

1. Dalam penyebaran agama islam ke indonesia, jalur manakah yang

digunakan serta media apa saja yang digunakan dalam penyebarannya ke indonesia ?

2. Kerajaan-kerajaan islam apasajakah yang pernah didirikan di indonesia ?

(2)

1.3 TUJUAN DAN MANFAAT PENUISAN

1. Mengetahui silsilah perjalanan bangsa-bangsa arab dalam menyebaran agama islam ke indonesia

2. Memberikan gambaran singkat tentang jalur dan tantangan apasaja yang dihadapi ketika penyebaran islam di indonesia

3. Menciptakan generasi yang dapat menghargai sejarahnya, terutama sejarah agama nya

4. Memberikan wawasan luas tentang perkembangan islam di indonesia

1.4

METODE PENULISAN

metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan Makalah ini adalah metode Pengamatan , dan literature.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA

(3)
(4)

718M raja Srivijaya Sri Indravarman setelah kerusuhan Kanton juga masuk Islam pada masa khalifahUmar bin Abdul Aziz (Dinasti Umayyah).

Setidaknya, ada enam pendapat tentang masuknya Islam ke Indonesia. Pertama, Islam yang masuk dan berkembang di Indonesia berasal dari Jazirah Arab atau bahkan dari Makkah pada abad ke-7 M, pada abad pertama Hijriah. Pendapat ini adalah pendapat Hamka, salah seorang tokoh yang pernah dimiliki Muhammadiyah dan mantan ketua MUI periode 1977 – 1981. Hamka yang sebenarnya bernama Haji Abdul Malik bin Abdil Karim mendasarkan pendapatnya ini pada fakta bahwa mazhab yang berkembang di Indonesia adalah mazhab Syafii. Menurutnya, mazhab Syafii berkembang sekaligus dianut oleh penduduk di sekitar Makkah. Selain itu, yang tidak boleh diabaikan adalah fakta menarik lainnya bahwa orang-orang Arab sudah berlayar mencapai Cina pada abad ke-7 M dalam rangka berdagang. Hamka percaya, dalam perjalanan inilah, mereka singgah di kepulauan Nusantara pada waktu itu.

(5)

Ketiga, Islam yang masuk ke Indonesia berasal dari Gujarat pada abad ke-12 M. Islam dibawa dan disebarkan oleh pedagang-pedagang Gujarat yang singgah di kepulauan Nusantara. Mereka menempuh jalur perdagangan yang sudah terbentuk antara India dan Nusantara. Pendapat ketiga ini adalah pendapat Snouck Hurgronje, seorang penasehat di bidang bahasa-bahasa Timur dan hukum Islam untuk pemerintah kolonial Belanda. Ia mengambil pendapat ini dari Pijnapel, seorang pakar dari Universitas Leiden, Belanda, yang sering meneliti artefak-artefak peninggalan Islam di Indonesia. Pendapat Pijnapel ini juga dibenarkan oleh J.P. Moquette yang pernah meneliti bentuk nisan kuburan raja-raja Pasai, Aceh. Moquette secara khusus meneliti bentuk nisan kuburan Sultan Malik Ash-Shalih.

Nisan kuburan Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur, juga ditelitinya. Dan ternyata sangat mirip dengan nisan-nisan kuburan yang ada di Cambay, Gujarat. Ternyata pendapat Moquette yang memperkuat pendapat Pijnapel dan Hurgronje disanggah oleh S.Q. Fatimi. Pendapat Fatimi adalah nisan-nisan kuburan yang ada di Aceh dan Gresik justru lebih mirip dengan bentuk nisan-nisan kuburan yang ada di Benggala, sekitar Bangladesh sekarang.

Lebih jauh lagi, Fatimi percaya, pengaruh-pengaruh Islam di Benggala itu banyak ditemui dalam Islam yang berkembang di Nusantara dulu. Oleh karena itu, Islam yang ada di Indonesia ini sebenarnya berasal dari Bangladesh. Pendapat ini adalah pendapat keempat.

Pendapat Moquette juga disanggah oleh G.E. Marrison. Marrison malah yakin, bahwa Islam yang datang ke Indonesia berasal dari Pantai Coromandel, India Selatan. Alasannya, pada abad ke-13 M, Gujarat masih menjadi sebuah kerajaan Hindu, sedang di Pantai Coromandel Islam telah berkembang.

(6)

zawiyah-zawiyah mereka dan melakukan pengembaraan ke luar wilayah Bani Abbasiyah, seperti ke ujung Persia atau bahkan ke India.

Sebelum Marrison mengemukakan pendapatnya, T.W. Arnold telah menyakini bahwa Islam di Indonesia juga dibawa atau berasal dari Pantai Coromandel dan Malabar, India. Karena itu, banyak yang beranggapan bahwa Marrison memperkuat pendapat Arnold itu.

Setelah kelima pendapat itu, Hoesein Djajadiningrat mengemukakan pendapat keenam tentang masuknya Islam di Indonesia. Djajadiningrat dikenal sebagai orang Indonesia pertama yang mempertahankan disertasi di Universitas Leiden, Belanda, pada 1913. Disertasinya itu berjudul Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten (Pandangan Kritis Mengenai Sejarah Banten).

Menurutnya, Islam yang masuk ke Indonesia berasal dari Persia.

Djajadiningrat beralasan, peringatan 10 Muharram atau hari Asyura sebagai hari kematian Husein bin Ali bin Abi Thalib yang ada di Indonesia berasal dari perayaan kaum Syiah di Persia. Peringatan 10 Muharram itu lebih dikenal sebagai perayaan Hari Karbala.

Djajadiningrat juga yakin dengan pendapat ini, karena keberadaan pengaruh bahasa Persia di beberapa tempat di Indonesia. Selain itu,

keberadaan Syeikh Siti Jenar dan Hamzah Fansuri dalam sejarah Indonesia menandakan adanya pengaruh ajaran wihdatul wujud Al-Hallaj, seorang Sufi ekstrem yang berasal dari tanah Persia.

Dapat terlihat bahwa perbedaan pendapat itu terjadi karena dasar-dasar berpikir yang dipakai dalam membangun pendapat. Pijnapel, Hurgronje, Marrison, Moquette, Fatimi lebih mempercayai bukti-bukti kongkret yang masih bisa diyakini secara pasti, bukan perkiraan. Karena itu, pendapat-pendapat mereka lebih logis, meskipun bisa menuntut mereka untuk percaya bahwa Islam pertama kali berkembang di Indonesia pada sekitar abad ke-13 M, lebih belakangan ketimbang agama Hindu dan Buddha.

Berbeda dari pendapat Residen Poortman. Meski berdasarkan catatan-catatan Cina yang tersimpan bertahun-tahun, masih ada kemungkinan salah tafsir atas penyataan-pernyataan tertulis yang ada di dalamnya. Dan juga: masih besar kemungkinan adanya manipulasi data tanpa sepengetahuan para pembaca.

Pendapat Hamka bahkan lebih mudah lagi untuk terjerumus ke dalam bentuk syak yang belum tentu bisa dibuktikan kebenarannya. Pendapatnya

(7)

persamaan-persamaan yang dikemukakan dalam pendapatnya itu hanya kebetulan-kebetulan yang mirip pada objek.

Akan tetapi, hampir setiap pendapat itu memiliki konsekwensi. Jika seseorang memercayainya suatu pendapat dari pendapat-pendapat itu, maka, bagaimana pun, ia mesti menerima konsekwensi-konsekwensi yang ada.

Seperti jika percaya pendapat bahwa Islam dibawa masuk dari Persia, sedikit-banyaknya, akan membuat kita berpikir, para penyebar Islam pertama kali di Nusantara adalah orang-orang Syiah. Dan karena itu, Syiah adalah bentuk akidah pertama yang diterima di Indonesia. Baru setelah itu Islam ahlu Sunnah wal Jamaah yang berkembang.

Apabila kita memercayai Islam yang masuk di Indonesia berasal dari Jazirah Arab pada abad ke-7 M, berarti orang-orang di Nusantara telah

mengenal dakwah Islam sejak masa para sahabat masih hidup. Artinya, ketika para tabi'in ramai-ramai menuntut ilmu agama pada para sahabat Nabi, segelintir orang di Nusantara juga telah mengenal Islam yang sama pada waktu itu. Hanya jarak yang memisahkan mereka.

Demikian pula, jika kita menerima pendapat bahwa Islam berasal dari Pantai Coromandel, India Selatan. Jika pendapat ini yang kita terima, maka bisa dipastikan para pemeluk pemula Islam di Indonesia adalah orang-orang yang berakidah dengan akidah Sufi atau setidaknya mengenal Islam lewat kacamata tasawwuf.

MEDIA PENYEBARAN ISLAM KE INDONESIA

1. Perdagangan

Jalinan hubungan perdagangan antara Indonesia dengan para pedagang Islam dari Arab, Persia, dan India telah terjalin sejak abad ke-7 Masehi. Di samping berdagang, pada pedagang Islam tersebut juga menyampaikan dan mengajarkan agama dan budaya Islam kepada orang lain, termasuk kepada orang-orang Indonesia. Kemudian banyak pedagang dari Indonesia yang memeluk Islam dan mereka turut menyebarkan ajaran agama Islam kepada masyarakat.

(8)

Para pedagang yang melakukan kegiatan perdagangan dalam waktu yang lama memungkinkan mereka berinteraksi dengan penduduk setempat. Perkawinan antara putri pribumi dengan ulama atau pedagang Islam, antara lain pernikahan Sunan Ampel dengan Nyai Manila, pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Putri Kawunganten, dan sebagainya.

Selanjutnya, putra hasil pernikahan tersebut ikut mendukung proses syiar agama Islam di Kepulauan Nusantara.

3. Kesenian

Penyebaran agama Islam melalui kesenian dilakukan, antara lain melalui seni wayang kulit, seni tari, seni ukir, dan seni musik. Para penyebar Islam menciptakan seni kaligrafi, seni sastra, dan lagu-lagu dolanan untuk menarik minat penduduk agar memeluk agama Islam. Seni gamelan dan wayang kulit digunakan oleh Sunan Bonang untuk mengumpulkan massa kemudian mereka diberi nasehat-nasehat agama Islam. Cara ini tidak membuat masyarakat dipaksa dan mereka secara sadar mempelajari agama Islam.

4. Politik

(9)

5. Pendidikan

Peran ulama, guru-guru, ataupun para kyai juga memiliki fungsi yang cukup penting dalam penyebaran agama dan kebudayaan Islam. Mereka mendirikan pondok-pondok pesantren sebagai sarana penyebaran agama Islam melalui pendidikan. Contoh pondok pesantren yang digunakan untuk menyebarkan agama Islam pada masa perkembangan Islam adalah Pondok Pesantren Ampel Denta di Surabaya yang didirikan oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Pondok Pesantren di Giri Kedaton yang didirikan oleh Sunan Giri di Gresik, Jawa Timur

6. Tasawuf

Salah satu saluran Islamisasi yang tak kalah pentingnya adalah tasawuf. Tasawuf adalah pengajaran agama Islam yang disesuaikan dengan alam pikiran masyarakat setempat. Para ahli taswuf hidup dalam kesederhanaan. Mereka selalu berusaha menghayati kehidupan masyarakat dan hidup di tengah-tengah masyarakat. Para ahli tasawuf yang mengajarkan agama Islam antara lain Hamzah Fansuri dari Aceh dan Sunan Panggung dari Jawa.

Mudah-mudahan artikel sejarah budaya ini bisa menambah wawasan Anda mengenai cara penyebaran agama Islam. Mari kita kenali dan lestarikan kekayaan budaya Nusantara!

CORAK DAN PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA

A. Masa Kesulthanan

Untuk melihat lebih jelas gambaran keislaman di kesultanan atau kerajaan-kerajaan Islam akan di uraikan sebagai berikut.

(10)

Di kerajaan Banjar, dengan masuk Islamnya raja, perkembangan Islam selanjutnya tidak begitu sulit karena raja menunjangnya dengan fasilitas dan kemudahan-kemudahan lainnya dan hasilnya mebawa kepada kehidupan masyarakat Banjar yang benar-benar bersendikan Islam. Secara konkrit, kehidupan keagamaan di kerajaan Banjar ini diwujudkan dengan adanya mufti dan qadhi atas jasa Muhammad Arsyad Al-Banjari yang ahli dalam bidang fiqih dan tasawuf. Di kerajaan ini, telah berhasil pengkodifikasian hukum-hukum yang sepenuhnya berorientasi pada hukum islam yang dinamakan Undang-Undang Sultan Adam. Dalam Undang-Undang ini timbul kesan bahwa kedudukan mufti mirip dengan Mahkamah Agung sekarang yang bertugas mengontrol dan kalau perlu berfungsi sebagai lembaga untuk naik banding dari mahkamah biasa. Tercatat dalam sejarah Banjar, di berlakukannya hukum bunuh bagi orang murtad, hukum potong tangan untuk pencuri dan mendera bagi yang kedapatan berbuat zina.

Guna memadu penyebaran agama Islam dipulau jawa, maka dilakukan upaya agar Islam dan tradisi Jawa didamaikan satu dengan yang lainnya, serta dibangun masjid sebagai pusat pendidikan Islam.

Dengan kelonggaran-kelonggaran tersebut, tergeraklah petinggi dan penguasa kerajaan untuk memeluk agama Islam. Bila penguasa memeluk agama Islam serta memasukkan syari’at Islam ke daerah kerajaannya, rakyat pun akan masuk agama tersebut dan akan melaksanakan ajarannya. Begitu pula dengan kerajaan-kerajaan yang berada di bawah kekuasaannya. Ini seperti ketika di pimpin oleh Sultan Agung. Ketika Sultan Agung masuk Islam, kerajaan-kerajaan yang ada di bawah kekuasaan Mataram ikut pula masuk Islam seperti kerajaan Cirebon, Priangan dan lain sebagainya. Lalu Sultan Agung menyesuaikan seluruh tata laksana kerajaan dengan istilah-istilah keislaman, meskipun kadang-kadang tidak sesuai dengan arti sebenarnya.

B. Masa Penjajahan

(11)

susul Belanda dan Inggris. Tujuannya adalah menaklukkan kerajaan-kerajaan Islam Indonesia di sepanjang pesisir kepulauan Nusantara ini.

Pada mulanya mereka datang ke Indonesia hanya untuk menjalinkan hubungan dagang karena Indonesia kaya akan rempah-rempah, tetapi kemudian mereka ingin memonopoli perdagangan tersebut dan menjadi tuan bagi bangsa Indonesia. Apalagi setelah kedatangan Snouck Hurgronye yang ditugasi menjadi penasehat urusan pribumi dan Arab, pemerintah Hindia-Belanda lebih berani membuat kebijaksanaan mengenai masalah Islam di Indonesia karena Snouck mempunyai pengalaman dalam penelitian lapangan di Negeri Arab, Jawa dan Aceh. Lalu ia mengemukakan gagasannya yang di kenal dengan politik Islam di Indonesia. Dengan politik itu ia membagi masalah Islam dalam tiga kategori, yaitu:

1. Bidang agama murni atau ibadah;

2. Bidang sosial kemasyarakatan; dan

3. Politik.

Terhadap bidang agama murni, pemerintah kolonial memberikan kemerdekaan kepada umat Islam untuk melaksanakan ajaran agamanya sepanjang tidak mengganggu kekuasaan pemerintah Belanda.

Dalam bidang kemasyarakatan, pemerintah memanfaatkan adat kebiasaan yang berlaku sehingga pada waktu itu dicetuskanlah teori untuk membatasi keberlakuan hukum Islam, yakni teori reseptie yang maksudnya hukum Islam baru bisa diberlakukan apabila tidak bertentangan dengan alat kebiasaan. Oleh karena itu, terjadi kemandekan hukum Islam.

Sedangkan dalam bidang politik, pemerintah melarang keras orang Islam membahas hukum Islam baik dari Al-Qur’an maupun Sunnah yang menerangkan tentang politik kenegaraan atau ketatanegaraan.

C. Gerakan dan organisasi Islam

Akibat dari “resep politik Islam”-nya Snouck Hurgronye itu, menjelang permulaan abad xx umat Islam Indonesia yang jumlahnya semakin bertambah menghadapi tiga tayangan dari pemerintah Hindia Belanda, yaitu: politik devide etimpera, politik penindasan dengan kekerasan dan politik menjinakan melalui asosiasi.

(12)

dengan menggunakan taktik baru, bukan dengan perlawanan fisik tetapi dengan membangun organisasi. Oleh karena itu, masa terakhir kekuasaan Belanda di Indonesiadi tandai dengan tumbuhnya kesadaran berpolitik bagi bangsa Indonesia, sebagai hasil perubahan-perubahan sosial dan ekonomi, dampak dari pendidikan Barat, serta gagasan-gagasan aliran pembaruan Islam di Mesir.

Akibat dari situasi ini, timbullah perkumpulan-perkumpulan politik baru dan muncullah pemikir-pemikir politik yang sadar diri. Karena persatuan dalam syarikat Islam itu berdasarkan ideologi Islam, yakni hanya orang Indonesia yang beragama Islamlah yang dapat di terima dalam organisasi tersebut, para pejabat dan pemerintahan (pangreh praja) ditolak dari keanggotaan itu.

Persaingan antara partai-partai politik itu mengakibatkan putusnya hubungan antara pemimpin Islam, yaitu santri dan para pengikut tradisi Jawa dan abangan. Di kalangan santri sendiri, dengan lahirnya gerakan pembaruan Islam dari Mesir yang mengompromikan rasionalisme Barat dengan fundamentalisme Islam, telah menimbulkan perpecahan sehingga sejak itu dikalangan kaum muslimin terdapat dua kubu: para cendekiawan Muslimin berpendidikan Barat, dan para kiayi serta Ulama tradisional.

Selama pendudukan jepang, pihak Jepang rupanya lebih memihak kepada kaum muslimin dari pada golongan nasionalis karena mereka berusaha menggunakan agama untuk tujuan perang mereka. Ada tiga perantara politik berikut ini yang merupakan hasil bentukan pemerintah Jepang yang menguntungkan kaum muslimin, yaitu:

1. Shumubu, yaitu Kantor Urusan Agama yang menggantikan Kantor Urusan Pribumi zaman Belanda.

2. Masyumi, yakni singkatan dari Majelis Syura Muslimin Indonesia menggantikan MIAI yang dibubarkan pada bulan oktober 1943.

3. Hizbullah, (Partai Allah dan Angkatan Allah), semacam organisasi militer untuk pemuda-pemuda Muslimin yang dipimpin oleh Zainul Arifin.

(13)

Proses penyebaran Islam di wilayah Nusantara tidak dapat dilepas dari peran aktif para ulama. Melalui merekalah Islam dapat diterima dengan baik dikalangan masyarakat. Di antara Ulama tersebut adalah sebagai berikut:

a. Hamzah Fansuri

Ia hidup pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda sekitar tahun 1590. Pengembaraan intelektualnya tidak hanya di Fansur-Aceh, tetapi juga ke India, Persia, Mekkah dan Madinah. Dalam pengembaraan itu ia sempat mempelajari ilmu fiqh, tauhid, tasawuf, dan sastra Arab.

b. Syaikh Muhammad Yusuf Al-Makasari

Beliau lahir di Moncong Loe, Gowa, Sulawesi Selatan pada tanggal 3 Juli 1626 M/1037 H. Ia memperoleh pengetahuan Islam dari banyak guru, di antaranya yaitu; Sayid Ba Alwi bin Abdullah Al-‘allaham (orang Arab yang menetap di Bontoala), Syaikh Nuruddin Ar-Raniri (Aceh), Muhammad bin Wajih As-Sa’di Yamani (Yaman), Ayub bin Ahmad bin Ayub Ad-Dimisqi Al-Khalwati (Damaskus), dan lain sebagainya.

c. Syaikh Abdussamad Al-Palimbani

Ia merupakan salah seorang ulama terkenal yang berasal dari Sumatra Selatan. Ayahnya adalah seorang Sayid dari San’a, Yaman. Ia dikirim ayahnya ke Timur Tengah untuk belajar. Di antara ulama sezaman yang sempat bertemu dengan beliau adalah; Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Abdul Wahab Bugis, Abdurrahman Bugis Al-Batawi dan Daud Al-Tatani.

d. Syaikh Muhammad bin Umar n-Nawawi Al-Bantani

(14)

Pada tahun 1833 beliau kembali ke Banten. Dengan bekal pengetahuan agamanya ia banyak terlibat proses belajar mengajar dengan para pemuda di wilayahnya yang tertarik denga kepandaiannya.. tetapi ternyata beliau tidak betah tinggal di kampung halamannya. Karena itu pada tahun 1855 ia berangkat ke Haramain dan menetap disana hingga beliau wafat pada tahun 1897 M/1314 H.

e. Wali Songo

Dalam sejarah penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di pulau Jawa terdapat sembilan orang ulama yang memiliki peran sangat besar. Mereka dikenal dengan sebutan wali songo.

Para wali ini umumnya tinggal di pantai utara Jawa sejak dari abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-16. Para wali menyebarkan Islam di Jawa di tiga wilayah penting, yaitu; Surabaya, Gresik dan Lamongan (Jawa Timur), Demak, Kudus dan Muria (Jawa Tengah), serta di Cirebon Jawa Barat. Wali Songo adalah para ulama yang menjadi pembaru masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru seperti, kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.

Adapun wali-wali tersebut yaitu; Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati, Sunan Drajat, Sunan Kudus dan Sunan Muria.

2.2 KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA

Di Indonesia, Islam juga memiliki sejarah yang cukup panjang. Banyak kerajaan-kerajaan Islam yang berdiri di Indonesia. Bahkan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia sempat menguasai beberapa wilayah di negara-negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, dan bahkan Thailand.

1. Kerajaan Samudra Pasai

(15)

2. Kerajaan Demak

Demak merupakan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa dengan rajanya yaitu Raden Patah. Demak dengan cepat mencapai kejayaannya, terutama setelah Malaka jatuh ke Portugis. Putranya yang bernama Pati Unus yang bergelar Pangeran Sabrang Lor sangat berjasa membantu ayahnya meluaskan dan memperkuat kedudukan kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam. Raden Patah wafat tahun 1518 dan diganti oleh Pati Unus.

3. Kerajaan Banten

Daerah ujung barat pulau Jawa yaitu Banten dan Sunda Kelapa dapat direbut oleh Demak, di bawah pimpinan Fatahillah. Untuk itu daerah tersebut berada di bawah kekuasaan Demak. Setelah Banten diislamkan oleh Fatahillah maka daerah Banten diserahkan kepada putranya yang bernama Hasannudin, sedangkan Fatahillah sendiri menetap di Cirebon, dan lebih menekuni hal keagamaan. Dengan diberikannya Banten kepada Hasannudin, maka Hasannudin meletakkan dasar-dasar pemerintahan kerajaan Banten dan mengangkat dirinya sebagai raja pertama, yang memerintah tahun 1552 – 1570.

4. Kerajaan Mataram

Pada awal perkembangannya kerajaan Mataram adalah daerah kadipaten yang dikuasai oleh Ki Gede Pamanahan. Daerah tersebut diberikan oleh Pangeran Hadiwijaya (Jaka Tingkir) yaitu raja Pajang kepada Ki Gede Pamanahan atas jasanya membantu mengatasi perang saudara di Demak yang menjadi latar belakang munculnya kerajaan Pajang. Kerajaan Mataram mengalami kejayaan pada masa pemerintahan Raden Rangsang (1613-1645) yang terkenal dengan nama Sultan Agung. Sultan Agung wafat pada tahun 1645.

(16)

Islam masuk ke kerajaan Gowa-Tallo pada tahun 1605. Dengan raja pertama Kerajaan Tallo adalah Karaeng Mattoaya yang bergelar Sultan Abdullah. Raja Gowa yaitu Daeng Manrabia bergelar Sultan Alaudin.

6. Kerajaan Ternate – Tidore

Kerajaan Ternate dan Tidore terletak di kepulauan Maluku. Keadaan Maluku yang subur dan diliputi oleh hutan rimba, maka daerah Maluku terkenal sebagai penghasil rempah seperti cengkeh dan pala.

7. Kerajaan Aceh

Masa kerajaan Aceh dicapai dalam masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Ia kemudian digantikan oleh menantunya, Iskandar Tani. Namun ketika Iskandar Tani wafat tahun 1641, kekuasaan Aceh menjadi menurun. Hal ini terjadi karena perselisihan di kalangan sendiri dan juga karena Belanda berhasil merebut Malaka dari tangan Portugis tahun 1941.

8. Kerajaan Malaka

Malaka sebelumnya adalah kota kecil. Namun di bawah

pemerintahan Sultan Mudzafar Syah (1445-1458) Malaka menjadi pusat perdagangan antara timur dan barat. Malaka mencapai puncak

kebesarannya di bawah Sultan Mansyur Syah (1458-1477) dan dilanjutkan oleh Sultan Alaudin Syah (1477-1488). Malaka mengalami kemunduran ketika pemerintah Sultan Mahmud Syah (1488-1511). Kejayaan Malaka berakhir ketika orang-orang Portugis berhasil mengalahkan Malaka pada tahun1511.

(17)

Sebelum Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki corak kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha. Dengan masuknya Islam, Indonesia kembali mengalami proses akulturasi (proses bercampurnya dua (lebih) kebudayaan karena percampuran bangsa-bangsa dan saling mempengaruhi), yang melahirkan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam Indonesia. Masuknya Islam tersebut tidak berarti

kebudayaan Hindu dan Budha hilang. Bentuk budaya sebagai hasil dari proses akulturasi tersebut, tidak hanya bersifat kebendaan/material tetapi juga

menyangkut perilaku masyarakat Indonesia.

1. Seni Bangunan

Wujud akulturasi dalam seni bangunan dapat terlihat pada bangunan masjid, makam, istana. Masjid adalah tempat ibadahnya orang Islam. Di Indonesia, istilah masjid biasanya menunjuk pada tempat untuk menyelenggarakan shalat jumat. Masjid di Indonesia pada zaman madya biasanya mempunyai cirri khas tersendiri, diantaranya :

1. Atapnya berbentuk “atap tumpang” yaitu atap bersusun. Jumlah atap tumpang itu selalu ganjil, 3 atau 5 seperti di Jawa dan Bali pada masa Hindu.

2. Tidak adanya menara. Pada masa itu masjid yang mempunyai menara hanya masjid Banten dan masjid Kudus.

(18)

Bentuk perkembangannya sesuai dengan perkembangan zaman. Sekarang kebanyakan masjid atasnya berbentuk kubah dan ada menara, ini merupakan pengaruh dari Timur tengah dan India.

Ciri-ciri dari wujud akulturasi pada bangunan makam terlihat dari:

a. makam-makam kuno dibangun di atas bukit atau tempat-tempat yang keramat.

b. makamnya terbuat dari bangunan batu yang disebut dengan Jirat atau Kijing, nisannya juga terbuat dari batu.

c. di atas jirat biasanya didirikan rumah tersendiri yang disebut dengan cungkup atau kubbah.

d. dilengkapi dengan tembok atau gapura yang menghubungkan antara makam dengan makam atau kelompok-kelompok makam. Bentuk gapura tersebut ada yang berbentuk kori agung (beratap dan berpintu) dan ada yang berbentuk candi bentar (tidak beratap dan tidak berpintu).

e. Di dekat makam biasanya dibangun masjid, maka disebut masjid makam dan biasanya makam tersebut adalah makam para wali atau raja.

2. Seni Rupa

Tradisi Islam tidak menggambarkan bentuk manusia atau hewan. Seni ukir relief yang menghias Masjid, makam Islam berupa suluran tumbuh-tumbuhan namun terjadi pula Sinkretisme (hasil perpaduan dua aliran seni logam), agar didapat keserasian, misalnya ragam hias pada gambar 1.3. ditengah ragam hias suluran terdapat bentuk kera yang distilir.

(19)

Tersebarnya agama Islam ke Indonesia maka berpengaruh terhadap bidang aksara atau tulisan, yaitu masyarakat mulai mengenal tulisan Arab, bahkan berkembang tulisan Arab Melayu atau biasanya dikenal dengan istilah Arab gundul yaitu tulisan Arab yang dipakai untuk menuliskan bahasa Melayu tetapi tidak menggunakan tanda-tanda a, i, u seperti lazimnya tulisan Arab. Di samping itu juga, huruf Arab berkembang menjadi seni kaligrafi yang banyak digunakan sebagai motif hiasan ataupun ukiran.

Sedangkan dalam seni sastra yang berkembang pada awal periode Islam adalah seni sastra yang berasal dari perpaduan sastra pengaruh Hindu – Budha dan sastra Islam yang banyak mendapat pengaruh Persia.

Dengan demikian wujud akulturasi dalam seni sastra tersebut terlihat dari tulisan/aksara yang dipergunakan yaitu menggunakan huruf Arab Melayu (Arab Gundul) dan isi ceritanya juga ada yang mengambil hasil sastra yang berkembang pada jaman Hindu.

Bentuk seni sastra yang berkembang adalah:

 Hikayat yaitu cerita atau dongeng yang berpangkal dari peristiwa atau

tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk gancaran (karangan bebas atau prosa). Contoh hikayat yang terkenal yaitu Hikayat 1001 Malam, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Pandawa Lima (Hindu), Hikayat Sri Rama (Hindu).

 Babad adalah kisah rekaan pujangga keraton sering dianggap sebagai

peristiwa sejarah contohnya Babad Tanah Jawi (Jawa Kuno), Babad Cirebon.

 Suluk adalah kitab yang membentangkan soal-soal tasawwuf contohnya

(20)

 Primbon adalah hasil sastra yang sangat dekat dengan Suluk karena

berbentuk kitab yang berisi ramalan-ramalan, keajaiban dan penentuan hari baik/buruk.

Bentuk seni sastra tersebut di atas, banyak berkembang di Melayu dan Pulau Jawa.

Kedatangan Islam ke Indonesia membawa pengaruh cukup besar bagi kebudayaan Indonesia. Tetapi bukan berarti menghapus semua yang ada sebelumnya. Misalnya, kesenian wayang yang telah ada sebelum kedatangan Islam. Bahkan wayang ini digunakan para wali untuk menyebarkan agama Islam.

4. Sistem Pemerintahan

Dalam pemerintahan, sebelum Islam masuk Indonesia, sudah berkembang pemerintahan yang bercorak Hindu ataupun Budha. Tetapi setelah Islam masuk, maka kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu/Budha mengalami keruntuhannya dan digantikan peranannya oleh kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam seperti Samudra Pasai, Demak, Malaka dan sebagainya.

Sistem pemerintahan yang bercorak Islam, rajanya bergelar Sultan atau Sunan seperti

halnya para wali dan apabila rajanya meninggal tidak lagi dimakamkan dicandi/dicandikan tetapi dimakamkan secara Islam.

5. Sistem Kalender

(21)

Mataram menciptakan kalender Jawa, dengan menggunakan perhitungan peredaran bulan (komariah) seperti tahun Hijriah (Islam).

Nama-nama bulan yang digunakan adalah 12, sama dengan penanggalan Hijriyah (versi Islam). Demikian pula, nama-nama bulan mengacu pada bahasa bulan Arab yaitu Sura (Muharram), Sapar (Safar), Mulud (Rabi’ul Awal), Bakda Mulud (Rabi’ul Akhir), Jumadilawal (Jumadil Awal), Jumadilakir (Jumadil Akhir), Rejeb (Rajab), Ruwah (Sya’ban), Pasa (Ramadhan), Sawal (Syawal), Sela (Dzulqaidah), dan Besar (Dzulhijjah). Namun, penanggalan hariannya tetap mengikuti penanggalan Saka karena penanggalan harian Saka saat itu paling banyak digunakan penduduk Kalender Sultan Agung tersebut dimulai tanggal 1 Syuro 1555 Jawa, atau tepatnya 1 Muharram 1053 H yang bertepatan tanggal 8 Agustus 1633 M.

PERAN UMAT ISLAM DALAM KEHIDUPAN BANGSA INDONESIA

1. Masa Penjajahan

Dengan dianutnya agama Islam oleh masyarakat Indonesia ajaran Islam telah banayak mendatangkan perubahan. Antara lain :

 Masyarakta Indonesi dibebaskan dari pemujaan berhala dan pendewaan

raja- raja serta dibimbing agar menghambakan diri hanya kepada Allah YME.

 Rasa persamaan dan keadilan yang diajarkan Islam mampu mengubah

 Masyarakat Indonesia yang dulunya menganut sistem kasta dan

diskriminasi.

 Semangat cinta tanah air dan rasa kebangsaan yang didengungkan Islam

dengan semboyan “Hubbul Wathan Minal Iman” Semboyan yang

(22)

wajib. Umat Islam yang mati dianggap mati syahid yang imbalannya Surga. Perjuangan mengusir penjajah terus berlanjut sampai kaum penjajah betul-betul angkat kaki dari bumi Indonesia.

 Perlawanan Kerajaan Islam dalam Menentang Penjajahan

Perlawanan terhadap penjajah Portugis Perlawanan terhadap penjajah Belanda

2. Masa Perang Kemerdekaan

Peranan Ulama Islam Indonesia pada masa perang kemerdekaan ada dua macam yaitu:

 Membina kader umat Islam, melalui pesantren dan aktif dalam pembinaan

masyarakat

 Turut berjuang secara fisik sebagai pemimpin perang

 Peranan Organisasi dan Pondok Pesantren pada masa Kemerdekaan

a. Serikat dagang Islam / Serikat Islam b. Muhammadiah

c. Nahdlatul Ulama

Pada masa penjajahan Belanda, NU senantiasa berjuang menentang penjajah dan pernah mengeluarkan pernyataan politik yang isinya : - Menolak kerja rodi yang dibebankan oleh penjajah kepada rakyat - Menolak rencana ordonansi tentang perkawinan tercatat

- Menolak diadakannya milisi

- Menyokong gapi dalam menuntut indonesia yang memiliki parlemen kepada

3. Perana Umat Islam pada Masa Pembangunan

Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan RI, uamat Islam mayoritas penduduk, tampil dibarisan terdepan dalam perjuangan, baik perjuangan politik maupun perjuangan diplomasi.

(23)

 Melakukan usaha-usaha agar masyarakat Indonesia berilmu pengetahuan

tinggi, berbudi luhur dan bertaqwa kepada tuhan YME

 Melakukan usaha-usaha dibidang kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

NU, yang pernah berkifrah dibidang politik dalam perkembangan selanjutnya NU

bergerak dibidang agama, sosial dan kemasyaraktan. Usaha-usaha NU antara lain:

 Mendirikan madrasah-madrasah

 Mendirikan, mengelola, dan mengembangkan pesantren-pesantren

 Membantu dan mengurusi anak-anak yatim dan fakir miskin

MUI adalah organisasi keilmuan yang bersifat independen tidak beraviliasi kepada salah satu aliran politk, mazhab atau aliran keagamaan Islam yang ada di Indonesia, Adapun peranan MUI pada masa pembangunan adalah :

 Memberikan fatwa dan nasihat keagamaan dalam masalah sosial

kemasyarakatan kepada pemerintah dan umat Islam di Indonesia pada umumnya, sebagai amar ma’ruf nahyi munkar dalam usaha meningkatkan ketahanan sosial.

 Memperkuat ukhuah Islamiyah dan melaksanakan kerukunan antar umat

beragama dalam mewujudkan persataun dan kesatuan nasional.

 MUI adalah penghubung antara ulama dan umara serta menjadi

penerjemah timbal balik antara pemerintah dan umat Islam Indonesi guna menyukseskan pembangunan nasional.

Pada masa pembangunan ini terdapat pula organisasi Islam yang menampung pada cendekia muslim yang di sebut ICMI. ICMI lahir pada Desember 1990 dan berkifrah pada hampir semua aspek kehidupan bangsa.

4. Peranan Lembaga Pendidikan dalam Pembangunan

(24)

Sealin itu, adapaula lemabaga-lembaga pendidikan Islam yang dikelola oleh swasta, tapi dibawah pengawasan serta pembinaan Depag, seperti: Bustanul Athfal, MI, MTs, MA dan perguruan tinggi lainnya. Peranan kelembagaan Islam dalam pembangunan antara lain:

 Melakukan usaha-usaha agar masyarakt Indonesia bertaqwa kepada tuhan

YME

 Menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara

 Memupuk persataun dan kesatuan umat

 Mencerdaskan bangsa Indonesia

 Mengadakan pembinaan mental spiritual

HIKMAH MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA

Setelah memahami bahwa perkembangan Islam di Indonesia memiliki warna atau ciri yang khas dan memiliki karakter tersendiri dalam

penyebarannya, kita dapat mengambil hikmah, diantaranya sebagai berikut

1. Islam membawa ajaran yang berisi kedamaian.

2. Penyebar ajaran Islam di Indonesia adalah pribadi yang memiliki ketangguhan dan pekerja keras.

3. Terjadi akulturasi budaya antara Islam dan kebudayaan lokal meskipun Islam tetap memiliki batasan dan secara tegas tidak boleh bertentangan dengan ajaran dasar dalam Islam.

Banyak manfaat yang dapat kita ambil untuk dilestarikan diantaranya sebagai berikut :

1. Kehadiran para pedagang Islam yang telah berdakwah dan memberikan

(25)

perkembangan pemahaman atas suatu kepercayaan yang sudah ada di Nusantara ini.

2. Hasil karaya para ulama yang berupa buku sangat berharga untuk dijadikan

sumber pengetahuan.

3. Kita dapat meneladani Wali Songo

4. Menjadikan masyarakat gemar membaca dan mempelajari Al-Qur’an.

5. Mampu membangaun masjid sebagai tempat ibadah dalam berbagai bentuk

atau arsitektur hingga kee seluruh pelosok Nusantara.

6. Mampu memanfaatkan peninggalan sejarah, termasuk situs-situs

peninggalan para ulama, baik berupa makam, masjid, maupun peninggalan sejarah lainnya.

7. Seorang ulama atau ilmuwan dituntut oleh islam untuk mempraktikan

tingkah laku yang penuh keteladanan agar terus dilestarikan dan dijadikan panutan oleh generasi berikutnya.

8. Para ulama dan umara bersatu padu mengusir penjajah meskipun dengan

persenjataan yang tidak sebanding.

PERADABAN ISLAM DIMASA DEPAN

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman didalam Al-qur’an :

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS At-Taubah : 33)

(26)

“Malam dan siang tidak akan sirna sehingga Al-Latta dan Al-‘Uzza telah disembah. Lalu Aisyah bertanya: “Wahai Rasul, sungguh aku mengira bahwa takkala Allah menurunkan firman-Nya “Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai, hal itu telah sempurna (realisasinya).”Belau menjawab: “Hal itu akan terealisasi pada saat yang ditentukan oleh Allah.” [Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam-Imam yang lain]

Dari hadits diatas tidak diragukan lagi bahwa kemenangan Islam di masa depan semata-mata atas izin pertolongan dari Allah Swt, dengan catatan harus tetap kita perjuangkan. Perjuangan dapat dilakukan dengan cara berjihad. Namun maksud jihad disini bukanlah peperangan atau pembunuhan massal pada kaum non muslim. Tapi melainkan dengan cara meningkatkan mutu pendidikan yang canggih namun tidak keluar dari nilai-nilai ajaran islam.

Sudah menjadi pemahaman bahwa kemenangan yang diraih dunia Barat dari umat Islam ketika sedang dalam keadaan lemah dan kondisi yang rapuh seperti saat ini, bukanlah disebabkan oleh kekuatan mereka semata, bukan pula karena kelemahan umat Islam. Tetapi semua itu disebabkan buruknya pola berpikir dan rendahnya tingkat pengetahuan umat Islam tentang Dienul Islam itu sendiri.Masa depan dunia Islam tergantung pada tindakan yang diambil umat Islam sekarang ini. Jika umat Islam telah terlalu jauh dan berpaling dari agama mereka maka mereka akan jatuh pada musibah ketertindasan dan keterjajahan. Oleh karena itu umat Islam harus menyadari bahwa hanya dengan kembali kepada Islam, umat Islam akan dapat meraih kembali kemuliaan, lepas dari segala bentuk penjajahan yang selama ini membelenggu. Tiada lain jalan yang ditempuh selain kembali kepada Islam sesuai pemahaman para Shahabat dan Salafussholih. Mengikuti apa yang telah dicontohkan Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin dalam melaksanakan syariat Islam baik dalam kehidupan individu, bermasyarakat dan bernegara.

(27)

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baikseperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.” (QS. Ibrahim [14]: 24-26).

Allah telah menjanjikan kejayaan Islam di masa yang akan datang cepat atau lambat, pilihan umat Islam saat ini adalah apakah ikut turut andil ataukah tidak? Jika ikut turut andil menuju kejayaan dan kebangkitan peradaban Islam maka akan menjadi golongan orang-orang yang beruntung, mendapatkan pahala yang amat besar. Namun sebaliknya, jika hanya diam, duduk manis menonton, mengikuti arus dunia, individualis, acuh tak acuh terhadap kondisi umat, dan enggan berjuang di JalanNya karena lebih mencintai dunia dari pada cinta kepada Allah dan Rasul maka tunggulah keputusan Allah.

(28)

BAB III

KESIMPULAN

3.1. KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas dapat kami simpulkan sebagai berikut:

 Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijrah atau abad ke tujuh/ke delapan masehi. Ini mungkin didasarkan pada penemuan batu nisan seorang wanita muslimah yang bernama Fatimah binti Maimun di Leran dekat Surabaya yang bertahun 475 H atau 1082 M.

 Perkembangan Islam dan pengaruhnya di masyarakat Indonesia sangat luas, adapun pengaruhnya yaitu:

 Pengaruh Bahasa dan Nama

 Pengaruh Adat Istiadat

 Pengaruh Dalam Kesenian dan Bangunan Ibadah

 Pengaruh Dalam Bidang Politik

 Ada 3 teori yang paling terkenal dalam penyebran islam ke indonesia yaitu teori gujarat, teori makkah dan teori persia

3.2. SARAN

(29)

DAFTAR PUSTAKA

Suminto, Aqid., Politik Islam Hindia Belanda, Jakarta: Pustaka LP3ES.

Thohir, Ajid., Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004.

Hasjmy, A., Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia, cet.1, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1990.

Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam, Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1994. https://academia.edu/affandi.masterofscience.html

http://wilipedia.com/Sejarah-masuknya-islam-ke-idonesia.html

http://setiyanisetiyani.blogspot.com/2013/10/makalah-studi-islam-sejarah-masuknya.html

Referensi

Dokumen terkait

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA 2017.. Adapun fokus masalahnya adalah sebagai berikut : 1) Bagaimana sejarah berdirinya SD Muhammadiyah 1

(3) Pondok Pesantren Pendopo Watu Bodo berdiri pada tahun 1991 dan mengalami perkembangan dari tahun ke tahun, khususnya pada tahun 2007 pondok pesantren ini

Adapun jasa-jasa Walisongo dalam penyebaran Islam di Jawa adalah menyebarkan Islam kepada penduduk pedalaman pulau Jawa, sebelum Wlisongo, Islam hanya berkembang

Judul : Menangkal Radikalisme Agama di Perguruan Tinggi: Studi Tentang Kebijakan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Dalam Mencegah Perkembangan Paham Radikal

Analisis proses pelaksanaan bimbingan agama Islam dalam meningkatkan religiusitas ABH di Pondok Pesantren Raden Sahid, melibatkan komponen bimbingan agama Islam

Sejak Islam masuk ke Indonesia, para Ulama dan Sultan telah memikirkan cara untuk menyebarkan Islam secara efektif, mulai dari dayah sebagai lembaga kader pendakwah,

Sunan Ampel merupakan tokoh tertua Walisongo pengganti ayahnya Syaikh Ibrahim As-Samarkandi, Ia berperan besar dalam pengembangan dakwah Islam di Jawa dan tempat lain

Beliau kemudian membangun sebuah rumah kecil langgar untuk tempat pendakwahan yang berkembang dan mendirikan pesantren di Ampel Denta yaitu sebagai lembaga pendidikan Islam dimana para