• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Sejarah dan Perkembangan Islam d

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Sejarah dan Perkembangan Islam d"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Agama Islam merupakan agama samawi yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau memulai dakwah menyebarkan agama Islam dari tanah kelahirannya, Makkah Al Mukarramah. Pada awalnya dakwah beliau hanya diikuti oleh beberapa orang terdekat saja. Banyak dari kalangan orang-orang Quraisy yang menentang dakwah beliau. Bahkan mereka memusuhi Nabi dan orang-orang yang mengikuti ajarannya. Hingga berbagai usaha pembunuhan Nabi pun sering dilakukan orang-orang Quraisy. Selama sekitar sepuluh tahun dakwah beliau di Makkah, jumlah pengikut masih sangat sedikit.

Kemudian di tahun kesebelas kenabiannya, beliau dan para pengikut melakukan hijrah ke Madinah. Disinilah Nabi Muhammad mulai menyusun strategi dakwah untuk mengajak orang masuk Islam. Pertama kali yang beliau lakukan adalah membentuk pemerintahan. Dengan kegigihan Nabi dan para sahabat dalam berdakwah, Islam pun semakin menyebar luas ke tanah berbagai tanah arab. Dan jumlah umat Islam pun semakin hari semakin bertambah. Hal ini dapat kita lihat dari peperangan-peperangan yang dilakukan Rasulullah SAW. Perang Badar yang merupakan perang besar pertama umat Islam melawan orang-orang kafir hanya membawa pasukan sekitar 300 orang, kemudian Perang Uhud membawa pasukan 1000 orang. Dan peperangan-peperangan berikutnya dengan jumlah pasukan yang semakin banyak.

(2)

mengirimkan delegasi untuk menyampaikan Islam ke negeri Cina. Dan sebelum sampai di negeri Cina para delegasi singgah di Nusantara. Dari delegasi yang dikirim Khalifah Usman inilah Islam mulai berkembang di Indonesia. Kemudian dakwah dilanjutkan oleh para pedagang dari India. Sehingga jumlah umat Islam di Indonesia terus bertambah setiap harinya. Hingga saat ini dakwah Islam di Indonesia masih terus berlanjut. Dan dari berbagai survei menunjukan bahwa mayoritas penduduk di Indonesia adalah Muslim.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana sejarah dan perkembangan Islam di Indonesia?

2. Bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam di Indonesia?

3. Bagaimana peranan umat Islam dalam kehidupan bangsa Indonesia?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Mengetahui sejarah dan perkembangan Islam di Indonesia.

2. Mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam di Indonesia.

3. Mengetahui peranan umat Islam dalam kehidupan bangsa Indonesia.

1.4 Metode dan Prosedur Penulisan

Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini yaitu dengan menggunakan informasi dari berbagai referensi buku baik dalam negeri maupun luar negeri.

(3)

2.1 Sejarah dan Perkembangan Islam di Indonesia

Pada tahun 30 Hijriah atau 651 M, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Usman ibnu ‘Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Usman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Dalam versi lain disebutkan bahwa suatu golongan Zaidiyah yang pro terhadap Ali ibn Abi Thalib mengungsi dari kerajaan Bani Umayyah karena dikejar-kejar, telah bermukim di Cina sebelum tahun 750 M. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

Islam masuk Indonesia bukan dari pedagang India atau Persi tapi langsung dari Arab dan penyiarnya orang Arab Islam. Adapun pengikut-pengikut mereka adalah pedagang-pedagang dari Gujarat yang turut mengambil bagian dalam perdagangan. Daerah di Indonesia yang mula-mula dimasuki Islam adalah Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Jawa Tengah, kemudian lama kelamaan agama Islam masuk ke pelosok tanah air dengan pesatnya.

Pendapat beberapa ahli tentang waktu dan daerah yang mula-mula dimasuki Islam di Indonesia antara lain:

- Drs. Juned Pariduri

(4)

Islam masuk ke Jawa pada abad ke-7 atau sekitar tahun 674 M. - Zainal Arifin Abbas

Islam masuk di Sumatera Utara pada abad ke-7 sekitar tahun 648 M.

Para ahli tersebut berpendapat bahwa Islam masuk di Indonesia pada abad ke-7 berarti pada abad ke-13 Islam sudah berkembang dengan pesatnya dan telah merata di seluruh Indonesia. Hal ini ditandai dengan adanya penemuan-penemuan batu nisan yang berciri khas Islam. Dari kerajaan Samudera Pasai, Islam menyebar ke seluruh pulau Sumatera, Malaka sampai ke pulau Jawa. Setelah itu di Indonesia berdiri kerajaan-kerajaan Islam yang besar (Demak, Banten, Cirebon, Aceh, Mataram, Pajang, Makassar, dan lain-lainnya dan kemudian menjadi pusat tempat penyebaran Islam.

2.1.1 Perkembangan Islam di Sumatera

Islam masuk ke Sumatera pada abad ke-7 Masehi, yang pada waktu itu di Sumatera telah berdiri kerajaan Budha di Sriwijaya (683 – 1030 M) yang menjadikan Islam masuk ke daerah itu sedikit mengalami kesulitan, dan pada waktu itu kerajaan Sriwijaya mendapat serbuan dari India, maka kesempatan itu digunakan untuk menyebarkan Islam bagi daerah-daerah, seperti di Samudera Pasai sehingga berdirilah kerajaan Islam yang pertama di Samudera Pasai.

Karena ada beberapa versi sejarah yang berbeda, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Islam di Sumatera terbagi menjadi:

(5)

Sultan Perlak adalah Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah. Ia dilantik pada tanggal 1 Muharram tahun 225 H.

- Samudera Pasai

Silsilah keturunan Malik Al-Saleh yang memerintah Samudera Pasai tahun 650 – 688 H menunjukkan bahwa beliau keturunan Raja Islam, yaitu Makhdum Sultan Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat tahun 365 – 402 H.

- Kerajaan Aceh

Salah seorang pembawa agama Islam di Aceh adalah Syekh Abdullah Arif yang datang dari Arab. Beliau mempunyai murid bernama Burhanuddin yang kemudian menyebarkan ajaran agama Islam di Pariaman, Sumatera Barat.

2.1.1.2 Islam di Barus

Papan Tinggi adalah sebuah pemakaman di Bandar Barus, Pantai Barat Sumatera Utara. Di salah satu batu nisan terdapat sebuah nama Said Mahmud Al-Hadramaut. Selain itu seorang Islam bernama Sulaiman telah sampai di Pulau Nias pada tahun 851 M. Sulaiman menyebutkan Bandar Barus itu penghasil kapur barus dan ia singgah di bandar ini.

2.1.1.3 Islam di Sumatera Timur

(6)

ditemukan di Klumpang, Deli, yaitu bekas kerajaan Haru/Aru.

- Kerajaan Siak

Islam diperkirakan masuk di kerajaan ini pada abad 12 M. Ini dapat terlihat pada peninggalan kuburan bertahun 1128 M yang bercorak Islam, yaitu kuburan Nizamuddin Al- Kamil seorang laksamana dari dinasti Fatimiah.

2.1.1.4 Islam Masuk di Sumatera bagian Selatan

Dikisahkan oleh Ibnu Batutah bahwa hubungan dagang antara khalifah Abbasiyah (751 – 1268 M) dengan Sriwijaya telah berlangsung. Bahkan sebelumnya telah ada pedagang utusan dari khalifah Umayyah (661 – 750 M), dan banyak pedagang Sriwijaya sendiri yang berlayar ke negara-negara Timur Tengah.

2.1.2 Perkembangan Islam di Pulau Jawa

(7)

Adapun jasa-jasa Walisongo dalam penyebaran Islam di Jawa adalah menyebarkan Islam kepada penduduk pedalaman pulau Jawa, sebelum Wlisongo, Islam hanya berkembang di daerah pesisir, Walisongo berhasil mendirikan beberapa kerajaan Islam di Pulau Jawa, yaitu: Demak, Pajang, dan Banten, Walisongo juga berhasil mengubah kesenian Jawa dari pengaruh Hindu menjadi pengaruh Islam.

Setelah berdirinya kerajaan Islam Demak tahun 1500 M, maka Jawa Tengah merupakan salah satu pusat kegiatan agama Islam, adapun wali yang mengembangkan Islam di Jawa yaitu:

- Sunan Gresik

Beliau berasal dari Kasyan Bangsa Arab, kemudian menyiarkan Islam di kota Gresik. - Sunan Ampel

Beliau keturunan putri raja Aceh yang menikah dengan seorang penyiar Islam dari Arab. Beliau menyiarkan Islam di Ampel dan Surabaya. - Sunan Bonang

(8)

Beliau adalah putra dari sunan Kalijaga yang menikah derngan Dewi Sujinah dan mempunyai seorang putra yang bernam Pangeran Santri. Untuk kepentingan dakwahnya Dia menciptakan lagu “Sinom dan Kinanthi”.

- Sunan Kudus

Mengajarkan Islam dengan cara memperdalam agama dan mengikis habis pengaruh Hindu. - Sunan Gunung Jati

Beliau belajar Islam di Makkah. Menyiarkan Islam yang berpusat di Gunung Jati.

2.1.3 Perkembangan Islam di Sulawesi

Islam di Sulawesi tidak sebaik Islam di Jawa dan Sumatera, cara pengislaman di Sulawesi pun dilakukan dengan jalan damai, tidak ada kekerasan sama sekali. Adapun yang menyiarkan Islam di Sulawesi adalah Datuk Ribandang dan Datuk Sulaiman.

Di wilayah Sulawesi Utara mulai dari Mandar sampai Manado pada pertengahan abad ke-16 menjadi bawahan Kerajaan Ternate yang rajanya adalah seorang muslim. Atas ajakan Raja Ternate, Raja Bolang Mongondow memeluk Islam. Sampai ke timur Kepulauan Maluku, pada awal abad ke-16 telah memiliki kerajaan Islam, yakni Kerajaan Bacan. Mubaligh dari kerajaan Ini terus mendakwahkan Islam ke kawasan tetangganya di Papua melalui jalur perdagangan.

(9)

Sekitar tahun 1550 di Banjar berdiri kerajaan Islam dengan rajanya bergelar Sultan Suryanullah dan pada saat itu juga banyak rakyat Banjar yang memeluk agama Islam begitu pula dengan daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan Banja.

Pengembangan Islam di Kutai dilakukan oleh dua orang muslim dari Makassar yang bernama Tuan Bandang dan Tuan Tunggang Parangan, dengan cepat Islam berkembang di Kutai, termasuk raja mahkota memeluk Islam. Kemudian pengembangan Islam dilanjutkan ke daerah-daerah pedalaman pada pemerintahan Aji di Langgar. Pada tahun 1550 M, di Sukadan (Kalimantan Barat) telah berdiri kerajaan Islam. Ini berarti jauh sebelum tahun itu, rakyat telah memeluk agama Islam, adapun yang meng-Islamkan daerah Sukadana adalah orang Arab Islam yang datang dari Sriwijaya. Di Sukadana Sultan yang masuk Islam adalah Panembahan Giri Kusuma (1591) dan Sultan Hammad Saifuddin (1677).

Sebelum Islam masuk ke Dayak, suku Dayak menyembah berhala, tapi lama-kelamaan kebanyakan dari mereka memeluk Islam. Pengislaman di Dayak melalui jalan perdagangan, pernikahan, dan dakwah. Penyiaran Islam di Dayak dilakukan oleh pendatang dari Arab, Bugis, dan Melayu. Perkembangan Islam selanjutnya diteruskan oleh keturunan-keturunan mereka dengan penuh semangat.

(10)

Masuknya Islam ke Papua, tidak bisa dilepaskan dengan jalur dan hubungan daerah ini dengan daerah lain di Indonesia. Selain faktor pengaruh kekuasaan Kerajaan Majapahit, masuknya Islam ke kawasan ini adalah lewat Maluku, di mana pada masa itu terdapat kerajaan Islam berpengaruh di kawasan Indonesia Timur, yakni Kerajaan Bacan. Bahkan keberadaan Islam Bacan di Maluku sejak tahun 1520 M dan telah menguasai beberapa daerah di Papua sejak abad ke-16 dan telah tercatat dalam sejarah. Sejumlah daerah seperti Waigeo, Misool, Waigama dan Salawati pada abad ke-16 telah mendapat pengaruh dari ajaran Islam. Melalui pengaruh Sultan Bacan inilah maka sejumlah pemuka masyarakat di pulau-pulau tadi memeluk agama Islam, khususnya yang di wilayah pesisir. Sementara yang di pedalaman masih tetap menganut paham animisme. Masuknya Islam ke daerah Papua terjadi pada awal abad ke 17, atau dua abad lebih awal dari masuknya agama Kristen Protestan yang masuk pertama kali di daerah Manokwari pada tahun 1855, yaitu ketika dua orang missionaris Jerman bernama C.W. Ottow dan G.J. Geissler mendarat dan kemudian menjadi pelopor kegiatan missionaris di sana.

2.2 Perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam di Indonesia

(11)

saluran pewartaan atau penyiaran ajaran Islam. Karya seni yang bercorak Islam terdapat di bidang bangunan, seni musik, seni pahat lukis, seni kaligrafi, dan seni sastra.

Peninggalan yang paling jelas di bidang bangunan atau arsitektur adalah bangunan masjid. Masjid-masjid yang berasal dari masa pertumbuhan dan perkembangan Islam di nusantara antara lain masjid kuno di Demak, masjid Sendang Duwur Agung Kasepuhan di Cirebon, masjid Agung di Banten, dan masjid Nanggroe Aceh Darussalam

Peninggalan berikutnya di bidang bangunan adalah keraton, di lihat dari corak bangunannya, tampak bahwa keraton pada masa pertumbuhan agama Islam merupakan perpaduan antara corak seni Hindu, Islam, dan masyarakat setempat, dari perpaduan ini menghasilkan corak bangunan yang khas.

Peninggalan selanjutnya adalah makam. Bagian makam yang paling penting adalah nisan karena nisan merupakan tanda peringatan yang utama. Dari nisan sebuah makam dapat kita ketahui siapa yang meninggal dan kapan meninggalnya. Oleh karena itu pada nisan akan di jumpai huruf atau angka. Nisan ada yang di buat dengan ukir-ukiran dan dihiasi dengan tulisan Arab atau kaligrafi. Dengan demikian pada masa ini telah berkembang ilmu pengetahuan tentang tulis-menulis Arab (kaligrafi)

Peninggalan seni musik terungkap dari tradisi sekaten, yaitu gamelan yang dibunyikan pada perayaan gerebeg Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini masih terjaga dengan baik pada Keraton Yogyakarta.

(12)

Peninggalan ilmu pengetahuan dan budaya pada bidang sastra adalah berupa hikayat, babad, dan syair yang tertulis dengan huruf daerah, ada juga yang menggunakan huruf Arab. Naskah-naskah yang terkenal antara lain primbon-primbon abad ke-16 dari sunan Bonang dan syair-syair melayu yang indah dari Hamzah Fansuri.

2.3 Peranan umat Islam dalam kehidupan bangsa Indonesia

Selama berabad-abad Indonesia mengalami penjajahan. Kekayaan alam yang melimpah ruah jatuh ke tangan penjaah. Bukan hanya menjajah politik dan ekonomi bangsa, tetapi juga menjajah hak asasi yang paling mendasar bagi umat Islam, yaitu menjajah paham-paham agama Islam untuk ditukar dengan paham Komunisme, Liberalisme, dan agama lain.

Atas dasar penindasan tersebut, semangat jihad mulai dikobarkan. Pada abad ke-17 sampai 19 perlawanan umat Islam sudah nyata digerakkan dan dipelopori tokoh-tokoh pahlawan Islam, seperti Sultan Agung (Mataram), Sultan Agung Tirtayarsa dan Kyai Tapa (Banten), Sultan Hasanuddin (Makassar), Teukeu Cik Ditiro (Aceh), Teuku Imam Bonjol (Minangkabau), dan para kyai di seluruh pondok pesantren.

(13)

Namun sangat disayangkan, begitu besarnya kebencian penjajah kepada muslimin di Indonesia. Snouck Hurgronje, penasihat pemerintah kolonial Belanda menyampaikan sarannya kepada pemerintah kolonial Belanda (Dutch Islamic Policy) dengan tujuan mematahkan perlawanan umat Islam. Antara lain Snouck Hurgronje menyarankan, “yang harus ditakuti pemerintah (pemerintah Belanda) bukanlah Islam sebagai agama, tetapi Islam sebagai doktrin politik. Biasanya dipimpin small-minority yang fanatik, yakni ulama yang membaktikan hidupnya terhadap cita-cita Pan Islamisme. Golongan ulama ini lebih berbahaya kalau pengaruhnya meluas kepada petani di desa-desa. Karena itu disarankan supaya pemerintah bertindak netral terhadap Islam sebagai agama dan sebaliknya bertindak tegas terhadap Islam sebagai doktrin politik.”

Maka para penjajah berhasil melakukan strategi dalam pembuatan naskah UUD 1945. Ketika para pendiri Republik ini berhasil merumuskan satu gentlement agreement yang sangat luhur dan disepakati pada tanggal 22 Juni 1945 kemudian dikenal sebagai Piagam Jakarta (Jakarta Charter). Sesungguhnya Piagam Jakarta inilah mukadimah UUD ’45 yang pertama.

Selanjutnya tanggal 17 Agustus 1945 pada hari Jum’at dan bulan Ramadhan, Indonesia lahir sebagai negara dan bangsa yang merdeka. Hendaknya disadari oleh setiap muslim bahwa Republik yang lahir itu adalah sebuah negara yang “berdasarkan ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari‘at Islam bagi pemeluk – pemeluknya.”

Namun keesokan harinya tanggal 18 Agustus rangkaian kalimat “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, itu dihapus, diganti dengan kalimat: Yang Maha Esa. Inilah awal pengkhianatan terhadap Islam dan umat Islam.

(14)

mempersatukan bangsa, disini terdapat beberapa peranan penting umat Islam dalam berbangsa:

 Pada tahun 1960, umat Islam berusaha mencegah gagasan nasakom dan pada tahun 1965 mengusulkan pembubaran PKI untuk menyelamatkan pancasila dan kesatuan bangsa.  Mempelopori penbentukan “front Pancasila” yang

kemudian diteruskan dengan penganiayan G30SPKI sebagai landasan lahirnya Orde Baru.

 Majelis Ulama Indonesia (MUI) didirikan sehubungan dengan tugasnya yang utama, yaitu memberikan pertimbangan mengenai kehidupan beragama kepada pemerintah dan menjadi penghubung antara pemerintah dengan ulama.

 Untuk memperkuat ideologi Pancasila, umat Islam memajukan pendidikan umum dan pendidikan agama dalam mencerdaskan bangsa dan kesadaran bernegara serta memperkokoh persatuan dan kesatuan.

Namun untuk mencapai kesatuan dan kemajuan, umat Islam membentuk lembaga-lembaga, baik berupa organisasi sosial maupun lembaga – lembaga pendidikan, seperti :

1. Majelis Ulama Indonesia (MUI)

(15)

Tujuan utama dari MUI adalah “menjadi penerjemah serta menyampaikan pikiran-pikiran dan kegiatan pembangunan Nasional dan daerah kepada masyarakat.

2. Nahdlatul Ulama (NU)

Keterbelakangan baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan “Kebangkitan Nasional“. Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisasi pendidikan dan pembebasan. Organisasi Nahdlatul Ulama ini bergerak dalam bidang pendidikan dan dakwah, terutama dalam pembinaan pesantren-pesantren di berbagai daerah di Indonesia.

3. Muhammadiyah

Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Kampung Kauman Yogyakarta pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 November 1912. Organisasi ini bergerak dalam bidang pendidikan dan kemasyarakatan.

4. Organisasi Mahasiswa Islam

(16)

mereka menghimpun diri dalam wadah organisasi mahasiswa, di antaranya sebagai berikut :

a. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) b. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam berdiri pada tanggal 05 Februari 1947 (14 Rabiul awal 1366 H) di Yogjakarta oleh Lafran Paile. Organisasi ini bergerak dalam bidang politik, yang mempunyai tujuan utama, yaitu: “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab kepada masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah.”

c. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) d. KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim

Indonesia)

Organisasi Mahasiswa Muslim yang lahir di era reformasi yaitu tepatnya KAMMI lahir para ahad tanggal 29 Maret 1998 pukul 13.00 WIB atau bertepatan dengan tanggal 1 Dzulhijah 1418 H yang dituangkan dalam naskah Deklarasi Malang.

(17)

(FS-LDK) X se-Indonesia yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). 5. Organisasi Pelajar Islam

a. PII (Pelajar Islam Indonesia)

Sebuah organisasi Islam yang didirikan di kota Yogyakarta pada tanggal 4 Mei 1947. Para pendirinya adalah Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani, Amien Syahri dan Ibrahim Zarkasji.

b. IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) c. IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) d. IPPNU (Ikatan Putri Nahdlatul Ulama)

e. KAPMI (Kesatuan Aksi Pelajar Muslim Indonesia)

6. Organisasi Islam yang lain

a. GUPPI (Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam) b. MDI (Majelis Dakwah Islamiyah)

c. MMI (Majelis Muslimin Indonesia) d. GP. Anshar, IPM, Pemuda Muslim e. HSBI (Himpunan Seni Budaya Islam) f. HTI (Hizbut Tahrir Indonesia)

(18)

diemban Hizbut Tahrir adalah politik syar’iyah yaitu pelayanan terhadap ummat. Syekh Taqiyyuddin An Nabhani adalah pendiri Hizbut Tahrir. Pendirian Hizbut Tahrir didasarkan pada QS Ali ‘Imran ayat 104, yang berbunyi “Dan hendaklah ada diantara kamu, segolongan umat yang menyeru kepada yang ma’ruf (kebaikan) dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

g. FPI (Front Pembela Islam)

FPI dideklarasikan pada 17 Agustus 1998 (atau 24 Rabiuts Tsani 1419 H) di halaman Pondok Pesantren Al Um, Kampung Utan, Ciputat, di Selatan Jakarta oleh sejumlah Habaib, Ulama, Mubaligh dan Aktivis Muslim dan disaksikan ratusan santri yang berasal dari daerah Jabotabek. Organisasi ini dibentuk dengan tujuan menjadi wadah kerja sama antara ulama dan umat dalam menegakkan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar di setiap aspek kehidupan.

h. Ikhwanul Muslimin

(19)

Ikhwanul Muslimin kemudian semakin berkembang di Indonesia setelah Muhammad Natsir mendirikan partai yang memakai ajaran Ikhwanul Muslimin, yaitu Partai Masyumi.

i. Persatuan Ummat Islam (PUI)

Organisasi massa Islam di Indonesia yang lahir pada 5 April 1952 di Bogor. Ia lahir dalam kondisi di mana kebanyakan organisasi di Indonesia kala itu cenderung terpecah belah. PUI lahir sebagai hasil fusi dua organisasi besar kala itu. Yaitu Perikatan Ummat Islam (PUI) pimpinan KH Abdul Halim, yang berpusat di Majalengka, dengan Persatuan Ummat Islam Indonesia (PUII) pimpinan KH Ahmad Sanusi, yang berpusat di Sukabumi. Ormas hasil fusi ini kemudian melakukan kegiatannya di sejumlah bidang, yaitu pendidikan, sosial, kesehatan masyarakat, ekonomi dan dakwah. Bahkan ormas ini sekarang telah merintis kegiatan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Sekarang diketuai oleh KH. Cholid Fadlullah, SH. j. Hidayatullah

(20)
(21)

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan makalah yang telah diuraikan diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa Islam masuk ke Negara Indonesia sejak tahun 651 M. Yaitu pada zaman Khalifah Usman bin ‘Affan yang pada waktu itu mengirim delegasi untuk mengenalkan pemerintahan Islam ke Negeri Cina, namun dalam perjalanan ke Cina tersebut delegasi singgah di Indonesia dan mengenalkan kepada penduduk tentang Islam.

Semakin hari dakwah Islam terus berkembang pesat dari sejak dinasti umayyah yang mendirikan pangkalan dagang di Sumatera. Dari sini terbuka jalur perdagangan orang-orang Arab ke Indonesia dengan membawa ajaran Islam. Perkembangan Islam di Indonesia tidak terlepas dari dakwah para wali, terutama di wilayah Jawa.

(22)

DAFTAR PUSTAKA

Dr. Kuntowijoyo. 1999. Budaya & Masyarakat. Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya

Mukti Ali. 1988. Beberapa Persoalan Agama Dewasa Ini. Jakarta: Rajawali Harun Nasution. 1975. Pembaharuan dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang

Nata, Abuddin. 2001. Peta Keragaman Pemikiran Islam Di Idonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Referensi

Dokumen terkait

Sembilan ulama yang berjasa menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa dikenal dengan.

Dan setelah permukiman di Pulau seribu semakin meluas, maka penyebaran penduduk dan budayanya berlangsung dari satu pulau ke pulau lain, seperti Pulau

Kerajaan Demak dengan bantuan wali sanga berkembang menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa pada masa inilah Masjid Agung Demak dibangun. Dikuasai Portugis, Demak

Pada masa orde baru pendidikan agama Islam tidak dapat berkembang, sehingga dengan adanya reformasi pendidikan diharapkan pendidikan Islam mampu berkembang di

Kemudian peranan Malaka digantikan oleh Kerajaan Aceh yang menjadi pusat penyebaran Islam..

Sejak Islam masuk ke Indonesia, para Ulama dan Sultan telah memikirkan cara untuk menyebarkan Islam secara efektif, mulai dari dayah sebagai lembaga kader pendakwah,

Contoh pondok pesantren yang digunakan untuk menyebarkan agama Islam pada masa perkembangan Islam adalah Pondok Pesantren Ampel Denta di Surabaya yang didirikan oleh Raden

Penyebaran Islam di wilayah Asia Tenggara ditandai dengan berdirinya kesultanan Islam di kawasan tersebut. Sejarah perkembangan kesultanan Islam di