• Tidak ada hasil yang ditemukan

Krisis moneter tahun 1998 dan dampa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Krisis moneter tahun 1998 dan dampa "

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Tugas manajemen risiko

Krisis moneter tahun 1998

Menurut Fischer (1998), sesungguhnya pada masa kejayaan Negara-negara Asia Tenggara, krisis di beberapa negara, seperti Thailand, Korea Selatan, dan Indonesia, sudah bisa diramalkan meski waktunya tidak dapat dipastikan.Misalnya di Thailand dan Indonesia, defisit neraca perdagangan terlalu besar dan terus meningkat setiap tahun, sementara pasar properti dan pasar modal di dalam negeri berkembang pesat tanpa terkendali. Selain itu, nilai tukar mata uang di dua Negara tersebut dipatok terhadap dolar AS terlalu rendah yang mengakibatkan ada kecenderungan besar dari dunia usaha didalam negeri untuk melakukan pinjaman luar negeri, sehingga banyak perusahaan dan lembaga keuangan di negara-negara itu menjadi sangat rentan terhadap risiko perubahan nilai tukar valuta asing. Dan yang terakhir adalah aturan serta pengawasan keuangan oleh otoriter moneter di Thailand dan Indonesia yang sangat longgar hingga kualitas pinjaman portfolio perbankan sangat rendah. Anggapan Fischer tersebut dapat

membantu untuk menentukan apakah krisis rupiah terjadi karena krisis bath Thailand. Sementara menurut McLeod (1998), krisis rupiah di Indonesia adalah hasil dari akumulasi kesalahan-kesalahan pemerintah dalam kebijakan-kebijakan ekonominya selama orde baru, termasuk diantaranya kebijakan moneter yang mempertahankan nilai tukar rupiah pada tingkat yang overvalued.

Krisis moneter yang terjadi di Indonesia sejak awal Juli 1997, di akhir tahun itu telah berubah menjadi krisis ekonomi. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, menyebabkan harga-harga naik drastis. Banyak perusahaan-perusahaan dan pabrik-pabrik yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran. Jumlah pengangguran meningkat dan bahan-bahan sembako semakin langka.Krisis ini tetap terjadi, meskipun fundamental ekonomi Indonesia di masa lalu dipandang cukup kuat dan disanjung-sanjung oleh Bank Dunia. Yang dimaksud fundamental ekonomi yang kuat adalah pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, laju inflasi terkendali, cadangan devisa masih cukup besar dan realisasi anggaran pemerintah masih menunjukkan sedikit surplus.

1. Stok hutang luar negeri swasta yang sangat besar dan umumnya berjangka pendek yang telah menciptakan “ketidakstabilan”. Hal ini diperburuk oleh rasa percaya diri yang berlebihan, bahkan cenderung mengabaikan, dari para menteri dibidang ekonomi maupun masyarakat perbankan sendiri menghadapi besarnya serta persyaratan hutang swasta tersebut.

(2)

Penyebab dari krisis 98

1. Yang pertama, stok hutang luar negeri swasta yang sangat besar dan umumnya berjangka pendek, telah menciptakan kondisi bagi “ketidakstabilan”. Hal ini diperburuk oleh rasa percaya diri yang berlebihan, bahkan cenderung mengabaikan, dari para menteri di bidang ekonomi maupun masyarakat perbankan sendiri menghadapi besarnya serta persyaratan hutang swasta tersebut. Pemerintah selama ini selalu ekstra hati-hati dalam mengelola hutang pemerintah (atau hutang publik lainnya), dan senantiasa menjaganya dalam batas-batas yang dapat tertangani (manageable). Akan tetapi untuk hutang yang dibuat oleh sektor swasta Indonesia, pemerintah sama sekali tidak memiliki mekanisme pengawasan. Setelah krisis berlangsung, barulah disadari bahwa hutang swasta tersebut benar -benar menjadi masalah yang serius. Antara tahun 1992 sampai dengan bulan Juli 1997, 85% dari penambahan hutang luar negeri Indonesia berasal dari pinjaman swasta (World Bank, 1998). Hal ini mirip dengan yang terjadi di negara-negara lain di Asia yang dilanda krisis. Dalam banyak hal, boleh dikatakan bahwa negara telah menjadi korban dari keberhasilannya sendiri. Mengapa demikian? Karena kreditur asing tentu bersemangat meminjamkan modalnya kepada perusahaan-perusahaan (swasta) di negara yang memiliki inflasi rendah, memiliki surplus anggaran, mempunyai tenaga kerja terdidik dalam jumlah besar, memiliki sarana dan prasarana yang memadai, dan menjalankan sistem perdagangan terbuka.

Daya tarik dari “dynamic economies’” ini telah menyebabkan net capital inflows atau arus modal masuk (yang meliputi hutang jangka panjang, penanaman modal asing, dan equity purchases) ke wilayah Asia Pasifik meningkat dari US$25 milyar pada tahun 1990 menjadi lebih dari US$110 milyar pada tahun 1996 (Greenspan 1997). Sayangnya, banyaknya modal yang masuk tersebut tidak cukup dimanfaatkan untuk sektor-sektor yang produktif, seperti pertanian atau industri, tetapi justru masuk ke pembiayaan konsumsi, pasar modal, dan khusus bagi Indonesia dan Thailand, ke sektor perumahan (real estate). Di sektor-sektor ini memang terjadi ledakan (boom) karena sebagian dipengaruhi oleh arus modal masuk tadi, tetapi sebaliknya kinerja ekspor yang selama ini menjadi andalan ekonomi

nasional justru mengalami perlambatan, akibat apresiasi nilai tukar yang terjadi, antara lain, karena derasnya arus modal yang masuk itu.

Selain itu, hutang swasta tersebut banyak yang tidak dilandasi oleh kelayakan ekonomi, tetapi lebih mengandalkan koneksi politik, dan seakan didukung oleh persepsi bahwa negara akan ikut

menanggung biaya apabila kelak terjadi kegagalan. Lembaga keuangan membuat pinjaman atas dasar perhitungan aset yang telah “digelembungkan” yang pada gilirannya mendorong lagi terjadinya apresiasi lebih lanjut (Kelly and Olds 1999). Ini adalah akibat dari sistem yang sering disebut sebagai “crony capitalism”. Moral hazard dan penggelembungan aset tersebut, seperti dijelaskan oleh Krugman (1998), adalah suatu strategi “kalau untung aku yang ambil, kalau rugi bukan aku yang tanggung (heads I win tails somebody else loses)”. Di tengah pusaran (virtous circle) yang semakin hari makin membesar ini, lembaga keuangan meminjam US dollar, tetapi menyalurkan pinjamannya dalam kurs lokal (Radelet and Sachs 1998). Yang ikut memperburuk keadaan adalah batas waktu pinjaman (maturity) hutang swasta tersebut rata-rata makin pendek. Pada saat krisis terjadi, rata-rata batas waktu pinjaman sektor swasta adalah 18 bulan, dan menjelang Desember 1997 jumlah hutang yang harus dilunasi dalam tempo kurang dari satu tahun adalah sebesar US$20,7 milyar (World Bank 1998).

2. Yang kedua, dan terkait erat dengan masalah di atas, adalah banyaknya kelemahan dalam sistem perbankan di Indonesia. Dengan kelemahan sistemik perbankan tersebut, masalah hutang swasta eksternal langsung beralih menjadi masalah perbankan dalam negeri.

Ketika liberalisasi sistem perbankan diberlakukan pada pertengahan tahun 1980-an, mekanisme pengendalian dan

(3)

ketentuan, khususnya dalam kasus peminjaman ke kelompok bisnisnya sendiri, konsentrasi pinjaman pada pihak tertentu, dan pelanggaran kriteria layak kredit. Pada waktu yang bersamaan banyak sekali bank yang sesunguhnya tidak bermodal cukup (undercapitalized) atau kekurangan modal, tetapi tetap dibiarkan beroperasi. Semua ini berarti, ketika nilai rupiah mulai terdepresiasi, sistem perbankan tidak mampu menempatkan dirinya sebagai “peredam kerusakan”, tetapi justru menjadi korban langsung akibat neracanya yang tidak sehat.

3. Yang ketiga, sejalan dengan makin tidak jelasnya arah perubahan politik, maka isu tentang pemerintahan otomatis berkembang menjadi persoalan ekonomi pula.

Hill (1999) menulis bahwa banyaknya pihak yang memiliki vested interest dengan intrik-intrik politiknya yang menyebar ke mana-mana telah menghambat atau menghalangi gerak pemerintah, untuk

mengambil tindakan tegas di tengah krisis.Jauh sebelum krisis terjadi, investor asing dan pelaku bisnis yang bergerak di Indonesia selalu mengeluhkan kurangnya transparansi, dan lemahnya perlindungan maupun kepastian hukum. Persoalan ini sering dikaitkan dengan tingginya “biaya siluman” yang harus dikeluarkan bila orang melakukan kegiatan bisnis di sini. Anehnya, selama Indonesia menikmati economic boom persepsi negatif tersebut tidak terlalu menghambat ekonomi

Indonesia. Akan tetapi begitu krisis menghantam, maka segala kelemahan itu muncul menjadi

penghalang bagi pemerintah untuk mampu mengendalikan krisis. Masalah ini pulalah yang mengurangi kemampuan kelembagaan pemerintah untuk bertindak cepat, adil, dan efektif. Akhirnya semua itu berkembang menjadi “krisis kepercayaan” yang ternyata menjadi penyebab paling utama dari segala masalah ekonomi yang dihadapi pada waktu itu. Akibat krisis kepercayaan itu, modal yang dibawa lari ke luar tidak kunjung kembali, apalagi modal baru.

4. Yang keempat, perkembangan situasi politik telah makin menghangat akibat krisis ekonomi, dan pada gilirannya memberbesar dampak krisis ekonomi itu sendiri.

5. Banyaknya utang dalam valas, proyek jangka panjang yang dibiayai dengan utang jangka pendek, proyek berpenghasilan rupiah dibiayai valas, pengambilan kredit perbankan yang jauh melebihi nilai proyeknya, APBN defisit yang tidak efisien dan efektif, devisa hasil ekspor yang disimpan di luar negeri, perbankan yang kurang sehat, jumlah orang miskin dan pengangguran yang relative masih besar, dan seterusnya.

(4)

Penyebab krisis 2015

‘perusak’ utama perekonomian nasional adalah harga komoditas perkebunan dan tambang merosot di pasaran internasional; perlambatan ekonomi Tiongkok/China, dan penguatan mata uang dollar Amerika Serikat terhadap mata uang semua negara, kecuali Swiss Franc.

Krisis yang menghunjam jantung perekonomian, pada tahun pertama Kabinet Kerja, bukan karena sentimen politik.

“Kondisi ekonomi seperti saat ini nothing to do dengan politik. Tidak ada kaitannya dengan kondisi politik dalam negeri,” kata Mirza. Kondisi ini tidak terkait langsung dengan kinerja Kabinet Kerja yang dipimpin Presiden Jokowi - Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Harga Komoditas Perkebunan dan Pertambangan Merosot

Padahal ekspor Indonesia lebih banyak komoditas tambang seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO). Harga batu bara misalnya dari semua 150 dollar AS, kini di bawah 50 dollar, CPO semua 1.200 dollar AS, sekarang jauh 551 dollar AS.Harga komoditas ekspor asal Indonesia berjaya antara tahun 2003 - 2007. Saat itu, harga batu bara, minyak mentah kelapa sawit (crude palm oil/CPO), karet dan nikel bagus seklai.Namun harga ekspor jatuh 2008-2009 saat krisis yang dipicu macetnya kredit pemilikan rumah, subprime mortgage yang melanda Amerika. Ketika itu pertumbuhan Amerika negatif, disusul negara-negara di Eropa.

Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi China

Faktor kedua adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi China/Tiongkok. Perekonomian China, titik tertinggi 2007. Pertumbuhan ekonomi China 12 persen, India 9-10 persen. “Dan pembeli besar

komoditas batu bara dan CPO Indonesa adalan China dan India," katanya.Ekonomi China terlalu panas, kemudian menjadi terlalu banyak polusi, yang memicu protes dari anak muda. Harga tanah pun terlalu cepat naik, pasangan muda protes karena tidak mampu membeli rumah, sehingga pemerintah sengaja melimbatkan pertumbuhan ekonomi.Pertumbuhan diperlambat, terus dan sekarang menjadi 7 persen. Pemerintah China berusaha menstabilkan perlambatan pada level antara 7 - 7,5 persen.

(5)

China dan India adalah dua negara penyerap terbanyak komoditas ekspor dari Indonesia. Sebanyak 50 - 70 persen dari total ekspor adalah komoditas dan manufaktur. Volume ekspor itu didominasi komoditas CPO dan batu bara.

Kurs dollar amerika semakin perkasa

Satu faktor lagi adalah, ketidakpastian akan suku bunga dan pertumbuhan ekonomi Amerika, yang membuat gejolak dunia terutama yang berpengaruh pada pertumbuhan di negara berkembang.

Saat suku bunga AS naik, suku bunga Indonesia juga naik. Saat suku bunga AS naik, kurs rupiah melemah, dan Indonesia terpaksa naikkan bunga supaya kurs tidak melemah.

Pernbedaan krisis 1998 dan 2015

1. Efek Penularan Regional: Phatphong Effect

Tahun 1998, krisis moneter yan sering disingkat krismon terjadi karena dampak penularan krisis Asia terhadap Indonesia yang berlangsung begitu cepat. Ketika Thailand mengalami krisis baht sejak Juli 1997, Indonesia kemudian tertular, yang oleh para analis kala itu disebut sebagai “Phatphong Effect”. Istilah ini merujuk pada satu lokasi di Bangkok, yang menjadi tempat hiburan malam.

Karena efek penularan itu, apalagi dipersepsikan semua negara atau perekonomian yang masuk kelompok berkembang pesat (emerging markets) dianggap sama dengan Thailand, maka rontoklah ekonomi Asia Tenggara. Dan dampak terbesar dirasakan Indonesia, karena nilai tukar rupiah yang tadinya dikelola dalam sistem “managed float”, yang berarti nilai kurnya dikendaikandalam kisaran angka (band) tertentu oleh Bank Indonesia –mirip penentuan harga BBM– kemudian dilepas ke pasar mulai 14 Agustus 1997.

Sejak pelepasan band menjadi free float itu, nilai tukar rupiah yang tadinya di level Rp2.500-an, bergerak liar dan sempat menembus level Rp16.700 per dolar AS pada 1998. Maka semua perusahaan yang punya utang dolar menjadi kolaps.Saat ini, efek kejutan seperti 1998 relatif tidak ditemukan karena rupiah bergerak sesuai harga pasar. Tidak ada devaluasi atau pergerakan yang drastis, sehingga dampak

ekonomi lebih terprediksikan dan terkelola, dan risiko spekulasi tidak terlalu massive, seperti terjadi saat nilai rupiah masih dipatok dan dikelola secara “mengambang terkendali” seperti sebelum tahun 1998.

2. Fundamental Ekonomi: Rapuh vs Relatif Solid

(6)

berkisar di angka US$21 miliar – US$25 miliar, sementara beban utang begitu besar. Debt to GDP

ratio bahkan sempat mencapai 60%, yang berarti penghasilan dari ekspor dan kekayaan Indonesia hanya habis untuk membayar utang.

Jauh sebelum 1998, pemerintahan Soeharto pernah mengatakan nggak perlu khawatir soal utang Indonesia, karena aset BUMN relatif besar untuk membayar utang. Akhirnya kejadian, pemerintah harus menjual aset (privatisasi) BUMN untuk menombok kewajiban negara, bahkan membiayai APBN untuk membiayai penyelenggaraan negara termasuk menggaji pegawai negeri.

Saat ini, situasi jauh berbeda. Cadangan devisa sudah melampaui US$111 miliar, dan rasio utang terhadap GDP relatif rendah.

Namun persoalan yang kini dihadapi adalah defisit transaksi berjalan akibat pertumbuhan konsumsi domestik yang besar, dan harus dipenuhi dari impor. Begitu pula industri manufaktur pun harus mengimpor bahan baku atau barang modal. Indonesia juga impor bahan bakar minyak (BBM) dalam jumlah besar karena kilang di dalam negeri sudah uzur. Masalah struktural inilah yang perlu diselesaikan, untuk mengatasi tekanan defisit transaksi berjalan.

3. Pada 1998, Kondisi Sistem Perbankan Sakit Kronis

Bedanya lagi, krismon 1998 begitu dalam, hingga nilai ekonomi Indonesia anjlok -13% lebih. Gejolak nilai tukar kemudian menghantam sistem perbankan dan aktivitas ekonomi yang memicu pemecatan

karyawan (PHK) secara massal. Bank-bank yang memperoleh pinjaman sindikasi dari luar negeri terpukul bertubi-tubi, bukan hanya terkena jepitan ganda.

Perusahaan yang menjadi nasabah (debitur) perbankan saat itu tak sanggup membayar pinjaman, sehingga kredit macet berjibun. Bank-bank kemudian kolaps, dan terpaksa dilikuidasi atau ditutup oleh pemerintah. Likuidasi perbankan bersifat massal, tingkat kepercayaan terhadap sistem perbankan ambrol.

Akibatnya, terjadilah rush atau pencairan dana nasabah besar-besaran yang terjadi di mana-mana, sehingga pemerintah menyuntik dana (bailout) ke dalam sistem perbankan hingga ratusan triliun rupiah. Beban obligasi pemerintah untuk bailout besar-besaran itu bahkan masih tersisa hingga saat ini.

Sebaliknya, sekarang ini sistem perbankan jauh lebih sehat, lebih transparan, akuntabel, dan tidak mengalami masalah likuiditas, relatif bebas dari mismatch pendanaan, dan kredit macet yang besar seperti tahun 1998.

4. Kebijakan masa lalu Sarat Vested Interest dan KKN

Hal ini menyebabkan ketidakpuasan politik yang meluas, bukan hanya di kalangan politisi aktivis, tetapi juga kalangan aktivis mahasiswa.

(7)

1997, yang memperburuk posisi fundamental ekonomi dan menjatuhkan nilai tukar rupiah.

5. Terdapat Risiko Politik: Krisis Kepercayaan Terhadap Pemerintahan Presiden Soeharto pada 1998 Ketidakpuasan terhadap sistem politik pada dekade 1990-an itu memicu ketidakpuasan terhadap rezim pemerintahan. Sejak akhir 1997, demonstrasi merebak di berbagai tempat, menuntut suksesi

kepemimpinan hingga awal 1998.Kondisi gejolak politik ini menyebabkan tingkat kepercayaan terhadap pemerintahan Orde Baru ketika itu anjlok, dan perekonomian Indonesia menjadi korban dari penarikan uang dalam jumlah besar-besaran oleh pemodal asing (capital flight). Bahkan juga pemodal dalam negeri membawa kabur uangnya ke luar negeri. Ini yang menjadi pemicu rupiah anjlok besar-besaran.Setelah demokratisasi berlangsung hingga saat ini, praktik nepotisme sudah jauh berkurang, keterbukaan informasi berlangsung dengan lebih baik, dan kini tingkat kepercayaan terhadap pemerintah relatif jauh lebih baik. Demo kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu juga berlangsung singkat, dan kini relatif sudah normal kembali. Artinya, risiko politik saat ini relatif jauh lebih rendah.

6. Pada Krisis 1998, Campurtangan Internasional Melalui IMF Mengakibatkan Indonesia tidak Memiliki Kemandirian Kebijakan

Faktor lain atau kelemahan lain pada tahun 1998 dan beberapa tahun kemudian adalah kurangnya kemandirian pemerintah dalam mendisain kebijakan ekonomi dan anggaran, karena dikendalikan oleh Dana Moneter Internasional (IMF) lantaran Indonesia memperoleh pinjaman talangan dari lembaga itu. Semua kebijakan ekonomi pemerintah harus mendapatkan persetujuan IMF, dan manakala kebijakan yang disetujui dalam letter of intent yang ditandatangani pejabat pemerintah ada yang tidak terlaksana karena satu dan lain sebab, dana talangan tidak dicairkan oleh IMF. Ini yang selalu memicu pelemahan nilai tukar rupiah, kendati Indonesia sudah berada dalam pengawasan IMF, yang semestinya

mendapatkan kepercayaan yang lebih tinggi.

Bedanya dengan sekarang, kebijakan pemerintah Indonesia relatif mandiri, tidak didikte oleh kekuatan eksternal, dan pemerintah dapat mendisain kebijakan lebih leluasa sesuai dengan kepentingan nasional Indonesia.

7. Pada 2008, Terdapat Efek Lehman Brothers, Subprime Mortgage dan Krisis Global

Saat ini, faktor dominan pelemahan rupiah adalah kebangkitan kembali perekonomian Amerika yang sudah terjadi sejak tahun silam, melalui tahapan yang disebut penarikan kembali obligasi (tapering) dan kenaikan suku bunga the Fed. Orang menyebutnya dolar pulang kandang ke Amerika. Ini adalah faktor ekonomi yang rasional, mekanisme pasar.

Bedanya dengan 2008, pada saat itu pemicu krisis rupiah adalah banyaknya perusahaan di Indonesia yang tersangkut oleh obligasi sampah subprime mortgage di Amerika, yang menyebabkan Lehman Brothers hancur. Ini faktor bad governance yang memicu krisis kepercayaan terhadap sistem keuangan di AS kala itu.

(8)

Century yang gagal kliring pada 13 November 2008, yang kemudian mendapatkan suntikan dana (bail out) dari pemerintah. Bahkan kasus Century hingga saat ini masih berkepanjangan secara politik dan hukum.

Selain itu, tanda-tanda krisis global juga berkecamuk pada 2008, menyusul kemudian krisis Yunani yang memukul perekonomian Uni Eropa, yang menyebabkan harga komoditas kolaps, ekspor merosot, dan memicu ketidakseimbangan ekonomi global

8. Peta Perekonomian Global Sudah Berubah

Berbeda dengan 1998, peta ekonomi global saat ini sudah berubah. Dominasi Amerika dan Eropa sudah menyusut, digantikan oleh dominasi China dan India. Benchmark ekonomi gklobal saat ini bukan lagi Amerika Serikat, tetapi perekonomian China.

Meski begitu, isu mengenai ekonomi AS masih tetap menjadi acuan, karena portofolio pengelolaan dana berbasis dolar AS masih tetap tinggi. Namun, isu kenaikan suku bunga di Amerika Serikat pada akhirnya akan berujung pada rasionalitas kembalian modal (return on investment). Akan hal ini, banyak yang percaya, return in investment di Indonesia masih relatif lebih tinggi dibandingkan investasi di Eropa atau bahkan Amerika. Daya beli konsumen Indonesia –dan Asia Tenggara– juga terus meningkat, sehingga kawasan ini akan tetap menarik untuyk menanamkan modal hingga beberapa dekade mendatang. Dengan kata lain, gejolak nilai tukar akan senantiasa bersifat sementara, sebagai ampak reaksi pasar yang wajar, dan sebagai bagian dari proses menemukan keseimbangan baru. Pada akhirnya, ujungnya akan sangat tergantung pada respon kebijakan domestik untuk menenangkan pasar.

9. Saluran Informasi yang Lebih Terbuka dan Bebas, Meminimalkan Informasi Asimetris yang Memicu Spekulasi

Faktor pembeda lain dari masa 1998 adalah saluran informasi publik yang lebih bebas dan terbuka. Pada saat krismon 1998, banyak terjadi ketidakadilan dan ketidakseimbangan informasi publik, karena

informasi penting yang mempengaruhi perekonomian dan kebijakan menjadi ‘milik’ kelompok yang dekat dengan pembuat kebijakan, lantaran pers yang masih dikendalikan penguasa dan belum bebas.Akibatnya, praktik spekulasi terhadap kebijakan, termasuk terhadap bisnis dan ekonomi serta finansial, kerap terjadi dan membuat perubahan-perubahan mendadak dan mengagetkan yang berdampak ‘rusuh’ bagi perekonomian.Sebaliknya, saat ini informasi publik begitu terbuka, yang dapat diakses oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan termasuk pelaku bisnis, trader dan masyarakat awam. Ini mengurangi efek negatif informasi asimetris, yang menekan praktik spekulasi terhadap sektor keuangan.

10. Sistem Politik Saat Ini Lebih Demokratis

(9)

pun lebih terkalkulasi dengan lebih akurat. Kondisi politik ini memberikan bantalan lebih empuk terhadap kemungkinan terjadinya perubahan ekonomi yang drastis, karena menekan faktor krisis kepercayaan terhadap pemerintah yang datang secara tiba-tiba.

Dari paparan diatas, sudah jelas memang krisis moneter 2015 dengan berbeda dengan krisis moneter 1998. Hanya saja masih meninggalkan pekerjaan rumah yang berat, yaitu : seberapa sigap pemerintahan JOKOWI dalam mengimplemtasi rencana-rencana menghadapi situasi moneter 2015 dan seberapa kuat konsolidasi kabinet pemerintah ?, supaya tidak menjadi sentimen-sentimen negatif yang justru

memperlemah Rupiah.

Indikator ekonomi

1998 2008 2015

Pertumbuhan ekonomi

-13,10% 4,12% 4,67%

Inflasi 82,4% 12,14% 7,18%

Cadangan devisa US$17,4 miliar US$80,20 miliar US$107,6 miliar

Kurs rupiah Rp16.650/US$ Rp12.650/US$ Rp14.098/US$

Rasio utang pemerintah terhadap produk

domestic bruto (PDB)

100% 27,4% 24,7%

Rasio kredit bermasalah (non performing

(10)

loan/NPL) gross

BI Rate 60% 9,5% 7,5%

Indeks harga saham

gabungan (IHSG)

256 1.111 4.237

Total utang luar negeri

(Pemerintah dan swasta)

US$150,8 miliar US$155,08 miliar US$304,3 miliar

Rasio utang luar negeri terhadap cadangan devisa

8,6 kali 3,1 kali 2,8 kali

Depresiasi rupiah (posisi terendah)

197% 34,86% 14,03%

Referensi

Dokumen terkait

dituangkan dalam sebuah skripsi yang berjudul : “Kebijakan Moneter Dalam Ekonomi Islam Analisis Kebijakan Moneter Mahathir Mohamad Dalam Mengatasi Krisis Ekonomi

Penelitian ini menganalisis tentang peramalan nilai ekspor sektor pertanian, industri, peertambangan, agregat ketiga sektor Indonesia pasca krisis keuangan Eropa dan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah trend perkembangan hutang luar negeri pemerintah tahun anggaran 1996/1997-2005, trend perkembangan hutang luar negeri

Terlihat bahwa pola inflasi tahunan sesudah krisis moneter hampir sama untuk kota -kota di Indonesia bagian Timur sedangkan pola inflasi tahunan sebelum tahun 1990 untuk

Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah jumlah penggunaan obat generik dalam satuan bentuk sediaan yang ditulis dalam resep dokter sebelum krisis moneter

Defisit pada triwulan laporan terutama disebabkan oleh net pembayaran pinjaman luar negeri sektor swasta sebesar USD0,1 miliar dibanding periode sebelumnya yang

Dengan demikian, meskipun Krisis Moneter 1998 memberikan dampak yang signifikan pada ekonomi masyarakat dan bisnis Kain Ulos, keberanian untuk berinovasi dan adaptasi terhadap situasi

2 Dalam kondisi terpaan krisis moneter yang berlanjut dengan krisis ekonomi berkepanjangan ini, sangat jarang sektor yang tetap sanggup berdiri tegak untuk dapat memberikan kontribusi