1
PENENTUAN KADAR SULFAT DENGAN TEKNIK TURBIDIMETRI
Sadrakhman Zega
1, Muhammad Arif Hidayat, Mohammad Rafi
Departemen Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Pertanian Bogor
Abstrak
Penentuan kadar sulfat dalam larutan contoh dapat ditentukan dengan menggunakan turbiditas. Analisa kuantitatif secara turbidimetri didasarkan pada intensitas cahaya yang diteruskan, setelah cahaya tersebut melalui larutan yang mengandung partikel-partikel tersuspensi dari zat yang dianalisa. Turbiditas berbanding lurus terhadap konsentrasi dan ketebalan, tetapi turbiditas tergantung juga pada warna sampel. Hasil analisis yang diperoleh menggunakan teknik turbidimetri dapat ditunjukkan dengan nilai ketelitian yang tinggi. Hal ini menujukkan bahwa menentukan kadar sulfat dalam larutan contoh lebih baik dengan menggunakan alat turbiditas.
Kata Kunci: turbiditas, konsentrasi, kadar sulfat, turbidimeter
Pendahuluan
Turbidimetri merupakan analisis kuantitatif yang didasarkan pada pengukuran kekeruhan dari suatu larutan akibat adanya suspensi partikel padat dalam larutan. Hamburan cahaya terjadi akibat keberadaan partikel yang terdapat dalam larutan. Partikel ini menghamburkan cahaya kesegala arah yang mengenainya. Dengan demikian, jumlah analit atau spesies yang menyebabkan aglutimasi dalam sampel dapat ditentukan. Analisa kuantitatif secara turbidimetri didasarkan pada intensitas cahaya yang diteruskan, setelah cahaya tersebut melalui larutan yang mengandung partikel-partikel tersuspensi dari zat yang dianalisa. Intensitas cahaya yang dipantulkan oleh suatu suspensi adalah fungsi konsentrasi jika kondisi lainnya konstan. Metode pengukuran turbiditas dapat dilakukan dengan pengukuran perbandingan intensitas cahaya yang dihamburkan terhadap intensitas yang datang dan pengukuran efek ekstingsi, yaitu kedalaman ketika cahaya yang mulai tidak tampak di dalam lapisan medium yang keruh.
Dalam instrumen ini, intensitas diukur secara langsung, sedangkan pada nefelometer intensitas cahaya diukur dengan larutan standar. Turbidimetri meliputi pengukuran cahaya yang diteruskan.
Turbiditas berbanding lurus terhadap konsentrasi dan ketebalan (Yeni 2014). Percobaan ini bertujuan menentukan kadar sulfat dalam larutan contoh.
Metode Percobaan
Alat dan Bahan
2
kurva hubungan turbiditas dengan kandungan sulfat (ppm) dan dihiitung kadar sulfat dalam analat beserta standar dgn selang kepercayaan 95%.
Pembahasan
Turbidimetri merupakan analisis kuantitatif yang berdasarkan pada pengukuran kekeruhan atau turbidan dari suatu larutan akibat adanya partikel padat dalam larutan setelah sinar dilewatkan pada suatu larutan akibat adanya partikel yang terdapat dalam larutan yang akan menghambrkan cahaya ke segala arah. Dalam turbidimetri digunakan larutan yang berupa koloid atau larutan yang terdapat tersuspensi. Larutan jernih juga dapat diukur dengan metode ini dengan jalan memberikan emulgator untuk mengemulsi larutan. Larutan tersuspensi atau koloid mengandung partikel yang ukurannya dapat dilihat dengan mata. Hamburan yang terukur pada alat turbidimetri adalah hamburan yang diteruskan atau yang membentuk sudut 1800. Sedangkan yang terdeteksi oleh alat nefelometer adalah yang membentuk sudut 900 (Widjajanti 2004).
Proses hamburan cahaya mengenai partikel dalam larutan dipengerui oleh berbagai faktor diantaranya konsentrasi cuplikan. Jika konsentrasi terlalu kecil maka partikel yag akan terbentuk juga akan kecil. Partikel yang kecil akan sedikit menghamburkan sinar sehingga akan sulit terbaca oleh alat turbidieter. Kemudian konsentrasi emulgstor. Konsentrasi emulgator adalah perbandingan antara konsentrasi larutan dengan emulgator. Jika perbandingannya terlalu kecil, koloid yang terbentuk terlalu kecil sehingga sulit terbaca oleh alat. Namun jika perbandingan ini terlalu besar, emulgator sisa akan terbuang sehingga tidak efisien. Kemudain lamanya pendiaman. Pengaruh ini bergantung pada kecepatan reaksiya. Bila reaksi berjalan selama waktu optimumnya akan memberikan hasil yang terbaik. Kecepatan dan urutan pencampuran reagen serta suhu juga dapat mempengaruhi proses hamburan cahaya. Suhu bergantung pada kondisi optimum reaksi. Derajat keasaman pH akan berhubungan dengna emulgator. Hal lain yang juga dapat mempengaruhi adalah kekutan ion dan intensitas sinar (Ansori 2008).
Percobaan ini menetukan kadar ion sulfat pada larutan sampel secara turbidimetri dengan pemantulan BaSO4 sebagai fase dispersi. Sebelum
digunakan alat turbidimetri dikalibrasi dulu dengan larutan standar yang diakui dan memiliki turbiditas yang telah diketahui nilainya, misalnya formazin. Formazin dengan tiga tingkat kekeruhan yang berbeda uji turbiditasnya. Satuan kekeruhan dari
nefelometer terkalibrasi disebut Nephelometric Turbidity Unit (NTU). Natrium klorida-asam ditambahkan sebelum pengendapan agar pertumbuhan kristal barium sulfat terhambat sehingga tidak mengganggu pembacaan turbiditas. Larutan gliserol-etanol juga ditambahkan agar partikel koloid stabil sehingga turbiditasnya terbaca dengan akurat. Wadah tempat larutan sampel dan standar harus dikocok dengan baik dan konstan untuk mendapatkan ukuran partikel yang semuanya homogen. Agar diperoleh hasil yang representatif, waktu antara pengendapan dan pengukuran pada setiap tabung harus dijaga konsatan (Ansori 2008).
Tabel 1 menunjukkan hubungan antara
turbiditas terkoreksi (NTU) dengan konsetrasi
(ppm). Hasil pengukuran turbiditas standar
melalui grafik menjelaskan bahwa semakin
tinggi konsetrasi yang diberikan turbiditas
terkoreksi makin tinggi. Mengukur konsetrasi
sulfat dalam sampel terlebih dulu dibuat deret
standar turbiditas K2SO4 0.01 M dan dipipet
sesuai konsetrasi yang diinginkan yaitu 0.125
ml, 0,25 ml, 0.375 ml, 0.50 ml, 0.625 ml, dan
0.75 ml dan diperoleh persamaa regersinya
yaitu y = 2.5742x + 8.999 dengan R
2= 95.96 %.
Hasil yang diperoleh pada perhitungan
menunjukkan bahwa ketelitian pengukuran
sulfat dalam sampel menggunakan turbiditas
lumayan tinggi, yaitu sebesar 75.22 %. Hasil
pengukuran ini dapat dilihat pada Tabel 2 dan
contoh perhitungan yang terlampir. Percobaan
yang dilakukan tidak terlepas dari beberapa
kesalahan yang mungkin terjadi.
Kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi dalam
percobaan ini adalah kesalahan praktikan dalam
melakukan pengukuran, pembuatan larutan dan
sampel yang digunakan telah terkontaminasi.
Beberapa kesalahan ini dapat menyebabkan
hasil yang diperoleh tidak sempurna sehingga
ketelitian hasil pengukuran turbiditas di bawah
90.00%.
Simpulan
3
satu alat yang cukup baik jika digunakan untuk
menentukan kadar sulfat dalam larutan contoh
kadar sulfat dalam larutan.
Daftar Pustaka
Ansori. 2008. Penentuan kekeruhan pada air reservoir di PDAM instalasi pengolahan air sunggal metode turbidimetri. Jurnal Kimia dan Lingkungan. 1(1): 1-48
Widjajanti. 2004. Penentuan konsentrasi misel kritis lesitin secara turbidimetri. Jurnal Kimia. 2(3) : 105-115
Yeni. 2014. Analisis kadar deterjen anionik nals
dengan metode turbidimetri menggunakan
reagen CPC (cetylpiridium choloride). Jurnal
4
LAMPIRAN
Tabel 1 Data turbiditas deret standar K2SO4
Volume (mL)
Konsentrasi
(ppm)
Turbiditas (NTU)
Awal
Terkoreksi
Blangko
0.0000
35.00
0.00
0.125
8.7130
55.00
20.00
0.250
17.4259
92.00
57.00
0.375
26.1389
123.00
88.00
0.500
34.8518
140.00
105.00
0.625
43.5648
153.00
118.00
0.750
52.2777
172.00
137.00
Coper (Tabel 1):
Konversi K2SO4 0.01 M :
BM K2SO4 (174.259 g/mol)
0.01
mol
L x 174.259
mol x 1000
g
mg
g = 1742.59 ppm
Konsentrasi Standar
0.125 mL x 1742.59 ppm = 25.00 mL x X
X =
0.125 mL x 174.59 ppm
25.00 mL
X = 8.7130 ppm
Turbiditas Terkoreksi :
= (Turbiditas Awal
–
Turbiditas Blanko)
= (55.00
–
35.00) NTU
= 20.00 NTU
Gambar 1 Persamaan regresi dari deret standar kalium sulfat
y = 2,5742x + 8,9999R² = 0,9596
0 50 100 150 200
0 10 20 30 40 50 60
Tu
rb
id
itas
(N
TU
)
5
Tabel 2 Konsentrasi sampel
Ulangan
Turbiditas (NTU)
Konsentrasi
(ppm)
Awal
Terkoreksi
1
146.00
111.00
39.6274
2
150.00
115.00
41.1814
3
200.00
165.00
60.6064
Rerata
47.1384
SD
11.68
%Ketelitian
75.22%
Contoh perhitungan (sampel):
Turbiditas terkoreksi:
= (Turbiditas Awal
–
Turbiditas Blanko)
= (146.00
–
35.00) NTU
= 111.00 NTU
Konsentrasi sampel
y = 8.999 + 2.574x
111.00 = 8.999 + 2.574x
111.00
–
8.999 = 2.574x
x = 39.6274 ppm
Rerata
=
39.6274+41.1814+60.60643
= 47.1384 ppm
SD =
√
Σ (𝑋𝑖−𝑋)̅̅̅̅2n−1