• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Peran Fasilitas Pembiayaan Daru

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Peran Fasilitas Pembiayaan Daru"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PERAN KEBIJAKAN FASILITAS PEMBIAYAAN DARURAT (FPD) TERHADAP STABILITAS SISTEM KEUANGAN DI INDONESIA

Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas UAS Kebanksentralan

Diusulkan Oleh :

Mohammad ZeqiYasin (Ekonomi Pembangunan/2013)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan izin-Nya penulis

dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ANALISIS PERAN KEBIJAKAN FASILITAS PEMBIAYAAN DARURAT (FPD) TERHADAP STABILITAS SISTEM KEUANGAN DI INDONESIA

Makalah ini penulis susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kebanksentralan.

Rasanya tidak berlebihan jika penulis menyampaikan rasa terimakasih kepada

semua pihak yang telah membantu penulis sehingga Makalah ini bisa

terselesaikan dengan baik.

Ucapan terima kasih ini terutama penulis sampaikan kepada:

1. Bu Wasiaturrahma, Dr., SE., M.Si. selalu dosen mata kuliah

Kebanksentralan

2. Orang tua penulis yang telah memberikan penulis izin, dana, dan

dukungan moral sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini

dengan tepat waktu dan tanpa hambatan yang berarti.

3. Teman-teman penulis di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas

Airlangga, yang telah banyak membantu dan memberi kebahagiaan yang

tak terhingga.

4. Dan kepada semua pihak yang telah membantu terselesainya makalah ini.

Terima kasih.

Penulis menyadari bahwa makalah ini tidak luput dari kekurangan, untuk

itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk

perbaikan makalah ini selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi

para pembaca.

Surabaya, 22 Juni 2016

(3)

DAFTAR ISI

Halaman Judul... i

Kata Pengantar... ii

Daftar Isi... iii

Daftar Gambar... iv

Abstrak... v

BAB I : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan ... 4

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Fasilitas Pembiayaan Darurat (FPD)... 5

2.2 Stabilitas Sistem Keuangan... 7

2.3 Bantuan Langsung Bank Indonesia (BLBI)... 9

2.4 Penelitian Sebelumnya ... 9

2.5 Kerangka Berpikir... 10

BAB III : ANALISIS DAN PEMBAHASAN 3.1 Kondisi Stabilitas Bank Umum di Indonesia ... 11

3.2 Transmisi Kebijakan Fasilitas Pembiayaan Darurat (FPD) dalam Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan di Indonesia ... 14

BAB IV : PENUTUP 4.1 Simpulan ... 17

4.2 Saran... 18

(4)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 : Jumlah Kantor Bank Umum Tahun 2011-2015 ... 2

Gambar 1.2 : Pertumbuhan Kredit Perbankan di Indonesia Tahun 2013-2015 .. 2

Gambar 2.1 : Proses Permohonan dan Pemberian Fasilitas Pembiayaan Darurat

(FPD)... 6

Gambar 2.2 : Karakteristik Stabilitas Sistem Keuangan (SSK)... 8

Gambar 3.1 : Financial Sytem di Indonesia Tahun 2009... 11

Gambar 3.2 : Pola Pergerakan Risiko Kredit dan Periode Krisis Perbankan Tahun

2000-2014 ... 12

Gambar 3.3 : Pola Pergerakan Risiko Likuiditas dan Periode Krisis Perbankan

Tahun 2000-2014 ... 12

Gambar 3.4 : Pola Pergerakan Risiko Pasar dan Periode Krisis Perbankan Tahun

2000-2014 ... 13

Gambar 3.5 : Pola Pergerakan Indeks Kerentanan Perbankan dan Peride Krisis

Tahun 2000-2014 ... 14

Gambar 3.6 : Transmisi FPD Terhadap Stabilitas Sistem Keuangan di Indonesia

(5)

ANALISIS PERAN KEBIJAKAN FASILITAS PEMBIAYAAN DARURAT (FPD) TERHADAP STABILITAS SISTEM KEUANGAN DI INDONESIA

Mohammad Zeqi Yasin1

1

Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga, Surabaya

ABSTRAK

Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) menjadi permasalahan yang harus diperhatikan oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan. Pemerintah harus menggagas kebijakan yang transmisinya mendukung terciptanya SSK di Indonesia. Kebijakan yang ada saat ini adalah Fasilitas Pembiayaan Darurat (FPD). Tujuan penulisan makalah ini adalah mengetahui kondisi stabilitas bank umum di Indonesia sebagai sasaran pelaksanaan kebijakan FPD dan mengetahui transmisi kebijakan FPD dalam menjaga stabilitas system keuangan di Indonesia. Kondisi stabilitas perbankan di Indonesia berdasarkan indeks kerentanan dengan pertimbangan beberapa indikator menunjukkan performa yang cukup baik. Hal tersebut didasarkan pada upaya Indonesia setelah adanya krisis yang terjadi pada tahun 2008. Adanya indeks kerentanan perbankan yang cukup stabil juga dapat menggambarkan kesiapan suatu kebijakan yang nantinya akan ditujukan pada lembaga keuangan untuk stabilitas sistem keuangan. Transmisi Fasilitas Pembiayaan Darurat (FPD) bagi stabilitas sistem keuangan adalah melalui adanya berbagai kondisi bank umum berkaitan dengan sistemik. Adanya permasalahan-permasalahan sistemik yang dimiliki perbankan, likuiditas misalnya, dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan. Sehingga FPD hadir untuk mengatasi potensi permasalahan tersebut. Selain itu, program BLBI yang sebelumnya menuai kontroversi karena rendahnya regulasi juga menjadi evaluasi pada program FPD ini. Oleh karena itu, dalam rangka menjaga SSK melalui FPD, diharapkan pemerintah dapat serius dan menerapkan regulasi yang baik sehingga implementasinya dapat efektif.

(6)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Terjadinya krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1997

memberikan pelajaran berharga tentang urgensi membangun sistem keuangan

yang siap dan kuaat terhadap permasalahan krisis di Indonesia (Bank Indonesia,

2005). Krisis yang telah melanda berbagai sektor termasuk perbankan tersebut

telah mengakibatkan berbagai kerugian. Pada awal Juli tahun 1997, telah terjadi

gejolak nilai tukar yang secara bersamaan pemerintah melakukan pengetatan

likuiditas (Tambunan, 2010). Selain itu, banyak perbankan yang melakukan

pengetatan likuiditas hingga suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB)

mencapai 300 persen (Bank Indonesia, Tanpa Tahun). Dampaknya adalah

kemunculan krisis kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional,

utamanya setelah pencabutan izin usaha 16 bank pada 1 November 1997

(Tambunan, 2010).

Kondisi krisis kepercayaan yang pernah melanda Indonesia tersebut

seharusnya mampu diatas dengan upaya penguatan sistem keuangan yang ada.

Dalam kaitannya dengan hal tersebut, kebijakan yang ditempuh antara lain

melalui restrukturisasi lembaga-lembaga yang berkaitan dengan pemeliharaan

stabilitas keuangan dan membangun mekanisme koordinasi antar lembaga

tersebut (Bank Indonesia, 2005). Sehingga penguatan tersebut diharapkan dapat

meningkatkan kembali kepercayaan masyarakat pascakrisis yang melanda pada

tahun 1998.

Namun, upaya penguatan stabilitas sistem keuangan seharusnya ditargetkan

pada lembaga-lembaga yang tinggi jumlahnya di Indonesia, yakni perbankan.

Sehingga dengan jumlah yang tinggi, industri perbankan menjadi salah satu

senjata untuk meningkatkan kembali kepercayaan masyarakat dalam

memanfaatkan lembaga keuangan yang ada di Indonesia. Berdasarkan data

(7)

Indonesia telah mengalami peningkatan dari tahun 2011 hingga tahun 2015

(gambar 1.1).

Sumber : Otoritas Jasa Keuangan, 2015

Gambar 1.1 : Jumlah Kantor Bank Umum di Indonesia Tahun 2011-2015 Berdasarkan gambar diatas, jumlah kantor bank umum di Indonesia pada

tahun 2011 hingga tahun 2015 mengalami peningkatan. Kondisi tersebut

mengindikasikan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap perbankan mulai

meningkat kembali, terutama pascakrisis tahun 1998.

Selain dari jumlah kantor perbankan yang semakin meningkat, tingkat

kepercayaan masyarakat yang semakin meningkat juga terlihat pada pertumbuhan

kredit perbankan pada tahun 2013 hingga tahun 2015 (gambar 1.2).

Sumber : Otoritas Jasa Keuangan, 2015

(8)

Berdasarkan gambar 1.2, pertumbuhan kredit perbankan pada bulan Agustus 2015

adalah sebesar 11,20 persen y-o-ylebih tinggi bila dibandingkan dengan Juni 2015

sebesar 10,48 persen (Purnawan dkk., 2015). Peningkatan pertumbuhan kredit

terjadi pada kredit modal dan kredit investasi yang tumbuh masing-masing

sebesar 10,49 persen dan 12,93 persen atau lebih tinggi dari kuartal sebelumnya

Juni 2015 sebesar 8,65 persen dan 11,94 persen (Purnawan dkk., 2015)..

Sedangkan dari sisi kredit konsumsi tercatat sedikit lebih tinggi menjadi 9,98

persen dibandingkan dengan kuartal sebelumnya Juni 2015 sebesar 9,52 persen

(Purnawan dkk., 2015). Kondisi tersebut semakin menunjukkan bahwa perbankan

menjadi lembaga vital untuk kebijakan stabilitas sistem keuangan di Indonesia.

Adanya sektor perbankan sebagai salah satu lembaga keuangan yang potensial

untuk objek kebijakan stabilitas sistem keuangan menggagas sebuah kebijakan

yang terbingkai dalam salah satu Protokol Manajemen Krisis Bank Indonesia

yakni kebijakan Fasilitas Pembiayaan Darurat (FPD). Protokol Manahemen Krisis

yang salah satunya berisi kebijakan FPD tersebut nantinya dapat dijadikan

guidance untuk mengantisipasi terjadinya krisis maupun memitigasi apabila krisis

terjadi (Brodjonegoro dalam Yoga, 2015). Pembentukan FPD tersebut dilakukan

atas dasar mengatasi permasalahan perbankan yang sering terjadi yakni kesulitan

likuiditas yang berdampak pada kelangsungan usaha perbankan tersebut juga

dampak sistemik yang berimbas pada stabilitas sistem keuangan (Bank Indonesia,

2005). Kebijakan oleh Bank Indonesia sebagai lender of the last resort ini,

diharapkan dapat memberikan FPD pada bank umum untuk mengatasi likuiditas

yang menjadi beban pemerintah sesuai UU no. 3 Tahun 2004 tentang Bank

Indonesia (Bank Indonesia, 2005).

Namun, peran FPD dalam menjaga stabilitas sistem keuangan di Indonesia

masih meninggalkan berbagai permasalahan. Bahkan terjadi ketidakpahaman para

stakeholder terkait kebijakan FPD dengan kebijakan serupa yakni Bantuan

Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang dirasa kurang efektif dalam mengatasi

permasalahan likuidutas bank umum (Batunangar, 2006). Sehingga diperlukan

suatu analisis peran FPD kaitannya dengan kondisi stabilitas sistem keuangan

(9)

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana kondisi stabilitas perbankan di Indonesia?

2. Bagaimana transmisi kebijakan Fasilitas Pembiayaan Darurat dalam menjaga

stabillitas sistem keuangan (SSK) di Indonesia?

1.2 Tujuan Penulisan

1. Mengetahui kondisi stabilitas perbankan di Indonesia

2. Mengetahui transmisi kebijakan Fasilitas Pembiayaan Darurat dalam menjaga

(10)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Fasilitas Pembiayaan Darurat (FPD)

Fasilitas Pembiayaan Darurat menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor :

8/1/PBI/2006 Tentang Fasilitas Pembiayaan Darurat (FDI) merupakan suatu

fasilitas pembiayaan dari Bank Indonesia kepada bank bermasalah yang

mengalami kesulitan likuiditas, tetapi masih memenuhi tingkat solvabilitas yang

ditetapkan Bank Indonesia, serta berdampak sistemik yang pemberiannya

didasarkan pada keputusan rapat Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia

dan pendanaanya menjadi beban pemerintah.

Sumber pendanaan FPD berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

melalui penerbutan Surat Utang Negara (SUN) oleh Menteri Keuangan

berdasarkan ketentuan yang berlaku (Bank Indonesia, 2005). SUN diterbitkan

dalam upaya pemberian FPD adalah SUN yang tradable (dapat diperdagangkan)

(Bank Indonesia, 2005).

Mekanisme pengajuan dan persyaratan FPD kepada Bank Indonesia (Bank

Indonesia, 2005) adalah sebagai berikut.

1. Bank yang sedang bermasalah mengajukan permohonan untuk mendapatkan

FDP dari Bank Indonesia yang pendanaanya menjadi beban negara. FDP dapat

diberikan sepanjang permasalahan bank yang memenuhi criteria, 1) Memenuhi

persyaratan penyediaan modal minim (Capital Adequacy Ratio, CAR) yang

berlaku yakni minimal 5% dan 2) Memiliki dampak atau risiko yang sistemik.

2. Permohonan FPD harus dilengkapi dengan dokumen seperti perhitungan

jumlah kebutuhan FPD, surat pernyataan pemegang saham, dan pengendali

bank tentang kesanggupan penyerahan aset bank yang dijaminkan, personal

guarantee, dan/atau corporate guarantee, kesanggupan pemegang saham

pengendali dan pengurus bank bermasalah untuk membayar kembali FPD dan

(11)

Indonesia serta strategi dan upaya bank bermasalah untuk dapat

mengembalikan FPD.

3. Jaminan (Agunan)

Bank bermasalah harus menyerahkan jaminan berupa aktiba milik bank (hasil

valuasi dari penilai independen) dengan prioritas dari yang paling likuid dan

berkualitas. Apabila setelah penilaian dan pengikatan ternyata nilai agunan

lebih kecil dari pagu FPD, maka bank yang bermasalah harus menambah

jumlah aset. Jaminan yang diserahkan bank kepada BI harus bebas dari sitaan,

tidak sedang digadaikan, ataupun dipertanggungkan secara apapun baik kepada

orang lain, pihak lain, maupun pihak Bank Indonesia, serta tidak sedang

tersangkut suatu sengketa atau perkara.

Ilustrasi permohonan dana dari bank yang bermasalah kepada Bank Indonesia

adalah sebagai berikut.

Sumber : Bank Indonesia, 2005

(12)

Berdasarkan gambar 2.1, pemberian FDP pada bank yang memiliki permasalahan

likuiditas adalah diawali dari pemenuhan kriteria dari bank yang mengajukan.

Kemudian, diadakan rapat Gubernur BI dan Kementerian Keuangan terkait

penyetujuan pengajuan FPD. Setelah itu, apabila pengajuan pinjaman dana FPD

disetujui oleh forum, maka Bank Indonesia akan mengkredit rekening giro bank

yang bermasalah. Kemudian, dana terealisasi segera setelah SUN diterbitkan.

2.2 Stabilitas Sistem Keuangan

Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) tidak memiliki definisi formal yang telah

diterima secara internasional (Normawati, 2016). Sehingga muncul beberapa

pengertian mengenai SSK yang pada intinya dipahami sebagai suatu sistem

keuangan memasuki tahap tidak stabil pada saat sistem tersebut telah

membahayakan dan menghambat kegiatan ekonomi (Normawati, 2016).

Pengertian stabilitas sistem keuangan dapat dipahami dengan melakukan

penelitian terhadap faktor-faktor yang dapat menyebabkan ketidakstabilan di

sektor keuangan (Bank Indonesia, Tanpa Tahun). Stabilitas keuangan menurut

Schinasi dalam Morgan dan Pontines (2014) merupakan sebuah kondisi stabilitas

ketika stabilitas berkapasitas untuk memudahkan (ketimbang menghalangi)

performa ekonomi, serta menghilangkan ketidakseimbangan finansial yang

muncul secara endogen atau sebagai suatu hasil dari kejadian yang merugikan dan

tidak diharapkan. ECB dalam Morgan dan Pontines (2014) menjelaskan 3 kondisi

yang berkaitan dengan stabilitas keuangan yakni 1) Sistem keuangan harus dapat

secara efisien menyalurkan sumber daya dari saver kepada investor, 2) Risiko

financial harus dinilai dan dihargai secara beralasan maupun akurat, serta harus

baik dalam manajemennya, 3) Sistem keuangan harus pada kondisi yang dapat

menyerap shocks dari ekonomi finansial dan riil.

Ketidakstabilan sistem keuangan dapat dipicu oleh berbagai macam

penyebab dan gejolak yang merupakan kombinasi antara kegagalan pasar, baik

karena faktor struktural maupun perilaku (Bank Indonesia, Tanpa Tahun).

Kegagalan pasar itu sendiri dapat bersumber dari eksternal (internasional) dan

(13)

keuangan antara lain risiko kredit, risiko likuiditas, risiko pasar dan risiko

operasional (Bank Indonesia, Tanpa Tahun).

Kriteria stabilitas sistem keuangan menurut Anatolyevna dan Ramilevna

(2013) adalah sebagai berikut.

Sumber : Anatolyevna dan Ramilevna, 2013

Gambar 2.2 : Karakteristik Stabilitas Sistem Keuangan (SSK)

Berdasarkan gambar diatas, Anatolyevna dan Ramilevna menjelaskan bahwa

terdapat 8 karakteristik dari stabilitas sistem keuangan suatu negara, yakni

1)tingkat kepercayaan yang tinggi, 2) Posisi yang stabil dari lembaga keuangan

utama, 3) Jasa pembayaran, 4)Alokasi kredit kepada kesempatan investasi,

5)Fungsi keuangan yang baik pada proses intermediasi, 6) Smooth market

functioning, 7) Stabilitas Moneter, 8) Kemampuan sistem keuangan yang baik

untuk dapat bertahan terhadap shock ekonomi.

Secara umum, ketidakstabilann SSK dapat mengakibatkan timbulnya

(14)

1. Ketidakpercayaan publik terhadap sistem keuangan yang umumnya akan

diikuti dengan kepanikan para investor untuk menarik dananya sehingga

berdampak pada kesulitan likuiditas.

2. Transmisi kebijakan moneter tidak berjalan secara normal sehingga

terjadi ketidakefektifan kebijakan moneter

3. Tidak berjalannya fungsi intermediasi secara semestinya karena alokasi

dana yang tidak tepat yang berdampak pada terhambatnya pertumbuhan

ekonomi

4. Tingginya biaya penyelamatan terhadap SSK apabila terjadi krisis

sistemik (potensi instabilitas sebagai akibat terjadinya gangguan yang

menular (contagion) pada sebagian atau seluruh sistem keuangan)

2.3 Bantuan Langsung Bank Indonesia (BLBI)

Bantuan Langsung Bank Indonesia (BLBI) merupakan bantuan pinjaman

yang diberikan oleh Bank Indonesia kepada bank yang mengalami permasalahan

likuiditas saat terjadi krisis moneter 1998 di Indonesia. Pada skema ini dilakukan

berdasarkan perjanjian Indonesia dengan International Monetary Fund (IMF)

dalam mengatasi permasalahan krisis.

2.4 Penelitian Sebelumnya

Penelitian terkait perkembangan Fasilitas Pembiayaan Darurat (FPD) di Indonesia

telah dilakukan oleh beberapa pihak, diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Pratiwi (2009)

Penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi bertujuan untuk mengetahui

ketentuan kebijakan pemberian FPD oleh Bank Indonesia kepada bank

umum yang mengalami kesulitan likuiditas, mengetahui prospek kebijakan

pemberian FPD, serta menjelaskan format FPD yang ideal untuk menjaga

stabilitas sistem keuangan. Penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi tersebut

didasarkan pada kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh FPD.

Sehingga pada pembahasannya juga dibahas format ideal yang seharusnya

dibentuk dan dilaksanakan untuk pelaksanaan FPD di Indonesia.

(15)

Penelitian yang dilakukan oleh Dewi menyoroti kasus Bank Century yang

merupakan salah satu skandal perbankan terbesar. Dewi meneliti bahwa

diketahui dasar hukum penyelaman Bank Century sebagai bank gagal

bayar sangat berdampak sistemik. Sesuai dengan tahap-tahap penangannya

dapat dianalisis berdasarkan 3 asas yakni asas kesesuaian aturan

perundang-undangan, asas kewenangan yang sah, dan asas tujuan yang

bermanfaat dan bertanggungjawab. Dewi juga menekankan pada kebijakan

KSSK dalam menetapkan Bank Century sebagai bank gagal bayar

berdampak sistemik sebenarnya memenuhi dua asas yakni kewenangan

yang sah dan tujuan yang bermanfaat dan bertanggungjawab, tetapi tidak

untuk kesesuaian aturan perundang-undangan. Adanya berbagai perbedaan

pendapat tentang sumber dana penyelamatan Bank Century juga dibahas

pada penelitian Dewi. Hal tersebut dikarenakan aset Bank Century yang

sebagian dimiliki negara (melalui surat berharga) mengakibatkan secara

ideal kegagalan Bank Century mampu diselamatkan oleh Fasilitas

Pembiayaan Darurat, tetapi pada kenyataannya opsi tersebut tidak diambil

melainkan menggunakan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sehingga

eksistensi FPD sebagai instrument untuk menghindari risiko sistemik pun

kembali dipertanyakan.

2.5 Kerangka Berpikir

(16)

BAB III

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

3.1 Kondisi Stabilitas Bank Umum di Indonesia

Stabilitas bank umum sebagai sasaran program Fasilitas Pembiayaan Darurat

(FPD) sangat mutlak diperlukan. Sebab, kondisi perbankan yang tidak stabil

merupakan awal ketidaksehatan sistem keuangan di suatu negara khususnya di

Indonesia. Hal tersebut tercermin pada proporsi lembaga yang masih didominasi

oleh perbankan (gambar 3.1).

Sumber : IMF, 2010

Gambar 3.1 : Financial Sistemdi Indonesia Tahun 2009

Berdasarkan gambar 3.1, terlihat bahwa bank masih memiliki kontribusi terbesar

bagi sistem keuangan yang ada di Indonesia pada tahun 2009 yakni sebesar 79,5

persen. Sedangkan pada lembaga keuangan lain masih memiliki kontribusi

dibawah 10 persen. Oleh karena itu, kondisi perbankan akan sangat berpengaruh

terhadap stabilitas sistem keuangan di Indonesia.

Kondisi stabilitas perbankan dapat dilihat dari parameter indeks kerentanan

perbankan yang telah diteliti oleh beberapa pihak. Terdapat indikator yang dapat

digunakan untuk melihat kerentanan perbankan yakni risiko kredit, risiko

(17)

Sumber : Riyanto dkk., 2014

Gambar 3.2 : Pola Pergerakan Risiko Kredit dan Periode Krisis Perbankan Tahun 2000-2014

Berdasarkan gambar 3.2, terlihat bahwa pada akhir tahun 2014 terjadi penurunan

risiko kredit setelah pada akhir tahun 2010 sempat mengalami peningkatan hingga

pada akhir tahun 2012. Adanya penurunan tersebut salah satunya disebabkan oleh

penerapan kebijakan kredit oleh Bank Indonesia seperti Loan to Value Ratio

(RTV) , peningkatan Down Payment (DP), dan penurunan Loan to Deposit Ratio

(LDR) maksimum menjadi 92 persen (Riyanto dkk., 2014). Kebijakan tersebut

telah berdampak pada penurunan risiko kredit terlebih terjadi penurunan rasio

kredit macet yang merupakan optimistis setelah adanya krisis pada tahun 2008.

Sumber : Riyanto dkk., 2014

(18)

Berdasarkan gambar 3.3, terlihat bahwa pada pertengahan tahun 2013 risiko

likuditas mengalami peningkatan hingga pada awal tahun 2014. Terjadinya

peningkatan risiko likuditas tersebut salah satunya disebabkan oleh

ketidakseimbangan jumlah permintaan kredit dengan penawaran Dana Pihak

Ketiga (DPK), sehingga meningkatkan risiko likuditas perbankan (Riyanto dkk.,

2014).

Sumber : Riyanto dkk., 2014

Gambar 3.4 : Pola Pergerakan Risiko Pasar dan Periode Krisis Perbankan Tahun 2000-2014

Berdasarkan gambar 3.4, terlihat bahwa terjadi peningkatan risiko pasar pada

akhir tahun 2013 hingga pada awal tahun 2014. Terjadinya gejolak pasar hingga

meningkatkan risiko pasar tersebut salah satunya disebabkan oleh melemahnya

nilai tukar rupiah terhadap dollar (depresiasi) pada periode tersebut. Tercatat

bahwa pada awal bulan Agustus tahun 2013, nilai tukar rupiah terhadap dollar

adalah Rp 10.237, sedangkan pada akhir tahun yakni bulan Desember tahun 2013

telah mencapai Rp 12.128 (mengalami depresiasi sebesar 1,891 basis poin) (Bank

Indonesia, Tanpa Tahun). Oleh karena itu, indikator risiko pasar mengalami

peningkatan pada periode tersebut.

Berdasarkan ketiga indikator tersebut, indeks kerentanan perbankan juga

secara umum menunjukkan stabilitas yang baik. Kondisi tersebut dapat terlihat

(19)

Sumber : Riyanto dkk., 2014

Gambar 3.5 : Pola Pergerakan Indeks Kerentanan Perbankan dan Periode Krisis Tahun 2000-2014

Berdasarkan gambar 3.5, terlihat bahwa stabilitas perbankan dari indeks

kerentanan pada awal tahun 2014 telah menujukkan perbaikan (indeks kerentanan

yang menurun). Setelah pada periode tahun 2008 mengalami kerentanan yang

sangat tinggi hingga melebih 1%, perbankan Indonesia mulai meningkatkan

ketahanannya kembali dengan berbagai instrument yang dimiliki.

Berdasarkan hasil yang telah dilakukan oleh Riyanto tersebut dapat

digambarkan kondisi perbankan di Indonesia yang nantinya dapat dijadikan

pertimbangan dalam menyusun kebijakan. Kebijakan yang telah diterapkan,

Fasilitas Pembiayaan Darurat (FDP) misalnya, seharusnya memiliki dampak

positif terhadap stabilitas perbankan terutama berkaitan dengan indikator yang

menjadi tolak ukur stabilitas perbankan tersebut (risiko kredit, risiko likuditas, dan

risiko pasar). Dengan adanya kebijakan yang telah ada yakni FPD, diharapkan

semakin menguatkan perbankan di Indonesia terutama kaitannya dalam stabilitas

sistem keuangan (SSK).

3.2 Transmisi Kebijakan Fasilitas Pembiayaan Darurat (FPD) dalam Menjaga Stabillitas Sistem Keuangan di Indonesia

Kebijakan Fasilitas Pembiayaan Darurat (FPD) sebagai salah satu upaya

(20)

Sumber : Penulis, 2016

Gambar 3.6 : Transmisi FPD Terhadap Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) di Indonesia

Berdarkan gambar 3.6, Fasilitas Pembiayaan Darurat berangkat dari urgensi untuk

mewujudukan stabilitas ekonomi secara makro. Perwujudan tersebut dapat

dilakukan oleh pemerintah melalui alokasi pada APBN yang dianggarkan untuk

program FPD. Pada kerangka kerja FPD tersebut terlihat bahwa terjadi linkage

antara Bank Indonesia dan Bank Umum pada skema FPD. Adanya linkage

tersebut didasarkan pada masing-masing urgensi pada kedua pihak. Pada linkage

tersebut, Bank Indonesia memberikan pembiayaan pinjaman kepada bank umum

dalam mengatasi permasalahan likuiditas yang dapat berdampak pada risiko

sistemik. Sedangkan bank umum memberikan agunan kepada Bank Indonesia.

Adanya linkage tersebut nantinya secara tidak langsung akan menjaga stabilitas

sistem keuangan karena Bank Indonesia sebagai otoritas moneter berfungsi untuk

menjaga kestabilan kondisi sistem keuangan di Indonesia. Sehingga program FPD

(21)

Berkaitan dengan transmisi tersebut, terdapat suatu program serupa yang

menyamai program FPD ini yakni Bantuan Langsung Bank Indonesia (BLBI).

Namun, terdapat beberapa perbedaan antara FPD dan BLBI baik dari segi

mekanisme maupun transmisi.

1) Kebijakan FPD diatur secara tegas dalam peraturan perundang-undangan

yang berlaku untuk meyakinkan transparansi dan akuntabilitas

pemberiannya.

2) Pemberian FPD dilakukan secara sangat selektif yakni hanya bank yang

memenuhi persyaratan yang ketat (harus solven), menghadapi masalah

likuiditas yang berdampak sistemik dan agunan. Sebelum meminjam

dengan FPD, bank umum harus meminjam pada pasar uang antar bank

(PUAB) dan FPJP.

3) Pemberian FPD didasarkan pada keputusan bersama Menteri Keuangan

dan Gubernur BI secara obyektif sehingga potensi konflik dapat

terhindarkan.

4) Pendanaan FPD bersumber dari APBN termasuk dengan penerbitan SUN

sehingga BI tidak menghadapi risio kredit.

5) FPD wajib dijamin dengan agunan yang memadai untuk meminimalkan

risiko kredit

6) BI akan mengawasi penerima FPD secara khusus untuk meyakinkan agar

tidak terjadi penyalahgunaan (moral hazard).

Berdasarkan perbedaan yang dimiliki oleh FPD tersebut, jelas sekali bahwa FPD

dan BLBI memiliki perbedaan karakteristik. Dapat dikatakan bahwa keduanya

merupakan upaya mengasi stabilitas sistem ekonomi, tetapi pada pelaksanaan

FPD lebih termekanisme secara strict. Sehingga diharapkan dapat mengurangi

(22)

BAB IV PENUTUP 4.1.Simpulan

Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan 2

poin dari makalah ini, yakni.

1. Kondisi stabilitas perbankan di Indonesia berdasarkan indeks kerentanan

dengan pertimbangan beberapa indikator menunjukkan performa yang cukup baik.

Hal tersebut didasarkan pada upaya Indonesia setelah adanya krisis yang terjadi

pada tahun 2008. Adanya indeks kerentanan perbankan yang cukup stabil juga

dapat menggambarkan kesiapan suatu kebijakan yang nantinya akan ditujukan

pada lembaga keuangan untuk stabilitas sistem keuangan.

2. Transmisi Fasilitas Pembiayaan Darurat (FPD) bagi stabilitas sistem keuangan

adalah melalui adanya berbagai kondisi bank umum berkaitan dengan sistemik.

Adanya permasalahan-permasalahan sistemik yang dimiliki perbankan, likuiditas

misalnya, dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan. Sehingga FPD hadir

untuk mengatasi potensi permasalahan tersebut. Selain itu, program BLBI yang

sebelumnya menuai kontroversi karena rendahnya regulasi juga menjadi evaluasi

(23)

4.2 Saran 1. Pemerintah

Pemerintah dalam hal ini adalah Kementerian Keuangan diharapkan dapat

benar-benar serius dalam menjaga stabilitas ekonomi melalui program FPD, terutama

berkaitan dengan potensi moral hazard seperti yang terjadi pada kebijakan

pembiayaan sebelumnya. Sehingga regulasi yang benar-benar baik harus

diterapkan.

2. Bank Indonesia

Bank Indonesia sebagai eksekutor program FPD diharapkan dapat menjalankan

tugasnya dengan baik. Hal tersebut didasarkan juga pada berbagai potensi

penyimpangan yang terjadi berkaitan dengan pengajuan pinjaman yang dilakukan

(24)

DAFTAR PUSTAKA

Anatolyevna, Morozova Irina dan Ramilevna, Sahabutdinova Liliya. 2013.

Financial Stability Concept: Main Characteristics and Tools. World

Applied Sciences Journal22 (6): 856-858, 2013

Bank Indonesia. 2005. Seputar Fasilitas PEmbiayaan Darurat (FPD). Lampiran

Siaran Pers Bank Indonesia dan Departemen Keuangan. Jakarta :

Bank Indonesia

___________. Tanpa Tahun. Sejarah Bank Indonesia. Artikel dalam

www.bi.go.id. Diakses pada 18 Juni 2016

Batunanggar, S. 2006. Fasilitas Pembiayaan Darurat (FPD) vs BLBI. Artikel

dalam www.bi.go.id. Diakses pada 18 Juni 2016

Dewi, Sandra. 2010. Kebijakan pemberian fasilitas pembiayaan darurat oleh Bank

Indonesia kepada bank umum bermasalah likuiditas berdampak

sistemik di Indonesia.Thesis. Riau-Indonesia : Universitas Islam Riau

International Monetary Fund (IMF). 2010. Indonesia: Financial Sistem Stability

Assessment. IMF Country ReportNo. 10/288. Washington DC : IMF

Morgan, Peter J. dan Pontines, Victor. 2014. Financial Stability and Financial

Inclusion. ADBI Working Paper Seriesno 488 July 201

Normawati, Dewi. 2016. Stabilitas Sistem Keuangan dan Kebijakan

Makroprudensial. Bahan Ajar pada Kuliah Tamu di Fakultas Ekonomi

dan Bisnis Universitas Airlangga pada 8 April 201

Peraturan Bank Indonesia Nomor : 8/1/PBI/2006 Tentang Fasilitas Pembiayaan

Darurat (FDI

Purnawan, Muhammad E dkk. 2015. Perkembangan Sektor Perbankan 2015.

Artikel dalam

(25)

Pratiwi, Dina Anggun. 2009. Kebijakan pemberian fasilitas pembiayaan darurat

oleh Bank Indonesia kepada bank umum bermasalah likuiditas

berdampak sistemik di Indonesia. Thesis S1. Solo-Indonesia :

Universitas Sebelas Maret

Tambunan, Vina Gustria. 2010. Analisis Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK),

Loan to Deposit Ratio (LDR), dan Capital Adequacy Ratio (CAR)

Terhadap Likuiditas Bank Umum di Indonesia. Thesis S1.

Medan-Indonesia : Universitas Sumatera Utara

Yoga, Paulus. 2015. Menkeu : RI Sangat Butuh Protokol Manajemen Krisis.

Artikel dalam

Gambar

Gambar 1.1 : Jumlah Kantor Bank Umum di Indonesia Tahun 2011-2015
Gambar 2.1 : Proses Permohonan dan Pemberian Fasilitas Pembiayaan
Gambar 2.2 : Karakteristik Stabilitas Sistem Keuangan (SSK)
Gambar 3.1 : Financial Sistem di Indonesia Tahun 2009
+5

Referensi

Dokumen terkait

a) Asimilasi, terjadi ketika individu mengadopsi norma budaya yang dominan atau tuan rumah melebihi budaya asli mereka. Proses asimilasi yang terjadi pada mahasiswa muslim

Metode sosialisasi orang tua juga berhubungan signifikan positif dengan gaya pengasuhan otoritatif yang diterapkan ayah dan ibu Hasil uji korelasi juga menunjukkan tidak

Sewa adalah pemanfaatan aset tetap oleh mitra dalam jangka waktu tertentu. dan menerima imbalan

Selama malam hari, ada pengubahan yang lambat menjadi bentuk yang tidak aktif; periode gelap yang lebih panjang, bagian fitokhrom yang dalam bentuk tidak aktif menjadi

www.wongalus.wordpress.com Kumpulan Asma kiriman sedulur KWA Dan jika sudah merasakan energi sengatan listrik dalam tubuh,sedulur bisa mengetes sendiri dengan mencari teman

Varibel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel dami atau boneka yang dibentuk untuk membandingkan faktor-faktor yang mempengaruhi price earning ratio

Request yang telah dibuat dapat dilakukan pencarian melalui menu search pada menu request seperti pada gambar 18, menggunakan query builder, atau menggunakan request browser..

Gerakan Infaq Beras Jakarta menjadi jembatan amal sholeh dimana gerakan ini hanya untuk menjembatanin antara OTA (Orang Tua Asuh) yang ingin berdonasi atau berinfaq untuk