• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengendalian Gerak Longitudinal Pesawat Terbang dengan Metode Decoupling

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengendalian Gerak Longitudinal Pesawat Terbang dengan Metode Decoupling"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Pengendalian Gerak Longitudinal Pesawat Terbang dengan

Metode

Decoupling

Agus Sukandi*

* Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Jakarta,

Kampus Baru Universitas Indonesia, Depok 16425 Email : [email protected]

Abstract

Aircraft is mode air transportation faster movement. For designing model an aircraft need sufficient knowledge field of controls such as kinematic, dynamics and stability to fulfill requirement as needed. Aircraft motions system are MIMO (Multi Input Multi Output) system, where each input to influence (interaction) to all output, so very complex to analysis. Application of decoupling method for Aircraft motion MIMO system will be eliminate interaction input-output, so each output are influenced by each input only. Result of computation using CHARLIE aircraft data [2] are before using controller, aircraft has unstable characteristics, because it has two positive eigen value i.e. 3,40.0006  0.0512i . Aircraft still both controllable and observable, because has full rank controllability and observability matrix i.e. 4. After using decoupling method controller, motion of aircraft is very stable, both output, vertical velocity w and angular speed q match set-point. Vertical velocity w followed set-point after 12 second, and angular speed q followed set-point after 14 second.

Key words : Longitudinal, decoupling, and stability.

Abstrak

Pesawat terbang merupakan wahana udara yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan manusia akan transportasi yang lebih cepat. Dalam merancang pesawat terbang yang perlu diperhatikan adalah memodelkan dan mengendalikan gerakan pesawat sehingga pesawat mampu bermanouver sesuai dengan yang diinginkan. Sistem gerak pesawat merupakan sistem MIMO (Multi Input Multi Output), di mana masing-masing input saling mempengaruhi (berinteraksi) terhadap semua output sehingga relatif kompleks untuk dianalisa. Penerapan metode decoupling pada sistem MIMO gerak pesawat akan menghilangkan pengaruh interaksi tersebut, sehingga masing-masing output hanya dipengaruhi oleh masing-masing input.

Hasil perhitungan dari data pesawat CHARLIE [2] menunjukkan (sebelum adanya pengendali), gerak pesawat mempunyai karakteristik tidak stabil, karena ada nilai eigen yang positif yaitu

3,4=0.00060.0512i. Tetapi gerak pesawat masih dapat dikontrol (controllability) dan dapat diamati

(observability) secara lengkap, karena matriks controllability dan matriks observability mempunyai full rank yaitu 4. Kemudian, setelah menggunakan pengendali dengan metoda decoupling gerakan pesawat sangat setabil, karena output w dapat mengikuti set-point setelah sekitar 12 detik, dan output q dapat mengikuti set-point setelah sekitar 14 detik.

Kata Kunci: Longitudinal, decoupling, dan stabilitas

I. PENDAHULUAN

Pesawat terbang merupakan wahana udara yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan manusia akan transportasi yang lebih cepat. Dalam merancang pesawat terbang bidang ilmu penting yang perlu diperhatikan adalah mengendalikan gerakan pesawat, sehingga pesawat mampu bermanouver sesuai dengan yang diinginkan.

Tujuan penelitian ini adalah memodelkan, menganalisa, mengendalikan dengan metode decuopling, dan mensimulasikan gerakan longitudinal pesawat terbang.

Metoda pada penelitian ini adalah merujuk kepada buku referensi dan eksperimen

simulasi menggunakan Simulink

(2)

Karena sangat kompleksnya persyaratan yang harus dipenuhi dalam sistem gerak pesawat, maka untuk menyederhanakan analisa, diambil beberapa asumsi, yaitu :

- Gerakan pesawat adalah longitudinal

- Struktur pesawat dianggap rigid body

- Metode pengendali yang digunakan adalah metode decoupling

II. DINAMIKA PESAWAT

TERBANG

Pesawat terbang memiliki kemampuan bergerak dalam tiga sumbu (x,y,z), yakni rolling, pitching, dan yawing. Gerak naik turunnya hidung pesawat (pitching) dikontrol oleh elevator, gerak naik turunnya sayap kiri atau kanan pesawat (rolling) dikontrol oleh aileron, sedangkan gerak berbelok dalam bidang horizontal (yawing) dikontrol oleh rudder. Pada bagian belakang sayap terdapat flap yang berfungsi membantu meningkatkan gaya angkat (Lift) pada saat take off maupun mengurangi gaya angkat pada saat landing [1],[2],[3]. Struktur pesawat, arah gaya, momen, dan kecepatan dijelaskan pada gambar (2.1), (2.2) dan (2.3).

Gambar 2.1 Struktur Pesawat Terbang [3]

Gambar 2.2 Sumbu arah gerak translasi dan rotasi [3]

Gaya pada sumbu (x,y,z)

Komponen arah gaya, momen, kecepatan translasi dan rotasi (angular) pada koordinat (x,y,z) dijelaskan pada gambar (2.3) dan gambar (2.4).

Thrust

Gambar 2.3 Komponen arah gaya, momen, dan kecepatan

Gerak Translasi

Hukum II Newton : kecepatan

pada sumbu (x, y, z) [1]

Properties Roll

xb

Pitch

yb

Yaw

(3)

Kecepatan sudut P Q R

Gaya karena gravitasi bumi :

Gambar 2.4 Komponen gaya gravitasi [1]

Dari persamaan (2.3) dan (2.4) diperoleh :

diperoleh :

(4)

Karena MxL M, yM M, zN persamaan

Pesawat diasumsikan terbang simestris, di mana kondisi awal (initial condition)

0 0 0 0 0 0

X  Y ZVW , P0Q0R0  0 00,

persamaan (2.6) menjadi :

 

dan persamaan (2.10) menjadi :

Untuk menyederhanakan notasi, didefinisikan : 1 gerak longitudinal (2.11) dilinearkan menjadi :

III.PEMODELAN GERAK

PESAWAT DALAM RUANG

KEADAAN

Gerak longitudinal pesawat terbang adalah gerak sepanjang sumbu x, di mana control surface yang sangat berpengaruh adalah elevator dan flaps. Tabel 3.1 Parameter Pesawat CHARLIE

[2]

Pilot location, P x

l (m) 26.2

Pilot location, P Flight Condition, Height (m) 12200

Mach Number, M - 0.8

Persamaan ruang keadaan (state space)

(5)

Penurunan model matematis gerak longitudinal diperoleh dari persamaan (2.13) yang disusun kembali menjadi :

Persamaan (3.2) dalam persamaan ruang keadaan menjadi :

e T

Dengan memasukkan data pesawat CHARLIE pada table (3.1) dan table (3.3) ke dalam persamaan (3.3) maka diperoleh :

-6

8.8* 10 -0.002873 -0.439 0 -1.1578

0 0 1 0 0 0 Nilai Eigen dan Vektor Eigen

Karakteristik sistem ditentukan oleh

nilai eigen melalui persamaan : 0

I A

   (3.5) di mana,  merupakan nilai eigen dari sistem. Sistem dikatakan stabil jika semua pole (nilai eigen) adalah negative, atau I A 0

Karakteristik pesawat CHARLIE : 0 -8.8* 10 0.002873 λ+0.439 0

0 0 -1 λ

diperoleh nilai eigen :

1

Karakteristik pesawat CHARLIE tidak stabil, karena ada nilai eigen yang positif (yaitu 3 dan 4).

Vektor eigen ditentukan dengan persamaan :

λ I - A V = 0ii (3.6)

Uji Controllability dan Observability

Keterkontrolan (controllability) dan keteramatan (observability) suatu sistem dapat ditentukan dengan mengetahui rank dari matriks M dan O, jika full rank maka sistem tersebut Controllability dan Observability lengkap [1],[2],[3].

2 3

(6)

di mana M merupakan Matriks Controllability

O = CCA CA2 CA3T

  (3.8)

di mana merupakan Matriks O Observability

Uji Controllability

2 3 independent), maka pesawat dapat dikontrol (controllability) secara lengkap.

Uji Observability

di mana O merupakan Matriks

T independent), maka pesawat dapat diamati (observability) secara lengkap

IV.PERANCANGAN SISTEM

KENDALI DENGAN METODE DECOUPLING

Persamaan gerak longitudinal merupakan sistem MIMO (Multi Input Multi Output) di mana masing-masing input (masukan) sangat mempengaruhi semua output (keluaran), maka akan dipilih perancangan sistem kendali dengan metode decoupling, karena metode ini akan menghilangkan pengaruh interaksi input-output, sehingga masing-masing input hanya untuk satu (masing-masing) output [4]. metode decoupling dapat digunakan.

y

Gambar 4.1 Diagram Blok Sistem Kontrol Metode

Decoupling

Dengan state feedback (metode decoupling), sinyal kendali u pada diagram blok (4.1) menjadi [4]:

( , ) pesawat terbang

Tujuan pengendalian

Tujuan pengendalian adalah menentukan matriks pengendali (feedback gain) R dan matriks pre-filter V sedimikan rupa, sehingga [4] : - Setiap sinyal output yi(t) mengikuti

sebaik mungkin sinyal acuannya wi(t)

- di mana, i=1,2,…,p

- Setiap sinyal output yi(t) hanya dipengaruhi oleh masing-masing sinyal acuannya wi(t).

(7)

x Ax Bu

Sehingga diperoleh matriks pre-filter V

:

1

VDK (decoupling pre-filter) (4.7)

Syarat decoupling det(D)0 (4.8)

Penentuan matriks pengendali R:

Terbentuk persamaan diferensial hanya antara yi dan wi

Penentuan parameter bebas untuk memenuhi respon dinamik yang diinginkan

ki, qiv

:

Solusi persamaan (4.9) dengan transformasi Laplace

1 0 penempatan kutub yang diinginkan.

0

i i

kq (untuk zero steady state error). Sehingga dengan metode decoupling , interaksi multi input-multi output disintesa menjadi satu input hanya

Gambar 4.3 Ilustrasi sitem coupling menjadi decoupling

(8)

elemen matriks sudah memenuhi syarat,

maka :

Dengan menguji decoupleability sesuai syarat persamaan (4.8) :

6

(decoupleability)

Kemudian menempatan kutub yang diinginkan (dipilih p = -1 dan -0.5) maka dengan persamaa (4.12) :

1

3.021*10 7.124 *10

Vinv D K   D  

Dengan persamaan (4.10) diperoleh :

-0.0700 0.6830 250. 0 0.0001 -0.0029 0.0610 0

Q  

 

(4.15)

Kemudian dengan persamaan (4.11) diperoleh matriks pengendali R :

 

*

*

0.01223 -0.1193 -43.71 0

R inv DQ

 

   (4.16)

Uji Simulasi Pengendalian

Gambar 4.4 Diagram blok State space tanpa pengendali

Gambar 4.5 Step responsew dan q tanpa pengendali

Gambar 4.6 Step responsew tanpa

Step response w dan q sebelum dikontrol

w (m/sec)

Step response w (m/sec)

(9)

Gambar 4.7 Step responseq tanpa pengendali

Gambar 4.8 Diagram blok state space dengan pengendali

Gambar 4.9 Step response w dan q setelah dikendalikan

Gambar 4.10 Step responsew setelah dikendalikan

Gambar 4.11 Step response q setelah dikendalikan

Dari hasil simulasi menggunakan diagram blok (4.4) kemudian diplot pada gambar (4.5), (4.6) dan (4.7) terlihat bahwa step respon w dan q tidak stabil.

Dari hasil simulasi menggunakan diagram blok (4.8) dengan metoda decoupling yang diplot pada gambar (4.9), (4.10) dan (4.11) terlihat bahwa decoupling dapat digunakan dengan baik.

Step response q (rad/sec)

q (rad/sec)

Step Response w and q due to the deflection elevator and change throtlle engine

Time (sec.)

Step Respon W due to the deflection elevator and change throtlle engine

w (m/sec)

Step response Q (rad/sec) due to the deflection elevator and change throtlle engine

(10)

V. KESIMPULAN

Dari hasil perhitungan dan simulasi, dapat diambil kesimpulan, bahwa : 1. Sebelum adanya pengendali,

pesawat CHARLIE mempunyai karakteristik tidak stabil, karena ada nilai eigen yang positif (

3,4 0.0006 0.0512i

   ).

2. Pesawat CHARLIE dapat dikontrol (controllability) dan dapat diamati (observability) secara lengkap, karena matriks controllability dan matriks observability mempunyai full rank yaitu 4.

3. Setelah menggunakan pengendali dengan metoda decoupling gerakan pesawat sangat stabil, karena output w dapat mengikuti set-point setelah sekitar 12 detik, dan output q dapat mengikuti set-point setelah sekitar 14 detik.

VI.DAFTAR PUSTAKA

How, Jonathan, Aircraft Dynamics, (Lecture Notes : 16.61 AC 1–2 to 1-16 and 2-1 to 2-17) MITOpenCourseWare Spring 2003, (web.mit.edu), Department of Aeronautics and Astronautics Massachusetts Institute of Technology, Cambridge, Massachusetts, Spring 2003.

McLean, Donald, Automatic Flight Control Systems, Prentice Hall International (UK) Ltd, 1990.

Nelson, Robert C, Flight Stability and Automatic Control, McGraw Hill, Inc. 1989

Gambar

Gambar 2.3  Komponen arah gaya, momen, dan kecepatan
Gambar 2.4  Komponen gaya gravitasi
Tabel 3.1 Parameter Pesawat CHARLIE
Gambar 4.1   Diagram Blok Sistem Kontrol Metode
+4

Referensi

Dokumen terkait

servo Fungsi alih dinamik pesawat IV.2.2.Respons lup tertutup mode gerak phugoid dengan umpan balik Respons lup tertutup sistem kontrol ketinggian. Diagram blok kontrol

Persamaan matematik system rol mesin metalizing merupakan system MIMO (multi input multi output) dengan jumlah input sebanyak 4 input yaitu gaya putar rol

perbandingan antara masukan (input) dengan keluaran (output), atau jumlah keluaran yang dihasilkan dari satu input yang digunakan.

Penyebab dari tidak bisanya output mengikuti keluaran saat sistem sebelum dikontrol adalah karena tidak adanya integrator dalam serta tidak adanya kontroler yang bisa

Topologi milik RBF terdiri atas unit lapisan masukan (input), unit lapisan tersembunyi (hidden), dan unit lapisan keluaran (output). Gambar 1 menunjukkan skema

Gambar (1) menunjukkan suatu elemen diagram blok. Anak panah yang menuju ke blok menyatakan masukan dan anak panah yang meninggalkan blok menyatakan keluaran. diagram blok