• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I. A. LatarBelakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I. A. LatarBelakang Masalah"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

A.LatarBelakang Masalah

Perjudian adalah pertaruhan dengan sengaja yaitu mempertaruhkan satu nilai atau sesuatu yang dianggap bernilai dengan menyadari adanya resiko dan harapan-harapan tertentu pada peristiwa-peristiwa permainan, pertandingan, perlombaan dan kejadian-kejadian yang tidak atau belum pasti hasilnya. Menurut Undang-Undang Hukum Pidana pasal 303 ayat 3 menyatakan:

“main judi berarti tiap-tiap permainan yang kemungkinannya akan menang pada umumnya tergantung pada untung-untungan saja, juga kalau kemungkinan bertambah besar karena permainan lebih pandai atau lebih cakap main judi mengandung juga segala pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainan lain yang tidak diadakan oleh mereka yang turut berlomba atau

bermain.”1

Kartini kartono mengartikan judi sebagai “Pertaruhan dengan sengaja, yaitu mempertaruhkan suatu nilai atau sesuatu yang dianggap berninlai dengan menyadari adanya resiko dan harapan - harapan tertentu pada peristiwa – peristiwa, permainan pertandingan, perlombaan dan kejadian - kejadian yang

tidak/belum pasti hasilnya.2

Hukum pidana digunakan untuk menyelesaikan masalah sosial khususnya dalam penanggulangan kejahatan sebagai salah satu bentuk penyakit masyarakat, seperti kasus perjudian. Penegak hukum pidana untuk menanggulangi perjudian sebagai perilaku yang menyimpang harus terus dilakukan. Hal ini sangat beralasan karena perjudian merupakan ancaman yang nyata terhadap norma – norma sosial yang dapat menimbulkan ketegangan individual maupun ketegangan

– ketegangan sosial.3

Perjudian mulanya hanya satu bentuk permainan atau hanya sebagai permainan pengisi waktu luang guna menghibur hati yang sifatnya rekreatif dan netral. Berawal dari yang netral inilah, lambat laun ditambahkan unsur baru untuk merangsang kegairahan bermain dan menaikan ketegangan serta pengharapan untuk menang, yaitu biasanya berupa barang taruhan seperti uang ataupun benda – benda berharga lainnya. Pertaruhan dalam perjudian ini juga terdapat unsur –

1Undang-Undang Hukum Pidana pasal 303 ayat 3

2 Kartini Kartono, Patologi Sosial, Jilid 1, PT Raja Grafindo, Jakarta, 2005, Hal. 56. 3 Arief, Barda Nawawi, Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana,Bandung: Citra Aditya Bakti, 1998, Hal. 73.

(2)

unsur spekulatif atau untung – untungan itu sedikit atau banyak selalu

mengundang unsur kepercayaan mistik terhadap kemungkinan beruntung.4

Perjudian di negara Indonesia sudah bukan merupakan hal yang tabu untuk dilakukan secara terang – terangan maupun sembunyi – sembunyi di tempat – tempat tertentu dari pangkalan ojek hingga tempat yang memang disediakan khusus untuk melakukan perjudian. Definisi judi atau perjudian adalah pertaruhan dengan sengaja, yaitu mempertaruhkan satu nilai atau sesuatu yang dianggap bernilai, dengan menyadari adanya resiko dan harapan – harapan tertentu pada peristiwa – peristiwa permainan, pertandingan, perlombaan dan kejadian –

kejadian yang tidak atau belum pasti berhasil.5

Perjudian di Indonesia merupakan suatu tindak pidana yang diatur dalam KUHP Pasal 303 serta Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1974. Undang – undang tersebut merupakan peraturan tentang penertiban perjudian yang menyangkut pula perubahan – perubahan mengenai ancaman pidana maupun denda. Undang – Undang tersebut memuat perubahan tentang ketentuan dasar yang ada dalam Pasal 542 KUHP mengenai jenis delik (dari pelanggaran menjadi kejahatan) serta ancaman pidana dari 1 (satu) bulan menjadi 4 (empat) tahun (pasal 542 ayat (1))

dan 3 (tiga) bulan menjadi 6 (enam) tahun (pasal 542 ayat (2)).6

Tidak boleh dilupakan bahwa hukum pidana atau sistem pidana itu merupakan bagian dari politik kriminal, ialah usaha yang rasional dalam mencegah kejahatan yaitu dengan penerangan-penerangan serta pemberian contoh oleh golongan masyarakat yang mempunyai kekuasaan. Begitu pula terhadap perjudian yang merupakan salah satu bentuk kejahatan yang memenuhi rumusan KUHP yaitu, yang diatur melalui Pasal 303 dan 303 bis, hal ini sesudah dikeluarkan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian ancaman pidana bagi

perjudian tersebut diperberat, perincian perubahannya sebagai berikut7:

1. Ancaman pidana dalam Pasal 303 (1) KUHP diperberat menjadi pidana penjara selama-lamanya sepuluh tahun atau denda sebanyakbanyaknya dua puluh lima juta rupiah.

2. Pasal 542 KUHP diangkat menjadi suatu kejahatan dan diganti sebutan menjadi Pasal 303 bis KUHP, sedangkan ancaman pidananya diperberat yaitu:

Ayat (1) menjadi pidana penjara selama-lamanya empat tahun atau denda sebanyak-banyaknya sepuluh juta rupiah. Ayat (2) menjadi pidana penjara

4 Harian Surya, Buruh Tani Mengecer Togel, Edisi Senin 14 April 2008, Hal. 4. 5KartiniKartono,Loc.Cit, hal. 65.

6

Topo Santoso, Judi dan Problem Hukum, www.Republika.com, 2005, Hal. 1. 7

(3)

selama-lamanya enam tahun atau denda sebanyak-banyaknya lima belas juta rupiah.

Perjudian dalam KUHP diatur dalam Pasal 303 yang berbunyi sebagai berikut: (1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun atau pidana denda paling banyak dua puluh lima juta rupiah, barang siapa tanpa mendapat izin:

a. dengan sengaja menawarkan atau memberikan kesempatan untuk permainan judi dan menjadikannya sebagai pencaharian, atau dengan sengaja turut serta dalam suatu kegiatan usaha itu

b. dengan sengaja menawarkan atau memberi kesempatan kepada khalayak umum untuk bermain judi atau dengan sengaja turut serta dalam kegiatan usaha itu, dengan tidak peduli apakah untuk menggunakan kesempatan adanya sesuatu syarat atau dipenuhinya sesuatu tata cara

c. menjadikan turut serta pada permainan judi sebagai pencaharian.

(2) kalau yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencahariannya, maka dapat dicabut haknya untuk menjalankan pencaharian itu. (3) Yang disebut dengan permainan judi adalah tiap-tiap permainan, di mana pada umumnya kemungkinan mendapat untung bergantung pada keberuntungan belaka, juga karena pemainnya lebih terlatih atau lebih mahir. Di situ termasuk segala pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainan lain-lainnya yang tidak diadakan antara mereka yang turut berlomba atau bermain, demikian juga segala pertaruhan lainnya.

Tindak pidana yang dimaksudkan di dalam ketentuan pidana yang diatur dalam pasal 303 ayat (1) angka 1 huruf a KUHP itu terdiri dari unsur – unsur sebagai berikut8:

a. unsur subjektif : dengan sengaja

8

(4)

b. unsur objektif : 1) barangsiapa; 2) tanpa mempunyai hak untuk; 3) melakukan sebagai usaha; 4) menawarkan atau memberikan kesempatan; 5) untuk bermain judi.

Objek di sini adalah permainan judi dalam bahasa asingnya disebut hazardspel. Bukan segala permainan masuk hazardspel yaitu tidak hanya

pemainan yang luas. Dalam arti kata yang sempit permainan hazard adalah segala

permainan jika kalah menangnya orang dalam permainan itu tidak tergantung kepada kecakapan, tetapi melulu hanya tergantung kepada nasib baik dan sial saja.9

Dalam arti kata yang luas yang termasuk hazard juga segala permainan yang

pada umumnya kemungkinan untuk menang tergantung pada nasib atau secara kebetulan. Biarpun kemungkinan untuk menang itu bisa bertambah besar pula karena latihan atau kepandaian pemain atau secara lain dapat dikatakan bahwa yang dinamakan permainan hazard itu ialah, suatu permainan jika kalah menangnya orang dalam permainan itu tergantung kepada nasib dan umumnya pada pemain yang banyak. Jadi dengan demikian yang dinamakan dengan permainan judi sebelumnya hanya diartikan dalam arti yang sempit, tetapi dalam perkembangan diartikan dalam arti yang luas yaitu di samping unsur kecakapan

dan unsur keahlian ditambah dengan unsur latihan atau kepandaian si pemain.10

Perbuatan yang dilarang dalam Pasal 303 bis KUHP yaitu:

“Diancam dengan kurungan paling lama empat tahun atau denda paling banyak sepuluh juta rupiah:

Ke-1 : Barangsiapa menggunakan kesempatan untuk main judi, diadakan, dengan melanggar ketentuan tersebut pasal 303.

Ke-2 : Barangsiapa ikut serta permainan judi yang diadakan di jalan umum atau di pinggiran maupun di tempat yang dapat dimasuki oleh khalayak umum, kecuali jika untuk mengadukan itu ada izin dari penguasa yang wenang.”

Melihat rumusan peraturan hukum pidana tersebut berarti sudah jelas bahwa perjudian dilarang oleh norma hukum pidana karena telah memenuhi rumusan seperti yang dimaksud, untuk itu dapat dikenal sanksi pidana yang pelaksanaannya diproses sesuai dengan hukum acara pidana. Dalam kenyataannya

9http://vanthehen.blogspot.co.id/2015/11/tindak-pidana-perjudian-dalam-kuhphukum.html, diakses

1 Desember 2017 Pukul 01:30 WIB.

(5)

bahwa judi tumbuh dan berkembang serta sulit untuk ditanggulangi, diberantas seperti melakukan perjudian di depan umum, di pinggir jalan raya bahkan ada yang dilakukan secara terorganisir dan terselubung dan beraneka ragam yang dilakukan oleh para penjudi tersebut yang sebenarnya dilarang. Maka dari itu perlu tindakan pemberantasan tindak pidana perjudian, sehingga Usaha kepolisian dalam menanggulangi tindak pidana sangat penting serta peran masyarakat setempat yang berpartisipasi dengan kepolisian.

Fungsi kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Dalam hal ini, tujuan dari Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) adalah untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, serta terbinanya ketenteraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Menjalankan tugas pokok memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, Polri memilikki tanggung jawab terciptanya dan tertibnya suatu kondisi yang aman dan tertib dalam kehidupan masyarakat.

Berdasarkan pendapat Soebroto Brotodirejo sebagaimana disitir oleh R. Abdusalam mengemukakan, bahwa keamanan dan ketertiban adalah keadaan bebas dari kerusakan atau kehancuran yang mengancam keseluruhan atau perorangan dan memberikan rasa bebas dari rasa ketakutan atau kekhawatiran, sehingga ada kepastian dan rasa kepastian dari jaminan segala kepentingan atau

suatu keadaan yang bebas dari pelanggaran norma - norma.11

Kepolisian merupakan organisasi aparat penegak hukum. Dalam Pasal 2 Undang-

Undang Nomor. 2 Tahun 2002 tentang kepolisian Republik Indonesia, berbunyi12:

“Fungsi Kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara dibidang

pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegak hukum,

perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat.”

11

Soebroto Brotodirejo dalam R. Abdusalam, Penegak Hukum Di Lapangan Oleh Polri, jakarta, 1997, hal. 22.

12Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2pasal 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara

(6)

Pasal 4 Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2002 juga menegaskan bahwa13 :

“Kepolisian Negara Republik Indonesia bertujuan untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib, dan tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, serta terbinanya ketentraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.”

Berdasarkan ketentuan pasal – pasal diatas, maka fungsi Kepolisian di era reformasi sebagai pemelihara keamanan dan ketertiban umum, supaya terwujud keamanan dalam negeri yang stabil sehingga memungkinkan setiap individu dalam masyarakat dapat menjalankan seluruh dinamika kehidupan dengan baik,

aman, serta tentram.14

Salah satu tantangan yang dihadapi polisi dalam pelaksanaan tugas kesehariannya adalah adanya kesenjangan masyarakat atas tugas – tugas polisi seharusnya dengan kenyataan yang terjadi ditengah – tengah masyarakat. Untuk mencapai pelaksanaan tugas kepolisian tersebut, polisi melakukan sejumlah tindakan – tindakan sesuai tugas dan wewenang yang diberikan dalam pengertian bahwa kepolisian harus menjalankan tugas dan wewenangnya setiap waktu meliputi : pelayanan masyarakat, menjaga ketertiban dan keamanan serta penegak

hukum, mengingat judi merupakan salah satu tindak pidana kejahatan.15

Kepolisian merupakan salah satu lembaga pemerintah yang memiliki peranan penting dalam negara hukum. Di dalam negara hukum kehidupan hukum sangat ditentukan oleh faktorstruktur atau lembaga hukum, disamping faktor – faktor lain, seperti faktor substansi hukum dan faktor kultur hukum. Dengan demikian, efektivitas operasional dari struktur atau lembaga hukum sangat ditentukan oleh

kedudukan dalam organisasi negara.16

Berdasarkan pengertian diatas, ditegaskan bahwa kepolisian sebagai badan pemerintah yang diberi tugas memelihara keamanan dan ketertiban umum. Dengan demikian arti polisi tetap ditonjolkan sebagai badan atau lembaga yang

harus menjalakan fungsi pemerintah, dan sebagai sebutan anggota dari lembaga.17

13

Ibid, Pasal 4

14Pudi Rahardi, Hukum Kepolisian (Profesionalisme dan Reformasi Polri),Laksbang Mediatama,

Surabaya, 2010, hal. 37.

15

Kepolisian Negara Republik Indonesia,Perpolisian Masyarakat, Buku Pedoman pelatihan untuk Anggota Polri, Jakarta: 2006, hal. 71.

16

Sadjijono, Seri Hukum Polri dan Good Goverment, Jakarta; Laksbang Mediatama, 2008, hal. 1. 17

(7)

Keberhasilan polisi dalam penanggulangan kejahatan harus disyaratkan pada integralitas berbagai pendekatan, yang secara garis besarnya dapat dibagi menjadi pendekatan penal, melalui penerapan hukum pidana dan upaya non penal, yaitu kebijakan penanggulangan tanpa penerapan hukum pidana, melainkan

dititikberatkan pada berbagai kebijakan sosial.18

Hal ini dilatarbelakangi bahwa kejahatan adalah masalah sosial dan masalah kemanusiaan. Oleh karena itu upaya penanggulangan kejahatan tidak hanya dapat mengandalkan penerapan hukum pidana semata, tetapi juga melihat akar lahirnya persoalahan kejahatan ini dari persoalan sosial, sehingga kebijakan sosial juga

sangat penting dilakukan.19

Dalam penanganan kasus perjudian, polisi dapat berperan dengan menangkap pelaku kasus perjudian, baik pemain maupun bandar judi, dan melimpahkan kasusnya ke pengadilan agar mendapat hukuman dengan dijerat Pasal – Pasal

dalam hukum pidana.20

Perjudian sendiri adalah bentuk penyakit masyarakat yang harus diberantas keberadaanya, oleh karena itu sangat diperlukan partisipasi dari masyarakat untuk bersama-sama dengan aparat kepolisian untuk memberantas segala macam bentuk permainan judi, demi untuk menciptakan lingkungan masyarakat yang aman, tertib dan sejahtera.

Karena maraknya perjudiaan di kalangan masyarakat terutama di Boyolali membuat perjudian di anggap wajar dan biasa saja oleh anggota masyarakat. Mereka kurang menyadari bahwa akibat perjudian berdampak merugikan bagi masyarakat dan bagi moral bangsa, karena pada dasarnya kejahatan itu mengakibatkan ketertiban, ketentraman, dan keamanan masyarakat menjadi terganggu, selain itu pengaruh bagi anak – anak sangat besar, mereka akan ikut – ikutan melakukan tindak pidana perjudian yang mereka lihat terjadi dilingkungannya dan akan menimbulkan kerugian materiil bagi mereka yang melakukannya.

18Mahmud Mulyadi, Criminal Policy, Pendekatan Integral Penal Policy dan Non-Penal Policy dalam Penanggulangan kejahatan Kekerasan. (Medan: Pustaka Bangsa Press, 2008), hal. 55.

19Opcit.

(8)

DIAGRAM PERBANDINGAN PENANGANAN KASUS PERJUDIAN YANG TERJADI DI BOYOLALI DARI TAHUN

2013 - 2017

Keterangan tabel 1 :

1. 2013 sebanyak 22 kasus perjudian (Januari – Desember).

 15 kasus P21,

 7 kasus sudah dipengadilan

2. 2014 sebanyak 47 kasus perjudian. (Januari – Desember)

 23 kasus P21,

 14 sudah dipengadian

3. 2015 sebanyak 37 kasus perjudian. (Januari – Desember)

 17 kasus P21,

 10 kasus sudah dipengadilan

4. 2016 sebanyak 71 kasus perjudian. (Januari – Desember)

 31 kasus P21, 10 kasus diantaranya adalah kasus 2015

 30 kasus sudah dipengadilan

5. 2017 sebanyak 34 kasus perjudian. (Januari – Desember)

 18 kasus P21,

 1 kasus ditangani pada tahun baru 2018,

 15 kasus sudah dipengadilan

0 10 20 30 40 50 60 70 80

Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017

Tabel 1

(9)

Dari tabel diatas penulis dapat menarik kesimpulan bahwa dari tahun ketahun mulai dari tahun 2013 sampai tahun 2014 naik, 2014 sampai 2015 turun tetapi naik signifikan ke tahun 2016 tapi 2017 turun. namun jika dilihat dari tahun tahun sebelumnya yang terdapat dalam diagram tabel 1 diatas maka dapat disimpulkan bahwa kinerja kepolisian Boyolali dalam hal ini satreskrim Boyolali masih mengalami pasang surut. Selain itu kinerja kepolisian Boyolali dapat dikategorikan baik karena dari tahun ketahun (2013-2017) kepolisian Boyolali setiap tahunnya rata – rata dapat menangani setengah dari kasus yang ada, bahkan sebagian kasus berkas sudah P21 dan sisanya sudah dipengadilan. Dan seharusnya Reskrim Polisi Boyolali semakin tahun dapat menurunkan angka kasus perjudian di kota Boyolali dengan mengaca pada kinerja pada tahun - tahun sebelumnya.

Penjelasan mengenai upaya yang dilakukan Polres Boyolali didalam menanggulangi tindak pidana perjudian di wilayah Kabupaten Boyolali.,adapun upaya tersebut berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Rohmadi selaku Kasat Intel Polres Boyolali, adapun upaya – upaya yang dilakukan polres Boyolali adalah sebagai berikut :

1. Melakukan penyelidikan dan mencari informasi.

2. Masyarakat lidik atau undercover.

3. Melakukan penyamaran.

4. Melakukan pengintaian.

5. Menangkap tersangka dan menyita barang bukti.

6. Melakukan operasi dan pengawasan di tempat – tempat keramaian,

7. Melakukan sosialisasi atau penyuluhan kepada masyarakat.21

Dari ke tujuh upaya menanggulangi tindak pidana perjudian yang dilakukan pihak Polres Boyolali diatas maka ada beberapa penjelasan mengenai tujuan, sasaran di dalam pelaksanaan dari masing-masing menanggulangi, yaitu:

Tabel dilihat dalam halaman berikutnya.

21 Hasil wawancara dengan Rohmadi selaku Kasat Intel Polres Boyolali,yang dilakukan pada 11

(10)

Tabel 2

Tujuan dan Sasaran Dari Ke Tujuh Upaya - upaya Operasi Didalam Menanggulangi Perjudian Di Wilayah Hukum Polres Boyolali

NO Model Operasi Tujuan Sasaran

1. Melakukan lidik dan mencari informasi Untuk memetakan daerah - daerah

yang dianggap rawan dari tindak pidana perjudian

Warga masyarakat

2. Masyarakat lidik atau undecover Untuk mengetahui modus permainan judi tersebut

Para pemain dan pelaku judi

3. Melakukan penyamaran Untuk mengetahui tempat -

tempat

perjudian dan orang - orang yang terlibat didalam bisnis perjudian tersebut.

Bandar dan pelaku

Perjudian

4. Melakukan pengintaian Untuk mengetahui keadaan

daerah dan orang - orang

sekitar lingkungan tempat diadakannya permaian judi tersebut

Lingkungan tempat berlangsungya

Perjudian

5. Menangkap tersangka dan menyita barang bukti

Untuk memberhentikan bisnis perjudian tersebut dan menghadapkan para pelaku untuk diadili

Para pelaku perjudian dan bandarnya

6. Melakukan operasi dan pengawasan di tempat-tempat keramaian

Untuk mencegah munculnya perjudian di wilayah tersebut dan menjaga keamanan daerah tersebut

Tempat - tempat keramaian seperti pasar

7. Melakukan sosialisasi atau

penyuluhan tentang dampak dari bermian judi

Untuk memberikan

pemahaman atau pengetahuan

tentang akibat yang ditimbulakan dari permaian judi.

Warga masyarakat

Berpendidikan rendah seperti petani dan buruh

(11)

Usaha – usaha yang sering dilakukan oleh Polres Boyolali di dalam menanggulangi tindak pidana perjudian adalah melakukan upaya preventif dan represif. Upaya preventif dilakukan dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat dengan melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat yang kurang mengerti akan dampak negatif dari perjudian, sedangkan upaya represif dilakukan dengan penyelidikan dan mencari informasi dari masyarakat mengenai daerah-daerah yang disinyalir sebagai tempat yang rawan akan tindak

pidana perjudian, melakukan operasi atau razia ditempat-tempat keramaian.22

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penulis menentukan perumusan permasalahan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut :

Bagaimana Tindakan Kepolisian Boyolali dalam menanggulangi tindak pidana perjudian ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan diatas maka dapat ditentukan tujuan penelitian

ini, yakni sebagai berikut:

Untuk mengetahui Tindakan Kepolisian Boyolali dalam menanggulangi tindak pidana perjudian

D. Manfaat Penelitian

Setiap kegiatan penelitian apalagi kegiatan penelitian ilmiah selalu memiliki tujuan-tujuan tertentu. Oleh karena itu, tujuan yang hendak dicapai penulis dalam penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut:

22 Wawancara dengan Kasat Intel Polres Boyolali, Boyolali 11 September 2017. Kasat Intel

(12)

1. Manfaat Teoritis

Manfaat dari penulisan ini adalah bahwa hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk menambah wawasan pengetahuan ilmu hukum pada umumnya dan ilmu hukum pidana pada khususnya. Selain itu dapat digunakan sebagai landasan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai upaya kepolisian dalam menanggulangi tindak pidana perjudian.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi aparat Penegak hukum

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai wawasan dan bahan pertimbangan bagi aparat kepolisian Polres Boyolali pada khusunya, untuk dijadikan suatu pandangan atau langkah kedepan dalam menanggulangi tindak pidana perjudian di dalam masyarakat.

b. Bagi Masyarakat

Dengan adanya penelitian ini diharapkan masyarakat dapat mengerti akan dampak perjudian, dikarenakan masih banyak masyarakat yang masih belum tahu akan dampak yang ditimbulkan dari perjudian tersebut.

E.Metode penelitian

1. Jenis penelitian

Jenis penelitian yang di pilih oleh penulis adalah penelitian eksploratif sebab dalam penelitian ini, peneliti meneliti tentang usaha yang di lakukan kepolisian Boyolali guna menanggulangi tindak pidana perjudian.

2. Metode pendekatan

a. Metode yang di gunakan oleh penulis adalah pendekatan yuridis

sosiologis, penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana kinerja kepolisian Boyolali dalam menanggulangi tindak pidana perjudian.

b. Metode penelitianini juga didukung oleh metode pendekatan yuridis

empiris karena disertai dengan penelitian lapangan berupa wawancara dengan narasum berterkait.

(13)

3. Jenis dan teknik pengumpulan data

a. Data primer di peroleh melalui wawancara dengan

1) Kasat Intel Polres Boyolali

2) Kasat Reskrim

3) Kasat Binmas

4) Pelaku perjudian

5) Masyarakat yang terganggu

6) Masyarakat yang tidak terganggu

b. Data sekunder dalam penelitian ini mencangkup

1) Bahan hukum primer

Dalam penelitian ini bahan hukum primer yang digunakan terdiri dari :

a) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian

b) Undang-undang Nomor 2 tahun 2002 Tentang Kepolisian.

c) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

2) Bahan hukum sekunder

Yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer meliputi buku-buku teks, kamus hukum, jurnal hukum, dan komentar-komentar atas putusan pengadilan .

3) Bahan hukum tersier

Adalah bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, seperti kamus hukum.

4. Unit amatan dan unit analisis

a. Unit amatan :

1) Kepolisian Kabupaten Boyolali

2) Kasus perjudian masyarakat

3) Peraturan- peraturan

4) Pasal 303 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1974 tentang Penertiban

Perjudian

5) Pasal 2 Undang- UndangNomor 2 Tahun 2002 tentang kepolisian

(14)

6) Pasal 4 Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia

7) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

Sedangkan yang menjadi unit analisisnya yaitu usaha kepolisian boyolali, sejauh mana kepolisian boyolali dalam menanggulangi dan menindak lanjuti tindak pidana perjudian yang terjadi di boyolali.

Gambar

DIAGRAM PERBANDINGAN PENANGANAN KASUS  PERJUDIAN YANG TERJADI DI BOYOLALI DARI TAHUN

Referensi

Dokumen terkait

Upaya yang dilakukan pihak Kepolisian Sektor Sukarame dalam menanggulangi tindak pidana perjudian play station di Kota Bandar Lampung adalah dengan upaya

Upaya yang dilakukan untuk menanggulangi tindak pidana pencurian tersebut adalah upaya preventif yaitu upaya yang dilakukan sebelum terjadinya kejahatan, upaya represif yaitu

UPAYA POLISI DALAM MENANGGULANGI TINDAK PIDANA PERJUDIAN SEPAK BOLA MELALUI SMS DI SURAKARTA.. Disusun

14 Penelitian ini ditujukan untuk menggambarkan penegakan hukum yang dilaksanakan Polres dalam menanggulangi tindak pidana illegal loging di Wilayah Hutan

Upaya Yang Dilakukan Oleh Penyidik Polres Kediri Kota Untuk Mengatasi Kendala Pemberian Perlindungan Hukum Terhadap Perempuan Sebagai Pelaku Tindak Pidana Perjudian Adapun upaya

Upaya yang dilakukan pihak Kepolisian Sektor Sukarame dalam menanggulangi tindak pidana perjudian m enggunakan play station di Kota Bandar Lampung adalah dengan upaya

Penelitian tentang penegakan hukum yang dilakukan Polres dalam menanggulangi penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana kekerasan perempuan dan anak di Wilayah

Adapun upaya yang dilakukan oleh pihak kepolisian Polres Pinrang dalam menanggulangi kejahatan penipuan melalui hipnotis yaitu dengan melakukan upaya preventif dengan melakukan patroli