• Tidak ada hasil yang ditemukan

Resume Buku KesMas Notoatmojo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Resume Buku KesMas Notoatmojo"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

Resume buku KesMas : Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo (bag.1) :

Resume buku KesMas : Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo (bag.1) :

resume bukuresume buku

kesehatan masyarakat

kesehatan masyarakat  ini sengaja aku posting buat adeg-adeg angkatanku nanti dalam  ini sengaja aku posting buat adeg-adeg angkatanku nanti dalam menempuh mata kuliah kesehatan masyarakat oleh Pak Hendra ^_^ . biar gag frustasi kayak aku menempuh mata kuliah kesehatan masyarakat oleh Pak Hendra ^_^ . biar gag frustasi kayak aku yg harus ngetik buku setebal itu ... hhe yg harus ngetik buku setebal itu ... hhe

BAB 1

BAB 1

KESEHATAN MASYARAKAT

KESEHATAN MASYARAKAT

A.

A. Sekelumit Sejarah Kesehatan

Sekelumit Sejarah Kesehatan Masyarakat

Masyarakat

Membicarakan kesehatan masyarakat tidak terlepas dari dua tokoh metologi Yunani, yakni Membicarakan kesehatan masyarakat tidak terlepas dari dua tokoh metologi Yunani, yakni Asclepius dun Higia. Berdasarkan cerita mitos Yunani tersebut Asclepius disebutkan sebagai Asclepius dun Higia. Berdasarkan cerita mitos Yunani tersebut Asclepius disebutkan sebagai seorang dokter pertama yang tampan dan pandai meskipun tidak disebutkan sekolah atau seorang dokter pertama yang tampan dan pandai meskipun tidak disebutkan sekolah atau  pendidikan

 pendidikan yang yang telah telah ditempuhnya, ditempuhnya, tetapi tetapi diceritakan diceritakan bahwa bahwa ia ia dapat dapat mangobati mangobati penyakit penyakit dandan  bahkan

 bahkan melakukan melakukan bedah bedah berdasarkan berdasarkan prosedur prosedur prosedur prosedur tertentu tertentu (surgical (surgical procedure) procedure) dengandengan  baik.

 baik.

Higea, seorang asistennya, yang kemudian diceritakan sebagai istrinya, juga telah Higea, seorang asistennya, yang kemudian diceritakan sebagai istrinya, juga telah melakukan upaya-upaya kesehatan. Beda antara Asclepius dengan Higeia dalam pendekatan/ melakukan upaya-upaya kesehatan. Beda antara Asclepius dengan Higeia dalam pendekatan/  penanganan tnasalah k

 penanganan tnasalah kesehatan sebagai berikut: 1esehatan sebagai berikut: 1) Asclopus melakukan p) Asclopus melakukan pendekatan (pengobatanendekatan (pengobatan  penyakit)

 penyakit) setelah setelah penyakit penyakit tersebut tersebut terjadi terjadi pada pada seseorang. seseorang. 2) 2) Higeia Higeia mengajarkan mengajarkan kepadakepada  pengikutnya d

 pengikutnya dalam penalam pendekatan dekatan masalah kesehatan masalah kesehatan malalui „hidup malalui „hidup seimbang‟, yaitu seimbang‟, yaitu menghindarimenghindari makanan/minuman beracun, makan makanan yang bergizi (baik), cukup istirahat, dan melakukan makanan/minuman beracun, makan makanan yang bergizi (baik), cukup istirahat, dan melakukan olahraga. Apabila orang sudah jatuli sakit, Higeia lebih menganjurkan melakukan upaya-upaya olahraga. Apabila orang sudah jatuli sakit, Higeia lebih menganjurkan melakukan upaya-upaya sacara alamiah untuk menyembuhkan penyakitnya tersebut, antara lain lebih baik dengan sacara alamiah untuk menyembuhkan penyakitnya tersebut, antara lain lebih baik dengan memperkuat tubuhnya dengan makanan yang baik, daripada dengan pengobatan/ pembedahan. memperkuat tubuhnya dengan makanan yang baik, daripada dengan pengobatan/ pembedahan.

Dalam perkembangan selanjutnya, seolah-olah timbul garis pemisah antara kedua Dalam perkembangan selanjutnya, seolah-olah timbul garis pemisah antara kedua kelompok profesi, yakni pelayanan kesehatan kuratif (curative health care), dan pelayanan kelompok profesi, yakni pelayanan kesehatan kuratif (curative health care), dan pelayanan  pencegahan

 pencegahan atau preventif atau preventif (preventive health (preventive health care). Kedua care). Kedua kelompok ini kelompok ini dapat dilihat dapat dilihat perbedaanperbedaan  pendekatan yang dilakukan antara lain sebagai berikut.

 pendekatan yang dilakukan antara lain sebagai berikut.

Pertama, pendekatan kuratif pada umumnya dilakukan terhadap sasaran secara individual, Pertama, pendekatan kuratif pada umumnya dilakukan terhadap sasaran secara individual, kontak terhadap sasaran (pasien) pada umumnya hanya sekali saja. Jarak antara petugas kontak terhadap sasaran (pasien) pada umumnya hanya sekali saja. Jarak antara petugas kesehatan (dokter, drg, dan sebagainya) dengan pasien atau sasaran-cenderung jauh. Sedangkan kesehatan (dokter, drg, dan sebagainya) dengan pasien atau sasaran-cenderung jauh. Sedangkan  pendekatan

 pendekatan preventif, preventif, sasaran sasaran atau atau pasien pasien adalah adalah masyarakat masyarakat (bukan (bukan perorangan) perorangan) masalah- masalah-masalah yang ditangani pada umumnya juga masalah-masalah-masalah-masalah yang menjadi masalah-masalah masalah yang ditangani pada umumnya juga masalah-masalah yang menjadi masalah

(2)

masyarakat, bukan masalah individu. Hubungan antara petugas kesehatan dengan masyarakat masyarakat, bukan masalah individu. Hubungan antara petugas kesehatan dengan masyarakat (sasaran) lebih bersifat kemitraan, tidak seperti antara dokter-pasien.

(sasaran) lebih bersifat kemitraan, tidak seperti antara dokter-pasien.

Kedua, pendekatan kuratif cenderung bersifat-reaktif artinya kelompok ini pada umumnya Kedua, pendekatan kuratif cenderung bersifat-reaktif artinya kelompok ini pada umumnya hanya menunggu masalah datang. Seperti dokter yang menunggu pasien datang di Puskesmas hanya menunggu masalah datang. Seperti dokter yang menunggu pasien datang di Puskesmas atau tempat praktik. Kalau tidak ada pasien datang, berarti tidak ada masalah maka selesailah atau tempat praktik. Kalau tidak ada pasien datang, berarti tidak ada masalah maka selesailah tugas mereka bahwa masalah kesehatan adalah adanya penyakit. Sedangkan kelompok preventif tugas mereka bahwa masalah kesehatan adalah adanya penyakit. Sedangkan kelompok preventif lebih menggunakan pendekatan proaktif, artinya tidak menunggu adanya masalah, tetapi mencari lebih menggunakan pendekatan proaktif, artinya tidak menunggu adanya masalah, tetapi mencari masalah. Petugas kesehatan masyarakat tidak hanya menunggu pasien datang di kantor atau di" masalah. Petugas kesehatan masyarakat tidak hanya menunggu pasien datang di kantor atau di" tempat praktik mereka, tetapi harus turun ke masyarakat mencari dan mengidentifikasi masalah tempat praktik mereka, tetapi harus turun ke masyarakat mencari dan mengidentifikasi masalah yang ada di masyarakat, dan melakukan tindakan.

yang ada di masyarakat, dan melakukan tindakan.

Ketiga, pendekatan kuratif cenderung melihat dan menangani klien atau pasien lebih Ketiga, pendekatan kuratif cenderung melihat dan menangani klien atau pasien lebih kepada sistem biologis manusia atau pasien hanya dilihat secara partial, padahal manusia terdiri kepada sistem biologis manusia atau pasien hanya dilihat secara partial, padahal manusia terdiri dari kesehatan bio-psikologis dan sosial, yang terlihat antara aspek satu dengan yang lainnya. dari kesehatan bio-psikologis dan sosial, yang terlihat antara aspek satu dengan yang lainnya. Sedangkan pendekatan preventif melihat klien sebagai makhluk yang utuh, dengan pendekatan Sedangkan pendekatan preventif melihat klien sebagai makhluk yang utuh, dengan pendekatan yang holistik. Terjadinya penyakit tidak semata-mata karena terganggunya sistem biologi, yang holistik. Terjadinya penyakit tidak semata-mata karena terganggunya sistem biologi, individual, tetapi dalam konteks yang luas, aspek biologis, psikologis dan sosial. Dengan individual, tetapi dalam konteks yang luas, aspek biologis, psikologis dan sosial. Dengan demikian pendekatannya pun tidak individual dan partial, tetapi harus secara menyeluruh atau demikian pendekatannya pun tidak individual dan partial, tetapi harus secara menyeluruh atau holistik.

(3)

masyarakat, bukan masalah individu. Hubungan antara petugas kesehatan dengan masyarakat masyarakat, bukan masalah individu. Hubungan antara petugas kesehatan dengan masyarakat (sasaran) lebih bersifat kemitraan, tidak seperti antara dokter-pasien.

(sasaran) lebih bersifat kemitraan, tidak seperti antara dokter-pasien.

Kedua, pendekatan kuratif cenderung bersifat-reaktif artinya kelompok ini pada umumnya Kedua, pendekatan kuratif cenderung bersifat-reaktif artinya kelompok ini pada umumnya hanya menunggu masalah datang. Seperti dokter yang menunggu pasien datang di Puskesmas hanya menunggu masalah datang. Seperti dokter yang menunggu pasien datang di Puskesmas atau tempat praktik. Kalau tidak ada pasien datang, berarti tidak ada masalah maka selesailah atau tempat praktik. Kalau tidak ada pasien datang, berarti tidak ada masalah maka selesailah tugas mereka bahwa masalah kesehatan adalah adanya penyakit. Sedangkan kelompok preventif tugas mereka bahwa masalah kesehatan adalah adanya penyakit. Sedangkan kelompok preventif lebih menggunakan pendekatan proaktif, artinya tidak menunggu adanya masalah, tetapi mencari lebih menggunakan pendekatan proaktif, artinya tidak menunggu adanya masalah, tetapi mencari masalah. Petugas kesehatan masyarakat tidak hanya menunggu pasien datang di kantor atau di" masalah. Petugas kesehatan masyarakat tidak hanya menunggu pasien datang di kantor atau di" tempat praktik mereka, tetapi harus turun ke masyarakat mencari dan mengidentifikasi masalah tempat praktik mereka, tetapi harus turun ke masyarakat mencari dan mengidentifikasi masalah yang ada di masyarakat, dan melakukan tindakan.

yang ada di masyarakat, dan melakukan tindakan.

Ketiga, pendekatan kuratif cenderung melihat dan menangani klien atau pasien lebih Ketiga, pendekatan kuratif cenderung melihat dan menangani klien atau pasien lebih kepada sistem biologis manusia atau pasien hanya dilihat secara partial, padahal manusia terdiri kepada sistem biologis manusia atau pasien hanya dilihat secara partial, padahal manusia terdiri dari kesehatan bio-psikologis dan sosial, yang terlihat antara aspek satu dengan yang lainnya. dari kesehatan bio-psikologis dan sosial, yang terlihat antara aspek satu dengan yang lainnya. Sedangkan pendekatan preventif melihat klien sebagai makhluk yang utuh, dengan pendekatan Sedangkan pendekatan preventif melihat klien sebagai makhluk yang utuh, dengan pendekatan yang holistik. Terjadinya penyakit tidak semata-mata karena terganggunya sistem biologi, yang holistik. Terjadinya penyakit tidak semata-mata karena terganggunya sistem biologi, individual, tetapi dalam konteks yang luas, aspek biologis, psikologis dan sosial. Dengan individual, tetapi dalam konteks yang luas, aspek biologis, psikologis dan sosial. Dengan demikian pendekatannya pun tidak individual dan partial, tetapi harus secara menyeluruh atau demikian pendekatannya pun tidak individual dan partial, tetapi harus secara menyeluruh atau holistik.

(4)

B.

B. Perkembangan

Perkembangan

Kesehatan

Kesehatan Masyarak

Masyarakat

at

Sejarah panjang perkembangan masyarakat, tidak hanya dimulai pada munculnya ilmu Sejarah panjang perkembangan masyarakat, tidak hanya dimulai pada munculnya ilmu  pengetahuan saja,

 pengetahuan saja, melainkan sudah melainkan sudah dimulai sebelum dimulai sebelum berkembangnya ilmu berkembangnya ilmu pengetahuan modern.pengetahuan modern. Oleh sebab itu, akan sedikit diuraikan perkembangan kesehatan masyarakat sebelum Oleh sebab itu, akan sedikit diuraikan perkembangan kesehatan masyarakat sebelum  perkembangan

 perkembangan ilmu ilmu pengetahuan pengetahuan (pre-scientific (pre-scientific period) period) dan dan sesudah sesudah ilmu ilmu pengetahuan pengetahuan ituitu  berkembang (scientific period).

 berkembang (scientific period). a.

a. Periode Sebelum Ilmu PengetahuanPeriode Sebelum Ilmu Pengetahuan

Dari kebudayaan yang paling luas yakni Babylonia, Mesir, Yunani, dan Roma telah tercatat Dari kebudayaan yang paling luas yakni Babylonia, Mesir, Yunani, dan Roma telah tercatat  bahwa

 bahwa manusia manusia telah telah melakukan melakukan usaha usaha untuk untuk penanggulangan penanggulangan masalah-masalah masalah-masalah kesehatankesehatan masyarakat dan penyakit. Telah ditemukan pula bahwa pada zaman tersebut terdapat masyarakat dan penyakit. Telah ditemukan pula bahwa pada zaman tersebut terdapat dokumen-dokumen tertulis, bahkan peraturan-peraturan tertulis yang mengatur tentang pembuangan air dokumen tertulis, bahkan peraturan-peraturan tertulis yang mengatur tentang pembuangan air limbah atau drainase pemukiman pembangunan kota, pengaturan air minum, dan sebagainya. limbah atau drainase pemukiman pembangunan kota, pengaturan air minum, dan sebagainya.

Dari catatan-catatan tersebut dapat dilihat bahwa masalah kesehatan masyarakat khususnya Dari catatan-catatan tersebut dapat dilihat bahwa masalah kesehatan masyarakat khususnya  penyebaran

 penyebaran penyakit penyakit menular menular sudah sudah begitu begitu meluas meluas dan dan dahsyat. dahsyat. Namun, Namun, upaya upaya pemecahanpemecahan masalah kesehatan masyarakat secara menyeluruh belum dilakukan pada zaman itu.

masalah kesehatan masyarakat secara menyeluruh belum dilakukan pada zaman itu.  b.

 b. Periode Ilmu PengetahuanPeriode Ilmu Pengetahuan

Bangkitnya ilmu pengetahuan pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 mempunyai Bangkitnya ilmu pengetahuan pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 mempunyai dampak yang luas terhadap segala aspek kehidupan mansuia, termasuk kesehatan. Di samping dampak yang luas terhadap segala aspek kehidupan mansuia, termasuk kesehatan. Di samping itu, pada abad ilmu pengetahuan ini juga mulai ditemukan berbagai macam penyebab penyakit itu, pada abad ilmu pengetahuan ini juga mulai ditemukan berbagai macam penyebab penyakit dan vaksin sebagai pencegah penyakit.

dan vaksin sebagai pencegah penyakit.

Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 mulai dikembangkan pendidikan untuk tenaga Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 mulai dikembangkan pendidikan untuk tenaga kesehatan yang profesional. Pada tahun 1893 John Hopkins, seorang pedagang wiski dari kesehatan yang profesional. Pada tahun 1893 John Hopkins, seorang pedagang wiski dari Baltimore Amerika mempelopori berdirinya universitas, dan di dalamnya terdapat sekolah Baltimore Amerika mempelopori berdirinya universitas, dan di dalamnya terdapat sekolah (fakultas) kedokteran. Mulai tahun 1908 sekolah kedokteran mulai menyebar ke Eropa, Canada, (fakultas) kedokteran. Mulai tahun 1908 sekolah kedokteran mulai menyebar ke Eropa, Canada, dan sebagainya. Dari kurikulum sekolah-sekolah kedokteran tersebut terlihat bahwa kesehatan dan sebagainya. Dari kurikulum sekolah-sekolah kedokteran tersebut terlihat bahwa kesehatan masyarakat sudah diperhatikan Mulai tahun kedua para mahasiswa sudah mulai melakukan masyarakat sudah diperhatikan Mulai tahun kedua para mahasiswa sudah mulai melakukan kegiatan penerapan ilmu di masyarakat. Pengembagan kurikulum sekolah kedokteran sudah kegiatan penerapan ilmu di masyarakat. Pengembagan kurikulum sekolah kedokteran sudah didasarkan pada to adumsi bahwa penyakit dan kesehatan itu merupakan basil interaksi yang didasarkan pada to adumsi bahwa penyakit dan kesehatan itu merupakan basil interaksi yang dinamis antara faktor genetik, lingkungan fisik, lingkungan sosial (termasuk kondisi kerja), dinamis antara faktor genetik, lingkungan fisik, lingkungan sosial (termasuk kondisi kerja), kebiasaan perorangan dan pelayanan kedokteran/kesehatan.

(5)

Dan segi pelayanan kesehatan

Dan segi pelayanan kesehatan masyarakat, masyarakat, pada tahun 1855 pemerintah pada tahun 1855 pemerintah AmerikaAmerika membentuk Departemen Kesehatan yang pertama kali. Fungsi departemen ini adalah membentuk Departemen Kesehatan yang pertama kali. Fungsi departemen ini adalah menyelenggrakan pelayanan kesehatan bagi penduduk (public), termasuk perbaikan dan menyelenggrakan pelayanan kesehatan bagi penduduk (public), termasuk perbaikan dan  pengawasan sanitasi lingkungan.

 pengawasan sanitasi lingkungan.

C.

C. Kesehatan Masyarakat di Indonesia

Kesehatan Masyarakat di Indonesia

Sejarah perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia dimulai sejak pemerintahan Sejarah perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia dimulai sejak pemerintahan Belanda abad ke-16. Kesehatan masyarakat di Indonesia pada waktu itu dimulai dengan adanya Belanda abad ke-16. Kesehatan masyarakat di Indonesia pada waktu itu dimulai dengan adanya upaya pemberantasan cacar dan kolera sangat ditakuti masyarakat pada waktu itu. Kolera masuk upaya pemberantasan cacar dan kolera sangat ditakuti masyarakat pada waktu itu. Kolera masuk di Indonesia tahun 1927 dan tahun 1937, terjadi wabah kolera eltor di Indonesia, kemudian pada di Indonesia tahun 1927 dan tahun 1937, terjadi wabah kolera eltor di Indonesia, kemudian pada tahun 1948 cacar masuk ke Indonesia. Melalui Singapura dan mulai berkembang di Indonesia. tahun 1948 cacar masuk ke Indonesia. Melalui Singapura dan mulai berkembang di Indonesia. Sehingga berasal dari wabah kolera tersebut maka pemerintah Belanda pada waktu itu Sehingga berasal dari wabah kolera tersebut maka pemerintah Belanda pada waktu itu melakukan upaya-upaya kesehatan masyarakat.

melakukan upaya-upaya kesehatan masyarakat.  Namun

 Namun demikian demikian di di bidang bidang kesehatan kesehatan masyarakat masyarakat yang yang lain, lain, pada pada tahun tahun 1807 1807 pada pada waktuwaktu  pemerintahan

 pemerintahan Gubernur Gubernur Jenderal Jenderal Daendels, Daendels, dilakukan dilakukan pelatihan pelatihan dukun dukun banyi banyi dalam dalam praktikpraktik  persalinan. Upa

 persalinan. Upaya ini ya ini dilakukan dalam dilakukan dalam rangka rangka penurunan penurunan angka angka kematian kematian bayi bayi yang tinggi yang tinggi padapada waktu itu. Akan tetapi upaya ini tidak berlangsung lama, karena langkanya tenaga pelatih waktu itu. Akan tetapi upaya ini tidak berlangsung lama, karena langkanya tenaga pelatih kebinanan, kemudian baru pada tahun 1930 dimulai lagi dengan didafaftarnya para dukun bayi kebinanan, kemudian baru pada tahun 1930 dimulai lagi dengan didafaftarnya para dukun bayi sebagai penolong dan perawatan persalinan. Selanjutnya baru pada tahun 1952 pada zaman sebagai penolong dan perawatan persalinan. Selanjutnya baru pada tahun 1952 pada zaman kemerdekaan pelatihan secara cermat dukun bayi tersebut dilaksanakan lagi.

kemerdekaan pelatihan secara cermat dukun bayi tersebut dilaksanakan lagi.

Pada tahun 1922 pes masuk Indonesia dan pada tahun , 1934, dan 1935 terjadi epidemi di Pada tahun 1922 pes masuk Indonesia dan pada tahun , 1934, dan 1935 terjadi epidemi di  beberapa tempat, tama di pulau Jawa. Kemudian mulai

 beberapa tempat, tama di pulau Jawa. Kemudian mulai tahun 1935 dilakukan ram pemberantasantahun 1935 dilakukan ram pemberantasan  pes

 pes ini, ini, dengan dengan melakukan melakukan penyemtan penyemtan DDT DDT terhadap terhadap rumah-rumah rumah-rumah penduduk penduduk dan dan juga juga inasiinasi massal. Tercatat sampai pada tahun 1941, 15.000.000 Wang telah memperoleh suntikan massal. Tercatat sampai pada tahun 1941, 15.000.000 Wang telah memperoleh suntikan vaksinasi. Pada tahun 1925 Kydrich seorang petugas kesehatan pemerintah Belanda melakukan vaksinasi. Pada tahun 1925 Kydrich seorang petugas kesehatan pemerintah Belanda melakukan  pengamatan terhadap masalah

 pengamatan terhadap masalah tingginya angka kematian dtingginya angka kematian dan kesakitan di Banan kesakitan di Banyumas-Purwokertoyumas-Purwokerto  pada waktu.

 pada waktu. Dari hasil pengamatan Dari hasil pengamatan dan analisisnya ia dan analisisnya ia menyimpulkan bahwa menyimpulkan bahwa penyebab penyebab tingginyatingginya angka kematian dan kesakitan itu adalah karena jeleknya kondisi sanitasi lingkungan. angka kematian dan kesakitan itu adalah karena jeleknya kondisi sanitasi lingkungan. Masyarakat pada waktu itu membuang kotorannya di sembarang tempat, seperti di kebun, di kali, Masyarakat pada waktu itu membuang kotorannya di sembarang tempat, seperti di kebun, di kali, di selokan, bahkan di pinggir jalan, padahal mereka mengambil air minum juga dari kali. di selokan, bahkan di pinggir jalan, padahal mereka mengambil air minum juga dari kali. Selanjutnya ia berkesimpulan bahwa kondisi sanitasi lingkungan ini disebabkan karena perilaku Selanjutnya ia berkesimpulan bahwa kondisi sanitasi lingkungan ini disebabkan karena perilaku

(6)

 penduduk. Oleh sebab itu, untuk memulai upaya kesehatan masyarakat Hydrich mengembang kan daerah percontohan dengan melakukan 'propaganda' pendidikan) penyuluhan kesehatan. Sampai sekarang usaha Hydrich ini dianggap sebagai awal kesehatan masyarakat di Indonesia.

Memasuki zaman kemerdekaan, salah satu tonggak panting perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia adalah diperkenalkannya Konsep Bandung (Bandung '1(zrt) pada tahun 1951 oleh Dr. Y. Leimena dan dr yang Selanjutnya dikenal dengan Patah-Leimena Konsep ini mulai diperkenalkan bahwa dalam pelayanan kesehatan masyarakat, aspek kuratif dan preventif tidak dapat dipisahkan. Hal ini berarti dalam mengembangkan sistem pelayanan kesehatan di Indonesia kedua aspek ini tidak boleh dipisahkan, baik di rumah sakit maupun di Puskesmas.

Pada tahun 1968 dalam rapat kerja kesehatan nasional, dicetuskan bahwa Puskesmas merupakan sistem pelayanan kesehatan terpadu, yang kemudian dikembangkan oleh pemerintah (Departemen Kesehatan) menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan Masyakarat (Puskesmas). Puskemas disepakati sebagai suatu unit pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan kuratif dan preventif wore terpadu, menyeluruh dan mudah dijangkau, dalam wilayah kerja kecamatan atau sebagian kecamatan di kota madya atau kabupaten. Kegiatan pokok Puskesmas mencakup: 1. Kesehatan ibu dan anak.

2. Keluarga Berencana. 3. Gizi.

4. Kesehatan lingkungan.

5. Pencegahan penyalit menular. 6. Penyuluhan kesehatan masyarakat. 7. Pengobatan.

8. Perawatan kesehatan masyarakat. 9. Usaha kesehatan gizi.

10. Usaha kesehatan sekolah. 11. Usaha kesehatan jiwa 12. Laboratorium

13. Pencatatan dan pelaporan.

Pada tahun 1969, sistem Puskesmas hanya disepakati 2 yakni tipe A dan B, di mana tipe A dikelola oleh dokter, sedangkan tipe B hanya dikelola oleh seorang paramedis saja. Dengan

(7)

adanya perkembangan tenaga medis, maka akhirnya pada tahun 1979 tidak diadakan perbedaan Puskesmas tipe A dan tipe B, hanya ada satu tipe Puskesmas saja, yang dikepalai oleh seorang dokter. Pada tahun 1979 juga dikembangkan satu piranti manajerial guna penilaian Puskemas, yakni stratifikasi Puskesmas sehingga dibedakan adanya:

a. Strata satu : Puskesmas dengan prestasi sangat baik.

 b. Strata dua : Puskesmas dengan prestasi rata-rata atau standar. c. Strata tiga : Puskesmas dengan prestasi di bawah rata-rata.

Selanjutnya Puskesmas juga dilengkapi dengan dua piranti manajerial yng lain, yakni micro  planning untuk perencanaan dan, lokakarya mini (lokmin) untuk pengoperasian kegiatan dan  pengembangan kerja sama tim. Akhirnya pada tahun 1984 tanggung jawab Puskesmas ditingkatkan lagi, dengan berkembangnya program paket terpadu kesehatan dan keluarga beren-cana.

Program ini mencakup: a. Kesehatan ibu dan anak.  b. Keluarga berencana.

c. Gizi.

d. Penanggulangan penyakit diare. e. Imunisasi

Puskemas mempunyai tanggung jawab dalam pembinaan dan pengembangan Posyandu di wilayah kerjanya masin.gmasing.

Tujuan dikembangkannya Posyandu sejalan dengan tujuan pembangunan kesehatan yakni: a. Mempercepat penurunan angka kematian bayi dan anak balita, dan angka kelahiran.

 b. Mempercepat penerimaan norma keluarga kecil bahagian dan sejahtera (NKKBS).

c. Berkembangnya kegiatan-kegiatan masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya, Pelayanan Posyandu menganut sistem 5 meja dengan urutan sebagai berikut:

Meja 1. Pendaftaran pengunjung Posyandu dilayani oleh kader kesehatan. Meja 2. Penimbangan bayi, balita dan ibu hamil, dilayani oleh kader kesehatan.

Meja 3. Pencatatan dan hasil penimbangan dari Meja 2 di dalam KMS, dilayani oleh kader kesehatan. Meja 4. Penyuluhan kepada ibu bayi/balita dan ibu hamil, oleh kader kesehatan.

(8)

Meja 5. Pemberian imunisasi, pemasangan alat kontrasepsi, atau pengobatan bagi yan€ memerlukan, dan  periksa hamil, dilayani olel kader kesehatan. Bila ada kasus- yang tidal dapat ditangani dirujuk

ke Puskesmas.

D. Definisi Kesehatan Masyarakat

Kesehatan masyarakat adalah sama dengan sanitasi. Upaya memperbaiki dan meningkatkan sanitasi lingkungan merupakan kegiatan kesehatan masyarakat. Kemudian pada akhir abad ke-18 dengan diketemukan bakteri-bakteri penyebab penyakit den beberapa jenis imunisasi, kegiatan kesehatan masyarakat adalah pencegahan penyakit yang terjadi dalam masyarakat melalui perbaikan sanitasi lingkungan dan pencegahan penyakit Melalui imunisasi.

Dari pengalaman-pengalaman praktik kesehatan masyarakat yang telah berjalan sampai  pada awal abad ke-20, Winslow (1920) akhirnya membuat batasan kesehatan masyarakat yang sampai sekarang masih relevan, yakni: kesehatan masyarakat (public health) adalah ilmu dan seni: mencegah penyakit memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan, melalui Usaha-usaha Pengorganisasi Masyarakat.

Dari perkembangan batasan kesehatan masyarakat tersebut dapat disimpulkan bahwa kesehatan masyarakat itu meluas dari hanya berurusan sanitasi, teknik sanitasi, ilmu kedokteran kuratif, ilmu kedokteran pencegahan sampai dengan ilmu sosial, dan itulah cakupan ilmu kesehatan masyarakat.

E. Ruang Lingkup Kesehatan Masyarakat

Seperti disebutkan di atas bahwa kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni. Oleh sebab itu, ruang lingkup kesehatan masyarakat dapat dilihat dari dua hal tersebut. Sebagai ilmu, kesehatan masyarakat pada mulanya hanya mencakup 2 disiplin keilmuan, yakni ilmu bio-medis (medikal biologi) dan ilmu-ilmu sosial (social science). Akan tetapi-sesuai dengan  perkembangan ilmu, maka disiplin ilmu yang mendasari ilmu kesehatan masyarakat pun  berkembang. Sehingga sampai pada saat itu disiplin ilmu yang mendasari ilmu kesehatan masyarakat antara lain, mencakup ilmu biologi, ilmu kedokteran, ilmu kimia, fisika, ilmu lingkungan, sosiologi, antropologi, psikologi, ilmu pendidikan, dan sebagainya. Oleh sebab itu, ilmu kesehatan masyarakat- merupakan ilmu yang multidisiplin.

(9)

Secara garis besar, disiplin ilmu yang menopang ilmu kesehatan masyarakat, atau sering disebut sebagai pilar utama ilmu kesehatan masyarakat ini, antara lain:

a. Epidemiologi.

 b. Biostatistik/statistik kesehatan. c. Kesehatan lingkungan.

d. Pendidikan kesehatan dan ilmu perilaku e. Administrasi kesehatan masyarakat. f. Gizi masyarakat.

g. Kesehatan kerja.

Masalah kesehatan masyarakat adalah multi kausal maka pemecahannya harus secara multidisiplin. Secara garis besar, upaya-upaya yang dapat dikategorikan sebagai seni atau  penerapan ilmu kesehatan masyarakat antara lain:

a. Pemberantasan penyakit, baik menular maupun tidak menular.  b. Perbaikan sanitasi lingkungan.

c. Perbaikan lingkungan pemukiman. d. Pemberantasan vektor.

e. Pendidikan (penyuluhan) kesehatan masyarakat. f. Pelayanan kesehatan ibu dan anak.

g. Pembinaan gizi masyarakat.

h. Pengawasan sanitasi tempat-tempat umum. i. Pengawasan obat dan minuman.

(10)

BAB 2

EPIDEMIOLOGI

A. Pengertian dan Peranan Epidemiologi

Pada mulanya epidemiologi diartikan sebagai studi tentang epidemi. Hal ini berarti epidemiologi hanya mempelajari penyakit-penyakit menular saja, tetapi dalam perkembangan selanjutnya epidemiologi juga mempelajari penyakit-penyakit non-infeksi, sehingga epidemiologi dapat diartikan sebagai studi tentang penyebaran penyakit pada manusia di dalam konteks lingkungannya. Mencakup juga studi tentang pola-pola penyakit serta pencarian determinan-determinan penyakit tersebut. Dapat disimpulkan bahwa epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari penyakit tersebut.

Dalam batasan epidemiologi ini sekurang-kurangnya mencakup 3 elemen, yakni: a. Mencakup semua penyakit

Epidemiologi mempelajari semua penyakit, baik penyakit infeksi maupun non-infeksi, seperti kanker, penyakit kekurangan gizi (malnutrition), kecelaan lalu lintas maupun kecelakaan kerja; sakit jiwa dan sebagainya. Bahkan di negara-negara maju epidemiologi ini mencakup juga kegiatan pelayanan kesehatan.

 b. Populasi

Apabila kedokteran klinik berorientasi pada gambarangambaran penyakit individu, maka epidemiologi ini memusatkan perhatiannya pada distribusi penyakit pada populasi (masyarakat) atau kelompok.

c. Pendekatan ekologi

Frekuensi dan distribusi penyakit dikaji dari latar belakang pada kesehatan lingkungan manusia baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Hal inilah yang dimaksud pendekatan ekologis. Terjadinya penyakit pada seseorang dikaji dari manusia dan total lingkungannya.

1. Penyebaran Penyakit

Di dalam epidemiologi biasanya timbul pertanyaan yang perlu direnungkan, yakni:

1) Siapa (who). Siapakah yang menjadi sasaran penyebaran penyakit itu atau orang yang terkena  penyakit.

2) Di mana (where). Di mana penyebaran atau terjadinya penyakit. 3) Kapan (when). Kapan penyebaran atau terjadinya penyakit tersebut.

(11)

Dengan kata lain terjadinya atau penyebaran suatu penyakit ditentukan oleh 3 faktor utama, yakni: orang, tempest dan waktu.

2. Kegunaan

Peranan epidemiologi, khususnya dalam konteks program kesehatan dan keluarga  berencana adalah sebagai tool (alat) dan sebagai metode atau pendekatan. Epidemiologi sebagai alat diartikan bahwa dalam melihat suatu masalah KB-Kes selalu mempertanyan siapa yang terkena masalah, di mana dan bagaimana penyebaran masalah, serta kapan penyebaran masalah tersebut terjadi?

Demikian pula pendekatan pemecahan masalah tersebut selalu dikaitkan dengan masalah, di mana atau dalam lingkungan bagaimana penyebaran masalah serta bilamana masalah tersebut terjadi. Kegunaan lain dari epidemiologi khususnya dalam program kesehatan adalah dapat digunakan dalam perhitungan-perhitungan: prevalensi, kasus baru, case fatality rate, dan sebagainya.

(12)

B. Metode-metode Epidemiologi

Di dalam epidemiologi terdapat 2 tipe pokok pendekatan atom metode, yakni:

1. Epidemiologi Deskritif (Descriptive Epidemiology)

Di dalam epidemiologi deskriptif dipelajari bagaimana frekuensi penyakit berubah menurut  perubahan variable-variable epidemiologi yang terdiri dari orang (person), tempat (place), dan

waktu (time).

Orang (Person)

Di sini akan dibicarakan peranan umur, jenis kelamin, kolas sosial, pekerjaan, golongan etnik, status perkawinan, besarnya keluarga, struktur keluarga, dan paritas.

(1) Umur

Umur adalah variable yang selalu diperhatikan di dalam penyelidikan-penyelidikan epidemiologi. Angka-angka kesakitan maupun kematian di dalam hampir semua keadaan menunjukkan hubungan dengan umur.

(2) Jenis kelamin

Angka-angka dari luar negeri menunjukkan bahwa angka kesakitan lebih tinggi di kalangan wanita sedangkan angka kematian lebih tinggi di kalangan pria pada semua golongan umur. Untuk Indonesia masih perlu dipelajari lebih lanjut. Perbedaan angka kematian ini, dapat disebabkan oleh faktor-faktor intrinsik.

(3) Kelas sosial

Kelas sosial adalah variabel yang sering dilihat hubungannya dengan angka kesakitan atau kematian, variabel ini menggambarkan tingkat kehidupan seseorang. Kelas sosial ini ditentukan oleh unsur-unsur, seperti pendidikan, pekerjaan, penghasilan, dan banyak contoh ditentukan pula tempat tinggal. Karena hal-hal ini dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan termasuk  pemeliharaan kesehatan maka tidaklah mengherankan apabila kita melihat perbedaan-perbedaan

dalam angka kesakitan atau kematian antara berbagai kelas sosial. (4) Jenis pekerjaan

Jenis pekerjaan dapat berperan di dalam timbulnya penyakit melalui beberapa jalan, yakni: a. adanya faktor-faktor lingkungan yang langsung dapat menimbulkan kesakitan seperti

bahan- bahan kimia, gas beracun, radiasi, benda-benda fisik yang dapat menimbulkan kecelakaan, dan sebagainya.

(13)

 b. situasi pekerjaan yang penuh dengan stres (yang telah dikenal sebagai faktor yang berperan pada timbulnya hipertensi, dan ulcus lambung).

c. ada tidaknya „gerak badan' di dalam pekerjaan; di Amerika Serikat ditunjukkan bahwa penyakit  jantung koroner sering ditemukan di kalangan mereka yang mempunyai pekerjaan di mana

kurang adanya gerak badan.

d. karena berkerumum, dalam satu tempat yang relatif sempit maka dapat terjadi proses penalaran  penyakit antara para pekerja.

e.  penyakit, karena cacing tambang telah lama diketahui 'terkait pengan pekerjaan di tambang. Penelitian mengenai hubungan jenis pekerjaan dan pola kesakitan banyak dikerjakan Indonesia terutama pola penyakit kronis, misalnya penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan kanker.

(5) Penghasilan

Yang sering dilakukan ialah menilai hubungan antara tingkat penghasilan dengan  pemanfaatan pelayanan kesehatan maupun pencegahan. Seseorang kurang memanfaatkan  pelayanan kesehatan yang ada mungkin oleh karena tidak mempunyai cukup uang untuk

membeli obat, membayar transpor, dan sebagainya. (6) Golongan etnik

Berbagai golongan etnik dapat berbeda di dalam kebiasaan makan, susunan genetika, gaya hidup, dan sebagainya yang dapat mengakibatkan perbedaan di dalam angka kesakitan atau kematian.

(7) Status perkawinan

Dari penelitian telah ditunjukkan bahwa terdapat hubungan antara angka kesakitan maupun kematian dengan status kawin tidak kawin, cerai, dan jada; angka kematian karena penyakit- penyakit tertentu maupun kematian karena semua sebab makin meninggi dalam urutan tertentu.

(8) Besarnya keluarga

Di dalam keluarga besar dan miskin, anak-anak dapat menderita karena penghasilan keluarga harus digunakan oleh banyak orang.

(9) Struktur keluarga

Struktur keluarga dapat mempunyai pengaruh terhadap kesakitan (penyakit menular dan gangguan gizi) dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Suatu keluarga besar karena besarnya tanggungan secara relatif mungkin harus tinggal berdesak-desakan di dalam rumah yang luasnya

(14)

terbatas hingga memudahkan penularan penyakit menular di kalangan anggota-anggotanya karena persediaan harus digunakan untuk anggota keluarga yang besar maka mungkin pula tidak dapat membeli cukup makanan yang bernilai gizi cukup atau tidak dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia; dan sebagainya.

(15)

(10) Paritas

Tingkat paritas telah menarik perhatian para peneliti dalam hubungan kesehatan si ibu maupun si anak. Dikatakan umpamanya terdapat kecenderungan kesehatan ibu yang berparitas rendah lebih baik dari yang berparitas tinggi, terdapat asosiasi antara tingkat paritas dan penyakit  penyakit tertentu, seperti asma bronchiole, ulkus peptikum, pilorik, stenosis, dan seterusnya.

Tetapi kesemuanya masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Tempat (Place)

Pengetahuan mengenai distribusi geografis dari suatu penyakit berguna untuk perencanaan  pelayanan kesehatan dan dapat memberikan penjelasan mengenai etiologi pen yakit.

Pentingnya peranan tempat di dalam mempelajari etiologi suatu penyakit menular dapat digambarkan dengan jelas pada penyelidikan suatu wabah, yang akan diuraikan nanti.

Migrasi antardesa tentunya dapat pula membawa akibat terhadap pola dan penyebaran  penyakit menular di desa-desa yang bersangkutan maupun desa-desa di sekitarnya.

Peranan migrasi atau mobilitas geografis di dalam mengubah pola penyakit di berbagai daerah menjadi lebih penting dengan makin lancarnya perhubungan darat, udara, dal laut. Lihatlah umpamanya penyakit demam berdarah.

Walaupun telah diadakan standardisasi berdasarkan umur dan jenis kelamin, memperbandingkan pola penyakit antardaerah di Indonesia dengan menggunakan data yang  berasal dari fasilitas-fasilitas kesehatan, harus dilaksanakan dengan hati-hati, sebab data tersebut  belum tentu representatifdan baik kualitasnya.

Waktu (Time)

Mempelajari hubungan antara waktu dan penyakit merupakan kebutuhan dasar di dalam analisis epidemiologis. Oleh karena itu, perubahan-perubahan penyakit menurut waktu menunjukkan adanya perubahan faktor-faktor etiologis. Melihat panjangnya waktu di mana terjadi perubahan angka kesakitan maka dibedakan (1) fluktuasi jangka pendek, di mana  perubahan angka kesakitan berlangsung beberapa jam, hari, minggu, dan bulan. (2) perubahan- perubahan secara siklus di mana perubahan-perubahan angka kesakitan terjadi secara berulang-ulang dengan antara beberapa hari, beberapa bulan (musiman), tahunan, beberapa tahun, dan (3)  perubahan-perubahan angka kesakitan yang berlangsung dalam periode waktu yang panjang,  bertahun-tahun atau puluhan tahun, yang disebut 'secular trends.

(16)

Fluktuasi jangka pendek

Pola perubahan kesakitan ini terlihat pada epidemi umpamanya epidemi keracunan makanan (beberapa jam), epidemi influenza (beberapa hari atau minggu), epidemi cacar (beberapa bulan).

Fluktuasi jangka pendek atau epidemi ini memberikan petunjuk bahwa:

1)  penderit terserang penyakit yang sama dalam waktu bersamaan atau hampir bersamaan waktu inkkubasi rata-rata pendek.

2) Perubahan perubahan secara siklus

 Perubahan-perubahan secara siklus

Perubahan secara siklus ini didapatkan pada keadaan di mana timbulnya dan memuncaknya angka-angka kesakitan atau kematian terjadi berulang-ulang tiap beberapa bulan, tiap tahun, atau tiap beberapa tahun. Peristiwa semacam irii dapat terjadi baik pada penyakit infeksi maupun - pada penyakit bukan infeksi.

Timbulnya atau memuncaknya angka kesakitan atau kematian suatu penyakit yang ditularkan melalui vektor secara siklus ini adalah berhubungan dengan (1) ada tidaknya keadaan yang memungkinkan transmisi penyakit oleh vektor yang bersangkutan, yakni apakah termperatur dan kelembaban memungkinkan transmisi, (2) adanya tempat perkembangbiakan alami dari vektor sedemikian banyak untuk menjamin adanya kepadatan vektor yang perlu dalam transmisi. (3) selalu adanya kerentanan dan atau (4) adanya kegiatan-kegiatan berkala dari orang-orang yang rentan yang menyebabkan mereka terserang oleh 'vektor bornedisease' tertentu. (5) tetapnya kemampuan agen infektif untuk menimbulkan penyakit. (6) adanya faktor-faktor lain yang belum diketahui. Hilangnya atau berubahnya siklus berarti adanya perubahan dart salah satu atau lebih hal-hal tersebut.

Sebagai salah satu sebab yang disebutkan ialah berkurangnya penduduk yang kebal (meningkatnya kerentanan) dengan asumsi faktor-faktor lain tetap. Banyak penyakit yang belum diketahui etiologinya menunjukkan variasi angka kesakitan secara bermusim. Tentunya observasi ini dapat membantu di dalam memulai dicarinya etiologi penyakit-penyakit tersebut dengan catatan bahwa interpretasinya sulit karena banyak keadaan yang berperan terhadap timbulnya penyakit pada perubahan musim, perubahan populasi hewan, perubahan tumbuh-tumbuhan yang berperan tempat perkembangbiakan. Perubahan dalam susunan reservoir

(17)

 penyakit, perubahan dalam berbagai aspek perilaku manusia, seperti yang menyangkut  pekerjaan, makanan, rekreasi dan sebagainya.

Sebab-sebab timbulnya dan memuncaknya beberapa penyakit karena gangguan gizi secara  bermusim belum dapat diterangkan secara jelas.

Variasi musiman ini telah dihubung-hubungkan dengan perubahan secara bermusim dari  produksi, distribusi dan konsumsi dari bahan-bahan makanan yang mengandung bahan yang

dibutuhkan untuk pemeliharaan gizi, maupun keadaan kesehatan individu-individu terutama dalam hubungan dengan penyakit infeksi dan sebagainya.

(18)

2. Epidemiologi Analitik (Analytic Epidemiology)

Pendekatan atau studi ini dipergunakan untuk menguji data dan informasi-informasi yang diperoleh studi epidemiologi deskriptif.

Ada tiga studi tentang epidemiologi ini, yaitu:

1) Studi riwayat kasus (case history studies). Dalam studi ini akan dibandingkan antara dua kelompok orang, yakni kelompok yang terkena penyakit dengan kelompok orang tidak terkena (kelompok kontrol).

2) Studi Kohort (kohort studies). Dalam studi ini sekelompok orang dipaparkan (exposed) pada suatu penyebab penyakit (agent). Kemudian, diambil sekelompok orang lain yang mempunyai ciri-ciri yang sama dengan kelompok pertama, tetapi tidak dipaparkan atau dikenakan pada  penyebab penyakit. Kelompok kedua ini disebut kelompok kontrol. Setelah beberapa saat yang

telah ditentukan kedua kelompok tersebut dibandingkan, dicari perbedaan antara kedua kelompok tersebut bermakna atau tidak.

3. Epidemiologi Eksperimen

Studi ini dilakukan dengan mengadakan eksperimen (percobaan) kepada kelompok subjek, kemudian dibandingkan dengan kelompok kontrol (yang tidak dikenakan percobaan).

C. Pengukuran Epidemiologi

Di dalam uraian terdahulu telah diuraikan bagian dari epidemiologi yang bertujuan melihat  bagaimana penyebaran kesakitan dan kematian menurut sifat-sifat orang, tempat dan waktu. Di

dalam uraian ini akan diuraikan berbagai ukuran kesakitan dan kematian yang lazim dipakai dalam survei atau penyelidikan-penyelidikan epidemiologi. Ukuran dasar yang akan dibicarakan di sini adalah 'rate'.

Dalam hubungan dengan kesakitan akan dibicarakan insidence rate, prevalence rate (point  period prevalence rate), at-lock rate, dan dalam hubungan dengan kematian akan dibicarakan

crude death rate, disease specific rate dan adjusted death rate. Sebelum membicarakan masing-masing tersebut perlu dikemukakan hal-hal sebagai berikut:

1) Untuk penyusunan rate dibutuhkan tiga elemen, yakni (a) jumlah orang yang terserang penyakit atau yang meninggal, (b) jumlah penduduk dari mana penderita berasal (reference population), dan (c) waktu atau periode di mana orang-orang terserang penyakit.

(19)

2) Apabila pembilang terbatas pada umur, seks, atau golongan. tertentu maka penyebut juga harus terbatas pada umur, seks, atau golongan yang sama.

3) Bila penyebut terbatas pada mereka yang dapat terserang atau terjangkit penyakit, maka  penyebut tersebut dinamakan populasi yang mempunyai risiko (population at risk).

D. Epidemiologi Penyakit-penyakit Menular

1. Konsep Dasar Terjadinya Penyakit

Suatu penyakit timbul akibat dari beroperasinya berbagai faktor baik dari agen, induk semang atau lingkungan. Pendapat ini tergambar di dalam istilah yang dikenal luas dewasa ini,  penyebab majemuk („multiple causation of disease') sebagai an dari penyebab tunggal („single

causation‟). Di dalam usaha ara ahli untuk mengumpulkan pengetahuan mengenai timbulnya  penyakit, mereka telah membuat model-model $timbulnya penyakit dan atas dasar model-model tersebut dilakukanlah eksperimen terkendali untuk menguji sampai di mana kebenaran dari model-model tersebut.

Tiga model yang dikenal dewasa ini ialah (1) segitiga epidemiologic (the epidemiologic triangle), (2) jaring-jaring sebab akibat (the web of causation), dan (3) roda (the wheel).

(20)

a. Segitiga Epidemilogi

b.  Jaring-jaring sebab akibat 

Menurut model ini perubahan dari salah satu faktor akan mengubah keseimbangan antara mereka, yang berakibat bertambah atau berkurangnya penyakit yang bersangkutan.

Menurut model ini, suatu penyakit tidak bergantung pada satu sebab yang berdiri sendiri melaninkan sebagai akibat dari serangkaian proses sebab dan akibat'. Dengan demikian maka timbulnya penyakit dapat dicegah atau dihentikan dengan memotong rantai pada berbagai titik.

c.  Roda

Model roda hanya memerlukan identifikasi dari berbagai faktor yang berperan dalam timbulnya penyakit dengan tidak begitu mementingkan agent. Disini dipentingkan hubungan antara manusia dengan lingkungan hidupnya. Besarnya peranan dari masing-masing lingkungan  bergantung pada penyakit yang bersangkutan. Sebagai contoh, peranan lingkungan biologis lebih  besar dari yang lainnya pada penyakit yang penularannya melalui vektor (vector home disease).

(21)

2. Penyakit menular

Yang dimaksud dengan penyakit menular adalah penyakit yang dapat ditularkan (berpiundah dari orang yang satu ke orang yang lain, baik secara langsung maupun melalui  perantara). Penyakit menular ini ditandai dengan adanya (hadirnya) agent atau penyebab  penyakit yang hidup dan dapat berpindah.

Suatu penyakit dapat menular dari orang yang satu kepada yang lain karena 3 faktor  berikut:

a. Agent (penyebab penyakit)  b. Host (induk semang)

c. Route of transmission (jalannya penularan).

Keadaan tersebut dapat dianalogikan seperti perkembangan suatu tanaman. Agent diumpamakan sebagai biji, host sebagai tanah, dan route of transmission sebagai iklim

a.  Agent-agent infeksi (Penyebab infeksi)

Makhluk hidup sebagai pemegang peranan penting di dalam epidemiologi yang merupakan penyebab penyakit dapat dikelompokkan menjadi:

1) Golongan virus, misalnya influenza, trachoma, cacar dan sebagainya. 2) Golongan riketsia, misalnya: tifus.

3) Golongan bakteri, misalnya disentri.

4) Golongan protozoa, misalnya malaria, filaria, schistosoma, dan sebagainya. 5) Golongan jamur yakni bermacam-macam panu, kurap, dan sebagainya.

6) Golongan cacing, yakni bermacam-macam cacing perut seperti ascaris (cacing gelang), cacing kremi, cacing pita, cacing tambang, dan sebagainya.

Agar agent atau penyebab penyakit menular ini tetap hidup (survive), maka perlu persyaratan- persyaratan sebagai berikut:

1) Berkembang baik.

2) Bergerak atau berpindah dari induk semang. 3) Mencapai induk semang baru.

4) Menginfeksi induk semang baru. tersebut.

Kemampuan agent penyakit ini untuk tetap hidup pada lingkungan manusia adalah suatu faktor penting dalam epidemiologi infeksi. Setiap bibit penyakit -(penyebab penyakit)

(22)

mempunyai habitat sendiri-sendiri, sehingga ia dapat tetap hidup. Dari sini timbul istilah. reservoir, yang diartikan sebagai berikut 1) Habitat, tempat bibit penyakit tersebut hidup dan  berkembang, 2) Survival, tempat bibit penyakit tersebut sangat tergantung pada habitat, sehingga

dapat tetap hidup.

 Reservoir  di dalam manusia

Penyakit-penyakit yang mempunyai reservoir dalam tubuh manusia antara lain, campak (measles), cacar air (small pox), tifus (typhoid), meningitis, gonoirhoea, dan sifilis Manusia sebagai reservoir dapat menjadi kasus yang aktif dan carrier.

Carrier 

Carrier  adalah orang yang mempunyai bibit penyakit dalam tubuhnya, tanpa menunjukkan adanya gejala penyakit, tetapi orang tersebut dapat menularkan penyakitnya kepada orang lain. Convalescant Carriers adalah orang masih Mengandung bibit penyakit setelah sembuh dari suatu  penyakit.

(23)

 Reservoir  pada binatang

Penyakit-penyakit yang mempunyai reservoir pada binatang umumnya adalah penyakit zoonosis. Zoonosis adalah penyakit pada binatang vertabrata yang dapat menular pada manusia. Penularan penyakit-penyakit pada binatang ini melalui berbagai cara, yakni:

1) Orang makan daging binatang yang menderita penyakit misalnya, cacing pita.

2) Melalui gigitan binatang sebagai vektornya, misalnya pes melalui pinjal tikus, malaria, filariasis, demam berdarah melalui gigitan nyamuk.

3) Binatang penderita penyakit langsung menggigit orang, misalnya rabies. Benda-benda mati sebagai reservoir 

Penyakit-penyakit yang mempunyai reservoir pada benda-benda mati pada dasarnya adalah saprofit hidup dalam tanah. Pada umumnya bibit penyakit ini berkembang biak pada lingkungan yang cocok untuknya. Oleh karena itu, bila terjadi perubahan temperatur atau kelembaban dari kondisi di mana ia dapat hidup, maka ia berkembang biak dan siap infektif. Contoh clostradium tetani penyebab tetanus, C. otulinum penyebab keracunan makanan, dan sebagainya.

b. Sumber infeksi dan penyebaran penyakit 

Yang dimaksud sumber infeksi adalah semua benda, termasuk orang atau binatang yang dapat melewatkan menyebabkan penyakit pada orang. Sumber penyakit ini mencakup juga reservoir seperti telah dijelaskan sebelumnya.

Macam-macam penularan (mode of transmission) suatu penyakit bias dengan kontak langsung dengan penderita, melalui pernapasan, infeksi, penetresi pada kulit dan infeksi melalui  placenta.

(24)

c.  Faktor induk semang (host)

Terjadinya suatu penyakit (infeksi) pada seseorang ditentukan oleh faktor-faktor yang ada  pada induk semang itu sendiri. Dengan kata lain penyakit-penyakit dapat terjadi pada seseorang

tergantung/ditentukan oleh kekebalan/ resistensi orang yang bersangkutan. d.  Pencegahan dan penanggulangan penyakit menular 

Untuk pencegahan dan penanggulangan ini ada 3 pendekatan atau cara yang dapat dilakukan:

a) Eliminasi reservoir (sumber penyakit)

Eliminasi reservoir manusia sebagai sumber penyebaran penyakit dapat dilakukan dengan: (1) Mengisolasi penderita (pasien), yaitu menempatkan pasien di tempat yang khusus untuk

mengurangi kontak dengan orang lain.

(2) Karantina, adalah membatasi ruang gerak penderita dan menempatkannya bersama-sama  penderita lain yang sejenis pada tempat yang khusus didesain untuk itu. Biasanya dalam waktu

yang lama, misalnya karantina untuk penderita kusta.

 b) Memutus mata rantai penularan

Meningkatkan sanitasi lingkungan dan higiene perorangan merupakan usaha yang penting untuk memutuskan hubungan atau mata rantai penularan penyakit menular.

c) Melindungi orang-orang (kelompok) yang rentan

Bayi dan anak balita merupakan kelompok usia yang rentan terhadap penyakit menular. Kelompok usia yang rentan ini perlu perlindungan khusus (specific protection) dengan imunisasi,  balk imunisasi aktif maupun pasif. Obat-obat prophylacsis tertentu juga dapat mencegah  penyakit malaria, meningitis dan disentri baksilus.

Pada anak usia muda gizi yang kurang akan menyebabkan kerentanan pada anak tersebut. Oleh sebab itu, meningkatkan gizi anak merupakan usaha pencegahan penyakit infeksi pada anak.

E.

Imunisasi

1. Pengertian 

Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Anak diimunisasi, berarti diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Anak kebal atau resisten terhadap suatu penyakit, tetapi belum tentu kebal terhadap penyakit yang lain.

(25)

2. M acam Kekebabalan 

Kekebalan terhadap suatu penyakit menular dapat digolongkan menjadi 2, yakni-a. Kekebalan tidak spesifik (non-spesifik resistance)

Yang dimaksud dengan faktor-faktor non-khusus adalah pertahanan tubuh pada manusia yang secara alamiah dapat melindungi badan dari suatu penyakit,- misalnya; kulit, air mata, cairan-cairan khusus yang ke luar dari perut (usus), adanya reflek-reflek tertentu misalnya batuk,  bersin dan sebagainya.

 b. Kekebalan spesifik (specipic resistance)

Kekebalan spesifik dapat diperoleh dari dua sumber, yakni: (1) Genetik

Kekebalan yang berasal dari sumber genetik ini biasanya berhubungan dengan ras (warna kulit) dan kelompok-kelompok etnis, misalnya orang kulit hitam (Negro) cenderung lebih resisten terhadap penyakit malaria jenis vivax.

(26)

(2)

(2) Kekebalan yang diperoleh (acquaied immunity)Kekebalan yang diperoleh (acquaied immunity)

`Kebebalan ini diperoleh dari luar tubuh anak atau orang yang bersangkutan. Kekebalan `Kebebalan ini diperoleh dari luar tubuh anak atau orang yang bersangkutan. Kekebalan dapat bersifat aktif, dan dapat bersifat pasif. Kekebalan aktif dapat diperoleh setelah orang dapat bersifat aktif, dan dapat bersifat pasif. Kekebalan aktif dapat diperoleh setelah orang sembuh dari penyakit tertentu.

sembuh dari penyakit tertentu.

3.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi KekebalanFaktor-faktor yang Mempengaruhi Kekebalan

Banyak faktor yang mempengaruhi kekebalan, antara lain umur, seks, kehamilan, gizi, dan Banyak faktor yang mempengaruhi kekebalan, antara lain umur, seks, kehamilan, gizi, dan trauma.

trauma. a.

a. UmurUmur

Untuk beberapa penyakit tertentu pada bayi (anak balita), dan orang tua lebih mudah Untuk beberapa penyakit tertentu pada bayi (anak balita), dan orang tua lebih mudah terserang. Sedangkan pada usia sangat muda atau usia tua lebih rentan, kurang kebal terhadap terserang. Sedangkan pada usia sangat muda atau usia tua lebih rentan, kurang kebal terhadap  penyakit-penyakit menular tentu.

 penyakit-penyakit menular tentu.  b.

 b. SeksSeks

Untuk penyakit-penyakit menular tententu seperti polio dan diphteia lebih parah terjadi Untuk penyakit-penyakit menular tententu seperti polio dan diphteia lebih parah terjadi  pada wanita daripada pria.

 pada wanita daripada pria. c.

c. KehamilanKehamilan

wanita yang sedang hamil pada umumnya lebih rentan terhadap penyakit-penyakit menular wanita yang sedang hamil pada umumnya lebih rentan terhadap penyakit-penyakit menular tertentu misalnya penyakit polio, pnemonia, malaria serta amebiosis. Sebaliknya untuk penyakit tertentu misalnya penyakit polio, pnemonia, malaria serta amebiosis. Sebaliknya untuk penyakit typhoid dan meningitis jarang terjadi pada wanita hamil.

typhoid dan meningitis jarang terjadi pada wanita hamil. d.

d. GiziGizi

Gizi yang baik pada umumnya akan meningkatkan resistensi tubuh terhadap Gizi yang baik pada umumnya akan meningkatkan resistensi tubuh terhadap penyakit- penyakit

 penyakit infeksi, infeksi, sebaliknya sebaliknya kekurangan kekurangan gizi gizi berakibat berakibat kerentanan kerentanan seseorang seseorang terhadap terhadap penyakitpenyakit infeksi.

infeksi. e.

e. TraumaTrauma

Stres salah satu bentuk trauma merupakan penyebab kerentanan seseorang terhadap suatu Stres salah satu bentuk trauma merupakan penyebab kerentanan seseorang terhadap suatu  penyakit infeksi tertentu.

 penyakit infeksi tertentu.

Kekebalan masyarakat (heard immunity) Kekebalan masyarakat (heard immunity)

Kekebalan yang

Kekebalan yang terjadi pada tingkat komuniti disebut „heard immunity'. Apabila heardterjadi pada tingkat komuniti disebut „heard immunity'. Apabila heard immunity di masyarakat randah, masyarakat tersebut akan mudah terjadi wabah, sebaliknya immunity di masyarakat randah, masyarakat tersebut akan mudah terjadi wabah, sebaliknya apabila heard immunity tinggi, maka wabah jarang terjadi pada masyarakat tersebut.

apabila heard immunity tinggi, maka wabah jarang terjadi pada masyarakat tersebut.  Masa

(27)

Masa inkubasi adalah jarak waktu dari mulai terjadinya infeksi di dalam diri orang sampai Masa inkubasi adalah jarak waktu dari mulai terjadinya infeksi di dalam diri orang sampai dengan munculnya gejalagejala atau tanda-tanda penyakit pada orang tersebut. Tiap-tiap dengan munculnya gejalagejala atau tanda-tanda penyakit pada orang tersebut. Tiap-tiap  penyakit

 penyakit infeksi infeksi mempunyai mempunyai masa masa inkubasi inkubasi berbeda-beda, berbeda-beda, mulai mulai dari dari beberapa beberapa jam jam sampaisampai  beberapa tahun.

 beberapa tahun.

4.

4. Jenis-jenis ImunisasiJenis-jenis Imunisasi

Pada dasarnya ada 2

Pada dasarnya ada 2 (dua) jenis imunisasi:(dua) jenis imunisasi: a.

a. Imunisasi pasif (pasive immunization)Imunisasi pasif (pasive immunization)

Imunisasi pasif ini adalah 'inmuno globulin jenis imunisasi ini dapat mencegah penyakit campak Imunisasi pasif ini adalah 'inmuno globulin jenis imunisasi ini dapat mencegah penyakit campak (measles) pada anak-anak.

(measles) pada anak-anak.  b.

 b. Imunisasi aktif (active immunization)Imunisasi aktif (active immunization)

lmunisasi yang diberikan pada anak adalah: lmunisasi yang diberikan pada anak adalah:

 BCG, untuk penyakit TBC.BCG, untuk penyakit TBC. 

 DPT, untuk mencegah penyakit-penyakit diptheri, partusis dan tetanus.DPT, untuk mencegah penyakit-penyakit diptheri, partusis dan tetanus. 

 Polio, untuk mencegah penPolio, untuk mencegah penyakit poliomilitis.yakit poliomilitis. 

 Campak, untuk mencegah penyakit campak (measles).Campak, untuk mencegah penyakit campak (measles).

lmunisasi pada ibu hamil dan calon pengantin adalah Imunisasi tetanus toxoid. Imunisasi ini lmunisasi pada ibu hamil dan calon pengantin adalah Imunisasi tetanus toxoid. Imunisasi ini untuk mencegah terjadinya tetanus pada bayi yang dilahirkan.

(28)

5.

5. Tujuan Program ImunisasiTujuan Program Imunisasi

a.

a. TujuanTujuan

Program imunisasi bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian dari Program imunisasi bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian dari  penyakit

 penyakit yang yang dapat dapat dicegah dicegah dengan dengan imunisasi- imunisasi- Pada Pada saat saat ini ini penyakit-penyakit penyakit-penyakit tersebut tersebut adalahadalah disentri, tetanus, batuk rejan (pertusis), campak (measles), polio, dan tuberkulosis.

disentri, tetanus, batuk rejan (pertusis), campak (measles), polio, dan tuberkulosis.  b.

 b. SasaranSasaran

 Bayi di bawah umur 1 tahun (0 - 11 bulan)Bayi di bawah umur 1 tahun (0 - 11 bulan) 

 Ibu hamil (awal kehamilan - 8 bulan).Ibu hamil (awal kehamilan - 8 bulan). 

 Wanita usia subur (calon mempelai wanita).Wanita usia subur (calon mempelai wanita). 

 Anak sekolah dasar kelas I dan VI.Anak sekolah dasar kelas I dan VI.

c.

c. Pokok-pokok kegiatanPokok-pokok kegiatan 1.

1. Pencegahan terhadap-bayi (imunisasi lengkap)Pencegahan terhadap-bayi (imunisasi lengkap) 2.

2. Pencegahan terhadap anak sekolah dasarPencegahan terhadap anak sekolah dasar 3.

3. Pencegahan lengkap terhadap ibu hamil dan PUS/calon mempelai wanitaPencegahan lengkap terhadap ibu hamil dan PUS/calon mempelai wanita 4.

4. Jadwal pemberian imunisasi seperti terlihat pada bagan.Jadwal pemberian imunisasi seperti terlihat pada bagan. 5.

5. Petunjuk pemberian vaksinasi diphteri, terutama pada anak SD, seperti yang sudah ditentukan.Petunjuk pemberian vaksinasi diphteri, terutama pada anak SD, seperti yang sudah ditentukan.

6.

6. PemantauanPemantauan

Pemantauan harus dilakukan oleh semua petugas baik pimpinan program, supevisor dan Pemantauan harus dilakukan oleh semua petugas baik pimpinan program, supevisor dan  petugas paksinasi. Tujuan pemantauan untuk mengetahui:

 petugas paksinasi. Tujuan pemantauan untuk mengetahui: a.

a. Sampai di mana keberhasilan kerja kita.Sampai di mana keberhasilan kerja kita.  b.

 b. Mengetahui permasalahan yang adaMengetahui permasalahan yang ada c.

c. Hal-hal yang perlu dilakukan untuk memperbaiki program.Hal-hal yang perlu dilakukan untuk memperbaiki program. d.

(29)

Hal-hal yang perlu dipantau (dimonitor) Hal-hal yang perlu dipantau (dimonitor) 1)

1) Coverage dan drop out.Coverage dan drop out. 2)

2) Pengelolaan vaksin dan colk chain.Pengelolaan vaksin dan colk chain. 3)

3) Pengamatan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.Pengamatan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Dilihat dari waktu, maka pemantauan dapat dilakukan dalam: Pemantauan ringan dan Dilihat dari waktu, maka pemantauan dapat dilakukan dalam: Pemantauan ringan dan Pemantauan Bulanan.

Pemantauan Bulanan.

Cara memantau cakupan imunisasi dapat dilakukan melalui beberapa cara antara lain: Cara memantau cakupan imunisasi dapat dilakukan melalui beberapa cara antara lain:

 Cakupan dari bulan ke bulan dibandingkan dengan garis target, dapat digambarkan masing-Cakupan dari bulan ke bulan dibandingkan dengan garis target, dapat digambarkan

masing-masing bulan atau dengan cara komulatif. masing bulan atau dengan cara komulatif.

(30)

BAB 3

STATISTIK KESEHATAN

A. Pengertian, Tujuan dan Peranan Statistik 

Secara umum arti statistik dibedakan menjadi dua bagian besar yaitu: Arti sempit:

Merupakan data ringkasan berbentuk angka, misalnya: Jumlah karyawan BKKBN, jumlah akseptor KB, jumlah peserta KB aktif di desa/kelurahan, jumlah balita yang ditimbang pada  bulan tertentu, jumlah kelompok penimbangan yang melapor pada bulan tertentu, jumlah

PPKBD/Sub PPKBD, dan lain sebagainya. Arti luas:

Merupakan ilmu yang mempelajari cara pengumpulan, pengolahan, penyajian dan analisis data termasuk cara pengambilan kesimpulan dengan memperhitungkan unsur ketidakpastian  berdasarkan konsep propabilitas.

1. Konsep statistik 

Merupakan suatu pendekatan modern untuk menyajikan mengenai konsep-konsep dasar dan metode statistik secara lebih jelas dan langsung dapat membantu seseorang di dalam  pengembangan daya kritik dalam suatu kegiatan pengambilan keputusan dengan menggunakan

cara-cara kuantitatif.

Semua jenis pertanyaan tersebut membutuhkan suatu keputusan yang baik yang sudah memikirkan mengenai untung dan ruginya. Di dalam sebagian besar kasus-kasus pekerjaan yang kita alami sehari-hari, benefit dan cost adalah faktor utama yang poling diasosiasikan dengan  pengambilan suatu keputusan: Akan tetapi kenyataan yang kita hadapi adalah bahwa suatu

keputusan harus dibuat, walaupun dasar di dalam mengambil keputusan tersebut adalah sangat lemah, hal ini oleh karena data-data yang diperlukan juga tidak lengkap.

Oleh karena itu, penggunaan statistik adalah penting sifatnya dalam rangka membantu memberi bobot dalam mengambil keputusan. Dengan demikian apakah yang dibutuhkan oleh statistik dalam usaha untuk membantu mengambil keputusan?

Yang dibutuhkan adalah:

Data statistik atau bilangan yang mewakili suatu perhitungan atau pengukuran suatu objek. Dengan demikian, melalui teori serta metodologi dari statistik kita dapat membantu dan

(31)

menentukan mengenai data yang harus dikompilasikan, bagaimana data tersebut dikumpulkan, diolah disajikan, dan dianalisis, serta kemudian ditarik kesimpulan.

Statistik menurut definisi dibagi menjadi dua bagian atau sub-kategori: (1) Descriptive Statistic

Adalah penggunaan statistik untuk tujuan menggambarkan sesuatu yang spesifik saja, dan tidak memikirkan mengenai implikasi atau kesimpulan yang mewakili sesuatu yang besar dan umum. Cara penyajiannya dapat berbentuk grafik dan tabel-tabel.

(2) Inferencial Statistic

Adalah suatu cara penggambaran suatu kesimpulan dari suatu set data yang sedang- diteliti dan hasilnya dapat dibuat suatu generalisasi.

2. Peranan Statistik 

Manfaat dan peranan statistik adalah membantu pars pengelola dan pelaksana program KB-Kes khususnya dalam mengambil keputusan yang selanjutnya dipakai dasar perencanaan,  pelaksanaan dan evaluasi berbagai kegiatan yang dilakukan.

(32)

Statistik sebagai bahan perencanaan

Statistik seperti telah dijelaskan pada butir terdahulu adalah pengetahuan yang  berhubungan dengan pengumpulan data, pengolahan penganalisisan, penyajian dan penarikan

kesimpulan serta pembuatan keputusan berdasarkan data dan kegiatan analisis yang dilakukan. Dengan kata lain, setiap data yang dibutuhkan adalah data yang dapat dipercaya dan tepat waktu. Melalui data yang dapat dipercaya dan tepat waktu diharapkan seluruh kegiatan pengolahan data akan menghasilkan informasi untuk mengambil suatu keputusan yang tepat. Kemungkinan-kemungkinan penyimpangan yang telah dicoba untuk dieliminasi sekecil mungkin melalui  berbagai metode yang dikembangkan dalam statistik, akan sagat membantu dalam setiap

kegiatan perencanaan program. Statistik sebagai bahan monitoring 

Seperti telah tersebut dalam anti sempit bahwa statistik adalah data ringkasan berbentuk angka, maka hal ini sangat membantu di dalam suatu kegiatan monitoring. Oleh karena secara umum yang dilakukan dalam kegiatan monitoring adalah memonitor seluruh kekuatan dan kelemahan program yang menyangkut berbagai variabel yang berbentuk data ringkasan.

Statistik sebagai bahan evaluasi

Dengan mengetahui berbagai data yang dapat dipercaya maka selanjutnya kita dapat menganalisis dan memutuskan yang baik dan yang buruk. Selain itu melalui berbagai data yang ada kita dapat membandingkan dan selanjutnya membuat suatu generalisasi dari sampel yang kecil kepada populasi.

B. Statistik Kesehatan

Statistik kesehatan adalah suatu cabang dari statistik yang berurusan dengan cara-cara  pengumpulan, kompilasi, pengolahan dan interpretasi fakta-fakta numerik sehubungan dengan sehat dan sakit, kelahiran, kematian, dan faktor-faktor yang berhubungan dengan itu pada  populasi manusia. Apabila kegiatan pencatatan ini ditunjukan khusus pada kejadian-kejadian

kehidupan manusia tertentu, yakni: kelahiran, kematian, perkawinan, dan perceraian, disebut statistik vital (vital statistics), atau sering juga disebut statistik kehidupan (bio statistic).

Statistik kesehatan mencakup juga statistik kehidupan, dan data .lain yang berkaitan dengan kehidupan itu

(33)

Pengolahan data statistik dapat dilakukan dengan cara manual atau dengan bantuan  perangkat lunak (software) komputer. Pengolahan data secara manual dewasa ini sudah jarang dilakukan. Namun, untuk data yang berskala kecil dan dengan kelangkaan prasarana komputer dan kemampuan (keterampilan) sumber daya manusia, pengolahan secara manual masih digunakan (dilakukan).

D. Penyajian Data

Cara penyajian data Pada umumnya dikelompokkan menjadi tiga, yakni:

1. Penyajian dalam Bentuk Tekstular

Penyajian secara tesktular adalah penyajian data hasil penelitian dalam bentuk kalimat. Misalnya: penyebaran penyakit malaria di daerah pedesaan pantai lebih tinggi bila dibandingkan dengan penduduk pedesaan pedalaman. Penyajian data dalam bentuk tabel adalah suatu  penyajian yang sistematik dari data numerik, yang tersusun dalam kolom atau jajaran. Sedangkan  penyajian dalam bentuk grafik adalah suatu penyajian data secara visual. Penyajian hasil  penelitian kuantitatif yang sering menggunakan bentul tabel atau grafik, oleh sebab itu yang akan

diuraikan lebih lanjut dalam bab ini adalah kedua bentuk penyajian tersebut.

2. Penyajian dalam-Bentuk Tabel

Berdasarkan penggunaannya, tabel dalam statistik dibedakan menjadi dua, yakni tabel umum (master table) dan tabel khusus. Tabel umum dipergunakan untuk tujuan umum, dan tabel khusus untuk tujuan khusus.

a. Tabel Umum

Yang dimaksud tabel umum di sini adalah suatu tabel yang berisi seluruh data atau variabel hasil penelitian.

 b. Tabel Khusus

Tabel khusus merupakan penjabaran atau bagian dari tabel umum. Ciri utama dari tabel khusus ialah angka-angka dapat dibulatkan, dan hanya berisi beberapa variabel saja. Gunanya tabel khusus ini antara lain untuk menggambarkan adanya hubungan atau asosiasi khusus, dan menyajikan data yang terpilih (selective) dalam bentuk sederhana.

3. Penyajian dalam Bentuk Grafik 

Penyajian data secara visual dilakukan melalui bentuk grafik, gambar, atau diagram. Ketentuan umum untuk membuat grafik, diagram, atau gambar data antara lain:

(34)

a. Judul grafik, diagram, gambar atau skema harus jelas dan tepat. Judul terletak di atas tengah gambar atau grafik, dan menggambarkan ciri data, tempat dan tahun data tersebut diperoleh (what, where and when).

 b. Garis horizontal maupun garis vertikal sebagai koordinat harus di atas agar garis kurva tampak  jelas.

c. Skala pada grafik atau gambar harus ada catatan tentang satuan yang dipakai, misalnya tahun, hari, kilogram, celcius, dan sebagainya.

d. Apabila data dari grafik atau gambar tersebut diambil dari sumber lain (bukan hasil penelitian sendiri), maka sumber data harus ditulis di bawah kiri grafik atau gambar tersebut.

E.

Ukuran-ukuran Statistik Kesehatan

Purata (rate) adalah ukuran umum yang sering digunakan dalam analisis statistik, khususnya statistik kesehatan. Rate adalah suatu jumlah kejadian dihubungkan dengan populasi yang bersangkutan.

Rate yang dihitung dari total populasi di dalam suatu area sebagai denominator (penyebut) disebut crude rate atau angka kasar (purata kasar). Sedangkan rate yang dihitung dari kelompok atau segmen tertentu disebut specific rate atau angka spesifik (purata spesifik).

(35)

BAB 4

MANAJEMAN KESEHATAN MASYARAKAT

A. Pengertian Manajemen Kesehatan

Dalam kegiatan apa saja, agar kegiatan tersebut dapat mencapai tujuannya secara efektif diperlukan pengaturan yang baik. Demikian juga kegiatan dan atau pelayanan kesehatan masyarakat memerlukan pengaturan yang baik, agar tujuan tiap kegiatan atau program itu tercapai dengan baik Prosess pengaturan kegiatan ilmiah ini disebut manajemen, sedangkan  proses untuk mengatur kegiatan-kegiatan atau pelayanan kesehatan masyarakat disebut

'Manajemen Pelayanan Kesehatan Masyarakat'.

Manajemen adalah suatu kegiatan untuk mengatur orang lain guna mencapai tujuan atau menyelesaikan pekerjaan. Apabila batasan ini diterapkan dalam bidang kesehatan masyarakat dapat dikatakan sebagai berikut. "Manajemen kesehatan adalah suatu kegiatan atau suatu seni untuk mengatur para petugas kesehatan dan non-petugas kesehatan guna meningkatkan kesehatan masyarakat melalui program kesehatan."

Dengan kata lain manajemen kesehatan masyarakat adalah penerapan manajemen umum dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat sehingga yang menjadi objek atau sasaran manajemen adalah sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Sistem adalah suatu kesatuan yang utuh, terpadu yang terdiri dari berbagai elemen (sub-sistem) yang saling berhubungan dalam suatu proses atau struktur dalam upaya menghasilkan sesuatu atau mencapai suatu tujuan tertentu. Oleh sebab itu, kalau berbicara sistem pelayanan kesehatan adalah struktur atau gabungan dari sub-sistem dalam suatu unit atau' dalam suatu proses untuk mengupayakan  pelayanan kesehatan masyarakat baik preventif kuratif, promotif maupun rehabilitatif. Sehingga sistem pelayanan kesehatan ini dapat berbentuk Puskesmas, Rumah Sakit, Balkesmas, dan unit-unit atau organisasi-organisasi lain yang mengupayakan peningkatan kesehatan.

fungsi-fungsi manajemen itu pada garisnya terdiri dari: a. Perencanaan ( Planning )

 b. Pengorganisasian (Organizing ) c. Penyusunan personalia (Staffing ) d. Pengkoordinasian (Coordinating ) e. Penyusunan anggaran ( Budgeting )

Referensi

Dokumen terkait

Dalam proses manajemen proyeknya, perusahaan menggunakan bantuan perangkat lunak Microsoft Excel untuk mengatur kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan

Yang dimaksud pengorganisasian kelompok tani dalam penelitian ini adalah pengorganisasian yang dilakukan oleh LSM Serikat Tani Mandiri (STaM)

Apabila pengaturan meja makan telah selesai, maka langkah selanjutnya Apabila pengaturan meja makan telah selesai, maka langkah selanjutnya adalah mengatur menu yang akan disajikan

Setelah tahap box selesai, kemudian dilakukan perencanaan struktur bawah dengan langkah awal mendimensi rencana penampang pilar dan abutment yang nantinya akan dihitung

(2) Rencana Program Pembangunan Jangka Menengah Daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 menjadi pedoman dalam penyusunan Rencana Pembangunan Tahunan Daerah, yang selanjutnya

Pengelolaan pendidikan yang dimaksudkan adalah keseluruhan kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan/pengendalian dalam rangka mengatur

Setelah perencanaan sudah menjadi kesepakatan, dalam rapat dinas, maka berikutnya dilakukan pengorganisasian yaitu pembagian tugas kepada tim penilai yang telah diangkat

Selanjutnya kerjaan-kerajaan yang ada di Peradaban Mesopotamia ini silih berganti, yaitu dari Kerajaan Akkadia menjadi Kerajaan Babilonia I, selanjutnya menjadi Kerajaan Asyria,