AYAT-AYAT SAJADAH DALAM AL-QUR AN PERSPEKTIF FENOMENOLOGI

26  16  Download (0)

Teks penuh

(1)

PERSPEKTIF FENOMENOLOGI

Moh Jazuli

Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Sumenep

moh.jazuli71@gmail.com

Abstrak

Ayat-ayat sajadah merupakan ayat-ayat yang apabila membaca atau mendengarnya disunnahkan untuk melakukan sujud tilawah. Cara memperlakukan ayat ini berbeda dengan ayat-ayat yang bukan ayat sajadah. ayat ini merupakan ayat yang diperlakukan istimewa oleh umat islam. Jika pada ayat yang lain mereka hanya disunnahkan untuk mengucapakan kalimat tertentu, semisal kata amîn ketika membaca akhir surat al-Fatihah, tapi pada ayat ini umat islam disunnahkan untuk melakukan sujud tilawah. Kata yang digunakan dalam ayat sajadah ini (yang menyebabkan ayat tersebut tergolong dalam ayat-ayat sajadah) berbeda-beda. Ada kata yang menggunakan redaksi berita (khabari) dan yang ada menggunakan redaksi perintah (insya’i yang amar). Meskipun redaksi yang digunakan dalam ayat sajadah ini berbeda-beda, namun kesunnahan untuk melakukan sujud bagi yang membaca dan mendengar ayat ini tidak hilang karena perbedaan redaksi. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa fenomena yang terdapat dalam ayat-ayat sajadah ini adalah berbeda-bedanya redaksi yang digunakan dalam ayat ini. Perbedaan tersebut tidak dapat menghilangkan eksistensi ayat sajadah tersebut. Bahkan, perintah yang menggunakan redaksi khabari lebih tegas perintahnya dari pada redaksi yang menggunakan amar.

Kata Kunci: Ayat-Ayat Sajadah, al-Qur’an, dan Fenomenologi

Pendahuluan

Turunnya al-Qur’an merupakan salah satu peristiwa besar yang terjadi dalam sejarah umat Islam. al-Qur’an yang merupakan kitab suci bagi umat Islam ini diturunkan kepada seorang utusan yang al-amîn untuk disampaikan kepada umatnya sebagai pegangan hidup. Kitab suci ini menyebut dirinya sebagai hudan (petunjuk) bagi

(2)

manusia. Kandungan yang terdapat didalamnya dapat menyelamatkan manusia dari kesesatan dan menunjukkannya pada jalan yang lurus. Isi dari kitab al-Qur’an ini mencakup pada setiap lini kehidupan manusia, mulai dari kehidupan manusia yang pertama hingga berakhirnya kehidupan dunia. Bahkan kehidupan setelah kehidupan dunia ini juga tercakup didalamnya sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa kitab ini sholih li kulli zaman wa makan.

Pada dasarnya al-Qur’an turun sebagai wahyu untuk menyampaikan pesan-pesan Allah kepada makhluk-Nya melalui lisan Nabi Muhammad SAW. al-Qur’an turun secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Proses turun secara berangsur-angsur ini dimaksudkan agar manusia dengan mudah menghafal dan dapat mengaplilkasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk dapat mengaplikasikan isi al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, maka manusia khususnya umat Islam di tuntut untuk melakukan interaksi dengan kitab yang telah menjadi pegangan hidup umat Islam ini. Dengan demikian manusia mampu menangkap pesan yang terkandung didalamnya, sehingga pesan-pesan itu dapat diaplikasikan dalam kehidupannya.

Berinteraksi dengan al-Qur’an, mulai dari proses membaca, memahami hingga mengaplikasikan dalam kehidupan nyata tidak akan pernah berhenti dalam denyut nadi umat Islam. Usaha-usaha tersebut selalu muncul kepermukaan selaras dengan kebutuhan dan tantangan yang mereka hadapi, hal ini disebabkan al-Qur’an merupakan kitab suci yang selalu relevan bagi mereka sepanjang masa. Relevansi kitab suci ini terlihat pada petunjuk-petunjuk

(3)

(guidance) yang diberikannya kepada mereka dalam seluruh aspek dan sendi-sendi kehidupan.1

Salah satu bentuk interaksi dengan al-Qur’an adalah melakukan aktifitas tertentu sesuai dengan bacaan. Dalam suatu riwayat, Rasulullah memerintahkan untuk membaca ‚amîn‛ apabila bertemu dengan ayat yang berbunyi ‚waladh-dhoollîn‛.2 Ada beberapa ayat yang juga disunnahkan untuk dijawab manakala menjumpainya, misalnya terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 286 yang berbunyi, ييرفاكلا موقلا ىلع ىرصًاف sunnah dijawab dengan ييها ييوحرلا نحرا ايكتوحرب, dan masih banyak lagi ayat-ayat yang sunnah dijawab ketika membaca atau mendengarnya.3 Selain itu, Rasulullah

juga memberi contoh dengan bersujud ketika mendengar atau membaca ayat-ayat tertentu, yaitu yang disebut dengan ayat-ayat sajadah. Ayat sajadah merupakan beberapa ayat dalam al-Qur’an yang apabila dibaca atau didengarnya disunnahkan untuk melakukan sujud tilawah bagi orang yang membaca atau mendengarnya.

Dibanding ayat-ayat al-Qur’an lainnya, ayat-ayat sajadah termasuk ayat-ayat yang unik dan istimewa. Cara memperlakukannya berbeda dengan ayat yang lainnya, jika pada ayat-ayat tertentu cara memperlakukannya dengan mengucapkan bacaan tertentu, seperti membaca ‚Amîn‛ ketika sampai pada ayat yang berbunyi ‚ waladh-dhôllîn‛, maka pada ayat-ayat sajadah ini diperlakukan dengan cara

1 Fathurrosyid, Kisah Nabi Sulaiman AS dan Ratu Balqis dalam Al-Qur’an

(Kajian Structuralisme-Semiotik). Tesis. Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya 2011), 1.

2 Abi Zakaria Yahya Bin Syarifuddin An-Nawawi Asy-Syafi’i, At-Tibyan Fi

Adabi Hamalatil Qur’an, (Surabaya: Alhidayah, tt), 106.

3 Waqid Yusuf, dkk. SKIA (Syarat-Syarat Kecakapan Ibadah Amaliyah)

(4)

bersujud yang kemudian sujud itu disebut dengan sujud tilawah (sujud karena bacaan). Bahkan, dalam keadaan sholatpun sujud ini tetap dianjurkan untuk dilakukan ketika musholli (orang yang sholat) membaca atau mendengar bacaan ayat-ayat sajadah dari imamnya jika dia melakukan sholat secara berjama’ah.

Sujud tilawah merupakan sujud yang dilakukan karena membaca atau mendengar bacaan ayat-ayat sajadah. Menurut Ahmad Mujab al-Mahalli, sujud tilawah adalah sujud karena bacaan. Maksudnya, bagi orang yang membaca ayat-ayat sajadah disunnahkan untuk melakukan sujud, demikian pula bagi orang yang mendengarnya.4 Secara umum, sujud tilawah merupakan sujud yang

dilakukan oleh seseorang ketika membaca atau mendengar orang lain membaca ayat-ayat tertentu dalam al-Qur’an baik ketika melakukan sholat maupun diluar shalat.5

Ayat sajadah hanya terdapat dalam 15 ayat dalam al-Qur’an. Namun, jumlah ini masih diperselisihkan dikalangan para ulama’. Biasanya, dalam al-Qur’an yang ada sekarang terdapat tanda kubah atau simbol tertentu yang menjadi penanda ayat sajadah. Bagi orang-orang yang tidak mengetahui letak ayat sajadah, simbol-simbol ini sangat membantu untuk mengetahi dimana ayat sajadah tersebut berada. Dalam 15 ayat tersebut, kata-kata (lafadz) yang menyebabkan ayat tersebut disebut dengan ayat sajadah dan mengharuskan untuk melakukan sujud tilawah tidak semua menggunakan kata imperatife

(kata yang bermakna perintah).

4 Ahmad Mujab Mahalli, Hadits-hadits ahkam Riwayat As-Syafi’ie (Jakarta:

PT. Raja Grafindo Persada, 2003), 305.

(5)

Bentuk interaksi umat Islam terhadap ayat-ayat sajadah yang memiliki redaksi yang berbeda (perintah dan bukan perintah untuk bersujud) merupakan hal yang menarik untuk dikaji. Bagi ayat sajadah yang redaksinya bermakna perintah untuk bersujud, kemudian orang yang membaca dan mendengar ayat tersebut melakukan sujud tilawah, mungkin hal itu wajar dan memang seharusnya dilakukan berdasarkan perintah dari ayat tersebut, namun dalam kebanyakan ayat sajadah yang redaksinya bukan perintah, juga diperlakukan sama oleh umat Islam.

Kitab-kitab tafsir yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah kitab tafsir klasik. Kitab-kitab tafsir klasik ini dipilih karena perlakuan istimewa terhadap ayat-ayat sajadah ini sudah diajarkan sejak masa nabi, sehingga ulama’-ulama’ klasik ini lebih awal mengetahui segala aspek yang berkenaan dengan ayat-ayat sajadah dari pada ulama’ kontemporer yang hanya merujuk pada kitab-kitab tafsir klasik. Dalam hal ini, penulis mencukupkan dengan mengkaji dua kitab tafsir, yakni tafsir al-Qur’ân al-Adzîm karya Ibn Katsir dan

al-Durru al-Mantsûr fî al-Tafsir bi al-Ma’tsûr karya Jalaluddin as-Suyuti. kedua kitab tersebut merupakan kitab tafsir klasik yang sama-sama menggunakan metode penafsiran tahlili. Alasan penulis memilih dua kitab tersebut, selain karena kitab-kitab tersebut sudah sering dijadikan sebagai sumber rujukan oleh kebanyakan orang, kitab-kitab tersebut juga menjelaskan secara mendetail setiap ayat yang ditafsirkannya, mulai dari makna mufradat, susunan kalimat hingga tafsir ayat.

Penelitian ini hendak mengungkap dua persoalan penting.

(6)

Kedua, mengapa ada perbedaan dan persamaan dalam lafadz ayat-ayat sajadah dalam al-Qur’an? Untuk menjawab dua persoalan ini, penulis menggunakan pendekatan filosofis dan fenomenologis.

Pendekatan filosofis merupakan pendekatan yang menjelaskan objek yang diteliti secara mendalam. Dalam penelitian ini, pendekatan ini digunakan untuk menjelaskan ayat-ayat sajadah dalam al-Qur’an dengan sejelas-jelasnya. Pendekatan fenomenologi digunakan untuk menganalisis fenomena-fenomena yang berkenaan dengan ayat-ayat sajadah dalam al-Qur’an.

Studi yang berkaiatan dengan tema sujud tilawah sudah banyak dilakukan oleh para akademisi. Namun demikian, studi tersebut banyak mengarah pada persoalan yang bersifat normatif yaitu kajian fiqih, seperti Fiqhi Sunnah6 dan Fiqhi Shalat, Panduan Lengkap

Shalat Seperti Nabi7 karya Sayyid Sabiq, Fikih Keseharian Gus

Muskarya KH.A. Musthafa Bisri8 dan Hadits-Hadits Ahkam Riwayat Asy-Syafi’i karya Ahmad Mudjab Mahalli.9 Dalam buku-buku

tersebut terdapat pembahasan mengenai ayat-ayat sajadah namun hanya sedikit. Dalam buku-buku tersebut lebih banyak membahas sujud tilawah serta hal-hal yang berkaitan dengan sujud tilawah dari pada ayat-ayat sajadah karena memang buku tersebut merupakan buku-buku fiqhi yang hanya membahas mengenai amaliyah umat Islam.

6Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah 2 (Bandung: PT. Alma’arif, 1976), 23.

7Sayyid Sabiq, Fiqih Sholat, Panduan Lengkap Sholat Seperti Nabi

(Bandung: Jabal, 2012), 123.

8 A. Mostofa Bisri, Fiqih Keseharian Gus Mus (Surabaya: Khalista, 2006).

9Ahmad Mujab Mahalli, Hadits-Hadits Ahkam Riwayat As-Syafi’ie (Jakarta:

(7)

Selain buku-buku tersebut, juga ada buku yang lebih khusus membahas tentang sujud tilawah. Buku tersebut ditulis oleh Abul Aziz bin Muhammad as-Sidhan dan Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dengan judul at-Tibyân fî Sajdatil Qur’ân.10 Penulis buku tersebut

telah menyajikan secara panjang lebar mengenai sujud tilawah, mulai dari definisi, hukum, tata cara, serta dimana saja letak ayat-ayat yang menuntut umat islam melakukan sujud tilawah dan hal-hal lain yang berkaitan dengan sujud tilawah.

Dengan demikian, sekalipun banyak yang menulis tentang ayat-ayat sajadah dan sujud tilawah, namun masih belum peneliti temukan yang membicarakan mengenai lafadz (kata) yang digunakan dalam ayat-ayat sajadah yang menyebabkan ayat tersebut disebut dengan ayat sajadah dan mengharuskan untuk bersujud bagi orang yang membaca dan mendengarnya. Disinilah letak perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian yang ada sebelumnya.

Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research) yang memfokuskan pada literatur-literatur yang berkenaan dengan ayat-ayat sajadah dalam al-Qur’an. Metode penelitian pustaka ini merupakan salah satu jenis metode penelitian kualitatif yang lokasi dan tempat penelitiannya dilakukan di pustaka, dokumen, arsip, dan lain sejenisnya.11 Adapun sumber data yang digunakan adalah

kitab-kitab tafsir al-quran, sedangkan data sekundernya adalah data yang ada relevansinya dengan tema riset ini.

10Abdul Aziz bin Muhammad as-Sidhan dan Abdul Aziz bin Abdullah bin

Baz, at-Tibyan fi Sajdatil Qur’an (Riyadh: Darul Manar, 1989)

(8)

Fenomena Ayat-Ayat Sajadah dan Sujud Tilawah dalam

al-Qur’an

Ayat-ayat sajadah merupakan berberapa ayat dalam al-Qur’an yang apabila dibaca disunnahkan untuk melakukan sujud tilawah bagi orang yang membaca dan mendengarnya. Menurut Muhammad Shalikin, ayat-ayat sajadah adalah ayat-ayat yang disunnahkan bersujud seusai membacanya.12 Sujud yang dilakukan seusai

membaca ayat-ayat sajadah ini lazim disebut dengan sujud tilawah. Ayat-ayat sajadah termasuk ayat-ayat yang unik dan istimewa. Cara memperlakukannya berbeda dengan ayat yang lainnya. Jika pada ayat-ayat tertentu cara memperlakukannya dengan mengucapkan bacaan tertentu, seperti membaca ‚Amîn‛ ketika sampai pada ayat yang berbunyi ‚waladh-dhôllîn‛, maka pada ayat-ayat sajadah ini diperlakukan dengan cara bersujud. Sujud tersebut merupakan bentuk interaksi yang diajarkan oleh nabi Muhammad ketika berhadapan dengan ayat-ayat sajadah. Selain itu, hal tersebut merupakan adab membaca al-Qur’an yang seharusnya dilakukan ketika bertemu dengan ayat-ayat sajadah.

Dalam mushaf al-Qur’an, yang termasuk ayat-ayat sajadah terdapat dalam 15 ayat. Biasanya, ayat-ayat tersebut dibubuhi tanda khusus, semisal tanda kubah yang menunjukkan bahwa ayat-ayat tersebut adalah ayat-ayat sajadah.13Di kalangan para ulama’, jumlah

tersebut masih diperselisihkan. Ada ulama’ yang mengatakan bahwa

12 Muhammad Shalikin, Panduan Shalat Lengkap dan Praktis (Jakarta:

Erlangga, 2012), 87. 13 Ibid, 89.

(9)

jumlahnya hanya ada 14 ayat. Di antara ulama’ yang berpendapat demikian adalah imam asy-Syafi’i dan Imam Abu Hanifah.14

Abu Muhammad ibnu Shalih bin Hasbullah, mengutip dari kitab Taisîrur ar-Rahmân fî Ahkâmi Sujûdi Tilâwatil al-Qurân karya Abu Muhammad ‘Isham Abdurrabih, mengatakan bahwa jumlah ayat-ayat sajadah ada 15 ayat berdasarkan pada hadits marfu’ dari ‘Amr bin Abdul ‘Ash, yang berbunyi ‚Sesungguhnya Nabi SAW. Membaca 15 ayat sajadah dalam al-Qur’an. Diantaranya 3 ayat pada surat al-Mufashshal, dan pada surat al-Hajj ada dua ayat sajadah‛.

Dari kelima belas ayat tersebut, ada sepuluh ayat yang disepakati, yakni QS. al-A’raf ayat 206, QS. al-Ra’d ayat 15, QS. an-Nahl ayat 49-50, QS.Isrâ’ ayat 109, QS. Maryam ayat 58, QS. al-Hajj ayat 18, QS. al-Furqân ayat 60, QS. an-Naml ayat 25-26, QS. as-Sajdah ayat 15, dan QS. Fushshilat ayat 37.

Sujud Tilalwah dan Problematikanya dalam Studi Qur’an 1. Definisi Sujud Tilawah

Kata tilâwah merupakan masdar dari kata talâ yang artinya bacaan, jadi sujud tilawah adalah sujud karena bacaan. Menurut Ahmad Mujab Al-Mahalli, sujud tilawah adalah sujud karena bacaan.Maksudnya, bagi orang yang membaca ayat-ayat sajadah disunnahkan untuk melakukan sujud, demikian pula bagi orang yang mendengarnya.15 Secara umum, sujud tilawah merupakan sujud yang

14Abi Zakaria Yahya Bin Syarifuddin An-Nawawi Asy-Syafi’i, At-Tibyan Fi

Adabi Hamalatil Qur’an (Surabaya: Alhidayah,TT), 108-110.

15Ahmad Mujab Mahalli, Hadits-hadits Ahkam Riwayat As-Syafi’ie. Jilid 1

(10)

dilakukan oleh seseorang ketika membaca atau mendengar orang lain membaca ayat-ayat tertentu dalam al-Qur’an baik ketika melakukan sholat maupun diluar shalat.16

Sujud tilawah merupakan nama sebuah sujud yang dilakukan karena membaca atau mendengar ayat-ayat sajadah. Sujud ini boleh dilakukan di luar shalat maupun pada saat melakukan shalat sesuai dengan cara yang telah diajarkan oleh nabi Muhammad SAW.

2. Keutamaan dan Hikmah Sujud Tilawah

Sujud tilawah memiliki keutamaan tersendiri bagi orang yang mengerjakannya. Keutamaan sujud ini bagi orang yang melakukannya adalah setan akan menjauh darinya dalam keadaan menangis. Selain itu, orang tersebut akan diberi balasan surga, sebagaimana dijelaskan dalam hadits nabi yang berbunyi:

‚Jika seorang anak adam membaca ayat sajadah, lalu ia sujud, maka syaitan meninggalkannya sambil menangis dan berkata, ‚wahai ccelakalah aku, manusia diperintah sujud, kemudian dia sujud maka dia akan mendapatkan surga, sedangkan aku diperintah untuk sujud, tetapi aku menolak maka aku mendapatkan neraka.‛ (HR. Ibn Majah).17

Selain memiliki keutamaan, sujud ini juga mempunyai hikmah dibalik pensyariatannya. Imam an-Nawawi berkata ‚para ulama’ sepakat tentang disyariatkannya sujud tilawah oleh Allah SWT. dan RasulNya, sebagai satu bentuk ibadah dan pendekatan diri kepada Allah SWT. Selain itu, sujud ini juga untuk mengagungkan Allah

16Fathurrosyid, Kisah Nabi Sulaiman AS dan Ratu Balqis dalam Al-qur’an

(Kajian Structuralisme-Semiotik).Tesis. Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya 2011), 4.

17 Al-Hafidz abi Abdillah Muhammad bin Yazid al-Qazwini ibn Majah.

(11)

dan merendahkan diri di hadapanNya ketika membaca atau mendengar ayat-ayat yang disyariatkan padanya sujud tilawah.18

3. Hukum Sujud Tilawah

Mayoritas ulama’ sepakat bahwa hukum sujud tilawah adalah

sunnah muakkad, inilah penadapat yang paling kuat. Sayyid Sabiq dalam kitab fiqhu as-Sunnah menyebutkan bahwa jumhur ulama’ berpendapat bahwa sujud tilawah sunnah dilakukan oleh yang membaca atau yang mendengarkan. Pendapat ini berdasarkan pada keterangan yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Umar, bahwa ia pada hari jum’at membaca surat an-Nahl di atas mimbar. Ketika sampai pada ayat sajadah, ia pun turun dan sujud, kemudian orang-orang lain pun ikut melakukan sujud. Pada hari jum’at berikutnya, dibacanya pula surat itu sekali lagi dan ketika sampai pada ayat sajadah, ia berkata:‚wahai manusia, kita bukanlah diwajibkan untuk sujud tilawah itu, maka barang siapa yang sujud, benarlah ia, sedang yang tidak sujud tidak pula berdosa.‛Dalam riwayat yang lain disebutkan, ‚Bahwa Allah tidak memfardlukan kita untuk sujud, maka baiknya kita melakukan sekehendak kita saja.‛19

4. Tata Cara Melakukan Sujud Tilawah

Ketika membaca atau mendengar ayat-ayat sajadah dari al-Qur’an, baik dalam posisi berdiri atau duduk, maka disunnahkan

18Abu Muhammad ibnu Shalih bin Hasbullah, Panduan Praktis Fiqh Tiga

Sujud, 32.

19Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah 2, terj. Mahyuddin Syaf (Bandung: PT.

(12)

untuk bertakbir dan bersujud satu kali. Tata cara mengerjakan sujud tilawah tersebut hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:

a. Sujud tilawah hanya dilakukan satu kali untuk satu ayat sajadah.

b. Tidak memerlukan wudhu dan tidak perlu menyucikan badan atau pakaian dari najis (kecuali dalam shalat).

c. Sebaiknya menghadap kiblat

d. Tidak disyaratkan bertahiyat atau salam tetapi dianjurkan memakai takbir

e. Kalau kebetulan pembacaan ayat sajadah dilakukan dalam shalat, disunnahkan melakukan sujud saat itu juga, kemudian kembali meneruskan shalatnya setelah bangkit dari sujud tilawah

f. Kalau yang membaca tidak melakukan sujud, maka yang mendengar hendaknya melakukan sujud sendiri.

g. Kalau sujud tilawah itu dilakukan dalam shalat, maka sebaiknya membaca ‚subhana rabbiyal-a’lâ wabihamdih‛, seperti do’a sujud biasa.20

h. Bagi orang yang berjalan atau berkendaraan, maka ia boleh berisyarat dengan kepalanya kearah mana saja ia nmenghadap. Imam Abu Zakaria Yahya bin Syarifuddin an-Nawawi, dalam kitab at-Tibyân fî Adabi Hamalatil Qur’an, mensyaratkan suci dari hadats dan najis, menghadap kiblat serta harus menghadap kiblat bagi orang yang akan melakukan sujud tilawah. Haram melakukan sujud tilawah bagi orang yang pada badan atau pakainnya terdapat najis

(13)

yang tidak di ma’fu (dimaafkan), serta haram jika tidak menghadap kiblat kecuali dalam perjalanan yang bukan perjalanan dalam kema’siyatan.21

Bagi orang yang dalam keadaan sulit atau tidak memungkinkan untuk melakukan sujud tilawah, maka sujud ini boleh diganti dengan bacaan dzikir subhanallah walhamdulillah walâ ilâha illallah wa Allahu Akbar. Hal ini diqiyaskan kepada bolehnya mengganti shalat tahiyatal masjid dengan dzikir subhanallah walhamdulillah walâ ilâha illallah wa Allâhu Akbar bagi orang yang tidak memungkinkan untuk melakukan shalat tahiyatal masjid, semisal orang tersebut memasuki masjid dalam keadaan tidak suci.

Dari perkataan Imam al-Qalyubi dan Imam an-Nawawi di atas menyebutkan bahwa orang yang tidak dapat melakukan shalat tahiyatal masjid dapat menggantinya dengan membaca dzikir

subhanallah walhamdulillah walâ ilâha illallâh wa Allâhu Akbar

sebanyak 4 kali. Pendapat di atas kemudian dijadikan sebagai landasan kiyas oleh ualma’ madzhab Syafi’iyah akan bolehnya menganti sujud tilawah dengan bacaan dzikir subhanallah walhamdulillah walâ ilâha illallâh wa Allâhu Akbar.

Penafsiran Ayat-Ayat Sajadah dalam Al-Qur’an dengan Redaksi

Khabari (Berita) Perspektif Fenomenologi

21Abi Zakaria Yahya Bin Syarifuddin An-Nawawi Asy-Syafi’i, At-Tibyan Fi,

(14)

Quraisy Syihab dalam buku kaidah tafsir, mengatakan bahwa Perintah yang menggunakan redaksi berita jauh lebih tegas daripada perintah yang menggunakan lafadz-lafadz perintah, karena dengan redaksi perintah, terbuka kemungkinan dari yang membangkang untuk melanggarnya dan ketika itu yang memerintah tidak dinilai berbohong. Jika yang memerintah menyampaikan perintahnya dalam bentuk berita, lalu terbukti ada yang melakukan apa yang bertentangan dengan yang diberitakan, maka si pengucap dapat dinilai berbohong karena telah memberitakan sesuatu yang keliru. Jika demikian, siapa yang melanggar berita yang dimaksudkan sebagai perintah, maka ia bagaikan menyatakan bahwa Allah berbohong atau tidak tahu.22

Dari lima belas ayat-ayat sajadah, penulis akan menjelaskan beberapa ayat yang menggunakan redaksi khabari (berita). Pertama, QS. al-A’raf ayat 206. Ibn Katsir menafsirkan ayat ini dengan tafsiran bahwa pada ayat penutup surat al-A’rof ini, Allah menceritakan kepada manusia tentang ketekunan ibadah para malaikat supaya manusia meneladaninya. Dalam sebuah hadits, Nabi menganjurkan untuk meniru shafnya para malaikat, yakni memenuhi shaf yang pertama baru kemudian membuat shaf baru. Pada ayat ini, orang yang membaca atau yang mendengarnya dianjurkan untuk melakukan sujud yang disebut dengan sujud tilawah. Ayat ini merupakan ayat pertama yang mengandung sujud tilawah.23

22 Quraish Syihab, Kaidah Tafsir, Syarat, Ketentuan Dan Aturan Yang Patut

Anda Ketahui Dalam Memahami Ayat-Ayat Al-Qur’an (Tangerang: Lentera Hati, 2013), 61.

23 Imam Abi al-Fida’ al-Hafidz ibn Katsir ad-Damsyiqi, Tafsir al-Qur’anul

(15)

Berbeda dengan Ibn Katsir, as-Suyuti dalam menafsirkan ayat ini lebih menyoroti pada sajadah yang terkandung dalam ayat ini beserta kesunnahan untuk melakukan sujud tilawah bagi yang membaca dan mendengar ayat ini. Penafsiran yang digunakan oleh as-Suyuti menggunakan hadits dan qoul sahabat. Contoh penafsiran as-Suyuti pada ayat ini adalah ‚Ibn Abi Syaibah meriwayatkan dari Abil ‘Uryan al-Muja Syi’ie dari Ibn Abbas bahwasanya beliau menyebutkan Sajdatil qur’an itu adalah al-A’rof, ar-Ro’du, an-Nahl, Bani Isro’il, Maryam, al-Hajj, an-Naml, al-Furqon, Alif Lam Mim Tanzil, Hamim Tanzil dan Shod‛.24

Dari dua penafsiran tersebut, jelaslah bahwa ayat ini mengandung kesunnahan untuk melakukan sujud tilawah bagi orang yang membaca atau mendengarnya. Penafsiran as-Suyuti dalam menafsirkan ayat ini terlihat seperti bukan penafsiran, karena beliau tidak menjelaskan sedikitpun penafsiran ayat ini. Beliau hanya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan ayat sajadah yang mengharuskan seseorang melakukan sujud tilawah. Seharusnya, beliau menjelaskan terlebih dahulu penafsiran ayat tersebut, baru kemudian beliau menjelaskan sajadah (kesunnahan untuk melakukan sujud tilawah), sebagaimana yang dilakukan oleh Ibn Katsir.

Kedua, penafsiran QS. al-Ra’d ayat 15. Penafsiran Ibn Katsir pada ayat ini adalah dengan menjelaskan bahwa Allah SWT. memberi tahu hamba-hambaNya tentang keagungan dan kekuasaanNya yang meliputi segala sesuatu, sehingga segala sesuatu

24 Jalaluddin as-Suyuti. Tafsir ad-Durrul Mansur fi Tafsir bil Ma’tsur, Jus 6,

(16)

itu tunduk kepada-Nya, baik dengan sukarela (bagi orang-orang mu’min) maupun dengan terpaksa (bagi orang-oarang kafir).25

Pada ayat ini, penafsiran as-Suyuti hampir sama dengan penafsiran Ibn katsir, bahwa semua benda bersujud kepada Allah, baik dengan sukarela ataupun terpaksa. Bersujud dengan sukarela bagi seluruh makhluk kecuali orang kafir, mereka bersujud dengan terpaksa, tetapi bayangan mereka bersujud kepada Allah dengan sukarela.26

Dua mufassir (Ibn Katsir dan as-Suyuti) ini sepakat dalam menafsirkan ayat tersebut. Mereka sama-sama mengatakan bahwa ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah bahwa semua makhluk bersujud kepada Allah karena taat kepada Allah kecuali orang kafir yang bersujud karena terpaksa sekalipun bayangan mereka bersujud karana taat. Dalam dua penafsiran di atas, tidak ditemukan penjelasan mengenai sajadah ayat tersebut yang mengharuskan pembaca atau pendengar ayat ini untuk melakukan sujud tilawah. Sekalipun pada ayat ini dua mufassir tersebut tidak menjelasakan adanya sajadah yang terkandung di dalamnya, namun pada penjelasan ayat sebelumnya, yakni pada QS. al-A’raf ayat 206, telah disebutkan oleh as-Suyuti bahwa ayat ini termasuk ayat sajadah.

Ketiga, penafsiran QS. an-Nahl ayat 49-50. Menurut Ibn Katsir, dalam ayat ini Allah SWT memberi tahu tentang keagungan, keperkasaan dan kekuasaanNya, kepada-Nyalah tunduk segala sesuatu, baik makhluk yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa, manusia, jin dan semua

25 Imam Abi al-Fida’ al-Hafidz ibn Katsir ad-Damsyiqi, Tafsir al-Qur’anul

adzim, jus 2, 479.

(17)

makhluk berpasrah dan menyerah kepadaNya. Semua benda yang mempunyai bayangan, bayangan itu bersujud dengan cara berbolak-balik ke kanan dan ke kiri. Demikian pula segala apa yang ada di langit dan semua yang ada di bumi bersujud kepada Allah seraya merendah dan tidak menyombongkan diri. Para malaikatNya bersujud seraya takut kepada Allah dan mereka mengerjakan segala apa yang diperintahkan kepada mereka dan menjauhi segala yang dilarang untuk mereka.27

Keempat, penafsiran QS. al-Isrâ’ ayat 109. Pada ayat sebelumnya, Allah memerintahkan kepada nabi Muhammad untuk mengatakan pada orang-orang yang inkar pada Qur’an, bahwa al-Qur’an adalah wahyu dari Allah. Dalam surat al-Isrâ’ ayat 109 ini, Ibn Katsir mengatakan bahwa Allah menceritakan keadaan mereka (para ahli kitab) yang mengetahui tentang kebenaran al-Qur’an. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa apabila mereka mendengar bacaan al-Qur’an, mereka menyukur atas muka mereka seraya bersujud syukur kepada Allah karena mereka telah dikaruniai kesempatan hidup hingga mereka dapat menyaksikan kenyataan turunnya al-Qur’an yang telah diberitakan dalam kitab-kitab terdahulu. Mereka bersujud di atas muka mereka dalam keadaan khusyuk dan berserah diri seraya mengucapkan ‚Maha Suci Tuhan kami yang Maha Kuasa, janji-janjinya pasti ditepati dan terlaksana.28

Pada ayat ini, penafsiran as-Suyuti berbeda dengan Ibn Katsir. As-Suyuti menafsirkan ayat ini dengan menggunakan hadits yang

27 Imam Abi al-Fida’ al-Hafidz ibn Katsir ad-Damsyiqi, Tafsir al-Qur’anul

adzim, jus 2, 542

2828 Imam Abi al-Fida’ al-Hafidz ibn Katsir ad-Damsyiqi. Tafsir al-Qur’anul

(18)

diriwayatkan oleh Imam Hakim at-Tirmidzi yang meriwayatkan dari Imam Nadlar ibn Zaid, beliau berkata ‚Rasulullah bersabda apabila seorang hamba menangis maka Allah akan menyelamatkannya dari api neraka disebabkan tangisannya, dan tidaklah dari setiap perbuatan seorang hamba kecuali ada timbangan dan balasan, kecuali tangisannya. Karena tangisan itu dapat memadamkan lautan api neraka, dan tidaklah setiap mata yang penuh dengan air matanya dikarenakan takut karena Allah kecuali Allah mengharamkan jasadnya dari api neraka‛29

Kelima, penafsiran QS. Maryam ayat 58. Dalam tafsir Ibn Katsir disebutkan bahwa as-Sudiy dan Ibn Jarir berkata, yang dimaksud dengan nabi dari keturnan Adam adalah nabi Idris, nabi dari keturunan yang diangkat bersama nabi Nuh adalah nabi Ibrahim, sedangkan yang dimaksud dengan nabi-nabi keturunan Ibrahim adalah Ishaq, Ya’qub dan Isma’il dan dari keturunan Isma’il adalah Musa, Harun, Zakaria, Yahya dan Isa putra Maryam. Mengenai penafsiran ayat ini, Ibn Katsir menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah menjelaskan, ‚apabila mereka (para nabi tersebut) mendengar firman Allah yang mengandung keterangan-keterangan, hujjah dan dalil-dalil, mereka bersujud sebagai tanda berserah diri dan rasa syukur terhadap nikmat-nikmat besar yang telah dianugerahakan Allah kepada mereka. Berdasar pada hal tersebut, ulama’ sepakat atas disyari’atkannya sujud tilawah pada ayat ini untuk mengikuti jejak mereka.30

29 Jalaluddin as-Suyuti, Tafsir ad-Durrul Mansur Jus 9, 459-460.

30 Imam Abi al-Fida’ al-Hafidz ibn Katsir ad-Damsyiqi. Tafsir al-Qur’anul

(19)

Penafsiran dan Analisis Ayat-Ayat Sajadah Dengan Redaksi Insya’i

(Perintah)

Dalam lima belas ayat yang disebut sebagai ayat sajadah, terdapat beberapa ayat yang redaksinya menggunakan perintah langsung untuk bersujud kepada Allah. Pertama, penafsiran QS. Fushshilat ayat 37-38 yang berbunyi: ‚Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan.janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang kamu hendak sembah. Jika mereka menyombongkan diri, Maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.‛

Ibn Katsir menjelaskan bahwa dalam ayat ini, Allah mengingatkan kepada makhluk-Nya akan kekuasaan-Nya yang agung dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah menciptakan malam dengan kegelapannya dan siang dengan terangnya, Keduanya bergiliran dan tidak terpisah. Allah menciptakan matahari dengan sinarnya dan bulan dengan cahayanya serta telah ditentukan perbedaan perjalanan keduanya. Perbedaan perjalanan keduanya ini dapat menjadi petunjuk akan perubahan siang, malam, minggu, bulan dan tahun serta dapat mengetahui waktu-waktu, baik waktu untuk beribadah maupun waktu untuk bekerja. Matahari dan bulan merupakan benda yang paling bagus di alam ini, namun Allah mengingatkan bahwa dua benda tersebut hanyalah makhluk Allah, janganlah menyembah keduanya, karena menyembah keduanya

(20)

berarti menyekutukan Allah dan Allah tidak akan mengampuni dosa orang-orang yang menyekutukan Allah. Allah juga berfirman dalam ayat ini, bahwa para malaikat tidak pernah jemu untuk memuji Allah.31

As-Suyuti menjelaskan ayat ini menggunakan hadits dari Imam Abu Ya’la dan ibn Mardawiyah yang meriwayatkan dari Jabir: Rasulullah saw bersabda: janganlah kalian mengumpat atau mencela malam dan siang, dan jangan pula mengumpat matahari, bulan, dan angin, karena sesungguhnya dengan itu semua diutus rahmat bagi suatu kaum dan adzab bagi suatu kaum yang lain. As-Suyuti juga menjelaskan akan adanya sajadah dalam ayat ini melalui perkataan Imam ibn Abi Syaibah, Imam Hakim dan Imam Baihaqi dalam kitab sunannya dari jalan Said ibn Jabir meriwayatkan dari ibn Abbas, sesungguhnya beliau (ibn Abbas) bersujud di akhir kedua ayat dari ‚hâmim sajadah‛, sedangkan ibn Mas’ud bersujud pada ayat yang pertama dari kedua ayat tersebut.32

Dari kedua penafsiran di atas disimpulkan bahwa penciptaan matahari dan bulan memberikan banyak faidah bagi manusia. Salah satu faidahnya adalah dapat mengetahui waktu-waktu dan dapat mengetahui pergantian siang dan malam, hari, bulan dan tahun. Sekalipun matahari dan bulan sangat berguna bagi makhluk, namun dalam ayat ini jelas Allah melarang untuk menyembah keduanya, karena keduanya hanya makhluk yang apabila disembah akan menyebabakan kemusyrikan. Dalam ayat ini sangat jelas bahwa Allah memerintahkan makhlukNya untuk menyembah Allah dan melarang

31 Imam Abi al-Fida’ al-Hafidz ibn Katsir ad-Damsyiqi, Tafsir al-Qur’anul

adzim, Juz 4, 92.

(21)

untuk menyembah selain Allah. As-Suyuti menjelaskan bahwa ayat ini termasuk ayat sajadah lewat hadits yang beliau gunakan untuk menafsirkan ayat ini.

Kedua, penafsiran QS. an-Najm ayat 62. Ibn katsir menafsirkan ayat ini dengan tafsiran, ‚tunduklah kamu sekalian kepada Allah dan murnikanlah jiwamu untuk Allah serta Esa-kanlah Allah‛.33 Sejalan dengan Ibn Katsir, as-Suyuti juga memberikan penafsiran demikian pada ayat ini melalui perkataan Abdu ibn Hamid dan ibnul Mundzir yang meriwayatkan dari Imam Qatadah dalam firman Allah:

‚fasjuduu lillahi wa’buduu‛. Beliau berkata: keraskanlah wajah ini kepada Allah dan leburkan dalam taat kepada Allah. As-Suyuti juga meletakkan hadits tentang kesunnahan melakukan sujud tilawah pada ayat ini. Hadits tersebut dari Imam Ahmad, Imam Nasai, Imam Hakim dan Imam ibn Mardawiyah yang meriwayatkan dari al-Muthalib ibn Abi Wada’ah beliau berkata: Nabi SAW. di Makkah membaca surah an-Najm dan beliau bersujud serta bersujud pula orang-orang yang ada di sampingnya.34

Dilihat dari dlahir ayat ini, sudah jelas bahwa ayat ini merupakan ayat yang memerintah manusia untuk bersujud dan beeribadah kepada Allah. Bersujud dan beribadah kepada Allah merupakan kewajiban manusia kepada Allah, karena dengan kehendak dan kuasa Allah manusia dapat hidup dan menikmati nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka.

Ketiga, penafsiran QS. al-‘Alaq ayat 19. Menurut Ibn Katsir, dalam ayat ini Allah memerintah kepada nabi untuk tidak mengikuti

33 Imam Abi al-Fida’ al-Hafidz ibn Katsir ad-Damsyiqi, Tafsir al-Qur’anul

adzim, Juz 4, 238.

(22)

larangan Abu Jahal yang melarang nabi untuk melakukan shalat di depan Ka’bah dekat makam Ibrahim. Allah berfirman kepada nabi untuk melakukan shalat dimana saja yang nabi kehendaki dan jangan menghiraukan Abu Jahal karena Allah akan senantiasa melindungi nabi. Allah juga memerintahkan kepada nabi untuk senantiasa bersujud kepada Allah dan mendekatkan diri kepadaNya dengan ibadah dan amal shaleh.35

As-Suyuti menjelskan khitob dari ayat inimenggunaka penjelasan dari Ibn Abi Hatim yang meriwayatkan dari Zaid ibn Aslam beliau berkata: dalam firman Allah ‚wa-usjud‛, hai Muhammad, ‚wa-iqtarib‛, kamu wahai Abu jahal, Dia (Allah) mengancamnya. As-Suyuti melengkapi penjelasannya menggunakan penjelasan dari Abdur-Razaq, Said ibn Manshur dan ibn Mundzir meriwayatkan dari Imam Mujahid beliau berkata: paling dekatnya keberadaan seorang hamba dari Tuhannya adalah ketika dia sedang sujud; apakah kalian tidak mendengarnya bahwa Dia (Allah) berfirman: ‚was-jud wa-iqtarib‛.36

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada nabi Muhammad untuk tetap melakukan ibadah kepada Allah di depan ka’bah dan jangan menghiraukan ancaman Abu Jahal yang melarang nabi untuk melakukan shalat di depan ka’bah. Dari penjelasan as-Suyuti ada pendapat yang perlu digarisbawahi untuk dijadikan pecut bagi setiap insan yang ingin selalu dekat kepada Allah, yakni dengan senantiasa bersujud kepada Allah, karena paling dekatnya hamba dengan Tuhannya adalah ketika dia bersujud.

35 Imam Abi al-Fida’ al-Hafidz ibn Katsir ad-Damsyiqi, Tafsir al-Qur’anul

adzim, Juz 4, 497.

(23)

Keempat, penafsiran QS. al-Hajj ayat 77. Mengenai ayat ini, Ibn Katsir menjelaskan bahwa Dalam ayat ini Allah menyeru kepada orang-orang yang beriman agar senantiasa melakukan ruku’, sujud serta senantiasa melakukan amal-amal yang shaleh. Seruan ini bertujuan agar mereka mendapat kemenangan duniawi dan ukhrawi.37

Menurut as-Suyuti ayat ini berisi tentang tatakrama dan nasihat bagi orang-orang yang beriman. Pendapat tersebut berasal dari Ibn Abi Hatim yang meriwayatkan dari Imam Mujahid dalam firman Allah

‚yâ ayyuhal-ladzina amanû irka’û‛. Beliau berkata: sesungguhnya ini adalah tatakrama dan nasihat.38

Orang-orang beriman yang ingin mendapatkan kemenangan

duniawi dan ukhrawi hendaklah mereka senantiasa melakukan ruku’ sujud’ serta senantiasa melakukan amal-amal shaleh sebagaimana yang telah dijelasskan oleh Ibn Katsir dalam penafsiran ayat tersebut. Hal ini juga yang mungkin dimaksud dengan nasehat menurut al-Sututhi.

Simpulan

Dari hasil paparan dan analisis yang telah diuraikan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Pertama, fenomena ayat-ayat sajadah dalam al-Qur’an adalah lafadz yang digunakan dalam ayat-ayat tersebut berbeda-beda, yakni menggunakan kalam insya’

dan kalam khabar. Sekalipun ayat tersebut menggunakan kalimat yang berbeda, namun perlakuan istimewa terhadap ayat ini, yakni melakukan sujud tilawah bagi orang yang membaca dan

37 Imam Abi al-Fida’ al-Hafidz ibn Katsir ad-Damsyiqi, Tafsir al-Qur’anul

adzim, Juz 3, 222.

(24)

mendengarnya, tetap disunnahkan tanpa melihat perbedaan katanya.

Kedua, Perbedaan dan persamaan lafadz yang digunakan dalam ayat-ayat sajadah tidak menghilangkan eksistensi kandungan yang terdapat di dalamnya, yakni perintah untuk melakukan sujud kepada Allah. Bahkan, perintah untuk melakukan sujud yang terdapat dalam ayat sajadah yang menggunakan kalam khabar (berita) lebih tegas daripada perintah untuk bersujud yang terkandung dalam ayat yang menggunakan kalaminsya’ yang berupa amar (perintah).

Daftar Pustaka

Ad-Damsyiqi, Imam Abi al-Fida’ al-Hafidz ibn Katsir. Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adzim, Bairut: Darul Qutub al-Ilmiyah, 1971.

Al-Farmawi, Abd. Al hay. Metode Tafsir Mawdhu’iy, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996.

Al-Munajjid, Muhammad Sâlih. Praktik Khusyuk 33 Kiat Shalat Yang Sempurna Dan Diterima. Jakarta: PT. Mizan Publika, 2013.

Anwar, Rosihon. Melacak Unsur-unsur Israiliyat Dalam Tafsir Ath-Thabari dan Tafsir Ibn Katsir. Bandung: CV Pustaka Setia, 1999.

As-sidhan, Abdul Aziz bin Muhammad dan Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. at-Tibyan fi Sajdatil Qur’an. Riyadh: Darul Manar, 1989.

As-Suyuti, Jalaluddin. Tafsir al-Durru al-Mantsûr fî Tafsîr bi al-Ma’tsûr, Pdf, Qahirah: TP, 2003.

Asy-Syafi’i, Abi Zakaria Yahya Bin Syarifuddin An-Nawawi.

(25)

Bisri, A. Mostofa. Fiqih Keseharian Gus Mus. Surabaya: Khalista, 2006.

Fathurrosyid, Kisah Nabi Sulaiman AS dan Ratu Balqis dalam Al-qur’an (Kajian Structuralisme-Semiotik). Tesis: Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya 2011.

Ghofur, Saiful Amin. Profil Para Mufasir Al-Qur’an,

Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2008.

Hasbullah, Abu Muhamma ibnu Shalih. Fikih Tiga Sujud, Sujud Sahwi Sujud Tilawah, Sujud Syukur. Pustaka Ibnu Umar, tt.

Ibn Majah, Al-Hafidz abi Abdillah Muhammad bin Yazid al-Qazwini. Sunan ibn Majah juz 01, Indonesia: Maktabah Dahlan, tt.

Imam Al-Bukhari. Shahih Bukhari. Semarang: Karya Toha Putra, tt.

Kau, Sofyan A.P. Metode Penelitian Hukum Islam Penuntun Praktis untuk Penulisan Skripsi dan Tesis. Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2013.

Mahalli, Ahmad Mujab. Hadits-Hadits Ahkam Riwayat As-Syafi’ie.Jilid 1.Jakarta; PT. raja Grafindo Persada, 2003.

Mahmud, Mani’ Abdul Halim. Metodologi Tafsir, Kajian Komprehensif Metode Para Ahli Tafsir. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006.

Maimun, Ach. Dkk. Pedoman Penulisan Skripsi Jurusan Tafsir Hadits Fakultas UshuluddinInstitut Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk-guluk Sumenep, Sumenep: Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, 2011.

(26)

Nurhaedi, Dadi. Studi Kitab Tafsir. Yogyakarta: Teras, 2004. Prastowo, Andi. Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media 2012.

Sabiq, Sayyid. Fikih Sunnah 2, Penerjemah, Mahyuddin Syaf, Bandung: PT. Alma’arif, 1976.

Sabiq, Sayyid. Fiqih Sholat, Panduan Lengkap Sholat Seperti Nabi. Bandung: Jabal 2012.

Shalikin, Muhammad. Panduan Shalat Lengkap dan Praktis. Jakarta: Erlangga, 2012.

Shihab, Quraish. Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan, dan Aturan Yang Patut Anda Ketahui Dalam Memahami Ayat-Ayat Al-Qur’an,

Tangerang: Lentera Hati, 2013.

Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif dan R&D.

Bandung: Alfabeta 2011.

Suyadi. Libas Skripsi Dalam 30 Hari. Jogjakarta: Diva Press, 2011.

Yusuf, Waqid. Dkk. SKIA (Syarat-Syarat Kecakapan Ibadah Amaliyah). Sumenep: Pondok Pesantren Annuqayah, 2010.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...