• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter Ja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter Ja"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

i

i1

i2

Ms2 Ms1

Kuantitas Uang, M Md

MEKANISME TRANSMISI KEBIJAKAN MONETER MELALUI JALUR SUKU BUNGA

Jalur suku bunga pada dasarnya merupakan pandangan Keynesian dimana suku bunga riil

jangka panjang paling berpengaruh dalam perekonomian dan dapat dijelaskan dengan skema

IS-LM. Pandangan tradisional IS-LM Keynesian tentang mekanisme transmisi moneter dapat ditandai

dengan skema berikut ini yang menunjukkan efek dari kontraksi moneter:

M ↓>i ↑>I ↓>Y ↓

Dimana M ↓ menunjukkan kebijakan moneter yang kontraksi, misalnya bank sentral

menggunakan atau menerapkan instrumen moneter berupa penjualan SBI (Sertifikat Bank

Indonesia). Dengan adanya penjualan SBI, maka JUB (Jumlah Uang Beredar) akan berkurang.

Kebijakan moneter yang kontraksi ini menyebabkan peningkatan suku bunga riil (i↑) , karena

uang di Bank-Bank maupun masyarakat akan menjadi langka. Bagi pengusaha hal ini akan

meningkatkan biaya modal, sehingga menyebabkan penurunan pengeluaran untuk investasi (I ↓)

, yang pada akhirnya akan mengarah pada penurunan permintaan agregat dan penurunan output

(Y ↓) .

(2)

i

i1

i2

I1 I

I2

I

C, I

Y1 Y2 Y

C+1

C= a + b

Jika bank sentral membuat kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang beredar (

M ↓ ), maka hal ini akan menggeser kurva Mskekiri, dari Ms1 ke Ms2. Kebijakan moneter yang

kontraksi ini akan meningkatkan keseimbangan suku bunga riil dari i1ke i2.

Suku bunga yang meningkat dari i1 ke i2 akan meningkatkan biaya modal, sehingga

murunkan tingkat ivestasi dari I1ke I2.

(3)

i

Dampak terhadap kurva LM & kurva permintaan agregat (Aggregate Demand).

Kurva diatas menunjukkan bahwa dalam kondisi kebijakan moneter yang kontraksi

(kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang beredar) akan menggeser kurva Mskekiri, dari

Ms1 ke Ms2. Kebijakan moneter yang kontraksi mengarah kepada peningkatan keseimbangan suku

bunga riil dari i1ke i2, suku bunga yang meningkat akan menggeser kurva LM kekiri dari LM1ke

LM2. Dan apabila kita kaitkan dengan kurva aggregate demand, maka dapat kita lihat dampak yang

dihasilkan dari pergeseran kurva LM kekiri akan berdampak pada peningkatan harga dan pada

(4)

i

Sebaliknya, jika kebijakan moneter ekspansif, maka efeknya sebagai berikut :

M ↑>i ↓>I ↑>Y ↑

Dimana M ↑ menunjukkan kebijakan moneter yang ekspansif, sebagai contoh bank

sentral menggunakan atau menerapkan instrumen moneter berupa pembelian SBI. Dengan adanya

pembelian SBI, maka JUB akan bertambah. kebijakan moneter yang ekspansif ini menyebabkan

penurunan suku bunga riil (i↑) , karena uang di Bank-bank maupun masyarakat bertambah. Bagi

pengusaha hal ini akan menurunkan biaya modal, sehingga menyebabkan peningkatan pengeluaran

untuk investasi (I ↓) , yang pada akhirnya akan mengarah pada peningkatan permintaan agregat

dan peningkatan output (Y ↓) .

(5)

Kurva diatas menunjukkan bahwa dalam kondisi kebijakan moneter yang ekspansif

(kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang beredar) akan menggeser kurva Mskekanan, dari

Ms1 ke Ms2. Kebijakan moneter yang ekspansif mengarah kepada penrunan keseimbangan suku

bunga riil dari i1ke i2, suku bunga yang menurun akan menggeser kurva LM kekanan dari LM1ke

LM2 dengan asumsi harga P tetap. Dan apabila kita kaitkan dengan kurva aggregate demand,

dengan asumsi harga P tetap, maka dapat kita lihat dampak yang dihasilkan dari pergeseran kurva

Referensi

Dokumen terkait

Menganalisis besar kecepatan atau time lag dan kekuatan variabel: suku bunga Deposito, Cadangan Bank, Kredit yang diberikan, Output Gap pada jalur kredit perbankan

Tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaruh variabel suku bunga SBI, suku bunga PUAB, Money Supply (M2),