Hasil analisis ini menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara kebijakan moneter yang diterapkan bank sentral dengan risiko di sektor keuangan khususnya perbankan. Selanjutnya, Borio (2008) menunjukkan pentingnya menganalisis saluran pengambilan risiko dalam mekanisme transmisi kebijakan moneter. 3 Credit line dalam mekanisme transmisi kebijakan moneter pertama kali dikembangkan oleh Bernanke dan Blinder (1988).
Saluran transmisi kebijakan moneter melalui kredit perbankan yang telah dikemukakan sepengetahuan penulis meliputi saluran likuiditas (Diamond dan Rajan, 2006), Saluran Bank Capital (Van der Hauvel, 2007), saluran pengambilan risiko (Borio, 2008). dan Adrian dan Shin, 2009). Di sisi lain, kebijakan moneter yang ketat untuk mengkontraksi perekonomian melalui jalur kredit perbankan menjadi tidak efektif jika berinteraksi dengan variabel persepsi risiko pelaku ekonomi dan tingkat risiko di sektor perbankan. Pengembangan model risiko jalur kredit dalam mekanisme kebijakan moneter yang dikemukakan Disyatat (2010) juga memberikan kesimpulan yang relatif sama dengan model yang dikemukakan Freixas dan Jorge (2008).
METODOLOGI
Dampak Riil Risiko Perbankan dan Kebijakan Moneter pada Perekonomian Berdasarkan kajian teoritis menunjukan bahwa kebijakan moneter memiliki dampak riil
Kesimpulan dari model ini menunjukkan bahwa peran pinjaman bank dalam transmisi kebijakan moneter cukup penting dalam perekonomian, meskipun peran sektor keuangan non bank telah berkembang sebagai alternatif sumber dana investasi selain bank. Selanjutnya, perubahan kredit jangka pendek dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya, indikator risiko sektor perbankan dan persepsi pelaku terhadap risiko di sektor perbankan, interaksi antara risiko perbankan dan persepsi risiko pelaku perbankan dengan stance kebijakan moneter. indikator. Untuk mengestimasi persamaan (II.12), diperlukan indikator variabel risiko bank dan variabel pemeliharaan kebijakan moneter.
Sedangkan untuk indikator stance kebijakan moneter digunakan selisih antara suku bunga optimal untuk kebijakan moneter (menurut hasil perhitungan empiris untuk Indonesia) dan suku bunga aktual. Jika kebijakan moneter terlalu ketat, suku bunga aktual akan lebih tinggi dari perkiraan suku bunga optimal, dan. Jika tingkat bunga aktual sama dengan perkiraan tingkat bunga optimal, ini berarti kebijakan moneter bersifat netral.
Estimasi suku bunga kebijakan moneter menggunakan Taylor Monetary Policy Rules, dimana model ini dan variasinya juga digunakan oleh Bank Indonesia untuk menganalisis kebijakan moneter di Indonesia. Pengujian hipotesis penelitian tentang pengaruh variabel persepsi risiko pelaku di sektor perbankan terhadap dinamika jangka pendek kredit perbankan yang berinteraksi dengan stance kebijakan moneter dapat digunakan: Dengan menggunakan nilai rata-rata variabel risiko dalam sampel yang digunakan , hasil estimasi dampak dari stance kebijakan moneter diperoleh dampak dari stance kebijakan moneter ketika nilai variabel risiko sama dengan rata-ratanya.
Pengujian hipotesis dampak dari stance kebijakan moneter juga dapat menggunakan teknik yang sama dengan pengujian dampak variabel risiko yang telah dijelaskan sebelumnya. Apabila hasil pengujian dampak parsial dari stance kebijakan moneter yang berinteraksi dengan variabel risiko signifikan, hal ini menunjukkan bahwa terdapat bukti adanya mekanisme transmisi kebijakan moneter melalui jalur risiko dalam perekonomian Indonesia selama periode analisis.
Indikator Perilaku Risiko di Sektor Perbankan
Di mana U adalah utilitas, r adalah pengembalian portofolio, A adalah indeks penghindaran risiko bank, dan σc2 adalah varian pengembalian aset. Selain menggunakan indikator persepsi risiko yang telah dijelaskan di atas, penelitian ini juga menggunakan indikator risiko lainnya yaitu indikator tingkat risiko di sektor perbankan. Dengan menggunakan konsep ini, risiko suatu perusahaan (termasuk bank) dapat diidentifikasi dengan menggunakan informasi tentang seberapa jauh hubungan antara nilai pasar aset bank dan kewajiban bank yang ada dan kondisi gagal bayar yang terjadi.
DD menunjukkan berapa standar deviasi yang merupakan deviasi dari nilai rata-rata yang dipersyaratkan oleh rasio antara nilai pasar aset dan liabilitas untuk perusahaan yang default atau cenderung default (Vassalou dan Xing, 2004). Bank merupakan salah satu jenis usaha dengan aturan yang sangat ketat serta struktur aktiva dan pasiva yang berbeda dengan usaha pada umumnya. Sebuah bank akan memiliki kewajiban yang jauh lebih besar daripada perusahaan lain karena mengelola dana dari masyarakat.
Implikasinya persamaan (II.24) bukan lagi jarak ke default value, melainkan jarak ke modal yang merupakan ukuran solvabilitas bank. Terlihat bahwa perilaku risiko pelaku ekonomi (indikator risk aversion) dan tingkat risiko di sektor perbankan (distance to default √√inverse) cenderung rendah ketika risk premium yang diperkirakan dengan selisih antara suku bunga pinjaman dan suku bunga kebijakan (SBI 1 bulan), tinggi dan sebaliknya. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pelaku ekonomi di sektor perbankan akan merespon pengetatan kebijakan moneter dengan mengalokasikan dana kelolaannya pada portofolio yang relatif lebih berisiko.
Sedangkan pada saat suku bunga kebijakan moneter cenderung rendah, premi risiko yang tinggi mampu meredam pengaruh persepsi risiko yang tinggi terhadap perilaku mereka dalam alokasi dana kelolaan.
Indikator Stance Kebijakan Moneter
Selain itu, berdasarkan hasil estimasi tersebut, dapat dilihat tingkat suku bunga yang disarankan oleh aturan Taylor. Sementara itu, stance kebijakan moneter merupakan selisih antara tingkat bunga aktual dengan tingkat bunga yang diperoleh dari aturan Taylor. Beberapa ekonom menggunakan bentuk lain sebagai ukuran sikap kebijakan moneter berdasarkan aturan Taylor.
Dalam hal ini, perbedaan suku bunga aktual dalam kisaran +/- 25 basis poin dianggap mencerminkan sikap kebijakan yang normal, sedangkan perbedaan yang lebih besar/lebih kecil dari kisaran tersebut mencerminkan sikap kebijakan yang cenderung ketat/longgar. .
HASIL DAN ANALISIS
Dampak Perilaku Risiko pada Dinamika Kredit Jangka Pendek
Hasil perhitungan dan uji statistik menunjukkan bahwa pada saat kebijakan moneter longgar terdapat pengaruh persepsi yang signifikan. Kebijakan moneter ketat Kebijakan moneter ketat Kesalahan standarKesalahan standarKesalahan standarKesalahan standarKesalahan standar t-hitung-hitungan-hitungan-hitungan. Selama kebijakan moneter ketat, hanya pengaruh variabel tingkat risiko sektor perbankan dalam model kredit modal kerja yang signifikan.
Secara ekonomi, ketika berinteraksi dengan kebijakan moneter yang longgar, jika terjadi peningkatan persepsi risiko pelaku ekonomi di sektor perbankan, maka akan menurunkan persentase perubahan kredit yang diberikan untuk kedua jenis kredit tersebut, ceteris paribus. Kecuali dampak risiko sektor perbankan terhadap kredit modal kerja, pengaruh variabel risiko tidak signifikan terhadap dinamika jangka pendek kredit yang diberikan perbankan pada saat kebijakan moneter ketat. Penjelasan atas kondisi ini adalah bahwa kebijakan moneter yang bersifat countercyclical menunjukkan ekonomi booming ketika kebijakan diterapkan secara ketat, sedangkan persepsi risiko oleh pelaku ekonomi dan tingkat risiko di sektor perbankan cenderung rendah ketika ekonomi sedang booming.
Hasil ini menunjukkan bahwa dampak perilaku pengambilan risiko memiliki dampak non-linier ketika kebijakan moneter ketat, atau perilaku pengambilan risiko dapat diduga mempengaruhi dinamika kredit jangka pendek jika melebihi nilai ambang batas tertentu (Li dan St- Amant, 2010). Mengenai dinamika modal kerja, dampak terhadap tingkat risiko di sektor perbankan cukup signifikan dan dampak terhadap persepsi risiko perilaku ekonomi dapat diabaikan ketika kebijakan moneter longgar atau ketat. Hal ini menunjukkan perilaku penawaran kredit yang cenderung menurun pada saat perekonomian mengalami tekanan (ketika kebijakan moneter diterapkan secara longgar), sedangkan kebijakan moneter ketat, kenaikan suku bunga kredit perbankan menurunkan tingkat permintaan dari pelaku usaha. untuk menarik pinjaman untuk modal kerja.
Pada saat kebijakan moneter ketat, tingkat risiko di sektor perbankan hanya signifikan untuk model kredit modal kerja. Persepsi risiko oleh pelaku ekonomi di sektor perbankan tidak signifikan untuk semua jenis kredit dalam kondisi politik yang ketat, sedangkan dampak dalam kebijakan moneter yang longgar berdampak signifikan terhadap kredit konsumsi dan kredit investasi.
Dampak Stance Kebijakan Moneter pada Dinamika Kredit Jangka Pendek Berdasarkan hasil estimasi yang disampaikan dalam Tabel 1, hasil perhitungan untuk
Implikasi temuan empiris terhadap dampak pengetatan kebijakan moneter adalah kontraksi moneter yang berinteraksi dengan dua variabel perilaku risiko yang digunakan tidak mempengaruhi dinamika kredit jangka pendek untuk ketiga jenis kredit yang diberikan perbankan. Temuan empiris ini tidak sesuai dengan teori bahwa kebijakan moneter mempengaruhi variabel risiko yang secara signifikan mempengaruhi dinamika kredit jangka pendek. Temuan ini menunjukkan adanya pengaruh variabel risiko yang meniadakan peran kebijakan moneter dalam kontraksi perekonomian.
Kebijakan moneter kontraktif dilakukan pada saat perekonomian sedang booming, sementara persepsi risiko pelaku ekonomi dan tingkat risiko di sektor perbankan pada saat yang sama rendah. Temuan empiris ini menunjukkan bahwa meskipun bank sentral menerapkan kebijakan moneter ketat, namun tidak cukup ketat untuk mengontraksi perekonomian melalui penurunan pertumbuhan kredit perbankan. Selanjutnya, ketika kebijakan moneter longgar berinteraksi dengan variabel perilaku risiko, maka berdampak negatif dan signifikan terhadap ketiga jenis kredit yang diberikan oleh bank.
Temuan empiris ini sesuai dengan teori bahwa terdapat pengaruh signifikan kebijakan moneter longgar yang berinteraksi dengan variabel perilaku risiko. Pada saat kebijakan moneter ekspansif (diberlakukan dengan tujuan untuk menstimulasi perekonomian yang tertekan), persepsi risiko pelaku ekonomi dan tingkat risiko di sektor perbankan secara umum tinggi (rata-rata tinggi pada periode analisis). Akibatnya, pelonggaran kebijakan moneter tidak dapat merangsang perekonomian dengan meningkatkan pinjaman bank, tetapi memiliki efek sebaliknya dengan menurunkan pertumbuhan kredit, yang pada gilirannya dapat menciutkan perekonomian.
Temuan ini menunjukkan bahwa ketika pelonggaran kebijakan moneter dilakukan oleh bank sentral sebagai upaya untuk merangsang perekonomian, pelaku ekonomi di sektor perbankan cenderung memiliki persepsi risiko yang tinggi. Penjelasan lain yang dapat dikemukakan adalah adanya kecenderungan pelaku ekonomi di sektor perbankan melihat kebijakan moneter longgar sebagai
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI
Adrian, Tobias dan Hyun Song Shin. 2009), Harga dan Kuantitas dalam Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter, International Journal of Central Banking, 5(4). Bank Indonesia, (2010), Respons Kebijakan Moneter di Tengah Krisis Global, Laporan Perekonomian Indonesia 2009, Bank Indonesia. Borio, Claudio dan Haibin Zhu (2008), Capital Regulation, Risk Taking and Monetary Policy: A Missing Link in the Transmission Mechanism?, BIS Working Paper no 268.
Rajan, (2006), Money in Theory of Banking, The American Economic Review, Vol 96 No.1, American Economic Association. Escandon, Julio R, Alejandro Diaz-Bautista, (2000), A Simple Dynamic Model of Credit and Aggregate Demand, El Collegio De La Frontera Norte, Working Paper No.18. Interbankmarkedets rolle i pengepolitikken: En model med rationering, The Journal of Money Credit and Banking, september.
Juhro dan Firman Mochtar (2009), Indonesian Monetary Policy Transmission Mechanisms and the Role of Risk Perception, Research Notes, Bank Indonesia, March. 2009), Is Monetary Policy Effective During the Financial Crisis?, NBER Working Paper No. 1974), on Corporate Debt Pricing: The Risk Structure of Interest Rates, Journal of Finance. Nier, Erlend dan Lea Zicchino, (2008), Bank Losses, Monetary Policy and Financial Stability- Evidence from Interaction in Panel Data,.
Finančni stres, denarna politika in gospodarska dejavnost, delovni dokument Bank of Canada 2010-12, maj. 2009), The Financial Crisis and Monetary Response: An Empirical Analysis of What Went Wrong, NBER Working Paper Series No. Tieman, Alexander F, dan Andrea M Maechler, (2009), The Real Effects of Financial Sector Risk, IMF Working Paper WP /09/198, IMF Washington.