• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Kine

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Kine"

Copied!
135
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA KANTOR PELAYANAN KEKAYAAN NEGARA DAN LELANG

MAKASSAR

S K R I P S I

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar

Sarjana Ekonomi

Disusun dan Diajukan Oleh :

Riska Pratiwi A 211 08 308

JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

(2)

KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Waba rakatuh

Alunan puja puji tak terhingga saya panjatkan kepada pemilik

kesempurnaan diatas segala kesempurnaan kehadirat Allah SWT karena hanya

dengan rahmat dan karunia yang dilimpahkan-Nya penulis dapat menyelesaikan

tugas akhir membuat skripsi, serta satu seruan pencerahan intelektual kepada

Rasulullah Muhammad SAW yang telah terbukti dalam sejarah, mampu

mengubah peradaban manusia dari kegelapan moral intelektual dan membawanya

pada peradaban tinggi di bawah petunjuk Ilahi.

Dalam kesempatan ini penulis menghaturkan ucapan terima kasih yang

mendalam dan tulus teristimewa kepada Ibunda Hilmawati, Ayahanda Amri

Rahman, kedua kakakku Elly dan Ryan, keempat adikku Ippang,Bella,Aulia, dan

Haidir, serta seluruh keluarga besar penulis yang selama ini telah memberikan

dukungan, kasih sayang serta doa untuk kelancaran skripsi penulis. Terima kasih

pula kepada:

1. Kepada Pak Dwi yang selalu memberikan motivasi, bantuan, serta doa

kepada penulis.

2. Kepada Dekan beserta staf, karyawan dan karyawati Fakultas Ekonomi

dan Bisnis Universitas Hasanuddin yang membantu dalam semua

pengurusan kegiatan akademik dan kemahasiswaan. Bapak/Ibu Dosen

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin Makassar atas

(3)

3. Kepada Ibu Dr. HJ. Nurjannah Hamid, SE., M.Agr selaku Dosen

Pembimbing 1 dan Ibu Idayanti, SE, M.Si selaku Dosen Pembimbing 2

yang telah banyak meluangkan waktunya, serta dengan ikhlas

memberikan bimbingan, petunjuk, dan pengarahan kepada penulis.

4. Kepada Bapak Dr. Abdul Rahman Laba, SE.,MBA selaku Penasehat

Akademik.

5. Kepada Bapak Drs. H. M. Natsir Halim, SH., MH. selaku Kepala

KPKNL Makassar yang telah memberikan kesempatan kepada penulis

untuk melakukan penelitian di KPKNL Makassar.

6. Seluruh pegawai Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang

Makassar yang telah banyak memberikan bantuannya pada saat

penelitian. Kak Ida Sukesa, Bapak Agus, Kak idris, Bapak Khoiri,

Bapak Onding, Bapak Syarifuddin, Bapak Baso, Kak Appank, Kak

Charles, serta seluruh keluarga besar Kantor Pelayanan Kekayaan

Negara dan Lelang Makassar yang tidak dapat saya sebutkan

satu-persatu.

7. Ucapan terima kasih juga buat teman-teman angkatan 08 yang selama

ini telah menjalani kuliah dari awal hingga saat ini. Buat

teman-temanku, Astri, Senny, Dian, Fajar , Paey, Edith, Emhy, Ijha, Wulan,

Riza, Setia, Fadli, Iccank dan spesial buat sahabatku CAF Indah, Ria,

Athy, Marni, Ninong, Sri, Marwin, Trie, Wana terima kasih buat

semuanya serta seluruh keluarga besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis

(4)

Akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan, walaupun skripsi ini tidak sempurna

namun semoga dapat memberi manfaat semua pihak yang membutuhkan.

Makassar, 1 Mei 2012

(5)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL……… i

HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING……… ii

HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI………. iii

KATA PENGANTAR……… iv

DAFTAR ISI... … vii

DAFTAR TABEL……….. xi

DAFTAR GAMBAR………. xii

DAFTAR PERSAMAAN……….. xii

ABSTRAK……… xiv

ABSTRACT……… xv

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang……….. 1

1.2. Rumusan Masalah ……… 13

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian………... 13

1.4. Sistematika Penulisan………. 14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Budaya Organisasi………... 16

2.1.1. Pengertian Budaya……… 16

2.1.2. Pengertian Organisasi……… 17

2.1.3. Pengertian Budaya Organisasi……….. 18

2.1.4. Elemen Budaya Organisasi……… 19

(6)

2.1.6. Fungsi Budaya Organisasi………. 21

2.1.7. Karakteristik Budaya Organisasi……… 22

2.1.8. Core ValuesDJKN………. 24

2.2. Kinerja Pegawai………. 26

2.2.1. Pengertian Kinerja………. 26

2.2.2. Pengertian Kinerja Pegawai……… 27

2.2.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja…………..… 27

2.2.3. Unsur-unsur Penilaian Pegawai………. 28

2.3. Manajemen Sumber Daya Manusia……… 30

2.3.1. Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia…………. 30

2.3.2. Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia……… 30

2.4. Penelitian Terdahulu……….. 33

2.4.1. Soedjono (2005)……… 33

2.4.2. Mangarrisan Sinaga (2008)……….. 34

2.4.3. Prima Nugraha S.Sinaga (2009)……… 35

2.4.4. Asfar Halim D (2009)………... 35

2.4.5. Velly Angelia M (2011)……… 36

2.5. Hubungan Budaya Organisasi terhadap Kinerja Pegawai….. 36

2.6. Kerangka Pikir……… 39

(7)

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi Penelitian ………. 41

3.2. Jenis dan Sumber Data ……….. 41

3.2.1. Jenis Data……….. 41

3.2.2. Sumber Data………. 42

3.3. Teknik Pengumpulan Data……… 42

3.4. Populasi dan Sampel………. 43

3.5. Pengukuran Instrumen Penelitian………. 44

3.6. Teknik Analisis Data………. 45

3.6.1. Koefisien Korelasi Product Moment ……… 46

3.6.2. Regresi Linear Sederhana……… 47

3.6.3. Koefisien Determinasi……… 48

3.6.4. Uji Hipotesis Koefisien Regresi Sederhana……… 49

3.7. Definisi Operasional Variabel……… 50

3.7.1. Variabel X ( Budaya Organisasi)……… 50

3.7.2. Variabel Y ( Kinerja Pegawai)……… 53

BAB IV GAMBARAN UMUM INSTANSI 4.1 Sejarah Berdirinya KPKNL Makassar………. 56

4.2. Peran Strategis KPKNL Makassar……… 58

4.3. Visi dan Misi DJKN……….. 61

(8)

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN

5.1. Karakteristik Responden………... 66

5.2. Uji Instrumen Penelitian ……… 71

5.3. Analisis dan Pembahasan Budaya Organisasi pada KPKNL Makassar……….. 74

5.4. Analisis dan Pembahasan Kinerja Pegawai pada KPKNL Makassar………... 83

5.5. Hasil Analisis Regresi Sederhana………... 88

5.6. Hasil Koefisien Determinasi……… 90

5.7. Uji Hipotesis Koefisien Regresi Sederhana (uji t) ……… 91

5.8. Pembahasan Hasil Penelitian………... 93

5.8.1. Budaya Organisasi pada KPKNL Makassar ………….. 93

5.8.2. Kinerja Pegawai pada KPKNL Makassar ………. 103

5.8.2. Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Pegawai pada KPKNL Makassar ……….. 108

BAB VI PENUTUP 6.1. Kesimpulan…..……….……….. 110

6.2. Peran Strategis KPKNL Makassar……….. 111

DAFTAR PUSTAKA……….. 113

(9)

DAFTAR TABEL Tabel

Halaman

2.1. Penelitian Terdahulu……… 36

3.1. Defenisi Operasional Variabel X……… 51

3.2. Defenisi Operasional Variabel Y……… 54

5.1. Jumlah Pegawai KPKNL Makassar……… 66

5.2. Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin……… 67

5.3. Distribusi Responden Menurut Usia……… 68

5.4. Distribusi Responden Menurut Pendidikan………. 69

5.5. Distribusi Responden Menurut Lama Bekerja………. 70

5.6. Hasil Uji Validitas Pernyataan………. 72

5.7. Hasil Uji Reliabilitas Pernyataan………. 73

5.8. Tanggapan Responden Mengenai Budaya Organisasi……… 74

5.9. Tanggapan Responden Mengenai Kinerja Pegawai………. 83

5.10. Koefisien Regresi………. 89

5.11. Koefisien Determinasi………. 90

(10)

DAFTAR GAMBAR Gambar

Halaman

2.1. Kerangka Pikir……….. 39

4.1. Struktur Organisasi KPKNL Makassar………. 62

5.1. Presentase Jawaban Responden Menurut Jenis Kelamin………….. 67 5.2. Presentase Jawaban Responden Menurut Usia……….. 68

5.3. Presentase Jawaban Responden Menurut Pendidikan……… 69

5.4. Presentase Jawaban Responden Menurut Lama Bekerja………… 70 5.5. Presentase Distribusi Jawaban Responden Terhadap

Variabel Budaya Organisasi……….. 77

5.6. Presentase Distribusi Jawaban Responden Terhadap

(11)

DAFTAR PERSAMAAN Persamaan

Halaman

3.1. Uji Validitas……….. ……. 44

3.2. Uji Reliabilitas……….. 45

3.3. Regresi Linear Sederhana………...……… 46

3.4. Nilai a pada Regresi Linear Sederhana……...………. 46

3.5. Nilai b pada Regresi Linear Sederhana ……… 46

3.6. Koefisien Determinasi………. 47

(12)

ABSTRAK

Riska Pratiwi. Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Pegawai

pada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Makassar (Dibimbing oleh

Dr. HJ. Nurjannah Hamid, SE., M.Agr dan Dr. Idayanti, SE.,M.Si).

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh budaya organisasi terhadap

kinerja pegawai pada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Makassar.

Sampel yang digunakan adalah sampel jenuh yaitu mengunakan seluruh anggota

populasi sebagai sampel yang berjumlah 42 orang. Metode pengumpulan data

yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan kuesioner. Data dianalisis

dengan regresi sederhana dengan bantuan software SPSS 16.0 forwindows.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya organisasi berpengaruh

signifikan terhadap kinerja pegawai Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan

Lelang Makassar sebesar 32 % dan 68 % dipengaruhi oleh faktor lain.

(13)

ABSTRACT

Riska Pratiwi. The Influence of Orga nization Culture Toward Employees Performance at Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Makassar (Guided by Dr. HJ. Nurjannah Hamid, SE., M.Agr and Dr. Idayanti, SE.,M.Si).

The objective of this research is to analize organization culture toward employees performance at Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Makassar. The sampel uses saturated sampling which every population member as sample member with 42 peoples. Data obtaining methods used are observation, interview and quitioner. Data is analized with simple regression with the help of software SPSS 16.0 for windows.

The result shows that there is a significant influence of organization culture toward employees performance at Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Makassar as high as 32% and 68 % is influenced by the other factor.

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang.

Suatu instansi didirikan karena mempunyai tujuan yang ingin dicapai.

Dalam mencapai tujuannya setiap instansi dipengaruhi oleh perilaku dan sikap

orang-orang yang terdapat dalam instansi tersebut. Keberhasilan untuk mencapai

tujuan tersebut tergantung kepada keandalan dan kemampuan pegawai dalam

mengoperasikan unit-unit kerja yang terdapat di instansi tersebut, karena tujuan

instansi dapat tercapai hanya dimungkinkan karena upaya para pelaku yang

terdapat dalam setiap instansi.

Organisasi merupakan suatu sistem yang saling mempengaruhi satu sama

lain, apabila salah satu dari sub sistem tersebut rusak, maka akan mempengaruhi

sub-sub sistem yang lain. Sistem tersebut dapat berjalan dengan semestinya jika

individu-individu yang ada di dalamnya berkewajiban mengaturnya, yang berarti

selama anggota atau individunya masih suka dan melaksanakan tanggung jawab

sebagaimana mestinya maka organisasi tersebut akan berjalan dengan baik.

Sumber Daya Manusia (pegawai) merupakan unsur yang strategis dalam

menentukan sehat tidaknya suatu organisasi. Pengembangan SDM yang terencana

dan berkelanjutan merupakan kebutuhan yang mutlak terutama untuk masa depan

organisasi. Dalam kondisi lingkungan tersebut, manajemen dituntut untuk

mengembangkan cara baru untuk mempertahankan pegawai pada produktifitas

tinggi serta mengembangkan potensinya agar memberikan kontribusi maksimal

(15)

merupakan masalah intern dari suatu organisasi sesungguhnya mempunyai

hubungan yang erat dengan masyarakat luas sebagai pelayanan publik yang

diukur dari kinerja.

Manajemen sumber daya manusia merupakan sarana untuk meningkatkan

kualitas manusia, dengan memperbaiki sumber daya manusia, meningkatkan pula

kinerja dan daya hasil organisasi, sehingga dapat mewujudkan pegawai yang

memiliki disiplin dan kinerja yang tinggi sehingga diperlukan pula peran yang

besar dari pimpinan organisasi. Dalam meningkatkan kinerja pegawai diperlukan

analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhinya dengan memperhatikan

kebutuhan dari para pegawai, diantaranya adalah terbentuknya budaya organisasi

yang baik dan terkoordinasi.

Setiap individu selalu mempunyai sifat yang berbeda satu dengan yang

lainnya. Sifat tersebut dapat menjadi ciri khas bagi seseorang sehingga kita dapat

mengetahui bagaimana sifatnya. Sama halnya dengan manusia, organisasi juga

mempunyai sifat-sifat tertentu. Melalui sifat-sifat tersebut kita juga dapat

mengetahui bagaimana karakter dari organisasi tersebut. Sifat tersebut kita kenal

dengan budaya organisasi atau organization culture. Budaya-budaya yang dimiliki oleh setiap suku bangsa memiliki sistem nilai dan norma dalam mengatur

masing-masing anggotanya dari suku bangsa tersebut maupun orang yang berasal

dari suku lain, dengan demikian dapat dikatakan bahwa suatu organisasi juga

memiliki budaya yang mengatur bagaimana anggota-anggotanya untuk bertindak.

Budaya memberikan identitas bagi para anggota organisasi dan

membangkitkan komitmen terhadap keyakinan dan nilai yang lebih besar dari

(16)

bisa datang di manapun organisasi itu berada. Suatu organisasi budaya berfungsi

untuk menghubungkan para anggotanya sehingga mereka tahu bagaimana

berinteraksi satu sama lain.

Budaya organisasi merupakan sebagai suatu pola dari asumsi-asumsi dasar

yang ditemukan, diciptakan atau dikembangkan oleh suatu kelompok tertentu

dengan maksud agar organisasi bisa mengatasi, menanggulangi permasalahan

yang timbul akibat adaptasi eksternal dan integritas internal yang sudah berjalan

dengan cukup baik sehingga perlu diajarkan dan diterapkan kepada

anggota-anggota baru sebagai cara yang benar untuk memahami, memikirkan dan

merasakan berteman dengan mereka-mereka tersebut (Scain dalam Lako, 2004).

Setiap individu yang tergabung di dalam sebuah organisasi memiliki

budaya yang berbeda, disebabkan mereka memiliki latar belakang budaya yang

berbeda, namun semua perbedaan itu akan dilebur menjadi satu di dalam sebuah

budaya yaitu budaya organisasi, untuk menjadi sebuah kelompok yang

bekerjasama dalam mencapai tujuan organisasi sebagaimana yang telah disepakati

bersama sebelumnya, tetapi dalam proses tersebut tidak tertutup kemungkinan ada

individu yang bisa menerima dan juga yang tidak bisa menerimanya, yang

mungkin bertentangan dengan budaya yang dimilikinya.

Menurut Lako (2004) peran strategis budaya organisasi kurang disadari

dan dipahami oleh kebanyakan orang pelaku organisasi di Indonesia, terutama

prinsipal yaitu pemilik dan agents dan dipercaya untuk mengelola organisasi.

Banyaknya masalah yang berhubungan dengan ketenagakerjaan akhir-akhir ini

(17)

implementasi budaya organisasi dalam instansi pemerintahan masih lemah dan

mengkhawatirkan.

Kekuatan-kekuatan dalam lingkungan eksternal organisasi dapat

mengisyaratkan kebutuhan perubahan budaya, misalnya dengan adanya

persaingan yang makin tajam dalam suatu lingkungan instansi menuntut

perubahan budaya organisasi untuk senantiasa mampu merespon keinginan

masyarakat dengan lebih cepat. Di samping berasal dari lingkungan eksternal,

kekuatan perubahan budaya juga bisa berasal dari dalam/internal, sebagai contoh

jika kepala kantor menerapkan pendekatan-pendekatan baru untuk manajemen

organisasi agar tercipta kinerja yang baik.

Bernard (1999) mengemukakan bahwa ungkapan seperti output,

kinerja, efisiensi, efektivitas sering dihubungkan dengan produktivitas.

Produktivitas merupakan rasio output terhadap input. Kinerja memberikan

penekanan kepada nilai efisien, yang diartikan sebagai rasio output dan input,

sedang pengukuran efisien menggantikan penentuan outcome tersebut. Selain

efisiensi, produktivitas juga dikaitkan dengan kualitas output yang diukur

berdasarkan beberapa standar yang telah ditentukan sebelumnya. Jadi yang

dimaksud dengan kinerja pegawai adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh

seseorang dalam suatu organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung

jawabnya dalam rangka mencapai tujuan organisasi yang bersangkutan, secara

legal, tidak melanggar aturan, dan sesuai dengan moral serta etika.

Kinerja mempunyai arti penting bagi pegawai, adanya penilaian kinerja

berarti pegawai mendapat perhatian dari atasan, disamping itu akan menambah

(18)

yang berprestasi dipromosikan, dikembangkan dan diberi penghargaan atas

prestasi, sebaliknya pegawai yang tidak berprestasi mungkin akan

didemosikan.

Kesulitan mengukur kinerja organisasi pelayanan publik karena tujuan

dan misi organisasi publik seringkali tidak hanya sangat kabur, akan tetapi juga

bersifat multidimensional karena stakeholders dari organisasi publik memiliki kepentingan yang berbeda satu dengan lainnya sehingga ukuran kinerja

organisasi publik di mata stakeholders juga berbeda-beda.

Pengukuran kinerja organisasi perlu dilakukan dalam memastikan

pemahaman para pelaksana dan mengukur pencapaian prestasi, memastikan

tercapainya skema prestasi yang disepakati, memonitor dan mengevaluasi

kinerja dengan perbandingan antara skema kerja dan pelaksanaan, memberikan

penghargaan maupun hukuman yang obyektif atas prestasi pelaksanaan yang

telah diukur sesuai sistem pengukuran yang telah disepakati, menjadikan

sebagai alat komunikasi antara pegawai dan pimpinan dalam upaya

memperbaiki kinerja organisasi, memastikan bahwa pengambilan keputusan

dilakukan secara obyektif dan mengungkapkan permasalahan yang terjadi.

Kualitas sumber daya manusia mencakup aspek lahiriah maupun

batiniah, yang menentukan kinerja kantor. Ukuran yang dipakai untuk

menentukan kinerja instansi pemerintahan salah satunya adalah kinerja

pegawai yang ada di kantor. Peningkatan kualitas sumber daya manusia di

instansi pemerintahan dapat dilakukan dengan pendekatan peningkatan kualitas

(19)

diharapkan semakin tinggi kinerja kantor, sebaliknya, semakin rendah kualitas

pegawai semakin rendah kinerja kantor.

Kinerja yang dimiliki oleh instansi pemerintahan pada hakikatnya

merupakan suatu akibat dari persyaratan kerja yang harus dipenuhi oleh

pegawai. Pegawai akan bersedia bekerja dengan penuh semangat apabila

merasa kebutuhan baik fisik dan non fisik terpenuhi. Kinerja instansi

pemerintahan sangat ditentukan oleh kinerja pegawai yang menjadi ujung

tombak kantor itu. Kesadaran para pegawai ataupun pimpinannya akan

pengaruh positif budaya organisasi terhadap produktivitas organisasi akan

memberikan motivasi yang kuat untuk mempertahankan, memelihara, dan

mengembangankan budaya organisasi yang dimiliki, sehingga merupakan daya

dorong yang kuat untuk kemajuan organisasi. Sebagaimana temuan Kotter dan

Heskett, menunjukkan bahwa organisasi berprestasi karena ditopang budaya

organisasi yang kuat.

Obyek penelitian ini adalah para pegawai di lingkungan Kantor

Pelayanan Kekayaan Negara Dan Lelang (KPKNL) Makassar yang merupakan

salah satu kantor vertikal Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN)

Kementerian Keuangan yang berada dibawah dan bertanggung jawab langsung

kepada Kanwil XV DJKN Makassar. Berdasarkan Peraturan Menteri

Keuangan No.135/PMK.01/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor

Wilayah DJKN dan KPKNL, KPKNL Makassar mempunyai tugas

melaksanakan pelayanan di bidang kekayaan Negara, penilaian, piutang

negara, dan lelang. Dalam melaksanakan tugas tersebut KPKNL Makassar

(20)

1. Inventarisasi, pengadministrasian, pendayagunaan, pengamanan

kekayaan negara.

2. Registrasi, verifikasi, dan analisa pertimbangan permohonan pengalihan

serta penghapusan kekayaan negara.

3. Registrasi penerimaan berkas, penetapan, penagihan, harta kekayaan

milik penanggung hutang/penjamin hutang.

4. Penyiapan bahan pertimbangan atas permohonan keringanan jangka

waktu dan/atau jumlah hutang, usul pencegahan dan penyanderaan

penanggung hutang dan/atau penjamin hutang serta penyiapan data usul

penghapusan piutang negara.

5. Pelaksanaan pelayanan penilaian.

6. Pelaksanaan pelayanan lelang.

7. Penyajian informasi dibidang kekayaan negara, penilaian, piutang

negara, dan lelang.

Pegawai KPKNL sebagai salah satu unsur utama SDM aparatur Negara

mempunyai peranan yang menentukan keberhasilan penyelenggaraan pelayanan

Kekayaan Negara dan lelang. Sosok Pegawai KPKNL yang mampu memainkan

peran tersebut adalah pegawai yang mempunyai kompetensi yang diindikasikan

dari sikap dan perilakunya yang penuh dengan kesetiaan dan ketaatan kepada

Negara, bermoral dan bermental baik, profesional, sadar akan tanggung jawabnya

sebagai pelayanan publik, serta mampu menjadi perekat persatuan dan kesatuan

bangsa.

Kesesuaian antara budaya organisasi dengan nilai-nilai yang dimiliki oleh

(21)

individu untuk bertahan pada satu organisasi dan berkarir dalam jangka panjang.

Oleh sebab itu, dalam melaksanakan aktivitas pelayanan, maka KPKNL Makassar

diharapkan memiliki sumber daya manusia yang memadai dari segi kuantitas

maupun kualitas yang dijiwai budaya organisasinya melalui pengukuran kinerja

pegawainya. Budaya organisasi yang kuat dan sehat mencerminkan kepribadian

dan mampu mengkomunikasikan pada pegawai tentang tujuan organisasi dan

identitas bersama yang pada akhirnya akan menjadi pedoman bagi pimpinan dan

pegawai. Hal tersebut sejalan dengan budaya organisasi yang dilakukan KPKNL

dalam menuju arah pelayanan professional dan bertanggung jawab untuk

sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Untuk membangun sosok aparatur sebagaimana tersebut di atas, Pemerintah

yang dalam hal ini DJKN (Direktorat Jenderal Kekayaan Negara) perlu membina

aparatur KPKNL secara terus menerus dengan jelas, terarah, dan transparan maka

KPKNL Makassar pun berupaya untuk memberikan pelayanan secara professional

dengan Motto : “TELADAN ( Tertib, Lancar dan Amanah)”. Tertib yang berarti tertib administrasi, tertib hukum dan tertib pelayanan. Lancar berarti tanpa

hambatan dan cepat pelayanannya. Amanah berarti pegawai bekerja secara

professional dan penuh tanggung jawab. Dalam memberikan semangat pelayanan

TELADAN tersebut, KPKNL Makassar mengacu pada core values DJKN yaitu

integrity, commitment, and sincerity yang merupakan satu kesatuan nilai yang harus dijadikan landasan dalam bekerja dan melayani stakeholder.

Sesuai dengan tuntutan reformasi, yang menghendaki terwujudnya

pemerintahan yang bersih, berwibawa, transparan dalam menjalankan tugas

(22)

populer dengan istilah "Good Governance". Untuk semua itu, bagi Pemerintah (DJKN beserta jajarannya) yang harus dilakukan adalah meningkatkan kualitas

profesionalisme aparatur agar memiliki keunggulan kompetitif dan memegang

teguh etika birokrasi dalam memberi pelayanan yang sesuai dengan tingkat

kepuasan dan keinginan masyarakat atau yang lebih dikenal dengan pemberian

pelayanan prima.

Dengan adanya reformasi tersebut, maka perubahan budaya yang antara lain

dengan pemberian renumerasi yang lebih tinggi serta penerapan kode etik,

diharapkan akan merubah dan membentuk budaya baru yang lebih baik dan

mengurangi bahkan menghilangkan budaya KKN serta meningkatkan kinerja

pegawai. Dengan adanya perubahan ini, kompleksitas tantangan yang dihadapi

oleh organisasi semakin meningkat, hal ini memunculkan kebutuhan organisasi

akan budaya organisasi yang dapat mengarahkan dan mengembangkan pegawai

untuk mengelola dan mengendalikan organisasi agar tetap konsisten dengan visi

dan misi DJKN.

Pada dasarnya setiap pemerintahan yang melaksanakan reformasi birokrasi

menginginkan adanya suatu perubahan ke arah yang lebih baik. Dalam berbagai

kesempatan, Menteri Keuangan mengatakan (Suryanto dalam Media Kekayaan

Negara, 2010: 12) bahwa :

“Tujuan akhir reformasi birokrasi Departemen Keuangan adalah

mewujudkan peningkatan kepercayaan publik terhadap kinerja dan layanan

Departemen Keuangan (building public trust). Untuk memperoleh kepercayaan publik tersebut tentunya tidaklah mudah dicapai dalam dua atau tiga tahun,

(23)

budaya, ekonomi, dan kondisi sosial lainnya di tengah arus keterbukaan dan

perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang pesat. Kita semua sangat

memahami sifat masyarakat Indonesia yang pada umumnya selalu menginginkan

sesuatu proses perubahan dapat diselesaikan secara instan”.

Untuk menjawab tantangan tersebut, ditetapkan beberapa tujuan antara lain

yang secara bertahap yang diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan publik,

khususnya terhadap kinerja dan pelayanan Departemen Keuangan termasuk

KPKNL, yaitu: (i) mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance); (ii) peningkatan pelayanan publik. Dari hasil monitoring dan evaluasi terhadap reformasi birokrasi di DJKN, masih terdapat ruang untuk

penyempurnaan. Sebagai contoh, pelaksanaan program layanan unggulan belum

dapat dilaksanakan secara maksimal, yaitu selama periode 2008 baru berhasil

sekitar 73%. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, upaya internalisasi dan

sosialisasi kepada seluruh insan DJKN harus menjadi prioritas utama. Selain itu,

penegakan disiplin, penerapan reward and punishment sudah harus menjadi budaya kerja di DJKN. ( Suryanto dalam Media Kekayaan Negara, 2010: 13).

Kinerja pegawai KPKNL harus direformasi supaya tanggap terhadap

perubahan yang semakin cepat sehingga diharapkan dapat menciptakan kinerja

pegawai yang mampu bekerja secara profesional. Salah satu tantangan besar yang

dihadapi instansi KPKNL adalah melaksanakan kinerja secara efektif dan efisien

karena selama ini instansi pemerintahan diidentikkan dengan kinerja yang

berbelit-belit, penuh dengan korupsi, kolusi dan nepotisme serta tidak ada standar

yang pasti. Seperti permasalahan yang muncul ketika Gayus terjerat pada kasus

(24)

kepercayaan masyarakat terhadap birokrasi maka hal ini pun berimbas pada

ketidak percayaan masyarakat kepada Departemen Keuangan secara struktural,

termasuk pada DJKN yang menaungi seluruh KPKNL di Indonesia. Sehingga hal

ini menjadi permasalahan bagi DJKN dalam membangun kepercayaan publik.

Selain itu, munculnya Kepala Kantor yang baru seperti yang terjadi pada

KPKNL Makassar selama setahun ini sedikit banyak akan membawa perubahan

dalam diri organisasi yang dipimpinnya. Perubahan tersebut, menuju ke arah

prestasi KPKNL Makassar yang lebih baik. Bagi pemimpin yang sukses

membawa organisasinya ke arah prestasi baik, ternyata mempunyai ciri-ciri

kemampuan manajerial yang baik dan juga berhasil mengembangkan budaya

organisasi sesuai dengan visinya terhadap fungsi dan tugas organisasi tersebut.

Dengan visinya yang kuat, maka seluruh pegawai terdorong dengan kuat

pula untuk berprestasi tinggi, secara bersama-sama, selalu berbuat dan berpikir

inovatif, dan juga dengan baiknya melayani masyarakat, maka budaya organisasi

yang kuat mempunyai peranan kelangsungan hidup organisasi yang lebih baik.

Setiap pegawai sangat menghayati nilai-nilai, norma-norma organisasi,

kesepakatan terhadap strukturisasi dan peraturan perundang-undangan yang ada.

Sebaliknya, budaya organisasi yang lemah dapat dilihat dari adanya kerawanan

terhadap perpecahan, timbulnya kecurigaan dan saling tidak percaya antara

anggota satu dan lain-nya, lemahnya inisiatif dan disiplin pribadi, semakin tinggi

sistem pengawasan yang ketat, menurunnya semangat dan motivasi kerja yang

pada akhirnya akan berakibat menurunnya kinerja pegawai sehingga

(25)

Berdasarkan latar belakang mengenai tuntutan peran yang dijalankan oleh

aparatur KPKNL Makassar secara efisien, efektif, transparan, dan akuntabel yang

mengacu pada core values DJKN, adanya reformasi birokrasi di tubuh Kementerian Keuangan menuju good govarnence serta pergantian pimpinan KPKNL Makassar maka diperlukan kajian yang lebih dalam tentang pengaruh

budaya organisasi terhadap kinerja pegawai KPKNL Makassar. Sehingga penulis

tertarik untuk menulis judul : “Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Kinerja

Pegawai pada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Makassar”.

1.2. Rumusan Masalah

Untuk lebih mempermudah penelitian ini nantinya, maka penulis akan fokus

pada permasalahan yang akan diteliti. Berdasarkan latar belakang yang

dikemukakan sebelumnya di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini

adalah :

“ Bagaimanakah pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja pegawai

pada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Makassar”.

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut :

1) Untuk mengetahui budaya organisasi yang terdapat pada

Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Makassar,

2) Untuk mengetahui kinerja pegawai pada Kantor Pelayanan

(26)

3) Untuk mengetahui pengaruh budaya organisasi terhadap

kinerja pegawai pada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan

Lelang Makassar.

1.3.2. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

1) Sebagai bahan pertimbangan atau informasi bagi pihak

manajemen dan pimpinan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara

dan Lelang Makassar dalam usaha peningkatan kinerja

pegawai.

2) Sebagai sarana untuk melatih diri dan menguji serta

meningkatkan kemampuan berpikir melalui penulisan karya

ilmiah.

3) Memberikan gambaran mengenai kondisi sumber daya

manusia (pegawai) yang dimiliki, sehingga apabila ada yang

menjadi kelemahan dapat diambil kebijakan yang tepat

sehingga menjadi suatu kekuatan baru bagi organisasi.

4) Menjadi bahan pertimbangan, pemikiran dan saran yang

bermanfaat bagi instansi terkait.

5) Dapat menjadi acuan dan bahan pembelajaran serta referensi

bagi penulis lainnya yang akan melakukan penelitian dengan

judul atau materi yang sama

(27)

1.4. Sistematika Penulisan

Sistematika pembahasan yang digunakan pada penulisan proposal ini

adalah sebagai berikut:

BAB I : Merupakan bab pendahulan yang terdiri dari hal-hal yang menjadi

alasan yang melatarbelakangi munculnya judul penelitian, rumusan masalah,

tujuan, dan manfaat penulisan serta sistematika pembahasan.

BAB II : Merupakan penggambaran mengenai teori-teori yang

menyangkut penelitian sehingga dapat dijadikan acuan dalam perumusan

hipotesis. Adapun beberapa teori yang mendukung penelitian antara lain, konsep

budaya organisasi, konsep kinerja pegawai dan konsep Manajemen Sumber Daya

Manusia.

BAB III : Merupakan metode penelitian yang digunakan dalam penulisan

yang terdiri dari waktu dan tempat penelitian, jenis dan sumber data, identifikasi

variabel penelitian dan pengukuran, populasi dan sampel penelitian, metode

pengumpulan data, teknik analisis data, dan definisi operasional variabel dan

kerangka pikir.

BAB IV : Merupakan gambaran umum instansi yang meliputi sejarah

singkat, visi dan misi instansi, dan struktur organisasi.

BAB V Merupakan bab pembahasan dan hasil penelitian yang meliputi

analisis budaya organisasi, analisi kinerja pegawai, analisis pengaruh budaya

organisasi terhadap kinerja pegawai.

BAB VI : Merupakan bab kesimpulan dan saran yang membahas

(28)

yang diberikan penulis untuk instansi sebagai objek penelitian terkait kesimpulan

(29)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Budaya Organisasi

2.1.1. Pengertian Budaya

Menurut Alisyahbana (dalam Supartono, 2004:31) budaya merupakan

manifestasi dari cara berfikir, sehingga menurutnya pola kebudayaan itu

sangat luas sebab semua tingkah laku dan perbuatan, mencakup di

dalamnya perasaan karena perasaan juga merupakan maksud dari pikiran.

Kemudian Peruci dan Hamby (dalam Tampubolon, 2004:184)

mendefisinisikan budaya adalah segala sesuatu yang dilakukan, dipikirkan,

dan diciptakan oleh manusia dalam masyarakat, serta termasuk

pengakumulasian sejarah dari objek-objek atau perbuatan yang dilakukan

sepanjang waktu.

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas maka dapat disimpulkan

budaya adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan hasil pemikiran

berupa pengetahuan, kepercayaan, kesenian, nilai-nilai, dan moral yang

kemudian dilakukan dalam kehidupan baik sebagai individu maupun

sebagai bagian dari masyarakat dimana segala hasil pemikiran tersebut

didapatkan melalui interaksi manusia dengan manusia yang lain di dalam

kehidupan bermasyarakat maupun interaksi manusia dengan alam.

2.1.2. Pengertian Organisasi

Sobirin (2002: 7) mendefinisikan organisasi sebagai unit sosial atau

(30)

beranggotakan sekelompok manusia-manusia minimal dua orang,

mempunyai kegiatan yang terkoordinir, teratur dan terstruktur, didirikan

untuk mencapai tujuan tertentu mempunyai identitas diri yang

membedakan satu entitas dengan entitas lainnya.

Dari pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa organisasi adalah

suatu kelompok yang menghimpun anggota-anggota yang memiliki satu

tujuan tertentu dan bekerja sama mencapai tujuan yang telah ditetapkan

dimana dalam kelompok tersebut memiliki struktur yang memuat unit-unit

kerja sebagai pengelompokan tugas-tugas atau pekerjaan sejenis dari yang

mudah hingga yang terberat dimana setiap unit memiliki volume dan

beban kerja yang harus diwujudkan guna mencapai tujuan organisasi.

Dalam pencapaian tujuan tersebut dibutuhkan koordinasi dalam

pelaksanaan kerjasama yang berdasarkan prosedur yang telah diatur secara

formal.

2.1.3. Pengertian Budaya Organisasi

Menurut Davis (dalam Lako, 2004: 29) budaya organisasi merupakan

pola keyakinan dan nilai-nilai organisasi yang dipahami, dijiwai dan

dipraktekkan oleh organisasi sehingga pola tersebut memberikan arti

tersendiri dan menjadi dasar aturan berperilaku dalam organisasi.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Mangkunegara (2005: 113)

yang menyatakan bahwa budaya organisasi adalah seperangkat asumsi

atau sistem keyakinan, nilai-nilai, dan norma yang dikembangkan dalam

organisasi yang dijadikan pedoman tingkah laku bagi anggota-anggotanya

(31)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi

merupakan pola keyakinan dan nilai-nilai organisasi yang diyakini dan

dijiwai oleh seluruh anggotanya dalam melakukan pekerjaan sebagai cara

yang tepat untuk memahami, memikirkan, dan merasakan terhadap

masalah-masalah terkait, sehingga akan menjadi sebuah nilai atau aturan

di dalam organisasi tersebut.

2.1.4. Elemen Budaya Organisasi

Beberapa ahli mengemukakan elemen budaya organisasi, seperti

Denison (1990) antara lain : nilai-nilai, keyakinan dan prinsip-prinsip

dasar, dan praktek-praktek manajemen serta perilaku. Serta Schein (1992)

yaitu : pola asumsi dasar bersama, nilai dan cara untuk melihat, berfikir

dan merasakan, dan artefak.

Terlepas dari adanya perbedaan seberapa banyak elemen budaya

organisasi dari setiap ahli, secara umum elemen budaya organisasi terdiri

dari dua elemen pokok yaitu elemen yang bersifat idealistik dan elemen

yang bersifat perilaku.

1. Elemen Idealistik

Elemen idealistik umumnya tidak tertulis, bagi organisasi yang

masih kecil melekat pada diri pemilik dalam bentuk doktrin,

falsafah hidup, atau nilai-niali individual pendiri atau pemilik

organisasi dan menjadi pedoman untuk menentukan arah tujuan

menjalankan kehidupan sehari-hari organisasi. Elemen idealistik

(32)

visi atau misi organisasi, tujuannya tidak lain agar ideologi

organisasi tetap lestari.

Schein (1992) dan Rosseau (1990) mengatakan elemen

idealistik tidak hanya terdiri dari nilai-nilai organisasi tetapi masih

ada komponen yang lebih esensial yakni asumsi dasar yang bersifat

diterima apa adanya dan dilakukan diluar kesadaran, asumsi dasar

tidak pernah dipersoalkan atau diperdebatkan keabsahanya.

2. Elemen Behavioural

Elemen bersifat behavioral adalah elemen yang kasat mata, muncul kepermukaan dalam bentuk perilaku sehari-sehari para

anggotanya, logo atau jargon, cara berkomunikasi, cara berpakaian,

atau cara bertindak yang bisa dipahami oleh orang luar organisasi

dan bentuk-bentuk lain seperti desain dan arsitektur instansi. Bagi

orang luar organisasi, elemen ini sering dianggap sebagai

representasi dari budaya sebuah organisasi sebab elemen ini mudah

diamati, dipahami dan diinterpretasikan, meski interpretasinya

kadang-kadang tidak sama dengan interpretasi orang-orang yang

terlibat langsung dalam organisasi.

2.1.5. Budaya Organisasi yang Kuat

Deal dan Kennedy (1982) dalam bukunya Corporate Culture

mengemukakan bahwa ciri-ciri organisasi yang memiliki budaya

(33)

a. Anggota-anggota organisasi loyal kepada organisasi, tahu dan jelas

apa tujuan organisasi serta mengerti perilaku mana yang dipandang

baik dan tidak baik.

b. Pedoman bertingkah laku bagi orang-orang di dalam instansi

digariskan dengan jelas, dimengerti, dipatuhi dan dilaksanakan

oleh orang-orang di dalam instansi sehingga orang-orang yang

bekerja menjadi sangat kohesif.

c. Nilai-nilai yang dianut organisasi tidak hanya berhenti pada

slogan, tetapi dihayati dan dinyatakan dalam tingkah laku

sehari-hari secara konsisten oleh orang-orang yang bekerja dalam instansi,

dari mereka yang berpangkat paling rendah sampai pada pimpinan

tertinggi.

d. Organisasi/instansi memberikan tempat khusus kepada

pahlawan-pahlawan instansi dan secara sistematis menciptakan

bermacam-macam tingkat pahlawan, misalnya, pemberi saran terbaik,

inovator tahun ini, dan sebagainya.

e. Dijumpai banyak ritual, mulai yang sangat sederhana sampai

dengan ritual yang mewah. Pemimpin organisasi selalu

mengalokasikan waktunya untuk menghadiri acara-acara ritual ini.

f. Memiliki jaringan kulturul yang menampung cerita-cerita

kehebatan para pahlawannya.

2.1.6. Fungsi Budaya Organisasi

Stephen P. Robbins dalam bukunya Organizational Behavior

(34)

a) Berperan menetapkan batasan.

b) Mengantarkan suatu perasaan identitas bagi anggota organisasi.

c) Mempermudah timbulnya komitmen yang lebih luas dari pada

kepentingan individual seseorang.

d) Meningkatkan stabilitas system sosial karena merupakan perekat

sosial yang membantu mempersatukan organisasi.

e) Sebagai mekanisme control dan menjadi rasional yang memandu dan

membentuk sikap serta perilaku para karyawan.

2.1.7. Karakteristik Budaya Organisasi

Menurut Robbins (dalam Tika, 2006: 10) terdapat beberapa

karakteristik yang apabila dicampur dan dicocokkan maka akan menjadi

budaya internal yaitu :

1. Inisiatif individu yaitu sejauh mana organisasi memberikan

kebebasan kepada setiap pegawai dalam mengemukakan pendapat

atau ide-ide yang di dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya.

Inisiatif individu tersebut perlu dihargai oleh kelompok atau

pimpinan suatu organisasi sepanjang menyangkut ide untuk

memajukan dan mengembangkan organisasi.

2. Toleransi terhadap tindakan beresiko yaitu sejauh mana pegawai

dianjurkan untuk dapat bertindak agresif, inovatif dan mengambil

resiko dalam mengambil kesempatan yang dapat memajukan dan

mengembangkan organisasi. Tindakan yang beresiko yang

dimaksudkan adalah segala akibat yang timbul dari pelaksanaan

(35)

3. Pengarahan yaitu sejauh mana pimpinan suatu organisasi dapat

menciptakan dengan jelas sasaran dan harapan yang diinginkan,

sehingga para pegawai dapat memahaminya dan segala kegiatan

yang dilakukan para pegawai mengarah pada pencapaian tujuan

organisasi. Sasaran dan harapan tersebut jelas tercantum dalam visi

dan misi.

4. Integrasi yaitu sejauh mana suatu organisasi dapat mendorong

unit-unit organisasi untuk bekerja dengan cara yang terkoordinasi.

Menurut Handoko (2003 : 195) koordinasi merupakan proses

pengintegrasian tujuan-tujuan dan kegiatan-kegiatan pada unit-unit

yang terpisah (departemen atau bidang-bidang fungsional) suatu

organisasi untuk mencapai tujuan.

5. Dukungan manajemen yaitu sejauhmana para pimpinan organisasi

dapat memberikan komunikasi atau arahan, bantuan serta

dukungan yang jelas terhadap pegawai. Dukungan tersebut dapat

berupa adanya upaya pengembangan kemampuan para pegawai

seperti mengadakan pelatihan.

6. Kontrol yaitu adanya pengawasan dari para pimpinan terhadap para

pegawai dengan menggunakan peraturan-peraturan yang telah

ditetapkan demi kelancaran organisasi. Pengawasan menurut

Handoko (2003: 360) dapat didefinisikan sebagai proses untuk

menjamin bahwa tujuan-tujuan organisasi tercapai.

7. Sistem imbalan yaitu sejauh mana alokasi imbalan (seperti

(36)

kerja pegawai, bukan sebaliknya didasarkan atas senioritas, sikap

pilih kasih, dan sebagainya.

8. Toleransi terhadap konflik yaitu sejauh mana para pegawai

didorong untuk mengemukakan konflik dan kritik secara terbuka

guna memajukan organisasi, dan bagaimana pula tanggapan

organisasi terhadap konflik tersebut.

9. Pola komunikasi yaitu sejauh mana komunikasi dalam organisasi

yang dibatasi oleh hierarki kewenangan yang formal dapat berjalan

baik. Menurut Handoko (2003: 272) komunikasi itu sendiri

merupakan proses pemindahan pengertian atau informasi dari

seseorang ke orang lain. Komunikasi yang baik adalah komunikasi

yang dapat memenuhi kebutuhan sasarannya, sehingga akhirnya

dapat memberikan hasil yang lebih efektif.

2.1.8. Core Values DJKN

Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Makassar

telah berupaya memberikan pelayanan yang terbaik kepada para stakeholder

demi terwujudnya good governance. Stakeholder Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Makassar antara lain meliputi : (1)

satuan kerja Kementerian Negara/ Lembaga yang merupakan stakeholder

dari pelayanan kekayaan Negara dan penilaian kekayaan Negara, (2)

penanggung utang (debitur), penyerah piutang, dan penjamin hutang

(37)

Dengan bersumber pada budaya dan strategi yang didasarkan pada

core values organisasi DJKN yaitu integrity, commitment, and sincerity

maka KPKNL Makassar bertekad memberikan pelayanan prima kepada

seluruh stakeholder. Hal itu demi terwujudnya sebuah sistem pelayanan publik yang dapat dipercaya masyarakat. Ada pun nilai-nilai inti tersebut

antara lain :

1. Integritas (integrity) adalah sikap dasar dan sikap mental yang menjunjung tinggi kebenaran. Sikap bertindak konsisten sesuai

dengan nilai-nilai dan kebijakan organisasi serta kode etik

profesi, walaupun dalam keadaan yang sulit. Dengan kata lain,

satunya kata dengan perbuatan.

2. Komitmen (commitment) adalah senantiasa melakukan upaya terbaik dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi

dalam menyelesaikan setiap tugas. Individu yang memiliki

komitmen tinggi kemungkinan akan melihat dirinya sebagai

anggota sejati organisasi. Jadi seseorang yang berkomitmen

terhadap organisasinya memiliki semangat yang sejalan dengan

apa yang diharapkan organisasinya kepadanya.

3. Ketulusan (sincerity) adalah selalu bekerja dalam kesungguhan dan keikhlasan serta senantiasa menjaga kebersihan hati. Suatu

bentuk kebajikan seseorang yang dalam berbicara dan berprilaku

benar-benar bersumber dari perasaan, pikiran dan keinginannya.

Secara sederhana dapat dikatakan prilaku dan perkataanya adalah

(38)

Tiga core values DJKN yakni integrity, commitment a nd sincerity

harus menjadi suatu roh yang betul-betul menjadi bagian sistem kerja

DJKN yang tak terpisahkan. kombinasi dari ketiga core values ini merupakan kondisi ideal dalam meningkatkan kinerja menjadi lebih baik.

2.2. Kinerja Pegawai 2.2.1. Pengertian Kinerja

a. Menurut Rivai (2005)

Kinerja merupakan hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara

keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas

dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja,

target/sasaran atau kriteria yang telah disepakati bersama.

b. Menurut Mangkunegara (2001)

Hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh

seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai tanggung jawab

yang diberikan kepadanya.

Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa

kinerja merupakan penampilan kerja oleh pegawai di tempat kerjanya

dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

2.2.2. Pengertian Kinerja Pegawai

Kinerja pegawai adalah yang mempengaruhi seberapa banyak

mereka memberi kontribusi kepada organisasi. Perbaikan kinerja baik

untuk individu maupun kelompok menjadi pusat perhatian dalam upaya

meningkatkan kinerja organisasi, seperti yang diungkapkan oleh Mathis &

(39)

2.2.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja

Menurut Anwar P. Mangkunegara (2001), terdapat dua faktor yang

mempengaruhi kinerja pegawai yaitu :

1. Faktor Individu.

Secara psikologis, individu yang normal adalah individu yang

memiliki integritas yang tinggi antara fungsi psikis (rohani) dan

fisiknya (jasmaniah). Dengan adanya integritas yang tinggi antara

fungsi psikis dan fisik maka individu tersebut memiliki konsentrasi

diri yang baik. Konsentrasi yang baik ini merupakan modal utama

individu manusia untuk mampu mengelola dan mendayagunakan

potensi dirinya secara optimal dalam melaksanakan kegiatan atau

aktivitas kerja sehari-hari dalam mencapai tujuan organisasi.

2. Faktor Lingkungan Organisasi.

Faktor lingkungan kerja organisasi sangat menunjang bagi

individu dalam mencapai kinerja. Faktor lingkungan organisasi

yang dimaksud antara lain uraian jabatan yang jelas, otoritas yang

memadai, target kerja yang menantang, pola komunikasi yang

efektif, hubungan kerja yang harmonis, iklim kerja yang respek dan

dinamis, peluang berkarir dan fasilitas kerja yang relatif memadai.

Menurut Mathis dan Jakson (2001), Faktor-faktor yang

mempengaruhi kinerja individu tenaga kerja, yaitu:

1) Kemampuan mereka

(40)

3) Dukungan yang diterima

4) Keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan

5) Hubungan mereka dengan organisasi.

2.2.4. Unsur- Unsur Penilaian Pegawai

Menurut Hasibuan (2002: 56), kinerja pegawai dapat dikatakan

baik atau dapat dinilai dari beberapa hal, yaitu :

1) Kesetiaan

Kinerja dapat diukur dari kesetiaan pegawai terhadap tugas dan

tanggung jawabnya dalam organisasi. Menurut Syuhadhak (1994: 76)

kesetiaan adalah tekad dan kesanggupan, menaati, melaksanakan dan

mengamalkan sesuatu yang ditaati dengan penuh kesadaran dan

tanggung jawab.

2) Prestasi Kerja

Hasil prestasi kerja pegawai, baik kualitas maupun kuantitas dapat

menjadi tolak ukur kinerja. Pada umumnya prestasi kerja seorang

pegawai dipengaruhi oleh kecakapan, keterampilan, pengalaman, dan

kesanggupan pegawai dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.

3) Kedisiplinan

Sejauh mana pegawai dapat mematuhi peraturan -peraturan yang

ada dan melaksanakan intruksi yang diberikan kepadanya.

4) Kreatifitas

Merupakan kemampuan pegawai dalam mengembangkan

(41)

menyelesaikan pekerjaannya sehingga bekerja lebih berdaya guna dan

berhasil guna.

5) Kerjasama

Dalam hal ini kerjasama diukur dari kemampuan pegawai untuk

bekerja sama dengan pegawai lain dalam menyelesaikan suatu tugas

yang ditentukan, sehingga hasil pekerjaannya akan semakin baik.

6) Kecakapan

Dapat diukur dari tingkat pendidikan pegawai yang disesuaikan

dengan pekerjaan yang menjadi tugasnya.

7) Tanggung jawab

Yaitu kesanggupan seorang pegawai menyelesaikan pekerjaan

yang diserahkan kepadanya dengan sebaik-baiknya dan tepat pada

waktunya serta berani memikul resiko pekerjaan yang dilakukan.

2.3. Pengertian & Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia 2.3.1. Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia

Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia menurut Husein

Umar (2005:3) yaitu:

“Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan bagian dari

manajemen keorganisasian yang memfokuskan diri pada unsur sumber

daya manusia, yang bertugas mengelola unsur manusia secara baik agar

diperoleh tenaga kerja yang puas akan pekerjaannya”.

Berdasarkan pengertian di atas, jelas bahwa manajemen secara

garis besar menitikberatkan pada aspek manusia dalam hubungan kerja

(42)

Daya Manusia menitikberatkan pada bagaimana mengelola pegawai

sebagai aset utama organisasi instansi karena keberhasilan organisasi

instansi tergantung dari kinerja efektif dari pegawai itu sendiri.

2.3.2. Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia

Dalam menjalankan pekerjaan seharusnya organisasi memperhatikan

fungsi-fungsi manajemen dan fungsi operasional seperti yang dikemukakan

oleh Flippo Edwin B. (Flippo, 1996:5-7). Menurutnya, fungsi-fungsi

manajemen sumber daya manusia ada dua, yakni:

a. Fungsi manajemen

Fungsi ini terdiri dari:

1. Perencanaan (Planning)

Perencanaan mempunyai arti penentuan mengenai

program tenaga kerja yang akan mendukung pencapaian

tujuan yang telah ditetapkan oleh instansi.

2. Pengorganisasian (Organizing)

Organisasi dibentuk dengan merancang struktur

hubungan yang mengaitkan antara pekerjaan, pegawai, dan

faktor-faktor fisik sehingga dapat terjalin kerjasama satu

dengan yang lainnya.

3. Pengarahan (Directing)

Pengarahan terdiri dari fungsi staffing dan leading.

Fungsi staffing adalah menempatkan orang-orang dalam

(43)

pengarahan sdm agar pegawai bekerja sesuai dengan tujuan

yang ditetapkan.

4. Pengawasan (Controlling)

Adanya fungsi manajerial yang mengatur

aktivitas-aktivitas agar sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan

organisasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, bila

terjadi penyimpangan dapat diketahui dan segera dilakukan

perbaikan.

b. Fungsi Operasional

Fungsi Operasional dalam sdm merupakan segala bentuk

usaha/aktivitas dalam pengelolaan sdm guna pencapaian tujuan

perusahaan.

Fungsi ini terdiri dari:

1. Pengadaan (Procurement)

Usaha untuk memperoleh sejumlah tenaga kerja

yang dibutuhkan instansi, terutama yang berhubungan

dengan penentuan kebutuhan tenaga kerja, penarikan,

seleksi, orientasi dan penempatan

2. Pengembangan (Development)

Usaha untuk meningkatkan keahlian pegawai

melalui program pendidikan dan latihan yang tepat agar

pegawai dapat melakukan tugasnya dengan baik.

(44)

Fungsi kompensasi diartikan sebagai usaha untuk

memberikan balas jasa atau imbalan yang memadai kepada

pegawai sesuai dengan kontribusi yang telah disumbangkan

kepada instansi atau organisasi.

4. Integrasi (Integration)

Merupakan usaha untuk menyelaraskan kepentingan

individu, organisasi, instansi, maupun masyarakat. Oleh

sebab itu harus dipahami sikap prinsip-prinsip pegawai.

5. Pemeliharaan (Maintenance)

Setelah keempat fungsi dijalankan dengan baik,

maka diharapkan organisasi atau perusahaan mendapat

pegawai yang baik. Maka fungsi pemeliharaan adalah

dengan memelihara sikap-sikap pegawai yang

menguntungkan instansi.

6. Pemutusan Hubungan Kerja (Separation)

Usaha terakhir dari fungsi operasional ini adalah

tanggung jawab instansi untuk mengembalikan pegawainya

ke lingkungan masyarakat dalam keadaan sebaik mungkin,

bila organisasi atau instansi mengadakan pemutusan

(45)

2.4. Penelitian Terdahulu 2.4.1. Soedjono (2005)

Soedjono melakukan penelitian mengenai pengaruh budaya

organisasi terhadap kinerja organisasi dan kepuasan kerja karyawan pada

terminal penumpang umum di Surabaya. Structural Equation Modelling

(SEM) dipakai untuk menganalisa model dengan bantuan program AMOS

4.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan dari

budaya organisasi terhadap kinerja organisasi, ada pengaruh signifikan dari

kinerja organisasi terhadap karyawan, ada pengaruh signifikan dari budaya

organisasi terhadap kepuasan pelanggan, tidak ada pengaruh langsung dari

budaya organisasai yang diarahkan pada kinerja organisasi terhadap

kepuasan karyawan.

2.4.2. Mangarrisan Sinaga (2008)

Mangarrisan Sinaga melakukan penelitian mengenai pengaruh

budaya organisasi dan reward terhadap kinerja karyawan pada PT. Soelong

Laoet Medan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya organisasi dan reward

secara simultan maupun parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja

karyawan PT. Soelong Laoet Medan. Nilai koefisien determinasi (R Square)

diperoleh sebesar 84,4 % dimana kinerja karyawan dapat dijelaskan oleh

variabel independen budaya organisasi, dan reward sebesar 84,4% dan 15,6

% dijelaskan oleh variabel independen lainnya yang tidak dimasukkan

dalam penelitian ini. Variabel yang dominan dan paling berpengaruh

(46)

2.4.3. Prima Nugraha S.Sinaga (2009)

Prima Nugraha S.Sinaga melakukan penelitian tentang pengaruh

budaya organisasi terhadap kinerja pegawai pada Sekretariat Daerah

Kabupaten Dairi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa budaya organisasi

pada Sekretariat Daerah Kabupaten Dairi berada pada kategori sangat tinggi

dengan perhitungan korelasi product moment yaitu sebesar 0,62 (hubungan

positif) kemudian dari hasil perhitungan koefisien determinan diperoleh

bahwa besarnya pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja pegawai pada

Sekretariat Daerah Kabupaten Dairi adalah sebesar 38,44% dan 61,56%

selebihnya dipengaruhi oleh faktor lain yang belum diperhitungkan dalam

penelitian ini.

2.4.4. Asfar Halim Dalimunthe (2009)

Asfar Halim Dalimunthe melakukan penelitian mengenai pengaruh

budaya organisasi terhadap kinerja pegawai pada Dinas Informasi

Komunikasi dan Pengolahan Data Eleltronik Kota Medan. Berdasarkan

hasil penelitian yang dilakukan dan dilanjutkan dengan menganalisa data,

maka terdapat hubungan yang cukup kuat antara budaya organisasi dengan

kinerja pegawai sebesar 0,578. Hal ini berarti koefisien bersifat positif,

sehingga hipotesa yang menyatakan bahwa ada hubungan antara budaya

organisasi dengan kinerja pegawai dapat diterima.

2.4.5. Velly Angelia M. (2011)

Velly Angelia M. dalam penelitiannya tentang pengaruh budaya

organisasi terhadap kinerja karyawan PT. Telekomunikasi Indonesia

(47)

meritocracy, co-creation of win-win partnership, dan collaborative innovation) berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan, dilihat dari nilai R = 0,701 dan nilai F hitung > F tabel (8,492 >2,427) .Hasil penelitian

menyimpulkan bahwa budaya organisasi berpengaruh positif terhadap

kinerja karyawan dan variabel caring meritocracy paling berpengaruh signifikan dengan t hitung > t tabel yaitu 3,208 > 2,015.

Tabel 2.1. melalui Y terhadap Z = 0,726

(48)

5 Velly Angelia karyawan, dilihat dari nilai R = 0,701 dan nilai F hitung > F tabel (8,492 >2,427) .Hasil penelitian menyimpulkan bahwa budaya organisasi berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan dan variabel ca ring meritocracy paling berpengaruh signifikan dengan t hitung > t tabel yaitu 3,208 > 2,015

Sumber : Dari Berbagai Skripsi

2.5. Hubungan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Pegawai

Kotter dan Heskett (1997) mengatakan bahwa budaya yang kuat

dapat menghasilkan efek yang sangat mempengaruhi individu dan kinerja,

bahkan dalam suatu lingkungan bersaing pengaruh tersebut dapat lebih besar

daripada faktor- faktor lain seperti struktur organisasi, alat analisis keuangan,

kepemimpinan dan lain –lain. Budaya organisasi yang mudah menyesuaikan dengan perubahan jaman (adaptif) adalah yang dapat

meningkatkan kinerja.

Budaya organisasi yang kuat akan membantu organisasi dalam

memberikan kepastian kepada seluruh pegawai untuk berkembang bersama,

tumbuh dan berkembangnya instansi. Pemahaman tentang budaya organisasi

perlu ditanamkan sejak dini kepada pegawai. Bila pada waktu permulaan masuk

kerja, mereka masuk ke instansi dengan berbagai karakteristik dan harapan yang

berbeda – beda, maka melalui training, orientasi dan penyesuaian diri, pegawai akan menyerap budaya organisasi yang kemudian akan berkembang menjadi

budaya kelompok, dan akhirnya diserap sebagai budaya pribadi. Bila

proses internalisasi budaya organisasi menjadi budaya pribadi telah berhasil,

(49)

tidak ada halangan untuk mencapai kinerja yang optimal. Ini adalah kondisi yang

(50)

2.6. Kerangka Pikir

Kerangka pemikiran adalah suatu tinjauan mengenai apa yang diteliti yang

dituangkan dalam sebuah bagan yang menjadi alur pemikiran penelitian.

Gambar 2.1

Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Pegawai

Sumber : Peneliti 2012

KPKNL Makassar

Kinerja Pegawai

(Y)

BUDAYA ORGANISASI (X)

Inisisiatif Individu

Pengarahan

Integrasi

Dukungan Manajemen

Kontrol

Sistem Imbalan

Pola Komunikasi

(51)

2.7. Hipotesis

Hipotesis adalah pernyataan sementara yang menghubungkan dua variabel

atau lebih. Kesimpulan yang tarafnya rendah karena masih membutuhkan

pengujian secara empiris (Sugiono, 2004: 70).

Berdasarkan uraian pada kerangka pemikiran di atas dan untuk menjawab

identifikasi masalah, maka penulis dapat merumuskan suatu hipotesis sebagai

berikut:

“Terdapat pengaruh yang signifikan antara budaya organisasi terhadap

kinerja pegawai pada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang

(52)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan

Lelang (KPKNL) Makassar terletak di jalan Urip Sumoharjo Km.4 Gedung

Keuangan Negara Satu Lt. II Makassar.

3.2. Jenis dan Sumber Data 3.2.1. Jenis Data:

Guna mendukung penelitian maka jenis data yang digunakan sebagai

berikut :

1. Data kuantitatif

Data berupa angka-angka yang diperoleh dari Kantor

Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Makassar, seperti jumlah

pegawai dan data-data lainnya yang menunjang penelitian.

2. Data kualitatif

Data yang diperoleh dari Kantor Pelayanan Kekayaan Negara

dan Lelang Makassar yang tidak berbentuk angka, seperti gambaran

umum instansi, hasil kuesioner, hasil wawancara dan data-data lain

yang menunjang penelitian.

3.2.2. Sumber Data

Penelitian memerlukan data baik kualitatif maupun kuantitatif untuk

(53)

penelitian yang terdiri dari dua sumber, yaitu:

a) Data Primer, yaitu data yang diambil secara lansung dari objek

penelitian. Cara yang digunakan dalam memperoleh data primer

yaitu dengan cara observasi, wawancara dan kuesioner yang

diberikan pada pegawai dan stakeholder KPKNL Makassar.

b) Data Sekunder, yaitu data yang dikumpulkan oleh penulis dari

dokumen-dokumen yang ada di instansi tersebut. Data ini berupa

gambaran umum instansi, misalnya sejarah berdirinya, struktur

organisasi, uraian tugas dan tanggung jawab.

3.3. Teknik Pengumpulan Data

Pelaksanaan pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan metode :

1. Penelitian Lapangan (Field Research)

Yaitu, penelitian yang dilakukan secara langsung guna

memperoleh data yang erat kaitannya dengan penelitian ini. Data dari

lapangan dapat diperoleh dari:

a) Wawancara, yaitu mendapatkan informasi dengan cara bertanya

langsung kepada responden (Singarimbun & Effendi, 1995:

192). Dalam hal ini data diperoleh dengan melakukan

wawancara dengan pihak pimpinan, kepala seksi, beberapa

pegawai untuk mendapatkan informasi yang diinginkan.

b) Observasi (Observation), yaitu melakukan pengamatan secara langsung terhadap aktivitas keseharian, lingkungan dan sarana

(54)

c) Angket (Quesionnaire), yaitu pengumpulan data dilakukan melalui daftar pernyataan yang disiapkan untuk tiap responden

yang ada pada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang

Makassar

2. Penelitian Kepustakaan (Library Research)

Yaitu, data diperoleh dengan cara membaca literatur-literatur,

bahan referensi, bahan kuliah, dan hasil penelitian lainnya yang ada

hubungannya dengan obyek yang diteliti. Hal ini dilakukan penulis

untuk mendapatkan tambahan pengetahuan mengenai masalah yang

sedang dibahasnya.

3.4. Populasi dan Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi sampel yang diambil sebagai sumber

data dan dapat mewakili seluruh populasi (Riduwan, 2007 : 56). Dalam penelitian

ini teknik penentuan sampel yang digunakan adalah sampel jenuh dimana anggota

populasi pegawai KPKNL Makassar dijadikan sampel dengan jumlah populasi

sebanyak 42 orang pegawai.

3.5. Pengukuran Instrumen Penelitian

Teknik pengukuran skor atau nilai yang digunakan dalam penelitian ini

adalah memakai skala likert. Alternatif penilaian dalam pengukuran item-item

tersebut terdiri dari 5 (lima) alternatif pilihan yang mempunyai tingkatan sangat

rendah sampai dengan sangat tinggi (bernilai 1 s/d 5) yang diterapkan secara

bervariasi sesuai pertanyaan. Dengan demikian dapat dicapai pengukuran yang

tidak hanya menggambarkan kategori atau urutan yang merupakan skala ordinal,

(55)

Penentuan skor dari setiap pertanyaan dengan alternatif jawaban yang

berbeda, yaitu:

1) Untuk alternatif jawaban “a” diberi skor tertinggi : 5 2) Untuk alternatif jawaban “b” diberi skor tinggi : 4 3) Untuk alternatif jawaban “c” diberi skor sedang : 3 4) Untuk alternatif jawaban “d” diberi skor rendah : 2 5) Untuk alternatif jawaban “e” diberi skor terendah : 1

3.6. Pengujian Instrumen Penelitian 3.6.1. Uji Validitas

Uji validitas data dilakukan untuk menguji keakuratan

pertanyaan-pertanyaan yang digunakan dalam suatu instrument dalam pengukuran

variabel. Kuesioner dikatakan valid apabila pertanyaan pada kuesioner

mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner itu

sendiri (Imam Ghozali,2006).

Adapun rumus yang digumakan adalah

……….. (3.1)

Keterangan:

r : Regresi

n : Jumah Sampel yang diteliti

x : Variabel X (budaya organisasi)

y : Variabel Y (kinerja pegawai)

3.6.2 Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas adalah suatu alat untuk mengukur suatu kuesioner

Gambar

Tabel
Gambar
Tabel Penelitian Terdahulu
tabel (8,492 >2,427) .Hasil penelitian menyimpulkan bahwa budaya organisasi berpengaruh
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran organisasi dan budaya kerja terhadap kinerja pegawai pada Kantor Pos Medan.. faktor-faktor yang mempengaruhi

Tesis ini meneliti meneiliti pengaruh Budaya Organisasi terhadap Kinerja Pegawai, pengaruh Komitmen Organisasi terhadap Kinerja Pegawai, pengaruh Kompensasi

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: 1) pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja pegawai 2) pengaruh komunikasi organisasi terhadap kinerja pegawai 3) pengaruh kepuasan

melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Pegawai Pada Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Medan Belawan”.. 1.2

Dengan demikian menunjukkan bahwa secara bersama-sama terdapat pengaruh yang signifikan budaya organisasi, komitmen organisasi dan kompensasi terhadap kinerja pegawai di

terhadap kinerja pegawai (Studi Pada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara. dan

Hasil penelitian dan pembahasan mengenai pengaruh kepemimpinan, motivasi, lingkungan kerja, budaya organisasi terhadap kinerja serta dampaknya terhadap prestasi kerja pegawai

Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Disiplin Kerja Pegawai Pada Kantor Dinas Perindustrian Kota