• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Lampiran 1 (RKT)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "1. Lampiran 1 (RKT)"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

PEMERINTAH KABUPATEN LINGGA

LAMPIRAN

FORMULIR RENCANA KINERJA TAHUNAN

KABUPATEN LINGGA TAHUN 2016

NO

. SASARAN INDIKATOR KINERJA SASARAN TARGET

1 2 3 4

1 Meningkatnya kualitas dan aksesibilitas pendidikan 1 Rata-rata lama sekolah (tahun) 5,78 2 Harapan lama sekolah (tahun) 12,07 2 Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat dan

aksesibilitas pelayanan kesehatan yang berkualitas

3 Angka harapan hidup (tahun) 60,67

4 Angka kematian ibu 142

5 Angka kematian bayi 30

6 Persentase Balita Gizi Buruk 0,52 3 Meningkatnya daya beli masyarakat 7 Rata-Rata Pengeluaran per Kapita Riil Disesuaikan (ribu

Rp)

862,41

4 Meningkatnya kualitas pengetahuan dan keterampilan angkatan kerja

8 Tingkat pengangguran terbuka (%) 4,12

5 Menurunnya angka kemiskinan 9 Persentase penduduk miskin (%) 14,12 6 Meningkatnya kerukunan hidup umat beragama 10 Jumlah konflik bernuansa SARA 0 7 Meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap

nilai-nilai agama

Persentase siswa beragama Islam yang bisa membaca Al Qur’an

11 SD/Mi 58

12 SMP/MTs) 63

8 Meningkatnya pelestarian budaya Melayu dalam bingkai Bunda Tanah Melayu

13 Persentase budaya Melayu yang dilestarikan 5,13 14 Persentase gedung pemerintahan yang berciri khas

Melayu

3

9 Menurunnya penyandang masalah kesejahteraan sosial 15 Persentase PMKS yang ditangani 25 10 Meningkatkan Pengarusutamaan Gender dan

pemenuhan hak anak

16 Indeks Pembangunan Gender 88,68

11 Meningkatnya produksi kelautan dan perikanan 17 Produksi Perikanan Budidaya (ton) 93,40

(2)

PEMERINTAH KABUPATEN LINGGA

NO

. SASARAN INDIKATOR KINERJA SASARAN TARGET

1 2 3 4

18 Produksi Perikanan Tangkap (ton) 34.390,45 12 Meningkatnya peran sektor kelautan dan perikanan

dalam perekonomian daerah

19 Kontribusi sektor kelautan dan perikanan terhadap PDRB Kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (%)

58,81

13 Meningkatnya taraf hidup petani dan nelayan 20 Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB terhadap PDRB Kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (%)

39,56

14 Berkembangnya sektor industri yang mendukung hasil pertanian dalam arti luas

21 Kontribusi sektor industri yang mendukung pertanian terhadap PDRB terhadap PDRB Kategori Industri (%)

0,7

15 Meningkatnya pertumbuhan ekonomi daerah 22 Laju Pertumbuhan Ekonomi (%) 4,07 16 Meningkatnya kontribusi sektor jasa, pariwisata, dan

ekonomi kreatif bagi perekonomian daerah

23 Kontribusi sektor jasa pariwisata terhadap PDRB (%) 2,95

17 Meningkatnya kontribusi transportasi bagi perekonomian daerah

24 Kontribusi transportasi terhadap PDRB (%) 2,12

18 Meningkatnya kualitas pelayanan transportasi darat 25 Persentase Jalan Kabupaten dalam Kondisi Mantap 27 19 Lancarnya arus penumpang melalui terminal dan

pelabuhan

26 Jumlah arus penumpang di pelabuhan dan terminal 29.062

20 Meningkatnya cakupan pelayanan air minum 27 Persentase rumah tangga berakses air minum 50 21 Meningkatnya cakupan pelayanan dan akses

permukiman yang layak

28 Persentase Permukiman yang bersanitasi baik 40 29 Persentase Permukiman yang layak huni 40 22 Meningkatnya pelayanan irigasi 30 Luas area sawah yang dialiri irigasi 20 23 Meningkatnya ketaatan pemanfaaan ruang 31 Persentase ketaatan terhadap RTRW 10 24 Meningkatnya kinerja dan transparansi penyelenggaraan

pemerintahan serta pengelolaan keuangan daerah

32 Predikat LkjIP CC

33 a. Predikat LPPD 5

34 b. Opini BPK WDP

Referensi

Dokumen terkait

MISI 7 : Mewujudkan peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berbasis pertanian dan pemberdayaan masyarakat perdesaan. TUJUAN : Meningkatnya kesejahteraan masyarakat

Dalam rangka mewujudkan kawasan permukiman yang layak huni dan.. berkelanjutan, konsep perencanaan pembangunan infrastruktur

Dalam  rangka  pengembangan  permukiman  yang  layak  huni  dan  berkelanjutan,  Direktorat  Jenderal  Cipta  Karya,  Kementerian  Pekerjaan  Umum,  mengembangkan 

Permukiman kumuh merupakan suatu daerah yang tidak layak huni, tidak memenuhi syarat kesehatan, dengan kondisi lingkungan permukiman tanpa sanitasi, dimana utilitas

4 pasal 22 tahun 1992 tentang perumahan dan permukiman, dimana permukiman kumuh adalah permukiman yang tidak layak huni antara lain karena berada pada lahan yang

Dalam rangka pengembangan permukiman yang layak huni dan berkelanjutan, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum, mengembangkan konsep perencanaan

Permukiman kumuh merupakan lingkungan permukiman yang dihuni oleh sebagian besar masyarakat miskin dengan kondisi rumah tinggal yang tidak layak huni, tingkat

Kota Jayapura dengan luas wilayah 940.00 Ha terdapat 30% tidak layak huni, karena terdiri dari perbukitan yang terjal, rawa-rawa dan hutan di lindung dengan kemiringan