60 BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN
A. Gambaran Umum Daerah Penelitian
Kota Pagar Alam adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Selatan yang dibentuk berdasarkan Undang–Undang Nomor 8 Tahun 2001 (Lembaran Negara RI Tahun 2001 Nomor 88, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4115), sebelumnya kota Pagar Alam termasuk kota administratif dalam lingkungan Kabupaten Lahat. Kota ini memiliki luas sekitar 633,66 km² dengan jumlah penduduk 126.181 jiwa dan memiliki kepadatan penduduk sekitar 199 jiwa/km². Kota ini berjarak sekitar 298 km dari kota Palembang dan juga berjarak sekitar 60 km di sebelah barat daya Kabupaten Lahat. Kota ini sekarang dipimpin oleh Dra. Hj. Ida Fitriati, M.Kes., dan Novirzah Djazuli, S.E. Sebagai wali kota dan wakil wali kota Pagar Alam periode 2013-20189
89 http://www.pagaralamkota.go.id/ (Di akses pada tanggal 31 Maret 2015, pukul 22.45
61 Luas wilayah kota Pagaralam kurang lebih 633,66 Km2, Secara gegrafis kota Pagaralam berada pada posisi 4 derajat lintang selatan (LS) dan 103.15 derajat Bujur Timur (BT), Sebagai atap daerah provinsi Sumatera Selatan, kota Pagaralam berada pada ketinggian 100 – 1000 Mdl ( Meter dari permukaan laut ) dari luas wilayah dataran tinggi di daerah ini berada dibawah kaki Gunung Dempo + 3159 Meter. Kota Pagaralam mempunyai 5 kecamatan yang diantaranya: Kecamatan Pagaralam Selatan, Pagaralam utara, Dempo selatan, Dempo utara dan dempo tengah., dengan rata-rata suhu berkisar 14 – 34 derajat celcius potensi ini tentunya dapat menjadikan perekonomian masyarakat pagaralam lebih baik90
Batas daerah ini adalah:
Sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Lahat
Sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Bengkulu
Sebelah Barat berbatasan dengan kabupaten lahat
Sebelah timur berbatasan dengan kabupaten Lahat
Berdasarkan pengamatan dari Pos pengamatan Gunung Api Dempo, suhu udara minimum di Kota Pagar Alam selama Tahun 2010 adalah 19 0C sedangkan suhu maksimum adalah 30 0C Jumlah Hujan terbanyak terjadi pada bulan Februari yaitu 25 hari.
90 http://pagaralambesamah.blogspot.com/p/letak-kota-pagar-alam.html.
62 Kota Pagar Alam selalau mengalami kenaikan jumlah penduduk yang sangat drastis yang awalnya pada tahun 2000 jumlah penduduknya hanya 112.025 jiwa jumlah itu pun pada sepuluh tahun kemudian berpopulasi lebih kurang 126.363 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,22%. Dikarenakan adanya faktor Transmigrasi yang ingin menetap di kota Pagar Alam.Penduduk kota Pagar Alam terdiri dari berbagai suku bangsa. Selain penduduk asli (suku Melayu), ada banyak juga suku Jawa, suku Minang, suku Batak, Orang Peranakan, Arab-Indonesia, dan India-Indonesia.
Kecamatan yang memiliki penduduk terpadat adalah kecamatan Pagaralam selatan yang jumlah penduduknya mencapai 689.69 jiwa/km2, dan kecamatan yang paling rendah kepadatan penduduknya adalah kecamatan Dempo selatan dengan kepadatan penduduk sekitar 5793 jiwa/km2.
Sebagian besar keadaan tanah di Kota Pagar Alam berasal dari jenis Latosol dan Andosol dengan bentuk permukaan bergelombang sampai berbukit. Jika dilihat dari kelasnya, tanah di daerah ini pada umumnya adalah tanah kelas I (satu) yang mengandung kesuburan yang tinggi.
63 B. Penentuan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kota Pagaralam dengan pertimbangan bahwa Pagaralam merupakan sentra penghasil Padi dan Kopi di provinsi Sumatera Selatan. Komoditas tanaman pangan terutama padi dan kopi menkadi perhatian dalam penelitian karena merupakan mata pencaharian utama petani di kota ini dan komoditas ini sangat potensial untuk dikembangkan, selain itu karena di Pagaralam petaninya mempunyai suatu kebiasaan melakukan ‘nating’ yang apabilan dikaji dalam perspektif Islam akan menarik utnuk diteliti sehingga dalam pelaksanaannya jauh dari unsur-unsur yang dilarang dalam agama dan dapat menjadi sarana untuk saling tolong menolong dalam masyarakat petaniitu sendiri.
64 C. Gambaran Tentang Sistem dan Proses ‘Nating’ Di Kota Pagaralam
Dalam kehidupan masyarakat di Pagaralam telah lama dikenal istilah nating , perilaku ekonomi ini telah sangat banyak dilakukan oleh para petasni kopi
dan padi, menurut beberapa tokoh masyarakat dan pelaku nating itu sendiri mendefinisikan istilah nating adalah:
”suatu proses kegiatan dimana petani mentatingka (menggadaikan) sebagian
sawah atau kebunya kepada keluarga (kerabat) dekat, pemilik modal, agen ataupun tengkulak untuk mendapatkan sejumlah uang untuk membiayai kebutuhan hidupnya dengan perjanjian yang disepakati bersama antara
petani pelaku nating dengan si penating (pemilik dana)”
Jadi dalam nating terdapat dua pihak yang bekerjasama, yakni pihak yang menyerahkan tanah atau petani pelaku nating dan pihak kedua adalah pihak penerima tanah atau pihak penerima gadai (penating). Pihak penerima nating inilah yang harus menyerahkan sejumlah uang tertentu.
Menurut Holidi91 nating ada dua macam yaitu:
a. Nating biasa (tidak kuasa) : artinya petani pemilik lahan menatingkan (menggadaikan) sawah atau kebun kepada kerabat, penduduk sekitar, tengkulak ataupun kepada agen yang disebut penating (yang memiliki modal), dengan perjanjian atau kesepakatan petani pemilik sawah atau kebun boleh menggarap sawah, ladang atau kebunnya, dan bila sudah panen hasilnya dengan persentase yang ditentukan dan dalam jangka waktu yang ditentukan pula, biasa nya dalam jangka waktu 1 tahun atau lebih.
65 b. Nating kuasa : petani pemilik lahan menatingkan (menggadaikan) sawah, ladang, kebun kepada penating tetapi petani tersebut tidak diberi kuasa untuk menggarap lahanya, dan penating berhak menyuruh orang lain atau buruh tani yang dia kehendaki untuk menggarap nya, untukpersentase hasil biasanya pemilik modal lah yang berkuasa penuh menentukan persentase dari hasil panen.
Tabel 1. Perbandingan sistem nating kuasa dan non kuasa
Uraian Nating kuasa Nating biasa
Batas Yuridiksi Petani tidak punya hak untuk menggarap lahan
Petani masih mempunyai hak untuk menggarap lahan
Status Kepemilikan
Selagi belum ditebus lahan menjadi hak penating (pemilik modal)
Selagi belum ditebus kepemilikan lahan tetap menjadi pemilik lahan.
Hasil Panen Hasil pada umumnya
dikendalikan oleh penating (pemilik modal) dan pemilik modal yang berhak menentukan persentase bagi hasil pada setian masa panen.
66 Besaran Jaminan Untuk nating kuasa biasanya
dalam jumlah lahan yang luas dan dalam jumlah pinjaman yang lebih besar disbanding nating biasa.
Nating biasa dengan
jumlah pinjaman uang dan jaminan lahan yang lebih kecil.
Dari dua jenis nating yang dijelaskan diatas, masih terdapat satu jenis lagi nating yang dalam masyarakan Pagaralam mulai marak dilakukan, yakni nating rumah, hampir sama dengan proses nating biasa, namun dalam nating rumah pemilik modal hanya memberikan sejumlah uang untuk digunakan pemilik rumah, namun pemilik modal berhak untuk menetapkan sewa kepada pemilik rumah selama pemilik rumah masih menempati rumah tersebut dan dalam waktu perjanjian yang ditentukan pemilik rumah wajib mengembalikan uang pinjaman dan uang sewa rumah.
67 Banyak faktor yang menyebabkan petani di Pagaralam melakukan peraktek nating, hal ini tercermin dari peruntukan dan kegunaan uang yang merka peroleh dari nating itu sendiri, secara umum mereka gunakan untuk konsumsi, biaya sekolah anak, produksi, dagang, persedekahan, maupun membeli perabot atau kebutuhan rumah tangga lainnya, hal ini dapat dilihat dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Tien yustini yang yang menerangkan bahwa dari 187 responden yang terdiri dari petani padi dam kopi, disimpulkan bahwa petani kopi dan padi menggunakan uang pinjaman atau uang dari menating kan barang mereka untuk kebutuhan produksi atau modal usaha tani, berikut hasil penelitian nya.
Tabel 2. Karakteristik petani berdasarkan kegunaan uang pinjaman dari nating 92
Kegunaan uang
pinjaman
Petani Kopi Petani Padi Total
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
produksi 43 38,4 44 58,7 87 46,5
Konsumsi Pangan
25 33,0 24 16,0 37 29,8
Lainnya 44 39,3 29 25,3 63 33,7
Keterangan:
Lainnya : biaya anak sekloah, membeli baranag, dagang dan persedekahan atau pesta.
68 Jadi merujuk dari hasi penelitian diatas dalam masa transisi sebelum dan pasca panen padi maupun kopi banyak petani melakukuan nating untuk memenuhi kebutuhan modal persiapan panen, dan sisanya pelaku nating meggunakan untuk kebutuhan kebutuhan konsumsi dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.
Ada satu hal yang menarik dari hasil penelitian diatas, ternyata selain bermotif ekonomi uang dari hasil nating digunakan untuk kebutuhan prestise atau gengsi dalam melakukan pesta pernikahan, dimana kebiasaan masyarakat Pagaralam melakukan pesta syukuran pernikahan secara besar-besaran dengan diawali berkumpul di rumah keluarga yang mengadakan pesta selama berhari-hari sebelum hari puncak acara atupun setelah acara, dan tentunya memerlukan memerlukan biaya untuk makan, minum, upacara adat dan sebagainya, meskipun terkadang mereka harus berhutang dan menating kan harta yang mereka miliki, dan inilah yang menjadi salah satu sumber faktor budaya yang tentunya menjadi faktor ekonomi (konsumtif motife) yang menjadi penyebab petani melakukan nating.