• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENYADAPAN AMERIKA SERIKAT DAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS PENYADAPAN AMERIKA SERIKAT DAN"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Semenjak lahirnya negara-negara di dunia, semenjak itu pula berkembang prinsip-prinsip hubungan internasional, hukum internasional dan diplomasi. Sebagai entitas yang merdeka dan berdaulat, negara-negara saling mengirim wakilnya ke ibu kota negara lain, merundingkan hal-hal yang merupakan kepentingan bersama, mengembangkan hubungan, mencegah kesalahpahaman ataupun menghindari terjadinya sengketa. Perundingan-perundingan ini biasanya dipimpin oleh seorang utusan yang dinamakan duta besar.1

Pada tahun 1815, diselenggarakan Kongres Wina, dimana raja-raja yang menjadi peserta bersepakat untuk mengkodifikasikan kebiasaan-kebiasaan tersebut menjadi sebuah hukum tertulis. Kongres ini kurang berhasil, hanya membuat hukum kebiasaan yang ada menjadi tertulis, secara substansi tidak banyak berubah. Dalam beberapa tahun kemudian, sering diadakan upaya-upaya untuk mengkodifikasi hukum diplomatik ini. Upaya dari Liga Bangsa Bangsa tahun 1927, Konvensi Negara-Negara Amerika pada tahun 1928, Komisi Hukum Internasional Majelis Umum PBB tahun 1947. Namun semua upaya di atas kurang mendapatkan respon yang positif dan hanya beberapa negara saja yang meratifikasinya. Akibat sering terjadinya insiden diplomatik sebagai akibat perang dingin dan sering dilanggarnya ketentuan-ketentuan tentang hubungan diplomatik, atas usul delegasi Yugoslavia, Majelis Umum PBB menerima resolusi yang meminta Komisi Hukum Internasional untuk segera memprioritaskan kodifikasi mengenai hubungan dan kekebalan diplomatik.2

Selanjutnya, tahun 1954, Komisi mulai membahas masalah-masalah hubungan dan kekebalan diplomatik dan sebelum akhir 1959, Majelis Umum memutuskan untuk

1 Boer Mauna, 2011, Hukum Internasional Pengertian, Peranan dan Fungsi Dalam era Dinamika Global, Alumni, Bandung, hlm. 510.

(2)

mengadakan konferensi internasional dengan nama the United Nations Conference on Diplomatic Intercourse and Immunities, berlokasi di Wina tanggal 2 Maret-14 April 1961. Konferensi tersebut menghasilkan 3 instrumen, yaitu:3

1.Vienna Convention on Diplomatic Relations;

2.Optional Protocol Concerning Acquisition of Nationality; dan

3.Optional Protocol Concerning the Compulsory Settlement of Dispute.

Konvensi tersebut diterima oleh 72 negara, tidak ada yang menolak, 1 abstain. Konvensi tersebut mulai berlaku sejak 24 April 1964. Hampir seluruh negara di dunia meratifikasinya, Indonesia meratifikasi konvensi tersebut dengan UU Nomor 1 Tahun 1982 pada tanggal 25 Januari 1982. Konvensi ini menjadi kode etik diplomatik yang sebenarnya dan berlaku universal. Selanjutnya Konvensi Wina 1961 dilengkapi dengan Konvensi mengenai Misi-misi Khusus (Convention on Special Missions) pada tanggal 8 Desember 1969 dan diratifikasi Indonesia melalui UU Nomor 2 Tahun1982 pada tanggal 25 Januari 1982. Sampai saat ini Konvensi Wina telah menjadi konvensi universal karena hampir seluruh negara di dunia telah menjadi pihak pada konvensi tersebut.

Hukum internasional tidak mengharuskan suatu negara membuka hubungan diplomatik dengan negara lain, seperti juga tidak ada keharusan untuk menerima misi diplomatik asing di suatu negara, demikian juga suatu negara tidak mempunyai hak meminta negara lain untuk menerima wakil-wakilnya. Pasal 2 Konvensi Wina 1961 menegaskan : “Pembukaan hubungan diplomatik antara negara-negara dan pembukaan perwakilan tetap diplomatik dilakukan atas dasar saling kesepakatan”. Pembukaan hubungan diplomatik dan pembukaan perwakilan tetap merupakan 2 hal yang berbeda. Negara dapat saja membuka hubungan diplomatik tetapi tidak langsung membuka perwakilan tetap.

Pengangkatan seorang duta besar biasanya dilakukan dan atas nama Kepala negara. Calon-calon dubes diajukan oleh Menlu kepada Kepala Negara untuk mendapatkan

(3)

persetujuannya. Di Indonesia dalam Pasal 13 (2) UUD 1945 versi amademen menyatakan “Dalam hal mengangkat duta, Presiden memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat”.Bila pengangkatan seorang calon dubes telah diputuskan, namanya segera diajukan kepada pemerintah negara penerima melalui kedubes negara pengirim untuk mendapatkan agreement (Pasal 4 (1) Konvensi Wina 1961). Agreement ini merupakan hal yang penting sekali, mengingat kemungkinan penolakan calon dubes tadi oleh negara penerima. Setiap negara berhak menolak seorang calon dubes dari negara pengirim berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Diatur dalam Pasal 9 Konvensi Wina 1961, negara penerima setiap waktu dan tanpa penjelasan dapat memberitahu negara pengirim bahwa kepala perwakilan atau salah seorang anggota staf diplomatiknya adalah persona non-grata dan karena itu harus dipanggil kembali atau mengakhiri tugasnya di perwakilan. Selanjutnya juga dinyatakan bila negara pengirim menolak atau tidak mampu dalam jangka waktu yang pantas melaksanakan kewajibannya, maka negara penerima dapat menolak untuk mengakui pejabat tersebut sebagai anggota perwakilan.

Pernyataan persona non-grata dikeluarkan oleh negara setempat bila keberadaan seorang diplomat tidak bisa ditolerir sebagai akibat dari sikap atau keberadaannya yang tak dapat diterima. Biasanya pernyataan persona non-grata dilakukan terhadap diplomat atau staf perwakilan diplomatik yang terbukti melakukan:4

1.Kegiatan spionase;

2.Melindungi agen-agen rahasia asing dan membiarkan mereka melakukan kegiatan-kegiatan dengan menggunakan fasilitas perwakilan;

3.Melindungi orang-orang yang dikenakan hukuman; 4.Mencampuri urusan dalam negeri negara penerima; 5.Melakukan penyelundupan;

6.Membuat pernyataan-pernyataan yang merugikan negara setempat dll.

(4)

Selain alasan-alasan pribadi di atas, pernyataan persona non-grata dikeluarkan sebagai tindakan pembalasan terhadap negara yang telah menyatakan persona non-grata atas salah seorang diplomat atau staf perwakilannya, tetapi tindakan demikian adalah berlawanan dengan jiwa hubungan internasional dan hendaknya menjadi suatu pengecualian. Pernyataan persona non-grata dapat dibuat sebelum atau sesudah diplomat itu datang.

Dalam Pasal 3 Konvensi Wina 1961 menyebutkan tugas perwakilan diplomatik adalah:

1.Mewakili negara pengirim di negara penerima;

2.Melindungi kepentingan negara pengirim dan kepentingan warga negaranya di negara penerima dalam batas-batas yang diperbolehkan hukum internasional;

3.Melakukan perundingan dengan pemerintah negara penerima;

4.Memperoleh kepastian dengan semua cara yang sah tentang keadaan dan perkembangan negara penerima dan melaporkannya kepada pemerintah negara pengirim;

5.Meningkatkan hubungan persahabatan antara negara pengirim dan negara penerima serta mengembangkan hubungan ekonomi, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Hak-Hak Istimewa dan Kekebalan Diplomatik

1. Dasar Pemberian Hak Istimewa dan Kekebalan

a) Teori eksteritorialitas; menurut teori ini seorang pejabat diplomatik dianggap seolah-olah tetap berada di wilayah negara pengirim sehingga ketentuan-ketentuan negara penerima tidak berlaku kepadanya.

b) Teori representatif; pejabat/perwakilan diplomatik dianggap mewakili kepala negaranya/negaranya sehingga diberikan hak-hak istimewa dan kekebalan yang berarti bahwa negara penerima menghormati negara pengirim.

c) Teori fungsional; didasarkan atas kebutuhan fungsional agar para pejabat diplomatik dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

2. Hak-hak Istimewa dan Kekebalan Diplomatik.

(5)

diperlakukan dengan penuh hormat dan negar penerimaharus mengambil langkah-langkah yang layak untuk mencegah serangan atas diri, kebebasan, dan martabatnya b) Kekebalan yurisdiksional: diplomat bebas dari yurisdiksi negara penerima sehubungan dengan masalah kriminal, namun Pasal 32 Konvensi Wina 1961 menyebutkan bila seorang diplomat melakukan tindakan kriminal di negara akreditasi tentunya tergantung negara pengirim atau kepala perwakilannya untuk menanggalkan kekebalan diplomatik seorang diplomatik. Bila kekebalan itu ditanggalkan maka tidak ada halangan bagi peradilan negara penerima untuk mengadilinya. Penanggalan kekebalan tersebut harus dinyatakan dengan jelas.

c) Pembebasan pajak: pejabat diplomat bebas dari pungutan pajak yang dilakukan oleh negara penerima, perkecualian untuk pungutan-pungutan lokal seperti penggunaan listrik air dll. Harta benda tak bergerak milik pribadi di negara penerima tetap dikenai pajak.

d) Hak istimewa dan kekebalan anggota keluarga pejabat diplomatik: Pasal 37 Konvensi Wina 1961 menegaskan bahwa anggota-anggota keluargadari seorang pejabat diplomatik yang merupakan bagian dari rumah tangga memperoleh hak-hak istimewa dan kekebalan. Hak dan kekebalan tersebut dibatasi kepada anggota keluarga yang berdiam dengan pejabat diplomatik yang bersangkutan.

e) Hak istimewa dan kekebalan anggota-anggota perwakilan lainnya dan pembantu rumah tangga: untuk staf administrasi dan pembantu rumah tangga, selain warga negara penerima juga mendapat hak istimewa dan kekebalan

Berakhirnya misi diplomatik seorang staf perwakilan menurut Pasal 43 Konvensi Wina 1961 antara lain karena:

1.Adanya pemberitahuan dari negara pengirim kepada negara penerima bahwa tugas dari pejabat diplomatik itu telah berakhir;

2.Adanya pemberitahuan dari negara penerima kepada negara pengirim bahwa sesuai dengan ayat 2 Pasal 9 Konvensi negara tersebut menolak untuk mengakui seorang pejabat diplomatik sebagai anggota perwakilan.

(6)

Terbongkarnya skandal penyadapan oleh Amerika Serikat melalui peran National Secutity Agents dan Australia melalui peran Australian Signal Directorate, dilakukan oleh mantan pegawai kontrak Amerika, Edward Snowden. Snowden dalam laporannya menyebutkan Amerika Serikat telah mengungkapkan penyadapan yang dilakukannya di Jerman, China, Malaysia, bahkan Indonesia. Kemarahan yang ditunjukan sejumlah negara tersebut sangat wajar karena Amerika telah mencederai sikap persahabatan selama ini.

Tindakan penyadapan oleh AS ini jelas tidak sehat dalam menjalin hubungan intenasional, karena didasarkan pada kecurigaan dan keinginan untuk terlebih duli mengetahui serta mengantisipasi kebijakan yang diambil pemerinyahan negara lain, termasuk Indonesia.

Indonesia dalam menggapi hal ini, melalui Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa melayangkan nota protes atas tindakan penyadapan Amerika Serikat dan Australia, termasuk adanya tindakan Badan Intelejen Negara (BIN) yang akan memanggil perwakilan intelegen Amerika Serikat di Indonesia.

C. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana pandangan hukum internasional dalam kasus penyadapan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Australia?

2. Tindakan hukum apa yang dapat dilakukan oleh Indonesia dalam meminta pertanggungjawaban atas tindakan Amerika Serikat dan Australia?

D. PEMBAHASAN

Penyadapan

Di Indonesia istilah penyadapan memiliki pengertian :

Penyadapan adalah kegiatan atau serangkaian kegiatan penyelidikan atau penyidikan dengan cara menyadap pembicaraan, pesan, informasi, dan/atau jaringan komunikasi yang dilakukan melalui telepon dan/atau alat komunikasi elektronik lainnya.5

(7)

Jika dikaji lebih luas lagi penggunaan istilah “penyadapan” merupakan salah satu bentuk atau bagian tindakan spionase (espionage). Pengertian espionage adalah The act of securing information of a military or political nature that a competing nation

holds secret. It can involve the analysis of diplomatic reports, publications, statistics,

and broadcasts, as well as spying, a clandestine activity carried out by an individual

or individuals working under secret identity to gather classified information on behalf

of another entity or nation.

Atau, “ is the practice of secretly gathering information about a foreign government or a competing industry, with the purpose of placing one's own government or corporation at some strategic or financial advantage.” 6

Menurut Christopher D. Baker, espionage merupakan suatu tindakan memata-matai dan mendengarkan secara diam-diam terhadap “tetangga”. Jika dilihat menurut pandangan hubungan internasional maka negara memata-matai satu sama lain sesuai posisi kekuatan relatif mereka dalam rangka mencapai tujuan mementingkan diri sendiri.

Menurut Black Law dictionary, ada beberapa istilah yang terkait yaitu:7

1. Espionage

Bahwa kegiatan mata-mata adalah perbuatan pidana yang bertujuan untuk mengumpulkan, memindahkan ataupun menghilangkan keterangan berkaitan dengan pertahanan nasional dengan maksud keterangan itu dapat dipergunakan untuk merugikan negara atau untuk keuntungan bangsa lain.

2. Spies

6 Anonymus, 2013, Espionage, http://legal-dictionary.thefreedictionary.com/espionage (online), diakses pada 18 mei 2014

(8)

Seseorangan yang karena pekerjaannya dikirim ke kamp musuh untuk memastikan kekuatan, kehendak, dan gerakan-gerakan musuh , untuk kemudian menyampaikan informasi secara rahasia ke pejabat yang berwenang.

3. Clandestine

Kegiatan yang dilakukan secara rahasia dan tersembunyi demi mencapai tujuan yang tidak sah.

4. Intelligence

Kegiatan intelejen diartikan sebagai kegiatan untuk mendapatkan berita atau informasi mengenai hal-hal penting atau keterangan-keterangan rahasia.

Prinsip, asas dan doktrin dalam Hukum Internasional

1. Prinsip Kedaulatan Negara

Prinsip bahwa suatu Negara tidak boleh melaksanakan kedaulatan (Jurisdiksinya) di dalam wilayah negara lain dan prinsip persamaan kedaulatan antara semua anggota PBB saling berhubungan satu sama lain. Prinsip persamaan kedaulatan antara semua anggota PBB (Pasal 2 ayat (1) Piagam PBB), baru ada apabila suatu negara berdaulat atas wilayahnya yang dengan perkataan lain tidak ada negara lain yang melaksanakan kewenangan negara tersebut terhadap negara tersebut.

Piagam PBB Pasal 2 ayat (4) Piagam PBB menyatakan:

Segenap anggota dalam hubungan internasional mereka, menjauhkan diri dari tindakan mengancam atau menggunakan kekerasan terhadap integritas wilayah atau kemerdekaan politik sesuatu negara lain atau dengan cara apapun yang bertentangan dengan tujuan-tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dengan dimilikinya kedaulatan maka ada yang dinamakan yurisdiksi negara. Menurut John O’Brien, ada tiga macam yurisdiksi yang dimiliki oleh negara , yaitu: a. Kewenangan Negara untuk membuat ketentuan-ketentuan hukum terhadap orang,

benda, peristiwa maupun perbuatan di wilayah teritorialnya (legislative jurisdiction or prescriptive jurisdiction)

(9)

c. Kewenangan pengadilan Negara untuk mengadili dan memberikan putusan hukum (yudicial jurisdiction).

Dari beberapa jenis yurisdiksi salah satunya ialah yurisdiksi ekstrateritorial. Yurisdiksi ekstrateritorial, diartikan sebagai kepanjangan secara semu (quasi extentio) dari yurisdiksi suatu negara di wilayah yurisdiksi negara lain, atau kewenangan suatu Negara yang diberikan oleh hukum internasional untuk melaksanakan kedaulatannya di wilayah yang tidak termasuk yurisdiksi teritorial dan yurisdiksi kuasi teritorialnya. 2. Prinsip Par in parem non habet imperium

Menurut Hans Kelsen, prinsip hukum “par in parem non habet imperium” ini memiliki beberapa pengertian:

a. Suatu negara tidak dapat melaksanakan yurisdiksi melalui pengadilannya terhadap tindakan-tindakan negara lain, kecuali negara tersebut menyetujuinya.

b. Suatu pengadilan yang dibentuk berdasarkan perjanjian internasional tidak dapat mengadili tindakan suatu negara yang bukan merupakan anggota atau peserta dari perjanjian internasional tersebut.

c. Pengadilan suatu negara tidak berhak mempersoalkan keabsahan tindakan suatu negara lain yang dilaksanakan di dalam wilayah negaranya.

3. Prinsip Persamaan Kedaulatan

Prinsip Persamaan Kedaulatan antara semua anggota PBB, antara lain pasal 1 ayat (2) dan pasal 2 ayat (1) Piagam PBB yang secara lengkap berbunyi:

Pasal 1 ayat (2): “Mengembangkan hubungan persahabatan antara bangsa-bangsa berdasarkan penghargaan atas prinsip-prinsip persamaan hak dan hak rakyat untuk menentukan nasib sendiri, dan mengambil tindakan-tindakan lain yang wajar untuk memperteguh perdamaian universal.”

(10)

4. Prinsip non-intervensi

Tidak ada satu negara pun yang mempunyai hak untuk campur tangan, secara langsung atau tidak langsung, dengan alasan apapun dalam urusan internal (dalam) atau eksternal (luar) negeri suatu negara.

Dalam Hubungan Internasional dikenal beberapa prinsip yang digunakan dalam membina hubungan kerjasama internasional antara lain:

1. Saling menghormati kedaulatan negara lain, 2. Saling menguntungkan,

3. Diabadikan untuk kepentingan nasional demi kesejahteraan masyarakat,

4. Diarahkan untuk mewujudkan tatanan dunia baru berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

5. Prinsip inalienable rights

Bahwa setiap negara memiliki hak yang tidak dapat diganggu gugat untuk memilih sistem politik, ekonomi, sosial, dan budayanya.

Salah satu tugas perwakilan diplomatik adalah mengumpulkan data dengan cara yang sah dan melaporkannya kepada pemerintah negara pengirim. Tugas ini merupakan suatu hal yang utama bagi perwakilan diplomatik di negara penerima, termasuk didalamnya tugas observasi secara seksama atas segala peristiwa yang terjadi di negara penerima. Perlunya laporan ini adalah untuk memperlancar kepengurusan kepentingan negaranya di luar negeri. Hal ini sejalan dengan apa yang di katakan oleh Von Glahn, yaitu: “The basic duty of a diplomat i to report to his goverment on political even, policies, and other related matters”. Kewajiban yang paling mendasar dari seorang diplomat adalah memberikan lapotan kepada pemerintahnya mengenai peristiwa politik, kebijakan-kebijakan, dan masalah-masalah yang terjadi di negara penerima kepada pemerintahnya. Asalkan dalam membuat laporan yang dimaksud, diplomat tersebut tidak mengumpulkan data dari hasil tindakanya sebagai agen rahasia

“spionase”, atau data diperoleh secara tidak sah menurut hukum dan kebiasaan internasional.8 Dari sinilah dapat dikatakan Amerika Serikat dan Australia melakukan tindakan penyadapan yang tidak sesuai dengan prinsip persahabatan antar negara.

(11)

Penyadapan dianggap tidak sehat dalam melakukan hubungan internasional karena didasarkan pada kecurigaan dan keinginan untuk tahu terlebih dahulu atas kebijakan yang diambil oleh pemerintah negara yang disadap.

Pelanggaran yang telah dilakukan Amerika Serikat dan Australia melalui Perwakilan Diplomatik Australia di Indonesia sudah termasuk mencampuri urusan dalam negeri. Penyadapan tersebut secara jelas dilakukan Amerika dan Australia melalui gedung Kedutaan Besar Australia di Indonesia terhadap orang-orang penting di negara ini. Hal ini jelas melanggar ketentuan yang ada di Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik yang melarang secara tegas dalam Pasal 41 Ayat (1) “Without prejudice to their privileges and immunities, it is the duty of all persons enjoying such privileges

and immunities to respect the laws and regulation of the receiving State. They also

have a duty not to interfece in the internal affairs of the State”. Hal ini juga jelas melanggar ketentuan dalam Pasal 2 Ayat (7) Piagam PBB yang isinya tentang prinsip non-intervensi urusan dalam negeri suatu negara (The Principle of non-interference in the internal affairs of state).

Penyadapan yang diduga dilakukan Pemerintah Amerika Serikat, The Sydney Morning Herald, terbitan Kamis, 31 Oktober 2013 menulis, Australia ternyata menjadi bagian jaringan spionase global bersama Amerika Serikat. Surat kabar itu menulis, berdasarkan informasi yang diperoleh dari pembocor data intelijen NSA, Edward Snowden dan sumber intelijen Australia, Kedutaan Australia di Jakarta memiliki peran penting untuk mengumpulkan data intelijen terkait ancaman terorisme dan penyelundupan manusia.

(12)

menanggapinya dengan dingin, tetapi sekarang laporan Edward Snowden yang dimuat berbagai media internasional kelihatannya mulai mengusik kalangan istana dan para elite lainnya.

Meskipun sikap rejim SBY belum sekeras Brazil, Jerman terhadap perilaku agen rahasia AS itu namun mulai juga memanas meskipun tidak bisa berbuat banyak karena rejim ini sangat tergantung kepada AS. Tetapi lebih bereaksi daripada tidak sama sekali, karena para agen rahasia AS dan Australia bersekongkol dalam menyadap berbagai jaringan telekomunikasi Indonesia.

Terkait masalah penyadapan yang dilakukan AS terhadap Indonesia melalui Kedutaan Besar Australia di Jakarta itu, Menlu Indonesia Marty Natalegawa mengecam keras dan tidak bisa menerima perilaku dua negara tersebeut. Dalam pertemuannya dengan Menlu Australia, Julie Bichop di Perth Jum’at 1 November 2013 Marty Natalegawa memprotes keras. Memang perilaku dua negara yang dianggap oleh sebagian elite Indonesia itu sangat baik hubungannya dengan NKRI itu tidak bisa diterima dengan alasan apapun, karena terkait berbagai aspek kedaulatan Negara Kesatusan Republik Indonesia.

Sebenarnya laporan serupa pernah diungkapkan WikiLeaks sebelumnya, dan kini diperkuatkan lagi oleh laporan-laporan lebih rinci oleh Edward Snowden, bahwa para agen rahasia AS bekerjasama dengan negara Australia dan Inggris dalam menyadap berbagai jaringan telekomunikasi negara lainnya. Menurut Majalah Jerman Der Spiegel yang merilis laporan Edward Snowden yang membeberkan secara rinci sekali program intelelijen AS yang disebut “Stateroom” yang ditempatkan di Kedutaan AS, Australia, Inggris, Canada juga berkolaborasi dengan Selandia baru.

(13)

anggotanya itu AS, Autralia, Inggris, Selandia baru, Canada sehingga disebut juga sebagai ”Five Eyes”. Jaringan mereka diketahui sekarang terdapat juga di Hanoi, Beijing, Bangkok, Kuala Lumpur, Dilly, Port Moresby.

Sebagaiamana diketahui, bahwa Edward Snowden melaporkan AS telah menyadap jaringan komputer, telepon para pemimpin negara dan diplomat di 35 negara termasuk menyadap ponsel Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Brazil. Dalam konteks ini berbagai negara yang korban penyadapan koboy itu mengecam keras dan minta pertanggung jawaban AS, juga Jerman dan Brazil menyusun rancangan resolusi PBB terkait masalah kebusukan AS itu. AS juga menyadap Markas Besar PBB, Markas Besar EU di Brussel, Kantor perwakilannya di New York.9

Pemerintah Indonesia memprotes keras laporan penyadapan yang dilakukan oleh Amerika Serikat lewat kantor kedutaannya di Jakarta. Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa dalam pernyataan resminya menyatakan, Indonesia tidak dapat menerima dan memprotes keberadaaan fasilitas penyadapan di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, seperti yang diberitakan surat kabar terbitan Australia, Sydney Morning Herald.

Juru bicara Kementerian Luar Negri Michael Tenne mengatakan jika berita itu benar hal ini tentunya merupakan pelanggaran serius hubungan diplomatik. Indonesia tidak dapat terima dan mengajukan protes keras jika berita tentang keberadaan fasilitas penyadapan di kedubes AS di Jakarta itu bisa dikonfirmasi. Menlu RI telah berbicara langsung dengan Kepala Perwakilan Kedutaan AS di Jakarta untuk meminta penjelasan resmi dari pemerintah AS atas berita yang dimaksud.

Jika memang berita itu confirm tentunya bukan saja pelanggaran keamanan tapi juga pelanggaran serius norma dan etika hubungan diplomatik. Tentunya juga tidak selaras dengan semangat hubungan persahabatan antar negara. Saat ini memang (posisi) duta

(14)

besar Amerika Serikat sedang kosong, sehingga pimpinan perwakilannya sendiri saat ini dipimpin oleh seorang kuasa usaha ad interim.10

Selain itu, Snowden yang membongkar peta 90 fasilitas mata-mata AS di seluruh dunia, tak terkecuali pada pusat-pusat kota di Cina termasuk kedutaan besar AS di Beijing dan konsulat AS di pusat perdagangan Shanghai dan Chengdu , ibukota provinsi barat daya Sichuan.

Seperti dikutip dari Channel News Asia, laporan SMH ini menyebutkan bahwa alat-alat sadap tersebut dipasang pada fasilitas rahasia intelijen AS di Asia dan pos diplomatik Australia yang digunakan untuk memonitor panggilan telepon dan mengumpulkan data sebagai bagian dari jaringan Amerika.

Terkait hal itu, juru bicara Departemen Luar Negeri China mendesak Australia untuk membuat klarifikasi mengenai informasi tersebut. Mereka juga mendesak misi diplomatik dan personil intelijen asing di Cina untuk secara ketat mematuhi perjanjian internasional termasuk Konvensi Wina. Pun tidak boleh terlibat dalam aktivitas apapun yang dapat membahayakan keamanan China.11

Dalam rangka melakukan penelusuran mengenai kebenaran pelanggaran yang dilakukan oleh Amerika dan Australia tersebut maka dapat dilakukan penyidikan di Wisma Perwakilan Diplomatik Australia di Indonesia. Pasa dasarnya Gedung Perwakilan Diplomatik tidak dapat diganggu gugat sebagaimana dalam Pasal 22 Ayat (1) Konvensi Wina 1961 tentang Hukum Diplomatik, “The premises of the mission shall be inviolable. The agents of the receiving State may not enter them, except wih the consent of the head of the mission”, artinya, bahwa rangka melakukan penyidikan kasus ini tidak mungkin dilakukan.12

10 http://www.voaindonesia.com/content/indonesia-minta-as-dan-australia-jelaskan-dugaan-penyadapan/1781244.html diakses pada tanggal 18 mei 2014

11 http://www.tribunnews.com/internasional/2013/11/02/china-tuntut-australia-dan-amerika-klarifikasi-soal-penyadapan diakses pada tanggal 18 mei 2014

(15)

Namun bukan berarti Indonesia tidak dapat melakukan tindakan apa-apa. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan Indonesia dilihat dari sudut pandang hukum diplomatik antara lain:

1. Mengirim nota diplomatik yang berisikan strong protes yang isinya mengecam aksi Amerika dan Australia tersebut dan meminta maaf kepada Indonesia.

2. Persona non-grata, hal dimungkinkan dilaksanakan Indonesia dimana Konvensi Wina 1961 tentang hubungan diplomatik.

3. Pejabat diplomatik dari Australia juga dapat dipulangkan ke negaranya karena Indonesia menolak mengakui sebagai pejabat Perwakilan Australia untuk Indonesia.

Namun, hal ini juga tidak mudah dilakukan. Dalam pelaksanaannya penanggalan kekebalan diplomatik harus dinyatakan secara jelas dan mendapatkan persetujuan dari Perdana Menteri Australia melalui nota diplomatik.

Peristiwa ini jelas menjadi pemutus hubungan kedua belah negara jika tidak ada tanggapan resmi dari pihak Australia. Konsekuensi atau akibat yang paling buruk yang akan diterima oleh Indonesia dan Australia adalah terjadinya pemutusan hubungan diplomatik. Namun hal itu akan sangat berdampak buruk bagi kedua negara. Kerena kedua negara baik Indonesia dan Australia memiliki hubungan kerjasama di bidang ekonomi, pariwisata, keamanan, dll yang tidak bisa diabaikan begitu saja, malahan bisa menimbulkan masalah baru bagi kedua negara tetangga ini.

Kaitan Penyadapan dan Prinsip, asas dalam hukum internasional

(16)

Tindakan yang dilakukan oleh Amerika dan Australia pun menurut beberapa pakar bukanlah hal yang perlu baru apalagi diera teknologi informasi saat ini. Namun, berdasarkan kajian internasional, tindakan penyadapan yang dilakukan oleh kedua negara tersebut terhadap beberapa negara termasuk Indonesia menyalahi beberapa prinsip yang berlaku secara internasional.

Resolusi PBB nomor 2625 tahun 1970 telah mencantumkan beberapa prinsip dalam hal hubungan internasional yaitu :

Considering that the progressive development and codification of the following

principles:

a. The principle that States shall refrain in their international relations from the threat

or use of force against the territorial integrity or political independence of any State,

or in any other manner inconsistent with the purposes of the United Nations,

b. The principle that States shall settle their international disputes by peaceful means in

such a manner that international peace and security and justice are not endangered,

c. The duty not to intervene in matters within the domestic jurisdiction of any State, in

accordance with the Charter,

d. The duty of States to co-operate with one another in accordance with the Charter,

e. The principle of equal rights and self-determination of peoples,

f. The principle of sovereign equality of States,

g. The principle that States shall fulfil in good faith the obligations assumed by them in

(17)

Selain itu dalam resolusi yang dikeluarkan oleh EU Parliament terkait penyadapan yang dilakukan oleh NSA, EU menyebutkan bahwa tindakan tersebut hendaknya juga memperhitungkan Convention in Cybercrime, article 14: Bahwa pengumpulan bukti dalam bentuk elektronik harus menyediakan perlindungan yang memadai atas HAM, harus berdasar pada ECHR (article 8, privacy) harus memastikan pemenuhan Prinsip proporsionalitas.

E. KESIMPULAN

Dalam aksi penyadapan yang telah dilakukan pihak Australia terhadap Indonesia yaitu kepada kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono serta 9 Menteri dan juga Ibu Negara telah melanggar ketentuan Diplomatik yang diatur dalam Konvensi WINA 1961. Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan adalah berupa penyalahgunaan gedung diplomatik, intervensi/ikut campur urusan Negara lain serta dengan sengaja mengambil informasi Negara lain baik yang bersifat rahasia atau bukan rahasia tanpa ijin.

(18)

DAFTAR PUSTAKA

Konvensi Wina 1961

(19)

Syahmin, Ak., S.H., M.H. 2008, Hukum Diplomatik Dalam Kerangka Studi Analisis, Rajawali Pers.

http://luar-negeri.kompasiana.com/2013/11/03/edward-snowdenas-dan-australia-bersekongkol-menyadap-indonesia--606334.html diakses pada tanggal 18 mei 2014

http://www.voaindonesia.com/content/indonesia-minta-as-dan-australia-jelaskan-dugaan-penyadapan/1781244.html diakses pada tanggal 18 mei 2014

http://www.tribunnews.com/internasional/2013/11/02/china-tuntut-australia-dan-amerika-klarifikasi-soal-penyadapan diakses pada tanggal 18 mei 2014

(20)

Nama Kelompok:

Widad M. Khaitam / 0910113201 Rangga R. Admi / 105010100111102

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan pemaparan di atas penelitian memfokuskan penelitian ini berdasarkan sebuah kasus yang terjadi di Medan dimana seorang wanita paruh baya menjadi seorang parmalim

Pada umumnya, harga barang-barang cenderung menaik sehingga diperlukan lebih banyak jumlah rupiah untuk membeli barang yang sama di waktu kemudian.. Bila perubahan mencolok,

Pajak penghasilan terkait pos-pos yang akan direklasifikasi ke laba rugi 0 PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN TAHUN BERJALAN - NET PAJAK PENGHASILAN TERKAIT 0.. TOTAL LABA

explain all accounting practices and reported information. – it relies excessively on agency theory

Pajak penghasilan terkait pos-pos yang akan direklasifikasi ke laba rugi 0 PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN TAHUN BERJALAN - NET PAJAK PENGHASILAN TERKAIT 0.. TOTAL LABA

… a coherent system of interrelated objectives and fundamentals that is expected to lead to consistent standards and that prescribes the nature, function and

Semangat bermusyawarah untuk mufakat yang telah dilakukan oleh warga sekolah Sudin merupakan pencerminan dari pengamalan sila keempat Pancasila “Kerakyatan yang dipimpin oleh

Penyelesaian sengketa adat dan peradilan adat sebagaimana diatur dalam Pasal 103 huruf (e) memerlukan pengaturan lanjutan untuk menegaskan kedudukan, kewenangan, fungsi, peran,